Anda di halaman 1dari 15

Penentuan Indeks Bias Kaca Preparat Menggunakan

Metode Sudut Brewster

Oleh :

Alex Farachniamala M0214004

Laboratorium Pusat MIPA


Universitas Sebelas Maret Surakarta
2016
I. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat peristiwa-peristiwa optik yang terjadi, sebagai
contoh adalah terjadinya sebuah pelangi, kemudian kaca mata tukang las, kedua contoh
tersebut merupakan peristiwa polarisasi cahaya. Ketika kita memasukkan sendok dalam gelas
yang berisi air, maka sendok akan terlihat tidak nyambung antara yang tidak tercelup air dan
yang tercelup, peristiwa ini dinamakan peristiwa pembiasan cahaya. Pembiasan cahaya juga
bisa dilakukan dengan menggunakan kaca atau material yang sejenis.
Pengertian dari peristiwa polarisasi cahaya adalah peristiwa perubahan arah getar
gelombang cahaya yang acak menjadi satu arah getar. Polarisasi Gelombang menunjukkan
arah medan listrik pada suatu titik yang dilewati oleh gelombang tersebut. Jenis polarisasi
antena dapat dikategorikan berdasarkan polanya pada bidang yang tegak lurus atau normal
dengan sumbu propagasi. Gelombang yang dapat mengalami polarisasi hanyalah gelombang
tranversal yang mempunyai arah getaran tegak lurus dengan arah perambatannya.
Terpolarisasi atau terkutub artinya memiliki satu arah getar tertentu saja. Pada cahaya tidak
terpolarisasi,medan listrik bergetar ke segala arah,tegak lurus arah rambat gelombang.
Setelah mengalami pemantulan atau diteruskan melalui bahan tertentu, medan listrik terbatasi
pada satu arah. Polarisasi dapat terjadi karena pemantulan pada cermin datar, absorpsi selektif
dari bahan polaroid dan bias kembar oleh kristal.
Ada berbagai cara untuk mengamati peristiwa-peristiwa optik dalam kehidupan
sehari=hari salah satunya adalah menggunakan metode sudut Brewster. Pada percobaan ini
akan digunakan metode sudut Brewster umtuk mengamati peritiwa optik.
II. Tujuan
2.1. Memahami prinsip percobaan dengan metode sudut Brewster
2.2. Menentukan indeks bias kaca
2.3. Memahami prinsip reflekstansi dan refraktansi

III. Tinjauan Pustaka


Pada proses pemantulan dan pembiasan, cahaya dapat terpolarisasi sebagia atau
seluruhnya oleh refleksi. Perbandingan intensitas cahaya yang dipantulkan dengan cahaya
yang datang disebut reflektansi (R), sedangkan perbandingan intensitas cahaya yang
ditransmisikan dengan cahaya datang disebut transmitansi (T). Fresnel menyelidiki dan
merumuskan suatu persamaan koefisien refleksi dan koefisien transmisi yang dihasilkan oleh
pemantulan dan pembiasan (Pedrotti, 1993).
Macam Polarisasi Cahaya

1. Polarisasi Dengan Pemantulan dan Pembiasan


Ketika seberkas sinar yang tidak terpolarisasi dipantulkan dari sebuah permukaan, maka
cahaya yang dipantulkan mungkin seluruhnya terpolarisasi, setengahnya terpolarisasi, atau
tidak terpolarisasi sama sekali bergantung pada sudutnya.

Gambar 3.1 Cahaya yang Tidak Terpolarisasi Datang pada Bidang Pantul (Serway,2010).

Gambar3.2 Sinar Pantul Terpolarisasi Seluruhnya (Serway,2010).


2. Polarisasi dan Pembiasan Ganda (Bifefringence)

Suatu sinar cahaya setelah melewati suatu kristal dapat terpecah menjadi dua berkas akibat
adanya dua arah pembiasan sekaligus yang disebut dengan pembias ganda (Soedojo, 1992).
Pembias ganda dapat terjadi pada bahan kalsit (calcite) dan plastik yang ditegangkan seperti
selofen (cellophone). Pada kebanyakan material, laju cahaya adalah sama ke semua arah.
Gambar 3.3 Cahaya yang Tidak Terpolarisasi Datang Ke Dalam Kristal Kalsium Karbonat
(Tipler,2001).
3. Polarisasi dengan Absorbsi Selektif

Polarisasi akibat absorbsi selektif terjadi jika cahaya melalui zat yang dapat memutar bidang
polarisasi gelombang cahaya. Zat semacam ini disebut zat optis aktif. Pada tahun 1938,
E.H.Land (1909-1991) menemukan sebuah bahan yang disebutnya sebagai polaroid yang
memolarisasikan cahaya dengan cara absorbsi selektif melalui molekul-molekul yang
terorientasi.
.

Gambar 3.4 Polarisasi dengan absorbsi selektif


4. Polarisasi Melalui Hamburan
Ketika cahaya datang mengenai suatu bahan, maka elektronelektron dalam bahan akan
menyerap dan meradiasikan kembali sebagian cahaya. Fenomena penyerapan dan radiasi
kembali ini disebut dengan hamburan.
Gambar 3.5 Hamburan Cahaya Matahari yang Tidak Terpolarisasi Oleh Molekul Udara
(Serway,2010).

Indeks bias (n) merupakan perbandingan antara kecepatan rambat cahaya dalam
vakum (media pertama) dengan kecepatan cahaya dalam medium kedua. Dalam hukum
snellius dinyatakan bahwa sinar datang, sinar bias, dan garis normal berpotongan pada satu
titik dan terletak pada satu bidang datar. Dalam hal ini, sinar datang dari medium kurang
rapat ke medium lebih rapat dibiaskan mendekati garis normal, sedangkan sinar datang dari
medium lebih rapat ke medium kurang rapat dibiaskan menjauhi garis normal (Bahruddin,
2006).
1 1 = 2 2
dimana n1 adalah bias material atau medium 1 dan n2 adalah indeks bias material atau
medium 2, 1 adalah sudut datang dan 2 adalah sudut pantul untuk cahaya yang datang
menumbuk permukaan suatu material(Pedrotti, 1993).

Gambar 3.6. Ilustrasi Hukum Pemantulan dan Pembiasan (Pedrotti, 1993)


Dengan menggunakan Hukum Snellius
1 1 = 2 2
Dimana n1 dan n2 adalah indeks bias
Ketika 1 =
1 = 2 2
Dan karena + 2 = 90, 2 = 90 , dan
sin 2 = sin(90 ) =
Substitusi untuk sin 2 dalam persamaan (2.4) menghasilkan
1 = 2
Sehingga,
2
=1

Karena nilai indeks bias udara (n1)=1, maka nilai indeks bias dapat ditentukan dengan
persamaan (2.6)
2 =
Sudut Brewster juga dapat ditentukan berdasarkan persamaan Fresnell yaitu dengan
menentukan koefisien refleksi (r) seperti diberikan oleh persamaan (2.7) dan (2.8)
2 2
Mode TE: r = =
+2 2

2 2 2
Mode TM; r = =
2 +2 2

Dimana = sudut datang, dan n = indeks bias sampel menurut metode ini ditentukan
oleh yang membuat r = 0(Pedrotti, 1993).
Jenis polarisasi dengan medan listrik E tegak lurus bidang datang dan medan magnet
B sejajar bidang datang disebut transverse electric(TE). Sebaliknya jika medan listrik E
sejajar bidang datang maka jenis polarisasi ini disebut transverse magnetic (TM). Polarisasi
TE yaitu polarisasi dimana vektor medan listrik berada pada bidang yang tegak lurus arah
perambatan gelombang. Polarisasi TM yaitu polarisasi dimana vektor medan magnetik
berada pada bidang yang tegak lurus arah perambatan gelombang.
Transmitansi dari bahan dapat dicari dengan membandingkan intensitas sinar laser
setelah melalui bahan (It) dengan intensitas sinar laser sebelum mengenai bahan (Io)

T = 0

sedangkan Reflektansi (R) didefinisikan sebagai perbandingan antara intensitas


pemantulan dengan intensitas sumber yang dapat ditulis:

R = (Pedrotti,1993).
IV. METODOLOGI PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan


Alat dan Bahan Fungsi
1. Seperangkat Laser He-Ne Sumber cahaya
2. Goniometer Memvariasi sudut putaran sumber
3. Detektor Mendeteksi dan mengukur intensitas cahaya
hasil pembiasan oleh kaca preparat
4. Polarizier Mempolarisasi cahaaya terhadap permukaan
bidang
5. Kaca preparat Dicari indeks bias
6. Power supply Sumber tegangan
7. Kabel Penghubung rangkaian
8. Laptop Pembaca intensitas dan pencatat data

B. Langkah Kerja
Start

Alat dirangkai

Laser dinyalakan

Intensitas awal diukur

Intensitas kaca diukur dengan variasi sudut 10

Ditentukan nilai reflektansi terendah

Diulangi dan diukur intensitasdengan skala 1dan 1/6 dari sudut yang
reflektansinya terkecil

Nilai indeks bias diukur

Selesai
C. Gambar Rangkaian Alat

Gambar 4.1 Skema rangkain percobaan


Keterangan : 1. Laser
2. Kaca sampel
3. Meja putar
4. Polarimeter
5. Polarimeter
6. Detektor cahaya
7. Detektor cahaya

Gambar 4.2 Rangkaian alat


D. Metode Grafik

Gambar 4.3 Grafik hubungan reflektansi dengan besar sudut


V. DATA PERCOBAAN
A. Pada mode TE

Sudut
Intensitas sudut
awal
laser 10 20 30 40 50 60 70
5007.8 4876 4978.7 4985.8 4949 4875.5 4679.5 4973.5 10
5007.8 4816 4973.5 4958.8 4949 4900 4743.3 4978.4 20
5007.8 4974 4978.4 4963.7 4944.2 4855.9 4772.8 4973.6 30
5007.8 4944 4963.7 4963.7 4939.2 4851 4855.9 4978.4 40
5007.8 4978 4978.4 4958.8 4944.1 4851 4880.4 4983.3 50
5007.8 4918 4974.5 4966.2 4945.1 4866.7 4786.4 4977.4 60

B. Pada mode TM
1. Dengan skala sudut 10

Intensitas Rata-
Awal rata
Laser Sudut Nilai Intensitas (mV) intensitas
4919,6 10 4235.9 4319.6 4287.4 4297.4 4284.6 4284.98
4919.6 20 4297.4 4287.4 4272.8 4258.1 4248.5 4272.84
4914.7 30 4263.5 4253.2 4218.9 4263.5 4219.6 4243.74
4919.6 40 4189.5 4263.1 4145.4 4218.9 4214.9 4206.36
4924.5 50 4346.6 4336.2 4316.4 4341.4 4169.5 4302.02
4919.6 60 4508.7 4552.1 4449.5 4557.3 4454.7 4504.46

2. Dengan skala sudut 1


Intensitas Sudut
awal
laser 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65
5007.8 4517.7 4351.6 4169.9 4326.7 4517.7 4655.7 4787.2 4762.9 4855.9 4885.5 4924.5
5007.8 4537.8 4375.6 4165.7 4287.8 4496.3 4620.6 4772.5 4838.1 4860.6 4904.4 4914.5
5007.8 4517.2 4341.5 4136.4 4307.1 4498.2 4659 4782.2 4836.8 4870.3 4890.2 4919.2
5007.8 4527.3 4370.4 4169.1 4287.4 4537.2 4689.3 4689.4 4797.3 4841.2 4880.3 4900
5007.8 4517.3 4375.4 4187.4 4165.9 4527.9 4689.6 4772.4 4826.4 4860.7 4900.6 4919.7
5007.8 4523.46 4362.9 4165.7 4275 4515 4662.8 4760.7 4812.3 4857.74 4892.2 4915.58
3. Dengan skala sudut 1/6
Intensitas Sudut
awal
laser 56.167 56.33 56.5 56.667 56.83 57 57.167 57.33 57.5 57.667 57.83
5007.8 4174.8 4091.5 4194.5 4165.5 4120.8 4169.3 4248.5 4287.5 4213.5 4336.2 4145.6
5007.8 4419.2 4490.8 4316.5 4105.3 4321 4257.9 4204.5 4112.5 4135 4146.3 4390.1
5007.8 4336.2 4135 4116 4195.3 4160.3 4241.3 4439.5 4488.5 4557 4552.1 4400
5007.8
5007.8
5007.8 4310.07 4239.1 4209 4155.4 4200.7 4222.8 4297.5 4296.2 4301.8 4344.9 4311.9

VI. ANALISA DATA


Pada percobaan ini menggunakan metode sudut Brewster untuk menentukan indeks
bias kaca. Metode ini menentukan sinar bias dimana sudut Brewster terbentuk apabila sinae
dating dan sinar bias membentuk sudut 90. Prinsip kerja dari pengukuran indeks bias kaca
preparat dengan sudut brewster ini adalah apabila suatu sumber cahaya mengenai suatu kaca
maka cahaya tersebut sebagian akan diteruskan dan sebagian akan dibiaskan. Cahaya yang
dibiaskan akan membentuk sudut tertentu sesuai dengan besar cahaya dari sumber, maka
sudut brewster merupakan sudut yang terbentuk dari sudut dantang dan sudut bias yang
membentuk 90. Dari pengukuran ini, sudut brewster diketahui dari intensitas sinar refleksi
yang paling kecil.
Apabila suatu cahaya mengenai sebuah permukaan material dielektrik, maka cahaya
datang akan dipantulkan dan sebagian akan ditransmisikan. Berkas cahaya datang yang
dipantulkan sesuai sudut datang dan arah polarisasi dari cahaya datang. Cahaya yang datang
tanpa dipengaruhi apapun, maka cahaya tersebut merupakan gelombang elektromagnetik
yang tidak terpolarisasi yang terdiri dari medan listrik dan medan magnetik yang saling tegak
lurus. Sehingga cahaya dapat diinterpertasikan menjadi dua komponen yaitu komponen
polarisasi sejajar bidang datang dan komponen tegak lurus bidang datang. Komponen
polarisasi sejajar bidang datang merupakan mode transvers Magnetic (TM) dan komponen
polarisasi tegak lurus bidang datang merupakan mode Transverse Electric (TE). Untuk
menentukan indeks bias, prinsipnya didasarkan pada reflektansi dari kaca yang digunakan,
dimana nilai tersebut terbagi atas 2 mode yaitu mode Transverse Electric (TE) dan mode
Transverse Magnetic (TM).
Percobaan pertama adalah menukur intensitas laser sebelum dipantulkan pada kaca,
sehingga didapaatkan intensitas laser sebesar 4919.6 mV. Kemudian divariasi dengan sudut
100 dan sudut awal sebesar 100 hingga mencapai sudut 600. Percobaan tersebut diulangi
sebanyak 5 kali pengulangan. Kemudain didapatkan nilai reflektansi TE (Transverse
Electric). Dimana dari pengukuran ini diperoleh grafik hubungan reflekstansi terhadap sudut.

Gambar 6.1. Grafik Hubungan Reflektansi terhadap Sudut pada Mode TE


Dari Gambar 6.1. diketahui bahwa ketika sudut diperbesar maka nilai reflektansi
mengalami fluktuasi turun ketika sudut 10 hingga 40 dan nilai refletansi mengalami
kenaikan yang signifikan hingga sudut 40 hingga 70. Terjadi perbedaan dengan literature,
dimana pada literature nilai reflektansi mengalami kenaikan ketika sudutnya diperbesar.
Perbedaan ini bisa disebabkan oleh ketidak tepatan dalam menempatkan polarizier pada
posisi 0. Sedangkan indeks bias dari kaca bisa ditentukan dengan menggunakan persamaan
n=tan, dimana merupakan sudut saat nilai reflektansi terkecil. Pada percobaan ini nilai
reflektansi terkecil berada pada sudut 40, sehingga nilai n=0,84.
Percobaan kedua dengan menempatkan polarizer pada sudut 90 dengan nilai
intensitas awal 5007.8 mV .Dari pengukuran ini diperoleh data berupa sudut dan nilai
intensitas dengan skala variasi sudut 10. Seperti pada percobaan pertama, percobaan kedua
ini dilakukan pengulangan sebanyak 5 kali. Maka grafik hubungan angtara sudut dating
dengan reflektansi mode TM seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar 6.2. Grafik Hubungan Reflektansi terhadap Sudut pada Mode TM dengan
skala 10
Dari grafik diketahui bahwa terjadi penurunan secara signifikan pada saat sudut 20
hingga 60. Sedangkan untuk nilai terkecil dari reflektansi terletak pada saat sudut 60 ,
sehingga nilai n=1,732.
Reflektansi terkecil pada percobaan kedua terdapat pada sudut 60, sehingga dari sini
dilakukan pembagian kembali dengan mempertkecil variasinya, dengan sudut variasinya
menjadi 1. Percobaan ini mengambil interval 5 di bawahnya dan 5 diatasnya untuk
mendapatkan hasil yang maksimal. Sehingga didapatkan grafik hubungan sudut datang
dengan reflektansi mode TM seperti gambar dibawah ini.

Gambar 6.3. Grafik Hubungan Reflektansi terhadap Sudut pada Mode TM skala 1
Dari data didapatkan bahwa persentase terkecil dari reflektansi terletak pada sudut
57. Sehingga dari grafik tersebut, diketahui bahwa nilai indeks bias dari kaca preparat adalah
1,600.
Untuk memperoleh nilai indeks bias yang lebih akurat , maka dilakukan pengukuran
dengan variasi dengan skala lebih kecil lagi yaitu sebesar 1/60, sehingga dapat dibuat sebuah
grafik hubungan reflektansi terhadap sudut pada mode TM skala 1/60 .

Gambar 6.4. Grafik Hubungan Reflektansi terhadap Sudut pada Mode TM skala 1/6
Dari grafik tersebut diketahui bahwa sudut terkecil yang terukur berada pada sudut
56.667. Sehingga diperoleh nilai indeks bias sebesar 1,520 sedangkan indeks bias literatur
sebesar 1,485-1,755. Sehingga nilai indeks bias yang diperoleh berada pada kisaran literatur,
hal tersebut diketahui bahwa hasil dari pengukuran yang dilakukan akurat.

VII. KESIMPULAN
1. Prinsip kerja dari pengukuran indeks bias kaca preparat dengan sudut brewster
ini adalah apabila suatu sumber cahaya mengenai suatu kaca maka cahaya tersebut sebagian
akan diteruskan dan sebagian akan dibiaskan. Cahaya yang dibiaskan akan membentuk sudut
tertentu sesuai dengan besar cahaya dari sumber, maka sudut brewster merupakan sudut yang
terbentuk dari sudut dantang dan sudut bias yang membentuk 90. Dari pengukuran ini, sudut
brewster diketahui dari intensitas sinar refleksi yang palinng kecil.
2. Indeks bias dari kaca preparat adalah 1,520 sedangkan indeks bias literatur
sebesar 1,485-1,755.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Bahruddin, Drs. MM. 2006. Kamus Fisika Plus. Epsilon Group: Bandung.
Pedrotti, F.L. & L.S. Pedrotti 1993, Introduction to optics, second edition. New
Jersey: Prentice-Hall Inc.
Raymond A, Serway, John W. Jewett. 2010. Fisika Untuk sains dan Teknik, Jakarta:
Salemba Teknika,
Soedojo, Peter. 2004. Fisika Dasar . Yogyakarta : ANDI Yogyakarta.
A.Tipler, Paul. 2001. Fisika untuk Sains dan Teknik Jilid 1. Penerbit Erlangga :
Jakarta.

Surakarta, 21 Desember 2016


Mengetahui,
Asisten Praktikan

Mahmudah Salwa Gianti Alex Farachniamala