Datum Lokal Indonesia dalam Geodesi
Datum Lokal Indonesia dalam Geodesi
Dosen:
Aning Haryati, S.T.M.T.
Disusun Oleh :
DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 2
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 3
BAB I ......................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 4
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 6
1.3 Tujuan .............................................................................................................................. 6
BAB 2 ........................................................................................................................................ 7
PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 7
2.1 Pengertian Datum............................................................................................................. 7
2.2 Jaring Doppler ................................................................................................................ 10
2.3 Datum Lokal Indonesia .................................................................................................. 12
BAB 3 ...................................................................................................................................... 19
KESIMPULAN ........................................................................................................................ 19
Daftar Pustaka .......................................................................................................................... 20
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan kesempatan pada
penulis untuk menyelesaikan makalah ini. Atas rahmat dan hidayah-Nya lah penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Datum Lokal Indonesia” dengan tepat waktu.
Makalah “Datum Lokal Yang Ada di Indonesia” disusun guna memenuhi tugas , Ibu Aning
Haryati, ST,MT pada mata kuliah Kerangka Kontrol Geodesi I ( KKG I ) di FTPA Universitas
Winaya Mukti . Selain itu, penulis juga berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan
bagi pembaca tentang “Datum Lokal Yang Ada di Indonesia”
Penyusun mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada , Ibu Aning Haryati, ST,MT
selaku dosen mata kuliah Kerangka Kontrol Geodesi I ( KKG I ). Tugas yang telah diberikan
ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan terkait bidang yang ditekuni penulis. Penulis
juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan
makalah ini.
Bima Arya
3
BAB I
PENDAHULUAN
Dengan keterbatasan teknologi penentuan posisi pada zaman dahulu, awalnya masing
masing Negara mempunyai referensi sendiri-sendiri, tidak ada upaya untuk melakukan
penyatuan. Ellipsoid ditentukan dengan pendefinisian Best-fit untuk masing-masing
wilayahnya. Sehingga ellipsoid yang dipakai di Negara A, berbeda dengan Ellipsoid yang
dipakai di Negara B.
Di Indonesia pun demikian, Menurut Schepers dan Schulte. 1931, dalam Subarya. 1996,
Penentuan posisi dengan metoda triangulasi dimulai pada tahun 1862 yaitu jaring utama
triangulasi di P.Jawa, dan selesai pada tahun 1880. Terdiri dari 114 titik, ditempatkan di
puncak-puncak gunung, dengan tiga basis. Sistem koordinat triangulasi Jawa dihitung mengacu
kepada elipsoid Bessel 1841, dengan lintang dan azimuth ditentukan titik triangulasi di
Genoek, dan untuk hitungan bujur, Batavia (sekarang Jakarta) sebagai meridian nol.
Selanjutnya pada tahun 1883 jaring utama triangulasi Jawa diperluas ke P. Sumatera,
sedemikian rupa hingga triangulasi Sumatera membentuk satu sistem dengan triangulasi Jawa.
Pada periode tahun 1912-1918 jaring utama triangulasi Jawa diperluas ke Bali dan Lombok.
Pada tahun 1911 pengukuran jaring utama triangulasi di Celebes (sekarang Sulawesi) dimulai.
Sistem koordinat adalah Bessel 1841 ellipsoid, dengan lintang dan azimuth ditentukan di titik
triangulasi di G..Moncong Lowe dan dalam penentuan bujur, Makasar sebagai meridian nol.
Sampai pada tahun 1960-an, yaitu telah adanya satelit Doppler, usaha penyatuan referensi
(datum) mulai dipelopori oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) (BAKOSURTANAL pada
jaman itu), pilar pilar triangilasi tersebut diukur ulang dengan menggunakan satelit Doppler.
Pada saat itu, Indonesia menggunakan Datum Padang sebagai referensi, namun datum yang
dimiliki Indonesia belum menyatu dengan Negara lain. Dengan hasil pengukuran ini, Indonesia
4
berhasil mendefinisikan referensi nasionalnya yaitu Indonesian Datum 1974 (ID74), dengan
mengacu pada ellipsoid GRS-67 (Geodetic Reference System 1967).
Baru setelah Era GPS, tahun 1990-an, dilakukan pengukuran kembali disemua pilar, dan
juga untuk keperluan survey dan pemetaan, dilakukan densifikasi pilar sampai pada orde 1 oleh
BAKOSURTANAL dan orde turunannya oleh instansi lain seperti Badan Pertanahan Nasional
(BPN), Dittopad, Swasta, dll. Dengan adanya teknologi GPS, sangat memungkinkan dilakukan
penyatuan referensi di seluruh Dunia, yaitu sistem referensi Global. Pada saat itu, Indonesia
Berhasil mendefinisikan referensi Nasionalnya, yaitu Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN95)
yang mengacu pada sistem referensi global yaitu ITRF 1992, epoch 1991.0. Sistem referensi
nasional ini bertahan selama lebih kurang 2 dekade. Referensi ini bersifat statis, yaitu koordinat
dianggap tidak berubah.
5
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
1. Dapat memahami dan menjelaskan apa itu datum dan apa itu datum lo
6
BAB 2
PEMBAHASAN
Datum geodetik atau referensi permukaan atau georeferensi adalah parameter sebagai
acuan untuk mendefinisikan geometri ellipsoid bumi. Datum geodetik diukur menggunakan
metode manual hingga yang lebih akurat lagi menggunakan satelit.
a) Parameter utama, yaitu setengah sumbu panjang ellipsoid (a), setengah sumbu pendek
(b), dan penggepengan ellipsoid (f).
b) Parameter translasi, yaitu yang mendefinisikan koordinat titik pusat ellipsoid
(Xo,Yo,Zo) terhadap titik pusat bumi.
c) Parameter rotasi, yaitu (εx, εy, εz) yang mendefinisikan arah sumbu-sumbu (X,Y,Z)
ellipsoid.
d) Parameter lainnya, yaitu datum geodesi global memiliki besaran yang banyak hingga
mencakup konstanta-konstanta yang merepresentasikan model gaya berat bumi dan
aspek spasial lainnya.
7
− Jenis datum geodetik menurut metodenya :
a) Datum horizontal adalah datum geodetik yang digunakan untuk pemetaan horizontal.
Dengan teknologi yang semakin maju, sekarang muncul kecenderungan penggunaan
datum horizontal geosentrik global sebagai penggganti datum lokal atau regional.
b) Datum vertikal adalah bidang referensi untuk sistem tinggi ortometris. Datum vertikal
digunakan untuk merepresentasikan informasi ketinggian atau kedalaman. Biasanya
bidang referensi yang digunakan untuk sistem tinggi ortometris adalah geoid.
a) Datum global adalah datum geodesi yang menggunakan ellipsoid referensi yang sesuai
dengan bentuk geoid seluruh permukaaan bumi. Karena masalah penggunaan datum
yang berbeda pada negara yang berdekatan maupun karena perkembangan teknologi
penentuan posisi yang mengalami kemajuan pesat, maka penggunaan datum mengarah
pada datum global. Datum datum global yang pertama adalah WGS 60, WGS66, WGS
72, awal tahun 1984 dimulai penggunaan datum WGS 84, dan ITRF.
b) Datum regional adalah datum geodesi yang menggunakan ellipsoid referensi yang
bentuknya paling sesuai dengan bentuk permukaan geoid untuk area yang relatif lebih
luas dari datum lokal. Datum regional biasanya digunakan bersama oleh negara yang
berdekatan hingga negara yang terletak dalam satu benua. Contoh datum regional antara
lain : datum indian dan datum NAD (North-American Datum) 1983 yang merupakan
datum untuk negara-negara yang terletak di benua Amerika bagian utara, Eurepean
Datum 1989 digunakan oleh negara negara yang terletak di benua eropa, dan Australian
Geodetic Datum 1998 digunakan oleh negara negara yang terletak di benua australia
c) Datum lokal adalah datum geodesi yang paling sesuai dengan bentuk geoid pada daerah
yang tidak terlalu luas. Contoh datum lokal di Indonesia antara lain : datum Genoek,
datum Monconglowe, DI 74 (Datum Indonesia 1974), dan DGN 95 (Datum Geodetik
Indonesia 1995).
Perbedaan datum lokal, datum regional dan datum global adalah sistem referensinya,
jika datum lokal hanya berlaku pada wilayah tertentu saja, sedangkan datum global berlaku
secara global atau menyuluruh. Contohnya bila kita memberi koordinat yang menggunakan
sistem referensinya menggunakan datum lokal ke datum global. Posisi koordinat yang diterima
akan berbeda dikarenakan beda sistem referensinya.
8
Gambar 2. Datum Lokal
Di Indonesia pun demikian, Menurut Schepers dan Schulte. 1931, dalam Subarya. 1996,
Penentuan posisi dengan metoda triangulasi dimulai pada tahun 1862 yaitu jaring utama
triangulasi di P.Jawa, dan selesai pada tahun 1880. Terdiri dari 114 titik, ditempatkan di
puncak-puncak gunung, dengan tiga basis. Sistem koordinat triangulasi Jawa dihitung mengacu
kepada elipsoid Bessel 1841, dengan lintang dan azimuth ditentukan titik triangulasi di
Genoek, dan untuk hitungan 5 bujur, Batavia (sekarang Jakarta) sebagai meridian nol.
Selanjutnya pada tahun 1883 jaring utama triangulasi Jawa diperluas ke P. Sumatera,
sedemikian rupa hingga triangulasi Sumatera membentuk satu sistem dengan triangulasi Jawa.
Pada periode tahun 1912-1918 jaring utama triangulasi Jawa diperluas ke Bali dan Lombok.
Pada tahun 1911 pengukuran jaring utama triangulasi di Celebes (sekarang Sulawesi) dimulai.
Sistem koordinat adalah Bessel 1841 ellipsoid, dengan lintang dan azimuth ditentukan di titik
triangulasi di G..Moncong Lowe dan dalam penentuan bujur, Makasar sebagai meridian nol.
Sampai pada tahun 1960-an, yaitu telah adanya satelit Doppler, usaha penyatuan
referensi (datum) mulai dipelopori oleh Badan Informasi Geospasial (BIG)
9
(BAKOSURTANAL pada jaman itu), pilar pilar triangilasi tersebut diukur ulang dengan
menggunakan satelit Doppler. Pada saat itu, Indonesia menggunakan Datum Padang sebagai
referensi, namun datum yang dimiliki Indonesia belum menyatu dengan Negara lain. Dengan
hasil pengukuran ini, Indonesia berhasil mendefinisikan referensi nasionalnya yaitu Indonesian
Datum 1974 (ID74), dengan mengacu pada ellipsoid GRS-67 (Geodetic Reference System
1967).
Baru setelah Era GPS, tahun 1990-an, dilakukan pengukuran kembali disemua pilar,
dan juga untuk keperluan survey dan pemetaan, dilakukan densifikasi pilar sampai pada orde
1 oleh BAKOSURTANAL dan orde turunannya oleh instansi lain seperti Badan Pertanahan
Nasional (BPN), Dittopad, Swasta, dll. Dengan adanya teknologi GPS, sangat memungkinkan
dilakukan penyatuan referensi di seluruh Dunia, yaitu sistem referensi Global. Pada saat itu,
Indonesia Berhasil mendefinisikan referensi Nasionalnya, yaitu Datum Geodesi Nasional 1995
(DGN95) yang mengacu pada sistem referensi global yaitu ITRF 1992, epoch 1991.0. Sistem
referensi nasional ini bertahan selama lebih kurang 2 dekade. Referensi ini bersifat statis, yaitu
koordinat dianggap tidak berubah.
Pada awal dasawarsa 1970-an di Indonesia mulai digunakan metode penentuan posisi
dengan teknik Doppler. Saat itulah merupakan dimulainya era geodesi satelit di Indonesia.
Pada pengukuran dengan teknik Doppler, diamati dan diukur sinyal yang dipancarkan oleh
satelit Navy Navigation Satellite System (NNSS) yang diterima oleh alat penerima (receiver)
di permukaan bumi.
10
Seperti yang dipaparkan di atas, sebelum tahun 1974 di wilayah Indonesia telah tersebar
titik jaring kontrol geodesi yang dikenal sebagai titik triangulasi. 7 Titik ini digunakan untuk
pemetaan topografi skala menengah dan kecil. Koordinat triangulasi tersebut dihitung
berdasarkan datum geodesi relatif dengan parameter Elipsoid Referensi dari Bessel 1841.
Terdapat banyak titik datum geodesi relatif, antara lain :
11
2.3 Datum Lokal Indonesia
1. Datum Genoek
Pada masa yang telah lalu (1862-1880), indonesia telah melakukan penentuan posisi di
Pulau Jawa dengan metode triangulasi. Penentuan posisi ini menggunakan ellipsoid Bessel
1841 sebagai ellipsoid referensi, meridian Jakarta (Batavia) sebagai meridian nol, dan titik awal
(lintang) beserta sudut azimuthnya diambil dari titik triangulasi di Puncak gunung Genoek.
Karena itu, kemudian datum geodesi ini dikenal sebagai datum Genoek.
12
Pada 1911, pengukuran jaring triangulasi di Pulau Sulawesi dimulai. Ellipsoid yang
digunakan adalah juga Bessel 1841, meridian yang melalui kota Makassar dianggap sebagai
meredian nol, dan titik awal beserta sudut azimuthnya ditentukan dari titik triangulasi di
gunung Moncong Lowe. Kemudian dikenal sebagai datum Makassar (Celebes) Datum
Moncong lowe adalah datum geodetik yang pertama kali didefinisikan dan cocok untuk
digunakan di Indonesia - Sulawesi barat daya. Makassar mengacu pada elipsoid Bessel 1841
dan meridian utama Greenwich. Asal Makassar adalah titik Fundamental: stasiun P1,
Moncongloe. Garis lintang: 5 ° 08'41.42 "S, bujur 119 ° 24'14.94" E (dari Greenwich).
Makassar merupakan datum geodesi untuk pemetaan Topografi.
Pada 1911, pengukuran jaring triangulasi di Pulau Sulawesi dimulai. Ellipsoid yang
digunakan adalah juga Bessel 1841, meridian yang melalui kota Makassar dianggap sebagai
meredian nol, dan titik awal beserta sudut azimuthnya ditentukan dari titik triangulasi di
gunung Moncong Lowe.
Datum Moncong lowe adalah datum geodetik yang pertama kali didefinisikan dan cocok
untuk digunakan di Indonesia - Sulawesi barat daya. Makassar mengacu pada elipsoid Bessel
1841 dan meridian utama Greenwich. Asal Makassar adalah titik Fundamental: stasiun P1,
Moncongloe. Garis lintang: 5 ° 08'41.42 "S, bujur 119 ° 24'14.94" E (dari Greenwich).
Makassar merupakan datum geodesi untuk pemetaan Topografi.
Wilayah laut yang menggunakan datum Moncong Lowe mi adalah laut di sckitar Pulau
Sulawesi. Pcla laul yang diterbukan secara resmi dan terus direfisi sampai sekarang untuk
wilayah Sulawesi tclah ada sejak tahun 1901.
Pemetaan topografi di Indonesia diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi untuk
dapat mempersatukan sitim-sistim referensi datum, sehingga seluruh wilayah dapat tercakup
dalam satu sistim pemetaan. Dengan diketemukannya teknologi pengukuran yang
menggunakan sarana satelit (satelit Doppler) maka wilayah-wilayah yang tersebar di Indonesia
dapat dipersatukan. Untuk menunjang sistim pemetaan tunggal di Indonesia, pada tahun 1975
Ketua badan kordinasi survei dan pemetaan nasional (Bakorsurtanal) mengeluarkan surat
bernomor 019.2.2/I/1975 tentang penggunaan GRS 1967 sebagai elipsoid referensi di
13
Indonesia. Keputusan ini didasarkan karena lebih teliti baik untuk ilmiah maupun keperluan
praktis dan pembuatan peta skala kecil maupun besar.
GRS 1967 dapat mencakup seluruh wilayah Indonesia dalam satu sistim sehingga tercipta
sistim referensi tunggal. GRS 1967 ini dinamai oleh Bakosurtanal Sferoid Nasional Indonesia
(SNI). Untuk menentukan orientasi elipsoid referensi dalam ruang, maka kemudian SNI
dihimpitkan dengan elipsoid NWL-9D ( sistim referensi teknologi Doppler ) ditittik eksentris
(Stasiun Doppler BP-A 1884) di Padang. Dengan demikian stasiun Doppler BP-A ini dianggap
sebagai datum tunggal geodesi di Indonesia. Datum ini diberi nama oleh Bakosurtanal Datum
Indonesia 1974 dan merupakan datum relatif.
Digunakan untuk kepulauan Bangka, Belitung dan sekitarnya. Datum ini menggunakan
system referensi ellipsoid Bessel 1841 dan meridian utama Grenwich. Bukit Rimpah memiliki
origin di 2°00'40.16"S, 105°51'39.76"E (Greenwich). Bukit Rimpah adalah datum geodetik
untuk pemetaan topografi.
Datum Gunung Serindung digunakan scbagai datum untuk pemctaan wilayah Kalimantan
Barat. Pcngukuran triangulasi dimulai pada sckitar tahun 1958-1959, walaupun sebclumnya
telah ada proses pemetaan yang dilalcukan oleh Belanda yaitu antara tahun 1886 sampai tahun
1895 (Ron, 1920). Seperti halnya datum Gcnuk dan datum Bukit Rimpah, pada datum Gunung
Scrindung ini ditetapkan bahwa elipsoid refercnsi bcrimipit dengan geoid di titik datum. Pada
tahun 1970 jaring triangulasi tcrsebut diperluas kc arah timur dan ke selatan olch DITTOP-AD
(Hadi, 1975). Rencananya janng triangulasi tersebut dilanjutkan sampai bertemu dengan jaring
triangulasi Kalimantan Timur, tetapi pengukuran hanya sampai ke dacrah Putussibau dan tidak
sampai bertemu dengan jaring triangulasi di Kalimantan Timur. Pcngukuran triangulasi
terhenti karcna lelah ada teknologi baru yang lebih praktis yaitu dengan Satelit Dopplcr.
Elipsoid referensi yang digunakan adalah Bessel 1841.
Wilayah laut yang menggunakan datum Gunung Serindung ini adalah daerah Kalimantan
Barat. Walaupun dcmikian, untuk dacrah ini telah ada peta laut yang diterbitkan pada tahun 1
905 dan peta itulah yang terus direfisi sampai saat ini.
14
6. Datum Gunung Segara
Datum Gunung Segara digunakan scbagai datum untuk pemctaan wilayah Kalimantan
Timur. Pcngukuran triangulasi dilaksanakan sekitar tahun 1937. Titik datum ditetapkan di
Gunung Segara. Pada titik datum ditetapkan baluva elipsoid refercnsi bcrimpit dengan geoid.
Elipsoid referensi yang digunakan adalah Bessel 1841.
Wilayah laut yang mcmakai datum Gunung Segara adalah wilayah laut sebelah timur
Kalimantan atau Sclat Makassar sampai kc scbagian pantai selatan Kalimantan. Walaupun
dcmikian peta-peta laut di wilayah Kalimantan Timur ini telah ada secara resmi vang
diterbitkan tahun 1900.
Pada tahun 1911 pengukuran jaring utama triangulasi di Celebes atau Sulawesi dimulai.
Titik Datum ditetapkan di Gunung Moncong Lowe. Pada titik datum ditetapkan bahwa lintang
astronomis dan azimuth astronomis ke suatu titik sama dengan lintang dan azimuth gcodctik di
litik itu. Penentuan bujur ditetapkan di Makassar scbagai meridian nol. Elipsoid referensi yang
digunakan adalah Besscl 1841.
Wilayah laut yang menggunakan datum Moncong Lowe mi adalah laut di sckitar Pulau
Sulawesi. Peta laut yang diterbukan secara resmi dan terus direfisi sampai sekarang untuk
wilayah Sulawesi telah ada sejak tahun 1901.
8. DGN-95
Gambar 4. DGN 95
15
Seiring dengan perkembangan teknologi GPS, maka pada tahun 1996 Bakosurtanal
mendefinisikan datum baru untuk keperluan survei dan pemetaan menggantikan ID74, yang
disebut dengan Datum Geodesi Nasional 1995 atau disingkat dengan DGN 95.
DGN95 merupakan sistem referensi geospasial yang bersifat statis, dimana perubahan nilai
koordinat terhadap waktu sebagai akibat dari pergerakan lempeng tektonik dan deformasi kerak
bumi, tidak diperhitungkan. Perubahan nilai koordinat terhadap waktu perlu diperhitungkan
dalam mendefinisikan suatu sistem referensi geospasial untuk wilayah Indonesia. Hal ini
dikarenakan wilayah Indonesia terletak diantara pertemuan beberapa lempeng tektonik yang
sangat dinamis dan aktif, diantaranya lempeng Euroasia, Australia, Pacific dan Philipine.
Wilayah Indonesia yang terletak pada pertemuan beberapa lempeng inilah yang menyebabkan
seluruh objek-objek geospasial yang ada diatasnya termasuk titik-titik kontrol 14 geodesi yang
membentuk Jaring Kontrol Geodesi Nasional, juga bergerak akibat pergerakan lempeng
tektonik dan deformasi kerak bumi.
Teknologi penentuan posisi berbasis satelit, seperti GPS (Global Positioning System) dan
GNSS (Global Navigation Satellite System), saat ini telah berkembang dengan pesat sehingga
memungkinkan untuk digunakan dalam penyelenggaraan kerangka referensi geodetik nasional
yang terintegrasi dengan sistem referensi global, serta mampu memberikan ketelitian yang
memadai untuk memantau pergerakan lempeng tektonik dan deformasi kerak bumi yang
berpengaruh terhadap nilai-nilai koordinat. Pada tahun 1996 ditetapkan penggunaan datum
baru, DGN-95, untuk seluruh kegiatan survey dan pemetaan di wilayah RI yang dituangkan
dalam SK Bakosurtanal HK.02.04/II/KA/96. DGN95 memiliki parameter ellipsiod a=
6.378.137,00 dan 1/f=298,257223563.
Cara penentuan posisi dan pengolahan data dengan pengamatan Doppler untuk membangun
jaringan kontrol geodesi di Indonesia tidak seragam karena sebagian tidak diproses dengan
menggunakan broadcast ephemeris sedangkan sebagian lagi di proses dengan menggunakan
precise ephemeris, sehingga dari segi ketelitian jaringan kontrol geodesi nasional belum
seragam. Dengan digunakannya teknologi baru yaitu Global Positioning System (GPS), maka
dibangunlah Jaringan Kontrol Geodesi Nasional (JKGN) orde nol yang tersebar merata di
seluruh wilayah Indonesia. Pengolahan data 15 sepenuhnya menggunakan precise ephemeris
sehingga posisigeodetik dalam jaringan ini mempunyai ketelitian yang seragam. Berdasarkan
hasil pengukuran JKGN ini maka Ketua Bakosurtanal menetapkan Datum Geodesi Nasional
1995 (DGN 1995 ) sebagai datum tunggal Indonesia menggantikan datum sebelumnya yaitu
16
DI-1974. Datum ini menggunakan elipsoid referensi WGS 1984, serta merupakan datum
geosentrik ( datum absolut).
9. SRGI 2013
Pada 17 Oktober 2013, diluncurkannya Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI
2013). SRGI adalah suatu terminologi modern yang sama dengan terminologi Datum Geodesi
Nasional (DGN) yang lebih dulu didefinisikan, yaitu suatu sistem koordinat nasional yang
konsisten dan kompatibel dengan sistem koordinat global. SRGI mempertimbangkan
perubahan koordinat berdasarkan fungsi waktu, karena adanya dinamika bumi. Secara spesifik,
SRGI 2013 adalah sistem koordinat kartesian 3-dimensi (X,Y,Z) yang geosentrik.
Implementasi praktis di permukaan bumi dinyatakan dalam koordinat Geodetik lintang, bujur,
tinggi, skala, gayaberat, dan orientasinya beserta nilai laju kecepatan dalam koordinat 16
planimetrik(toposentrik). Pemerintah Indonesia telah gencar dalam mengampanyekan
perkembangan data geospasial. Aspek geospasial sudah dirasa penting dalam pengambilan
keputusan. Keputusan dan kebijakan pemerintah yang mempertimbangkan aspek geospasial
akan dapat diimplementasikan lebih efektif dan efisien.
Pada tahun 2016 melalui Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang percepatan
pelaksanaan kebijakan satu peta pada tingkat ketelitian peta skala 1:50.000 telah ditetapkan
adanya suatu peta dasar di wilayah Indonesia atau lebih dikenal dengan satu peta Indonesia.
Kebijakan satu peta ini bertujuan untuk mewujudkan penyelenggaraan informasi geospasial
17
yang berdayaguna melalui kerja sama, koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi, serta mendorong
penggunaan IG dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam berbagai aspek kehidupan (BIG,
2018).
Kebijakan satu peta diharapkan mampu meningkatkan kerjasama dan komunikasi antar
instansi maupun sumber data geospasial di Indonesia. Dengan peningkatan kerjasama dan
komunikasi antar instansi, maka akan menurunkan tingkat duplikasi pekerjaan pemetaan yang
ada di Indonesia. Dalam mewujudkan kebijakan satu peta, maka salah satu langkah awal yang
perlu dilakukan adalah dengan menyamakan sistem referensi yang digunakan atau
menyamakan datum yang digunakan. Di Indonesia, telah ditetapkan referensi yang digunakan
dalam mendukung kebijakan satu peta adalah Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI)
2013.
Penyamaan sistem referensi data geospasial dari berbagai sumber dapat dilakukan dengan
terlebih dahulu mendefinisikan titik kontrol yang ada dalam SRGI 2013.
18
BAB 3
KESIMPULAN
Perbedaan datum lokal, datum regional dan datum global adalah sistem referensinya,
jika datum lokal hanya berlaku pada wilayah tertentu saja, sedangkan datum global berlaku
secara global atau menyuluruh. Contohnya bila kita memberi koordinat yang menggunakan
sistem referensinya menggunakan datum lokal ke datum global. Posisi koordinat yang diterima
akan berbeda dikarenakan beda sistem referensinya.
Wilayah Indonesia yang terletak di antara pertemuan beberapa lempeng tektonik yang
sangat dinamis dan aktif membuat perubahan nilai koordinat terhadap waktu perlu
diperhitungkan dalam mendefinisikan sistem referensi geospasial untuk wilayah Indonesia. Hal
inilah yang menyebabkan seluruh objek-objek geospasial yang ada di atasnya termasuk titik-
titik kontrol geodesi yang membentuk Jaringan Kontrol Geodesi Nasional mengalami
pergeseran akibat pergerakan lepmpeng tektonik dan deformasi kerak bumi.
Oleh sebab itu, tidak mungkin hanya menggunakan satu datum dalam jangka waktu
yang sangat lama. Seiring dengan perkembangan teknologi serta penentuan posisi berbasis
satelit yang semakin teliti memungkinkan terjadinya pemutakhiran sisten referensi geospasial
atau datum geodesi. Dan inilah yang menjadi alasan perubahan datum geodesi yang ada di
Indonesia.
19
DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Datum_geodetik
http://geospasial.info/history-reference-system-determination-indonesia/
https://www.diklatgeospasial.net/2013/02/pengertian-datum.html
http://kasurusak.blogspot.com/2012/04/7-datum-geodetik-lokal-indonesia.html
https://ftsl.itb.ac.id/wp-content/uploads/sites/70/2011/01/id74-ke-dgn95.pdf
https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/geodesi/article/download/15038/14536
20