Anda di halaman 1dari 35

STRUKTUR KRISTAL

1.1 Susunan Struktur molekul zat


1. Zat cair

Sifat zat cair adalah mempunyai volume tetap, tetapi bentuknya berubah-ubah
menurut tempatnya. Sifat ini disebabkan molekul-molekul zat cair.
a. kurang teratur dan letaknya relatif berdekatan, metskipun tidak sedekat
jarak antarmolekul zat padat
b. gaya tarik antarmolekulnya masih cukup kuat, meskipun tidak sekuat zat
padat
c. gerakan molekul-molekulnya lebih bebas dibandingkan dengan gerakan
molekul-molekul zat padat sehingga dapat dengan mudah berpindah-pindah
tempat di antara molekul-molekul yang lain, tetapi tidak mudah
meninggalkan kelompoknya.
Molekul-molekul zat cair yang dimaksukan diatas dapat dilihat pada
gambar dibawah ini.

Gambar 1. Molekul-molekulpada zat cair


Oleh karena gaya tarik antarmolekul zat cair kurang kuat, ke dalam zat
cair dapat dimasukkan benda lain, misalnya batu tenggelam dalam air. Jika ada
benda lain yang masuk ke dalam zat cair maka zat cair itu akan memberi
reaksi dengan cara menekan benda itu dari segala arah.
Akibatnya, berat benda di dalam zat cair akan berkurang dibandingkan
beratnya di udara. Dikatakan bahwa zat cair mempunyai tekanan hidrostatis.

2. Zat gas

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 1


Sifat gas adalah mempunyai bentuk dan volume yang berubahubah menurut
tempatnya. Udara di ruang terbuka mempunyai bentuk dan volume yang tidak
jelas, tetapi di dalam ban mobil atau ban sepeda mempunyai bentuk dan
volume sesuai bentuk ban. Hal ini disebabkan molekul-molekul gas:
a. susunannya sangat tidak teratur, jarak antarmolekulnya sangat berjauhan
dibandingkan dengan besar molekul itu sendiri
b. interaksi antarmolekul sangat kecil sebagai akibat dari gaya tarik menarik
antarmolekul yang sangat kecil
c. gerakan molekul-molekulnya sangat bebas, gas akan segera mengisi ruangan
tempatnya berada.
Molekul-molekul zat gas yang dimaksukan diatas dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 2. Molekul-molekul pada zat gas

Gas dapat dimampatkan sehingga ruang antarmolekulnya dipersempit.


Namun, molekul-molekul gas itu berusaha untuk kembali ke keadaan semula
sehingga gas memberi tekanan terhadap tempatnya. Jika udara dipompa ke dalam
ban maka ban menjadi keras karena tekanan udara yang dimasukkan tersebut.
Perubahan wujud zat diakibatkan oleh perubahan gerak molekul.

3. Zat padat

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 2


Sifat zat padat adalah memiliki bentuk dan volume yang tetap dan
tidak tergantung tempat benda itu berada. Hal ini disebabkan molekul-molekul
zat padat:
a. tersusun teratur dan letaknya saling berdekatan;
b. di antara molekul-molekul zat padat terdapat gaya tarik menarik yang
sangat kuat sehingga molekul-molekul zat padat akan sangat sulit dicerai-
beraikan
c. gerakan molekul-molekul zat padat hanya terbatas pada gerak bergetar dan
berputar di tempatnya.
Molekul-molekul zat padat yang dimaksukan diatas dapat dilihat pada
gambar dibawah ini,

Gambar 3. Molekul-molekul pada zat padat


(http://www.guruipa.com/2016/05/susunan-dan-struktur-molekul-zat-padat-
cair-dan-gas.html).
Bahan padat dapat diklasifikasikan berdasarkan keteraturan susunan
atom-atom atau ion-ion penyusunnya. Bahan yang tersusun oleh deretan atom-
atom yang teratur letaknya dan berulang (periodik) disebut bahan kristal.
Dikatakan bahwa bahan kristal mempunyai keteraturan atom berjangkauan
panjang. Sebaliknya, zat padat yang tidak memiliki keteraturan demikian
disebut bahan amorf atau bukan kristal.
Oleh karena susunan atom dari zat padat yang periodik dan mudah
untuk dianalisis terutama bagi para ilmuwan, maka muncullah cabang ilmu
Fisika Zat Padat. Karena kepadatannya itu, bahan padat digunakan dalam
bangunan yang semua strukturnya kompleks yang berbentuk, misalnya

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 3


seorang ahli mempelajari alat-alat mekanik dari bahan material yaitu baja dan
beton untuk struktur yang akan ia bangun.
Fisika zat padat secara umum berfokus pada atom dan elektron di
dalam kristal. Kajian fisika zat padat dimulai pada permulaan abad 20
mengikuti penemuan difraksi sinar-X oleh kristal, publikasi dari serangkaian
perhitungan sederhana, dan keberhasilan memprediksi sifat-sifat kristal.
Ketika sebuah kristal tumbuh di sebuah lingkungan yang konstan, bentuknya
berkembang seperti balok-balok identik yang ditambah secara terus-menerus.
Balok-balok tersebut adalah atom atau kumpulan atom sehingga Kristal adalah
barisan atom periodik tiga dimensi. Hal ini sudah diketahui pada abad ke-18
ketika ahli mineral menemukan bahwa angka-angka indeks dari arah semua
muka kristal adalah angka bulat. . Dalam perkembangan selanjutnya,
pengkajian zat padat telah meluas pada bahan bukan kristal (amorf), bahan
gelas, dan bahkan bahan cair (Made Astra,___).

1.2 Struktur Atom dalam Zat Padat


Sifat-sifat zat bergantung pada jenis atom penyusunnya dan struktur
materialnya. Berdasarkan struktur atom dalam zat padat dikenal dua macam zat
padat yaitu Kristal dan amorf (non Kristal).
Kristal dan Non Kristal
Bahan yang tersusun oleh deretan atom-atom yang teratur letaknya dan
berulang yang tidak berhingga dalam ruang disebut bahan kristal. Kumpulan yang
berupa atom atau molekul dan sel ini terpisah sejauh 1 amstrong atau 2 amstrong.
Kristal dapat dibentuk dari larutan, lelehan, uap, atau gabungan dari ketiganya.
Bila proses pertumbuhannya lambat, atom-atom atau partikel penyusun zat padat
dapat menata diri selama proses tersebut untuk menempati posisi yang sedemikian
sehingga potensilanya minimum. Keadaan ini cenderung membentuk susunan
yang teratur dan juga berulang pada arah tiga dimensi, sehingga terbentuklah
keteraturan susunan atom dalam jangkauan yang jauh.
Sebaliknya, zat padat yang tidak memiliki keteraturan demikian disebut
bahan amorf, dalam proses pembentukan yang berlangsung cepat, atom-atom

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 4


tidak mempunyai cukup waktu untuk menata diri dengan teratur. Hasilnya
terbentuklah susunan yang memiliki tingkat energi yang lebih tinggi. Susunan
atom ini umumnya hanya mempunyai keteraturan yang berjangkauan terbatas, dan
keadaan inilah yang mencerminkan keadaan amorf.

(a)
(b)
Gambar 4. Ilustrasi struktur bahan dengan media batu bata (a) bahan
kristal dan (b) bahan amorf. Kristal diibaratkan sebagai dinding bata yang
terdiri dari sususan batu-bata yang teratur dan berkala serta bahan-bahan
tadi memiliki keteraturan jangka panjang. Amorf diibaratkan sebagai
tumpukan batu bata. Sekumpulan batu bata memiliki sifat yang jelas, relatif
kokoh (meskipun tak sekokoh dinding bata).
(Wiendartun_).
Sedangkan untuk melihat perbedaan struktur atom antara Kristal dan
amorf adalah sebagai berikut:

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 5


Gambar 5. Struktur atom Kristal (a) dan Amorf (b)

1.3 Struktur Kristal


Susunan khas atom-atom dalam kristal disebut struktur kristal. Struktur
kristal dibangun oleh sel satuan yang merupakan sekumpulan atom yang tersusun
secara khusus, secara periodik berulang dalam tiga dimensi dalam satu kisi kristal
(crystal lattice). Seperti yang telah dikemukan sebelumnya bahwa sebuah kristal
ideal disusun oleh satuan-satuan yang identik secara berulang-ulang yang tak
hingga didalam ruang. Untuk menggambarkan struktur kristal ini dapat
digambarkan/dijelaskan dalm istilah-istilah:
1. Kisi kristal adalah sebuah susunan titik-titik yang teratur dan periodik di
dalam ruang
2. Basis adalah sekumpulan atom, dengan jumlah atom dalam sebuah basis dapat
berisi satu atom atau lebih.
Secara singkatnya adalah struktur kristal terdiri dari kisi dan basis, struktur
kristal akan terjadi bila ditempatkan suatu basis pada setiap titik kisi sehingga
struktur kristal merupakan gabungan antara kisi dan basis. Apabila dinyatakan
dalam hubungan dua dimensi adalah sebagai berikut.

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 6


Gambar 6. Gambaran Dua Dimensi Struktur Kristal
Sehingga apabila atom atau sekumpulan atom tersebut menempati titik-
titik maka akan membentuk suatu struktur kristal. Didalam Kristal terdapat kisi-
kisi yang ekivalen yang sesuai dengan lingkungannya dan diklasifisikan menurut
simetri translasi.

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 7


1.4 Operasi Translasi Kisi

Operasi translasi kisi didefinisikan sebagai perpindahan dari sebuah kristal


oleh sebuah vektor translasi kristal, maka persamaannya

T = u1
a1 + u2
a2 + u3
a3
dimana:

T = vektor translasi kristal
u1,u2,u3 = bilangan bulat.
a1, a2, a3 = vektor translasi primitive
Contoh operasi translasi kisi:

Gambar 7. Contoh operasi translasi kisi

Untuk
T1

T1 = u1
a1 + u2
a2 + u3
a3 dimana:

T1 a1 + 2
= 3 a2 + 0
a3 u1 = -3 dan u2 = 2

T1 a1 + 2
= 3 a2

Untuk
T2

T2 = u1
a1 + u2
a2 + u3
a3 dimana:

T2 a1 + 2
= 1,5 a2 + 0
a3 u1 = -1,5dan u2 = 2

T2 a1 + 2
= 1,5 a2
Dimana

T 1 : vektor transalasi (bilangan bulat)

T2 : bukan vektor transalsi (bukan bilangan bulat)

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 8


1.5 Sel Primitive dan Sel Non Primitif

1. Sel Primitive
Sel primitif adalah sel yang mempunyai luas atau volume terkecil, sel
primtif dibangun oleh vektor basis biasa disebut sel satuan. Sel primitif
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Sebuah sel yang mempunyai luas atau volume terkecil.
2. Kebalikan dari sel non primitif, yaitu sel yang mempunyai luas atau volume
terbesar.
3. Sel yang mempunyai satu titik kisi.
a1 ,
4. Sebuah pararelepipid yang dibentuk oleh sumbu-sumbu a2 ,
a3 .
Sel epipid yaitu sebuah bangun yang sisinya sejajar/bidang yang dibatasi
oleh garis-garis sejajar. Cara menentukan sel-sel primitif (sumbu-sumbu primitif):

Gambar 8. Beberapa Sel Primitif


Cara lain untuk memilih sel primitif yaitu dengan metode Wigner Seitz.
1. Ambillah salah satu titik kisi sebagai acuan (biasanya ditengah).
2. Titik kisi yang anda ambil sebagai acuan dihubungkan dengan titik kisi
terdekat disekitarnya.
3. Di tengah-tengah garis penghubung, buatlah garis yang tegak lurus terhadap
garis penghubung.
4. Luas terkecil (2 dimensi) atau volume terkecil (3 dimensi) yang dilingkupi oleh
garis-garis atau bidang-bidang ini yang disebut sel primitive Wigner-Seitz.

Contoh penggambaran sel primitif dengan metode Wigner-Seitz.

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 9


Gambar 9. Penggambaran sel primitif dengan metode Wigner-Seitz
2. Sel Non Primitif

Sel tak primitif (non primitive) adalah sel yang mempunyai luas atau
volume bukan terkecil artinya mempunyai luas atau volume yang besarnya
merupakan kelipatan sel primitif

Gambar 10. Sel Non primitif

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 10


1.6 Sistem Kisi Kristal dan Kisi Bravais

1. Kisi kristal 2 Dimensi


Tipe kisi 2 dimensi terdapat 5 sistem kisi kristal yaitu sebagai berikut:
Tabel 1. Tipe Kisi Kristal 2 Dimensi
No Kisi 2 Dimensi Sisi dan Sudut
1 Kisi Miring
|a1||a 2|
=900

2 Kisi Bujur Sangkar


|a1|=|a 2|
0
=90

3 Kisi Heksagonal

|a1|=|a 2|
=1200

4 Kisi Segi Panjang


|a1||a 2|
0
=90

5 Kisi Segi Panjang Berpusat

|a1||a 2|
=900

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 11


2. Kisi Kristal 3 Dimensi
Tipe kisi 3 dimensi terdapat 7 sistem kisi kristal yaitu sebagai berikut:
Tabel 2. Tipe Kisi Kristal 3 Dimensi
Sumbu Jumla
No. Sistem kristal Sudut
konvensional h kisi

1. Triklinik |
a 1||
a 2||
a 3| 1

2. Minoklin |
a 1||
a 2||
a 3| = = 90o 2
= = = 90o
3. Orthorombik |
a 1||
a 2||
a 3| 4
4. Tetragonal |
a 1|=|
a 2||
a 3| = = = 90o 2
5. Kubus |
a 1|=|
a 2|=|
a 3| = = = 90o 3
6. Trigonal |a 1|=|a 2|=|
a 3| = = = 90o 1
7. Heksagonal
|a 1|=|a 2||a 3| = = = 90o 1
Jumlah kisi 14 buah

Tabel 3. Kisi Bravais Tiga Dimensi


No Sistem Simple (P) Volume Base centered Face Centered
. Kristal Centered (I) (C) (F)
1. Triklinik
2. Monoklin

3. Orthorombik

4. Tetragonal

5. Kubus
6. Trigonal
7. Heksagonal

1.7 Struktur Kristal Kisi Kubus

1. Kubus Sederhana / Simple Cubic (SC)

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 12


Karena setiap atom bersama oleh delapan delapan sisi kubus, masing-masing
diantara kubus memiliki seperdelapan dari sebuah atom. Karena ada delapan
atom sudut di semua , masing-masing kubus memiliki 8 x 1/8 = 1 atom
Volume sel satuan = a3 .
Vector primitive = a1=a X , a 2=aY , a3=aZ
Contoh kubus sederhana yaitu CsCl, CuZn, CsBr, LiAg

Gambar 11. Struktur Kristal Kubus Sederhana (a) dua dimensi


(b) tiga dimensi
2. Kubus Pusat Badan / Body Center Cubic (BCC).
Ini memiliki delapan atom sudut dan satu atom pusat. Jumlah atom yang
termasuk kubus ini . Satu atom pusat dan 8 x 1/8 = 1 sudut atom. Oleh
karena itu , jumlah atom per kubus = 1 + 1 = 2
a3
Volume sel satuan =
2
Vektor primitive =
1
a1= a ( x + y z ) .
2
1
a2= a (x + y + z ) .
2
1
a3 = a ( x y + z ) .
2
Contoh = Na, Li, K, Rb, Cs, Fe, Nb

Gambar 12. Struktur Kristal Kubus Pusat Badan (a) dua dimensi (b)
tiga dimensi

3. Kubus Pusat Muka / Face Center Cubic (FCC)


Ini memiliki 6 atom berpusat muka dan 8 sudut . Masing-masing dari 6
atom berpusat muka dibagi oleh dua sisi kubus. Oleh karena itu, total 6/2
= 3 atom seperti milik kubus. Seperti sebelumnya, salah satu sudut atom
datang ke pangsa kubus ini. Oleh karena itu, jumlah total atom per kubus
adalah (3 + 1) = 4

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 13


a3
Volume sel satuan =
4
Vector primitive =
1
a1 = a( x + y )
2
1
a2 = a ( y+z )
2
1
a3 = a (x + z )
2
Contoh = Cu, Ag, Au, Al, Pb, Ni, Fe, Nb

Gambar 13. Struktur Kristal Kubus Pusat Muka (a) dua dimensi
(b) tiga dimensi
1.8 Beberapa Kristal dengan Bentuk Sederhana
1. Struktur Kristal Natrium Clorida (NaCl)
Struktur kristal Natrium Clorida merupakan kisi pusat muka
(FCC). Basisnya terdiri atas satu atom Na dan ssatu ataom Cl dengan jarak
pisah setengah panjang diagonal ruangnya. NaCl yang setiap sel satuannya
berbentuk kubus sederhana dengan posisi atom-atomnya seperti yang
ditunjukan gambar berikut.

Gambar 14. Struktur NaCl

Setiap sel satuan memiliki 4 perangkat NaCl yang atomya berkedudukan


di
Cl : 0 0 0 0 0 0
Na: 00 00 00
Jika sisi kubik adalah a, maka kedua atom dalam basis terpisah sejauh
3a, dan setiap atom memiliki 6 atom tetangga terdekat yang berbeda
jenis dengan jarak pisah masing-masing a. Nilai konstanta a untuk NaCl
berharga 5,63 . NaCl dapat pula dipandang sebagai struktur non-Bravais,
yang terdiri dari dua subkisi FCC, masing-masing untuk Na dan Cl, yang

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 14


saling menembus. Kedua subkisi tersebut terpisah sejauh a satu sama
lain.
Tabel 3. Beberapa Bahan dengan Struktur Seperti NaCl
N Nam Jarak No Nam Jarak No Nam Jarak (a)
o a (a) a (a) a
1 LiH 4,08 13 NaBr 5,97 25 MgS 5,20
2 MgO 4,20 14 NaI 6,47 26 MgSe 5,45
3 MnO 4,43 15 KF 5,35 27 CaO 4,81
4 NaCl 5,63 16 KI 7,07 28 CaS 5,69
5 AgBr 5,77 17 RbI 5,60 29 CaSe 5,91
6 PbS 5,92 18 RbCl 6,58 30 CaTe 6,34
7 KCl 6,29 19 RbBr 6,85 31 S170 5,16
8 K Br 6,59 20 RbI 7,34 32 SrS 6,02
9 LiCl 5,13 21 CsF 6,01 33 SrSe 6,23
10 LiBr 5,50 22 AgF 4,92 34 We 6,47
11 LiI 6,00 23 AgCl 5,55 35 BaO 5,52
12 NaF 4,62 24 BaS 6,39 36 Ba 6,39

2. Struktur Kristal Cesium Chlorida (CsCl)


Cesium Chlorida (CsCl) memiliki satu molekul per sel satuan.
Posisi atom-atomnya berada pada 000, dan mempunyai kisi Bravais BCC
pada posisi . Tiap titik kisi diisi pola yang terdiri dari molekul
CsCl, yaitu basis yang dengan ion CS + pada 000 dan ion Cs- pada .
Atom sudut dari salah satu subkisi merupakan atom pusat dari subkisi
yang lain. Oleh karena itu, jumlah atom tetangga terdekat adalah delapan,
seperti ditunjukkan pada gambar berikut

Gambar 15. Struktur CsCl

CsCl dapat pula dipandang sebagai struktur non-Bravais yang terdiri dari
dua subkisi SC (kubik sederhana), yang masing-masing dibentuk oleh
atom-atom Cs dan Cl, yang keduanya terpisah sejauh 3a (setengah
diagonal ruang). Jumlah titik terdekat setiap atom adalah 8 atom yang
berbeda jenis. CsCl memiliki konstanta kisi 4,11 .

Tabel 4. Beberapa Bahan yang Memiliki Struktur Seperti CsCl

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 15


No Kristal Panjang sisi = a
1 BeCu 2,70
2 AlNi 2,88
3 CuZn 2,94
4 CuPd 2,99
5 AgMg 3,28
6 LiHg 3,29
7 NH4Cl 3,87
8 TlBr 3,97
9 CsCl 4,11
10 TlI 4,20

3. Struktur Hexagonal Closed Packed (HCP)

Hexagonal Closed Packed (HCP) merupakan jenis kristal yang


sudah umum. Misalnya, logam magnesium, titanium, seng, berilium, dan
kobalt. Unit sel heksagonal memiliki empat buah sumbu dengan sudut alas
1200 dan 600. Kristal HCP dapat dipandang tersusun tiga unit sel rhombik
dengan sudut 1200 dan 600 seperti pada gambar berikut:

Gambar 16. (a) Bentuk Heksagonal dengan sumbu 4 dan (b) sel
Rhombik sebagai penyusun sel Heksagonal
Banyak cara untuk menyusun bola identik dengan jumlah tak
berhingga secara tertentu sehingga menghasilkan susunan teratur yang
memiliki fraksi kepadatan maksimum atau ruang kosong antarbola
minimum. Gambar 1.12 berikut melukiskan susunan satu lapis bola identik
dengan pusat titik A, yang mana tiap bola bersinggungan dengan enam
bola tetangga terdekatnya. Lapisan kedua yang identik ditempatkan paralel
di atasnya (lapisan pertama) dengan pusat titik B. Penempatan lapisan
ketiga memiliki dua kemungkinan, yakni
1. Dengan pusat titik A, sehingga terdapat urutan lapisan ABABAB,
dan menghasilkan struktur HCP, dan
2. Dengan pusat titik C, sehingga terdapat urutan ABCABC, dan
menghasilkan struktur FCC.

Gambar 17. Lapisan Bola Terkemas Rapat dengan Pusat Titik A

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 16


Lapisan pertama A merupakan bidang dasar untuk struktur HCP
atau bidang (111) untuk struktur FCC. Struktur HCP memiliki sel primitip
kisi heksagonal, tetapi dengan basis dua atom. Sedangkan sel primitip FCC
berbasissatu atom. Baik HCP maupun FCC mempunyai perbandingan c/a=

2
6 =1,633 dan jumlah tetangga terdekat 12 buah atom, serta energi
3
ikatan yang hanya bergantung pada jumlah ikatan tetangga terdekat
peratom.

Gambar 18. Struktur Kristal HCP


Tabel 5. Beberapa Bahan dengan Struktur HCP

Nama c/a
No a (A0) C
Unsur a3/a1
1 Be 2,29 3,58 1,56
2 Cd 2,98 5,62 1,89
3 Ce 3,65 5,96 1,63
4 Co 2,51 4,07 1,62
5 Dy 3,59 5,65 1,57
6 Er 3,56 5,59 1,57
7 Gd 3,64 5,78 1,59
8 He 3,57 5,83 1,63
9 Hf 3,20 5,06 1,58
10 Ho 3,58 5,62 1,57
11 La 3,75 6,07 1,62
12 Lu 3,50 5,55 1,59
13 Mg 3,21 5,21 1,62
14 Nd 3,66 5,90 1,61
15 Os 2,74 4,32 1,58
16 Pr 3,67 5,92 1,61
17 Re 2,76 4,46 1,62
18 Ru 2,70 4,28 1,59
19 Sc 3,31 5,27 1,59
20 Tb 3,60 5,69 1,58
21 Ti 2,95 4,69 1,59
22 Tl 3,46 5,53 1,60
23 Tm 3,56 5,55 1,57
24 Y 3,65 5,73 1,57
25 Zn 2,66 4,95 1,86
26 Zr 3,23 5,15 1,59

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 17


4. Struktur Intan

Struktur Intan mempunyai ruang kisi yang berbentuk FCC dan


merupakan gabungan dari subkisi FCC, dengan basis primtifnya
mempunyai dua atom yang identik, yaitu pada posisi asal 000 dan ,
seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar 19. Struktur Intan

Dalam setiap sel satuan terdapat 8 atom C dan bilangan


koordinasinya adalah 4. Keempat atom terdekat membentuk suatu
tetrahedral, dengan pusat atom yang bersangkutan. Konfigurasi semacam
itu sering dijumpai pada semikonduktor, dan dinamakan ikatan
tetrahedral. Struktur intan merupakan contoh ikatan kovalen dalam unsur-
unsur kolom IV tabel periodik. Struktur intan dapat pula dipandang
sebagai gabungan dari dua subkisi FCC yang saling menembus dengan
titik asal, masing-masing 000 dan .
Tabel 6. Beberapa Bahan dengan struktur Intan
No Kristal Jarak
(a)
1 C (intan) 3,57
2 Si 5,43
3 Ge 5,66
4 (grey) 6,49

5. Struktur Seng Sulfida (ZnS)

Struktur kubus sulfida seng dihasilkan pada saat atom-atom Zn


ditempatkan pada salah satu kisi kubus FCC dan atom-atom sulfur
ditempatkan pada sisi kubus lainnya seperti ditunjukkan gambar berikut

Gambar 20. Struktur Seng Sulfida (ZnS)

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 18


Struktur ZnS sama dengan struktur intan, tetapi dengan basis yang terdiri
dari dua atom berbeda, yakni Zn dan S. Setiap sel satuan memiliki 4
molekul ZnS dengan posisi atom
Zn : 0 0 0 0 0 0
S :
Setiap atom memiliki jarak yang sama terhadap keempat atom yang
berbeda terdekatnya yang menempati pojok-pojok tetrahedron regular. ZnS
memiliki konstanta kisi 5,41

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 19


Tabel 7. Beberapa Bahan dengan Struktur ZnS
No Kristal Jarak (a)
1 CuF 4,26
2 CuCl 5,41
3 CuBr 5,69
4 CuI 6,04
5 AgI 6,47
6 BeS 4,85
7 BeSe 5,07
8 BeTe 5,54
9 MnS 5,66
10 MnSe 5,82
11 ZnS 5,42
12 ZnSe 5,67
13 ZnTe 6,09
14 CdS 5,82
15 CdTe 6,48
16 HgS 5,85
17 HgSe 6,08
18 HgTe 6,43
19 AlP 5,45
20 AlAs 5,62
21 AlSb 6,13
22 GaP 5,45
23 GaAs 5,65
24 GaSb 6,12
25 InP 5,87
26 InAs 6,04
27 InSb 6,48
28 SiC 4,35

1.9 Sistem Indeks (Indeks Miller)

Suatu kristal akan mempunyai bidang-bidang atom, untuk itu bagaimana


kita mempresentasikan suatu bidang datar dalam suatu kisi kristal, yang dalam
istilahnya kristalografi sering disebut dengan Indeks Miller.

Gambar 21. Bidang ABC

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 20


1. Bidang-bidang ABC akan memotong sumbu a1 di 3 a1 , memotong a2
di 2 a2 dan memotong sumbu 3 di 2 a3.
a
2. Bila | a1|=|
a 2|=|
a3|=1 maka kebalikan dari bilangan tersebut adalah 1/3,
1/2 , 1/2
3. Jadi ketiga bilangan bulat yang mempunyai perbandingan yang sama dari

1/3, 1/2 , 1/2 adalah 2, 3, 3 didapat dari


( 13 , 12 , 12 ) x 6
4. Dengan demikian, indeks Miller bidang ABC adalah (hkl) senilai (2 3 3).
a. Aturan Indeks Miller
1. Tentukan titik potong antara bidang yang bersangkutan dengan sumbu-
sumbu (a1 , a2 , a3 ) l sumbu-sumbu primitif atau konvensional dalam
satuan konstanta lattice (a1 , a2 , a3 ) .
2. Tentukan kebalikan (reciprok) dari bilangan-bilangan tadi, dan kemudian
tentukan tiga bilangan bulat (terkecil) yang mempunyai perbandingan
indeks yang sama, indeks
(h k l).

Contoh:

a1 di2 a 1

Gambar 22. Contoh Indeks Miller a2 di2 a 2


bidang ABC a3 di 3 a3

Bidang ABC memotong sumbu- 1 1 1


Kebalikannya adalah , ,
2 2 3
sumbu

Jadi ketiga bilangan bulat yang mempunyai perbandingan yang mempunyai


perbandingan yang sama seperti di atas adalah 3, 3, 2.

Diperoleh dari ( 12 , 12 , 13 ) x 6 .

Dengan demikian, indeks Miller bidang ABC adalah (h k l) senilai (3 3 2)

Catatan:

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 21


Perhatikan bahwa dalam penulisan indeks miller kita tidan menggunakan
tanda koma. Jika salah satu h k l negatif, maka indeks tersebut ditulis
( h k l) , artinya h bertanda negatif.

b. Contoh-contoh Indeks Miller


1. Kubus sederhana: sel non primitif = sel primitif
Bidang ABFE

X di 1 a x^
Y di a ^y
Gambar 23. Contoh Indeks Z di a ^z
Miller Bidang 1 1 1
ABFE Kebalikannya: , ,
1
Perpotongan bidang ABFE dengan Jadi indeks bidang ABFE adalah
sumbu (1 0 0)

Bidang BCGF

Y di 1 a ^y
Z di a z^
Gambar 24. Contoh Indeks 1 1 1
Miller Bidang Kebalikannya: , ,
1
BCGF
Jadi indeks bidang BCGF adalah
Perpotongan bidang BCGF dengan (0 1 0)
sumbu
X di a ^x

Bidang EFGH
Perpotongan bidang BCGF dengan
sumbu
X di a ^x
Y di a ^y
Z di 1 a z^
1 1 1
Kebalikannya: , ,
1
Jadi indeks bidang EFGH adalah
Gambar 25. Contoh Indeks
(0 0 1)
Miller Bidang
EFGH

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 22


Bidang ACGE

Y di 1 a ^y
Z di a z^
1 1 1
Kebalikannya: , ,
Perpotongan bidang BCGF dengan 1 1
sumbu Jadi indeks bidang ACGE adalah (0
X di 1 a x^ 0 1)

Gambar 26. Contoh Indeks


Miller Bidang ACG

Bidang DCGH

lebih dari satu, maka indeks


bidang DCGH adalah: {1 0 0}
Bidang DCGH sejajar dengan
bidang ABFE, dan menempel di Tanda {1 0 0} menyatakan
sumbu Y dan Z. Artinya bidang kumpulan bidang-bidang yang
tersebut tidak hanya satu tetapi sejajar dengan bidang (1 0 0).

Gambar 27. Contoh Indeks


Miller Bidang DCGH
Sama halnya dengan Bidang ADHE yang sejajar dengan bidang
BCGF, maka indeks bidang ADHE adalah {1 0 0}, dan seterusnya. Jadi,
apabila bidangnya menempel di sumbu, indeksnya akan sama dengan indeks
bidang yang sejajar dengannya.

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 23


2. Kubus Pusat Muka (FCC): sel non primitif sel primitif
Bidang ABEF

a1 di2 a^ 1

Gambar 28. Contoh Indeks a2 di a^ 1


Miller Bidang a3 di 2 a^ 3
ABEF 1 1 1
Kebalikannya: , ,
2 2
Maka, indeks bidang ABEF pada sel
Perpotongan bidang ABEF dengan primitif adalah (1 0 1)p
sumbu primitif:

Sedangkan pada sumbu konvensional bidang ABEF berpotongan pada:

X di 1 a x^
Y di a ^y
Z di a ^z
1 1 1
Kebalikannya: , ,
1
Jadi indeks bidang ABFE adalah (1 0 0)K

Bidang ACGF

primitif bidang ACGF berpotongan


dengan:
Gambar 29. Contoh Indeks
Miller Bidang a1 di1 a^ 1
ACGF a2 di2 a^ 1
Dengan menggunakan sumbu a3 di 2 a^ 3
konvensional pada kubus FCC,
bidang ACGF mempunyai indeks (1 1 1 1
Kebalikannya: , ,
1 0)K. Sedangkan pada sumbu 1 2 2
Maka, indeks bidang ACGF pada sel
primitif adalah (2 1 1)p

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 24


Bidang ACH

primitif bidang ACH berpotongan


dengan:
Gambar 30. Contoh Indeks
Miller Bidang 1 di1 a^ 1
a
ACH a2 di1 a^ 1
Dengan menggunakan sumbu a3 di1 a^ 3
konvensional pada kubus FCC, 1 1 1
Kebalikannya: , ,
bidang ACH mempunyai indeks 1 1 1
(1 1 1)K. Sedangkan pada sumbu Maka, indeks bidang ACH pada sel
primitif adalah (1 1 1)p

Bidang ABGH

primitif bidang ABGH berpotongan


dengan:
Gambar 31. Contoh Indeks
Miller Bidang a1 di2 a^ 1
ABGH a2 di2 a^ 1
a3 di1 a^ 3
1 1 1
Dengan menggunakan sumbu Kebalikannya: , ,
2 2 1
konvensional pada kubus FCC,
bidang ABGH mempunyai indeks Maka, indeks bidang ABGH pada sel
(1 0 1)K. Sedangkan pada sumbu primitif adalah (1 1 2)p

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 25


3. Kubus Pusat Badan (BCC): sel non primitif sel primitif
(1 1 0)P seperti pada gambar
disamping, berpotongan pada sumbu
Gambar 32. Kubus Pusat
konvensional dengan:
Badan (BCC)
X di 1 a x^
Dengan menggunakan sumbu
Y di 1 a ^y
primitif pada kubus BCC, bidang
yang mempunyai indeks Z di a z^
1 1 1
Kebalikannya: , ,
1 1 1
Jadi indeks bidang adalah (1 1 1 )

a1 di1 a^ 1
Gambar 33. Kubus Pusat a2 di^a 1
Badan (BCC)
a3 di1 a^ 3
Dengan menggunakan sumbu
konvensional pada kubus BCC, 1 1 1
Kebalikannya: , ,
bidang yang mempunyai indeks ( 1 0 1 1 1
0)K seperti gambar di samping, Maka, indeks bidang pada sel
berpotongan pada sumbu primitif primitif adalah (1 1 1)p
dengan:

(http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA
/JUR._PEND._FISIKA/1957080719
82112-
WIENDARTUN/1.ruktur_Kristal_(h
and_out).pdf).

c. Menentukan dhkl

dhkl adalah space/ jarak/ batas


antar bidang.

Persamaan untuk resiprok


ruang dalam arah n^ adalah:

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 26


2 n^ hkl 1 0) dan panjang a=5,2 A (0,52
Ghkl=
d hkl nm). Tentukan nilai dhkl nya!
dhkl untuk orthogonal crystal: Jawab:

1 h2 k 2 l 2 1 h2 +k 2+l 2
2
= 2 + 2+ 2 =
d a b c d2 a2
dhkl untuk cubic (special case 2 (0,52)2
d= 2 2
orthogonal): 1 + 1 +0

1 h2 +k 2+l 2 9
d hkl=0,368 10 m
=
d2 a2

Contoh

Suatu unit cell berbentuk kubik


memiliki nilai indeks Miller (1

(Pendahuluan Fisika Zat Padat) | 27


1.10 Jari-jari Atom
Dengan menggunakan ciri-ciri utama yang terdapat dalam struktur, kita
dapat menghitung ukuran dalam suatu jenis struktur tertentu. Dalam subbab ini
akan dibahas beberapa ciri-ciri geometris yang penting antara lain; jari-jari atom,
jumlah atom perunit sel, densitas kemasan relatif, dan bilangan koordinasi.

Gambar 34. Susunn Tumpukkan Padat untuk HCP

Gambar 35. (a) Struktur Kristal Kubik Sederhana, (b) Keterkaitan


antara jari-jari R dengan kisi Kristal a
Jari-jari atom digunakan untuk menghitung besarnya jarak kesetimbangan
antara dua pusat atom yang berdekatan. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi
besarnya jarak antar atom, faktor pertama adalah suhu. Bertambahnya kalor dapat
membuat suatu benda memuai sehingga jarak kesetimbangan antar atomnya
bertambah. Faktor kedua adalah ionisasi elektron valensi, hal ini disebabkan
karena berkurangnya elektron terluar menyebabkan elektron yang tersisa semakin
tertarik ke dalam mendekati bagian inti. Sedangkan faktor yang ketiga adalah
bilangan koordinasi, semakin besar bilangan koordinasi atau dengan kata lain
semakin banyak atom tetangga terdekatnya maka tolakan elektronik semakin
besar sehingga jarak kesetimbangan antar atom bertambah. Pada umumnya, jari-
jari atom dinyatakan dengan R dan kisi kubus dinyatakan dengan a. Pada
bagian ini akan dibahas keterkaitan antara jari-jari atom dengan sisi kubus untuk
beberapa sistem kristal seperti pada Gambar
a. Kristal kubik Sederhana
Dalam sistem kristal kubik sederhana, terlihat bahwa atom-atom
bersinggungan hanya sepanjang sisi kubus, dengan demikian kristal ini
memiliki jari-jari atom yang bernilai a/2 yang dapat dilihat dalam Gambar
1.30. Dalam gambar ini kita juga dapat melihat bahwa masing-masing atom
memiliki enam atom tetangga terdekat yaitu empat atom yang posisinya berada
dalam satu bidang, serta dua atom yang terletak di bagian atas dan bawah
sehingga bilangan koordinasi untuk sistem kristal kubik sederhana adalah 6.

Gambar 36. (a) Struktur Kristal BCC, (b) R dengan kisi Kristal a
b. Kristal BCC
Pada Gambar 1.30 struktur kristal BCC memiliki satu atom tambahan
yang terletak di pusat dan bersinggungan dengan delapan atom yang berada di
sudut, yang perlu dicatat adalah atom-atom dalam struktur kristal BCC ini
hanya bersinggungan sepanjang garis diagonal ruang, dengan memperhatikan
kondisi ini kita dapat menghitung besarnya jari-jari atom kristal BCC sebagai
berikut.
Dari gambar b dapat kita lihat bahwa diagonal ruang (AC) besarnya
empat kali jari-jari atom sehingga:

AC = AB2 +BC 2
= 2a2 +a2
a 3
4 R = a 3

R = atau a = R
3 4
4 3
c. Kristal FCC
Pada kristal FCC ini terdapat 8 atom yang menempati posisi titik sudut,
dan 6 atom yang menempati posisi permukaan namun di antara atom yang
terletak di sudut tidak ada yang bersinggungan. Dari Gambar 1.31 dapat kita
lihat bahwa atom-atom ini saling berhubungan secara diagonal sisi permukaan
kubus sehingga AC besarnya sama dengan 4R.

Gambar 37. (a) Struktur Kristal FCC, (b) Keterkaitan antara


Jari-jari R dengan kisi Kristal a
Besarnya jari-jari atom ini dapat dihitunhg sebagai berikut.

AC = AB2 +BC 2
= a 2+a 2
a2
4 R = a 2
R=
2 atau a = 4 R
4 2
1.11 Rapat Kemasan Atom
Rapat kemasan atomik = atomic packing factor (APF) adalah fraksi dari volume
bola pejal di dalam sebuah unit sel, dalam hal ini atom dianggap menggunakan
model bola pejal yang secara matematis dapat ditulis sebagai berikut.

Volume atom dalam satu unit sel Va


APF = N atom x = N atom x
Total volume unit sel Vs

Di mana Natom adalah jumlah atom dalam setiap unit sel. Setiap sistem kristal
memiliki APF yang berbeda-beda bergantung terhadap geometri sel yang mereka
miliki. Dalam subbab ini akan dibahas mengenai perhitungan dari beberapa sistem
kristal sebagai berikut.
a. Struktur Kubik Sederhana
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa struktur kristal ini
memiliki jumlah atom yang berada dalam unit sel sebanyak satu buah
sehingga besarnya APF sebagai berikut.
Volume atom (Va)

4 4 1 3
3 3 2 ( )
V a = R3 = a = a 3
6
Volume Unit Sel (Vs)
3
Vs = a
Rapat Kemasan:
3
a
Va 6
APF = N atom x = 1 x 3 = = 0,52
Vs a 6
Dari hasil ini dapat kita simpulkan bahwa hampir setengah dari
ruang dalam unit sel ini kosong, oleh karena struktur SC ini bersifat
longgar.
b. Body Center Cubic (BCC)
Pada struktur ini terdapat 8 atom sudut dan 1 atom pusat sehingga total

R=
3 a
atomnya berjumlah 2, sedangkan jari-jarinya adalah 4 maka besarnya
APF untuk struktur BCC ini adalah:
Volume atom (Va)
3
4 3 4 3 3 a 3
V a = R = a =
3 3 4 16 ( )
Volume Unit Sel (Vs)
3
Vs = a
Rapat Kemasan:
3 a3
Va
=
16 3
APF = N atom x =1 x 3
= 0, 68
Vs a 8
Hasil ini menunjukkan bahwa atom hanya menempati sekitar 68%
dari keseluruhan volume unit sel.
c. Struktur FCC
Pada struktur ini terdapat 8 atom yang besarnya seperdelapan bagian
sudut dan 6 atom pada pusat bidang permukaan kubus yang besarnya
setengah. Dengan demikian, struktur ini memiliki 4 atom dalam sebuah

R= a
2
unit sel, sedangkan jari-jari atomiknya adalah 4 maka besarnya
densitas kemasan FCC adalah:
Volume atom (Va)
3
4 3 4 2 2 a3
V a = R = a =
3 3 4 24 ( )
Volume Unit Sel (Vs)
3
Vs = a

Rapat Kemasan:
2 a 3
Va
= = 0,74
24 2
APF = N atom x = 1 x 3
Vs a 6
Maka atom-atom dari struktur FCC ini menempati kira-kira 74%
dari total keseluruhan volume dari satu unit sel.
d. Struktur HCP
Pada struktur HCP terdapat 12 atom yang terletak di sudut dengan
besarnya seperenam bagian, 2 atom yang berada di tengah-tengah dengan
besarnya setengah bagian, dan tiga atom yang terletak di bidang tengah
sehingga atom dengan struktur HCP memiliki 6 atom dalam satu unit sel.
Bilangan koordinasi dari HCP adalah 12 yang nilainya sama dengan
struktur kristal FCC sehingga kristal ini memiliki APF yang besarnya 0.74.
e. Struktur Kubik Intan
Dalam struktur kubik intan, terdapat 8 atom yang menempati posisi
sudut yang besarnya seperdelapan bagian, kemudian ditambahkan dengan
empat atom yang menempati posisi 1/4, 1/4, 1/4; 3/4 , 3/4 , 1/4 ; 3/4 , 1/4 ,
3/4 ; dan 1/4 , 1/4 , 3/4 sehingga atom yang berada dalam satu unit sel
berjumlah 8 atom. Karena atom-atom ini terikat secara tetrahedral maka
besarnya bilangan koordinasi dari struktur kubik intan ini adalah 4.
Menghitung jari-jari atom kubik intan:
a
AB = BC = CE =
2
1
1
AC = AB 2 +BC 2 = ( a )2 +( a )2 = a
2 2 1
2
2 2
2
1 2 1 2
AE = AC +CE = ( a ) +( a) = a
4 3
2
AE
AD =2R =
2

R= =

AE a 3 a
= 3
4 4 4 8

Volume Atom (Va)


4 4 1
V a = R3 = ( a)3 = a3
3 3 2 6
Volume Unit Sel (Vs)
V s = L x c =(3 x 1) x c
= 3 x a (a xt ) x c
a 2a
= 3 x a x 3 x 6
2 6
3
= 3 a 2
Rapat Kemasan;
Va a3 1
APF = N atom x = = = 0,74
Vs 3 2a 3 3 2

PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan materi yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa:
a. Bahan padat dapat diklasifikasikan berdasarkan keteraturan susunan
atom-atom atau ion-ion penyusunnya. Bahan yang tersusun oleh deretan
atom-atom yang teratur letaknya dan berulang (periodik) disebut bahan
kristal. Dikatakan bahwa bahan kristal mempunyai keteraturan atom
berjangkauan panjang. Sebaliknya, zat padat yang tidak memiliki
keteraturan demikian disebut bahan amorf atau bukan kristal.
b. Didalam kristal terdapat kisi-kisi yang ekivalen yang sesuai dengan
lingkungannya dan diklasifisikan menurut simetri translasi. Operasi
translasi kisi didefinisikan sebagai perpindahan dari sebuah kristal oleh
sebuah vector translasi Kristal.
c. Struktur Kristal dibentuk oleh basis dan kisi, Dimana Basis
didefinisikan sebagai sekumpulan atom dengan jumlah atom dalam
sebuah basis dapat berisi satu atom atau lebih. Sedangkan kisi adalah
sebuah susunan titi-titik yang teratur dan periodik di dalam ruang.
d. Sel primitive adalah sel yang memiliki luas atau volume terkecil dan
dibangun oleh vector basis.
e. Dalam kisi dua dimensi daerah jajaran genjang yang sisi-sisinya
dibatasi oleh vektor basis dinamakan sel satuan. Contoh kisi dua
dimensi yaitu kisi miring, kisi bujur sangkar, kisi heksagonal, kisi segi
panjang, dan kisi segi panjang berpusat.
f. Untuk tipe kisi 3 dimensi terdapat 7 sistem kisi kristal yaitu triklinik,
monoklin, orthorombik, tetragonal, kubus, trigonal, dan heksagonal.
g. Karena kristal mempunyai bidang-bidang atom, sehingga untuk
mempresentasikan suatu bidang datar dalam suatu kisi kristal
(kristalografi) sering disebut dengan Indeks Miller.
h. Beberapa kristal dengan bentuk sederhana yaitu struktur sodium klorida
(nacl), struktur sesium khlorida (cscl), struktur intan, struktur seng
sulfida (zns), struktur hcp (hexagonal close-packed structure).

DAFTAR PUSTAKA

http://mulyono-wh.blogspot.co.id/2010/11/struktur-kristal-sederhana.html
http://andi-unej.blogspot.co.id/2012/04/fisika-zat-padat.html
https://www.scribd.com/doc/16810487/Tipe-Dasar-Kristal-Dan-Struktur-Kristal
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/195708071982112-
WIENDARTUN/1.Struktur_Kristal_(hand_out).pdf
Astra, Made Dr., M.Si. _. Modul 1 Struktur Kristal. _
Parno, Drs.,M.si. 2006. FISIKA ZAT PADAT. Universitas Negeri Malang: Malang.
Wiendartun.____.Pendahuluan Fissika Zat Padat..