Anda di halaman 1dari 15

DPPP 10

Nama : Rosani Chaerunnisa Ikhsan


NIM : A31115035

Sistem Buku Besar Umum, Sistem Pelaporan Keuangan dan Sistem Pelaporan Manajemen

A. Skema Pengkodean Data


Pengkodean penting untuk bagian GLS dari sistem GLS/FRS, yang merupakan titik
dimana semua subsistem SIA berkumpul bersama. Dengan kata lain bahwa semua subsistem
berkaitan melalui arus informasi ke GLS.
Untuk melakukan suatu bisnis, suatu organisasi harus dengan efektif
mengorganisasikan arus-arus ini. Pengkodean data merupakan suatu metode yang mengatasi
masalah itu, dan GLS adalah tempat yang logis untuk memperkenalkan pengkodean dan
menspesifikasi aplikabilitasnya untuk seluruh SIA.

 Sebuah sistem tanpa kode


Pendekatan tanpa kode memerlukan ruang pencatatan yang luas. Efek negatif dari
pendekatan ini dapat dilihat dalam banyak bagian organisasi:
1) Staf Penjualan. Untuk mengidentifikasi item-item yang dijual dengan benar memrlukan
penjelasan rincian yang banyak ke dokumen sumber.
2) Personel Gudang. Menempatkan dan mengambil barang-barang untuk pengiriman
terhambat, sering kali terjadi kesalahan pengiriman.
3) Personel Akuntansi. Memposkan ke buku besar akan memerlukan pencarian melalui
file-file buku besar pembantu dengan keterangan yang panjang sebagai kuncinya,

 Sebuah sistem dengan kode


Melihat pentingnya pengkodean data. Sebagian pengguna kode umumnya adalah:
1) Dengan tepat mewakili sejumlah informasi yang kompleks yang jika tidak dikodekan
akan berantakan.
2) Menyediakan sarana akuntabilitas untuk kelengkapan transaksi yang di proses.
3) Mengidentifikasi transaksi dan akun yang unik dalam satu file.
4) Mendukung fungsi audit dengan menyediakan jejak audit yang efektif.
 Skema Pengkodean Numerik dan Alfabetis
1) Kode Sekuensial
Kode sekuensial mewakili item-item dalam tatanan yang berurutan (menurun atau
menarik). Pada saat dicetak, setiap dokumen diberi nomor kode sekunsial yang unik. Nomor
ini menjadi nomor transaksi yang memungkinkan transaksi melacak setiap transaksi yang
diproses dan mengidentifkasi setiap dokumen yang hilang atau berada diluar urutan.
 Keunggulan: pengkodean sekuensial mendukung rekonsiliasi transaksi batch, seperti
pesanan penjualan pada akhir pemrosesan. Tanpa dokumen yang diberi nomor berurutan,
masalah pensortiran akan sulit di deteksi dan dipecahkan.
 Kelemahan: pengkodean sekuensial tidak membawa kandungan informasi di luar tatanan
urutan dokumen.

2) Kode Blok
Kode blok numerik merupakan variansi dari pengkodean sekuensial yang mengatasi
sebagian dari kelemahannya. Pendekatan ini dapat mewakili seluruh item-item kelas dengan
membatasi setiap kelas ke kisaran spesifik dalam skema pengkodean. Aplikasi yang umum
dari pengkodean blok adalah pembuatan chart of account (daftar akun).
 Keunggulan: pengkodean blok memungkinkan penyisipan kode baru dalam satu blok
tanpa harus mengorganisasikan kembali seluruh struktur kode.
 Kelemahan: kandungan informasi dari kode blok tidak langsung kelihatan.

3) Kode Grup
Kode grup numerik digunakan untuk mewakili item-item atau peristiwa yang kompleks
yang melibatkan dua atau lebih data yang saling berkaitan.
 Keunggulan: kode grup memfasilitasi perwakilan sejumlah besar data yang berbeda,
memungkinkan struktur data disajikan salam bentuk hierarkis yang bersifat logis dan
lebih mudah diingat oleh manusia, dan memungkinkan analisis dan pelaporan yang rinci
baik dalam kelas item maupun pada item-item dari kelas yang berbeda.
 Kelemahan: kode grup cenderung digunakan berlebihan, terdapat kemungkinan bahwa
data-data yang tidak saling berkaitan akan dihubungkan semata-mata karena memang
dapat dilakukan.
4) Kode Alfabetis
Kode alfabetis dapat digunakan untuk banyak tujuan yang sama seperti kode numerik.
Karakter alfabet dapat ditempatkkan secara berurutan (dalam urutan alfabetis).
 Keunggulan: kapasitas untuk mewakili sejumlah besar item meningkat secara dramatis
melalui penggunaan kode alfabetis murni atau karakter alfabetis yang digabungkan
dengan kode numeric.
 Kelemahan: kode alfabetis sulit merasioalisasi makna kode-kode yang telah ditetapkan
dalam sekuensialdan mensortir record yang dikodekan secara alfabetis cenderung lebih
sulit bagi pemakai.

5) Kode Mnemonik
Kode mnemonik adalah karakter alfabetis dalam bentuk akronim dan kombinasi lainnya
yang bermakna.
 Keunggulan: skema kode mnemonik membuat pemakai tidak perlu mengingat, artinya
kode itu sendiri membawa informasi tingkat tinggi tentang item yang mewakilinya.
 Kelemahan: kemampuan kode mnemonik terbatas dalam mewakili item-item dalam
suatu kelas. (DAPP 1).

B. Sistem Buku Besar Umum (General ledger system/GLS)

1. Voucher Journal
Suatu dokumen yang disebut voucher jurnal merupakan sumber input bagi buku besar
umum. Sebuah voucher jurnal, yang dapat digunakan untuk mewakili rangkuman transaksi
yang serupa atau satu transaksi yang unik, mengidentifikasi jumlah keuangan dan akun buku
besar umum yang dipengaruhi. Transaksi rutin, jurnal penyesuaian, dan jurnal penutup,
semuanya dimasukkan ke buku besar umum dari voucher jurnal. Karena voucher jurnal harus
disetujui oleh manajer yang bertanggung jawab, mereka menyediakan kontrol yang efektif
terhadap jurnal buku besar umum yang tidak diotorisasi. Jurnal buku besar umum tradisional
tidak digunakan dalam sistem ini yang menggunakan voucher jurnal. Kebanyakan organisasi
telah mengganti buku besar umum dengan file voucher jurnal. Transaksi-transaksi yang
sebaiknya dicatat pada form Jurnal Voucher (Formulir Bukti jurnal) adalah sebagai berikut:
 Transaksi setoran dana tunai ke cash/bank;
 Transaksi transfer dana dari cash/bank ke cash/bank;
 transaksi pengambilan dana tunai dari cash/bank;
 Penyesuaian atas pembebanan sewa dibayar dimuka (prepaid rent), asuransi dibayar
dimuka (repaid insurance) dan pembebanan transaksi pembayaran dimuka lainnya;
 Perhitungan dan pencatatan biaya yang masih harus dibayar (Accrual Exspense);
 Penyesuaian atas perlengkapan yang telah habis dipakai;
 Pembelian dan penjualan valuta asing; (DAPP 2).

2. Basis Data GLS


Database GLS terdiri atas sejumlah file master buku besar umum, file sejarah buku besar
umum, file voucher jurnal, file sejarah voucher jurnal, file pusat pertanggungjawaban, dan
file master anggaran.
 File master buku besar umum merupakan file utama dalam database GLS. Basis dari file
ini adalah kode daftar akun perusahaan.setiap record file master buku besar umum bisa
merupakan akun buku besar umum yang terpisah .FRS mengambil dari master buku besar
umum untuk menghasilkan laporan keuangan perusahaan. MMRS juga menggunakan file
ini untuk mendukung kebutuhan informasi internal.
 File Sejarah Buku Besar Umum memiliki format yang sama dengan induk GL. Tujuan
utama file ini adalah untuk mewakili laporan keuangan komparatif dengan basis historis.
 File voucher jurnal adalah total voucher jurnal yang diproses pada periode saat ini.
Dengan menyediakan satu record untuk semua transaksi buku besar umum, file ini
melayani tujuan yang sama seperti jurnal buku besar umum tradisional.
 File sejarah Voucher Jurnal berisi voucher jurnal untuk periode masa lalu. Informasi
histories ini mendukung tanggung jawab kepengurusan manajemen untuk menghitung
utilisasi sumber daya.
 File Pusat Pertanggungjawaban berisi data pendapatan, pengeluaran dan utilisasi sumber
daya lainnya untuk setiap pusat pertanggungjawaban dalam organisasi.
 File Master Anggaran berisi jumlah anggaran untuk pendapatan, biaya, dan sumber daya
lainnya untuk pusat-pusat pertanggungjawaban. Data- data ini , dalam kaitannya dengan
file pusat pertanggungjawabaan.(DAPP 3).

3. Prosedur GLS
Proses pembaruan GLS sederhana secara konseptual, seperti ditampilkan pada sisitem
manual bab sebelumnya. Voucher jurnal mengalir dari sistem pemrosesan transaksi dan
sumber lainnya ke departemen buku besar umum. Secara rutin, ini semua merupakan
rangkuman transaksi dari akun-akun buku besar pembantu dan jurnal-jurnal khusus yang
berada disiklus transaksi. Fokus kita yang selanjutnya adalah hubungan antara GLS dan
Laporan Keuangan. (DAPP 4).

C. Sistem Pelaporan Keuangan


Tanggung jawab untuk memberikan informasi ke pihak eksternal ditetapkan oleh
standar hukum dan professional. Kebanyakan dari informasi ini ada dalam bentuk laporan
keuangan tradisional, pengembalian pajak, dan dokumen-dokumen yang diperlukan oleh
lembaga yang menerapkan peraturan tersebut.
Penerima utama dari informasi laporan keuangan adalah para pengguna eksternal,
seperti pemegang saham, kreditor, dan pejabat pemerintah. Secara umum dapat dikatakan
bahwa para pengguna informasi luar tertarik dengan kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Oleh karena itu, mereka memerlukan informasi yang memungkinkan merekamengamati tren
kinerja selama beberapa waktu dan melakukan perbandingan di antara perusahaan yang
berbeda.

1. Proses Akuntansi Keuangan


FRS pada kenyataannya merupakan langkah terakhir dalam seluruh proses akuntansi
keuangan (financial accounting process) yang dimulai dari siklus transaksi. Proses akuntansi
keuangan dimulai dari status bersih di awal tahun fiskal yang baru. Hanya akun-akun
permanen neraca yang merupakan kelanjutan dari tahun sebelumnya. Dari titik ini, prosesnya
dilanjutkan dengan langkah-langkah berukut:
 Mencatat transaksi,
 Mencatat di jurnal khusus,
 Membukukan ke buku besar pembantu,
 Membukukan ke buku besar umum,
 Menyiapkan neraca percobaan yang belum disesuaikan,
 Membuat jurnal penyesuaian,
 Menjurnal dan membukukan ayat jurnal penyesuaian,
 Menyiapakan neraca percobaan yang telah disesuaikan,
 Menyiapakan laporan keuangan,
 Menjurnal dan membukukan ayat jurnal penutup, dan
 Menyiapakan neraca percobaan pascapenutupan.
Proses akuntansi keuangan tersebut memiliki tiga tahap yang berbeda, yang masing-
masing melibatkan elemen-elemen dari satu atau lebih subsistem informasi :
Tahap 1: Prosedur harian. Subsistem TPS mencatat transaksi harian di dokumen sumber,
kemudian mencatatnya di jurnal khusus, membukukan transaksi individual ke buku
besar pembantu, dan menyiapkan voucher jurnal.
Tahap 2: Prosedur akhir periode. Voucher jurnal dimasukkan ke buku besar umum secara
berkala (melibatkan TPS dan GLS).
Tahap 3: Prosedur pelaporan keuangan. Analisis akun-akun buku besar umum dan langkah-
langkah yang mengarah ke pembuatan laporan keuangan (Persiapan neraca
percobaan, ayat jurnal penyesuaian, ayat jurnal penutup, dsb) melibatkan FRS dan
GLS. (DAPP 5)

2. Mengendalikan GL/FRS
Aktivitas-aktivitas GL/FRS secara ekslusif merupakan pekerjaan akuntansi. Tidak seperti
pemrosesan transaksi, yang juga melibatkan arus sumber daya fisik, kekhawatiran
pengendalian terhadap GL/ FRS berkenaan dengan akurasi dan reliabilitas informasi
akuntansi. Eksposur Potensial dalam sistem ini terdiri atas:
 Jejak audit yang tidak sempurna,
 Akses yang tidak diotorisasi ke buku besar umum,
 Akun buku besar umum yang tidak seimbang dengan akun buku besar pembantu, dan
 Saldo akun buku besar umum yang salah karena voucher jurnal yang salah atau tidak
diotorisasi.
Jika tidak dikendalikan, eksposur di atas dapat menyebabkan laporan yang salah dan
dapat menyesatkan para pengguna, serta dapat menyebabkan kerugian keuangan yang
signifikan bagi perusahaan dan sanksi dari pihak yang berwenang karena tuntutan hukum
yang dapat timbul. (DAPP 6).

3. Isu Pengendalian GL/FRS


 Otorisasi Transaksi
Voucher jurnal merupakan dokumen yang mengotorisasi suatu ayat jurnal ke buku besar
umum. Voucher jurnal memiliki berbagai sumber seperti pemrosesan penerimaan kas,
pemrosesan pesanan penjualan, dan kelompok pelaporan keuangan.

 Pemisahan Tugas
Petugas administrasi buku besar umum tidak boleh :
1. Memiliki tanggung jawab untuk melakukan pembukuan untuk jurnal khusus atau buku
besar pembantu
2. Menyiapkan voucher jurnal
3. Bertanggung jawab dalam mengawasi aktiva fisik

 Pengendalian Akses
Pengendalian akses memiliki dua elemen: akses langsung dan akses tidak langsung.
Kekhawatiran akses langsung dikurangi dengan memastikan bahwa voucher jurnal dibukukan
hanya oleh individu yang diotorisasi. Eksposur untuk akses tidak langsung berasal dari
buruknya pengendalian terhadap voucher jurnal di departemen sumber.

 Catatan Akuntansi
Catatan-catatan akuntansi sepenuhnya mendeskripsikan aktivitas perusahaan. Salah satu
aspek penting dari fungsi pencatatan ini adalah pemeliharaan jejak audit. Jejak audit adalah
jaringan dokumen, jurnal, dan buku besar yang didesain untuk memastikan bahwa suatu
transaksi dapat secara akurat ditelusuri melalui sistem tersebut dari awal sampai disposisi
akhirnya. Jejak audit diperlukan untuk beberapa alasan :
1) memberikan kemampuan untuk menjawab pertanyaan;
2) mampu merekonstruksi file jika semua atau sebagian file mengalami kerusakan;
3) memenuhi peraturan pemerintah;
4) menyediakan sarana untuk mencegah, mendeteksi, dan memperbaiki, kesalahan.

 Verifikasi Independen
Fungsi buku besar umum digambarkan sebagai suatu langkah verifikasi independen di
SIA. Voucher jurnal, yang merangkum aktivitas transaksi, mengalir dari berbagai departemen
operasional ke GL/ FRS, untuk secara independen di rekonsiliasi dan dibukukan ke akun-
akun buku besar umum. GL/ FRS menghasilkan dua laporan operasional yaitu daftar voucher
jurnal dan laporan perubahan buku besar umum yang menjadi bukti akan keakuratan proses
ini. daftar voucher jurnal (journal voucher listing) menyediakan perincian yang relevan
tentang setiap voucher jurnal yang diterima oleh GL/ FRS sebagai input. Laporan ini
menyeimbangkan debit dan kredit transaksi dan, untuk tujuan analisis, mengklasifikannya
menurut batch, tanggal, dan jenis transaksi. Sedangkan laporan perubahan buku besar umum
(general ledger change report) menyajikan pengaruh transaksi voucher jurnal pada akun
buku besar umum. (DAPP 7).
4. GL/ FRS Berbasis Komputer
GL/ FRS Warisan yang Menggunakan Pemrosesan Batch dan File Datar
Kekuatan :
 Pengendalian. Keunggulan terbesar dari sistem ini terletak pada pengendaliannya.
Meskipun kelihatan seperti metode kuno dalam memelihara buku besar umum, sebagian
perusahaan besar yang menggunakan sistem pemrosesan transaksi real-time memilih
pendekatan ini karena adanya pengendalian cadangan.
 Pelaporan. Sistem ini dapat mendukung pihak manajemen dengan laporan umpan balik
rangkuman terbatas tentang aktivitas transaksi.
Kelemahan :
 Tidak Efisien. Pendekatan file berurutan merupakan penggunaan teknologi secara
konservatif yang menggunakan komputer terutama sebagai alat akuntansi. Sistem ini
tidak berguna dalam meningkatkan efisiensi kegiatan operasi atau memfasilitasi
pengurangan tenaga kerja.
 Rekonsiliasi yang tidak sering dilakukan. Pembaruan yang tidak sering dilakukan
membatasi pihak manajemen pada pemeriksaan akhir periode untuk keseluruhan operasi.
Teknologi yang digunakan dalam GL/ FRS memengaruhi frekuensi pembaruan buku
besar umum. Jika buku besar umum sering diperbarui (setiap setelah satu batch),
manajemen dapat memonitor seluruh proses dan mengevaluasi apakah pengendalian
internal berfungsi seperti yang dimaksudkan.

Rekayasa Ulang GL/ FRS Menggunakan File Akses Langsung


Kekuatan dan kelemahan. Sistem ini tidak menciptakan kembali seluruh buku besar setiap
kali diperbarui, pembaruan dan rekonsiliasi buku besar umum sekarang dapat muncul sebagai
salah satu langkah dalam siklus transaksi. Pendekatan ini sangat memfasilitasi identifikasi
kesalahan dengan tepat waktu ketika batch transaksi tidak seimbang nilainya. Penggunaan
file akses langsung memberikan manfaat tambahan bagi pelaporan manajemen berupa
informasi keuangan dan non keuangan kepada para pengguna internal. Sebagian informasi ini
datang dari basis data buku besar umum, sehingga tersedia bagi berbagai pengguna internal,
juga menciptakan masalah pengendalian yang harus diperhatikan :
 Pemisahan tugas. Sistem pengguna akhir mengotorisasi dan memproses ayat-ayat jurnal
langsung ke buku besar umum. Untuk mengatasi eksposur potensial ini, sistem tersebut
harus memberikan daftar voucher jurnal yang terperinci dan laporan aktivitas akun
kepada pengguna akhir dan departemen buku besar umum. Dokumen-dokumen tersebut
memberi pertimbangan kepada para pengguna tentang tindakan-tindakan otomatis yang
dilakukan sistem sehingga kesalahan dan peristiwa yang tidak biasa, yang memerlukan
investigasi, dapat diidentifikasi.
 Catatan Akuntansi dan Pengendalian Akses. Untuk menjaga integritas catatan-catatan
tersebut, perusahaan harus menerapkan pengendalian yang membatasi aksesnya.
Sejumlah teknik pengendalian tersedia, yang akan membatasi akses ke pengguna yang
diotorisasi saja dan memastikan pengguna yang diotorisasi tidak melebihi hak aksesnya.
(DAPP 7)

D. Sistem Pelaporan Manajemen (Management Reporting System/MRS)


Sistem pelaporan yang mengarah perhatian manajemen ke masalah-masalah dengan
tepat waktu juga mempromosikan efektivitas manajemen sehingga mendukung tujuan bisnis
organisasi. Dalam pengendaliaan MRS manajemen dituntut untuk menyediakan sarana
formal untuk memantau fungsi pengendalian internal. Hal ini dapat dicapai melalui
pemisahan prosedur audit atau dengan aktivitas pengawasan yang berkelanjutan.
Salah satu teknik untuk mencapai pengawasan berkelanjutan adalah penggunaan
laporan manajemen secara bijaksana.Laporan tepat waktu memungkinkan para manager
fungsional seperti penjualan, pembelian produksi , dan pengeluaran kas untuk mengawasi
dan mengendalikan operasi mereka. Ini akan memberikan bukti mengenai berfungsinya atau
tidak berfungsinya pengendalian internal.
Sistem pelaporan sangat berpengaruh terhadap efektivitas manajemen di suatu
perusahaan. Maka dari itu, diperlukan suatu pemahaman tentang apa yang dilakukan oleh
para manajer dan jenis-jenis masalah yang dihadapinya. MRS berperan dalam proses
pengambilan keputusan. Selain itu, MRS juga dapat membantu manajer mengumpulkan,
menganalisis, dan merakit rangkaian informasi untuk mengidentifikasi masalah-masalah
potensial. Berikut merupakan faktor-faktor yang memengaruhi MRS:

1. Prinsip-Prinsip Manajemen
Prinsip manajemen memberikan wewenang pada kebutuhan informasi manajemen.
a. Formalisasi Pekerjaan
Pihak manajemen harus menstruktur perusahaan di sekitar pekerjaan yang dilakukannya,
bukannya di sekitar individu dengan keahlian yang unik. Wilayah perusahaan dibagi ke
pekerjaan yang mewakili posisi pekerjaan penuh waktu dan setiap posisi harus dengan jelas
mendefinisikan batasan tanggung jawab. Tujuannya adalah untuk menghindari suatu struktur
organisasi dimana kinerja, kemampuan, dan eksistensi berkelanjutan perusahaan bergantung
pada individu tertentu. Implikasi untuk MRS, formalisasi pekerjaan suatu perusahaan
memungkinkan spesifikasi informasi yang diperlukan untuk mendukung pekerjaan tersebut.
b. Tanggung Jawab dan Wewenang
Prinsip tanggung jawab (responsibility) merujuk pada kewajiban individu untuk mencapai
hasil yang diinginkan. Tanggung jawab sangat terkait dengan wewenang (authority), yaitu
memberikan wewenang untuk mengambil keputusan dalam batas-batas tanggung jawab itu.
Dalam organisasi bisnis, manajer mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang ke bawah
melalui hirearki organisasi dari atasan ke para bawahannya. Implikasi untuk MRS, prinsip
tanggung jawab dan wewenang mendefinisikan jalur pelaporan vertikal perusahaan dimana
informasi mengalir
c. Jangkauan Pengendalian
Jangkauan pengendalian (span of control) seorang manajer merujuk pada jumlah
bawahan yang langsung di bawah pengendaliannya. Ukuran jangkauan berpengaruh pada
struktur fisik perusahaan. Implikasi untuk MRS, para manajer dengan jangkauan
pengendalian sempit memerlukan laporan yang lebih terperinci. Sedangkan para manajer
dengan tanggung jawab pengendalian luas beroperasi paling efektif dengan informasi yang
lebih ringkas.
d. Manajemen Dengan Pengecualian
Prinsip Manajemen dengan pengecualian (management by exception) menunjukkan
bahwa manajer harus membatasi perhatian mereka pada wilayah-wilayah yang berpotensi
bermasalah (yaitu, pengecualian) daripada terlihat dalam aktivitas atau keputusan. Implikasi
untuk MRS, Laporan-laporan harus mendukung manajemen dengan pengecualian melalui
pemusatan perhatian pada perubahan faktor-faktor kunci yang menunjukkan gejala ada
masalah. Perincian yang tidak perlu dapat mengalihkan perhatian ke fakta-fakta yang
seharusnya tidak ada laporan.

2. Fungsi, Tingkat, Dan Jenis Keputusan Manajemen


Fungsi perencanaan dan pengendalian manajemen secara mendasar mempengaruhi sistem
pelaporan manajemen. Fungsi perencanaan berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang
aktivitas-aktivitas akan datang dari suatu perusahaan yaitu keputusan jangka panjang atau
jangka pendek. Perencanaan jangka panjang melibatkan berbagai pekerjaan, termasuk
penetapan tujuan perusahaan, rencana pertumbuhan dan ukuran optimal perusahaan, dan
memutuskan tingkat diversifikasi di antara produk-produk perusahaan. Perencanaan jangka
pendek melibatkan implementasi rencana-rencana tertentu yang diperlukan untuk mencapai
tujuan rencana jangka panjang. Fungsi pengendalian memastikan bahwa aktivitas-aktivitas
suatu perusahaan sesuai dengan rencana. Pengendalian yang efektif mengambil tempat dalam
kerangka waktu saat ini dan digerakkan oleh informasi umpan balik yang memberi saran
pada manajer tentang status kegiatan operasi yang sedang dikendalikannya. Keputusan
perencanaan dan pengendalian sering diklasifikasikan dalam empat kategori:
a. Keputusan Perencanaan Strategis
Para manajer tingkat atas melakukan keputusan perencanaan strategis, termasuk:
 Menetapkan maksud dan tujuan perusahaan
 Menentukan ruang lingkup aktivitas bisnis
 Menentukan atau memodifikasi struktur organisasi
 Menetapkan filosofi manajemen
Keputusan perencanaan strategis memiliki ciri sebagai berikut:
 Kerangka waktunya jangka panjang
 Informasi yang lebih ringkas
 Cenderung tidak berulang
 Keputusan strategis berkaitan dengan ketidakpastian tingkat tinggi
 Ruang lingkupnya luas dan sangat memengaruhi perusahaan
 Keputusan strategis memerlukan sumber informasi eksternal maupun internal
b. Keputusan Perencanaan Taktis
Keputusan perencanaan taktis berada di bawah keputusan strategis dan dibuat oleh
manajemen tengah. Jangka waktu keputusan ini lebih pendek, lebih spesifik, berulang,
hasilnya lebih pasti, dan kurang berpengaruh pada perusahaan dibandingkan keputusan
strategis.
c. Keputusan Pengendalian Manajemen
Salah satu kegiatan pengendalian manajemen adalah memotivasi para manajer di semua
wilayah fungsional untuk menggunakan sumber daya, termasuk bahan baku, personel, dan
aktiva keuangan, seproduktif mungkin.
d. Keputusan Pengendalian Operasional
Pengendalian operasional memastikan bahwa perusahaan beroperasi sesuai dengan
kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Keputusan pengendalian operasional lebih sempit
dan lebih terfokus daripada keputusan strategis dan taktis karena berkaitan dengan pekerjaan
operasional rutin. Keputusan pengendalian operasional memiliki tiga elemen dasar:
 Standar merupakan tingkat kinerja yang ditetapkan sebelumnya yang diyakini oleh para
manajer dapat dicapai. Misalnya volume penjualan, pengendalian kualitas terhadap
produksi, biaya barang persediaan, penggunaan bahan baku daam proses produksi
produk, dan biaya tenaga kerja dalam produksi. Setelah ditetapkan, standar menjadi dasar
evaluasi kinerja.
 Evaluasi Kinerja. Pengambil keputusan membandingkan kinerja operasioanl yang
dipertanyakan dnegan standar yang ada. Perbedaan di antara dua hal ini disebut varian
(variance). Jika aktual lebih besar dari standar, varian dikatakan tidak menguntungkan.
Jika aktual kurang dari standar, varian dikatakan menguntungkan.
 Pengambilan Tindakan Perbaikan. Setelah membandingkan kinerja dengan standar yang
ada, manajer mengambil tindakan untuk mengatasi setiap kondisiyang di luar kendali.

3. Struktur Masalah
Struktur suatu masalah mencerminkan seberapa baik pengambil keputusan memahami
masalah tersebut. Struktur masalah memiliki tiga elemen:
a. Data-nilai yang digunakan untuk mewakili factor-faktor yang relevan dengan masalah
tersebut.
b. Prosedur-urutan langkah-langkah atau peraturan keputusan yang digunakan untuk
memecahkan masalah.
c. Tujuan-hasil yang ingin dicapai oleh pengambilan keputusan dengan memecahkan
masalah tersebut.
Ketika ketiga elemen tersebut diketahui dengan pasti, masalah akan menjadi terstruktur.
 Masalah Tidak Terstruktur.
Masalah tidak terstruktur adalah masalah yang tidak memiliki teknik solusi tertentu.
Kebutuhan data tidak pasti, prosedurnya tidak spesifik, atau tujuan solusi belum sepenuhnya
dikembangkan.

4. Jenis Laporan Manajemen.


Laporan merupakan sarana formal untuk membawa informasi kepada para manajer.
Laporan manajemen dapat berbentuk fisik sesuai dengan yang diinginkan atau dibutuhkan
oleh penggunanya. Dapat berupa dokumen kertas atau gambar elektronik yang disajikan di
terminal computer, dapat berisi informasi verbal, numerik, atau grafis, atau kombinasinya.
a. Tujuan Laporan.
Laporan dikatakan berguna apabila memiliki kandungan informasi. Nilainya adalah
dampaknya terhadap para pengguna. Ada dua tujuan pelaporan umum:
 Mengurangi tingkat ketidakpastian yang berkaitan dengan suatu masalah yang dihadapi
pengambil keputusan.
 Memengaruhi perilaku pengambil keputusan dengan cara yang positif.
Laporan yang gagal mencapai tujuan ini berarti kurang kandungan informasinya dan tidak
bernilai.

b. Pelaporan Terprogram.
Laporan terprogram memberikan informasi untuk memecahkan masalah yang telah
diantisipasi pengguna. Terdapat dua subkelas laporan terprogram:
 Laporan terjadwal. Dihasilkan ileh sistem pelaporan manajemen menurut kerangka waktu
yang ditetapkan (harian, mingguan, kuartalan, dsb).
 Laporan menurut permintaan. Digerakkan oleh peristiwa, bukan oleh kerangka waktu.

c. Atribut Laporan.
Agar efektif, suat laporan harus memiliki atribut berikut ini:
 Setiap elemen informasi dalam suatu laporan harus mendukung keoutusan manajer.
 Laporan harus diringkas sesuai dengan tingkat manajer dalam hierarki perusahaan.
 Berorientasi Pengecualian. Laporan-laporan pengendalian harus mengidentifikasi
aktivitas yang berisiko keluar dari pengendalian, dan harus mengabaikan aktivitas yang
dibawah pengendalian.
 Informasi dalam laporan harus bebas dari kesalahan yang mengganggu.
 Informs harus selengkap mungkin
 Tepat Waktu. Informasi yang tepat waktu, yaitu cukup lengkap dan akurat, lebih berharga
daripada informasi yang sempurna tetapi terlambat untuk digunakan.
 Informasi dalam suatu laporan harus disajikan sesingkat mungkin.

d. Pelaporan Khusus.
Manajer dengan latar belakang komputer terbatas dapat dengan cepat menghasilkan
laporan khusus dari terminal atau komputer miko, tanpa bantuan tenaga profesional
pemrosesan data. Informasi adalah inti dari operasi bisnis dan manajer dapat menggunakan
data yang disimpan untuk memperoleh wawasan berharga tentang bisnis mereka. Sumber
data ini ditampung untuk mendukung kebutuhan pelaporan khusus melalui konsep penggalian
data. Penggalian data adalah proses memilih, mengeksplorasi, dan memodelkan sejumlah
besar data untuk membuka relasi dan pola global yang ada dlaam basis data berukuran besar
tetapi tersembunyi. Dua pendekatan umum untuk penggalian data yaitu:
 Model Verifikasi, menggunakan teknik penggalian mendalam untuk memverifikasi atau
menolak hipotesis pengguna.
 Model Penemuan, menggunakan penggalian data untuk menemukan informasi yang tidak
diketahui tetapi penting, yang tersembunyi dalam data.
Ciri utama dari inisiatif penggalian data yang sukses adalah gudang data dari arsip data
operasional..gudang data merupakan sistem manajemen basis data relasional yang telah
didesain secara khusus untuk memenuhi kebutuhan penggalian data.

5. Akuntansi Pertanggungjawaban.
Sebagian besar pelaporan manajemen melibatkan akuntansi pertanggungjawaban. Konsep
ini menyatakan bahwa setiap peristiwa ekonomi yang memengaruhi perusahaan adalah
tanggungjawab manajer, dan dapat dilacak ke masing-masing manajer.
a. Penetapan Tujuan Keuangan: Proses Anggaran.
Proses anggaran membantu pihak manajemen mencapai tujuan keuangannya dengan
membentuk tujuan yang dapat diukur untuk setiap segmen perusahaan.
b. Pengukuran Dan Pelaporan Kinerja.
Pengukuran kinerja dan pelaporannya dilakukan di setiap segmen operasional dalam
perusahaan.
c. Pusat Pertanggungjawaban
Untuk mencapai akuntabilitas, aktivitas bisnis secara teratur mengorganisasikan kegiatan
operasi ke dalam unit-unit yang disebut sebagai pusat pertanggungjawaban. Bentuk yang
paling umum dari pusat pertanggungjawaban adalah:
 Pusat Biaya. Merupakan suatu unit organisasi dengan tanggungjawab terhadap
manajemen biaya dalam batas-batas anggaran.
 Pusat Laba. Manajer pusat laba bertanggungjawab untuk mengendalikan biaya dan
menghasilkan pendapatan.
 Pusat Investasi. Manajer pusat investasi memiliki wewenang umum untuk mengambil
keputusan yang secara mendasar memengaruhi perusahaan.
6. Pertimbangan Perilaku
a. Keserasian Tujuan.
Sistem pelaporan manajemen yang terstruktur rapi berperan penting dalam meningkatkan
dan mempertahankan keserasian tujuan. Di sisi lain, MRS yang dirancang dengan buruk
dapat menimbulkan tindakan-tindakan yang tidak optimal yang bertentangan dengan tujuan
perusahaan.
b. Informasi Yang Berlebihan.
Informasi yang berlebihan muncul ketika seorang manajer menerima informasi berlebih
dari yang dapat dicernanya. Informasi yang berlebihan akan membuat manajer mengabaikan
informasi formalnya dan bergantung pada petunjuk-petunjuk informal dalam membuat
keputusan. Jadi, sistem informasi formal digantikan oleh heuristis, tips, prasangka, dan
dugaan. Keputusan yang dihasilkan kemungkinan besar tidak akan optimal dan disfungsional.
c. Ukuran Kinerja Yang Tidak Tepat.
Salah satu tujuan laporan adalah untuk menstimulasi perilaku yang konsisten dengan
tujuan perusahaan. Tetapi ketika ukuran kinerja yang tidak tepat digunakan, laporan akan
berpengaruh sebaliknya. Pengukuran kinerja yang efektif mempertimbangkan semua aspek
yang relevan dengan tanggungjawab seorang manajer. Selain mengukur kinerja umum
(seperti ROI), pihak manajemen harus mengukur tren variabel utama seperti penjualan, harga
pokok penjualan, biaya operasional, dan tingkat aktiva. Terdapat ukuran nonkeuangan yang
menjadi indikator kinerja manajemen, termasuk kepemimpinan produk, pengembangan
personel, sikap pegawai, dan tanggungjawab publik.