Anda di halaman 1dari 16

PROSES PEMBUATAN SABUN SECARA INDUSTRI

Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari


reaksi saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya
basa kuat (misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol. Selain
C12 dan C16, sabun juga disusun oleh berbagai gugus asam karboksilat. Prinsip
utama kerja sabun ialah gaya tarik antara molekul kotoran, sabun, dan air. Kotoran
yang menempel pada tangan manusia umumnya berupa lemak. Untuk
mempermudah penjelasan, dapat ditinjau pada minyak goreng sebagai contoh.
Minyak goreng mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam
lemak jenuh yang ada pada minyak goreng umumnya terdiri dari asam miristat,
asam palmitat, asam laurat, dan asam kaprat. Asam lemak tidak jenuh dalam
minyak goreng adalah asam oleat, asam linoleat, dan asam linolena. Asam lemak
tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C
lebih dari 6). Sabun yang banyak mengandung busa, terutama pada sabun cair yang
terbuat dari minyak kelapa atau kopra ini biasanya menyebabkan rangsangan dan
memungkinkan penyebab dermatitis bila dipakai. Oleh karena itulah penggunaanya
dapat diganti dengan memakai minyak zaitun dan minyak kacang kedele atau
minyak yang lain yang dapat menghasilkan sabun yang lebih lembut dan lebih baik.
Tetapi para pemakai kurang menyukainya sebab sabun ini kelarutannya
rendah dan tidak memberikan busa yang banyak. Dengan adanya perkembangan
yang cukup pesat di dalam dunia industri, diharapkan adanya penambahan bahan-
bahan lain ke dalam sabun sehingga dapat menghasilkan sabun dengan sifat dan
kegunaan baru. Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan dengan persentase
komposisi terbesar yang dapat membentuk suatu bagian integral dari suatu produk
jadi. Bahan baku yang dibutuhkan pada proses pembuatan sabun adalah minyak
atau lemak. Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan
sabun harus dibatasi karena memiliki berbagai alasan, seperti kelayakan ekonomi,
spesifikasi dari produk sabun tidak mudah untuk teroksidasi, dan mudah berbusa.
Sabun itu merupakan garam dari asam karboksilat (asam alkanoat). Asam
karboksilat yang memiliki struktur umum CnH2nO2, contohnya cuka, C2H4O2.
1. Flowsheet

Gambar 1. Proses Kontinyu Pembuatan Sabun


(Sumber : Arsyad M, 2012)

1.1. Uraian Proses


Bahan baku pada proses pembuatan sabun yaitu berupa trigleserin masuk
ke dalam kolom hidrolizer dengan penambahan katalis ZPO (Zirconium Phosphate)
akan terjadi proses hidrolisis dengan ditambahkannnya uap air panas yang masuk
pada suhu 230-250C dan tekanan 40-45 atm, sehingga trigleserin terpisah menjadi
asam lemak dan trigleserin. Reaksi yang terjadi pada proses trigleserin ini yaitu:
(RCOO)3C3H5 + 3H2O RCOOH + C3H5(OH)3
Asam lemak yang terbentuk lalu dimasukkan ke dalam flash tank agar
suhunya turun dan asam lemak yang dihasilkan menjadi lebih pekat, kemudian
dimasukkan ke kolom high vacum still hingga proses destilasi, pada proses ini asam
lemak akan menguap sedangkan zat yang tidak diharapkan akan keluar melalui
bawah kolom. Uap asam lemak yang terbentuk kemudian dilewatkan ke dalam
cooler sehingga dihasilkan asam lemak yang terbentuk pasta murni lalu produk ini
disimpan dalam holding tank. Pada proses pembuatan sabun, bahan baku
merupakan asam lemak yang dipompakan ke dalam mixer, lalu ditambahkan NaOH
atau kaustik soda kemudian diaduk dengan kecepatan tinggi sehingga terjadi proses
saponifikasi atau penyabunan. Reaksi yang terjadi pada proses ini adalah:
RCOOH + NaOH RCOONa + H2O
Lalu dimasukkan ke dalam blender dengan kecepatan rendah agar campuran
homogen. Pada blender terjadi pencampuran dengan baha-bahan lain yang
dibutuhkan seperti parfum, dan kloroform. Kemudian produk sabun yang telah jadi,
dan untuk finishing diteruskan dengan pompa melalui beberapa jalur, untuk sabun
batangan dengan menggunakan tekanan, untuk menghasilkan detergen
menggunakan alat pengering semprot (spray dryer) sehingga diperoleh sabun
berupa serbuk atau bubuk, dan untuk sabun cair yang dikeluarkan dari bagian
bawah alat secara langsung kemudian diikuti dengan operasi pengemasan.
1.2. Fungsi Alat
1. Hidrolizer digunakan sebagai tempat terjadinya reaksi antara asam lemak
dengan air.
2. High vacum still digunakan untuk penampungan bahan dengan tekanan
vakum agar diperoleh uap dari bagian top alat.
3. Kondensor digunakan untuk proses pendinginan bahan.
4. Pompa digunakan untuk mengalirkan zat ke dalam wadah dengan tekanan.
5. Steam flash tank digunakan sebagai pemanasan dan dengan tekanan uap
yang tinggi.
6. Holding tank digunakan untuk tempat penampungan hasil kondensasi asam
lemak yang masih belum murni yang akan dijadikan sebagai bahan baku
pembuatan sabun dan detergen.
7. Mixer digunakan sebagai tempat pencampuran dalam sistem emulsi
sehingga menghasilkan suatu dispersi yang homogen.
8. Blender digunakan sebagai tempat untuk memperhalus ukuran partikel agar
sesuai dengan yang diinginkan.

2. Bahan Baku Pembuatan Sabun


Lemak dan minyak yang umum digunakan dalam pembuatan sabun adalah
trigliserida dengan tiga buah asam lemak yang tidak beraturan diesterifikasi dengan
gliserol. Masing masing lemak mengandung sejumlah molekul asam lemak dengan
rantai karbon panjang antara C12 (asam laurik) hingga C18 (asam stearat) pada lemak
jenuh dan begitu juga dengan lemak tak jenuh. Campuran trigliserida diolah
menjadi sabun melalui proses saponifikasi dengan larutan natrium hidroksida
membebaskan gliserol. Sifat sifat sabun yang dihasilkan ditentukan oleh jumlah dan
komposisi dari komponen asam-asam lemak yang digunakan. Komposisi asam-
asam lemak yang sesuai dalam pembuatan sabun dibatasi oleh panjang rantai dan
tingkat kejenuhan. Pada umumnya, panjang rantai pada asam lemak tersebut yang
kurang dari 12 atom karbon harus dihindari penggunaanya karena akan dapat
membuat iritasi pada kulit, sebaliknya panjang rantai yang lebih dari 18 atom
karbon akan membentuk sabun yang sukar larut dan sulit menimbulkan busa.
Terlalu besar bagian asam-asam lemak tak jenuh menghasilkan sabun yang mudah
teroksidasi bila terkena udara. Bahan baku untuk pembuatan sabun, yaitu:
2.1. Minyak
Jumlah minyak atau lemak yang akan digunakan dalam proses pembuatan
sabun harus dapat dibatasi pada penggunaanya. Hal ini dikarenakan adanya
berbagai alasan, seperti kelayakan ekonomi, spesifikasi produk (sabun tidak mudah
teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan lain-lain. Beberapa jenis minyak
atau lemak yang biasa dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya:
2.1.1. Tallow Dan Lard
Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri
pengolahan daging sebagai hasil samping. Kualitas dari tallow ditentukan dari
warna, titer (temperatur solidifikasi dari asam lemak), kandungan FFA, bilangan
saponifikasi, dan bilangan iodin. Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan
dalam pembuatan sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan dalam
pembuatan sabun cuci. Oleat dan stearat adalah asam lemak yang paling banyak
terdapat dalam tallow. Jumlah FFA dari tallow berkisar antara 0,75-7,0 %. Titer
pada tallow umumnya di atas 40C. Tallow dengan titer di bawah 40C dikenal
dengan nama grease. Lalu ada lard yang merupakan minyak babi yang masih
banyak mengandung asam lemak tak jenuh seperti oleat (60-65%) dan asam lemak
jenuh seperti stearat (35-40%). Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus
dihidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk mengurangi ketidak jenuhannya.
2.1.2. Palm Oil
Palm oil (minyak kelapa sawit). Minyak kelapa sawit umumnya digunakan
sebagai pengganti tallow. Minyak kelapa sawit dapat diperoleh dari pemasakan
buah kelapa sawit. Minyak kelapa sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya
kandungan zat warna karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku
pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun yang terbuat dari 100%
minyak kelapa sawit akan bersifat keras dan sulit berbusa. Maka dari itu, jika akan
digunakan bahan palm oil atau minyak sawit sebagai bahan baku di dalam
pembuatan sabun, minyak kelapa sawit harus dicampur dengan bahan lainnya.
2.1.3. Coconut Oil Dan Palm Kernel
Coconut oil atau minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering
digunakan dalam industri pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna kuning pucat
dan diperoleh melalui ekstraksi daging buah yang dikeringkan (kopra). Minyak
kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi, terutama asam laurat,
sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi yang menimbulkan bau tengik.
Minyak kelapa juga memiliki kandungan asam lemak kaproat, kaprilat, dan kaprat.
Palm kernel oil (minyak inti kelapa sawit). Minyak inti kelapa sawit diperoleh dari
biji kelapa sawit. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak yang mirip
dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pengganti minyak kelapa.
Minyak inti sawit ini memiliki suatu kandungan asam lemak yang tak jenuh lebih
tinggi dan asam lemak rantai pendek lebih rendah dari pada minyak kelapa.
2.1.4. Palm Oil Stearine, Marine Oil Dan Olive Oil
Palm oil stearine atau minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan
dari ekstraksi asam-asam lemak dari minyak sawit dengan pelarut aseton dan
heksana. Kandungan asam lemak terbesar dalam minyak ini adalah stearin. Marine
oil berasal dari mamalia laut dan ikan laut. Marine oil memiliki kandungan asam
lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga harus dihidrogenasi parsial terlebih
dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku. Castor oil (minyak jarak). Minyak
ini berasal dari biji pohon jarak dan digunakan untuk membuat sabun transparan.
Campuran minyak dan lemak pada industri pembuat sabun umumnya
membuat sabun yang berasal dari campuran minyak dan lemak yang berbeda .
Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang saling
melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang
tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat dan
dan palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun. Kemudian
ada juga olive oil yaitu minyak zaitun yang berasal dari ekstraksi buah zaitun.
Minyak zaitun dengan kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun yang
berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit.
2.2. Alkali
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH,
KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH atau yang biasa dikenal dengan
soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan
dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun
cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda atau natrium
karbonat) merupakan suatu golongan alkali yang murah dan dapat menyabunkan
asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak).
Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa
tersebut dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang
dihasilkan sangat mudah larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu menurunkan
kesadahan air. Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa
menunjukkan sifat mudah berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan
sebagai sabun industri dan deterjen, bukan sebagai sabun rumah tangga.
Pencampuran pada alkali yang berbeda sering dilakukan oleh berbagai industri
sabun dengan tujuan untuk mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu.
2.3. Bahan Tambahan
Bahan tambahan adalah bahan-bahan yang dapat digunakan dalam
membantu kelancaran proses produksi dan bahan ini termasuk bagian dari produk.
Adapun bahan-bahan tambahan yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
1. Parfum yang berfungsi sebagai pemberi aroma pada sabun
2. Pewarna yang berfungsi sebagai pembentuk warna pada sabun
3. TCC (Three Chloro Carbon) dan Irgasan berfungsi sebagai anti bakteri
pada sabun kesehatan
2.4. Bahan Penolong
Bahan penolong adalah bahan yang digunakan secara tidak langsung dalam
produk dan bukan merupakan komposisi produk, tetapi digunakan sebagai
pelengkap produk. Adapun yang menjadi bahan tambahan adalah water (H2O).
Adapun fungsi water (H2O) yaitu sebagai kebutuhan proses untuk pengenceran.
3. Pembuatan Sabun Dalam Industri Sabun
Pada saat ini teknologi sabun telah berkembang pesat. Sabun dengan
berbagai jenis dan bentuk yang bervariasi dapat diperoleh dengan mudah dipasaran
seperti sabun mandi, sabun cuci baik untuk pakaian maupun untuk perkakas rumah
tangga, hingga sabun yang digunakan dalam berbagai industri. Berikut ini adalah
beberapa tahapan-tahapan pada proses pembuatan sabun yang ada di industri.
3.1. Direct Saponification
Kata saponifikasi atau saponify berarti membuat sabun (dalam bahasa latin
arti sapon yang berarti sabun dan arti fy adalah akhiran yang berarti membuat).
Saponifikasi adalah suatu proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan
mereaksikan asam lemak dengan alkali yang menghasilkan garam karbonil (sejenis
sabun) dan gliserol (alkohol). Alkali yang biasanya digunakan pada proses adalah
NaOH dan Na2CO3 maupun KOH dan K2CO3. Ada dua produk yang akan
dihasilkan dalam proses ini yaitu sabun dan gliserin. Secara teknik, sabun adalah
hasil dari reaksi kimia antara fatty acid dan alkali. Fatty acid adalah lemak yang
diperoleh dari lemak hewan dan nabati. Saponifikasi langsung lemak dan minyak
adalah proses tradisional yang digunakan untuk produksi sabun. Secara komersial,
hal ini dilakukan melalui proses ketel boiling batch atau proses kontinyu.
3.1.1. Continuous Saponification Systems
Sebuah inovasi yang relatif baru dalam produksi sabun, Sistem ini telah
menghasilkan efisiensi pengolahan yang lebih baik dan waktu pengolahan yang
jauh lebih pendek. Ada beberapa sistem komersial yang tersedia, bahkan walaupun
sistem ini berbeda dalam aspek desain atau operasi-operasi tertentu. Semua proses
yang terjadi pada proses saponifikasi lemak dan minyak untuk sabun sama dengan
proses umum yang ada. Umpan yang berupa campuran lemak dan minyak
kemudian dimasukkan ke dalam pressurized, heated vessel yang biasa disebut
sebagai autoclave, bersama dengan sejumlah kaustik soda, air, dan garam.
Pada suhu (120oC) dan tekanan (200 kPa), waktu yang digunakan untuk
reaksi saponifikasi lebih cepat (<30 menit). Setelah dikontakkan dengan waktu
kontak yang relatif singkat pada autoclave, larutan sabun dan campuran alkali
kemudian dipompakan ke dalam cooling mixer dengan suhu di bawah 100oC. Hasil
produk kemudian dipompakan ke dalam static separator dimana campuran alkali
dengan kandungan gliserol (25-30%) dipisahkan dari larutan sabun menggunakan
pengaruh gravitasi atau settling (pengendapan). Larutan sabun kemudian dicuci
dengan larutan alkali dan garam. Hal ini sering dilakukan dalam sebuah kolom
vertikal, yang merupakan suatu tabung yang terbuka berupa proses mixing or baffle
stages. Larutan sabun dimasukkan ke bagian bawah kolom dan alkali atau larutan
garam dipompakan dari atas. Larutan pada sabun yang masih bisa direcovery
berada di atas kolom sedangkan alkali atau larutan garam berada di bawah.
Proses pencucian menghilangkan impurities dan menghasilkan gliserol
yang akan diproses lanjut. Proses pemisahan akhir menggunakan centrifugal,
setelah dipisahkan, residu alkali dalam larutan sabun dinetralisasi melalui
penambahan asam lemak yang akurat dalam steam-jacketed mixing vessel
(crutcher). Sabun kini siap untuk digunakan dalam pembuatan sabun batang.
3.1.2. Boiler Batch Process
Proses ini menghasilkan sabun dalam jumlah besar, menggunakan tangki
baja terbuka yang dikenal dengan ketel yang dapat menyimpan hingga 130.000 kg
bahan. Ketel dengan dasar berbentuk kerucut ini yang berisi koil uap terbuka untuk
pemanasan dan agitasi. Untuk membuat sabun, proses lemak, minyak, soda kaustik,
garam, dan air secara bersamaan ditambahkan ke ketel. Untuk menyelesaikan
proses penyabunan, batch sabun dipanaskan untuk jangka waktu tertentu
menggunakan steam sparging. Setelah menyelesaikan seluruh reaksi penyabunan,
garam tambahan akan ditambahkan ke dalam ketel yang telah dipanaskan dengan
uap untuk mengendapkan larutan sabun. Dadih sabun yang tersisa di ketel biasanya
dapat dicuci beberapa kali dengan menambahkan air untuk mengubahnya kembali
ke bentuk cairan dan mengulangi dengan penambahan garam, mendidihkan, dan
proses pemisahan sehingga hasil yang akan didapatkan bisa lebih maksimal.
Proses mencuci memberikan yang lebih baik menghilangkan kotoran dari
gliserol dan sabun. Setelah pencucian akhir, tingkat air di dalam sabun dadih yang
tersisa dalam ketel disesuaikan untuk mencapai sifat-sifat fisik yang tepat untuk
pengolahan tambahan. Proses ini disebut sebagai fitting. Produk yang tersisa dalam
ketel adalah sabun murni dengan konsentrasi 70% dengan garam dan gliserol
tingkat rendah. Pada proses boiler batch ini akan memerlukan waktu yang cukup
lama dan memerlukan beberapa hari untuk dapat menyelesaikannya dengan baik.
3.2. Netralisasi Asam Lemak
Pendekatan lain untuk memproduksi suatu sabun adalah melalui netralisasi
asam lemak dengan kaustik. Pendekatan ini membutuhkan proses bertahap di mana
asam lemak diproduksi melalui hidrolisis lemak dan minyak dengan air, diikuti
dengan netralisasi berikutnya dengan kaustik. Pendekatan ini memiliki sejumlah
keuntungan lebih dibanding proses saponifikasi secara umum. Operasi sistem ini
meliputi pemompaan reaktan melalui pemanasan terlebih dahulu menuju
turbodisperser dimana interaksi reaktan-reaktan tersebut mengawali pembentukan
sabun murni. Sabun tersebut yang direaksikan pada tahap ini, kemudian dialirkan
ke mixer dimana sabun tersebut disirkulasi kembali hingga netralisasi selesai.
Sabun murni kemudian dikeringkan dengan vakum spray dryer untuk
menghasilkan sabun butiran yang siap untuk diolah menjadi sabun batangan.
3.3. Tahap Hidrolisis
Tahapan hidrolisis lemak dan minyak dengan air membutuhkan
pencampuran yang baik dimana secara normal keduanya merupakan fasa yang tidak
saling larut. Reaksi dilakukan di bawah kondisi dimana air memiliki kelarutan yang
cukup tinggi yaitu sekitar 10-25% dalam lemak dan minyak. Dalam prakteknya,
proses ini dicapai di bawah tekanan tinggi yaitu sekitar 4-5,5 MPa (580psi-800psi)
dan dengan suhu tinggi (240oC-270oC) pada kolom stainless steel. ZnO kadang-
kadang ditambahkan sebagai katalis dengan lemak bahan baku dan minyak untuk
dapat mempercepat reaksi. Bahan baku lemak dan minyak akan dimasukkan pada
bagian bawah (bottom) dan air yang akan dimasukkan di bagian atas (top) kolom.
Kolom didesain terbuka atau didesain berisi baffle untuk meningkatkan
pencampuran yang lebih baik melalui aliran turbulen. Steam yang bertekanan tinggi
ditempatkan pada ketinggian tiga atau empat di kolom yang berbeda untuk
pemanasan awal. Desain ini menetapkan pola aliran lawan dengan air bergerak
melalui kolom dari atas ke bawah dan lemak dan minyak arah yang berlawanan.
Sebagai bahan-bahan ini dicampurkan pada suhu dan tekanan tinggi . Keterkaitan
ester dalam lemak dan minyak dihidrolisis untuk menghasilkan asam lemak dan
gliserol. Asam lemak yang terbentuk dilanjutkan melalui kolom bagian atas,
sedangkan gliserol yang dihasilkan dilakukan pencucian melalui bagian bawah
dengan fase air. Karena ini merupakan reaksi reversibel, penting untuk
menghilangkan gliserin dari campuran melalui proses pencucian.
Asam lemak yang dihasilkan pada bagian atas kolom mengandung air,
lemak yang tidak terhidrolisis, dan Zn sisa sebagai katalis. Produk yang dihasilkan
ini kemudian dilewatkan ke tahap pengeringan vakum dimana air tersebut
dihilangkan melalui penguapan dan asam lemak didinginkan sebagai hasil dari
proses penguapan. Produk kering aliran ini kemudian diteruskan ke sistem distilasi.
Sistem distilasi memungkinkan untuk perbaikan kualitas asam lemak, yaitu,
bau dan warna, melalui pemisahan asam lemak dari lemak yang saponisasi sebagian
dan minyak yang masih mengandung katalis Zn. Hal ini dicapai dengan pemanasan
produk steam dalam penukar panas dengan suhu sekitar 205oC-232oC dan
dimasukkan ke ruang hampa (flash still) pada tekanan 0,13kPa-0,8kPa atau (1-6
mm Hg) tekanan absolut. Asam lemak yang diuapkan pada kondisi ini akan
dihilangkan dari bahan-bahan yang tidak diinginkan seperti trigliserida terhidrolisis
sebagian. Asam lemak yang menjadi uap kemudian akan melewati beberapa

serangkaian alat pada kondensor air dingin untuk fraksionasi.


Sistem bervariasi dalam jumlah kondensor tetapi sistem tiga kondensor
adalah sistem yang umum digunakan. Asam lemak biasanya dipisahkan menjadi
heavy cut, mid-cut, dan very light cut. Light cut sering dihilangkan karena
mengandung banyak zat yang menyebabkan bau yang tidak enak pada asam lemak.
Asam lemak yang diperoleh dari berbagai proses tersebut dapat digunakan secara
langsung atau dimanipulasi lebih lanjut untuk dapat diperbaiki atau diubah kinerja
dan stabilitas. Hardering adalah suatu operasi dimana beberapa ikatan tak jenuh
yang terdapat di dalam asam-asam lemak di eliminasi melalui proses hidrogenasi
atau suatu penambahan gugus H2 di karbon-karbon ikatan rangkap.
Proses ini pada awalnya dimaksudkan untuk meningkatkan bau dan
memperbaiki warna asam lemak melalui eliminasi dari ikatan rangkap tak jenuh.
Namun, seiring perkembangan dalam penggunaan asam lemak, hidrogenasi
merupakan proses komersial penting untuk mengubah sifat fisik dari asam lemak.
Hardering biasanya dicapai dengan melewatkan asam lemak yang telah dipanaskan
melalui serangkaian tubes packed dengan katalis dengan kehadiran gas hidrogen.
Katalis yang paling sering digunakan adalah Ni.Hardering ditentukan oleh
jumlah hidrogen, suhu reaksi, tekanan, dan waktu tinggal. Asam lemak yang telah
melewati proses hardering kemudian disaring untuk menghilangkan sisa katalis dan
selanjutnya didinginkan dalam flash tank dimana kelebihan gas hidrogen
dihilangkan. Selain pengurangan tingkat ketidak jenuhan dalam asam lemak, proses
juga dapat mengkonversi beberapa konfigurasi cis asam lemak tak jenuh ke dalam
konfigurasi trans. Konversi pada suatu proses juga dapat mempengaruhi sifat
produk jadi dan biasanya dikendalikan untuk spesifikasi yang diinginkan.
3.4. Netralisasi
Tahap pembentukan sabun dari asam lemak dicapai melalui reaksi asam
lemak dengan kaustik yang sesuai. Reaksi pada tahap netralisasi ini berlangsung
dengan sangat cepat untuk beberapa kaustik yang banyak digunakan, misalnya ,
NaOH atau KOH, dan memerlukan perhitungan yang tepat dan pencampuran yang
akurat untuk memastikan efektivitas proses. Meskipun relatif mudah, dalam
prakteknya, beberapa pertimbangan proses harus ditangani dengan baik. Pertama,
perbandingan yang tepat dari lemak asam, dan kaustik, air, serta garam harus dijaga
untuk menjamin dalam pembentukan fase larutan sabun yang diinginkan.
Proses ini dikontrol untuk menghindari terbentuknya sabun menengah, yang
memiliki viskositas tinggi dan tidak menghilang dengan cepat. Kedua,
pencampuran yang baik antara minyak dan air diperlukan untuk memastikan
terbentuknya fase campuran larutan sabun yang baik. Ketiga, karena panas yang
dibebaskan dari reaksi, temperatur proses harus dipertahankan dalam batas-batas
tertentu agar tidak terlalu panas dan mendidih atau berbusa. Ada berbagai proses
komersial untuk tahap netralisasi. Umumnya, asam lemak dipanaskan pada suhu
50oC-70oC dan dicampurkan dengan zat kaustik, garam, air pada suhu 25oC-30oC.
Steam dialirkan ke dalam sebuah high shear mixing system, yang pada
umumnya disebut sebagai neutralizer. Campuran yang dipanaskan dengan suhu
antara 85oC dan 95oC kemudian dipompakan ke dalam tangki penerima yang efektif
untuk mencampurkan sabun baik melalui sistem resirkulasi dan agitasi. Setelah
steam tersebut dikontakkan dengan waktu tinggal di tangki penerima untuk
memastikan adanya berbagai komposisi yang seragam, sabun yang dihasilkan
dipompakan ke tangki penyimpanan atau dilanjutkan ke proses finishing.
3.5. Pemurnian Sabun
Pemurnian sabun adalah suatu bentuk perlakuan atau treatment untuk
menghilangkan berbagai zat pengotor atau impurities yang terlarut di dalam suatu
larutan alkali dan mengolah lagi senyawa gliserin yang terbebas pada saat proses
reaksi pembentukkan saponifikasi. Asumsi tentang pemurnian sabun yaitu:
1. Giserol merupakan jumlah total pelarut dalam pencucian larutan alkali.
2. Gliserol ada pada sabun yang dilarutkan dalam larutan alkali.
3. Ketika sabun dicampurkan dengan pencucian larutan alkali, gliserol pindah
dari larutan alkali pada sabun menjadi pencucian alkali sampai konsentrasi
keduanya stabil.
4. Bila campuran tadi dibiarkan di stele kemudian dipisahkan menjadi dua
lapisan bagian yaitu lapisan atasnya adalah sabun dan lapisan bawahnya
untuk pencucian alkali.
5. Ketika pencucian meningkat, kebanyakan gliserol diekstrak pada saat
banyaknya larutan alkali yang dikorbankan.
3.5.1. Proses Pencucian Sabun
1. Proses pembasahan, perlakuan terhadap kotoran dan lemak-lemak.
2. Proses menghilangkan kotoran dari permukaan.
3. Mengatur kotoran-kotoran supaya tetap stabil dari larutannya.
3.6. Tahapan Proses Akhir
3.6.1. Crutching
Crutching yaitu tahapan jika sabun murni yang berasal dari ketel atau proses
lainnya akan dicampurkan dengan menggunakan bahan lain, maka sebelum
dibentuk atau dikeringkan, dilakukan pencampuran terlebih dahulu. Campuran itu
dilarutkan di dalam mesin crutcher dahulu. Crutcher adalah bejana yang berbentuk
silindris dengan ukuran kecil, kapasitasnya 680 kilogaram sampai 2279 kilogram
dan dilengkapi dengan pengaduk. Crutcher juga digunakan di dalam pencampuran
alkali dengan lemak di dalam pembuatan sabun dengan proses pendinginan.
3.6.2. Framming
Framming yaitu metode yang digunakan untuk mengubah sabun murni atau
cairan sabun panas menjadi padatan yang mudah dibentuk menjadi batangan atau
disebut dengan framming. Framming dilakukan pada cairan sabun yang berada
pada suhu 57oC-62oC didalam suatu frame yang memiliki berat 454-545 kg
berbentuk persegi. Untuk memadatkan sabun murni diperlukan waktu 3-7 hari.
Sabun yang telah dicetak dapat dipotong menjadi bagian kecil. Penambahan zat
adiktif antioksidan stabilizer dilakukan pada saat crutching sebelum framming.
3.6.3. Drying
Drying yaitu proses pengeringan yang sederhana untuk menghilangkan
kadar air atau yang biasa dikenal dengan spray drying proses. Sabun yang

mengandung air dilewatkan melalui spray nozzles. Partikel-partikel kecil ini


dikeluarkan oleh spray nozzles dalam bentuk kering. Pengeringan juga dapat
dilakukan pada vakum atau di dalam atmospherik flash drying. Sabun banyak

diperoleh setelah penyelesaian saponifikasi (sabun murni) yang umumnya

dikeringkan dengan vakum spray dryer. Kandungan air pada sabun dikurangi dari

30-35% pada sabun murni menjadi 8-18% pada sabun butiran atau lempengan.
3.6.4. Penyempurnaan Sabun
Penyempurnaan sabun dalam pembuatan produk sabun batangan, sabun

butiran dicampurkan dengan zat pewarna, parfum, dan zat aditif lainnya kedalam

mixer (analgamator). Campuran sabun ini klemudian diteruskan untuk digiling

untuk mengubah campuran tersebur menjadi suatu produk yang homogen. Produk

tersebut kemudian dilanjutkan ke tahap pemotongan. Sebuah alat pemotong dengan


mata pisau memotong sabun tersebut menjadi potongan potongan terpisah yang
dicetak melalui proses penekanan menjadi sabun batangan sesuai dengan ukuran
dan bentuk yang diinginkan. Pada proses pembungkusan, pengemasan, dan
penyusunan sabun batangan merupakan suatu tahapan akhir pada pembuatan sabun.
4. Klasifikasi Proses
4.1. Proses Batch,
Pada proses batch, lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali (NaOH
atau KOH) berlebih dalam sebuah ketel. Jika penyabunan telah selesai, garam
garam ditambahkan untuk mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengaundung
garam, gliserol dan kelebihan alkali dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari
proses penyulingan. Endapan sabun gubal yang bercampur dengan garam, alkali
dan gliserol kemudian dimurnikan dengan air dan diendapkan dengan garam
berkali-kali. Akhirnya endapan yang ada pada proses batch ini harus direbus
dengan menggunakan air yang secukupnya untuk mendapatkan campuran halus
yang lama-kelamaan membentuk lapisan yang homogen dan mengapung.
Sabun ini dapat dijual langsung tanpa dengan menggunakan pengolahan
lebih yang lanjut, yaitu sebagai sabun industri yang murah. Beberapa bahan pengisi
ditambahkan, seperti pasir atau batu apung dalam pembuatan sabun gosok.
Beberapa perlakuan pada proses batch ini yaitu diperlukan untuk mengubah sabun
gubal menjadi sabun mandi, sabun bubuk, sabun obat, sabun wangi, sabun cuci,

sabun cair dan sabun apung (dengan melarutkan udara di dalamnya).


4.2. Proses Kontinyu
Pada proses kontinyu yaitu yang biasa dilakukan sekarang, lemak atau
minyak hidrolisis dengan air pada suhu dan tekanan tinggi, dibantu dengan katalis
seperti sabun seng. Lemak atau minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu
ujung reaktor besar. Asam lemak dan gliserol yang terbentuk pada proses kontinyu

ini dikeluarkan dari ujung yang berlawanan dengan cara penyulingan.

Asam-asam ini kemudian dinetralkan dengan alkali untuk menjadi sabun.


Pada umumnya, alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun pada umumnya
hanya NaOH dan KOH, namun kadang juga menggunakan NH4OH. Sabun yang
dibuat dengan NaOH lebih lambat larut dalam air dibandingkan dengan sabun yang
dibuat dengan KOH. Sabun yang terbuat dari alkali kuat (NaOH atau KOH)
mempunyai nilai pH antara 9 sampai 10,8 sedangkan sabun yang terbuat dari alkali
lemah (NH4OH) akan mempunyai nilai pH yang lebih rendah yaitu 8,0 sampai 9,5.
5. Kegunaan Produk
Sabun berfungsi sebagai bahan pembersih, dalam penggunaannya sesuai
dengan jenis sabun itu sendiri, yaitu sabun mandi biasanya mengandung K+, karena
mudah diuraikan oleh mikroorganisme, digunakan untuk membersihkan tubuh
ketika mandi. Sabun cuci batangan biasanya mengandung Na+, karena sukar
diuraikan, dapat juga digunakan untuk mencuci pakaian dan barang lainnya. Sabun
colet digunakan untuk mencuci berbagai peralatan rumah tangga. Sabun biasanya
berbentuk padatan tercetak yang disebut batang karena sejarah dan bentuk
umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah telah meluas, terutama pada sarana-
sarana publik. Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif
akan mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih.
Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun sebagai
alat bantu mencuci atau membersihkan. Banyak sabun merupakan campuran garam
natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak
dengan direaksikan dengan alkali seperti natrium atau kalium hidroksida pada suhu
80100 C melalui suatu proses yang dikenal dengan saponifikasi. Lemak akan
mengalami terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Secara
tradisional, alkali yang digunakan adalah kalium yang dihasilkan dari pembakaran
tumbuhan, atau dari arang kayu. Sabun mempunyai sifat membersihkan.
Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam
lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar,
karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai
rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik
dan larut dalam zat organik sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat
hidrofilik dan larut dalam air. Sabun memiliki kelarutan yang tinggi dalam air,
tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih kecil tapi larut menjadi ion-ion.
Sabun pada dikenal dalam dua wujud, sabun cair dan sabun padat.
Perbedaan utama dari kedua wujud sabun ini adalah alkali yang digunakan dalam
reaksi pembuatan sabun. Dalam sabun terdapat zat aktif yang disebut surfaktan. Zat
aktif ini merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu
hidrofil dan hidrofob. Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan
air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan.
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, M. 2012. Pengolahan Limbah Pabrik Sabun dari Soap Gliserin Menjadi
Triasetin. Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan 2(2): 1-5.
Kurniawan, Yantonius. 2011. Proses Saponifikasi. (Online).
http://repository.usu.ac.id/254/proses_saponifikasi. (Diakses Pada Tanggal
13 Februari 2017).
Saputra, Rahmad. 2015. Bahan-Bahan Pembuatan Sabun Pada Industri. (Online).
http://repository.ipb.ac.id/179/. (Diakses Pada Tanggal 13 Februari 2017).
Septono. 2011. Pembuatan Sabun Cair Transparan. Surakarta: UNS.
Suswanto, B. 2011. Syarat Mutu Sabun. Jakarta: Standar Nasional Indonesia.