Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

GELOMBANG & OPTIK


“GELOMBANG STASIONER”

Tanggal Pengumpulan : 28 November 2017


Tanggal Praktikum : 23 November 2017
Waktu Praktikum : 15.30 – 17.00

NAMA : MUHAMMAD EKI ISLAMI


NIM : 11150163000056
KELOMPOK : 4 (EMPAT)
NAMA ANGGOTA :
1. ARIESTA UMMI AGESTI (11150163000072)
2. ANNISA FEBRIANA (11150163000073)
3. HILDA WARDAH HAFIZH (11150163000080)
KELAS : PENDIDIKAN FISIKA 4B

LABORATORIUM FISIKA DASAR


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2017
GELOMBANG STASIONER

A. Tujuan Praktikum
1. Mempelajari terjadinya gelombang berdiri pada tali.
2. Mengamati terjadinya lembah dan puncak dari gelombang berdiri.
3. Mencari hubungan antara tegangan dan panjang gelombang pada tali
terhadap cepat rambat gelombang.
4. Mengetahui perbedaan banyak gelombang yang akan terbentuk dari tali
yang berbeda.
5. Memahami konsep gelombang stasioner pada mata kuliah Gelombang.

B. Dasar Teori
Gelombang stasioner merupakan perpaduan dua gelombang yang mempunyai
frekuensi, cepat rambat, dan amplitudo yang sama besar namun merambat dalam
arah yang berlawanan. Singkatnya, gelombang stasioner merupakan perpaduan atau
super posisi dari dua gelombang yang identik namun berlawanan arah
(instafisika.com).
Gelombang stasioner biasa juga disebut gelombang tegak, gelombang berdiri
atau gelombang diam, karena terbentuk dari perpaduan atau interferensi dua buah
gelombang yang mempunyai amplitudo dan frekuensi yang sama, tapi arah
rambatnya berlawanan. Amplitudo pada gelombang stasioner tidak konstan,
besarnya amplitudo pada setiap titik sepanjang gelombang tidak sama. Pada simpul
amplitudo nol, dan pada perut gelombang amplitudo maksimum. (Halliday, 1988) .
Sebagai contoh gelombang tali yang diikat di salah satu ujungnya, kemudian ujung
yang lain kita ayunkan naik turun. Besar amplitudo gelombang stasioner akan
berubah-ubah di antara nilai maksimum dan minimumnya. Titik yang amplitudonya
maksimum disebut perut dan titik dengan amplitudo minimum disebut simpul.
Gelombang stasioner ada dua yaitu gelombang stasioner pada ujung tetap dan ujung
bebas (Anonim, 2017).
Gelombang satsioner memiliki ciri-ciri gelombang yaitu terdiri dari simpul
dan perut. Simpul yaitu tempat kedudukan titik yang mempunyai amplitudo nol.
Sedangkan Perut yaitu tempat kedudukan titik-titik yang mempunyai amplitudo
maksimum (Anonim).
Hukum Melde menyatakan bahwa jika seutas tali dengan tegangan
tertentu digetarkan secara terus-menerus, maka akan terlihat suatu bentuk
gelombang yang arah getarannya tegak lurus dengan arah rambatannya.
Gelombang tersebut dinamakan gelombang transversal. Jika kedua ujung
tertutup, maka gelombang pada tali tersebut akan terpantul-pantul dan
menghasilkan gelombang stasioner (Tim Penyusun Modul, 2017).
Percobaan Melde menyimpulkan bahwa cepat rambat gelombang dalam
dawai adalah berbanding lurus dengan akar tegangan dawai, berbanding lurus
dengan akar panjang dawai, dan berbanding terbalik dengan akar massa

dawai. Sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut √ , karena ,

maka persamaannya menjadi √ . Dengan v adalah cepat rambat

gelombang transversal pada dawai (m/s), F adalah tegangan dawai (N), m


adalah massa dawai (kg), l adalah panjang dawai (m), dan μ adalah massa
persatuan panjang dawai (kg/m) (Dwi dan Bukhori, 2008).

C. Alat dan Bahan

No Gambar Nama Alat dan Bahan

1 Vibrator

Rel presisi
2
3 Katrol

4 Beban 100 gr

5
Tali

6 Neraca Digital

7 Penggaris

D. Langkah Kerja
Percobaan 1

No Gambar Langkah Percobaan

Ukur panjang tali menggunakan


1
penggaris.
Ukur massa tali menggunakan
2
neraca digital.

Susun peralatan seperti pada


3 gambar di modul, lalu hubungkan
vibrator ke ke sumber arus listrik.

Nyalakan vibrator dengan


mengubah skalar ke kondisi ON.
Kemudian amati gelombang yang
4
terbentuk dan jumlah gelombang
yang terbentuk pada tali dari ujung
vibrator sampai katrol.

Ulangi percobaan, dengan


mengganti massa beban yang
5 digunakan, kemudian amati dan
hitung jumlah gelombang yang
terbentuk.

Percobaan 2

No Gambar Langkah Percobaan

Ukur panjang tali menggunakan


1
penggaris.

Ukur massa tali menggunakan


2
neraca digital.
Susun peralatan seperti pada
3 gambar di modul, lalu hubungkan
vibrator ke ke sumber arus listrik.

Nyalakan vibrator dengan


mengubah skalar ke kondisi ON.
Kemudian amati gelombang yang
4
terbentuk dan jumlah gelombang
yang terbentuk pada tali dari ujung
vibrator sampai katrol.

Ulangi percobaan, dengan


mengganti jenis tali yang berbeda,
5
kemudian amati dan hitung jumlah
gelombang yang terbentuk.

E. Data Pengamatan
Percobaan 1
Frekuensi :
Massa tali :
Panjang tali :
Panjang tali vibrator ke katrol :
No mbeban (kg) ngelombang λ (m) v (m/s) vmelde (m/s)

1 λ 22
2 λ 31
3 λ 38
4 λ 44
5 λ 49

Percobaan 2
Frekuensi :
Massa Beban :
Panjang tali vibrator ke katrol :
No Tali mtali (kg) λ (m) v (m/s) vmelde (m/s)

1 0,078 32

2 Putih 32

3 0,078 32

4 0,076 53

5 Cokelat 53

6 5 0,076 53

7 1,55 0,064 29

8 Bening 1,55 0,064 29

9 1,55 0,064 29

F. Analisis Data
Percobaan 1

 √ √ √

√ √

 √ √ √

√ √

 √ √ √
√ √

 √ √

 √ √

Percobaan 2
 Cokelat

√ √ √ √


 Putih

√ √ √ √


 Bening

√ √ √ √

G. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, praktikan akan melakukan percobaan mengenai
gelombang stasioner dengan bantuan serangkaian alat tali melde. Praktikum
ini akan mencari nilai cepat rambat gelombang stasioner dan cepat rambat
gelombang melde serta hubungannya cepat rambat gelombang pada tali
dengan banyak gelombang yang terbentuk dan pengaruh panjang gelombang
terhadap cepat rambat gelombangnya. Terdapat dua percobaan dalam
praktikum ini, pertama dengan menggunakan massa yang berbeda dan tali
yang sama, kedua dengan menggunakan tali yang berbeda dan massa yang
sama. Setiap percobaan melakukan tiga kali pengulangan.
Massa beban yang digunakan pada percobaan pertama yaitu sebesar
, , , , dan dan tali yang digunakan adalah tali
yang berwarna putih. Berdasarkan data yang telah didapat dapat disimpulkan
bahwa semakin besar nilai massa beban, maka semakin sedikit jumlah
gelombang yang dihasilkan pada tali yang mengakibatkan panjang satu
gelombang ( ) makin besar nilainya.
Tali yang digunakan pada percobaan kedua adalah tali berwarna putih,
coklat, dan kenur. Setiap massa dari masing-masing tali memiliki nilai yang
berbeda setelah dihitung menggunakan neraca digital. Berdasarkan data yang
telah didapat dapat disimpulkan bahwa panjang satu gelombang pada tali
putih lebih kecil dibandingkan dengan tali berwarna coklat dan kenur. Namun
tali berwarna coklat dengan kenur memilik panjang gelombang yang sama,
hal ini disebabkan karena kesalahan neraca ketika membaca massa tali.
Ketelitian neraca yang digunakan hanya mencapai saja sehingga
menyulitkan dalam pembacaan.

H. Kesimpulan
1. Amplitudo gelombang stasioner selalu tetap.
2. Banyaknya gelombang dalam satu panjang tali berbanding terbalik
terhadap tegangan pada tali, sehingga cepat rambat gelombang
dipengaruhi oleh beratnya beban yang digantung pada tali.
3. Perbedaan panjang tali juga mempengaruhi cepat rambat gelombang pada
tali.

I. Daftar Pustaka
Gustianti, Dwi dan Ahmad Bukhori. 2008. FISIKA. Bandung: Grafindo
Media Pratama.
Resnick dan Hallyday. 1988. Physics. Jakarta: Erlangga.
Soetrisno. 1983. Seri Fisika Dasar Gelombang Dan Optik. Bandung:
ITB.
Tim Penyusun Modul. 2017. Modul Gelombang Stasioner. Ciputat:
Lab. Pendidikan Fisika UIN.
Anonim. 2017. Gelombang Stasioner
(www.instafisika.com/2015/04/kelas-xii-gelombang-stasioner.html)

J. Tugas Pasca
1. Buat dan jelaskan grafik dari masing-masing percobaan!
Jawab:
a. Grafik v terhadap √
Percobaan 1
Grafik v terhadap √𝜇
50
40
v 30
20
10
0
0 0,0005 0,001 0,0015 0,002 0,0025
√𝜇

Percobaan 2

Grafik v terhadap √𝜇
40
35
30
25
20
v

15
10
5
0
0 0,0002 0,0004 0,0006 0,0008 0,001 0,0012 0,0014 0,0016 0,0018 0,002
√𝜇

b. Grafik v terhadap √
Percobaan 1

Grafik v terhadap √𝐹
50

40

30
v

20

10

0
0 1 2 3 4 5 6
√𝐹

Percobaan 2
Grafik v terhadap √𝐹
40

30

20
V

10

0
0 0,5 1 1,5 2 2,5
√𝐹

c. Grafik vmelde terhadap √


Percobaan 1

Grafik vmelde terhadap √𝜇


60
50
40
VMELDE

30
20
10
0
0 0,0005 0,001 0,0015 0,002 0,0025
√𝜇

Percobaan 2

Grafik vmelde terhadap √𝜇


60
50
40
vmelde

30
20
10
0
0 0,0002 0,0004 0,0006 0,0008 0,001 0,0012 0,0014 0,0016 0,0018 0,002
√𝜇

d. Grafik vmelde terhadap √


Percobaan 1
Grafik v melde terhadap √𝐹
60
50
vmelde 40
30
20
10
0
0 1 2 3 4 5 6
√𝐹

Percobaan 2

Grafik v melde terhadap √𝐹


60
50
40
vmelde

30
20
10
0
0 0,5 1 1,5 2 2,5
√𝐹
K. Hasil Pengamatan Sementara