Anda di halaman 1dari 11

DIFFUSION WELDING

KELOMPOK 7
1. Mustika Rohmah 3334150011
2. Muhammad Andrian 3334150008
3. Muhammad Dimaz
4. Ivan Pratama

TEKNIK METALURGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
BANTEN
2017
BAB I

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi penyambungan logam memberikan kemudahan pada manusia


dalam menjalankan kehidupannya. Saat ini, kemajuan ilmu pengetahuan di bidang elektronik
mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap penemuan material baru dan sekaligus
bagaimanakah cara penyambungannya. Industri manufaktur tidak dapat terlepas dari proses
penyambungan logam.
Penyambungan logam dilakukan dengan berbagai tujuan, diantaranya adalah untuk
membuat suatu barang yang tidak mungkin dilakukan dengan teknik lain, memudahkan
pekerjaan, serta dapat menekan biaya produksi. Proses penyambungan logam yang banyak
digunakan dalam industri manufaktur adalah las. Pengelasan logam merupakan pilihan yang
cukup tepat. Pengelasan tidak membutuhkan waktu yang lama, konstruksinya ringan, memiliki
kekuatan sambungan yang cukup baik, serta biaya yang relatif murah.
Yang dimaksud dengan pengelasan adalah penyambungan antara dua material atau lebih
yang prosesnya memanfaatkan proses difusi dari material tersebut, berdasarkan prinsip-prinsip
ikatan magnetik antar atom dari material yang akan disambung. Pengelasan dapat dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu Solid State Welding dan Liquid State Welding. Solid State
Welding adalah proses pengelasan dimana benda dalam keadaan padat dan biasanya dengan
menggunakan tekanan sehingga sering juga disebut dengan Pressure Welding.
Proses Solid State Welding memiliki beberapa kelebihan, diantaranya adalah dapat
menyambung dua buah material atau lebih yang tidak sama titik cairnya, prosesnya cepat,
presisi, dan hampir tidak memiliki daerah terpengaruh panas (Heat Affected Zone / HAZ).
Namun demikian Solid State Welding juga mempunyai kelemahan yaitu persiapan sambungan
dan prosesnya rumit, sehingga dibutuhkan ketelitihan sangat tinggi. Yang termasuk dalam Solid
State Welding diantaranya Diffusion Welding, Forge Welding, Cold Welding, dan Friction
Welding. Liquid State Welding adalah proses pengelasan dengan cara mencairkan daerah yang
akan disambung hingga cairan tersebut menyatu secara merata, dengan syarat material yang akan
disambung harus sama titik cairnya.
Penyambungan material dengan cara ini mempunyai persyaratan material harus sama,
karena untuk mendapatkan sambungan yang sempurna suhu material harus sama, jika tidak
proses penyambungan tidak akan terjadi. Kelebihan metode pengelasan ini adalah proses dan
persiapan sambungan tidak rumit, biayanya relatif murah, pelaksanaannya mudah.
Kelemahannya adalah memerlukan juru las yang terampil, terjadinya HAZ yang
menyebabkan perubahan sifat bahan, dan ada potensi kecelakaan dan terganggunya kesehatan
juru las. Yang termasuk Liquid State Welding adalah Thermal Welding, Resistance
Welding, dan Electric Arc Welding.
BAB II
ISI

2.1 Pengertian Diffusion Welding


Diffusion Welding atau Diffusion Bonding termasuk dalam proses solid state
welding, yaitu proses penyambungan dua material dengan melakukan pemanasan di dalam
tungku vakum dengan temperatur antara 50 - 80 % dari titik lebur material. Proses tersebut
biasanya dilakukan dengan atmosfer yang terkontrol dan waktu yang tepat untuk
membiarkan difusi serta penggabungan terjadi.
Temperatur yang digunakan sebaiknya di bawah titik cair dari logam benda kerja
dan deformasi plastis yang terjadi pada permukaan benda kerja sebaiknya minimal.
Mekanisme penggabungan pada diffusion welding terjadi dalam bentuk padat, di mana
atom berpindah dan saling menyeberang di antara dua permukaan benda kerja yang saling
kontak. Pengelasan ini terkadang menggunakan lapisan bahan tambah yang diletakkan di
antara dua benda kerja yang akan disambung (seperti roti isi).

Gambar 1. Diffusion Welding


Kekuatan sambungan pada proses ini dari difusi karena deformasi plastic pada
permukaan. Temperature yang diperlukan dari proses ini mencapai 0.5Tm. Kekuatan pada
sambungan ini tergantung pada tekanan, temperature, waktu kontak, dan bagaimana
permukaan dibersihkan. Pada proses ini tekanan diberikan oleh dead weight sehingga
timbul perbedaan tekanan dan menyebabkan permukaan tersambung. Sebelumnya material
dipanaskan terlebih dahulu pada tungku atau dengan listrik.
Proses ini cocok untuk menyambungkan logam ataupun komposit yang berbeda
jenis, fabrikasi yang kompleks dengan kuantitas rendah, dilakukan otomatis, harga
pertengahan. Diffusion Welding ( DFW ) yaitu dua pemukaan logam yang akan disambung
disatukan, kemudian dipanaskan dengan temperatur mendekati titik lebur logam sehingga
permukaan yang akan disambung menjadi plastis dan dengan memberi tekanan tertentu
maka terbentuk sambungan logam.
Prose pengelasan solid state dng aplikasi panas & tekanan biasanya juga dng
aplikasi atmosphere yg terkendali, shg dng berjalannya waktu akan terjadi difusi pada
material yg di sambung. Temperatur yg di gunakan di bawah titik lebur logam shg
deformasi plastis di permukaan hanya minimal. Mekanisme utama penyambungan adalah
Solid State Diffusion yg mengakibatkan perpindahan atom-atom menyilang di antara
permukaan- permukaan kontak.
Parameter yang menentukan pembentukan sambungan dalam diffusion welding
adalah temperatur, tekanan, waktu, dan kualitas permukaan. Temperatur merupakan
parameter terpenting karena berhubungan dengan laju difusi atom. Parameter tekanan akan
memberikan deformasi puncak-puncak kekasaran permukaan sehingga akan menempel
dengan kuat. Parameter waktu merupakan lamanya kesempatan atom berdifusi. Sedangkan
kualitas permukaan berhubugan dengan keterjaminan kontak antar permukaan material
yang akan disambung.
Diffusion bonding merupakan proses penyambungan antara dua material dengan
cara pemanasan dan penekanan, tanpa pencairan pada materialnya. Penyambungan yang
terjadi karenan adanya difusi atomantar material. Penekanan untuk memberikan kontak
dalam jarak interatomik sehingga difusi atom antara material dapat terjadi lebih mudah.
Karakteristik penyambungan dengan proses diffusion welding adalah sebagai
berikut:
1. Sambungan terjadi pada temperatur dibawah titik cair material yaitu 0,5 0,8 Tm.
2. Penyatuan antar permukaan kontak dihasilkan dengan memberikan beban yang
kecil sehingga tidak terjadi deformasi plastis yang berlebihan.
3. Lapisan antar dapat diberikan untuk membantu meningkatkan aktivitas
pembentukan sambungan dalam proses bonding.
2.2 Mekanisme Diffusion Welding
Dalam Diffusion Welding proses penyambungan pada dasarnya merupakan
penggabungan dua permukaan material padat secara atomic. Penyatuan permuakaan terjadi
karena adanya proses difusi atom antar permuakaan material. Adapun mekanisme
penyatuan permuakaan secara lengkap dijelaskan dalam gambar 1.

Gambar 2. Tahapan Metalurgi Diffusion Bonding

Mekanisme penyambungan dapat dibagi menjadi 3 tahap. Setiap tahapan tidak


berlangsung secara terpisah tetapi mulai dan berakhir secara berkesinambungan, sehingga
mekanisme metalurginya saling melengkapi. Setiap tahap mempunyai kontribusi yang
sama pentingnya selama proses penyambungan Pada tahap pertama, faktor kekasaran
permukaan dan tekanan mempunyai peranan yang penting. Permukaan benda kerja yang
sebenarnya tidak pernah betul-betul halus dan rata. Sehingga pada daerah kontak antar
permukaan logam akan membentuk rongga-rongga akan berkurang karena pada ujung
kekasarannya terdeformasi. Secara ideal tahap pertama berjalan penuh, bila menghasilkan
hilangnya puncak kekasaran dan penyebaran void yang merata pada daerah kontak. Pada
tahap kedua, diffusion welding terjadi pengurangan rongga-rongga pada permukaan
kontak.
Pengurangan rongga-rongga ini dikarenakan adanya proses perpindahan masa
menuju rongga yang mengakibatkan ukuran rongga berubah mengecil. Dalam diffusion
welding proses perpindahan masa berlangsung secara bersamaan berupa aliran plastis,
difusi dari interface menuju rongga melalui lattice, interface dan grain boundary.
Gambar 3. Skema Bagian dari Transfer Material Selama Proses Diffusion Bonding

Lebih jelasnya bagian dari transfer massa dapat dilihat pada gambar 3. yang
meliputi peluluhan plastis yang mendeformasi ujung kontak permukaan, difusi surface dari
permukaan menuju leher, difusi volume dari permukaan ke leher, penguapan dari
permukaan mengembun pada leher, difusi grain boundary dari antar muka menuju leher,
difusi volume dari antar muka menuju leher, power law creep Pada tahap ketiga, bagian
difusi yang dominan adalah difusi volume.
Selama tahap ini rongga-rongga menyusut hingga menjadi sangat kecil dan
akhirnya hilang. Batas butir bergerak menuju sebuah bentuk kesetimbangan, hingga
menyatu dan tidak dapat dibedakan dari grain boundary lainnya, secara struktur mikro.
Bidang kontak permukaan awal berubah karena adanya penetrasi lokal difusi atom. Tahap
tiga berlanjut secara sempurna dengan hilangnya rongga-rongga hingga menyatunya
permukaan kedua material yang disambung.

2.3 Kelebihan dan Kekurangan Diffusion Welding


2.3.1 Kelebihan
Sambungan yang dihasilkan memiliki sifat-sifat dan struktur mikro yang
Sama dengan logam induknya. Komponen yang disambung mengalami distorsi
minimum dan tidak memerlukan proses permesinan atau pembentukan lagi. Dapat
menyambung dua material yang berbeda yang tidak dapat disambung dengan proses
fusi. Beberapa sambungan pada suatu struktur dapat dilakukan secara serentak. Dapat
menyambung pada tempat atau bagian yang sulit. Dapat menyambung komponen
besar tanpa proses preheat. Cacat yang biasa terdapat dalam diffusion welding tidak
ditemukan.
2.3.2 Kekurangan
Pada umumnya memerlukan durasi siklus yang lebih panjang, biaya peralatan
mahal sehingga mempengaruhi nilai ekonomisnya, memerlukan lingkungan khusus
yang terlindung dari proses oksidasi, karena proses difusi sangat sensitive terhadap
oksidasi, teknik pemerikasaan yang tidak merusak belum tersedia, khususnya yang
menjamin sifat-sifat rancangan pada sambungan, interlayer dan produser yang sesuai
belum dikembangkan untuk semua struktur paduan, permukaan yang disambung atau
diperbaiki memerlukan persiapan yang lebih rumit, kebutuhan penerapan panas dan
gaya tekan yang tinggi secara serentak dalam lingkungan vakum merupakan masalah
peralatan utama pada diffusion welding.

2.4 Diffusion Welding dengan Bantuan Interlayer


Dalam proses diffusion welding dapat dilakukan dengan menambahkan lapisan
antara (interlayer) pada permukaan kontak material yang disambung. Penambahan
interlayer ini bertujuan untuk membantu meningkatkan aktivitas proses difusi pada material
yang disambung. Dalam hal ini biasanya dipilih interlayer dari material yang memiliki
kelarutan yang baik pada material yang disambung. Interlayer dapat pula dipilih dari
material yang dapat menangkap unsur kotoran pada interface dan menghasilkan permukaan
yang bersih.
Untuk tujuan tersebut material yang dipilih adalah material yang memiliki
solusibilitas yang tinggi yang mengandung unsur interstisi. Pada interlayer dapat juga
menggunakan material lunak dengan tujuan memaksimalkan bidang kontak selama tahap
pertama bonding. Material yang sering digunakan sebagai interlayer seperti tembaga, perak
dan nikel. Ketebalan lapisan interlayer akan mempengaruhi kekuatan mekanis dari
sambungan.
Untuk mendapatkan kekuatan mekanis sambungan diffusion welding yang
maksimal, maka lapisan interlayer harus tipis. Sambungan dengan interlayer yang tebal,
tegangan tarik secara langsung berhubungan dengan sifat bulk dari material interlayer.
Sedangkan dengan interlayer yang relatif tipis, kekuatan tarik sambungan meningkat,
karena material matrik meregang pada aliran plastis kontak interface yang berinteraksi
dengan logam induk.
Studi eksperimen yang telah dilakukan menunjukkan untuk memperoleh kekuatan
iterface yang maksimum, disarankan ketebalan interlayer kurang lebih 0,025 mm . Banyak
variabel yang berpengaruh terhadap hasil diffusion bonding. Variabel ini meliputi kondisi
lingkungan, proses, kondisi permukaan material, tekanan bonding, dan lamanya
pemanasan. Diffusion bonding dapat dilakukan pada lingkungan yang dilindungi dengan
suatu gas pelindung seperti gas argon. Lebih baik lagi diffusion welding dilakukan pada
lingkungan vakum yang bertekanan 10-1 10-3 Pa.

2.5 Aplikasi Diffusion


Komponen alat-alat elektronik pada umumnya memiliki tingkat presisi yang sangat
tinggi serta dimensi yang relatif lebih kecil. Untuk melakukan penyambungan dengan
metode pengelasan konvensional sangat sulit dilakukan, walaupun dapat dilakukan tetapi
kualitas sambungan kurang bagus.
Maka sebagai alternatif, untuk proses penyambungan digunakan metoda diffusion
bonding. Kualitas sambungan yang dihasilkan dengan metode diffusion bonding sangat
presisi karena proses penyambungan yang terjadi dalam skala mikro. Dengan memberikan
pemanasan pada material, maka atom-atom melakukan pergerakan dan penggabungan
sehingga material tersebut tersambung.
Selain itu, untuk dimensi material yang kecil dapat diproses dengan metode ini,
dimana dengan las fusi tidak bisa dilakukan Proses penyambungan difusi tanpa vakum
merupakan bagian dari metode penyambungan difusi. Metode ini dipilih sebagai altenatif
karena pada proses penyambungan difusi memerlukan ruang hampa udara untuk proses
penyambungan.
Peralatan tungku pemanasan dengan kondisi vakum sangat mahal Abdi Arpan
Azhar Nasution/0810911008 1 Pendahuluan sehingga metode penyambungan difusi tanpa
vakum menjadi solusi yang menarik. Pada penyambungan difusi tanpa vakum dapat
dilakukan ditungku perlakuan panas biasa atau tungku induksi dengan mengisolasi dari
udara yang dapat menyebabkan oksidasi. Cara mengisolasinya yaitu dengan mengalirkan
gas argon ke dalam tungku selama proses pemanasan terjadi.
Diffusion welding digunakan untuk menggabungkan logam-logam berkekuatan
tinggi dan tahan api di industri pesawat terbang dan nuklir. Pada beberapa aplikasi, proses
pengelasannya atau difusinya dapat berlangsung lama (lebih dari satu jam).

Gambar 4. Aplikasi pada Pesawat Udara

Proses ini cocok untuk menyambungkan logam ataupun komposit yang berbeda
jenis, fabrikasi yang kompleks dengan kuantitas rendah, dilakukan otomatis, harga
pertengahan. Aplikasi Diffusion welding termasuk utuk penyambungan logam kekuatan
tinggi dan logam olahan utuk industri nuklir dan luar angkasa. Batasan dari proses ini
adalah waktu yang dibutuhkan utuk terjadinya difusi atom logam.
DAFTAR PUSTAKA

Sirod Hantoro, Tiwan. Diffusion Bonding Material Tungsten-Baja Dengan Interlayer Ag-
4% Cu. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta

http://www.phase-trans.msm.cam.ac.uk/2005/Amir/bond.html
http://papers.sae.org/640821/