Anda di halaman 1dari 116

SEBARAN SPASIAL KARANG KERAS (SCLERACTINIA)

DI PERAIRAN PULAU PANJANG, JEPARA

SKRIPSI

Oleh :
OKTIYAS MUZAKY LUTHFI

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2003
SEBARAN SPASIAL KARANG KERAS (SCLERACTINIA)
DI PERAIRAN PULAU PANJANG, JEPARA

SKRIPSI

Oleh :

OKTIYAS MUZAKY LUTHFI

K2D 098 235

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh


Derajat Sarjana S1 Pada Progam Studi Ilmu Kelautan
Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan
Universitas Diponegoro

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2003

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Sebaran Spasial Karang Keras (Scleractinia)

di Perairan Pulau Panjang, Jepara

Nama : Oktiyas Muzaky Luthfi

NIM : K2D098235

Jurusan/Program Studi : Ilmu Kelautan/ Ilmu Kelautan

Mengesahkan :

Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Munasik, M.Sc Ir. Chrisna Adhi Suryono, M.Phill


NIP. 132 046 689 NIP. 131 958 814

Dekan Fakultas Perikanan Ketua Jurusan


dan Ilmu Kelautan Ilmu Kelautan
Universitas Diponegoro

Prof. Dr. Ir. Johannes Hutabarat, M. Sc Ir. Agus Indardjo, M.Phill


NIP. 130 529 700 NIP. 131 675 940

iii
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Sebaran Spasial Karang Keras (Scleractinia)

di Perairan Pulau Panjang, Jepara

Nama : Oktiyas Muzaky Luthfi

NIM : K2D098235

Jurusan/Program Studi : Ilmu Kelautan/ Ilmu Kelautan

Skripsi ini telah disidangkan dihadapan Tim Penguji


pada tanggal 24 Desember 2003

Mengesahkan :

Ketua Penguji Anggota Penguji

Ir. Munasik, M.Sc Ir. Chrisna Adhi Suryono, M.Phill


NIP. 132 046 689 NIP. 131 958 814

Anggota Penguji Anggota Penguji Anggota Penguji

Ir. Dwi Haryo Ismunarti, M.Si Ir. R. Ario, M.Sc Ir. Agus Indardjo, M.Phill
NIP. 131 993 342 NIP. 131 675 260 NIP. 131 675 940

Panitia Ujian Akhir


Ketua

Dr. Agus Sabdono, M.Sc


NIP. 131 471 174

iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Dengan ini saya, Oktiyas Muzaky Luthfi menyatakan bahwa karya ilmiah/
skripsi ini adalah asli karya saya sendiri dan karya ilmiah ini belum pernah
diajukan sebagai pemenuhan persyaratan untuk memperoleh gelar kesarjanaan
strata satu (S1) dari Universitas Diponegora maupun perguruan tinggi lain.
Semua informasi yang dimuat dalam karya ilmiah ini yang berasal dari
penulis lain baik yang dipublikasikan atau tidak telah diberikan penghargaan
dengan mengutip nama sumber penulis dengan benar dan semua isi dari karya
ilmiah / skripsi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya sebagai penulis.

Semarang, Desember 2003


Penulis,

Oktiyas Muzaky Luthfi


K2D 098 235

v
Persembahan2

vi
ABSTRAK

Oktiyas Muzaky Luthfi. K2D098235. Sebaran Spasial Karang Keras


(Scleractinia) di Perairan Pulau Panjang, Jepara. (Munasik dan Chrisna Adhi
Suryono)

Pulau Panjang yang terletak di sebelah Barat Kabupaten Jepara merupakan


salah satu pulau kecil yang memiliki karang yang cukup bagus. Salah satu
pembentuk terumbu karang yang utama di Pulau ini adalah karang keras
(scleractinia). Pulau Panjang merupakan zona pemanfaatan yang sangat bagus,
dikarenakan pulau ini merupakan salah satu tujuan wisata bahari di Jepara, serta
sebagai laboratorium alam yang dimanfaatkan banyak pihak sebagai tempat
penelitian, sehingga terumbu karang di perairan Pulau Panjang berada dalam
ancaman tekanan dan kerusakan, meskipun alam juga dapat berperan
menimbulkan ancaman yang sama pula.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran spasial karang
keras berdasarkan karakteristik lingkungan dan struktur komunitas karang keras di
perairan Pulau Panjang, Jepara.
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Januari - Juni 2003 di perairan
Pulau Panjang, Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode penelitian survey/deskriptif. Materi penelitian adalah karang keras yang
diidentifikasi sampai tingkat jenis. Pengumpulan data menggunakan transek garis
10, dengan jarak antar transek adalah 5 meter, serta diletakkan sejajar garis pantai,
mengikuti kontur dasar perairan, dan dimulai dari pertama kali karang keras
ditemukan sampai kedalaman tidak ditemukan karang. Posisi geografis penelitian
ditentukan dengan GPS.
Total luas Pulau Panjang adalah 19,73 ha, dengan luas daerah terumbu
karang sebesar 31,2 ha dimana 23,8 ha berupa karang hidup, dan 7,4 ha berupa
karang mati. Karang keras di Pulau Panjang tersebar pada zona, back-reef, reef
flat, reef crest, reef slope dan fore-reef slope. Analisa Faktorial Koresponden
memperlihatkan 4 kelompok spasial, Kelompok I (St. 1 dan 7) dicirikan
kecerahan dan berarus sedang, berasosiasi dengan Acropora aspera, Porites
cylindrica, Favia pallida, Goniopora stokesi, Pectinia paeonia dan Platygira
verweyi. Kelompok II (St. 3) dicirikan dengan adanya sedimentasi, berasosiasi
dengan Porites lutea, Galaxea fascicularis dan Cyphastrea chalcidicum.
Kelompok III (St. 2 dan 4) dicirikan arus dan kedalaman, berasosiasi dengan
Hydnophora rigida, Montipora venosa, Podabacia crustacea, Porites lobata dan
Acropora minuta. Kelompok IV (St. 5 dan 6 ) dicirikan kecerahan rendah, berarus
dan berombak besar dengan karang penciri Symphyllia recta, Acropora humilis
Favites abdita dan Platygira sinensis. Nilai H’ adalah 3,28; nilai E adalah 0,71
dan nilai C adalah 0.01.
Secara umum, variabel fisik lingkungan yang menentukan sebaran spasial
karang adalah, kedalaman, sedimentasi, kecerahan dan arus.

Kata Kunci : sebaran spasial, karang keras, zonasi

vii
ABSTRACT

Oktiyas Muzaky Luthfi. K2D098235. Spatial Distribution of Stony Coral


(Scleractinia) at Panjang Island, Jepara. (Munasik and Chrisna Adhi Suryono)

Panjang Island located in West of Jepara has good coral reef. Primarily
hermatypic corals of order Scleractinia build coral reefs in Panjang Island. During
the time, this island function as recreation place and as natural laboratory, that
exploited by many people. Those activities made coral reefs in the Panjang Island
under threat and damage, although natural factor can cause damage too.
Objective of this research are to find out spatial distribution of stony corals
based on environmental characteristic and community structure of hermatypic
corals at Panjang Island, Jepara.
This research was done in January - June 2003 at Panjang Island, Jepara.
This research use survey / descriptive method and the research items are stony
coral which identified until species classification. The line transects were run
under water with SCUBA apparatus, at seven stations. A total of 186 transects
were surveyed at Panjang island. Each transect was 10m long, i.e., 1860m of reef
were measured and recorded. The transects were run along depth contours parallel
to the shore, started from first time found stony coral until deepness not be found
corals, at fixed interval of 5m. Geographical position determined with GPS.
Result shows that total wide of Panjang Island is 19, 73 ha with 31, 2 ha is
coral reef area consist of 23, 8 ha life corals, and 7, 4 ha is dead corals. Stony
coral habitat in Panjang Island spread over zones, back-reef, reef flat, reef crest,
reef slope and fore-reef slope
Analysis with Correspondence Analysis (CA) shows 4 groups of spatial.
Group I (St. 1 and 7) are distinguished by visibility and medium speed current,
have association with Acropora aspera, Porites cylindrica, Favia pallida,
Goniopora stokesi, Pectinia paeonia and Platygira verweyi. Group II (St. 3) is
distinguished by sedimentation, have association with Porites lutea, Galaxea
fascicularis and Cyphastrea chalcidicum. Group III (St. 2 and 4) are distinguished
by depth and current, have association with Hydnophora rigida, Montipora
venosa, Podabacia crustacea, Porites lobata and Acropora minuta. Group IV (St.
5 and 6) are distinguished by low visibility, rapidly current and big wave, have
association with Symphyllia recta, Acropora humilis, Favites abdita and Platygira
sinensis. The average of value coral diversity index (H') is 3, 28; coral evenness
index (E) is 0, 71; and coral dominant index (C) is 0.01.
In generally environmental physical variable those influence spatial
distributions of stony coral are: depth, sedimentation, current and visibility.

Keywords: spatial distribution, stony coral, zonation

viii
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan skripsi yang berjudul “Sebaran Spasial Karang Keras (Scleractinia) di
Perairan Pulau Panjang, Jepara” ini dengan baik. Pengelompokan spasial spesies-
spesies karang keras yang ada di Pulau Panjang didasarkan atas kesamaan variabel
fisik-biologi, seperti kecepatan arus, laju sedimentasi, kecerahan, keragaman dan
persen kover dari karang. Hasil pengelompokan ini didukung dengan dibuatnya
peta sebaran karang hidup dan karang mati di perairan Pulau Panjang.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih


yang sebesar-besarnya kepada :

1. Ir. Munasik, M.Sc dan Ir. Chrisna A. S, M.Phill, selaku pembimbing I dan
II, yang selama ini telah memberi arahan kepada penulis sehingga laporan
skripsi ini dapat terselesaikan.
2. Ir. Dwi Haryo Ismunarti, M.Si, Ir. R. Ario, M.Sc dan Ir. Agus Indardjo,
M.Phill selaku penguji.
3. Kedua orang tua beserta adik yang selalu memberikan motivasi dan
semangat
4. Rery Siskawan, S. Sos, yang mengharuskan lulus
5. MDC atas ilmu dan pengalaman yang telah diberikan
6. Rahmat Tri A. N, Wahyu Sigit dan Diki Hermansyah, satu tim proyek
‘eksploitasi karang’
Penulis menyadari bahwa laporan ini sangat sederhana dan masih jauh
dari sempurna, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis menerima semua
kritik dan saran demi perbaikan tulisan ini. Sebagai akhir kata, mudah-mudahan
skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

Semarang, Desember 2003

Penulis

ix
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................. ix
DAFTAR ISI ................................................................................................. x
DAFTAR TABEL ........................................................................................ xii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xv

BAB I. PENDAHULUAN ......................................................................... 1


1.1. Latar belakang ...................................................................... 1
1.2. Pendekatan masalah.............................................................. 3
1.3. Tujuan penelitian .................................................................. 4
1.4. Manfaat penelitian ................................................................ 4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 5


2.1. Terumbu Karang .................................................................. 5
2.1.1. Ekosistem Terumbu Karang ..................................... 5
2.1.2. Anatomi Karang ....................................................... 6
2.1.3. Biologi Karang ......................................................... 7
2.1.4. Ciri-ciri Genus Karang.............................................. 8
2.1.5. Faktor-Faktor Pembatas Pertumbuhan Karang ........ 12
2.2. Zonasi Karang ....................................................................... 15
2.3. Pemetaan Jenis Karang Keras .............................................. 16

BAB III. MATERI DAN METODE............................................................ 18


3.1. Waktu dan Tempat.Penelitian ............................................... 18
3.2. Materi Penelitian ................................................................. 18
3.3. Metode Penelitian ................................................................. 18
3.3.1. Metode Pengambilan Data Karang .......................... 21
3.3.2. Metode Pengambilan Data Parameter Perairan ........ 23
3.3.3. Metode Pemetaan Karang di Perairan Pulau
Panjang, Jepara ......................................................... 24
3.3.4. Metode Analisa Data ................................................ 24
3.3.4.1. Persentase Penutupan ................................. 25
3.3.4.2. Indek Keanekaragaman, Keseragaman, dan
Dominansi .................................................. 25
3.3.4.2.1. Indek keanekaragaman ............. 25
3.3.4.2.2. Indek keseragaman ................... 26
3.3.4.2.3. Indek dominansi ....................... 27

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................... 29


4.1. Hasil ....................................................................................... 29
4.1.1. Kondisi Umum Lokasi Penelitian .............................. 29

x
4.1.2. Sebaran Koloni Karang Keras Tiap Stasiun
Penelitian dan Kondisi Oseanografi Perairan Pulau
Panjang ....................................................................... 31
4.1.3. Komposisi dan Tutupan Karang Keras di Pulau
Panjang........................................................................ 40
4.1.4. Indek Keanekaragaman, Keseragaman, dan
Dominansi Karang Keras di Pulau Panjang ................ 41
4.1.5. Zonasi dan Distribusi Karang Keras di Pulau
Panjang, Jepara............................................................ 42
4.1.6. Variasi Spasial Karakteristik Fisik-Biologi ................ 44
4.1.7. Sebaran Spasial Spesies Karang.................................. 45
4.1.8. Similaritas Antar Stasiun Pengamatan ........................ 47
4.2. Pembahasan ............................................................................ 47
4.2.1. Kondisi Umum Faktor Oseanografi Perairan Pulau
Panjang........................................................................ 47
4.2.2. Komposisi dan Tutupan Karang Keras di Pulau
Panjang ....................................................................... 49
4.2.3. Indek Keanekaragaman, Keseragaman dan
Dominansi Karang Keras di Pulau Panjang ............... 52
4.2.4. Zonasi Dan Distribusi Karang Keras di Pulau
Panjang, Jepara............................................................ 53
4.2.5. Sebaran Spasial Spesies Karang Keras Berdasarkan
Variabel Fisik-Biologi................................................. 54

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 59


5.1. Kesimpulan ............................................................................ 59
5.2. Saran ....................................................................................... 60

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 64

LAMPIRAN................................................................................................... 65

RIWAYAT HIDUP ....................................................................................... 80

xi
DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman


1. Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Penelitian............................... 19

2. Kriteria Penilaian Kondisi Terumbu Karang Berdasarkan Prosentase


Penutupan Karang ................................................................................. 25

3. Nilai Rerata Kondisi Oseanografi Perairan Pulau Panjang, Jepara ...... 31

4. Sebaran Koloni Karang Keras pada Stasiun Pengamatan di Perairan


Pulau Panjang........................................................................................ 40

5. Habitat Karang Keras pada Setiap Zona, Back-Reef, Reef Flat, Reef
Crest, Reef Slope dan Fore-Reef Slope, di Pulau Panjang, Jepara....... 42

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman


1. Klasifikasi Umum dari Cnidaria ......................................................... 13

2. Kenampakan Melintang Secara Umum Pada Karang Tepi yang


Memperlihatkan Susunan Geomorfologi/Zona-Zona Ekologinya...... 15

3. Peta Lokasi Penelitian ......................................................................... 20

4. Bagan Alur Penelitian ......................................................................... 28

5. Peta Sebaran Karang Keras di Perairan Pulau Panjang, Jepara .......... 32

6. Profil Vertikal Topografi Dasar Perairan Stasiun Pengamatan 1,


Beserta Karang Keras yang Menyebar pada Setiap Transek
Pengamatan ......................................................................................... 33

7. Profil Vertikal Topografi Dasar Perairan Stasiun Pengamatan 2,


Beserta Karang Keras yang Menyebar pada Setiap Transek
Pengamatan ......................................................................................... 34

8. Profil Vertikal Topografi Dasar Perairan Stasiun Pengamatan 3,


Beserta Karang Keras yang Menyebar pada Setiap Transek
Pengamatan ......................................................................................... 35

9. Profil Vertikal Topografi Dasar Perairan Stasiun Pengamatan 4,


Beserta Karang Keras yang Menyebar pada Setiap Transek
Pengamatan ......................................................................................... 36

10. Profil Vertikal Topografi Dasar Perairan Stasiun Pengamatan 5,


Beserta Karang Keras yang Menyebar pada Setiap Transek
Pengamatan ......................................................................................... 37

11. Profil Vertikal Topografi Dasar Perairan Stasiun Pengamatan 6,


Beserta Karang Keras yang Menyebar pada Setiap Transek
Pengamatan ......................................................................................... 38

12. Profil Vertikal Topografi Dasar Perairan Stasiun Pengamatan 7,


Beserta Karang Keras yang Menyebar pada Setiap Transek
Pengamatan ......................................................................................... 39

13. Tutupan Karang Keras pada Setiap Stasiun Pengamatan di Perairan


Pulau Panjang...................................................................................... 41

xiii
14. Nilai Indeks Keanekaragaman (H’), Indeks Keseragaman (E),
Indeks Dominansi (C) pada Setiap Stasiun Pengamatan di Perairan
Pulau Panjang, Jepara.......................................................................... 42

15. Grafik Analisa Komponen Utama Karakteristik Fisik-Biologi


Perairan di 7 Stasiun Pengamatan ....................................................... 45

16. A, B, C Grafik Hasil Analisis Faktorial Koresponden Antara Spesies


Karang Dengan Stasiun....................................................................... 46

17. Dendogram Pengelompokan Jumlah Spesies Koloni Karang Keras


di Pulau Panjang, Jepara ..................................................................... 47

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Judul Halaman


1. Jumlah Koloni Bebas Karang (Ordo Scleratinia) yang Ditemukan
pada Perairan Pulau Panjang, Jepara................................................. 64

2. Nilai Rerata Variabel Fisik-Biologi Perairan pada Setiap Stasiun


Penelitian yang Digunakan dalam Analisi Komponen Utama.......... 65

3. Hasil Analisis Komponen Utama Karakteristik Fisik-Biologi


Perairan ............................................................................................. 66

4. Hasil Analisis Faktorial Koresponden Antara Spesies Karang


dengan Stasiun .................................................................................. 67

5. Hasil Penghitungan Nilai Indeks pada Setiap Stasiun Pengamatan.. 69

6. Variasi Duduk Tengah dan Tunggang Pasang Surut Harian Bulan


Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, dan Juli 2003 ................. 76

7. Keberadaan Jenis Karang Keras yang Ditemukan pada Stasiun


Pengamatan Berdasarkan Famili....................................................... 78

xv
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sebaran luasan terumbu karang di Indonesia diperkirakan berkisar 7500

km2 atau 750.000 ha, penghitungan luasan ini dengan cara mengasumsikan bahwa

45% dari garis pantai di seluruh Indonesia adalah dibatasi oleh terumbu karang

(hanya fringing reef saja) dan diambil rata-rata lebar dari fringing reef adalah 200

m dari garis pantai. Namun sebenarnya banyak pulau-pulau di Indonesia yang

mempunyai fringing reef berada beberapa kilometer dari tepi pantai, sebagai

contoh Pulau Keramaian yang berada di sebelah timurlaut Laut Jawa mempunyai

garis pantai sepanjang 15 km, akan tetapi fringing reef yang ada di pulau tersebut

kebanyakan berada pada radius 4 km dari garis pantai pulau. Tentunya masih

banyak lagi tipelogi pulau sejenis di Indonesia. Berdasarkan kendala atau

kelemahan dari metode pengukuran yang diambil diatas maka Tomascik et al.

(1997) membuat suatu metode penghitungan tertentu, sehingga mendapatkan

angka pendekatan total luasan terumbu karang di Indonesia adalah 85.700 km2,

atau kira-kira luasan ini setara dengan 14% dari luasan terumbu karang dunia.

Terumbu karang merupakan sumberdaya alam hayati yang sangat

penting di Indonesia, baik dipandang dari aspek ekonomis maupun ekologis

(Suharsono, 1996). Pulau Panjang yang terletak di sebelah Barat Kabupaten

Jepara merupakan salah satu pulau kecil yang memiliki karang yang cukup bagus.

Karang yang berada di pulau ini bertipe terumbu karang tepi atau fringing reef.

1
2

Keberadaan terumbu karang di pulau ini sangat menguntungkan, karena selain

dapat mengurangi laju abrasi maka keberadaan terumbu karang di pulau ini juga

berfungsi sebagai tempat tinggal berbagai jenis biota laut, seperti ikan dan biota

asosiasi lainnya. Karang keras (scleractinia) adalah salah satu pembentuk terumbu

karang yang utama. Scleractinia (Sclera = keras, actinia = sinar) pada umumnya

mampu mendeposit kapur (CaCO3) yang berfungsi sebagai kerangka binatang

karang. Polip scleractinia mempunyai septa yang mengikuti pola mesentari karang

yang mempunyai siklus kelipatan 6 yaitu 6, 12, 24 dst.

Pulau Panjang termasuk pulau kecil yang mempunyai ciri perairan

terbuka, sehingga adanya arus dan gelombang akan berpengaruh langsung

terhadap masa daratan yang menyusun pulau tersebut. Secara ekologi adanya arus

dan gelombang akan mempengaruhi sebaran sedimentasi di perairan tersebut.

Adanya pola arus, pola pasang surut, dan sedimentasi diduga sebagai faktor

penyebab terjadinya zonasi karang di perairan Pulau Panjang, sehingga karang

akan beradaptasi terhadap lingkungannya agar tetap dapat bertahan hidup.

Sebaran karang secara umum ada dua yakni secara vertikal dan horisontal, kedua

pola sebaran ini dipengaruhi oleh faktor kedalaman.

Sebaran spasial karang keras ini adalah suatu upaya mengelompokkan

spesies-spesies karang keras yang ditemui di perairan Pulau Panjang berdasarkan

kesamaan-kesamaan variabel fisik-biologi, seperti jenis substrat, arus, topografi

dasar perairan, jumlah spesies karang dan persen penutupan karang. Selanjutnya

seberapa besar pengaruh variabel fisik terhadap variabel biologi dan terhadap

sebaran alamiah karang keras di Pulau Panjang dapat dianalisa dan dijadikan
3

bahan dasar program rehabilitasi atau konservasi terumbu karang di perairan

tersebut. Langkah awal program rehabilitasi karang adalah pemetaan jenis karang

keras dan pencatatan luasan terumbu karang yang ada di perairan Pulau Panjang.

Langkah ini akan memudahkan untuk melakukan kontrol kondisi terumbu karang

dimasa yang akan datang.

1.2. Pendekatan Masalah

Pulau Panjang selama ini bisa dikatakan sebagai zona pemanfaatan yang

sangat bagus, hal ini dikarenakan pulau ini merupakan salah satu pusat tujuan

wisata bahari di Jepara, serta sebagai laboratorium alam yang dimanfaatkan

banyak pihak sebagai tempat penelitian, sekaligus tempat penyelaman yang cukup

bagus. Dampak dari segala aktivitas kegiatan tersebut tentunya akan

mengakibatkan terumbu karang di perairan Pulau Panjang berada dalam ancaman

tekanan dan kerusakan, meskipun alam juga dapat berperan menimbulkan

ancaman yang sama pula.

Sebaran vertikal karang keras di Pulau Panjang sebenarnya mengikuti

pola geologi dasar perairan, akibatnya akan timbul zonasi-zonasi pertumbuhan

karang keras diperairan tersebut. Daerah perairan terumbu karang secara garis

besar pada dua keadaan, yaitu lokasi yang selalu tergenang air (submerged), dan

lokasi yang hanya sewaktu-waktu saja tergenang air (intertidal) (Atmadja, 1999).

Berdasarkan pemikiran tersebut perlu diadakan suatu penelitian yang

dapat memberikan gambaran sebaran karang keras baik secara vertikal maupun

horisontal serta interaksinya dengan variabel lingkungan yang secara fungsional


4

saling terkait. Pemetaan sebaran spesies karang keras diperlukan untuk

menginventarisasi dan mengidentifikasi keberadaan karang keras diberbagai zona,

sehingga penelitian ini difokuskan pada identifikasi jenis atau spesies karang

keras, sebaran spasial karang keras dengan karakteristik habitatnya dan stuktur

komunitas karang keras di perairan Pulau Panjang, Jepara.

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui sebaran spasial karang keras berdasarkan karakteristik

lingkungan di perairan Pulau Panjang, Jepara.

2. Mengetahui struktur komunitas karang keras di perairan Pulau Panjang,

Jepara.

1.4. Manfaat Penelitian

Keluaran penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi

keberadaan karang keras di perairan Pulau Panjang, Jepara, berdasar karakteristik

lingkungan yang ada di perairan tersebut. Penelitian ini diharapkan akan

memberikan gambaran zonasi keberadaan karang keras yang dapat menjadi

informasi dasar pembuatan data base dan pembuatan GIS, di Perairan Pulau

Panjang, Jepara. Hasil dari GIS diharapkan akan mempermudah pemantauan

keadaan terumbu karang oleh para pengambil kebijakan sehingga dapat dijadikan

acuan dasar pengambilan kebijakan serta pemanfaatan Pulau Panjang kedepan,

dengan terus mengacu pada kemampuan alami yang dimiliki oleh pulau tersebut.
5

Tekanan fisik Terumbu karang Pulau Panjang Tekanan fisik


non alami Karang keras alami

Kondisi perairan :
1. Kecerahan
2. Kedalaman
Zonasi Karang Keras di
3. Sedimen
Perairan Jepara
4. Pasang surut
5. Bentuk topografi
dasar perairan

Ukuran koloni karang Bentuk pertumbuhan karang Identifikasi karang

Pengolahan data

Analisa data

Kesimpulan
5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Terumbu Karang

2.1.1. Ekosistem terumbu karang

Layaknya hutan miniatur yang beraneka ragam, terumbu karang adalah

sebuah komunitas mikrokosmos yang berbeda-beda, masing-masing terpisah,

namun dihubungkan dengan interaksi ekologi oleh jaringan yang komplek.

Komunitas ini berbeda karena pada setiap karang dibatasi oleh garis tipis yang

masing-masing mempunyai tempat khusus sebagai satu kesatuan yang dapat

merubah gradien lingkungan dengan cepat (Veron, 1986).

Kerangka kapur karang berupa endapan padat kalsium karbonat (CaCO3)

yang dihasilkan oleh karang dari filum Cnidaria, kelas Anthozoa, ordo

Madreporia (Scleractinia) dengan sedikit tambahan dari alga mengandung kapur

dan organisme-organisme lain yang mensekresikan kalsium karbonat (Nybakken,

1992). Terbentuknya terumbu karang merupakan proses yang lambat dan

komplek. Proses terbentuknya terumbu karang dimulai dengan penempelan biota

penghasil kapur (Sub Filum Cnidaria), pembentuk utama terumbu karang adalah

scleractinia atau karang batu kapur, dimana sebagian besar dari karang tersebut

mempunyai alga bersel tunggal yang terletak didalam endodermnya. Biota

tersebut adalah zooxanthela. (Suharsono, 1996).

Zooxanthelae yang hidup di dalam jaringan polip karang hermatipik

adalah spesies alga bersel tunggal yang melakukan fotosintesis. Karang dan

5
6

zooxanthela bersimbiosis mutualisme membentuk kapur sepanjang tahun. Barness

dan Hughes (1988) menyatakan bahwa mekanisme zooxanthela yang memacu

pembentukan CaCO3 belum diketahui jelas, akan tetapi ada sebuah pendekatan

hipotesa mengenai reaksi terbentuknya kapur :

Ca2+ + 2HCO3 Ca(HCO3)2 CaCO3+ H2CO3

2.1.2. Anatomi karang

Karang merupakan binatang yang berbentuk sederhana yang berbentuk

tabung dengan mulut di bagian atas dan mulut ini juga berfungsi sebagai anus

(Suharsono, 1996). Karang dengan bentuk tubuh sederhana namum mempunyai

struktur skeleton yang sangat komplek dan ukuran dari polip karang sangatlah

bervariasi dari yang berukuran milimeter hingga lebih dari 50 cm, tergantung dari

spesiesnya. Polip dari karang soliter semisal, Heliofungia diameter polipnya

mencapai lebih dari 50 cm (Veron, 1986).

Tubuh karang terdiri dari dua lapisan, ectoderm (epidermis) adalah

jaringan yang berada di luar dinding dari polip dan endoderm (gastrodermis)

merupakan jaringan yang berada di dalam dinding polip dan melapisi coelenteron

(tubuh polip). Bagian rangka karang terdiri dari corallite yakni mangkok kecil

yang merupakan kerangka kapur dan berfungsi sebagai penyangga agar jaringan

dapat berdiri tegak. Bagian dari koralit berupa timbunan kapur di sekeliling

dinding tubuh polip disebut theca, dan bagian punggung atas dengan bentuk

terbuka disebut calice. Kerangka kapur berbentuk lempengan-lempengan yang

tersusun secara radial, tegak lurus dengan lempeng dasar dinamakan septa, dan
7

septa yang menjalar keluar dinding dari koralit dan melingkupi coenosteum

dikenali sebagai costae. Beberapa spesies mempunyai lubang yang berada dipusat

koralit disebut sebagai columella.

2.1.3. Biologi karang

Secara umum binatang karang berkembang biak dengan dua cara yakni,

secara seksual dan aseksual. Perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan

dua cara yaitu, perkawinan di luar tubuh polip (spawning) dan perkawinan di

dalam tubuh polip (brooding). Cara aseksual umumnya dengan jalan

memperbanyak polip, fragmentasi, memproduksi koloni satelit, dan pada waktu

stres dapat juga melakukan polyp bail out (Harrison dan Wallace, 1990). Selain

itu menurut Nybakken (1992) perkembangbiakan aseksual dapat juga dilakukan

dengan pembentukan tunas yang akan menjadi individu baru. Binatang karang

melakukan perkembangbiakan secara seksual dengan tujuan memperluas

penyebaran larva dan untuk perbiakan genetis atau cross breeding (Veron, 1986).

Ketergantungan karang terhadap seberapa besar cahaya untuk

berfotosintesis adalah tergantung dari diameter polip karang itu sendiri. Hal ini

dengan diasumsikan bahwa karang yang mempunyai polip besar lebih bersifat

karnivor (lebih bersifar heterotropik) dari pada karang dengan polip kecil, yang

diasumsikan lebih ototropik. Sebagai contoh karang Stylophora pistillata

berfotosintesis lebih cepat, mempunyai laju metabolisme yang tinggi, dan

mempunyai laju pertumbuhan yang sangat cepat dibandingkan dengan

Echinophora gammacea. Ini merupakan contoh strategi pemanfaatan nutrisi


8

karang, dimana S. pistillata mempunyai polip lebih kecil dibanding E. gammacea,

sehingga plankton akan sulit masuk kedalam polip karang S. pistillata dan hal ini

berdampak meningkatnya suplemen N dan P. Kebalikan dari S. pistillata karang

E. gammacea memiliki polip lebih besar sehingga dia lebih mudah menarik

plankton sebagai sumber nutrisinya (Al-Sofyani, 1991 dalam Tomascik et al.,

1997).

Persaingan pada ekosistem terumbu karang biasanya terjadi di antara

koloni-koloni karang untuk mendapatkan tempat atau cahaya. Persaingan tidak

langsung, contohnya karang bercabang tumbuh lebih cepat daripada karang yang

berbentuk tubular atau masif. Karang bercabang tersebut tumbuh keatas dan lebih

tinggi, hal ini mengakibatkan karang masif mati karena kekurangan cahaya.

Persaingan secara langsung terjadi pada spesies yang tumbuh lambat, mereka

mempunyai kemampuan untuk menjulurkan filamennya keluar dari ruang

gastrovaskuler sehingga apabila ada jaringan hidup dari koloni spesies karang lain

yang mendekatinya akan dimakan (Nybakken, 1992).

2.1.4. Ciri-ciri genus karang

Koloni karang mempunyai beberapa bentuk morfologi antar lain :

massive (menggumpal, padat, pepat), columnar (kolom), encrusting (merayap

menyesuaikan dengan substrat), branching (bercabang, menjari), foliaceous

(menyerupai daun) dan laminar (berbentuk plat, lembaran) (Veron, 1986).

Ciri-ciri beberapa genus (marga), yang umum dijumpai di Indonesia

adalah :
9

1. Acropora

Bentuk percabangan sangat bervariasi dari korimbosa, aboresen, kapitosa dan

lain-lainnya. Ciri khas dari marga ini adalah mempunyai axial koralit (pada

ujung cabang) dan radial koralit (yang mengelilingi cabang). Bentuk radial

koralit juga bervariasi dari bentuk tubular, nariform dan tenggelam.

2. Alveopora

Koloni massive atau bercabang dan kadang-kadang berbentuk pilar. Koloni

sangat porous hampir seperti spon sehingga sangat ringan. Koralit dengan

dinding yang berlubang-lubang dan septa hanya berupa tonjolan duri-duri.

Bentuk dan warna polip dapat dipakai untuk identifikasi di lapangan.

3. Favia

Koloni massive dengan ukuran yang bervariasi. Koralit cederung berbentuk

plocoid dengan pertunasan intratentrakuler. Koralit cenderung membulat

dengan ukuran yang bervariasi. Septa berkembang baik dengan gigi-gigi yang

teratur.

4. Favites

Koloni massive, membulat dengan ukuran yang relatif besar, koralit

berbentuk cerioid dengan pertunasan intratentrakuler dan cenderung berbentuk

poligonal. Tidak terlihat adanya pusat koralit. Septa berkembang baik dengan

gigi yang jelas.

5. Galaxea

Koloni submassive, memebentuk pilar atau merayap. Koralit silindris dengan

dinding tipis dan septokosta terlihat merupakan lajur yang jelas. Kolumela
10

kecil atau tidak ada. Septa pertama besar atau menonjol dan keluar serta

tajam.

6. Goniastrea

Koloni massive dan beberapa berupa lembaran atau merayap. Koralit cerioid

dengan bentuk poligonal dengan sudut yang tajam, membulat atau

memanjang cenderung meandroid. Septa selalu dengan pali yang nyata dan

membentuk mahkota mengelilingi kolumela.

7. Goniopora

Koloni dibedakan menjadi tiga grup yaitu yang hidup bebas, berbentuk gada

massive, dan mendatar atau merayap. Koralit relatif besar dan tebal. Septa dan

kolumela bersatu membentuk srtuktur yang kompak. Koloni selalu

mempunyai bentuk polip yang panjang dan warna yang berbeda-beda.

8. Lobophylia

Koloni paceloid atau flabello-meandroid dengan permukaan seperti kubah

atau mendatar. Koralit dengan kosta yang nyata berupa ulur-ulur besar. Septa

besar dengan gigi-gigi yang panjang dan tajam, dan sebagian lagi tumpul.

Kolumela melebar dan kompak.

9. Montipora

Mempunyai koloni berebntuk lembaran, merayap, bercabang, dan submassive.

Koralit kecil semuanya tenggelam dan tidak mempunyai septa. Konesteum

mempunyai bentuk spesifik yang disebut retikulum. Retikulum dapat

berbentuk bukit-bukit kecil, alur atau tonjolan-tonjolan, sehingga permukaan

koloni selalu terlihat kasar dan porous.


11

10. Pavona

Koloni mempunyai bentuk morfologi massive atau lembaran yang tebal,

merayap atau berbentuk daun yang tipis. Koralit tidak mempunyai dinding

yang jelas. Septokosta antara koralit yang berdekatan saling bersatu dengan

lainnya. Septokosta ini berkembang dengan baik menjadi kenampakan yang

dominan.

11. Pectinia

Mempunyai bentuk koloni yang bervariasi yang meliputi lembaran,

bercabang atau lembaran-lembaran yang tegak dengan dasar mendatar.

Koralit tersebar tidak merata dengan berbagai posisi. Septokosta berkembang

dengan baik dan beberapa berebntuk spiral.

12. Platygyra

Koloni massive, dengan ukuran besar. Koralit hampir semuanya meandroid

dengan alur yang memanjang dan ukuran sedang. Pali tidak berkembang.

Kolumela berada di tengah saling berhubungan dengan lainnya.

13. Pocillopora

Koloni bercabang submassive, koralit hampir tenggelam, septa bersatu dengan

kolumela. Percabangan relatif besar dengan permukaan berbintil-bintil yang

disebut verrucosae.

14. Porites

Koloni mepunyai bentuk morfologi submassive, merayap, bercabang, dan

lembaran. Koralit kecil cerioid. Septa saling bersatu dan membentuk stuktur

yang sangat khas yang dipakai untuk identifikasi jenis. Ciri khas ini antara
12

lain adanya tiga septa yang bergabung menjadi atu disebut triplet dengan satu

pali.

15. Stylophora

Koloni bercabang dengan percabangan tumpul, kolumela menonjol dengan

septa terlihat jelas, diantara koralit ditutupi duri-duri kecil. Stylophora hanya

mempunyai satu jenis yaitu : Stylophora pistillata.

16. Symphylia

Koloni berbentuk massive dengan bentuk meandroid. Septa besar, tebal, kuat

dengan gigi-gigi yang tajam. Alur dengan kolumela yang berupa lembaran

yang berdiri tegak dengan alur. Antara mulut yang satu dengan yang lain

sering dihubungkan oleh kolumela (Suharsono, 1996).

2.1.5. Faktor-faktor pembatas pertumbuhan karang

Veron (1986) mengemukakan terdapat beberapa faktor yang membatasi

pertumbuhan terumbu karang di suatu daerah, adalah :

1. Cahaya, intensitas cahaya matahari yang cukup harus tersedia agar proses

fotosintesa yang dilakukan oleh zooxanthela simbiotik dalam jaringan karang

hermatipik dapan berjalan.

2. Kedalaman, faktor ini sangat berhubungan dengan ketersediaan cahaya dan

tingkat kecerahan perairan. Karang hermatipik tumbuh pada kedalaman diatas

50 meter. Karang mempunyai toleransi kedalaman yang berbeda tergantung

dari kebutuhan akan cahaya, hal ini yang menyebabkan adanya variasi dalam

struktur komunitas terumbu karang.


13
14

3. Aksi gelombang, pada umumnya terumbu karang berkembang dengan baik

pada daerah-daerah yang dilalui oleh gelombang besar. Gelombang-

gelombang besar memberikan sumber air segar, oksigen, plankton baru untuk

makanan koloni karang dan menghalangi terjadinya pengendapan pada

koloni.

4. Sedimentasi, adalah faktor yang sering dihubungkan dengan aliran air tawar.

Karang hermatipik tidak dapat bertahan terhadap endapan berat yang

menutupi dan menyumbat struktur penerima makanan serta mengurangi

intensitas cahaya yang diterimanya.

5. Salinitas, karang hermatipik tidak dapat bertahan pada salinitas yang terlampu

menyimpang dari salinitas air laut normal yaitu 32 - 35o/oo.

6. Kisaran pasang surut, faktor ini menyebabkan adanya zonasi terumbu karang.

Semakin besar kisaran pasang surut maka zona pertumbuhan karang semakin

besar.

7. Makanan dan nutrien anorganik, makanan karang biasanya merupakan

partikel tersuspensi pada air laut termasuk plankton. Karang menerima

maupun menghasilkan nutrien anorganik. Karang memperoleh nutrien

anorganik dari sungai, buangan dari darat atau sirkulasi di permukaan.

8. Suhu, karang hermatipik tumbuh pada perairan dengan suhu diatas 18oC.

Perairan dengan suhu mencapai 33oC biasanya akan menyebabkan fenomena

coral bleaching (pemutihan karang), disebabkan hilangnya zooxanthela dari

jaringan binatang karang (Tomascik et al., 1997).

9. Substrat, karang memerlukan substrat yang keras dan kompak untuk


15

menempel. Terutama larva karang, planula, yang memerlukan substrat keras

untuk tumbuh.

2.2. Zonasi Karang

Terbentuknya zonasi terumbu karang apakah termasuk dalam kategori

karang tepi (fringing reef), terumbu penghalang (barrier reef) atau atol (atoll)

dipengaruhi oleh faktor-faktor biotik maupun abiotik, seperti batimetri, angin,

energi gelombang, arus, ombak dan kedalaman (cahaya). Karena ketergantungan

karang terhadap faktor-faktor lingkungan amatlah besar, maka tidak heran apabila

terlihat berbedaan-perbedaan struktur atau bentuk pertumbuhan dari karang di

berbagai zona karang. (Tomascik et al., 1997).

Distance from shore

Back-reef Reef flat Reef Reef Fore-reef slope


crest slope
0 Depth (m)

Reef matrix 25
Island
50
Digambar ulang
Tomascik dari
et. al, Tomascik, et al. (1997)
(1997)

Gambar 2. Kenampakan melintang secara umum pada tipe karang tepi yang
memperlihatkan susunan geomorfologi/zona-zona ekologinya.

Apabila dilihat secara umum ke arah vertikal maka zonasi dasar karang

dibagi menjadi lima zonasi dasar : 1) fore-reef slope; 2) reef slope; 3) reef crest;

4) reef flat; dan 5) back reef (Gambar 2.). Fore-reef slope, merupakan zona

paling dalam dari karang, arus adalah faktor lingkungan yang mendominasi selain
16

dari cahaya. Biota didominasi oleh gorgonian (Gorgonacea) dan akar bahar

(Antipatharia) (Tomascik et al., 1997).

Karang yang umum didapatkan biasanya karang soliter, Faviidea, dan

Fungia (Mapstone, 1990). Reef slope dan reef crest, merupakan daerah yang

banyak terdapat karang masif atau bercabang, contoh Goniastrea astrea, G.

rotiformis, dan famili Acroporidea mewakili karang jenis bercabang. Reef crest

dan reef flat banyak didominasi oleh Acropora dan Porites. Diantara kedua daerah

tersebut biasanya terdapat zona pecahan karang (rubble). Terjadinya daerah

pecahan karang ini ada dua, yakni karena terkena dampak bom dan terbentuk oleh

alam.

Atmadja (1999) menyatakan, perairan terumbu karang pada dasarnya

berada pada dua keadaan, yaitu lokasi yang selalu tergenang air (submerged) dan

lokasi-lokasi yang hanya sewaktu-waktu saja tergenang air (lokasi pasang surut

atau intertidal. Lokasi-lokasi yang selalu tergenang antara lain adalah : reef

slopes, moats, lagoons, dan saluran-saluran penghubung atau kanal tempat keluar

masuknya air pada saat pasang dan surut.

Lokasi-lokasi yang mengalami kekeringan pada saat surut dan tergenang

pada saat pasang antara lain adalah : reef flat, pantai batas rataan terumbu dan

daratan, reef edges, dan rampart.

2.3. Pemetaan Jenis Karang Keras

Ekosistem terumbu karang pada peta dikelaskan atas : kelas terumbu

karang hidup, dan atau mati, rumput laut atau lamun, rataan pasir dan karang mati
17

(Hantoro, 1999). Penggambaran atau pemetaan secara spesifik karang keras

sangatlah jarang dilakukan. Pemetaan akan meliputi penentuan titik pengamatan,

fisiografi dan terakhir identifikasi karang keras.

Identifikasi karang tidaklah semudah indentifikasi tumbuhan dan ikan

dimana terminologi untuk kedua biota tersebut dapat berlaku umum dan kunci

determinasi telah dibuatkan secara mapan. Kesulitan yang dihadapi dalam

identifikasi karang adalah terminologi yang tidak dapat berlaku secara umum

untuk semua jenis karang (Suharsono, 1996). Menurut Well (1954) dalam

Suharsono (1996) ordo Scleractinia yang ada di Indo-Pasifik dibagi 5 subordo

yang terdiri dari 16 suku 72 marga.


17
18

BAB III

MATERI DAN METODA

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Januari - Juni 2003 di perairan

Pulau Panjang, Jepara. Identifikasi jenis karang keras dilakukan di Laboratorium

Biologi Laut, Teluk Awur, Jepara.

3.2. Materi Penelitian

Materi penelitian adalah karang keras yang berada di perairan Pulau

Panjang, Jepara. Pencatatan panjang dan bentuk pertumbuhan karang keras

dilakukan selama penelitian dengan pendekatan ketelitian pengukuran sampai

pada centimeter (Nishihira, 1988), kemudian dilakukan juga identifikasi karang

keras sampai tingkat spesies pada setiap stasiun pengamatan. Alat dan bahan yang

digunakan dalam penelitian ini, baik di lapangan maupun pengamatan sampel di

laboratorium tercantum dalam Tabel 1.

3.3. Metode Penelitian

Secara umum metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode penelitian survey/deskriptif, yaitu membuat pencandraan secara

sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau

daerah tertentu (Nasir, 1992).

18
19

Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian.

No. Nama Alat Spesifikasi Kegunaan

1 Snorkel Set TUSA Liberator Snorkling untuk mengambil data


2 SCUBA Set US Diver Menyelam
3 Sabak dan alat tulis Akrilik putih Mencatat data di bawah air
4 Roll meter 100 m Transek garis
5 Jaring kecil mesh size 1 cm Tempat sampel
6 Palu dan tang - Mengambil sampel karang
7 Formalin 10% Mengawetkan sampel karang
8 Sediment trap mg/m2/hari Mengukur laju sedimentasi
9 Oven Listrik (oC) Mengeringkan sampel sedimen
10 Aluminum foil - Tempat sedimen waktu dioven
11 Timbangan analitik 0,001(mg) Menimbang sedimentasi
12 Stop watch 1 detik Menghitung waktu
13 Bola duga 1 (m/detik) Mengukur laju arus
14 Mikroskop binokuler Nikon SMZ-2T Mengamati obyek
15 Buku Coral of The World Vol. I, Referensi dan alat bantu
II, III (Veron, 2000) identifikasi karang
16 GPS Garmin e-Trex III Tracking dan penentuan posisi
17 Kompas darat/bidik Engineer Orientasi arah
18 Secchi disk 1 cm Mengukur kecerahan
19 Termometer 0,1oC Mengukur suhu air
20 Refraktometer 0,1o/oo Mengukur salinitas
20

Gambar 3. Lokasi Penelitian


21

3.3.1. Metode pengambilan data karang

Sebelum penelitian dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan kegiatan

survey pendahuluan. Kegiatan survey adalah observasi bebas di lapangan,

meliputi snorkling atau berenang bebas mengelilingi seluruh perairan Pulau

Panjang dan kegiatan orientasi darat. Kegiatan survey pendahuluan bertujuan

untuk mengetahui tentang gambaran umum keadaan fisik perairan dan kondisi

terumbu karang yang berada di perairan Pulau Panjang. Orientasi darat juga

berguna untuk mengetahui posisi geografis stasiun penelitian dengan bentang

alam yang ada dan memberikan gambaran secara umum vegetasi serta morfologi

daratan Pulau Panjang.

Guna memperoleh data dan informasi geografis maka dilakukan :

penentuan/pengukuran posisi mutlak lintasan dengan cara mentracking Pulau

Panjang dengan GPS (Global Positioning System). GPS juga memberikan

informasi posisi geografis setiap stasiun pengamatan yang dilakukan. Tujuh titik

stasiun pengamatan ditetapkan berdasarkan hasil survey pendahuluan, yang

dianggap dapat mewakili kondisi geografis Pulau Panjang dan kebutuhan

penelitian. Penetapan 7 stasiun pengamatan secara konseptual adalah berdasarkan

luas habitat terumbu karang dan tingkat keanekaragaman jenis karang keras yang

berada di perairan Pulau Panjang.

Pengamatan di setiap stasiun dilakukan berdasarkan metode transek garis

(Loya, 1972), yang telah dimodifikasi sesuai dengan keadaan di lapangan. Yaitu

menggunakan transek garis sepanjang 10 meter dengan jarak antar transek adalah

5 meter, serta diletakkan sejajar garis pantai, mengikuti kontur dasar perairan, dan
22

dimulai dari pertama kali karang keras ditemukan sampai kedalaman tidak

ditemukan karang.

Metode transek garis digunakan untuk melihat penutupan linear karang

dalam komunitas terumbu karang yang hidup di dasar perairan. Karang

diidentifikasikan hingga jenisnya, yang memberikan gambaran morfologi dari

komunitas terumbu karang tersebut (English et al., 1994). Data diperoleh dengan

pengamatan langsung pada ekosistem terumbu karang. Aspek sebaran diutarakan

menurut data kepadatan karang di setiap stasiun pengamatan yang akan diteliti.

Sedangkan untuk mengidentifikasi karang dilakukan secara in situ dan di

laboratorium. Hasil tersebut umumnya diperoleh dari penerapan metode berupa

koleksi bebas dan pengambilan sampel melalui transek garis.

Jenis, panjang, dan bentuk pertumbuhan karang dicatat pada sabak

dengan menelusuri transek sepanjang 10 meter. Koloni karang yang terletak di

bawah tali transek diukur mengikuti pola pertumbuhan koloni karang. Pengukuran

dilakukan menggunakan pendekatan centimeter (Loya, 1972). Kegiatan di

laboratorium dilakukan berupa pengamatan visual secara makroskopis maupun

mikroskopis terhadap morfologi sampel untuk mengidentifikasi jenis karang.

3.3.2. Metode pengambilan data parameter perairan

Data kondisi perairan yang meliputi : kedalaman, kecerahan, kecepatan

arus, dan laju sedimentasi diambil langsung di lapangan (in situ), sesuai dengan

stasiun yang ada. Waktu pengambilan data pada saat air laut surut (siang hair).

Data pasang-surut diperoleh dari PT. (PERSERO) Pelabuhan Indonesia III Tg.
23

Emas, Semarang.

Data kedalaman diambil dari dasar perairan hingga permukaan air

disetiap titik stasiun pengamatan. Untuk kedalaman perairan kurang dari 1,5 m

digunakan meteran, sedangkan untuk selebihnya menggunakan depth gauge yang

menjadi satu dengan SCUBA Set. Kecerahan perairan diukur dengan secchi disk,

pada setiap kedalaman dimana karang keras sudah tidak dijumpai.

Pengukuran laju sedimentasi digunakan sediment trap, dengan

meletakkan tiga buah sediment trap di setiap stasiun di sela-sela karang keras.

Sedimen yang tertampung selanjutnya disaring dan dijemur. Sedimen yang sudah

kering diletakkan di atas aluminum foil yang sudah ditimbang terlebih dahulu,

kemudian dioven pada suhu 105oC, selama 5 jam. Rumus yang dipergunakan

untuk mengukur laju sedimentasi adalah sesuai dengan APHA, 1976 dalam

Supriharyono, 1990. Yaitu :

10.000(a  b)
Laju sedimentasi = 2
gram / m 2 / hari ........................... (1)
d 
 
2

Dimana :

a = Berat akhir aluminum foil dan sedimentasi (gr)

b = Berat awal aluminum foil (gr)

d = Diameter pipa sediment trap (cm)

3.3.3. Metode pemetaan karang di perairan Pulau Panjang, Jepara

Pengambilan data (input) posisi geografis Pulau Panjang, dilakukan

dengan mentracking sekeliling pulau dengan bantuan GPS Garmin e-Trex III.
24

Pada setiap 10 langkah ketika mengelilingi Pulau Panjang, data posisi geografis

disimpan di dalam GPS, juga dilakukan pencatatan posisi geografis lokasi stasiun

pengamatan. Data yang diperoleh dari lapangan kemudian diolah dengan bantuan

Surfer. 7.0 dan untuk memperoleh data luasan terumbu karang di Pulau Panjang

digunakan Map Info. 6.0.

3.3.4. Metode analisa data

3.3.3.1. Persentase penutupan

Persentase penutupan koloni karang ditentukan dengan rumus sebagai

berikut (English et al., 1994) :

li
ni = x 100  ................................................. (2)
L

Dimana :

ni = Persentase penutupan koloni karang ()

li = Panjang koloni karang per panjang transek garis (cm)

L = Panjang transek garis (10 m)

Persentase penutupan karang batu digunakan sebagai acuan dalam

menentukan kondisi terumbu karang. Karang batu merupakan unsur paling

dominan di dalam ekosistem terumbu karang sehingga persentase penutupannya

digunakan untuk menentukan kondisi terumbu karang (Sukarno, 1994).


25

Tabel 2. Kriteria penilaian kondisi terumbu karang berdasarkan persentase


penutupan karang (Sukarno, 1994).

Persentase penutupan karang (%) Kategori

0 – 25 Kritis/rusak sekali
26 – 50 Rusak
51 – 70 Sehat
71 – 100 Sehat sekali

3.3.3.2. Indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi

Perhitungan indeks keanekaragaman (H’), keseragaman (E) dan

dominasi (C) dalam analisi karang, menggunakan rumus sebagai berikut

(Legendre dan Legendre, 1983) :

3.3.3.2.1. Indeks keanekaragaman

Indeks keanekaragaman atau Indeks Shanon (H’) digunakan untuk

menggambarkan hubungan antar kelimpahan jenis biota karng. Rumus indeks

keanekaragaman :

n
H’ = -  Pi
i 1
log2 Pi ; Pi =ni/N ........................ (3)

Dimana :

H’ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener

ni = Panjang koloni jenis karang ke-i pada transek garis

N = Panjang koloni karang total pada transek garis

Jika H’ = 0 maka komunitas terdiri dari satu jenis /spesies tunggal dan
26

jika nilainya mendekati maksimum maka semua spesisies terdistribusi secara

merata dalam komunitas.

Kisaran Indeks Shannon (H’) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

H’ < 3,20 = Keanekaragaman kecil dan tekanan ekologi sangat kuat

3,20<H’<9,97 = Keanekaragaman sedang dan tekanan ekologi sedang

H’> 9,97 = Keanekaragaman tinggi, terjadi keseimbangan ekositem

3.3.3.2.2. Indeks keseragaman

Indeks keseragaman (E) digunakan untuk melihat keseimbangan

individu di dalam komunitas terumbu karang. Nilainya merupakan perbandingan

antara nilai keanekaragaman dengan keanekaragaman maksimumnya dan nilainya

berkisar antara 0 hingga 1. Rumus indeks keseragaman :

H'
E= ; H’max = log 2 S ........................... (4)
H max

Dimana :

E = Indeks Keseragaman Evens

H’ = Indeks Keseragaman Shannon

S = Jumlah seluruh jenis karang

Kriteria nilai indeks keseragaman (E) adalah sebagai berikut, apabila E

mendekati 0, spesies tidak banyak ragamnya, ada dominasi dari spesies tertentu

dan menunjukkan bahwa adanya tekanan terhadap ekosistem. Bila E mendekati 1,

jumlah individu yang dimiliki antar spesies tidak jauh berbeda, tidak ada dominasi

dan tidak ada tekanan terhadap ekosistem.


27

3.3.3.2.3. Indeks dominansi

Indeks dominasi (C) digunakan untuk mengetahui sejauh mana suatu

kelompok biota karang mendominasi kelompok lain. Rumus indeks dominasi :

n n
C=  Pi 2 =
i 1
 (ni N ) 2
i 1
................................. (5)

Dimana :

C = Indeks dominansi

ni = Panjang koloni jenis karang ke-i pada transek garis

N = Panjang koloni karang total pada transek garis

Bila nilai C mendekati 0, di dalam komunitas tidak ada spesies yang

dominan, komunitas dalam keadaan stabil, dan bila C mendekati 1, ada dominasi

dari spesies tertentu, komunitas dalam keadaan labil dan terjadi tekanan pada

ekosistem.

Untuk menganalisa variasi variabel fisik-biologi antar stasiun digunakan

Analisis Komponen Utama (Legendre dan Legendre, 1983) dan untuk melihat

sebaran spasial spesies karang keras antar stasiun, serta interakasinya dengan

variabel fisik lingkungan digunakan Analisis Faktorial Koresponden.


28

Gambar 4. bagan alur


29

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.1. Kondisi umum lokasi penelitian

Pulau Panjang terletak disebelah Barat Kabupaten Jepara, yang

berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Sebagai pulau kecil yang ditumbuhi

terumbu karang, maka P. Panjang dapat memberikan pengaruh positif terhadap

produktivitas perairan di sekitarnya. Ikan-ikan ekonomis penting (ikan-ikan

target), ikan demersal dan krustasea banyak ditemukan di wilayah ini. Contoh

ikan-ikan ekonomis penting yaitu : ikan kerapu macan (Plectropomus leopardus),

ikan kerapu sunu (Plectropomus maculatus), ikan kerapu batu (Cephalopolis

boenak), dan ikan kakatua (Scarus sp), sedangkan contoh ikan demersal adalah

bandeng laut (Chanos chanos), ikan kakap (Later carcarifer), dan ikan petek

(Apogon sp). Contoh dari krustasea yang paling sering dijumpai adalah rajungan.

Sehingga pulau ini menjadi tujuan bagi nelayan sekitar maupun dari daerah lain

sebagai daerah penangkapan ikan (fishing ground). Alat tangkap yang sering

digunakan oleh nelayan umumnya berjenis gill-net, pancing dan bagan tancap

yang tersebar di perairan sekitar pulau.

Secara geografis Pulau Panjang terletak pada posisi 458538-459264 dan

9272894-9273375, berjarak 2,5 km kearah barat laut LPWP (Laboratorium

Pengembangan Wilayah Pantai), Jepara. Pada bagian sisi selatan Pulau Panjang,

terdapat bangunan dermaga yang sudah tidak dipergunakan lagi dan sebagai

29
30

gantinya dibangun dermaga baru yang terletak di sebelah timur pulau. Total luas

Pulau Panjang adalah 197.257,33 m2 atau 19,73 ha, dan mempunyai luasan daerah

terumbu karang sebesar 311.418,62 m2 atau 31,2 ha dimana 238.019,95 m2 atau

23,8 ha berupa karang hidup dengan penyusun terumbu karang lainnya, serta

73.398,67 m2 atau 7,4 ha berupa karang mati, pecahan karang dan komponen

abiotik. Penyusun terumbu karang lainnya yang dapat ditemui adalah sponge, turf

algae, makro algae, coraline algae dan anemon serta karang biru (Heliopora

coerulea). Hewan yang banyak dijumpi pada ekosistem karang, antara lain : lili

laut, bulu babi, kelinci laut, dan berbagai jenis ikan karang.

Pulau Panjang secara administratif masuk kedalam wilayah Kecamatan

Jepara, dimana secara geologis wilayah ini mempunyai satuan morfologi dataran

rendah, dengan kemiringan 0 - 2% dan ketinggian 0 - 50 dpl. Litologi Pulau

Panjang disusun oleh sedikit humus dan satuan endapan alluvial. Endapan alluvial

terdiri atas kerakal, kerikil, pasir, lempung, pecahan koral, dan batu apung. Satuan

ini berupa endapan pantai dan endapan rawa. Endapan pantai didominasi oleh

klastika lepas bercampur dengan pecahan cangkang moluska, batu gamping koral

dan sisa tumbuhan berukuran butir kerakal hingga pasir berwarna putih hingga

kuning keruh. Sedangkan endapan rawa terdiri dari lempung hitam, lumpur dan

sisa tumbuhan berwarna hitam hingga coklat kotor.

Kondisi oseanografi perairan perairan Pulau Panjang dapat dilihat pada

Tabel 3.
31

Tabel 3. Nilai rerata kondisi oseanografi perairan Pulau Panjang, Jepara.

Stasiun Pengamatan
Kondisi Perairan
1 2 3 4 5 6 7

Suhu (oC) 29,5 29,5 29,5 29,5 29,5 29,5 29,5


Salinitas (o/oo) 31 31,5 30 30,5 31 29,5 31
Kedalaman maks. karang (m) 5,33 7,33 10,67 6,33 10 6 2,33
Kecerahan (%) 67,5 46,38 32,8 52,17 31,5 55,0 51,50
Kecepatan arus (cm/dtk) 3,33 3,33 3,33 4 5 3,33 3,33
Laju sedimentasi (g/m2/hari) 39,87 39,87 39,87 27,28 45,7 45,7 39,87

4.1.2. Sebaran koloni karang keras tiap stasiun penelitian

Hampir di setiap stasiun pengamatan, kecuali Stasiun Pengamatan 1 dan

7 mempunyai daerah pecahan karang (rubble) dengan lebar rata-rata 50 m. Alga

banyak dijumpai di daerah ini, seperti Caulerpa sp, Halimeda sp (alga berkapur),

Sargassum sp, Padina sp, dan Turbinaria sp. Stasiun Pengamatan 7 mempunyai

subtrat pasir, sehingga di daerah ini banyak sekali ditemukan tumbuhan lamun

jenis Thalassia hemprichii. Pada Stasiun Pengamatan 5 dan 6 banyak dijumpai

karang lunak (soft coral) jenis Sarcophyton sp dan Sinularia sp yang terdapat

pada kedalaman 5 - 6 m. Pada kedalaman ini pula terdapat sponge dan juga koral

jenis Junceella sp. Pada Stasiun Pengamatan 4 banyak ditemukan makro alga

jenis Padina sp.


32

Peta sebaran karang di p. panjang


33

Kenampakan vertikal 1 (corel draw file)


34

Kenampakan vertikal 2 (corel draw file)


35

Kenampakan vertikal 3 (corel draw file)


36

Kenampakan vertikal 4 (corel draw file)


37

Kenampakan vertikal 5 (corel draw file)


38

Kenampakan vertikal 6 (corel draw file)


39

Kenampakan vertikal 7 (corel draw file)


40

Tabel 4. Sebaran koloni karang keras pada setiap stasiun pengamatan di perairan
Pulau Panjang, Jepara

St. Lebar daerah Kedalaman


Jenis yang banyak ditemukan
Pengamatan TK (m) karang (m)

1 6-110 5,3 Acopora aspera, Porites lutea,


Montipora digitata, Pocillopora
damicornis, Favites chinensis,
Goniopora stokesi dan Pectinia
paeonia
2 8-110 7,33 P. lutea, F. chinensis, P. lobata, G.
stokesi, G. aspera, dan P. paeonia
3 8-165 10,67 F. flexuosa, P. lobata, P.
damicornis, Euphyllia ancora, dan
P. paeonia

4 7-200 6 P. lutea, P. lobata, F. flexuosa,


Cyphastrea chalcidicum, A. humilis,
Montipora venosa dan Podabacia
crustacea
5 7-160 10 F. flexuosa, P. lobata, P. lutea, P
cylindrica, Symphyllia recta,
Hydnopora exesa dan P. paeonia
6 10-130 6 F. flexuosa, F. abdita, P. lobata,
Goniastrea pectinata, dan
Polyphyllia talpina
7 7-31 2,33 P. lutea, P. cylindrica dan Platygira
verweyi

4.1.3. Komposisi dan tutupan karang keras di Pulau Panjang

Hasil dan pengamatan di perairan Pulau Panjang, Jepara ditemukan 44


41

spesies karang keras yang masuk kedalam 13 famili karang Scleractinia. Spesies

Acropora aspera, Pocillopora damicornis, Montipora venosa, Porites cylindrica,

P. lobata, P. lutea, Goniopora lobata, G. stokesi, Favites abdita, F. Chinensis, F.

flexuosa, Favia lizardensis, F. pallida, F. speciosa, Goniastrea aspera, Pectinia

paeonia, Platygira pini, P. sinensis, P. verweyi, dan Cyphastrea chalcidicum,

melimpah di tujuh Stasiun Pengamatan (Lampiran 1).

Apabila dilihat dari lifeform-nya, karang Acropora bercabang (ACB),

non-Acropora bercabang (CB), non-Acropora mengerak/merayap (CE), non-

Acropora foliosa, berperan dalam pembentukan struktur komunitas terumbu

karang di perairan Pulau Panjang, Jepara. Karang hidup di lokasi penelitian

memperlihatkan persentase tutupan karang berkisar antara 9,45% sampai 38,75%.

45
38.75
40
35
30
Persentase

25 19.92
19.36 19.08
20 16.84
14.96 14.33
15
9.45
10
5
0
1 2 3 4 5 6 7 RERATA

Stasiun pengamatan

Gambar 13. Tutupan karang keras pada setiap stasiun pengamatan di perairan
Pulau Panjang

4.1.4. Indeks keanekarangaman, keseragaman, dan dominansi karang keras


di Pulau Panjang

Nilai rerata Indeks Keanekarangaman (H’) karang keras di Pulau

Panjang adalah 3,28; nilai Indeks Keseragaman (E) adalah 0,71; Nilai Indeks

Dominansi (C) adalah 0.01. Nilai Indeks Keanekarangaman berkisar antara 2,364-
42

4,005; Indeks Keseragaman berkisar antara 0,538-0,79, Indeks Dominansi

berkisar antara 0,003 – 0,022.

4.00
4 3.69 3.61 3.57
3.28
3.08

3 2.64
2.36 C
Persentase

H'
2
E

1 0.75 0.70 0.74 0.79 0.76 0.71 0.71


0.54

0.00 0.02 0.01 0.00 0.00 0.00 0.02 0.01


0
1 2 3 4 5 6 7 RERATA

Stasiun

Gambar 14. Nilai Indeks Keanekarangaman (H’), Indeks Keseragaman (E),


Indeks Dominansi (C) pada setiap stasiun pengamatan di perairan
Pulau Panjang, Jepara

4.1.5. Zonasi dan distribusi karang keras di Pulau Panjang, Jepara

Berdasarkan pengamatan di lapangan, pada setiap stasiun pengamatan

ditemukan lengkap 5 zona karang keras yaitu back-reef, reef flat, reef crest, reef

slope,dan fore-reef slope. Namun pada Stasiun Pengamatan 7, hanya ditemukan 4

zona karang keras (Gambar 12).

Tabel 5. Habitat karang keras pada setiap zona, back-reef, reef flat, reef crest,
reef slope dan fore-reef slope, di Pulau Panjang, Jepara.

Habitat Stasiun Pengamatan


Spesies dominan 1 2 3 4 5 6 7
(I) (II) (III) (IV) (V) (VI) (VII) (VIII)

Back-reef
Acopora aspera + - - - - - -
Cyphastrea chalcidicum - - - + - - -
43

Lanjutan Tabel 5.
(I) (II) (III) (IV) (V) (VI) (VII) (VIII)

Favia speciosa - - - + - - -
Favites abdita - - - - - + -
Favites chinensis - + - - - - -
Favites flexuosa - + + + + + -
Goniastrea pectinata - - - - - + -
Heliopora coerulea - - + - - -
Montipora digitata + - - + - - -
Porites lobata - + + + + + -
Porites lutea - + + - - - -

Reef flat
Porites lutea + - - - - - +
Porites lobata + - - - - - -
Pocillopora damicornis + - - - - - -
Favites abdita - - + - - - -
Platygira verweyi - - - - - - +

Reef crest
A. humilis - - - + + - -
Acopora aspera - - - - - + -
Favia lizardensis - - - - - + -
Favites chinensis + - - - + - -
Galaxea fascicularis - - - - + - -
Goniastrea aspera - - - - + - -
Goniastrea pectinata - - - - - + -
Goniopora lobata - - - - + - -
Hydnophora exesa - - - - + - -
M. hispida - - - - + - -
Pavona decussata - - + - - - -
Pectinia paeonia - + - - - - -
Platygira lamellina - - - - + -
Platygira sinensis - - - - + - -
Pocillopora damicornis - - + - - -
Porites cylindrica + - - - + - +
Porites lobata - + + - - - -
Porites lutea - - - - - - -
Porites rus - - - - - + -
44

Lanjutan Tabel 5.
(I) (II) (III) (IV) (V) (VI) (VII) (VIII)

Symphyllia recta - - - - + - -

Reef slope
Acopora aspera - - + - - - -
Euphyllia ancora - - + - - - -
Favia pallida - - - + - - -
Favites flexuosa - - + - - - -
Goniastrea aspera - + - - - - -
Goniopora lobata - + - - - - -
Goniopora stokesi + - - + - - -
Goniopora stokesi - - - - - + -
M. venosa - - - + - - -
Pectinia paeonia - + - - - - -
Pectinia paeonia - - + - - - -
Platygira pini - - - - - + -
Podabacia crustacea - - - + - - -
Porites lutea + - - - - - -
Stylophora pistillata + + - - - - -

Fore-reef slope
Goniopora lobata - + - - + - -
Goniopora stokesi - - - + - - -
Pectinia paeonia + - + - - + -
Polyphyllia talpina - - - - - + -
Porites lutea - - - - - - +
Ket.
+ : ada - : tidak ada

4.1.6. Variasi spasial karakteristik fisik-biologi

Variabel fisik-biologi yang digunakan dalam Analisis Komponen Utama

untuk melihat sebarannya berdasarkan stasiun pengamatan, disajikan dalam

Lampiran 2. Hasil Analisis Komponen Utama adalah informasi penting yang

menggambarkan keadaan korelasi antar variabel pada struktur spasial (stasiun),

yang terpusat pada dua sumbu utama (Komponen 1 dan Komponen 2). Pada
45

Gambar 15, terlihat pada komponen 1, bahwa adanya korelasi negatif antara arus

dan jumlah spesies, keanekarangaman dan sedimentasi. Keempat variabel (yang

membentuk Komponen 1) berkorelasi rendah terhadap pembentuk komponen 2

yaitu persen kover dan kecerahan.

Component Plot in Rotated Space


1.0

persen kover

.5

sedimentasi
jumlah spesies
keanekaragaman
0.0
Component 2

arus
-.5

-1.0
-1.0 -.5 0.0 .5 1.0

Component 1

Gambar 15. Grafik Analisa Komponen Utama karakteristik fisik-biologi perairan


di 7 stasiun pengamatan.

4.1.7. Sebaran spasial spesies karang

Hasil Analisa Faktorial Koresponden terhadap 44 jenis karang keras

yang menyebar di 7 stasiun pengamatan, menunjukkan bahwa informasi mengenai

organisasi spasial jenis karang keras di lokasi penelitian terpusat pada 2 sumbu

utama (Dimensi 1 dan 2). Pada row scores (Gambar 16 A) kuadran I diisi oleh

Stasiun Pengamatan 1 dan 7, kuadran II diisi oleh Stasiun Pengamatan 2, kuadran

III diisi oleh Stasiun Pengamatan 2 dan 4, dan kuadran IV diisi oleh Stasiun

Pengamatan 5 dan 6.

Pada column scores (Gambar 16 B) terlihat 44 jenis karang keras

tersebar diempat kuadran yang ada. Gambar 16 C menunjukkan asosiasi antara


46

spesies-stasiun yang membentuk kelompok dan menggambarkan keterkaitan yang

erat diantara keduanya. Kelompok I beranggotakan Stasiun Pengamatan 1 yang

didominasi oleh spesies A. aspera, P. cylindrica, dan F. pallida; dan Stasiun

Pengamatan 7 dicirikan oleh spesies G. stokesi dan P. paeonia. Kelompok II

beranggotakan Stasiun Pengamatan 3 dan dicirikan oleh spesies P. lutea, G.

fascicularis dan C. chalcidicum. Kelompok III mencangkup Stasiun Pengamatan

2 dicirikan oleh spesies P. lobata dan A. minuta; dan Stasiun Pengamatan 4,

dicirikan oleh spesies H. rigida, P. crustacea, dan M. venosa. Kelompok IV

beranggotakan Stasiun Pengamatan 5 dicirikan oleh spesies S. recta dan A.

humilis; dan Stasiun Pengamatan 6 yang dicirikan oleh spesies F. abdita, dan P.

sinensis.

Row Scores Column Scores


1.5
A 2 Ep2
L1 B
Sp1

1 Row and Column Scores A1


Pc1A5
M1 P1
4.1.8.
1.0
Similaritas2 antar Ep2
stasiun pengamatan C 1
L1 Gs1
F2
Pe1
G1
Pl4 Cy1Cy2
7 3 Sp1 Plut1
Gambar
.5 16. A, B, C Hasil A1
Pc1 A5
M1
Analisa Faktorial
P1
Koresponden Gl1 antara
Po1 Pl2
F3 Pl3
Go2 Fa1 spesies
Plob1
C1
A4
karang
1 0 F1Py1
Pl1
dengan stasiunGs1Pe17Pl4 Cy1
1 F2 G1
Cy2 3
Go1
Fa2
Fa3
H2
0.0 6 2
Hasil analisa klusterGl1
(Gambar
Plut1
Pl2
17) dapat dilihat,
-1
Stasiun
Prus H1 Pengamatan
M3 Po2
5
Po1
F3
Go2 Fa1 2 Plob1
0 Pl1 6
4 Py1
F1 Pl3 C1
A4 T1
-.5 Go1
Fa3 Sy1
A2
4
Dimension 2

Fa2
Dimension 2

H2
dan 6 membentuk klusterPrus1, H1
kemudian Stasiun
M3 Po2 Pengamatan
-2 Ep1
M2
D1
A3 1 dengan kluster 1
-1.0 -1 5
5
T1 -3
Sy1
A2
membentuk
-1.5
kluster 2.Ep1 Kluster 3 terbentuk dari kluster
-2 kluster
-1 0 2 dan
1 kluster
2 4
Dimension 2

-1.5 -1.0 -.5 0.0 -2.5 M2


D1
A3
1.0 1.5
Spesies
Dimension 1
Dimension 1
(Stasiun Pengamatan
-3 3 dan 4). Stasiun Pengamatan 2Symmetric
Stasiun dan Normalization
kluster 3 membentuk
Symmetric Normalization -2 -1 0 1 2

kluster 5, kemudian kluster


Dimension 1 5 bergabung dengan Stasiun Pengamatan 7
Symmetric Normalization

membentuk kluster 6.
47

Tree Diagram for 7 Cases


Ward`s method
Euclidean distances

ST.
C_11

ST.
C_55

ST.
C_66

ST.
C_33

ST.
C_44

ST.
C_22

ST.
C_77

0 50 100 150 200 250 300


Linkage Distance

Gambar 17. Dendogram pengelompokan jumlah spesies koloni karang keras di


Pulau Panjang, Jepara.

4.2. Pembahasan

4.2.1. Kondisi umum faktor oseanografi perairan Pulau Panjang

Pengukuran beberapa parameter oseanografi perairan dimaksudkan

untuk melihat kualitas perairan sebagai habitat terumbu karang. Hasil pengukuran

beberapa parameter lingkungan menunjukkan bahwa suhu, salinitas, kecepatan

arus dan kecerahan dalam kondisi normal, sedangkan nilai rerata laju

sedimentasinya sangat tinggi, yaitu : 39,58 g/m2/hari. Tingginya nilai laju

sedimentasi ini disebabkan waktu peletakan sediment trap dilakukan pada waktu

musim barat hampir mencapai puncaknya. Sehingga sedimen yang tertampung di

sediment trap berasal dari substrat dasar perairan yang teraduk oleh arus atau

gelombang.

Suhu rerata permukaan perairan adalah 29,5oC, menurut Coles et al.

(1976), menyatakan bahwa suhu optimal untuk pertumbuhan karang adalah 25 -


48

29oC, terutama untuk karang di daerah dangkal yang mempunyai potensi

peningkatan suhu yang dapat menyebabkan kematian dari karang. Menurut

Suryono dan Irwani (1999) perairan Jepara telah mengalami peningkatan suhu

lebih kurang 1 - 2oC yang mengakibatkan koral di kedua tempat penelititan yaitu

Pulau Panjang dan Bandengan mengalami bleaching 15% dan 30,5%. Kenaikan

0,5oC dari suhu optimal maka pertumbuhan terumbu karang masih dapat

dikatakan normal, karena terumbu karang dapat mentolerasi suhu sampai kisaran

16 - 40oC (Nybakken, 1988).

Kecepatan arus dan kecerahan masih dalam kondisi normal. Pada

Stasiun Pengamatan 5 dan 6 kondisi perairan sangat keruh hampir sepanjang hari,

dikarenakan kedua stasiun tersebut terletak dibagian utara pulau, yang berhadapan

langsung dengan lautan bebas, sehingga kemungkinan teraduknya sedimen dasar

perairan sepanjang hari sangatlah besar.

Adanya arus sangat penting bagi kehidupan karang, karena dengan

adanya arus maka jasad renik dan O2 akan tersedia bagi karang. Dengan adanya

arus pula, sirkulasi nutrien terutama Pospor dan Nitrogen yang mengontrol

aktivitas fotosintesis dan produksi primer akan berjalan normal. Perputaran

nutrien anorganik sangat diperlukan untuk proses metabolis biota simbion

binatang-tumbuhan, seperti karang, sponge, moluska, coraline alga dan

sebagainya (Tomascik et al., 1997). Salinitas pada ketujuh Stasiun Pengamatan

adalah bekisar antara 30 - 31o/oo. Menurut Veron (1986), karang hermatipik tidak

dapat bertahan pada salinitas yang terlalu menyimpang dari salinitas air laut yang

normal, yaitu 32 - 35o/oo.


49

4.2.2. Komposisi dan tutupan karang keras di Pulau Panjang

Kondisi terumbu karang di perairan Pulau Panjang menurut klasifikasi

Gomez dan Yap (1988) dalam Edinger dan Risk (2000) termasuk ke dalam

kondisi jelek, dengan persentase penutupan karang rata-rata sebesar 19,08%.

Pengamatan dari ke-7 stasiun pengamatan menunjukkan bahwa, hanya satu

stasiun pengamatan yang mempunyai kondisi penutupan karang dengan kategori

sedang (38,75%) (Stasiun Pengamatan 1). Enam stasiun pengamatan yang lain

mempunyai penutupan terumbu karang dengan kondisi yang jelek.

Hasil persentase penutupan karang pada penelitian ini berbeda dengan

hasil penelitian sebelumnya oleh Haryono (2001), dengan menggunakan transek

garis 10 m yang diletakkan sejajar garis pantai, mulai ditemukan karang hingga

puncak terumbu, menunjukkan persentase penutupan karang rata-rata sebesar

49,46% atau dengan kategori sedang. Perbedaan ini disebabkan perbedaan jumlah

total panjang transek, jumlah stasiun pengamatan dan perbedaan lokasi. Total

transek garis pada penelitian sebelumnya adalah 610 m, sedangkan pada

penelitian ini adalah 1860 m. Akan tetapi bukanlah perbedaan yang

dipermasalahkan namun dari penelitian-penelitian sebelumnya dapat diketahui

bahwa kondisi terumbu karang di perairan Pulau Panjang pada umumnya dalam

kondisi jelek-sedang, dan hingga saat ini mempunyai kecenderungan terus

mengalami degradasi.

Penurunan persentase penutupan karang di perairan Pulau Panjang ini

disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu manusia dan alam. Kerusakan yang
50

disebabkan oleh faktor manusia adalah adanya kegiatan wisata bahari di pulau ini,

yang membawa dampak negatif bagi terumbu karang. Kegiatan pengambilan

karang keras untuk cinderamata dan hiasan akuarium masih marak dilakukan oleh

wisatawan, juga kegiatan pencarian ikan dan moluska pada saat air surut terendah

(meting) banyak dilakukan oleh nelayan atau penduduk setempat, sehingga

banyak karang mengalami fraktasi (patah) karena terinjak-injak.

Sedangkan faktor dari alam yang membatasi terumbu karang menurut

Veron (1986) adalah : cahaya, kedalaman, gelombang, sedimentasi, salinitas,

kisaran pasang surut, nutrien, suhu dan substrat. Setiadi dan Edward (1995)

menyatakan bahwa kecilnya persentase penutupan karang tidak lepas dari

pengaruh faktor oseanografi perairan pantai. Kondisi oseanografi perairan pantai

dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari darat, perairan bebas dan iklim global.

Sedangkan Salm (1984) menambahkan, suhu, salinitas, sirkulasi air, nutrien

turbulesi dan kekeruhan adalah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan,

pembentukan, dan bentuk terumbu.

Laju sedimentasi yang sangat tinggi di perairan Pulau Panjang yakni,

berkisar antara 27,28 – 45,7 g/m2/hari (pengambilan data pada akhir Desember

2002 - akhir Februari 2003), akan mengganggu pertumbuhan karang. Tingginya

nilai sedimentasi akan terlihat secara nyata ketika musim barat tiba (Desember-

Mei), dimana perairan akan sangat keruh dan berwarna coklat. Pengaruh sedimen

terhadap karang keras (hermatipik) dapat secara langsung maupun tidak langsung.

Secara langsung, sedimen dapat mematikan karang apabila kecepatan sedimentasi

melebihi kemampuan karang untuk membersihkan diri dari sedimen, sehingga


51

permukaan tubuh karang termasuk polip karang tertutup sedimen. Tertutupnya

polip oleh sedimen akan mengganggu proses penangkapan makanan (Suharsono,

1998). Pengaruh tidak langsung yang ditimbulkan, yaitu mengurangi penetrasi

cahaya matahari, sehingga proses fotosintesis akan terganggu dan banyak energi

yang dialokasikan karang untuk membersihkan sedimen (Pastorok dan Billyard,

1985 dalam Supriharyono, 2000).

Faktor pembatas lain yang mungkin berpengaruh langsung adalah

adanya pasang-surut, dimana rentang pasut di Pulau Panjang adalah 44 - 182 cm

(Lampiran 6). Pada daerah back-reef hingga reef-flat pada waktu surut terendah

akan terdedah dengan udara terbuka. Apabila surut terendah terjadi pada siang

hari saat matahari terik maka suhu perairan akan naik dan apabila surut terendah

diikuti dengan hujan yang lebat dapat menyebabkan penurunan salinitas secara

drastis, sehingga akan mematikan karang karena polip karang kehilangan alga

simbiotik (zooxanthella) (Suharsono, 1998).

4.2.3. Indeks keanekarangaman, keseragaman, dan dominansi karang keras


di P. Panjang

Nilai rata-rata indeks keanekarangaman (H’) di Pulau Panjang, adalah

3,28 dengan kisaran 2,4 - 4, termasuk dalam kondisi sedang dengan nilai tekanan

ekologi sedang. Semakin banyak spesies pada suatu komunitas maka

keanekarangamannya semakin besar pula (Odum, 1993). Pada daerah reef-flat

hanya sedikit ditemukan jenis karang apabila dibandingka dengan zona reef crest
52

dan reef slope. Hal ini disebabkan pada zona reef flat mempunyai kondisi

lingkungan yang tidak menentu, ketika terjadi pasang terendah volume air

sangatlah sedikit bahkan banyak karang keras yang terdedah udara. Salinitas yang

naik tajam selama pasang terendah dimungkinkan juga turut membatasi jenis

karang keras yang dapat tumbuh zona ini. Kurangnya arus dan ombak yang

menyuplai nutrien juga merupakan faktor penghambat pertumbuhan karang keras

di zona reef flat. Mudjiono (1995) menyatakan bahwa pada daerah rataan terumbu

(reef flat) yang tersedia cukup makanan (nutrien) umumnya mempunyai nilai

keanekarangaman tinggi.

Nilai indeks keseragaman (E) karang hermatipik mendekati 1 yaitu 0,71.

Berarti jumlah setiap jenis karang di perairan Pulau Panjang tidak jauh berbeda

tidak ada dominasi dan tekanan terhadap ekosistem. Nilai indeks dominansi (C)

karang hermatipik berkisar 0,003–0,022, berarti komposisi jenis di perairan Pulau

Panjang tidak ada spesies dominan, komunitas stabil. Dari 44 jenis karang keras

yang ditemukan di perairan Pulau Panjang, tidak semua jenis karang keras berada

di stasiun pengamatan yang sama.

4.2.4. Zonasi dan distribusi karang keras di Pulau Panjang, Jepara

Bentukan zonasi terumbu karang yang terjadi di perairan Pulau Panjang

merupakan representasi dari geomorfologi dan ekologi dari lingkungan. Seperti

pada daerah back-reef dan reef flat, dimana di kedua daerah ini, bentuk

pertumbuhan karang sangat dipengaruhi oleh subaerial exposure, yaitu bila air

surut sekali banyak terumbu karang yang muncul di permukaan air. Tanda

spesifik subaerial exposure adalah karang yang berbentuk mikro atol (Suprapto,
53

2002). Mikro atol di hasilkan oleh lebih setengah lusin genus karang dengan

berbagai bentuk pertumbuhan yang menciptakan suatu ekosistem yang kaya dan

habitat yang bervariasi dari terumbu karang (Sumich, 1992).

Secara umum bentuk karang yang berada di ke-2 zona ini adalah karang

bercabang seperti jenis Acropora aspera (ACB), hingga karang dengan bentuk

massive, seperti Favites abdita, Favia speciosa, dan Porites lutea. Genus porites

dan Favites yang berukuran kecil-kacil (kurang 10 cm) dengan jumlah yang

sangat melimpah di daerah ini. Loya (1972) menyatakan jumlah karang akan

berkurang secara signifikan dengan kedalaman air, dan rata-rata ukuran spesies

koloni karang di daerah reef flat lebih kecil bila dibandingkan dengan daerah reef

crest. Hal ini diduga karang yang berada di daerah yang lebih dangkal akan

mengalami kematian secara alami ketika mencapai ukuran tertentu, dikarenakan

keadaan lingkungan yang tidak menentu.

Energi gelombang adalah faktor lingkungan yang mencirikan daerah

puncak terumbu (zona reef crest) hingga zona reef slope. Sifat karang pada daerah

ini biasanya bersifat memonopoli ruangan, dengan bentuk pertumbuhan bercabang

dan tabulate (Tomascik et al., 1997). Karang dari genus porites dengan berbagai

bentuk pertumbuhan banyak ditemukan disini, seperti Porites cylindrica (CB), P.

lutea (CM) dan P. rus (CE). Menurut Mapstone (1990) Porites dengan ukuran

koloni besar banyak terdapat di zona ini. Jenis karang yang bersifat soliter dan

bertentakel banyak terdapat di reef slope, seperti Symphyllia recta, Goniopora

lobata, Pectinia paeonia, Podabacia crustacea dan Galaxea fascicularis.

Keruhnya perairan di daerah reef slope, khusunya di daerah yang berdekatan


54

dengan substrat dasar perairan, memaksa jenis-jenis karang yang berbentuk

massive mempunyai cara tersendiri untuk membersihkan sedimen dari permukaan

tubuhnya. Bersimbiosis dengan jenis cacing pipa (tube worm) atau dengan

menggerak-gerakkan tentakel sesering mungkin di seluruh permukaan tubuh

adalah cara yang sering dilakukan oleh karang massive. Marshall dan Orr, (1931);

dan Yonge (1935) dalam Loya (1972) menyatakan Platygira lamellina, yang

berbentuk massive membersihkan polipnya dengan mukus dan silia (tentakel)

serta memperbesar ukuran polipnya.

Zona fore-reef slope adalah zona setelah reef slope yang tidak terlalu

miring, bahkan relatif mendatar. Substrat dasar di zona ini kebanyakan lumpur

berpasir, sehingga banyak jenis karang jamur hidup di daerah ini. Polyphyllia

talpina dan Podabacia crustacea adalah contoh jenis karang yang berada di zona

front-reef slope.

4.2.5. Sebaran spasial karang keras berdasarkan variabel fisik-biologi

Berdasarkan hasil Analisa Faktorial Koresponden Stasiun Pengamatan 2

dan 4, dicirikan dengan adanya arus. Apabila dilihat dari letaknya, antara ke-2

stasiun ini saling berjauhan sehingga kecepatan arus rata-rata yang mempengaruhi

ke-2 stasiun akan berbeda pula. Stasiun Pengamatan 4 terletak di sebelah barat

pulau yang cenderung berombak besar dan mempunyai arus besar (4 cm/dtk).

Stasiun ini dicirikan dengan spesies Hydnophora rigida, Podabcia crustacea dan

Montipora venosa. Ke-2 spesies terakhir mempunyai bentuk pertumbuhan awal

encrusting (mengerak), sehingga cocok untuk daerah berarus deras. Morton


55

(1990) menyatakan pertumbuhan Synaraea lichen yang bermula dari bentuk

mengerak banyak ditemukan di perairan dangkal yang berarus kuat dan berombak

besar. Jenis Montipora venosa adalah jenis karang yang mempunyai bentuk awal

mengerak yang kemudian akan berkembang menjadi bentuk foliosa. Karang

dengan tipe ini biasanya mempunyai bentuk melebar, sehingga akan lebih efisien

dan optimal dalam menangkap sinar matahari sebagai adaptasi pada lingkungan

dengan kecerahan rendah. Hydnophora rigida sebenarnya bukan merupakan

spesies dominan, karena spesies jenis ini hanya terdapat dijumpai di Stasiun

Pengamatan 1.

Berdasarkan Analisa Faktorial Koresponden Stasiun Pengamatan 2

dicirikan P. lobata dan Acropora minuta. Karang jenis A. minuta hanya ditemui di

Stasiun Pengamatan 2, terutama di daerah reef crest, karena mempunyai bentuk

pertumbuhan mengerak maka jenis karang ini akan tahan terhadap gempuran

ombak dan arus (Veron, 2000). Sedangkan P. lobata mempunyai distribusi yang

luas, ditemukan dari daerah reef flat hingga reef slope.

Apabila dilihat dari similaritasnya Stasiun Pengamatan 2 dan 4 memiliki

kesamaan, sehingga bergabung menjadi 1 kluster. Kesamaan yang paling

mencolok apabila dilihat dari topografi dasar perairan, karena kedalaman

maksimal karang yang hidup pada ke-2 stasiun hampir sama, yaitu 7,33 m dan

6,33 (Gambar 7 dan 9). Kondisi kedalaman yang hampir sama ini memungkinkan

karakteristik atau bentuk pertumbuhan karang memiliki kesamaan.

Stasiun Pengamatan 3 yang terletak diantara Stasiun Pengamatan 2 dan

4 memiliki ciri karakteristik habitat sedimentasi. Dari hasil Analisa Faktorial


56

Koresponden karang yang mencirikan stasiun ini adalah Porites lutea, Galaxea

fascicularis dan Cyphastrea chalcidicum. Pada Stasiun Pengamatan 3 ini banyak

sekali ditemukan jenis karang massive terutama jenis Porites yang membentuk

mikro atol di daerah reef flat. Dasar perairan stasiun ini relatif sangat curam

(Gambar 8) dengan kedalaman maksimum karang yang dapat ditemui hinga 10 m.

Laju sedimentasi akan relatif bertambah seiring dengan kedalaman suatu perairan,

disamping dipengaruhi pula oleh adanya arus dan turbulensi (Roger, 1990 dalam

Tomascik et al., 1997). Galaxea fascicularis adalah salah satu karang yang dapat

bertahan di daerah sedimentasi tinggi, dengan polip besar dan tentakel yang selalu

aktif bergerak, karang ini mempunyai kemampuan menolak masuknya sedimen

kedalam polipnya. Porites spp adalah salah satu kelompok karang yang berada

dilingkungan berarus dan mempunyai kemampuan menolak sedimen. Menurut

penelitian Porites selalu mengeluarkan mukus dari tubuhnya sehingga sedimen

tidak dapat masuk kedalam polipnya. Hal ini didukung adanya arus yang

membersihkan mukus yang telah kotor oleh sedimen kedalam perairan.

Berdasarkan hasil Analisa Faktorial Koresponden, Stasiun Pengamatan

1 dan 7 memiliki kontur dasar perairan yang landai, sehingga spesies karang yang

ditemukan di stasiun ini tumbuh dengan cara memperluas koloni secara

horisontal. Karena kedua stasiun ini berhadapan dengan pulau maka pengaruh

ombak dan angin dapat diredakan, membuat pergerakan air relatif lambat dengan

kecepatan arus sedang (3,33 cm/dtk). Berdasarkan hasil Analisa Faktorial

Koresponden lifeform karang yang mempunyai preferensi lingkungan seperti ini

adalah Acropora bercabang dan karang yang bersifat massive. Walaupun kedua
57

stasiun ini menghadap pulau akan tetapi pada Stasiun Pengamatan 7 akan

langsung berhadapan dengan angin yang bertiup dari arah timur laut ketika musim

barat tiba. Perairan di Stasiun Pengamatan 7 akan keruh sekali, apalagi substrat

yang mendominasi stasiun ini adalah pasir berlumpur. Karang penciri untuk

stasiun ini adalah Goniopora stokesi dan Pectinia paeonia.

Goniopora stokesi adalah jenis karang yang hidup bebas dengan tentakel

berwarna (Suharsono, 1996), tentakel ini secara efektif membersihkan sedimen

dari polip, sedangkan Pectinia paeonia mempunyai bentuk petumbuhan foliosa,

sehingga mampu mengurangi penumpukan sedimen dari tubuhnya. Pectinia spp,

Turbinaria spp dan Echinopora spp, merupakan kelompok karang yang

mempunyai kapabilitas menolak sedimentasi yang terjadi di dalam laguna yang

mempunyai laju sedimentasi tinggi akibat pengaruh arus dan turbulesi (Tomascik

et al., 1997). Sebaliknya ketika musim sudah tidak berangin lagi, maka Stasiun

Pengamatan 7 ini akan mempunyai kecerahan tinggi, yakni sebesar 67,5%.

Walaupun Stasiun Pengamatan 1 merupakan tempat terlindung, namun

sirkulasi air akan tetap berjalan dengan baik, karena ada aliran air dari arah timur

laut. Tipe Acropora aspera, maupun jenis karang bercabang lainnya sangat cocok

untuk daerah ini, sebagaimana diungkapkan oleh Rosen (1971) dalam

penelitiannya di Mahe, Acropora berlimpah di daerah yang masa airnya senantiasa

bergerak, akan tetapi bukan di daerah pecahan ombak (surf zone), ditambahkan

pula Acropora tidak dapat tumbuh secara optimal di daerah dengan kekuatan

ombak maksimum. Acropora bercabang mempunyai struktur yang lebih sesuai

untuk mengalirkan air dan menghadapi tekanan arus dibandingkan bentuk lain
58

yang terdapat di stasiun ini.

Stasiun Pengamatan 5 dan 6 terletak di sebelah utara pulau, merupakan

daerah yang relatif terbuka, sehingga ombak maupun angin yang bergerak ke arah

pulau tidak terhalang. Pada Stasiun Pengamatan 5, Symphyllia recta dan Acropora

nobilis adalah karang penciri di stasiun ini. Keruhnya perairan akibat tekanan arus

dan gelombang yang terus menerus membuat karang penciri mempunyai polip

yang besar. Spesies dari suku Faviidae seperti Favites abdita dan Platygira

verweyi yang merupakan karang penciri di Stasiun Pengamatan 6.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, ada beberapa jenis karang yang

bersifat kosmopolit, artinya karang yang mampu beradaptasi dengan berbagai

kondisi lingkungan perairan. Contoh karang yang bersifat kosmopolit seperti :

dari suku Faviidae : Cyphastrea chalcidicum, Favites abdita dan Platygira

sinensis sedangkan dari suku Poritidae adalah Porites lutea.


59

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

1. Hasil Analisa Komponen Utama dan Analisa Faktorial Koresponden

menunjukkan adanya empat kelompok stasiun berdasarkan karakteristik

lingkungan.

Kelompok I dicirikan dengan lokasi yang mempunyai kecerahan baik

dan berarus sedang sehingga menjadi preferensi karang jenis Acropora

aspera, Porites cylindrica, Favia pallida, Goniopora stokesi, Pectinia

paeonia dan Platygira verweyi.

Kelompok II dicirikan dengan adanya sedimentasi, berasosiasi dengan

karang jenis Porites lutea, Galaxea fascicularis, dan Cyphastrea

chalcidicum.

Kelompok III dicirikan dengan arus dan kedalaman perairan berasosiasi

dengan karang Hydnophora rigida, Montipora venosa, Podabacia

crustacea, Porites lobata dan Acropora minuta.

Kelompok IV dicirikan kecerahan rendah, berarus dan berombak besar

dengan karang penciri Symphyllia recta, Acropora humilis, Favites

abdita dan Platygira sinensis.

2. Indek Keanekaragaman (H’) karang keras di Pulau Panjang adalah 3,28;

nilai Indek Keseragaman (E) adalah 0,71 dan nilai Indek Dominansi (C)

adalah 0,01.

59
60

5.2. Saran

Perlunya dilanjutkan penelitian pemetaan potensi terumbu karang ini

secara kontinyu, sehingga nanti akan didapatkan data berkala yang lebih akurat,

dan untuk melihat kerusakan karang yang bersifat antropogenik maka ‘manusia’

dapat dimasukkan sebagai variabel dalam penelititan. Penelitan sebaran

komponen biotik pembentuk terumbu, seperti ikan karang, krustacea dan makro

bentos juga perlu dilaksanakan, sehingga nanti akan diperoleh data yang lengkap

tentang potensi terumbu karang di perairan Pulau Panjang, Jepara.


61

DAFTAR PUSTAKA

Atmadja, W. S. 1999. Sebaran dan Beberapa Aspek Vegetasi Rumput Laut (Algae
Makro) di Perairan Terumbu Karang Indonesia. Pros. Lok. Pengelolaan &
Iptek Terumbu Karang Indonesia. Jakarta, 22-23 Nopember : 157-165.

Barness, R.S.K. and Hughes.1988. An Introduction To Marine Ecology. 2th Edition.


Black Well Scientific Publications, Oxford London. Edin Burgh. Boston
Melbourne. 58-73 pp.

Coles, S. L; Jockiel, P. L. and Lewis, C.R. 1976. Thermal Tolerance in Tropical


Versus Subtropic Pacifc Reef Corals. Pac. Sci. 2: 156-166.

Edinger, E. N. And M. J. Risk. 2000. Effect of Land-Based Pollution on Central Java


Coral Reef. Journal of Coastal Development (3) 2 : pp. 593-613. Undip,
Semarang

English, S., C. Wilkinson and V. Baker. 1994. Survey Manual For Tropical Marine
Resurces. Australian Institute of Marine Science. Townville-Australia.368
pp.

Hantoro, W. S.; A. Manuputty; T.A. Soeprapto; Susilohadi; Masduki; Gatot,


Nurachmad; Manurung E; Madyo; Heri; dan Zulma. 1999. Uji (Pemeriksaan)
Lapangan Hasil Proses Klasifikasi Tidak Terawasi Sebaran Karang Pada
Citra Satelit: Lokasi Daerah Studi Kangean dan Sekitarnya. Pros. Lok.
Pengelolaan & Iptek Terumbu Karang Indonesia. Jakarta, 22-23 Nopember:
30-45.

Haryono, R. 2001. Struktur Komunitas pada Dataran Terumbu di Pulau Panjang,


Jepara. Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan UNDIP. Semarang. (Tidak
Dipublikasika). 71 hlm.

Harrison. P.L and C.C Wallace.1990. Reproduction, Dispersal, and Rekruitment of


Sceleractinian Coral. Elseiver. Netherland. Pp. 133-207.

Legendre, L and P. Legendre. 1983. Numerial Ecology. Elsevier Science Publication.


New York. Pp. 5-11.

Loya, Y. 1972. Community Structure and Species Diversity of Hermatypic Corals at


Eilat, Red Sea. International Journal on Life in Oceans and Coastal Waters,
vol. 13, No. 2, March 1972. Pp. 100-123. Stoony Brook, New york, USA.

61
62

Mapstone, G. M. 1990. Reef Corals and Sponge of Indonesia: Result of the


Indonesian-Dutch Snellius II Expedition. UNESCO Divison of Marine
Sciences. Pp. 1-87.

Morton, J. 1990. The Shore Ecology of Tropical Pasific, UNESCO, Jakarta. 12-15 pp.

Mudjiono. 1995. Telaah Stuktur Komunitas Moluska di Rataan Terumbu Gili


Trawangan, Gili Meno dan Gili Air, Lombok Barat (NTB). Pros. Lok.
Pengelolaan & Iptek Terumbu Karang Indonesia. Jakarta, 22-23 Nopember :
96-103.

Munasik; S. Widada; Nugroho. S. D. dan W. Widjatmoko. 2003. Kajian Potensi dan


Kondisi Terumbu Karang di Kabupaten Jepara. Laporan Akhir. Jurusan
Ilmu Kelautan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas
Diponegoro. Semarang. 58 hlm.

Nasir, Moh.1992. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta Timur. 430 hlm.

Nishihira, M. 1988. Field Guide to Hermatypic Coral of Japan. Tokyo University


Press, Japan. 263 pp.

Nybakken, J.N.1992. Biologi Laut; Suatu Pendekatan Ekologis. P.T. Gramedia.


Jakarta. (Terjemahan). 443 hlm.

Odum, E. P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. PT. Gramedia. Jakarta. (Terjemahan). 630


hlm.

Rosen, B. R. 1971. Principal Features of Reef Coral Ecology in Shlmlow Water


Environments, Mahe, Seychelles. Symposium of the Zoological Society of
London No. 28 : 163-183. Academic Press, London.

Saaroni, Y.; Sözer, R. dan Nurwatha, P. F. 2000. Panduan Identifikasi Jenis-jenis


Burung Dilindungi yang Sering Diperdagangkan. YPAL. Bandung. 55 hlm.

Salm. R. V. 1984. Marine and Coastal Protected Area. A Guide for Planner and
Manager IUCN. Pp. 73-80.

Setiadi. A dan Edward K. 1995. Studi Pendahuluan Kondisi Hidrologi Ekosistem


Terumbu Karang di Perairan Bunaken dan Ratatotok, Sulawesi Utara.
Proseding Seminar Nasional Pengelolaan Terumbu Karang. Jakarta, 10-12
Oktober 1995 : 148-159.
63

Suharsono. 1995. Metoda Penelitian Terumbu Karang. Pelatihan Metodologi


Penelitian Penentuan Kondisi Terumbu Karang. P3O-LIPI dan Universitas
Diponegoro. Jepara. Hlm. 75-81.

_________. 1996. Jenis-Jenis Karang yang Umum Dijumpai di Perairan Indonesia.


Proyek Peneletian dan Pengembangan Daerah Pantai. P3O-LIPI. Jakarta. 116
hlm.

_________. 1998. Kesadaran Masyarakat Tentang Terumbu Karang (Kerusakan


Karang di Indonesia). P3O-LIPI. Jakarta. 77 hlm.

Sukarno. 1994. Ekosistem Terumbu Karang dan Masalah Pengelolaannya. Materi


Kursus Pelatihan Metodologi Penelitian Terumbu Karang P3O LIPI dan
Universitas Sam Ratulangi. Manado. 1-10 hlm.

Sumich, J. L. 1992. An Introduction to the Biology Marine of Life. Fifth Edition.


WmC. Brown Publishers. USA. Pp. 246-256.

Suprapto. 2002. Struktur Komunitas Karang Hermatipik pada Mikro-Atol Dataran


Terumbu Pulau Panjang, Jepara. Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan UNDIP.
Semarang. (Tidak Dipublikasikan). 100 hlm.

Supriharyono. 1990. Hubungan Tingkat Sedimentasi dengan Hewan Makrobenthos di


Perairan Muara Sungai Morodemak, Kab. Dati II Jepara. Laporan Penelitian.
Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro. Semarang (Tidak
Dipublikasikan). 42 hlm.

___________. 2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Djambatan. Jakarta.


118 hlm.

Suryono. C. A. dan Irwani. 1999. Bleaching pada Karang Galaxea fascicularis di


Perairan Jepara Sebagai Indikator Peningkatan Suhu Perairan. Majalah Ilmu
Kelautan. Universitas Diponegoro. Semarang. September, 15 (IV) : 154-157.

Tomascik, T.; A. J. Mah; A. Nontji and M. K. Moosa. 1997. The Ecology of


Indonesia Series. Volume VIII. The Ecology of Indonesian Seas. Part One:
vii-xiv, 1-642. Part Two: iii-v, 643-1388. Periplus Edition. Singapore.

Veron, J. E. N. 1986. Corals of Australia and The Indo Pacific. Angus and
Robertson, Sydney Australia, 644 pp.

______________. 2000. Corals of The World. Vol. I. Australian Institute of Marine


Science and CRR Qld Ltd. Australia. Pp. 1-463.
64

Lampiran 1. Jumlah koloni bebas karang (Ordo Scleratinia) yang ditemukan di


Perairan Pulau Panjang, Jepara.

LIFE STASIUN
NO. SPESIES
FORM 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah
1 Acopora aspera ACB 27 3 7 0 1 6 1 45
2 A. humilis ACB 0 0 0 1 2 0 0 3
3 A. hyacinthus ACT 0 0 0 0 1 0 0 1
4 A. minuta ACE 0 1 0 0 0 0 0 1
5 A. nobilis ACB 0 0 0 0 0 0 2 2
6 Coscinaria exesa CS 0 0 0 0 0 0 0 0
7 Cyphastrea chalcidicum CM 7 2 3 5 0 2 1 20
8 C. serailia CM 1 0 2 1 0 1 0 5
9 Diploastrea heliopora CM 0 0 0 0 1 0 0 1
10 Euphyllia ancora CM 0 0 0 0 1 0 0 1
11 E. cristata CM 1 0 0 0 0 0 0 1
12 Favia lizardensis CM 3 0 0 0 3 3 0 9
13 F. pallida CM 3 1 1 0 0 2 0 7
14 F. speciosa CM 2 1 1 0 2 2 0 8
15 Favites abdita CM 3 10 0 0 3 2 3 21
16 F. chinensis CM 5 9 0 0 10 1 0 25
17 F. flexuosa CM 3 18 2 0 9 13 2 47
18 Galaxea fascicularis CM 7 0 23 0 4 1 0 35
19 Goniastrea aspera CM 5 6 3 2 8 3 0 27
20 G. pectinata CM 4 1 0 1 4 2 2 14
21 Goniopora lobata CM 21 6 2 2 15 4 2 52
22 G. stokesi CM 6 0 1 1 2 1 0 11
23 Hydnophora exesa CM 1 0 0 2 3 1 0 7
24 H. rigida CM 1 0 0 9 0 0 0 10
25 Leptoria phrygia CM 1 0 0 0 0 0 0 1
26 Montipora digitata CB 9 0 4 0 2 0 0 15
27 M. hispida CE 0 0 0 0 31 0 0 31
28 M. venosa CE 0 1 1 12 2 0 0 16
29 Pavona decussata CF 0 0 4 0 0 0 0 4
30 Pectinia paeonia CM 8 2 3 1 3 2 1 20
31 Platygira lamellina CM 0 0 0 0 0 2 0 2
32 P. pini CM 3 1 0 2 1 2 0 9
33 P. sinensis CM 8 6 3 5 7 6 0 35
34 P. verweyi CM 5 2 0 1 1 0 0 9
35 Pocillopora damicornis CS 2 1 1 0 3 2 2 11
36 Podabacia crustacea CMR 0 0 0 1 0 0 0 1
37 Polyphyllia talpina CM 0 0 0 0 0 1 0 1
38 Porites cylindrica CM 24 2 0 0 3 2 3 34
39 P. lobata CM 7 102 39 66 5 4 1 224
40 P. lutea CM 18 36 14 4 7 12 10 101
41 P. rus CE 0 0 0 2 9 14 0 25
42 Stylophora pistillata CS 9 1 1 0 0 0 0 11
43 Symphyllia recta CM 0 0 0 1 2 0 0 3
44 Turbinaria peltata CM 0 0 0 1 1 0 0 2
65

Lampiran 2. Nilai rerata variabel fisik-biologi perairan pada setiap stasiun


penelitian yang digunakan dalam Analisi Komponen Utama.

STASIUN C A S RG JL PT
1 67.542 3.333 39.871 3.687 28 38.84
2 46.385 3.333 17.187 2.364 21 14.96
3 32.802 3.333 17.187 3.085 19 16.84
4 52.167 3.333 17.187 3.609 27 9.45
5 31.500 5.000 45.701 4.005 30 19.36
6 55.000 3.333 45.701 3.569 25 14.33
7 51.502 3.333 27.278 2.644 13 19.92

C = Kecerahan (%)
A = Kecepatan arus (cm/detik)
S = Laju sedimentasi (g/m2/hari)
RG = Keanekaragaman
JL = Jumlah spesies
P = Persen kover (%)
66

Lampiran 3. Hasil Analisis Komponen Utama karakteristik fisik-biologi perairan

A. semi-matik korelasi antar variabel fisik-biologi


B. akar ciri dan persentase ragam

A.

kecerahan arus sedimentasi H’ Jum. sps % kover

Kecerahan 1.000 -.578 .191 .035 .092 .492


Arus -.578 1.000 .513 .532 .496 .012
Sedimentasi .191 .513 1.000 .652 .505 .431
keanekaragaman .035 .532 .652 1.000 .836 .218
jumlah spesies .092 .496 .505 .836 1.000 .183
persen kover .492 .012 .431 .218 .183 1.000

B.
Varians
Componen Akar ciri Kumulatif
%
1 2.881 48.013 48.013
2 1.766 29.433 77.446
3 .721 12.023 89.468
4 .390 6.497 95.965
5 .169 2.814 98.779
6 7.326E-02 1.221 100.000
67

Lampiran 4. Hasil Analisis Faktorial Koresponden antara spesies karang dengan


stasiun.

A. Tabel kualitas representasi (kosinus kuadrat) dan kontribusi relatif r untuk


stasiun dari 2 dimensi (sumbu).

Row Marginal Dim


Profile 1 2
1 .213 -.661 .988
2 .234 .662 -.102
3 .127 .480 .576
4 .132 1.253 -.512
5 .161 -1.031 -1.241
6 .100 -.604 -.123
7 .033 -.429 .582

B. Tabel kualitas representasi (kosinus kuadrat) dan kontribusi relatif r untuk


spesies dari 2 dimensi (sumbu).

Column Marginal Dim


Profile 1 2

1 A1 .050 -.605 1.177


2 A2 .003 -.418 -1.823
3 A3 .001 -1.597 -2.267
4 A4 .001 1.026 -.186
5 A5 .002 -.665 1.062
6 C1 .001 1.026 -.186
7 Cy1 .022 .214 .568
8 Cy2 .006 .293 .550
9 D1 .001 -1.597 -2.267
10 Ep1 .001 -1.597 -2.267
11 Ep2 .001 -1.023 1.805
12 F1 .010 -1.185 -.229
13 F2 .008 -.453 .833
14 F3 .009 -.668 -.063
15 Fa1 .023 -.070 -.024
16 Fa2 .028 -.512 -.622
17 Fa3 .052 -.234 -.362
18 G1 .039 .074 .787
19 Go1 .030 -.312 -.356
20 Go2 .015 -.765 -.092
21 Gl1 .057 -.750 .082
22 Gs1 .012 -.690 .563
23 H1 .008 -.410 -1.013
24 H2 .011 1.644 -.660
25 L1 .001 -1.023 1.805
26 M1 .017 -.629 1.061
27 M2 .034 -1.597 -2.267
28 M3 .018 1.366 -.930
29 P1 .004 .743 1.052
30 Pe1 .022 -.465 .505
31 Pl1 .002 -.936 -.224
68

Lanjutan Lampiran 4.

32 Pl2 .010 -.181 .072


33 Pl3 .039 -.197 -.154
34 Pl4 .010 -.302 .606
35 Po1 .012 -.752 -.059
36 Po2 .001 1.941 -.934
37 Py1 .001 -.936 -.224
38 Pc1 .037 -.916 1.144
39 Plob1 .246 1.081 -.170
40 Plut1 .111 .075 .286
41 Prus .028 -.944 -1.016
42 Sp1 .012 -.676 1.555
43 Sy1 .003 -.418 -1.823
44 T1 .002 .172 -1.601

KETERANGAN :
1. Acopora aspera 23. Hydnophora exesa
2. A. humilis 24. H. Rigida
3. A. hyacinthus 25. Leptoria phrygia
4. A. minuta 26. Montipora digitata
5. A. nobilis 27. M. Hispida
6. Coscinaria exesa 28. M. Venosa
7. Cyphastrea chalcidicum 29. Pavona decussata
8. C. Serailia 30. Pectinia paeonia
9. Diploastrea heliopora 31. Platygira lamellina
10. Euphyllia ancora 32. P. pini
11. E. Cristata 33. P. sinensis
12. Favia lizardensis 34. P. verweyi
13. F. pallida 35. Pocillopora damicornis
14. F. speciosa 36. Podabacia crustacea
15. Favites abdita 37. Polyphyllia talpina
16. F. chinensis 38. Porites cylindrica
17. F. flexuosa 39. P. lobata
18. Galaxea fascicularis 40. P. lutea
19. Goniastrea aspera 41. P. rus
20. G. pectinata 42. Stylophora pistillata
21. Goniopora lobata 43. Symphyllia recta
22. G. stokesi 44. Turbinaria peltata
69

Lampiran 5. Hasil penghitungan nilai indeks pada setiap stasiun pengamatan.

Stasiun pengamatan 1
Total
NO. SPESIES %COVER C Log Li/L H' Hmaks E
Panjang (m)
1 Acropora aspera 1476 17.95% 0.032 -2.478 0.445 4.907 0.751
2 Cyphastrea chalcidicum 169 2.05% 0.000 -5.605 0.115
3 Cyphastrea serailia 9 0.11% 0.000 -9.836 0.011
4 Euphyllia cristata 7 0.09% 0.000 -10.198 0.009
5 Favia 8 0.10% 0.000 -10.006 0.010
6 Favia lizardensis 99 1.20% 0.000 -6.376 0.077
7 Favia pallida 30 0.36% 0.000 -8.099 0.030
8 Favia speciosa 32 0.39% 0.000 -8.006 0.031
9 Favites abdita 27 0.33% 0.000 -8.251 0.027
10 Favites chinensis 474 5.76% 0.003 -4.117 0.237
11 Favites flexuosa 100 1.22% 0.000 -6.362 0.077
12 Galaxea fascicularis 123 1.50% 0.000 -6.063 0.091
13 Goniastrea aspera 126 1.53% 0.000 -6.028 0.092
14 Goniastrea pectinata 86 1.05% 0.000 -6.579 0.069
15 Goniopora lobata 449 5.46% 0.003 -4.195 0.229
16 Goniopora stokesi 55 0.67% 0.000 -7.224 0.048
17 Hydnophora exesa 50 0.61% 0.000 -7.362 0.045
18 Hydnopora rigida 10 0.12% 0.000 -9.684 0.012
19 Leptoria phrygia 65 0.79% 0.000 -6.983 0.055
20 Montipora 8 0.10% 0.000 -10.006 0.010
21 Montipora digitata 961 11.69% 0.014 -3.097 0.362
22 Pectinia paeonia 161 1.96% 0.000 -5.675 0.111
23 Platygira pini 81 0.98% 0.000 -6.666 0.066
24 Platygira sinensis 259 3.15% 0.001 -4.989 0.157
25 Platygira verweyi 137 1.67% 0.000 -5.908 0.098
26 Pocillopora damicornis 40 0.49% 0.000 -7.684 0.037
27 Porites cylindrica 924 11.24% 0.013 -3.154 0.354
28 Porites lobata 161 1.96% 0.000 -5.675 0.111
29 Porites lutea 1737 21.12% 0.045 -2.243 0.474
30 Stylophora pistillata 360 4.38% 0.002 -4.514 0.198
JUMLAH 8224 0.004 3.687
70

Lanjutan Lampiran 5.

Stasiun Pengamatan 2
Total
NO. SPESIES %COVER C Log Li/L H' Hmaks E
Panjang (m)
1 Acropora aspera 36 0.86% 0.000 -6.862 0.059 4.392 0.538
2 Acropora minuta 7 0.17% 0.000 -9.225 0.015
3 Cyphastrea chalcidicum 8 0.19% 0.000 -9.032 0.017
4 Favia pallida 12 0.29% 0.000 -8.447 0.024
5 Favia speciosa 50 1.19% 0.000 -6.389 0.076
6 Favites abdita 56 1.34% 0.000 -6.225 0.083
7 Favites chinensis 43 1.03% 0.000 -6.606 0.068
8 Favites flexuosa 183 4.37% 0.002 -4.517 0.197
9 Goniastrea aspera 63 1.50% 0.000 -6.055 0.091
10 Goniastrea pectinata 4 0.10% 0.000 -10.032 0.010
11 Goniopora lobata 456 10.89% 0.012 -3.200 0.348
12 Montipora venosa 12 0.29% 0.000 -8.447 0.024
13 Pectinia paeonia 29 0.69% 0.000 -7.174 0.050
14 Platygira pini 5 0.12% 0.000 -9.710 0.012
15 Platygira sinensis 147 3.51% 0.001 -4.833 0.170
16 Platygira verweyi 72 1.72% 0.000 -5.862 0.101
17 Pocillopora damicornis 13 0.31% 0.000 -8.332 0.026
18 Porites cylindrica 72 1.72% 0.000 -5.862 0.101
19 Porites lobata 2303 54.98% 0.302 -0.863 0.475
20 Porites lutea 613 14.63% 0.021 -2.773 0.406
21 Stylophora pistillata 5 0.12% 0.000 -9.710 0.012
JUMLAH 4189 0.016 2.364
71

Lanjutan Lampiran 5.

Stasiun Pengamatan 3
Total
NO. SPESIES %COVER C Log Li/L H' Hmaks E
Panjang (m)
1 Acropora aspera 123 2.21% 0.000 -5.4976 0.12168 4.39232 0.70234
2 Cyphastrea chalcidicum 42 0.76% 0.000 -7.0478 0.05327
3 Euphyllia ancora 410 7.38% 0.005 -3.7606 0.27746
4 Favia 74 1.33% 0.000 -6.2306 0.08297
5 Favia pallida 12 0.22% 0.000 -8.8551 0.01912
6 Favia speciosa 20 0.36% 0.000 -8.1182 0.02922
7 favites 168 3.02% 0.001 -5.0478 0.1526
8 Favites abdita 88 1.58% 0.000 -5.9807 0.09471
9 Favites flexuosa 839 15.10% 0.023 -2.7276 0.41181
10 Goniastrea aspera 53 0.95% 0.000 -6.7122 0.06402
11 Goniopora lobata 18 0.32% 0.000 -8.2702 0.02679
12 Goniopora stokesi 40 0.72% 0.000 -7.1182 0.05124
13 Montipora digitata 19 0.34% 0.000 -8.1922 0.02801
14 Montipora venosa 275 4.95% 0.002 -4.3368 0.21462
15 Pavona decussata 146 2.63% 0.001 -5.2503 0.13794
16 Pectinia paeonia 270 4.86% 0.002 -4.3633 0.212
17 Platygira sinensis 54 0.97% 0.000 -6.6852 0.06496
18 Pocillopora damicornis 19 0.34% 0.000 -8.1922 0.02801
19 Porites lobata 1883 33.89% 0.115 -1.5613 0.52904
20 Porites lutea 969 17.44% 0.030 -2.5197 0.43938
21 Stylophora pistillata 35 0.63% 0.000 -7.3108 0.04605
JUMLAH 0.009 3.0849
72

Lanjutan Lampiran 5.

Stasiun Pengamatan 4
Total
NO. SPESIES %COVER C Log Li/L H' Hmaks E
Panjang (m)
1 Acropora humilis 29 0.77% 0.000 -7.027 0.054 4.907 0.735
2 Cyphastrea chalcidicum 449 11.88% 0.014 -3.074 0.365
3 Cyphastrea serailia 14 0.37% 0.000 -8.077 0.030
4 Favia 12 0.32% 0.000 -8.300 0.026
5 Favia lizardensis 62 1.64% 0.000 -5.930 0.097
6 Favia pallida 49 1.30% 0.000 -6.270 0.081
7 Favia speciosa 26 0.69% 0.000 -7.184 0.049
8 Favites abdita 44 1.16% 0.000 -6.425 0.075
9 Favites chinensis 139 3.68% 0.001 -4.766 0.175
10 Favites flexuosa 62 1.64% 0.000 -5.930 0.097
11 Favites X?? 25 0.66% 0.000 -7.241 0.048
12 Favites? 71 1.88% 0.000 -5.735 0.108
13 Goniastrea aspera 59 1.56% 0.000 -6.002 0.094
14 Goniastrea pectinata 12 0.32% 0.000 -8.300 0.026
15 Goniopora lobata 23 0.61% 0.000 -7.361 0.045
16 Goniopora stokesi 20 0.53% 0.000 -7.563 0.040
17 Heliopora coerulea 123 3.25% 0.001 -4.942 0.161
18 Hydnophora exesa 38 1.01% 0.000 -6.637 0.067
19 Montipora digitata 129 3.41% 0.001 -4.873 0.166
20 Montipora venosa 968 25.60% 0.066 -1.966 0.503
21 Pectinia paeonia 100 2.64% 0.001 -5.241 0.139
22 Platygira pini 46 1.22% 0.000 -6.361 0.077
23 Platygira sinensis 106 2.80% 0.001 -5.157 0.145
24 Platygira verweyi 23 0.61% 0.000 -7.361 0.045
25 Podabacia crustacea 79 2.09% 0.000 -5.581 0.117
26 Porites lobata 892 23.59% 0.056 -2.084 0.492
27 Porites lutea 87 2.30% 0.001 -5.442 0.125
28 Porites rus 40 1.06% 0.000 -6.563 0.069
29 Symphyllia recta 4 0.11% 0.000 -9.885 0.010
30 Turbinaria peltata 50 1.32% 0.000 -6.241 0.083
JUMLAH 3781 100.00% 0.005 3.609
73

Lanjutan Lampiran 5.

Stasiun Pengamatan 5
Total
NO. SPESIES %COVER C Log Li/L H' Hmaks E
Panjang (m)
1 Acropora aspera 55 0.89% 0.000 -6.815 0.061 5.044 0.794
2 Acropora humilis 40 0.65% 0.000 -7.275 0.047
3 Acropora hyacinthus 66 1.07% 0.000 -6.552 0.070
4 Diploastrea heliopora 10 0.16% 0.000 -9.275 0.015
5 Euphyllia ancora 11 0.18% 0.000 -9.137 0.016
6 Favia lizardensis 23 0.37% 0.000 -8.073 0.030
7 Favia speciosa 35 0.57% 0.000 -7.467 0.042
8 Favites 551 8.90% 0.008 -3.491 0.311
9 Favites abdita 26 0.42% 0.000 -7.896 0.033
10 Favites chinensis 107 1.73% 0.000 -5.855 0.101
11 Favites flexuosa 426 6.88% 0.005 -3.862 0.266
12 Galaxea fascicularis 63 1.02% 0.000 -6.619 0.067
13 Goniastrea aspera 211 3.41% 0.001 -4.876 0.166
14 Goniastrea pectinata 45 0.73% 0.000 -7.105 0.052
15 Goniopora lobata 781 12.61% 0.016 -2.987 0.377
16 Goniopora stokesi 26 0.42% 0.000 -7.896 0.033
17 Hydnophora exesa 51 0.82% 0.000 -6.924 0.057
18 montipora 535 8.64% 0.007 -3.533 0.305
19 Montipora digitata 78 1.26% 0.000 -6.311 0.079
20 Montipora hispida 907 14.64% 0.021 -2.772 0.406
21 Montipora venosa 110 1.78% 0.000 -5.815 0.103
22 Pectinia paeonia 111 1.79% 0.000 -5.802 0.104
23 Platygira pini 24 0.39% 0.000 -8.012 0.031
24 Platygira sinensis 299 4.83% 0.002 -4.373 0.211
25 Platygira verweyi 10 0.16% 0.000 -9.275 0.015
26 Pocillopora damicornis 258 4.17% 0.002 -4.585 0.191
27 Porites 37 0.60% 0.000 -7.387 0.044
28 Porites cylindrica 21 0.34% 0.000 -8.204 0.028
29 Porites lobata 933 15.06% 0.023 -2.731 0.411
30 Porites lutea 76 1.23% 0.000 -6.349 0.078
31 Porites rus 118 1.91% 0.000 -5.714 0.109
32 Symphyllia recta 125 2.02% 0.000 -5.631 0.114
33 Polyphyllia talpina 25 0.40% 0.000 -7.953 0.032
JUMLAH 6194 100.00% 0.003 4.005
74

Lanjutan Lampiran 5.

Stasiun Pengamatan 6
Total
NO. SPESIES %COVER C Log Li/L H' Hmaks E
Panjang (m)
1 Acropora aspera 185 4.97% 0.002 -4.332 0.215 4.700 0.759
2 Cyphastrea chalcidicum 105 2.82% 0.001 -5.149 0.145
3 Cyphastrea serailia 22 0.59% 0.000 -7.404 0.044
4 Favia lizardensis 42 1.13% 0.000 -6.471 0.073
5 Favia pallida 43 1.15% 0.000 -6.437 0.074
6 Favia speciosa 29 0.78% 0.000 -7.005 0.055
7 Favites 46 1.23% 0.000 -6.340 0.078
8 Favites abdita 109 2.93% 0.001 -5.095 0.149
9 Favites chinensis 4 0.11% 0.000 -9.863 0.011
10 Favites flexuosa 89 2.39% 0.001 -5.388 0.129
11 Galaxea fascicularis 10 0.27% 0.000 -8.541 0.023
12 Goniastrea aspera 142 3.81% 0.001 -4.714 0.180
13 Goniastrea pectinata 148 3.97% 0.002 -4.654 0.185
14 Goniopora lobata 66 1.77% 0.000 -5.819 0.103
15 Goniopora stokesi 15 0.40% 0.000 -7.957 0.032
16 Hydnophora exesa 13 0.35% 0.000 -8.163 0.028
17 Pectinia paeonia 57 1.53% 0.000 -6.031 0.092
18 Platygira lamellina 258 6.92% 0.005 -3.852 0.267
19 Platygira pini 18 0.48% 0.000 -7.693 0.037
20 Platygira sinensis 144 3.86% 0.001 -4.693 0.181
21 Pocillopora damicornis 15 0.40% 0.000 -7.957 0.032
22 Polyphyllia talpina 20 0.54% 0.000 -7.541 0.040
23 Porites cylindrica 36 0.97% 0.000 -6.693 0.065
24 Porites lobata 442 11.86% 0.014 -3.076 0.365
25 Porites lutea 805 21.60% 0.047 -2.211 0.478
26 Porites rus 863 23.16% 0.054 -2.110 0.489
JUMLAH 3726 0.005 3.569
75

Lanjutan Lampiran 5.

Stasiun Pengamatan 7
Total
NO. SPESIES %COVER C Log Li/L H' Hmaks E
Panjang (m)
1 Acropora aspera 10 1.00% 0.000 -6.638 0.067 3.700 0.714
2 Acropora nobilis 52 5.22% 0.003 -4.260 0.222
3 Cyphastrea chalcidicum 10 1.00% 0.000 -6.638 0.067
4 Favites abdita 68 6.83% 0.005 -3.873 0.264
5 Favites flexuosa 38 3.82% 0.001 -4.712 0.180
6 Goniastrea pectinata 47 4.72% 0.002 -4.405 0.208
7 Goniopora lobata 50 5.02% 0.003 -4.316 0.217
8 Pectinia paeonia 55 5.52% 0.003 -4.179 0.231
9 Platygira verweyi 68 6.83% 0.005 -3.873 0.264
10 Pocillopora damicornis 21 2.11% 0.000 -5.568 0.117
11 Porites cylindrica 60 6.02% 0.004 -4.053 0.244
12 Porites lobata 10 1.00% 0.000 -6.638 0.067
13 Porites lutea 507 50.90% 0.259 -0.974 0.496
JUMLAH 996 0.022 2.644
76

Lampiran 6. Variasi duduk tengah dan tunggang pasang surut harian Bulan
Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli 2003.

152
151
150 149
148 148
148 148 147
Ketinggian (cm)

146
145
144 144 144 144
144 143
144 143
143 143 143 143
142 142 142 142
141 141
140 141 140
140
139 139
138 138
137 136
136
134 134
132
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31

Gambar 1. Variasi duduk tengah harian Bulan Januari 2003.

182 180
175
163 165 160 159
155 158 155 155 154 154
151 153 149 150
Ketinggian (cm)

135 139 140

119
115
105
95

75
65 69
59 60 60 57
55 54 56 53
49
35
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31

Tanggal pengamatan

Gambar 2. Variasi duduk tengah harian Bulan Februari 2003.

68
67
65
64 64 64 64
62
Ketinggian (cm)

61 61 61
60 60
59
58 59 59
58 58 58 58
57
56 55 56 56
55 55 55 55 55
53 54
53 53
52

48

44 44

40
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31

Gambar 3. Variasi duduk tengah harian Bulan Maret 2003.


77

Lanjutan Lampiran 5.

74
71 71 71
70 69
Ketinggian (cm)

68
67 67 67
66 66 66
65
64 64
63 62
62 61 61
61
59 59 59
58 58
57 57
56 56 56 56
55 55
54
51
50
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31

Gambar 4. Variasi duduk tengah harian Bulan April 2003.

72
70 71
70 69
68 68 68
66 66 67 66 67
66 65
65 65 65
64 64 64
63 63
62 62 62 62
60 61
60 59
58 58
56
55
54 54 53 54
52 52
50
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31

Gambar 5. Variasi duduk tengah harian Bulan Mei 2003.

59
58 58
57 57 56 56
56
55 55
Ketinggian (cm)

54
53 53 54 54 54 54 53
53 53
53 53 53
52
51 51 51
51 51 51
50
49 6 49
48 48 48
47 47

45
43
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31

Gambar 6. Variasi duduk tengah harian Bulan Juni 2003.

Sumber : PT. (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA III TG. EMAS


78

Lampiran 7. Keberadaan jenis karang keras yang ditemukan pada stasiun


pengamatan berdasarkan famili.

Suku Lokasi Pengamatan/Stasiun


No Lifeform
Jenis 1 2 3 4 5 6 7
Pocilloporidae
1 Pocillopora damicornis CS + + + - + + +
2 Stylophora pistillata CS + + + - - - -

Acroporidae
3 Montipora digitata CB + - + - + - -
4 M. hispida CE - - - - + - -
5 M. venosa CE - + + + + - -
6 Acopora aspera ACB + + + - + + +
7 A. humilis ACB - - - + + - -
8 A. hyacinthus ACT - - - - + - -
9 A. minuta ACE - + - - - - -
10 A. nobilis ACB - - - - - - +

Poritidae
11 Porites cylindrica CB + + - - + + +
12 Porites lobata CM + + + + + + +
13 Porites lutea CM + + + + + + +
14 Porites rus CE - - - + + + -
15 Goniopora lobata CM + + + + + + +
16 Goniopora stokesi CM + - + + + + -
Siderastreidae
17 Coscinaria exesa CM - - - - - - -

Fungiidae
18 Polyphyllia talpina CMR - - - - - + -
19 Podabacia crustacea CMR - - - + - - -

Agariciidae
20 Pavona decussata CF - - + - - - -

Oculinidae
21 Galaxea fascicularis CM + - + - + + -

Pectiniidae
22 Pectinia paeonia CF + + + + + + +

Mussidaea
23 Symphyllia recta CM - - - + + - -

Merulinidae
24 Hydnopora rigida CB + - - + - - -
79

Lanjutan Lampiran 7.

25 Hydnophora exesa CM + - - + + + -

Faviidae
26 Cyphastrea chalcidicum CM + + + + - + +
27 Cyphastrea serailia CM + - + + - + -
28 Diploastrea heliopora CM - - - - + - -
29 Favia lizardensis CM + - - - + + -
30 Favia pallida CM + + + - - + -
31 Favia speciosa CM + + + + - - +
32 Favites abdita CM + + - - + + +
33 Favites chinensis CM + + - - + + -
34 Favites flexuosa CM + + + - + + +
35 Goniastrea aspera CM + + + + + + -
36 Goniastrea pectinata CM + + - + + + +
37 Leptoria phrygia CM + - - - - - -
38 Platygira lamellina CM - - - - - + -
39 Platygira pini CM + + - + + + -
40 Platygira sinensis CM + + + + + + -
41 Platygira verweyi CM + + - + + - -

Caryophylliidae
42 Euphyllia ancora - - - - + - -
43 Euphyllia cristata + - - - - - -

Dendrophylliidae
44 Turbinaria peltata - - - + + - -

Helioporidae
45 Heliopora coerulea CHL - - - - - - -
80

RIWAYAT HIDUP

Oktiyas Muzaky Luthfi, putra pertama dari pasangan

Bapak Kasmin Ar. SH dan Ibu Nuryati dari dua bersaudara,

lahir pada 31 Oktober 1979 di Ponorogo, Jawa Timur. Pada

tahun 1992 penulis menamatkan Sekolah Dasar Tarbiyatul

Islam di Desa Kertosari Ponorogo. Kemudian melanjutkan

ke SMP Negeri 1 Ponorogo dan lulus pada tahun 1995, pada tahun 1998

menamatkan sekolah menengah umum pada SMU Negeri 1 Ponorogo dan pada

tahun yang sama diterima pada Jurusan Ilmu Kelautan Universtas Diponegoro

melalui jalur UMPTN.

Selama masa kuliah, penulis aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan di

lingkungan Universitas Diponegoro antara lain : Forum Komonikasi Mahasiswa

Islam (FKMI) Kelautan, HUMAS Marine Diving Club, dan Redaksi Majalah Ilmu

Kelautan ‘Abyss’. Selain mengikuti kegiatan di dalam lingkungan kampus,

penulis juga aktif di organisasi kemahasiswaan HMI-MPO Semarang.

Kegiatan lain yang pernah diikuti adalah Diklat SAR Laut se-Jateng

(2001) di Jepara, Coral Reef Fishery Training di Denpasar Bali (2001),

dilanjutkan Coral Reef Monitoring di Riung Fhlores, Nusa Tenggara Timur

(2001) dan Fisheries Data Analysis and Processing di Denpasar, Bali (2002).

Penulis telah menyelesaikan praktek kerja lapangan dan lulus pada tanggal

21 Januari 2002, dengan judul Studi Tentang Planulae yang Dihasilkan dari

Koloni Karang Pocillopora damicornis pada Kedalaman yang Berbeda di

Perairan Pulau Panjang, Jepara.


28

Umpan Balik Karang Keras di Pulau Panjang, Jepara

ST I ST II ST III ST IV ST V ST VI ST VII

Faktor Oseanografi :
1. Suhu
2. Salinitas
3. Kecerahan
Pengambilan data 4. Kecepatan arus
5. Sedimentasi
6. Kedalaman
7. Pasut

Posisi geografis Identifikasi jenis karang Kondisi perairan


keras

Pengolahan data

Kartografi Tabulasi

Analisa data

Kesimpulan

Keterangan : : Hubungan tidak langsung


: Hubungan langsung

Gambar 4. Bagan alur penelitian


HYDROZOA ANTHOZOA

HYDROIDA
MILLEPORIN ZOANTHARI OCTOCORALLIA

STYLASTERI GORGONACEA PENNATULACE

SCLERACTINIA

C O E N O T H E C A L IA

ANTIPATHARI
ACTINIARIA CERIANTHARI

ZOANTHINIARIA STOLONIFERA ALCYONACEA TELESTACEA

Mather dan Bennett 1993 dalam Tomascik et al. 1997

Gambar 1. Klasifikasi umum dari Cnidaria


13
Keterangan Gambar :
1 Acopora aspera
2 A. humilis
3 A. hyacinthus
Back-reef Reef flat Reef crest Reef slope Fore reef-slope 4 A. minuta
5 A. nobilis
0 MSL
6 Coscinaria exesa
1 7 9 10 12 7 Cyphastrea chalcidicum
8
1 2 3 4 8 C. serailia

7, 12, 15, 17, 18, 20, 21, 33, 38, 40, 42


11

14, 35

13, 14, 38, 39, 40


1

33, 35
18, 21, 42
1, 24, 26
5
1

1, 8, 26, 30

1, 21, 40
6
9 Diploastrea heliopora

7, 20, 21,38, 39,40


14 16

7, 18, 20, 21, 33, 38


15 17 19
18
10 Euphyllia ancora

16, 18, 21, 33


13
2

1, 17, 19, 21, 30, 33

17, 25, 28

32, 38, 40, 42

12, 18, 32, 34, 38, 40


7, 12, 19, 21, 33, 34, 38, 40, 42
33, 35
20 11 E. cristata
12 Favia lizardensis

18, 30, 32, 38, 39, 40


3
13 F. pallida
4 14 F. speciosa
21
15 Favites abdita

11, 13, 15, 16, 21, 22, 23, 30, 33, 38, 39, 43
16 F. chinensis
5
17 F. flexuosa
Kedalaman (m)

22
18 Galaxea fascicularis

7, 13, 22, 30, 36


6
19 Goniastrea aspera
20 G. pectinata
7 21 Goniopora lobata
22 G. stokesi
8 23 Hydnophora exesa
24 H. rigida
9 25 Leptoria phrygia
26 Montipora digitata
10 27 M. hispida
28 M. venosa
11 29 Pavona decussata
30 Pectinia paeonia
12 31 Platygira lamellina
32 P. pini
33 P. sinensis
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120
34 P. verweyi
Jarak dari tepi pantai (m) 35 Pocillopora damicornis
36 Podabacia crustacea
Keterangan Gambar tambahan : 37 Polyphyllia talpina
38 Porites cylindrica
10, 12, 13 : S, Lamun 11 : Rubble/ pecahan karang 17 : S/ Pasir 39 P. lobata
40 P. Lutea
41 P. rus
42 Stylophora pistillata
Gambar 6. Profil vertikal topografi dasar perairan Stasiun Pengamatan 1, beserta karang keras yang menyebar 43 Symphyllia recta
pada setiap transek pengamatan 44 Turbinaria peltata

33
Keterangan Gambar :
1 Acopora aspera
2 A. humilis
3 A. hyacinthus
4 A. minuta
Fore reef-slope 5 A. nobilis
0
MSL 6 Coscinaria exesa
14 15 16 17 18 19
20 7 Cyphastrea chalcidicum
12 13 21
1
3 4 5 6 8 9
10 11
22 8 C. serailia
1 2 7

RUBBLE
39, 40

15, 16, 17, 19, 20, 39


15, 16, 39, 40
9 Diploastrea heliopora

15, 17, 19, 33, 39, 40


17, 39, 40
39, 40
24

16, 39, 40
23

25 10 Euphyllia ancora
2
11 E. cristata

19, 33, 34, 39, 42


12 Favia lizardensis
3
13 F. pallida
14 F. speciosa
4
15 Favites abdita
Kedalaman (m)

16 F. chinensis
5 26
17 F. flexuosa

17, 21, 38
18 Galaxea fascicularis
6 19 Goniastrea aspera
27 20 G. pectinata
7 21 Goniopora lobata
28 22 G. stokesi
8 23 Hydnophora exesa
24 H. rigida
9 25 Leptoria phrygia
26 Montipora digitata
10 27 M. hispida
28 M. venosa
11 29 Pavona decussata
30 Pectinia paeonia
31 Platygira lamellina
12
32 P. pini
33 P. sinensis
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 34 P. verweyi
35 Pocillopora damicornis
Jarak dari tepi pantai (m)
36 Podabacia crustacea
37 Polyphyllia talpina
38 Porites cylindrica
39 P. lobata
40 P. Lutea
Gambar 7. Profil vertikal topografi dasar perairan Stasiun Pengamatan 2, beserta karang keras yang menyebar 41 P. rus
pada setiap transek pengamatan 42 Stylophora pistillata
34
Keterangan Gambar :
1 Acopora aspera
2 A. humilis
3 A. hyacinthus
Back-reef Reef flat Reef crest Fore reef-slope
4 A. minuta
MSL 5 A. nobilis
0
16 17 18 19 20 21
1
15 22 6 Coscinaria exesa
7 13 23
1 4 6 8 9 10
17

2 3 5 11 12 14
7 Cyphastrea chalcidicum

RUBBLE
RUBBLE
24

1, 14, 39
26, 39
25 28 8 C. serailia
2 26 27
9 Diploastrea heliopora

1, 33, 39
1, 35, 40
10 Euphyllia ancora
3
11 E. cristata
4 12 Favia lizardensis
Kedalaman (m)

29 13 F. pallida
5 14 F. speciosa
30 15 Favites abdita
6 16 F. chinensis
17 F. flexuosa
7 18 Galaxea fascicularis
19 Goniastrea aspera
8
31 20 G. pectinata

30
9 21 Goniopora lobata
22 G. stokesi
10 32 23 Hydnophora exesa

30
24 H. rigida
11 33
25 Leptoria phrygia
26 Montipora digitata
12 27 M. hispida
28 M. venosa
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 29 Pavona decussata
Jarak dari tepi pantai (m) 30 Pectinia paeonia
31 Platygira lamellina
32 P. pini
33 P. sinensis
34 P. verweyi
35 Pocillopora damicornis
36 Podabacia crustacea
Gambar 8. Profil vertikal topografi dasar perairan Stasiun Pengamatan 3, beserta karang keras yang menyebar 37 Polyphyllia talpina
pada setiap transek pengamatan 38 Porites cylindrica
39 P. lobata
40 P. Lutea
35
Keterangan Gambar :
1 Acopora aspera
2 A. humilis
3 A. hyacinthus
4 A. minuta
5 A. nobilis
MSL
0 6 Coscinaria exesa
19 20 21 22 23 24
1 2 4 10 13 14 15 16 18 25 7 Cyphastrea chalcidicum
3 5 6 7 8 11 12 26
39

1 9 17 27 8 C. serailia

39, 40
39
28
9 Diploastrea heliopora
29 30
2 10 Euphyllia ancora
11 E. cristata
3 31 12 Favia lizardensis
13 F. pallida
32
Kedalaman (m)

4 33
14 F. speciosa
34 15 Favites abdita
5 35 16 F. chinensis
17 F. flexuosa
6 36
18 Galaxea fascicularis
37 39 40
38
19 Goniastrea aspera
7
20 G. pectinata
21 Goniopora lobata
8
22 G. stokesi
23 Hydnophora exesa
9
24 H. rigida
25 Leptoria phrygia
10
26 Montipora digitata
27 M. hispida
11
28 M. venosa
29 Pavona decussata
12
30 Pectinia paeonia
31 Platygira lamellina
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 32 P. pini
Jarak dari tepi pantai (m) 33 P. sinensis
34 P. verweyi
35 Pocillopora damicornis
36 Podabacia crustacea
37 Polyphyllia talpina
38 Porites cylindrica
39 P. lobata
Gambar 9. Profil vertikal topografi dasar perairan Stasiun Pengamatan 4, beserta karang keras yang menyebar 40 P. Lutea
pada setiap transek pengamatan 41 P. rus
42 Stylophora pistillata
36
Keterangan Gambar :
1 Acopora aspera
2 A. humilis
3 A. hyacinthus
4 A. minuta
5 A. nobilis
6 Coscinaria exesa
Fore reef-slope
7 Cyphastrea chalcidicum
MSL 8 C. serailia
0
8 9 10 11 12 13 14
6 7
15
9 Diploastrea heliopora
1 5

RUBBLE
3

RUBBLE
RUBBLE
1
2 4 16 17
18 10 Euphyllia ancora
11 E. cristata
20 21
2 19 22 23
12 Favia lizardensis
13 F. pallida

14, 15, 20, 27, 32, 33, 35, 40

1, 15, 16, 19, 27, 38, 40, 41


3 24 14 F. speciosa
25 15 Favites abdita
4 26 16 F. chinensis
Kedalaman (m)

27
17 F. flexuosa
5
18 Galaxea fascicularis
28
19 Goniastrea aspera
6
20 G. pectinata
21 Goniopora lobata
7
29 30
22 G. stokesi
23 Hydnophora exesa
8
24 H. rigida
9
25 Leptoria phrygia
26 Montipora digitata
10
27 M. hispida
31 32
28 M. venosa
11 29 Pavona decussata
30 Pectinia paeonia
12 31 Platygira lamellina
32 P. pini
33 P. sinensis
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190
34 P. verweyi
Jarak dari tepi pantai (m)
35 Pocillopora damicornis
36 Podabacia crustacea
37 Polyphyllia talpina
38 Porites cylindrica
Gambar 10. Profil vertikal topografi dasar perairan Stasiun Pengamatan 5, beserta karang keras yang menyebar 39 P. lobata
40 P. Lutea
pada setiap transek pengamatan 41 P. rus
42 Stylophora pistillata 37
Keterangan Gambar :
1 Acopora aspera
2 A. humilis
3 A. hyacinthus
4 A. minuta
Fore reef-slope 5 A. nobilis
6 Coscinaria exesa
0 MSL 7 Cyphastrea chalcidicum
6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
1 2 3 4 16 8 C. serailia

RUBBLE
RUBBLE
5
1 17 18 9 Diploastrea heliopora
17
8, 14, 15, 17, 19, 40
20 21
10 Euphyllia ancora
2 19 22
23
11 E. cristata
12 Favia lizardensis
3 13 F. pallida
24 14 F. speciosa
4 15 Favites abdita

1, 7, 12, 13, 17, 20, 22, 35


16 F. chinensis
Kedalaman (m)

5 17 F. flexuosa
25 18 Galaxea fascicularis
6 26
19 Goniastrea aspera
20 G. pectinata

30, 37
7 21 Goniopora lobata
22 G. stokesi
8 23 Hydnophora exesa
24 H. rigida
9 25 Leptoria phrygia
26 Montipora digitata
27 M. hispida
10
28 M. venosa
29 Pavona decussata
11
30 Pectinia paeonia
31 Platygira lamellina
32 P. pini
33 P. sinensis
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 34 P. verweyi
Jarak dari tepi pantai (m) 35 Pocillopora damicornis
36 Podabacia crustacea
37 Polyphyllia talpina
38 Porites cylindrica
39 P. lobata
Gambar 11. Profil vertikal topografi dasar perairan Stasiun Pengamatan 6, beserta karang keras yang menyebar 40 P. Lutea
pada setiap transek pengamatan 41 P. rus
42 Stylophora pistillata
38
Keterangan Gambar :
1 Acopora aspera
2 A. humilis
Fore reef-slope 3 A. hyacinthus
4 A. minuta
MSL
0 5 A. nobilis
1 3
6 Coscinaria exesa
2 4
1 7 Cyphastrea chalcidicum

15, 17, 20, 34, 35, 38, 39, 40


40
40
8 C. serailia

1, 7, 17, 38, 39
2 9 Diploastrea heliopora
5 10 Euphyllia ancora
3 11 E. cristata

5, 21, 30
12 Favia lizardensis
4 13 F. pallida
14 F. speciosa
15 Favites abdita
5
16 F. chinensis
17 F. flexuosa
6
18 Galaxea fascicularis
19 Goniastrea aspera
7
20 G. pectinata
21 Goniopora lobata
8 22 G. stokesi
23 Hydnophora exesa
9 24 H. rigida
25 Leptoria phrygia
10 26 Montipora digitata
27 M. hispida
11 28 M. venosa
29 Pavona decussata
12 30 Pectinia paeonia
31 Platygira lamellina
32 P. pini
10 20 30 40 33 P. sinensis
Jarak dari tepi pantai (m) 34 P. verweyi
35 Pocillopora damicornis
36 Podabacia crustacea
37 Polyphyllia talpina
38 Porites cylindrica
Gambar 12. Profil vertikal topografi dasar perairan Stasiun Pengamatan 7, beserta karang keras yang menyebar 39 P. lobata
pada setiap transek pengamatan
39
9273400

ST. V
ST. VI JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
ST. IV
UNIVERSITAS DIPONEGORO
9273200

SEMARANG
2003
PETA LOKASI PENELITIAN
PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA
ST. III

ST. VII
OKTIYAS MUZAKY LUTHFI
9273000

ST. II K2D098235

LEGENDA :

6 31'
Jarak Karang Keras Mulai Ditemukan
ST. I
Tj. Tumpuk
S. Barus
Total Panjang Transek
32'
9272800

Garis Pantai
Tj. Kuniran

33' Wilayah Perairan


S. Tambangan
P. Panjang

SUMBER :
34'

Tj. Kelor

JEPARA HASIL PENELITIAN FEBRUARI 2003


35'

UTARA SKALA (M)


36'

Teluk Awur

110 37' 38' 39' 40' 41'


B T 0 50 100 150 200
9273600
9273400

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2003
9273200

PETA SEBARAN KARANG KERAS


P. Panjang
PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA

OKTIYAS MUZAKY LUTHFI


K2D098235
9273000

LEGENDA :

Garis pantai
6 31'
Wilayah perairan
S. Barus

32'
Tj. Tumpuk
Wilayah karang hidup
Tj. Kuniran

Wilayah karang mati


9272800

33'

S. Tambangan
P. Panjang
34'
SUMBER :
Tj. Kelor

JEPARA
HASIL PENELITIAN FEBRUARI 2003
35'

UTARA SKALA (M)


36'

Teluk Awur

110 37' 38' 39' 40' 41' B T 0 50 100 150 200

458400 458600 458800 459000 459200

Gambar 5. Peta sebaran karang keras di perairan Pulau Panjang, Jepara


32
9273600

Stasiun V

St
as

IV
iu
n n
9273400

iu
VI
as
St

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2003
9273200

PETA LOKASI PENELITIAN


PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA

OKTIYAS MUZAKY LUTHFI

Stasiun VII
K2D098235
9273000

LEGENDA :
Sta
siun
III Jarak karang keras mulai ditemukan
Sta Total panjang transek
siun
6 31'
II Garis pantai
Tj. Tumpuk
S. Barus
Wilayah perairan
32'
Sta
siun Wilayah terumbu karang
I
9272800

Tj. Kuniran

33'

SUMBER :
HASIL PENELITIAN FEBRUARI 2003
S. Tambangan
P. Panjang
34'

Tj. Kelor

JEPARA UTARA SKALA (M)


35'

36'
B T 0 50 100 150 200
Teluk Awur

110 37' 38' 39' 40' 41'

458400 458600 458800 459000 459200

Gambar 3. Peta lokasi penelitian


20
9273600
9273400

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2003
9273200

PETA LOKASI PENELITIAN


PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA

OKTIYAS MUZAKY LUTHFI


K2D098235
9273000

LEGENDA :
Jarak Karang Keras Mulai Ditemukan
6 31' Total Panjang Transek
S. Barus
Garis Pantai
Tj. Tumpuk
32' Wilayah Perairan
Tj. Kuniran Wilayah terumbu karang
9272800

33'

P. Panjang
S. Tambangan SUMBER :
34'

Tj. Kelor HASIL PENELITIAN FEBRUARI 2003


JEPARA
35'
UTARA SKALA (M)

36'

B
Teluk Awur

T 0 50 100 150 200


110 37' 38' 39' 40' 41'

458400 458600 458800 459000 459200


9273600
9273400

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2003
9273200

PETA SEBARAN KARANG KERAS


P. Panjang
PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA

OKTIYAS MUZAKY LUTHFI


K2D098235
9273000

LEGENDA :

Garis pantai
6 31'
Wilayah perairan
S. Barus

32'
Tj. Tumpuk
Wilayah karang hidup
Tj. Kuniran

Wilayah karang mati


9272800

33'

S. Tambangan
P. Panjang
34'
SUMBER :
Tj. Kelor

JEPARA
HASIL PENELITIAN FEBRUARI 2003
35'

UTARA SKALA (M)


36'

Teluk Awur

110 37' 38' 39' 40' 41' B T 0 50 100 150 200

458400 458600 458800 459000 459200

Gambar 5. Peta sebaran karang keras di perairan Pulau Panjang, Jepara


32
9273600

Stasiun V

St
as

IV
iu
n n
9273400

iu
VI
as
St

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2003
9273200

PETA LOKASI PENELITIAN


PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA

OKTIYAS MUZAKY LUTHFI

Stasiun VII
K2D098235
9273000

LEGENDA :
Sta
siun
III Jarak karang keras mulai ditemukan
Sta Total panjang transek
siun
6 31'
II Garis pantai
Tj. Tumpuk
S. Barus
Wilayah perairan
32'
Sta
siun Wilayah terumbu karang
I
9272800

Tj. Kuniran

33'

SUMBER :
HASIL PENELITIAN FEBRUARI 2003
S. Tambangan
P. Panjang
34'

Tj. Kelor

JEPARA UTARA SKALA (M)


35'

36'
B T 0 50 100 150 200
Teluk Awur

110 37' 38' 39' 40' 41'

458400 458600 458800 459000 459200

Gambar 3. Peta lokasi penelitian


20
9273600
9273400

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2003
9273200

PETA LOKASI PENELITIAN


PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA

OKTIYAS MUZAKY LUTHFI


K2D098235
9273000

LEGENDA :
Jarak Karang Keras Mulai Ditemukan
6 31' Total Panjang Transek
S. Barus
Garis Pantai
Tj. Tumpuk
32' Wilayah Perairan
Tj. Kuniran Wilayah terumbu karang
9272800

33'

P. Panjang
S. Tambangan SUMBER :
34'

Tj. Kelor HASIL PENELITIAN FEBRUARI 2003


JEPARA
35'
UTARA SKALA (M)

36'

B
Teluk Awur

T 0 50 100 150 200


110 37' 38' 39' 40' 41'

458400 458600 458800 459000 459200


9273600
9273400

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2003
9273200

PETA SEBARAN KARANG KERAS


P. Panjang
PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA

OKTIYAS MUZAKY LUTHFI


K2D098235
9273000

LEGENDA :

Garis pantai
6 31'
Wilayah perairan
S. Barus

32'
Tj. Tumpuk
Wilayah karang hidup
Tj. Kuniran

Wilayah karang mati


9272800

33'

S. Tambangan
P. Panjang
34'
SUMBER :
Tj. Kelor

JEPARA
HASIL PENELITIAN FEBRUARI 2003
35'

UTARA SKALA (M)


36'

Teluk Awur

110 37' 38' 39' 40' 41' B T 0 50 100 150 200

458400 458600 458800 459000 459200

Gambar 5. Peta sebaran karang keras di perairan Pulau Panjang, Jepara


32
9273600

Stasiun V

St
as

IV
iu
n n
9273400

iu
VI
as
St

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2003
9273200

PETA LOKASI PENELITIAN


PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA

OKTIYAS MUZAKY LUTHFI

Stasiun VII
K2D098235
9273000

LEGENDA :
Sta
siun
III Jarak karang keras mulai ditemukan
Sta Total panjang transek
siun
6 31'
II Garis pantai
Tj. Tumpuk
S. Barus
Wilayah perairan
32'
Sta
siun Wilayah terumbu karang
I
9272800

Tj. Kuniran

33'

SUMBER :
HASIL PENELITIAN FEBRUARI 2003
S. Tambangan
P. Panjang
34'

Tj. Kelor

JEPARA UTARA SKALA (M)


35'

36'
B T 0 50 100 150 200
Teluk Awur

110 37' 38' 39' 40' 41'

458400 458600 458800 459000 459200

Gambar 3. Peta lokasi penelitian


20
9273600
9273400

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2003
9273200

PETA LOKASI PENELITIAN


PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA

OKTIYAS MUZAKY LUTHFI


K2D098235
9273000

LEGENDA :
Jarak Karang Keras Mulai Ditemukan
6 31' Total Panjang Transek
S. Barus
Garis Pantai
Tj. Tumpuk
32' Wilayah Perairan
Tj. Kuniran Wilayah terumbu karang
9272800

33'

P. Panjang
S. Tambangan SUMBER :
34'

Tj. Kelor HASIL PENELITIAN FEBRUARI 2003


JEPARA
35'
UTARA SKALA (M)

36'

B
Teluk Awur

T 0 50 100 150 200


110 37' 38' 39' 40' 41'

458400 458600 458800 459000 459200