Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA KLIEN DENGAN SEPSIS NEONATORUM DIRUANG BAYI


RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh BANJARMASIN

Tanggal 2017

Oleh:
Ranchika May Irtanida, S.Kep
NIM.

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2017
LEMBAR PENGESAHAN

N A M A : R R a n c h i k a M a y I r t a n i d a , S . K e p

N I M :

JUDUL LP : Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Sepsis Neonatorum di Ruang Bayi RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin

Banjarmasin, 2017

Mengetahui,

P e m b i m b i n g A k a d e m i k P e m b i m b i n g L a h a n

Emmelia Astika F.D, S.Kep, Ns,M.Kep Siti Rusmalina, S.Kep, Ns


N I K . NIP. 19751104 200803 2 00 1
SEPSIS NEONATORUM

A. Definisi Sepsis Neonatorum


Neonatus adalah organisme yang berada pada periode adaptasi
kehidupan intrauterin ke ekstrauterin. Masa neonatus adalah periode selama
satu bulan tepat (4 minggu atau 28 hari setelah lahir).Sepsis neonatorum
adalah infeksi berat yang diderita neonatus dengan gejala sistemik dan
terdapat bakteri dalam darah. Perjalanan penyakit sepsis dapat berlangsung
cepat sehingga sering kali tidak terpantau tanpa pengobatan yang memadai
sehingga neonatus dapat meninggal dalam waktu 24 sampai 48 hari.
Sepsis neonatal adalah merupakan sindroma klinis dari penyakit sistemik
akibat infeksi selama satu bulan pertama kehidupan. Bakteri, virus, jamur, dan
protozoa dapat menyebabkan sepsis bayi baru lahir.
B. Etiologi
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya
sepsis pada bayi baru lahir, diantaranya sebagai berikut:
1) Faktor maternal terdiri dari:
a) Ruptur selaput ketuban yang lama
b) Persalinan prematur
c) Amnionitis klinis
d) Demam maternal
e) Manipulasi berlebihan selama proses persalinan
f) Persalinan yang lama
2) Pengaruhlingkungan yang dapatmenjadipredisposisibayi yang terkena sepsis,
tetapitidakterbataspadaburuknyapraktekcucitangandanteknikperawatan,
kateterumbilikusarteridan vena, selangsentral,
berbagaipemasangankateterselangtrakeaeknologi invasive, danpemberiansusu
formula.
3) Faktorpenjamumeliputijeniskelaminlaki-laki, bayiprematur,
beratbadanlahirrendah, dankerusakanmekanismepertahanandaripenjamu.
C. Patofisiologi
Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai
neonatus melalui beberapa cara yaitu:
1) Pada masa antenatal atau sebelum lahir
Pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan
umbilikus masuk ke dalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin.
Penyebab infeksi adalah virus yang dapat menembus plasenta antara
lain:virus rubella, herpes, sitomegalo, koksaki, influenza, parotitis. Bakteri
yang melalui jalur ini antara lain: malaria, sipilis, dan toksoplasma.
2) Pada masa intranatal atau saat persalinan
Infeksi saat persalinan terjadi karena kuman yang ada pada vagina dan
serviks naik mencapai korion dan amnion. Akibatnya terjadi amnionitis
dan korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilikus masuk ketubuh bayi.
Cara lain yaitu pada saat persalinan, kemudian menyebabkan infeksi pada
janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de entre, saat bayi melewati
jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman ( misalnya: herpes genetalia,
candida albicans, gonorrhea).
3) Infeksi pascanatal atau sesudah melahirkan
Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi sesudah kelahiran,
terjadi akibat infeksi nasokomial dari lingkungan di luar rahim (misalnya
melalui alat-alat penghisap lendir, selang endotrakea, infus, selang
nasogastrik, botol minuman atau dot). Perawat atau profesi lain yang ikut
menangani bayi, dapat menyebabkan terjadinya infeksi nasokomial.
Infeksi juga dapat melalui luka umbilikus.
D. FaktorPrediposisi
Terdapat berbagai faktor predisposisi terjadinya sepsis, baik dari ibu
maupun bayi sehingga dapat dilakukan tindakan antisipasi terhadap
kemungkinan terjadinya sepsis. Faktor predisposisi itu adalah: Penyakit yang
di derita ibu selama kehamilan, perawatan antenatal yang tidak memadai; Ibu
menderita eklamsia, diabetes mellitus; Pertolongan persalinan yang tidak
higiene, partus lama, partus dengan tindakan; Kelahiran kurang bulan, BBLR,
cacat bawaan. Adanya trauma lahir, asfiksia neonatus, tindakan invasif pada
neonatus; Tidak menerapkan rawat gabung. Sarana perawatan yang tidak baik,
bangsal yang penuh sesak. Ketuban pecah dini, amnion kental dan berbau;
Pemberian minum melalui botol, dan pemberian minum buatan.
E. ManifestasiKlinis
Tanda dan gejala sepsis neonatorum umumnya tidak jelas dan tidak
spesifik.Tanda dan gejala umum meliputi hipertermia, menggigil, lelah,
malaise, gelisah, malasminum, syok sepsis, dantanda-tanda MODS
denganterjadinyakomplikasisepertigagalginjal, splenomegali,
disfungsisistemsarafpusat, gangguan reflex moro, dangagaljantung.
F. Pencegahan
1) Padamasa antenatal
Perawatan antenatal meliputipemeriksaankesehatanibusecaraberkala,
imunisasi, pengobatanterhadappenyakitinfeksi yang di deritaibu,
asupangizi yang memadai, penanganansegeraterhadapkeadaan yang
dapatmenurunkankesehatanibudanjanin, rujukansegeraketempatpelayanan
yang memadaibiladiperlukan.
2) Padasaatpersalinan
Perawatanibuselamapersalinandilakukansecaraaseptik, yang
artinyadalammelakukanpertolonganpersalinanharusdilakukantindakanasep
tik. Tindakanintervensipadaibudanbayiseminimalmungkindilakukan
(bilabenar-benardiperlukan). Mengawasikeadaanibudanjanin yang
baikselama proses persalinan,
melakukanrujukansecepatnyabiladiperlukandanmenghindariperlukaankulit
danselaputlendir.
3) Sesudahpersalinan
Perawatansesudahlahirmeliputimenerapkanrawatgabungbilabayi normal,
pemberian ASI secepatnya,
mengupayakanlingkungandanperalatantetapbersih,
setiapbayimenggunakanperalatantersendiri,
perawatanlukaumbilikussecarasteril.
Tindakaninvasifharusdilakukandenganmemperhatikanprinsip-prinsipaseptik.
Menghindariperlukaanselaputlendirdankulit,
mencucitangandenganmenggunakanlarutandesinfektansebelumdansesudahme
megangsetiapbayi. Pemantauanbayisecaratelitidisertaipendokumentasian data-
data yang benardanbaik. Semuapersonel yang menanganiataubertugas di
kamarbayiharussehat. Bayi yang berpenyakitmenular di isolasi,
pemberianantibiotiksecararasional,
sedapatmungkinmelaluipemantauanmikrobiologidantesresistensi.
G. Pengobatan
Prinsip pengobatan sepsis neonatorum adalah mempertahankan
metabolisme tubuh dan memperbaiki keadaan umum dengan pemberian cairan
intravena termasuk kebutuhan nutrisi. Menurut Yu Victor Y.H dan Hans E.
Monintja pemberian antibiotik hendaknya memenuhi kriteria efektif
berdasarkan hasil pemantauan mikrobiologi, murah, dan mudah diperoleh,
tidak toksik, dapat menembus sawar darah otak atau dinding kapiler dalam
otak yang memisahkan darah dari jaringan otak dan dapat diberi secara
parenteral. Pilihan obat yang diberikan ialah ampisilin dan gentamisin atau
ampisilin dan kloramfenikol, eritromisin atau sefalasporin atau obat lain sesuai
hasil tes resistensi.
Dosis antibiotik untuk sepsis neonatorum: Ampisislin 200
mg/kgBB/hari, dibagi 3 atau 4 kali pemberian; Gentamisin 5 mg/kg BB/hari,
dibagi dalam 2 pemberian; Kloramfenikol 25 mg/kg BB/hari, dibagi dalam 3
atau 4 kali pemberian; Sefalasporin 100 mg/kg BB/hari, dibagi dalam 2 kali
pemberian;Eritromisin500 mg/kg BB/hari, dibagi dalam 3 dosis.
H. PemeriksaanDiagnostik
1) DPL denganhitungjenis (peningkatanleukosit)
2) Kimia Serum, bilirubin, laktat serum (meningkat), pemeriksaanfungsihati
(abnormal), dan protein C (menurun)
3) Resistensi insulin denganpeningkatanglukosadarah
4) AGD (hipoksemia, asidosislaktat)
5) KulturUrin, sputum, luka, darah
Penyakit infeksi yang diderita
ibu

Bakteri

Masuk keneonatus

virus
Masa Masa Intranatal Pasca natal
Antenatal

Kuman dan virus dari Kumandari vagina Infeksi nosokomial dari luar
ibu Melewati plasenta danserviks rahim
dan umbilikus
Naikmencapaikiroindan
amnion
Melalui alat-alat pengisap lendir,
Amnionitis dan
Masuk ke dalam selang endotrakeal, selang
korionitis
tubuh bayi nasogastrik, botol minuman atau dot

Kuman melalui umbilicus


Melalui sirkulasi darah masuk kejanin
janin

Sepsi
s

Sistempencernaan, anoreksia,
Sistempernapasan, Ante, intra, postnatal, aktivitas lemah,
muntah, diare, menyusui
dispneu, takipneu, tampaks akit, menyusu buruk, peningkatan
buruk, hepatomegali apneu, tarikan otot, leukosit darah
pernapasan, sianosis
Infeksi
Pola napas
terganggu
Gangguan Inflamas
gastrointestinal i
Instabilitas Hipertermimi
Ketidakefektifan
Ketidakefektifan suhu
PolaNapas
PolaMakanBayi
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajiandilakukanmelalui anamnesisuntukmendapatkan data, yang
perludikajiadalah:
1. Riwayatperawatan antenatal, ada/tidaknyaketubanpecahdini, partus lama
atausangatcepat.
2. Riwayatpersalinandikamarbersalin, ruangoperasi, atautempat lain.
3. Ada/tidaknyariwayatpenyakitmenularseksual (sifilis, herpes, gonorrhea,
dll).
4. Riwayatinfeksipadasaatkehamilan (rubella, amnionitis, toksoplasma,
dll).
Pemeriksaanfisik data yang akanditemukan, sebagaiberikut:
1. Letargikhususnyapada 24 jam pertamasetelahpersalinan
2. Refleksmenghisaplemah
3. Pucatatausianosis
4. Hipotermi/hipertermi
5. Ikterus
6. Beratbadanberkurang
7. Pernapasan abnormal
8. Dehidrasi
9. Kulitlembabdandingin
Pemeriksaanlaboratorium yang diperlukanadalah:
1. Kadar guladarah serum
2. Bilirubin
3. Jumlahleukosit
4. Kulturcairan umbilicus, urine, feses, dsb
B. Diagnosis Keperawatan
1. KetidakefektifanPolaMakanBayi
2. KetidakefektifanPolaNapas
3. Hipertermi
4. Hipotermi
C. Rencana tindakan keperawatan
No. D i a g n o s a N O C N I C
1 . Ketidakefektidan pola nafas b.d. hipoventilasi Respiratory Status Oxygen Therapy
Vital Sign Status - P e r h a t i k a n j a l a n n a p a s p a t e n b a y i
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 60 menit ketidakefektifan pola nafas teratasi denganm kriteriahasil: - M o n i t o r r e s p i r a s i
- Tanda tanda vital dalam rentang normal- A t u r p e r a l a t a n o k s i g e n
- Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat - P e r t a h a n k a n p o s i s i b a y i
- M o n i t o r a l i r a n o k s i g e n

V i t a l S i g n M o n i t o r i n g
- Monitor TD, nadi, suhudan RRsetiap 1 jam
- C a t a t f r e k u e n s i d a n i r a m a n a p a s
- I d e n t i f i k a s i s i a n o s i s p e r i f e r
- M o n i t o r t u r g o r k u l i t
2 . Hipertermib.dpenyakit Termoregulation F e v e r T r e a t m e n t
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 60menithipertermi teratasi dengankriteriahasil: - M o n i t o r s u h u s e s e r i n g m u n g k i n
- Suhutubuhdalamrentang normal - M o n i t o r w a r n a d a n s u h u k u l i t
- Tidakadaperubahanwarnadankelembabankulit- M o n i t o r i n t a k e d a n o u t p u t
- Nadidan RR dalam batas normal- B e r i k a n a n t i p i r e t i k
- L a k u k a n t a p i d s p o n g e b e d
- S e l i m u t i b a y i
- M o n i t o r t e k a n a n d a r a h . N a d i d a n R R
- M o n i t o r W B C , H b , H c t
- Berikanpengobatanuntukmencegahterjadin yamenggigi l
- M o n i t o r p e n u r u n a n t i n g k a t k e s a d a r a n
- K o m p r e s b a y i p a d a l i p a t p a h a d a n a k s i l a

T e m p e r a t u r e R e g u l a t i o n
- M o n i t o r s u h u t i a p 2 j a m
- Monitor tanda-tandahipertermidanhipotermi
- T i n g k a t k a n i n t a k e c a i r a n d a n n u t r i s i
- M o n i t o r p o l a p e r n a p a s a n
3 . KetidakefektifanPolamakanBayib.dgangguanneurologis Breastfeeding Establishment: Infant B r e a s t f e e d i n g a s s i s t a n c e
Breastfeeding Maintenance - B e r i k a n A S I s e c a r a t e r a t u r
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jamketidakefektifanpolamakanbayi teratasi dengankriteriahasil: - H i t u n g k e b u t u h a n m i n u m b a y i
- Bayidapatmenyusudenganefektif - U k u r m a s u k a n d a n k e l u a r a n
- Bayimenandakankepuasanmenyusu - Monitor kemampuanbayiuntukmenghisa p
- Dorong orang tuauntuklebihseringmemberikan ASI 8-10kali/hari
- Monitor kemampuanbayiuntukmenggapai puttin g
- D i s k u s i k a n un t u k p e n ggu n a a n p o m p a A S I
- Jelaskanpenggunaansusu formula hanyajikadiperluka n

4 Hipotermia b.d penyakit Termoregulation P e r a w a t a n H i p o t e r m i a


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 jam diharapkan masalah hipotermia teratasi dengan 1. M o n i t o r t a n d a - t a n d a v i t a l
K r i t e r i a h a s i l : 2. M o n i t o r p e r u b a h a n w a r n a k u l i t
1. K u l i t t e r a b a h a n g a 3.
t Identifiksi faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya hipotrmi a
2. TTV dalam rentang normal4. B e b a s k a n p a s i e n d a r i p a k a i a n y a n g b a s a h d a n d i n g i n
5. Berikan pemanas pasif (selimut, topi stockinette , sarung tangan dan kaos kaki)
6. Berikan pemanas eksternal aktif (seperti bantalan penghangat, lampu radiasi, penghangat udara, dll)
7. Berikan pemanas internal aktif (seperti cairan IV dan osigen)
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Mansjoer, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jakarta: FKUI.

Bulechek G.M., Howard K.B., Joanne M.D. (Eds.). 2008. Nursing Intervention
Classification (NIC), Fifth Edition. St. Louis Missouri: Mosby Inc.
Carpenito, LJ. 2000. DiagnosaKeperawatan, AplikasipadaPraktekKlinis, Edisi 6.
Jakarta: EGC.

Depkes. 2007. Buku Acuan Pelayan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta :
Depkes RI.

Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). 2014. NANDA International Nursing


Diagnoses: Definitions and Classification 2015-2017. Oxford: Wiley Blackwell.

Moorhead Sue, Marion Johnson, Meridean L.M., et al. (Eds.). 2008. Nursing
Outcomes Classification (NOC), Fifth Edition. St. Louis Missouri: Mosby Inc.

Prawihardjo, Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan neonatal.


Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo.
Wijayarini. 2005. Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC.