RESUME MATERI GEODESI FISIS
(Disusun untuk memenuhi syarat mata kuliah Geodesi Fisis)
Disusun Oleh :
Seprila Putri Darlina 21110114130051
DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
Jl. Prof. Sudarto SH, Tembalang Semarang Telp. (024)76480785, 76480788
e-mail : jurusan@geodesi.ft.undip.ac.id
2017
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI..................................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................1
I.1 Geoid...............................................................................................................1
I.2 Penentuan Tinggi Orthometrik........................................................................1
I.3 Metode Penentuan Geoid................................................................................1
I.4 Penentuan Geoid Secara Presisi......................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................1
II.1 Penelitian Yang Berkaitan Dengan Geoid.......................................................1
II.2 Landasan Teori................................................................................................1
II.2.1 Sistem Tinggi...........................................................................................1
II.2.2 Gaya Berat...............................................................................................1
II.2.3 Anomali Gaya Berat................................................................................1
II.2.4 Penentuan Geoid Gravimetrik.................................................................1
II.2.5 Penentuan Geoid Lokal...........................................................................1
BAB III ANALISA.......................................................................................................1
BAB IV KESIMPULAN...............................................................................................1
ii
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Geoid
Geoid disebut sebagai model bumi yang paling mendekati bentuk
sesungguhnya. Geoid adalah bidang ekipotensial yang berimpit dengan
permukaan laut pada saat keadaan tenang dan tanpa gangguan , karena itu secara
praktis geoid dianggap berhimpit dengan permukaan laut rata-rata (Mean sea
level-MSL). Geoid sebagai model fisik bumi tidak sama dengan ellipsoid sebagai
model matematis bumi. Sehingga terdapat perbedaan ketinggian antara geoid dan
ellipsoid yang disebut Undulasi.
Bumi merupakan permukaan yang tidak homogen, satu tempat dengan
tempat lain memiliki densitas massa yang berbeda-beda sehingga terdapat
keberagaman undulasi antara satu tempat dengan tempat lain. Untuk keperluan
praktis, seperti survei, rekayasa, dan pemetaan membutuhkan informasi geoid
yang teliti, karena geoid menggambarkan kondisi fisik bumi yang sesungguhnya.
Sistem tinggi yang bereferensi kepada geoid disebut Tinggi Orthometrik.
Pemodelan Goid juga digunakan untuk penentuan datum geodetik.
INCLUDEPICTURE
"https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/56/Geoids_sm.jpg/
1
220px-Geoids_sm.jpg" \* MERGEFORMAT
I.2 Penentuan Tinggi Orthometrik
Tinggi orthometrik adalah tinggi yang mengacu pada geoid. Tinggi
orthometrik adalaha tinggi yang diukur sepanjang garis arah gaya berat (unting-
unting) yang melalui bidang yang bersangkutan. Tinggi orthometrik
menggambarkna tinggi fisik bumi.
I.3 Metode Penentuan Geoid
Model Geoid (geopotensial) dapat diturunkan dari data gaya berat. Akurasi
model geoid ditentukan oleh kualitas gaya berat dan formula matematika yang
digunakan untuk pengolahan. Data gaya berat dapat diperoleh dari pengukuran
sebagai berikut:
a. Pengukuran terestris dengan gravimetri
Pengukuran gaya berat secara terestris menggunakan alat gravimeter
secara langsung dipermukaan bumi. Alat gravimeter di tempatkan pada
titik-titik yang akan diukur gaya beratnya, salah satu dari titik yang
diukur harus sudah memiliki nilai gaya berat pasti sebagai titik ikat.
Pada titik yang diketahui gaya beratnya dilakukan pembacaan skala
mikrometer, selanjutnya gravimeter dipindahkan ke titik lain dan
diamati perbedaan gaya beratnya terhadap titik ikat.
2
Pengukuran ini memiliki kelemahan jika daerah observasi cukup luas,
serta kondisi topografi sulit dijangkau seperti hutan belantara,
pegunungan, gunung es, dan lautan luas.
b. Pengukuran dari udara dengan Airborne Gravimetri
Pemodelan geoid menggunakan Airborne Gravimeter dilengkapi dengan
GPS receiver yang ditempatkan di pesawat terbang bersama gravimeter.
Gaya berat yang diukur merupakan percepatan total yang dialami oleh
pesawat. Hasil pengukuran ini membutuhkan koreksi-koreksi untuk
mendapatkan nilai gaya berat free air untk menghilangkan pengaruh
atmosfer diantara pesawat dan permukaan bumi, seperti koreksi eotvos,
koreksi percepatan horizontal pesawat, korelsi percepatan vertikal
pesawat dan koreksi free air. GPS memberikan informasi kecepatan dan
percepatan pesawat terbang, serta digunakan untuk navigasi pesawat
terbang.
c. Pengukuran dari luar angkasa menggunakan data satelit, pengukuran ini
dapat dibedakan menjadi dua jenis:
Satelit Sistem Geometrik
Sistemnya adalah dengan mengombinasikan satelit altimetry dan
satelit GPS. Selanjutnya dilakukan perbandingan jarak yang
diperoleh dari satelit altimetry dengan jarak yang diperoleh dari GPS
dalam fungsi waktu.
Satelit Sistem Dinamik
Metode ini menerapkan perhitungan penyimpangan posisi satelit
terhadap orbit akibat adanya perbedaan massa dimuka bumi. Jika
sistem satelit menganggap bumi sebagai ellipsoid dengan massa
yang homogen, maka medan gaya beratnya akan memiliki suatu
medan massa tertentu dan orbit satelit akan berbentuk ellips yang
sempurna. Namun fakta massa bumi tidak homogen sehingga terjadi
peyimpangan terhadap orbit ideal. Dengan melakukan penjejakan
terhadap satelit, maka kita dapat menentukan seberapa besar
penyimpangan orbit satelit dan kemudian dapat dihitung seberapa
3
besar perbedaan medan gaya berat bumi dibandingkan dengan massa
sebuah titik. Ini merupakan cara yang baik untuk mendapatkan
kenampakan gelombang panjang (long wavelength) dari medan gaya
berat. Misi Satelit Gravimetri diantaranya bernama GRACE
(Gravity Recovery And Climat Experiment) dan GOCE (Gravity
field and steady-state Ocean Circulation Explorer).
d. Interpolasi untuk wilayah-wilayah yang tidak ada data gaya berat
Adalah penentuan gaya berat pada suatu titik dengan interpolasi dari
nilai gaya berat titik lain disekitarnya.
I.4 Penentuan Geoid Secara Presisi
Penentuan geoid secara dapat dilakukan metode pengukuran seperti
disebutkan diatas. Untuk penentuan geoid lokal dapat dilakukan dengan metode
gravimetrik dan airborne gravimetry, namun untuk permukaan bumi secara
keseluruhan lebih baik menggunakan pengukuran satelit. Untuk mendapatkan
hasil geoid yang presisi dibutuhkan reduksi-reduksi terhadap data hasil
pengukuran.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Penelitian Yang Berkaitan Dengan Geoid
Penentuan model geoid adalah sesuatu yang perlu dilakukan, berikut adalah
penelitian yang pernah dilakukan :
1. Pemodelan Geoid Kota Semarang tahun 2013
Penelitian menggunkan metode kombinasi untuk penentuan metode
geoid, yaitu menggunakan informasi gaya berat local dengan MGG EGM96.
Penelitian ini menunjukan bahwa model geoid metode kombinasi belum
bias dijadikan referensi untuk penetuan tinggi orthometrik untuk keperluan
praktis, hal ini karena besarnya selisih undulasi yang diperoleh dari metode
kombinasi dengan undulasi geoid geometrik.
4
2. Pengaruh variasi degree model geopotensial global (mgg) terhadap
ketelitian geoid lokal ( studi kasus: Provinsi D.I. Yogyakarta) tahun
2014.
Penelitian menunjukan bahwa dalam pemodelan geoid, komponen
panjang data MGG memberikan kontribusi nilai dan kesalahan signifikasi,
sehingga ketelitian perhitunan undulasi geoid dapat ditingkatkan dengan
menggunakan degree MGG yang rendah. Penelitian ini juga menunjukan
bahwa semakin tinggi topografi suatu wilayah maka nilai anomaly free
airnya semakin tinggi, dan sebaliknya.
II.2 Landasan Teori
II.2.1 Sistem Tinggi
Suatu objek memiliki ketinggian berdasarkan sistem tinggi yang mengacu
pada referensi tertentu. Terdapat dua jenis sistem tinggi yaitu sistem tinggi
orthometrik (H) dan sistem tinggi geometrik (h). Sistem tinggi orthometrik
bereferensi pada model fisik bumi yaitu geoid, dimana tinggi diukur sepanjang
garis arah gaya berat yang melalui titik yang bersangkutan. Sedangkan tinggi
geometrik adalah tinggi yang mengacu pada model matematis bumi yaitu
ellipsoid. Karena beda referensi terdapat perbedaan tinggi antara tinggi
orthometrik dan tinggi geometrik. Beda ini disebut dengan Undulasi. Undulasi
dapat dirumuskan sebagai berikut
5
II.2.2 Gaya Berat
Gaya berat adalah resultan antara gaya gravitasi dengan gaya sentrifugal
yang terjadi pada suatu titik. Garis arah gaya berat (g) searah dengan unting-
unting (plumbline), garis arah gravitasi (G) menuju pusat massa bumi dan garis
arah gaya sentrifugal (f) tegak lurus dengan sumbu rotasi bumi. Hukum dasar
metode gaya berat adalah hukum gravitasi newton. Dimana objek dengan massa
yang berbeda dan terpisah sejauh R akan memiliki gaya tarik menarik satu sama
lain, hal tersebut dirumuskan sebagai berikut :
G = gaya gravitasi
K = Konstanta gravitasi
ME, mo = massa 1 dan massa 2
r = jarak antara massa 1 dan massa 2
Pernbedaan massa batuan di permukaan bumi menyebabkan penyebaran
gaya berat yang tidak merata. Gaya berat dinyatakan dengan satuan cm/s2 = 1 gal.
G= Gaya gravitasi 1 = bidang elipsoid
g = Gaya berat 2 = meridian greenwich
f = gaya sentrifugal 3 = bidang ekuator
6
II.2.3 Anomali Gaya Berat
Anomali gaya berat adalah perbedaan gaya berat ukuran dengan gaya berat
teoritis (Pick dkk, 1973), selain itu juga dapat diartikan sebagai perbedaan gaya
berat digeoid dngan gaya berat normal pada permukaan ellipsoid untuk setiap
lintang pengamatan.
a. Reduksi Gaya Berat
Hasil pengukuran gaya berat menggunakan gravimeter adalah nilai gaya
berat yang berada di permukaan bumi dan masi dipengaruhi oleh rotasi
bumi, topografi, perbedaan rapat massa, bentuk global bumi yang
merupakan ellipsoid, serta gaya berat bumi dan matahari. Dalam penetuan
geoid, nilai gaya berat yang dibutuhkan adalah nilai gaya berat yang
berada di Geoid, oleh karena itu diperlukan reduksi-reduksi pada data
pengukuran untuk mendapatkan nilai gaya berat yang berada di Geoid.
Reduksi gaya berat meliputi:
1) Koreksi Apungan ( Drift)
Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan kesalahan pembacaan
pada alat akibat perpindahan dari suatu titik pengamatan ke titik
pengamatan lain. Pada saat dilakukan perpindahan alat akan terjadi
goncangan yang mengakibatkan bergesernya pembacaan titik nol
pada alat gravimeter.
Dimana :
Dn = Koreksi drift pada titik-n
tn = Waktu pembacaan pada titik-n
tB = Waktu pembacaan di titik ikat pada awal looping
tB = Waktu pembacaan di titik ikat pada akhir looping
gB = Nilai pembacaan di titik ikat pada awal looping
gB = Nilai pembacaan di titik ikat pada akhir looping
7
2) Koreksi Pasang Surut ( Tide Correction)
Koreksi pasang surut bumi dimaksudkan untuk menghilangkan
perbedaan pembacaan yang disebabkan oleh pengaruh jarak dari
matahari dan bulan pada setiap saat. Pengaruh jarak matahari dan
bulan ini akan berpengaruh terhadap bacaan gravimeter. Besarnya
koreksi pasang surut :
Tic = Koreksi pasang surut
D = Jarak antara pusat bumi dan matahari
3) Koreksi Lintang
Koreksi lintang merupakan koreksi terhadap titik pengukuran
terhadap kutub bumi. Jadi di setiap lintang yang berbeda memiliki
medan gravitasi berbeda antara medan gravitasi pada saat
pengukurannya dengan medan gravitasi normal
4) Koreksi Free Air
Koreksi ini merupakan koreksi terhadap pengaruh ketinggian
pengukuran terhadap medan gravitasi bumi. Di setiap titik dengan
ketinggian berbeda memiliki medan gravitasi berbeda. Koreksi
yang mengasumsika diantara geoid dan titik observasi tidak
terdapat massa.
5) Koreksi Bouguer
Koreksi massa lapisan yang diasumsikan berada diantara titik amat
dengan bidang referensi. Koreksi Bouger adalah koreksi akibat
8
pengaruh ketinggian, dan memperhitungkan intensitas massa dan
ketebalan yang terdapat diantara surface dan geoid.
6) Koreksi Topografi
Koreksi topografi adalah koreksi pengaruh topografi terhadap gaya
berat pada titik amat, akibat perbedaan ketinggian antara titik
observasi dengan base. Massa di bawah permukaan tidak
diperhatikan.
b. Gaya Berat Normal
Adalah gaya berat yang bereferensi pada bidang ellipsoid karena dianggap
sebagai bentuk bumi normal mewakili geoid dalam arti fisis maupun
geometris, syarat ellipsoid dianggap dapat ewakili geoid adalah :
Potensial ellipsoid sama dengan potensial geoid
Massa ellipsoid sama dengan massa bumi
Kecepatan rotasi ellipsoid sama dengan kecepatan rotasi sumbu
bumi
Pusat ellipsoid brhimpit dengan pusat bumi.
Rumus gaya berat normal adalah
= E (1 + 1sin2 - 2sin22)
9
Keterangan :
: gayaberat normal
E : gayaberat normal di ekuator
: lintang
1 dan 2 : konstanta yang besarnya berbeda untuk setiap model ellipsoid
c. Anomali Gaya Berat Free Air
Anomali gaya berat free air adalah gaya berat observasi yang dikoreksi
dengan reduksi free air, anomali gaya berat free air dapat dirumuskan
sebagai berikut
FA = ( + 0,3086H) -
Dimana
: gaya berat observasi
H : ketinggian permukaan dari msl (m)
: gayaberat normal
II.2.4 Penentuan Geoid Gravimetrik
Penentuan geoid gravimetrik dilakukan dengan menggunakan data gaya
berat.
Contohnya titik P diukur pada permukaan geoid dan akan direferensikan
pada elipsoid referensi untuk referensi gaya berat normal. Titik P di permukaan
geoid diasumsikan sebagai titik Q pada bidang elipsoid. Sehingga jarak PQ
disebut sebagai undulasi. Pada kasus ini pemodelan geoid dapat dilakukan
dengan dua teorema , yaitu teorema bruns dan teorema stokes.
Teorema Bruns menyatakan hubungan undulasi geoid (N) dengan anomali
potensial (T). Potensial gaya berat titik dipermukaan bumi (W) berbeda dengan
10
potensial gaya berat normal (U) dipermukaan elipsoid, hal ini disebut sebagai
Anomali Potensial (T), hal tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
TP = WP UP
UP = UQ + Q N = UQ N
WP = UP + TP = UQ N + TP
Karena titik Q adalah proyeksi titik P sepanjang garis normal elipsoid dan
elipsoid dianggap mewakili geoid, sehingga memiliki potensial yang sama
(UQ=WP=WO), maka diperoleh hubungan anomali potensial dengan undulasi
sebgaai berikut:
T = N atau N = T/
Teorema stokes megasumsikan semua massa yang terletak diluar geoid
harus direduksi. Teorema ini digunakan untuk menghitung anomali potensial
sebagai fungsi anomali gaya berat. Pada gambar diamati gP adalah vektor gaya
berat dari P dan Q adalah vektor gayaberat normal dari Q, sehingga besarnya
perbedaan antara kedua vektor tersebut merupakan anomali gayaberat (g)
g = gP Q
Nilai anomali gaya berat tersebut digunakan unutk menghitung anomali
potensial
Jika di substitusikan dengan teorema bruns , maka akan diperoleh
hubungananomali gaya berat dengan undulasi sebagai berikut
II.2.5 Penentuan Geoid Lokal
Perhitungan undulasi geoid dilakukan menggunakan persamaan stokes
dengan menghitung nilai undulasi pada area kecil menggunakan pendekatan
bidang datar. Pemodelan geoid memperhitungkan tiga komponen yaitu, komponen
gelombang panjang (long-wavelength) yang diperoleh dari model geopotensial
global (MGG), komponen gelombang menengah (medium-wavelength) yang
11
diperoleh dari data gayaberat local, dan komponen gelombang pendek
(shortwavelength) yang diperoleh dari data tinggi topografi dalam bentuk model
terrain digital (MTD). Ketiga komponen tersebut digambarkan sebagai berikut
Keterangan :
NGM : Undulasi yang dihitung dari komponen gelombang panjang (m)
NG : Undulasi yang dihitung dari komponen gelombang menengah (m)
NH : indirect effect (m)
Untuk menentukan undulasi dari ketiga komponen tersebut dapat
dilakukan metode remove restore. Dikatakan remove karena merupakan
pengurangan data anomali free air dari efek komponen gelombang panjang
(MGG) dan gelombang pendek (topografi) menghasilkan residual anomaly gaya
berat. Dikatakan restore karena memasukan kembali kontribusi MGG dan
topografi terhadap nilai residual undulasi sehingga menghasilkan nilai undulasi.,
hal tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan :
g : residual anomali gayaberat
gFA : anomali gayaberat free air
gGM : anomali gayaberat dari komponen gelombang panjang
H : anomali gayaberat dari komponen gelombang pendek
a. Kontribusi MGG Dalam Penentuan Geoid Lokal
12
Model geopotensial global merupakan penyedia komponen gelombang
panjang pada pemodelan geoid local, hal ini digunakan untuk menghitung
residual anomaly gaya berat dan undulasi. MGG yang digunakan adalah
EGM2008 sebagai model geopotensial global terbaru yang memiliki
degree dan orde 2159 dan tambahna koefisien sampai degree 2190.
Penggunaan MGG meningkatkan ketelitian undulasi geoid. Kontribusi ini
dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan:
Cnm, Snm : koefisien potensial fully normalized geopotential dari
potensial anomali
Pnm : fully normalized Legendre function
nmax : derajat maksimal dari model geopotensial
n,m : derajat dan orde dari model geopotensial
: gayaberat rata-rata
R : jari-jari rerata bumi (6371008 meter)
( , ) : lintang dan bujur geosentrik
BAB III ANALISA
Untuk meningkatkan keakuratan model geoid, diperlukan penggunaan data
komponen gelombang panjang (long-wavelength) yang diperoleh dari model
geopotensial global (MGG), komponen gelombang menengah (medium-
wavelength) yang diperoleh dari data gayaberat local, dan komponen gelombang
pendek (shortwavelength) yang diperoleh dari data tinggi topografi dalam bentuk
model terrain digital (DTM).
Data pengukuran gaya berat membutuhkan reduksi untuk menghilangkan
factor eksternal yang mempengaruhi nilai gaya berat, seperti:
a. Koreksi Lintang untuk mereduksi perbedaan percepatan gravitasi setiap
lintang
13
b. Koreksi Free Air untuk mereduksi massa diantara titik observasi dengan
geoid
c. Koreksi Bouguer untuk menghitung pengaruh massa dan ketebalan antara
titik observasi dan geoid
d. Koreksi Topografi untuk mereduksi pengaruh gaya berat pada titik akibat
perbedaan tinggi titik observasi dengan titik ikat.
e. Koreksi Pasang Surut untuk mereduksi perbedaan bacaan akibat
perubahan posisi matahari dan bulan setiap saat.
f. Koreksi Apungan untuk mereduksi kesalahan pembacaan pada gravimeter
akibat perpindahan alat dari satu titik pengamatan ke titik lain.
14
BAB IV KESIMPULAN
Pengukuran gaya berat untuk membuat model goid dapat dilakukan dengan
pengukuran terestris, dengan pesawat udara, ataupun dengan media satelit. Semakin
banyak komponen yang digunakan unutk pemodelan geoid, semakin presisi model
tersebut sebagai model fisik bumi. Pengukuran gaya berat tidak terlepas dari anomaly
akibat posisinya dipermukaan bumi, sehingga untuk mendapatkan model yang
sesungguhnya dibutuhkan reduksi terhadap data pengukuran. Model geoid
dibutuhkan sebagai perhitugan tinggi orthometrik untuk kebutuhan praktis seperti
rekayasa, survey, dan pemetaan. Hal ini menuntut pentingnya pemodelan geoid local
untuk mendapatan acuan ketinggi yang benar.
15