Anda di halaman 1dari 18

SISTEM PERIODIK UNSUR

Oleh :
DONNY SUHERMAN

SITTI NURAINI RAHMAH

NASPIRA BINTI JABIR

PURNAMA AJI

JESIKA BANGKARA

PAULA NATASHA ARINCY S VIERIN

NANDA FEBRIALITA AYU HAPSARI

UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

Page 1
PEMBAHASAN

Sistem periodik unsur

Skema klasifikasi unsur dalam tabel berkala yang kita kenal sekarang ini ditemukan
secara simultan dan bertahap oleh beberapa ahli yang hasil pertemuannya saling berkaitan
satu sma lain dan saling mendukung dalam terciptanya sistem periodik unsur unsur yang
tersusun dalam suatu tabel berkala. Pandangan beberapa ahli diuraikan secara berturut turut
sampai terbentuknya tabel periodik modern sekarang adalah sebagai berikut :

Triade Dobereiner
Pada awal ke-19, massa atom relatif merupakan sifat yang digunakan untuk
membedakan satu unsur dengan unsur lainnya. Kemudian pada tahun 1817, John W.
Dobereiner menemukan beberapa kelompok tiga unsur yang mempunyai kemiripan
sifat yang ada hubungannya dengan massa atom relatif, seperti :
Litium Kalsium Klor
Natrium Stronsium Brom
Kalium Barium Iodin
Kelompok tiga unsur ini disebut triade. Donreiner mengamati bahwa massa
atom relatif (Ar) brom adalah 80 yang kira-kira sama dengan setengah dari jumlah
massa atom relatif klor (35) dan iodin (127). Ar Brom = (35+127) = 81.

Hukum Oktaf Newlands


Pada tahun 1865, John Newlands menemukan hubungan lain antara sifat unsur
dan massa atom relatif, sesuai dengan hukum yang disebutnya Hukum Oktaf. Ia
menyusunnya kedalam kelompok tujuh unsur dimana setiap unsur kedelapan selalu
memiliki sifat yang sama dengan unsur pertama dari kelompok sebelumnya.
Li Be B C N O F
Na Mg Al Si P S Cl
K Ca Cr Ti Mn Fe
Dari unsur-unsur diatas, ada beberapa unsur yang tidak dapat diterima, seperti
Cr yang tidak mirip dengan Al, Mn yang tidak mirip dengan P, dan Fe yang tidak

Page 2
mirip dengan S. Tetapi Newlands telah membuktikan usahanya secara tepat dalam
menyusun suatu daftar unsur.

Daftar Mendeleev
Tiga tahun setelah Newlands mengumumkan Hukum Oktaf, Lothar Meyer
dan Dimitri Ivanovich Mendeleev menemukan hubungan yang lebih terperinci antara
massa atom relatif dengan sifat unsur. Mereka menemukan keperiodikan unsur jika
unsur-unsur tersebut diatur menurut kenaikan massa atom relatif.
Selama mempelajari keperiodikan unsur, Meyer lebih menekankan sifat-sifat
fisika unsur tersebut. Ia menggunakan grafik untuk mengalurkan volume atom unsur
terhadap massa atom relatif. Menurut pengamatannya, garifk menujukkan unsur-unsur
yang sifatnya terletak di titik-titik tertentu dalam setiap bagian grafik yang mirip
bentuknya. Seperti unsur alkali (Na, K, Rb) yang terdapat di puncak garfik. Hal
tersebut menunjukkan bahwa adanya hubungan antara sifat unsur dengan massa atom
relatif.
Pada tahun 1869, Mendeleev berhasil menyusun daftar yang terdiri atas 65
unsur yang telah dikenal saat itu. Selain sifat fisika, ia juga menggunakan sifat-sifat
kimia untuk menyusun daftar unsur-unsur berdasarkan kenaikan massa atom relatif.
Adapun hukum periodik yang dikemukakan Mendeleev berbunyi :sifat unsur-unsur
merupakan fungsi berkala massa atom relatif.

Ada beberapa pendapat yang muncul untuk memperbaiki penyusunan tabel


periodik yang telah dilakukan Mendeleev, berikut perbaikannya :
a. Jalur khusus disediakan untuk unsur-unsur yang dikenal sebagai unsur
transisi.
b. Beberapa tempat dikosongkan karena ada beberapa unsur yang belum
ditemukan, unsur tersebut memiliki massa atom 44, 68, 72, dan 100.
c. Harga Ar (massa atom relatif) yang pengoreksiannya tidak tepat, seperti Cr
yang memiliki Ar 43, bukan 52.0
d. Sifat unsur yang belum dikenal akan diramalkan, seperti ekasilikon (Ge).

Page 3
Keuntungan dari daftar Mendeleev untuk memahami sifat-sifat unsur adalah sebagai
berikut :

1. Sifat kimia dan fisika suatu unsur dalam satu golongan berubah secara
teratur.
2. Valensi tertinggi unsur-unsur dalam golongan sama dengan nomor
golongan unsur.
3. Perubahan sifat kimia unsur halogen ke unsur alkali menunjukkan adanya
sekelompok unsur yang tidak bersifat elektronegatif maupun elektropositif.
4. Adanya peramalan sifat unsur yang belum ditemukan untuk mengisi
kekosongan dalam daftar Mendeleev.

Sistem Periodik Modern


Sistem periodik modern disusun berdasarkan konfigurasi elektron dari atom
unsur-unsur. Unsur dengan konfigurasi elektron yang mirip mempunyai sifat-sifat
kimia yang mirip pula. Hubungan ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
a) Elektron-elektron terususun dalam orbital.
b) Hanya 2 elektron yang dapat mengisi orbital.
c) Orbital-orbital dikelompokkan dalam kulit.
d) Hanya n2 orbital yang dapat mengisi kulit ke-n.
e) Elektron terluar (elektron valensi) atom yang paling menentukan sifat
kimia.
f) Struktur elektron terluar pada satu jalur vertikal sama sehingga
sifatnya pun mirip. Jalur vertikal ini disebut golongan.
g) Dalam suatu golongan, sifat unsur berubah secara teratur.
h) Perubahan teratur sifat kimia dalam satu jalur horizontal pada sistem
periodik disebut periode.

Berdasarkan sistem periodik modern, ada berbagai macam orbital yang dikenal dengan
bentuk berbeda yaitu :

i. Orbital s : satu orbital setiap kulit


ii. Orbital p : tiga orbital setiap kulit
iii. Orbital d : lima orbital setiap kulit
Page 4
iv. Orbital f : tujuh orbital setiap kulit

Istilah orbital inilah yang disebut dengan sub kulit, yang biasa dipakai dalam
pengelompokan unsur menjadi empat blok berdasarkan struktur elektron atau
konfigurasi elektron terluar, yaitu :

Unsur unsur blok s n s1,2

Unsur unsur blok p ns2 np1.....6

Unsur unsur blok d (n-1)d1.....10 ns2

Unsur unsur blok f (n-1)f1......14 (n-1)d1 ns2

Unsur unsur blok s dan p biasanya disebut unsur unsur golongan utama. Unsur
unsur transisi dalam menyangkut 4f disebut lantanida dan yang menyangkut 5f disebut
aktinida.

Page 5
Muatan inti efektif

Konsep muatan inti efektif membuat kita dapat memperhitungkan efek


lidungan atas sifat periodik unsur. Elektron-elektron yang memenyelimuti inti suatu
atom akan memberikan efek lidungan kepada inti tersebut terhadap pengaruh elektron
terluar. Adanya lindungan electron akan mengurangi gaya tarik elektrostatik antara
muatan positif proton dalam inti dengan muatan electron negatif terluarnya.
Selanjutnya gaya tolak menolak antra elektron-elektron dalam atom berelektron
banyak juga mengimbangi gaya tarik dipergunakan oleh inti.

Muatan inti efektif (Zoff) dinyatakan sebagai selisih antara muatan inti (Z)
dengan konstanta perlindungan atau shielding constant atau screening constant ()
yang nilainya bergantung pada elektron pada kulit dalam dan elektron pada kulit yang
sama. Secara sederhana di rumuskan sebagai berikut:

Zoff = Z -

Sebagai contoh atom litium dan berlium dengan konfingurasi masing-masing adalah:

11 NA = 1s2 2s2 2p6 2s1

12 MG = 1s2 2s2 2p6 2s2

Untuk atom Na : Terdapat 8 (delapan) elektron yang merupakan elektron pada


kulit dalam yaitu orbital 2s2 dan 2p6 dan (2+6 = 8) dna tidak terdapat elektron pada
kulit yang sama sehingga nilai tetapan perlindungan () = 8. Elektron terluar pada Na
ada satu sehingga dapat terbentuk Na- artinya satu elektron terluar tersebut terlindungi
dari tarikan inti oleh elektron pada kulit dalam saja sehingga membutukan energi
ionisasi yang nlebih besar jika di bandingkan dengan pelepasan satu elektron pada Mg
menjadi Mg. untuk atom Mg : terdapat 8 elekron yang merupakan pada kulit dalam
yaitu pada orbital 2s2 dan 2p6 (2+6=8) dan terdapat 1 elektron pada kulit luar yang
sama yaitu pada orbital 2s2 , jadi satu elektron pada kulit luar yang sama + 8 elekron
pada kulit dalam = 9 elektron, sehingga nilai tetapan perlindungan () elektron terluar

Page 6
terdapat tarikan inti Mg > Na, sehingga energi ionisasi pertama Mg menjadi Mg- <
energi ionisasi Na menjadi Na- .

Cara lain untuk menggambarkan efek perlindungan elektron terluar terdapat


tarikan inti adalah dengan melihat energi yang diperlukan untuk melepaskan 1 elekron
terluar dari atom yang bersangkutan. Contohnya adalah untuk melepaskan elektron
pertama dari atom helium diperlukan energi sebesar 2373 kj dan untuk pelepasan
elektron kedua diperlukan energi sebesar 525 kj, alasan utama besarnya ionisasi kedua
adalah tidak adanya elektron yang memberikan kontribusi terhadap tetapan
perlindungan sehingga elektron merasakan tarikan penuh oleh inti. Jika atom
berelektron banyak, maka efek konstanta perlindungan () yang di akibatkan pengaruh
elektron pada kulit sebelah dalam lebih besar jika dibandingkan dengan elektron pada
kulit yang sama.

Energi Ionisasi
Energi ionisasi merupakan energi yang dibutuhkan oleh suatu atom untuk
melepaskan elektron terluar dalam keadaan berbentuk gas.
Ada 3 faktor yang menentukan besarnya harga ionisasi, yaitu:
1. Muatan inti efektif.
2. Jarak muatan elektron dan inti.
3. Sekatan yang diberikan orbital berenergi rendah.

Pola yang muncul jika energi ionisasi yang disalurkan terhadap nomor atom adalah
sebagai berikut :

a. Unsur-unsur gas mulia He, Ne, Ar, dan Kr berada di puncak.


b. Unsur-unsur alkali Li, Natrium, dan Rb berada di lembah.
c. Terdapat puncak kecil dan lembah kecil di lereng.

Sepanjang periode, energi ionisasi bertambah. Berbeda dengan Li, Be mengalami


penambahan satu elektron dan satu proton. Muatan yang bertambah menyebabkan
energi ionisasi mengalami kenaikan dikarenakan adanya 2 patahan dalam grafik (Be
B dan N O). Energi ionisasi Boron lebih kecil dibanding energi ionisasi Berilium
karena orbital 2s pada boron terisi penuh (2s2) dan sekatan orbital 2s menjadi kuat.
Akibatnya energi ionisasi mengecil. Maka, energi ionisasi dapat meningkat sesuai
urutan EI1< EI2< EI3...
Page 7
Kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan energi ionisasi pertama yang telah
ditemukan secra eksperimen, yaitu:

Energi ionisasi unsur-unsur golongan A menurun dari atas ke bawah dalam


satu golongan. Contohnya energi ionisasi Litium (gol. IA) adalah 520kj/mol dan
Kalium (gol.IA) adalah 419kj/mol.

Dari kiri ke kanan dalam satu periode, energi ionisasi bertambah. Gas mulia
memiliki energi ionisasi yang relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan unsur
lainnya.

Afinitas Elektron

Afinitas elektron merupakan energi yang dilepaskan atau dibutuhkan apabila


suatu atom netral dalam keadaan gas menerima sebuah elektron dari luar.

Contoh :

Cl(g) + e Cl- (g) E= -3,615 ev

Semakin besar afinitas elektron suatu unsur maka energi yang dilepaskan
semakin besar (nilai (-) E , sedangkan unsur-unsur gas yang memiliki E (+) berarti
membutuhkan energi berupa ion negatif. Afinitas elektron ditentukan oleh tiga faktor,
yaitu muatan inti, jari-jari atom, dan konfigurasi elektron.

Semakin besar muatan inti atom, makin besar pula afinitas elektron. Berbeda dengan
muatan inti atom, semakin besar jari-jari atom, afinitas elektron makin mengecil.

Jari-jari Atom

Dalam satu periode, jari-jari atom dari kiri ke kanan makin kecil. Sedangkan
dalam satu golongan, jari-jari atom dari atas ke bawah makin besar karena ukuran
orbital meningkat dengan meningkatnya bilangan kuantum.

Page 8
Kelektronegatifan dan Kepolaran

Dalam satu periode, harga keelektronegatifan dari kiri ke kanan makin besar.
Sedangkan dalam satu golongan dari atas ke bawah makin kecil.

Berdasarkan skala Linius Pauling nilai keelektronegatifitas diperoleh melalui suatu


korelasi ekstensif dari energi ikat dalam bentuk energi resonansi ionik (Ionic
Resonance Energy = IRE).

Secara sederhana, persamaan Linus Pauling adalah sebagai berikut:

(EN)2 x 96 = IRE

Ket:
1. (EN) = Selisih keelektronegatifan unsur
2. IRE = Energi resonansi ionik atau selisih energi ikat terhitung rata-rata
dengan energi ikat terukur
3. 96 = Konstanta Linus Pauling

Logam dan Non Logam

Unsur-unsur dapat dibagi tiga yakni : logam, metaloida dan non logam. Logam
adalah suatu zat yang dapat menhantarkan listrik dan panas. Mempunyai sifat kilap dan
sifat mekanik tertentu seperti kekuatan regang, mudah ditempa dan liat. Unsur logam
terdapat disebelah kiri sistem periodik dan semua unsur transisi oadalah pada umumnya
adalah Iogam kecuali yang bersifat radioaktif. Ciri utama dari logam aktif golongan IA
dan IIA adalah kecenderungan melepaskan elektron kulit terluarnya sehingga
menghasilkan ion positif, dengan konfigurasi elektron menyerupai gas mulia.

Unsur non logam terletak di sebelah kanan sistem periodik. Unsur ini tidak
bersifat logam dan umumnya berbentuk serbuk atau gas pada keadaan normal. Unsur-
unsur nou-logam adalah atom-atom yang dapat mencapai konfigurasi elektron gas mulia
deugan cara menerima elektron. Unsur metaloida memiliki sifat di antara sifat logam dan
nin-Iogam. Batas antara Iogam dan non-logam tidak tajam, pada batas ini terletak

Page 9
metaloida. Masih belum ada kesepakatan tentang unsur-unsur metaloida. Pada umunya B,
Si, Ge, As, Sb, dan Te adalah unsur metaloida. Umumnya kelompok unsur metaloida
dapat digunakan sebagai acuan pengelompokan uunsr logam dan non-logam. Unsur
Iogam berada di sebelah kiri kelompok unsur metaloida dan unsur-unsur non logam
terletak di sebelah kanan kelompok unsur metaloida dalam tabel periodik.

Kecenderungan Umum Sifat Kimia Unsur

Umunya telah diketahui bahwa unsur-unsur dalam golongan yang sama


mempunyai kelakuan kimia yang sama atau mirip satu sama lain oleh karena
memilik konfigurasi elektron terluar yang sama. Meskipun demikian penerapan
konsep tersebut harus secara hati-hati tidak serta merta dapat digeneralisasi pada
semua unsur oleh karena ada beberapa yang bersifat berbeda diantaranya adanya
hubungan sifat secara diagonal.

Kemiripan unsur secara diagonal adalah kemiripan kelakuan kimia antara


sepasang unsur dalam golongan dan perioda berbeda dalam tabel periodik.
Khususnya tiga anggota pertama periode kedua yaitu : Li Be dan B
memperlihatkan kemiripan sifatkimia dengan unsur yang letaknya diagonal
dengannya pada periode ketiga yaitu : Mg, Be dengan Al dan B dengan Si.

Dalam membandingkan unsur-unsur dalam golongan yang sama kita harus


melakukan perbandingan yang benar misalnya unsur-unsur logam golongan IA
dengan golongan IIA dan unsur golongan non logam misalnya pada logam
golongan VIIA dan VIA. Khusus untuk golongan IIIA dan IVA, dimana ternyata
terjadi perubahan karakter unsur dari logam ke metaloida lalu ke sifat non logam
walaupun terdapat kemiripan konfigurasi elektron terluar.

Sifat Kimia Unsur Dalam Golongan

Unsur Hiidrogen

Page 10
Posisi yang tepat untuk hidrogen sulit ditemukan letaknya dimana dalam tabel
periodik oleh karena sifat fisika dan kimianya yang sangat beragam namun karena
unsur dalam tabel periodik disepakati disusun secara berkala berdasarkan kenaikan
nomor atom, maka unsur hidrogen diletakkan dalam golongan IA. Hidrogen mirip
dengan logam alkali karena memiliki satu elektron terluar pada kulit s, dengan
konfigurasi 1s1.

Unsur-Unsur Golongan IA

Pada bagian ini dikhususkan pada logam alkali (Li,Na,K,Rb dan Ca) dengan
konfigurasi electron terluar (1 . 2). Logam alkali mempunyai energy resonisasi
rendah dan kecenderungan nya kuat melepaskan electron valensi tunggalnya, cukup
reaktif sehingga jarang ditemukan secara lebar di dalam. Logam alkali dapat bereaksi
dengan air membentuk hidroksida logam alkali dengan melepaskan gas hydrogen,
dapat membentuk oksida, perioksida bahkan superioksida yang ketiganya
menghilangkan bentuk kilapan logamnya.

Perbedaaan karakter oksida logam alkali salah satunya disebabkan oleh


kekuatan ikatan antara kation dan anion pembentuknya, sebab semua oksida,
peroksida, dan superoksida adalah ikatan ionic. Misalnya Litium kestabilan oksidanya
lebih besar dan superoksidanya sangat tidak stabil sehingga peroksida Litium sulit
sekali ditemukan stabil dan eksis di alam. Demikian pula logam alkali yang lain yakni
Natrium dapat membentuk oksidan dan peroksida, bahkan K, Rb, Dan Cs selain dapat
membentuk oksida dan peroksida juga superoksida karena kestabilannya. Peroksida
logam alkali juga dapat bereaksi dengan gan CO2 membentuk garam karbonat dan
melepaskan gas oksigen. Logam alkali juga bereaksi dengan asam membentuk garam
dan gas hydrogen.

1. reaksi pembentukan Litium Oksida : 4Li (g) + O2 (g) 2LiO (p)


2. reaksi pembentukan Natrium Peroksida : 2Na (p) + O2 (g) 2Na2O
3. pembentukan Kalium superoksida : K (p) + O2 (g) KO2(p)
Unsur-Unsur Golongan IIA

Page 11
Logam-logam alakali tanah adalah : Be, Mg, Ca, Sr, dan Ba, logam ini juga
cukup reaktif namun tidak sereaktif jika dibandingkan dengan logam alkali.
Konfigurasi electron terluarnya adalah ( 2 , 2), memiliki kecenderungan
melepaskan kedua electron terluarnya membentuk ion M2+ dengan bentuk
konfigurasinya menyerupai konfigurasi gas mulia yang stabil dan karakter ini
meningkat dari Berilium ke Barium. Energy ionisasi pertama dan kedua dari logam
ini menurun dari Barilium sampai ke Barium dan khusus untuk berilium di alam lebih
cenderung berbentuk molecular dibanding berbentuk ionic terutama oksidasinya
berbentuk oksida amfoter bukan oksida logam yang bersifat basa.

Reaktifitas logam alkali tanah dengan air sangat berbeda-beda yaitu Berilium
tidak bereaksi dengan air, Magnesium bereaksi lambat dengan air mendidih dan
kalsium. Stronsium dan barium cukup reaktif dengan air dingin. Berilium dan
magnesium dapat membentuk oksida di atas suhu kamar dan kalsium, stronsium, serta
barium dapat membentuk peroksida ionic. Logam alkali tanah juga dapat beraksi
dengan asam membentuk garam dan gas hydrogen. Beberapa contoh reaksi yang
berhubungan dengan logam alkali tanah adalah sebagai berikut:

1. reaksi hidroksida logam alkali tanah


M(p) + H2O M(OH)2(aq) + H2
2. reaksi pembentukan oksida yang bersifat amfoter
2Be(g) + O2 2BeO(p)
3. reaksi peroksida logam alkali tanah dengan gas CO2 dan melepaskan gas oksigen
2MO2(p) + 2CO2 2MCO3(p) + O2(g)

Unsur-Unsur Golongan IIIA

Kelompok dari golongan ini adalah B, Al, Ga, In, dan Tl dengan konfigurasi
elekton terluar adalah ( 2 1 . 2). Boron sebagai unsure pertama bersifat
metalloid dan unsur lainnya adalah logam, Boron juga tidak membentuk senyawa
ionic biner dan juga tidak reaktif dengan gas oksidgen serta dengan air namun
cenderung berbentuk molekuler. Unsure berikutnya adalah aluminium dapat dengan
mudah membentuk oksida aluminium dengan udara.

Page 12
Kelompok unsure golonga IIIA memiliki kecenderungan melepaskan electron
terluarnya membentuk struktur M3+ suatu ion tripositif, namun kecenderungan ini
menurun dari atas ke bawah dalam golongannya. Boron dan Aluminium hanya
berbentuk ion tripositif M3+, namun unsure lain yakni Galium, Indium, dan Talium
dapat berbentuk ion unipositif M3- dan tripositif M3+ . Talium lebih stabil membentuk
Tl- daripada Tl3+ hal ini karena adanya efek pasangan stabil oleh karena semakin
bertambahnya kulit dan orbital sebagai konsekuensi bertambahnya nomor atom unsure
sehingga hanya satu electron yang mungkin untuk dilepaskan Ti+. Contoh reaksi yang
berkaitan dengan unsure golongan IIIA adalah sebagai berikut:

1. Reaksi hidroksida dengan logam golongan IIIA :


2M(p) + 6H2O(c) 2M(OH)3(p) + 3H2(g)
2. Reaksi pembentukan oksida yang bersifat amfoter
4Al(p) + 3O2(g) 2Al2O3

Unsur-Unsur Golongan IV A

Anggota unsur golongan IV A adalah : C, Si, Ge, Sn, dan Pb, memiliki
konfigurasi elektron terluar yaitu ns2 np2, n > 2. Karbon merupakan unsur non-logam,
silikon dan Germanium adalah unsur metaloid serta stannum dan Plumbum (Timah
dan Timbal) adalah unsur logam, dimana Sn dan Pb ini tidak bereaksi dengan air akan
tetapi bereaksi dengan asam membentuk garam dan melepaskan gas hydrogen. Di
antara beberapa jenis asam adalah asam-asam halide seperti HCl, HBr, dan lain-lain,
asam nitrat, asam asetat, asam sulfat, dan sebagainya.

Unsur-unsur golongan IVA ini jika membentuk senyawa dapat menggunakan


bilangan oksidasi +2 atau +4 tergantung kestabilan bilangan oksidasinya. Unsur
karbon dan silikon lebih stabil dengan menggunakan bilangan oksidasi +4, contohnya
CO2 (bilangan oksidasi C= +4) lebih stabil daripada CO (bilangan oksidasi C= +2),
dan SiO2 (bilangan oksidasi Si= +4) lebih stabil daripada SiO (Bilangan oksidasi S=
+2) pada suhu kamar. Kestabilan bilangan oksidasi +4 dari atas ke bawah semakin
kecil sebaliknya kestabilan bilangan oksidasi +2 dari atas ke bawah semakin besar
sehingga Pb (timbal) lebih stabil berbentuk Pb2+ (contoh senyawa PbO) dari pada

Page 13
Pb4+ (contoh senyawa timbal yang kurang stabil pada suhu kamar adalah PbO2.
Berikut adalah contoh-contoh reaksi yang berkaitan dengan unsur golongan IVA:

1. Reaksi pembentukan oksida non-logam: C(p) + O2(g) CO2 (g)


2. Reaksi pembentukan Oksida Metaloid: Si(p) + O2(g) SiO2
3. Reaksi pembentukan oksida logam: 2Pb(p) + O2(g) 2PbO(g)
4. Reaksi logam golongan IVA dengan asam:
M(p) + 2HX (aq) MX2(aq) + H2(g)
Unsur-Unsur Golongan VA

Golongan VA memiliki kelompok unsur yaitu : N, P, As, Sb, dan Bi dengan


konfigurasi elektron terluar adalah (ns2 np3, n 2 ). Dua unsur pertama yakni Nitrogen
dan Fosfor adalah non-logam, Arsen dan Antimon adalah metalloid serta Bismut adalah
logam yang kurang reaktif jika dibandingkan dengan logam-logam golongan IA sampai
golongan IVA unsur golongan VA memiliki kecenderungan menerima tiga elektron
untuk mencapai konfigurasi gas mulia yang stabil.

Nitrogen dapat bereaksi dengan oksigen membentuk banyak jenis oksida yaitu
NO, NO2, N2O, N2O4, N2O5, dimana semua jenis oksida tersebut berbentuk gas keuali
N2O5 yang berbentuk padat. Nitrogen juga dapat bereaksi dengan logam membentuk
senyawa nitride (N3-) yang isoelektronik denga gas mulia Neon, di antara senyawa
nitride yang dikenal adalah Li3N, Na3N, Mg3N2, dan lain-lain. Nitrogen dan fosfor
dapat berbentuk molekuler karena unsur tersebut adalah non-logam yaitu N2 dan P4.
Fosfor dapat membentuk dua macam oksida yang berbentuk padat yaitu: P 4O6 dan
P4O10.

Unsur-Unsur Golongan VI A

Kelompok unsur golongan VI A adalah: O, S, Se, Te, dan Po, yang memiliki
konfigurasi elektron terluar adalah (ns2 np4 , n 2). Oksigen, sulfur, dan selenium
adalah unsur-unsur non-logam yang berbentuk molekular seperti O2, O3, S8, Se8,
Telurium dan Polonium adalah metaloid, namun polonium bersifat radioaktif.

Dalam mencapai struktur yang stabil unsur-unsur golongan VIA cenderung menerima
dua elektron. Oksigen dapat dengan mudah menerima dua elektron membentuk O2-
namun oksigen dapat juga bereaksi dengan unsur lain dalam bentuk peroksida (O-) dan

Page 14
juga dalam bentuk superoksida (O2-) dan semua senyawa oksida, peroksida, dan
superoksida yang dihasilkan berbentuk ionik.

Unsur-unsur Golongan VII A

Semua unsur golongan halogen yaitu : F, Cl, Br, I, dan At adalah non logam
dan dalam struktur berbentuk molekular serta memiliki konfigurasi elektron terluar
adalah (ns2 np5 , n 2) namun unsur terakhir yaitu Astatin adalah unsur yang bersifat
radioaktif. Gas Fluor cukup reaktif dan dapat bereaksi dengan air membentuk asam
dan melepaskan gas oksigen.

Halogen memiliki energi ionisasi dan afinitas elektron negatif yang cukup
besar, sehingga sangat besar kemungkinannya untuk menerima elektron membentuk
anion (X-) yang memiliki kesamaan dengan konfigurasi gas mulia yang stabil. Jadi
golongan halogen yang membentuk anion adalah isoelektronik dengan Ne. Cl dengan
Ar, dan lain-lain. Golongan VIIA dapat dengan mudah membentuk garam dengan
unsur golongan IA dan IIA, dengan gas hidrogen membentuk asam hidrogen halide,
dan reaktifitasnya dengan hidrogen semakin berkurang dari atas ke bawah dalam
golongan VIIA. Asam Fluorida dengan gas hidrogen sangat eksplosif namun menjadi
berkurang jika asamnya adalah asam iodida.

Unsur-Unsur Golongan VIIIA

Kelompok unsur golongan ini adalah : He, Ne, Ar, Kr, Xe, dan Rn yang
disebut juga kelompok unsur gas mulia, dengan memiliki konfigurasi elektron terluar
yaitu (ns2 np5 , n 2). Helium adalah gas mulia yang paling tinggi ionisasinya
dibanding unsur gas mulia yang lain, sebab elektron terluarnya langsung berinteraksi
dengan inti. Kelompok unsur ini disebut juga unsur-unsur lembam yang sangat stabil
namun sejak tahun 1962 sudah ada beberapa unsur gas mulia yang sudah dapat
disintesis senyawanya, diantaranya adalah: XeF2, XeF4 , XeF6 , Cs2XeF8, XeOF4,
XeO3, XeO4, RbXeO7, dan lain-lain.

Sifat Oksida Unsur Periode Tiga

Page 15
Salah satu cara lain untuk membandingkan sifat-sifat unsur adalah
membandingkannya dalam satu perioda. Perbandingan yang dilakukan dengan
meninjau sederetan sifat-sifat senyawa yang mirip. Perioda yang dipilih adalah perioda
tiga dengan melihat beberapa karakter sifat asam basa senyawa oksidannya, jenis
kelogamannya, dan cara-cara sederhana membedakannya satu sama lain. Unsur
periode tiga adalah: Na, Mg, Al, Si, P, S , Cl, dan Ar yang jika membentuk oksida
maka akan menghasilkan senyawa: Na2O, MgO, Al2O3, SiO2, P2O5, SO3, dan Cl2O7,
Argon tidak dapat membentuk senyawa oksida sampai saat ini. Oksida berikut : Na2O,
MgO, dan Al2O3 bersifat senyawa ionik dan kelompok oksida SiO2, P2O5, SO3 dan
Cl2O7 adalah berbentuk molekuler yang ikatannya adalah ikatan kovalen. Oksida
Natrium dan Magnesium merupakan oksida basa namun kebasaan oksida Magnesium
sangat lemah sehingga lebih mudah bereaksi dengan air akan tetapi dapat bereaksi
dengan basa.

Oksida basa dengan mudah dikenali jika direaksikan dengan air umumnya
akan membentuk senyawa basa, oksida amfoter tidak dapat bereaksi dengan air namun
dapat bereaksi dengan asam kuat ataupun basa kuat dan oksida asam umumnya dapat
bereaksi dengan air membentuk senyawa yang besifat asam. Cara tersebut dapat
dilakukan terhadap senyawa oksida lain sebab secara umum senyawa oksida dapat
diklasifikasikan, apakah merupakan oksida asam, oksida basa, atau oksida amfoter,
apabila oksida tersebut direaksikan dengan air, asam kuat dan basa kuat.

Beberapa reaksi yang berkaitan dengan senyawa oksida pada perioda tiga
adalah sebagai berikut:

1. Reaksi oksida natrium: Na2O(p) + 2H2O(C) 2NaOH (aq)


2. Reaksi oksida aluminium: Al2O3 (p) + 6HCl(c) 2AlCl3 (aq) + 3H2O (c)
3. Reaksi oksida magnesium: MgO(p) + 2HCl(c) MgCl2 (aq) + H2O(c)
MgO(p) + 2NaOH(C) Mg(OH)2(aq) + H2O(c)
4. Reaksi oksida silicon: SiO2(p) + 2NaOH(c) Na2SiO3(aq) + H2O(c)
5. Reaksi oksida fosfor: 2P2O5(p) + 6H2O(c) 4H3PO
6. Reaksi oksida sulfur: SO3(g) + 2H2O(C) H2SO4
7. Reaksi oksida klor: Cl2O7(g) + 2H2O(c) 2HclO4(aq)
Perbandingan Unsur Golongan IA dan IB

Page 16
Perbandingan kelompok unsur golongan IA khususnya logam alkali dengan
kelompok unsur golongan IB yaitu: Cu, Ag, dan Au (Tembaga, Perak, Emas). Jadi
kesimpulannya bahwa meskipun kedua kelompok unsur tersebut memounyai
konfigurasi elektron terluar yang sama (sama-sama pada sub kulit ns1), namun
memiliki sifat kimia yang berbeda. Berdasarkan data energi ionisasi misalnya
diperoleh bahwa energi ionisasi unsur-unsur golongan IB (Cu, Ag, dan Au) masing-
masing adalah 754 kj/mol, 731 kj/mol, dan 890 kj/mol, yang jauh lebih besar daripada
energi ionisasi kelompok unsur logam alkali. Dari data tersebut memberikan gambaran
bahwa unsur golongan IB jauh kurang reaktif jika dibandingkan dengan kelompok
unsur golongan alkali. Kondisi ini disebabkan karena kelompok unsur pada golongan
IB memiliki orbital d yang terletak di bagian dalam orbital s yang belum terisi penuh,
akibatnya elektron terluar orbital s tertarik lebih kuat ke dalam inti.

Page 17
DAFTAR PUSTAKA

Tim dosen kimia, UNHAS. 2013. Kimia Dasar. Makassar

Page 18