Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tidak ada bangsa yang sejahtera dan dihargai bangsa lain tanpa kemajuan
ekonomi. Kemajuan ekonomi akan dapat dicapai jika ada spirit kewirausahaan,
yang kuat dari warga bangsanya. China baik dijadikan contoh konkret dan paling
dekat. Setelah menggelar pesta akbar Olimpiade 2008 yang mencengangkan
banyak orang beberapa waktu lalu, mereka kembali membuat dunia berdecak
dengan kesuksesan astronotnya berjalan-jalan di angkasa luar. Dan kini, dunia
menantikan China turun tangan membantu mengatasi krisis keuangan global.
Tanpa kemajuan ekonomi, tentu semua itu tak mungkin dilakukan China. Salah
satu faktor kemajuan ekonomi China adalah semangat kewirausahaan
masyarakatnya, yang didukung penuh pemerintahnya.
China, Korea Selatan, dan India semakin berjaya mengibarkan produk-
produknya sebagai bendera nasionalnya di pentas global. Bisnis korporasi
multinasional terus menggurita di tanah air, sementara pengusaha dan korporasi
nasional belum juga memiliki satu pun produk bermerek global, kecuali terkenal
sebatas pemasok komoditas primer bernilai tambah rendah
Negara maju umumnya memiliki wirausaha yang lebih banyak ketimbang
negara berkembang, apalagi miskin. Amerika Serikat, misalnya, memiliki
wirausaha 11,5 persen dari total penduduknya. Sekitar 7,2 persen warga Singapura
adalah pengusaha sehingga negara kecil itu maju.
Indonesia dengan segala sumber daya alam yang dimilikinya ternyata
hanya memiliki wirausaha tak lebih 0,18 persen dari total penduduknya. Secara
historis dan konsensus, sebuah negara minimal harus memiliki wirausaha 2 persen
dari total penduduk agar bisa maju.
Bangsa Indonesia semakin berpacu dengan bangsa lain yang sudah lebih
dulu maju. Bahkan, negara-negara yang pernah mengalami krisis ekonomi seperti
Indonesia, yang menyebabkan mulai bergantinya pelaku aktif di dunia bisnis,
semakin jauh melesat. Korporasi baru terus bermunculan, dikendalikan kaum
muda dengan visi bisnis yang kuat, jiwa kewirausahaan yang tangguh. Pemimpin
bisnis berusia muda terus bermunculan, siap membawa ekonominya melaju lebih
pesat.

1.2 Rumusan Masalah


 Apakah pengertian dasar tentang kewirausahaan ?
 Bagaimana maksud dan tujuan kewirausahaan ?
 Bagaimana membangun mental dan jiwa wirausaha muslim ?
 Bagaimana pendidikan dan pelatihan menjadi wirausaha ?
 Bagaimana langkah-langkah menjadi wirausaha ?
 Bagaimana cara menangkap peluang bisnis ?
 Bagaimana berfikir dan bertindak kreatif dan inovatif ?

1.3 Tujuan Masalah


 Untuk mengetahui pengertian dasar tentang kewirausahaan
 Untuk mengetahui maksud dan tujuan kewirausahaan
 Untuk mengetahui membangun mental dan jiwa wirausaha muslim
 Untuk mengetahui pendidikan dan pelatihan menjadi wirausaha
 Untuk mengetahui langkah-langkah menjadi wirausaha
 Untuk mengetahui cara menangkap peluang bisnis
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Dasar Tentang Kewirausahaan


Istilah wirausaha merupakan terjemahan dari kata entrepreneur (bahasa
Perancis), yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan arti between taker
atau go-between, yaitu orang yang berani bertindak mengambil peluang.
Kasmir dalam bukunya mendefinisikan wirausahawan (entrepreneur)
adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam
berbagai kesempatan. Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri
dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam
kondisi tidak pasti.
Kewirausahaan adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai,
kemampuan, dari perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk
memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya.
Dalam konteks bisnis, menururt Thomas W. Zimmerer (1996),
kewirausahaan adalah hasil dari suatu disiplin serta proses sistematis penerapan
kreativitas dan inovasi dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar.
Menurut Robert D. Hisrich et al. kewirausahaan adalah suatu proses
dinamis atas penciptaan tambahan kekayaan. Kekayaan diciptakan oleh individu
yang berani mengambil resiko utama dengan syarat-syarat yang wajar, waktu dan
atau komitmen karier atau penyediaan nilai untuk berbagai barang dan jasa.
Produk dan jasa tersebut tidak atau mungkin baru atau unik, tetapi nilai tersebut
bagaimanapun juga harus dipompa oleh usahawan dengan penerimaan dan
penempatan kebutuhan keterampilan dan sumber-sumber daya.
Peter F. Drucker mengatakan bahwa kewirausahaan merupakan
kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengertian ini
mengandung maksud bahwa seorang wirausahawan adalah orang yang memiliki
kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, berbeda dari yang lain. Atau
mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dengan ada yang sebelumnya.
Sementara itu, Zimmerer mengartikan kewirausahaan sebagai suatu proses
penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan
peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha)
Menurut Instruksi Presiden RI No. 4 Tahun 1 995: “Kewirausahaan adalah
semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan
atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara
kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka
memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang
lebih besar.”
Hakikat kewirausahaan adalah ilmu, seni maupun perilaku, sifat, ciri dan
watak seseorang yang memiliki kemampuan dalam mewujudkan gagasan inovatif
ke dalam dunia nyata secara kreatif (create new & different). Berpikir sesuatu
yang baru (kreativitas) dan bertindak melakukan sesuatu yang baru (keinovasian)
guna menciptakan nilai tambah (value added) agar mampu bersaing dengan tujuan
menciptakan kemakmuran individu dan masyarakat. Karya dari wirausaha
dibangun berkelanjutan, dilembagakan agar kelak dapat tetap berjalan dengan
efektif di tangan orang lain.

2.2. Maksud dan Tujuan Kewirausahaaan


Dalam wacana teoritis, jiwa kewirausahaan tersebut akan mempengaruhi
perilaku orang lain, sebab kepemimpinan guru merupakan fenomenanya dalam
mempengaruhi murid. Perilaku kepemimpinan yang berkualitas bagi guru
ditunjukkan dengan deskripsi karakteristik pribadi guru yang memiliki:
(1) kematangan sosial,
(2) kecerdasan,
(3) kebutuhan untuk berprestasi dan
(5) sikap dalam hubungan kemanusiaan.
Wujud dari perilakuperilaku tersebut pada kenyataannya cenderung
membentuk karakteristik kepribadian yang khas atau perilaku dominan yang
diperlihatkan dalam konteks interaksi dengan para muridnya. Kecenderungan
perilaku tersebut menjadi prototype perilaku yang sering disebut gaya
kepemimpinan guru.
Secara formal, guru adalah seorang “pemimpin” bagi segala kegiatan yang
harus dilakukan oleh murid-muridnya. Dengan demikian, upaya pencapaian
tujuan pembelajaran banyak dipengaruhi oleh keterampilanketerampilan (skills),
wawasan (vision), dan jiwa (spirit) yang dimiliki oleh para guru dalam
melaksanakan tugas-tugas pembelajaran. Apabila para guru memiliki ketiga
kemampuan tadi dalam bidang kewirausahaan, sangat dimungkinkan proses
pembelajaran memiliki efektivitas yang tinggi.
Fungsi guru sebagai pemimpin pendidikan yang paling pokok adalah
sebagai manajer pembaharu pembelajaran melalui proses-proses transformasi
budaya belajar dan bekerja. Proses transformasi budaya tersebut hanya dapat
berlangsung oleh orang-orang yang berjiwa entrepreneur. Sebagai suatu lembaga
pendidikan, sekolah merupakan unit organisasi formal yang memiliki struktur
organisasi tersendiri, dengan tata kerja dan personil khusus yang terlibat di
dalamnya. Guru merupakan pemimpin yang bertanggung jawab dalam pengaturan
dan pengelolaan segala aktivitas pembelajaran, sehingga tujuan-tujuan
pembelajaran dapat tercapai secara efektif.
Salah satu manfaat bagi anda dalam meningkatkan jiwa entrepreneur ialah
dapat membentuk citra anda sebagai guru yang kharismatis. Jiwa entrepreneur
dapat ditularkan melalui proses kepemimpinan transformasional, karena proses ini
memfokuskan secara khusus pada penciptaan dan pemeliharaan dari sebuah
perubahan. Perubahan seperti itu dibutuhkan ketika organisasi mengantisipasi
ancaman baru atau sedang menghadapi ancaman. Oleh karena itu, penanaman
jiwa kewirausahaan sangat relevan dengan kondisi bangsa yang sedang
mengalami keterpurukkan di berbagai sektor.
Guru yang berjiwa entrepreneur juga mencoba untuk menciptakan
hubungan istimewa dengan masing-masing muridnya. Kepemimpinan
entrepreneur mencoba untuk menyediakan stimulasi intelektual dengan
menantang orang-orang yang dipimpinnya untuk berpikir dalam suatu cara yang
benar-benar baru. Meskipun perilaku jelas merupakan hal yang penting,
kepemimpinan entrepreneur juga dapat dipandang sebagai sebuah proses, baik
dalam transaksional maupun tranformasional.
2.3. Membangun Mental dan Jiwa Wirausahawan Muslim
Seorang wirausaha yaitu orang yang melaksanakan proses penciptaan
sesuatu yang baru (kreatif), kesejahteraan/kekayaan dan nilai tambah melalui
gagasan, memadukan sumber daya (visi) dan aspek peluang.12 Wirausaha
merupakan pelaku dari kewirausahaan, yaitu orangorang yang memiliki
kreativitas dan inovatif sehingga mampu menggali dan menemukan peluang dan
mewujudkan menjadi usaha yang menghasilkan nilai/laba. Kegiatan menemukan
sampai mewujudkan peluang menjadi usaha yang menghasilkan disebut proses
kewirausahaan. Kegiatan wirausaha adalah menciptakan barang jasa baru, proses
produksi baru, organisasi (manajemen) baru, bahan baku baru, pasar baru.
Hasilhasil dari kegiatan-kegiatan wirausaha tersebut menciptakan nilai atau laba
bagi perusahaan. Kemampuan menciptakan nilai tersebut karena seseorang
memiliki sifat-sifat kreatif dan inovatif.
Ciri dan watak kewirausahaan menurut Gooffrey G. Meredith adalah
sebagai berikut:
 Percaya diri, Percaya diri merupakan sikap dan keyakinan untuk memulai,
melakukan dan menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang dihadapi. Tidak
ketergantungan, individualistis dan selalu optimis.
 Berorientasi pada tugas. Seorang wirasusahawan harus fokus pada tugas
dan hasil. Apa yang dilakukan wirausahawan merupakan usaha untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan. Keberhasilan pencapaian tugas
tersebut, sangat ditentukan pula oleh motivasi berprestasi, berorientasi
pada keuntungan, kerja keras, serta berinisiatif.
 Berani mengambil resiko. Resiko usaha pasti ada, tidak ada jaminan suatu
usaha akan untung atau sukses terus-menerus. Oleh sebab itu, untuk
memperkecil kegagalan usaha maka seorang wirausahawan harus
mengetahui peluang kegagalan (dimana sumber kegagalan dan seberapa
besar peluang terjadinya kegagalan). Dengan mengetahui sumber
kegagalan, maka kita dapat meminimalisir terjadinya resiko.
Wirausahawan yang berhasil ditentukan oleh kemampuan dalam
memimpin. Memberikan suri tauladan, berfikir positif, dan memiliki kecakapan
untuk bergaul merupakan hal-hal yang sangat diperlukan dalam berwirausaha.
Sifat orisinil ini tentu tidak selalu ada pada diri seseorang. Keorisinilan atau
keunikan dari suatu barang atau jasa merupakan hasil inovasi dan kreativitas yang
ditetapkan, mereka harus bertindak dengan cara yang baru. Intinya kewirausahaan
harus mampu menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
Berorentasi pada masa depan. Memiliki pandangan jauh ke depan, maka
wirausahawan akan terus berupaya untuk berkarya dengan menciptakan sesuatu
yang baru dan berbeda dengan yang sudah ada saat ini. Pandangan ini menjadikan
wirausahawan tidak cepat merasa puas dengan hasil yang diperoleh saat ini
sehingga terus mencari peluang.
Menurut Zimmerer dan Scarborough, ada beberapa faktor yang
mendorong kewirausahaan:
 Wirausahawan sebagai pahlawan.
Seorang yang sudah memiliki tanggung jawab sendiri, keluarga dan
masyarakat pada umumnya akan terdorong untuk melakukan peningkatan
nilai kehidupan. Desakan dan kemampuan dalam diri wirausaha untuk
mampu menghidupi diri sendiri, keluarga, karyawan dan peran aktif di
dalam masyarakat akan memunculkan kebanggaan dalam diri wirausaha.
keinginan untuk menjadi pionir dalam bidang tertentu akan mendorong
munculnya wirausaha.
 Pendidikan kewirausahaan.
Pergeseran mitos :entrepreneurs are born, not made” ke “entrepreneurs has
a disciplines, model, processes and can be learned” menunjukkan bahwa
kewirausahaan mampu dipelajari dan dipraktikkan tanpa wirausaha
tersebut berasal dari keturunan seorang wirausaha. munculnya beberapa
institusi pendidikan yang berfokus atau konsentrasi pada ilmu
kewirausahaan merupakan bukti minat terhadap kewirausahaan.
 Faktor ekonomi dan kependudukan.
Berkembangnya sikap kemandirian dan perbaikan ekonomi secara umum
akan menggerakkan wirausaha dalam menghasilkan barang maupun jasa
yang dibutuhkan masyarakat. Pada masa kini dan mendatang tidak ada
batasan dalam berusaha, tidak peduli jenis kelamin, umur, ras status sosial,
siapapun dapat sukses apabila mereka mampu berusaha dan sukses dengan
baik dengan memiliki usaha.
 Pergeseran ke ekonomi jasa.
Kemajuan di bidang produksi barang memiliki kecenderungan naiknya
jumlah barang yang ada di pasar. Kondisi tersebut akan memicu
munculnya usaha memasarkan barang tersebut ke konsumen, sehingga
memiliki kecenderungan meningkatkan usaha jasa pemasaran barang.
 Gaya hidup bebas, peluang internasional dan kemajuan teknologi.
Create new and different,kreativitas dan keinovasian sebagai landasan
kewirausahaan akan muncul apabila seorang memiliki kebebasan dalam
berpikir dan bertindak. Peluang internasional didukung oleh kemajuan
teknologi akan memunculkan peluang untuk menciptakan barang dan jasa
yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas. Dibukanya peluang
internasional akan memunculkan transfer manusia, teknologi, barang dan
jasa yang memungkinkan wirausaha menciptakan barang dan jasa ke pasar
yang berbeda.
Kewirausahaan dan Perdagang andalam pandangan islam merupakan
aspek kehidupan yang dikelompokkan kedalam masalah mu’amalah, yaitu
masalah yang berkenaan dengan hubungan yang bersifat horizontal antar manusia
dan tetap akan di pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Manusia diperintahkan
untuk memakmurkan bumi dan membawanya ke arah yang lebih baik serta
diperintahkan untuk berusaha mencari rizki. Semangat kewirausahaan diantaranya
terdapat dalam QS. Hud:61, QS.Al-Mulk:15 dan QS.Al-Jumuh:10, dimana
manusia diperintahkan untuk memakmurkan bumi dan membawanya ke arah yang
lebih baik serta diperintahkan untuk berusaha mencari rizki.
Semangat kewirausahaan terdapat dalam Al-Qur’an yang akan diuraikan
sebagai berikut, QS.Hud:61, yang artinya :
   
   
    
   
  
 
 
    
  
61. dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: "Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia
telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya[726], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah
kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi
memperkenankan (doa hamba-Nya)."

QS.Al-Mulk:15,
   
   
  
  
 
15. Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di
segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-
Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Al-Jummuah 10
  
  
   
  
  
10. apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan
carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

QS. Al-Baqarah: 275


   
 
275....... Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Konsep kewirausahaan telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, jauh


sebelum beliau menjadi Rasul. Rosulullah telah memulai bisnis kecil-kecilan pada
usia kurang dari 12 tahun dengan cara membeli barang dari suatu pasar, kemudian
menjualnya kepada orang lain untuk mendapatkan keuntungan agar dapat
meringankan beban pamannya. Bersama pamannya, Rosulullah melakukan
perjalanan dagang ke Syiria. Bisnis Rosulullah terus berkembang sampai kemudai
Khadijah menawarkan kemitraan bisnis dengan sistem profit sharing. Selama
bermitra dengan Khadijah, Rosulullah telah melakukan perjalanan ke pusat bisnis
di Hbasyah, Syiria dan Jorash (Ermawati, n.d.).
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan wirausaha. Banyak
ditemukan ayat atau hadits yang mendorong umat Islam untuk berwirausaha,
misalnya keutamaan berdagang seperti disebutkan dalam hadits yang artinya:
“Perhatikan olehmu sekalian perdagangan, sesungguhnya di dunia perdagangan
itu ada 9 dari 10 pintu rizki (HR. Ahmad). Kemudian Pernah Nabi ditanya Oleh
para sahabat: ”pekerjaan apa yang paling baik ya Rasulullah ?”beliau menjawab
“Seorang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih.”(HR.
Al Bazzar). Oleh karena itu, “..apabila shalat telah ditunaikan maka bertebaranlah
kamu di muka bumi dan carilah karunia (rizki) Allah” (QS. al-Jumu’ah: 10).
Perjalanan bisnis Rosulullah selama bertahun-tahun memberikan hikmah
tentang bagaimana unsur-unsur manajemen usaha Rosulullah SAW. Bahkan
dalam aktifitas penggembalaan kambing yang dilakukan oleh Rosulullah terdapat
nilai-nilai luhur yang terkandung yaitu: pendidikan rohani, latihan merasakan
kasih sayang kepada kaum lemah, serta kemampuan mengendalikan pekerjaan
berat dan besar. Antonio (2007) mengungkapkan hikmah dari kegiatan
menggembala kambing terhadap unsur-unsur manajemen adalah sebagai berikut:
 Pathfinding (mencari) Mencari padang gembalaan yang subur,
 Directing (mengarahkan) Mencari padang gembalaan yang subur,
 Controlling (mengawasi) kambing Agar tidak tersesat atau terpisah dari
kelompok,
 Protecting (melindungi) kambing gembalaan Dari hewan pemangsa dan
pencuri,
 Reflecting (perenungan) Alam, manusia dan Tuhan
Trim (2009) mengungkapkan bahwa kredibilitas dan kapabilitas Nabi
Muhammad SAW terdapat dalam empat karakter unggulnya, yaitu FAST
(Fathonah, Amanah, Shiddiq dan Tabligh) ditambah faktor I, yaitu Istiqomah.
Sifat Fathonah (cerdas) dalam diri Nabi Muhammad SAW dituliskan oleh Roziah
Sidik, seorang penulis asal Malaysia menyebutkan bahwa Rosulullah adalah
seorang jenius dengan bukti kepakaran sebagai:
 ahli politik;
 ahli strategi peran;
 ahli diplomasi;
 ahli hubungan antar kaum;
 ahli strategi;
 negarawan;
 pengambil keputusan;
 ahli perlembagaan;
 ahli pembangunan SDM;
 ahli pembangunan masyarakat;
 ahli tata keluarga;
 ahli dakwah.
Sifat amanah (komitmen) tercermin dalam sikap Rosulullah yang
senantiasa menggunakan akad, kesepakatan atau perjanjian bisnis dengan sistem
kesepakatan bersama. Seseorang dianggap melalaikan komitmen apabila tidak
melaksanakan hal-hal yang telah disepakati bersama. Rosulullah SAW bersabda :
“Allah Azza wa jalla berfirman: “Aku adalah pihak ketiga dari kedua belah pihak
yang berserikat selama salah seorang dari keduanya tidak mengkhianati
temannya. Jika salah satu dari keduanya telah mengkhianati temannya, Aku
terlepas dari keduanya.” (HR Abu Dawud).
Sifat Shiddiq (benar dan jujur) dapat tercermin dari beberapa sikap
Rosulullah. Pertama, Rosulullah bersikap baik dan jujur kepada perusahaan atau
pemegang saham. Terbukti, setelah membantu bisnis pamannya, Rosulullah
mampu mengelola bisnis Khadijah ra dengan baik. Kedua, Rosulullah bersikap
baik dan jujur kepada pegawai. Rosulullah pernah menasehati untuk membayar
upah seorang pegawai sebelum keringatnya kering. Hal tersebut menunjukkan
bahwa perusahaan tidak boleh menunda-nunda hak seorang pegawai apabila
perusahaan sedang tidak mengalami kesulitan untuk membayar gaji tersebut.
Sifat Tabligh (Komunikatif). Sifat Rosulullah untuk senantiasa bersikap
tabligh sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 9 yaitu : “
………oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah SWT dan
hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. Terakhir adalah sifat
Istiqomah (keteguhan hati yang konsisten). Rosulullah senantiasa istiqomah
dalam menjalankan nilai-nilai bisnis Islam (FAST) untuk dapat menjaga
kepercayaan bisnis dari orang lain

2.4. Pendidikan dan Pelatihan Menjadi Wirausaha


Malcolm Tight, dalam bukunya Key Concept in Adult Education and
Training 2nd Edition, menyatakan bahwa pelatihan lebih diasosiasikan pada
mempersiapkan seseorang dalam melaksanakan suatu peran atau tugas, biasanya
dalam dunia kerja. Namun demikian, pelatihan bisa juga dilihat sebagai elemen
khusus atau keluaran dari suatu proses pendidikan yang lebih umum. Peter
mengemukakan: ”konsep pelatihan bisa diterapkan ketika;
 ada sejumlah jenis keterampilan yang harus dikuasai,
 latihan diperlukan untuk menguasai keterampilan tersebut
 hanya diperlukan sedikit penekanan pada teori”.
Definisi di atas memberikan penekanan pada ”penguasaan’ tugas atau
peran, dan pada kebutuhan untuk melakukan pengulangan latihan hingga bisa
melakukannya sendiri, dan juga menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan
relatif spontan dan tanpa dimotivasi pengetahuan dan pemahaman.
Definisi lainnya menekankan pada tempat dilaksanakannya, seperti yang
diungkapkan oleh Goldstein and Gressner (1988), dimana pelatihan sebagai usaha
sistematis untuk menguasai keterampilan, peraturan, konsep, atau pun cara
berperilaku yang berdampak pada peningkatan kinerja. Misalnya, untuk pelatihan
suatu jabatan kerja, setting pelatihan diusahakan semirip mungkin dengan
lingkungan kerja yang sebenarnya. Contoh lainnya, pelatihan juga bisa dilakukan
di tempat yang sangat berbeda dengan lingkungan kerja yang sebenarnya,
misalnya di ruang kelas.
Definisi yang kedua ini menambahkan informasi tentang fungsi pelatihan
pada definisi pertama, sehingga lebih memperjelas bahwa pelatihan setidaknya
terkait dengan perilaku dalam menghadapi tugas. Yang perlu dipertanyakan
apakah hal ini bisa efektif dilakukan tanpa mengembangkan pengetahuan dan
pemahaman peserta pelatihan, jika pelatih hanya membangun konsep dan perilaku
peserta pelatihan. Namun definisi kedua ini mempersempit lokasi pelatihan,
karena hanya terfokus pada pelatihan yang berhubungan dengan pekerjaan.
Definisi ketiga berikut ini yang dikemukakan oleh Dearden (1984) lebih
memperjelas keluasan lingkup istilah pelatihan. Menurutnya, pelatihan pada
dasarnya meliputi proses belajar mengajar dan latihan yang bertu-juan untuk
mencapai tingkatan kompetensi tertentu, atau efisiensi kerja. Sebagai hasil
pelatihan, peserta diharapkan mampu merespon dengan tepat dan sesuai situasi
tertentu. Seringkali pelatihan dimaksudkan untuk memper-baiki kinerja yang
langsung berhubungan dengan situasinya.
Dearden lebih memilih menggunakan konsep kompetensi (competences)
dibandingkan kinerja (performance). Dia memba-tasi konsep tersebut dengan
tujuan mempersiapkan peserta untuk bertindak berdasarkan situasi-situasi yang
biasanya terjadi, serta menerapkannya pada saat melakukan tanggung jawab
pekerjaan, baik beban kerja yang lebih kompleks maupun yang lebih sederhana.
Sebagai suatu pendekatan pembangunan di bidang pendi-dikan, pelatihan
memiliki ciri-ciri yang khas, antara lain seperti yang diungkapkan oleh Philips H.
Coombs dan Manzoer Ahmed, melalui karyanya ”Memerangi Kemiskinan di
Pedesaan Melalui Pendidikan Nonformal”. Mereka menyatakan bahwa ciri khas
pelatihan sebagai suatu pendekatan pembangunan adalah sebagai berikut:
 diusahakan sedapat mungkin untuk menyesu-aikan bahan pengajaran
dengan pola budidaya dan keadaan lingkungan di kampung halaman
peserta;
 seluruh kursus diselenggarakan sesuai dengan suatu siklus penuh untuk
budi daya bersangkutan bagian terbanyak dari masa pelajaran untuk kerja
praktik;
 pelajaran di ruang kelas dititik-beratkan pada diskusi dalam kelompok
kecil daripada ceramah. Penyelenggaraan pelatihan hendaknya dilakukan
secara sistematis dan berkesi-nambungan.
Terkait dengan ini Eddie Davies, (2005), dalam bukunya The Art of
Training and Development, The Training Manager’s a Handbook, mengajukan 10
langkah efektif menyelenggarakan pelatihan, seperti diuraikan di bawah ini.
Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan, yaitu mendeteksi permasalahan yang
dihadapi saat ini dan tuntutan masa yang akan datang, khususnya yang dapat
diatasi dengan menyelenggarakan pelatihan. Mengklarifikasi sasaran pelatihan,
yaitu mengkaji kemampuan yang diharapkan dimiliki oleh peserta setelah
mengikuti program. Mempertimbangkan peserta/kelompok sasaran dengan
mencoba memahami dan mengidentifikasi kesenjangan calon peserta agar
rancangan pelatihan dapat menutup kesenjangan tersebut. Mengembangkan garis
besar program pelatihan, yaitu rencana induk yang disusun secara hierarkis dan
sekuensial. Memilih metode dan media, yaitu strategi dan perangkat pembelajaran
yang aplikatif atau mudah digunakan dan efektif dalam menghantarkan pesan
pembelajaran. Menyiapkan panduan bagi pemimpin yang meliputi rencana sesi,
handouts dan story-board. Melakukan ujicoba sesi pelatihan, yaitu menerapkan
rancangan pada target yang terbatas untuk mendeteksi sedini mungkin hal-hal
yang menyebabkan kegagalan pelatihan, misalnya ketepatan waktu, penafsiran
yang berbeda, dan lain-lain. Melaksanakan sesi pelatihan, dengan tetap melakukan
pemantauan untuk dapat mende-teksi apakah pelaksanaan kegiatan merujuk pada
rencana yang telah disusun atau tidak. Melakukan tindak lanjut pelatihan, agar
hasil pelatihan dapat diimplementasikan oleh peserta sekembalinya ke tempat
kerja. Mengevaluasi hasil, yaitu mengukur dan menilai apakah setiap tahapan
program menggunakan biaya sesuai dengan kebutuhan? Apakah terjadi perubahan
kinerja ke arah yang positif?, Apakah biaya yang dikeluarkan sebanding dengan
manfaat yang diperoleh? Alur pelaksanaan sepuluh tahapan penyelenggaraan
pelatihan di atas, dapat dilihat pada bagan berikut ini.
 Mengidentifikasi Kebutuhan
 Mengklarifikasi Sasaran
 Mempertimbangkan Peserta
 Mengembangkan Garis Besar Sesi Pelatihan
 Memilih Metode & Media
 Mengujicoba Sesi Pelatihan
 Melaksanakan Pelatihan
 Melakukan Tindak Lanjut
 Mengevaluasi Hasil
 Menyiapkan Panduan Pemimpin

2.5. Langkah-Langkah Menjadi Wirausaha


Seorang wirausahawan harus mempunyai rencana yang matang mengenai
perencanaan nya. Rencana tersebut mencakup;Business apa yang dimiliki,
Memulai sendiri tau membeli suatu perusahaan yang ada;mengetahui apa dan
dimana pasar untuk produk atau servisnya. Memulai suatu tidaklah mudah karena
banyak tantangan-tantangan yang harus dihadapi. Untuk suksesnya suatu
permulaan kita memerlukan :
a) Adanya peluang usaha yang sangat solid
b) Memiliki keahlian dan kemampuan dalam bidang yang akan ditekuninya.
c) Pendekatan yang benar dalam menjalankan usaha, dan
d) Memiliki dana yang cukup untuk memulai dan mengoperasikan usaha tersebut
hingga dapat berdiri sendiri(Harper,1991)
Dalam memulai usaha baru kita harus mempelajari situasi pasar maupun
keadaan industri yang akan dimasuki. Keadaan pasar tersebut mungkin telah
dipenuhi oleh para pesaing lainnya sehingga tidak mudah untuk dimasuki,
mungkin juga pasar yang dituju tersebut telah jenuh. Era orientasi produksi dan
orientasi pemasaran tampaknya akan segera berlalu memasuki era baru yaitu era
persaingan (competition era). Untuk itu perlu sekali menganalisis situasi
kekuatan-kekuatan pesaing yang adadi pasar dengan cermat.

2.6. Bagaimana Cara Menangkap Peluang Bisnis


Entrepreneur dalam dunia bisnis telah banyak dijadikan pilihan bagi
sebagian besar pelaku bisnis. Entrepreneur telah dianggap memiliki kemampuan
untuk mandiri dan berhasil, dan bahkan memberikan peluang kerja bagi orang
lain. Dengan berentrepreneur, tidak saja memungkinkan orang dapat melakukan
sesuatu yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan, namun di samping itu
juga, berentrepreneur akan mendapatkan kebebasan keuangan dan waktu yang
cukup untuk melakukan berbagai kegiatan yang mereka sukai bersama teman-
teman dan keluarganya.
Memang, memulai bisnis tidak semudah yang dibayangkan. Tidak sedikit
orang yang tidak kunjung melangkah karena begitu banyak pertanyaan yang
belum terjawab, bahkan keraguan sehingga membuat banyak orang menghabiskan
waktu untuk merenung tanpa melakukan apa-apa. Banyak pula orang yang tidak
segera memulai bisnis, meski sudah mekualitasskan untuk menjadi pengusaha,
karena selalu dibayang-bayangi oleh ketakutan: takut gagal dan hanya
membayangkan kemudahan saja. Sebenarnya, di dalam dunia bisnis, kesuksesan
dan kegagalan adalah hal yang sudah lumrah. Masalahnya apakah mereka
sanggup mengatasi kegagalan untuk bangkit kembali mengejar keberhasilan.
Itulah sebetulnya tantangan para entrepreneur dalam dinia bisnis.
Mengapa seorang entrepreneur dapat lebih tangguh dari yang lain? adalah
pada etos bisnis, yaitu keyakinan yang kuat dan mendalam mengenai nilai penting
dari bisnis yang ditekuninya. Seseorang dengan keyakinan bahwa bisnisnya itu
bermakna penuh bagi hidupnya, maka ia akan berjuang lebih keras untuk berhasil.
Berbeda dengan seseorang yang menganggap bisnisnya sebagai alternatif mencari
uang, bila menemui kesulitan, akan dengan cepat meninggalkannya untuk mencari
alternatif baru yang diharapkan lebih mudah.
Ada karakter-karakter yang paling dibutuhkan untuk mendukung
munculnya seorang wirausaha yang berpeluang sukses dan mampu menangkap
peluang bisnis dengan tepat, yaitu:
 Daya gerak (drive), seperti inisitaif, semangat, tanggung-jawab, ketekunan
dan kesehatan.
 Kemampuan berpikir (thinking ability), seperti gagasan asli, kreatif, kritis
dan analitis.
 Kemampuan membina relasi (competency in human relation), seperti
mudah bergaul (sociability), mempunyai tingkat emosi yang stabil (EQ
tinggi), ramah, suka membantu (cheer fullness), kerja sama, penuh
pertimbangan (consideration), dan bijaksana (tactfulness).
 Mampu menyampaikan gagasannya (communication skills), seperti
terbuka dan dapat menyampaikan pesan secara lisan (bicara) atau tulisan
(memo).
 Keahlian khusus (technical knowledge), seperti menguasai proses produksi
atau pelayanan yang dibidanginya, dan tahu dari mana mendapatkan
informasi yang diperlukan.

2.7. Bagaimana Berfikir dan Bertindak Kreatif serta Inovatif


Apakah kunci sukses dari para wirausahawan itu? Inilah tabir rahasianya
yang terdiri dari tiga unsur utama, yaitu:
 Motivasi, yaitu keinginan menjadi sosok yang berguna bagi masyarakat
melalui prestasi kerja sebagai wirausaha.
 Pengetahuan, yaitu keinginan belajar terus agar tidak menjadi usang dalam
perubahan situasi persaingan usaha.
 Menjalani, yaitu keinginan berhasil yang didukung dengan perencanaan
matang yang dipersiapkan secara realistis sesuai dengan kebutuhan
menghadapi persaingan dan kemampuan melaksanakannya.
Rahasia itulah rupanya yang mengaktifkan kemampuan diri seorang yang
berminat menjadi wirausaha tangguh yang mampu berfikir dan bertindak kreatif
dan inovatif.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Seorang entrepreneur akan mengarahkan usahanya untuk mencapai potensi
keuntungan dan dengan demikian mereka mengetahui apa yang mungkin atau
tidak mungkin mereka lakukan. Jadi artinya seorang entrepreneur itu harus selalu
mengetahui pengetahuan (atau informasi) baru (dimana orang banyak belum
mengetahuinya). Dan pengetahuan atau informasi baru tersebut dimanfaatkan
untuk memperoleh keuntungan. Bukankah dengan inovasi juga kita bisa
mendapatkan pengetahuan, informasi, bahkan teknologi baru?
Ketika dunia dipenuhi ketidakpastian, proses tersebut kadang mengalami
sukses dan gagal. Namun seorang entrepreneur selalu berusaha memperbaiki
kesalahannya. Jadi, jangan heran kalau orang tua kita atau guru-guru kita selalu
mengatakan bahwa ”kegagalan itu adalah sukses yang tertunda”, “Belajarlah dari
kesalahan”, atau “Hanya keledai lah yang terperosok dua kali”.
DAFTAR PUSTAKA

Mutis, T. (1995), Kewirausahaan yang Berproses, Jakarta: Grasindo


Yusuf, Nasrullah. (2006), Wirausaha dan Usaha Kecil, Jakarta; Modul PTKPNF
Depdiknas.
Anoraga, P., dan Soegiastuti, J. (1996), Pengantar Bisnis Modern; Kajian Dasar
Manajemen Perusahaan, Jakarta: Pustaka Jaya
Drucker, Peter.F. 1986. Innovation and Etrepreneurship. London: Heinemann.
Edisi Indonesia. Jakarta : Gramedia.
(online) diakses tanggal : 6, April 2017 pukul 23.50
http://bamosya.blogspot.co.id/2008/09/pelatihan-kewirausahaan-
pemuda.html
(online) diakses tanggal : 7, April 2017 pukul 00.15
http://masimamgun.blogspot.co.id/2010/04/pendidikan-dan-pelatihan-
sumber daya.html