Anda di halaman 1dari 21

TEKTONIK PRA-NEOGEN

Pada masa sebelum Neogen perkembangan tektonik kawasan Indonesia bagian barat
mempunyai kemiripan dengan kwasan Indonesia bagian timur. Keduanya sama-sama
dicirikan oleh kegiatan tektonik beraian-apungan benua (rift-drift tectonics), namun sangat
berbeda dalam ukuran dan umur. Beraian tektonik ini kemudian diikuti oleh tektonik
tumbukan, amalgamasi dan akrasi yang akhirnya mengakibatkan terbentuknya rangkaian
pegungungan lipatan dan sesar diberbagai kawasan di Indonesia. Perkembangan tektonik
kawsan Indonesia bagian barat pra-neogen sangat komplek dan rumit dibandingkan dengan
kawasan indonesia timur yang relatif lebih sederhana.

Gambar: Peta Tektonik Indonesia


(https://geoenviron.wordpress.com/2014/11/24/tektonik-pulau-jawa/)

Kawasan Indonesia Barat

Model tektonik akrasi konsentrik diajukan oleh Katili (1973, 1975 dan 1984) dan Gage
& Wing (1980) untuk menjelaskan perkembangan tektonik kawasan barat Indonesia sejak
Paleozoikum-Mesozoikum-Tersier hingga sekarang ini. Kegiatan-kegiatan tektonik tersebut
secara kronologis selalu diikuti oleh pembentukan jalur-jalur orogenesa diberbagai lajur
tumpuan (konvergen) di Sumatera dan Kalimantan Barat.
Batuan gunungapi basal-andesitan benunur 276 - 298 juta tahun dan sedimen klastik
dengan sisipan batugamping yang mengandung fauna berurnur Perm terdapat di Sumatera
bagian utara dan tengah. Runtunan batuan ini mewakili kwasan bususr magmatik dan
kawasan belakang ataupun muka busur.(Katili,1973, Silitornga dan Kastowo, 1975, Rosidi &
Santoso, 1976; Cameron et al, 1980; Simandjuntak et al, 1981). Runtunan batuan yang sama
terdapatjuga di bagian barat Kalimantan (Cage & Wing, 1980', Pieters & Supriatna, 1990) , di
kawasan Serawak (Tate, 1991) dan di Semenanjung Malaysia (Hutchison, 19775; Gage &
Wing, 1980). Pupilli (1973) dan Gage & Wing (1980) rnenduga bahwa busur magmatik Perm
di Sumatera terbentuk olch sistem tunjarnan yang miring ke arah Asia. Sedangkan busur
magmatik Perm di Kalimantan dihasilkan oleh sistem tunjarnan yang miring ke arah
Samudera Hindia.

Sistem tunjaman ganda yang berlawanan arah pada zaman Trias di kawasan barat
Indonesia dan Malaysia diajukan oleh Hutchison (1973) dan Pupilli (1973). Jalur timah (tin
belt) Malaysia-lndonesia merupakan busur magrnatik yang dihasilkan oleh sistem tunjarnan
yang miring ke arah Asia. Sedangkan Batuan Gunungapi Serian di Serawak merupakan hasil
tunjaman yang miring ke arah Samudera Hindia.

Komplek akrasi yang berhubungan dengan system tunjaman yang miring ke arah Asia
pada zaman Kapur diperlihatkan oleh batuan bancuh (melanges) di Sumatera Utara, Sumatera
Barat, Bengkulu, Ciletuh dan Karangsambung di Jawa, Pegunungan Meratus di Kalimantan
Tenggara, Bantimala di Sulawesi Selatan dan Wasuponda di Sulawesi Tengah (ŕsikin, 1974;
Simandjuntak, 1980; Sukamto, 1986; wajzer et al, 1991; CCOP/GRDC, 2000). Busur
magmatik yang terbentuk oleh system tunjaman yang miring ke arah Asia diperlihatkan oleh
batuan granit, batuan gunungapi basal-andesitan dan sedimen vulkaniklastik yang terdapat di
daerah Gumai dan Garba di Sumatera bagian selatan, Pegunungan Meratus di Kalimantan
Tenggara dan juga di Sulawesi Selatan (Musper, 1937; Katili, 1973, 1975; de Coster, 1974;
Sukamto, 1975; Sikumbang & Heryanto, 1986; GRDC, 1992). Sedangkan busur magrnatik
yang berhubungan dengan sistem tunjaman yang miring ke arah Samudera Hindia
diperlihatkan oleh batuan granit dan gunungapi yang terdapat di Anambas, Tarnbelan dan
Natuna di kawasan Laut China selatan (Kaitli, 1973; Pupilli, 1973), di Pegunungan Schwaner
di Kalimantan Barat dan Lajur Kucing-Sibu di Serawak (Haile, 1972).

Sistem tunjaman Paleogen diperlihatkan oleh akrasi batuan bancuh yang terdapat Nias,
Pagai dan Sipora di perairan barat Sumatera dan di perairan selatan Jawa (Katili, 1973; Karig

2
et al, 1978; Hamilton, 1979; Djamal et al, 1990; Andi-Mangga et al, 1991). Busur magrnatik
Paleogen diperlihatkan oleh batuan intrusi dan gunungapi ‘Old Andesite’nya Bemmelen
(1949) bersama sedimen vulkaniklastik yang tersebar luas di Sumatera, Jawa, Kalimantan
Tenggara, dan bagian barat Sulawesi (Katili, 1973; de Coster, 1974; Djuri & Sudjatrniko,
1975; Sukamto, 1975; Koesoemadinata et al, 1978; Cameron et al, 1980•, Sukarnto &
Simandjuntak, 1983; Simandjuntak & Barber, 1996) dan manyambung ke bagian utara
Kalimantan, Sabah dan Serawak (Hutchison, 1988; Pleters & Supriatna, 1990; Țongkul,
1991).

Runtunan sedimen vulkaniklastik, silisiklastik dan karbonat di kedua Sisi Iereng


Pewnungan Barisan di Sumatera, Jawa, Kalimantan Tenggara dan Sulawesi Selatan
merupakan sedimen yang diendapkan di cekungan belakang busur, antar busur dan muka
busur pada sistem tunjaman Paleogen (de Coster, 1974, Koesoemadinata et al, 1978:
Cameron et al, 1980; CCOP/GRDC, 2000).

Kawasan Timur Indonesia

Perkembangan tektonik kawasan tirnur Indonesia dicirikan oleh kegiatan tektonik


model beraian-apungan benua (rift-drift tectonics). Model tektonik beraian in. Didasarkan
pada terdapatnya mintakat-mintakat alokton tua (Paleozoikum) berupa benua-benua mikro.
Seperti Banggai-Sula, Mekongga, Tukangbesi-Buton, Buru-Scram, Obi-Bacall dan kepala
Burung di kawasan Laut Banda, Indonesia timur (Hamilton, 1970, Panggabean, 1984;
Simandjuntak, 1986: Garrard et al, 1988).

Pada pertengahan Paleozoikum proses pembubungan panas, kegiatan gunungapi,


pemberaian dan pembentukan terban dan cekungan mulai terjadi di Benua yang pada masa
itu masih merupakan bagian dari benua purba Gondwana (Veever, 1984)

Kegiatan beraian tektonik ini semakin memuncak pada Perrn-Trias (Bird & Cook,
1991). Di Irian Jaya dan Papua New Guinea beraian tektonik ditandai pengendapan sedimen
clarat red beds pada zaman Trias. Kemudian pada zaman Jura diikuti oleh pengendapon
sedimen pinggiran benua pasif di samudera Meso-Tetis di utara Benua Australia.

Pada zaman Kapur Awal terjadi beraian tektonik di pinggiran utara Benua Australia
yang mengakibatkan terbentuknya samudera Ceno-Tetis di utara-baratlaut Benua Australia
(Audley-Charless et al, 1988; Metcalfe, 1996). Bersamaan dengan itu benua-benua mikro

3
mulai terberai dan terpisah dan kemudian bergerak dan teralihternpatkan ke arah barat.
baratlaut melalui lajur Sesar Sorong yang bergerak transtensional mengiri (Visser & Hermes,
1962; Krause, 1965: Katili, 1971; Gribi. 1973: Hamilton, 1979; Silver & Smith, 1983, Pigram
& Panggabean. 1984; Saimandjuntak. 1986). Berdasarkan runtunan beraian (breakup
sequences)-nya Falvey & Muttcr (1981), Pigrarn & Panggabean (1984) memperkirakan
bahwa benua-benua ini berasal dan terpisah dari bagian tengah Papua, sekitar kawasan 1410-
145 Bujur Tmur. Ièrgerakan transtensional mengiri Sesar Sorong ini mengakbatkan Salawati
dan Cekungan Bintuni yang kemudian diisi oleh sedimen Temer tebal. di bagian barat Irian
Jaya (Untung, 1978; Chariton, 19%; ct al. 2003).

Pada zaman Kapur Akhir. Bersamaan dengan terberai dan terpisahnya Benua Australia
dari antartika. di perairan utara Australia lempeng samudera Ceno-Tetis berturnbukan dengan
pinggiran barat-baratdaya lempeng samudera Pasifik. Kawasan perairan ini sekarang kita
kenal sebagai laut Pilifina dan Laut Carolina. Tumbukan antar lempeng sarnudera ini
mengakibatkan terbentuknya busur kepulauan pada awal Tersier. Bagian busur kepulauan
yang tersisa sekarang ini terdapat di kawa.san utara Papua New Guinea & Davia. 1987).

Sementara itu benua-benua mikro terus bergerak dan teralih tempatkan ke arah barat-
baratlaut. akhimya berturnbukan dengan busur kepulauan dan/atau Jalur Ofiolit Sulawesi
timur dan pinggiran selatan-tenggara dataran sunda pada kala Neogen (Simandjuntak, 1993;
Coffield et al, 1993;. Sirnandjuntak & Barber, 1996), Tumbukan ini menjadi salah satu
kegiatan tektonik yang memicu terjadiunya Orogenesa Neogen di Sulawasi dan sekitarnya,
seperti dijelaskan berikut ini.

4
Gambar 1. Peta lokasi Orogenesa Neogen di berbagai kawasan di Indonesia (Simandjuntak dan Barber, 1996)

5
1. Orogen Sunda (Sunda Orogeny) di Jawa dan Nusa Tenggara: melibatkan
subduksi lempeng samudera dengan arah tegaklurus, menghasilkan jalur orogen
tipe Andean beserta palung, komplek akresi, cekungan depan-busur (forearc basin),
busur magmatik dimana gunungapi tumbuh di tepi kontinen Sundaland.

Gambar 2. Orogenesa di Jawa-Nusatenggara dipicu oleh tunjaman lempeng Samudera


Hindia dibawah pinggiran selatan dataran Sunda dan pensesaran belakang busur diutara Jawa
(Simandjuntak & Barber, 1996)
Seperti halnya di sumatera, orogenesa Sunda juga mengakibatkan terbentuknya
cekungan di Jawa, seperti cekungan depan busur, cekungan antar busur dan cekungan
belakang busur.
Busur gunungapi di Jawa dan Nusatenggara berpotensi mengandung cebakan emas
epitermal, seperti di Pongkor, Cikotok Jawa barat dan Batu Hijau, P. Wetar Nusatenggara.
Gunungapi dalam stadium sulfatara mengandung sumber daya energi yang sangat besar
berupa panas bumi, seperti Kamojang, Jawa barat dan Dieng, Jawa Tengah.
Rangkaian pegunungan yang ada di Jawa dan Nusa tenggara membuat kawasan di
sekitar pegunungan memiliki kawasan yang subur untuk lahan pertanian, perkebunan dan
hutan tropis.

6
2. Orogen Barisan (Barisan Orogeny) di Sumatra: dengan arah konvergen
miring (oblique convergence) sehingga menghasilkan sistem sesar mendatar Sumatra
pada busur magmatiknya, dan sepanjang sesar ini pula suatu segmen kerak kontinen
bergerak ke arah utara di sepanjang bagian barat Sundaland.

Gambar 3. Orogenesa barisan di Sumatera berkaitan dengan terjadinya tunjaman miring


diperairan barat Sumatera dan pergerakan Transpressional menganan disepanjang sesar
sumatera, (Simandjuntak & Barber, 1996)

Periode Tektonik Pulau Sumtera


Penjelasan mengenai periode tektonik wilayah sumatera terbagi menjadi 3 daerah
berdasarkan letak cekungan yang ada di sumatera yaitu cekungan Bengkulu yang
menandakan forearc basin, cekungan Sumateratengah yaitu central basin dan cekungan
Sumatera Selatan yang merupakan backarc basin. Berikut adalah penjelasan masing –
masingperiode yang terjadi di masing – masing cekungan tersebut.

7
a. Cekungan Bengkulu (forearc basin)
Cekungan Bengkulu adalah salah satu cekungan forearc di Indonesia. Cekungan forearc
artinya cekungan yang berposisi di depan jalur volkanik (fore – arc ; arc = jalur volkanik).
Berdasarkan berbagai kajian geologi, disepakati bahwa Pegunungan Barisan( dalam hal ini
adalah volcanic arc -nya) mulai naik di sebelah barat Sumatra pada Miosen Tengah.
Pengaruhnya kepada Cekungan Bengkulu adalah bahwa sebelum Misoen Tengah berarti
tidakada forearc basin Bengkulu sebab pada saat itu arc -nya sendiri tidak ada.Sebelum
Miosen Tengah, atau Paleogen, Cekungan Bengkulu masih merupakan bagian paling barat
Cekungan Sumatera Selatan. Lalu pada periode setelah Miosen Tengah atau Neogen, setelah
Pegunungan Barisan naik, Cekungan Bengkulu dipisahkan dari Cekungan Sumatera Selatan.
Mulai saat itulah,Cekungan Bengkulu menjadi cekungan forearc dan CekunganSumatera
Selatan menjadi cekungan backarc (belakang busur).

Sejarah penyatuan dan pemisahan Cekungan Bengkulu dari Cekungan Sumatera Selatan
dapat dipelajari dari stratigrafi Paleogen dan Neogen kedua cekungan itu. Dapat diamati
bahwa pada Paleogen, stratigrafi kedua cekungan hampir sama. Keduanya mengembangkan
sistem graben di beberapa tempat. Di Cekungan Bengkulu ada Graben Pagarjati, Graben
Kedurang-Manna, Graben Ipuh (pada saat yang sama di Cekungan SumateraSelatan saat itu
ada graben-graben Jambi, Palembang, Lematang,dan Kepahiang). Tetapi setelah Neogen,
Cekungan Bengkulu masuk kepada cekungan yang lebih dalam daripada Cekungan Sumatera
Selatan, dibuktikan oleh berkembangnya terumbu –terumbu karbonat yang masif pada
Miosen Atas yang hampir ekivalen secara umur dengan karbonat Parigi di Jawa Barat
(paraoperator yang pernah bekerja di Bengkulu menyebutnya sebagai karbonat Parigi juga).
Pada saat yang sama, di Cekungan Sumatera Selatan lebih banyak sedimen-sedimen regresif
(Formasi Air Benakat/Lower Palembang dan Muara Enim/Middle Palembang) karena
cekungan sedang mengalami pengangkatan dan inversi.Secara tektonik, mengapa terjadi
perbedaan stratigrafi pada Neogen di Cekungan Bengkulu yaitu disebabkan Cekungan
Bengkulu dalam fase penenggelaman sementara Cekungan Sumatera Selatan sedang
terangkat.

b. Cekungan Sumatera Tengah (central basin)


Pola struktur yang ada saat ini di Cekungan Sumatra Tengah merupakan hasil sekurang-
kurangnya 3 (tiga) fase tektonikutama yang terpisah, yaitu Orogenesa Mesozoikum
Tengah,Tektonik Kapur Akhir-Tersier Awal, dan Orogenesa Plio-Plistosen(De Coster,

8
1974).Heidrick dan Aulia (1993), membahas secara terperinci tentang perkembangan
tektonik di Cekungan Sumatra Tengah dengan membaginya menjadi 3 (tiga) episode
tektonik, F1 (fase 1)berlangsung pada Eosen-Oligosen, F2 (fase 2) berlangsung padaMiosen
Awal-Miosen Tengah, dan F3 (fase 3) berlangsung pada Miosen Tengah-Resen. Fase
sebelum F1 disebut sebagai fase 0 (F0) yang berlangsung pada Pra Tersier.1. Episode F0
(Pre-Tertiary)Batuan dasar Pra Tersier di Cekungan Sumatra Tengah terdiri dari lempeng-
lempeng benua dan samudera yang berbentuk mozaik. Orientasi struktur pada batuan dasar
memberikan efek pada lapisan sedimen Tersier yang menumpang di atasnya dan kemudian
mengontrol arah tarikan dan pengaktifan ulang yang terjadi kemudian. Pola struktur tersebut
disebut sebagai elemen struktur F0.

Ada 2 (dua) struktur utama pada batuan dasar. Pertama kelurusan utara -selatan yang
merupakan sesar geser (Transform/WrenchTectonic) berumur Karbon dan mengalami
reaktifisasi selama Permo-Trias, Jura, Kapur dan Tersier. Tinggian-tinggian yang terbentuk
pada fase ini adalah Tinggian Mutiara, Kampar, Napuh, Kubu, Pinang dan Ujung Pandang.
Tinggian –tinggian tersebut menjadi batas yang penting pada pengendapan sedimen
selanjutnya.2. Episode F1 (26 – 50 Ma)

Episode F1 berlangsung pada kala Eosen-Oligosendisebut juga Rift Phase. Pada F1 terjadi
deformasi akibat Rifting dengan arah Strike timur laut, diikuti oleh reaktifisasi struktur-
struktur tua. Akibat tumbukan Lempeng Samudera Hindia terhadap Lempeng Benua Asia
pada 45 Ma terbentuklah suatu sistem rekahan Transtensional yang memanjang ke arah
selatan dari Cina bagian selatan ke Thailand dan ke Malaysia hingga Sumatra dan
Kalimantan Selatan (Heidrick & Aulia,1993). Perekahan ini membentuk serangkaian Horst
dan Graben di Cekungan Sumatra Tengah. Horst-Graben ini kemudian menjadi danau tempat
diendapkannya sedimen-sedimen Kelompok Pematang.

Pada akhir F1 terjadi peralihan dari perekahan menjadi penurunan cekungan ditandai oleh
pembalikan struktur yang lemah, denudasi dan pembentukan daratan Peneplain. Hasil dari
erosi tersebut berupa paleosol yang diendapkan di atas Formasi Upper Red Bed.3. Episode F2
(13 – 26 Ma) Episode F2 berlangsung pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah. Pada kala
Miosen Awal terjadi fase amblesan (sagphase), diikuti oleh pembentukan Dextral Wrench
Fault secararegional dan pembentukan Transtensional Fracture Zone. Pada struktur tua yang
berarah utara-selatan terjadi Release,sehingga terbentuk Listric Fault, Normal Fault, Graben,

9
dan Half Graben. Struktur yang terbentuk berarah relatif barat laut-tenggara. Pada episode
F2, Cekungan Sumatra Tengah mengalami transgresi dan sedimen-sedimen dari Kelompok
Sihapas diendapkan.4.

Episode F3 (13-Recent) Episode F3 berlangsung pada kala Miosen Tengah-Resendisebut


juga Barisan Compressional Phase. Pada episode F3 terjadi pembalikan struktur akibat gaya
kompresi menghasilkan reverse dan Thrust Fault di sepanjang jalur Wrench Fault yang
terbentuk sebelumnya. Proses kompresi ini terjadi bersamaan dengan pembentukan Dextral
Wrench Fault di sepanjang Bukit Barisan. Struktur yang terbentuk umumnya berarah barat
laut-tenggara. Pada episode F3 Cekungan Sumatra Tengah mengalami regresi dan sedimen-
sedimen Formasi Petani diendapkan, diikuti pengendapan sedimen-sedimen Formasi Minas
secara tidak selaras.

c. Cekungan Sumatera Selatan ( backarc basin)


Blake (1989) menyebutkan bahwa daerah Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan
busur belakang berumur Tersier yang terbentuk sebagai akibat adanya interaksi antara
Paparan Sunda (sebagai bagian dari lempeng kontinen Asia) dan lempeng Samudera India.
Daerah cekungan ini meliputi daerah seluas 330 x 510 km2, dimana sebelah barat daya
dibatasi olehsingkapan Pra-Tersier Bukit Barisan, di sebelah timur oleh PaparanSunda
(Sunda Shield), sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Tiga puluh dan ke arah tenggara
dibatasi oleh Tinggian Lampung.Menurut De Coster, 1974 (dalam Salim, 1995),
diperkirakantelah terjadi 3 episode orogenesa yang membentuk kerangka struktur daerah
Cekungan Sumatera Selatan yaitu orogenesa Mesozoik Tengah, tektonik Kapur Akhir –
Tersier Awal dan Orogenesa Plio – Plistosen. Episode pertama, endapan – endapan Paleozoik
danMesozoik termetamorfosa, terlipat dan terpatahkan menjadi bongkah struktur dan
diintrusi oleh batolit granit serta telah membentuk pola dasar struktur cekungan.

Menurut Pulunggono,1992 (dalam Wisnu dan Nazirman ,1997), fase ini membentuk sesar
berarah barat laut-tenggara yang berupa sesar – sesar geser.Episode kedua pada Kapur Akhir
berupa fase ekstensi menghasilkan gerak – gerak tensional yang membentuk grabendan horst
dengan arah umum utara – selatan. Dikombinasikan dengan hasil orogenesa Mesozoik dan
hasil pelapukan batuan -batuan Pra – Tersier, gerak gerak tensional ini membentuk struktur
tua yang mengontrol pembentukan Formasi Pra – Talang Akar. Episode ketiga berupa fase
kompresi pada Plio –Plistosen yang menyebabkan pola pengendapan berubah menjadi regresi

10
dan berperan dalam pembentukan struktur perlipatan dan sesar sehingga membentuk
konfigurasi geologi sekarang. Pada periode tektonik ini juga terjadi pengangkatan
Pegunungan Bukit Barisan yang menghasilkan sesar mendatar Semangko yang berkembang
sepanjang Pegunungan Bukit Barisan. Pergerakan horisontal yang terjadi mulai Plistosen
Awal sampai sekarang mempengaruhi kondisi Cekungan Sumatera Selatan dan Tengah
sehingga sesar -sesar yang baru terbentuk di daerah ini mempunyai perkembangan hampir
sejajar dengan sesar Semangko. Akibat pergerakan horisontal ini, orogenesa yang terjadi
pada Plio-Plistosen menghasilkan lipatan yang berarah barat laut-tenggara tetapi sesar yang
terbentuk berarah timur laut-barat daya dan barat laut- tenggara. Jenis sesar yang terdapat
pada cekungan ini adalah sesar naik, sesar mendatar dan sesar normal. Kenampakan struktur
yang dominan adalah struktur yang berarah barat laut-tenggara sebagai hasil orogenesa Plio-
Plistosen. Dengan demikian pola struktur yang terjadi dapat dibedakan atas pola tua yang
berarah utara-selatan dan barat laut-tenggara serta pola muda yang berarah barat laut-
tenggara yang sejajar dengan Pulau Sumatera.

Orogenesan barisan mengakibatkan terbentuknya berbagai jenis cekungan dengan


berbagai jenis sedimen dan kandungan sumberdaya mineral dan energi. Seperti cekungan
muka bususr, cekungan antar busur dan cekungan belakang busur. Cebakan hidrokarbon
sebagian besar terdapat di cekungan belakang busur dibagian imur sumatera.
Busur gunungapi berpotensi menghasilkan cebakan emas epitermal. Seperti yang
terdapat di Rejang-Lebong. Gunungapi dengan stadium sulfatara masih menyimpan
sumberdaya energi yang besar berupa cebakan panas bumi seperti yang terdapat di pahae,
Sumatera Utara.
Disamping nilai-nilai positif terdapat juga nilai negatif akibat pergerakan dinamis bumi
di Sumatera. Terutama di sekitar lajur-lajur sesar yang berpotensi menjadi sumber gempa
bumi. Kawasan di sekitar gunungapi juga rawan bencana berupa letusan gunungapi. Gempa
bumi yang terjadi didasar laut, disamping bahaya goncangannya, sering juga memicu
terjadinya gelombang raksasa (Tsunami) yang bisa menimbulkan bencana bagi masyarakat
sekitar pantai.

Kesimpulan
Pulau Sumatera secara garis besar terdiri dari 3 sistem Tektonik, yakni Sistem Subduksi
Sumatera; system sesar Mentawai (Mentawai Fault System); dan Sistem Sesar Sumatera
(Sumatera Fault System). Berdasarkan rekonstruksi geologi oleh Robert Hall (2000), awal

11
pembentukan wilayah Sumatera dimulai sekitar 50 juta tahun lalu (awal Eosen). Sedikitnya
terdapat 19 Segmen sesar dengan panjang tiap segmen ±60-200 km; yang merupakan bagian
dari Sistem Sesar Sumatera (Sumatera Fault System) dengan panjang ±1900 km. Danau Toba
yang berada di pulau Sumatera merupakan salah satu bukti nyata Super Volcano dan
merupakan sisa dari Letusan Kaldera mahadahsyat terbesar (skala 8 VEI).

3. Orogen Talaud (Talaud Orogeny) di bagian utara Laut Maluku:


konvergensi busur magmatik oceanicSangihe dan Halmahera dengan Lempeng Laut
Maluku.

Gambar 4. Orogenesa talud dikawasn utara laut Maluku, berkaitan erat dengan terjadinya
tumbukan ganda busur kepulauan di barat Halmahera dan Timur Sangihe dan pergerakan
Tranpresional mengiri sesar pilifinadi kawasan tengah (Simandjuntak & Barber, 1996)

12
4. Orogen Sulawesi (Sulawesi Orogeny) di Sulawesi timur: tumbukan blok-
blok mikrokontinen dengan sistem subduksi di sepanjang tepi timur Sundaland.

Gambar 5. Orogenesa Sulawesi dipicu oleh tumbukan


antar benua mikro dengan busur kepulauan dan jalur
offiolit dan pergerakan transpressional mengiri sesar
Palu-Koro padaa Neogen (Simandjuntak & barber,
1996)

5. Orogen Banda (Banda Orogeny) di Kepulauan Banda, di wilayah antara Pulau


Sumba dan Tanimbar: tumbukan antara tepi utara kontinen Australia dengan sistem
subduksi di sepanjang bagian selatan Busur Banda.

Gmbar 6. Orogenesa Banda diselatan Laut Banda (Simandjuntak & Barber, 1996)

13
6. Orogen Melanesia (Melanesian Orogeny) di Pulau Papua: suatu tahapan lebih
lanjut tumbukan tepi utara kontinen Australia dengan busur magmatik pada Lempeng
Laut Filipina yang dimulai pada Miosen Awal.

Gambar 7. Penampang tektonik utara selatan irian Jaya memperlihatkan lempeng


samudera laut Carolinamenunjam di bawah pinggiran Bneua Australia diutara. (simandjuntak
& Barber, 1996)

Aktifitas orogen di sebagian besar jalur-jalur orogen ini dimulai pada kala Miosen
Tengah dan proses orogenik masih tetap berlangsung sampai sekarang.

OROGENESA NEOGEN DAN PEMBENTUKAN SUMBERDAYA ALAM


Keseluruhan penjelasan di atas memperlihatkan, bahwa kegiatan tektonik yang
memuncak pada Orogenesa Neogen di kawasan Indonesia membentuk tatanana geologi dan
tektonik, fisiografi dan bentang alam yang tidak banyak mengalaml perubahan hingga saat

14
sekarang ini. Kegiatan orogenesa ini sangat berperan dalam pembentukan dan penyebaran
sumberdaya alam, baik yang hayati maupun non•hayatl, seperti di jelaskan berikut ini.
Sunberdaya Hayati
Salah satu produk akhir orogenesa adalah pembentukan rangkaian pegunungan lipatan
dan sesar. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, orogenesa Neogen membentuk
rangkaian pegunungan di kawasan Indonesia dengan ketinggian berkisar antara 3000-6000 m
lebih. Rangkaian pegunungan ini, di samping menjadi sumber air, juga šekaligus menjadi
tanggul pembagi air ke berbagai arah sisi Iereng pegunungan dengan pola saliran yang
dikontrol oleh keadaan geologi, termasuk jenis batuan dan struktur geologi.
Keadaan geologi ditambah letak geografis Kepulauan Indonesia yang persis di kawasan
katulistiwa memfasilitasi pembentukan Iahan yang subur untuk berkembangnya hutan tropis,
pekebunan dan pertanian. Berbagai jenis flora dan fauna hidup, tumbuh dan berkembang baik
di kawasan Indonesia. Beragam jenis hasil hutan dan perkebunan sangat dibutuhkan manusia
untuk bahan baku bangunan, industri, obat-obatan, makanan dan lain-lainnya. Hasil hutan,
perkebunan dan pertanian seyogyaanya menjadi salah satu komoditi andalan bagi sumber
devisa negara kita.
Orogenesa Neogen di Indonesia juga merombak sistem cekungan dan menjadikan
konfigurasi fisiografi Indonesia bercirikan kepulauan (archipelagic), dengan perairan (laut)
lebih luas dari daratan. Di samping dua samudera besar, Hindia dan Pasifik teradapat juga
berbagai jenis cekungan di kawasan Indonesia. Cekungan belakang busur membentuk Laut
Jawa-Selat Bali-Laut Flores dan cekungan antar busur berupa danau di Sumatera, Jawa,
Sulawesi dan Irian Jaya. Cekunga pinggiran benua membentuk Laut Natuna, Laut China
Selatan, Laut Sulawesi, Laut Banda, Laut Maluku dan Laut Arafura. Laut Banda dan Laut
Maluku merupakan pinggiran utara Samudera Hindia dan pinggiran baratdaya Samudera
Pasifik yang terperangkap di kawasan timur Indonesia pada Orogenesa Neogen.
Berbagai jenis flora, fauna dan biota laut, terutama berbagai jenis ikan yang terdapat di
kawasan perairan Indonesia yang dapat diandalkan sebagai salah satu komoditi sumber
devisa negara kita. Di samping itu, berbagai jenis flora dan fauna yang sangat khas terdapat
hanya di Indonesia dan menjadi kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia.
Sumberdaya Non-Hayati
Sumberdaya bukan-hayati termasuk Sumberdaya Alami dan Sumberdaya Energi dan
Mineral, yang pada dasamya tidak mungkin diperbaharui sebagaimana sumberdaya hayati
yang pada umunya dapat dibarukan.

15
Sumberdaya Alami
Orogenesa Neogen yang menghasilkan berbagai rangkaian pegunungan dengan
Iernbah, jeram dan air terjun serta tebing, ngarai dan jurang-jurang yang menyajikan bentang
alam dan paorama yang mempesona dan menakjubkan menjadi objek wisata yang tidak
ternilai harganya. Di samping itu, sumber Yang dibutuhkan untuk keperluan air minum,
irigasi dan sumber listrik tenaga air.
Sekedar contoh, di Irian Jaya terdapat jurang-jurang Yang tidak hebatnya dengan Grand
Canyon di Amerika Serikat. Semua sungai besar membentuk tebing dan terjal dan jurang
yang dalam. Hampir sernua cabang sungai membentuk air terjun di rnuara saat memasuki
sungai besar. Keadaan topografi yang menakjubkan ini terbentuk pada orogenesa Neogen
yang mengangkat Pegunungan Tengah (Central Ranges) dengan puncak-puncak
berketinggian lebih dari 6000 m di atas muka laut. Pengangkatan yang Iuar biasa dan
katastrofik ini mencirikan orogenesa Neogen di Indonesia sebagai salah satu orogenesa
termuda dan terbesar di muka bumi ini.
Morfologi kars yang sangat khas dengan dolina, sungai di bawah permukaan dan gua
Yang khas memberikan atraksi tersendiri bagi pecinta alam dan wisatawan. Keindahan
pantai, taman laut dan dasar laut dengan hamparan aneka ragam bentuk dan warna terumbu,
berbagai jenis, spesies, bentuk, ukuran dan warna ikan dan berbagai jenis biota laut Iainnya
menyajikan pesona alam yang mengagumkan bagi wisatawan laut. Gemuruh dan gulungan
ombak di beberapa pantai menyajikan pesona alam dan sekaligus tempat Olah raga yang
digandrungi pesilancar mancanegara seperti di Bali, Nias dan pantai Iainnya.
Berbagai bentuk, ukuran dan warna kaldera gunung api menyajikan atraksi alam Yang
mengagumkan bagi wisatwan, seperti di Tangkuban Perahu, Dieng dan Iain-Iainnya. Di
samping itu, Sisa tenaga panas bumi yang sangat besar dapat dieksploitasi menjadi pusat
tenaga listrik panas bumi, yang dijelaskan berikut ini.
Sumberdaya Energi
Di Indonesia terdapat berbagai jenis sumberdaya energi di antaranya hidrokarbon
(migas), batubara, panas bumi dan tenaga air.
Hidrokarbon di Indonesia sebagian terbesar bersumber dari cekungan di belakang busur
di Sumatera, Jawa dan Kalimantan timur, termasuk bagian barat Sulawesi. Pensesaran
bongkah (extensional faults), yang terjadi pada akhir Paleogen membentuk perangkap
hidrokarbon yang bersumber dari sedimen peralihan dan paparan Eosen di pinggiran benua,
Daratan Sunda, dalam terban dan setengah terban (half graben) di kawasan cekungan busur
belakang. Orogenesa Neogen bersama timbunan (burial) lapisan penutup, endapan turbidit

16
Neogen dan intrusi plutonik Neogen menimbulkan bertambahnya suhu dan tekanan yang
memfasilitasi pematangan dan pembentukan hidrokarbon (hydrocarbon generation) di dalam
cekungan-cekungan tersebut.
Demikian juga halnya dengan batubara yang terdapat dalam cekungan Paleogen dan
Neogen. Kwalitas batubara meningkat seiring dengan bertambahnya suhu dan tekanan Yang
bersumber dari Orogenesa Neogen dan intrusi plutonik di sekitar cekungan-cekungan itu.
Orogenesa Melanesia bersama intrusi plutonik pada akhir Neogen memfasilitasi
Pemebentukan hidrokarbon di dalam sedimen pinggiran benua pasif Mesozoikum di Irian
Jaya-Papua New Guinea. Kegiatan tektonik kulit tipis mengakibatkan runtunan sedimen
Penutup terlipat, tersesarsungkupkan, terimbrikasi, terduplikasi dan terangkat, dan sekaligus
memindahulangkan hidrokarbon ke dalam perangkap struktur yang baru terbentuk, seperti
ladang minyak yang terdapat di Papua New Guinea.
Pembentukan hidrokarbon, umumnya gas bumi yang bersumber dari sedimen yang
relatif muda, yakni sedimen pera!ihan Neogen dalam cekungan beraian (ex-tensional basins)
di kawasan timur Indonesiu, juga di fasilitasi Oleh Orogenesa Neogen yang mengakibatkan
bertambahnya panas dan tekanan bersamaan dengan kegiatan intrusi plutonik, kemudian
terperangkap dalam gamping terumbu Neogen, seperti yang terdapat di Blok Matinok,
Cekungan Tomori, bagian timur Sulawesi dan juga di Cekungan Bintuni di Kepala Burung,
Irian Jaya. Peranan tektonik dalam pembentukan hidrokarbon dalarn runtunan sedimen muda
ini menjadi acuan yang sangat berharga dalam upaya pencarian migas di runtunan sedimen
peralihan Neogen di kawasan lain di Indonesia.
Busur gunungapi aktif mengandung beberapa gunungapi berstadium sulfatara, yang
menyimpan panas bumi (geothermal deposits) dalam jumlah yang besar. yang berpotensi di
eksploitasi menjadi sumber listrik tenaga panas bumi. Indonesia merupakan salah satu
kawasan yang memiliki busur gunungapi aktif terpanjang di bumi ini, yang berimplikasi,
mengandung sumberdaya energi panas bumi yang sangat besar.
Air terjun dan jeram-jeram yang terdapat di hampir semua sungai-sungai besar di
Indonesia sangat betpotensi untuk dieksploitasi menjadi sumber listrik tenaga air, seperti
dijelaskan sebelumnya. Terbentuknya air terjun berkaitan erat dengan perubahan elevasi
dasar sungai secara tiba-tiba akibat perubahan litologi dan pengaruh sesar (struktur) yang
pada umumnya terbentuk pada orogenesa Neogen
Sumberdaya Mineral
Berbagai jenis sumberdaya mineral yang terdapat di Indonesia, baik komoditi logam
mulia, komoditi logam dasar, komoditi logam besi dan campuran besi, komoditi logam

17
ringan dan jarang maupun bukan logam. Pembentukan dan penyebaran sumberdaya mineral
tersebut berkait erat dengan kegiatan tektonik pada orogenesa Neogen.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, berbagai kegiatan tektonik dalam orogenesa
Neogen di berbagai tempat di Indonesia selalu diikuti oleh kegiatan intrusi plutonik, yang
menimbulkan proses pemineral pada batuan sekitar yang diterobosnya. Cebakan epitermal
pada umumnya berasosiasi dengan busur gunungapi terestrial beserta kegiatan intrusi
subvulkaniknya. Peranan intrusi plutonik menengah hingga asam sangat penting dan bahkan
sangat menentukan dalam pembentukan cebakan epitermal ini. Dengan demikian, orogenesa
Neogen di Indonesia dengan busur gunungapi yang sebagian besar terestrial dan selalu diikuti
intrusi plutonik sangat berpotensi membentuk cebakan epitermal yang sangat besar, termasuk
komoditi logam mulia dan logam dasar. Cebakan emas epitermal terdapat di Rejang-Lebong
di Sumatra, Pongkor dan Cikotok di Jawa Barat, Batu Hijau di Wetar Nusatenggara,
Latimojong dan Motomboto di Sulawesi, P Haruku di Maluku, Kelian di Kalimantan,
Wapulo dan Nena di Papua New Guinea dan lainnya.
Intrusi plutonik pada orogenesa Neogen juga menimbulkan proses pemineral
hidrotermal, porpiritik dan skarn emas dan tembaga pada batuansekitarnya seperti yang
terdapat di Tembaga Pura, Irian Jaya yang terkenal itu. Cebakan tembaga jenis Kuroko, yang
secara khas terbentuk dalam busur gunungapi yang aktif di bawah permukaan laut sangat
potensial terdapat di Indonesia, karena sebagian busur gunungapi Paleogen' Neogen dan
Resen aktif di bawah permukaan laut.
Orogenesa Neogen sangat berperan dalam mensesarkan, mengimbrikasikan dan
mengangkat ke permukaan batuan ofiolit yang bersumber dari kerak samudera dan bahkan
membentuk rangkaian pegunungan di bagian timur Sulawesi, Halmahera, Pegunungan
Meratus, Kalimantan timur, di utara Irian Jaya-Papua New Guinea, P Gebe dan lainnya. Di
Indonesia pengangkatan di kawasank•tulistiwa memfasilitasi proses pelapukan yang kuat,
sangat memungkinkan pembentukan cebakan nikel lateritik yang sangat tebaî, seperti Yang
terdapat di Soroako dan Pomala di Sulawesi dan P Gebe di Maluku. Batuan ofiolit
makansumber cebakan mineral berhargaselain nikel, juga kromit, platina dan kobal. Batuan
inijuga menjadi surnber logarn mulia intan dan batu hias giok (Jade).
Intan sudah sejak lama diketahui terdapat sebagai endapan letakan (placer deposits) di
Kalimantan, namun sumber dan cebakan primer hingga saat ini belurn diketahui. Intan primer
dapat dihasilkan Oleh pernalihan progresif batuan biru-eklogit di lajur tunjaman (Lajur
Benioff). LajurBenioff tua tersingkap di berbagai tempat di Indonesia seperti Pegunungan

18
Meratus, Kalimanatan Timur, Bantirnala, Pegunungan Pompangeo di Sulawesi, bagian utara
Irian Jaya-Papua New Guinea dan Iainnya yang berpotensi menghasilkan cebakan primer.
Beraian tektonik pada Orogenesa Dayak di Kalirnantan dipicu Oleh pembubungan
kerucut (plumes) panas mantel bumi Yang menyebabkan magma mantel naik dan
membentuk pusat-pusat panas berupa gunungapi jenis erupsi celah, leiehan lava dan infrusi
plutonik alkalin dan kaliuman-ultra potasik. Magma mantel ini permukpan bumi batuan
ultrabasa, jenis kimberlit yang menjadi sumber cebakan primer intan. Cebakan primer intan
dan platina juga berpotensi terdapat di lajur beraian tektonik akhir Neogen di kawasan selatan
Irian Jaya-Papua New Guinea. Kemungkinan Iain, batuan basemen parohan selatan
Kalimantan dibentuk Oleh amalgamasi mintakat alokton Paleozoikum, kemungkinan berasal
dan terpisah dari kawasan barat-utara Australia, yang mengandung cebakan intan primer.
Berbagai bahan galian industri dan bangunan yang tersebar luas di berbagai tempat di
Nusantara, penempatannya ke atas dan/atau dekat permukaan terjadi pada orogenesa Neogen.

KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan yang dipaparkan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal
penting berkaitan dengan kegiatan tektonik yang mengakibatkan terjadinya orogenesa
Neogen dengan segala hasilnya termasuk pembentukan dan penyebaran sumberdaya alam
hayati dan sumberdaya energi dan mineral, sebagai berikut ini.
1. Orogenesa Neogen membentuk tataan tektonik dan fisiografi kawasan Indonesia yang
sekarang, yang bercirikan kepulauan (arkipelago) dengan kawasan perairan lebih
besar dari daratan dan salah satu kawasan yang tergolong pinggiran lempeng aktif di
muka bumi.
2. Berbagai jenis dan pola kegiatan tektonik yang memicu kegiatan orogenesa Neogen,
dan menghasilkan berbagai jenis jalur orogenesa di berbagai tempat di Indonesia,
seperti Orogenesa Barisan di Sumatera, Orogenesa Sunda di Jawa dan Nusatenggara,
Orogenesa Talaud di kawasan utara Laut Maluku, Orogenesa Sulawesi di Sulawesi
dan sekitarnya, Orogenesa Banda di kawasan selatan Laut Banda, Orogenesa
Melanesia di Irian Jaya dan Papua New Guinea dan Orogenersa Dayak di Kalimantan.
3. Pembentukan berbagaijenis dan ukuran cekungan dengan segala kekayan biota
lautnya, SUmberdaya energi dan mineral, seperti laut dalam (samudera), palung,
cekungan muka busur, antar busur, belakang busur, cekungan muka benua dan
cekungan pinggiran benua.

19
4. Pembentukan dan penyebaran sumberdaya energi di kawasan Indonesia sebagian
terbesar terjadi pada Orogenese Neogen. Di antaranya minyak dan gas bumi dari
cekungan belakang busur, cekungar; pinggiran benua, cekungan muka busur dan
sedimen pinggiran benua pasif, batubara dala,m cekungan antar busur, mun dan
belakang busur. panasbumi dalarn gunungapi berstadiurn sulfatara dan listrik air dari
air terjun di berbagai sungai di Indonesia.
5. Intrusi plutonik yang selalu menyertai Orogenesa Neogen menghasilkan berbaŔ
mineral berharga seperti logam mulia, logam dasar, logam besi dan campuran bei,
logam ringan dan jarang dan bukan logam. Batuan ofiolit yang terangkat pada
Neogen memfasilitasi peembentukan cebakan nikel lateritik.
6. Lelehan magma mantel dalam lajur beraian tektonik Neogen berpotensi membava
serta batuan ultrabasa yang menjadi sumber cebakan primer intan dan platina.
Cebakan intan primer yang terbentuk di Lajur Benioff berpotensi terdapat di lajur
tunjaman tua, yang tersingkap di berbagai tempat di Indonesia.
7. Jalur orogenesa Neogen dicirikan oleh rangkaian pegunungan dengan puncak-puncak
berketinggian antara 3000-6000 m lebih di atas muka laut yang memfasilitasi
terbentuknya Iahan yang subur untuk berkembangnya hutan tropis, perkebunan dan
pertanian dengan segala kekayaan hayatinya. Rangkaian pegunungan dengan bentang
alam yang mempesona, di samping sebagai sumber air juga menjadi pembatas pola
saliran sungai dengan air terjun dan jeram yang sangat brmanfaat bagi kehidupan
manusia.

20
Daftar Pustaka
Simandjuntak, T.O., 2009 Tektonika. Publikasi khusus, No. 31. Pusat Survei geologi.
https://geoenviron.wordpress.com/2014/11/24/tektonik-pulau-jawa/ (diakses pada tanggal 5
Maret 2018, pukul 05.30 WIB)
https://smiatmiundip.wordpress.com/2012/05/17/perkembangan-tektonik-pulau-sumatra/

21