Anda di halaman 1dari 4

EFEKTIFITAS DISTRAKSI VISUAL DAN PERNAFASAN IRAMA LAMBAT

DALAM MENURUNKAN NYERI AKIBAT INJEKSI INTRA KUTAN

Nikmatur Rohmah*

ABSTRACT

The objective of this study is to examine the effectiveness of visual distraction usage and slow rhytm
respiratory on pain relief which is caused by intra cutan injection. A quasy experimental design was
used in this study. Sample of this study were 78 students of Nursing Academy Jember Muhammadiyah
University at the second semester, recruited by using total sampling. Data were collected by using
observation and questionnaire, then analyzed with Independent t-Test with significance level p<0.05.
The result showed that visual distraction and slow rhytm respiratory technique had significantly effect
on the effort of decreasing pain (p= 0.000), and there was a correlation between visual distraction
and slow rhytm respiratory technique had significantly effect with the effort of decreasing pain
(p=0.019).
Conclusion: slow rhytm respiratory technique was more effective than visual distraction technique
to relief pain.

Keywords: visual distraction, slow rhythm respiratory, pain, intra cutan injection

PENDAHULUAN

Nyeri dapat timbul karena berbagai sebab, Respons yang muncul pada mahasiswa yang
antara lain: kimiawi, mekanik, listrik, termal menjadi model antara lain: merintih, menangis,
dan psikologis. Mekanisme nyeri dapat berupa mengeluh kesakitan dan ingin menjerit.
terputusnya jaringan, tersayat, terdesak atau
rusaknya ujung syaraf (Priharjo, 1996). Salah Schecter (1987) dalam Carpenito (2000)
satu tindakan yang dapat menimbulkan nyeri menyatakan bahwa tiap individu mengalami
adalah prosedur injeksi. Ada dua pemikiran dan mengekspresikan nyeri dengan caranya
yang mendasari timbulnya nyeri akibat injeksi: sendiri. Seseorang yang mengalami nyeri
1) tusukan jarum pada kulit menyebabkan merasa seolah tubuh dan kehidupan mereka
terputusnya jaringan, 2) masuknya massa obat diluar kontrol. Latihan yang dapat digunakan
ke dalam jaringan tubuh akan merangsang untuk meningkatkan kontrol nyeri menurut
ujung saraf nyeri. Mc.Guire dan Schecter (1993) dalam Carpenito
(2000) adalah intervensi non farmakologis,
Pengalaman di laboratorium ilmu keperawatan yaitu melakukan aktifitas yang dapat
dasar Akademi Keperawatan Universitas menurunkan stres dan ansietas. Intervensi non
Muhammadiyah Jember, pada pelaksanaan farmakologis dapat berupa stimulasi kognitif,
praktek prosedur injeksi, mahasiswa sering perilaku dan counter iritan kutan.
diliputi perasaan takut, khawatir dan ragu-ragu
sebelum mereka latihan injeksi. Bagi Intervensi kognitif adalah usaha memodifikasi
mahasiswa yang menjadi model selalu proses berfikir untuk menurunkan nyeri.
membayangkan rasa sakit bila diinjeksi. Aktfitas kognitif dapat berupa mendistraksi
persepsi nyeri (misalnya berhitung, bermain
game, bercakap-cakap, dan latihan nafas),
___________ imajinasi. Tindakan stimulasi kognitif yang
* Staf Pengajar AKPER UNMUH Jember sederhana namun mempunyai kompleksitas
yang tinggi adalah distraksi dan tehnik

Jurnal Ners Vol. 2 No. 1 Mei September 2007


pernafasan irama lambat. Berdasarkan HASIL PENELITIAN
pendekatan konsep Orem yang menekankan
pada mengoptimalkan peran serta dan Tabel 1: Perbandingan skala nyeri saat injeksi
kemandirian pasien, maka distraksi dan teknik intra kutan dengan penggunaan
pernafasan ini sangat sesuai. Distraksi Visual dan Pernafasan
Irama Lambat.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Skala Nyeri


Distraksi Pernafasan
Visual Irama Lambat
Penelitian ini menggunakan quasi 0 2 (4.65%) 4 (11.43%)
eksperimental design. Populasi dalam 1 30 (69.77%) 27 (77.14%)
penelitian ini adalah mahasiswa semester II 2 9 (20.93%) 4 (11.43%)
Akademi Keperawatan Universitas 3 2 (4.65%) 0 (0%)
Muhammadiyah Jember. Besar sampel adalah 4 0 (0%) 0 (0%)
5 0 (0%) 0 (0%)
78 responden diambil dengan menggunakan
Total 48 (100%) 35 (100 %)
tehnik total sampling.
Mean 1.12 0.88
Independent
Variabel independen dalam penelitian ini p = 0.000
t-Test
adalah distraksi visual dan tehnik pernafasan
irama lambat, sedangkan variabel Pada tabel 1 di atas terlihat hasil yang
dependennya adalah penurunan nyeri pada signifikan, yaitu p=0.000 yang artinya distraksi
injeksi intra kutan. Instrumen yang digunakan visual dan pernafasan irama lambat efektif
dalam penelitian ini adalah observasi dengan dalam menurunkan nyeri akibat injeksi intra
berpedoman pada skala intensitas nyeri (skala kutan.
0-5). Kuesioner dipakai sebagai data
pendukung yang memvalidasi hasil
pengamatan. Pemilihan tehnik penurun nyeri PEMBAHASAN
tiap responden diberikan kebebasan untuk
memilih. Untuk distraksi visual disediakan dua Ditraksi visual dan pernafasan irama lambat
alat bantu yaitu game dan gambar. Pernafasan secara efektif dapat menurunkan nyeri.
dilakukan dengan memejamkan mata dan Penggunaan distraksi visual yang tepat dan
relaksasi, sebelum dan sesudah injeksi pernafasan irama lambat yang benar dapat
dilakukan. meningkatkan toleransi terhadap nyeri dan
menurunkan persepsi nyeri. Nyeri yang timbul
Analisis data dengan menggunakan uji statistik akibat tusukan jarum injeksi merupakan impuls
Independent t-Test dengan tingkat kemaknaan saraf yang akan menyebar disepanjang serabut
p0,05. saraf perifer aferen. Serabut saraf yang akan
mengkonduksi stimulus ini akan dihantarkan
oleh serabut A-Delta (bermielin dan cepat)
yang menghantarkan sensasi nyeri tajam,
terlokalisir. Serabut A-Delta mentransmisikan
impuls dari serabut saraf perifer, sehingga
terjadi pelepasan mediator kimia yang
mengaktifkan respons nyeri.

Transmisi stimulus nyeri akan berlanjut di


sepanjang serabut saraf aferen sampai
transmisi tersebut berakhir di bagian kornu
dorsalis, kemudian neurotransmitter seperti
subtansi P dilepaskan sehingga menyebabkan
suatu transmisi sinapsis dari saraf perifer ke

Jurnal Ners Vol. 2 No. 1 Mei September 2007


saraf traktus spinotalamus (Paice, 1991 dalam disebabkan oleh karena tehnik pernafasan lebih
Potter & Perry, 2006). Hal ini memungkinkan mudah dilakukan dan dapat dilakukan dalam
impuls nyeri ditransmisikan lebih jauh ke segala situasi, serta tidak memerlukan alat
dalam sistem saraf pusat, sistim limbik, bantu. Teknik pernafasan yang dilakukan
thalamus, kortek sensori dan kortek asosiasi. dengan benar mempunyai efek pengalih
kemudian melalui serabut sistem nyeri perhatian karena mempunyai unsur konsentrasi
desenden persepsi akan dikirim sehingga pada pernafasan dan efek relaksasi. Pada
menimbulkan respons nyeri yang sangat distraksi visual seseorang diharapkan dapat
individual. memusatkan perhatiannya pada suatu obyek
melalui indra pengelihatan. Hal ini akan sulit
Tehnik distraksi merupakan usaha untuk dilakukan pada orang yang tidak mudah
menurunkan nyeri dengan upaya melepaskan berkonsentrasi. Distraksi visual juga
endorfin. Pada saat individu melakukan memerlukan alat bantu tertentu, dimana tidak
distraksi dan stimulus nyeri sudah mencapai semua alat dapat dengan mudah digunakan
otak, maka pusat kortek di otak akan oleh semua orang.
memodifikasi persepsi nyeri, kemudian alur
saraf desenden pnghantar persepsi nyeri akan
melepaskan opiat endogen (endorfin) yang SIMPULAN DAN SARAN
akan menurunkan nyeri. Neuromodulator ini
bekerja dengan cara memodifikasi aktivitas Simpulan
neuron dan menyesuaikan atau memvariasikan 1. Distraksi visual dan pernafasan irama
transmisi stimulus nyeri. lambat secara efektif dapat menurunkan
nyeri akibat injeksi intra kutan.
Dalam teori gate control disebutkan bahwa 2. Pernafasan irama lambat secara signifikan
distraksi dapat mengaktivasi serabut kecil yang lebih efektif dibandingkan dengan distraksi
dapat meningkatkan subtansia gelatinosa di visual dalam menurunkan nyeri akibat
dalam medula spinalis. Dengan adanya injeksi intra kutan.
subtansia gelatinosa ini maka produksi dari T-
cell akan dihambat. T-cell ini berfungsi Saran
sebagai serabut penghantar nyeri, jika T-cell 1. Setiap individu yang akan diinjeksi
dihambat produksinya maka hantaran nyeri hendaknya dapat menggunakan salah satu
akan dihambat pula. Dalam teori ini disebutkan metode penurun nyeri non farmakologis
sebagai mekanisme penutupan pintu gerbang yaitu pernafasan irama lambat atau
(Guyton, 1990). distraksi visual.
2. Pelaksanaan pengalaman belajar praktika
Menurut Perry & Potter (2006), teknik bagi mahasiswa keperawatan khususnya
pernafasan irama lambat dapat menurunkan praktik prosedur injeksi hendaknya dapat
nyeri dengan mekanisme ganda. Pertama dilaksanakan secara terpadu dengan
pelaksanaan tehnik pernafasan ini mengandung praktek prosedur penurunan nyeri non
unsur distraksi (pengalihan perhatian nyeri farmakologis, sehingga kompetensi belajar
pada konsentrasi bernafas) sehingga dapat dicapai dengan lebih baik.
mekanismenya berlangsung sebagaimana 3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
mekanisme distraksi. Kedua, dalam teknik tentang pengalaman belajar praktika
pernafasan ini juga mengandung unsur secara terpadu dengan topik-topik yang
relaksasi dan peningkatan masukan oksigen. lain, misalnya praktek komunikasi
Ketegangan akan meningkatkan persepsi nyeri. terapeutik dengan praktek pemenuhan
Keadekuatan masukan oksigen dan relaksasi kebutuhan nutrisi.
akan menurunkan persepsi nyeri.

Pernafasan irama lambat lebih efektif


dibandingkan dengan distraksi visual. Hal ini

Jurnal Ners Vol. 2 No. 1 Mei September 2007


KEPUSTAKAAN Keperawatan Edisi I, Jakarta: Salemba
Medika.
Burn, N. & Groove, S.K., (2000), Dasar-Dasar Peter & Perry, (2006), Fundamental
Riset Keperawatan, Jakarta: EGC. Keperawatan Vol. 2 Edisi 4, Jakarta:
Carpenito, L.J., (2000), Diagnosa EGC.
Keperawatan Aplikasi pada Praktek Priharjo. R., (1996), Perawatan Nyeri: Asuhan
Klinik, Jakarta: EGC. Keperawatan dalam memenuhi
Guyton, (1990), Fisiologi Manusia dan Kebutuhan Aktifitas Istirahat Pasien,
Mekanisme Penyakit, Jakarta: EGC. Jakarta: EGC.
Junaidi, P., (1995), Pengantar Analisa Data, Wolf, et.all., (1984), Dasar-dasar Ilmu
Jakarta: Rineka Cipta. Keperawatan, Jakarta: PT Gunung
Nursalam, (2003), Konsep dan Penerapan Agung.
Metodologi Penelitian Ilmu

Jurnal Ners Vol. 2 No. 1 Mei September 2007