Anda di halaman 1dari 30

A. Landasan Teori

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Diet Nutrisi Diabetes Mellitus

a. Definisi Diet Nutrisi Pasien Diabetes Mellitus

Mellitus a. Definisi Diet Nutrisi Pasien Diabetes Mellitus Diet diabetes mellitus merupakan pengaturan pola makan bagi

Diet diabetes mellitus merupakan pengaturan pola makan bagi

penderita diabetes mellitus berdasarkan jumlah, jenis, dan jadwal

pemberian makanan (Sulistyowati, 2009). Prinsip diet bagi penderita

DM adalah mengurangi dan mengatur konsumsi karbohidrat sehingga

tidak menjadi beban bagi mekanisme pengaturan gula darah. Menjadi

diabetisi sering segera dikaitkan dengan tidak boleh makan gula.

Memang benar gula menaikkan gula darah namun perlu diketahui

bahwa semua makanan juga menaikkan gula darah.

Pengaturan

makan

(diet)

merupakan

komponen

utama

keberhasilan pengelolaan Diabetes Mellitus, akan tetapi mempunyai

kendala

yang

menjalaninya.

sangat

Prinsip

besar

yaitu

kepatuhan

seseorang

untuk

pengaturan

makan

pada penderita diabetes

hampir sama dengan anjuran makan untuk orang sehat masyarakat

umum, yaitu makanan yang beragam bergizi dan berimbang atau lebih

dikenal

dengan

gizi

seimbang

maksudnya

adalah

sesuai

dengan

kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Hal yang

sangat penting ditekankan adalah pola makan yang disiplin dalam hal

Gambaran Diet Pasien

,

12

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

13

Jadwal makan, jenis dan jumlah makanan atau terkenal dengan istilah

3 J. Pengaturan porsi makanan sedemikian rupa sehingga asupan zat

gizi tersebar sepanjang hari. Hal-hal yang penting harus diperhatikan

dalam perencanaan makan adalah kebutuhan energi / kalori ditentukan

berdasarkan

umur,

jenis

kelamin,

kehamilan / menyusui.

berat

badan,

aktifitas

fisik,

Konsensus pengelolaan dan pencegahan DM di Indonesia

menetapkan empat pilar utama dalam pengelolaan DM, yaitu edukasi,

terapi nutrisi medis (diet), latihan jasmani dan intervensi farmakologi.

tetapi yang akan dilakukan dalam pencegahan ini adalah terapi nutrisi

medis (diet).

b. Terapi Nutrisi Medis (TNM) / Diet

Terapi Nutrisi Medis (TNM)/diet merupakan hal yang sangat

penting dalam mencegah DM, mengelola DM jika sudah terjadi, dan

mencegah

atau

setidaknya

memperlambat

tingkat

perkembangan

komplikasi DM (ADA, 2008). Perkeni (2011) juga menjelaskan ahwa

penatalaksanan diet pada penderita DM tipe 2 merupakan bagian dari

penatalaksanaan DM tipe 2 secara total. Penatalaksanaan diet ini

ditekankan pada keteraturan dalam hal jumlah energi, jenis makanan

dan jadwal makan. Tjokopurwo (dikutip dalam Suprihatin, 2012)

mengatakan bahwa diet diabetes mellitus adalah pengaturan makanan

yang diberikan kepada penderita DM dimana diet yang dilakukan

harus tepat jumlah energi yang dikonsumsi dalam satu hari, tepat

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

14

jadwal sesuai 3 kali makan utama dan 3 kali makanan selingan dengan

interval waktu 3 jam antara makan utama dan makanan selingan serta

tepat jenis yaitu menghindari makanan yang tinggi kalori. Hasil

penelitian yang dilakukan oleh Widodo (2012) dalam Adyana (2014)

di Instalasi Rawat Jalan RS Baptis Kediri menunjukkan bahwa ada

hubungan diet tepat dalam jumlah energi dengan peningkatan kadar

gula darah puasa sedangkan pada diet tepat jadwal dan jenis tidak ada

hubungan.

Penatalaksanaan diet

yang harus dilakukan pada penderita

diabetes melitus yaitu sebagai berikut :

1)

Tujuan

ADA (2008) menjelaskan bahwa tujuan penatalaksanaan diet

ini antara lain:

a) Mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah dalam

rentang normal atau seaman mungkin.

b) Menjaga dan mempertahankan kadar lipid dan profil lipid

untukmengurangi resiko penyakit kardiovaskular.

c) Menjaga tekanan darah agar tetap normal.

d) Mencegah

atau

memperlambat

perkembangan

komplikasi

kronikpada DM dengan memodifikasi asupan makanan dan

gaya hidup.

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

15

e) Untuk

memenuhi

kebutuhan

gizi

individu

dengan

mempertimbangkan

preferensi

pribadi

dan

kemauan

untuk

berubah.

f) Untuk tetap menjaga kenikmatan makan yaitu dengan cara

membatasi makanan pilihan.

2)

Kebutuhan kalori

Cara untuk menentukan kebutuhan kalori pada penderita

DM yaitu dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang

besarnya

25-30

kalori/kgBB

ideal.Kebutuhan

kalori

ini

dipengaruhi oleh beberapa faktor (Perkeni, 2011), antara lain :

a) Jenis kelamin

Kebutuhan

kalori

pada

wanita

lebih

kecil

daripada

pria.

Kebutuhan kalori wanita sebesar 25 kal/kgBB dan untuk pria

sebesar 30 kal/kgBB.

b) Usia

Penderita DM usia di atas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi

5% untuk dekade antara 40 dan 59 tahun, 10% untuk dekade

antara 60 dan 69 tahun dan 20 % untuk usia di atas 70 tahun.

c) Berat badan

Kebutuhan kalori pada penderita yang mengalami kegemukan

dikurangi sekitar 2030% (tergantung tingkat kegemukan),

sedangkan pada penderita yang kurus ditambah sekitar 20-30%

sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan berat badan.

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

16

Makanan sejumlah kalori dengan komposisi tersebut dibagi

dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%) dan

sore (25%) serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%).

3)

Pemilihan Jenis Makanan

Penderita

DM

harus

mengetahui

dan

memahami

jenis

makanan apa yang boleh dimakan secara bebas, makanan yang

harus dibatasi

dan

makanan

yang harus dibatasi secara ketat

(Almatsier, 2008). Makanan yang dainjurkan adalah makanan yang

mengandung sumber karbohidrat kompleks (seperti nasi, roti, mie,

kentang, singkong, ubi dan sagu), mengandung protein rendah

lemak (seperti ikan, ayam tanpa kulit,tempe, tahu dan kacang-

kacangan) dan sumber lemak dalam jumlah terbatas yaitu bentuk

makanan yang diolah dengan cara dipanggang, dikukus, direbus

dan dibakar).

Makanan

yang

perlu

dihindari

yaitu

makanan

yang

mengandung karbohidrat sederhana (seperti gula pasir, gula jawa,

susu kental manis, minuman botol manis, es krim, kue-kue manis,

dodol),

mengandung

banyak

kolesterol,

lemak

trans,

dan

lemakjenuh (seperti cake, makanan siap saji, goreng-gorengan)

serta tinggi natrium (seperti ikan asin, telur asin dan makanan yang

diawetkan (Almatsier, 2008).

Penderita DM juga harus membatasi makanan dari jenis

gula, minyak dan garam. Makanan untuk diet DM biasanya kurang

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

17

bervariasi, sehingga banyak penderita DM yang merasa bosan,

sehingga variasi diperlukan agar penderita tidak merasa bosan. Hal

itu diperbolehkan asalkan penggunaan makanan penukar memiliki

kandungan

gizi

yang

(Suyono, 2011).

sama

dengan

makanan

yang

digantikan

4)

Pengaturan Jadwal Makan

Penderita DM makan sesuai jadwal, yaitu 3 kali makan

utama dan 3 kali makan selingan dengan interval waktu 3 jam.

Jadwal makan standar untuk penderita DM yaitu:

Tabel 2.3 Jadwal makan penderita DM

Jenis Makanan

Waktu

Total Kalori

Makan Pagi

07.00

20%

Selingan

10.00

10%

Makan Siang

13.00

30%

Selingan

16.00

10%

Makan Sore/Malam

19.00

20%

Selingan

21.00

10%

Sumber : Waspadji (2007)

5)

Standar dan Prinsip Diet

Waspadji

(2007)

mengatakan

bahwa

standar

diet

DM

diberikan pada penderita DM sesuai kebutuhannya. Ada 8 jenis

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

18

standar diet menurut kandungan energi yaitu diet DM 1100, 1300,

1500, 1700, 1900, 2100, 2300, dan 2500 kalori. Secara satandar

diet untuk penderita DM yang gemuk adalah 1100-1600 kalori,

penderita dengan berat badan normal 1700-1900 kalori dan 2100-

2500 kalori untuk penderita DM yang kurus.

Prinsip diet bagi penderita DM (Perkeni, 2011) yaitu:

a) Energi disesuaikan dengan kebutuhan dan faktor koreksi umur,

jenis kelamin, aktivitas dan berat badan

b) Karbohidrat 45-65% dari energi total

c) Protein 10-20% dari energi total

d) Lemak 20-25% dari energi total, penggunaan lemak jenuh

<7%; lemak

tidak jenuh ganda <10%; selebihnya lemak tidak

jenuh tunggal; dan kolesterol <300 mg/hari

e) Makanan yang perlu dihindari adalah makanan yang banyak

mengandung

kolesterol,

lemak

trans,

lemak

jenuh

serta

makanan yang banyak

mengandung natrium.

f) Makanan

yang

dianjurkan

adalah

sumber

karbohidrat

kompleks, makanan

tinggi serat dan makanan yang diolah

dengan sedikit minyak.

g) Gula untuk bumbu diperbolehkan dengan ketentuan <5% dari

6)

kebutuhan energi.

Jenis diet dan indikasi pemberian

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

19

Diet yang digunakan sebagai bahan penatalaksanaan Diabetes

Mellitus dikontrol berdasarkan kandungan energi, protein, lemak

dan karbohidrat.Sebagai pedoman dipakai 8 jenis Diet Diabetes

Mellitus sebagaimana dapat dilihat dalam abel 2.1. Penerapan diet

ditentukan

oleh

keadaan

pasien,

jenis

Diabetes

Mellitus,

dan

program pengobatan secara keseluruhan.

Tabel 2.4Jenis Diet Diabetes Mellitus berdasarkan kandungan

energi, protein,

lemak dan karbohidrat

Jenis Diet

Energi

Protein

Lemak

Karbohidrat

(kcal)

(gr)

(gr)

(gr)

I

1100

43

30

172

II

1300

45

35

192

III

1500

51,5

36,5

235

IV

1700

55,5

36,5

275

V

1900

60

48

299

VI

2100

62

53

319

VII

2300

73

59

369

VIII

2500

80

62

396

Sumber

: Penuntun Diet, Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo

7)

Bahan makanan sehari

 

Jumlah

bahan

makanan

sehari

untuk

setiap

standar

diet

Diabetes

Mellitus

dinyatakan

dalam

satuan

penukar,

dapat

dijelaskan sebabagi berikut:

 

Tabel 2.5 Jurnal bahan makanan sehari menurut standar Diet Diabetes Mellitus (dalam satuan penukar)

 
 

Standar Diet (Kcal)

 

Gambaran

bahan

130

150

170

190

250

 

makanan

1100

0

0

0

0

2100

2300

0

Nasi (Pemberi)

2,5

3

4

5

5,5

6

7

7,5

 
 

Gambaran Diet Pasien

,

 

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

20

Ikan (penukar)

2

2

2

2

2

2

2

2

Daging (penukar)

1

1

1

1

1

1

1

1

Tempe (penukar)

2

2

2,5

2,5

3

3

3

3

Sayuran

(penukar

S

S

S

S

S

S

S

S

A)

Sayuran

(penukar

2

2

2

2

2

2

2

2

B)

Buah (penukar)

4

4

4

4

4

4

4

4

Susu (penukar)

-

-

-

-

-

-

1

1

Minyak (penukar)

3

4

4

4

6

7

7

7

8)

Bahan makanan yang dianjurkan

Bahan makanan yang dianjurkan untuk Diet DM adalah

sebagai berikut :

a) Sumber karbohidrat kompleks, seperti nasi, roti, mie, kentang,

singkong, ubi, dan sagu.

b) Sumber protein rendah lemak, seperti ikan, ayam tanpa kulit,

susu skim, tempe, tahu, dan kacang-kacangan.

c) Sumber lemak dalam jumlah terbatas yaitu bentuk makanan

yang mudah di cerna. Makanan terutama diolah dengan cara

dipanggang, dikukus, disetup, direbus, dan dibakar.

9)

Bahan makanan yang tidak dianjurkan (dibatasi / dihindari)

Bahan

makanan

yang

tidak

dianjurkan,

dihindari untuk Diet DM, adalah:

dibatasi,

atau

a) Mengandung banyak gula sederhana, seperti :

(1) Gula pasir, gula jawa

(2) Sirop, jam, jeli, buah-buahan yang diawetkan dengan gula,

susu kental manis, minuman botol ringan, es krim

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

21

(3) Kue-kue manis, dodol, cake, dan tarcis.

b) Mengandung banyak lemak, seperti : cake, makanan siap saji

(fast food), goreng-gorengan.

c) Mengandung banyak natrium, seperti : ikan asin, telur asin,

makanan yang diawetkan.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan diet

Kepatuhan

jangka

panjang

terahadap

perencanaan

makan

merupakan salah satu aspek yang menimbulkan tantangan dalam

menjalani

penatalaksanaan

diet

maupun

penatalaksanaan

diabetes

lainnya. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab ketidakpatuhan

pasien dalam mengikuti instruksi tenaga kesehatan dalam pelaksanaan

diet. Pola makan penderita DM dipengaruhi oleh berbagai macam

1)

Usia

Menurut World Health Organization (WHO) usia lanjut

meliputi usia Pertengahan (Middle Age) = antara 45 59 tahun,

Usia lanjut (Elderly) = antara 60 70 tahun, Usia lanjut tua (Old) =

antara75 90 tahun. Usia berpengaruh terhadap kepatuhan dalam

menerapkan terapi non farmakologis, salah satunya diet (Isnariani,

2006). Usia lebih dari 35 tahun cenderung tidak mudah untuk

menerima informasi baru yang menunjang derajat kesehatannya,

karena

mereka

mengalami

penurunan

dalam

mengingat

dan

menerima sesuatu hal yang baru (Anggina, 2010). Hal ini didukung

oleh penelitian Lestari (2012) yang menunjukkan bahwa kepatuhan

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

22

diet

pada

responden

usia

dewasa

lebih

dibandingkan lansia (47,9%).

tinggi

(63,5%)

Pendapat lain mengatakan bahwa orang dewasa tua lebih

mematuhi regimen pengobatannya daripada dewasa muda, karena

pada penderita DM lebih banyak melakukan terapi fisik sehingga

mengeluarkan energi lebih banyak daripada penderita yang lebih

tua (BPOM RI, 2006).

2)

Jenis kelamin

 
 

Sattar et al.,(2003) mengatakan laki-laki memiliki risiko

 

lebih besar terkena DM tipe 2 dibandingkan perempuan, hal ini

karena

pada

laki-laki

terjadi

penumpukan

lemak

yang

terkonsentrasi di sekitar perut sehingga memicu obesitas sentral

yang lebih beresiko memicu gangguan metabolisme sehingga laki-

laki lebih rentan terhadap DM tipe 2. Laki-laki biasanya bersifat

lebih aktif dalam hal pengobatan dibandingkan perempuan, karena

mereka

memiliki

tanggung

jawab

terhadap

keluarga

sehingga

mereka

lebih

patuh.

Namun

pada

penelitian

Lestari

(2012)

menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis

kelamin dengan kepatuhan diet pada penderita DM.

3)

Pekerjaan

 

Pekerjaan adalah kesibukan yang harus dilakukan seseorang

terutama

untuk

menunjang

kehidupan

keluarganya.

Beberapa

penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pekerjaan dapat

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

23

menyebabkan penderita tidak patuh karena sibuk bekerja sehingga

tidak bisa memperhatikan diet sesuai dengan yang dianjurkan.

Responden yang bekerja akan cenderung menghabiskan waktu

untuk aktivitas pekerjaannya sehingga akan mengurangi waktunya

untuk melakukan kunjungan ke pusat layanan kesehatan untuk

mendapatkan informasi mengenai kesehatannya (BPOM RI, 2006).

4)

Pendidikan

Notoatmodjo

(2007)

menjelaskan

bahwa

pendidikan

merupakan

kegiatan

atau

proses

pembelajaran

untuk

mengembangkan

atau

meningkatkan

kemampuan

tertentu.

Semakin rendah pendidikan seseorang maka akan semakin rendah

pula

kemampuannya

dalam

menyikapi

suatu

permasalahan.

Penelitian yang dilakukan Bangun (2009) menunjukkan bahwa ada

hubungan

yang

bermakna

antara

tingkat

pendidikan

dengan

kepatuhan diet pada penderita DM.

 

5)

Lama menderita DM

Sukamadinata (2009)

dalam Phitri (2013) menyatakan,

bahwa seseorang yang lama menderita penyakit akan mampu

merespon penyakit dengan rajin melakukan pengobatan. Semakin

lama seseorang menderita DM maka ia akan memiliki pengetahuan

dan pengalaman yang baik dalam hal diet sehingga akan patuh

terhadap diet yang dianjurkan.

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

24

Namun pendapat lain menyatakan bahwa lama penyakit

memberikan efek negatif terhadap kepatuhan pasien. Makin lama

seseorang

menderita

penyakit

DM,

makin

kecil

tingkat

kepatuhannya (BPOM RI, 2006). Hasil penelitian yang dilakukan

pada 60 penderita DM di Poliklinik Endokrin Rumah Sakit Hasan

Sadikin Bandung menunjukkan bahwa lama menderita penyakit ini

berpengaruh 0,091 kali terhadap kepatuhan, semakin singkat durasi

seseorang menderita DM, maka akan semakin patuh terhadap

rekomendasi terapi (Bangun, 2009).

Penelitian Fisher dalam Yusra (2011) mengatakan bahwa

pasien yang menderita DM selama 4 bulan sudah menunjukkan

keyakinan diri yang baik. Wu et al., (2006) menemukan bahwa

pasien yang telah menderita DM ≥ 11 tahun memiliki keyakinan

diri yang lebih baik daripada pasien yang menderita DM < 10

tahun.Namun penelitian Bernal et al., (2000) menemukan bahwa

pasien yang telah lama menderita DM namun disertai komplikasi

memilki keyakinan diri yang rendah.

6)

Pengetahuan

Notoatmodjo dalam Rusimah (2011) menyatakan bahwa

pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan hal ini terjadi setelah

orang

melakukan

pengindraan

terhadap

objek

tertentu.

Pengetahuan atau kognitif ini merupakan domain yang penting

dalam membentuk tindakan seseorang. Sikap penderita DM sangat

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

25

dipengaruhi oleh pengetahuan, dalam hal ini pengetahuan tentang

penyakit

DM

sangatlah

penting

karena

pengetahuan

ini

akan

membawa penderita untuk menentukan sikap, berusaha, berpikir

dan berusaha untuk tidak terkena penyakit atau dapat mengurangi

kondisi penyakitnya. Jika seseorang pengetahuannya baik maka

sikap yang yang dimiliki terhadap diet DM semestinya dapat

mendukung

terhadap

kepatuhan

diet

DM

dikutip dalam Phitri 2013).

itu

sendiri

(Effendi

Penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2012) menunjukkan

bahwa

kepatuhan

diet

pada

penderita

DM

dengan

tingkat

pengetahuan

baik

lebih

tinggi

(78,3%)

dibandingkan

dengan

tingkat

pengetahuan

kurang

(22,5%).

Ada

hubungan

yang

bermakna antara pengetahuan dengan kepatuhan diet DM.

7)

Dukungan keluarga

Dukungan keluarga merupakan segala bentuk perilaku dan

sikap positif yang diberikan keluarga kepada salahsatu anggota

keluarga

yang

sakit

yaitu

anggota

keluarga

yang

mengalami

masalah kesehatan (Friedmen, 2010). Dukungan keluarga menjadi

faktor penting yang mempengaruhi kepatuhan. Dukungan keluarga

pada

pasien

DM

bertujuan

untuk

memberikan

pemahaman

mengenai

perjalanan

penyakit

pencegahan,

penyulit

dan

penatalaksanaan.

Penelitian

yang

dilakukan

Susanti

dan

Sulistyarini (2013) menunjukkan bahwa dukungan keluarga dapat

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

26

meningkatkan kepatuhan diet pada pasien DM di Ruang Rawat

Inap RS Baptis Kediri.

8)

Status sosial ekonomi

Pearlin dalam Bangun (2009) mengatakan bahwa individu

yang menderita penyakit kronis cenderung untuk memanfaatkan

sumber

ekonominya

untuk

memodifikasi

lingkungan

sehingga

dapat

mengurangi

dialaminya.

Begitu

dampak

perubahan

dari

fungsi

pula

halnya

dengan

pasien

fisik

yang

DM

tipe

2

cenderung untuk melakukan kontrol / cek gula darah di pusat

pelayanan kesehatan yang terjangkau. Dalam menjalani aktivitas

fisik maupun diet, pasien DM tipe 2 lebih mudah mematuhi

rekomendasi terapi yang bersifat ekonomis dan tidak memberatkan

secara finansial.

2. Kadar Gula Darah

a.

Definisi

Kadar gula darah adalah salah satu tes laboratorium yang

paling

banyak

dikerjakan

ataupun

diinstruksikan

dalam

dunia

kedokteran,

selain

pemeriksaan

darah

rutin

(Sidartawan,

2010).

Bahkan karena cukup banyak digunakan, tersedia juga alat genggam

yang

bisa

digunakan

untuk

memeriksa

kadar

gula

darah

secara

mandiri.

Ada banyak

kasus

yang memerlukan

pemeriksaan

gula

darah, mulai dari pemantauan kondisi gula darah pada pasien diabetes,

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

27

hingga

bayi

yang

mengalami

kehilangan kesadaran.

kejang

atau

pasien

asing

yang

Tujuan

tes

ini

sederhana,

unruk

mengetahui/menentukan

apakah kadar gula glukosa darah berada dalam rentang normal, serta

memantau

kadar

gula

darah

yang

tinggi

(hiperglikemia)

atau

sebaliknya yang rendah (hipoglikemia). Berguna bagi mereka yang

memiliki

Diabetes

Mellitus,

ataupun

rentan

terserang

Diabetes

Mellitus.

Ada dua jenis sampel yang dites, pertama adalah glukosa

darah, dimana bisa dilakukan secara rutin pada penderita Diabetes

Mellitus, atau pada mereka yang menunjukkan gejala hiperglikemia

ataupun

hipoglikemia.

Jika

Anda

penderita

Diabetes

Mellitus,

biasanya akan melakukan beberapa kali pemeriksaan dalam satu

harinya secara mandiri,

sedangkan

glukosa urine biasanya dicek

ketika pemeriksaan urine rutin (urinalisis). Biasanya sampel darah

diambil dari lengan anda, atau setetes darah dari tusukan pada ujung

jari, kadang sampel acak dari urine digunakan. Beberapa penderita

Diabetes Mellitus mungkin akan memerlukan pemantauan glukosa

berkelanjutan, dengan memasangkan sensor kecil berkabel di bawah

permukaan kulit perut yang memantau kadar glukosa darah setiap 5

menit. Secara umum, pasien disarankan untuk berpuasa, tidak makan

atau minum apapun kecuali air putih selama 8 jam sebelum tes

kadar glukosa darah. Pada pasien Diabetes Mellitus, atau dicurigai

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

28

memiliki Diabetes Mellitus, tes biasanya dilakukan baik pasca puasa

dan setelah makan. Untuk tes dengan waktu tertentu, setelah makan

ataupun acak, silahkan ikuti instruksi dari dokter (Soegondo, 2009).

Sampel darah didapatkan dengan memasukkan jarum suntik ke

dalam vena (pembuluh darah balik) pada tangan atau dari setetes

darah yang didapat dengan menusuk kulit, biasanya pada ujung jari,

dengan lanset yang berujung tajam. Kadang, sampe urin yang acak

dikumpulkan. Beberapa penderita Diabetes Mellitus mungkin akan

menggunakan alat pemantau kadar glukosa berkelanjutan, dengan

sensor kecil yang tertanam dibawah kulit perut dan diletakkan pada

posisinya menggunakan plaster. Sensor ini akan mengukur kadar

glukosa darah setiap 5 menit dan mengirimkan hasilnya pada perkakas

elektronik yang dilekatkan pada baju penderita. Pembacaan digital

akan menunjukkan nilai glukosa secara tepat waktu (Soegondo, 2009).

Tes ini biasanya digunakan untuk memeriksa apakah ada

kondisi hiperglikemia atau hipoglikemia, membantu mendiagnosis

Diabetes Mellitus dan memantau kadar glukosa darah pada penderita

Diabete

Mellitus.

Tergantung

pada

tujuan

tesnya,

glukosa

dapat

diukur setelah puasa, setiap saat, atau setelah makan (post prandial),

dan atau sebagai bagian dari tes toleransi glukosa. Pemeriksaan

glukosa darah dapat digunakan untuk mendiagnosis Diabetes Mellitus,

termasuk

mungkin

dengan

bantuan

pemeriksaan

tambahan

hemoglobin

A1c.

Ada

sejumlah

prosedur

dan

tes,

termasuk

tes

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

29

glukosa setidaknya dua kali dalam jangka waktu yang berlainan untuk

memastikan diagnosis dapat ditegakkan (Soegondo, 2009).

Tes glukosa juga disarankan pada seseorang yang memiliki

gejala

glukosa

darah

tinggi

(hiperglikemia),

seperti

sering

haus,

biasanya diikuti dengan sering buang air kecil, kelelahan, pandangan

kabur dan infeksi yang lambat sembuh. Atau gejala-gejala glukosa

darah

rendah

(hipoglikemia),

seperti

berkeringat,

lapar,

gemetar,

cemas,

bingung

dan

pandangan

kabur.

Tes

glukosa

darah

juga

dilakukan pada kondisi kegawatdaruratan untuk menentukan apakah

glukosa darah yang tinggi atau rendah yang menyebabkan pingsan

atau penurunan kesadaran (Soegondo, 2009).

Kadar

glukosa

tingginya

biasanya

selalu

mengarahkan

kecurigaan pada diabetes, namun banyak kondisi dan penyakit lain

yang juga dapat meningkatkan kadar glukosa darah. Informasi berikut

akan memberikan makna dari hasil tes glukosa darah yang diperoleh.

Tes ini didasarkan pada American Diabetes Association (ADA, 2010).

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

30

Tabel 2.6 Rekomendasi Kadar Gula Darah Berdasarkan American Diabetes Association (ADA)

Jenis Pemeriksaan

Kadar Glukosa

Indikasi

Gula Darah Sewaktu (plasma)

< 110 mg/ dL 110- 199 mg/ dL

200 mg/ dL

Glukosa rendah

Glukosa normal

Glukosa tinggi

Glukosa Darah Sewaktu (kapiler)

Glukosa Darah Puasa

< 90 mg/ dL 90-199 mg/ dL

200 mg/ dL

Dari 70 hingga 99 mg/dL (3,9 to 5,5 mmol/L) Dari 100 hingga 125 mg/dL (5,6 to 6,9 mmol/L) 126 mg/Dl (7,0 mmol/L) ke atas pada lebih dari sekali tes acak

Glukosa rendah

Glukosa normal

Glukosa tinggi

Glukosa puasa normal Glukosa puasa terganggu (pra diabetes) Diabetes

Oral Glucose Tolerance Test (OGTT) Sampel diambil 2 jam pasca minum Larutan dengan 75 gram glukosa

Kurang dari 140 mg/dL (7,8 mmol/L) Dari 140 hingga 200 mg/dL (7,8 to 11,1 mmol/L) Lebih dari 200 mg/dL (11,1 mmol/L) pada lebih dari sekali tes acak

Toleransi glukosa normal Toleransi glukosa terganggu (pra diabetes) Diabetes

Pemeriksaan Diabetes Gestasional :

Glucose Challenge Test Sampel diambil 1 jam pasca minum 50 gram glukosa

Kurang dari 140 mg/dL (7,8 mmol/L) 140 mg/dL (7,8 mmol/L) dan lebih beberapa menggunakan nilai batas 130 mg/d (7,2 mmol/L) karena itu mengidentifikasikan 90% perempuan dengan diabetes gestasional, dibandingkan dengan 80% yang teridentifikasi menggunakan batas 140 mg/dL (7,8 mmol/L).

Pemeriksaan normal Abnormal, perlu OGTT

Sumber :American Diabetes Association (ADA, 2010)

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

31

b. Cara Mengontrol Kadar Glukosa Darah

Kadar gula darah dapat dikontrol dengan 3 cara yakni menjaga

berat

badan

ideal,

diet

makanan

seimbang

dan

melakukan

olahraga/latihan fisik. Seiring dengan berjalannya waktu, ketiga cara

tersebut, kadar gula darah mungkin tidak terkontrol dengan baik, pada

keadaan seperti inilah baru diperlukan obat anti diabetes (OAD), pada

dasarnya obat baru diperlukan jika dengan cara diet dan olahraga gula

darah belum terkontrol dengan baik. (Ramdhani, 2008).

c. Cara Menurunkan Kadar Glukosa Darah (Susatyo, 2010)

1)

Diet

 

Diet

rendah

karbohidrat

merupakan

cara

yang

paling

 

dikenal

dalam

menurunkan

kadar

gula

darah.

Makanan

yang

rendah karbohidrat termasuk susu kedelai, selai, dan ikan kering

bisa menjadi pilihan. Selain itu, makanan tinggi serat seperti

kacang kedelai, oatmeal, bran/sekam atau sereal dengan ksimis,

roti whole bread dan kacang-kacangan bisa membantu mengontrol

diabetes.

Disamping

itu,

menambah

asupan

buah

dan

sayur-

sayuran segar.

 

2)

Olahraga

Tetap aktif dan berolahraga setiap hari, Jalan kaki dan

bentuk olahraga ringan lainnya dapat membantu membakar gula

didalam tubuh. Jalan cepat, memotong rumput dan aktifitas rumah

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

 

32

 

tangga

lainnya

merupakan

pilihan

olahraga

yang

tepat

untuk

mengatur kadar glukosa darah.

 

3)

Turunkan berat badan

 

Berat

badan

normal

akan

membantu

mengontrol

kadar

 

glukosa darah. Berkonsultasi dengan ahli nutrisi dan mengikuti

anjuran diet dengan benar.

 

4)

Suplemen

 

Penderita diabetes lebih beresiko mengalami kekurangan

 

seng.

Mengkonsumsi

suplemen

atau

memperbanyak

asupan

makanan yang mengandung seng untuk menurunkan kadar gula

darah. Ayam dan sarden merupakan makanan yang kaya akan

seng.

5)

Istirahat cukup

 
 

Kurang tidur akan mengurangi kemampuan tubuh untuk

 

mengolah

glukosa

darah

agar

efektif.

Anda

bisa

membantu

menurunkan kadar gula darah dengan istirahat yang cukup.

 

6)

Obat-obatan

 

Penggunaan insulin dan obat-obatan penurun kadar gula

darah harus sesuai dengan dosis dan waktu penggunaan yang

dianjurkan

karena

apabila

tidak

sesuai

atau

lupa,

dapat

mengakibatkan,

efek

samping

yang

tidak

diharapkan

seperti

hipoglikemik dan hiperglikemik.

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

33

Tabel 2.2 : Kriteria Pengendalian Diabetes Mellitus

Kriteria

Baik

Sedang

Buruk

Glukosa darah puasa (mg/dL) Glukosa darah 2jam Glukosa sewaktu AIC Kolesterol total(mg/dL) Kolesterol LDL (mg/dL) Kolesterol HDL (mg/dL) TrigelKresenda(mg/dL) IMT (kg/mg) Tekanan darah (mmHg)

80-109

110-125

126

110-144

145-179

180

80-144

145-179

180

< 6,5

6,5-8

> 8

< 200

200-239

240

< 100

100-129

130

> 45

< 150

150-199

200

18,5-22,9

23-25

25

< 130/80

130-140/80-90

> 140/90

Sumber : Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus tipe I Perkeni (2007)

d.

Faktor-faktor

yang

Glukosa Darah

berhubungan

dengan

1)

Faktor Internal

a) Penyakit dan Stres

Seseorang

yang

sedang

menderita

Terkendalinya

Kadar

sakit

karena

virus

atau

bakteri tertentu akan merangsang produksi hormon tertentu

yang secara tidak langsung berpengaruh pada kadar gula darah

(Tandra, 2008). Adapun menurut Leslie (2007), kadar gula

darah dipengaruhi oleh stress seseorang.

Stress

adalah

segala

situasi

dimana

tuntutan

non-spesifik

mengharuskan

individu

untuk

berespon

atau

melakukan

tindakan.

Stress

muncul

ketika

ada

ketidakcocokan

antara

tuntutan yang dihadapi

dengan kemampuan

yang dimiliki,

(Style, 2007). Diabetes yang mengalami stress dapat merubah

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

34

pola makan, latihan, penggunaan obat yang biasanya dipatuhi

diabetes

dan

hal

ini

yang

menyebabkan

terjadinya

hiperglikemia (Smeltzer & Bare, 2008).

Bila stress menetap, respon stress akan melibatkan hipotalamus

pituitari.

Hipotalamus

mensekresi

corticotropin-releasing

factor, yang menstimulasi pituitari anterior untuk memproduksi

glukokartikoid, terutama kortisol. Peningkatan kortisol akan

mempengaruhi peningkatan kadar glukosa darah (Smeltzer &

Bare,

2008).

Selain

itu

kortisol

juga

dapat

menginhibisi

pengambilan glukosa oleh sel tubuh (Guyton, 2007).

b)

Obesitas

Obesitas artinya berat badan yang berlebih minimal sebanyak

20% dari berat badan idaman. Rumus untuk menentukan berat

badan idaman adalah sebagai berikut : (TB dalam cm-100)

10%. Hal ini berarti indeks masa tubuh lebih dari 25 kg/m2

(Sukardji, 2007). Individu dengan Diabetes Mellitus tipe II

diketahui sebanyak 80% diantaranya adalah obesitas. Obesitas

menyebabkan reseptor insulin pada target di seluruh tubuh

kurang

sensitif

dan

jumlahnya

berkurang

sehingga

insulin

dalam darah tidak dapat dimanfaatkan (Ilyas, 2007).

c)

Makanan / Asupan Makan

 

Makanan diperlukan sebagai bahan bakar dalam pembentukan

ATP. Selama pencernaan, banyak zat gizi yang diabsorpsi

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

35

untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh sampai makanan

berikutnya. Di dalam makanan yang dikonsumsi, terkandung

karbohidrat, lemak dan protein (Tandra, 2008). Kadar gula

darah sebagai tercantum pada apa yang dimakan dan oleh

karenanya sewaktu makan diperlukan adanya keseimbangan

diet. Mempertahankan kadar gula darah agar mendekati nilai

normal

dapat

dilakukan

dengan

asupan

makanan

yang

seimbang sesuai dengan kebutuhan (Sukardji, 2007).

Makanan

yang

berbeda

dapat

memberikan

pengaruh

yang

berbeda pula terhadap kadar gula darah. Faktor-faktor penting

dalam diri karbohidrat terhadap kenaikan kadar gula darah

(Rimbawan, 2009) adalah sebagai berikut :

(1) Kandungan serat dalam makanan

(2) Proses pencernaan

(3) Cara pemasakannya

(4) Ada atau tidaknya zat anti terhadap penyerapan makanan

sebagai zat anti nutrient

(5) Waktu makan dengan kecepatan lambat dan cepat

(6) Pengaruh intoleransi glukosa

(7) Pekat atau tidaknya makanan

Pasien Diabetes Mellitus memiliki kemampuan tubuh yang

terbatas untuk mengatur metabolisme hidrat arang dan jika

toleransi

hidrat

Gambaran Diet Pasien

,

arang

dilampaui,

pasien

akan

mengalami

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

36

glikosuria dan ketonuria yang pada akhirnya dapat menjadi

ketoasidosis, maka pembatasan kandungan kandungan hidrat

arang dalam diet pasien Diabetes Mellitus harus dilakukan

(Perkeni, 2009).

d) Jumlah latihan fisik / Olahraga yang dilakukan

Manfaat latihan fisik atau olahraga sebagai terapi Diabetes

Mellitus telah cukup lama dikenal sebagai salah satu upaya

penanggulangan penyakit Diabetes Mellitus, disamping obat

dan diet (Darmono, 2008). Latihan fisikdpat meningkatkan

sensifitas jaringan terhadap insulin. Pada Diabetes Mellitus tipe

I peningkatan sensitifitas jaringan terhadap insulin tersebut

dapat mengurangi kebutuhan insulin, sedangkan pada Diabetes

Mellitus tipe II peningkatan sensitifitas jaringan tersebut sangat

penting dalam regulasi kadar glukosa darah (Ilyas, 2008).

e) Perawatan baik dengan Tablet maupun insulin

Cara kerja obat hipoglikemik oral pada umumnya merangsang

sel beta pankreas untuk mengeluarkan insulin atau mengurangi

absorpsi

glukosa

dalam

usus,

kadar glukosadalam darah.

sehingga

dapat

menurunkan

Pencegahan dengan mengatur pola makan masih merupakan

pengobatan utama, tetapi bila hal ini bersama latihan jasmani

ternyata gagal, maka diperlukan penambahan obat oral. Obat

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

 

37

hipoglikemik

oral

diberikan

agar

Diabetes

Mellitus

dapat

terkontrol dengan baik (Soegondo, 2009).

2)

Faktor Eksternal

a) Pendidikan

Pendidikan adalah upaya persuasi atau pembelajaran kepada

masyarakat

agar

mau

melakukan

tindakan-tindakan

untuk

memelihara

atau

mengatasi

masalah-masalah

dan

meningkatkan kesehatannya. Pendidikan bagi pasien Diabetes

Mellitus

berhubungan

dengan

perilaku

pasien

dalam

melakukan pengendalian terhadap kadar glukosa darah agar

tetap stabil. Hasil atau perubahan

perilaku dengan cara ini

membutuhkan waktu yang lama, namun hasil yang dicapai

bersifat tahan lama karena didasari oleh kesadaran sendiri

(Notoadmodjo, 2007).

b) Pengetahuan

Pengetahuan merupakan penampakan dari hasil ”tabu” dan

terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu

obyek tertentu. Pengetahuan adalah hasil pengetahuan manusia

yang

sekedar

menjawab

pertanyaan

”what”

(Notoatmodjo,

2007).

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat

penting untuk terbentuknya tindakan seseorang sebelum orang

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

38

mengadopsi perilaku baru dalam diri orang tersebut sehingga

terjadi suatu proses berurutan (Rogers, 2007).

Jadi, pengetahuan merupakan tingkatan terendah dalam domain

kognitif. Pengetahuan merupakan hasil dari tingkah laku, hal

ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan pada

suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2007). Pasien Diabetes

Mellitus akan mampu melakukan pengendalian kadar glukosa

darah dengan baik jika didasari dengan pengetahuan mengenai

penyakut Diabetes Mellitus baik tanda dan gejala maupun

penanganannya.

c) Kedekatan dan Keterpaparan terhadap Sumber Informasi

Sumber

informasi

adalah

segala

sesuatu

yang

menjadi

perantara

dalam

menyampaikan

informasi,

mempengaruhi

kemampuan, semakin banyak sumber informasi yang diperoleh

maka semakin

banyak

pula pengetahuan

yang dimilikinya

(Notoatmodjo, 2007). Salah satu faktor yang mempengaruhi

tindakan seseorang dalam meingkatkan kualitas kesehatannya

adalah terjangkaunya informasi yaitu tersedianya informasi-

informasi terkait dengan tindakan yang akan diambil seseorang.

Pada pasien Diabetes Mellitus, dengan adanya kemudahan

untuk memperoleh informasi mengenai pengendalian kadar

gula

darah

dapat

memfasilitasi

terjadinya

tindakan

untuk

melakukan pengendalian kadar gula darah mereka.

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

39

B. Kerangka Teori

Akut Diabetes Mellitus Komplikasi Kronik Diperlukan pengelolaan yang baik
Akut
Diabetes Mellitus
Komplikasi
Kronik
Diperlukan pengelolaan yang baik
Edukasi
Edukasi
Komplikasi Kronik Diperlukan pengelolaan yang baik Edukasi Terapi Nutrisi Medis (diet) - Tepat dalam jumlah makan
Komplikasi Kronik Diperlukan pengelolaan yang baik Edukasi Terapi Nutrisi Medis (diet) - Tepat dalam jumlah makan

Terapi Nutrisi

Medis (diet)

- Tepat dalam

jumlah makan

- Tepat jadwal

makan

- Tepat jenis

makanan yang

dikonsumsi

jadwal makan - Tepat jenis makanan yang dikonsumsi Latihan Jasmani Terapi Farmakologi Kadar Gula Darah

Latihan Jasmani

- Tepat jenis makanan yang dikonsumsi Latihan Jasmani Terapi Farmakologi Kadar Gula Darah Penderita DM tipe

Terapi

Farmakologi

Kadar Gula Darah

Penderita DM tipe 2

Farmakologi Kadar Gula Darah Penderita DM tipe 2 Sumber Gambar 2.1 Kerangka Teori : ADA (2008),

Sumber

Gambar 2.1 Kerangka Teori

: ADA (2008), Perkeni (2011), Waspadji (2007), Ramdhani (2008), Susatyo (2010)

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

C. Kerangka Konsep

40

Kerangka konsep merupakan fokus penelitian yang akan diteliti, yang

terdiri dari variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen).

Adapun kerangka konsep dari penelitian ini adalah:

Variabel Bebas

Variabel Terikat

Pola Diet

Kadar Gula Darah Penderita DMTipe

2

Terikat Pola Diet Kadar Gula Darah Penderita DMTipe 2 Variabel confounding - Penyakit dan Stres -

Variabel confounding

- Penyakit dan Stres

- Obesitas

- Jumlah latihan fisik

- Perawatan baik (Tablet / insulin)

- Pendidikan

- Pengetahuan

- Kedekatan dan keterpaparan terhadap sumber informasi

Gambar 2.2 Bagan kerangka konsep

Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017

D. Pernyataan Penelitian

41

Inti dari suatu penelitian ialah dikarenakan adanya masalah yang perlu diatasi,

ada fenomena yang belum diketahui dan penting untuk diketahui. Cara

peneliti untuk merumuskan hal tersebut secara jelas ialah dengan membuat

pertanyaaan penelitian yang akan di jawab dalam penelitian (Notoatmodjo S,

2010). Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep yang telah dijelaskan

diatas, maka peneliti merumuskan pernyataan yaitu bagaimana gambaran diet

pasien diabetes mellitus tipe 2 dalam upaya pengendalian kadar gula darah di

wilayah Puskesmas Purwokerto Utara 2.

Gambaran Diet Pasien

,

KHAERUL ANWAR ROSADI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017