Anda di halaman 1dari 26

TUGAS PENG.IND.

PETRO DAN OLEOKIMIA

DISUSUN OLEH:

1.BAIHAKI (0707134028)

2.MARDIONO (0707112843)

3.NURUL QADRIANA (0707131831)

4.RAJIB AZRI (0707131932)

5.SARIFAH AINI (0707134189)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA S1

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS RIAU

2009

KATA PENGANTAR

1
Alhamdulillah, puji syukur penulis beserta anggota kelompok ucapkan kehadirat
Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah
yang berjudul, DETERJEN telah dapat diselesaikan.

Dalam penulisan makalah ini, penulis dan anggota telah berusaha semaksimal
mungkin untuk menghasilkan hasil yang terbaik. Namun penulis dan anggota
mengharapkan kritik dan saran guna penyempurnaan tulisan makalah ini.
Penulis dan anggota berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak dan semoga ALLAH SWT senantiasa melimpahkan Rahmat dan
Karunia-nya kepada kita semua, Amin.

Pekanbaru, Maret 2009

Penulis

DAFTAR ISI

2
KATA PENGANTAR.........................................
..i

DAFTAR
ISI...........................................
....ii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang............................................................................1

1.2 Tujuan penulisan...........................................................


.2

1.3 Metode penulisan............................................................................................2

1.4 Sistematika
penulisan.......................................................................................2

1.5 Manfaat penulisan............................................................................................2

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
deterjen..................................................................................................3

2.2 Zat-Zat Yang


TerdapatDalamDeterjen......................................................................3

2.3 Komposisi
Deterjen...................................................................................................4

2.4 Penggolongan Deterjen...


.6
2.5 Bahan Baku Pembuatan Deterjen.
.8
2.6Cara Kerja Deterjen.
.10

3
2.7Proses pembuatan
deterjen..10

BAB III. PENUTUP

3.1
Kesimpulan.............................................................................................................1
9

DAFTAR
PUSTAKA................................................................................................................20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


1.1.1 Sejarah Deterjen

Deterjen sintetik yang pertama dikembangkan oleh Jerman pada waktu Perang Dunia
IIdengan tujuan agar lemak dan minyak dapat digunakan untuk keperluan lainnya. Pada saat ini
adalebih 1000 macam deterjen sintetik yang ada di pasaran. Fritz Gunther, ilmuwan Jerman,
biasadisebut sebagai penemu surfactant sintetis dalam deterjen tahun 1916. Namun, baru tahun
1933 deterjen untuk rumah tangga diluncurkan pertama kali di AS. Kelebihan deterjen, mampu
lebih efektif membersihkan kotoran meski dalam air yang mengandung mineral. Tapi, ia pun
menimbulkan masalah. Sebelum tahun 1965, deterjen menghasilkan limbah busa di sungai dan
danau. Ini karena umumnya deterjen mengandung alkylbenzene sulphonate yang sulit terurai.
Setelah 10 tahun dilakukan penelitian (1965), ditemukan linear alkylbenzene sulphonate
(LAS) yang lebih ramah lingkungan. Bakteri dapat cepat menguraikan molekul LAS, sehingga
tidak menghasilkan limbah busa.
Sepanjang sejarah banyak usaha dilakukan untuk membantu kita mengerjakan pekerjaan
mencuci.Pencucian dengan air saja, bahkan dengan penggosokan atau putaran mesin sekeras
apapun, akan menghilangkan sebagian saja bercak, kotoran dan partikel-partikel tanah. Air saja
tidak dapat
menghilangkan debu yang tak larut dalam air. Air juga tak mampu menahan debu yang telah
lepas dari kain agar tetap tersuspensi (tetap berada di air, jadi tidak kembali menempel ke kain).
Jadi diperlukan bahan yang dapat membantu mengangkat kotoran dari air dan kemudian
menahan agar
kotoran yang telah terangkat tadi, tetap tersuspensi. Sejak ratusan tahun lalu telah dikenal
sabun,yakni persenyawaan antara minyak atau lemak dan basa. Awalnya orang-orang Arab

4
secara tak sengaja menemukan bahwa campuran abu dan lemak hewan dapat membantu proses
pencucian.
Walaupun berbagai usaha perbaikan pada kualitas dan proses pembuatan sabun telah
dilakukan, semua sabun hingga kini mempunyai satu kekurangan utama yakni akan bergabung
dengan mineral-mineral yang terlarut dalam air membentuk senyawa yang sering disebut lime
soap (sabunkapur), membentuk bercak kekuningan di kain atau mesin pencuci. Akibatnya kini
orang mulai meninggalkan sabun untuk mencuci seiring dengan meningkatnya popularitas
deterjen.
Salah satu deterjen yang pertama dibuat adalah garam natrium dari lauril hidrogen
sulfat.Tetapi pada saat ini, kebanyakan deterjen adalah garam dari asam sulfonat.Deterjen dalam
kerjanya dipengaruhi beberapa hal, yang terpenting adalah jenis kotoran yang akandihilangkan
dan air yang digunakan. Deterjen, khususnya surfaktannya, memiliki kemampuan yang unik
untuk mengangkat kotoran, baik yang larut dalam air maupun yang tak larut dalam air.Salah satu
ujung dari molekul surfaktan bersifat lebih suka minyak atau tidak suka air, akibatnya bagian ini
mempenetrasi kotoran yang berminyak. Ujung molekul surfaktan satunya lebih suka air,bagian
inilah yang berperan mengendorkan kotoran dari kain dan mendispersikan kotoran,
sehingga tidak kembali menempel ke kain. Akibatnya warna kain akan dapat dipertahankan.

1.2 Tujuan penulisan

Tujuan dari penulisan makalah deterjen ini adalah untuk mengetahui bahan bahan
yang digunakan dalam pembuatan deterjen, untuk mengetahui zat zat yang terkandung
dalam deterjen, untuk mengetahui komposisi deterjen, untuk mengetahui pengolongan
deterjen, dan untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan deterjen.

1.3 Metode penulisan

Metode penulisan di ambil dari beberapa referensi dari berbagai sumber seperti buku
serta diambil dari internet.

1.4 Sistematika penulisan


Sistematika yang kami gunakan pada penulisan makalah adsorpsi padat cair adalah
membagi menjadi tiga bab. Yaitu, bab satu merupakan bagian pendahuluan yang membahas
latar belakang penulisan, tujuan penulisan, metode penulisan, sistematika serta diakhiri oleh
subbab manfaat penulisan. Bab dua (pembahasan), yang merupakan bagian terpenting
makalah ini. Pada bab ini akan dijelaskan secara terperinci mengenai materi deterjen. Bab
tiga (penutup), merupakan bagian penulisan kesimpulan makalah secara kausal serta saran-
saran yang diharapkan setelah selesainya makalah ini.

5
1.5 Manfaat penulisan

Adapun manfaat dari makalah ini adalah, dapat menambah literatur dan referensi mengenai
deterjen dan dapat menjadi suatu makalah yang bisa menjelaskan serta menyelesaikan
pertanyaan seputar topik makalah

BAB II

PEMBAHASAN

2.1Pengertian Deterjen

Deterjen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu


pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding
dengan sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci
yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air.

2.2 Zat-Zat Yang Terdapat Dalam Deterjen


Adapun Zat-zat yang terdapat dalam deterjen yaitu:
1. Surfaktan yaitu Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang
mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak). Bahan aktif ini
berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang
menempel pada permukaan bahan. Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan yaitu:

a. Anionik :
-Alkyl Benzene Sulfonate (ABS)
-Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS)
-Alpha Olein Sulfonate (AOS)

6
b. Kationik : Garam Ammonium
c. Non ionik : Nonyl phenol polyethoxyle

d. Amphoterik : Acyl Ethylenediamines

2. Builder berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan
mineral penyebab kesadahan air.

a. Fosfat : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)


b. Asetat :
- Nitril Tri Acetate (NTA)
- Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)
c. Silikat : Zeolit
d. Sitrat : Asam Sitrat

3. Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan
meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh Sodium sulfat.

4. Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya
pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen.
Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh : Enzim, Boraks,
Sodium klorida, Carboxy Methyl Cellulose (CMC)

5. Abrasive untuk menggosok kotoran

6. Substansi untuk mengubah pH yang mempengaruhi penampilan ataupun stabilitas dari


komponen lain

7. Water softener untuk menghilangkan efek kesadahan

7
8. Oxidants untuk memutihkan dan menghancurkan kotoran

9. Material lain selain surfaktan untuk mengikat kotoran didalam suspense

10. Enzim untuk mengikat protein, lemak, ataupun karbohidrat didalam kotoran.

2.3 Komposisi Deterjen


Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan : Surfaktan, Builder, Filler
dan Additives.

2.3.1 Surfaktan

Komponen penting deterjen adalah surfaktan. Fungsi surfaktan adalah untuk


meningkatkan daya pembasahan air sehingga kotoran yang berlemak dapat
dibasahi, mengendorkan dan mengangkat kotoran dari kain dan mensuspensikan
kotoran yang telah terlepas.

Surfaktan yang biasa digunakan dalam deterjen adalah linear alkilbenzene


sulfonat, etoksisulfat, alkil sulfat, etoksilat, senyawa amonium kuarterner,
imidazolin dan betain. Linear alkilbenzene sulfonat, etoksisulfat, alkil sulfat bila
dilarutkan dalam air akan berubah menjadi partikel bermuatan negatif, memiliki
daya bersih yang sangat baik, dan biasanya berbusa banyak (biasanya digunakan
untuk pencuci kain dan pencuci piring). Etoksilat, tidak berubah menjadi partikel
yang bermuatan, busa yang dihasilkan sedikit, tapi dapat bekerja di air sadah (air
yang kandungan mineralnya tinggi), dan dapat mencuci dengan baik hampir semua
jenis kotoran. Senyawa-senyawa amonium kuarterner, berubah menjadi partikel
positif ketika terlarut dalam air, surfaktan ini biasanya digunakan pada pelembut
(softener). Imidazolin dan betain dapat berubah menjadi partikel positif, netral atau
negatif bergantung pH air yang digunakan. Kedua surfaktan ini cukup kestabilan
dan jumlah buih yang dihasilkannnya, sehingga sering digunakan untuk pencuci
alat-alat rumah tangga.

2.3.2 Builder ( penguat )

Builder digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral-mineral
yang terlarut, sehingga surfaktan dapat berkonsentrasi pada fungsinya. Selain itu, builder juga
membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat
berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah
lepas. Yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa kompleks fosfat, natrium sitrat,
natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit.Pertimbangan banyak busa adalah pertimbangan
salah kaprah tapi selalu dianut oleh banyak konsumen. Banyaknya busa tidak berkaitan secara
signifikan dengan daya bersih deterjen, kecuali deterjen yang digunakan untuk proses pencucian
dengan air yang jumlahnya sedikit (misalnya pada pencucian karpet). Untuk kebanyakan

8
kegunaan di rumah tangga, misalnya pencucian dengan jumlah air yang berlimpah, busa tidak
memiliki peran yang penting. Dalam pencucian dalam jumlah air yang sedikit, busa sangat
penting karena dalam pencucian dengan sedikit air, busa akan berperan untuk tetap "memegang"
partikel yang telah dilepas dari kain yang dicuci, dengan demikian mencegah mengendapnya
kembali kotoran tersebut

2.3.3 .Filler

Filler adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan


meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh : Sodium
sulfate.Bahan ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku.
Pemberian bahan ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar volume.
Keberadaan bahan ini dalam campuran bahan baku deterjen semat-mata ditinjau
dari aspek ekonomis. Pada umumnya, sebagai bahan pengisi deterjen digunakan
sodium sulfat. Bahan lain yang sering digunakan sebagai bahan pengisi, yaitu tetra
sodium pyrophosphate dan sodium sitrat. Bahan pengisi ini berwarna putih,
berbentuk bubuk, dan mudah larut dalam air.

2.2.4 Aditif

Bahan aditif sebenarnya tidak harus ada dalam proses pembuatan deterjen
bubuk. Namun demikian, beberapa produsen justru selalu mencari hal-hal baru
akan bahan ini karena justru bahan ini dapat memberi kekhususan dan nilai lebih
pada produk deterjen tersebut. Additives adalah bahan suplemen / tambahan untuk
membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna, dst,
tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan
lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh : Enzyme, Borax, Sodium
chloride, Carboxy Methyl Cellulose (CMC).

Dengan demikian, keberadaan bahan aditif dapat mengangkat nilai jual


produk deterjen bubuk tersebut. Salah satu contoh dari bahan aditif adalah carboxyl
methyl cellulose (CMC). Bahan ini berbentuk serbuk putih dan berfungsi untuk
mencegah kembalinya kotoran ke pakaian sehingga disebut antiredeposisi. Selain
CMC, masih banyak macam dari bahan aditif ini, tetapi pada umumnya merupakan
rahasia dari tiap-tiap perusahaan. Ini sebenarnya merupakan tantangan bagi pelaku
wirausaha untuk selalu mencari bahan aditif ini sehingga produk deterjen bubuk
mempunyai nilai lebih dan berdaya saing tinggi.

2.4Penggolongan Deterjen

2.4.1Pengolongan deterjen berdasarkan Bentuk Fisiknya

2.4.1.1 Deterjen Cair

9
Secara umum, deterjen cair hampir sama dengan deterjen bubuk. Hal yang membedakan hanyalah
bentuknya: bubuk dan cair. Produk ini banyak digunakan di laundry modern menggunakan mesin cuci
kapasitas besar dengan teknologi yang canggih.

2.4.1.2. Deterjen Krim

Deterjen krim bentuknya hampir sama dengan sabun colek, tetapi kandungan formula keduanya berbeda.
Di luar negeri, produk biasnaya tidaka dijual dalam partai kecil, tetapi dijual dalam partai besar (kemasan
25 kg).

2.4.1.3 Deterjen bubuk

Bila dicermati berbagai iklan deterjen bubuk di televisi maka masing-masing produk deterjen mencoba
menjelaskan kepada konsumen tentang keunggulan produknya yang secara fisik berbeda dengan produk
lainnya. Sebagai contoh ada sebuah iklan deterjen tertentu yang menjelaskan tentang kelebihan produk
deterjen dengan kandungan butiran berbentuk padat (masif) bila dibandingkan dengan deterjen dengan
butiran yang berongga. Namun, diyakini bahwa hanya sedikit orang atau pemirsa yang dapat memahami
esensi dari iklan tersebut.

2.4.2Pengolonggan berdasarkan keadaan butirannya

2.4.2.1 Deterjen bubuk berongga

Deterjen bubuk berongga mempunyai ciri butirannya mempunyai rongga.


Butiran deterjen yang berongga dapat dianalogikan dengan bentuk bola sepak yang
didalamnya rongga. Ini berarti butiran deterjen jenis ini mempunyai volume per
satuan berat yang besar karena adanya rongga tersebut. Butiran deterjen jenis
berongga dihasilkan oleh proses spray drying. Agak sulit mendapatkan padan kata
istilah tersebut dalam bahasa Indonesia, tetapi pengertiannya yaitu bahwa
terbentuknya butiran berongga karena hasil dari proses pengabutan yang
dilanjutkan proses pengeringan. Kelebihan deterjen bubuk berongga dibandingkan
dengan deterjen bubuk padat adalah volumenya lebih besar. Dengan berat yang
sama, deterjen bubuk dengan butiran berongga tampak lebih banyak dibandingkan
dengan deterjen padat. Selain kelebihan yang dipunyainya, deterjen berongga
mempunyai kelemahan. Untuk membuat deterjen berongga diperlukan investasi
yang besar karena harga mesin yang digunakan (spray dryer) sangat mahal,
yaitumencapai nilai miliaran rupiah. Dengan kondisi ini, pembuatan deterjen
berongga tidak dapat diaplikasikan untuk skala dan home industry (industri rumah
tangga), baik skala kecil maupun menengah. Sebagian besar deterjen bubuk yang
dipasarkan ke kondumen termasuk dalam golongan deterjen bubuk berongga.

2.4.2.2. Deterjen bubuk padat/masif

Bentuk butiran deterjen bubuk padat/masif dapat dianalogikan degan bola


tolak peluru, yaitu semua bagian butirannya terisi oleh padatan sehingga tidak
berongga. Butiran deterjen yang padat merupakan hasil olahan proses
pencampuran kering (dry mixing). Proses dry mixing dapat dibagi menjadi dua,

10
yaitu dry mixing granulation (DMG process) dan simple dry mixing (metode campur
kering sederhana = CKS). Metode CKS termasuk cara pembuatan deterjen bubuk
yang mudah dipraktekkan.

Untuk itu, dalam makalah ini hanya akan dibahas cara pembuatan deterjen
bubuk padat dengan metode CKS ini. Cara pembuatan deterjen dengan metode
spray drying dan dry mixing granulation tidak dibahas dalam makalah ini karena
prosesnya termasuk kompleks dan dari segi bisnis tergolong proyek padat modal
(memerlukan biaya investasi yang besar. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan
maksud dan tujuan penulisan buku ini. Kelebihan deterjen bubuk padat, yaitu untuk
membuatnya tidak diperlukan modal besar karena alatnya termasuk sederhana dan
berharga murah. Kekurangannya adalah karena bentuknya padat maka volumenya
tidak besar sehingga jumlahnya terlihat sedikit.

2.4.3 Penggolongan Deterjen Berdasarkan Ion Yang Dikandungnya

2.4.3.1 Cationic detergents

Deterjen yang memiliki kutub positif disebut sebagai cationic detergents.


Sebagai tambahan, selain adalah bahan pencuci yang bersih, mereka juga
mengandung sifat antikuman yang membuat mereka banyak digunakan di rumah
sakit. Kebanyakan deterjen jenis ini adalah turunan dari ammonia.

2.4.3.2. Anionic detergents

Deterjen jenis ini adalah merupakan deterjen yang memiliki gugus ion
negatif.

11
2.4.3.3 Neutral atau Non-Ionic Detergents

Nonionic detergen banyak digunakan untuk keperluan pencucian piring. Karena


deterjen jenis ini tidak memiliki adanya gugus ion apapun, deterjen jenis ini tidak
bereaksi dengan ion yang terdapat dalam air sadah. Nonionic detergents kurang
mengeluarkan busa dibandingkan dengan ionic detergents.

2.5 Bahan Baku Pembuatan Deterjen

2.5.1 Bahan Aktif (Active Ingredient)


Bahan aktif merupakan bahan inti dari deterjen sehingga bahan ini harus ada dalam
proses pembuatan deterjen. Secara kimia bahan ini dapat berupa sodium lauryl sulfonate (SLS).
Beberapa nama dagang dari bahan aktif ini diantaranya Luthensol, Emal, dan Neopelex (NP). Di
pasarberedar beberapa jenis Emal dan NP, yaitu Emal-10, Emal-20, Emal-30, NP-10, NP-20, dan

12
NP-30. Secara fungsional bahan aktif ini mempunyai andil dalam meningkatkan daya bersih. Ciri
dari bahan aktif adalah busanya sangat banyak

1.4.2 Bahan Pengisi (Filler)

Bahan ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku. Pemberian bahan
ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar volume. Keberadaan bahan ini
dalamcampuran bahan baku deterjen semat-mata ditinjau dari aspek ekonomis. Pada umumnya,
sebagaibahan pengisi deterjen digunakan sodium sulfat. Bahan lain yang sering digunakan
sebagai bahan pengisi, yaitu tetra sodium pyrophosphate dan sodium sitrat. Bahan pengisi ini
berwarna putih,berbentuk bubuk, dan mudah larut dalam air.

2.5.2 Bahan Penunjang

Salah satu contoh bahan penunjang adalah soda ash atau sering disebut soda abu yang
berbentuk bubuk putih. Bahan penunjang ini berfungsi meningkatkan daya bersih. Keberadaan
bahan ini dalam campuran tidak boleh terlalu banyak karena menimbulkan efek samping, yaitu
dapat mengakibatkan rasa panas di tangan pada saat mencuci pakaian. Bahan penunjang lain
adalah STTP (sodium tripoly phosphate) yang mempunyai efek samping yang positif, yaitu dapat
menyuburkan tanaman. Dalam kenyataannya, ada beberapa konsumen yanhg menyiramkan air
bekas cucian produk deterjen tertentu ke tanaman dan hasilnya lebih subur. Hal ini disebabkan
oleh kandungan fosfat yang merupakan salah satu unsur dalam jenis pupuk tertentu.

2.5.3 Bahan Tambahan (Aditif)

Bahan aditif sebenarnya tidak harus ada dalam proses pembuatan deterjen bubuk. Namun
demikian, beberapa produsen justru selalu mencari hal-hal baru akan bahan ini karena justru
bahan ini dapat memberi kekhususan dan nilai lebih pada produk deterjen tersebut. Dengan
demikian,keberadaan bahan aditif dapat mengangkat nilai jual produk deterjen bubuk tersebut.
Salah satu contoh dari bahan aditif adalah carboxyl methyl cellulose (CMC). Bahan iniberbentuk
serbuk putih dan berfungsi untuk mencegah kembalinya kotoran ke pakaian sehingga disebut
antiredeposisi. Selain CMC, masih banyak macam dari bahan aditif ini, tetapi pada umumnya
merupakan rahasia dari tiap-tiap perusahaan. Ini sebenarnya merupakan tantangan bagipelaku
wirausaha untuk selalu mencari bahan aditif ini sehingga produk deterjen bubuk mempunyai
nilai lebih dan berdaya saing tinggi.

2.5.4 Bahan Pewangi (Parfum)

Parfum termasuk dalam bahan tambahan. Keberadaan parfum memegang


peranan besar dalam hal keterkaitan konsumen akan produk deterjen bubuk.
Artinya, walaupun secara kualitas deterjen bubuk yang ditawarkan bagus, tetapi
bila salah memberi parfum akan berakibat fatal dalam penjualannya. Parfum untuk

13
deterjen berbentuk cairan berwarna kekuning-kuningan dengan berat jenis 0,9.
Dalam perhitungan, berat parfum dalam gram (g) dapat dikonversikan ke milliliter
(ml). Sebagai patokan 1 g parfum = 1,1 ml. Pada dasarnya, jenis parfum untuk
deterjen dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu parfum umum dan parfum eksklusif.
Parfum umum mempunyai aroma yang sudah dikenal umum di masyarakat, seperti
aroma mawar dan aroma kenanga. Pada umumnya, produsen deterjen bubuk
menggunakan jenis parfum yang eksklusif. Artinya, aroma dari parfum tersebut
sangat khas dan tidak ada produsen lain yang menggunakannya. Kekhasan parfum
eksklusif ini diimbangi dengan harganya yang lebih mahal dari jenis parfum umum.
Beberapa nama parfum yang digunakan dalam pembuatan deterjen bubuk
diantaranya bouquet, deep water, alpine, dan spring flower.

2.5.5 Antifoam

Cairan antifoam digunakan khusus untuk pembuatan deterjen bubuk untuk


mesin cuci. Bahan tersebut berfungsi untuk meredam timbulnya busa. Persentase
keberadaan senyawa ini dalam formula sangat sedikit, yaitu berkisar antara 0,04-
0,06%.

2.6 Cara Kerja Deterjen

These types of energy interact and should be in proper balance. Let's look at how they work
together. Let's assume we have oily, greasy soil on clothing. Water alone will not remove this
soil. One important reason is that oil and grease present in soil repel the water molecules.
Now let's add soap or detergent. The surfactant's water-hating end is repelled by water but
attracted to the oil in the soil. At the same time, the water-loving end is attracted to the water
molecules. These opposing forces loosen the soil and suspend it in the water. Warm or hot water
helps dissolve grease and oil in soil. Washing machine agitation or hand rubbing helps pull the
soil free.

2.7 Proses pembuatan deterjen

Secara umum proses pembuatan deterjen dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :

14
1. Spray-drying
2. Agglomerasi
3. Dry-mixing

2.7.1 Spray-drying

Merupakan proses modern dalam pembuatan deterjen bubuk sintetik,


dimana didalam spray-drying terjadi proses pengabutan dan dilanjutkan dengan
proses pengeringan. Tahap-tahap proses dalam proses spray-drying dapat
diperlihatkan pada gambar :

Gambar 1 spray drying plant block diagram

Gambaran proses pembuatannya adalah : komponen-komponen cairan


(diterima dalam drum dan kemudian disimpan dalam storage tank) diukur kemudian

15
dicampurkan dengan kmponen padat ( diterima dalam bags atau wadah khusus dan
kemudian disimpan dalam silos)untuk membentuk slurry yang homogen. Beberapa
slurry memiliki perbedaan viskositas dan konsentrasi berdasarkan formula yang
dipompakan pada tekanan tinggi ( hingga 10 bar). Dan di spray(disemprotkan)
melalui alat penyemprot khusus (nozzles)ke dalam menara berbentuk silinder
(spray drying tower)seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.dimana aliran dari
udara panas terbawa.dalam beberapa kasus aliran udara mengalir menuju produk
untuk memastikan efisiensi termalnya tinggi dan proses drying terkontrol.

Pilihan drying co-current pada dasarnya dibatasi oleh perbedaan proses


drying yang mana hasilnya lebih tetap dan tahan terhadap hollow beads yang
berasal dari ekspansi mula mula dan drying permukaan ketika slurry menurun
pada saat suhu udara tinggi pada bagian atas menara (spray- darying tower).
Dalam kasus ini ketika meneruskan arus aliran turun,pengeringan produk diproses
yang dihubungkan dengan menurunkan suhu udara.drying co-current menurunkan
efisiensi kalor dan sebagian besar digunakan untuk pengeringan produk yang
sensitif terhadap suhu tinggi dari bulk dengan densitas yang rendah.

Produk yang dikeringkan dalam bentuk hollow bead dikumpulkan pada


bagian atas menara spray drying dan didinginkan serta dikristalisasikan melalui
sistim pembawa airlift dengan aliran udara dingin.setelah pengankutan udara
bubuk dasar disaring dan diberikan pengharum dan akhirnya dicampur dengan
komponen-komponen yang sensitive terhadap suhu atau zat adiktif yang kemudian
di simpan dalam silos dan akhirnya di bawa ke mesin pengepak poduk.

16
Gambar2 spray drying - plant

Perlakuan bahan bahan mentah :

Berbagai pilihan dari perlakuan dari bahan bahan mentah dan


pendistibusiannya tersedia dalam pemasaran dan dipilih sesuai syarat syarat yang
di tetapkan dan bergantung pada formula produknya. Gambar 3 memperlihatkan
skema penanganan dari bahan mentah padat untuk skala industry dengan
kapasitas 3 hingga 5 ton per jam. Bahan bahan kimia yang digunakan dalam
pembuatan deterjen secara umum bahayanya di batasi terhadap lingkungan.
Namun , beberapa bahan seperti bahan bahan berbau tajam, konsentrasi fines,
dan enzim memerlukan penananganan secara khusus dan prosedur pemrosesan
yang telah ditetapkan oleh penyedia bahan bahan mentah.

17
Gambar 3 spray drying : solid raw materials handing

Pembuatan slurry

1. Sistim kontinu
Proses balestra dosex diperlihatkan pada gambar 4 yang merupakan sistim
pembuatan slurry secara kontinu. Setiap komponen tunggal ditimbang dalam
putaran 30 sekon hingga beberapa menit. Variabelnya berdasarkan laju
produksi yang diperlukan. Sistim pembuatan slurry secara kontinu digunakan
untuk medium dengan kapasitas produk 6 10 ton /jam atau lebih besar,
sedangkan sistim batch digunakan untuk kapasitas produksi 4 ton/jam

18
Gambar 4 spray drying : ballestra dosex continuous slurry preparation and
pumping sistim

Proses pembuatan slurry sebagai berikut :

Alat pengangkut ( conveyor ) mengumpulkan terus menerus padatan yang


telah ditimbang sebelum membawa padatan tersebut ke crutcher slurry. Crutcher
slurry juga menerima komponen komponen liquid yang mengalir secara tetap dari
damper yang mengumpulkan berbagai umpan. Ketika formula padat, meliputi
senyawa sulfon anionic dan sabun, asam lemak dan asam sulphonic dinetralisasikan
dengan alkali dalam mixer sebelum umpan dikirim/dimasukkan ke dalam crutcher
slurry. Dalam beberapa kasus, ketika tidak ada reaksi yang diharapkan dari
komponen lain, asam menjadi umpan dan dinetralisaikan secara langsung didalam
crutcher slurry yang dalam kasus ini bagian dalam dari crutcher slurry harus terbuat
dari bahan bahan stainless steel 304 agar bagian dalamnya tidak rusak akibat
asam. Crutcher slurry merupakan mixer dengan kecepatan putaran yang tinggi
yang didesain untu penguraian fine dan membuat campuran menjadi homogen.
Pengoperasian crutcher juga mencegah penumpukkan dan pembentukan gumpalan
gumpalan padat yang dapat menyumbat pipa aliran umpan. Dari crutcher, slurry
kemudian di transfer menuju vessel aging, dimana campuran tersebut
dihomogenasasi lebih lanjut dan diatur berdasarkan derajat hidrosin yang dari
garam anorgonik yang diperlukan seperti soda ash, natrium sulfat, dan sodium
tripolyphosphate yang ada dalam formula.

Penyaringan dan pemompaan :

Slurry kental merupakan umpan yang melewati filter manetik dan di


lanjutkan dengan filter pembersih khusus yang dibuat untuk membuang setiap
partikel partikel padat yang memungkinkan terjadinya kerusakan atau

19
penyumbatan pada pompa dan pipa spray. Sedangkan pompa booster merupakan
pompa yang dibuat untuk menangani kekentalan dari slurry pada tekanan hingga
100 bar dan untuk menjaga kekentalan slurry tetap konstan sesuai dengan nilai
yang diperlukan.

2 Sistim batch

Pembuatan slurry secara batch direkomendasikan hanya untuk kapasitas


kecil. Sistem automatis juga dapat diberikan dimana komponen komponen
tersebut ditimbang secara automatis kedalam crutcher melalui hopper menengah.
Setelah pengukuran dan pencampuran dalam crutcher khusus. Slurry tersebut
dipindahkan menuju vessel penyimpan ( stored vessel) dan dari situ difilter dan
dipompakan menuju menara spray drying.

Jalur pipa spray drying

Slurry dipompakan menuju lintasan yang dipasang pada bagian atas dari
menara spray yang mana pipa spray tersebut dihubungkan dengan shutoff dan
katup katup yang dibuat untuk mengendalikan operasi. Ukuran dan jumlah dari
pipa spray tergantung dari kapasitas pabrik.

Menara spray drying

Menara spray drying merupakan desain khusus dari wadah distribusi udara
panas yang mengizinkan operasi dengan perbedaan temperature yang tinggi dari
udara panas yang masuk hingga 400 500oC dan temperature keluaran udara
pembuangan turun menjadi 85-90oC dengan efisiensi termal yang optimum.
Pembersih khusus seperti air broom dan cincin blade juga dapat digunakan untuk
mencegah penumpukan pada dinding menara. Multicyclon dan efisiensi filter yang
tinggi ditempatkan pada bagian keluaran aliran udara atau pada bagian atas
menara untuk memperoleh kembali fines yang secara kontinu dikumpulkan dan
direcycle kedalam menara. Semua kondisi operasi menara spray drying diatur
secara otomasi dengan settings yang tempat dari penggunaan bahan bakar, aliran
udara, konsentrasi slurry dan semua temperature dan tekanan yang diperlukan
pada nilai yang optimum.

Penanganan produk akhir

Deterjen bubuk yang dihasilkan dikeluarkan dari menara spray dryng pada
temperature 60-70oC dan dibawa dengan alat pengangkut (belt) menuju unit
kristalisasi kontinu yaitu airlift. Dalam airlift deterjen dibawa keatas oleh aliran
udara yang dingin dengan pengeringan sempurna dan dilanjutkan dengan
pengkristalan. Lalu udara pengangkut dihisap melalui penyaring sleeve sebelum
dikeluarkan ke atmosfir. Fines yang dipisahkan dikeluarkan kedalam menara spray
drying. Akhirnya deterjen bubuk dalam bagian bawah krucut dikeluarkan menuju

20
saringan (sleve) untuk membuang setiap material atau bahn mentah yang masih
kasar ( biasanya 1%-2% dari total produk yang dihasilkan). Sebelum diberikan
farfum dan akhirnya pada post addition dilakukan pengemasan.

Kelebihan dari spray drying antara lain:

1.butiran deterjen yang di hasil kan mempunyai volume per satuan berat yang
besar.

2.butiran dterjen yang dihasilkan mempunyai densistas yang tinggi

Kekurangan spray drying antara lain:

1.densitas dari bubuk deterjan rendah biay pengepakan cukup tinggi

2.membutuhkan biaya investasi yang cukup besar dalam pembuatan deterjen

3.menyebabkan kerusakan pada STTP karena temperature tinghgi

4.membutuhkan energi yang tinggi untuk unit produksi

2.7.2.Agglomerasi

Proses agglomerasi merupakan proses pembuatan deterjan bubuk sintesis


yang memiliki densitas yang tinggi dengan cara pencampuran material-material
kering dengan bahan-bahan cairan yang di Bantu dengan adanya bahan pengikat
cairan yang kemudian bercampur yang menyebabkan bahan-bahan tadi bergabung
satu sama l;ain yang membentuk partikel-partikel berukuran besar.

Prose agglomerasi dapat di gambar kan seprti proses penimbunan atau


penumpuka dari komponen dari bubuk menjadi cairan dan menjadi butir atau
granula.Tahap-tahap pemprosesan non tower balestra untuk untuk produksi
deterjen bubuk berdasarkan pada proses agglomerasi seperti gambar 5.Diantara
berbagai tahap proses tersebut,agglomerasi memperlihatkan operasi yang sangat
penting dan kritis,karena proses tersebut dihubung kan ke struktur fisik dan pada
saat yang sama,di hubungkan ke komposisi kimia dari produk.

Proses agglomerasi juga merupakan proses spry drying dengan dry mixing
atau blending.Konsentasi air prose yang digunakan anatara 35-40% dalam crutcher
slurry.Dalam agglomerasi cairan disemprotkan keatas secar continue.Komponen-
komponen atau bahan yang digunakan dalam agglomerasi meliputi slikat deterjen
aktif dan air yang digunakan sebagai cairan dalam agglomerasi.

21
2.7,3.Dry-mixing

a.Dry mixing Granulation

Pembuatan deterjen dengan DMG dari bahan padat terkadang dilengkapi


dengan penambahan asam organic/anorganik dengan jumlah terbatas yang
meliputi beberapa substansi kering dan dengan penambahan bahan cairan dalam
jumlah kecil (seperti silikat,non-ionik,atau parfum) untuk meningkatkan kualitas
produk dari segi komponen nya.Pembuatan deterjen bubuk dengan proses DMG
menggunakan alat disebut lodige mixer.

Alat ini terdiri atas silinderstatis horizontal yang memiliki batang yang dapat
berputar 140-160 rpm dibagian tengah-tengah nya.pada batang tersebut berbagai
blade-blade pemotong disusun/dipasang pada saat bahan-bahan dasr atau
komponen pembuatan deterjen baik padat maupun cairan dimasukkan kedalam
mesin mixer dan bahan-bahan tersebut kemudian bercampur diman [encampuran
tersebut dilakukan olejh blade-blade pemoton atau bilah- bilah pisau pemotong
yang mengangkat bahan-bahan campuran tersebut dari dasar mixer.Pada bagian
bawah mixer terdapat dua choppers (gigi-gigi pemotong) yang digerakkan oleh
motor penggerak yang membantu untuk memecahkan gumpaslan-gumpalan dalam
bahan-bahan mentah tadi yang mana gumpalan-gumpala tersebut cenderung
terbentuk saat bahan-bahan yang berbentuk padatan dimasukkan kedalam bubuk.

22
Deterjen bubuk yang dihasilkan dari proses DMG ini memiliki sifat-sifat yaitu
kandungan surfaktan rendah (1-5%) dan densitas nya berada dalam range 400-700
g/l.

Berikut adalah formula yang digunakan dalam pembuatan dtyerjen bubuk


dengan metode DMG proses.

No Bahan-bahan I II III
(%) (%) (%)
1 Asam slurry 12 15 12
2 STTP (suhu naik hingga 10-15 c) 10 12 -
3 Soda ash 45 40 53
4 Soda bicarb 7,5 7,5 10
5 Sodium metasilikat 8 8 5
6 Sodium suphate(anhidrat) 10 10 10
7 Sodium chloride (refined) 5 5 7,5
8 Parfum,colour 0,5 0,5 0,5
9 brightener - - -
10 water 2 2 2
11 total 100 100 100

Tahapan dalam dry mixing sebagai berikut:

Material kering(dry material) yang digunakan untuk membuat deterjen bubuk


ditimbang dan selanjutnya dimasukkan kedalam mixer,pencampuran dilanjutkan
selama 1-2 menit dan ditambah kan slurry selama 3-4 menit.setelah semua slurry
dimasukkan kedalam mixer,pencampuran dilanjutkan selama 1-2 menit agar
menjadi homogen.Sebagian besar dari bubuk yang terbentuk dapat dikemas
dengan segera setelah selesai atau setelah 30 menit penyimpanan.Gambar 15.26
memperlihat kan proses pembuatan deterjen dengan cara DMG proses dengan
menggunakan mesin mixer lodige.

B.Simple dry mixing

Metode CKS merupakan cara pembuatan deterjen bubuk yang


sederhana,yaitu dengan cara mencampurkan bahan-bahan kering dalam mixer dan
kemudian ditambahkan bahan-bahan cairan dalam jumlah kecil yang kemudian
dicampurkan hingga diperoleh suatu campuran yang homogen.

23
Gambar 6 dry mixing : plow mixer with chopper

24
BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan makalah mengenai dterjen yang kami buat maka dapat diambil
beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Fritz Gunther,ilmuwan Jerman,biasa disebut sebagai penemu surfaktan


sintesis dalam deterjen tahun 1916.disinilah awal mula dari sintesis deterjen

2. Adapun bahan baku pembuatan dterjen adalah :

Bahan aktif (Active Ingredient)


Bahan Pengisi (Filler)
Bahan Penunjang
Bahan Tambahan (aditif)
Bahan pewangi (parfum)
Antifoam

3. Ada 3 jenis dterjen berdasarkan bentuk fisiknya :

Deterjen cair
Dterjen krim
Dterjen bubuk

4 .Proses pembuatan deterjen secara umum terdiri atas 3 bagian yaitu :

Spry-drying
Agglomerasi
Dry-mixing

DAFTAR PUSTAKA

25
Splitz,luiz 1996.soap dan dterjen.ACDS press:USA a teorical and pracrikal
review.

K.S Parasuram .1999.soap and detergen.McGraw-Hill:New Delhi.

Tambunan,Rondang.2006.Teknologhi Oleokimia.Universiatas Sumatra


utara.medan

www.wikipedia/search/deterjen/.com

http://id.wikipedia.org/wiki/Sabun

http://www.google.com/search?
hl=en&q=diagram+alir+pembuatan+deterjen&btnG=Search

26