Anda di halaman 1dari 22

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI................................................................................................... i
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... ii
KATA PENGANTAR.................................................................................... iii
ABSTRAKS................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................3
1.3 Tujuan Penulisan ......................................................................................3
1.4 Manfaat Penulisan ....................................................................................3
1.5 Metode Penulisan .....................................................................................4
BAB II KONSEP ARSITEKTUR BERKELANJUTAN ...................................5
2.1 Definisi Arsitektur Berkelanjutan............................................................. 5
2.2 Konsep Dasar Arsitektur Berkelanjutan ...................................................6
AB III STUDI KASUS BANGUNAN WISATA KOMERSIAL ....................... 8
3.1 The Royal Pita Maha Resort ....................................................................8
BAB IV PEMBAHASAN ....................................................................................10
4.1 Efisiensi Energi di The Royal Pita Maha Resort ...................................10
4.2 Efisiensi Lahan di The Royal Pita Maha Resort ....................................12
4.3 Efisiensi Penggunaan Material di The Royal Pita Maha Resort ............13
BAB V PENUTUP ............................................................................................... 16
5.1 Simpulan .................................................................................................16
5.2 Saran .......................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA

i
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. The Royal Pita Maha Resort.......................................................... 9


Gambar 2. The Royal Pita Maha Resort Tampak dari Atas ............................ 10
Gambar 3. Penempatan Massa Bangunan..…………….................................. 11
Gambar 4. Sungai Buatan yang Terletak pada The Royal Pita Maha Resort.. 12
Gambar 5. Tanaman Enceng Gondok di Sekitar Site ...................................... 13
Gambar 6. Sirkulasi Utama The Royal Pita Maha Resort............................... 14
Gambar 7. Material Paras pada Eksterior Lift ................................................. 15
Gambar 8. Struktur Atap pada The Royal Pita Maha Resort........................... 16

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena
atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul
“Arsitektur Berkelanjutan (Sustainable Architecture) Studi Kasus: Bangunan
Wisata Komersial (The Royal Pita Maha Resort)”, tepat pada waktunya.
Penyusunan karya tulis ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang
telah meluangkan waktunya, oleh karena itu melalui kesempatan ini, penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Ibu Dr. Ir. Widiastuti, MT selaku dosen koordinator mata kuliah Ekologi
Arsitektur yang telah memberikan pengarhan atas materi makalah ini.
2. Bapak I Nyoman Susanta, ST, MErg selaku dosen pembimbing materi
”Arsitektur Berkelanjutan” atas materi dan pengarahannya.
3. Ibu Ni Made Swanendri, ST, MT selaku tim dosen yang telah memberikan
beberapa materi mengenai arsitektur berkelanjutan.
4. Teman-teman yang sudah bersedia sharing ilmu untuk membantu
pengerjaan makalah ini
Serta pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis
menyadari bahwa karya tulis yang disajikan jauh dari sempurna. Penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif demi sempurnanya karya tulis ini
ke depan. Akhir kata, dengan segala kerendahan hati semoga karya tulis ini dengan
segala upaya semaksimal mungkin, dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Denpasar, Desember 2014

Penulis

iii
ABSTRAK

ARSITEKTUR BERKELANJUTAN (SUSTAINABLE ARCHITECTURE)


STUDI KASUS: BANGUNAN WISATA KOMERSIAL
(THE ROYAL PITA MAHA RESORT)

Disusun olen:
Gede Angga Iswara, I Kadek Andy Prabawa, Gedhe Nugraha

Dewasa ini masalah keberlanjutan (sustainability issues) merambah di semua


bidang kehidupan manusia, isu sustainable development diawali dari pernyataan
pentingnya kesadaran segenap pihak tentang berbagai isu lingkungan global. Pada
dasarnya pembangunan berkelanjutan (sustainable development) merupakan
pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat masa kini tanpa
mengabaikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Penulisan ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pemanfaatan energi
berkelanjutan pada studi kasus The Royal Pita Maha Resort; (2) mengetahui
pemanfaatan lahan site berkelanjutan pada studi kasus The Royal Pita Maha Resort;
dan (3) mengetahui pemanfaatan bahan material berkelanjutan pada studi kasus The
Royal Pita Maha Resort.
Jenis penulisan yang digunakan adalah jenis penulisan deskriptif kualitatif,
yaitu menjelaskan dan menjabarkan melalui metode studi pustaka dengan mengkaji
dan membandingkan sumber-sumber yang relevan dengan objek yang di amati.
Data yang telah dikumpulkan melalui teknik studi pustaka kemudian digunakan
untuk menjawab dari objek. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis
dengan teknik deskriptif kualitatif dengan mencari hubungan dan pola sebab-akibat
berdasarkan literatur yang relevan.
Hasil pembahasan menyatakan bahwa arsitektur berkelanjutan yang
diterapka pada The Royal Pita Maha Resort bahwa pemanfaatan energi alami sangat
diperhitungkan terutama sirkulasi udara dan pencahayaan alami pada setiap massa
bangunannya. Selain itu, bahan-bahan material yang digunakan menggunakan
bahan-bahan ekologi dan mudah didapat disekitarnya. Namun dari semua itu
terdapat satu permasalahan mengenai arsitektur berkelanjutan, yakni pemanfaatan
lahan. Pengolahan site menggunakan Cut and Fill sehingga beresiko pada
keberlanjutan dan tanah itu sendiri.

Kata kunci: Arsitektur berkelanjutan, The Royal Pita Maha Resort, Ekologi

iv
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perancangan suatu bangunan sering sekali kurang memperhatikan keselarasan
antara bangunan dengan alam dalam hal pemanfaatan sumber daya alam dan
penggunaan teknologi yang tidak ramah terhadap lingkungan. Oleh karena itu,
perancangan suatu bangunan secara arsitektur mempunyai andil yang sangat besar
dalam memicu pemanasan global dan berakibat pada turunnya kualitas hidup manusia.
Dari semua gejala alam yang sudah terjadi, kini sudah saatnya perancangan bangunan
secara arsitektur lebih memahami alam melalui pendekatan dan pemahaman terhadap
perilaku alam lebih dalam, agar tidak terjadi kerusakan alam yang lebih parah. Sasaran
utama dari upaya ini adalah tidak memperparah pemanasan global melalui upaya
perancangan arsitektur yang selaras dengan alam serta memperhatikan kelangsungan
ekosistem yaitu dengan pendekatan ekologi. Pendekatan ekologi ini diharapkan
menghasilkan konsep-konsep perancangan arsitektur yang ramah lingkungan, ikut
menjaga kelangsungan ekosistem, menggunakan energi yang efisien, memanfaatkan
sumber daya alam yang tidak dapatdiperbaharui secara efisien, dan menekankan
penggunaan sumber daya alam yang dapatdiperbaharui dengan daur ulang. Semua ini
ditunjukkan bagi kelangsungan ekosistem,kelestarian alam dengan tidak merusak
tanah, air, dan udara tanpa mengabaikan kesejahteraan dan kenyamanan manusia
secara fisik, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.
Konsep pembangunan berkelanjutan pada dasarnya sudah menjadi perhatian
semua pihak (negara) di muka bumi ini. Berawal dari pernyataan tentang pentingnya
kesadaran segenap pihak tentang berbagai isu lingkungan global, maka muncul istilah
pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan yang ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kepentingan dan
kebutuhan generasi yang akan datang.
Desain berkelanjutan (sustainable design) yang merupakan bagian dari
pembangunan berkelanjutan dalam pelaksanaan perancangannya memperhatikan

1
obyek fisik, lingkungan binaan, dan fasilitas pelayanannya yang mematuhi
prinsipprinsip sosial, ekonomi dan ekologi. Ketiga prinsip desain berkelanjutan
(sustainable design) tersebut dalam konsep kota berkelanjutan (sustainable city)
berkembang lebih jauh lagi yaitu tidak sekadar terpaku pada konsep awal yang lebih
terfokus pada pemikiran kelestarian dan keseimbangan lingkungan semata-mata.
Dewasa ini masalah keberlanjutan (sustainability issues) merambah di semua
bidang kehidupan manusia, isu sustainable development diawali dari pernyataan
pentingnya kesadaran segenap pihak tentang berbagai isu lingkungan global. Pada
dasarnya pembangunan berkelanjutan (sustainable development) merupakan
pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat masa kini tanpa
mengabaikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka,
sebagai suatu proses perubahan dimana pemanfaatan sumberdaya, arah investasi,
orientasi pembangunan dan perubahan kelembagaan selalu dalam keseimbangan dan
secara sinergis saling memperkuat potensi masa kini maupun masa mendatang untuk
memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia (Brundtland dalam Budihardjo & Sujarto,
1999). Publikasi ini kemudian memicu lahirnya agenda baru mengenai konsep
pembangunan ekonomi dan keterkaitannya dengan lingkungan dalam konteks
pembangunan yang berkelanjutan. Agenda ini sekaligus menjadi tantangan konsep
pembangunan ekonomi neo-klasikal yang merupakan konsep pembangunan
konvensional yang selama ini dikenal, yang menyatakan bahwa: “sustainable
development is one that meets the needs of the present without comprimising the ability
of the future generations to meet their own need” atau pembangunan berkelanjutan
adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan generasi yang akan datang.
Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dalam aktivitasnya
memanfaatkan seluruh sumberdaya, guna meningkatkan kualitas hidup dan
kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan pembangunan pada dasarnya juga merupakan
upaya memelihara keseimbangan antara lingkungan alami (sumberdaya alam hayati
dan non hayati) dan lingkungan binaan (sumberdaya manusia dan buatan), sehingga

2
sifat interaksi maupun interdependensi antar keduanya tetap dalam keserasian yang
seimbang. Dalam kaitan ini, eksplorasi maupun eksploitasi komponen-komponen
sumberdaya alam untuk pembangunan, harus seimbang dengan hasil/produk bahan
alam dan pembuangan limbah ke alam lingkungan. Prinsip pemeliharaan
keseimbangan lingkungan harus menjadi dasar dari setiap upaya pembangunan atau
perubahan untuk mencapai kesejahteraan manusia dan keberlanjutan fungsi alam
semesta.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimanakah pemanfaatan energi berkelanjutan pada studi kasus The
Royal Pita Maha Resort?
2. Bagaimanakah pemanfaatan lahan site berkelanjutan pada studi kasus The
Royal Pita Maha Resort?
3. Bagaimanakah pemanfaatan bahan material berkelanjutan pada studi kasus
The Royal Pita Maha Resort?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan ini, yakni sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pemanfaatan energi berkelanjutan pada studi kasus The
Royal Pita Maha Resort.
2. Untuk mengetahui pemanfaatan lahan site berkelanjutan pada studi kasus
The Royal Pita Maha Resort.
3. Untuk mengetahui pemanfaatan bahan material berkelanjutan pada studi
kasus The Royal Pita Maha Resort.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Mampu memahami mengenai arsitektur berkelanjutan pada bangunan.

3
2. Memberikan wawasan pengetahuan mengenai bangunan berkelanjutan.
3. Sebagai bahan referensi pada pembelajaran Ekologi
Arsitektur selanjutnya.

1.5 Metode Penulisan


Jenis penulisan yang digunakan adalah jenis penulisan deskriptif kualitatif, yaitu
menjelaskan dan menjabarkan melalui metode studi pustaka dengan mengkaji dan
membandingkan sumber-sumber yang relevan dengan objek yang di amati. Data yang
telah dikumpulkan melalui teknik studi pustaka kemudian digunakan untuk menjawab
dari objek

4
BAB II KONSEP ARSITEKTUR BERKELANJUTAN

2.1 Definisi Arsitektur Berkelanjutan


Sustainable architecture atau dalam bahasa Indonesianya adalah arsitektur
berkelanjutan, adalah sebuah konsep terapan dalam bidang arsitektur untuk mendukung
konsep berkelanjutan, yaitu konsep mempertahankan sumber daya alam agar bertahan
lebih lama, yang dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan lingkungan
ekologis manusia, seperti sistem iklim planet, sistem pertanian, industri, kehutanan,
dan tentu saja arsitektur (Wikipedia, 2014).
Secara sederhana, sustainable architecture atau arsitektur berkelanjutan dapat
didefinisikan sebagai desain Arsitektur yang berwawasan lingkungan. Tentu saja
pendekatan ini terkait dengan pendekatan Sustainable Development atau Pembangunan
Berkelanjutan yang diungkapkan dalam Report of the World Commission on
Environment and Development tahun 1987. Konsep Sustainable Development dapat
didefinisikan secara sederhana, yakni pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat
ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi
kebutuhannya di masa mendatang (Prayoga, 2013).
Sehingga dengan demikian, maka desain berkelanjutan (sustainable design)
merupakan desain yang mampu untuk mengatasi kondisi-kondisi yang terjadi dewasa
ini terkait dengan krisis lingkungan global, pertumbuhan pesat kegiatan ekonomi dan
populasi manusia, depresi sumber daya alam, kerusakan ekosistem dan hilangnya
keanekaragaman hayati manusia.
Desain berkelanjutan (sustainable design) berusaha mengurangi dampak negatif
pada lingkungan, kesehatan dan kenyamanan penghuni bangunan, sehingga
meningkatkan kinerja bangunan. Pada dasarnya pelaksanaan desain berkelanjutan
(sustainable design) ini dapat diaplikasikan bentuk (Prayoga, 2013):
a. Mikrokosmos, yang diwujudkan dalam bentuk benda untuk penggunaan
sehari-hari.

5
b. Makrokosmos, yang diwujudkan dalam bentuk bangunan, kota dan fisik
permukaan bumi.
Bentuk inilah yang dapat diterapkan dibidang arsitektur, arsitektur lansekap,
desain urban, perencanaan kota, teknik, desain grafis, desain industri, desain interior
dan fashion design.

2.2 Konsep Dasar Arsitektur Berkelanjutan


Mengutip kalimat dari Jack A. Kramers (dalam Kurniasih, 2013. Hal:13)
menyebutkan bahwa: “Sustainable Architecture is responce and an expression of
celebration of our existence and respect for the world arround us”. Arsitektur
berkelanjutan merupakan suatu respon dan ekspresi keberadaan kita serta rasa peduli
terhadap dunia sekitar kita.
Adapun konsep dalam arsitektur yang mendukung Arsitektur Berkelanjutan,
antara lain (Kurniasih, 2013. Hal:14):

a. Bangunan Hemat Energi


Bangunan hemat energi dalam dunia arsitektur adalah meninimalkan
penggunaan energi tanpa membatasi atau merubah fungsi bangunan,
kenyamanan, maupun produktivitas penghuninya. Hemat energi adalah suatu
kondisi dimana energi dikonsumsi secara hemat atau minimal tanpa harus
mengorbankankenyamanan fisik manusia. Konsep bangunan hemat energi terdiri
dari beberapa komponen, yakni sebagai berikut:
1) Meminimalkan perolehan panas matahari
2) Orientasi bangunan utara-selatan
3) Organisasi ruang : Aktivitas terdapat pada ruang utama yang
diletakkan di tengah bangunan, diapit oleh ruang-ruang penunjang
atau service di sisi Timur-Barat.
4) Memaksimalkan pelepasan panas bangunan kemudian menghindari
radiasi matahari masuk ke dalam bangunan.

6
5) Memanfaatkan radiasi matahari secara tidak langsung untuk
menerangi ruang dalam bangunan.
6) Mengoptimalkan ventilasi silang untuk bangunan non-AC.
7) Hindari pemanasan permukaan tanah sekitar bangunan.

b. Efisiensi Penggunaan Lahan


1) Lahan yang semakin sempit, mahal dan berharga tidak harus
digunakan seluruhnya untuk bangunan, karena sebaiknya selalu ada
lahan hijau dan penunjang keberlanjutan potensi lahan.
2) Menggunakan seperlunya lahan yang ada, tidak semua lahan harus
dijadikan bangunan, atau ditutupi dengan bangunan, karena dengan
demikian lahan yang ada tidak memiliki cukup lahan hijau dan
taman. Menggunakan lahan secara efisien, kompak dan terpadu.
3) Potensi hijau tumbuhan dalam lahan dapat digantikan atau
dimaksimalkan dengan berbagai inovasi, misalnya pembuatan atap
diatas bangunan.
4) Menghargai kehadiran tanaman yang ada di lahan, dengan tidak
mudah menebang pohon-pohon, sehingga tumbuhan yang ada dapat
menjadi bagian untuk berbagi dengan bangunan.
5) Desain terbuka dengan ruang-ruang yang terbuka ke taman (sesuai
dengan fleksibilitas buka-tutup yang direncanakan sebelumnya)
dapat menjadi inovasi untuk mengintegrasikan luar dan dalam
bangunan, memberikan fleksibilitas ruang yang lebih besar.
6) Dalam perencanaan desain, pertimbangkan berbagai hal yang dapat
menjadi tolak ukur dalam menggunakan berbagai potensi lahan,
misalnya; berapa luas dan banyak ruang yang diperlukan.
7) Dimana letak lahan (di kota atau di desa) dan bagaimana
konsekuensinya terhadap desain, bentuk site dan pengaruhnya

7
terhadap desain ruang-ruang, berapa banyak potensi cahaya dan
penghawaan alami yang dapat digunakan.
c. Efisiensi Penggunaan Material
1) Memanfaatkan material sisa untuk digunakan juga dalam
pembangunan, sehingga tidak membuang material, misalnya kayu
sisa bekisting dapat digunakan untuk bagian lain bangunan.
2) Memanfaatkan material bekas untuk bangunan, komponen lama
yang masih bisa digunakan, misalnya sisa bongkaran bangunan lama.
3) Menggunakan material yang masih berlimpah maupun yang jarang
ditemui dengan sebaik-baiknya, terutama untuk material yang
semakin jarang seperti kayu.

d. Penggunaan Teknologi dan Material Baru


Memanfaatkan potensi energi terbarukan seperti energi angin, cahaya
matahari dan air untuk menghasilkan energi listrik domestik untuk rumah tangga
dan bangunan lain secara independen.
Memanfaatkan material baru melalui penemuan baru yang secara global
dapat membuka kesempatan menggunakan material terbarukan yang cepat
diproduksi, murah dan terbuka terhadap inovasi, misalnya bambu.
BAB III STUDI KASUS: BANGUNAN WISATA KOMERSIAL

3.1 The Royal Pita Maha Resort


The Royal Pita Maha Resort adalah salah satu dari berbagai macam hotel dan
villa yang berada di daerah Ubud tepatnya terletak di jalan Bunutan Kedewatan, Ubud,
Gianyar. The Royal Pita Maha Resort berjarak hanya 3 km dari pusat Ubud dan dapat
diakses hanya dengan 45 menit berkendara dari Bandara Internasional Ngurah Rai. The
Royal Pita Maha Resort terletak pada suatu lahan yang strategis yang berada tepat di
depan sungai ayung di batu kurung sehingga memberikan suasana alami serta dan akan
memanjakan mata pengunjung dengan keindahan alamnya yang masih asri.

8
Gambar 1. Peta Lokasi The Royal Pita Maha Risort

Pemilik dari The Royal Pita Maha Resort adalah seorang yang sangat terkenal di
daerah Gianyar, beliau adalah Tjokorda Gede Agung Sukawati dan Tjokorda Oka
Artha Ardhana Sukawati. Dalam mendesain The Royal Pita Maha Resort, beliau
dibantu oleh adik beliau yang bernama Cokde Sukawati, adik beliau tersebut yang

9
memiliki andil besar dalam mendesain seluruh ruangan di penginapan tersebut
khususnya pada desain interior penginapan.
The Royal Pita Maha Resort diresmikan tahun 2004, dan untuk sekarang The
Royal Pita Maha Resort sudah resmi berdiri sekitar 9 tahun. Luas lahan dari The Royal
Pita Maha Resort adalah 14 Hektar yang terdiri dari 52 kamar dan 24 privat villa,
masing-masing kamar tersebut dapat dihuni oleh 2 orang yaitu suami istri.

Gambar 2. The Royal Pita Maha Resort Tampak dari Atas


BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Efisiensi Energi di The Royal Pita Maha Resort


The Royal Pita Maha Resort terletak diatas site berkontur dengan banyak variasi
ketinggian transis jadi tata letak massanya menggunakan pola linear. Massa diletakkan
secara linier mengikuti garis transis yang sudah diolah dengan menggunakan teknik
Cut & Fill. Royal Villa diletakkan paling dekat dengan lobby dan restaurant. Karena
lokasinya paling tinggi dari villa yang lainnya, jadi mendapatkan view paling baik.

Ekologi Arsitektur - 10
Bangunan
Utama

Gambar 3. Penempatan Massa Bangunan

Selain pemanfaatan view, pemanfaatan sirkulasi udara dimaksimalkan dengan


banyak menggunakan bukaan dan pada sekeliling site dikelilingi tanaman dan
pohonpohon unutuk meminimalkan panas dari matahari yang langsung masuk ke
dalam bangunan selan itu juga terdapat sungai buatan yang difungsikan untuk
menetralkan suhu panas yang diberikan oleh sinar matahari langsung. Orientasi
bagunan cottage mengarah ke view yaitu kearah barat. Akses jalan menuju cottage
melalui bagian samping atau belakang bangunan cottage. Peletakan pintu masuk
dibagian samping atau belakang agar tidak menghalangi view kearah depan cottage.

Ekologi Arsitektur - 11
Gambar 4. Sungai Buatan yang Terletak pada The Royal Pita Maha Resort

Sistem pengolahan air bekas dan air hujan pada masing-masing bangunan
memanfaatkan tanaman enceng gondok yang berada pada kolam di areal pinggir villa,
dimana tanaman enceng gondok ini berfungsi untuk mengolah air bekas dan air hujan
karena sifat alami enceng gondok ini mampu menyerap zat kimia yang mencemari air,
sehingga air yang sudah diolah dapat digunakan kembali untuk menyiram tanaman dan
sisanya dialirkan ke sungai Ayung. Penerapan sistem seperti ini sangat efektif karena
tidak membutuhkan biaya yang besar apalagi tanaman enceng gondok sangat mudah
ditemukan dan pertumbuhannya sangat cepat.

Gambar 5. Tanaman Enceng Gondok di Sekitar Site

4.2 Efisiensi Lahan di The Royal Pita Maha Resort


Dari segi pengolahan site, The Royal Pita Maha Resort lebih banyak
menggunakan teknik cut and fill dalam setiap penempatan masa bangunannya. Namun
menurut survey di lapangan teknik cut and fill yang dipakai terlalu banyak dan dalam.
Galian tanah pada site rata-rata digali hampir sedalam 9 meter, dan area untuk
pengurugan atau usaha untuk mendapatkan tanah datar diurug dengan luas maksimal 6

Ekologi Arsitektur - 12
are. Teknik cut and fill yang diaplikasikan sebenernya berlebihan dalam sistem
pengolahan site. Karena galian dan pengurugan sudah terlalu dalam sehingga potensi
site tidak sepenuhnya masih utuh dalam keadaan alami.
Menurut Narasumber di lapangan, tanah hasil galian kadang dibuang di pinggiran
tebing. Ketika tanah tersebut lebih dari yang diperlukan untuk keperluan pengurugan
maka tanah sisa tersebut akan dibuang. Dengan pengaplikasian teknik yang sedemikian
sebenernya site berpotensi rusak dan potensi site tidak dapat difungsikan secara
optimal. Sehingga dalam The Royal Pita Maha Resort bangunan berdiri di lahan dengan
keadaan kontur site yang tidak sepenuhnya alami.
Jadi, pada efisiensi lahan pada The Royal Pita Maha Resort tidak menggunakan
konsep Sustainable Architecture secara menyeluruh meski terdapat beberapa tanaman-
tanaman yang menghiasi site, namun semua tanaman merupakan tanaman buatan dan
tidak alami tumbuh pada site.

4.3 Efisiensi Penggunaan Material The Royal Pita Maha Resort


Jalan masuk menuju The Royal Pita Maha Resort kira-kira berukuran 4 meter,
dengan elemen bawah terbuat dari paping yang memberikan suatu kesan alami pada
arah sirkulasi. Suasana pada sirkulasi masuk menuju The Royal Pita Maha Resort
dibuat menyerupai perkampungan tradisional penduduk Bali, hal ini terlihat dari bentuk
angkul-angkul yang sama antar satu rumah untuk memberikan suasana asri dan rindang
pada sirkulasi tersebut. Pada bagian dinding sirkulasi tersebut dibuat dari potongan batu
padas yang dihiasi dengan tanaman yang memberikan kesan alami.

Ekologi Arsitektur - 13
Gambar 6.Sirkulasi Utama The Royal Pita Maha Resort
Untuk transportasi mekanis di The Royal Pita Maha Resort terdapat Lift, lift
pertama terletak di daerah setelah melewati lobby, terdapat dua buah lift yang saling
berhadapan di daerah ini, pada eksteriornya lift ini menggunakan gaya arsitektur Bali
dengan detail-detail ornamen.
Untuk lift lainnya terletak di bawah restaurant, lift ini menghubungkan antara
lantai 1 (daerah restaurant paling dasar) dan lantai 2 (daerah bangunan / The Royal Pita
Maha Resort bagian bawah). Lift ini dapat menampung maksimal 8 orang dalam sekali
pengangkutan.

Ekologi Arsitektur - 14
Gambar 7. Material Paras pada Eksterior Lift

Tipologi bangunan di The Royal Pita Maha Resort memiliki ciri khas bangunan
Arsitektur Bali. Dimana yang paling menonjol adalah penggunaan atap alang-alang dan
batu Paras Taro yang kini diperkirakan sudah langka.
Dari segi struktur atap, bangunan dan unit-unit villa cenderung menggunakan
Struktur Rangka Bidang dengan ditopang oleh kolom-kolom khas Bali atau yang
disebut saka. Rangka struktur berbahan kayu dan bambu yang menopang penutup atap
alang-alang agar setiap unit bangunan di dalam resort memiliki kesan alami dan
menyatu dengan alam.

Ekologi Arsitektur - 15
Gambar 8. Struktur Atap pada The Royal Pita Maha Resort
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan
Adapun simpulan dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut:
1. Pemanfaatan sirkulasi udara dimaksimalkan dengan banyak menggunakan
bukaan dan pada sekeliling site dikelilingi tanaman dan pohon-pohon
unutuk meminimalkan panas dari matahari yang langsung masuk ke dalam
bangunan selan itu juga terdapat sungai buatan yang difungsikan untuk
menetralkan suhu panas yang diberikan oleh sinar matahari langsung.
2. The Royal Pita Maha Resort lebih banyak menggunakan teknik cut and fill
dalam setiap penempatan masa bangunannya. Cut and fill yang dipakai
terlalu banyak dan dalam.
3. Tipologi bangunan di The Royal Pita Maha Resort memiliki ciri khas
bangunan Arsitektur Bali. Dimana yang paling menonjol adalah

Ekologi Arsitektur - 16
penggunaan atap alang-alang dan batu Paras Taro yang kini diperkirakan
sudah langka. Dari segi struktur atap, bangunan dan unit-unit villa
cenderung menggunakan Struktur Rangka

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat kami sampaikan, yakni sebagai berikut:
1. Bangunan yang Sustainable merupakan bangunan yang ramah lingkungan
dan sangat memperhatikan lingkungan, diharapkan bagi pembaca untuk
terus berinovasi dalam keberlangsungan lingkungan, khususnya dalam
arsitekur.
2. Penggunaan Cut and Fill sebaikanya diminamilir dengan menggunakan
desai bangunan panggung untuk tetap menjaga lahan alami dibawah
bangunan.
DAFTAR PUSTAKA

Budihardjo, Eko & Sujarto, Djoko, 1999, Kota Berkelanjutan, Penerbit Alumni,
Bandung.
Kurniasih, Sri. 2013. Evaluasi Tentang Penerapan Prinsip ArsitekturBerkelanjutan
(Sustainable Architecture). E-Jurnal. Jurusan Arsitektur, Universitas Budi Luhur.
Prayoga, Iwan. 2013. Desain Berkelanjutan (Sustainable Design). E-Jurnal. Jurusan
Arsitektur, Universitas Pandanaran.
WCED. 1987. Our Common Future: Report of the World Commission on Environment
and Development, Chapter 2, Towards Sustainable Development, sumber:
www.un-documents.net
Wikipedia. 2014. Sustainable Design. Terseda pada: http://wikipedia.org
/wiki/Sustainable_design. Diakses pada 9 Oktober 2014.

Ekologi Arsitektur - 17