Anda di halaman 1dari 24

TK 3001 LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA

SEMESTER I 2014/2015
MODUL KUC
KESETIMBANGAN UAP CAIR

Laporan Lengkap

Oleh:
Kelompok A.1415.3.36
Nanda Tri Wibowo (13012047)
Juli Wahyu Prayogi (13012109)

Dosen Pembimbing:
Dr. Antonius Indarto

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014
ABSTRAK

Kesetimbangan uap cair merupakan kondisi ketika tidak terjadi perubahan secara
makroskopik antara fasa uap dan cair. Data kesetimbangan uap cair merupakan data
termodinamika yang diperlukan dalam perancangan dan pengoperasian kolom distilasi.
Dalam percobaan ini akan dilakukan pengukuran data kesetimbangan uap cair dari
sistem biner etanol-air, kemudian data yang diperoleh dibandingkan dengan model
termodinamika (dalam percobaan ini digunakan model Wilson).
Hal yang pertama kali dilakukan adalah melakukan kalibrasi refraktometer.
Percobaan ini dilakukan untuk sebelas variasi fraksi mol etanol dalam air, kemudian
diukur nilai indeks bias masing-masig variasi sampel. Selanjutnya, dibuat kurva
kalibrasi refraktometer yang menghubungkan indeks bias terhadap fraksi mol etanol.
Percobaan utamanya adalah pengukuran data kesetimbangan uap cair etanol-air
menggunakan alat ebuliometer. Umpan etanol-air divariasikan empat kali dengan fraksi
volume etanol masing-masing adalah 0,5; 0,45; 0,4; dan 0,35. Sampel yang keluar dari
top dan bottom product kemudian diukur indeks biasnya untuk mendapatkan fraksi
etanol dalam kesetimbangan melalui aluran kurva kalibrasi refraktometer. Selain itu
juga dilakukan pencatatan terhadap TT02 (temperatur kesetimbangan) untuk kemudian
didapatkan fraksi etanol literatur dari hasil aluran kurva T-xy model Wilson.
Dari percobaan kalibrasi refraktometer, untuk fraksi mol etanol 0,88; 0,67; 0,51;
0,39; 0,30; 0,22; 0,16; 0,11; 0,07; 0,03; dan 0,00 berturut-turut didapatkan nilai indeks
bias sebesar 1,36; 1,361; 1,362; 1,364; 1,363; 1,36; 1,358; 1,354; 1,349; 1,343; dan 1,341.
Kemudian untuk percobaan pengukuran data kesetimbangan uap cair, untuk variasi
umpan 0,5; 0,45; 0,4; dan 0,35 fraksi volume etanol berturut-turut didapatkan nilai
indeks bias sebesar 1,357; 1,359; 1,358; dan 1,356 untuk fasa cair dan 1,345; 1,361;
1,362; dan 1,361 untuk fasa uap. Sementara TT02 yang terukur adalah 78,1; 78,3; 78,3;
dan 79 C. Dari aluran kurva model Wilson untuk masing-masing nilai TT02 didapatkan
fraksi mol etanol dalam fasa cair adalah 0,37; 0,35; 0,35 dan 0,29 dan dalam fasa uap
adalah 0,615; 0,61; 0,61 dan 0,59.
Kata kunci: kesetimbangan uap cair, sistem biner, model Wilson, indeks bias
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesetimbangan adalah suatu kondisi statik dimana tidak terjadi perubahan sistem
secara makroskopik untuk suatu waktu tertentu. Pada keadaan kesetimbangan, molekul-
molekul dalam sistem akan berpindah antarfasa dengan laju perpindahan molekul yang
sama. Kesetimbangan uap cair tercapai ketika temperatur, tekanan, dan fraksi masing-
masing fasa telah konstan. Dalam hal ini, penting untuk dilakukan pengukuran data
kesetimbangan uap cair secara eksperimen. Data kesetimbangan uap cair yang lengkap
diperoleh dari serangkaian percobaan yang sangat lama, sehingga cara yang umum
dilakukan adalah mengukur data pada beberapa kondisi tertentu kemudian dibuat model
matematikanya.

Kesetimbangan uap cair memiliki aplikasi yang luas di industri, salahsatunya dalam
perancangan kolom distilasi untuk menentukan jumlah tray kolom. Pada dasarnya,
terdapat banyak model termodinamika dari data kesetimbangan uap cair seperti model
Wilson, Van Laar, Margules, NRTL, dan lain-lain yang spesifik untuk jenis sistem biner
tertentu. Oleh karena itu, melalui percobaan ini praktikan diharapkan dapat membuat
kurva kesetimbangan uap cair berdasarkan data yang diperoleh dari percobaan,
kemudian membandingkannya dengan model literatur.

1.2 Pernyataan Masalah


Data kesetimbangan uap cair adalah spesifik untuk tiap sistem biner, sehingga tidak
semua kurva kesetimbangan uap cair sistem biner dapat diperoleh dari literatur. Oleh
karena itu perlu dilakukan eksperimen skala laboratorium untuk mendapatkan data-data
untuk beberapa variasi komposisi tertentu. Dalam percobaan ini diharapkan dapat
diperoleh suatu kurva kesetimbangan uap cair etanol-air yang mendekati keadaan
idealnya.
1.3 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memperoleh data kesetimbangan uap-cair
sistem etanol-air dalam berbagai fraksi, kemudian membandingkannya dengan model
Wilson.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesetimbangan Uap Cair

Kesetimbangan adalah kondisi dimana sudah tidak ada perubahan lagi secara
makroskopik. Perubahan yang dimaksud untuk percobaan ini adalah perpindahan massa
pada kedua fasa, cair dan uap. Pada suatu sistem biner, kesetimbangan dicapai ketika
dua fasa (uap dan cair) memiliki temperatur, tekanan, dan potensial kimia (yang
kemudian didekati dengan konsep fugasitas Lewis) yang sama.

Penentuan kesetimbangan uap cair pada percobaan ini menggunakan ebuiliometer


SOLTEQ. Umpan dimasukkan dan dipanaskan pada evaporator hingga mencapai
kesetimbangan. Setelah kesetimbangan tercapai, fasa uap dari campuran biner etanol-air
akan menuju kondensor yang berada diatas sedangkan fasa cairnya akan berada pada
kolom bagian bawah. Tercapainya kesetimbangan ditandai dengan konstannya
temperatur pada TT02.

2.2 Hukum Raoult

Hukum Raoult diaplikasikan pada tekanan yang rendah sampai medium sehingga
fasa uap dan fasa cair diasumsikan berada pada kondisi ideal. Hukum Raoult hanya
dapat berlaku valid apabila zat-zat yang menyusun sistem bersifat sama. Hukum Raoult
bersifat terbatas sehingga hanya dapat digunakan untuk zat yang diketahui tekanan
uapnya dan memerlukan zat pada keadaan ‘subkritikal’, pada temperatur dibawah
temperatur kritik. Persamaan matematis untuk menggambarkan Hukum Raoult adalah:

yi P = xi Pisat (i = 1,2, … N) (1)

Dengan xi adalah fraksi mol cair dan yi adalah fraksi mol uap. Pisat adalah tekanan uap
zat murni i pada temperatur sistem.

Untuk temperatur rendah hingga sedang, persamaan yang lebih realistis untuk
kesetimbangan uap cair berlaku ketika fasa cair tidak diasumsikan dalam kondisi ideal
sehingga berlaku Hukum Raoult termodifikasi (Modified Raoult’s Law). Persamaan
matematis Modified Raoult’s Law dinyatakan sebagai:
yi P = xi γi Pisat (i = 1,2, … N) (2)

Dengan 𝛾𝑖 adalah koefisien aktivitas.

2.3 Fugasitas di Fasa Uap

Fugasitas di fasa uap dinyatakan dalam bentuk koefisien fugasitas yang


didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas di fasa uap dan tekanan parsial
komponen. Berdasarkan definisi ini, hubungan antara fugasitas dan koefisien fugasitas
dan koefisien fugasitas di fasa uap dinyatakan sebagai:

fiv = θvi yi P (3)

Dengan θ adalah koefisien fugasitas, y adalah fraksi mol di fasa uap, dan P adalah
tekanan total.

Koefisien fugasitas dapat dihitung dengan menggunakan persamaan keadaan,


persamaan yang menghubungan tekanan, temperatur, volum, dan/atau komposisi.

2.4 Fugasitas di Fasa Cair

Fugasitas di fasa cair umumnya dinyatakan dalam bentuk koefisien aktifitas yang
didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas di fasa cair dan hasil kali antara
fraksi mol komponen di fasa cair dan fugasitas komponen pada tekanan standar dalam
perhitungan-perhitungan koefisien aktifitas dalam kondisi cairan murni. Jika keadaan
cairan murni dipakai sebagai keadaan standar, koefisien aktifitas dinyatakan sebagai:

fiL = γI xi fiOL (4)

Dengan 𝛾 adalah koefisien aktifitas, x adalah fraksi mol komponen di fasa cair, dan fiOL
adalah fugasitas cairan murni.

Koefisien fugasitas dapat dihitung berdasarkan data energi bebas Gibbs berlebih
(excess Gibbs energy). Persamaan-persamaan untuk menghitung koefisien aktifitas
antara lain persamaan Van Laar, persamaan Margules, persamaan Wilson, persamaan
NRTL, dan sebagainya. Koefisien aktifitas juga dapat dihitung dengan menggunakan
metode kelompok (group method) seperti metoda UNIFAC dan metoda ASOG.
2.5 Model-Model Kesetimbangan Uap Cair

Ada berbagai jenis parameter yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah
kesetimbangan uap cair. Model termodinamika ini disesuaikan dengan kondisi dan
sistem campuran. Parameter-parameter yang sesuai adalah parameter yang
menghasilkan perkiraan model yang hampir sama dengan hasil percobaan. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara meminimumkan suatu fungsi objektif tertentu. Fungsi objektif
yang diminimumkan bergantung pada data percobaan yang tersedia seperti data T-x-y,
T-x, P-x-y, atau lainnya. (Silverman dan Tassios, 1977).

Persamaan Wilson seperti persamaan Margules dan Van Laar, hanya memiliki dua
buah parameter untuk sistem biner yaitu Λ12 dan Λ 21 (kedua parameter ini harus selalu
bernilai positif). Koefisien aktivitas dapat dihitung dengan persamaan berikut:

Λ12 Λ21
ln γ1 = −ln(x1 + x2 Λ12 ) + x2 (x −x ) (5)
1 +x2 Λ12 2 +x1 Λ21

Λ12 Λ21
ln γ2 = −ln(x2 + x1 Λ 21 ) − x1 (x −x ) (6)
1 +x2 Λ12 2 +x1 Λ21

Vj a
ij
Λ ij = exp (− RT ) i≠j (7)
Vi

Vi dan Vj adalah volume molar pada temperatur T untuk komponen murni i dan j. Aij
adalah konstan dan tidak bergantung pada komposisi dan temperatur.

Persamaan NRTL (Non Random Two Liquids) memiliki tiga parameter untuk
sistem biner, yaitu α, b12 , dan b21 . Ketiga parameter tersebut bersifat spesifik untuk
setiap jenis komponen dan tidak bergantung pada komposisi dan temperatur. Model
matematik untuk persamaan NRTL adalah:

G21 2 G12 τ12


ln(γ1 ) = x22 [τ21 (x ) + ] (8)
1 +x2 G21 (x2 +x1 G12 )2

G12 2 G21 τ21


ln(γ2 ) = x12 [τ12 (x ) + ] (9)
2 +x1 G12 (x1 +x2 G21 )2

G21 = exp(ατ21 ) (10)


G12 = exp(ατ12 ) (11)
b12
τ12 = (12)
RT
b21
τ21 = (13)
RT
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Skema Alat

Berikut adalah skema alat yang digunakan dalam pengukuran data kesetimbangan uap
cair.

Gambar 3.1 Skema alat ebuliometer


3.2 Prosedur Kalibrasi Refraktometer

Kalibrasi refraktometer bertujuan untuk mendapatkan kurva yang menghubungkan


data indeks bias terhadap fraksi mol etanol dalam air. Dalam percobaan ini, sampel
etanol-air divariasikan fraksinya sebanyak sebelas kali, kemudian diukur nilai indeks
biasnya menggunakan alat refraktometer. Pengukuran indeks bias dilakukan dengan
meneteskan sedikit sampel ke atas prisma refrakometer, kemudian skala yang terbaca
dicatat. Sebelum meneteskan sampel, terlebih dahulu prisma dibilas dengan aseton.
Aluran kurva menghasilkan suatu persamaan polinomial berorde tinggi, sehingga untuk
mendapatkan nilai x (fraksi etanol) digunakan metode Goal Seek dari Excel.

3.3 Prosedur Pengoperasian Ebuliometer

Pertama-tama pastikan valve di penampung top dan bottom product tertutup.


Kemudian, keran air menuju kondensor dibuka dan tunggu hingga laju alirnya konstan.
Umpan dengan fraksi mol tertentu dimasukkan ke ebuliometer dan dilakukan
pengecekan ketinggian level umpan dengan membuka valve 13 dan 14. Temperatur
pemanasan awal (TT01) diatur pada 100 oC, kemudian heater dinyalakan. Tunggu TT02
konstan dan catat temperaturnya. Top dan bottom product dikeluarkan untuk diukur
nilai indeks biasnya. Dari data indeks bias dapat ditentukan fraksi etanol dalam air
menggunakan kurva kalibrasi refraktometer. Langkah terakhir adalah shut-down alat.
Lakukan langkah-langkah diatas untuk variasi umpan yang berbeda. Dalam percobaan
ini digunakan variasi fraksi etanol sebesar 4 kali. Data TT02 yang terukur dialurkan ke
dalam kurva T-xy model Wilson untuk mendapatkan fraksi etanol menurut literatur, lalu
fraksi yang diperoleh dari kurva kalibrasi dibandingkan dengan fraksi yang diperoleh
dari model Wilson.

3.4 Variabel Percobaan

3.4.1 Variabel bebas

Variabel bebas dalam percobaan ini yaitu fraksi etanol dalam air. Variasi yang
dilakukan untuk umpan ebuliometer adalah 0,5; 0,45; 0,4; dan 0,35 fraksi volume etanol
dalam air.
3.4.2 Variabel tetap

Variabel tetap percobaan ini yaitu tekanan operasi pada ebulliometer

3.4.3 Variabel Terikat

Variabel terikat dalam percobaan ini yaitu temperatur dan fraksi etanol dalam fasa
uap dan fasa cair.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengukuran Densitas Etanol

Densitas etanol diukur menggunakan piknometer. Massa etanol dihitung dari selisih
massa piknometer berisi etanol dengan massa piknometer kosong. Sementara volume
piknometer ditentukan dari hasil pembagian massa aqua dm dalam piknometer dengan
densitas aqua dm pada suhu 26,1 oC yang didapatkan dari literatur. Dari hasil
perhitungan didapatkan densitas etanol sebesar 0,813 gram/ml.

4.2 Kalibrasi Refraktometer

Kalibrasi refraktometer dilakukan untuk mendapatkan kurva hubungan antara indeks


bias campuran terhadap fraksi etanol. Pengukuran indeks bias dilakukan terhadap 11
variasi komposisi campuran biner seperti tertera pada tabel berikut ini.

Tabel 4.2 Variasi sampel untuk kalibrasi refraktometer

Volume etanol (ml) Volume air (ml)


0 10
1 9
2 8
3 7
4 6
5 5
6 4
7 3
8 2
9 1
10 0
Dari pengaluran data indeks bias yang diperoleh dari percobaan terhadap fraksi etanol
didapatkan suatu persamaan polinomial berorde empat, yaitu:

y = -0,0652x4 + 0,2648x3 – 0,3306x2 + 0,1532x + 1,3399

Keterangan:

y: indeks bias

x: fraksi mol etanol

Berikut adalah kurva hasil kalibrasi refraktometer.

1.37

1.365

1.36
y = -0.0652x4 + 0.2648x3 - 0.3306x2 + 0.1532x + 1.3399
1.355
Indeks bias

1.35

1.345

1.34

1.335
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
Fraksi mol etanol

Gambar 4.2.1 Kurva kalibrasi refraktometer

Pada kurva di atas terlihat pada rentang nilai indeks bias 1,36 hingga sekitar 1,364,
untuk nilai indeks bias yang sama terdapat dua nilai fraksi mol etanol. Hal ini akan
mempersulit dalam menentukan nilai fraksi etanol pada rentang indeks bias tersebut.
Oleh karena itu, strategi yang kami gunakan untuk menentukan fraksi yang dikehendaki
(dalam hal ini adalah fraksi mol etanol dalam fasa uap) adalah dengan membagi kurva
pada rentang indeks bias tertentu sebagai berikut ini.
1.3645
1.364
1.3635
1.363
Indeks bias

1.3625
1.362
1.3615
1.361
y = -0.0685x3 + 0.1464x2 - 0.1073x + 1.3878
1.3605
1.36
1.3595
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
Fraksi mol etanol

Gambar 4.2.2 Kurva kalibrasi refraktometer pada rentang indeks bias 1,36 – 1,364

4.3 Penentuan Temperatur dan Komposisi Kesetimbangan

Pada percobaan ini, umpan etanol-air divariasikan empat kali, masing-masing


dengan fraksi volume etanol sebesar 0,5; 0,45; 0,4; dan 0,35. Untuk keempat variasi ini,
temperatur kesetimbangan (TT02) yang terukur adalah 78,1 oC; 78,3 oC; 78,3 oC; dan 79
o
C. Dari aluran kurva model Wilson, besar fraksi etanol berturut-turut untuk keempat
temperatur diatas adalah 0,37; 0,35; 0,35; dan 0,29 di fasa cair dan 0,615; 0,61; 0,61;
dan 0,59 di fasa uap.

4.4 Perbandingan Hasil Percobaan dengan Data Teoritis

Setelah tercapai temperatur kesetimbangan, top dan bottom product dikeluarkan dari
ebuliometer untuk kemudian diukur indeks biasnya. Dari nilai indeks bias bisa
ditentukan nilai fraksi mol etanol dengan metode Goal Seek terhadap persamaan
kalibrasi refraktometer:

y = -0,0652x4 + 0,2648x3 – 0,3306x2 + 0,1532x + 1,3399

Fraksi mol etanol yang didapat dari kurva kalibrasi refraktometer dibandingkan
dengan fraksi mol etanol yang didapat dari kurva model Wilson. Berikut adalah kurva
yang menunjukkan perbandingan data percobaan terhadap model teoretis.
100.00

95.00

90.00

85.00
T

80.00

75.00

70.00
0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 0.80 0.90 1.00
x-y

T-x Wilson T-y Wilson T-x T-y

Gambar 4.4 Perbandingan kurva model termodinamika Wilson dengan hasil percobaan

Dari perhitungan didapatkan galat komposisi hasil percobaan terhadap literatur


untuk masing-masing umpan adalah 57,84 %, 47,43 %, 51,143 %, dan 53,793 % di fasa
cair dan 94,472 %, 7,049 %, 25,902 %, dan 3,898 % di fasa uap. Galat yang dihasilkan
fasa uap lebih kecil jika dibandingkan dengan galat fasa cair. Hal ini dikarenakan fasa
uap campuran etanol-air mendekati kondisi ideal yaitu dioperasikan pada tekanan yang
rendah. Sebaliknya galat fasa cair memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan
fasa uap karena campuran cair etanol-air merupakan campuran yang tidak ideal sebab
pengoperasian percobaan ini dilakukan pada tekanan dan temperatur yang berbeda
cukup besar tekanan dan temperatur kritik.

Terlihat dari kurva di atas terdapat titik T-y outliers (titik kuning paling ujung kiri).
Pada titik itu, fraksi mol etanol yang didapatkan dari fasa uap sangat sedikit (hanya
0,034). Hal ini disebabkan karena pada temperatur tersebut (78,1 oC), belum banyak
etanol yang menguap.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
a. Temperatur kesetimbangan (TT02) untuk umpan dengan fraksi volume etanol 0,5;
0,45; 0,4; dan 0,35 berturut-turut adalah 78,1 oC ; 78,3 oC ; 78,3 oC; dan 79 oC.
b. Dari kurva kalibrasi refraktometer, untuk keempat temperatur kesetimbangan
didapatkan fraksi mol etanol di fasa cair adalah 0,156; 0,184; 0,171; dan 0,134 dan
di fasa uap adalah 0,034; 0,567; 0,452 dan 0,567.
c. Galat komposisi hasil percobaan terhadap literatur untuk masing-masing umpan
adalah 57,84 %, 47,43 %, 51,143 %, 53,793 % di fasa cair dan 94,472 %, 7,049 %,
25,902 %, 3,898 % di fasa uap.
5.2 Saran

Alat refraktometer terlalu jauh diatas, oleh sebab itu kami menyarankan alat
refraktometer dapat dipindahkan ke laboratorium instruksional ataupun ditambah.
BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

Smith, J. Van Ness, H C and Abbot, M.M (1996). Introduction to Chemical


Engineering Thermodynamics, seventh edition, New York. Mc Graw Hill Inc.

Perry, R.H., Chilton, C.H, Chemical Engineers’ Handbook, 5th Ed. New York: Mc
Graw-Hill Book Company, 1973. With permission.
LAMPIRAN A
DATA LITERATUR

A.1 Densitas Air pada Berbagai Temperatur


LAMPIRAN B
CONTOH PERHITUNGAN

B.1 Penentuan Densitas Etanol


mpiknometer+aqua dm = 39,8 gram
mpiknometer = 30,4 gram
ρaqua dm, 26 0 C = 0,996 gram/ml
mpiknometer+etanol =38,065 gram
mpiknometer+aqua dm− mpiknometer
Vpiknometer =
ρaqua dm, 26 0 C
39,8 − 30,4
Vpiknometer =
0,996
Vpiknometer = 9,43 ml
mpiknometer+etanol− mpiknometer
ρetanol =
Vpiknometer
38,065 − 30,4
ρetanol =
9,43
ρetanol = 0,813 gram/ml

B.2 Penentuan Fraksi Mol Etanol


Volume etanol = 10 ml
Volume air =0
Kemurnian etanol = 96 % volume
Mr air = 18,02 gram/mol
Mr etanol = 46,07 gram/mol

%etanol × Vetanol × ρetanol


Mretanol
Xetanol =
%etanol × Vetanol × ρetanol (1 − %etanol) × Vetanol × ρair Vair × ρair
+ +
Mretanol Mrair Mreair

0,96 × 10 × 0,813
46,07
Xetanol =
0,96 × 10 × 0,813 (1 − 0,96) × 10 × 0,996 0 × 0,99652
+ +
46,07 18,02 18,02
Xetanol = 0,88
B.3 Penentuan Fraksi Etanol dari Kurva Kalibrasi Refraktometer
Misalkan dari kurva kalibrasi diperoleh persamaan berikut ini:
y = -0,0652x4 + 0,2648x3 – 0,3306x2 + 0,1532x + 1,3399

Dengan y menyatakan indeks bias dan x menyatakan fraksi mol etanol. Kita ambil
contoh pada sampel run 1 di fasa cair. Deketahui bahwa:
y = 1,357
Untuk mendapatkan nilai x bisa digunakan metode Goal Seek Excel, sehingga akan
didapatkan x = 0,156. Jadi fraksi etanolnya adalah 0,156.
LAMPIRAN C
HASIL ANTARA

C.1 Kalibrasi Refraktometer

Tabel C.1 Data kalibrasi refraktometer

No VA (ml) VB (ml) Fraksi mol etanol Indeks bias

1 10 0 0.88 1,36
2 9 1 0.66 1.361
3 8 2 0.51 1.362
4 7 3 0.39 1.364
5 6 4 0.29 1.363
6 5 5 0.22 1.36
7 4 6 0.16 1.358
8 3 7 0.11 1.354
9 2 8 0.07 1.349
10 1 9 0.03 1.343
11 0 10 0 1.341
C.2 Data Kesetimbangan Uap Cair Model Wilson pada P = 0.9 atm
Tabel C.2 Data kesetimbangan uap cair model Wilson pada P = 0.9 atm

Fraksi Bubble Dew 0.5200 76.8016 81.0355


etanol point point
0.5400 76.6577 80.3535
0.0000 97.1118 97.1129 0.5600 76.5203 79.7006
0.0200 92.2236 96.6026 0.5800 76.3886 79.0702
0.0400 89.0401 96.0858 0.6000 76.2633 78.4884
0.0600 86.8284 95.5611 0.6200 76.1443 77.9571
0.0800 85.2109 95.0275 0.6400 76.0318 77.4804
0.1000 83.9822 94.4854 0.6600 75.9258 77.0609
0.1200 83.0181 93.9360 0.6800 75.8266 76.6968
0.1400 82.2397 93.3800 0.7000 75.7347 76.3899
0.1600 81.5963 92.8129 0.7200 75.6500 76.1264
0.1800 81.0536 92.2366 0.7400 75.5732 75.9070
0.2000 80.5862 91.6505 0.7600 75.5046 75.7281
0.2200 80.1782 91.0554 0.7800 75.4447 75.5868
0.2400 79.8157 90.4498 0.8000 75.3943 75.4740
0.2600 79.4901 89.8344 0.8200 75.3543 75.3936
0.2800 79.1938 89.2090 0.8400 75.3216 75.3426
0.3000 78.9221 88.5730 0.8600 75.3053 75.3089
0.3200 78.6704 87.9267 0.8800 75.2992 75.2993
0.3400 78.4356 87.2702 0.9000 75.3052 75.3077
0.3600 78.2152 86.6037 0.9200 75.3255 75.3340
0.3800 78.0071 85.9274 0.9400 75.3614 75.3734
0.4000 77.8099 85.2418 0.9600 75.4128 75.4270
0.4200 77.6177 84.5482 0.9800 75.4784 75.4928
0.4400 77.4434 83.8481 1.0000 75.5693 75.5711
0.4600 77.2724 83.1433
0.4800 77.1086 82.4362
0.5000 76.9518 81.7317
C.3 Data Kesetimbangan Uap Cair

Tabel C.3 Perhitungan galat hasil percobaan

Temperatur (oC) Indeks bias


No. P (atm) VA (liter) VB (liter)
Liquid Vapor Liquid Vapor
1 0.9 2,400 2,400 78,100 78,100 1,357 1,345
2 0.9 1,865 2,280 78,300 78,300 1,359 1,361
3 0.9 1,654 2,488 78,300 78,300 1,358 1,362
4 0.9 1,900 1,600 79,000 79,000 1,356 1,361

Fraksi mol etanol Fraksi mol teoritis % Galat


Liquid Vapor Liquid Vapor Liquid Vapor
0,156 0,034 0.370 0.615 57,840 94,472
0,184 0,567 0.350 0.610 47,430 7,049
0,171 0,452 0.350 0.610 51,143 25,902
0,134 0,567 0.290 0.590 53,793 3,898

Anda mungkin juga menyukai