Anda di halaman 1dari 6

TUGAS

GEODESI SATELIT B
SRGI 2013 DILIHAT DARI
PERATURAN BIG NO. 15 TAHUN 2013

Oleh :
1. KUKUH PRAKOSO

3512100032

JURUSAN TEKNIK GEOMATIKA


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015

Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013

SRGI (Sistem Referensi Geospasial Indonesia) tunggal sangat diperlukan untuk mendukung
kebijakan Satu Peta (One Map) bagi Indonesia. Dengan satu peta maka semua pelaksanaan
pembangunan di Indonesia dapat berjalan serentak tanpa tumpang tindih kepentingan. Seperti
pada Peraturan BIG No. 15 Tahun 2013 Pasal 2 Ayat 1, dimana berbunyi SRGI 2013 digunakan
sebagai sistem referensi geospasial tunggal dalam penyelenggaraan IG nasional.
Menurut Badan Informasi Geospasial, Sistem Referensi Geospasial merupakan suatu sistem
koordinat nasional yang konsisten dan kompatibel dengan sistem koordinat global, yang secara
spesifik menentukan lintang, bujur, tinggi, skala, gayaberat, dan orientasinya mencakup seluruh
wilayah NKRI, termasuk bagaimana nilai-nilai koordinat tersebut berubah terhadap waktu.
Dalam realisasinya sistem referensi geospasial ini dinyatakan dalam bentuk Jaring Kontrol
Geodesi Nasional dimana setiap titik kontrol geodesi akan memiliki nilai koordinat yang teliti
baik nilai koordinat horisontal, vertikal maupun gayaberat.
Dalam Pasal 3 Peraturan BIG No. 15 Tahun 2013, SRGI2013 terdiri atas:
a. Sistem Referensi Geospasial Horizontal; dan
b. Sistem Referensi Geospasial Vertikal.
A. Sistem Referensi Geospasial Horizontal
Sistem Referensi Geospasial Horizontal adalah sistem referensi koordinat yang digunakan untuk
mendefinisikan atau menentukan posisi horizontal. Sistem Referensi Geospasial Horizontal
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 terdiri atas:
a. Sistem Referensi Koordinat;
b. Kerangka Referensi Koordinat;
c. Datum Geodetik; dan
d. Perubahan nilai koordinat sebagai fungsi waktu.
Sistem Referensi Koordinat digunakan untuk mendefinisikan sistem referensi geospasial
horizontal, menurut sistem referensi global. Sistem referensi koordinat adalah koordinat
geosentris yang berbentuk tiga-dimensi, dengan syarat:
a. Titik pusat sistem koordinat berimpit dengan pusat massa bumi sebagaimana
digunakan dalam International Terrestrial Reference System (ITRS);
b. Satuan dari sistem koordinat berdasarkan Sistem Satuan Internasional; dan
c. Orientasi sistem koordinat bersifat equatorial, dimana sumbu Z searah dengan
sumbu rotasi bumi, sumbu X adalah perpotongan bidang equator dengan garis
bujur yang melalui Greenwich (Greenwich meridian), dan sumbu Y berpotongan
tegak lurus dengan kaidah sistem koordinat tangan kanan, sebagaimana digunakan
dalam ITRS.

Kerangka Referensi Koordinat adalah realisasi sistem referensi koordinat, yang berupa
jaring control geodesi dengan nilai koordinat terdefinisi pada epoch 2010.0 atau 1 Januari
2012, terikat pada kerangka referensi global ITRF2008 atau hasil pembaruannya. Jaring
Kontrol Geodetik terdiri dari:
a. Sebaran stasiun pengamatan geodetik tetap/kontinu;
b. Sebaran titik pengamatan geodetik periodik; dan
c. Sebaran titik kontrol geodetik lainnya.
Datum Geodetik adalah model yang digunakan untuk penentuan posisi pada muka bumi. Hal
ini didefinisikan sebagai korelasi geometric antara sistem referensi koordinat dan muka
bumi dimana dimodelkan dengan elipsoid referensi. Datum Geodetik menggunakan World
Geodetic System 1984 (WGS 1984) referensi elipsoid, dimana titik pusat elipsoid referensi
terikat dengan pusat bumi yang digunakan dalam ITRS. Parameter dari WGS 84 yakni:
Parameter
Notas
Nilai
Setengah sumbu
ai
6.378.137,0 meter
panjang elipsoida
Setengah sumbu
b
6.356.752,314245
pendek elipsoida
meter
Faktor pegepengan
1/f
298,257223563
bumi
Kecepatan sudut

7.292.115 x 10-11
nominal
rata-rata
radian/detik
sumbu rotasi bumi
Konstanta gayaberat
GM
3,986004418 x 1014
geosentrik (termasuk
meter3/detik2
massa atmosfir Bumi)
Perubahan Nilai Koordinat sebagai Fungsi Waktu adalah sebuah vektor perubahan nilai
koordinat sebagai sebuah fungsi waktu dari sebuah titik kontrol geodetik yang disebabkan
oleh dampak pergerakan lempeng tektonik dan deformasi kerak bumi. Hal ini berdasarkan
pada pengamatan geodetik. Apabila vektor perubahan nilai koordinat sebagai fungsi waktu
tidak dapat ditentukan berdasarkan pengamatan geodetik, maka digunakan suatu model
deformasi kerak bumi yang diturunkan dari pengamatan geodetik di sekitarnya. Vektor
perubahan nilai koordinat sebagai fungsi waktu harus segera diperbarui apabila terjadi
pemutakhiran pemodelan ITRS yang menjadi rujukan SRGI 2013 maupun sebab-sebab
lainnya. Vektor perubahan nilai koordinat sebagai fungsi waktu yang mutakhir harus dapat
diakses oleh seluruh pengguna dengan mudah dan cepat.
B. Sistem Referensi Geospasial Vertikal

Dalam Pasal 10 Peraturan BIG No. 15 Tahun 2013, Sistem Referensi Geospasial Vertikal adalah
sistem referensi koordinat yang digunakan untuk mencari ketinggian. Indonesia adalah
archipelago, jadi sistem ketinggian lokal berdasar Mean Sea Level (MSL) yang digunakan saat
ini, memiliki kemungkinan inkonsisten dan susah untuk diciptakan sebagai penyatuan sitem
ketinggian nasional. Solusi untuk hal tersebut yakni menggunakan geoid sebagai SRGV. Geoid
adalah muka ekuipotensial yang terikat dengan MSL global sebagai kuadrat terkecil. Geoid
adalah model bumi yang menjelaskan bentuk bumi sebenarnya, dimana membahas variasi
gravitasi sebagai litologi heterogenitas, struktur, dan lapisan bumi. Geoid didapatkan dari
pengamatan gravitasi yang merujuk pada jaring kontrol geodesi. Geoid sangat disarankan untuk
penyatuan datum.
Ketika model geoid Indonesia belum terdapat di seluruh Indonesia, digunakanlah MSL sebagai
referensi vertical yang didapat dari pengukuran gelombang pasang-surut selama 18.6 tahun.
Ketika data jenis waktu jangka lama tidak tersedia, maka pengukuran gelombang pasang-surut
digunakan hanya untuk satu tahun.
Implementasi
SRGI 2013 telah menggantikan DGN 1995. Semua pengguna DGN 1995 harus
mentransformasikan datanya ke datum SRGI 2013. Dibawah ini adalah contoh gambar dari
implementasinya:
a. Implementasi pada Stacking Out

b. Implementasi pada Penjelasan Poin Baru

Daftar Pustaka

Badan Informasi Geospasial. 2013. Peraturan Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor 15
Tahun 2013. Jakarta: BIG
Pahlevi, Arisauna M. dan Dyah Pangastuti. 2013. Indonesian Geospatial Reference System 2013
and Its Implementation of Positioning. Jakarta: BIG