Anda di halaman 1dari 47

STATISTIK BOSE-EINSTEIN

1.1 Sifat Dasar Boson


Sifat sistem sub atomic yang tidak dapat dibedakan dapat dipahami dari
konsep gelombang sistem. Panjang gelombang de Broglie sistem-sistem tersebut
memenuhi

=h/m

dengan m massa sistem dan

laju sistem. Karena m

untuk sistem sub atomic sangat kecil maka panjang gelombang

cukup besar.

Panjang gelombang yang besar menyebabkan fungsi gelombang dua sistem yang
berdekatan menjadi tumpang tindih. Kalau dua fungsi gelombang tumpang tindih
maka kita tidak dapat lagi membedakan dua sistem yang memiliki fungsi-fungsi
gelombang tersebut.
Kondisi sebaliknya dijumpai pada sistem klasik seperti molekul-molekul
gas. massa sistem sangat besar sehingga

sangat kecil. Akibatnya tidak terjadi

tumpang tindih fungsi gelombang sistem-sistem tersebut, sehingga secara prinsip


sistem-sistem tersebut dapat dibedakan.
Pada suhu yang sangat tinggi sistem sub atomic dapat berperilaku seperti
sistem klasik. Pada suhu yang sangat tinggi kecepatan sistem sangat besar
sehingga panjang gelombangnya sangat kecil. Akibatnya, tumpang tindih
gelombang sistem-sistem menjadi hilang dan sistem menjadi terbedakan.
Sistem kuantum yang akan kita bahas ada dua macam yaitu boson dan
fermion. Boson adalah sistem yang memiliki spin kelipatan bulat dari

Sistem ini tidak memenuhi prinsip eksklusi Pauli sehingga satu tingkat energi
dapat ditempati oleh sistem dalam jumlah berapa pun. Sebaliknya, fermion
memiliki spin yang merupakan kelipatan ganjil dari

/ 2 . Sistem ini memenuhi

prinsip eksklusi Pauli. Tidak ada dua sistem atau lebih yang memiliki keadaan
yang sama.
1

1.2 Konfigurasi Boson


Statistik untuk menurunkan boson dinamakan statistik Bose-Einstein.
Untuk menentukan fungsi distribusi Bose-Einstein, kita terlebih dahulu harus
menentukan konfigurasi dengan probabilitas paling besar. Konfigurasi ini
memiliki probabilitas yang jauh lebih besar daripada konfigurasi-konfigurasi
lainnya sehingga hampir seluruh waktu sistem boson membentuk konfigurasi
tersebut. Sifat rata-rata assembli dapat dianggap sama dengan sifat pada
konfigurasi maksimum tersebut. Kita tetap membagi tingkat energi sistem-sistem
dalam assembli atas M kelompok sebagai berikut :
Kelompok-1 memiliki jumlah keadaan

g1

dan eneri rata-rata

E1

Kelompok-2 memiliki jumlah keadaan

g2

dan energi rata-rata

E2

gs

dan energi rata-rata

Es

Kelompok-s memiliki jumlah keadaan


Kelompok-M memiliki jumlah keadaan

gM

dan energi rata-rata

EM

Kita akan menentukan berapa cara penyusunan yang dapat dilakukan jika :

Terdapat

n1

sistem di kelompok-1

Terdapat

n2

sistem di kelompok-2

ns

sistem dikelompok-s

Terdapat
Terdapat

nM

sistem di kelompok-M

Jika ditinjau kelompok-1 di mana terdapat

g1

keadaan dan

n1

sistem. Mari kita analogikan satu keadaan sebagai sebuah kursi dan satu sistem
dianalogikan sebagai sebuah benda yang akan diletakkan dikursi tersebut. Satu
kursi dapat saja kosong atau menampung benda dalam jumlah beberapa saja.
Untuk menghitung jumlah penyusun benda, dapat dilakukannya sebagai berikut :

Gambar 1.1 Penyusunan benda dan kursi analog dengan penyusunan boson
dalam tingkat-tingkat energi. Untuk merepresentasikan sistem
boson, bagian paling bawah harus selalu kursi.
Dari gambar 1.1, apa pun cara penyusunan yang dilakukan, yang berada di ujung
bawah selalu kursi karena benda harus disangga oleh kursi (sistem harus
menempati tingkat energi). Oleh karena itu, jika jumlah total kursi adalah
maka jumlah total kursi dapat dipertukarkan dengan harga

g11

g1

karena salah

satu kursi harus tetap di ujung bawah. Bersama dengan sistem banyak

n1

maka jumlah total benda yang dipertukarkan dengan tetap memenuhi sifat boson
adalah (

g11 +n1=g 1+ n11.

Akibatnya, jumlah cara penyusunan yang

dapat dilakukan adalah (g1 +n11)! .

Karenna sistem boson tidak dapat dibedakan satu degan lainnya, maka
pertukaran sesame sistem dan sesame kursi tidak menghasilkan penyusunan yang

berbeda. Jumlah penyusunan sebanyak

g
( 1+n11 ) ! Secara emplisit

memperhitungkan jumlah pertukaran antara sistem dan antar kursi. Jumlah


pertukaran antar sistem adalah
g1 ! .
dalam

n1 !

dan pertukaran jumlah antar kursi adalah

Oleh karena itu, jumlah penyusunan yang berbeda untuk


g1

n1

boson di

keadaan hanyalah

( g1 +n11)!
(1.1)
n1 ! g 1 !

Hal yang sama berlaku untuk kelompok-2 yang mengandung


keadaan dengan populasi

n2

g2

sistem. Jumlah cara penyusunan yang berada

sistem-sistem, ke dalam keadaan-keadaan tersebut adalah


(g2 +n21)!
(1.2)
g2 ! n2 !
Terakhir hingga kelompok energi ke-M, jumlah cara penyusunan yang berbeda
untuk

nM

sistem dalam

gM

keadaan adalah

(g M + nM 1) !
(1.3)
gM ! n M !

Akhirnya jumlah total cara penyusunan yang berbeda secara bersamaan


sistem di dalam
gM

dalam

g1

keadaan,

n2

sistem di dalam

g2 ,

.,

nM

n1
sistem

keadaan adalah

( g1 +n11)! ( g 2+ n21)!
(g + n 1)! M (gs +n s1)!

M M
=
(1.4 )
n1 ! g 1 !
g 2 ! n2 !
gM ! nM !
ns ! gs !
s=1
Harus juga diperhitungkan jumlah cara membawa N sistem dari luar untuk
didistribusikan ke dalam tingkat-tingkat energi di atas. Jumlah cara pengambilan
N sistem adalah N! cara. Karena sistem tidak dapat dibedakan maka jumlah
tersebut harus dibagi dengan N!, sehingga jumlah total cara membawa N sistem ke
dalam tingkat-tingkat energi di dalam assembli adalah N!/N!=1. Akhirnya, kita
dapatkan jumlah penyusunan sistem-sistem dalam assembli boson adala
M

W =
s=1

(g s+ns 1)!
(1.5)
ns! gs!

1.3 Konfigurasi Maksimum


Selanjutnya

kita

akan

menentukan

konfigurasi

dengan

peluang

kemunculan paling besar. Ambil logaritma ruas iri dan kanan persamaan (1.5)

s=1

M
M
( g s +n s1)!
(g + n 1)!
= ln s s
=ln ln ( g s +n s1 ) !ln ns !ln gs !(1.6)
ns ! g s !
ns! gs!
s=1
s=1
ln W =ln

Kemudian kita gunakan pendekatan Stirling untuk melakukan


penyederhanaan sebagai berikut :

ln ( g s+ ns1 ) ! ( gs + ns1 ) ln ( g s +n s1 )(gs +n s1) ln g s ! g s ln g sg s


ln n s ! ns ln n sn s
Dengan pendekatan tersebut maka persamaan (1.6) menjadi :
gs + g s
M

ln W = [ ( g s+ ns1 ) ln ( g s +n s1 )(gs + ns1) ]g s ln


s=1

ns ln ns + ns (1.7)
Jumlah total sistem serta energi total assembli memenuhi
M

s=1

s=1

N= ns dan U= ns Es

Untuk assembli yang terisolasi sehingga tidak ada pertukaran sistem


maupun energi antara assembli dan lingkungan. Jumlah sistem maupun energi
assembli constant.
Pembatasan ini dapat dinyatakan dalam bentuk diferensial berikut ini :
M

N = ns =0(1.8)
s=1

U = E s n s=0(1.9)
s=1

Konfigurasi

dengan

probabilitas

maksimum

diperoleh

dengan

memaksimumkan ln W. Dengan memperhatikan konstrain pada persamaan (1.8)


dan (1.9) maka konfigurasi dengan probabilitas maksimum memenuhi

lnW + N + U =0

Selanjutnya

dengan

(1.10)

mengambil

diferensial

persamaan

(1.7)

diperoleh

W = [ ( g s+ ns 1 ) ln ( g s +n s1 ) ( g s +n s1)g s ln gs + g s ns ln n s + n s ] (1.11)
s=1

ln
Hitung suku per suku yang terkandung dalam persamaan (1.11)

i)

( g s +ns 1 ) ln ( gs +n s1 ) =

( g +n 1 ) ln ( g s+ ns1 ) n s
n 1 s s

ln ( g s1+n s ) + ( gs + ns1 )

1
n s
( g s+ ns 1 )

[ ln ( g s1+n s )+ 1 ] n s

( g +n 1 ) ns= ns
ns s s

ii)

( g s +ns 1 )=

iii)

g s ln gs =

g ln g s ns=0
ns s

iv)

n s ln ns =

1
n ln ns n s= ln ns +n s
ns =[ ln ns +1 ] n s
n s s
ns

Persamaan (1.11) selanjutnya menjadi


M

s=1

s=1

lnW [ ln ( g s+ ns 1 ) +1 ] n s n s0+ 0 [ ln ns +1 ] n s+ n s= [ ln ( g s +n s1 )ln ns ] ns

ln
s =1

Karena

gs +n s1
n s (1.12)
ns
gs 1

dan

ns 1

maka

gs +n s1 g s +ns

sehingga persamaan

(1.12) dapat disederhanakan lebih lanjut menjadi

lnW = ln
s=1

[ ]

gs + ns
n s( 1.13)
ns

Subtitusikan persamaan (1.8), (1.9), dan (1.13) ke dalam persamaan (1.10)


diperoleh
M

ln
s=1

[ ]

M
M
g s+ ns
n s+ ns + E s n s=0
ns
s=1
s=1

Atau
M

s=1

{[ ]
ln

gs +n s
+ + Es ns =0(1.14)
ns

Kesamaan di atas harus berlaku untuk semua variasi

ns

. Ini dijamin ika

bagian di dalam kurung selalu nol, yaitu


ln

[ ]

g s +n s
+ + Es =0
ns

g s +ns
=exp ( Es )
ns
gs +n s=n s exp ( Es )
gs =ns [ exp ( E s )1 ]
Dan akhirnya ungkapan untuk jumlah populasi pada tiap-tiap tingkat energi
sebagai berikut
n s=

gs
(1.15)
exp ( Es ) 1

Ternyata untuk assembli boson, parameter

juga berbentuk

1
.
kT

Dengan demikian, bentuk lengkap fungsi Bose-Einstein untuk assembli boson


adalah
n s=

gs
exp ( + E s / kT )1

1.4 Parameter
Parameter

(1.16)

untuk foton dan fonon

pada persamaan (1.16). ada satu kekhususan untuk

assembli foton (kuantisasi gelombng elektromagnetik) dan fonon (kuantitasi


getaran atom dalam Kristal) dan ini berimplikasi pada nilai parameter

Dalam suatu kotak, foton bias diserap atau diciptakan oleh atom-atom yang
berada pada dinding kotak. Akibatnya, jumlah foton dalam satu assembli tidak
harus tetap. Jumlah foton bias bertambah, jika atom-atom di dinding
memancarkan foton dan bias berkurang jika atom-atom di dinding menyerap
foton. Untuk sistem semacam ini pembatasan bahwa jumlah total sistem dalam
assembli konstan sebenarnya tidak berlaku. Pada penurunan fungsi distribusi
Bose-Einstein kita telah mengamsusikan bahwa jumlah sistem dalam assembli
selalu tetap, yaitu

N =0 . Konstrain ini dimasukkan dalam persamaan dengan

memperkenalkan faktor pengali Langrange

. Oleh karena itu, agar konstrain

ini tidak diberlakukan untuk assembli dengan jumlah sistem tidak tetap, seperti
foton dan fonon maka nilai

harus diambil nol. Dengan nilai ini maka fungsi

distribusi untuk sistem semacam ini menjadi


n s=

gs
(1.17)
exp ( Es /kT ) 1

10

APLIKASI STATISTIK BOSE-EINSTEIN

2.1 Radiasi Benda Hitam


Teori tentang radiasi benda hitam menandai awal lahirnya mekanika kuantum dan
fisika modern. Benda hitam merupakan penyerap sekaligus pemancar kalor

11

terbaik. Benda hitam dapat dianalogikan sebagai kotak yang berisi gas foton.
Jumlah foton dalam kotak tidak selalu konstan. Ada kalanya foton diserap oleh
atom-atom yang berada di dinding kotak dan sebaliknya atom-atom di dinding
kotak dapat memancarkan fotonn ke dalam ruang kotak. Karena jumlah foton
yang tidak konstan ini maka faktor Bose-Einstein untuk gas foton adalah
1
E
kT

e 1

Yang diperoleh dengan menggunakan =0


Foton

adalah

kuantum

gelombang

elektromagnetik.

Ekstensi

foton

direspresentasikan oleh keberadaan gelombang berdiri dalam kotak. Karena


gelombang elektromagnetik memiliki dua kemungkinan arah osilasi (polarisasi)
yang saling bebas, maka kerapatan keadaan foton dalam kotak merupakan dua
kali kerapatan gelombang stasioner, yaitu :
g ( ) d=

8
d (1.18)
4

Dengan demikian, jumlah foton dengan panjang gelombang antara

sampai

+ d adalah
n ( ) d=

g ( ) d
(1.19)
e EkT 1

Karena energi satu foton adalah


panjang gelombang antara
E ( ) d=

E=hc /

sampai

maka energy foton yang memiliki

+ d adalah

hc
n ( ) d

12

8 hc d
(1.20)
5 e E /kT 1

2.1.1

Hukum Pergeseran Wien

Gambar 1.2 adalah plot E(


bahwa E(

sebagai fungsi

mula-mula naik, kemudian turun setelah mencapai nilai

maksimum pada panjang gelombang


mendiferensial E( terhadap

pada berbagai suhu. Tampak

. Kita dapat menentukan

dab menyamakan

dengan

dengan

dE ( )
=0(1.21)
d
m

Gambar 1.2 Spektrum radiasi benda hitam pada berbagai suhu


Berdasarkan persamaan (1.20) maka

13

E ( )=

8 hc
5

(1.22)

E
kT

e 1

Untuk memudahkan diferensial persamaan (1.22) persamaan diatas kita misal


x=kT /hc . Dengan pemisalan tersebut maka dapat ditulis

E =8 hc

kT
hc

( ) x (e11) (1.23)
5

1
x

dE( ) dE( ) dx kT dE( )


=
=
d
dx d hc dx
5

kT
kT

8 hc
hc
hc

( )

( ) dxd ( x (e 1 1) )(1.24)

Agar terpenuhi

1/x

dE
=0
maka pada persamaan 1.24 harus memenuhi
d

d
1
=0(1.25)
5
1
dx x ( e / x 1 )

Jika didiferensiasi secara seksama akan dapat hubungan berikut

( 15 x ) e1 / x 5=0 (1.26)
Nilai x pada persamaan (1.26)dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Jika
menggunakan instruksi Wolfram Research, maka solusi untuk x yang
memenuhipersamaan 91.26) adalah 0,194197. Dengan demikian,

memenuhi hubungan

14

m kT
=0,194197
hc
Atau
m T =0,194197

hc
(1.27)
k

23
dengan menggunakan nilai konstanta k =1,38x 10 J /K , h= 6,625 x

1034 Js , dan c=3 10 8 m/ s maka kita peroleh


m T =2,8 103 mK (1.28)

Gambar 1.3 Spektrum energi radiasi matahari berdasarkan hasil


pengukurandan prediksi dengan persamaan radiasi matahari
(gari).

15

Gambar 1.4 Warna bintang menunjukan suhu bintang. Semakain menuju


kewarna biru suhu bintang semakin tinggi. Sebaliknya suhu
bintang semakin rendah apabila menuju ke warna merah.
Persamaan (1.28) tidak lain daripada ungkapan hukum pergeseran Wien. Hukum
ini menjelaskan hubungan antara suhu benda dengan gelombang dan intensitas
maksimum yang dipancarkan benda tersebut. Makin tinggi suhu benda maka
makin pendek gelombang yang dipancarkan benda tersebut, atau warna benda
bergeser kea rah biru. Ketika pandai besi memanaskan logam maka warna logam
berubah secara terus menerus dari semula merah, kuning, hijau dan selanjutnya ke
biru-biruan. Ini akibat suhu benda yang semakin tinggi. Hukum pergeseran Wien
telah dipakai untuk memperkirakan suhu benda berdasarkan spectrum
elektromagnetik yang dipancarkan. Energi yang dipancarkan benda diukur pada
berbagai panjang gelombang. Kemudian intensitas tersebut diplot terhadap
panjang gelombang sehingga diperoleh selanjutnya diterapkan pada hukum
pegeseran Wien guna memprediksi suhu benda. Pada astronom memperkirakan
suhu bintang-bntang, berdasarkan spectrum energy yang dipancarkan oleh
bintang-bintang tersebut.

2.1.2

Persamaan Stefan-Boltzmann

16

Sebuah benda hitam memancarkan gelombang, elektromagnetik pada semua


jangkauan frekuansi dari nol sampai tak berhingga. Hanya intensitas gelombang
yang dipancarkan berbeda-beda. Ketika panjang gelombang menuju nol, intensitas
yang dipancarkan menuju nol. Juga ketika panjang gelombang menuju tak
berhingga, intensitas yang dipancarkan juga menuju tak berhingga. Intensitas
gelombang yang dipancarkan mencapai maksimum pada saat

=m

Energy

diperoleh

total

yang

dipancarkan

oleh

benda

hitam

.
dengan

mengintegralkan persamaan (1.20) dari panjang gelombang nol sampai tak


berhingga, yaitu
E= E ( ) d
0

8 hc
0

1
d
(1.29)
5 hc/ kT
e
1

Untuk menyelesaikan persamaan integral (1.29) misalkan

y=hc / kT . Dengan

pemisalan tersebut maka diperoleh ungkapan-ungkapan berikut ini :


1 kT
=
y
hc
1
kT
=
5
hc

( )y

hc 1
kT y

d=

hc 1
dy
kT y 2

17

Syarat batas yang berlaku bagi y. saat

=0

maka y=~ dan saat

maka

y=0. Dengan demikian, dalam variable y integral (1.29) menjadi


0

E=8 hc

8 hc

8 hc

kT
hc

( )

kT
hc

kT
hc

4 0

hc
kT

y5

e 1

y 5 dy
e y1

( )( )
( )

(hc/ kT y 2 ) dy

y 5 dy
e y1 (1.30)

Persamaan (1.30) merupakan kerapatan energy foton di dalam kotak. Hubungan


antara kerapatan energy yang diradiasi dengan energy foton dalam kotak adalah
Erad =cE/ 4

kT
2 h c
hc
2

( )

2 h c 2

k
hc

( )

dy
eyy1
0

y 3 dy 4
y T (1.31)
0 e 1

Persamaan (1.31) sangat mirip dengan persamaan Stefan-Boltzman. Jadi pada


persamaan (1.31) kita dapat menyamakan
k
=2 h c
hc
2

( )

y 3 dy
e y1 (1.32)
0

Dengan menggunakan instruksi matematika sederhana kita dapatkan


y 3 dy
e y 1 =6,49394
0

18

Selanjutnya

dengan
23

k =1,38 x 10

memasukkan
34

J /K , h=6,625 x 10

nilai

konstanta-konstanta
8

Js , dan c=3 10 m/ s

lain

kita dapatkan nilai

konstanta Stefan-boltzman.
=5,65 108 W /m 2 K 4

2.1.3

Cosmic Microwave Background (CMB)


Salah satu gejala penting sebagai hasil peristiwa Big bang adalah

keberadaan radiasi yang bersifat isotropic (sama ke segala arah) di alam semesta
dalam panjang gelombang mikro. Gejala ini selanjutnya dikenal dengan icosmic
microwave background (CMB). Radiasi ini benar-benar isotropic. Penyimpangan
dari sifat isotropic hanya sekitar seper seribu. Dua astronom muda, Arno Penzias
dan Robert Wilson yang pertama kali mengidentifikasi gejala ini tahun 1965
dengan menggunakan antene horn yang dikalibrasi dengan teliti. Dengan
anggapan bahwa alam semesta berupa benda hitam sempurna dan setelah
dilakukan pengukuran yang teliti intensitas radiasi gelombang mikro ini pada
berbagai panjang gelombang yang mungkin, selanjutnya hasil pengukuran di-fit
dengan persamaan radiasi benda hitam (1.4) disimpulkan bahwa suhu rata-rata
alam semesta sekarang adalah 2,725 K.

19

Gambar 1.5 CMB dengan persamaan radiasi benda hitam

Gambar 1.6 Variasi suhu alam semesta berdasarkan posisi


Ada sekitar variasi suhu pada arah yang berbeda seperti ditunjukkan dalam
gambar diatas. Bagian berwarna merah sedikit lebih panas dan bagian berarna biru
sedikit lebih dingin dengan penyimpangan 0,0002 derajat.

2.2 Kapasitas kalor Kristal


20

Dalam Kristal-kristal atom bervibrasi. Jika diselesaikan dengan mekanika


kuantum maka energy vibrasi atom-atom dalam Kristal terkuantisasi. Kuantisasi
getaran atom tersebut disebut fonon. Energy fonon dengan bilangan kuantum n
1
En=(n+ )
. Karena jumlah fonon tidak konstan maka fungsi
2

adalah

distribusi untuk fonon diperoleh dengan mengambil

=0 . Fungsi distribusi

tersebut persis sama dengan fungsi distribusi untuk foton.


Karena frekuensi fonon umumnya merupakan fungsi bilangan gelombang,
, maka secara umum energy toal yang dimiliki fonon dalam Kristal dapat

ditulis
U=

()
(1.33)
exp [ ()/kT ] 1

Jika fonon memiliki sejumlah polarisasi dan polarisasi kep memiliki frekuensi
p ( ) , maka energy total fonon setelah memperhitungkan polarisasi tersebut
adalah
U=
p

p ( )
(1.34)
exp [ p ()/kT ] 1

Penjumlahan terhadap
Tetapi jika

dilakukan engan asumsi bahwa

adalah integer.

adalah variable kontinu maka penjumahan terhadap

dapat

diganti dengan integral dengan melakukan transformasi berikut ini

g p ( ) d (1.35)

21

Tetapi karena
terhadap

merupakan fungsi

maka kita dapat mengubah integral

menjadi integral terhadap dengan melakukan transformasi

g p ( ) d g p ( ) d(1.36)

Akhirnya kita dapat menulis menulis ulang persamaan (1.34) menjadi


U= g p ()
p

d(1.37)
exp [ /k B T ] 1

Dari definisi energy dalam persamaan (1.37) maka kita dapat menentukan
kapasitas panas yang didefinisikan sebagai berikut
C v=

dU
dT

g p ()
d

dT p
exp [ /k B T ] 1

g p ( )
p

d (1.38)
dT exp [ /kT ] 1

Untuk menyederhanakan persamaan (1.38) mari kita lihat suku diferensial dalam
persamaan tersebut. Untuk mempermudah kita misalkan

y= /kT . Dengan

pemisalan tersebut maka


d
d dy d
=
=
dT dy dT k T 2 dy
d

d
1
d
1
=
=
y
2
y
dT exp [ / kT ] 1 dT e 1
k T dy e 1

} { }

{ }

22

e
= 2 y
2
2
y
k T ( e 1 )
k T ( e 1 ) 2

exp [ /kT ]

2
k T ( exp [ /kT ] 1 )2

Dengan demikian, kapasitas kalor dapat ditulis


C v = g p ( )
p

exp [ /kT ]

d
2
k T ( exp [ /kT ] 1 )2

exp [ /kT ]

g ()
2 d(1.39)
2 p
2
kT p
( exp [ /kT ] 1 )

2.2.1 Model Einstein


Untuk mencari kapasitas kalor Kristal, Einstein mengusulkan model
bahwa semua fonon berisolasi dengan frekuensi karakteristik yang sama,

0 ,

dengan asumsi ini maka dapat ditulis


g p ( )=N ( 0 ) (1.40)

Di mana

( 0 )

merupakanfungsi data dirac. Dengan model ini kita

dapatkan kapasitas kalor Kristal untuk satu macam polarisasi saja sebesar
exp [ /kT ]
2
C v= 2 g ( )
2 d
2
kT
( exp [ /kT ] 1 )

exp [ /kT ]
2
N ( 0 )
2 d
2
2
kT
( exp [ /kT ]1 )

23

2
exp [ /kT ]
N

2 (1.41)
2
2 0
k T ( exp [ /kT ]1 )

Untuk Kristal 3 dimensi, terdapat tiga arah polarisasi fonon yang mungkin (arah
sumbu x, y, dan z). dengan menganggap bahwa ke tiga polarisasi tersebut
memberikan sumbangan energy yang sama besar maka kapasitas kalor total
menjadi tiga kali dari yang tampak dalam persamaan (1.41), yaitu menjadi

C v=

3 N
k T2

[ ]
( [ ] )
exp

exp

kT

1
kT

02 ( 1.42 )

Tinjau kasus-kasus khusus, yaitu ketika T 0

maka exp [

0 /kT 1

dan T . dalam kondisi T

[ ]

0
sehingga exp [ 0 /kT 1 exp kT

akibatnya

C v=

3 N
k T2

3 N 0
kT

[ ]
( [ ])
exp

exp

0
kT

0
kT

0
kT

02

(1.43)

Perhatikan suku pembilang dan penyebut pada persamaan (1.43). jika T 0

maka suku penyebut

T2 0

dan suku pembilang

exp

[ ]

0
kT

sehingga

kita dapat mengaproksimasi

24

exp

[ ]

0
0
1+
kT
kT

Dengan aproksmasi ini maka persamaan (1.42) dapat ditulis menjadi

C v=

3 N
k T2

[ ]
( [ ] )
1+exp

1+

0
kT

0
1
kT

02

2
3 N 0
2

0
2
kT
kT

( )

3 Nk =3 ( n N A ) k
3 n ( N A k ) =3 nR(1.44)

Dengan

NA

bilangan Avogadro, n jumlah mol d an R=

NAk

konstanta gas

umum. Hasil ini persis sama dengan teori klasik dari dulong-petit bahwa kapasitas
kalor persatuan mol semua padatan adalah konstan, yaitu 3R.
Gambar 1.7 adalah perbandingan hasil pengamatan kapasitas kalor
intan (symbol) dan prediksi dengan model Einstein. Terdapat kesesuaian yang
baik antara prediksi model tersebut dengan pengamatan, khususnya nilai kapasitas
kalor yang menuju nol jika suhu menuju nol dan nilai kapasitas kalor menuju
konstanta dulong-petit pada suhu tinggi.

25

Gambar 1.7 Kapasitas panas intan yang diperoleh dari pengamatan (simbol)
dan prediksi menggunakan model kapasitas panas Einstein.
Model Einstein dapat menjelaskan dengan baik kebergantugan kapasitas panas
terhadap suhu. Sesuai dengan pengamatan experiment bahwa pada suhu menuju
nol kapasitas panas menuju nol dan pada suhu tinggi kapasitas panas menuju nilai
yang diramalkan Dulong-petit. Akan tetapi, masih ada sedikit penyimpangan
antara data eksperimen dengan ramalan Einstein. Pada suhu yang menuju nol,
hasil eksperimen memperlihatkan bahwa kapasitas panas berubah sebagai fungsi
kubik 9 pangkat tiga) dari suhu, bukan seperti pada persamaan (1.42). oleh karena
itu perlu penyempurnaan pada model Einstein untuk mendapatkan hasil yang
persis sama dengan eksperimen.

2.2.2 Model Debeye


Salah satu masalah yang muncul dalam model Einstein adalah asumsi
bahwa semua fonon bervibrasi dengan frekuensi yang sama. Tidak ada justifikasi
untuk asumsi ini. Asumsi ini digunakan semata-mata karena kemudahan
mendapatkan solusi. Oleh karena itu hasil yang lebih tepat diharapkan muncul jika
dianggap frekuensi fonon tidak seragam. Asumsi ini digunakan oleh Debeye
untuk membangun teori kapasitas panas yang lebih teliti. Namun, sebelum masuk

26

ke teori Debeye kita akan terlebih dahulu membahas kerapatan keadaan untuk kisi
g ( ) .

dalam usaha mencari ekspresi yang tepat untuk

Frekuensi getaran kisi dalam Kristal secara umum tidak konstan, tetapi
bergantung

pada

bilangan

gelombang.

Persamaan

yang

menyatakan

kebergantungan frekuensi dengan bilangan gelombang dinamakan persamaan


=() . Dari persamaan dispersi tersebut dapat diturunkan

dispersi,

persamaan kerapatan keadaan sebagai berikut


g ( )=

V
2
(1.45)
2 2 d/d

Kebergantungan

terhadap

kadang sangat kompleks. Sebagai contoh,

untuk Kristal satu dimensi, kita peroleh persamaan dispersi

1cos
2C
(
)
m

a 2 ,

dengan m massa atom, C konstanta pegas getaran kisi, dan a jarak antar atom
dalam kisi (periodisitas). Namuun, jika

sangat kecil, atau panjang

gelombang yang besat ( =2 / , jika dapatkan sebuah persamaan


aproksimasi
=v g (1.46)

Dengan

vg

disebut kecepatan grup. Dalam membangun model kapasitas panas,

Deybe mengambil asumsi sebagai berikut :


i.

Frekuensi getaran kisi memenuhi persamaan dispersi

=v g

27

ii.

Ada sebuah frekuensi maksimum,

yang boleh dimiliki fonon

dalam kristal sehingga tidak ada fonon yang dimiliki frekuensi di atas
m

Dari persamaan dispersi (1.46) kita dapatkan bahwa untuk

k=

vg

menjadi

dan

d
=v g
dk

sehingga kerapatan keaadaan pada persamaan (1.45)

g ( )=

V 2
2 vg 3

. Akhirnya jika gabung dengan asumsi kedua tentan

adanya frekuensi maksimum getaran fonon diperoleh ungkapan umum untuk


kerapatan keadaan sebagai berikut :

V
2
, m
g ( )= 2 v 3g
(1.47)
0 > m

Gambar 1.8 Kurva kerapatan keadaan sebagai fungsi pada model Einstein dan
Debeye

28

Perbedaan kurva kerapatan keadaan sebagai fungsi pada model Einstein


dan Deybe diperlihatkan pada gambar 1.8. Berapa nilai
Debye? Untuk menentukan

pada model

kita kembali pada defenisi bahwa

g ( )

adalah jumlah keadaan per satuan frekuensi. Karena frekuensi maksimum fonon
adalah

maka integral

g ( )

dari frekuensi 0 sampai

memberikan

jumlah total keadaan yang dimiliki fonon, dan itu sama dengan jumlah atom, N .
Jadi,
m

g() d=N
0

2
V

2 g 3 d=N
0
g

V
2 d=N
3
2 v g 0
3
V m
=N
2 v 3g 3

Yang memberikan ungkapan untuk frekuensi maksimum


3m=

6 v 3g N
(1.48 )
V

Untuk kemudahan mari kita didefenisikan suhu Debye,

, berdasarkan

hubungan ini
K B D= m (1. 49)
Dengan definisi di atas didapatkan

29

D =

v g 3 6 2 N
(1.50)
KB
V

Kita asumsikan bahwa kapasitar kalor kisi yang dihasilkan oleh tiap polarisasi
fonon sama besarnya. Karena terdapat tiga polarisasi getaran yang mungkinan
p dalam persamaan (1.39) mengahasilakan

maka penjumlahan terhadap indeks

tiga kali nilai per polarisasi. Akibatnya, tanda sumasi dapat diganti dengan tiga
dan kita peroleh kapasitas panas yang disumbangkan oleh semua polarisasi
menjadi,

e kT 1

2 d

/kT
e
1
m

3 2
e /kT
2 g ( ) 2
kT 0

kT

e
g ( )

2
C v =3 2
kT 0
e
e

/ kT

( /kT 1)2 2 d+

/ kT

e
( 0)
2
kT
m

2 m

/kT

3
V
e
2
3

kT 0 2 v g

( )

30

e
/kT

e
4 d (1.51)
( / kT 1)2
m

3 2 V

2 v 3g kT 2 0
Untuk menyelesaikan integral pada persamaan (1.51) kita misalkan
x= / kT . Dengan permisalan tersebut maka

kT
x

d=

kT
dx

Selanjutnya, syarat batas untuk x ditentukan sebagai berikut. Jika

x=0

= m

dan jika

x=

maka

=0

maka

m k D
=
=D /T . Dengan demikian,
kT
kT

bentuk integral untuk kapasitas panas menjadi


3 2 V
C v=
2 v 3g kT 2

3 2 V

3
2
2 v g kT

D /T

D /T

ex

kT 4 kT
x
dx
2

( e x 1 )

ex x4

( e x 1 )

Berdasarkan definisi

( )

dx (1.52)

pada persamaan (1.50) maka dapat ditulis

atau

Vk T
3
=3 Nk ( T / D )
3 3
. Subtitusikan hubungan
2 vg

D 3=6 2 3 v 3g /k 3 V

ini ke dalam persamaan (1.52) maka diperoleh ungkapan kapasitas kalor dalam
bentuk yang lebih sederhana sebagai berikut

31

T
C v =9 Nk
D

3 D / T

ex x4

( ) (e 1) dx (1.53)
0

Selanjutnya integral tidak bergantung lagi pada T dan hasil integral adalah sebuah
bilangan. Jika menggunakan program Mathematic, maka diperoleh hasil integral
pada persamaan (1.53) adalah
ex x 4

2
dx= (1.54)
2
15
( e x 1 )

Dengan demikian, untuk T 0 diperoleh


9 2 Nk T
Cv
15
D

( )

A T (1.55)
Dengan
2

9 Nk
(1.56)
3
15 D

Persamaan (1.56) sangat sesuai dengan hasil eksperimen. Sebaliknya, untuk


T

maka penyebut pada persamaan (1.52) dapat diaproksmasi

x
dan pada pembilang dapat diaproksimasi e 1

T
C v =9 Nk
D

3 D / T

( )

e x 1 x

sehingga

x4
dx
( x )2

32

T
C v =9 Nk
D

3 D / T

( )

x 2 dx=9 Nk

1 D
3 T

( ) ( )
T
D

3 Nk (1.53)
Yang juga persis sama dengan ramalan Dulong-Petit.

Gambar 1.9 Kapasitas kalor argon padat diukur pada suhu jauh di bawah suhu
Debeye. Garis adalah hasil perhitungan menggunakan teori Debeye
(kittel, hal 125)
Gambar diatas adalah hasil pengukuran kapasitas panas argon padat (titik-titik)
beserta kurva yang diperoleh menggunakan model Deybe. Tampakbahwa ramalan
Deybe tentang kebergantungan kapasitas kalor pada pangkat tiga suhu sangat
sesuai dengan hasil pengamatan. Teori Deybe dan Einstein hanya berbeda pada
suhu rendah. Pada suhu agak tinggi, kedua teori tersebut memprediksi hasil yang
sangat mirip dan pada suhu yang sangat tinggi ke dua teori memberikan prediksi
yang sama persis sama dengan hukum Dulong-Petit.
2.3 Kondensasi Bose-Einstein

33

Gambar 1.10 Salah satu hasil pengukuran yang membuktikan fenomena


kondensasi Bose-Einstein.
Kita kembali melihat bentuk fungsi distribusi Bose-Einstein. Jumlah sistem yang
menempati keadaan dengan energi
N ( En ,T ) =

En

pada suhu T adalah

1
E
exp n
1
kT

Tampak jelas dari ungkapan di atas bahwa pada suhu yang sangat rendah sistemsistem akan terkonsentrasi di keadaan-keadaan dengan energi sangat rendah. Jika
T 0

maka jumlah sistem yang menempati tingkat energi paling rendah,

tingkat energi kedua, ketiga, dan seterusnya makin dominan. Jumlah sistem yang
menempati keadaan-keadaan dengan nilai energi tinggi makin dapat diabaikan.
Hampir semua sistem akan berada pada tingkat energi terendah jika suhu
didinginkan hingga dalam orde

1014 K . Gambar diatas memperlihatkan

evolusi populasi boson pada tingkat energi terendah (bagian tengah kurva). Pada
suhu T<<Tc hampir semua boson berada pada tingkat energi paling rendah.

34

Namun, ada fenomena yang menarik di sini. Ternyata untuk boson,


keadaan dengan energi terendah dapat ditempati oleh sistem dalam jumlah yang
14

10

sangat besar pada suhu yang jauh lebih tinggi dari


boson tidak perlu menunggu suhu serendah

14

10

K.

Dengan kata lain,

untuk mendapatkan sistem

dalam jumlah yang sangat besar pada tingkat energi terendah. Pada beberapa
material, seperti helium, jumlah sistem yang sangat besar pada tingkat energi
terendah dapat diamati pada suhu setinggi 3K. Jadi terjadi semacam kondensasi
boson pada suhu yang jauh lebih tinggi dari prediksi klasik. Fenomena ini dikenal
dengan kondensai Bose-Einstein.

2.3.1 Kebergantungan Potensial Kimia Pada Suhu


Mari kita tengok kembali fungsi distribusi Bose-Einstein. Untuk
mudahnya kita gunakan skala energi sehingga tingkat terendah memiliki energi
E0=0.

Populasi keadaan dengan tingkat energi sembarang diberikan oleh

persamaan (1.53). Jumlah populasi yang menempati tingkat energi terendah (


E0=0

N ( 0,T )=

adalah
1
(1.54)

exp
1
kT

( )

Pada suhu T 0

hampir semua sistem menempati keadaan dengan energi

terendah. Dengan demikian, jumlah populasi pada tingkat ini memiliki orde kirakira sama dengan jumlah total sistem, atau

35


kT
1
(1.55)
exp()1
T 0
N lim

N ( 0,T )=lim

T 0

Karena nilai N sangat besar (dalam orde

kT
pada 1/[ ()1
exp

1023

maka ketika T 0 penyebut

kT
harus menuju nol. Jika tidak maka 1/[ ()1
exp

kT
menghasilkan nilai N yang snagat besar. Nilai [ ()1
exp

jika

kT
()
exp

tidak akan

akan menuju nol hanya

menuju satu. Dari sifat fungsi eksponensial bahwa

mendekati 1 jika x 0 . Jadi disimpulan bahwa pada T 0

exp[ x ]

akan berlaku

0
maka dapat dilakukan aproksimasi
kT

1 (1.56)
(
)
kT
kT
exp
Jadi dapat diaproksimasikan sebagai berikut ini

36


kT
1
1
kT
=

1
1
kT
N lim

exp()1=

T0

Atau
=

kT
(1.57)
N

Hubungan pada persamaan (1.57) menyatakan bahwa pada suhu T menuju 0 maka

berharga negatif dan merupakan fungsi linear dari suhu. Sebagai ilustrasi,

pada T=1 K dan N=

1022

maka

=1,4 1038 erg . Ini adalah nilai yang

sangat kecil. Bahkan nilai ini jauh lebih kecil daipada jarak antar dua tingkat
energi terdekat dalam assembli atom helium di alam kubus dengan sisi 1 cm.
Kebergantungan

pada suhu itulah yang menyebabkan peristiwa kondensasi

Bose-Einstein.
Agar lebih memahami fenomena kondensasi Bose-Einstein, perhatikan
sistem-sistem yang berada dalam kubus dengan sisi L. Tingkat-tingkat energi yang
dimiliki assembli memenuhi
2 (
2
E (nx n y nz)=
/ L ) ( n2x +n2y +n 2z ) (1.58)
2M

Tingkat

E ( 111) =

energi

terendah

bersesuaian

dengan

n x =n y =n z=1

yaitu

2 2 (
1+ 1+ 1 )
2M L

()

37

Salah satu tingkat energi berikutnya bersesuaian dengan

n x =n y =1dan n z=2

yaitu,
2

E ( 112 )=

(
1+1+ 4 )
2M L

()

Selisih tingkat energi terendah dan tingkat energi berikutnya adalah


E=E ( 111) E ( 112 )=3

2
2M L

()

Jika assembli tersebut adalah atom helium

( M =6,6 1024 g)

dalam kubus

30
dengan sisi 1 cm makan E 2,48 10 erg .

Apabila kita prediksi populasi sistem pada tingkat energi eksitasi pertama
dan tingkat energi terendah dengan menggunakan statistik Maxwell-Boltzman
adalah
N1
E
=exp (
)
N0
kT
Pada suhu T = 1 mK maka
N1
2,48 1030 erg
=exp
1
N0
k 103 K

Hasil diatas berarti bahwa pada suhu 1 mk, tingkat energi terendah dan eksitansi
pertama memiliki populasi yang hampir sama. Namun, dengan statistik BoseEinstein didapatkan hasil yang sangat berbeda. Dnegan asumsi N=

20

10

dan

suhu T= 1 mK maka kita peroleh


=

kT k 103
41
=
=1,4 10 erg
N
10 22

38

Jumlah populasi yang menempati tingkat energi eksitasi pertama (tepat di atas
tingkat energi paling rendah) adalah
N ( E1 ,T )=

Karena

1
E
exp 1
1
kT

E0=0

maka

E1 E1= E

N ( E1 ,T )=

. Lebih lanjut, mengingat

|| E maka

. Dengan demikian

1
E
exp
1
kT

1
exp

E1= E

30

2,48 10
k 103

=5 10

10

Dengan demikian, fraksi sistem pada tingkat energi eksitasi pertama adalah
N ( E1) 5 1010
=
=5 1012
22
N
10
Tampak bahwa fraksi sistem pada tingkat energi eksitasi pertama amat kecil. Ini
berarti bahwa sebagian besar sistem berada pada tingkat energi terendah.

2.3.2 Suhu Kondensasi Einstein


Kerapatan keadaan kuantum untuk sistem dengan spin nol dapat ditulis dengan
D ( E )=

V 2M
4 2 2

3 /2

( )

E1/ 2 (1.59)

39

Pada suhu T menuju 0 sebagian sistem menempati tingkat energi terendah dengan
jumlah yang sangat signifikan. Jumlah total sistem dalam assembli dapat ditulis
N ( En )= N 0 ( T )+ N ( En )
n 0

N =
D ( E ) f ( E ,T ) dE= N o ( T ) + N e ( T )( 1.60 )
N o ( T ) +
0

No (T )

Dengan

adalah jumlah sistem pada tingkat energi terendah dan

N e ( T )= D ( E ) f ( E , T ) dE

dan jumlah total sistem yang menempati tingkat-

tingkat energi lainnya.


Dengan mengambil skala energi

E0=0

maka jumlah sistem pada tingkat

energi terendah dapat ditulis


N 0 ( T )=

exp
1
kT

( )

Jumlah sistem yang menempati semua tingkat energi lainnya adalah


N e ( T )=

V 2M
2
2
4

V 2M
4 2 2

3 /2

( )

3/ 2

( )

1/ 2

E
dE
E
exp
1
kT
E1 /2

E
exp(
) exp 1
kT
kT

dE(1.61)

Misalkan E/kT=x. Dengan demikian

40

( kTE )= exp ( x ) , dan dE=( kT ) dx .


E= kT x , exp
Selanjutnya integralnya dapat ditulis

E1 /2
3
x dx=1,03 2 kT 3 /2
dE= kT
E
0 exp ( x )1
exp
1
kT

Akhirnya didapatkan
N e ( T )=

V 2M
4 2 2

3 /2

( )

1,03 2 kT 3 /2

2,612n Q V

(1.62)
2 3/ 2

Dengan

MkT / 2
nQ =

dinamakan konsentrasi kuantum.

Kita definisikan suku kondensasi Bose-Einstein,

T E,

sebagai suhu ketika

jumlah sistem pada keadaan terkesitasi persis sama dengan jumlah total sistem.
Jadi pada T=

T E,

terpenuhi

N e T E ,=N

. Dengan menggunakan persamaan

(1.62) didapatkan bahwa pada suhu kondensasi Bose-Einstein terpenuhi


N=

V 2M
4 2 2

3 /2

( )

1,03 2 kT 3 /2

Yang memberikan
T E=

2 2
N
Mk 2,612V

2/ 3

(1.63)

41

Gambar 1.11 Fraksi superfluida (sistem yang menempati keadaan dasar) dan
fluida normal (sistem yang menempati keadaan eksitasi) dalam
assembli boson sebagai fungsi suhu ketika suhu berada di bawah
suhu kondensasi Bose-Einstein.
Pada sembarang suhu yang mendekati nol derajat, fraksi jumlah sistem pada
keadaan tereksitasi adalah
N e (T )
T
=
N
TE

3 /2

( )

(1.64)

Berarti pula bahwa fraksi jumlah sistem pada keadaan paling rendah adalah
N 0(T )
N (T )
T
=1 e =1
N
N
TE

3
2

( ) (1.65)

Gambar 1.11 adalah fraksi boson yang mempunyai keadaan energi


terendah

N0

dan boson yang menempati keadaan terkesitasi

Ne

sebagai

fungsi suhu. Boson yang terkodensasi membentuk fase yang dinamakan


superfluida dan boson yang menempati keadaan tereksitasi dinamakan fluida
normal. Superfluida hanya dijumpai ketika suhu T

lebih rendah dari

TE

42

CONTOH SOAL DAN PENYELESAIAN

1. Perlihatkan menggunakan definisi entropi bahwa

1
kT

Penyelesaian :
Entropi, secara mikroskopik didefinisikan sebagai
S=k ln

Variasi kecil, menggunakan variasi

43

gs +n s
ns
ns
s=1
S=k ln

= k ln

Karena itu, derivative terhadap energi dalam hubungan


M

ns { ln ( ns + g s) lnn s + + s }=0
s=1

Memberikan
M
g + n n s
S
=k ln s s
u
ns
u
s=1

k ( + s )
s=1

ns
u

M
ns
ns
k
+k s
u
s=1 u
s=1

Dengan

menggunakan

batasan

n1 +n2 ++ ns +=N

dan

n1 1 +n2 2 ++ ns s+ =E

Maka
M

us = uN =0
s=1

Dan

44

s
s=1

ns
=
u u

( )
s=1

ns s =

u
=1
u

Sedangkan
dU =TdS pdV

Yang berarti pada volume tetap


S 1
=
u T
Dengan demikian
M

n
n
S 1
= =k s +k s s
u T
u
s=1 u
s =1
1
=0+ k
T
Atau
=

1
kT

Daftar Pustaka
Abdullah, Mikrajuddin. 2009. Pengantar Fisika Statistik. Bandung. ITB.

45

Cahn, Sidney B., Mahan, Gerald D., Nadgorny Boris E. A Guide to Physics
Problem Part 2 Thermodynamics, Statistical Physics, and Quantum
Mechanics. New York. Kluwer Academic Publishers.
Purwanto, Agus. 2007. Fisika Statistik. Yogyajakarta. Gava Media.
http://schools-wikipedia.org/wp/t/Thermodynamic_temperature.htm
diakses tanggal 15 april 2012 ( gambar 1.2 )
http://www.howtopowertheworld.com/what-is-solar-energy.shtml
diakses tanggal 15 april 2012 ( gambar 1.3)
http://launch.yousaytoo.com/?lrRef=Ye6Ax
diakses tanggal 15 april 2012 ( gambar 1.4 )
http://koestoer.wordpress.com/2011/03/22/kronologi-alam-semesta/

diakses

tanggal 15 april 2012 ( gambar 1.5 )


http://www.faktailmiah.com/2010/08/28/materi-gelap-dan-terang.html

diakses

tanggal 15 april 2012 ( gambar 1.6 )


http://cua.mit.edu/ketterle_group/popular_papers/ultralow_temperatures.htm
diakses tanggal 15 april 2012 ( gambar 1.10 )

FORMAT PENILAIAN KEGIATAN TATAP MUKA MATA KULIAH FISIKA STATISTIK

46

Penilaian Kelompok/Individu :
Judul materi ajar

No
1

Pembuatan SAP

Skor
(70,80,90,100)

Identitas

Penyampaian
materi
Narasi/kalimat

Skor
(70,80,90,100)

Skor

Psikomotor

Ratarata

Tujuan mata kuliah


Standar kompetensi

Urutan materi

Kompetensi dasar
Indikator

Kemampuan

Materi

menjelaskan

pembelajaran
Kegiatan

Kemampuan

Pembelajaran :

tanya jawab

Pembukaan
Kegiatan Inti
Penutup

Contoh soal

Alat/media/sumber
Media Power

Penilaian

point
2

Penilaian Individu

Kognitif

Afektif

Nama :
1.
2.

Hari/tanggal :
Dosen Penilai :

47