Anda di halaman 1dari 12

Makalah Bangunan Pertanian

GREEN HOUSE

Oleh:
ULFA TRIOVANTA
1405106010033

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2017
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penggunaan green house dalam budidaya tanaman merupakan salah satu cara
untuk memberikan lingkungan yang lebih mendekati kondisi optimum bagi
pertumbuhan tanaman. Greenhouse dikembangkan pertama kali dan umum digunakan
dikawasan yang beriklim subtropika. Penggunaan greenhouse terutama ditujukan
untuk melindungi tanaman dari suhu udara yang terlalu rendah pada musim dingin.
Pada mulanya greenhouse yang dibangun dikawasan subtropika
menggunakan kaca sebagai bahan penutup sehingga identik dengan glasshouse atau
rumah kaca. Di Indonesia pembangunan greenhouse juga sering menggunakan kaca
sebagai penutup. Saat ini penggunaan kaca sebagai penutup sudah banyak
ditinggalkan, selain biayanya mahal fungsinya juga sudah tidak relefan lagi. Herry
suhardyanto, guru besar fakultas teknologi pertanian IPB ysng jugs Rektor IPB
merancang dan memperkenalkan greenhouse untuk kawasan iklim tropik dan
menyebutnya dengan istilah “rumah tanaman” sebagai terjemahan dari greenhouse.
Green house pada prinsipnya adalah sebuah bangunan yang terdiri atau
terbuat dari bahan kaca atau plastik yang sangat tebal dan menutup diseluruh pemukaan
bangunan, baik atap maupun dindingnya. Didalamnya dilengkapi juga dengan
peralatan pengatur temperature dan kelembaban udara serta distribusi air maupun
pupuk. Bangunan ini tergolong bangunan yang sangat langka dan mahal, karena tidak
semua tempat yang kita jumpai dapat ditemukan bangunan semacam ini. Green house
biasanya hanya dimiliki oleh Perguruan Tinggi atau lembaga pendidikan, Balai
Penelitian dan perusahaan yang bergerak dibidang bisnis perbenihan, bunga dan fresh
market hortikultura. Namun di negara-negara pertanian yang sudah maju seperti USA,
Australia, Jepang dan negara-negara Eropa sebagian besar tanaman hortikulturanya
ditanam di rumah kaca. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan greenhouse di
mancanegara sudah umum dilakukan. Bahkan mungkin sudah berpuluh tahun sebelum
negara kita mengadopsi teknologi tersebut.
Green house yang digunakan di Indonesia sebagian besar digunakan untuk
penelitian percobaan budidaya, percobaan pemupukan, percobaan ketahanan tanaman
terhadap hama maupun penyakit, percobaan kultur jaringan, percobaan persilangan
atau pemuliaan, percobaan hidroponik dan percobaan penanaman tanaman diluar
musim oleh para mahasiswa , para peneliti, para pengusaha dan praktisi disemua bidang
pertanian.
Sebenarnya ide awal untuk pembuatan bangunan green house di Indonesia
dilatarbelakangi oleh kegiatan penelitian yang dilakukan lembaga penelitian maupun
dunia pendidikan. Kegiatan penelitian yang dimaksud disini adalah kegiatan mencari
jawaban atau mencari solusi / jalan keluar atau pemecahan terhadap suatu kasus.
Sebagai contoh, bila kita ingin mencari uji ketahanan tanaman terhadap serangan hama
dan penyakit tertentu. Adanya green house yang mampu menciptakan iklim yang bisa
membuat tanaman mampu berproduksi tanpa kenal musim ini ternyata juga mampu
menghindarkan dari serangan hama dan penyakit yang tidak diujikan. Selain itu dengan
adanya green house penyebaran hama dan penyakit yang diujicoba dapat dicegah . Hal
ini berbeda dengan percobaan yang dilakukan di luar green house dimana dalam waktu
yang sangat singkat hama dan penyakit dapat cepat menyebar luas karena terbawa
angin maupun serangga.

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yakni sebagai tugas akhir mata
kuliah Bangunan Pertanian.
BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Defenisi Green House


Green house adalah bangunan dengan kerangka yang dilapisi dinding insect net
dan atap bening yang tembus cahaya matahari. Atap trnsparan bertujuan agar cahaya
matahari dapat menyinari tanaman secara maksimal dan melindungi tanaman dari
perubahan iklim di lingkungan sekitar (Arifin, 2016).
Green house merupakan bangunan yang terbuat dari atap kaca atau plastic
micron yang dapat menyerap sinar matahari. Bangunan ini juga bermanfaat untuk
mengatur ingkat kelembaban udara. Bangunan dapat dibuat permanen atau semi
permanen (Budiman,
Secara umum green house dapat didefinisikan sebagai bangunan kontruksi
dengan atap tembus cahaya yang berfungsi memanipulasi kondisi lingkungan agar
tanaman di dalamnya dapat berkembang optimal.
Manipulasi lingkungan ini dilakukan dalam dua hal, yaitu menghindari kondisi
lingkungan yang tidak dikehendaki dan memunculkan kondisi lingkungan yang
dikehendaki.
Kondisi lingkungan yang tidak dikehendaki antara lain :
a. Ekses radiasi sinar matahari seperti sinar ultra violet dan sinar infra merah.
b. Suhu udara dan kelembaban yang tidak sesuai.
c. Kekurangan dan kelebihan curah hujan.
d. Gangguan hama dan penyakit.
e. Tiupan angin yang terlalu kuat sehingga dapat merobohkan tanaman.
f. Tiupan angin dan serangga yang menyebabkan kontaminasi penyerbukan.
g. Ekses polutan akibat polusi udara.

Sementara kondisi lingkungan yang dikehendaki antara lain :


a. Kondisi cuaca yang mendukung rentang waktu tanam lebih panjang.
b. Mikroklimat seperti suhu, kelembaban dan intensitas cahaya sesuai
dengan kebutuhan pertumbuhan tanaman.
c. Suplai air dan pupuk dapat dilakukan secara berkala dan terukur.
d. Sanitasi lingkungan sehingga tidak kondusif bagi hama dan penyakit.
e. Kondisi nyaman bagi terlaksananya aktivitas produksi dan pengawasan mutu.
f. Bersih dari ekses lingkungan seperti polutan dan minimnya residu pestisida
g. Hilangnya gangguan fisik baik oleh angin maupun hewan.

2.2 Jenis-Jenis Green House


Di Indonesia green house yang biasa digunakan dapat dibagi menjadi tiga
jenis, yaitu green house bambu, green house kayu dan green house besi.

1. Green house bambu.


Green house jenis ini umumnya dipakai sebagai green house produksi. Green
house ini secara umum adalah jenis green house yang paling murah biaya
pembuatannya dan banyak dipakai oleh kalangan petani kita sebagai sarana produksi.

Namun kelemahan dari green house ini adalah umurnya yang relatif pendek
dan bahan materialnya dapat menjadi media timbulnya hama. Karena kekuatan struktur
dan juga masalah biaya, maka green house bambu atapnya terbatas menggunakan
plastik UV.

2. Green house kayu


Lebih baik dari green house bambu adalah gren house dengan material kayu,
terutama jenis kayu yang tahan air, seperti ulin dan bengkirai. Dibanding green house
bambu umur pakai green house kayu biasanya lebih panjang dan kondisi sanitasi
lingkungan lebih baik.

Beberapa jenis green house kayu, bagian dinding bawah dibuat dari pasangan
bata yang diplester. Jenis green house ini bahan atapnya sudah lebih bervariasi bisa
plastik, polykarbonat, PVC ataupun kaca.

3. Green house besi.


Dari segi umur pakai dan kwalitas, maka yang terbaik adalah green house
yang menggunakan struktur besi, terlebih besi yang telah di treatment “hot dipped
galvanis”. Struktur yang baik akan mengurangi frekuensi perawatan; sehingga tidak
terjadi stagnan kegiatan., walaupun pada keadaan tertentu perlu dilakukan sanitasi,
tetapi sanitasi yang terjadwal.

Dengan struktur yang kuat, maka berbagai jenis tambahan peralatan / optional
dapat dipasangkan pada jenis green house besi, sehingga penggunaan green house
dapat dilakukan secara optimal.
2.3 Tipe Green House
Pada dasarnya green house dapat dibagi ke dalam 3 type, yaitu :
1. Type Tunnel
Tipe ini dari depan tampak seperti lorong setengah lingkaran. Kelebihannya
adalah memiliki struktur sangat kuat. Atapnya yang berbentuk melengkung kebawah
merupakan bentuk yang sangat ideal dalam menghadapi terpaan angin. Sementara
struktur busur dengan kedua kaki terpendam ketanah memegang bangunan lebih kuat.

Kelemahan dari tipe ini adalah minimnya system ventilasi. Jika digunakan
pada daerah tropis dibutuhkan alat tambahan berupa exhaust fan atau cooling system
untuk mengalirkan dan menurunkan suhu udara di dalam green house.

2. Tipe Piggy back


Green house tipe ini banyak digunakan di daerah tropis, dapat dikatakan tipe
ini adalah tropical green house. Keunggulan tipe ini pada ventilasi udara yang sangat
baik. Banyak memiliki struktur bukaan, sehingga memberikan lingkungan mikroklimat
yang kondusif bagi pertrumbuhan tanaman.
Selain memiliki keunggulan, banyaknya struktur bukaan juga merupakan
kelemahan dari tipe ini. Pada daerah dengan tiupan angin yang kuat green house tipe
piggy back kurang disarankan. Karena dengan banyaknya struktur terbuka
menyebabkan struktur rentan terhadap terpaan angin. Selain itu dari segi biaya dengan
penggunaan material atap sama, greeen house type ini relatif lebih mahal dibanding
type lain karena penggunaan material struktur lebih banyak.

3. Tipe Campuran ( Single span dan Multispan )


Desain tipe ini boleh dikatakan adalah campuran antara tipe tunnel dengan
tipe piggy back. Dari desainnya terlihat tampak, bahwa tipe ini seakan – akan paduan
(hybrid) antara tipe tunnel dengan tipe piggy back. Karena itu, maka tipe green house
ini memeliki kelebihan dari tipe tunnel dan tipe piggy back, yaitu strukturnya kuat
tetapi tetap memiliki ventilasi yang maksimal.

Kelebihan lain dari tipe ini adalah beberapa unit green house (Single Span)
dapat disatukan menjadi satu blok green house besar (Multispan) dimana hal ini sulit
dilakukan pada green house tipe tunnel.
Dibandingkan tipe piggy back, selain struktur lebih kuat biaya pembuatan tipe
campuran ini lebih hemat. Sehingga pada bidang kegiatan yang membutuhkan green
house luas, maka type multispan adalah type yang paling sesuai.

2.4 Strategi Membangun Green House


Beberapa unsur lokasi yang perlu diperhatikan dalam pembangunan green
house adalah sebagai berikut:
1. Luas Areal
Luas lahan hendaknya cukup besar untuk mengantisipasi perkembangan usaha
dimasa yang akan datang. Untuk usaha komersial faktor ini sangat penting. Disamping
itu perlu diperhitungkan juga lahan untuk bangunan penunjang usaha seperti jalan,
gudang dan lain-lain.

2. Topografi
Lokasi green house harus sedatar mungkin untuk menekan biaya, karena jika
dibangun pada lokasi yang miring maka diperlukan biaya tambahan untuk pembuatan
rumah plastik bertingkat. Lokasi yang datar juga memudahkan dalam otomasisasi pada
rangkai rumah plastik yang besar sekalipun. Lahan tersebut juga harus mempunyai sifat
drainase yang baik.

3. Iklim
Iklim lokasi yang dipilih diperhitungkan berdasarkan kebutuhan tanaman yang
akan diusahakan. Area yang seringkali berkabut atau bercuaca buruk umumnya kurang
baik bagi kebanyakann tanaman. Tanamam yang menyukai intensitas cahaya yang
tinggi akan lebih baik diusahakan di lokasi yang ketinggiannya cukup tinggi dengan
intensitas cahaya yang baik. Adanya bukit atau barisan pepohonan yang berlaku
sebagai penghalang, penting untuk area-area yang anginnya cukup kencang.

4. Ketersediaan air
Air adalah salah satu faktor utama yang sangat dibutuhkan tanamam. Karena
itu dalam menentukan lokasi rumah plastik, ketersediaan air di lokasi yang dipilih baik
kualitas maupun kuantitasnya harus cukup tersedia. Kontinuitas suplai air harus bisa
mencukupi untuk jangka waktu yang panjang. Begitupun kualitas air yang tersedia
harus diperiksa untuk menentukan kandungaan mineral dan mendekteksi unsur-unsur
yang kurang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Mengetahui
kandungan mineral cukup penting terutama untuk daerah-daerah dekat pantai dan
muara sungai, biasanya mengandung ion sodium dan klorida yang kurang baik bagi
tanaman.

5. Arah/orientasi
Arah/orientasi akan mempengaruhi penerimaan/transmisi cahaya. Transmisi
cahaya dapat terhalangi oleh kerangka rumah plastik dan juga ditentukan oleh musim
akibat perubahan sudut penyinaran matahari, terutama untuk daerah-daerah yang
berada pada lintang tinggi.
BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Green house merupakan bangunan menyerupai sebuah rumah handal untuk

menyediakan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman

2. Green house harus ditempatkan di lahan terbuka yang cukup cahaya matahari.

3. Lokasi green house harus memiliki drainase yang bagus dan harus tersedia air

irigasi

4. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam merancang green house adalah lokasi,

topografi, tataletak, orientasi, dan fasilitas pendukung.

5. Keunggulan Tanaman yang ditanam dalam green house, yaitu berpenampilan lebih

baik, lebih bersih, lebih seragam ukurannya, lebih sehat dan akrab lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, R. 2016. Bisnis Hidroponik Ala Roni Kebun Sayur. Agromedia Pustaka.
Jakarta.

Budiman, S. 2010. Berkebun Stroberi Secara Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.

http://inspirasitabloid.wordpress.com/2011/07/11/greenhouse-solusi-untuk-
menghadapi-perubahan-iklim-dalam-budidaya-pertanian/

http://bangdolfi.blogspot.com/2012/03/deskripsi-green-house-dan-shading-
house.html

http://shafwandi08.blogspot.com/2011/06/greenhouse.html