Anda di halaman 1dari 12

BAB I

LANDASAN TEORI

A. PENGERTIAN
ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari.
Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung
sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus,
ruang telinga tengah dan selaput paru(www.google.com/ISPA/Khaidir Muhaj
Blog’site.mht).
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah radang akut saluran
pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik atau
bakteri, virus, maupun reketsia tanpa atau disertai dengan radang parenkim
paru.ISPA adalah masuknya mikroorgamisme (bakteri, virus, riketsia) ke
dalam saluran pernafasan yang menimbulkan gejala penyakit yang dapat
berlangsung sampai 14 hari( www.google.com/ISPA/Vietha’sblog.mht).
Secara anatomis yang termasuk Infeksi saluran pernapasan akut :
ISPA atas : Rinitis, faringitis,Otitis
ISPA bawah : Laringitis ,bronchitis,bronkhiolitis,pneumonia
(www.google.com/ISPA/ Hidayat2Blog.mht).

B. ETIOLOGI
Etiologi ISPA lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan jamur. Bakteri
penyebabnya antara lain dari genus streptokokus, stafilokokus, pnemokokus,
hemofilus, bordetella, dan korinebacterium. Virus penyebabnya antara lain
golongan mikovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, mikoplasma,
herpesvirus.
Bakteri dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA diantaranya
bakteri stafilokokus dan streptokokus serta virus influenza yang di udara bebas
akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu
tenggorokan dan hidung.Biasanya bakteri dan virus tersebut menyerang anak-
anak usia dibawah 2 tahun yang kekebalan tubuhnya lemah atau belum

1
sempurna. Peralihan musim kemarau ke musim hujan juga menimbulkan
risiko serangan ISPA.Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi
terhadap kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status
gizi kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan(
www.google.com/ISPA/Vietha’sblog.mht).

C. PATOFISIOLOGI
Menurut Hidayat (www.google.com/ISPA/21Maret2009),perjalanan alamiah
penyakit ISPA yaitu :
Tahap prepatogenesis : Penyebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi
apa-apa
Tahap inkubasi : Virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa.
Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan
daya tahan sebelumnya rendah.
Tahap dini penyakit : Dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala
demam dan batuk. Tahap lanjut penyaklit,dibagi
menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,sembuh
dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal
akibat pneumonia.
Pada ISPA, dikenal 3 cara penyebaran infeksi,menurut Hidayat
(www.google.com/ISPA/21Maret2009) yaitu:
1. Melalui areosol (partikel halus) yang lembut, terutama oleh karena
batuk-batuk.
2. Melalui areosol yang lebih berat, terjadi pada waktu batuk-batuk dan
bersin
3. Melalui kontak langsung atau tidak langsung dari benda-benda yang telah
dicemari oleh jasad renik.

D. MANIFESTASI KLINIS
Tanda-tanda klinis :

2
1. Pada sistem respiratorik adalah : tachypnea, napas tak teratur
(apnea), retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara
napas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing.
2. Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi,
hypotensi dan cardiac arrest.
3. Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala,
bingung, papil bendung, kejang dan coma.
4. Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat
banyak(www.google.com/ISPA/Khaidir Muhaj Blog’site.mht).

Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun,


menurut Hidayat (www.google.com/ISPA/21Maret2009) adalah:
1. Tidak bisa minum,
2. Kejang
3. Kesadaran menurun
4. Stridor
5. Gizi buruk
Tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan, menurut Hidayat
(www.google.com/ISPA/21Maret2009) adalah:
1. Kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari
setengah volume yang biasa diminumnya)
2. Kejang
3. Kesadaran menurun
4. Stridor
5. Wheezing

E. TINGKAT PENYAKIT ISPA


Menurut Purwanto ( www.google.com/ISPA/21Maret2009) :
1. Ringan
Batuk tanpa pernafasan cepat atau kurang dari 40 kali/menit, hidung
tersumbat atau berair, tenggorokan merah, telinga berair.

3
2. Sedang
Batuk dan napas cepat tanpa stridor, gendang telinga merah, dari telinga
keluar cairan kurang dari 2 minggu. Faringitis purulen dengan pembesaran
kelenjar limfe leher yang nyeri tekan (adentis servikal).
3. Berat
Batuk dengan nafas cepat dan stridor, membran keabuan di faring, kejang,
apnea, dehidrasi berat atau tidur terus, tidak ada sianosis.
4. Sangat Berat
Batuk dengan nafas cepat, stridor dan sianosis serta tidak dapat minum.

F. PENCEGAHAN
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ISPA pada anak,
menurut Hidayat (www.google.com/ISPA/21Maret2009) adalah :
1. Mengusahakan agar anak memperoleh gizi yang baik, diantaranya dengan
cara memberikan makanan kepada anak yang mengandung cukup gizi.
2. Memberikan imunisasi yang lengkap kepada anak agar daya tahan tubuh
terhadap penyakit baik.
3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan agar tetap bersih.
4. Mencegah anak berhubungan dengan klien ISPA. Salah satu cara adalah
memakai penutup hidung dan mulut bila kontak langsung dengan anggota
keluarga atau orang yang sedang menderita penyakit ISPA.

G. KOMPLIKASI
Radang selaput otak dikarenakan kuman / bakteri masuk melalui hidung yang
kemudian menjalar ke tengkorak kepala bagian belakang hingga mencapai ke
otak.(www.google.com/jangan anggap remah ISPA.mht)

H. PENATALAKSANAAN MEDIS
Suportif : Meningkatkan daya tahan tubuh berupa Nutrisi yang
adekuat,pemberian multivitamin dll.

4
Antibiotik :

- Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab

- Utama ditujukan pada S.pneumonia,H.Influensa dan S.Aureus

Menurut WHO :

 Pneumonia rawat jalan yaitu kotrimoksasol, amoksisislin, ampisilin,


penisilin prokain
 Pneumonia berat : bentil penicilin, klorampenikol, kloksasilin,
gentamisin.
I. PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan karena merupakan kunci untuk menentukan status
kesehatan anak
1. Data subyektif
a. Identitas/biodata
1) Nama
Ditanyakan nama anak dan orang tuanya agar tidak keliru bila ada
kesamaan nama dengan penderita lain. (Cristina, 1971 : 84).
2) Umur
Anak yang usianya lebih muda kemungkinan untuk menderita atau
terkena ISPA lebih besar bila dibandingkan dengan anak yang
usianya lebih tua karena daya tahan tubuhnya lebih
rendah(www.google.com/ISPA.mht).
3) Jenis kelamin
Anak laki-laki lebih sering sakit disbanding anak perempuan,
tetapi belum diketahui secara fisik mengapa demikian
(Soetjiningsih, 1995 : 6).
4) Agama
Pengajaran agama harus sudah ditanamkan pada anak-anak sedini
mungkin karena dengan memahami agama akan menuntut umatnya
untuk berbuat kebaikan dan kebajikan (Soetjiningsih, 1995 : 11).

5
5) Ras/suku bangsa
Pertumbuhan somatik juga dipengaruhi oleh ras/suku bangsa.
Bangsa kulit putih/ras eropa mempunyai pertumbuhan somatik
lebih tinggi daripada bangsa Asia (Soetjiningsih 1995 : 10).
6) Pendidikan ayah dan ibu
Pendidikan orang tua merupaka salah satu faktor penting dalam
tumbuh kembang anak karena dengan pendidikan yang baik maka
orang tua dapat menerima informasi tentang cara pengasuhan ana
yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya dan
pendidikannya (Soetjiningsih, 1995 : 10).
7) Pekerjaan/pendapatan keluarga
Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh
kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua
kebutuhan anak baik yang primer maupun sekunder (Soetjiningsih,
1995 : 10).
b. Keluhan utama
Apakah pasien demam, batuk pilek, sakit tenggorokan.
c. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Kelelahan, gizi buruk, anemia dan kedinginan merupakan faktor
predisposisi.Penyakit ini sering diderita waktu pergantian
musim(FKUI : 1996 : 606).
2) Riwayat kesehatan yang lalu
 Riwayat kehamilan ibu
Gizi ibu yang jelek, sebelum terjadi kehamilan maupun waktu
hamil lebih sering melahirkan BBLR, lahir mati, hambatan
pertumbuhan otak janin, anemia pada BBL, mudah terkena
infeksi, abortus, dan lain-lain (Soetjiningsih, 1995 : 3).
 Riwayat kelahiran
Trauma dari cairan ketuban yang kurang dapat menyebabkan
kelainan bawaan pada bayi. Demikian posisi janin dalam uterus

6
dapat mengalihkan tali pusat, dislokasi panggul, torlikalia
congenital, palsifasialis atau kroniotaber (Soetjiningsih, 1995 :
3).
3) Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
 Pertumbuhan yang cepat sekali dalam tahun pertama, yang
kemudian mengurang secara berangsur-angsur sampai umur 3-
4 tahun.Dalam tahun pertama panjang badan bayi bertambah
dengan 23 cm, sehingga pada umur 1 tahun panjangnya
menjadi 71 cm (FKUI, 1996:147).
 Pada umur 7 bulan anak sudah dapat mencaai perkembangan
sebagai berikut :
- Mempertahankan posisi kepala dalam keadaan tegak
- Menggenggam pensil selama beberapa detik
- Telungkup dengan mengangkat dada dan kedua lengan
- Mengeluarkan suara gembira dengan suara tinggi atau
memekik
- Tersenyum ketika melihat mainan yang lucu
- Meraih mainan yang diletakkan agak jauh
- Mempertahankan lehernya secara kaku pada posisi
setengah duduk( Depkes RI, 2005:19).
4) Riwayat imunisasi
Imunisasi adalah suatu usaha, memberikan kekebalan pada bayi
dan anak terhadap penyakit tertentu
Dalam pemberian imunisasi untuk mencegah anak dari penyakit-
penyakit infeksi terhenti dapat dilakukan sebagai berikut :
 Pada umur 0-1 bulan diberikan BCG, polio1, hepatitis B1
 Pada umur 2 bulan DPT1, polio2, hepatitis B2
 Pada umur 3 bulan DPT2 dan polio3
 Pada umur 4 bulan DPT3 dan polio4
 Pada umur 9 bulan diberikan imunisasi campak, hepatitis B3
(Ilyas,dkk 1993 : 46-47).

7
d. Riwayat kesehatan keluarga
Cacat bawaan sering terjadi pada ibu DM yang hamil dan tidak
mendapat pengobatan pada trimester I kehamilan. Umur ibu kurang
dari 18 tahun atau lebih dari 35 tahun, deffisiensi lodium waktu hamil
(Soetjiningsih, 1995).
e. Kebutuhan sehari-hari
1) Nutrisi
Pemberian nutrisi pada anak harus cukup baik dari segi kuantitas
maupun kualitasnya seperti protein, lemak, karbohidrat, dan
mineral serta vitamin-vitamin.
Nutrisi penting untuk :
 Mempertahankan kehidupan dan meningkatkan fungsi vital
tubuh
 Pertumbuhan dan perkembangan serta memelihara dan
meningkatkan kesehatan.
Selama periode pertumbuhan yang cepat seperti prenatal, bayi,
pubertas, dan remaja kebutuhan protein dan karbohidrat akan
bertambah. Mungkin saja pemberian nutrisi yang baik kurang
bermanfaat apabila ada gangguan penyerapan atau asimilasi dari
makanan terganggu misalnya :
 Tidak adequatnya pemberian nutrisi baik kualitas maupun
kuantitas.
 Anak yag hiperaktif (kurang istirahat) sehingga sebagian besar
kalori digunakan untuk bergerak.
 Keadaan sakit yang menyebabkan kurang nafsu makan atau
penyerapan zat makanan kedalam tubuh kurang karena
absorbsi zat makanan yang terganggu seperti muntah, berak-
berak yang terjadi pada anak.
Penampilan umum termasuk didalamnya status nutrisi anak
yang tidak hanya berat badan dan tinggi badan, tetapi nutrisi

8
anak dapat dibandingkan dengan cara pemberian makanan oleh
orang tua.
Table kebutuhan kalori, protein pada nak
Usia Energi/kalori/kg/ Protein gr/kg,
BB/hari BB/hari
0-6 bln 114 2,2
6 bln-1 th 105 2,1
1-3 th 100 1,8
4-6 th 85 1,5
7-10 th 85 1,2
Laki-laki
11-14 th 60 1,0
15-18 th 42 0,8
Wanita
11-14 th 48 1,0
15-18 th 48 0,8
( Ilyas, 1993 : 10)
2) Pola eliminasi
 Hal yang paling susah harus melihat tingkat pertumbuhan dan
perbedaan individu yang meliputi : perkembangan fungsi
eliminasi, eliminasi yang disiplin dan lain-lain (Ilyas, 1998 : 8).
3) Istirahat dan tidur
Anak-anak sangat memerlukan istirahat yang cukup. Tidak ada
ketentuan berapa lama harus istirahat dengan bertambahnya umur.
Anak yang mulai besar akan berkurang waktu istirahatnya karena
kegiatan fisik meningkat (Pusdiknakes, 1993 : 61).
4) Aktifitas
Olahraga akan meningkatkan sirkulasi, aktifitas fisiologis dan
stimulasi perkembangan otot-otot (Ilyas, 1993 : 16).
2. Data Objektif
a. Keadaan umum : composmentis, gelisah, lemah
b. Tanda-tanda vital :
1) Suhu badan : Anak yang dapat diajak kerjasama
pengukuran melalui mulut, anak yang tidak dapat
diajak kerjasama pengukuran melalui aksila
(Ilyas, 1993:7).

9
2) Nadi : Dapat diukur pada arteri radialis dan arteri
femoralis, dihitung dengan waktu 1 menit, irama
teratur/tidak dan kuat/lemah,anak usia 3bulan- 2
tahun, waktu bangun 80-110 x/menit, waktu tidur
70-120 x/menit, waktu demam
>200x/menit(Ilyas,1993:10).
3) Pernafasan : Dihitung sama dengan orang
dewasa,dihitung dalam waktu 1 menit,anak usia 7
bulan 30 x / menit( Pusdiknakes, 1993:9).
c. Pemeriksaan umum
BB : Indikator BB dimanfaatkan dalam klinik, untuk :
a. Bahan informasi untuk menilai
keadaan gizi baik yang akut maupun yang kronis, tumbuh
kembang dan kesehatan.
b. Memonitor keadaan kesehatan,
misalnya pada pengobatan penyakit.
c. Dasar perhitungan dosis obat dan
makanan yang perlu diberikan.(Soetjiningsih, 1995 : 38).
TB : TB waktu lahir adalah 50 cm.Dalam tahun pertama panjang
badan anak bertambah dengan 32 cm(FKUI,2002:147)
d. Pemeriksaan Fisik

Usia
Anak yang usianya lebih muda, kemungkinan untuk menderita atau terkena penyakit ISPA lebih
besar bila dibandingkan dengan anak yang usianya lebih tua karena daya tahan tubuhnya lebih
rendah.
Riwayat kesehatan
Kelelahan, gizi buruk, anemia dan kedinginnya merupakan merupakan faktor pre disposisi.
Penyakit ini sering diderita pada waktu pergantian musim (FKUI, 1995 : 606).
3.Riwayat imunisasi
Umur Jenis imunisasi
0-7 hari Hepatitis B1
1 bulan BCG
2 bulan Hepatitis B2, DPT1, polio1
3 bulan Hepatitis B3, DPT2, polio2
4 bulan DPT 3, polio3
(Depkes dan Jica, 1997 : 27)

10
a. Inspeksi
- Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan
- Tonsil tampak kemerahan dan edema
- Tampak batuk tidak produktif
- Tidak ada jaringan parut pada leher
- Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, pernafasan cuping hidung.
b. Palpasi
- Adanya demam
- Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan pada nodus limfe
servikalis
- Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
c. Perkusi
- Suara paru normal (resonance)
d. Auskultasi
- Suara nafas vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru

2. Diagnosa Keperawatan
1) Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi
Tujuan : suhu tubuh normal berkisar antara 36 – 37,5 °C
Intervensi:
a. Observasi tanda-tanda vital
b. Anjurkan klien/keluarga untuk kompres pada kepala/aksila
c. Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan dapat menyerap keringat seperti
pakaian dari bahan katun.
d. Atur sirkulasi udara
e. Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 – 2500 ml/hari
f. Anjurkan klien istirahat di tempat tidur selama fase febris penyakit.
g. Kolaborasi dengan dokter:
- Dalam pemberian terapi, obat antimikrobial
- Antipiretika
Rasionalisasi:
a. Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan perawatan selanjutnya
b. Dengan memberikan kompres, maka akan terjadi proses konduksi/perpindahan panas dengan
bahan perantara.
c. Proses hilanganya panas akan terhalangi untuk pakaian yang tebal dan tidak akan menyerap
keringat.
d. Penyediaan udara bersih
e. Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat
f. Tirah baring untuk mengurangi metabolisme dan panas
g. Untuk mengontrol infeksi pernafasan dan menurunkan panas

2) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia


Tujuan:
- Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah pada BB normal.
- Klien dapat menoleransi diet yang dianjurkan
- Tidak menunjukkan tanda malnutrisi
Intervensi:
a. Kaji kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari.
b. Berikan makan porsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat.
c. Tingkatkan tirah baring
d. Kolaborasi: konsultasi ke ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien.

Rasionalisasi:

11
a. Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan BB dan evaluasi
keadekuatan rencana nutrisi.
b. Untuk menjamin nutrisi adekuat/meningkatkan kalori total
c. Nafsu makan dapat dirangsang pada situasi rileks, bersih, dan menyenangkan.
d. Untuk mengurangi kebutuhan metabolik
e. Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu untuk
memberikan nutrisi maksimal.

3) Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil
Tujuan: nyeri berkurang/terkontrol
Intervensi:
a. Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya (dengan skala 0 – 10 ), faktor yang memperburuk
atau meredakan nyeri, lokasi, lama, dan karakteristiknya.
b. Anjurkan klien untuk menghindari alergen/iritan terhadap debu, bahan kimia, asap rokkok,
dan mengistirahatkan/meminimalkan bicara bila suara serak.
c. Anjurkan untuk melakukan kumur air hangat
d. Kolaborasi: berikan obat sesuai indikasi (steroid oral, IV, dan inhalasi, & analgesik)
Rasionalisasi:
a. Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat
penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang
diberikan.
b. Mengurangi bertambahberatnya penyakit
c. Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri tenggorokan.
d. Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi/menghambat pengeluaran histamin
dalam inflamasi pernafasan. Analgesik untuk mengurangi nyeri.

4) Risiko tinggi penularan infeksi b.d tidak kuatnya pertahanan sekunder (adanya infeksi
penekanan imun)
Tujuan: tidak terjadi penularan, tidak terjadi komplikasi
Intervensi:
a. Batasi pengunjung sesuai indikasi
b. Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktivitas
c. Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin
d. Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak dibawah usia 2 tahun, lansia, dan penderita
penyakit kronis. Konsumsi vitamin C, A dan mineral seng atau anti oksidan jika kondisi tubuh
menurun/asupan makanan berkurang.
e. Kolaborasi pemberian obat sesuai hasil kultur
Rasionalisasi:
a. Menurunkan potensi terpajan pada penyakit infeksius
b. Menurunkan konsumsi/kebutuhan keseimbangan O₂ dan memperbaiki pertahanan klien
terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.
c. Mencegah penyebaran patogen melalui cairan
d. Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi.
e. Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitifitas
atau diberikan secara profilaktik karena risiko tinggi.

12