TUGAS 2 ASSISTENSI GEODESI SATELIT
PENJELASAN TENTANG DATUM-DATUM
Oleh:
IRMA DEWANTARY
03311840000037
Dosen Pengampu:
Mohammad Rohmaneo Darminto, ST, MSc.
DEPARTEMEN TEKNIK GEOMATIKA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL PERENCANAAN DAN KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2020
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pengertian Datum
Posisi suatu titik dapat dilihat secara kuantitatif melalui koordinat yang ditetapkan
pada suatu sistem koordinat terestris dengan titik nol pada pusat bumi atau geosentris
ataupun pada permukaan bumi yang disebut toposentris. Agar koordinat ini konsisten dan
standar diperlukan suatu sistem yang bisa menyatakan koordinat. Sistem tersebut adalah
sistem referensi koordinat, atau sering juga disebut sistem koordinat dan realisasinya
dinamakan kerangka referensi koordinat.
Sistem referensi koordinat adalah sistem (termasuk teori, konsep, deskripsi fisis
serta standard dan parameter) yang digunakan dalam pendefinisian koordinat dari suatu
atau beberapa titik dalam ruang (Abidin, HA 2001).
Datum adalah suatu framework yang bisa mendefinisikan suatu sistem koordinat
yang mencakup ellipsoid dan parameter lainnya. Ada dua cara untuk menentukan datum
dengan cara tradisional yaitu dengan menggunakan 2 datum terdiri dari datum vertical dan
darum horizontal dan dengan cara modern yang berdasarkan pada beberapa titik yang sudah
terdefinisi.
Datum Vertikal digunakan sebagai acuan untuk arah vertikal (ketinggian).
Sedangkan datum horisontal digunakan sebagai referensi untuk posisi arah X dan Y yang
didefinisikan dengan menggunakan ellipsoid yang mendekati harga geoid dan titik asal.
Penentuan datum dengan cara modern berdasarkan pada titik titik yang sudah
terdefinisi biasanya menggunakan beberapa titik yang kemudian digunakan untuk
mendefinisikan suatu datum dihitung dalam bentuk Internasional Terrestrial Reference
Frame (ITRF) menjadi suatu kerangka fiducial. Walaupun perhitungan koordinatnya dalam
bentuk 3 dimensi, biasanya yang diambil hanya komponen horisontalnya saja.
Dengan adanya teknologi GPS penggunaan datum yang geosentris sudah menjadi
suatu keharusan, sehingga semua koordinat harus dikonversikan kedalam datum ini.
Dengan pengkonversian ini penggunaan koordinat akan menjadi lebih mudah lagi.
Dalam penetapan datum harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut (Kahar, J
2008):
1. Menetapkan ellipsoid putaran sebagai bidang acuan hitungan geodetic dengan
menetapkan setengah sumbu panjang a dan pegepengan f,
2. Menentukan koordinat awal (φ, λ, h)
3. Menentukan azimuth dari titik datum ke titik jaringan geodetic lainnya,
4. Mengukur jarak dari titik datum ke titik jaringan geodetic lainnya itu,
BAB II
ISI
2.1 Datum G. Genuk
Indonesia pernah mempunyai beberapa datum sebagai sistem referensi pemetaan,sejak
zaman pernjajahan sampai dengan tahun 1974 Indonesia menggunakan Datum Genuk dengan
model ellipsoid Bessel 1841 yang ditentukan menggunakan metode Triangulasi. Setelah tahun
1974, Indonesia menggunakan Datum yang diberi nama Indonesia Datum 1974 menggunakan
ellipsoid referensi SNI (Sferoid Nasional Indonesia) dengan pengamatan metode Doppler.
Sejak tahun 1995, dengan kemajuan teknologi Global Potitioning System (GPS) , Indonesia
menetapkan datum baru yaitu Datum Geodesi Nasional (DGN-95). Datum ini ditentukan
dengan pengamatan GPS dan menggunakan ellipsoid referensi WGS-84.
Sejak tahun 1870 (oleh Pemerintahan Kolonial Belanda tahun 1870) sampai dengan
tahun 1974, Datum Geodetik yang digunakan adalah Ellipsoid Bessel 1851 (a = 6.377.563 m,
f = 1/299,3) dengan sisitem koordinat relatif dan posisi Ellipsoid bermacam-macam. Untuk
Jawa, Nusa Tenggara dan Sumatera dipakai titik di gunung Genuk di sekitar Semarang sebagai
titik awal sistem. Yang dinamakan Datum Genuk. Pada datum Genuk, meridian Jakarta
(Batavia) adalah sebagai meridian nol, dan titik awal (lintang) beserta sudut azimuthnya
diambil dari titik triangulasi di Puncak gunung Genoek. Karena itu, kemudian datum geodesi
ini dikenal sebagai datum Genoek.
Gambar 1 Ilustrasi transfer bujur hitungan triangulasi
2.2 Datum Indonesia 74
Dalam program pemetaan dasar nasional yang dimulai pada masa repelita I (
1960-1974 ) yang bertepatan dengan dibentuknya badan koordinasi survey dan
pemetaan nasional (bakosurtanal) pada tahun 1969, dan dimulainya progam penyatuan
system referensi. Tujuan utamnya untuk membangun sistem informasi geografis yang
integratif di indonesia.
Pada masa ini teknologi pun telah berkembang dengan munculnya penentuan
posisi dengan satelit, yang pada waktu itu dinamakan sistem satelit doppler dari US
navy navigation satelite system ( NNSS ) sistim triangulasi yang dignakan pada masa
sebelumnya telah ditinggalkan.
Dengan teknologi ini, seluruh datum Indonesia yang terpisah telah disatukan
dalam satu sistem, walupun pada waktu itu kita masih mengadopsi sistem relative
terhadap satu titik di muka bumi yang dipakai sebagai acuan. Kemudian bakosurtanal
memutuskan untuk memilih satu titik triangulasi di padang sebagai titik awal sistem dan
dinamakan datum padang.
Selanjutnya datum padang ini dinamakan dengan nama baku yang terkait
dengan tahun penetapannya yaitu datum Indonesia 1974 ( indonesia datum, 1974 atau
ID-74 ). Dalam datum tunggal ini indonesia mengganti ellipsoid bessel 1841 dengan
ellipsoid yang diadopsi secara internasional pada waktu itu, yaitu GRS 1967 ( Geodetic
Reference System 1967 ). Denga nilai a = 6.378.160 m dan f = 1/298.25.
2.3 Datum Geodesi Nasional 95
Seiring dengan perkembangan teknologi GPS, maka pada tahun 1996 Bakosurtanal
mendefinisikan datum baru untuk keperluan survei dan pemetaan menggantikan ID74, yang
disebut dengan Datum Geodesi Nasional 1995 atau disingkat dengan DGN-95. Berdasarkan
Surat Keputusan Kepala Bakosurtanal Nomor : HK.02.04/II/KA/96 tanggal 12 Februari 1996
penggunaan datum telah ditetapkan untuk menggunakan Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN-
95) yang merupakan referensi tunggal dalam pengelolaan (pengumpulan, penyimpanan dan
penggunaan) data geospasial pada strata lokal, regional, nasional bahkan internasional. DGN-
95 adalah datum geodesi yang geosentris dan diberlakukan untuk keperluan survei dan
pemetaan di seluruh wilayah NKRI.
Gambar 2 JKH Nasional untuk mendefinisikan DGN 1995
(srgi.big.go.id)
DGN-95 merupakan sistem referensi geospasial yang bersifat statis, dimana
perubahan nilai koordinat terhadap waktu sebagai akibat dari pergerakan lempeng tektonik
dan deformasi kerak bumi, tidak diperhitungkan.
2.4 ITRF 2000
ITRF terbentuk dari sekumpulan titik-titik station referensi di seluruh dunia dari hasil
pengamatan menggunakan VLBI, SLR, DORIS, LLR. dan GPS. ITRF adalah kepanjangan dari
International Terrestrial Reference Frame berdasarkan solusi yang diolah dari empat teknik
geodesi utama yaitu : VLBI, SLR, GPS dan Doris, yang masing–masing mencakup 29, 26, 12,5
dan 16 tahun pengamatan. Input data yang digunakan dalam elaborasi nya adalah seri waktu
(mingguan dari teknik satelit dan 24 jam sesi pengamatan dari VLBI) posisi stasiun dan Bumi
Parameter Orientasi harian (EOPs).
ITRF (International Terrestrial Reference Frame) kerangka referensi koordinat global
yang merupakan realisasi dari ITRS. ITRF adalah sistem referensi spasial dunia rotasi dengan
Bumi dalam gerakan sepanjang hari di ruang angkasa. IERS, yang bertugas memberikan
referensi global terhadap astronomi, geodesi dan geofisika masyarakat, mengawasi realisasi
ITRS. Realisasi dari ITRS diproduksi oleh IERS ITRS berpusat produk (ITRS-PC) dengan
nama International Terrestrial Reference Frame (ITRF). ITRF koordinat diperoleh dengan
kombinasi solusi TRF individu dihitung dengan pusat analisis IERS menggunakan pengamatan
teknik Geodesi Space: GPS, VLBI, SLR, LLR dan Doris. Mereka semua menggunakan
jaringan stasiun yang terletak di situs yang meliputi seluruh bumi. Sejak jaringan pelacakan
dilengkapi dengan instrumen teknik tersebut berkembang dan periode data meningkat dengan
waktu yang tersedia, ITRF terus-menerus diperbarui.
ITRF2000 terdiri dari sekitar 800 titik di permukaan bumi, yangberada pada sekitar 500
lokasi. Titik-titik ITRF ini terdapat pada semua lempeng tektonik utama serta hamper semua
lempeng-lempeng kecil. ¡ Pada umumnya kerangka ITRF dirapatkan dengan jaringan jaringan
GPS regional dengan menggunakan beberapa titik IGS (International GPS Service for
Geodynamics) sebagai titik tetapnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin HA, 2001. Geodesi Satelit,. Jakarta: PT Pradnya Paramita
Hajri, Amirul dkk. 2017. Kajian Penentuan Posisi Jaring Kontrol Horizontal Dari Sistem
Tetap (Dgn-95) Ke Srgi (Studi Kasus : Sulawesi Barat). Jurnal Geodesi Undip. Volume
6, Nomor 1.