Anda di halaman 1dari 16

MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN

LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

BAB I. PENGUJIAN KEKERASAN

Capaian Pembelajaran Umum : Menguasai prosedur dan terampil dalam


melakukan pengujian kekerasan bahan.
Capaian Pembelajaran Khusus : 1. Mahasiswa dapat melakukan pengujian
kekerasan bahan/ material
2. Mahasiswa dapat menentukan kekerasan
bahan dan membedakan kekerasan dari
setiap jenis bahan/ material
3. Mahasiswa dapat menentukan kekerasan
bahan dengan metode Brinnell, Rockwell
dan Vickers.

DASAR TEORI
1. Teori Pengujian Kekerasan
Pada umumnya, kekerasan menyatakan ketahanan terhadap deformasi
dan untuk logam dengan sifat tersebut merupakan ukuran ketahanannya
terhadap deformasi plastik atau deformasi permanen (Dieter, 1987). Untuk para
insinyur perancang, kekerasan sering diartikan sebagai ukuran kemudahan dan
kuantitas khusus yang menunjukkan sesuatu mengenai kekuatan dan perlakuan
panas dari suatu logam.
Kekerasan adalah ketahanan suatu benda/ material terhadap penetrasi/
penekanan/ daya tembus benda lain yang lebih keras dan nilai kekerasannya
tidak mutlak.
Kekerasan adalah suatu sifat dari bahan yang sebagian besar dipengaruhi
oleh unsur-unsur paduannya. Carbon didalam besi secara pasti mempengaruhi
kwalitas baja dan kekerasan yang dibutuhkan dapat dicapai dengan perlakuan
panas.
Dari beberapa penyelidikan bahwa bahan akan berubah kekerasannya
bila dikerjakan dengan cold worked (misalnya : pengerolan dan penarikan).

Terdapat tiga jenis umum ukuran kekerasan, tergantung pada cara


melakukan pengujian, yaitu: (1) Kekerasan goresan (scratch hardness); (2)
Kekerasan lekukan (indentation hardness); (3) Kekerasan pantulan (rebound).
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

Untuk logam, hanya kekerasan lekukan yang banyak menarik perhatian


dalam kaitannya dengan bidang rekayasa. Terdapat berbagai macam uji
kekerasan lekukan, antara lain: Uji kekerasan Brinell, Vickers, Rockwell,
Knoop, dan lain sebagainya.

2. Uji Kekerasan Brinell


Metode uji kekerasan yang diajukan oleh J. A. Brinell pada tahun 1900
ini merupakan uji kekerasan lekukan yang pertama kali banyak digunakan serta
disusun pembakuannya (Dieter, 1987).

Permukaan yang akan dibuat lekukan harus relatif halus, rata dan bersih dari
debu atau kerak.
Metode ini digunakan dengan cara menekankan penetrator dengan
indentor bola baja kepermukaan material dengan beban penekanan sesuai
dengan indentor dan jenis material yang akan diuji.
Alat penetrasi yang digunakan adalah indentor bola baja yang dikeraskan
dengan ukuran 10 mm, 5 mm dan 2,5 mm.
Metode ini digunakan untuk mengetes/ menguji kekerasan logam yang
belum dilakukan proses Heat Treatment (perlakuan panas).
Material yang diuji adalah material yang lunak saja dan harga
kekerasannya hanya sampai 450 HB (Kg/mm2), jika hasil pengujiannya
didapat harga kekerasannya diatas 450 HB, maka hasil pengujiannya kurang
teliti.
Angka kekerasan brinell (BHN) dinyatakan sebagai beban P dibagi luas
permukaan lekukan.
Pada prakteknya, luas ini dihitung dari pengukuran mikroskopik panjang
diameter jejak. BHN dapat ditentukan dari persamaan berikut :
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

dimana :
BHN = Angka Kekerasan Brinell (Kg/mm2)
P = Beban (Kg)
D = Diameter indentor bola baja (mm)
dr = Diameter hasil penekanan rata-rata (mm)

Gambar 1.1. Proses Penekanan Bola Baja


Keuntungan Metode Brinnell : Sangat baik untuk memeriksa logam-logam
tuang yang tidak rata kekerasannya.
Kerugiannya :
1. Bekas tekanannya besar, sehingga merusak permukaan material
2. Logam/ material yang akan diuji kekerasannya harus lebih rendah dari
kekerasan indentor bola baja
3. Mengukur diameter bekas penekanan agak sulit, sehingga memerlukan
ketelitian.

Tabel. 1.1. Hubungan antara diameter indentor dengan beban.


Ball Diameter, D Brinnell
Applications
10 5 2,5 1,25 1 Hardness
N Kg N Kg N Kg N Kg N Kg Range
29420 3000 7355 750 1839 187,5 459,92 46,9 294,2 30,0 143 - 945 Steel, grey cast iron
Non metals, grey cast iron,
9807 1000 2450 250 612,5 62,5 152,98 15,6 98,07 10,0 48 - 315 Aluminium, Copper, Brass,
Bronze, heat treated
4903 500 1226 125 306 31,2 76,49 7,8 49,03 5,0 23,8 - 158 Aluminium, Annealed
2452 250 612,9 62,5 152,98 15,6 38,25 3,9 24,52 2,5 11,9 - 79 Bearing metals
1226 125 306 31,2 76,49 7,8 19,61 2,0 11,77 1,2 6,0 - 39 Lead
490,3 50 122,6 12,5 30,40 3,1 7,85 0,8 4,90 0,5 2,4 - 15,8 Very soft materials
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

Kekerasan Brinnell dinotasikan dengan simbol BHN (Brinell Hardness


Number) yang didahului dengan harga standar kekerasan untuk kondisi-
kondisi pengujian.
Contoh :
350 HB 5/ 750/ 20, berarti :
Kekerasan Brinnell : 350 Kg/mm2
Diameter indentor bola baja : 5 mm
Beban yang diberikan : 750 Kg
Lama pembebanan : 20 detik.

Gambar 1.2. Hardness Tester Machine

3. Uji Kekerasan Rockwell


Metode ini sebenarnya merupakan gabungan dari metode Brinnell dan
Vickers, sehingga hasilnya pun cukup presisi dan cepat. Pengujian rockwell
mirip dengan pengujian brinell, yakni angka kekerasan yang diperoleh
merupakan fungsi derajat indentasi. Beban dan indentor yang digunakan
bervariasi tergantung pada kondisi pengujian. Berbeda dengan pengujian
brinell, indentor dan beban yang digunakan lebih kecil sehingga menghasilkan
indentasi yang lebih kecil dan lebih halus. Banyak digunakan di industri karena
prosedurnya lebih cepat.
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

Indentor atau penetrator dapat berupa bola baja atau kerucut intan
dengan sudut 1200. Diameter bola baja umumnya 1/16 inchi, tetapi terdapat
juga indentor dengan diameter lebih besar, yaitu 1/8, 1/4, atau 1/2 inchi untuk
bahan-bahan yang lunak.
Pengujian dilakukan dengan terlebih dahulu memberikan beban minor 10
kg, dan kemudian beban mayor diaplikasikan. Beban mayor biasanya 60 atau
100 kg untuk indentor bola baja dan 150 kg untuk indentor intan. Meskipun
demikian, dapat digunakan beban dan indentor sesuai kondisi pengujian.
Karena pada pengujian rockwell, angka kekerasan yang ditunjukkan
merupakan kombinasi antara beban dan indentor yang dipakai, maka perlu
diberikan awalan huruf pada angka kekerasan yang menunjukkan kombinasi
beban dan penumbuk tertentu untuk skala beban yang digunakan.
Dial pada mesin terdiri atas warna merah dan hitam yang didesain untuk
mengakomodir pengujian skala B dan C yang seringkali dipakai. Skala
kekerasan B digunakan untuk pengujian dengan kekerasan medium seperti baja
karbon rendah dan baja karbon medium dalam kondisi telah dianil
(dilunakkan). Range kekerasannya dari 0-100. Bila indentor bola baja dipakai
untuk menguji bahan yang kekerasannya melebihi B 100, indentor dapat
terdefomasi dan berubah bentuk. Tetapi jika indentor bola baja dipakai untuk
menguji bahan yang lebih lunak dari B 0, dapat mengakibatkan pemegang
indentor mengenai benda uji, sehingga hasil pengujian tidak benar dan
pemegang indentor dapat rusak.
Metode ini digunakan dengan cara menekankan penetrator dengan
indentor bola baja 1/16 dan intan yang berbentuk kerucut dengan sudut
puncak 1200 ke permukaan material yang diuji dengan beban penekanan sesuai
dengan indentor yang dipakai.
Indentor yang dipakai dalam pengujian Metode Rockwell :
a. Untuk logam-logam yang lunak digunakan bola baja 1/16 dengan beban
100 Kg
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

b. Untuk baja-baja yang keras digunakan intan dengan sudut 120 0 dengan
beban 150 Kg
Metode Rockwell digunakan untuk menguji material dari yang lunak
sampai yang keras.

Keuntungan Metode Rockwell, yaitu :


a. Proses pengujiannya yang cepat dan tepat sehingga dapat digunakan untuk
pengujian/ pengetesan kekerasan bahan secara massal
b. Bekas tekanannya kecil sehingga tidak merusak permukaan material.

Jika mengukur/ menguji dengan bola baja 1/16 dan bebannya 100 Kg,
maka kekerasannya disebut HRB (Hardness Rockwell Ball)
Jika mengukur/ menguji dengan intan 1200 dan bebannya 150 Kg, maka
kekerasannya disebut HRC (Hardness Rockwell Cone).
Pengukuran/ pengujian HRB hanya sampai dengan 100 HRB, diatas 100
HRB harus dengan HRC.
Kerugian Metode Rockwell adalah tidak dapat digunakan pada bahan/ material
yang tipis yang tebalnya dibawah 1 mm.

Tabel 1.2. Hubungan Penetrator dan beban untuk Metode Rockwell


MAJOR LOAD MINOR LOAD
GROUP METHOD PENETRATOR
N Kg N Kg
1 HRB 1/16 ball 980,7 (100) 98,07 (10)
HRC 1200 diamond 1471 (150) 98,07 (10)

2 HRA 1200 diamond 588,6 (60) 98,07 (10)


HRD 1200 diamond 980,7 (100) 98,07 (10)
HRE 1/8 ball 980,7 (100) 98,07 (10)
HRF 1/16 ball 588,6 (60) 98,07 (10)
HRG 1/16 ball 1471 (150) 98,07 (10)
HRH 1/8 ball 588,6 (60) 98,07 (10)
HRK 1/8 ball 1471 (150) 98,07 (10)

3 HRL ball 588,6 (60) 98,07 (10)


HRM ball 980,7 (100) 98,07 (10)
HRP ball 1471 (150) 98,07 (10)
HRR ball 588,6 (60) 98,07 (10)
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

HRS ball 980,7 (100) 98,07 (10)


HRV ball 1471 (150) 98,07 (10)

4 25 N 1200 diamond 147,1 (15) 29,42 (3)


30 N 1200 diamond 294,2 (30) 29,42 (3)
45 N 1200 diamond 441,3 (45) 29,42 (3)

5 15 T 1/16 ball 147,1 (15) 29,42 (3)


30 T 1/16 ball 294,2 (30) 29,42 (3)
45 T 1/16 ball 441,3 (45) 29,42 (3)

Tabel 1.3. Skala Kekerasan Dan Pemakaiannya


SKALA PEMAKAIANNYA
A Untuk carbide cementite, baja tipis, dan baja dengan lapisan keras yang tipis
B Untuk paduan tembaga, baja lunak, paduan alumunium, dan besi tempa
C Untuk baja, besi tuang keras, besi tempa peritik, titanium, baja dengan lapisan keras
yang dalam, dan bahan-bahan lain yang lebih keras daripada skala B-100
D Untuk baja tipis, baja dengan lapisan keras yang sedang, dan besi tempa peritik
E Untuk besi tuang, paduan alumunium, magnesium, dan logam-logam bantalan
F Untuk paduan tembaga yang dilunakkan dan pelat lunak yang tipis
G Untuk besi tempa, paduan tembaga, nikel-seng, dan tembaga-nikel
H Untuk alumunium, seng, dan timbal
K Untuk logam, bantalan, dan logam yang sangat lunak lainnya, atau bahan-bahan tipis
L Untuk logam, bantalan, dan logam yang sangat lunak lainnya, atau bahan-bahan tipis
M Untuk logam, bantalan, dan logam yang sangat lunak lainnya, atau bahan-bahan tipis
P Untuk logam, bantalan, dan logam yang sangat lunak lainnya, atau bahan-bahan tipis
R Untuk logam, bantalan, dan logam yang sangat lunak lainnya, atau bahan-bahan tipis
S Untuk logam, bantalan, dan logam yang sangat lunak lainnya, atau bahan-bahan tipis
V Untuk logam, bantalan, dan logam yang sangat lunak lainnya, atau bahan-bahan tipis

Gambar 1.4. Proses Penekanan Indentor

Gambar 1.3. Rockwell Hardness Tester Model HR-150A


MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

Gambar 1.5. Langkah Proses Penekanan Indentor

4. Uji Kekerasan Vickers


Uji vickers dikembangkan di inggris tahun 1925an. Dikenal juga sebagai
Diamond Pyramid Hardness test (DPH). Uji kekerasan vickers menggunakan
indentor piramida intan yang pada dasarnya berbentuk bujursangkar. Besar
sudut antar permukaan-permukaan piramida yang saling berhadapan adalah
1360.
Angka kekerasan vickers didefinisikan sebagai beban dibagi luas permukaan
lekukan. Pada prakteknya, luas ini dihitung dari pengukuran mikroskopik
panjang diagonal jejak. VHN dapat ditentukan dari persamaan berikut :

dimana :
P = beban penekanan yang digunakan (Kg)
d = panjang diagonal rata-rata (mm)

Karena jejak yang dibuat dengan penekan piramida serupa secara


geometris dan tidak terdapat persoalan mengenai ukurannya, maka VHN tidak
tergantung kepada beban. Pada umumnya hal ini dipenuhi, kecuali pada beban
yang sangat ringan. Beban yang biasanya digunakan pada uji vickers berkisar
antara 1 hingga 100 kg, tergantung pada kekerasan logam yang akan diuji.
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

Hal-hal yang menghalangi keuntungan pemakaian metode vickers adalah:


1. Uji ini tidak dapat digunakan untuk pengujian rutin karena pengujian ini
sangat lambat
2. Memerlukan persiapan permukaan benda uji yang hati-hati
3. Terdapat pengaruh kesalahan manusia yang besar pada penentuan panjang
diagonal.
Metode ini sama dengan metode Brinnell yaitu besarnya nilai kekerasan
ditentukan oleh beban penekanan dibagi dengan luas permukaan bekas
penekanan.
Metode ini digunakan dengan cara menekankan penetrator dengan
indentor intan yang berbentuk piramid dengan dasar bujur sangkar dan sudut
puncaknya 1360 kepermukaan material yang akan diuji.
Untuk beban 1, 3, 5 Kg dengan tambahan bandul
Untuk beban 10, 30, 100 Kg tanpa tambahan bandul

Gambar 1.6. Proses Penekanan Indentor Intan 1360

Gambar 1.7. Tipe-tipe lekukan piramid intan: (a) lekukan yang sempurna, (b) lekukan bantal
jarum, (c) lekukan berbetuk tong (Dieter, 1987)
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

Lekukan yang benar yang dibuat oleh penekan piramida intan harus
berbentuk bujur sangkar (gambar 7a). Lekukan bantal jarum (gambar 7b)
adalah akibat terjadinya penurunan logam di sekitar permukaan piramida yang
datar. Keadaan demikian terdapat pada logam-logam yang dilunakkan dan
mengakibatkan pengukuran panjang diagonal yang berlebihan. Lekukan
berbentuk tong (gambar 7c) akibat penimbunan ke atas logam-logam di sekitar
permukaan penekan tedapat pada logam-logam yang mengalami proses
pengerjaan dingin.

Keuntungan Metode Vickers yaitu dapat menguji bahan/ material yang keras,
tipis yang tebalnya dibawah 1 mm, dan hasilnya lebih presisi.

Kelebihan metoda Vickers :


1. Dianjurkan untuk pengujian material yang sudah di proses case hardening,
dan proses pelapisan dengan logam lain yang lebih keras
2. tidak merusak karena hasil indentasi sangat kecil, dan biasanya bahan uji
bisa dipakai kembali

Kekurangan metoda Vickers :


1. Butuh ketelitian saat mengukur diameter lekukan hasil indentasi
2. Lama, sekali pengujian bisa menyita waktu hingga 5 menit, belum termasuk
persiapan dan perhitungannya.
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

LEMBAR KERJA 1 :

A. Hari dan Tanggal Praktikum :


B. Topik Praktikum : Pengujian kekerasan Brinell

C. Tujuan : Setelah melakukan praktikum ini mahasiswa dapat :


1. Mempersiapkan bahan dan perlengkapan uji kekerasan Brinell.
2. Melakukan pengujian kekerasan Brinell.
3. Menentukan harga kekerasan suatu bahan dengan metode Brinell.

D. Bahan :
.

E. Alat dan Perlengkapan :


1. Hardness Tester Machine jenis Albert Gnehm
2. Lensa dengan pembesaran 50X, 100X, 200X
3. Mistar skala 50X, 100X, 200X
4. Indentor bola baja 2,5 mm dan 5 mm
5. Stopwatch
6. Kunci L
7. Landasan benda uji
8. Material uji.
9. Ragum, kikir, ampelas.
10. Modul, lembar kerja dan alat tulis

F. Langkah Percobaan :
1. Siapkan permukaan benda kerja:
a. Ratakan kedua permukaan benda kerja menggunakan kikir dan amplas
kasar, sehingga kedua bidang permukaan tersebut sejajar.
b. Haluskan permukaan benda kerja menggunakan amplas.
2. Pasang landasan benda uji pada dudukannya
3. Gerakkan tuas pada posisi 1 dan pasang penetrator yang sesuai
4. Pilih beban yang sesuai dengan penetrator dan bahan uji
5. Buka tutup atas mesin dan pasang lensa pembesaran
6. Letakkan benda uji pada landasan yang tepat
7. Kencangkan penekanan benda uji dengan memutar handwheel
8. Gerakkan tuas dari posisi 1 ke posisi 2 dan selanjutnya ke posisi 3 secara
perlahan-lahan, ini merupakan beban awal
9. Gerakkan tuas ke posisi 4 dan tunggu selama 20 detik (penambahan beban)
10. Gerakkan tuas ke posisi 1 (posisi semula)
11. Ukur diameter bekas penekanan secara teliti pada layar mesin
12. Lakukan pengujian sebanyak 5X
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

13. Ambil benda uji dan matikan mesin


14. Tentukan nilai kekerasannya dengan perhitungan.

G. Data-data pengamatan
Alat uji kekerasan dan sistem uji = .
Indentor = d = mm
Beban penekanan = ..

Data Hasil Pengujian Metode Brinell


No Bahan D (mm) P (kg) d (mm) dr (mm) BHN (kg/mm2)
d1 =
1
d2 =
d1 =
2
d2 =
d1 =
3
d2 =
d1 =
4
d2 =
d1 =
5
d2 =

H. Pembahasan

I. Kesimpulan

J. Saran

TTD Praktikan: TTD Dosen :


MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

LEMBAR KERJA 2 :

A. Hari dan Tanggal Praktikum :


B. Topik Praktikum : Pengujian kekerasan Rockwell B

C. Tujuan : Setelah melakukan praktikum ini mahasiswa dapat :


1. Mempersiapkan bahan dan perlengkapan uji kekerasan Rockwell B
2. Melakukan pengujian kekerasan Rockwell B
3. Menentukan harga kekerasan suatu bahan dengan metode Rockwell B

D. Bahan :

E. Alat dan Perlengkapan :


1. Hardness Tester Machine
2. Indentor 1/16 dan intan 1200
3. Stopwatch
4. Kunci L
5. Landasan benda uji
6. Material uji

F. Langkah Percobaan :
1. Siapkan permukaan benda kerja:
a. Ratakan kedua permukaan benda kerja menggunakan kikir dan amplas
kasar, sehingga kedua bidang permukaan tersebut sejajar.
b. Haluskan permukaan benda kerja menggunakan amplas.
2. Pasang landasan benda uji pada dudukannya
3. Gerakkan tuas pada posisi 1
4. Pasang penetrator yang sesuai
5. Pilih beban mayor yang sesuai (100 Kg atau 150 Kg)
6. Letakkan benda uji pada landasannya
7. Kencangkan benda uji dengan memutar handwheel
8. Gerakkan tuas dari posisi 1 keposisi 2 dan 3 secara perlahan-lahan (beban
awal)
9. Atur posisi jarum dial pada nol dengan memutar ring
10. Gerakkan tuas keposisi 4 dan tunggu sampai gerak jarum dial berhenti
11. Gerakkan tuas keposisi 3
12. Baca nilai kekerasan yang ditunjukkan jarum pada dial
13. Kembalikan tuas pada posisi semula
14. Lakukan pengujian sebanyak 5X
15. Ambil benda uji dan matikan mesin.
16. Tentukan nilai kekerasannya dengan perhitungan.

G. Data-data pengamatan
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

Alat uji kekerasan dan sistem uji = .


Indentor = d = mm
Beban penekanan = ..

Data Hasil Pengujian Metode Rockwell B


No Bahan Indentor P (kg) HRB
1
2
3
4
5

H. Pembahasan

J. Kesimpulan

J. Saran

TTD Praktikan: TTD Dosen :

LEMBAR KERJA 3 :
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

A. Hari dan Tanggal Praktikum :


B. Topik Praktikum : Pengujian kekerasan Vickers

C. Tujuan : Setelah melakukan praktikum ini mahasiswa dapat:


1. Mempersiapkan bahan dan perlengkapan uji kekerasan Vickers.
2. Melakukan pengujian kekerasan Vickers.
3. Menentukan harga kekerasan suatu bahan dengan metode Vickers.

D. Bahan :

E. Alat dan Perlengkapan :


1. Hardness Tester Machine
2. Lensa pembesaran dan mistar skala 50X, 100X, 200X
3. Indentor intan 1360
4. Stopwatch
5. Kunci L
6. Landasan benda uji
7. Benda uji
8. Bandul beban
9. Ragum, ampelas, kikir.
10. Modul, lembar kerja dan alat tulis

F. Langkah Percobaan :
1. Siapkan permukaan benda kerja:
a. Ratakan kedua permukaan benda kerja menggunakan kikir dan amplas
kasar, sehingga kedua bidang permukaan tersebut sejajar.
b. Haluskan permukaan benda kerja menggunakan amplas.
2. Pasang landasan benda uji pada dudukannya
3. Gerakkan tuas pada posisi 1 dan pasang penetrator yang sesuai
4. Pilih beban yang sesuai dengan penetrator dan bahan uji
5. Buka tutup atas mesin dan pasang lensa pembesaran
6. Letakkan benda uji pada landasan yang tepat
7. Kencangkan penekanan benda uji dengan memutar handwheel
8. Untuk beban 1 kg sampai 10 kg
Putar tuas dari posisi 1 keposisi 2 dan keposisi 3 secara perlahan-lahan
(tidak sampai posisi 4), tunggu selama 30 detik
9. Untuk beban 30 kg sampai 100 kg, tuas diputar sampai posisi 4, tunggu 30
detik
10. Gerakkan tuas ke posisi semula

11. Ukur diagonalnya secara horizontal dan vertikal dan hitung rata-ratanya
12. Lakukan pengujian sebanyak 5X
MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN KEKERASAN
LABORATORIUM MEKANIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TEKNIK MESIN LEMBARAN KERJA LABORATORIUM
KOMPETENSI UTAMA No Percobaan : Halaman
TOPIK : LABORATORIUM MEKANIK 1
01
SUB TOPIK : Pengujian Kekerasan Bahan

13. Ambil benda uji dan matikan mesin


14. Tentukan harga kekerasan dengan perhitungan.

G. Data-data pengamatan
Alat uji kekerasan dan sistem uji = ..
Indentor =
Beban penekanan = ..

Data Hasil Pengujian Metode Vickers


No Bahan Indentor P (kg) d (mm) dr (mm) VHN (kg/mm2)
d1 =
1
d2 =
d1 =
2
d2 =
d1 =
3
d2 =
d1 =
4
d2 =
d1 =
5
d2 =

H. Pembahasan

K. Kesimpulan

J. Saran

TTD Praktikan: TTD Dosen :