Anda di halaman 1dari 19

Case Study 1 Konservasi Gigi

A. Skenario

Alya (25tahun) dating ke RSGMP Unsoed dengan keluhan gigi belakang bawah berlubang
dan ingin ditambal dengan tambalan sewarna gigi. Gigi tersebut terasa ngilu saat minum minman
yang dingin. Rasa ngilu hilang, segera setelah minuman tertelan. Pda pemerikasaan terlihat karies
yang cukup luas pada permukaan oklusal, kedalaman hingga mencapai dentin pada gigi 36/46.
Dinding bukal, lingual, mesial, dan distal utuh. Perabaan pada area mukosa gingiva gigi 36/46
tidak ditemukan adanya lesi inflamasi. Perkusi tidak terasa sakit. Pasien merasakan ngilu saat
dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan Clor Ethyl. Pasien ingin giginya direstorasi dengan
baik.

B. Cara Diagnosa dan Diagnosa Pasien


1. Pemeriksaan Subjektif
Pemeriksaan subjektif adalah pemeriksaan untuk mendapatkan informasi
dengan cara mewawancarai pasien tentang riwayat penyakit meliputi gejala-gejala
(symptom) yang dirasakan oleh penderita. Menurut Gleadle (2005) yang termasuk
komponen anamnesa medik adalah :
a) Chief Complaint / keluhan utama, merupakan pertanyaan untuk menanyakan
keluhan utama pasien atau alasan mengapa pasien datang kepada dokter
b) Present Illness / riwayat penyakit sekarang , pertanyaan mengenai deskripsi
keluhan serta perjalanan penyakit yang dirasakan saat ini, misalnya penyakit
yang dirasakan sudah sejak kapan dan sudah diobati atau belum
c) Past Medical History/ riwayat penyakit terdahulu, pertanyaan mengenai riwayat
kesehatan umum pasien apakah menderita penyakit kronis atau sedang
mengkonsumsi obat-obatan tertentu
d) Past Dental History / Riwayat gigi terdahulu , menggali informasi mengenai
riwayat penyakit dan perawatan gigi termasuk riwayat komplikasi atau
pendarahan yang pernah dialami pasien saat melakukan perawatan gigi
e) Family History / Riwayat keluarga, menggali informasi mengenai riwayat
penyakit keluarga yang biasa diturunkan
f) Social History / Riwayat Sosial, pertaanyaan berhubungan dengan riwayat
kehidupan sosial seperti gaya hidup, pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, dan
sebagainya
2. Pemeriksaan Objektif
Periksaan objektif merupakan pemeriksaan yang melalui berbagai uji atau tes dengan
menggunakan alat dan bahan. Pemeriksaan ini dilakukan oleh operator dengan metode
sebagai berikut:
a. Pemeriksaan Visual
1) Pemeriksaan Ekstraoral
Pemeriksaan dengan melihat apakah ada pembengkakan atau perubahan warna
uang biasanya melihat tampilan umum seperti tonus kulit, asimetris wajah,
pembengkakan , perubahan warna, kemerahan, jaringan parut ekstraoral atau
sakuran sinus, dan kepekaan atau membesarnya nodus limfe servikal.
2) Pemeriksaan Intraoral
Pemeriksaan jaringan lunak rongga mulut dengan secara visual dan palpasi yang
diperiksa diantaranya bibir, mukosa oral, pipi, lidah, palatum, dan otot-otot serta
semua keabnormalan yang ditemukan.
b. Test Kelainan Periapikal
1) Tes Perkusi
Test ini dilakukan dengan cara mengetuk pelan permukaan oklusal atau insisal gigi
yang bermasalah dan membandingkan dengan mengetuk pelan gigi yang
diperkirakan sehat menggunakan ujung tangkai kaca mulut untuk mendeteksi adanya
nyeri. Tes perkusi positif kemungkinan menunjukkan adanya kerusakan pada
jaringan periodontal yang dapat ditunjang dengan foto rontgen.
2) Tes Palpasi
Pemeriksaan ini dengan cara meraba menggunakan ujung jari yang tujuannya untuk
memeriksa adanya nyeri atau pembengkakan tanpa disertai nyeri pada jaringan
lunak mulut

c. Tes Vitalitas pulpa


1) Tes Termal
Test termis (panas dan dingin) merupakan salah satu cara untuk mengevaluasi
vitalitas atau sensitivitas pulpa. Tes dingin dengan menggunakan es, cloretil, dan air
dingin. Penggunakan yang paling sering adalah chloretil dengan cara disemprotkan
pada cotton pellet kemudian ditempelkan pada permukaan gigi yang karies yang
telah dilakukan eskavasi terlebih dahulu, atau pada bukal dipertengahan mahkota.
Apabila respon terhadap rangsangan positif menandakan bahwa pulpa gigi tersebut
masih vital, sedangkan apabila gigi tersebut tidak merespon menandakan bahwa
pulpa gigi dalam keadaan nonvital atau nekrosis. Tes panas tidak dilakukan secara
rutin, berguna jika ada keluhan pada gigi yang sulit dilokalisir. Respon yang hebat
dan menetap merupakan indikasi dari pulpitis irreversible. Tes panas dapat
menggunakan air panas, burnisher, atau menggunakan gutta percha yang
dipanaskan, bahan dan alat diletakkan pada kavitas yang sudah dikeringkan
kemudian diangkat dan diamati respon pasien.
2) Tes Elektris
Alat yang digunakan adalah EPT (Electric Pulp Test) yaitu alat untuk membantu
dalam menentukan vitalitas gigi dengan menggunakan aliran listrik yang bertahap
untuk mendapatkan respon dari pulpa. Kontraindikasi pada pasien pemakai
pacemaker (alat pemacu jantung)
3) Tes Kavitas
Tes ini biasanya dilakukan pada keadaan dentin sklerotik yang dilakukan dengan
menggunakan bor kecepatan rendah tanpa menggunakan pendingin, dilakukan
pengeboran sampai daerah DEJ. Apabila memberikan rasa sakit menandakan bahwa
pulpa masih dalam keadaan vital.
4) Tes Jarum
Digunakan apabila terdapat perforasi akibat karies atau test kavitas. Jarum yang
digunakan adalah jarum miller, k-file ukuran kecil yang dimasukkan kedalam saluran
akar hingga menimbulkan rasa sakit.

5) Tet Anastesi
Tes anastesi berguna untuk menetukan gigi yang sakit ketika pasien tidak dapat
melokalisir rasa sakit tersebut pada gigi yang tepat, pasien hanya menyatakan
sakitnya didaerah sekitar atau bagian tertentu. Dilakukan dengan anastesi blok pada
salah satu sisi rahang, apabila rasa sakit hilang berarti menandakan bahwa giinya
sakit berada pada sisi yang teranastesi, apabila tidak hilang berarti gigi yang sakit
berada pada sisi yang tidak ternastesi

Kasus pada pasien:


Chief Complaint (CC) : pasien datang ke dokter gigi dengan keluhan gigi belakang
berlubang dan ingin ditambal dengan tambalan yang sewarna
dengan gigi.
Present Illness (PI) : gigi pasien terasa ngilu pada saat minum minuman dingin, namun
rasa ngilu hilang setelah minuman tertelan
Pemeriksaan intraoral : terlihat karies yang cukup luas pada permukaan oklusal kedalaman
mencapai dentin pada gigi 36/46 dan tidak ditemukan adanya
inflamasi pada gigi tersebut.
Tes Perkusi : negatif, pasien tidak terasa sakit.
Tes vitalitas (Termal) : positif, pasien terasa ngilu saat dilakukan pemeriksaan dengan
menggunakan Chlor Ethyl.
Pulpitis reversible, pasien terasa ngilu setelah minum minuman yang
dingin namun setelah ditelan rasa ngilu hilang.

C. Klasifikasi karies gigi


Karies merupakan salah satu penyakit pada jaringan keras gigi yang disebabkan oleh
pembentukan asam dari mikroorganisme sehingga menimbulkan demineralisasi komponen
anorganik dan kerusakan organic yang akhirnya terbentuk kavitas (lubang) pada gigi. Proses
terjadinya karies pada gigi berawal dari sekresi saliva yang membentuk lapisan pelikel pada
enamel yang menjadikan tempat berkoloninya bakteri (biofilm), bakteri- bakteri tersebut
menghasilkan asam yang kemudian menyebabkan pH pada rongga mulut menurun. Setelah itu
gigi mengalami demineralisasi dengan waktu yang cukup lama menyebabkan terbentuknya
kavitas. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya karies diantaranya mikroflora, host, diet, dan
waktu.
Menurut (Sunawinata, 2002) Karies dapat diklasifikasikan dengan beberapa cara, diantaranya:
1. Klasifikasi berdasarkan anatomi gigi
a. Karies pit dan fissure
b. Karies aproksimal
c. Karies servikal
d. Karies akar
e. Karies pada tepi tumpatan atau karies skunder
2. Klasifikasi berdasarkan Keparahan atau kecepatan berkembang
a. Karies Ringan
Apabila karies hanya terjadi pada daerah yang memang sangat rentan terhadap karies,
misalnya pada permukaan oklusal gigi posterior.
b. Karies Sedanng/Moderat
Apabila karies mengenai permukaan oklusan dan proksimal gigi posterior.
c. Karies Parah
Apabila karies mengenai gigi-gigi yang biasanya bebas karies, misalnya karies pada gigi
anterior
d. Karies Rampan
Apabila karies yang mengenai beberapa gigi yang terjadi sangat cepat dan meliputi
permukaan gigi yang biasanya bebas karies. Keadaan ini terutama terjadi pada balita
yang selalu menghisap susu botol yang mengandung gula. Selain itu juga ditemukan
pada remaja yang sering makan kudapan kariogenik dan minuman manis diantara waktu
makannya. Keadaan lain pada mulut yang mengalami xerostomia akibat radiasi atau
penyakit-penyakit sistemik.
e. Karies Terhenti
Karies yang berhenti berkembang. Hal ini dapat terjadi apabila lingkungan dalam rongga
mulut mengalami perubahan, tidak lagi memungkinkan untuk terjadi karies. Lesi pada
keries yang terhenti warnanya tampak lebih gelap dan terkadabf agak menghitam.
Konsistensinya dapat lebih lunak dan kenyal atau bahkan lebih keras daripada gigi
normal.
3. Klasifikasi berdasarkan kedalamannya
a. Karies awal
Tahap awal karies baru mengalami demineralisasi sehingga belum ditemukan lubang
karies.
b. Karies superfisial / karies email / karies dangkal
Karies yang hanya mengenai permukaan email saja.
c. Karies media / karies dentin
Karies telah mencapai dentin namun belum melebihi setengah dentin atau belum
mendekati pulpa
d. Karies profunda
Karies sampai selapis tipis dentin yang menutup ruang pulpa atau sampai terbuka atap
pulpa (perforasi).
4. Klasifikasi menurut G. V. Black
Dr. G. V. Black mengemukakan gagasannya mengenai pengklasifikasian karies pada 100
tahun yang lalu. Klasifikasi ini menggunakan lokasi spesifik dari lesi karies gigi.
a. Kelas I
Karies pada pit dan fissure permukaan oklusal gigi posterior
b. Kelas II
Karies pada permukaan proksimal gigi posterior
c. Kelas III
Karies pada permukaan proksimal gigi anterior
d. Kelas IV
Karies pada permukaan proksimal gigi anterior telah mengenai permukaan insisal.
e. Karies V
Karies pada permukaan sepertiga servikal semua gigi.
Tambahan untuk klasifikasi Blavk
f. Kelas VI
Karies pada semua permukaan gigi anterior yang melibatkan seuruh insisal edge dan
ujung cups gigi posterior.
5. Klasifikasi berdasarkan luas kavitasnya
a. Simple cavity : terdapat hanya satu kavitas
b. Coumpund cavity : terdapat dua kavitas
c. Compleks cavity : terdapat lebih dari dua kavitas

6. Klasifikasi menurut G. J. Mount


Berdasarkan area (Site)
a. Area 1 : Pit dan Fissure
Enamel yang rusak pada permukaan oklusal gigi posterior atau permukaan gigi yang
halus pada beberapa gigi
b. Area 2 : Permukaan proksimal
Permukaan enamel kontak gigi yang bedesakan.
c. Area 3 : Permukaan servikal
Permukaan sepertiga atau disertai resensi gingival, atau terbukanya akar.
Berdasarkan Ukuran (Size)
a. Ukuran 0 : lesi paling awal, tahap demineralisasi paling awal
b. Ukuran 1 (Minimal): Penyebaran sampai dentin minimal diambang batas yang bisa
termineralisasi
c. Ukuran 2 (Moderate): adanya penyebaran yang cukup signifikan pada dentin.
d. Ukuran 3 (Enlarged): penyebaran meluas dengan cusp atau ujung insisal.
e. Ukuran 4 (Extensive): hilangnya struktur gigi secara signifikan; misal hilangnya cusp atau
seluruh insisal edge.

Kasus pada pasien:

Berdasarkan anatomi : pit dan fissure, karena berada pada oklusal


Berdasarkan keparahan : karies ringan, karena pada gigi yang rentan karies.
Berdasarkan kedalaman : karies media, karena karies sudah mencapai dentin namun belum
sampai pulpa.
Berdasarkan luas kavitas : simple cavity, hanya pada satu kavitas.
Menurut Black : Karies kelas I, karies cukup luas pada permukaan oklusal gigi 36/46.
Menurut G.J. Mount : 1.2 , karies pada pit dan fissure atau oklusal yang meluas dengan
kedalaman mencapai dentin.

D. Rencana Perawatan gigi


1. Resin Komposit
Resin komposit merupakan bahan restorasi gigi yang telah lama digunakan untuk
menggantikan jaringan gigi yang hilang dan mampu memodifikasi warna serta kontur gigi
sehingga meningkatkan faktor estetik restorasi (Craig dan Powers, 2006). Resin komposit
dapat digunakan untuk beberapa macam aplikasi, antara lain untuk merestorasi gigi anterior
dan posterior yang patah atau terkena karies, penyesuaian oklusi, sementasi dari restorasi
indirect (tidak langsung), perekat braket ortodontik, dan mentransformasi gigi secara estetik
Resin komposit menurut Powers (2003) merupakan bahan restorasi yang terdiri atas
tiga komponen utama, yaitu: komponen organik (resin) yang membentuk matriks, bahan
pengisi (filler) inorganik, dan bahan interfasial untuk menyatukan resin dan filler yang disebut
sebagai coupling agent. Selain itu, resin komposit juga mengandung pigmen agar warna resin
komposit dapat menyerupai warna stuktur gigi dan inisiator serta akselerator untuk
mengaktifkan mekanisme pengerasan/polimerisasi.
Resin komposit mengeras atau setting melalui mekanisme polimerisasi yang dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu :
a. Resin diaktivasi secara kimiawi
Resin yang diaktivasi secara kimiawi biasaanya dalam bentuk dua pasta. Salah
satu pastanya berisi inisiator benzoyl peroxide, sedangkan yang lainnya berisi aktivator
tertiary amine. Bila kedua bahan ini diaduk, amine akan bereaksi dengan benzoyl
peroxide dan membentuk radikal bebas sehingga mekanisme pengerasan akan dimulai.
b. Resin diaktivasi oleh sinar
Bahan resin komposit yang dipolimerisasi dengan sinar biasanya dalam bentuk
satu pasta dan dimasukkan dalam sebuah semprit. Sistem pembentuk radikal bebas yang
terdiri atas molekul-molekul fotoinisiator dan aktivator amine terdapat dalam pasta
tersebut. Bila tidak disinari, maka kedua komponen tersebut tidak akan bereaksi.
Sebaliknya, sinar dengan panjang gelombang yang tepat dapat merangsang fotoinisiator
bereaksi dengan amine dan membentuk radikal bebas.

Lutz dan Phillips (1983) mengklasifikasikan resin komposit berdasarkan ukuran partikel
filler, yaitu:
a. Resin komposit konvensional
Resin komposit konvensional umumnya terdiri dari 75-80% dari berat bahan
pengisi anorganiknya. Ukuran rata-rata partikel resin komposit konvensional ini sekitar 8
m . karena partikel ini pengisinya relative besar dank eras sekali, resin komposit
konvensional memperlihatkan tekstur permukaan yang kasar, sehingga sesuai denga gigi
posterior, namun menyebabkan restorasi lebih mudah mengalami perubahan warna
akibat adanya ekstrinsik stain.
b. Resin komposit makrofil
Resin komposit makrofil mempunyai ukuran filler 1-10 m. Resin komposit tipe ini
mempunyai daya tahan yang baik terhadap fraktur. Kejelekan klinis yang utama dari resin
komposit makrofil adalah terjadinya permukaan yang kasar setelah dipolish dan adanya
tendensi berubah warna karena kerentanan permukaan yang teksturnya kasar terhadap
warna-warna makanan/minuman. Bahan ini diindikasikan untuk restorasi kavitas klas IV
dan klas II.
c. Resin komposit mikrofil
Resin komposit mikrofil mempunyai ukuran filler 0,04 m. Resin komposit tipe ini
mempunyai daya tahan yang rendah terhadap fraktur, dapat dipolish dengan baik dan
warnanya stabil. Bahan ini diindikasikan untuk restorasi pada gigi-gigi anterior, terutama
restorasi tanpa beban.
d. Resin komposit hybrid
Resin komposit hybrid merupakan gabungan makrofil dan mikrofil sehingga
mempunyai ukuran filler yang beraneka ragam. Resin komposit ini mempunyai
karakteristik gabungan dari resin komposit makrofil dan mikrofil. Resin komposit tipe ini
mempunyai kehalusan permukan dan kekuatan yang baik. Bahan ini diindikasikan baik
untuk restorasi gigi anterior, termasuk restorasi klas IV, maupun restorasi gigi posterior.

Resin komposit juga diklasifikasikan berdasarkan persentase muatan filler nya, yaitu:
a. Resin komposit packable
Pada akhir tahun 1996 diperkenalkan resin komposit packable. Resin komposit
packable dikenal juga sebagai resin komposit condensable. Resin komposit packable
mempunyai muatan filler berkisar antara 66-70% volume.
b. Resin komposit flowable
Resin komposit flowable pertama kali diperkenalkan pada pertengahan tahun
1990. Dan pada akhir tahun 1996, resin komposit flowable digunakan sebagai bahan
restorasi alternatif untuk restorasi klas V. Resin komposit flowable mempunyai muatan
filler berkisar antara 42-53% volume.
Keuntungan pemakaian resin komposit
a. Mempunyai estetik yang baik
b. Mempunyai konduktivitas termal yang rendah
c. Tidak menimbulkan reaksi galvanism
d. System bondingnya mempertinggi kekuatan gigi terhadap fraktur
e. Melindungi struktur gigi yang tersisa
f. Radiopaque
g. Sebagai bahan alternatif pengganti amalgam

Kerugian pemakaian resin komposit

a. Shrinkage polimerisasi
b. Sering terbenti microleakge yang akhirnya menjadi karies skunder
c. Sensitivitas pasca penambalan
d. Memerlukan keterampilan sensitivitas yang tinggi
e. Ketahanan dalam pemakaian
f. Menyerap air
g. Marginal leakage

Indikasi pemakaian resin komposit

a. Restorasi kelas I, II, III, IV, dan V


b. Sebagai bahan base lining atau core builtup
c. Sebagai sealany pada restorasi resin preventif
d. Restorasi estetis seperti : veneers, penutupan diastema, modifikasi kontur gigi
e. Semen untuk restorasi indirect resin
f. Splinting

Kontraindikasi pemakaian resin komposit


a. Restorasi posterior dengan beban pengunyahan yang besar.
b. Kontrol cairan buruk.

2. Glass Ionomer Cement ( GIC )


Menurut Craig (2002), Glass Ionomer Cemen merupakan semen yang berbahan
dasar air dengan bentuk reaksi asam semen ionomer kaca adalah generic dari kelompok
bahan yang menggunakan silikat kaca dan larutan poliakrilat. Komposisi GIC terdiri dari
powder (SiO2 29%, Al2O3 16,6%, CaF3 34,2%, Na3AlF 5,0%, AIF3 5,3%, AIPO4 9,9%) dan
liquid (asam poliakrilat 40-50%, asatartarik 5,0% dan air 47%).
Menurut Power (2008) Sifat-sifat dari Glass Ionomer Cemen antara lain:
a. Sifat fisis
1) Anti karies ion flour yang dilepaskan terus-menerus membuat gigi lebih tahan
terhadap karies
2) Termal ekspamsi sesuai dengan dentik dan enamel
3) Tahan terhadap abrasi, ini penting khususnya pada penggunaan dalm restorasi dari
groove
b. Sifat mekanis
1) Compressive strength: 150 Mpa, lebih dari silikat
2) Tensile strength:6,6 Mpa, lebih tinggi dari silikat
3) Hardness: 4,9 KHN, lebih lunak dari silikat
4) Fraktur toughness: beban yang kuat dapat terjadi fraktur
c. Sifat Kimia
Semen ionomer kaca melekat dengan baik ke enamel dan dentin, perlekatan ini
berupa ikatan kimia antara ion kalsium dari jaringan gigi dan ion COOH dari semen
ionomer kaca. Ikatan dengan enamel dua kali lebih besar daripada ikatannya dentin.
Dengan sifat ini maka kebocoran tepi tambalan dapat dikurangi. Semen ionomer kaca
tahan terhadap suasana asam, oleh karena adanya ikatan silang diantara rantai-rantai
semen ionomer kaca. Ikatan ini terjadi karena adanya polyanion dengan berat molekul
yang tinggi.

Penggunaan GIC dalam klinik dibedakan berdasarkan sifatnya. Berdasarkan sifatnya GIC
dibedakan menjadi 4 tipe. Tipe-tipe GIC berdasarkan sifatnya adalah :
a. Tipe I : Luting cement
1) Ukuran partikel bubuk halus ( 15m)
2) Untuk melekatkan inlay,onlay, crown, bridge
3) Perbandingan bubuk :cairan 1,5:1
4) Bersifat radiopak
b. Tipe II.1 : Aesthetic Filling Materials
1) Sebagai tumpatan gigi anterior (Kelas III,V)
2) Perbandingan bubuk dan cairan 3:1
3) Bersifat radiopaque
4) Adequate aesthetic & translucency
5) Eliminating microleakage
6) Fluoride reservoir
7) Physical properties
c. Tipe II.2 : Restorative Reinforced Filling Materials
1) Sebagai tumpatan untuk gigi posterior (Kelas I), inti pasak
2) Use : physical properties, aesthetic not important
3) Perbandingan bubuk dan cairan 3:1 atau lebih besar
4) Bersifat radiopaque
d. Tipe III : Lining
1) Untuk Liner, perbandingan bubuk dan cairan 1,5:1
2) Untuk Basis, perbandingan bubuk dan cairan 3:1
3) Berguna untuk meningkatkan adesi terhadap resin komposit (sandwich technique)
4) Bersifat radiopak
5) Lining Prevent thermal change irritating the pulp
6) Base dentin subtitute
Menurut McCabe (2008), kelebihan dan kekurangan dari Glass Ionomer Cemen
antara lain yaitu:
Keuntungan GIC:
a. Biokompetible pada jaringan pulpa
b. Tidak iritatif
c. Melepas flour yang dapat menghilangkan sensitivitas
d. Mencegah karies sekunder
e. Koefisien ekspansi termal sama dengan gigi
Kekurangan GIC:
a. Kurang estetik
b. Sulit dipolish
c. Resistensi terhadap fraktur, keausan
d. Kompresif strength
e. Larut dalam asam dan air
f. Sensitif terhadap air pada waktu pengerasan
Menurut Powers (2008) indikasi dan kontraindikasi dari Glass Ionomer Cemen antara
lain yaitu:
Indikasi:
a. Restorasi gigi desidui
b. Restorasi kelas III dan V
c. Karies yang mencapai pulpa dan abrasi servikal
Kontraindikasi:
a. Pengganti Almagam
Compresive strength amalgam > GIC Tidak cukup kuat menahan beban mastikasi
yang seharusnya diterima amalgam
b. Restorasi kelas IV dan kelas VI
Compresive strength GIC tidak kuat menahan beban yang terjadi pada daerah cusp atau
incisal pecah / rusak
c. Bruxism
Ikatan kimia GIC tidak mampu menahan gesekan mekanis mudah lepas
d. Tidak dapat digunakan untuk karies kelas IV dan kelas I gigi permanen
e. Restorasi tumpatan dengan penekanan oklusi bersifat merusak

Rencana Perawatan pada pasien:


Berdasarkan kasuss diketahui pasien mengalami karies media kelas I, pasien ditumpat
dengan menggunakan komposit karena pasien menginginkan tumpatan yang sewarna
dengan gigi. Namun, gigi yang akan ditumpat adalah elemen gigi 36 dan gigi 46 yang beban
kunyah besar. Sehingga digunakan basis dari bahan GIC yang dapat menahan dan
memperkuat tumpatan kompositnya. Selain dari pada itu basis GIC berguna sebagai proteksi
agar gigi terlindungi dari asam yang berasal dari etsa dan resin yang akan mengiritasi pulpa.
Jenis komposit yang digunakan adalah packable resin composite yang merupakan komposit
pada untuk gigi posterior, berdasarkan jenis ukuran filler komposit yang digunakan adalah
small particle filled composite dengan ukuran partikel 1-5 m untuk gigi posterior. Alternatif
lain yang digunakan yaitu GIC tipe 2.2 yaitu restorive reinforced filling materials yaitu sebagai
tumpatan untuk gigi posterior (kelas I)

E. Tahapan kerja pasien


1. Preparasi
Preparasi merupakan prosedur invasif yang menghilangkan karies sampai tercapai
bentuk yang tepat pada jaringan sehat gigi, yang akan mempertahankan bahan restorasi
dalam mulut terhadap kekuatan pengunyahan, mengembalikan bentuk, fungsi dan
estetik.
a. Membuat regangan cavitas atau outline form pada oklusal gigi mengikuti bentuk pit
dan fissure. Ragangan pada kasus ini hanya dibuat berdasarkan perluasan
kariesnya yang mengenai email dan dentin. Semua email dan dentin yang
sebenarnya tidak terserang kaires tetapi kelihatannya sudah lemah harus
dihilangkan. Perluasan kavitas ini sebagai langkah dari pencegahan atau extension
for prevention.
b. Preparasi menggunakan round burr sedalam 2-3 mm.
c. Membentuk dinding tegak lurus dengan dasar kavitas menggunakan bur fissure
silindris.
d. Pada sudut internal dibulatkan dengan bur bulat.
e. Dinding pulpa dihaluskan dengan bur inverted
f. Bersihkan kavitas dengan semprotan angin secara perlahan
g. Irigasi dengan aquadest steril kemudian keringkan dengan cotton palate
2. Dentin Liner atau Basis
Sebelum dilakukan pemberian liner/basis, kavitas harus dalam keadaan bersih
(sudah diirigasi) dan kering. Pada restorasi resin komposit, perlu diaplikasikan basis atau
liner, karena sifat dari resin yang iritan terhadap pulpa sehingga perlu adanya perlindungan
sehingga bahan restorasi resin komposit ini tidak secara langsung mengenai struktur gigi.
Bahan basis atau liner yang biasanya digunakan adalah kalsium hidroksida, terutama karies
yang hampir mencapai pulpa, karena sifatnya yang mampu merangsang pembentukan dentin
sekunder. Kalsium hidroksida (Ca(OH)2) sebagai liner ini diaplikasikan dalam konsistensi
encer yang mengalir sehingga mudah diaplikasikan ke permukaan dentin. Larutan tersebut
menguap meninggalkan sebuah lapisa tipis yang berfungsi memberikan proteksi pada pulpa
di bawahnya.
Selain liner, perlindungan lain dapat berupa basis. Basis yang dapat digunakan
adalah basis dari kalsium hidroksida, semen ionomer kaca, dan seng fosfat. Sebagai basis,
kalsium hidroksida berbentuk pasta yang terdiri dari basis dan katalis. Basisnya terdiri dari
calcium tungstate, tribasic calcium phosphate, dan zinc oxide dalam glycol salycilate.
Katalisnya terdiri dari calcium hydroxide, zinc oxide, dan zinc stearate dalam ethylene toluene
sulfonamide. Basis kalsium hidroksida yang diaktivasi dengan sinar biasanya mengandung
calcium hydroxide dan barium sulfate yang terdispersi dalam resin urethane dimethacrylate.
Kalsium hidroksida sebagai basis mempunyai kekuatan tensile dan kompresi yang rendah
dibandingkan dengan basis dengan kekuatan dan rigiditas yang tinggi. Karena itulah, kalsium
hidroksida tidak diperuntukkan untuk menahan kekuatan mekanik yang besar, biasanya jika
digunakan untuk memberikan tahanan terhadap tekanan mekanik, harus didukung oleh dentin
yang kuat. Aplikasi pemakaian liner secara tipis kurang dari 1 mm sedangkan basis
diaplikasikan setebal kurang lebih 1 mm. GIC ( Glass Ionomer Semen) bisa dipakai untuk
basis apabila diperlukan kekuatan yang lebih besar dan untuk menambah retensi. Setelah itu
dilakukan irigasi lalu kavitas dikeringkan.
3. Etsa Asam
Etsa asam dilakukan dengan cara diulaskan bahan etsa yaitu asam phospat 35%-50%
dalam bentuk gel atau cairan dengan pinset dan gulungan kapas kecil (cutton pellet). Etsa
pada permukaan enamel sebatas 2-3 mm dari tepi kavitas (pada bagian bevel). Etsa pada
dentin tidak seperti enamel, dentin terdiri atas zat organic dan bonding semakin sulit. Smear
layer harus dihilangkan sehingga material dapat mencapai dentin dan berikatan dengannya.
Etsa pada dentin tidak boleh dalam keadaan terlalu basah dan terlalu kering, harus ada
jumlah sedikit kelembaban yang dipertahankan agar tidak mongering pada gigi, dan aplikasi
material harus bisa melindungi pulpa, tidak mengiritasinya.. Pengulasan pada enamel
dilakukan selama 15-20 detik dan jangan sampai mengenai gingival dan Lalu dilakukan
irigasi dengan air sebanyak 20 cc dan kavitas dikeringkan. Setelah dikeringkan, permukaan
gigi yang dietsa akan tampak berwarna putih.
4. Enamel atau Dentin Bonding System

Bahan dasar untuk bonding adalah Bis-GMA, Bahan bonding diaplikasikan setelah
dilakukan etsa. Berdasarkan tahun pembuatan, bahan adhesif dibagi mulai dari generasi I
sampai pada generasi VII.

a. Generasi I dan II mulai diperkenalkan pada tahun 1960-an dan 1970-an yang tanpa
melakukan pengetsaan pada enamel, bahan bonding yang dipakai berikatan dengan
smear layer yang ada. Ikatan bahan adhesif yang dihasilkan sangat lemah (2 MPa-
6MPa) dan smear layer yang ada dapat menyebabkan celah yang dapat terlihat
dengan pewarnaan pada tepi restorasi.
b. Generasi III mulai diperkenalkan pada tahun 1980-an, mulai diperkenalkan
pengetsaan pada dentin dan mulai dipakai bahan primer yang dibuat untuk dapat
mempenetrasi ke dalam tubulus dentin dengan demikian diharapkan kekuatan
ikatan bahan adhesif tersebut menjadi lebih baik. Generasi III ini dapat
meningkatkan ikatan terhadap dentin 12MPa15MPa dan dapat menurunkan
kemungkinan terjadinya kegagalan batas tepi bahan adhesif dan dentin (marginal
failure). Tetapi seiring waktu tetap terjadi juga kegagalan tersebut.
c. Generasi IV mulai diperkenalkan awal tahun 1990-an. Mulai dipakai bahan yang
dapat mempenetrasi baik itu tubulus dentin yang terbuka dengan pengetsaan

maupun yang telah mengalami dekalsifikasi dan juga berikatan dengan substrat

dentin, membentuk lapisan hybrid. Kekuatan ikatan bahan adhesif ini rendah
sampai dengan sedang sampai dengan 20 MPa dan secara signifikan dapat
menurunkan kemungkinan terjadinya celah marginal yang lebih baik daripada sistem
adhesif sebelumnya. Sistem ini memerlukan teknik pemakaian yang sensitif dan
memerlukan keahlian untuk dapat mengontrol pengetsaan pada enamel dan dentin.
Cara pemakaiannya cukup rumit dengan beberapa botol sediaan bahan dan
beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan.
d. Generasi V mulai berkembang pada tahun 1990-an. Pada generasi ini bahan primer
dan bonding telah dikombinasikan dalam satu kemasan. Pada generasi ini juga
mulai diperkenalkan pemakaian bahan adhesif sekali pakai. Generasi VI mulai
berkembang pada akhir tahun 1990-an awal tahun 2000, pada generasi ini mulai
dikenal pemakaian self etching yang merupakan suatu terobosan baru pada sistem
adhesif.
e. Pada generasi VI ini tahap pengetsaan tidak lagi memerlukan pembilasan karena
pada generasi ini telah dipakai acidic primer, yaiu bahan etsa dan primer yang

dikombinasikan dalam satu kemasan.


f. Generasi VII mulai berkembang sekitar tahun 2002, generasi ini juga dikenal

sebagai generasi all in one adhesif, dikatakan demikian karena pada generasi VII

ini bahan etsa, primer dan bonding telah dikombinasikan dalam satu kemasan saja,
sehingga waktu pemakaian bahan adhesif generasi VII ini menjadi lebih singkat.
3. Aplikasi Resin Komposit
Tahap ini resin komposit diaplikasikan selapis demi selapis ke dalam kavitas dengan
ketebalan sekitar 2 mm. Sebelum aplikasi bahan restorasi operator mempersiapkan komposit
yang akan dipakai dengan melakukan pemilihan warna resin komposit sesuai dengan gigi
tetangganya atau gigi lainnya, menggunakan matriks servikal untuk klass II dan klass V,
seluloid strip untuk kelas III atau crown form pada klass IV untuk mendapatkan adaptasi yang
baik. Resin komposit biasanya dikemas dalam bentuk 2 pasta yaitu basis dan katalis,
kemudian basis dan katalis dalam jumlah yang sama ditempatkan pada kertas pad.
Kemudian dicampurkan dengan menggunakan spatula agate. Waktu polimerisasi dari
komposit singkat sehingga pengaplikasian kedalam kavitas harus cepat, maka adonan
dicampur sampai homogen dan ditempatkan dalam waktu 30 detik. Kemudian plastic filling
instrument digunakan untuk membawa komposit kedalam cavitas.
4. Komposit Diaktifkan dengan Sinar

Komposit diaktifkan dengan sinar, Ujung sumber sinar ditempatkan cukup dekat
tetapi jangan sampai menyentuh permukaan restorasi yang diaktifkan, biasanya waktu
penyinaran yang dibutuhkan sekitar 40 detik. Penyinaran dilakukan dengan 3 arah yaitu labial
atau bukal, lingual atau palatal dan arah dari oklusal . Kemudian selanjutnya letakkan
komposit selapis lagi dan aktifkan sinar lagi hingga restorasi sudah menutup cavitas.

5. Finishing dan Polishing


Finishing dilakukan cek oklusi diperiksa dengan menggunakan articulating paper, bila masih
ada daerah yang berwarna merah atau biru maka harus dikurangi dengan finishing bur. Finishing
dapat dilakukan segera setelah komposit aktivasi sinar telah mengalami polimerisaasi atau sekitar
3 menit setelah pengerasan awal. Sedangkan polishing digunakan untuk membuat permukaan
restorasi mengkilat menggunakan rubber polishing point, alumunium oxide polishing paste, untuk
bagian proksimal menggunakan polishing strip.
Prosedur finishing dan polishing resin komposit:
1. sharp-edge hand instrument digunakan untuk menghilangkan ekses-ekses di area proksimal,
dan margin gingival dan untuk membentuk permukaan proksimal dari resin komposit.
2. 12b scalpel blade digunakan untuk menghilangkan flash dari resin komposit pada aspek distal
3. alumunium oxide disk digunakan untuk membentu kontur dan untuk polishing permukaan
proksimal dari restorasi resin komposit.
4. finishing diamond digunakan untuk membentuk anatomi oklusal
5. Impregnated rubber points dengan aluminium oxide digunakan untuk menghaluskan
permukaan oklusal restorasi
6. Aluminum oxide finishing strips untuk conturing atau finishing atau polishing permukaan
proksimal untuk membuat kontak proksimal.

Tahapan kerja pada pasien:

1. Preparasi
a. Isolasi daerah kerja untuk menghindari dari saliva, darah, lidah yang menganggu
penglihatan dengan menggunakan saliva ejector, cotton roll.
b. Desian preparasi atau outline form dengan memperhatikan bentuk resistensi, retensi,
konvenien, dan extention for prevention.

Disesuaikan dengan kasus pada pasien mengalami karies media pada oklusal.
c. Preparasi awal membentuk butt joint (90o) mengikuti outline form sedalam 2 mm,
d. Membentuk undercut berupa lekukan pada dentin sebagai retensi menggunakan bur
round yang dapat dicek dengan menggunakan sonde.
e. Menegakan dinding dengan menggunakan bur inverted atau bur silinder.
2. Dentin Liner atau Basis
Aplikasi komposit diperlukan penambahan basis karena sifat dari resin yang iritan terhadap
pulpa sehingga butuh protector. Basis yang dapat digunakan yaitu kalsium hidroksida, GIC,
dan zink fosfat. Basis yang digunakan pada kasus ini adalah GIC karena dapat dipakai untuk
basis apabila diperlukan kekuatan yang lebih besar dan untuk menahan retensi. Kemudian
dikeringkan namun tidak terlalu kering tidak terlalu basah.
3. Aplikasi Etsa Asam
Aplikasi dengan cara mengulaskan bahan etsa asam fosfat 35-50% dalam bentuk gel atau
cairan pada gulungan cotton pellet yang dijepit pinset. Aplikasi etsa pada permukaan enamel
selama 15-20 detik dan dentin selama 10-15 detik untuk membuka enamel rod dan
membentuk microundercut agar berikatan dengan resin bonding agent dan perekatan
dengan struktur gigi. Kemudian dikeringkan namun tidak terlalu kering tidak terlalu basah.
4. Aplikasi Bonding System
Bahan dasar bonding adalah Bis-GMA yang encer, bahan ini diaplikasikan pada enamel atau
dentin. Bonding resin ini berguna untuk penetrasi ke tubuli dentin, penetrasi ke intertubuli
dentin membentuk hybrid layer reinforced dentin , dan merekatkan perikatan dengan resin
komposit.
5. Aplilasi Resin Komposit
a. Pemilihan warna resin komposit sesuai dengan gigi tetanggnya terlebih dahulu
b. Aplikasi self cure composite berupa pasta base dan katalis diaduk diatas paper pad
menggunakan spatula plastic selama 30 detik. Aplikasi kedalam kavitas hanya 1 kali
working time 1 menit. Apabila menggunakan visible light cured composite aplikasi lapis
demi lapis, sampai ketebalan maksimal 2 mm.
c. Beri sinar 40 detik
d. Ulangi langkah diatas sampai seluruh kavitas terisi komposit.
6. Finishing
Cek oklusi dengan menggunakan articulating paper, apabila terlihat ada warna merah / biru,
maka harus dikurangi dengan fine finishing bur.
7. Polishing
Polishing dilakukan untuk memperhalus permukaan restorasi resin komposit, menggunakan
rubber polishing point. Polisihing pada permukaan restorsi resin komposit yang kasar.
Daftar Pustaka

Craig, R.G., Powers, J.M., dan Sakaguchi, R.L., 2006, Resin Compounds Restorative Materials, in
Craigs Restorative Dental Material, Edisi 12, Mosby, St. Louis, h. 190-193.

Phillips, K.J. A., 2003, Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi, Ed. 10. Jakarta : EGC.

Powers J.M., Sakaguchi ,R.L., 2003, CRAIGSS Restorative Dental Materials. 12th ed. Missouri : Evolve

Sumawinata, N., 2002, Senarai Istilah Kedokteran Gigi Inggris Indonesia , EGC : Jakarta