Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR

“Respon Hewan Air Terhadap Bahan Pencemar (Deterjen) pada Ikan Nila
(Oreochromis niloticus)”

Oleh:
Riko
(2021611035)

JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERTANIAN PERIKANAN DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG

1
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan Rahmat dan Karunia-Nya,
sehingga penulis dapat merampungkan laporan praktikum ikhtiologi dengan judul:
“Respon Hewan Air Terhadap Bahan Pencemar (Deterjen) pada Ikan Nila
(Oreochromis niloticus)”.
Laporan ini dapat tersusun tak lepas dari bantuan banyak pihak. Oleh karena
itu penulis berikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya
kepada,
1. Kedua orang tua yang senantiasa mendo’akan penulis dan segala fasilitas
yang mereka berikan
2. Dosen pengampu Okto Supratman, S.Pi.,M.Si. yang menyampaikan materi
dengan baik
3. Asisten dosen Khaerudin dan Hedi Sanjaya yang membimbing penulis
dalam praktikum
4. Teman-teman yang bekerja sama dengan baik pada saat praktikum
Akhir kata penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh
dari kesempurnaan. Karena itu, penulis memohon saran dan kritik yang sifatnya
membangun demi kesempurnaannya dan semoga bermanfaat bagi kita semua.
Aamiin.

Balunijuk, 16 Maret 2018,


penulis

Riko
2021611035

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN..................................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................................1
1.2 Tujuan..................................................................................................1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................2


2.1 Definisi Detergent................................................................................2
2.2 Definisi Ikan........................................................................................4
BAB III. METODE PENELITIAN...................................................................5
3.1 Waktu dan Tempat...............................................................................5
3.2 Alat dan Bahan....................................................................................5
3.3 Cara Kerja............................................................................................5

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................6


4.1 Hasil.....................................................................................................6
4.2 Pembahasan.........................................................................................7
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN...................................................................8
5.1 Simpulan...............................................................................................8
5.2 Saran.....................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

3
1
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di era globalisasi ini, sektor perindustrian mengalami kemajuan yang


sangat pesat khususnya di negara berkembang. Pembangunan pabrik –
pabrik di berbagai wilayah terus dikembangkan. Tidak sedikit hasil industri
di ekspor ke luar negeri. Namun, apakah pembangunan industri itu sendiri
sudah memperhatikan dampak posititif dan negatif bagi lingkungan.
Sebagian besar pembangunan industri di Indonesia didasarkan pada
pembangunan berwawasan lingkungan. Tetapi juga tidak sedikit
pembangunan industri yang tidak mempertimbangkan terlebih dahulu
dampak apa yang akan timbul dan merugikan lingkungan disekitarnya. Hal
inilah yang membuat kualitas lingkungan semakin menurun.
Penyebab penurunan kualitas lingkungan salah satunya adalah
pencemaran air, dimana air yang kita pergunakan setiap harinya tidak lepas
dari pengaruh pencemaran yang diakibatkan oleh limbah industri yang
berupa mikrobiologik , bahan organik , beberapa bahan anorganik serta
bahan kimia lainnya sudah banyak ditemukan dalam air yang kita
pergunakan. Selain limbah industri, air limbah rumah tangga juga
merupakan sumber yang banyak ditemukan di lingkungan. Salah satu
komponennya yang dapat berdampak buruk bagi lingkungan berasal dari
deterjen. Lingkungan perairan yang tercemar limbah deterjen akan
mengancam dan membahayakan kehidupan biota air salah satunya ikan dan
manusia yang mengkonsumsi biota tersebut.
Sehubungan dengan penjelasan diatas, akhirnya kami melakukan
penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi
deterjen terhadap frekuensi membuka atau menutupnya operkulum ikan.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan praktikum ini sebagai berikut :
1. Mengetahui respon organisme akuatik terhadap perubahan bahan
pencemar (deterjen).
2. Mengetahui kisaran toleransi organiisme akuatik terhadap bahan pencemar
(deterjen).
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Detergent

1
Detergent adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk
membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi.
Dibanding dengan sabun, detergen mempunyai keunggulan antara lain
mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh
kesadahan air. Pada umumnya detergen mengandung bahan-bahan seperti
surfaktan (surface active agent) , builder (pembentuk) , filler (pengisi) , dan
aditif (bahan suplemen / tambahan).

a Surfaktan

Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan


yang mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob
(suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan
permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel
pada permukaan bahan. Secara garis besar, terdapat empat kategori
surfaktan yaitu:

1. Anionik :

 Alkyl Benzene Sulfonate (ABS)

 Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS)

 Alpha Olein Sulfonate (AOS)

2. Kationik : Garam Ammonium

3. Non ionik : Nonyl phenol polyethoxyle

4. Amphoterik : Acyl Ethylenediamines

b Builder

Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci


dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab
kesadahan air.

1. Fosfat : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)

2
2. Asetat :

 Nitril Tri Acetate (NTA)

 Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)

3. Silikat : Zeolit

4. Sitrat : Asam Sitrat

c. Filler

Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak


mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah
kuantitas. Contoh Sodium sulfat.

d. Aditif

Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat


produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna
dst, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives
ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh :
Enzim, Boraks, Sodium klorida, Carboxy Methyl Cellulose (CMC).

Ada dua jenis karakteristik detergent yang berbeda yaitu fosfat


deterjen dan surfaktan deterjen. Pada umumnya deterjen yang mengandung
fosfat akan terasa panas ditangan, sedangkan surfaktan adalah jenis deterjen
yang sangat beracun. Perbedaan kedua jenis detergen itu adalah deterjen
surfaktan lebih berbusa dan bersifat emulsifying deterjen. Disisi lain fosfat
detergent adalah deterjent yang membantu menghentikan kotoran dalam air.

Zat yang terkandng didalam detergent juga digunakan dalam


formulasi dalam pestisida. Degradasi alkylphenol polyethoxylates (non-ion)
dapat menyebabkan pembentukan alkylphenols (terutama nonylphenols)
yang bertindak sebagai endokrin pengganggu jika limbah detergent
bercampur dengan air limbah lain di saluran air.

3
2.2 Definisi Ikan

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan air tawar yang


memiliki bentuk tubuh pipih dan berwarna kehitaman. Spesies tersebut
mempunyai garis vertikal berwarna hijau kebiruan. Pada sirip ekor
terdapat garis melintang yang ujungnya berwarna kemerah-merahan
(Ghufran, 2009). Warna tubuh yang dimiliki ikan nila adalah hitam keabu-
abuan pada bagian punggungnya dan semakin terang pada bagian perut ke
bawah (Cholik, 2005). Ikan nila juga memiliki mata yang besar dan
menonjol (Wiryanta et al, 2010). Spesies tersebut memiliki linea lateralis
(gurat sisi) yang terputus menjadi dua bagian. Bagian pertama terletak dari
atas sirip dada hingga hingga tubuh, dan bagian kedua terletak dari tubuh
hingga ekor. Jenis sisik yang dimiliki spesies tersebut adalah ctenoid
(Cholik, 2005).

4
III. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 16 Maret 2018 jam 08.00-
09.30 WIB. Bertempat di Laboratrium Perikanan, Fakultas Pertanian, Perikanan
dan Biologi. Universitas Bangka Belitung.

3.2 Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Ikan Nila


(Oreochromis niloticus) dan deterjen. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam
praktikum ini adalah akuarium, aerator, timbangan digital, ember, gayung,
terminal listrik lap atau tisu dan stopwatch.

3.3 Prosedur Kerja


Adapun langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini yaitu cara
pertama disiapkan 1 buah akarium sebagai tempat uji perlakuan, cara kedua
dipilih perlakuan 3, cara ketiga masing-masing akuarium diisi air kurang lebih 3
liter, cara keempat untuk air dalam akuarium ditambahkan deterjen dan diaduk
untuk mencapai kelarutan tertentu, cara kelima dimasukkan 2 ekor ikan nila pada
akuarium, terlebih dahulu ditimbang bobot awal (Wo) dengan menggunakan
timbangan digital, cara keenam diupayakan kandungan deterjen dalam toples
sesuai dengan perlakuan, cara ketujuh diamati tingkah laku ikan tiap 10 menit,
dan dicatat hewan uji yang diamati selama percobaan dan terakhir ditimbang
bobot akhir dan jumlah ikan yang hidup dari hewan uji tiap perlakuan pada akhir
praktikum.

5
V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa :

1. Ada pengaruh konsentrasi detergent terhadap frekuensi membuka dan


menutupnya operkulum ikan .
2. Air yang tercemari detergen dapat mengancam kehidupan organisme
yang hidup di dalamnya, salah satunya adalah ikan. Karena air yang
tercemar deterjen memiliki konsentrasi dimana ikan tidak dapat bertahan
hidup.
3. Semakin tinggi konsentrasi maka frekuensi membuka dan menutupnya
operkulum ikan semakin lambat.

5.1 Saran

Sebagai manusia yang peduli akan lingkungan, hendaknya kita turut


menjaga kualitas lingkungan dengan cara tidak membuang limbah rumah
tangga seperti detergent sembarangan yang akhirnya akan mengganggu
kelangsungan hidup biota air (ikan).

8
DAFTAR PUSTAKA

Jojo, jonathan. “Laporan Praktikum Pengetahuan Lingkungan (Pengaruh


Konsentasi Deterjen Terhadap Kelulushidupan Ikan”
https://www.scribd.com/doc/88340290/Laporan-Asli (diakses
tanggal, 2 April 2018)

Supratman, Okto. 2018. “Panduan Praktiikum Fisiologi Hewan Air”. Bangka:


Universitas Bangka Belitung