Anda di halaman 1dari 10

PengolahanAirPayauMenjadiAirBersih..(EtikasariYusuf,TuhuAgungR.danRudiL.

) 6

PENGOLAHAN AIR PAYAU MENJADI AIR BERSIH


DENGAN MENGGUNAKAN MEMBRAN
REVERSE OSMOSIS

Etikasari Yusuf Tuhu Agung Rachmanto Rudi Laksmono


Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur
Jl. Raya Rungkut Madya Gunung Anyar Surabaya 60294
Telp. (031)8430620. email: tuhuagung@yahoo.com

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengolah air payau menjadi air bersih dengan menggunakan
membran reverse osmosis jenis hollow fiber dan mengetahui kemampuan membran reverse osmosis jenis
hollow fiber dalam mengefisiensikan penyisihan kadar salinitas (Cl-) dan TDS (Total Dissolved Solid)
dalam air payau dengan menggunakan tekanan rendah. Contohnya air sumur payau pada Perumahan
Siwalan Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan membran reverse osmosis (RO) yang terbuat dari
polysulfon (PSF) dengan jenis hollow fiber dan berukuran pori 0,01 m. Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah laju aliran (Q) 300 500 ml/menit dan tekanan operasi (P) pada 1,5 3,5 bar.
Hasil yang diperoleh dari penelitian menunjukkan bahwa membran RO mampu memberikan %
penyisihan pada debit aliran 500 ml/menit dengan tekanan operasi 3,5 bar yang menghasilkan
kemampuan penyisihan Cl- sebesar 57,89 % dengan penurunan kadar awal Cl- dari 990 mg/l menjadi
416,89 mg/l dan kemampuan penyisihan TDS sebesar 58,59 % dengan penurunan kadar awal TDS dari
2970 mg/l menjadi 1230 mg/, air payau tersebut mempunyai kandungan garam tinggi dan belum
memenuhi baku mutu untuk air bersih.

Kata kunci: Air payau, hollow fiber, membran, reverse osmosis.

Abstract

This research aim to process brackish water become clean water using by reverse osmosis membrane
with hollow fiber type and know ability of reverse osmosis membrane with hollow fiber type in efficiency
exclusion of rate salinity (Cl-) and TDS (Total Dissolved Solid) in brackish water using by low pressure.
The example is brackish water well at Perumahan Siwalan Sidoarjo. This research using by reverse
osmosis membrane (RO) which made from polysulphone (PSF) with hollow fiber type and the pore size
0,01 m. Variable which used in this research is stream accelerate (Q) 300 500 ml/min and operating
pressure (P) 1,5 3,5 bar. The result show from this research is, stream accelerate 500 ml/min with
operating pressure 3,5 bar yielding exclusion ability Cl- equal to 57,59 % with degradation of Cl- rate
early from 990 mg/l become 416,89 mg/l and exclusion ability TDS equal to 58,59 % with degradation of
TDS rate early from 2970 mg/l become 1230 mg/l, brckish water having high sal content anad not yet
fulfilled is quality standard for clean water.

Keywords : brackish water, hollow fiber, membrane, reverse osmosis.


7 JurnalIlmiahTeknikLingkunganVol.1No.1

PENDAHULUAN pendangkalan di sekitar sungai sehingga air asin


Salah satu permasalahan pada air payau ini masuk ke dalam air tanah dangkal dan
yang sering terjadi adalah salinitas dan TDS menjadi payau.
(Total Dissolved Solid). Salinitas adalah jumlah Dari hasil pengamatan sebelumnya, banyak
garam garaman dalam gram pada setiap sumursumur yang masih banyak mengandung
kilogram air. Salah satu garam garaman yang ionion besi (Fe), natrium (Na), zink (Zn),
terdapat dalam air adalah klorida (Cl-), natrium sulfat (SO 4 ), dan chlorida (Cl-) (Novitasari,
(Na), sulfat (SO 4 ), magnesium (Mg), dan 2006). Terutama apabila sumursumur tersebut
kalsium (Ca) (Sutrisno, 2004). Sedangkan TDS letaknya berada di daerah pesisir pantai, air laut
(Total Dissolved Solid) adalah jumlah padatan akan merembes masuk kedalam poripori tanah
terlarut yang terdapat dalam air. Padatan terlarut (peristiwa kapilaritas) yang menyebabkan
diakibatkan oleh bahan pelarut dari air yang sumur di daerah pemukiman sekitar pesisir
padat, cairan, dan gas. Contohnya air sumur pantai akan menjadi payau (Atlas & Bartha,
payau pada Perumahan Siwalan Sidoarjo. Kadar 1992).
salinitas (Cl-) dan TDS pada Perumahan Air tanah dangkal bisa dijadikan alternatif
Siwalan Sidoarjo tersebut masih belum sumber air baku. Tetapi bila ditinjau lebih lanjut
memenuhi baku mutu sehingga perlu diolah dari segi kualitas air tanah dangkal agak baik,
karena dapat mengganggu kesehatan apabila dari segi kuantitas kurang cukup dan tergantung
terlalu sering dikonsumsi untuk kebutuhan pada musim (Novitasari, 2006). Pada umumnya
seharihari. Oleh karena itu diperlukan air tanah mempunyai sifat-sifat tertentu sebagai
pengolahan agar memenuhi standar lingkungan sumber air bersih. Adapun sifat-sifat dari air
yaitu dengan menggunakan membrane reverse tanah adalah sebagai berikut :
osmosis. 1) pH air antara 6 8,5
Pengolahan dengan menggunakan 2) CO 2 agresif tinggi
membran reverse osmosis merupakan 3) Mudah melarutkan garam-garam
pengolahan proses fisika yang dilakukan dengan 4) Adanya bakteri E. Coli yang dapat
memberikan dorongan atau tekanan, menahan menyebabkan sakit perut
semua ion, melepaskan air murni dan 5) Kadar Fe3+ tinggi yang menimbulkan
membuang air kotor. Membran Reverse bercak pada pakaian
Osmosis memiliki ukuran pori persepuluh ribu 6) Kadar NO 2 yang tinggi bersifat racun.
mikron dan dapat menghilangkan zat organik,
bakteri, pirogen, juga koloid yang tertahan oleh 1. Pengertian Membran
struktur pori yang berfungsi sebagai penyaring Membran merupakan media pemisah yang
(Metcalf and Eddy, 2004). bersifat selektif permeabel dengan menahan
komponen tertentu dan melewatkan komponen
TINJAUAN PUSTAKA lainnya. Proses pemisahan dengan
Air dikategorikan sebagai air payau bila menggunakan membran pada pemisahan fasa
konsentrasinya 0,05 sampai 3% atau menjadi cair-cair umumnya didasarkan atas ukuran
saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih partikel dan beda muatan dengan gaya dorong
dari 5%, disebut brine (Anonim, 2007). Air (driving force) berupa beda tekanan, medan
payau adalah air yang salinitasnya lebih rendah listrik, dan beda konsentrasi. Proses pemisahan
dari pada salinitas rata-rata air laut normal (<35 dengan gaya dorong berupa beda tekanan dapat
permil) dan lebih tinggi dari pada 0,5 permil, dibedakan menjadi proses reverse osmosis,
dan terjadi karena pencampuran antara air laut nanofiltrasi, ultrafiltrasi, dan mikrofiltrasi.
dengan air tawar baik secara alamiah maupun Perbedaan ini didasarkan atas tekanan
buatan (Anonim, 1991). Menurut Soedjono operasi yang digunakan dan ukuran pori
(2002), berdasarkan kandungan kloridanya, membran. Semakin kecil ukuran pori membran
maka air dibedakan atas air : maka tekanan operasi yang digunakan akan
1) Air tawar (< 1.000 mg/l) semakin tinggi (Misran, 2002). Selain
2) Air payau (brackish = 1.000 35.000 mg/l) dibedakan bedasarkan gaya dorong, membran
3) Air asin (saline = 35.000 mg/l) juga dapat dibedakan berdasarkan tipe material
4) Brine (berkadar garam tinggi : Laut Mati) pembuatan membran, mempunyai lapisan yang
Menurut Soedjono (2002), Air payau terjadi sangat tipis antara 0,20 0,25 m yang
karena intrusi air asin ke air tawar. Hal ini didukung dengan ketipisan ukuran pori antara
dikarenakan adanya degradasi lingkungan. 100 m. Membran yang paling sering
Pencemaran air tawar juga dapat terjadi karena digunakan adalah flat sheets, fine hollow fibers,
fenomena air pasang naik. Saat air laut meluap, tubular form (Metcalf and Eddy, 2004 )
masuk ke median sungai. Kemudian terjadi
PengolahanAirPayauMenjadiAirBersih..(EtikasariYusuf,TuhuAgungR.danRudiL.) 8

2. Reverse Osmosis (RO) akan mempengaruhi pula kualitas air hasil


Menurut Metcalf and Eddy (2004), filtrasi. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai
membran Reverse Osmosis tidak membunuh berikut :
mikroorganisme melainkan hanya membuang 1) Tekanan
dan menghambatnya. Pada desain sistem Menurut Heitmann (1990), tekanan
membran RO terdapat beberapa parameter mempengaruhi laju alir bahan pelarut yang
parameter kritis yang harus diuji secara cermat, melalui membran itu. Laju alir meningkat
yaitu : kalsium, magnesium, kalium, mangan, dengan terus meningkatnya tekanan, dan mutu
natrium besi, sulfat, barium, khlorida, amonia, air olahan (permeate) juga semakin meningkat.
fosfat, nitrat, stronsium, dan sebagainya. Tekanan memegang peranan penting bagi laja
Apabila parameter- parameter tersebut dibiarkan permeate yang terjadi pada proses membran.
maka akan terjadi penyumbatan (fouling) Semakin tinggi tekanan suatu membran, maka
(Hartomo dan Widiatmoko, 1994). semakin besar pula fluks yang dihasilkan
Prinsip kerja filter Reverse Osmosis adalah permeate (Nassa dan Dewi, 2004).
berdasarkan pada peristiwa osmosis yang terjadi 2) Temperatur/suhu
di alam. Osmosis adalah peristiwa bergeraknya Standar temperatur yang digunakan dari
air dari larutan yang mempunyai konsentrasi 70F (21C), tetapi umumnya yang digunakan
lebih rendah melalui membran semi permeabel mulai dari 85F (29C) (Eckenfelder, 2000),
ke larutan yang mempunyai konsentrasi lebih 3) Kepadatan/kerapatan membran
tinggi sampai tercapainya keseimbangan. Proses Semakin rapat membran, maka semakin
Reverse Osmosis merupakan kebalikan dari baik air olahan yang dihasilkan (Eckenfelder,
proses osmosis, yaitu memberikan tekanan balik 2000),
dengan tekanan osmotik lebih besar pada 4) Flux (fluks)
permukaan cairan yang lebih kental, maka Gerakan air yang terus menerus. Untuk
cairan yang lebih murni akan menembus menentukan fluks dapat diperoleh dengan
permukaan membran menjadi cairan yang lebih menghitung laju alir permeate per satuan luas
murni (Heitmann, 1990). Berikut ini adalah membran (Nassa dan Dewi, 2004).
gambar Mekanisme Kerja Reverse Osmosis 5) Recovery Factor
Semakin tinggi faktor perolehan maka
Keterangan : semakin baik konsentrasi garam pada proses
pengolahan air payau yang didapat. Umumnya
factor recovery mempunyai batasan 75 95 %
(Eckenfelder, 2000),
6) Salt Rejection (rejeksi garam-garaman)
Garam rejeksi tergantung dari tipe dan
karakteristik pemilihan membran. Namun juga
sangat tergantung pada kondisi operasi,
konsentrasi larutan umpan dan debit aliran.
Gambar 1 Mekanisme Kerja Reverse Osmosis Nilai rejeksi merupakan angka mutlak (Nassa
Gambar 1 diatas menunjukkan diagram dan Dewi, 2004). Umumnya nilai rejeksi dari 85
suatu filter Reverse Osmosis. Dalam hal ini, air 99,5% dengan 95% yang lebih sering
yang mengandung garam-garaman (atau air digunakan (Eckenfelder, 2000)
dengan konsentrasi yang tinggi) dimasukan 7) Ketahanan Membran
dengan tekanan tertentu, sehingga melebihi Membran hanya dapat bertahan sebentar
tekanan osmotiknya, kedalam ruangan di (akan cepat rusak) apabila terlalu banyak
bagian kiri. Maka air (murni) akan berjalan komponen komponen yang tidak diinginkan
melewati membran semi permeabel dan ikut masuk di dalam air umpan, seperti bakteri,
tertampung di ruangan sebelah kanan. Tidak jamur, phenol, dan bahkan nilai pH terlalu
semua air bisa dilewatkan melalui membran tinggi/rendah. Biasanya membran dapat
tersebut, hal ini tergantung pada tekanan yang bertahan selama 2 tahun dengan perubahan pada
diberikan dan karakter dari membran. Oleh efisiensinya (Eckenfelder, 2000),
karena itu, dalam filter Reverse Osmosis akan 8) pH
dihasilkan air limbah (reject), yaitu air yang pH pada membran yang sering digunakan
mengandung garam-garaman konsentrasi tinggi. memiliki batasan operasi antara 6 7,7
Dalam proses filtrasi dengan menggunakan 9) Kekeruhan (Turbidity)
membran reverse osmosis, terdapat beberapa Reverse Osmosis digunakan untuk
faktor-faktor yang saling berkaitan sehingga memindahkan/menyingkirkan kekeruhan dari
air umpan (air masuk). (Eckenfelder, 2000)
9 JurnalIlmiahTeknikLingkunganVol.1No.1

10) Pengolahan awal (Pretreatment) harus besar, sedangkan tekanan penyerapan


Pretreatment merupakan proses awal agar aliran (P p ) harus kecil karena tekanan operasi
membran tidak cepat rusak dan dapat tahan ( P ) berbanding lurus dengan tekanan
lebih lama. Selain itu pretreatment juga pnyerapan (P p ). Tekanan aliran masuk (P f ) dan
dilakukan agar partikel partikel yang tidak tekanan zat terlarut (P c ) berbanding terbalik
diinginkan yang berat molekulnya lebih besar dengan tekanan hidrostatik ( P ), (Metcalf and
tidak ikut masuk kedalam membran. Eddy, 2004).
11) Pembersihan (Cleaning) 3) Persentase Penyisihan untuk menentukan
Pembersihan pada membran tergantung dari mutu produk
jenis membran yang digunakan dan proses Jika didasarkan pada persentase penyisihan
penggunaannya. (Eckenfelder, 2000) dapat digunakan dengan persamaan berikut :
Mekanisme filtrasi yang bekerja pada % Penyisihan = C awal C akhir .(5)
membran reverse osmosis adalah pada gambar x100%
C
berikut : awal
Persentase penyisihan berpengaruh
Qf . Cf Kw Qp . Cp
Ki terhadap konsentrasi zat terlarut pada aliran
masuk. Persentase penyisihan berbanding
terbalik dengan konsentrasi akhir (C akhir),
Qc . Cc sehingga bila persentase penyisihan besar maka
Adanya kemampuan yang terbatas dari konsentrasi awal (C awal) akan besar. Begitu
suatu media akan memberikan pengaruh dalam juga sebaliknya bila persentase penyisihan kecil
pertimbangan mendesain debit aliran. maka konsentrasi awal (C awal) akan kecil
1) Pengaruh Debit Air Masuk terhadap (Hartomo dan Widiatmoko, 1994).
Effluent Karakteristik Reverse Osmosis dapat ditentukan
Input Output = Akumulasi dari :
Qf . Cf Qp . Cp = Qc . Cc 1. Cepat mampat oleh partikel koloid,
Qf . Cf = Qp . Cp + Qc . Cc 2. Tekanan tinggi antara (15 70 bar),
Qf = Q p .C p Q c .C c .(1) 3. Membutuhkan Energi tinggi,
Cf 4. Recovery rendah 75 - 95 %,
Debit air baku dipengaruhi oleh dua faktor 5. Rejection hampir 80 90 %,
yaitu debit air hasil penyerapan dan debit air 6. pH antara 2 11,
buangan. Debit air masuk (Q f ) berbanding lurus
7. Dapat mencapai temperatur tinggi ( 60 -
dengan konsentrasi zat terlarut pada aliran
100F ) (Eckenfelder, 2000)
masuk (C f ), dimana bila debit pada aliran
Keuntungan dari Reverse Osmosis antara lain :
masuk besar maka konsentrasi zat terlarut pada
aliran masuk akan besar pula. Debit air pada a. Bisa mengurangi jumlah dari pengolahan
aliran masuk merupakan penjumlahan dari debit kimia,
konsentrasi aliran hasil penyerapan ditambah b. Mengurangi kebutuhan laboratorium,
debit dan konsentrasi aliran pembuangan. Bila c. Dapat mencapai pada tekanan tinggi,
konsentrasi ditetapkan maka debit aliran d. Dapat mengurangi kandungan garam,
pembuangan (Q c ) lebih besar dibandingkan karbonat, total hardness, sulfat, dan nitrat
debit air hasil penyerapan (Q p ) hal ini dari air umpan. Zat-zat yang tidak terlarut
disebabkan oleh banyaknya padatan tersuspensi dalam air juga dipisahkan seperti kolloid
yang menempel pada daya serap atau dan bakteri (Metcalf & Eddy, 2004) .
permukaan membran, (Metcalf and Eddy, Kerugian dari reverse osmosis :
2004). Sering terjadi penyumbatan (fouling/clogging)
2) Pengaruh Tekanan Operasi terhadap karena bahan bahan tertentu pada permukaan
Penyerapan Aliran membran seperti membran berkerak karena
Jika ditinjau dari tekanan operasi pada pengendapan garam terlarut dalam air karena
membran, maka berlaku persamaan berikut: konsentrasi air cukup pekat dan batas kelarutan
P Pc terlampaui. Kerak dapat berupa kalsium
P f P .......(3)
2
p
karbonat atau sulfat, silika, dan kalsium klorida
Tekanan operasi pada membran ( P ) (Misran, 2002), dan perawatannya lebih mahal
dipengaruhi oleh tekanan penyerapan aliran dibandingkan dengan pengolahan secara
(P p ). Untuk mendapatkan tekanan hidrostatik konvensional (Metcalf & Eddy, 2004).
yang besar maka tekanan aliran masuk (P f ) dan
tekanan aliran pada aliran pada zat terlarut (P c )
PengolahanAirPayauMenjadiAirBersih..(EtikasariYusuf,TuhuAgungR.danRudiL.) 10

3. Membran Jenis Hollow Fiber penyumbatan (fouling/clogging). Fouling


Modul / bentuk / jenis Hollow fiber yang merupakan perubahan yang bersifat irreversible
digunakan terbuat dari polysulfon. Polysulfon karena interaksi secara fisik dan kimia antara
dipercaya baik untuk penggunaan, membran ini membran dan partikel yang terdapat pada proses
memiliki konfigurasi lainnya seperti tabel pemisahan. Pada dasarnya diatas permukaan
berikut ini. membran atau pori terdapat endapan partikel
Tabel 1. Konfigurasi Hollow Fiber untuk (koloid, garam, makromolekul, dsb), (Wenten,
skala laboratorium 1999).
Selain itu fouling juga dapat mengakibatkan
Konfigurasi Hollow Fiber matinya sistem secara tiba-tiba, hilangnya
PSF - waktu produksi dan pergantian membran.
Karakteristik Membran Hydrophilic Pencegahan dan pengontrolan terhadap fouling
Double-Skin type sangat penting dilakukan pada proses membrane
Kapasitas Filtrasi (Volume) 3200 L dan membutuhkan penanganan yang serius dan
Nominal Molecular Weight 10.000 - 500.000 membutuhkan biaya yang besar termasuk
Diameter Membran 0,01 m pergantian membran. Peristiwa fouling pada
Diameter Casing Membran 2 cm membran ini harus dihilangkan dengan
Panjang Membran. 34 cm melakukan optimasi pada teknik pembersihan
Panjang Casing Membran 37 cm membran. Fouling tergantung dari kualitas air
Laju Alir dalam Membran 110 L/det umpan, keefektifan pengolahan pendahuluan,
Toleransi pH 2 13 dan aliran yang mengalir pada permukaan
Temp. Operasi Max 25 C membran (Hartomo dan Widiatmoko, 1994).
Tekanan Operasi Max. 2 - 7 bar
Periode Penggunaan 6 18 bulan METODE PENELITIAN
Sumber: Data Primer, 2008 Proses penelitian ini dimulai dengan
Menurut Baker (2004), Hollow fiber mengalirkan air baku pada sistem yang
modul, mempunyai ukuran diameter membran dirancang sedemikian rupa sehingga permeate
yang sangat kecil (< 1 mm), densitasnya sekitar (air bersih hasil olahan) tertampung pada wadah
30.000 m2/m3, ukurannya lebih kecil dari tersendiri dan concentrate (air buangan) menuju
kapasitas modul yang lain., merupakan bundel wadah effluent.
mampat ribuan serat tipis menyejajar mengitari Bahan yang digunakan pada penelitian ini
inti distribusi air umpan. Tiap serabut serat adalah air payau yang diambil pada Perumahan
diletakkan dalam bentuk U atau O dan ujung Siwalan Sidoarjo, Membran reverse osmosis
ujungnya dibungkus wadah pipa resin epoksi. dengan jenis hollow fiber berukuran pori
Lalu bundel dibungkus kain dan kasa, 0,01 m. Alat yang digunakan yaitu : bak air
diletakkan dalam bejana tahan tekanan tinggi umpan, pompa submersible, selang plastik, filter
terbuat dari baja stainless terlapis epoksi. karbon dan pasir, pompa diafragma, membrane
reverse osmosis, pressure gauge, dan valve.
Keterangan :
1. Air umpan masuk
Variasi yang digunakan pada penelitian ini
2. Permeate outlet (Air adalah variasi tekanan operasi (P) yang rendah
hasil olahan) antara 1,5 3,5 bar. Pemilihan tekanan rendah
3. Concentrate outlet ini dikarenakan biaya pengoperasiannya dan
(Air limbah/rejeksi)
4. Hollow fiber
perawatannya tidak terlalu mahal, dan energi
5. Rumah membran yang dibutuhkan juga rendah sehingga
membran tidak cepat rusak dan memiliki
Gambar 2 Modul Hollow Fiber ketahanan yang lebih lama. Selain variasi
Kelebihan membran hollow fiber : tekanan, pada penelitian ini digunakan juga
1) Biaya operasi murah variasi debit (Q). Debit yang digunakan adalah
2) Fleksibel 300 500 ml/menit.
3) Unit volume permukaan lebih besar Pada penelitian ini terdapat variabel yang
Kerugian dari membran hollow fiber ini adalah : ditetapkan yaitu membran RO berukuran pori
1) Hasil penelitian kurang spesifik 0,01 m, jenis membran hollow fiber, panjang
2) Membrannya berbau (Matrix Membran,
membran 34 cm, panjang rumah membran 37
2005)
cm, diameter rumah membran 2 cm, lamnya
proses 10 jam. Parameter yang diteliti pada
4. Penyumbatan (Fouling/Clogging)
penelitian ini adalah kadar salinitas (Cl-) dan
Salah satu yang menyebabkan keterbatasan
kadar TDS (Padatan Terlarut).
penggunaan membran adalah terjadinya
11 JurnalIlmiahTeknikLingkunganVol.1No.1

Berikut ini adalah gambar kerja proses RO akan mengalir menuju ke bak panampung
: hasil keluaran.
7) Air yang keluar melewati pori pori
membran R.O kemudian dianalisa.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Penelitian ini dilakukan menggunakan
sampel air payau yang berasal dari air sumur
warga Perumahan Siwalan Sidoarjo. Sebelum
dilakukan penelitian air payau dianalisa terlebih
dahulu untuk mengetahui kadar cemarannya.
Gambar 3 Proses Kerja Reverse Osmosis
Keterangan gambar: Tabel 2. Data analisa Awal Air Payau
1) Bak air umpan Perumahan Siwalan Sidoarjo
2) Pompa submersible Parameter Satuan Air Payau
3) Bak penampung 1 Jumlah zat padat
Mg/L 3300
4) Check valve terlarut (TDS)
5) Filter pasir Kekeruhan NTU 3,9
6) Filter karbon Salinitas (Cl-) Mg/L 1100
7) Bak penampung 2 Fe Mg/L 36
8) Pompa diafragma bertekanan 4 5 bar
Mn Mg/L 15,8
9) Pressure gauge
10) Valve 1
Sumber : data primer 2008
11) Valve 2 Pada penelitian ini air yang masuk ke
12) Valve 3 dalam membran sebelumnya dilakukan proses
13) Membran Hollow fiber pengolahan awal terlebih dahulu menggunakan
14) Bak penampung untuk air yang telah diolah filter pasir dan karbon aktif, kedua filter ini
(permeate) digunakan untuk menurunkan kandungan TSS,
15) Bak Penampung untuk air limbah kekeruhan, serta polutan mikro lainnya
(retentate/concentrate) termasuk TDS. Dalam proses pengolahan
16) Bak Penampung sisa debit menggunakan filter pasir dan karbon aktif, TDS
Prosedur kerja dari penelitian ini adalah : dan salinitas yang terdapat dalam air payau
1) Bak umpan yang telah diisi air payau mengalami penurunan. TDS mengalami
kemudian dipompa menuju bak penampung penurunan dari 3300 mg/l menjadi 2970 mg/l,
atas. untuk salinitas mengalami penurunan dari 1100
2) Kemudian air payau dialirkan melalui mg/l menjadi 990 mg/l..
selang berukuran inchi menuju filter Air sumur payau tersebut diolah dengan
karbon dan pasir. Aliran air melalui pipa proses fisik, yaitu dengan menggunakan
diatur oleh check valve kemudian air membran RO jenis hollow fiber. Variasi tekanan
mengalir ke filter pasir dan filter karbon yang digunakan pada penelitian ini sebesar 1,5
secara gravitasi. 3,5 bar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
3) Aliran air dari filter pasir dan filter karbon kemampuan penyisihan membran RO jenis
kemudian ditampung di bak penampung hollow fiber dengan tekanan rendah.
sementara. Hasil penelitian yang dilakukan dengan
4) Kemudian air dari bak penampung berbagai variasi yang dikerjakan adalah sebagai
sementara di pompakan dengan berikut :
menggunakan pompa diafragma. Sebelum 1) Pengaruh Tekanan Operasi (P) dan
air tersebut menuju membran terlebih Debit Aliran (Q) Terhadap Persen (%)
dahulu tekanan dan debit yang mengalir Penyisihan Kadar Salinitas (Cl-)
dari pompa diatur sesuai dengan peubah Berdasarkan tabel 3 pengaruh tekanan
yang dijalankan dengan menggunakan operasi pada proses pengolahan air sumur payau
valve. Lalu lihat pada pressure gauge besar menggunakan membran reverse osmosis jenis
tekanan yang diinginkan. hollow fiber, menunjukkan bahwa dengan
5) Setelah itu air masuk ke rumah membran tekanan operasinya 1,5 bar debit aliran ( Q )
dan melewati pori membran. adalah 300 ml/menit diperoleh kemampuan
6) Air dengan konsentrasi yang rendah lolos penyisihan Cl- mencapai 35,43 %. Apabila
melewati pori membran reverse osmosis tekanan dinaikkan menjadi 2 bar dan debit 300
ml/menit kemampuan penyisihan Cl- naik
PengolahanAirPayauMenjadiAirBersih..(EtikasariYusuf,TuhuAgungR.danRudiL.) 12

menjadi 40,64 % dan bila secara berturut Hal ini membuktikan bahwa tekanan
tekanan dinaikkan dinaikkan masing masing operasi pada membran sangat mempengaruhi
2,5 bar (Q = 300 ml/menit), 3 bar (Q = 300 kemampuan membran, selain tekanan operasi,
ml/menit) dan 3,5 bar (Q = 300 ml/menit) maka tekanan osmosis juga mempengaruhi mutu
kemampuan penyisihan Cl- menjadi 43,85 %, produk (prosentase penyisihan), Winduwati dan
46,66 % dan 49,47 %. Yohan (2000).
Pada gambar 5 dapat dijelaskan juga bahwa
semakin besar debit aliran masuk pada
Tabel 3. Pengaruh Tekanan Operasi (Bar) membran, maka semakin besar kadar akhir Cl-
Terhadap Persen (%) Penyisihan Kadar yang dihasilkan dan semakin meningkat
Salinitas (Cl-) pada Berbagai Laju Alir prosentase penyisihan kadar Cl- dalam air
(ml/menit) payau.
Q P (Bar)
61.00
(ml/ 1,5 2 2,5 3 3,5 58.00

Penyisihan (%) Cl-


meni 55.00

t) Penyisihan Cl- (%) 52.00


49.00

300 35,43 40,64 43,85 46,66 49,47 46.00


43.00

350 38,24 42,65 46,26 49,07 53,08 40.00


37.00

400 41,05 45,46 48,26 51,87 54,29 34.00


250 300 350 400 450 500 550
450 43,85 46,26 49,47 50,67 56,29 Laju Alir Input (Q) ml/menit

500 45,86 49,07 52,27 55,48 57,89 P = 1,5 bar P = 2 bar P = 2,5 bar P = 3 bar P = 3,5 bar

Secara keseluruhan penyisihan Cl- yang Gambar 5. Hubungan Antara Laju Alir
dipengaruhi oleh variasi tekanan operasi dapat Input (ml/menit) dengan % Penyisihan Cl-
ditunjukkan pada gambar 4 berikut: pada Berbagai Tekanan Operasi (Bar)

61.00 Gambar 5 juga diketahui hasil efisiensi


penyisihan kadar Cl- terbesar dan maksimum
57.00
Penyisihan (%) Cl-

53.00
49.00 berada pada debit 500 ml/menit dan tekanan
operasi 3,5 bar sebesar 57,89 %. Sedangkan
45.00
41.00
37.00 hasil efisiensi penyisihan kadar Cl- terkecil pada
debit 300 ml/menit dan tekanan 1,5 bar sebesar
33.00
1,5 2 2,5 3 3,5
Tekanan Operasi (Bar) 35,42 %.
Q = 300 ml/menit Q = 350 ml/menit Q = 400 ml/menit Dapat dijelaskan bahwa semakin besar
Q = 450 ml/menit Q = 500 ml/menit
debit aliran masuk pada membran, maka
semakin besar kadar akhir Cl- yang dihasilkan
Gambar 4. Hubungan Antara Tekanan dan semakin meningkat prosentase penyisihan
Operasi (Bar) dengan % Penyisihan Cl- pada kadar Cl- dalam air payau. Sebaliknya jika
Berbagai Laju Alir (ml/menit) semakin kecil debit aliran masuk pada membran
maka semakin kecil pula kadar akhir Cl- yang
dihasilkan dan semakin meningkat pula
Grafik prosentase penyisihan kadar Cl- prosentase penyisihan kadar Cl-.
pada tekanan 3 bar dengan debit 400 ml/menit
dan 450 ml/menit mengalami penurunan sebesar 2) Pengaruh Tekanan Operasi (P) dan
51,87 % dan 50,67 % dengan selisih 1,2 %. Hal Debit Aliran (Q) Terhadap Persen (%)
ini disebabkan membran terlalu lama bekerja Penyisihan Kadar TDS
dengan tekanan operasi yang terlalu rendah Pada tabel 4 diketahui lebih jelas prosentase
sehingga menjadikan membran jenuh dan penyisihan kadar TDS yang maksimum berada
membuat laju aliran air dalam membran pada tekanan operasi 3,5 bar dan debit 300
membutuhkan waktu yang lama untuk mengalir. ml/menit, 350 ml/menit, 400 ml/menit, 450
Selain tekanan rendah, yang mempengaruhi ml/menit, dan 500 ml/menit dengan hasil
membran menjadi jenuh adalah air yang masuk berturut turut sebebsar 51,18 %, 54, 21 %,
dalam membran kemungkinan masih memiliki 55,22 %, 57,24 %, 58,89 %.
kandungan TDS yang tinggi dan kandungan
logam serta mikroorganisme yang tidak ikut
tersaring pada filter pasir dan karbon. Sehingga
perlu untuk dilakukan pembersihan agar kerja
membran menjadi maksimal kembali.
13 JurnalIlmiahTeknikLingkunganVol.1No.1

Tabel 4. Pengaruh Tekanan Operasi (Bar) concentrate akan semakin tinggi jika tekanan
Terhadap Persen (%) Penyisihan Kadar operasi semakin rendah.
TDS pada Berbagai Laju Alir (ml/menit) Pada gambar 7 dapat dijelaskan juga bahwa
debit air baku dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
Q P (Bar) debit air hasil penyerapan dan debit air buangan.
(ml/ 1,5 2 2,5 3 3,5 Dimana bila debit pada aliran masuk besar maka
me konsentrasi zat terlarut pada aliran masuk akan
Penyisihan TDS (%)
nit) besar pula. Bila konsentrasi ditetapkan maka
300 36,03 41,41 44,44 47,81 51,18 debit aliran pembuangan lebih besar
350 39,73 43,77 47,47 50,17 54,21 dibandingkan debit air hasil penyerapan
400 42,42 45,79 48,48 52,19 55,22 (Metcalf and Eddy, 2004).
450 45,12 46,46 50,17 51,52 57,24 59.00

500 47,81 49,53 52,86 55,22 58,59

Penyisihan (%) TDS


54.00

Secara keseluruhan penyisihan TDS 49.00

yang dipengaruhi oleh variasi tekanan operasi 44.00

dapat ditunjukkan pada gambar 6 berikut: 39.00

59.00 34.00
250 300 350 400 450 500 550
Penyisihan (%) TDS

54.00
Laju Alir Input (Q) ml/menit
49.00
P = 1,5 bar P = 2 bar P = 2,5 bar P = 3 bar P = 3,5 bar
44.00

39.00 Gambar 7. Hubungan Antara Laju Alir


34.00 (ml/menit) dengan % Penyisihan TDS pada
1,5 2 2,5 3 3,5
Tekanan Operasi (Bar) Berbagai Tekanan Operasi (Bar)
Q = 300 ml/menit Q = 350 ml/menit Q = 400 ml/menit
Q = 450 ml/menit Q = 500 ml/menit Gambar 7 juga diketahui hasil efisiensi
Gambar 6. Hubungan Antara Tekanan penyisihan kadar TDS terbesar dan maksimum
Operasi (Bar) dengan % Penyisihan TDS berada pada debit 500 ml/menit dan tekanan
pada Berbagai Laju Alir (ml/menit) operasi 3,5 bar sebesar 58,59 %. Sedangkan
hasil efisiensi penyisihan kadar TDS terkecil
Dari gambar 6 di atas dapat dilihat bahwa pada debit 300 ml/menit dan tekanan 1,5 bar
prosentase penyisihan TDS air payau yang sebesar 36,03 %.
terbesar terletak pada tekanan operasi 3,5 bar Kenaikan secara perlahan mulai terjadi pada
dengan debit 500 ml/menit, yaitu sebesar 59,09 debit 300 ml/menit, 350 ml/menit, dan 400
%. Seperti yang terlihat pada gambar di atas, ml/menit dengan tekanan 3 bar sebesar 47,81 %,
pada tekanan operasi 1,5; 2; 2,5 dan 3 bar 50,17 %, dan 52,19 %. Kemudian pada debit
dengan debit yang sama yaitu 500 ml/menit 400 ml/menit dan debit 450 ml/menit dengan
prosentase penyisihan TDS air payau tekanan sama pula mengalami penurunan,
mengalami kenaikan sebesar 47,81 %, 49,83 %, sebesar 52,19 % dan 51,52 %. Dengan selisih
52,86 %, dan 55,22 %. Dapat dijelaskan bahwa penurunan sebesar 0,67 %.
kemampuan penyisihan kadar TDS dipengaruhi
oleh tekanan operasi. Apabila tekanan yang KESIMPULAN
diberikan pada membran terlalu rendah maka 1. Air payau pada perumahan Siwalan
garam yang disisihkan membran hanya sedikit Sidoarjo yang telah diolah dengan
(prosentase penyisihan garam menurun). menggunakan reverse osmosis jenis hollow
Semakin tingginya tekanan operasi yang fiber belum memenuhi baku mutu, oleh
diberikan pada membran, maka semakin sebab itu belum dapat digunakan sebagai
meningkat prosentase penyisihan TDS dalam air air bersih. Karena kandungan garam
payau dan air olahan atau permeate (debit aliran (Salinitas) dan padatan terlarut (TDS)
keluar) yang dikeluarkan juga semakin banyak, dalam air payau masih terlalu tinggi
sebaliknya jika semakin kecil tekanan operasi sehingga tidak sesuai dengan spesifikasi
pada membran maka semakin kecil pula membran hollow fiber. Selain itu tekanan
prosentase penyisihan kadar TDS dan air olahan yang terlalu rendah menyebabkan membran
atau permeate (debit aliran keluar) yang bekerja tidak maksimal untuk mengolah air
dikeluarkan juga semakin sedikit, Sedangkan payau menjadi air bersih.
debit air buangan atau concentrate akan 2. Kemampuan membran reverse osmosis
semakin kecil apabila tekanan operasi semakin jenis hollow fiber dalam mengefisiensikan
tinggi, sebaliknya debit air buangan atau penyisihan kadar salinitas (Cl-) dan TDS
(Total Dissolved Solid) dalam air payau
PengolahanAirPayauMenjadiAirBersih..(EtikasariYusuf,TuhuAgungR.danRudiL.) 14

dengan menggunakan tekanan rendah Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,


belum mampu menurunkan kadar salinitas Institut Teknologi Sepuluh November
(Cl-) dan padatan terlarut (TDS) dengan Surabaya.
optimal. Membran reverse osmosis jenis Baker, R. W, 2004, Membrane Technology
hollow fiber hanya mampu menurunkan nd
and Applications, 2 ed, John Wiley &
kadar salinitas (Cl-) dalam air payau sebesar
Sons, Ltd, Chichester.
57,89 % dengan penurunan kadar awal Cl- Bartha, Richard., and Atlas, Ronald., 1992,
dari 990 mg/l menjadi 416,89 mg/l dan Microbial Ecology Fundamentals and
padatan terlarut (TDS) sebesar 58,59 %
Applications, Third edition, New York.
dengan penurunan kadar awal TDS dari Eckenfelder, W Wesley, Jr, 2000, Industrial
2970 mg/l menjadi 1230 mg/l. Penurunan Water Pollution Control, Third edition,
TDS dan Cl- ini terjadi pada tekanan 3,5 bar
Mc Graw-Hill, Inc, New York.
dan laju alir sebesar 500 ml/menit. Hal ini Heitmann, Gunter Hans, 1990, Saline water
menunjukkan bahwa kadar salinitas (Cl-) Processing, VCH Publishers, New
dan padatan terlarut (TDS) pada air payau
York.
belum memenuhi baku mutu air bersih. Ilham, Rachmannu., 2008, Penurunan
Kekeruhan pada Air Sungai Kebon
DAFTAR NOTASI Agung dengan Menggunakan Saringan
Qf = Debit air pada aliran masuk
Pasir Lambat Sebagai Air Bersih:
(ml/menit)
Skripsi, Program Sarjana Jurusan
Cf = Konsentrasi zat terlarut pada aliran
Teknik Lingkungan, Universitas
masuk (mg/lt)
Pembangunan Nasional Veteran
Qp = Debit air keluar (ml/menit)
Jawa Timur, Surabaya.
Cp = Konsentrasi zat terlarut hasil olahan
Maulana, Ardi, Tri, 2008, Pemanfaatan Enceng
(permeate) (mg/lt)
Gondok Untuk Menurunkan Salainitas
Qc = Debit air pembuangan (ml/menit)
dan Kesadahan pada Air Payau:
Cc = Konsentrasi zat terlarut pada aliran
Skripsi, Program Sarjana Jurusan
pembuangan (retentate/concentrate)
Teknik Lingkungan, Universitas
(mg/lt)
Pembangunan Nasional Veteran
Qp = Debit air keluar (ml/menit)
Jawa Timur, Surabaya.
P = Tekanan operasi pada membran Membrane, Matrix, 2005, Matrix Membranes
(Bar) *DB Hollow Fibers A Specialty Hollow
Pf = tekanan untuk aliran masuk (Bar) Fiber Membrane Technology
Pc = tekanan aliran pada zat terlarut (Bar) Developer and Manufacturer.
Pp = tekanan penyerapan aliran (Bar) Metcalf and Eddy, 2004, Waste Water
C awal = Konsentrasi Awal (mg/lt) Engineering Treatment Disposal
C akhir = Konsentrasi Akhir (mg/lt) Reuse, Fourth edition, McGraw-Hill,
Inc. New York, St. Fransisco,
DAFTAR PUSTAKA Auckland.
Alaerts G, dan Santika Sumestri Sri, 1984, Misran, Erni, 2002, Aplikasi Teknologi
Metode Penelitian Air, Usaha Berbasiskan Membran dalam Bidang
Nasional. Surabaya Indonesia. Bioteknologi Kelautan: Pengendalian
Andriani, Susi., 1998, Transfer Massa NaCl Pencemaran: Skripsi, Fakultas
Pada Telur Red Leghorn dengan Proses Teknik Program Studi Teknik Kimia,
Perendaman: Skripsi, Program Universitas Sumatera Utara.
Sarjana Jurusan Teknik Kimia, Novitasari, Dian, 2006, Reduksi Total
Universitas Pembangunan Nasional Disolved Solid dengan Penambahan
Veteran Jawa Timur, Surabaya. Koagulan PAC pada Air Sumur UPN
Anonim, 1991, Tata Cara Perencanaan Umum Veteran Jatim: Skripsi, Program
Irigasi Tambak Udang SNI 03-2402- Sarjana Jurusan Teknik Kimia,
1991 (SK SNI T-03-1990-F). Universitas Pembangunan Nasional
Anonim, 2007, Salinitas, the free Veteran Jawa Timur, Surabaya.
encyclopedia, Wikipedia Indonesia. Permenkes No. 907/Menkes/SK/VII/2002
Arfiantinosa, Nassa., dan Dwirianti, Dewi., Syarat-syarat dan pengawasan
2004, Pengaruh Trans Membrane kualitas air bersih.
Pressure dan Permeabilitas Pada
Rejeksi Membran Ultrafiltrasi:
Skripsi, Jurusan Teknik Lingkungan,
15 JurnalIlmiahTeknikLingkunganVol.1No.1

Hartomo, J, A., dan Widiatmoko, M, C., 1994,


Teknologi Membran Pemurnian Air,
Andi Offset, Yogyakarta.
Herlina, Renny.,1999, Uji Kemampuan
Membran Reverse Osmosis Untuk
Memperbaiki Kualitas Air Minum:
Skripsi, Program Sarjana, Universitas
Pembangunan Nasional Veteran
Jawa Timur, Surabaya
Sutrisno, Totok., 2004, Teknologi Penyediaan
Air Bersih, Rineka Cipta, Jakarta.
Soedjono, Eddy., 2002, Diktat Kuliah :
Pengelolaan Penyediaan Air Bersih,
Program Sarjana dan Pasca Sarjana,
Jurusan Teknik Lingkungan, Institut
Teknologi Sepuluh November,
Surabaya.
Wenten, I.G., dan Adityawarman, D., 1999,
Prospek Pemanfaatan Teknologi
Membran dalam Bidang Bioteknologi
Kelautan, Bandung.
Yohan., dan Winduwati, 2000, Karakteristik
Osmosis Balik Membran Spiral Wound,
Pusat Pengembangan Pengelolaan
Limbah Radioaktif.