Anda di halaman 1dari 34

Modul WPPE | Pengetahuan Tentang Efek

PENGETAHUAN TENTANG EFEK


EFEK YANG DIPERDAGANGKAN DI PASAR MODAL

Didukung

Gedung Bursa Efek Indonesia, Tower II Lantai 1, Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53,
Jakarta Selatan 12190 | Telp (021) 515 0 515 ext. 8102, 8103
www.ticmi.co.id
0
Modul Pengetahuan Tentang Efek WPPE | Edisi 2016
Modul WPPE | PTE

DAFTAR ISI

EFEK YANG DIPERDAGANGKAN DI PASAR MODAL .......................................... 1

I. PASAR UANG .......................................................................................... 1

II. PASAR MODAL ....................................................................................... 3

II.1. Saham ........................................................................................... 4

II.2. Obligasi.......................................................................................... 8

II.3. Reksa Dana .................................................................................. 15

II.4. EXCHANGE TRADED FUND (ETF) ..................................................... 20

II.5. DANA INVESTASI REAL ESTATE (DIRE/REITs)................................... 21

II.6. Derivatif ....................................................................................... 22

II.7. Pasar Modal Syariah ...................................................................... 27

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 i


Modul WPPE | PTE

EFEK YANG DIPERDAGANGKAN DI PASAR MODAL

Pasar keuangan merupakan penghubung antara unit defisit dengan unit surplus dan
merupakan jantung dari sistem keuangan karena kemampuannya menarik dana
masyarakat dan mengalokasikan kembali tabungan tersebut dalam bentuk pinjaman
ataupun investasi. Pasar keuangan terdiri dari pasar uang dan pasar modal.

I. PASAR UANG

Definisi
Pasar Uang merupakan sarana investasi dan mobilisasi dana jangka pendek.
Kehadiran pasar uang dilatar- belakangi adanya kebutuhan untuk mendapatkan
sejumlah dana dalam jangka pendek yang sifatnya harus dipenuhi dengan segera.
Pasar Uang merupakan sarana bagi lembaga keuangan, perusahaan non keuangan,
ataupun perorangan, untuk memenuhi kebutuhan danaataupununtukmenempatkan
kelebihan dana jangka pendeknya. Dengan demikian, Pasar Uang merupakan
tempatdimana kegiatan permintaan dan penawaranakan surat-surat berharga dengan
jangka waktu jatuh tempo kurang dari satu tahun saling bertemu.

Para Pelaku di Pasar Uang


1) Lembaga pemerintah: Bank Sentral, Departemen Keuangan
2) Lembaga Keuangan Perbankan: Bank Pemerintah, Bank Komersial
3) Lembaga Keuangan non Perbankan: Asuransi, Dana Pensiun, Lembaga
Pembiayaan, Lembaga Jasa Keuangan
4) Lembaga di Pasar Modal
5) Institusi umum dan perorangan

Fungsi Pasar Uang


1) Bagi pihak yang membutuhkan dana:
a. Untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek
b. Untuk menjaga likuiditas jangka pendek
c. Untuk memenuhi kebutuhan modal kerja
d. Untuk memenuhi kebutuhan kalah kliring
2) Bagi pihak yang menyalurkan dana:
a. Sebagai sarana untuk menabung dan berjaga-jaga
b. Sebagai sarana investasi
3) Bagi Lembaga Pemerintah:
a. Sebagai sarana untuk memobilisasi dana masyarakat
b. Sebagai sarana untuk melakukan kebijakan moneter (ekspansi dan kontraksi
moneter)

Ciri-ciri Pasar Uang


1) Jangka waktu jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun
2) Tidak terikat pada tempat tertentu
3) Pada umumnya para pelaku bertemu secara langsung (OTC)
4) Tidak memerlukan adanya guarantor/ underwriter.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 1


Modul WPPE | PTE

Instrumen Pasar Uang di Indonesia


Sertifikat Bank Indonesia (SBI):
Instrumen utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau bank sentral atas unjuk
dengan jumlah tertentu yang akan dibayarkan kepada pemegang pada tanggal yang
telah ditetapkan. Instrumen ini berjangka waktu jaruh tempo satu tahun atau kurang.

1) Surat Berharga Pasar Uang (SBPU):


Surat - surat berharga berjangka pendek yang dapat diperjualbelikan secara
diskonto dengan Bank Indonesia atau lembaga diskonto yang ditunjuk oleh
BI.
2) Surat Perbendaharaan Negara (SPN):
Surat pengakuan utang yang dikeluarkan oleh negara, dalam Rupiah
maupun Valas berjangka waktu sampai dengan 12 bulan dengan
pembayaran bunga secara diskonto. Di beberapa Negara, SPN dikenal
dengan sebutan Treasury Bills (T-Bills).
3) Deposito:
Sertifikat Deposito adalah instrumen keuangan yang diterbitkan oleh suatu
bank atas unjuk dan dinyatakan dalam suatu jumlah, jangka waktu dan
tingkat bunga tertentu. Sertifikat Deposito dapat diperdagangkan dan
dicairkan oleh pemegangnya kapan saja. Sedangkan Deposito Berjangka
adalah simpanan yang penarikannya hanya bisa dilakukan oleh deposan
yang namanya tertera dalam bilyet deposito, pada waktu tertentu sesuai
dengan tanggal yang telah diperjanjikan dengan pihak bank
4) Commercial Paper:
Surat berharga komersial yang merupakan surat sanggup (promise) tanpa
jaminan (unsecured debt) yang diterbitkan oleh perusahaan dan
diperdagangkan melalui bank atau perusahaan efek, berjangka waktu
pendek (short term) dan diperdagangkan dengan sistem diskonto. Jangka
waktu CP paling lama adalah 270 hari.
5) Call Money:
Kegiatan pinjam meminjam dana antara bankyang terjadi dalam proses
kliring di Bank Indonesia. Call money disediakan bagi bank yang mengalami
kalah kliring untuk dan tidak memiliki likuiditas cukup untuk menutup
kekalahan kliring. Jangka waktu kredit berkisar 1 s/d 7 hari.
6) Repurchase Agreement (REPO):
Transaksi jual beli surat-surat berharga disertai dengan perjanjian bahwa
penjual akan membeli kembali surat-surat berharga yang dijual tersebut
pada tanggal dan dengan harga yang telah ditetapkan. REPO juga berfungsi
seperti secured loan, yang menggunakan instrumen Obligasi korporasi,
Obligasi Negara (Surat Utang Negara), SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan
Saham sebagai jaminannya.
7) Banker's Acceptance
Suatu instrumen pasar uang yang digunakan untuk memberikan kredit pada
eksportir atau importir untuk membayar sejumlah barang atau untuk
membeli valuta asing. Jangka waktu Bank acceptance berkirsar antara 1
sampai 6 bulan. Bunga sekuritas didapatkan dengan sistem diskonto
dimana bunganya dibayarkan dimuka berupa diskon terhadap nilai
nominalnya.
Indikator Pasar Uang
Indikator pasar uang sangat diperlukan untuk mengukur atau paling tidak mengamati
perkembangan pasar uang. Indikator pasar uang meliputi:

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 2


Modul WPPE | PTE

1) Suku bunga Pasar Uang Antar Bank (Rp)


Tingkat bunga yang dikenakan oleh bank terhadap bank lain dalam hal
pinjam meminjam dana dalam bentuk rupiah.
2) Volume transaksi Pasar Uang Antar Bank (Rp)
Jumlah transaksi antar bank dalam hal pinjam meminjam dalam bentuk
rupiah.
3) Suku bunga Pasar Uang Antar Bank (US$)
Tingkat bunga yang dikenakan oleh bank terhadap bank lain dalam hal
pinjam meminjam dana dalam bentuk US$.
4) Volume transaksi Pasar Uang Antar Bank (US$)
Jumlah transaksi antar bank dalam hal pinjam meminjam dalam bentuk
US$.
5) JIBOR (Jakarta Interbank Offered)
Suku bunga yang ditawarkan untuk transaksi pinjam meminjam antar bank.
6) Suku bunga deposito Rupiah (%/th)
Tingkat bunga yang diberikan para deposan yang mendepositokan uangnya
dalam bentuk Rupiah.
7) Suku bunga deposito US$ (%/th)
Tingkat bunga yang diberikan para deposan yang mendepositokan uangnya
dalam bentuk US $.
8) Nilai Tukar Rupiah (Kurs)
Harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau nilai dari suatu
mata uang terhadap mata uang lainnya.
9) Suku bunga kredit Tingkat
Bunga kredit yang dikenakan bank atau lembaga keuangan lainnya kepada
para kreditor.
10) Inflasi Kenaikan tingkat harga barang dan jasa secara umum dan terus
menerus suatu waktu tertentu.
11) Indeks Harga Konsumen (IHK)
Angka indeks yang menunjukkan tingkat harga barang dan jasa yang harus
dibeli konsumen dalam suatu periode tertentu.
12) Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Instrumen investasi jangka pendek yang bebas resiko.

II. PASAR MODAL

UU No. 8/1995 tentang Pasar Modal (UUPM), menyebutkan bahwa Pasar Modal
merupakan wadah untuk melakukan transaksi perdagangan berbagai instrumen
keuangan jangka panjang, seperti:surat utang (obligasi), ekuitas (saham), reksa
dana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya.

Transaksi jual beli efek pasar modal dilakukan di Bursa Efek, yaitu pihak yang
menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan
penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek
diantara mereka.

Berdasarkan UUPM, Efek adalah surat berharga berbentuk surat pengakuan utang,
surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, unit penyertaan,

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 3


Modul WPPE | PTE

kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek dan setiap bentuk derivatif
atas efek.

Adapun Efek-efek yang ditransaksikan di Pasar Modal di Indonesia adalah sebagai


berikut:
1) Saham:
2) Obligasi
3) Derivatif (rights, waran, options, futures)
4) Unit penyertaan Reksa Dana
5) Exchange Traded Fund (ETF)
6) Efek Beragun Aset (EBA)/ABS
7) Dana Investasi Real Estate (DIRE)/REITs

II.1. Saham
Merupakan jenis efek yang paling sering dipergunakan oleh emiten untuk memperoleh
dana dari masyarakat dan juga merupakan jenis yang paling populer di Pasar Modal.

Jenis Saham Berdasarkan Hak Klaim


1) Saham Biasa (Common Stock)
a. Dividen hanya akan diterima jika disetujui dalam RUPS
b. Memiliki hak suara (voting rights) dalam RUPS
c. Memiliki hak terakhir (junior) atas pembagian dividen serta aset perusahaan
saat likuidasi
d. Memiliki hak untuk mengalihkan kepemilikannya kepada pihak lain
2) Saham Preferen (Preferred Stock)
a. Tidak memiliki hak suara (voting rights) dalam RUPS
b. Memiliki hak untuk menerima dividen dalam jumlah yang tetap setiap tahun
c. Memiliki hak terlebih dahulu (utama) atas pembagian dividen serta aset
perusahaan saat likuidasi
d. Memiliki hak untuk mengkonversi kepemilikannya menjadi saham biasa

Adapun jenis-jenis saham preferen adalah sebagai berikut:


1) Participating preferred (saham preferen partisipasi).
Pemegang saham memperoleh partisipasi atas sisa laba setelah
dibagikan kepada pemegang saham preferen dan saham biasa.
2) Participating Non preferred.
Pemegang saham tidak memperoleh partisipasi atas sisa laba setelah
dibagikan kepada pemegang saham preferen dan saham biasa.
3) Cummulative preferred (saham preferen kumulatif).
Dividen yang tidak dibayar dalam suatu tahun harus dibayar dalam
tahun berikutnya sebelum laba dapat dibagikan kepada pemegang
saham biasa. Jika direktur tidak mengumumkan dividen pada tanggal
pembagian dividen yang biasa, maka dividen itu disebut sebagai
passed (terlewat). Setiap dividen yang terlewat atas saham preferen
kumulatif merupakan dividen tertunggak (dividen in arrears).
4) Non cumulative preferred (saham preferen nonkumulatif)
Saham preferen nonkumulatif jarang diterbitkan karena dividen yang
terlewat akan hilang selamanya bagi pemegang saham preferen dan
penerbitan saham ini tidak dapat dipasarkan.
5) Convertible preferred (saham preferen konvertibel).

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 4


Modul WPPE | PTE

Pemegang saham dapat, menurut opsinya, menukar saham preferen


menjadi saham biasa pada rasio yang telah ditentukan sebelumnya.

Jenis Saham berdasarkan Bentuk Kepemilikan


1) Saham atas unjuk (Bearer Stock)
a. Pada saham tersebut tidak tertulis nama pemiliknya, agar mudah
dipindahtangankan dari satu investor ke investor lainnya.
b. Secara hukum, siapa yang memegang saham tersebut, maka dialah diakui
sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam RUPS.

2) Saham atas nama (Registered Stock)


a. Merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa nama pemiliknya, di mana
cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.
b. Seluruh saham saat ini merupakan saham atas nama

Imbal Hasil Investasi Saham


Pada dasarnya, ada tiga keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau
memiliki saham
1) Dividen
Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan
berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah
mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal
ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham
tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham
tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang
berhak mendapatkan dividen.
Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa:
a. Dividen tunai
Jika emiten membagikan hasil keuntungan perusahaan kepada setiap
pemegang saham dalam bentuk uang tunai untuk setiap lembar saham yang
dimiliki
b. Dividen Saham
Jika emiten membagikan hasil keuntungan perusahaan kepada setiap
pemegang saham dalam bentuk saham perusahaansesuai proporsi
kepemilikannya, sehingga jumlah saham yang dimiliki investor akan
bertambah setelah pembagian dividen saham tersebut. Dividen saham yang
dikeluarkan diambil dari pos Laba Ditahan perusahaan

2) Capital Gain
Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain
terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder.
Misalnya Investor membeli saham ABC dengan harga per saham Rp 3.000
kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal
tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang
dijualnya.

3) Saham Bonus
Saham Bonus adalah saham yang dibagikan secara cuma-cuma kepada para
pemegang saham, sesuai dengan proporsi kepemilikan sahamnya.Bonus saham

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 5


Modul WPPE | PTE

yang dibagikan, diambil dari agio saham. Agio saham adalah selisih antara harga
jual saham terhadap harga nominalnya saat penawaran umum dipasar perdana.

Risiko Investasi Saham


Sebagai instrument investasi, saham memiliki risiko, antara lain:

1) Capital Loss
Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana investor
menjual saham lebih rendah dari harga beli. Misalnya saham PT. XYZ yang di beli
dengan harga Rp 2.000,- per saham, kemudian harga saham tersebut terus
mengalami penurunan hingga mencapai Rp 1.400,- per saham.
Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, investor menjual pada harga
Rp 1.400,- tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar Rp 600,- per saham.

2) Risiko Kebangkrutan
Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan, atau
perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham
mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi
(dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil
penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara
proporsional kepada seluruh pemegang saham.Namun jika tidak terdapat sisa
kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari
likuidasi tersebut. Kondisi ini merupakan risiko yang terberat dari pemegang
saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus menerus
mengikuti perkembangan perusahaan.

3) Risiko Likuiditas Aset


Saham dikatakan likuid apabila mudah sekali untuk diperjual-belikan. Saham tidur
adalah istilah bagi saham yang tidak banyak diperdagangkan akibat tidak adanya
investor yang berminat untuk membeli saham karena dianggap tidak layak beli,
ataupun sebaliknya akibat tidak adanya investor yang ingin menjualnya karena
saham dianggap sangat berharga.

4) Risiko Delisting
Risiko jika saham perusahaan dikeluarkan dari papan perdagangan diBursa Efek
(delist). Suatu saham perusahaan akandi-delistingkarena kinerja perusahaan yang
buruk, seperti: kerugian besar dan/atau tidak membagikan deviden selama
beberapa tahun berturut-turut dan berbagai kondisi lainnya seperti pelanggaran
terhadap peraturan pencatatan di bursa. Adapula perusahaan yang keluar dari
bursa dengan tujuan Go Private, tidak akan merugikan investor karena perusahaan
masih tetap beroperasi dan dapat melakukan pembelian kembali saham-saham yg
diterbitkan kepada publik (Buy Back).

5) Risiko Suspending
Jika suatu saham di suspend atau diberhentikan perdagangannya oleh otoritas
bursa efek, maka investor tidak dapat melakukan perdagangan hingga
statussuspend dicabut. Suspend dapat berlangsung dalam waktu singkat misalnya
dalam 1 sesi perdagangan, 1 hari perdagangan namun dapat pula berlangsung
dalam kurun waktu beberapa hari perdagangan. Hal yang dapat menyebabkan
suspending adalah jika:
Suatu saham mengalami lonjakan harga yang luar biasa,

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 6


Modul WPPE | PTE

Suatu perusahaan dipailitkan oleh kreditornya


Berbagai kondisi lainnya yang mengharuskan otoritas bursa menghentikan
sementara perdagangan saham tersebut untuk dimintakan konfirmasi lainnya.
Sedemikian hingga informasi yang belum jelas tersebut tidak menjadi ajang
spekulasi

6) Risiko Unik (unsystematic risk) dan Risiko Pasar (systematic risk)


Dalam aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga-harga saham mengalami
fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan. Harga saham terbentuksebagai
akibatdari interaksi antara permintaan dan penawaran atas saham, sebagai reaksi
atas informasi yang diterima oleh pasar. Informasi dapat berupa informasi yang
unik dan spesifik perusahaan, seperti: kinerja perusahaan serta kondisi industri
dimana perusahaan tersebut bergerak ataupun informasiekonomi yang sistematik
dan bersifat makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar juga faktor-faktor
non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, budaya dan faktor sistematik non
ekonomi lainnya.

Beberapa Istilah bagi Saham dalam Mekanisme Perdagangan

Saham likuid
Saham yang dapat segera dikonversi menjadi uang, artinya ketika ingin dijual segera
ada yang membeli, dan harganya relatif stabil. Dengan kata lain saham likuid adalah
saham yang sering diperdagangkan. Bursa Efek Indonesia memiliki daftar saham LQ-
45 yang terdiri dari 45 saham yang memiliki likuiditas yang tinggi, dengan
mempertimbangkan kapitalisasi pasarnya. Berdasarkan buku panduan Indeks Harga
Saham BEI, kriteria pemilihan saham yang termasuk dalam daftar saham LQ-45
adalah sebagai berikut:
a. Telah tercatat di BEI minimal 3 bulan.
b. Aktivitas transaksi di pasar reguler, yaitu nilai, volume, dan frekuensi
transaksi.
c. Jumlah hari perdagangan di pasar reguler.
d. Kapitalisasi pasar pada periode waktu tertentu.
e. Keadaan keuangan dan prospek pertumbuhan perusahaan

Saham blue chip


Saham yang menjadi buruan para investor, karena dianggap akan menghasilkan
keuntungan yang tinggi. Ciri-cirinya adalah kinerja keuangannya sehat, likuiditas
saham di pasar tinggi, ditransaksikan pada harga yang wajar, dan pergerakan atau
fluktuasi harga saham di pasar berlangsung secara wajar.

Undervalued stock
Saham dikatakan undervalued jika nilai pasarnya (market value) lebih rendah
daripada nilai bukunya (book value). Dengan kata lain, harganya lebih rendah
daripada nilai intrinsiknya.

Overvalued stock
Berlawanan dengan undervalued stock, overvalued stock adalah saham yang nilai
pasarnya (market value) lebih tinggi daripada nilai bukunya (book value).

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 7


Modul WPPE | PTE

Growth stock
Saham perusahaan dengan pendapatan yang lebih tinggi atau lebih cepat
pertumbuhannya daripada industri atau pasar keseluruhan. Perusahaan ini umumnya
membayar sedikit dividen atau tidak sama sekali, karena lebih memilih menggunakan
pendapatannya untuk membiayai proyek-proyek ekspansi bisnisnya.

Value stock
Saham yang cenderung diperdagangkan pada harga lebih rendah jika dibandingkan
dengan nilai fundamentalnya, sehingga dianggap undervalued. Ciri-cirinya adalah
hasil dividen yang tinggi dan price-to-earnings ratio yang rendah.

Efek Marjin
Transaksi marjin adalah transaksi pembelian efek untuk kepentingan nasabah yang
dibiayai oleh perusahaan efek. Efek marjin adalah efek yang memenuhi persyaratan
sebagai efek yang dapat ditransaksikan dalam transaksi marjin sesuai dengan daftar
efek marjin yang ditetapkan oleh Bursa.

Efek Short Selling


Transaksi short selling adalah transaksi penjualan efek dimana efek dimaksud tidak
dimiliki oleh penjual pada saat transaksi dilaksanakan. Efek short selling adalah efek
yang memenuhi persyaratan sebagai efek yang dapat ditransaksikan dalam transaksi
short selling sesuai dengan daftar efek shortselling yang ditetapkan oleh Bursa.

II.2. Obligasi
Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat
dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar
imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu
yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut.

Jenis obligasi berdasarkan penerbit


a. Corporate Bonds
Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk badan usaha
milik negara (BUMN), atau badan usaha swasta.
b. Government Bonds
Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.
c. Municipal Bond
Obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah untut membiayai proyek-
proyek yang berkaitan dengan kepentingan publik (public utility).

Jenis obligasi berdasarkan sistem pembayaran bunga


1) Zero Coupon Bonds
Obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga secara periodik. Namun,
bunga dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo
2) Coupon Bonds
Obligasi dengan kupon yang dapat diuangkan secara periodik sesuai dengan
ketentuan penerbitnya.
a. Fixed Coupon Bonds:
Obligasi dengan tingkat kupon bunga yang telah ditetapkan sebelum masa
penawaran di pasar perdana dan akan dibayarkan secara periodik.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 8


Modul WPPE | PTE

b. Floating Coupon Bonds:


Obligasi dengan tingkat kupon bunga yang ditentukan sebelum jangka waktu
tersebut, berdasarkan suatu acuan (benchmark) tertentu seperti average time
deposit (ATD) yaitu rata-rata tertimbang tingkat suku bunga deposito dari bank
pemerintah dan swasta.

Jenis obligasi berdasarkan hak penukaran/opsi


a. Convertible Bonds:
Obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversikan
obligasi tersebut ke dalam sejumlah saham milik penerbitnya.
b. Exchangeable Bonds:
Obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk menukar saham
perusahaan ke dalam sejumlah saham perusahaan afiliasi milik penerbitnya.
c. Callable Bonds:
Obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk membeli kembali obligasi
pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.
d. Putable Bonds:
Obligasi yang memberikan hak kepada investor yang mengharuskan emiten untuk
membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.

Jenis obligasi berdasarkan jaminan atau kolateralnya


1) Secured Bonds:
Obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari penerbitnya atau dengan
jaminan lain dari pihak ketiga. Dalam kelompok ini, termasuk didalamnya adalah:
a. Guaranteed Bonds:
Obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin denan penangguangan
dari pihak ketiga
b. Mortgage Bonds:
Obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan agunan hipotik
atas properti atau asset tetap.
c. Collateral Trust Bonds:
Obligasi yang dijamin dengan efek yang dimiliki penerbit dalam portofolionya,
misalnya saham-saham anak perusahaan yang dimilikinya.
2) Unsecured Bonds:
Obligasi yang tidak dijaminkan dengan kekayaan tertentu tetapi dijamin dengan
kekayaan penerbitnya secara umum.

Jenis Obligasi dilihat dari sisi segi nilai nominal


1) Konvensional Bonds:
Obligasi yang lazim diperjualbelikan dalam satu nominal, Rp 1 miliar per satu lot.
2) Retail Bonds:
Obligasi yang diperjual belikan dalam satuan nilai nominal yang kecil, baik
corporate bonds maupun government bonds.

Karakteristik Obligasi
1) Memiliki Nilai Nominal (Face Value):
Nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada
saat obligasi tersebut jatuh tempo.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 9


Modul WPPE | PTE

2) Kupon (the Interest Rate):


Nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala (kelaziman
pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulanan) Kupon obligasi
dinyatakan dalam annual prosentase.
3) Waktu Jatuh Tempo (Maturity):
Tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok
atau Nilai Nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi
mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun. Obligasi yang akan jatuh tempo
dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk di prediksi, sehingga memilki resiko
yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo
dalam waktu 5 tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi,
semakin tinggi Kupon / bunga nya.

Manfaat Berinvestasi Obligasi


Bagi emiten (issuer)
a) Alternatif pendanaan yang relatif murah dibandingkan pinjaman di Bank.
b) Dibandingkan menerbitkan saham, posisi kepemilikan perusahaan tidak akan
mengalami perubahan.
c) Sifat utang dalam bentuk jangka panjang memberikan fleksibilitas yang tinggi bagi
manajemen emiten dalam penggunaan dana.

Bagi investor
a) Alternatif investasi yang aman
b) Berpotensi mendapatkan capital gain
c) Kedudukan investor obligasi lebih senior dibandingkan saham
d) Mendapatkan kupon secara periodik dan pelunasan pokok diakhir umur obligasi.
e) Memperoleh penghasilan secara periodik dalam jangka waktu yang panjang.
f) Memperoleh yield yang lebih tinggi dibandingkan instrumen jangka pendek,
misalnya deposito

Imbal Hasil Investasi di Obligasi


1) Bunga
Dibayar secara reguler sampai jatuh tempo danditetapkan dalam persentase dari
nilai nominal.
Biasanya pembayaran bunga terjadi setiap 3 atau 6 bulan sekali.
2) Capital Gain
Sebelum jatuh tempo biasanya obligasidiperdagangkan di Pasar Sekunder,
sehingga investormempunyai kesempatan untuk memperoleh CapitalGain.
Capital Gain juga dapat diperoleh jika investormembeli obligasi dengan diskon
yaitu dengan nilailebih rendah dari nilai nominalnya, kemudian padasaat jatuh
tempo ia akan memperoleh pembayaransenilai dengan harga nominal.
3) Hak klaim pertama
Jika emiten bangkrut atau dilikuidasi, pemegangobligasi sebagai kreditur memiliki
hak klaim pertamaatas aktiva perusahaan.
4) Hak konversi menjadi saham untuk pemegang Obligasi Konversi
Investor dapat mengkonversikan obligasi menjadi saham pada harga yang telah
ditetapkan, dan kemudian berhak untuk memperoleh manfaat atas saham.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 10


Modul WPPE | PTE

Risiko Investasi pada Obligasi


1) Inflation Risk: Risiko inflasi yang mendorong turunnya daya beli masyarakat
2) Political Risk: Kemungkinan terjadi nasionalisasi atau tindakan pemerintah yang
merugikan
3) Credit Risk/ Default Risk: Risiko dimana penerbit tidak dapat memenuhi
kewajibannya pada saat jatuh tempo
4) Rating Risk: Penurunan harga pasar obligasi karena lembaga pemeringkat efek
menurunkan rating/bobot nilainya.
5) Likuiditas: Risiko yang dihadapi saat investor tidak dapat menjual obligasinya
sebelum jatuh tempo, pada saat investor membutuhkan dana.
6) Interest rate risk: Risiko yang muncul akibat pergerakan suku bunga
7) Call risk: Risiko yang muncul akibat penerbit obligasi menarik kembali seluruh
atau sebagian obligasi sebelum jatuh tempo
8) Yield curve risk: Risiko yang terjadi sebagai dampak perubahan bentuk yield
curve
9) Prepayment Risk (mirip dengan call risk): Risiko yang timbul sebagai dampak
adanya pelunasan pokok obligasi yang tidak terjadwal. Biasanya pada residential
mortgage.
10) Reinvestment Risk: Risiko yang terjadi akibat bunga yang diperoleh
diinvestasikan kembali, dan memperoleh suku bunga yang lebih rendah.
11) Foreign Exchange Risk: Risiko yang terjadi akibat perubahan nilai tukar mata
uang internasional terhadap mata uang suratberharga. Risiko ini dialami jika kita
memegang obligasi dalam valuta asing.
12) Volatility Risk: Risiko yang timbul sebagai dampak dari opsi (option) yang
melekat pada obligasi (call, prepayment or put)
13) Event Risk: Risiko yang terjadi diluar pasar keuangan seperti bencana alam
maupun pengambilalihan perusahaan.
14) Public Policy Risk: Risiko akibat perubahan kebijakan pemerintah yang
mempengaruhi sektor usaha penerbit surat berharga sehingga mempengaruhi
pendapatan.

Index Obligasi
Manfaat Indeks Obligasi
a. Sebagai barometer dalam melihat perubahan yang terjadi di pasar obligasi
b. Sebagai alat teknikal untuk pasar obligasi pemerintah
c. Benchmark untuk mengukur kinerja portofolio obligasi
d. Analisa pengembangan instrumen Surat Berharga Negara (SBN)

Indonesia Government Bond Index (IGBX)


Pada tanggal 1Juli 2004 BEI meluncurkan Indeks Obligasi Negara dengan nama
Indonesia Government Bond Index (IGBX). Indeks ini dapat digunakan sebagai:
a. Barometer dalam melihat perubahan yang terjadi di pasar obligasi
b. Alat analisa teknikal untuk pasar obligasi pemerintah
c. Benchmark dalam mengukur kinerja portofolio obligasi
d. Analisa pengembangan instrumen Surat Berharga Negara (SBN).

IGBX diterbitkan secara harian dengan menggunakan tahun dasar Juni 2004 yang
ditetapkan 100 sebagai nilai dasar indeks. Metodologi yang dipakai untuk perhitungan
IGBX adalah nilai rata-rata tertimbang (weighted average) terhadap nilai obligasi
yang masih tercatat dan dapat diperdagangkan.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 11


Modul WPPE | PTE

Indonesia Bond Index (INDOBex)


Indeks obligasi ini diluncurkan oleh OJK pada 21 November 2014 lalu bekerja-sama
dengan BEI dan Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) untuk mengukur kinerja dan
tren pergerakan pasar obligasi Indonesia. Indeks ini dihitung menggunakan harga
pasar dan yield wajar yang ditetapkan IBPA. INDOBex diharapkan dapat menjadi
acuan utama dalam mengukur kinerja pasar obligasi dalam negeri serta mampu
menjadi indikator kinerja portofolio obligasi dalam pengambilan keputusan investasi
di pasar obligasi oleh investor.

INDOBeX adalah indeks obligasi berdenominasi rupiah yang diterbitkan oleh


pemerintah dan korporasi baik obligasi konvensional maupun sukuk. Per Agustus
2015, INDOBeX mencakup:
1. INDOBex Composite
2. INDOBex Government
3. INDOBex Corporate

Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Index


Indeks IBPA adalah indikator kinerja pasar obligasi Indonesia yang diterbitkan oleh
IPBA selaku anak perusahaan BEI yang bertugas melakukan penilaian harga atas Efek
bersifat utang, Sukuk dan surat berharga lainnya untuk menetapkan harga pasar
wajar (fair values) sehingga memungkinkan investor untuk menilai investasinya.

Perbedaannya dengan INDOBex, terletak pada:


a. Nilai Outstanding obligasi : minimal IDR50miliar
b. Waktu Jatuh Tempo : < dari 1 tahun (365 hari) dari legal maturity
c. Base Date :10 Januari 2010

Untuk saat ini IBPA sudah mengeluarkan 5 buah index, yaitu:


a. IBPA Composite Bond Index (ICBI)
Indeks yang menggabung antara seluruh obligasi pemerintah dan obligasi
korporasi di Indonesia yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh IBPA.
b. IBPA Government Bond Index (GBIX)
Indeks yang menggabungkan seluruh obligasi pemerintah baik yang konvensional
maupun yang berbasis syariah di Indonesia yang sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan oleh IBPA
c. IBPA Corporate Bond Index (CIBX)
Indeks yang menggabungkan seluruh obligasi korporasi baik yang konvensional
maupun yang berbasis syariah di Indonesia yang sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan oleh IBPA
d. IBPA Convesional Bond Index (VBIX)
Indeks yang menggabungkan obligasi pemerintah dan obligasi swasta non syariah
yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh IBPA
e. IBPA Sukuk Index (SIX)
Indeks yang menggabungkan seluruh obligasi syariah baik yang diterbitkan oleh
pemerintah ataupun swasta di Indonesia yang sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan oleh IBPA

Peringkat Obligasi

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 12


Modul WPPE | PTE

Untuk menentukan kualitas dan risiko dari sebuah obligasi, maka investor dapat
menggunakan peringkat atau rating obligasi. Semakin tinggi rating-nya, semakin
aman pula obligasi tersebut. Sebaliknya, semakin rendah peringkatnya, semakin
tinggi risikonya. Menurut konsensus para pelaku pasar, obligasi yang masuk dalam
kategori layak investasi harus memiliki rating minimal BBB. Untuk lebih mudah dalam
menyeleksi obligasi, investor bisa memanfaatkan peringkat atau rating obligasi yang
dikeluarkan oleh perusahaan pemeringkat atau rating agency.

Di kancah internasional, ada beberapa lembaga pemeringkat yang selalu menjadi


acuan pelaku pasar, yakni Moody's, Standard & Poors (S&P), dan Fitch Rating.
Sementara, di Indonesia, ada tiga lembaga pemeringkat yang saat ini aktif:
Perusahaan Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Fitch Rating Indonesiadan
Indonesia Credit Rating Agency (ICRA)

Metodologi pemeringkatan Pefindo untuk Sektor korporasi (nonfinancial) secara


umum, mencakup tiga risiko utama penilaian, yaitu risiko industri (industryrisk), risiko
bisnis (businessrisks) dan risiko finansial (financial risks). Sementara itu, faktor kunci
dalam analisis penilaian risiko profil bisnis perusahaan sedikit berbeda dari satu
perusahaan ke yang lain, tergantung pada Faktor-faktor Kunci Kesuksesan (Key
Success Factors) dari industri dimana perusahaan tersebut digolongkan. Juga penting
untuk dicatat bahwa semua analisis akan mencakup analisis perbandingan terhadap
pesaing-pesaing sejenis dalam industri yang sama maupun industri itu sendiri dengan
industri lainnya.

1) Penilaian risiko industri untuk peringkat KORPORASI non Keuangan


a. Pertumbuhan industri dan stabilitas (growth and stability)
Penilaian yang terkait dengan kondisi permintaan dan penawaran,
prospek, peluang pasar (ekspor vs domestik), tahapan industri (awal,
pengembangan, matang, atau penurunan), dan jenis produk (produk yang
bersifat pelengkap vs produk yang bisa disubstitusi, umum vs khusus, dan
komoditas vs differensiasi).
b. Penghasilan & struktur biaya dari Industri (revenue and cost
structures)
Penilaian yang mencakup pemeriksaan komposisi aliran pendapatan
(Rupiah vs US Dollar), kemampuan untuk menaikkan harga (kemampuan
untuk dengan mudah meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan/para
pengguna akhir), tenaga kerja & bahan baku, struktur biaya dan komposisi
(Rupiah vs Rp dolar), komposisi biaya tetap vs biaya variabel, dan
pengadaan bahan baku industri (domestik vs impor).
c. Hambatan masuk & persaingan dalam industri (barrier to entry &
competition within industry)
Penilaian yang mencakup penilaian terhadap karakteristik industri (padat
modal, padat karya, terfragmentasi, menyebar, diatur ketat, dan
sebagainya) untuk menentukan tingkat kesulitan masuk bagi para pemain
baru. Penilaian juga mencakup analisis jumlah pemain dalam industri
(global vs domestik), pesaing terdekat (domestik vs global), potensi
perang harga (domestik vs global), dan lain-lain untuk mengetahui tingkat
kompetisi yang ada dan yang akan datang.
d. Peraturan dan de-regulasi industri (regulation and de-regulation)
Pembatasan jumlah pemain, lisensi, kebijakan pajak (ekspor, impor,
kuota, tarif, bea, cukai, dll), kebijakan harga pemerintah (peraturan

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 13


Modul WPPE | PTE

pemerintah Indonesia mengatur harga di beberapa sektor seperti listrik,


jalan tol, dan telepon) dan persyaratan lingkungan (khususnya untuk
sektor pertambangan) dan lain-lain.
e. Profil Keuangan (financial profile)
Industri umumnya dikaji dengan analisis beberapa tolak ukur keuangan
yang diambil dari beberapa perusahaan besar dalam industri yang
sebagian besar dapat mewakili industri masing-masing. Analisis Kinerja
Keuangan Industri meliputi analisis marjin, keuntungan, leverage, serta
perlindungan arus kas.

2) Penilaian risiko keuangan untuk Peringkat KORPORASI non


Keuangan
a. Kebijakan keuangan (Financial Policy)
Analisis yang mencakup tinjauan filosofi manajemen, strategi dan
kebijakan keuangan terhadap risiko (historis, sekarang dan proyeksi
kedepan). Selain itu, pemeriksaan manajemen atas target keuangan
(pertumbuhan, leverage, struktur utang, kebijakan dividen, dan
sebagainya), kebijakan lindung nilai, dan kebijakan lain dalam upaya
mengurangi resiko keuangan perusahaan secara keseluruhan (sejarah
masa lalu vs kedepannya). Rekam Jejak Perusahaan pada pemenuhan
kewajiban keuangan di masa lalu juga dikaji untuk menentukan tingkat
komitmen, kesungguhan dan konsistensinya untuk membayar kewajiban-
kewajibannya secara tepat waktu.
b. Sruktur Permodalan (Capital Structure)
Analisis mencakup pemeriksaan dari sejarah perusahaan, saat ini dan
proyeksi leverage kedepan (total hutang dan nilai bersih hutang dalam
hubungannya dengan besar modal, total modal dan arus kas), struktur
utang dan komposisinya (Rupiah vs mata uang asing, utang jangka
pendek vs hutang jangka panjang, dengan tingkat suku bunga tetap vs
suku bunga mengambang, dll). Cara pengelolaan kewajiban juga dikaji
secara mendalam.
c. Perlindungan Arus Kas (Cash Flow Protection)
Analisis yang menyeluruh meliputi kajian dari arus kas perusahaan dan
kemampuan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek dan
jangka panjang. Tingkat Kemampuan Melayani Pembayaran Utang diukur
oleh rasio pembayaran bunga dan rasio pembayaran utang. Tingkat
likuiditas perusahaan di dalam memenuhi kewajiban jangka pendek juga
dikaji secara mendalam.
d. Fleksibilitas keuangan (Financial Flexibility)
Analisis meliputi evaluasi gabungan semua ukuran finansial di atas untuk
sampai pada pemahaman yang menyeluruh tentang kesehatan keuangan
perusahaan. Analisis tentang faktor-faktor lain yang terkait atau angka
angka yang tidak secara khusus ditelaah diatas, seperti klausul
perlindungan asuransi, batasan atas perjanjian pinjaman/obligasi atau
hubungan dengan induk perusahaan dan bantuan-bantuan juga ditelaah.
Penugasan analitis lain yang dibahas adalah evaluasi pilihan yang bisa
diambil oleh perusahaan dalam tekanan, termasuk rencana-rencana atas
kejadian tidak terduga dan kemampuan serta fleksibilitas untuk berurusan
dengan berbagai skenario yang merugikan. Dukungan Pemegang Saham
dan komitmennya juga sangat dipertimbangkan.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 14


Modul WPPE | PTE

II.3. REKSA DANA


Reksa dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal,
khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian
untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa Dana dirancang sebagai sarana
untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai
keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan
yang terbatas. Selain itu Reksa dana juga diharapkan dapat meningkatkan peran
pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Umumnya, Reksa dana diartikan sebagai Wadah yang dipergunakan untuk


menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya di investasikan dalam
portofolio Efek oleh Manajer Investasi. Mengacu kepada Undang-Undang Pasar Modal
No. 8 Tahun 1995, pasal 1 ayat (27) didefinisikan bahwa Reksa Dana adalah wadah
yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk
selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Dengan
demikian, dana yang ada dalam Reksa Dana merupakan dana bersama para pemodal,
sedangkan manajer investasi adalah pihak yang dipercaya untuk mengelola dana
tersebut.

Bentuk Hukum Reksa Dana di Indonesia


Berdasarkan Undang-undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 pasal 18, ayat (1),
bentuk hukum Reksadana di Indonesia terdiri dari ada dua bentuk yaitu:
1) Perseroan Terbatas (PT)
a. Menghimpun dana melalui penjualan saham
b. Hasil penjualan saham tersebut diinvestasikan pada berbagai jenis efek
yang diperdagangkan baik di pasar modal maupun di pasar uang
c. Investasi dilakukan melalui manajer investasi yang ditunjuk
d. Investor yang memiliki saham reksa dana perseroan akan menjadi
pemegang saham perseroan tersebut dengan segala hak dan kewajiban
yang melekat
e. Kekayaan Reksa Dana disimpan berdasarkan kontrak antara Manajer
Investasi dengan Bank Kustodian
2) Kontrak Investasi Kolektif (KIK)
a. Menghimpun dana dengan cara menerbitkan Unit Penyertaan. Jadi,
reksadana KIK adalah instrumen penghimpun dana investor dengan
menerbitkan unit penyertaan untuk selanjutnya diinvestasikan pada
berbagai efek yang diperdagangkan baik di pasar modal maupun di
pasar uang.
b. Bentuk Kontrak Investasi Kolektif berarti terdapat kontrak yang
disepakati antara Manajer Investasi dengan Bank Kustodian yang
mengikat pemegang Unit Penyertaan. Manajer Investasi diberi
wewenang untuk mengelola portfolio investasi kolektif sedangkan dan
Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan penitipan
kolektif, melaksanakan fungsi administrasi dan transfer agent.

A. Reksa Dana Perseroan Terbatas


Terdapat 2 bentuk RD PT:
1) Reksadana Terbuka (Open-EndFund)
a. Reksa Dana yang ditawarkan dan dibeli kembali saham-sahamnya dari
investor sampai sejumlah modal yang sudah dikeluarkan
b. Saham yang diterbitkan dijual pada harga sesuai dengan NAB

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 15


Modul WPPE | PTE

c. Pemegang saham/unit Reksa Dana yang bersifat terbuka ini dapat


menjual kembali saham/unit penyertaannya setiap saat apabila
diinginkan.
d. Manajer investasi reksa dana, melalui bank kustodian, wajib
membelinya sesuai dengan NAB per saham/unit pada saat tersebut.
e. Keuntungan yang diharapkan oleh pemegang saham reksadana terbuka
berbentuk perseroan terdiri dari dividen income, capital gain
distribution dan Capital Gain dari perubahan NAB
f. Dividen income adalah dividen per saham yang diberikan kepada
pemegang saham (jika ada), capital gain distribution adalah capital gain
hasil transaksi efek yang dibayarkan kepada pemegang saham reksa
dana dan net change NAV adalah perubahan bersih NAV yang terjadi
sampai hari itu.
g. Risiko bagi pemegang saham ini adalah selain kemungkinan tidak ada
dividen income dan capital gain serta turunnya NAB.
2) Reksadana Tertutup (Close-EndFund)
a. Adalah reksa dana yang tidak dapat membeli kembali saham-saham
yang telah dijual kepada pemodal. Dengan kata lain, pemegang saham
tidak dapat menjual kembali sahamnya kepada Manajer Investasi.
b. Penjualan kembali saham harus dilakukan melalui bursa efek tempat
saham reksa dana tersebut dicatatkan layaknya saham perusahaan
publik lain.
c. Penjualan saham dilakukan melalui proses penawaan umum (right
issue) sehingga berbeda dengan reksa dana terbuka, dalam reksa dana
tertutup tidak ada aliran uang yang terus-menerus dari penjualan
saham.
d. Harga pasar dari saham reksa dana tertutup ini berubah-ubah
dipengaruhi kekuatan permintaan dan penawaran, sama halnya dengan
fluktuasi harga saham perusahaan publik lainnya. Harga pasar tersebut
tidak selalu sama dengan NAB per sahamnya karena adakalanya lebih
besar dari NAB per saham (at premium), ataupun lebih kecil dari NAB
per sahamnya (at discount).
e. Keuntungan yang bisa diperoleh investor adalah sama seperti
pemegang saham yaitu capital gain, dividen dan saham bonus.
Indonesia pernah memiliki satu PT Reksa Dana yang setelah dilikuidasi
belum memiliki pengganti sampai saat ini.

Reksa Dana Kontrak Investasi Kolektif


Ciri-ciri Reksa Dana KIK
1. Berbentuk hukum kontrak investasi kolektif, dimana pengelolaan reksa dana
dilakukan oleh Manajer Investasi berdasarkan kontrak dan penyimpanan kekayaan
investasi kolektif dilaksanakan oleh bank kustodian berdasarkan kontrak.
2. Investor yang membeli unit penyertaan akan mendapatkan bukti berupa surat
konfirmasi dari bank kustodian. Harga reksa dana KIK pada saat penawaran umum
pertama ditetapkan sebesar Rp 1000 per unit penyertaan. NAB dihitung sampai 2
angka desimal sedangkan unit penyertaan sampai 4 desimal.
Unit Penyertaan = (Investasi)/ (NAB(1+fee))
3. Karena berbentuk Unit Penyertaan, reksa dana KIK tidak memberikan dividen
income dan saham bonus, melainkan capital gain distribution (CGD). CGD adalah
uang tunai hasil keuntungan realisasi efek yang ditransaksikan dan dibagikan untuk
pemilik unit penyertaan secara proporsional.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 16


Modul WPPE | PTE

4. Jika investor ingin menjual (redemption) unit penyertaan tersebut, ia dapat


menjualnya kembali ke manajer investasi dengan harga sesuai NAB pada saat itu.
Redemption = UP x NAV (1-fee)
5. Untuk melihat return dari reksadana ini, Anda bisa menggunakan ROI atau hasil
pengembalian yang diperoleh dari membeli dan menjual unit penyertaan
reksadana.
ROI = (Redemption Investment CGD)/ (Investment)

Sebagai catatan, semua reksa dana yang ada di Indonesia saat ini adalah reksa
dana Kontrak Investasi Kolektif.

Jenis Reksa Dana Berdasarkan Isi Portofolio


1)Reksa Dana Saham
a. Manajer Investasi akanmenempatkan sekurang-kurangnya 80% dari
aktivanya dalam bentuk Efek bersifat Ekuitas
b. Level risiko dan imbal hasilnya tinggi yang berasal dari capital gain penjualan
saham serta pembagian dividen
c. Tujuannya adalah untuk menghasilkan return yang tinggi dalam jangka
waktu panjang
d. Cocok bagi investor yang bersifat risk-seeker yang berorientasi jangka
panjang dan tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga saham jangka pendek
2)Reksa Dana Campuran
a. Secara fleksibel Reksa Dana ini menginvestasikandananya padaefek bersifat
Ekuitas, Efek bersifat Utang serta Pasar Uang sesuai market timing saat itu
dalam kondisi bullish atau bearish
b. Level risiko dan imbal hasilnya moderat
c. Tujuannya untuk tingkat pengembalian yang moderat dalam rentrang waktu
yang moderat
d. Cocok bagi Anda yang memiliki tujuan investasi jangka menengah dan
bersedia untuk menerima risiko dan imbal hasil yang sedikit lebih besar.
3) Reksa Dana Pendapatan Tetap
a. Reksa Dana ini menempatkan sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya
dalam bentuk Efek bersifat utang atau obligasi jangka panjang yang
diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah.
b. Tujuannya adalah untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil.
c. Level risiko dan imbal hasilnya moderat
d. Cocok bagi investor yang memiliki profil yang moderat terhadap risiko dan
memiliki tujuan investasi jangka menengah
4) Reksa Dana Pasar Uang
a. Investasi hanya dilakukan pada instrumen pasar uang yang memiliki periode
jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun, seperti deposito berjangka, SBI, dan
commercial papers yang memiliki rating tinggi..
b. Tujuannya adalah untuk:
i. Menjaga likuiditas dan memelihara kecukupan modal
ii. Mendapatkan imbal hasil yang teratur
c. Level risiko dan imbal hasilnya rendah
d. Cocok bagi investor yang benar-benar menghindari risiko dan memiliki tujuan
investasi jangka pendek

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 17


Modul WPPE | PTE

e. Tidak seperti investasi deposito yang mengenakan denda saat mencairkan


uang sebelum waktu jatuh tempo, Anda bisa setiap saat menjual reksa dana
ini tanpa harus membayar denda dan biaya penjualan.

Jenis Reksa Dana berdasarkan Peraturan Bapepem No. IV.C.4


Reksa Dana Terstruktur adalah reksa dana yang hanya dapat dibeli atau dijual kembali
oleh investor pada saat tertentu yang ditentukan oleh Manajer Investasi. Reksa dana
ini terdiri dari:
1) Reksa Dana Terproteksi (Capital Protected Fund)
a. Reksa Dana yang memberikan proteksi atas investasi awal melalui
mekanisme pengelolaan portofolio pada efek bersifat utang yang masuk
dalam kategori layak investasi (investment grade)
b. Nilai pokok yang diinvestasikan tidak akan berkurang walaupun NABnya
negative
c. Investor tetap akan mendapatkan imbal hasil jika dana yang dikelola
memberikan keuntungan
2) Reksa Dana Penjaminan (Guaranted Fund)
a. Reksa Dana ini mirip dengan RD Terproteksi yang minimum 80% dari
aktivanya ditempatkan pada efek bersifat utang yang masuk dalam kategori
layak investasi (investment grade)
b. Bedanya adalah terdapat lembaga yang akan menjadi penjamin investasi
3) Reksa Dana Indeks (Index Fund):
a. Reksa Dana yang portofolio Efeknya terdiri atas Efek yang menjadi konstituen
pada suatu indeks yang menjadi acuannya. Sekurang-kurangnya 80% dari
nilai aktivanya wajib diinvestasikan pada efek yang merupakan bagian dari
kumpulan Efek yang ada dalam indeks tersebut
b. Hasil investasi reksadana indeks ini akan mengikuti pergerakan indeks yang
menjadi acuannya sehingga termasuk jenis RD yang memiliki risiko tinggi.
c. Contohnya adalah RD Asian Bond Fund Indonesia Bond Index Fund (ABF-
IBF) yang dikelola oleh Bahana TCW Investment mengacu pada indeks
obligasi. Tolok ukurnya adalah Indeks Obligasi Negara Indonesia yang
diterbitkan dalam bentuk iBoxx ABF Index yang dikelola oleh sebuah badan
independen internasional bernama International Index Company (IIC).

Pajak Reksa Dana


Pengenaan pajak atas Reksa Dana saat ini masih mengikuti SE Dirjen Pajak
No.18/PJ.42/1996 tanggal 30 April 1996: Bagian laba (dividen) dan penjualan
kembali Unit Penyertaan Reksa Dana KIK bukan merupakan obyek pajak.

Nilai Pasar Wajar dari Efek


Nilai pasar wajar (fair market value) dari efek dalam portofolio Reksa Dana wajib
ditentukan dan disampaikan oleh Manajer Investasi kepada Bank Kustodian selambat-
lambatnya pada pukul 17.00 WIB setiap hari kerja, dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Nilai pasar wajar dari efek yang aktif diperdagangkan di Bursa Efek
menggunakan informasi harga perdagangan terakhir Efek di Bursa Efek.
2) Penentuan Nilai wajar pasar dari Efek yang diperdagangkan di luar Bursa Efek
(Over The Counter) menggunakan harga referensi, sebagai berikut:
3) Surat Utang Negara menggunakan informasi yang dikeluarkan oleh Himpunan
Pedagang Surat Utang Negara (HIMDASUN).

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 18


Modul WPPE | PTE

4) Obligasi perusahaan menggunakan informasi harga yang tersedia dalam


sistem yang ditetapkan oleh BAPEPAM-LK, yaitu dari kuotasi harga rata-rata
dari Manajer Investasi.
5) Penetuan nilai pasar wajar dari efek yang diperdagangkan di Bursa efek luar
negeri menggunakan informasi harga dari sumber yang dapat dipercaya dan
dapat diakses melalui media massa atau fasilitas internet.
6) Efek yang diperdagangkan dalam denominasi mata uang yang berbeda dengan
denominasi mata uang Reksa Dana wajib diperhitungkan dengan kurs tengah
Bank Indonesia yang berlaku.

Nilai Aktiva Bersih (NAB)


NAB adalah nilai total aktiva bersih yang dihitung dari nilai pasar setiap jenis aset
investasi dalam Reksa Dana (saham, obligasi, surat berharga pasar uang, serta
deposito) ditambah dividen saham dan bunga kupon obligasi, kemudian dikurangi
biaya operasional reksa dana seperti biaya MI, biaya Bank Kustodian, dan lain-lain.

Contoh Cara Menghitung Pembelian Unit Penyertaan (Subscription)


Tanggal 1 Agustus 2009 Pak Agus membeli Reksa Dana Saham ABC sejumlah Rp.
100.000.000,- dimana saat itu NAB Reksa Dana Rp. 1.250,- dan besarnya biaya
pembelian adalah 1%. Berapa besar unit penyertaan yang diperoleh?

Unit Penyertaan (UP) = Jumlah Pemesanan x (1 - SF)


NAB
= 100.000.000 X (1 0,01)
1.250
= 79.200 Unit Penyertaan

Contoh Cara Menghitung Penjualan kembali Unit Penyertaan (Redemption)


Tanggal 25 September 2010 pak Agus menjual kembali unit penyertaan yang
dimilikinya sejumlah 79.200 UP, saat penjualan Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana yang
dimiliki Rp. 1.325,- per unit. Biaya penjualan kembali (Redemption) sebesar 1 %,
berapa besar nilai pencairan yang diperoleh pak Agus?

Nilai Pencairan = (UP x NAB) F (UP x NAB)


= (79.200 x 1.325) 1 %(79.200 x 1.325)
= 103.890.600

CONTOH SOAL

Tanggal 24 September 2011 Pak Aswin menjual kembali unit penyertaan yang
dimilikinya sejumlah 10.000 UP, saat penjualan Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana yang
dimiliki Rp. 5.000 per unit. Biaya penjualan kembali (Redemption) sebesar 1 %,
berapa besar nilai pencairan yang diperoleh pak Agus?

Nilai Pencairan = (UP x NAB) F (UP x NAB)


= (10.000 x 5.000) 1 %(10.000 x 5.000)
= 49.500.000

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 19


Modul WPPE | PTE

II.4. EXCHANGE TRADED FUND (ETF)


ETF atau Exchange Traded Fund secara sederhana dapat diartikan sebagai Reksa
Dana yang diperdagangkan di Bursa. Sama seperti reksa dana konvensional, ETF
merupakan Kontrak Investasi Kolektif, perbedaannya adalah unit penyertaan ETF
dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa seperti saham. Sebagaimana halnya reksa
dana konvensional, dalam ETF terdapat pula manajer investasi dan bank kustodian.
Akan tetapi, ETF juga mengenal satu pihak lagi yang memiliki peran penting dalam
perdagangan, yaitu market maker. Market maker adalah broker yang ditunjuk oleh
manajer investasi untuk bertanggung jawab dalam menyediakan likuiditas ETF,
sehingga ETF bisa dibeli dengan harga dan jumlah yang diinginkan oleh pasar.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah perbandingan antara ETF dengan reksa dana
saham dan saham.

Gambar 1 Perbandingan Saham, Reksa Dana Saham, ETF

Reksa Dana
Saham ETF
Saham

Via Manajer
Perdagangan Via Bursa Efek Via Bursa Efek
Investasi

Manajer
Investasi
Agen penjual Broker Broker
Bank
WAPERD

Pasar primer:
Creation unit ( =
Minimum 1000 lot = 100.000
1 lot (100 lembar) 1 unit
pembelian unit)
Pasar sekunder: 1 Lot
(100 unit)

Harga Real time Akhir hari Real time

Underlying Tidak ada Saham Underlying Index

Market
Tidak ada Tidak ada Ada
maker

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 20


Modul WPPE | PTE

Gambar 2 - Mekanisme Perdagangan ETF (Pembelian)

II.5. DANA INVESTASI REAL ESTATE (DIRE/REITs)


DIRE atau dikenal juga sebagai Real Estate Investment Trust adalah salah satu sarana
investasi baru yang secara hukum di Indonesia akan berbentuk KIK. DIRE diartikan
sebagai kumpulan uang pemodal yang oleh perusahaan investasi akan diinvestasikan
ke bentuk aset properti baik secara langsung seperti membeli gedung maupun tidak
langsung dengan membeli saham/obligasi perusahaan properti. DIRE merupakan
sebuah alternative pendanaan real estate/properti yang efisien. Selama ini
perusahaan properti di Indonesia masih menggunakan dana segar melalui skema IPO.

Produk DIRE pertama di Indonesia adalah Dana Investasi Real Estate Ciptadana
Properti Ritel Indonesia (DIRE Ciptadana) yang diluncurkan di Jakarta pada
12/11/12 melalui penawaran umum atas unit penyertaan selama masa penawaran.
DIRE adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat
pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan kembali pada aset real estat, aset yang
berkaitan dengan real estat atau kas dan setara kas, dengan ketentuan sebagai
berikut:
1. Minimal 50% dari Nilai Aktiva Bersih diinvestasikan pada aset real estat
2. Minimal 80% dari Nilai Aktiva Bersih diinvestasikan pada aset real estat dan aset
yang berkaitan dengan real estate, dengan tetap memperhatikan ketentuan pada
poin 1 di atas
3. Maksimal 20% dari NAB diinvestasikan pada kas dan setara kas
4. Dilarang berinvestasi pada tanah kosong atau property yang masih dalam tahap
pembangunan

Karakteristik DIRE
Investasi dilakukan pada aset Real Estate, yaitu tanah secara fisik termasuk
bangunan yang ada di atasnya
Memiliki pendapatan yang relatif stabil
Aset yang berkaitan dengan real estat adalah efek perusahaan real estat
yang tercatat di Bursa Efek dan atau diterbitkan oleh perusahaan real estat

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 21


Modul WPPE | PTE

Aset yang menjadi portofolio dana investasi real estat berbentuk KIK harus
memiliki hukum yang kuat, sah dan mudah ditransaksikan
Seluruh atau sebagian besar Pendapatan (minimal 90% dari laba bersih)
wajib didistribusikan kepada investor

Gambar 3 - Struktur DIRE dengan skema Direct Investment

Gambar 4 - Struktur DIRE dengan skema melalui Special Purpose Company


(SPC)

II.6. Derivatif
Efek derivatif merupakan Efek turunan dari Efek utama baik yang bersifat
penyertaan maupun utang. Efek turunan dapat berarti turunan langsung dari Efek
utama maupun turunan selanjutnya. Derivatif merupakan kontrak atau perjanjian
yang nilai atau peluang keuntungannya terkait dengan kinerja aset lain. Aset lain ini
disebut sebagai underlying assets.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 22


Modul WPPE | PTE

Dalam pengertian yang lebih khusus, derivatif merupakan kontrak finansial antara 2
(dua) atau lebih pihak-pihak guna memenuhi janji untuk membeli atau menjual
assets/commodities yang dijadikan sebagai obyek yang diperdagangkan pada waktu
dan harga yang merupakan kesepakatan bersama antara pihak penjual dan pihak
pembeli. Adapun nilai di masa mendatang dari obyek yang diperdagangkan tersebut
sangat dipengaruhi oleh instrumen induknya yang ada di spot market.

Instrument derivatif yang terdapat di Bursa Efek adalah derivatif keuangan (financial
derivative). Derivatif keuangan merupakan instrumen derivatif, di mana variabel-
variabel yang mendasarinya adalah instrumen-instrumen keuangan, yang dapat
berupa saham, obligasi, indeks saham, indeks obligasi, mata uang (currency), tingkat
suku bunga dan instrumen-instrumen keuangan lainnya.

Instrumen-instrumen derivatif sering digunakan oleh para pelaku pasar (pemodal dan
perusahaan efek) sebagai sarana untuk melakukan lindung nilai (hedging) atas
portofolio yang mereka miliki.

Rights/ Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD)


Menurut penjelasan pasal 82 ayat 1 UUPM, HMETD adalah hak yang melekat pada
saham yang memberikan kesempatan bagi pemegang saham yang bersangkutan
untuk membeli saham baru sebelum ditawarkan kepada pihak lain. Rights issue
dilakukan atas dasar persetujuan rapat umum pemegang saham. Setelah
mendapatkan persetujuan, emiten harus menawarkan saham barunya tersebut
kepada kepada pemilik saham lama terlebih dahulu, sesuai dengan proporsi
kepemilikannya (preemptive rights). Pada umumnya tujuan rights issue adalah untuk
meningkatkan porsi kepemilikan pemegang saham, atau untuk meningkatkan jumlah
saham beredar sehingga lebih likuid perdagangannya.

Umumnya harga rights issue lebih rendah dari harga pasar, hal ini sebagai insentif
bagi pemegang saham lama. Namun sebetulnya, harga per-saham dari total saham
yang dimiliki investor, tidak menjadi serendah harga rights issue. Pemilik saham harus
melakukan penyesuaian harga dengan menambahkan nilai saham lamanya dengan
nilai saham baru, dan kemudian dibagi dengan total jumlah saham. Harga
penyesuaian akan menunjukkan harga pasar yang terdilusi. Itulah sebabnya mengapa
rights issue ditawarkan kepada pemegang saham lama terlebih dahulu.

Rights issue akan ditawarkan kepada investor yang tercatat dalam Daftar Pemegang
Saham (DPS) pada waktu yang telah ditentukan. Artinya investor yang membeli
saham pada waktu tersebut, berhak untuk membeli saham (cum rights). Sementara
itu, investor yang memiliki saham diluar waktu tersebut, tidak akan mendapatkan hak
membeli saham (ex-rights), dan hak atas rights menjadi milik penjual. Bukti Right
juga dapat diperdagangkan di Pasar Sekunder selama periode tertentu.Apabila
pemegang saham tidak menukar Bukti Right tersebut maka akan terjadi dilusi pada
kepemilikan ataujumlah saham yang dimiliki akan berkurang secara proporsional
terhadap jumlah total saham yang diterbitkan perusahaan.

Waran (Warrant)
Istilah Waran sebenarnya berasal dari Covered Warrant. Waran hampir sama dengan
opsi saham (option), dipergunakan sebagai sarana lindung nilai (hedging). Covered

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 23


Modul WPPE | PTE

Warrant umumnya diterbitkan oleh perusahaan keuangan seperti investment bank,


bank, lembaga pemerintah atau institusi lain yang bukan emiten atau perusahaan
publik. Dalam perkembangannya, mulai banyak emiten atau perusahaan publik yang
menerbitkan Covered Warrant.

Seperti halnya produk opsi saham (option) yang dibedakan antara put option dan call
option, Covered Warrant juga dibedakan antara put warrant dan call warrant. Pada
umumnya Waran yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah call
warrant, di mana pemegang Waran diberikan hak untuk membeli atau melaksanakan
hak untuk membeli saham yang diterbitkan oleh emiten tersebut pada jumlah dan
harga tertentu serta pada waktu tertentu.

Ilustrasinya sebagai berikut, misalnya PT XYZ akan melakukan penawaran umum


(IPO) 500 juta saham dengan nominal Rp 100 dan ditawarkan pada harga Rp 1.000
per saham. Bersamaan dengan itu, PT XYZ juga menerbitkan 250 juta waran seri I
yang diterbitkan menyertai saham, di mana setiap pemegang 2 saham baru akan
mendapatkan 1 waran seri I. Setiap waran seri I memberikan hak kepada pemegang
saham untuk membeli satu saham baru perseroan yang dikeluarkan dari portopel.
Waran seri I perseroan diterbitkan mempunyai jangka waktu pelaksanaan selama tiga
tahun di mana waran seri I itu bernilai nominal Rp 100 dan harga pelaksanaan
(exercise price) Rp 1.200.

Karena diterbitkan sebagai sweetener, maka waran yang diterbitkan tadi merupakan
bonus cuma-cuma bagi investor. Jika harga saham XYZ mengalami kenaikan saat
masuk pasar sekunder, maka investor selain memperoleh keuntungan berupa capital
gain, juga mendapatkan keuntungan berupa waran. Sebab, saat masuk ke pasar
sekunder waran yang diberikan secara cuma-cuma tadi juga diperdagangkan pada
papan yang terpisah. Artinya waran itu mempunyai nilai yang besarnya akan
terbentuk sesuai dengan mekanisme pasar. Jika harga saham misalnya naik menjadi
Rp 1.100 dan waran diperdagangkan dan ditutup pada harga Rp 100, maka berarti
capital gain yang diperoleh investor dari setiap saham adalah Rp 100 plus setengah
dari nilai waran.

Lalu apa untungnya bagi investor membeli waran? Seperti disebutkan di atas Waran
hampir sama dengan opsi, ia adalah hak. Karena di Indonesia yang dimaksud Waran
adalah call warrant, maka berarti investor mempunyai hak membeli saham pada
harga tertentu (dalam contoh ini exercise price Rp 1.200). Pemegang Waran akan
untung jika harga saham di pasar lebih tinggi dari exercise price plus harga pembelian
Waran.

Dalam contoh ini, jika investor membeli waran di Rp 100, maka ia akan untung jika
harga saham saat jatuh tempo berada di atas Rp 1.300 (Rp 1.200 + Rp 100). Jika
saat jatuh tempo harga saham Rp 2.000, maka investor akan meraih gain Rp 700 per
saham. Tapi jika harga saham turun di bawah Rp 1.200, investor tidak perlu
menggunakan haknya untuk membeli. Artinya, potensi kerugian paling tinggi yang
bisa terjadi pada investor sebesar harga waran yang dibelinya di pasar.

Futures
Futures adalah kontrak untuk membeli atau menjual suatu underlying (dapat berupa
indeks, saham, obligasi, dll) di masa mendatang. Index futures misalnya, merupakan

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 24


Modul WPPE | PTE

kontrak berjangka yang menggunakan underlying berupa indeks saham. Salah satu
aplikasi konsep futures yang sudah lama digunakan di Indonesia adalah sistem ijon,
dimana penjual membuat kesepakatan kepada pembeli untuk menjual produk dalam
harga tertentu di waktu yang telah ditentukan, berapapun harga pasar yang berlaku
saat itu. Untung/ruginya penjual maupun pembeli akan diketahui ketika mereka
mengetahui harga tersebut nantinya.

Keuntungan futures:
Sarana Lindung Nilai (Hedging)
Dengan index futures, kerugian investasi pada saham yang memiliki beta
mendekati beta portofolio dapat di kompensasi dengan keuntungan pada
kontrak.
Leveraging
Dengan modal terbatas, mampu menghasilkan potensi keuntungan yang sama
bahkan lebih besar daripada investasi pada saham.
Bullish, Bearish Potensi Untung
Jika investor memperkirakan harga berpotensi naik, maka investor dapat
mengambil posisi buy, sebaliknya apabila perkiraan harga akan berpotensi
turun maka investor dapat mengambil posisi sell.

Dalam index futures, pembeli futures harus memperhatikan harga indeks yang
berlaku saat itu, harga indeks yang diprediksi, margin awal, dan harga penyelesaian
harian (HPH) yang ditetapkan di akhir hari. Marjin awal akan dikembalikan ketika
pembeli menjual futuresnya. Marjin awal yang ditetapkan BEI untuk LQ45 futures
adalah sebesar adalah 4% x harga indeks x Rp500.000 x jumlah kontrak.

Contoh aplikasi index futures:

Pada 23 Januari, Pak Jimmi membeli 1 kontrak LQ45 futures ketika indeks LQ45
berada di angka 752,55 karena diprediksi harga indeks akan naik. HPH pada saat itu
adalah 753,55. Pada 24 Januari, berapa profit/loss yang dihasilkan apabila indeks
berada di level 758,55?

23 Jan
Margin awal: (4% x 752,55 x Rp500.000,00 x 1 kontrak) = Rp15.051.000
HPH (profit): (753,55 752,55) x Rp500.000,00 = Rp500.000,00

24 Jan
Trading profit: Profit HPH + (758,55 753,55) x Rp500.000,00 = Rp3.000.000,00
Total profit: Marjin awal + trading profit
Rp15.051.000 + Rp3.000.000 = Rp18.031.000

CONTOH SOAL
Pada 24 April, Bu Grace membeli 1 kontrak LQ45 futures ketika indeks LQ45 berada
di angka 800 karena diprediksi harga indeks akan naik. HPH pada saat itu adalah 801.
Pada 25 April, berapa profit/loss yang dihasilkan apabila indeks berada di level 805?

Jawaban
24 Apr
Margin awal: (4% x 800 x Rp500.000,00 x 1 kontrak) = Rp16.000.000

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 25


Modul WPPE | PTE

HPH (profit): (801 800) x Rp500.000,00 = Rp500.000,00

25 Apr
Trading profit: Profit HPH + (805-801) x Rp500.000,00 = Rp2.500.000
Total profit: Marjin awal + trading profit
Rp16.000.000 + Rp2.500.000 = Rp18.500.000

Options
Options adalah kontrak resmi yang memberikan Hak (tanpa adanya kewajiban) untuk
membeli atau menjual sebuah asset pada harga tertentu yang ditetapkan (strike
price) dalam jangka waktu tertentu. Biaya penjualan/pembelian dari options dari
tersebut dikenal dengan istilah premium. Options pertama kali secara resmi
diperdagangkan melalui Chicago Board Exchange (CBOE) pada tahun 1973.

Jenis Opsi:
a) Call Option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang opsi
(taker) untuk membeli sejumlah tertentu dari sebuah instrumen yang
menjadi dasar kontrak tersebut.
b) Put Option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang opsi
(taker) untuk menjual sejumlah tertentu dari sebuah instrumen yang
menjadi dasar kontrak tersebut.

Options diperdagangkan dengan dua metode, yaitu American style dan European
Style. American style memberikan kesempatan kepada pemegang options (taker)
untuk meng-exercise haknya setiap saat hingga waktu jatuh tempo. Sedangkan
European style hanya memberikan kesempatan kepada taker untuk meng-exercise
haknya pada saat waktu jatuh tempo.

Contoh aplikasi options:

Pak Banyu membeli call options saham ASII (1 kontrak = 10.000 saham) dengan
jatuh tempo dengan harga pelaksanaan Rp6.000, ditransaksikan pada harga Rp120
per saham. Premium yang dibayarkan sebesar Rp1.200.000 (Rp120 x 10.000 saham).

Pak Banyu dapat atau tidak melaksanakan haknya, tergantung pada harga ASII di
pasar spot.
Dalam hal harga spot ASII Rp6.000 atau lebih rendah, maka sebaiknya
pembeli call tidak melaksanakan (exercise) hak sampai dengan jatuh tempo.
Jika harga spot ASII Rp6.120, pembeli call dapat melaksanakan haknya pada
strike price Rp6,000 dan menjualnya di pasar spot pada harga Rp6.120, maka
profit yang diperoleh pembeli call sebesar Rp0 : (Rp6.120 - Rp6.000) x 10.000)
Rp1.200.000 (premium yang dibayarkan).
Jika harga spot ASII Rp6.240, pembeli call dapat melaksanakan haknya pada
strike price Rp6.000 dan menjualnya di pasar spot pada harga Rp6.240, maka
profit yang diperoleh pembeli call sebesar Rp1.200.000 : (Rp6.240 Rp6.000)
x 10.000) Rp1.200.000 (premium yang dibayarkan).
Jika harga spot ASII Rp10.000, pembeli call dapat melaksanakan haknya pada
strike price Rp6.000 dan menjualnya di pasar spot pada harga Rp10.000, maka
profit yang diperoleh pembeli call sebesar Rp38.800.000 : (Rp10.000
Rp6.000) x 10.000) Rp1.200.000 (premium yang dibayarkan).

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 26


Modul WPPE | PTE

CONTOH SOAL

Bu Heidy membeli call options saham BNBR dengan jatuh tempo dengan harga
pelaksanaan Rp5.000, ditransaksikan pada harga Rp100 per saham. Premium yang
dibayarkan sebesar Rp1.000.000 (Rp100 x 10.000 saham). Berapakah
keuntungan/kerugian yang diterima apabila harga BNBR yang berlaku pada saat itu
adalah Rp5.500?

Jawaban : (Rp5.500 Rp5.000) x 10.000) Rp1.000.000 = Profit Rp4.000.000.

II.7. PASAR MODAL SYARIAH


Produk Pasar Modal Syariah pertama di Indonesia adalah Reksa Dana Syariah yang
diterbitkan oleh PT. Danareksa Investment Management (DIM) pada 3 Juli 1997.
Selanjutnya, instrumen investasi syariah di pasar modal terus bertambah dengan
kehadiran Obligasi Syariah PT. Indosat Tbk pada awal September 2002 sebagai
instrumen Obligasi Syariah pertama yang menggunakan akad mudharabah. Pada
tanggal 26 Agustus 2008 untuk pertama kalinya Pemerintah Indonesia menerbitkan
SBSN seri IFR0001 dan IFR0002.

Undang-undang terkait Pasar Modal Syariah


1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995
Sebagai bagian dari sistem pasar modal Indonesia, kegiatan di Pasar modal yang
menerapkan prinsip syariah juga mengacu kepada UU tentang Pasar Modal berikut
peraturan pelaksananaannya (Peraturan Bapepam-LK, Peraturan Pemerintah,
Peraturan Bursa dan lain-lain).
2. UU Nomor 19 tahun 2008
Undang-undang untuk penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau
Sukuk Negara.

Peraturan OJK terkait Pasar Modal Syariah


1. POJK Nomor 15/POJK.04/2015 tentang Penerapan Prinsip Syariah di Pasar Modal
2. POJK Nomor 53/POJK.04/2015 tentang Akad Yang Digunakan Dalam Penerbitan
Efek Syariah di Pasar Modal
3. POJK Nomor 16/POJK.04/2015 tentang Ahli Syariah Pasar Modal
4. POJK Nomor 17/POJK.04/2015 tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Syariah
Berupa Saham oleh Emiten Syariah atau Perusahaan Publik Syariah
5. POJK Nomor 18/POJK.04/2015 tentang Penerbitan dan Persyaratan Sukuk
6. POJK Nomor 19/POJK.04/2015 tentang Penerbitan dan Persyaratan Reksa Dana
Syariah
7. POJK Nomor 20/POJK.04/2015 tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Beragun
Aset Syariah
8. Peraturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah

Akad Efek syariah (POJK Nomor 53/POJK.04/2015)


1. Sewa
Perjanjian (akad) dimana Pihak yang memiliki barang atau jasa (pemberi sewa
atau pemberi jasa) berjanji kepada penyewa atau pengguna jasa untuk
menyerahkan hak penggunaan atau pemanfaatan atas suatu barang dan atau
memberikan jasa yang dimiliki pemberi sewa atau pemberi jasa dalam waktu

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 27


Modul WPPE | PTE

tertentu dengan pembayaran sewa dan atau upah (ujrah), tanpa diikuti dengan
beralihnya hak atas pemilikan barang yang menjadi obyek Ijarah
2. Penjaminan
Perjanjian (akad) dimana Pihak penjamin (kafiil/guarantor) berjanji memberikan
jaminan kepada Pihak yang dijamin (makfuul anhu/ashil/debitur) untuk
memenuhi kewajiban Pihak yang dijamin kepada Pihak lain (makfuul
lahu/kreditur)
3. Modal Ventura
Perjanjian (akad) dimana Pihak yang menyediakan dana (Shahib al-mal) berjanji
kepada pengelola usaha (mudharib) untuk menyerahkan modal dan pengelola
(mudharib) berjanji untuk mengelola modal tersebut.
4. Perwakilan
Perjanjian (akad) dimana Pihak yang memberi kuasa (muwakkil) memberikan
kuasa kepada Pihak yang menerima kuasa (wakil) untuk melakukan tindakan atau
perbuatan tertentu.

Efek-efek yang dimuat dalam Daftar Efek Syariah meliputi:


1. Surat Berharga Syariah yang diterbitkan oleh Negara Republik Indonesia.
2. Efek yang diterbitkan oleh Emiten atau perusahaan publik yang menyatakan bahwa
kegiatan usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip
syariah sebagaimana tertuang dalam anggaran dasar.
3. Sukuk yang diterbitkan oleh Emiten termasuk Obligasi Syariah yang telah
diterbitkan oleh emiten sebelum ditetapkannya peraturan ini.
4. Saham Reksa Dana Syariah.
5. Unit Penyertaan Kontrak Investasi Kolektif Reksa Dana Syariah.
6. Efek Beragun Aset Syariah.
7. Efek berupa saham, termasuk Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) syariah
dan waran syariah, yang diterbitkan oleh emiten atau perusahaan publik yang tidak
menyatakan bahwa kegiatan usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan
berdasarkan prinsip syariah.
8. Efek syariah yang memenuhi prinsip-prinsip syariah di Pasar Modal yang
diterbitkan oleh lembaga internasional dimana Pemerintah Indonesia menjadi salah
satu anggotanya
9. Efek syariah lainnya.

Saham Syariah
Secara konsep, saham merupakan surat berharga bukti penyertaan modal kepada
perusahaan dan dengan bukti penyertaan tersebut pemegang saham berhak untuk
mendapatkan bagian hasil dari usaha perusahaan tersebut. Konsep penyertaan modal
dengan hak bagian hasil usaha ini merupakan konsep yang tidak bertentangan
dengan prinsip syariah. Prinsip syariah mengenal konsep ini sebagai kegiatan
musyarakah atau syirkah. Berdasarkan analogi tersebut, maka secara konsep saham
merupakan efek yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

Suatu saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah jika saham tersebut
diterbitkan oleh:
1. Emiten dan Perusahaan Publik yang secara jelas menyatakan dalam anggaran
dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan
dengan Prinsip-prinsip syariah.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 28


Modul WPPE | PTE

2. Emiten dan Perusahaan Publik yang tidak menyatakan dalam anggaran dasarnya
bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan
Prinsip-prinsip syariah, namun memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah yaitu tidak
melakukan kegiatan usaha:
i. perjudian dan permainan yang tergolong judi;
ii. perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa;
iii. perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu;
iv. bank berbasis bunga;
v. perusahaan pembiayaan berbasis bunga;
vi. jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian(gharar) dan/atau
judi (maisir), antara lain asuransi konvensional;
vii. memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau
menyediakan barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang
atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan
oleh DSN-MUI; dan/atau, barang atau jasa yang merusak moral dan
bersifat mudarat;
viii. melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah);
b. Rasio total hutang berbasis bunga dibandingkan total ekuitas tidak lebih dari
45%, dan
c. Rasio total pendapatan bunga dan total pendapatan tidak halal lainnya
dibandingkan total pendapatan usaha dan total pendapatan lainnya tidak lebih
dari 10%.

Efek yang termasuk dalam Saham Syariah:


1. Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) syariah dan waran syariah yang
diterbitkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik yang tidak menyatakan bahwa
kegiatan usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip
syariah
2. Efek yang diterbitkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik yang menyatakan bahwa
kegiatan usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip
syariah sebagaimana tertuang dalam anggaran dasar
3. Efek Syariah yang memenuhi Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal yang
diterbitkan oleh lembaga internasional dimana Pemerintah Indonesia menjadi salah
satu anggotanya.

Reksa Dana Syariah


Definisi Reksa Dana Syariah
(Peraturan OJK No.19/POJK.04/2015)

Reksa Dana syariah didefinisikan sebagai reksa dana sebagaimana dimaksud dalam
UUPM dan peraturan pelaksanaannya yang pengelolaannya tidak bertentangan
dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal.

(Fatwa DSN Nomor: 20/DSN-MUI/IX/2000)

Reksa Dana Syariah adalah Reksa Dana yang beroperasi menurut ketentuan dan
prinsip Syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai milik harta
(shahib al-mal/rabb al-maal) dengan manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal,

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 29


Modul WPPE | PTE

maupun antara Manajer Investasi sebagai wakil shahib al-mal dengan pengguna
investasi

Karakteristik Reksa Dana Syariah


1. Diinvestasikan pada Efek yang tercantum dalam Daftar Efek Syariah (DES)
2. Terdapat mekanisme cleansing terhadap Efek Non-Syariah
3. Tidak tergolong dalam usaha yang mengandung unsur perjudian, riba dan
perdagangan lain yang dilarang
4. Tidak tergolong usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk
perbankan, pembiayaan, asuransi konvensional
5. Tidak tergolong usaha yang memproduksi, mendistribusikan, serta
memperdagangkan produk haram dan mudharat
6. Rasio total utang ribawi dibandingkan total ekuitas tidak lebih dari 82%
7. Pendapatan non-syariah dibandingkan total pendapatan tidak lebih dari 10%

Reksa Dana Syariah dikenal pertama kali di Indonesia pada tahun 1997 ditandai
dengan penerbitan Reksa Dana Syariah Danareksa Saham pada bulan Juli
1997.Sebagai salah satu instrumen investasi, Reksa Dana Syariah memiliki kriteria
yang berbeda dengan reksa dana konvensional pada umumnya. Perbedaan ini terletak
pada pemilihan instrumen investasi dan mekanisme investasi yang tidak boleh
bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Perbedaan lainnya adalah keseluruhan
proses manajemen portofolio, screening (penyaringan), dan cleansing (pembersihan).

Sukuk
Sukuk merupakan istilah baru yang dikenalkan sebagai pengganti dari istilah obligasi
syariah (islamicbonds). Sukuk secara terminologi merupakan bentuk jamak dari kata
"sakk" dalam bahasa Arab yang berarti sertifikat atau bukti kepemilikan.

Definisi Sukuk
(POJK No.18/POJK.04/2015)
Efek Syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili
bagian yang tidak terpisahkan atau tidak terbagi (syuyu/undivided share), atas aset
yang mendasarinya.

(Fatwa Nomor: 32/DSN-MUI/IX/2002)


Obligasi Syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip
syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan
emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi
hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo

Landasan Hukum Sukuk


1. Peraturan OJK No.18/POJK.04/2015
2. Fatwa DSN MUI No. 32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah
3. Fatwa DSN MUI No. 33/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah
4. Fatwa DSN MUI No. 41/DSN-MUI/III/2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah
5. Fatwa DSN MUI No. 59/DSN-MUI/V/2007 tentang Obligasi Syariah Mudharabah
Konversi

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 30


Modul WPPE | PTE

Karakteristik Sukuk
Efek Syariah Sukuk memiliki karakteristik yang berbeda dengan obligasi:
1. Sukuk bukan merupakan surat utang, melainkan bukti kepemilikan bersama atas
suatu aset/proyek.
2. Setiap sukuk yang diterbitkan harus mempunyai aset yang dijadikan dasar
penerbitan (underlying asset).
3. Klaim kepemilikan pada sukuk didasarkan pada aset/proyek yang spesifik.
4. Penggunaan dana sukuk harus digunakan untuk kegiatan usaha yang halal.
5. Imbalan bagi pemegang sukuk dapat berupa imbalan, bagi hasil, atau marjin,
sesuai dengan jenis akad yang digunakan dalam penerbitan sukuk.

Standar Syariah Sukuk (AAOIFI No.17)


Jenis sukuk terdiri dari:
1. Sertifikat kepemilikan dalam aset yang disewakan.
2. Sertifikat kepemilikan atas manfaat, yang terbagi menjadi 4 (empat) tipe:
a. Sertifikat kepemilikan atas manfaat aset yang telah ada
b. Sertifikat kepemilikan atas manfaat aset di masa depan,
c. Sertifikat kepemilikan atas jasa pihak tertentu
d. Sertifikat kepemilikan atas jasa di masa depan.
3. Sertifikat salam
4. Sertifikat ijarah
5. Sertifikat istishna
6. Sertifikat mudharabah
7. Sertifikat murabahah
8. Sertifikat musyarakah.
9. Sertifikat muzara'a.
10. Sertifikat musaqa.
11. Sertifikat mugharasa.

Sukuk Negara (SBSN)

Definisi SBSN
Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau dapat juga disebut Sukuk Negara
merupakan surat berharga (obligasi) yang diterbitkan oleh pemerintah Republik
Indonesia berdasarkan prinsip syariah. Perusahaan yang akan menerbitkan SBSN ini
adalah merupakan perusahaan yang secara khusus dibentuk guna kepentingan
penerbitan SBSN ini (special purpose vehicle-SPV). SBSN atau sukuk negara ini adalah
merupakan suatu instrumen utang piutang tanpa riba sebagaimana dalam obligasi, di
mana sukuk ini diterbitkan berdasarkan suatu aset acuan yang sesuai dengan prinsip
syariah.

Dasar Hukum SBSN


2. UU No. 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara
3. Fatwa DSN MUI No. 69/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara
(SBSN)
4. Fatwa DSN MUI No. 70/DSN-MUI/VI/2008 tentang Metode Penerbitan SBSN
5. Fatwa DSN MUI No. 72/DSN-MUI/VI/2008 tentang SBSN Ijarah Sale and Lease
Back
6. Fatwa DSN MUI No. 76/DSN-MUI/VI/2010 tentang SBSN Ijarah Asset to Be Leased

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 31


Modul WPPE | PTE

Jenis-jenis SBSN
1. SBSN Ijarah, yang diterbitkan berdasarkan akad ijarah (akad sewa menyewa atas
suatu aset).
2. SBSN mudharabah, yang diterbitkan berdasarkan akad mudharabah (akad
kerjasama dimana salah satu pihak menyediakan modal (rab al-maal) dan pihak
lainnya menyediakan tenaga dan keahlian (mudharib) dimana kelak
keuntungannya akan dibagi berdasarkan persentase yang disepakati sebelumnya,
apabila terjadi kerugian maka kerugian tersebut adalah menjadi beban dan
tanggung jawab pemilik modal).
3. SBSN musyarakah, yang diterbitkan berdasarkan akad musyarakah (akad
kerjasama dalam bentuk penggabungan modal).
4. SBSN istisna, yang diterbitkan berdasarkan akad istisna (akad jual beli untuk
pembiayaan suatu proyek dimana cara dan jangka waktu penyerahan barang dan
harga barang ditentukan berdasarkan kesepakatan para pihak.
5. SBSN berdasarkan akad lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip
syariah.
6. SBSN yang diterbitkan berdasarkan kombinasi dari dua atau lebih jenis akad.

Indeks Saham Syariah


1. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)
Terdiri dari seluruh saham syariah tercatat yang masuk ke dalam Daftar Efek
Syariah yang dikeluarkan oleh OJK dan diluncurkan pada Mei 2011.
2. Jakarta Islamic Index (JII)
Terdiri dari 30 saham syariah yang paling likuid yang tercatat di Bursa Efek
Indonesia dan diluncurkan Tahun 2000.

Materi Pelatihan WPPE | Edisi 2016 32