Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang PKL

Kegiatan Praktek Lapangan Non-Kependidikan yang kini disebut dengan

Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan proses pembelajaran mahasiswa yang

berlangsung di dunia kerja. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali mahasiswa

dengan keahlian yang memperkenalkan situasi dan kondisi kerja nyata

(riil),dengan harapan agar mahasiswa lebih dan memiliki keterampilan dalam

suatu disiplin ilmu.

Praktek Kerja Lapangan adalah suatu bentuk proses pembelajaran mahasiswa

yang mendukung program pendidikan dan program teknis praktis yang ditemukan

dilapangan yang diperoleh melalui kegiatan pengalaman langsung di dunia kerja

yang mengarah kepada pencapaian tingkat keahlian professional tertentu.

Melalui PKL ini diharapkan adanya suatu kecocokan materi yang telah

dipelajari mahasiswa pada saat perkuliahan dengan pelaksanaan kegiatan

sesungguhnya di dunia usaha, industri dan instansi pemerintah.Di sisi lain akan

diperlukan suatu sinergi antara dunia usaha dengan lembaga pendidikan dalam

meningkatkan suatu sumber daya manusia,khususnya pada tingkat pendidikan

tinggi.PKL ini sekaligus dimaksudkan untuk memahami dan mencari kemampuan

dasar apa yang sebenarnya diinginkan dunia kerja untuk dikembangkan. Selain

itu, Praktek Kerja Lapangan merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi

mahasiswa bisa dilakukan di instansi yang terkait seperti Baristand (Balai Riset

1
dan Standardisasi) Industri Padang , Stasiun Geofisika BMKG (Badan

Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), PDAM (Perusahaan Daerah Air

Minum), Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM), Badan Tenaga

Nuklir Nasional (BATAN), Semen Padang, GAW, dan instansi lainnya.

Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang yang dikenal dengan sebutan

(Baristand) merupakan salah satu dari tiga belas Balai Penelitian dan

Pengembangan Industri dan Sembilan Balai Besar yang ada di Indonesia.Dalam

melaksanakan tugas dan kegiatanya , Balai Penelitian dan Pengembangan Industri

Padang ini berpedoman pada pola pembangunan industri nasional yang

merupakan kerangka landasan dari pembangunan lima tahun secara sektoral pada

kebijakan pola pembangunan industri daerah sesuai potensinya.

Di Baristand ini terdapat laboratorium untuk pengujian bahan kimia dan

pengujian fisika. Pengujian Fisika dilakukan terutama di laboratorium semen.

Laboratorium semen ada pengujian fisika dan pengujian kimia untuk berbagai tipe

jenis semen padang. Alat uji yang digunakan yaitu blaine, peningkatan semu, dan

alat uji kuat tekan.

Alat uji kuat tekan dilakukan setelah pembuatan sampel yang mana bahanya

semen tipe 1, II,dan V. Penulis tertarik untuk mempelajari Alat uji kuat tekan ,

dengan demikian untuk laporan Praktek Kerja Lapangan ini adalah Pengujian

Kuat Tekan Semen Portland tipe I,II, dan V dengan Menggunakan Alat Uji

Kuat Tekan berdasarkan SNI 15-2049-2004

B. Batasan Masalah

Untuk memudahkan dalam menyelesaikan laporan praktek kerja lapangan ini,

maka penulisan dibatasi hanya pada pengujian kuat tekan jenis tipe semen

2
portland tipe I, II, dan tipe V dengan menggunakan alat uji kuat tekan berdasarkan

SNI 15-2049-2004,yang mana variasi rendaman sample dengan variasi waktu 3

hari, 7 hari, dan 28 hari.

C. TujuanPraktek Kerja Lapangan

1. Tujuan umum praktek kerja lapangan

Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Jurusan Fisika

Universitas Negeri Padang bertujuan :

a. Melaporkan mekanisme pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di

Laboratorium Fisika Semen Baristand Industri Padang.

b. Mengetahui profil Baristand Industri Padang dan penggunaan alat-alat

pengujian, kegiatan preparasi sampel, dan analisis sampel.

c. Melaporkan kegiatan dan ruang lingkup pelaksanaan serta hambatan

yang ditemui selama kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di

Laboratorium Semen Baristand Industri Padang.

2. Tujuan khusus laporan praktek kerja lapangan

Adapun tujuan khusus dari laporan ini adalah untuk mengetahui kuat

tekan semen portland tipe I, II dan V, dengan menggunakan alat kuat tekan

berdasarkan metode SNI-15-2049-2004.

D. Manfaat Praktek Kerja Lapangan

1. Manfaat praktek kerja lapan gan :

a. Memupuk rasa kebersamaan tim secara baik, terutama dalam

mensukseskan suatu program kerja.

b. Membantu memberikan pembekalan pengetahuan, wawasan dan

keterampilan kepada mahasiswa tentang dunia kerja.

3
c. Memberikan pengalaman praktek kerja secara langsung dan mengetahui

berbagai masalah yang timbul di lapangan saat praktek kerja

dilaksanakan.

d. Saling tukar informasi di bidang teknologi antara lembaga sebagai

pengguna teknologi dengan perkembangan pengetahuan yang terjadi di

lembaga perguruan tinggi.

2. Manfaat penulisan laporan ini adalah :

Mengetahui tentang kuat tekan semen portland Tipe I,II dan V yang

berasal dari sample PT. Semen Padang berdasarkan SNI 15-2049-2004

dengan menggunakan alat kuat tekan yang berada pada laboratorium

Semen di Baristand.

4
BAB II

PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

A. Tempat dan Waktu PKL

Praktek kerja lapangan ini dilaksanakan pada sebuah instansi pemerintahan

yang bergerak dalam bidang Riset dan Standardisasi Industri yakni Baristand

(Balai Riset dan Stardardisasi Industri Padang) Padang . Praktek kerja lapangan

ini dilaksanakan lebih kurang satu bulan yaitu dari tanggal 22 Juli- 22 Agustus

2015.

B. Mekanisme Pelaksanaan PKL

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) sebagai lembaga

pendidikan bertugas menghasilkan tenaga-tenaga profesional dalam mengemban

tugas dan amanah. Maka dari itu jurusan fisika FMIPA berupaya melaksanakan

praktek kerja lapangan (PKL) yang bertujuan menghasilkan lulusan-lulusan yang

memahami ilmu pengetahuan dan teknologi, mampu mempraktekkan serta

mengembangkannya.

PKL adalah suatu bentuk proses pembelajaran mahasiswa yang mendukung

program pendidikan dan program teknis praktis yang ditemukan dilapangan dan

diperoleh melaluikegiatan pengalaman langsung di dunia kerja yang mengarah

kepada pencapaian tingkat keahlian profesional tertentu.Dunia kerja itu bisa

berupa industri, instansi badan usaha atau perusahaan (BUMN atau BUMS). PKL

dilakukan dalam waktu yang disesuaikan dengan beban kredit semester serta

5
jumlah jam kerja perminggu dari industri tempat pelaksanaan PKL. Mahasiswa

diharapkan mampu memadukan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh di bangku

kuliah dengan pengalaman dan pengetahuan yang didapat di dunia industri.

Mahasiswa dapat menyesuaikan diri terhadap perkembangan industri.

Pelaksanaan PKL bagi mahasiswa Prodi Fisika di Jurusan Fisika FMIPA UNP

dilaksanakan pada masa libur semester 6 sesuai kalender akademik selama kurang

lebih 1 bulan. Sebelum melaksanakan PKL ada beberapa prosedur yang harus

dijalani, mahasiswa mendapatkan penyuluhan dan panduan untuk PKL dari Prodi

Fisika serta meminta persetujuan dari Penasehat Akademis mahasiswa yang

bersangkutan. Seterusnya mahasiswa membentuk kelompok yang terdiri dari 2-3

orang perkelompok yang harus tergabung dalam KBK yang sama, masing-masing

kelompok mengajukan permohonan izin melaksanakan PKL ke Prodi Fisika yang

selanjutnya surat permohonan tempat PKL akan di keluarkan oleh pihak Fakultas.

Bila permohonan di setujui oleh Instansi/Perusahaan yang dituju, maka

selanjutnya mahasiswa menghubungi pembimbing melakukan konsultasi tentang

PKL dengan membawa lembar konsultasi. Instansi tempat Praktek Kerja

Lapangan penulis yakni Baristand.

Pada awal pelaksanaan PKL di Baristand Padang , pihak Baristand akan

menunjuk seorang supervisor untuk mahasiswa yang melaksanakan PKL,

kemudian supervisor akan menetapkan jadwal PKL di instansi tersebut. Jadwal

Pelaksanaan PKL di Baristand Padang sendiri yakni dari tanggal 22 Juli s/d 22

Agustus 2015. Selanjutnya pada awal pelaksanaan PKL, supervisor memberikan

pengarahan tentang kegiatan yang akan dilakukan selama PKL.

6
C. Deskripsi Instansi Tempat Pelaksanaan PKL

1. Sejarah Terbentuknya Baristand

Industri di Indonesia khususnya di Sumatera Barat mempunyai

perkembangan yang cukup signifikan setiap tahun di sector industri dan Sumber

Daya Alam . Untuk mengembangkan sector industri dan Sumber Daya Alam

tersebut agar dapat diolah menjadi industri yang besar maka disarankan perlunya

suatu sarana yang dapat melakukan penelitian dan pengujian mutu hasil-hasil

industri sehingga di harapkan produk-produk hasil industri mempunyai mutu yang

bersaing dipasaran dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarskan pemikiran di atas dimulai tahun 1980 diajukan suatu

rencana pendirian pembangunan sarana Badan Industri Padangyang direncanakan

untuk meneliti , menguji , dan mengembangkan produk-produk industri yang ada

di Sumatera Barat dan sekitarnya terutama produk-produk argo industri dan bahan

galian logam.

Badan Riset dan Standisasi Industri (Baristand) Padang yang beralamat

di Komplek Lik Ulu Gadut Po Box 274 telp (0751)72201, fax (0751)71320

Padang Sumatera Barat 25164 sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen

Perindustrian didirikan tahun 1981 dengan status Proyek Penelitian dan

Pengembangan Industri Departemen Perindustrian.

7
Gambar 1 . Kantor Balai Riset dan Stardardisasi
(Baristand) Industri Padang

Sumber:http://www.baristandindustripadang.com

Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Padang merupakan salah

satu dari tiga belas Balia Penelitian dan Pengembangan Industri dan Sembilan

Balia Besar yang ada di Indonesia.Dalam melaksanakan tugas dan keinginanya ,

Bali Penelitian dan pengembangan Industri Padang berpedoman pada pola

pembangunan industry lima tahun secara sektoral pada kebijakan pola

pembangunan industri daerah sesuia dengan potensinya.

Proyek Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Industri pada

Balai Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) pada tahun anggaran

1981/1982 dan diresmikan secara structural sebagai unit teknis Departemen

Perindustrian dan Perdangangan yang berada berdasarkan Surat Keputusan

Menteri No. 14/W/SKJ2/1991pada tanggal 19 Februari 1991.

Berdasarkan Surat Keputusan Menperindag No. 784/MPR/Kep/11/20002

Balai Penelitian dan Pengembangan Industri (Balitbang) Padang berubah nama

8
menjadi Balai Riset dan Standardisasi Industri dan Perdagangan (Baristand Indag)

Padang. Dibawah koordinasi Badan Penelitian dan Pengembangan Industri

Departemen Perindustrian di Jakarta. Instansi ini pernah mengalami beberapa kali

perubahan namayaitu tahun 2004 menjadi Balai Penelitian dan Pengembnagn

Industri dan Perdagangan Padang , dan pada tahun 2006 hingga sekarang menjadi

Balia Riset dan Standadisasi Industri Padang yang disingkat menjadi Baristand

Industri Padang.

2. Organisasi

Organisasi Baristand Industri Padang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan

Menteri Perindustrian No.49/M-IND/PER/6/2006 ,terdiri dari :

a. Sub Bagian Tata Usaha.

b. Seksi Teknologi Industri.

c. Seksi Program dan Pengembangan Kompetensi.

d. Seksi Standardisasi dan Sertifikasi.

e. Seksi pengembangan Jasa Teknik.

f. Kelompok Jabatan Fungsional.

9
Kepala Balai

Dra. Prima Yudha

KaSub Bag Tata Usaha

M.Nilam ST,MA

Kasie Kasie Kasie Program Kasie


Teknologi Standardisasi dan Pengemban
Industri dan Sertifikasi Pengembangan gan Jasa
Kompetensi Teknik

Dindin Drs.Hendri
Syafrudn,S Muchtar,M.si Ir. Wilsa Ir.Irwan
T,M.si Hernianti

Gambar 2. Skema Organisasi Baristand

Kelompok Fungsional

Sub Bagian Tata Usaha berfungsi untuk mengatur urusan

administrasi,kepegawaian,inventarisasi, dan pengadaan perlengkapan yang

dibutuhkan untuk rutinitas keuangan serta urusan rumah tangga Baristand Industri

lainnya.

Seksi Pengembanan Usaha bertugas untuk menyebar luaskan

pendayagunaan hasil riset dan alat-alat hasil riset dan perekayasaan,promosi dan

pemasaran untuk memperoleh relasi bisnis, serta pelayanan teknologi informasi.

10
Seksi Standarisasi dan sertifikasi bertugas sebagai perumusan dan

penetapan standar, pengujian an sertifikasi dalam bidang bahan baku, bahan

penolong ,proses,peralatanmesin dan hasil produk.

Seksi Teknologi Penanggulangan Pencemaran Industri bertugas sebagai

pengembangan teknologi penanggulangan pencemaran industri, selain itu juga

melakukan pemantauan dan pengujian limbah cair serta melakukan pemantauan

dan pengujian udara emisi,ambient dan lingkungan kerja.

Seksi Program dan Pengembangan Kompeetensi bertugas menyusun

program dan pengembangan kompetensi dibidang riset.

3. Visi
Menjadi lembaga riset serta penjamin mutu yang professional dan terpercaya

dalam bidang industri khusunya pangan.

4. Misi

a. Menjadikan Baristand sebagi mitra sejajar kalangan industri dalam

meningkatkan daya saing industri .

b. Menghasilkan teknologi terapan yang bermanfaat bagi industri dalam

meningkatkan nilai tambah dan mutu produk.

c. Menghasilkan teknologi tepat guna menciptakan UKM yang tangguh.

5. Tugas Pokok

Melaksanakan Riset dan Standardisasi serta Sertifikasi di Bidang Industri

6. Tugas Fungsi

a. Melakukan penelitian dan pengembangan teknologi industri bidang

bahan baku , bahan penolong , peralatan/mesin , dan hasil produk , serta

penangulangan pencemaran industri.

11
b. Merumuskan dan menerapkan Standar , Pengujian dan Sertifikasi dalam

Bidang Bahan Baku , Bahan Penolong , Proses , Peralatan/Mesin , dan

Hasil Produk.

7. Layanan Riset dan Pengembangan

a. Bidang Teknologi Pengolahan Pangan.

b. Bidang Cemaran Industri.

c. Bidang Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian.

d. Perkebunan dan Hasil Laut.

e. Bidang Rancang Bangun dan Perekayasaan / Alat.

f. Teknologi Tepat Guna.

8. Layanan Pengujian , Standardisasi dan Sertifikasi

Untuk laboratorium penguji Baristand telah diakreditasi oleh Komite

Akreditasi Nasional (KAN) dengan No.LP-040-IDN dengan Ruang Lingkup:

a. Pengujian Kimia , Fisika , Mikrobiologi.

b. Pengujian Cemaran Industri (Cair , Padat, dan Udara).

Dalam bidang Standardisasi dan Sertifikasi melakukan kegiatan sebagai

berikut:

1) Perumusan rancangan SNI (RSNI).

2) Revisi dan Kajian Ulang SNI.

3) Pengawasan Penereapan SNI (SNI Wajib dan Sukarela).

4) Menerbitkan sertifikasi hasil uji produk.

9. Layanan Teknologi Penanggulangan Pencemaran Industri

a. Melakukan Pemantauan dan Pengujian Limbah Cair , Padat , Udara

Emisi, Ambient.

12
b. Design Sistem Pengelolaan Limbah Cair Industri antara lainMSL (Multi-

Soil Layering) , anaerob dan aerob.

10. Layanan Rancang Bangun / Perekayasaan Industri

a. Design dan Prototype alat pengolahan hasil pertanian seperti gambir .

Cassiavera minyak Atsisri.

b. Pembuatan alat produksi industri kecil makanan seperti alat pemasak

galamai, alat pengering minyak.

c. Alat Pengolahan Makanan (Pelumat Umbi-Umbian , Pemecah Melinjo ,

Pelumat BuahAren, Pengoreng Vakum , Pengering Minyak , Pemisah

Sari Buah Markisah dan Tomat, Pengaduk Galamai , Pemotong Makanan

Semi Basah dan Alat Pencetak Makanan Tradisional.

d. Alat Penggongseng / penyangrai Kopi Bubuk.

e. Alat Pembuatan Bahan Bangunan Murah.

f. Rekayasa PeraltanPembuatan Kertas Karton.

g. Prototype Pengolahan Limbah Cair ( Model MSL dan Anaerob).

11. Layanan Konsultasi

a. Konsultasi penerapan Standar Naisonal Indonesia (SNI).

b. konsultasi Teknologi Proses Industri.

c. Konsultasi teknis pengolahan pencemaran industri.

d. Konsultasi penyusunan sistem mutu untuk perusahaan dan laboratorium.

e. Konsultasi peningkatan mutu produk industri hasil pertanian ,

perkebunan dan hasil laut.

12. Layanan Pendidikan dan Pelatihan Bidang Industri

13
a. Teknologi Pengolahan Pangan.

b. Teknologi Pengolahan hasil Pertanian , Perkebunan , dan Hasil Laut.

c. Teknologi Penyulingan dan Pemurnian Minyak Atsiri.

d. Penyusunan Dokumen Sistem Mutu ISO 9000-2000.

e. Penyusunan Dokumen Sistem Mutu Laboratorium ISO 17025.

f. Diklat Analisis Laboratorium.

g. Diklat teknik sampling produk dan limbah industri (cair , padat, dan

udara).

13. Kompetensi SDM yang Dimiliki

a. Fungsional

1) Peneliti :14 orang

2) Peneliti Likayasa : 5 orang

3) Penyuluh Industri : 2 orang

4) Instruktur : 3 orang

5) Pengendali Dampak Lingkungan : 1 orang

b. Berdasarkan penelitian

1) Pasca Sarjana (S2) : 9 orang

2) Sarjana (S1) :28orang

3) Diploma III : 8 orang

4) SLTA :14orang

Berdasarkan kompetensi SDM , hingga saat ini Baristand Industri Padang

memiliki latar belakang pendidikan maupun pelatihan dari berbagai

Perguruan Tinggi baik Dalam maupun Luar Negeri serta didukungdengan

14
pengembangan SDM secara berkesinambungan sesuai denganperkembangan

ilmu pengetahuan dan teknologi.

14. Sarana dan Prasarana

Baristand Industri Padang terletak pada area seluas 12.500 m 2 yang digunakan

untuk sarana kantor,laboratorium,perpustakaan,perbengkelan,mushala dan

ruang pertemuan.

a. Sarana Baristand terdiri dari

1) Laboratorium Makanan dan Minuman

Dapat melakukan pengujian pada berbagai komoditi pangan , antara

lain kadar protein , kadar lemak , kadar karbohidrat , kadar air ,

kadar abu , serta bahan bahan tambahan seperti pewarna ,

pemanis , pengembang dan parameter makanan dan minuman

lainnya.

2) Laboratorium Lingkungan

Dapat melakukan pengujian air minum , limbah cair industri , air

sungai , air danau , air laut dan air permukaan.Disamping itu

Laboratorium ini dapat melekukan pengujian di lapangan meliputi

udara emisi yang keluar dari cerobong , pabrik , pengujian ambient

udara di sekitar lokasi pabrik serta pengujian udara di likngkungan

kerja dan pemukiman.

3) Laboratorium Mikrobiologi

Laboratorium ini mampu melakukan pengujian produk terhadap

berbagai lingkup di bidangMikrobiologi seperti AngkaLempeng

15
Total , Escherichia coli , Salmonella , Kapang , Khamir ,

Clostridium , Bakteri Colfiorm , dan jenis Mikroba lainnya.

4) Laboratorium Aneka Komoditi

Dapat melakukan pengujian mutu bahan bangunan , produk semen

denghan berbagai tipe , bahan tambang dan produk non pangan

lainnya seperti Kapur , Tanah , Pasir , Pupuk , Tegel , Beton , dan

lain sebagainya.

5) Laboratorium Instrumentasi

Di laboratorium instrumentasi terdapat instrument-instrument

pengukuran seperti AAS , Spektrofotometer UV-Vis , HPLC( Hight

Performance Liquid Crhomatograph) , GC , Mercury Analizer dll.

Setelah sample disiapkan di laboratorium lingkungan untuk

pengujian sample dilakukan di laboratorium instrumentasi.

b. Prasarana Balai Standardisasi Industri Padang

1) Perpustakaan

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya unit dokumentasi dan

informasi Baristand Industri Padang dilengkapi dengan koleksi

buku-buku dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Ingfris,laporan

penelitian,Standar Nasional Indonesia(SNI),majalah dan referensi

lain.

16
2) Ruang Staf dan Administrasi

Dilengkapi dengan perlengkapan penunjang seperti

computer,internet,faksmile,telepon dan peralatan lainnya.

3) Perbengkelan dan Instrumen

Ruang lingkup kegiatan antara lain dari kantor dan prototype yang

digunakan dalam industry yang dilengkapi dengan peralatan

las,mesin,genset,mesin bor,mesin gerinda dan peralatan lainnya

disertai dengan tenaga maintenance yang berpengalaman.

4) Ruang Pertemuan

Digunakan sebagai tempat pertemuan,rapat intern,pertemuan

penyuluhan dan kegiatan lainnya, dimana memiliki daya tampung

sekitar 60 orang dan dilengkapi dengan AC dan proyektor.

D. Aktivitas Praktek Kerja Lapangan

1. Ruang Lingkup Pelaksanaan PKL

17
Dalam pelaksanaan PKL di Baristand penulis difokuskan pada

bagian pengamatan kegiatan di Laboratorium Fisika Semen yang mana

sample semennya berasal dari PT. Semen Padang. Kegiatan PKL ini

berlangsung selama 30 hari dengan hari sabtu dan minggu merupakan hari

libur. Jam kerja dimulai pukul 07.30 WIB sampai 16.00 dan jam istirahat

12.00-13.30 WIB. Kegiatan yang dilakukan berupa kegiatan dilabor

meliputi penggunaan alatalat pengujian, kegiatan preparasi sampel,

analisis sampel, dan pengujian sifat fisika sampel.

Pengujian yang dilakukan pada Semen Portland tipe I, II,dan V

dengan menggunakan metode SNI adalah pengujian sifat fisika, karena

sifat fisika merupakan sifat yang paling menentukan bagaimana kualitas

semen tersebut.

2. Jadwal Pelaksanaan PKL

Pelaksanaan Praktek kerja lapangan dilaksanakan di Laboratorium

Fisika Semen di BARISTAND, terhitung dari tanggal 22 Juli 2015

sampai 22Agustus 2015.


3. Kegiatan Praktek Kerja Lapangan

Praktek Kerja Lapangan yang di lakukan di Baristand ini disesuaikan

dengan hari kerja di tempat tersebut dimana dalam satu minggu hari

kerjanya 5 hari dari hari senin-Jumat .

Adapun Kegiatan Praktek Kerja Lapangan yang dilakukan per minggunya

adalah:

Minggu I

18
a. Pengurusan administrasi , perkenalan dengan supervisor serta orientasi

pengenalan kondisi lingkungan kerja di Baristand , pengenalan

lingkungan kerja ini berupa pengenalan laboratorium apa saja yang ada

di Baristand serta pengenalan peraturan-peraturan yang ada di

Baristand oleh Supervisor.

b. Pengenalan alat-alat yang ada di laboratorium semen dan memahami

prinsip alat yang digunakan.

Minggu II

a. Mengetahui nama, fungsi alat-alat yang digunakan untuk pengujian

terhadap sampel dan cara kerja dari masing-masing alat

b. Penentuan judul sesuai dengan pengujian yang ada kepada supervisor

untuk laporan Praktek Kerja Lapangan.

Minggu III

a. Kegiatan di Minggu ke III melakukan penghalusan sampel batu kapur

yang digunakan untuk pengujian pada semen terhadap sampel.

b. Lanjutan Pembuatan sampel semen yang akan di uji dan dicetak

terlebih dahulu.

c. Melakukan pengujian kekuatan semen pada semen Portland tipe I, II,

dan V sesuai prosedur SNI 15-2049-2004

d. Mengambil hasil data setelah dilakukan pengujian terhadap kekuatan

tekan pada semen portland tipe I, II, dan V berdasarkan SNI-15-2049-

2004

Minggu IV

a. Mencari bahan serta menyusun Laporan Praktek Kerja Lapangan

19
b. Konsultasi Laporan Praktek Kerja Lapangan

c. Revisi Laporan Praktek Kerja Lapangan

4. Pelaksanaan PKL serta Hambatan yang Ditemui dan Penyelesaiannya

Pelaksanaan PKL secara umum berjalan dengan lancar. Namun ada beberapa

hambatan yang ditemui penulis dalam PKL, seperti belum memahami secara

keseluruhan mengenai alat yang terdapat di Laboratorium Fisika Semen,

penentuan judul penelitian, serta analisa dari hasil pengujian. Untuk mengatasi hal

tersebut penulis bertanya kepada teknisi yang berpengalaman dan melakukan

banyak konsultasi dengan pembimbing yang berada di Laboratorium Fisika

Semen selama kegiatan PKL berlangsung.

20
BAB III

PENGUJIAN SIFAT FISIKA KUAT TEKAN SEMEN PORTLAND TIPE I, II,

DAN V MENGGUNAKAN ALAT KUAT TEKAN BERDASARKAN STANDAR

SNI 15-2049-2004

A. Tinjauan Kondisi Riil

Semen sebagai bahan pengikat pada batuan dan beton mempunyai

peranan penting dalam setiap kegiatan pembangunan fisik, sehingga antara

semen dan pembangunan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Kebutuhan pemakaian semen disebabkan karena kondisi tertentu yang

diperlukan pada pelaksanaan konstruksi serta tujuan-tujuan ekonomis,

maka dalam perkembangan pembuatan semen dikenal beberapa macam

semen. Salah satu diantaranya yaitu semen Portland. (Roekmini,

ellys.1998).

Portland Cement adalah perekat hidrolis yang dihasilkan dari

penggilingan klinker yang kandungan utamanya calcium silicat dan satu

atau dua buah bentuk calcium sulfat sebagai bahan tambahan. Ada

beberapa type semen portland diantaranya yaitu semen portland tipe I, II

dan V.

Pengendalian kualitas merupakan kegiatan yang dilakukan secara

kontinu, yang bertujuan untuk menghasilkan produk yang bermutu,

dilaksanakan dengan jalan meneliti, menguji melalui program

pengendalian, mulai dari bahan mentah, selama dalam proses sampai

21
dengan produk akhir. Pengendalian kualitas secara menyeluruh dengan

ketelitian yang tinggi, bertujuan untuk memberikan jaminan mutu produk

yang dihasilkan, agar selalu memenuhi standar yang berlaku. (baradja,

hasan.1990)

Pengendalian kualitas semen diuji di Laboratorium semen di

BARISTAND yang sampelnya berasal dari PT. Semen Padang. Untuk

pengujian fisika semen dilakukan di Laboratorium Fisika Semen.

Pengujian fisika semen di laboratorium ini menggunakan metode SNI 15-

2049-2004.

Pada metode SNI 15-2049-2004. pengujian yang dilakukan yaitu

pengujian kehalusan semen, pengikatan semu, dan yang paling terpenting

pengujian kuat tekan semen.

B. Tinjauan Literatur
1. Sejarah dan Pengertian Semen
a. Sejarah Semen

Pada awalnya semen dikenal di Mesir pada tahun 500 SM pada

pembuatan piramida yaitu sebagai pengisi ruang kosong di antara

celah-celah tumpukan batu. Semen yang dibuat oleh bangsa mesir

merupakan kalsinasi gypsum yang tidak murni, kalsinasi batu kapur

mulai digunakan zaman Romawi. Kemudian bangsa Yunani membuat

semen dengan cara mengambil tanah vulkanik (vulcanic tuff) yang

berasal dari pulau Santorius yang kemudian dikenal dengan Santoris

cement. Bangsa Romawi menggunakan semen yang diambil dari

material vulkanik yang ada dipegunungan Vesuvius di lembah Napples

22
yang kemudian dikenal dengan nama Pozzulona cement yang diambil

dari sebuah nama kota di Italia yaitu Pozzulona. (Nahar jinis.1993)

Penemuan bangsa Yunani dan Romawi ini mengalami

perkembangan lebih lanjut mengenai komposisi bahan dan cara

pencampurannya sehingga diperoleh mortar yang lebih baik. Pada

abad pertengahan, kualitas mortar mengalami penurunan yang

disebabkan oleh pembakaran limestone kurang sempurna dengan tidak

adanya tanah vulkanik.

Tahun 1756 Jhon Smeaton seorang sarjana Inggris berhasil

melakukan penyelidikan terhadap batu kapur dengan pengujian

ketahanan air. Dari hasil percobaannya dapat disimpulkan bahwa batu

kapur lunak yang tidak murni dan mengandung tanah liat merupakan

bahan pembuat semen hidrolis yang baik. Batu kapur yang dimaksud

tersebut adalah kapur hidrolis (hydrauliclime). Kemudian oleh Vicat

ditemukan bahwa sifat hidrolis akan bertambah baik jika ditambahkan

juga silika atau tanah liat yang mengandung alumina dan silika.

Akhirnya Vicat membuat kapur hidrolis dengan cara pencampuran

tanah liat (clay) dengan batu kapur (limestone) pada perbandingan

tertentu kemudian campuran itu dibakar (dikenal dengan Artifical lime

twice kilned). Beberapa tahun kemudian, Joseph Aspdin memperoleh

hak paten dengan penemuannya mengenai sejenis semen yang

didapatkan dari kalsinasi campuran batu kapur dengan tanah liat dan

menggiling hasilnya menjadi bubuk halus yang kemudian dikenal

dengan nama PortlandCement. (Julian Bagus Hariawan: 2000)

23
Dua puluh tahun setelah hak paten dari Joseph Aspdin, barulah

semen mulai diproduksi dengan kualitas yang dapat diandalkan (tahun

1850, empat buah pabrik semen tanur tegak berdiri di Inggris). Selain

itu tercatat nama seorang ilmuwan I.C Johnson yang berjasa

meletakkan dasar-dasar proses kimia pada pembuatan semen.

b. Pengertian Semen

Semen adalah hasi industri dari paduan bahan baku batu kapur

dan tanah liat atau bahan pengganti lainnya dengan hasil akhir berupa

padatan berbentuk bubuk/bulk, tanpa memandang proses

pembuatannya, yang mengeras atau membatu pada pencampuran

dengan air.

Semen berasal dari bahasa latin caementum yang berarti bahan

perekat yang mampu mempersatukan atau mengikat bahan padat

menjadi satu kesatuan yang kokoh dan mempunyai fungsi sebagai

bahan perekat antara dua atau lebih bahan sehingga menjadi satu

bagian yang kompak. Semen merupakan senyawa atau zat pengikat

hidrolis yang terdiri dari senyawa C-S-H (kalsium silikat hidrat) yang

apabila bereaksi dengan air akan dapat mengikat bahan bahan padat

lainnya, membentuk satu kesatuan massa yang kompak, padat, dan

keras. (Julian Bagus Hariawan: 2000).

Menurut Parke, I N. semen adalah bahan perekat yang dapat

merekat beberapa benda padat lainnya menjadi satu kesatuan yang

utuh dan keras. Secara khusus semen merupakan bahan bangunan yang

24
digunakan untuk keperluan bangunan misalnya untuk merekat batuan,

bata merah dan pasir menjadi beton. (Mochtar Triyono.1996)

Semen Portland (PC) dapat dibuat dari Cacareous seperti batu

kapur (limestone atau chalk) dan bahan silika atau aluminium yang

terdapat pada tanah liat (clay atau shale). Batu kapur mengandung

komponen CaO, lempung mengandung komponen SiO2 dan

Al2O3(oksida alumina) dan FeO3(oksida besi).

Batu kapur/gamping adalah bahan alam yang mengandung

senyawa kalsium oksida(CaO), sedangkan tanah liat adalah bahan

alam yang mengandung senyawa silika oksida(SiO2), alumunium

oksida(Al2O3), besi oksida(Fe2O3) dan magnesium oksida(MgO).

Untuk menghasilkan semen, bahan baku tersebut dibakar sampai

meleleh, sebagian untuk membentuk clinker(Terak), yang kemudian

dihancurkan dan ditabah dengan gypsum dalam jumlah yang sesuai.

(Anonim,2004).
Penambahan CaO(perendaman menggunakan air kapur dapt

mempengaruhi kuat tekan pada mortar. Penambahan kalsium oksida

kuat tekan cenderung menurun,kekuatan daya tekan

semendipengaruhi oleh adanya pertumbuhan gel tobermorit(kalsium

silikat hidrat) yang terbentuk ketika semen bereaksi dengan air. Waktu

berpengaruh terhadap pertumbuhan senyawa 3CaO.SiO2.3H2O,

dimana dengan semakin lama waktu perendaman sehingga proses

pengerasan akan semakin lamadan berpengaruh pada kekuatan

mortarnya.

25
Dengan jumlah kalsium oksida yang lebih tinggi maka

kandungan senyawa 3CaO.SiO2.3H2O, di dalam semenjuga akan

meningkat. Hal tersebut membuat bertambahnya kalsium hidroksida

yang dilepaskan oleh semen ketika semen bereaksi degan air, dengan

semakin banyaknya kalsium hidroksida yang terbentuk, maka daya

rekat semen akan berkurang sehingga struktur didalamnya akan lemah

dan menyebabkan kuat tekannya rendah. Dapat dijelaskan

bahwapenambahan kapur sebagai bahan tambahan semen mampu

menurunkan kualitas semen yang ditunjukkan dengan penurunan kuat

tekan yang terjadi , sehingga dapat direkomendasikan bahwa untuk

bangunan bertngkat tidak efektif apabila mencampurkan kapur dalam

adukan yang akan dipakai. Tetapi, untuk bangunan sederhana dan

pada lokasi yang tidak banyak mengandung garam seperti daerah

pantai,penggunaan kapur ini dapat dijadikan sebagai alternatif untuk

membuat bangunan dengan nilai yang lebih ekonomis karena

penambahan kapur mampu meminimalisir pengguanan semen.

(Yulis,cahya.2003)
Semen PCC(Portland Composite Cement) merupakan jenis

semen varian baru yang mempunyai karakteristik mirip dengan Semen

Portland pada umumnya tetapi semen jenis ini memiliki kualitas yang

lebih baik,ramah lingkungan dan mempunyai harga yang lebih

ekonomis. Komposisi bahan baku semen pcc adalah clinker, gypsum

dan zat tambahan(additive). Bahan aditif yang digunakan yaitu batu

kapur(lime stone), abu terbang(fly ash) dan trass. Tidak seperti type

OPC yang tidak menggunakan aditif fly ash dan trass. Pada type pcc

26
mengguanakan tambahan zat aditif fly ash dan trass dimana terdapat

senyawa SiO2 yang dapat meningkatkan kuat tekan. Selain adanya zat

aditif fly ash dan trass. Pada PCC ditambahkan pula lime stone yang

berfungsi meningkatkan tekan pada kuat tekan 3 hari saja. Hal ini

terjadi karena lime stone mempunyai bentuk fisik yang muah

halus,sehingga dengan nilai kehalusan tersebut,lime stone dapat

menutup rongga-rongga yang terdapat didalam semen sehingga bisa

meningkatkan kuat tekan 3 hari saja.


2. Jenis - Jenis Semen
a. Semen Portland
Semen merupakan bahan hidrolis yang dapat bereaksi

secara kimia dengan air,disebut hidrasi, sehingga membentuk

material padat. Pada umumnya, semen yang digunakan sebagai

bahan bangunan adalah tipe semen Portland. Definisi semen

Portland menurut ASTM C-150,1985 adalah semen hidrolik

yang dihasilkan dengan menggiling klinker yang terdiri dari

kalsium silikat hidrolik, yang umumnya mengandung satu atau

lebih bentuk kalsium sulfat sebagai bahan tambah yang

digiling bersama-sama dengan bahan utamanya.


Semen Portland dibuat melalui beberapa langkah,

sehingga sangat halus dan memiliki sifat adhesive maupun

kohesif. Semen diperoeh dengan membakar campuran

daricalcareous (mengandung kalsium karbonat atau batu

gamping) dan argillaceous(mengandung alumina) dengan

perbandingan tertentu. Bahan dasar semen yangterdiri dari :

27
kapur, silica dan alumina dicampur dan di bakar dengan suhu

14000Cdan menjadi klinker.


Berdasarkan SNI No. 15-2049-2004, Semen Portland dapat

diklasifikasikan dalam 5 jenis, yaitu :


1) Jenis I, disebut juga Ordinary Portland Cement
Komposisi Kimia utamanya yaitu trikalsium silika(C3S) 49

%, dikalsium silikat(C2S) 25 %, trikalsium aluminat(C3A)

12 %, tetra alumino ferit(C4AF) 8 %, dipakai untuk

keperluan kontruksi bangunan rumah permukiman, gedung-

gedung sekolah dan perkantoran, bangunan pabrik, gedung

bertingkat,dll.
2) Jenis II, disebut juga Moderate Heat Cement
Komposisi kimia utamanya yaitu trikalsium silika(C3S) 46

%,dikalsium silikat(C2S) 29 %, trikalsium aluminat(C3A)

6%, tetra alumino ferit(C4AF) 12 %, semen Portland yang

dalam penggunaanya memerlukan ketahanan terhadap

sulfat dan panas hidrasi. Semen ini dipergunakan untuk

bangunan tepi laut, bendungan, dan irigasi beton massa

yang membutuhkan panas hidrasi rendah.


3) Jenis III, disebut juga High Early Strength Cement
Komposisi kimia utamanya yaitu trikalsium silika(C3S) 56

%, dikalsium silikat (C2S) 15 %, trikalsium

aluminat(C3A)12 %,tetra alumino ferit(C4AF) 8 %, Semen

Portland yang dalam penggunaanya memrlukan kekuatan

awal yang tinggi setelah pengecoran dilakukan. Sifat

terpentingnya adalah nilai pengembangan kekuatanya

cepat(C3S) tinggi dan butirannya halus untuk bangunan

28
yang memerlukan kekuatan tinggi(sangat kuat) seperti

jembatan besar dan pondasi berat.


4) Jenis IV, disebut juga dengan Low Heat Cement
Komposisi kimia utamanya yaitu trikalsium silika(C3S) 26

%, dikalsium silikat (C2S) 49 %, trikalsium aluminat(C3A)

5%, tetra alumno ferit(C4AF) 18 %. Semen Portland dalam

penggunaanya memrlukan panas hidrasi yang rendah.

Semen ini diperlukan untuk kebutuhan pengerasan yang

tidak menimbulkan panas dalam pengecoran karena

kandungan C3S rendah dan C3A rendah.


5) Jenis V, disebut juga dengan Sulfat Resistance Cement
Komposisi kimia utamanya yaitu trikalsium silika(C3S) 38

%, dikalsium silikat(C2S) 49%, trikalsium aluminat(C3A) 4

%, tetra alumino ferit(C4AF) 15 % yait semen portland

yang dalam penggunaanya memerlukan ketahanan yang

tinggi terhadap sulfat, dipakai dalam bangunan alam seperti

tangki bahan kimia dan pipa dibawah tanah.

Persyaratan Sifat Fisika Semen Portland harus memenuhi persyaratan sebagai

berikut :

Tabel 1. Syarat Fisika Utama

Jenis semen Portland


I II III IV V
No Uraian

1 Kehalusan :

Uji permeabilitas udara, m2 /kg

Dengan alat :Blaine 280 280 280 280 280

29
2 Kuat tekan :

Umur 1 hari, kg/cm2, minimum - - 120 - -

Umur 3 hari, kg/cm2,minimum 125 100 240 - 80

70a)

Umur 7 hari, kg/cm2,minimum 200 175 - 70 150

120a)

Umur 28 hari, kg/cm2, minimum 280 - - 170 210


3 Waktu pengikatan ( metode

alternatif) dengan alat :

Vicat

- Awal, menit,minimal 45 45 45 45 45

- Akhir ,menit,maksimum

375 375 375 375 375


CATATAN :

Syarat kuat tekan ini berlaku jika syarat kalor hidrasi seperti tercantum

pada tabel syarat fisika tambahan ( tabel 2) atau jika syarat C3S + C3A seperti

tercantum pada tabel syarat kimia tambahan disyaratkan.


(Sumber : SNI 15-2049-2004)

Tabel 2. Syarat Fisika Tambahana)

No Uraian Jenis semen Portland


I II III IV V
1 Pengikatan semu penetrasi akhir, 50 50 50 50 50

% minimum
2 Kuat tekan :

30
Umur 28 hari, kg/cm2, minimum - 280 - - -
Persyaratan fisika tambahan ini berlaku hanya jika secara khusus diminta.

Bila syarat kalor hidrasi ini disyaratkan, maka syarat C3S + C3A tidak

diperlukan.

Syarat kuat tekan ini berlaku bila syarat kalor hidrasi seperti yang tercantum

pada tabel syarat fisika disyaratkan.


(Sumber : SNI 15-2049-2004)

b. Oil Well Cement(OWC) Class G-HSR


Digunakan untuk pembuatan lapisan sumur minyak yang

dalam dan untuk menyumbat sumur setelah dibor.


1) Class A, yaitu semen yang digunakan untuk sumue dengan

kedalaman 1830 m dan tidak dinyatakan khusus.


2) Class B, yaitu semen yang digunakan untuk sumur dengan

kedalaman 1830 m, dengan ketahanan terhadap sulfat

tinggi.
3) Class C, yaitu semen yang digunakan untuk sumur dengan

kedalaman 1830 m, dengan ketahanan awal yang tinggi dan

ketahanan sulfat tingkat menengah dan tinggi.


4) Class D, yaitu semen yang digunakan untuk sumur minyak

dengan kedalaman 1830 sampai 1850 m, dengan ketahanan

terhadap suhu tinggi dan tekanan sedang sampai tinggi.


5) Class E, yaitu semen yang digunakan untuk sumur minyk

dengan kedalaman 1830 sampai 4272 m, dengan ketahanan

terhadap suhu tinggi dan tekanan sedang sampai tinggi.


6) Class F, yaitu semen yang digunakan untuk sumur minyak

dengan kedalaman 3050 m sampai 4880 dan memiliki sifat

31
ketahanan terhadap suhu, tekanan yang amat tinggi dan

tahan terhadap sulfat tingkat menengah dan tinggi.


7) Class G, yait semen yang digunakan pada pengeboran

minyak dari kedalaman dasar 240 m, dan digunakan dengan

penambahan akselerator dan retarder denganbatas

jangkauan ke dalam sumur dan tiak ditambah dengan bahan

additif kecuali CaSO4, air, atau kedua bahan tersebut harus

digiling dengan klnker dan memliki ketahanan terhadap

sulfat.
c. Semen Portland Campur(Mixed Cement)
Digunakan untuk kontruksi ringan, sedang, untuk

plesteran, pemasangan bata, dan bahan bangunan.


d. Masonry Cement type M,S,N
Semen ini digunakan untuk plesteran, pemasangan bata, dan

keramik.
e. Semen Putih
Semen putih dapat digunakan untuk plamir

tembok,pembuatan tekel/traso, pemasangan keramik, tegel dan

marmer. Semen jenis ini mudah diberi warna sesuai keinginan.


3. Sifat-Sifat Fisika Pada Semen

a. Kuat Tekan

Kuat tekan merupakan sifat yang paling penting bagi mortar

ataupun beton. Kuat tekan dimaksud sebagai kemampuan suatu

material untuk menahan suatu beban tekan.

Kuat tekan adalah kemampuan material menahan suatu beban.

Kuat tekan meningkat jika nilai LSF tinggi, ALM rendah, SIM tinggi,

kadar SO3 rendah, dan tingkat kehalusan semen tinggi. Fasa C3S

berpengaruh terhadap kekuatan awal. Fasa C2S berpengaruh terhadap

32
kuat tekan dalam jangka panjang, dan fasa C3A berpengaruh terhadap

kuat tekan hingga umur 28 hari. Sedangkan, fasa C4AF tidak

berpengaruh pada kuat tekan.

b. Hidrasi Semen

Hidrasi semen terjadi akibat adanya kontak antarasemen dengan

air. Faktor yang mempengaruhi hidrasi semen antara lain:

1) Jumlah air yang ditambahkan

2) Temperatur

3) Kehalusan semen

4) Bahan tambahan

Faktor-faktor tersebut mengakibatkan terbentuknya pasta semen

yang pada waktu tertentu akan mengalami pengerasan.

Hidrasi pada temperatur tinggi menyebabkan rendahnya kekuatan

akhir semen dan beton yang rentan retak. Oleh karena itu, semen

harus disimpan pada temperatur rendah agar penguapan air tidak

berlebihan.

c. Panas Hidrasi

Panas hidrasi merupakan panas yang dihasilkan oleh reaksi hidrasi

yang bersifat eksoterm. Panas hidrasi dipengaruhi oleh:

1) Tipe semen

2) Komposisi kimia

3) Kehalusan semen

4) Jumlah air yang ditambahkan

33
d. Setting time

Setting (pengikatan semen) ditentukan oleh waktu reaksi C3A

semen dengan air. Untuk mengatur setting time ditambahkan bahan

penghambat reaksi hidrasi yaitu gypsum. Selain itu setting time juga

dipengaruhi oleh temperatur dan kelembaban relatif.

Setting time akan pendek jika klinker tidak terbakar sempurna,

partikel semen yang halus, kadar alumina yang tinggi, dan terdapatnya

alkali. Sebaliknya, setting time akan cepat jika klinker dibakar pada

suhu tinggi, partikel semen yang kasar, gypsum yang berlebih, kadar

silika terlalu tinggi, dan kesadahan air.

e. False Set

False Set merupakan akibat dari dehidrasi gypsum yang disebabkan

oleh pemanasan berlebih pada semen.False Set adalah pengerasan

yang terlalu cepat saat air ditambahkan ke dalam semen.

FalseSet disebabkan adanya CaSO4.H2O dalam semen. Plastisitas

akan kembali jika campuran diaduk kembali. Meskipun tidak

mengurangi kekuatan semen, False Set akan menimbulkan kesulitan

pada pembentukan beton. False Set dapat dihindari dengan mengatur

suhu semen saat penggilingan di cement mill, agargypsum tidak

berubah menjadi CaSO4.H2O. Selain itu juga dilakukan pengaturan

jumlah gypsum.

f. Kelembaban

34
Selama penyimpanan dan pengangkutan, semen mudah menyerap

uap air dan CO2 dari udara sehingga menurunkan kualitas semen, yang

ditandai dengan bertambahnya LOI (Lost on Ignition), terbentuknya

gumpalan, menurunnya kekuatan semen, dan bertambahnya setting

time dan hardering.Untuk mengatasi penurunan kualitas semen, maka

perlu diperhatikan tempat penyimpanan yang kedap air dan jarak

penyimpanan + 30 cm.

g. Penyusutan

Ada tiga jenis penyusutan pada pasta semen, yaitu:

1) Hydration shrinkage

2) Drying shrinkage

3) Carbonation shrinkage

Penyusutan yang sangat mempengaruhi keretakan mortar adalah

Drying shrinkage. Penyusutan ini terjadi karena adanya penguapan air

bebas dari pasta semen. Penyusutan dapat diantisipasi dengan menjaga

kelembaban. Faktor yang mempengaruhi penyusutan adalah kadar

C3A, jumlah air, dan komposisi.

h. Kehalusan

Kehalusan dapat mewakili sifat-sifat fisika lainnya terutama

terhadap kekuatan, bertambahnya kehalusan pada umumnya akan

bertambah pula kekuatan, mempercepat reaksi hidrasi begitu pula

waktu pengikatannya semakin singkat.

Kehalusan semen menentukan luas permukaan partikel semen saat

hidrasi. Semakin halus partikelnya, semen semakin kuat, dankebutuhan

35
air semakin tinggi. Selain itu hidrasi akan cepat, dan setting time

menjadi pendek, menyebabkan penyusutan, dan mengakibatkan

keretakan beton. Selain itu, akan memudahkan penyerapan air dan

CO2.(Roekmini anas.1983).

i. Pengikatan dan Pengerasan(Setting Tiedan Hardening)

Mekanisme terjadinya setting dan hardening yaitu ketika terjadi

pencampuran dengan air, maka akan terjadi air dengan C 3A

membentuk 3CaO.Al2O3.3H2O, membentuk lapisan etteringete yang

akan membungkus permukaan senyawa tersebut.

Namun karena ada peristiwa osmoss lapisan etteringete akan

pecah dan reaksi hidarsi C3A akan terjadi lagi, namun akan segera

terbentuk lapisan etteringete kembali yang akan membungkus

3CaO.Al2O3.3H2O kembali sampai gypsum habis.

Proses ini akhirnya menghasilkan perpanjangan setting time.

Peristiwa di atas mengakibatkan reaksi hidrasi tertahan, periode ini

disebut Dormant Periode yang terjadi selama 1-2 jam, dan selama itu

pasta masih dalam keadaan plastis dan mudah dibentuk,periode ini

berakhir dengan pecahnya coating dan reaksi hidrasi terjadi kembali

dan initil set mulai terjadi. Selama periode ini beberapa jam,reaksi dari

3CaO.Al2O3.3H2O terjadi dan menghasilkan C-S-H (3CaO.SiO2)

semen dan akan mengisi rongga dan membentuk titik-titik kontak

yang mengahsilkan kekakuan.

Pada tahap berikutnya terjadi pengikatan konsentrasi C-S-H yang

akan menghalangi mobilitas partikel-partikel semen yang akan

36
akhirnya pasta menjadi kaku dan final setting tercapai,lalu proses

pengerasan mulai terjadi.

4. Pengujian Kuat Tekan Semen Portland


Kekuatan semen yang diukur adalah kekuatan tekan dalam bentuk

pasta, mortar, atau beton. Kekuatan tekan adalah sifat kemampuan

menahan atau memikul suatu beban tekan, yang merupakan sifat

paling penting yang harus dimiliki. Berdasarkan SNI 15-2049-2004

pengujian kuat tekan semen dilakukan setelah perendaman mortar

dengar ar kapur selama 3 hari, 7 hari, dan 28 hari.


Kekuatan tekan mortar semen adalah muatan atau beban

maksimum yang dapat dipikul oleh mortar semen persatuan luas. Cara

yang digunakan untuk menguji kuat tekan mortar semen adalah

dengan menggunakan mesin tekan.


Prinsip pengujian kuat tekan mortar semen dengan alat mesin

tekan adalah untuk mengukur besarnya beban yang dapat dipikul oleh

satu satuan luas mortar semen (benda uji) sampai benda uji itu hancur

atau rusak. Bentuk dari benda uji yang digunakan untuk menguji

kekuatan tekan mortar semen adalah berupa kubus. Masing-masing

benda uji menghasilkan kuat tekan yang berbeda demikian pula untuk

ukuran benda uji yang berbeda, akan menghasilkan kuat tekan yang

berbeda pula. Hasil pengujian kuat tekan, menunjukan hubungan

antara makin besar pemberian gaya, maka akan semakin besar pula

gaya atau tekanan yang diterima oleh benda uji.


Nilai-nilai kekuatan tekan yang dihasilkan oleh sebuah mesin

tekan. merupakan angka-angka nyata, jadi nilai-nilai kekuatan tekan

tersebut hanya memberikan petunjuk mengenai mutu mortar semen.

37
Kuat tekan pada umumnya dipengaruhi oleh umur pasta semen, bahan

yang digunakan dalam perbandingan campuran, cara mencampur serta

suhu pengerasan. Pada umumnya persyaratan kuat tekan dapat

ditentukan setelah berumur 28 hari. Adapun rumus yang digunakan

pada perhitungan kuat tekan mortar semen. Pada dasarnya terdapat 2

faktor yang sangat menentukan kuat tekan mortar yaitu berat semen

dan water cement ratio.


Secara garis besar urutan pengujian kuat tekan adalah sebagai

berikut:

a. Pada saatnya untuk pengujian, bersihkan permukaan benda

uji dengan lap sampai bersih dari butiran-butiran pasir yang

menempel pada permukaannya.

b. Ukur rusuk-rusuk kubus dengan teliti dan hitung luas

bidang tekannya.

c. Letakkan kubus uji pada tengah-tengah bidang landasan

(pelat) baja penekan dalam mesin tekan, lalu atur agar

permukaan bidang tekan kubus terjepit antara dudukan dan

landasan penekanan dari mesin tekan. Pengujian dihentikan

setelah benda uji tidak mampu lagi menahan beban tekan

yang ditujukan dengan turunnya jarum petunjuk beban.

d. Hidupkan mesin tekan dan beban tekan diberikan secara

merata dan terusmenerus dengan kecepatan 1,4 kg/cm2

sampai dengan 2,5 kg/cm/detik, atau beban maksimal

38
tercapai dalam waktu kurang dari 20 detik, besarnya beban

maksimal tercapai dalam satuan Newton atau kg.

F
Kuat tekan mortar semen ( P) =
A

Dimana :

P = Kuat tekan mortar semen (Mpa)

F = Beban Maksimum (N)

A =Luas Benda Uji (mm2)

5. Standar Pengujian Semen Portland

Standar nasional yang digunakan dalam pengujian semen portland

adalah Standar Nasional Indonesia(SNI). Untuk mengetahui kualitas

suatu semen yang diproduksi, perlu dilakukan pengujian sesuai standar

yang dipakai.

Standar ini merupakan standar yang digunakan oleh perusahaan

semen di Indonesia yang memiliki metode yang berbeda dari beberapa

metode yang ada. Standar Nasional Indonesia (SNI) menggunakan

pasir standar Ottawa yang diimpor langsung dari Kanada. Pasir ini

memiliki karakteristik yang berbeda dengan pasir yang digunakan pada

39
standar BS. Pasir Ottawa banyak mengandung silika sebanyak 99.7 %

dan unsur-unsur lain.

C. Pelaksanaan Pengujian Semen Portland Tipe I, Tipe II dan Tipe V

Berdasarkan SNI 15-2049-2004

1. Tempat dan waktu pengujian

Pengujian dilakukan di Laboratorium Fisika Semen Balai Riset dan

Standardisasi Padang yang sampelnya berasal dari PT. Semen Padang

dari tanggal 22 Juli 2015 sampai 22 Agustus 2014.

2. Alat dan bahan yang digunakan:

Adapun alat yang digunakan pada pengujian ini adalah sebagai

berikut:

a. Timbangan dengan ketelitian 0,1 g dan 0,001 g

b. Gelas ukur

c. Mesin pengaduk (mixer), lengkap dengan pengaduk dan mangkok

aduk.

d. Cetakan sampel

e. Ruang lembab (curing chamber)

f. Mesin kuat tekan

g. Sarung tangan karet

h. Sendok semen

i. Ayakan standar 45

Bahan yang digunakan adalah:

a. Sampel Semen Portland tipe I, tipe II dan tipe V

40
b. Pasir standar Ottawa

c. Air

d. Batu Kapur

3. Gambar alat yang digunakan

Alat Kuat Tekan Mixer(pengaduk)


Manual

4. Preparasi Sampel

41
Sebelum melakukan preparasi sampel terlebih dulu dipersiapkan alat

dan bahan yang digunakan. Sampel ditimbang sebanyak 740 gram

untuk semen tipe I,tipe II dan tipe V dan pasir ottawa ditimbang

sebanyak 2035 gram. Sampel dipreparasi dengan menghomogenkan

sampel dengan cara diaduk. Teknik sampling yang digunakan

membagi sampel menjadi tiga bagian. Sample yang akan diuji di aduk

menggunakan mixer dengan campuran pasir ottawa. Sampel diaduk

sesuai dengan SNI 15-2049-2004 dengan menggunaka mixer.Sampel

yang setelah di mixer di cetak dengan menggunakan cetakan sampel.

Sampel yang dicetak dimasukkan ruang lembab(curing chumber)

selama 20-24 jam.

5. Prosedur Kerja

a. Pengujian kuat tekan mortar semen

Cara pengujian kuat tekan mortar berdasarkan SNI 15-2049-2004

adalah sebagai berikut:

1) Semen Portland tipe I,II danVyang telah dipreparasi

masing-masing sebanyak 740 g.

2) Timbang pasir Ottawa sebanyak 2035 g.

3) Sampel dicampur didalam mixer, terlebih dahulu

dimasukkan air sebanyak 395 ml (sesuai flow table) untuk

semen jenis tipe I, tipe II dan tipe V kemudian ditambahkan

semen dan ditunggu hingga 30 detik.

4) Aduk semen dengan kecepatan 140 rpm selama 30

detik kemudian ditambahkan pasir dengan kecepatan 285 rpm.

42
5) Mixer berhenti setelah 30 detik, campuran semen

dicetak dengan mengisi cetakan seperdua bagian.

6) Campuran ditumbuk sebanyak 16 kali dan

ditambahkan hingga cetakan penuh serta ditumbuk sebanyak

16 kali.

7) Permukaan cetakan diratakan, bagian pinggir

cetakan diseka dengan tisu kemudian diberi kode sampel.

8) Cetakan disimpan dalam curing chamber dengan

suhu dan kelembaban tertentu.

9) Cetakan yang telah dimasukkan kedalam curing

chamber, setelah 20-24 jam dikeluarkan untuk dibuka

cetakannya sehingga didapatkan benda uji yang berbentuk

kubus.

10) Benda uji direndam didalam air kapur jenuh. Benda

uji direndam sampai umur pengujian 3, 7, dan 28 hari.

11) Benda uji yang telah direndam sesuai umur

pengujian, diuji kuat tekannya dengan meletakkan pada alat

Compressive strength kemudian hasil dapat dilihat di display.

D. Hasil dan Pembahasan Pengujian Kuat Tekan Semen Portland

1. Hasil

Pada percobaan ini penulis melakukan rangkaian proses mulai dari

persiapan sampel sampai dengan pengujian kuat tekan. Pada proses

persiapan sampel dilakukan dengan sangat teliti. Berdasarkan penelitian

43
yang telah dilakukan, maka didapatkan data hasil pengujian fisika

terhadap Semen Portland Tipe I,Tipe II dan Tipe V sebagai berikut:

Tabel 3. Hasil pengujian kuat tekan mortar semen Portland umur

3 hari tipe I, II, dan V metode SNI 15-2049-2004

Data Hasil Pengujian Kuat Tekan


Nama contoh Tipe I Tipe II Tipe V
Diperiksa tanggal 27.07.2015 27.07.2015 27.07.2015
Suhu (C) dan Kelembaban
23 & 70 23 & 70 23&70
(%)
Berat semen (g) 740 740 740
Berat pasir (g) 2035 2035 2035
Volume air (mL) 395 395 395
Tanggal kuat tekan umur 3
29.07.2015 29.07.2015 29.07.2015
hari
Suhu (C) dan
23 & 70 23 & 70 23&70
Kelembaban (%)
Area (cm2)
25 25 25
(A)
kN 1 53 42 50
kN 2 54 43 51
kN 3 52 42 52
Rata-rata (kN)
53 42.33 51
(B)
Kuat tekan B x 102/A
216.24 172.72 208.08
(kg/cm2)

44
45
Tabel 4. Hasil pengujian kuat tekan mortar semen Portland umur 7

hari tipe I,tipe II, dan tipe V metode SNI 15-2049-2004

Data Hasil Pengujian Kuat Tekan


Nama contoh Tipe I Tipe II Tipe V
Suhu (C)
23 & 70 23 & 70 23&70
Dan Kelembaban (%)
Berat semen (g) 740 740 740
Berat pasir (g) 2035 2035 2035
Volume air (mL) 395 395 395
Tanggal kuat tekan umur 7 hari 05.08.2015 05.08.2015
05.08.2015
Suhu (C) 23 & 70
23 & 70 23 & 70
dan Kelembaban (%)
25
Area(cm2) (A) 25 25

kN 1 71 57 66
kN 2 70 56 67
kN 3 69 55 66
Rata-rata(kN) (B) 70 56 66.3
Kuat tekan B x 102/A (kg/cm2) 285.6 228.48
272

Tabel 4. Hasil pengujian kuat tekan mortar semen Portland umur 7 hari tipe

I,tipe II, dan tipe V metode SNI 15-2049-2004

Data Hasil Pengujian Kuat Tekan


Tipe V
Nama contoh Tipe I Tipe II

Suhu (C) dan Kelembaban (%) 23 & 70 23 & 70


23&70
740
Berat semen (g) 740 740

46
2035
Berat pasir (g) 2035 2035
395
Volume air (mL) 395 395

26.08.201 26.08.201
Tanggal kuat tekan umur 28 hari 26.08.201
5 5
5

Suhu (C) dan Kelembaban (%) 23 & 70 23 & 70


23 & 70
25
Area(cm2) (A) 25 25

88
kN 1 92 81
89
kN 2 91 83
90
kN 3 93 82
89
Rata-rata(kN) (B) 92 82

Kuat tekan B x 102/A (kg/cm2) 375.36 334.56


363.12

2. Pembahasan

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada pengujian kuat tekan pada table

3 yang dilakukan perendaman dengan batu kapur selama 3 hari, dapat

diketahui bahwa semen portland tipe I, II dan V telah memenuhi Standar

Nasional Indonesia 15-2049-2004. Dari data diatas terlihat perbedaan nilai

kuat tekan antara ketiga tipe semen. Kuat tekan untuk jenis I 216.24 kN, kuat

tekan jenis II 172.72 kN dan kuat tekan jenis V 208,08 kN. Perbedaan kuat

47
tekan dikarenakan banyak dipengaruhi komposisi kimia semen yang

ditambahkan pada saat proses produksi. Hal ini disesuaikan dengan tujuan

diproduksi ketiga tipe semen ini. Semen Jenis I yaitu semen portland untuk

penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan-persyaratan khusus.

Semen jenis II yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap

sulfat atau kalor hidrasi sedang. Sedangkan semen jenis V memerlukan

ketahanan tinggi terhadap sulfat. Dari data pengujian tersebut perendaman

selama 3 hari memberikan pengaruh terhadap nilai kuat tekan ketiga jenis

semen ini.

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada pengujian kuat tekan pada tabel

4 yang dilakukan perendaman dengan air batu kapur selama 7 hari dapat

diketahui bahwa semen portland tipe I,tipe II dan tipe V telah memenuhi

Standar Nasional Indonesia 15-2049-2004. Dari data tersebut terlihat

perbedaan nilai kuat tekan dari ketiga jenis semen. Nilai kuat tekan semen

jenis I 285.6 kN, kuat tekan jenis II 228.48 kN dan kuat tekan jenis V 272 kN.

Dari nilai kuat tekan tersebut dapat dilihat bahwa perendaman mortar selama

7 hari dapat menambah besar nilai kuat tekan dari ketiga jenis semen tersebut.

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada pengujian kuat tekan pada tabel

5 yang dilakukan perendaman dengan air batu kapur selama 28 hari dapat

diketahui bahwa semen portland tipe I,tipe II,dan tipe V telah memenuhi

Standar Nasional Indonesia 15-2049-2004. Perendaman mortar selama 28 hari

dengan menggunakan air kapur masih menambah nilai kuat tekan dari ketiga

jenis semen tersebut. Nilai kuat tekan semen jenis I 375.36 kN, niali kuat

tekan jenis II 334.56 kN dan nilai kuat tekan jenis V 363.12 kN.

48
Perbedaan Kuat Tekan Semen Portland terlihat pada Grafik sebagai

berikut:

Grafik Hubungan antara Waktu Perendaman dengan Nilai Kuat Tekan Mortar
1200

1000

800 tipe v
Kuat Tekan (kN)

tipe II
600 tipe I
400

200

0
3 hari 7 hari 28 hari

Ketiga tipe semen, yaitu semen tipe I.II,dan V memiliki perbedaan nilai

kuat tekan. Perbedaan kuat tekan dikarenakan banyak dipengaruhi komposisi

kimia semen yang ditambahkan pada saat proses produksi. Komposisi Kimia

pada Semen ada tiga fasa yitu Fasa C3S(Trikalsium Sulfat) berpengaruh

terhadap kekuatan awal Fasa C2S(Dikalsium Sulfat) berpengaruh terhadap

kuat tekan dalam jangka panjang, dan fasa C3A(Trikalsium Aluminat)

berpengaruh terhadap Kuat Tekan hingga 28 hari.

49
Pengujian kuat tekan yang telah dilakukan tersebut dapat dilihat pada

sifat fisis dari mortar tersebut yaitu adanya retak-retak dengan warna yang

berbeda dari semen yang diuji. Dari segi fisik, ada semen yang memiliki

retak-retak dengan warna yang lebih gelap dan permukaan yang lebih halus,

dan ada juga yang memiliki retak-retak dengan permukaan yang lebih kasar

dan warna yang lebih terang. Kuat Tekan yang diberikan dikatakan telah

maksimal pada saat tepat akan retak pada mortar yang dapat dilihat secara

fisis.

Hasil pengujian ini sesuai dengan teori yang ada, yaitu adanya

keterkaitan antara kuat tekan semen dengan komposisi dari ketiga semen dan

uat tekan juga berpengaruh terhadap perendaman perendaman mortar selama

3 hari,7 hari dan 28 hari..Dari pengujian secara fisika yang telah dilakukan,

sampel uji semen tipe Ipe II dan tipe V, secara keseluruhan telah memenuhi

standar SNI 15-2049-2004

50
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan terhadap semen

Portland tipe I, II dan V menggunakan metode SNI 15-2049-2004, maka

dapat disimpulkan:

1. Pengujian sifat fisika semen dengan menggunakan metode SNI 15-

2049-2004 yang dilakukan berkaitan dengan uji kuat tekan mortar.

Setiap pengujian kuat tekan tipe semen I,tipe II dan tipe V memiliki

kuat tekan yang berbeda. Nilai Kuat Tekan pada ketiga jenis semen

juga behubungan dengan waktu perendaman selama 3 hari,7 hari dan

28 hari. Komposisi dari ketiga jenis semen portlan juga sangat

berpengaruh terhadap nila kuat tekan pada mortar.

2. Dari data pengujian sifat fisika yang diperoleh, Semen Portland tipe

I,II, dan V telah memenuhi standar SNI 15-2049-2004.

B. Saran

Dari Laporan pengujian Kuat Tekan yang dilakukan pada semen

portland tipe I,II, dan V mungkin terdapat banyak kekurangan. Untuk

itulah penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari

pembaca demi kesempurnaan penulisan makalah ini.

51
DAFTAR PUSTAKA

Anas, E Roekmini. 1983. Analisa Kimia dan Fisika Bahan-bahan yang dipakai

dalam Proses Pembuatan Semen Portland. PT. Semen Padang: Padang.

Anonim. 1998. Teknologi Semen. PT. Semen Padang: Padang.

Anonim.2004. SNI 15-2049. PT.Semen Padang : Padang

Baradja, Hasan. 1990. Kursus Eselon III Produksi Teknologi Semen. PT. Semen

Padang: Padang.

Hariawan, Julian Bagus. 2000. Pengertian Semen. Biro Pembinaan dan

Pengembangan Personil PT. Semen Padang: Padang.

Hariawan,Julian Bagus.2000. Pengaruh Perbedaan Karakteristik Type Semen

Ordinary Portlrand Cement(OPC) dan Portland Composite Cement(PCC)

Terhadap Kuat Tekan Mortar : Gunadarma

Jinis, Nahar. 1993. Pengertian tentang Semen. Biro Pembinaan dan

Pengembangan Personil PT. Semen Padang: Padang.

M. Tri Wibowo.2007. Pengaruh penambahan trass muria terhadap tekan, kuat

tarik, dan serapan air pada mortar. Skripsi Sarjana. UniversitasNegeri

Semarang.

Roekmini, Ellys. 1998. Pengertian Umum Semen. Departemen Penelitian dan

Pengembangan PT. Semen Padang: Padang.

Saputro, aswin budhi. 2008.Teknologi semen. -

52
Zarlis.1982. Laporan Training Teknologi Proses dan Analisa Semen. Balai

Industri Medan

Parke I.N. Semen Portland. Balai Besar Industri Keramik. Bandung.

Turiyono, Mochtar. 1996. Teknologi Semen secara Umum. PT. Semen Padang:

Padang.

53