Anda di halaman 1dari 11

TUGAS AKHIR MATA KULIAH EKSPLORASI

GEOTHERMAL

Disusun oleh
Bidara Kaliandra 3714100025
Tiara Noor Utami 3714100028
Husnia Nur Annisa 3714100037

DEPARTEMEN TEKNIK GEOFISIKA


INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2017

Energi panas bumi untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil:


bagaimana proporsi pemanfaatan kedua jenis energi saat, bagaimana tahapan
rencana pengurangan tersebut, bagaimana peran energi panas bumi dalam
keberagaman energi ramah lingkungan? Jelaskan!

PROPORSI PEMANFAATAN ENERGI FOSIL DAN ENERGI PANAS BUMI


Panas bumi memiliki potensi yang besar dalam pengembangan sistem energi
rendah karbon di negara berkembang. Kemampuan panas bumi untuk menyediakan
listrik yang stabil dengan biaya terjangkau menjadikannya pilihan sumber energi
yang tepat untuk menggantikan bahan bakar fosil dalam penyediaan baseload
power dan untuk menopang pasokan listrik yang berasal dari sumber energi
terbarukan lainnya yang cenderung berfluktuasi (GEA 2013).
Dari tahun 2000 hingga 2006, jumlah produksi minyak terus menurun. Sedankan
jumlah pemanfaatan energy panas bumi terus meningkat walaupun dengan jumlah
yang lebih sedikit dibandingkan produksi minyak bumi.

Dilihat dari grafik diatas, dapat dilihat bahwa produksi minyak bumi menurun
seiring berjalannya waktu disaat permintaan terus meningkat. Hal ini berarti bahwa
jumlah energy fosil berkurang karena digantikan dengan energy lainnya seperti
panas bumi, gas, air, dll. Pengurangan jumlah penggunaan energy fosil disebabkan
karena jumlahnya yang semakin sedikit sehingga mau tidak mau energy tersebut
harus digantikan. Akan tetapi, hingga tahun 2015 penggunaan energy fosil masih
memiliki jumlah yang besar dimana energy fosil tersebut dimanfaatkan pada PLTU.
Sedangkan jumlah pemanfaatkan energy panas bumi masih sangat minim. Berikut
adalah data pembangkit listrik di Indonesia hingga tahun 2015:
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa proporsi dari penggunaan energy fosil
dan energy panas bumi masih sangat jauh sehingga realisasi belum sesuai dengan
proyeksi yang direncanakan. Hal ini dapat terjadi karena adanya banyak hambatan
dalam mengembangkan energy panas bumi, padahal potensi panas bumi yang
dimiliki Indonesia sangatlah besar. Salah satu hambatan yang terjadi yaitu
infrastruktur yang belum mendukung sehingga proses eksplorasi dan produksi
masih sulit untuk dilakukan. Hal inilah yang menyebabkan pemanfaatan potensi
panas bumi di Indonesia masih sangat sedikit.
TAHAPAN RENCANA PENGURANGAN ENERGI FOSIL
Pada tahun 2014 rasio penggantian cadangan minyak dan gas bumi (reserve
replacement ratio) kita mencapai 49,75% artinya dari 100 barel minyak yang
diproduksi hanya bisa ditemukan cadangan minyak sebesar 49,75 barel. Ratio
penggantian cadangan ini lebih rendah dari patokan tertinggi yang nilai seharusnya
> 1. Ratio penggantian cadangan 2014 ini jauh lebih rendah dari tahun 2013 lalu
yang masih berada di angka 81,7 %.

Berdasarkan situasi tersebut maka dapat dikatakan bahwa strategi pencadangan


minyak bumi kita saat ini berada pada posisi kritis. Hal tersebut diindikasikan
dengan posisi cadangan dan rasio penggantian yang berada di bawah angka
patokan tertinggi nasional yang ditetapkan dengan indikator cadangan terbukti
minyak bumi minimal 15 tahun dan rasio penggantian cadangan minyak bumi > 1
(produksi minyak lebih kecil dari penemuan cadangan). Dengan demikian, maka
tantangan ketahanan energi untuk minyak bumi yang penting untuk segera
diselesaikan adalah menambah cadangan minyak bumi sembari menaikkan ratio
pengembalian cadangan dengan mengatur produksi.

Berikut ini merupakan kebijakan yang direkomendasikan dalam efisisensi energy


fosil bagi negara:
1. Pengembangan energi baru terbarukan harus terus digalakkan dengan
penambahan anggaran serta strategi dan program yang tepat sasaran, agar bauran
energi primer dari minyak mentah terus menurun sehingga strategi energi nasional
tercapai.

2. Strategi pengalihan sumber energi yang berasal dari minyak mentah (substitusi
energi primer minyak mentah) harus konsisten dan dilakukan secara serius,
misalnya dengan mengembangkan infrastruktur yang mendukung pengembangan
energi substitusi dari minyak terutama gas dan mikrohydro yang tingkat cadangan
dan ketersediaannya memadai.
3. Strategi pencadangan minyak, diantaranya dengan menaikkan rasio penggantian
cadangan (reserve replacement ratio) tidka hanya difokuskan untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi, melainkan secara jangka panjang juga harus difikirikan untuk
strategi ketahanan dan pertahanan energy.

4. Perlu adanya strategi khusus dalam pengembangan penelitian dan pencarian


cadangan minyak guna memenuhi strategi pencadangan dan ketahanan energi
nasional jangka menengah dan panjang.

Dari tabel diatas dapat disimpukan bahwa kapasitas PLTP diperkirakan akan terus
meningkat sampai tahun 2025. Sehingga kapasitas PLTP di Indonesia berjumlah
6150 MW.
Bersumber dari Dewan Energi Nasional, Energi Baru dan Terbarukan termasuk
geothermal diperkirakan akan meningkat secara signifikan kurang lebih 10% dalam
jangka waktu 10-20 tahun. Karena energy fosil akan semakin tipis di tahun 2025
sehingga menjadikan negara Indonesia menjadi negara net importir.
KELEBIHAN ENERGI PANAS BUMI:
1. Ramah Lingkungan
Panas bumi memiliki karakteristik ramah lingkungan. Pemanfaatan panas bumi
menghasilkan emisi yang jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan penggunaan
bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam. Bila kita
bandingkan jumlah emisi yang dihasilkan dari suatu pembangkit listrik yang
berasal dari panas bumi dengan batu bara atau gas, panas bumi hanya
menghasilkan sekitar 1,5 persen emisi CO2 dibandingkan dengan batu bara dan
hanya sekitar 2,7 persen emisi CO2 dibandingkan dengan gas. Serta hampir tidak
ada SO2, lumpur, dan Abu. Selain itu dalam proses pengembangannya panas
bumi juga tidak memerlukan kegiatan pembukaan lahan yang besar, bahkan
dibandingkan energi terbarukan lainnya kebutuhan pembukaan lahan dalam
pemanfaatan panas bumi termasuk yang terkecil, apalagi bila dibandingkan
dengan kebutuhan pembukaan lahan untuk melakukan eksploitasi batu bara.
Karakteristik ramah lingkungan ini menjadi kelebihan bagi pemanfaatan panas
bumi, dimana area sekitar lokasi pemanfaatan panas bumi masih dapat
digunakan untuk kegiatan ekonomi lainnya seperti yang salah satunya terlihat
pada PLTP yang terdapat pada wilayah Pengalengan, PLTP dikelilingi oleh
perkebunan-perkebunan.

Perbandingan emisi yang dihasilkan beberapa tipe pembangkit listrik. (Sumber:


IPCC)
2. Usia pemanfaatan panjang
Energi panas bumi bisa dimanfaatkan dalam jangka waktu yang sangat lama.
Pembangkit listrik pertama di Lardarello, Italia, sudah beroperasi lebih dari 100
tahun dan hingga kini masih efektif memproduksi listrik. Sedangkan di Indonesia
sendiri, pembangkit Kamojang sudah beroperasi lebih dari 30 tahun. Pembangkit
listrik tenaga panas bumi bisa habis bukan karena hilangnya energi panas,
melainkan karena hilangnya tekanan reservoir akibat kehilangan cairan selama
masa operasi. Dewasa ini hal tersebut bisa ditanggulangi dengan meningkatkan
efisiensi reservoir dan menyuntikan cairan ke dalam reservoir. Artinya,
perkembangan teknologi memungkinkan operasional pembangkit untuk bertahan
lebih lama lagi.
3. Biaya infrastruktur relatif kecil
Dibanding dengan pembangkit listrik terbarukan lainnya seperti energi surya atau
energi angin, panas bumi relatif membutuhkan modal pembangunan lebih kecil.
Namun masih lebih mahal bila dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga air.
Keunggulan lainnya, pembangkit panas bumi tidak memerlukan lahan yang luas
seperti energi surya, angin atau air.
4. Distribusi Mudah
Pengangkutan sumber daya panas bumi tidak terpengaruh oleh risiko transportasi
karena tidak menggunakan mobile transportation tetapi hanya menggunakan
jaringan pipa dalam jangkauan yang pendek.
5. Harga Kompetitif
Harga listrik panas bumi akan kompetitif dalam jangka panjang karena ditetapkan
berdasarkan suatu keputusan investasi, sehingga harganya dapat ditetapkan flat
dalam jangka panjang.
6. Tidak Terpengaruh Iklim
produktivitas sumber daya panas bumi relatif tidak terpengaruh oleh perubahan
iklim tahunan sebagaimana yang dialami oleh sumber daya air yang digunakan oleh
pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Bagaimana diantara mereka saling berinteraksi secara terintegrasi dalam


pekerjaannya? Beri contoh!
Geologist, geophysicist, geochemist, dan geothermal engineering dalam dunia kerja
dalam menentukan lokasi manifestasi baru atau pengembangan dari yang sudah
ada pasti saling berhubungan dan membutuhkan satu sama lain.
Adapun cara berinteraksi yang terintegrasi agar efektif adalah dengan:
a. Membuat jobdesc masing-masing secara detil beserta progres dan detil yang
harus dicapai dengan tanggal deadline nya.
b. Membuat Work System Diagram yang berisikan alur pekerjaan.
c. Adanya rapat secara berkala dan rutin untuk membahas progres pekerjaan.

Contoh:
Pengeboran manifestasi panas bumi baru.
Geologist melakukan survey awal di WKP, yang harus didapatkan dari sini adalah
cap rock dan lokasi dimana sistem reservoir geothermal ada. Lokasi tersebut akan
diberikan ke geophysicist untuk survey lanjutan.
Geophysicist melakukan survey lanjutan awal di lokasi yang telahh diberikan oleh
geologist, survey ini menggunakan metode gravity dan magnetic. Yang harus
didapatkan dari sini adalah peta anomalo bouguer dan peta magnetik sehingga
dapat ditentukan lokasi Area of Interest, dimana probabilitas adanya manifestasi
panas bumi dilokasi tersebut sudah >50%. Setelah ditentukan area of interest,
dilakukan MT untuk penentuan Cap rock, setelah didapat cap rock nya maka
dilakukan EMQ untuk mencari zona rekahan. Zona rekahan tersebut nantinya
menjadi lokasi pengeboran. Lokasi dari zona rekahan tersebut diberikan ke bagian
drilling untuk dilakukan well testing.
Pada saat dilakukan well testing, hasil yang didapatkan dari sumur tersebut
dianalisa oleh geochemist untuk diketahui jenis fluida apa saja yang terkandung
dari sumur tersebut, keadaan fluida nya seperti apa, tekanannya berapa, suhu nya
berapa, dll. Hal tersebut harus diketahui oleh geochemist karena hal tersebut
menentukan cairan injeksi dan perlakuan uap pada sumur tersebut. Data-data yang
didapat kemudian diberikan ke Geothemal Engineering.
Geothermal Engineering menerima data dari geochemist kemudian dapat
menentukan sistem geothermal seperti apa yang dapat digunakan pada lokasi
tersebut, menentukan teknis penginjeksian yang dapat digunakan agar efisien,
menjaga sumur agar produksinya selalu stabil, dan maintenance dari sumur
tersebut.