BAB 1 KONSEP GEODESI REMOTE SENSING
1. Georeferencing data citra
Georeferencing adalah proses penyelarasan data spasial (layer yang berbentuk
file: poligon, titik, dll) ke file gambar seperti peta historis, citra satelit, atau foto udara.
Tujuan proses rektifikasi (Georeferencing) adalah agar data spasial tersebut tepat berada
pada koordinat yang tepat. Jadi georeferencing adalah proses memberi referensi spasial
tertentu pada data raste atau data vektor yang belum memiliki acuan system koordinat.
2. Datum
Datum geodetik atau referensi permukaan atau georeferensi adalah parameter
sebagai acuan untuk mendefinisikan geometri ellipsoid bumi. Datum geodetik diukur
menggunakan metode manual hingga yang lebih akurat lagi menggunakan satelit.
Sumber: https://www.diklatgeospasial.net/2013/02/pengertian-datum.html
Parameter datum geodetik :
1. Parameter utama, yaitu setengah sumbu panjang ellipsoid (a), setengah
sumbu pendek (b), dan penggepengan ellipsoid (f).
2. Parameter translasi, yaitu yang mendefinisikan koordinat titik pusat
ellipsoid (Xo,Yo,Zo) terhadap titik pusat bumi.
3. Parameter rotasi, yaitu (εx, εy, εz) yang mendefinisikan arah sumbu-sumbu
(X,Y,Z) ellipsoid.
4. Parameter lainnya, yaitu datum geodesi global memiliki besaran yang
banyak hingga mencakup konstanta-konstanta yang merepresentasikan
model gaya berat bumi dan aspek spasial lainnya.
5. Jenis geodetik menurut metodenya :
6. Datum horizontal adalah datum geodetik yang digunakan untuk pemetaan
horizontal. Dengan teknologi yang semakin maju, sekarang muncul
kecenderungan penggunaan datum horizontal geosentrik global sebagai
penggganti datum lokal atau regional.
7. Datum vertikal adalah bidang referensi untuk sistem tinggi ortometris.
Datum vertikal digunakan untuk merepresentasikan informasi ketinggian
atau kedalaman. Biasanya bidang referensi yang digunakan untuk sistem
tinggi ortometris adalah geoid.
Jenis datum geodetik menurut luas areanya :
1. Datum lokal adalah datum geodesi yang paling sesuai dengan bentuk geoid
pada daerah yang tidak terlalu luas. Contoh datum lokal di Indonesia antara
lain : datum Genoek, datum Monconglowe, DI 74 (Datum Indonesia 1974),
dan DGN 95 (Datum Geodetik Indonesia 1995).
2. Datum regional adalah datum geodesi yang menggunakan ellipsoid
referensi yang bentuknya paling sesuai dengan bentuk permukaan geoid
untuk area yang relatif lebih luas dari datum lokal. Datum regional biasanya
digunakan bersama oleh negara yang berdekatan hingga negara yang
terletak dalam satu benua. Contoh datum regional antara lain : datum indian
dan datum NAD (North-American Datum) 1983 yang merupakan datum
untuk negara-negara yang terletak di benua Amerika bagian utara,
Eurepean Datum 1989 digunakan oleh negara negara yang terletak di benua
eropa, dan Australian Geodetic Datum 1998 digunakan oleh negara negara
yang terletak di benua australia.
3. Datum global adalah datum geodesi yang menggunakan ellipsoid referensi
yang sesuai dengan bentuk geoid seluruh permukaaan bumi. Karena
masalah penggunaan datum yang berbeda pada negara yang berdekatan
maupun karena perkembangan teknologi penentuan posisi yang mengalami
kemajuan pesat, maka penggunaan datum mengarah pada datum global.
Datum datum global yang pertama adalah WGS 60, WGS66, WGS 72,
awal tahun 1984 dimulai penggunaan datum WGS 84, dan ITRF
(International Terestrial Reference System).
3. Pengertian WGS 84
World Geodetic System adalah standar untuk digunakan dalam kartografi,
geodesi, dan navigasi. Terdiri dari bingkai koordinat standar untuk Bumi, permukaan
referensi standar bulat (datum atau referensi ellipsoid) untuk data ketinggian mentah,
dan permukaan ekuipotensial gravitasi (geoid) yang mendefinisikan permukaan laut
nominal.
Revisi terbaru adalah WGS 84 (penanggalan dari tahun 1984 dan terakhir direvisi
pada tahun 2004), yang berlaku sampai sekitar 2010. Skema sebelumnya termasuk
WGS 72, WGS 66, dan WGS 60. WGS 84 adalah koordinat sistem referensi yang
digunakan oleh Global Positioning System.
WGS 84 Sebagai Penentuan Posisi
Datum yang digunakan untuk penentuan posisi GPS disebut WGS84 (World
Geodetic System 1984). Ini terdiri dari tiga dimensi sistem koordinat Cartesian dan
ellipsoid terkait, sehingga posisi WGS84 dapat digambarkan sebagai salah koordinat
XYZ Cartesian atau lintang, bujur dan koordinat elipsoid tinggi. Asal usul datum adalah
Geocentre (pusat massa Bumi) dan dirancang untuk posisi mana saja di Bumi.
Sejalan dengan definisi datum yang diberikan, datum WGS84 tidak lebih dari satu
set konvensi, konstanta diadopsi dan formula. Tidak ada infrastruktur fisik disertakan,
dan definisi tersebut tidak menunjukkan bagaimana Anda dapat memposisikan diri
dalam sistem ini. Definisi WGS84 termasuk item berikut:
1. Sumbu Cartesian WGS84 ellipsoid dan yang geosentris, yaitu, asal mereka
adalah pusat massa dari seluruh bumi, termasuk lautan dan atmosfer.
2. Skala sumbu adalah bahwa dari kerangka Bumi lokal, dalam arti teori
relativistik gravitasi.
3. Orientasi mereka (yaitu, arah dari sumbu dan, karenanya, orientasi
khatulistiwa elipsoid dan meridian utama dari nol bujur) bertepatan dengan
ekuator dan meridian utama dari Internationale de l’Heure Biro pada saat
ini dalam waktu 1984,0 ( yaitu, tengah malam pada Malam Tahun Baru
1983).
4. Sejak 1.984,0 orientasi sumbu dan ellipsoid telah berubah sedemikian rupa
sehingga gerak rata-rata lempeng kerak relatif terhadap ellipsoid adalah
nol. Hal ini memastikan bahwa sumbu Z dari datum WGS84 bertepatan
dengan Kutub Referensi Internasional, dan bahwa meridian utama dari
elipsoid (yaitu, pesawat yang berisi Z dan sumbu X Cartesian) bertepatan
dengan International Reference Meridian.
5. Bentuk dan ukuran ellipsoid biaksial WGS84 didefinisikan oleh panjang
sumbu semi-mayor dan timbal balik dari merata. Ellipsoid ini adalah bentuk
yang sama dan ukurannya dengan ellipsoid GRS80.
6. Nilai-nilai konvensional juga diadopsi untuk kecepatan sudut standar Bumi,
dan untuk Bumi gravitasi konstan. Yang pertama diperlukan untuk
pengukuran waktu dan yang kedua untuk menentukan skala sistem dalam
arti relativistik. Kami tidak akan pertimbangkan parameter lebih lanjut di
sini.
Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan pada WGS 84 tersebut :
1. Pertama, ellipsoid dirancang untuk terbaik sesuai dengan geoid bumi secara
keseluruhan. berarti pada umumnya geoid tidak cocok di negara tertentu,
serta non-geosentris ellipsoid digunakan untuk pemetaan negara
tersebut. Dalam GRS80 Britania Raya terletak sekitar lima puluh meter di
bawah geoid dan lereng dari timur ke barat ke geoid relatif, sehingga
pemisahan geoid-elipsoid adalah sepuluh meter lebih di barat daripada di
timur.
2. Kedua, perhatikan bahwa sumbu dari sistem Cartesian WGS84 , karena itu,
semua lini garis lintang dan bujur dalam data WGS84, tidak diam terhadap
negara tertentu. Karena gerakan lempeng tektonik, berbagai belahan dunia
bergerak relative satu sama lain dengan kecepatan dari urutan sepuluh
sentimeter per tahun. The International Referensi Meridian dan Kutub dan ,
data WGS84, yang diam terhadap rata-rata dari semua gerakan. Tapi ini
berarti mereka berada dalam gerak relatif terhadap wilayah tertentu atau
negara.Di Inggris semua lintang dan bujur WGS84 berubah pada tingkat
konstan sekitar 2,5 sentimeter per tahun ke arah utara-timur. Selama satu
dekade atau lebih, efek ini menjadi nyata dalam skala besar pemetaan.
Penyiaran TRF (Terrestrial Reference Frame ) dari WGS 84
Sarana utama navigasi dalam sistem koordinat WGS84 adalah melalui posisi
WGS84 dari 24 satelit GPS, yang terus menerus disiarkan oleh satelit itu
sendiri. konstelasi satelit adalah suatu TRF – dengan tujuan umum akses alat membuat
sistem koordinat WGS84 tersedia untuk pengguna.
Posisi satelit WGS84 ditentukan oleh Departemen Pertahanan AS menggunakan
jaringan stasiun pelacakan, posisi yang telah tepat dihitung. Stasiun pelacakan
mengamati satelit dan,, menentukan koordinat WGS84 dari satelit. Kualitas koordinat
satelit yang dihasilkan tergantung pada kualitas koordinat pelacakan diketahui stasiun.
pada awalnya sangat tidak baik (mungkin sepuluh meter akurasi) tetapi telah
disempurnakan beberapa kali. Set koordinat terbaru, termasuk stasiun pelacakan tiga
belas didistribusikan seluruh dunia, diperkenalkan pada Januari 2002. Koordinat
Stasiun pelacakan sekarang akurat untuk lebih dari lima sentimeter, dan berada dalam
perjanjian yang sangat dekat dengan International Reference Meridian dan Kutub
Internasional Referensi.
Jaringan stasiun pelacakan GPS dapat dianggap sebagai TRF WGS84
asli. Konstelasi satelit, yang merupakan TRF diturunkan, dapat dilihat sebagai alat
untuk mentransfer realisasi ini atas cakrawala ke mana pun posisi yang dibutuhkan di
dunia. Koordinat saat ini antena stasiun pelacakan pada zaman 1997,0 tersedia di
Internet (lihat bagian 8 untuk alamat). Ini koordinat implisit menyatakan asal fisik,
orientasi dan skala sistem: mereka telah dihitung sedemikian rupa sehingga elemen ini
sedekat mungkin dengan persyaratan teoritis yang tercantum dalam bagian 4.1. Tentu
saja, tidak ada yang sempurna TRF, yang satu ini mungkin baik untuk lima sentimeter
atau lebih.
Sebelum Mei 2000, akurasi penuh pelacakan AS stasiun TRF tidak dibuat tersedia
bagi pengguna non-militer. Dalam transfer TRF ini untuk posisi satelit, akurasi posisi
sengaja diperparah dengan fitur yang dikenal sebagai ketersediaan selektif (SA). Ini
berarti bahwa pengguna sipil dengan penerima GPS tunggal tidak bisa menentukan
posisi WGS84 dengan akurasi yang lebih baik dari sekitar 100 meter. Pada bulan Mei
2000, ini disengaja degradasi sinyal GPS secara resmi dimatikan.
Dengan sepasang penerima GPS kita dapat secara akurat mengukur posisi relatif
mereka (yaitu, vektor tiga dimensi antara dua penerima dapat ditentukan secara
akurat). Kita harus meletakkan salah satu receiver pada titik dikenal dan
meninggalkannya di sana. Hal ini dikenal sebagai posisi GPS relatif atau GPS
diferensial. Untungnya, ada metode akurat menentukan posisi WGS84 nyata dari titik
dikenal dan, karenanya, memulihkan posisi WGS84 yang benar, menggunakan GPS
TRFs sipil yang merupakan subjek dari bagian berikut.
Sumber: https://awanmarine.wordpress.com/2016/06/03/pengertian-datum-wgs-84/
4. Sistem Proyeksi Peta (UTM)
Peta adalah gambaran sebagian atau seluruh muka bumi baik yang terletak di atas
maupun di bawah permukaan dan disajikan pada bidang datar pada skala dan proyeksi
tertentu (secara matematis). Karena dibatasi oleh skala dan proyeksi maka peta tidak
akan pernah selengkap dan sedetail aslinya (bumi), karena itu diperlukan
penyederhanaan dan pemilihan unsur yang akan ditampilkan pada peta.
Pada dasarnya bentuk bumi tidak datar tapi mendekati bulat maka untuk
menggambarkan sebagian muka bumi untuk kepentingan pembuatan peta, perlu
dilakukan langkah-langkah agar bentuk yang mendekati bulat tersebut dapat
didatarkan dan distorsinya dapat terkontrol, untuk itu dilakukan proyeksi ke bidang
datar.
a. Proyeksi Peta Berdasar Mempertahankan Sifat Aslinya
Berdasarkan kepentingan untuk mempertahankan sifat aslinya, proyeksi peta
dikelompokkan menjadi 3 yaitu (1) luas permukaan yang tetap (ekuivalen), (2) bentuk
yang tetap (konform), dan (3) Jarak yang tetap (ekuidistan). Perbandingan dari daerah
yang sama untuk proyeksi yang berbeda ditunjukkan pada gambar berikut.
Gambar 4. 1 Proyeksi peta untuk mempertahankan aslinya
b. Proyeksi Peta Berdasar Bidang Proyeksi yang Digunakan
Berdasarkan bidangnya, proyeksi peta dikelompokkan menjadi 3 yaitu (1)
proyeksi bidang datar, (2) proyeksibidang kerucut, dan (3) proyeksi bidang silinder.
Berikut adalah ilustrasi beberapa bidang proyeksi tersebut.
Gambar 4. 2 Proyeksi peta berdasarkan bidang proyeksi
c. Proyeksi Universal Transverse Mercator(UTM)
Proyeksi UTM dibuat oleh US Army sekitar tahun 1940-an. Sejak saat itu
proyeksi ini menjadi standar untuk pemetaan topografi.
Sifat-sifat Proyeksi UTM
a. Proyeksi ini adalah proyeksi Transverse Mercator yang memotong bola
bumi pada dua buah meridian, yang disebut dengan meridian standar.
Meridian pada pusat zone disebut sebagai meridian tengah.
b. Daerah diantara dua meridian ini disebut zone. Lebar zone adalah 6
sehingga bola bumi dibagi menjadi 60 zone.
c. Perbesaran pada meridian tengah adalah 0,9996.
d. Perbesaran pada meridian standar adalah 1.
e. Perbesaran pada meridian tepi adalah 1,001.
f. Satuan ukuran yang digunakan adalah meter.
Sistem Koordinat UTM
Gambar 4. 3 Sistem koordinat UTM
Untuk menghindari koordinat negatif dalam proyeksi UTM setiap meridian
tengah dalam tiap zone diberi harga 500.000 mT (meter timur). Untuk harga-harga ke
arah utara, ekuator dipakai sebagai garis datum dan diberi harga 0 mU (meter utara).
Untuk perhitungan ke arah selatan ekuator diberi harga 10.000.000 mU
Gambar 4. 4 Sistem koordinat UTM
Wilayah Indonesia (90° -- 144° BT dan 11° LS-6° LU) terbagi dalam 9 zone
UTM, dengan demikian wilayah Indonesia dimulai dari zona 46 sampai zona 54
(meridian sentral 93° -- 141° BT).
1.3.2.3. Metoda Penentuan Posisi
Metoda penentuan posisi adalah cara untuk mendapatkan informasi koordinat
suatu objek (contoh koordinat titik batas, koordinat batas persil tanah dan lain-lain) di
lapangan. Metoda penentuan posisi dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu metoda
penentuan posisi terestris dan metoda penentuan posisi extra-terestris (satelit).
Pada metoda terestris penentuan posisi titik dilakukan dengan melakukan
pengamatan terhadap target atau objek yang terletak di permukaan bumi. Beberapa
contoh metoda yang umum digunakan adalah:
a. Metode poligon.
b. Metode pengikatan ke muka.
c. Metode pengikatan ke belakang.
d. Dan lain-lain.
Pada metode ekstra terestris penentuan posisi dilakukan berdasarkan pengamatan
terhadap benda atau objek di angkasa seperti bintang, bulan, quasar dan satelit buatan
manusia, beberapa contoh penentuan posisi extra terestris adalah sebagai berikut :
a. Astronomi geodesi.
b. Transit Dopler.
c. Global Positioning System (GPS).
d. Dan lain-lain.
5. Sistem Koordinat
Koordinat merupakan parameter untuk mendefinisikan letak obyek dalam
angka. Sistem koordinat sendiri pada peta merupakan sistem yang menentukan letak
obyek dalam titik/poin yang berada di lingkup geoid dan merepresentasikan lokasi
dengan fitur geografis, penggambaran, dan observasi yang telah terdapat pada lokasi
tersebut.
Ada 2 tipe sistem koordinat yang digunakan dalam GIS :
1. Sistem Koordinat Global
Sistem koordinat global menggunakan data latitude-longitude(sistem pengkuran
sudut dari pusat bumi ke titik di permukaan bumi) dan biasa disebut sebagai sistem
koordinat geografis.
2. Sistem Koordinat Proyeksi
Sistem koordinat yang menyediakan berbagai mekanisme untuk proyek peta
permukaan bola bumi ke pesawat Cartesian koordinat dua dimensi. Sistem
koordinat proyeksi biasa disebut proyeksi peta. Contoh : Universal Transverse
Mercator (UTM), Albers Equal Area, dan Robinson.
6. GPS dan Konversi Data
Global Positioning System (GPS) adalah sistem navigasi berbasis satelit yang
terdiri dari setidaknya 24 satelit. GPS berfungsi dalam segala kondisi cuaca, di mana
pun di dunia, 24 jam sehari, tanpa biaya berlangganan atau biaya penyiapan.
Departemen Pertahanan AS (USDOD) awalnya menempatkan satelit ke orbit untuk
penggunaan militer, tetapi mereka dibuat tersedia untuk digunakan sipil pada 1980-an
Cara kerja GPS
Satelit GPS mengelilingi Bumi dua kali sehari dalam orbit yang tepat. Setiap
satelit mengirimkan sinyal unik dan parameter orbital yang memungkinkan perangkat
GPS untuk memecahkan kode dan menghitung lokasi tepat dari satelit. Penerima GPS
menggunakan informasi dan trilaterasi ini untuk menghitung lokasi pasti pengguna.
Pada dasarnya, penerima GPS mengukur jarak ke masingmasing satelit dengan jumlah
waktu yang diperlukan untuk menerima sinyal yang dikirimkan. Dengan pengukuran
jarak dari beberapa satelit lagi, penerima dapat menentukan posisi pengguna dan
menampilkannya secara elektronik untuk mengukur rute lari Anda, memetakan
lapangan golf, menemukan jalan pulang atau petualangan di mana saj
Penerima GPS saat ini sangat akurat, berkat desain multi-saluran paralelnya.
Penerima kami cepat mengunci ke satelit ketika pertama kali dihidupkan. Mereka tetap
mempertahankan kunci pelacakan pada pepohonan yang padat atau di lingkungan
perkotaan dengan gedung-gedung tinggi. Faktor atmosfer tertentu dan sumber
kesalahan lainnya dapat mempengaruhi akurasi penerima GPS
Pembagian Zona UTM Indonesia
https://www.asifah.com/zona-utm-indonesia/
No Provinsi Ibu Kota Garis Lintang Garis Bujur Zone UTM
1 Aceh Banda Aceh 05° 34′ LU 95° 20′ BT 46 N
2 Sumatera Utara Medan 03° 36′ LU 98° 41′ BT 47 N
3 Sumatera Barat Padang 00° 57′ LS 100° 22′ BT 47 S
4 Sumatera Selatan Palembang 02° 60′ LS 104° 46′ BT 48 S
5 Riau Pekanbaru 00° 33′ LU 101° 27′ BT 47 N
6 Jambi Jambi 01° 36′ LS 103° 37′ BT 48 S
7 Bengkulu Bengkulu 03° 48′ LS 102° 16′ BT 48 S
8 Lampung Bandar Lampung 05° 26′ LS 105° 16′ BT 48 S
9 DKI Jakarta 06° 10′ LS 106° 50′ BT 48 S
10 Jawa Barat Bandung 06° 56′ LS 107° 37′ BT 48 S
11 Jawa Tengah Semarang 06° 59′ LS 110° 26′ BT 49 S
12 Jawa Timur Surabaya 07° 17′ LS 112° 45′ BT 49 S
13 DIY Yogyakarta 07° 48′ LS 110° 23′ BT 49 S
14 Kalimantan Barat Pontianak 00° 02′ LS 109° 20′ BT 49 S
15 Kalimantan Tengah Palangkaraya 02° 12′ LS 113° 55′ BT 49 S
16 Kalimantan Timur Samarinda 00° 30′ LS 117° 09′ BT 50 S
17 Kalimantan Selatan Banjarmasin 03° 19′ LS 114° 36′ BT 50 S
18 Sulawesi Utara Manado 01° 29′ LU 124° 51′ BT 51 N
19 Sulawesi Tengah Palu 00° 54′ LS 119° 52′ BT 50 S
20 Sulawesi Selatan Makassar 05° 08′ LS 119° 25′ BT 50 S
21 Sulawesi Tenggara Kendari 03° 58′ LS 122° 33′ BT 51 S
22 Bali Denpasar 08° 40′ LS 115° 13′ BT 50 S
23 Nusa Tenggara Barat Mataram 08° 35′ LS 116° 09′ BT 50 S
24 Nusa Tenggara Timur Kupang 10° 11′ LS 123° 36′ BT 51 S
25 Maluku Ambon 03° 42′ LS 128° 10′ BT 52 S
26 Papua Jayapura 02° 40′ LS 140° 47′ BT 54 S
27 Maluku Utara Ternate 00° 47′ LU 127° 23′ BT 52 N
28 Banten Serang 06° 08′ LS 106° 10′ BT 48 S
29 Bangka Belitung Pangkalpinang 02° 08′ LS 106° 07′ BT 48 S
30 Gorontalo Gorontalo 00° 33′ LU 123° 04′ BT 51 N
31 Sulawesi Barat Mamuju 02° 40′ LS 118° 56′ BT 50 S
32 Kepulauan Riau Tanjungpinang 00° 56′ LU 104° 27′ BT 48 N
33 Papua Barat Manokwari 00° 52′ LS 134° 05′ BT 53 S
Rumus untuk menghitung Zone UTM di Wilayah Indonesia
Zone UTM = 31 + (Bujur Timur/6°)
Contoh : Kota Banda Aceh memiliki titik koordinat 05° 34′ 00” LU, 95° 20′ 00”
BT
Berarti, Garis Lintang = 05° 34′ 00” dan Garis Bujur = 95° 20′ 00”
Supaya nilai garis bujur bisa dimasukkan ke rumus, kita harus merubahnya
dulu menjadi satuan derajat semua.
Garis Bujur = 95° 20′ 00”
Garis Bujur = (95)° + (20/60)° + (00/3600)°
Garis Bujur = (95)° + (0.3333)° + (0)°
Garis Bujur = (95.3333)°
Selanjutnya kita akan masukkan ke rumus,
Zone UTM = 31 + (Bujur Timur/6°)
Zone UTM = 31 + (95.3333°/6°)
Zone UTM = 31 + (95.3333°/6°)
Zone UTM = 31 + (15.8888)
Zone UTM = 46.8888
Hasilnya dibulatkan ke bawah menjadi 46. Karena 46 koma berapapun itu
masih berada di wilayah zona 46.
Kemudian untuk mengetahui Zone 46 nya masuk di wilayah utara atau selatan,
kita tinggal melihat garis lintangnya. Banda Aceh garis lintangnya 05° 34′ 00”
LU, LU ini menandakan Lintang Utara. Berarti Banda Aceh berada di Zona
UTM 46N.
INDEKS VEGETASI
Ada bebrapa jenis indeks vegetasi yang biasa digunakan, diantaranya yaitu
NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), SAVI (Soil
Adjusted Vegetation Index), GNDVI (Green Normalized
Difference Vegetation Index), ARVI (Atmospherically Resistant Vegetation Index),
DVI (Difference Vegetation Index), dan RVI (Ratio Vegetation Index), EVI,.
NDVI
NDVI adalah indeks yang menggambarkan tingkat kehijauan suatu tanaman. Indeks
vegetasi merupakan kombinasi matematis antara band merah dan band NIR (Near-
Infrared Radiation) yang telah lama digunakan sebagai indikator keberadaan dan
kondisi vegetasi.
Perhitungan NDVI didasarkan pada prinsip bahwa tanaman
hijau tumbuh secara sangat efektif dengan menyerap radiasi
di daerah spektrum cahaya tampak (PAR
atau Photosynthetically Aktif Radiation), sementara itu
tanaman hijau sangat memantulkan radiasi dari daerah
inframerah dekat. Konsep pola spektral di dasarkan oleh
prinsip ini menggunakan hanya citra band merah adalah
sebagai berikut :
NDVI = (NIR – Red) / (NIR+Red)
Dimana :
NIR= radiasi inframerah dekat dari piksel.
Red= radiasi cahaya merah dari piksel
Nilai NDVI adalah berkisar -1 sampai dengan 1
Dalam mengukur tingkat kesehatan tanaman, klasifikasi kesehatan berdasarkan nilai
NDVI nya adalah :
Nilai Indikasi
<0 Bukan mahluk hidup, seperti jalan, bangunan, tanah
atau tanaman mati
0 – 0.33 Tanaman Tidak Sehat
0.33 – 0.66 Tanaman Sehat
>. 0.66 Tanaman Sangat Sehat
Sebelum teknologi drone berkembang, citra NDVI diperoleh melalui satelit atau
pemetaan pesawat udara, sehingga untuk mendapatkan peta NDVI tersebut memakan
waktu yang lama dan mahal. Dengan perkembangan teknologi drone dan kamera saat
ini, untuk memperoleh citra NDVI menjadi lebih cepat,mudah dan relative murah
SAVI (Soil Adjusted Vegetation Index)
EVI (Enhanced Vegetation Index)
Enhanced Vegetation Index (EVI) mirip atau hampir sama dengan Normalized
Difference Vegetation Index (NDVI) dan dapat digunakn untuk menentukan atu
menhitung tingkt kehijauan vegetasi atau tanaman. However, EVI corrects for some
atmospheric conditions and canopy background noise and is more sensitive in areas
with dense vegetation. It incorporates an “L” value to adjust for canopy background,
“C” values as coefficients for atmospheric resistance, and values from the blue band
(B). These enhancements allow for index calculation as a ratio between the R and NIR
values, while reducing the background noise, atmospheric noise, and saturation in most
cases.
EVI = G * ((NIR - R) / (NIR + C1 * R – C2 * B + L))
LAI (Leaf Area Index)
Leaf Area Index LAI merupakan salah satu indikator untuk menentukan intensitas
radiasi yang dapat diserap oleh tanaman untuk proses fotosintesis. LAI juga sebagai
peubah struktur tunggal yang banyak digunakan untuk menghitung karakteristik
pertukaran energi dan massa pada sebuah ekosistem terestrial seperti intersepsi,
transpirasi, fotosintesis netto dan asimilasi kanopi. Tajuk tanaman yang memperhatikan
konsep LAI optimum atau LAI kritis menujukan nilai Crop Growth Rate CGR bersama
dengan meningkatkanya LAI, sampai tercapai nilai LAI pada saat penyerapan radiasi
matahari paling besar Gardner, et al. 1991. Radiasi surya merupakan faktor penting bagi
tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung radiasi
dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan perkembangan dan secara tidak langsung radiasi
dimanfaatkan dalam proses fotosintesis. Diharapkan pada akhirnya tanaman ini dapat
terus dikembangkan, sehingga dapat menjadi salah satu komoditas pertanian di
Indonesia. Kapasitas tanaman dalam mengintersepsi radiasi matahari ditentukan oleh
indeks luas daun leaf area index atau LAI, yaitu luas helai daun per satuan luas
permukaan tanah. Semakin besar LAI maka semakin besar pula radiasi surya yang
dapat diintersepsi untuk dimanfaatkan oleh tumbuhan. Pengukuran LAI secara
konvensional didasarkan pada nisbah antara luas daun dengan luas bidang tegakan yang
diproyeksikan tegak lurus terhadap penutupan tajukGardner, et al. 1991. Luas daun
diukur dengan menggunakan alat Leaf Area Meter. Indeks Luas Daun dihitung dengan
rumus : Lt LD ILD , dimana : ILD = Indeks luas daun LD = Luas daun Lt = Luas
lahan yang ditumbuhi tanaman Sedangkan untuk bentuk daun teratur bisa menggunakan
rumus Leaf Area Indeks = Panjang daun x Lebar daun. a. Leaf Area Indeks Tanaman
Airis Daun Besar LAI = Panjang daun x Lebar Daun = 89 x 3,5 = 311,5 cm 2 3 m 2 b.
Leaf Area Indeks Tanaman Airis Daun Kecil LAI = Panjang daun x Lebar Daun = 5,5 x
1 = 5,5 cm 2 0,5 m 2 Daun adalah organ fotosintetik tanaman sehingga luas daun yang
tercermin dari ILD penting diperhatikan. Luas daun mencerminkan luas bagian yang
melakukukan fotosintesis, sedangkan ILD mencerminkan besarnya intersepsi cahaya
oleh tanaman. Meskipun bagian batang juga ikut mengintersepsi cahaya, tetapi lebih
aktivitas lebih efektif terjadi pada daun. Pada pengamatan yang dilakukan, tanaman
yang diukur indeks luas daunnya ILD adalah tanaman Airis. Dijelaskan di atas bahwa
ILD berkaitan dengan intersepsi cahaya, dimana hasil pengukuran didapatkan ILD Airis
besar adalah 311,5 cm2 dan ILD Airis kecil adalah 5,5 cm2. Semakin luas daun, maka
kemampuan tanaman dalam menyerap cahaya matahari untuk fotosintesis akan semakin
baik pula. Hal ini berkaitan dengan komposisi klorofil dalam daun tersebut. Panjang
dan lebar daun pada tanaman Airis yang diamati ini lebih besar dari rata-rata panjang
dan lebar daun Airis yang disebutkan dalam literatur.