Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN FITOKIMIA

“IDENTIFIKASI KUALITATIF KANDUNGAN


SIMPLISIA TAPAK DARA DAN DAUN SAGA”

Disusun Oleh :
 Ola Cornelita
 Puji Nurfitriyani
 Puput Putriyanti
 Regina Dwi Septianti
 Rena Oktaviani
Tingkat : IIB
Semester : IV (Empat)

AKADEMI FARMASI MUHAMMADIYAH CIREBON


Jl. Cideng Indah No. 3 Telp/Fax. 0231-230984
E-mail : akfar_muh@yahoo.co.id

1
PERCOBAAN I
IDENTIFIKASI KUALITATIF KANDUNGAN SIMPLISIA

1.1 TUJUAN PERCOBAAN


Mahasiswa mengetahui bahwa didalam simplisia banyak terkandung zat-
zat kimia yang mungkin berguna dalam pengobatan, serta cara mengidentifikasi
zat-zat tersebut
1.2 PENDAHULUAN
Skrining fitokimia atau penapisan kimia adalah tahapan awal untuk
mengidentifikasi kandungan kimia yang terkandung dalam tumbuhan, krna pada
tahap ini kita bisa mengetahui golongan senyawa kimia yang dikandung
tumbuhan yang sedang kita uji/teliti.
Metode yang digunakan dalam skrining fitokimia harus memiliki persyaratan :
metodenya sederhana dan cepat
peralatan yang digunakan sesedikit mungkin
selektif dalam mengidentifikasi senyawa-senyawa tertentu
dapat memberikan informasi tambahan mengenai keberadaan senyawa tertentu
dalam kelompok senyawa yang diteliti.
Golongan senyawa kimia dapat ditentukan dengan cara:
 uji warna
 penentuan kelarutan
 bilangan Rf
 ciri spektrum UV
 namun secara umum penentuan golongan senyawa kimia dilakukan
dengan cara uji warna dengan menggunakan pereaksi yang spesifik karena
dirasakan lebih sederhana.
Senyawa kimia berdasarkan asal biosintesis, sifat kelarutan, gugus fungsi
digolongkan menjadi :
 Senyawa fenol, bersifat hidrofil, biosintesisnya berasal dari asam shikimat
 terpenoid, berasal dari lipid, biosintesisnya berasal dari isopentenil
pirofosfat

2
 asam organik, lipid dan sejenisnya, biosintesisnya berasal dari asetat
 senyawa nitrogen, bersifat basa dan bereaksi positif terhadap ninhidrin
atau dragendorf
 gula dan turunannya
 makromolekul, umumnya memiliki bobot molekul yang tinggi
Sedangkan berdasarkan biogenesisnya senyawa bahan alam dikelompokkan
menjadi :
 Asetogenin : flavonoid, lipid, lignan, dan kuinon
 karbohidra : monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida
 isoprenoid : tepenoid, steroid, karotenoid
 senyawa mengandung nitrogen : alkaloid, asam amino, protein, dan
nukleat
Skrining fitokimia umumnya hanya dilakukan pada senyawa:
1. Alkaloid

Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak


ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuh-tumbuhan dan
tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan tingkat tinggi. Sebagian besar
alkaloid terdapat pada tumbuhan dikotil sedangkan untuk tumbuhan monokotil
dan pteridofita mengandung alkaloid dengan kadar yang sedikit. Pengertian lain
Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam bersifat basa atau alkali
dan sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen) dalam molekul
senyawa tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau aromatis, dan dalam
dosis kecil dapat memberikan efek farmakologis pada manusia dan hewan.
Meyer’s Conversation Lexicons tahun 1896 dinyatakan bahwa alkaloid
terjadi secara karakteristik di dalam tumbuh- tumbuhan, dan sering dibedakan
berdasarkan kereaktifan fisiologi yang khas. Senyawa ini terdiri atas karbon,
hidrogen, dan nitrogen, sebagian besar diantaranya mengandung oksigen. Sesuai
dengan namanya yang mirip dengan alkali (bersifat basa) dikarenakan adanya
sepasang elektron bebas yang dimiliki oleh nitrogen sehingga dapat mendonorkan
sepasang elektronnya.

3
Garam alkaloid dan alkaloid bebas biasanya berupa senyawa padat,
berbentuk kristal tidak berwarna (berberina dan serpentina berwarna kuning).
Alkaloid sering kali optik aktif, dan biasanya hanya satu dari isomer optik yang
dijumpai di alam, meskipun dalam beberapa kasus dikenal campuran rasemat, dan
pada kasus lain satu tumbuhan mengandung satu isomer sementara tumbuhan lain
mengandung enantiomernya. Ada juga alkaloid yang berbentuk cair, seperti
konina, nikotina, dan higrina.
Fungsi Alkaloid
Sebagai hasil buangan nitrogen seperti urea dan asam urat dalam hewan
(salah satu pendapat yang dikemukan pertama kali, sekarang tidak dianut lagi).
Pada beberapa kasus, alkaloid dapat melindungi tumbuhan dari serangan parasit
atau pemangsa tumbuhan.
Sebagai pengatur tumbuh, karena dari segi struktur, beberapa alkaloid
menyerupai pengatur tumbuh. Beberapa alkaloid merangasang perkecambahan
yang lainnya menghambat.
Semula disarankan oleh Liebig bahwa alkaloid, karena sebagian besar
bersifat basa, dapat mengganti basa mineral dalam mempertahankan
kesetimbangan ion dalam tumbuhan
Klasifikasi Alkaloid
a. Non Heterosiklik Alkaloid
Ini juga kadang-kadang disebut proto-alkaloid atau amina biologis. Ini
jarang ditemukan di alam. Molekul-molekul ini memiliki atom nitrogen yang
bukan merupakan bagian dari sistem cincin.
Nama Struktur Kegunaan
Ephedrine Adrenergik,asma dan
demam

4
Colchicine Meredakan encok

Eritromisin Antibiotika

Taxol Digunakan dalam


(paclitaxel) pengobatan kanker
ovarium, kanker payudara
dan non-kecil sel kanker
paru-paru

b. Heterosiklik Alkaloid atau Alkaloid Khas


Struktural ini memiliki nitrogen sebagai bagian dari sistem cincin
siklik. Ini lebih umum ditemukan di alam. Alkaloid heterosiklik kemudian dibagi
lagi menjadi 14 kelompok berdasarkan struktur cincin yang mengandung nitrogen.
HETEROSIKLIK CONTOH

Pyrrolizidine

5
Tropane (piperidin / N-metil- pyrrolidine)

Quinoline

Isoquinoline

Aporphine (dikurangi isoquinoline / naftalena)

6
Quinolizidine

Indole atau Benzopyrole

Indolizidine

Imidazole atau glyoxaline

Purin (pirimidin / imidazol)

7
Steroid (beberapa digabungkan sebagai glikosida)
*

Terpenoid *

2. Flavonoid
Semua flavonoid, menurut strukturnya, merupakan senyawa induk flavon
yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhanPrimula, dan semuanya
mempunyai sejumlah sifat yang sama. Saat ini dikenal sekitar 20 jenis flavonoid.
Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air. Mereka dapat
diekstraksi dengan alkohol 70% dan tetap ada pada lapisan air setelah ekstrak
dikocok dengan eter minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena itu
warnanya berubah bila di tambah basa atau amoniak, jadi flavonoid mudah
dideteksi pada kromatogram atau dalam larutan.
Flavonoid mengandung sistem aromatik yang terkonyugasi dan karena itu
menunjukan pita serapan kuat pada spektrum UV dan spektrum tampak.
Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan, terikat pada gula sebagai
glikosida dan aglikon flavonoid.
Flavonoid terdapat dalam semua tumbuhan berpembuluh tetapi beberapa
kelas lebih tersebar daripada yang lainnya.
Flavonoid terdapat dalam tumbuhan sebagai campuran, jarang sekali
dijumpai hanya flavonoid tunggal dalam jaringan tumbuhan. Disamping itu,
sering terdapat campuran yang terdiri atas flavonoid yang berbeda kelas.

8
Antosianin berwarna yang terdapat dalam daun bunga hampir selalu disertai oleh
flavon dan flavonolol tanwarna.
Flavonoid mempunyai rumus umum, C6C3C6.
Aktivitas biologi flavonoid antara lain:
- anti kanker : kuersetin, mirisetin
- anti oksidant : kuersetin, antosianidin, dan prosianidin
- anti inflamasi : apigenin, taksifolin, luteolin, kuersetin
- anti alergi : nobeletin, tangeretin
- anti hipertensi : prosianidin
- anti virus : amentiflavum, skutellarein, kuersetin
3. Triterpenoid
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari 6
satuan isopren dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asilik, yaitu
skualen. Senyawa ini berstruktur siklik yang nisbi rumit, kebanyakan berupa
alkohol, aldehida, atau asam karboksilat. Mereka berupa senyawa tanwarna,
berbentuk kristal, sering kali bertitik leleh tinggi dan aktif optik , yang umumnya
sukar dicirikan karena tak ada kerektifan kimianya. Uji yang banyak digunakan
ialah reaksi Lieberman-Burchard (anhidrida asetat + H2SO4 pekat) yang dengan
kebanyakan triterpena dan sterol memberikan warna hijau-biru. Tersebar luas
dalam damar, gabus dan kutin tumbuhan.
Triterpenoid yang paling penting dan tersebar luas ialah triterpenoid penta siklik.
Struktur kimia triterpenoid terdapat dalam bentuk bebas atau glikosida.
4. Steroid
Steroid adalah senyawa organik lemak sterol tidak terhidrolisis yang dapat
dihasil reaksi penurunan dari terpena atau skualena. Steroid merupakan
kelompok senyawa yang penting dengan struktur dasar sterana jenuh (bahasa
Inggris: saturated tetracyclic hydrocarbon : 1,2-
cyclopentanoperhydrophenanthrene) dengan 17 atom karbon dan 4 cincin.
Senyawa yang termasuk turunan steroid,
misalnya kolesterol, ergosterol,progesteron, dan estrogen. Pada umunya steroid
berfungsi sebagai hormon. Steroid mempunyai struktur dasar yang terdiri dari 17

9
atom karbon yang membentuk tiga cincinsikloheksana dan satu
cincin siklopentana. Perbedaan jenis steroid yang satu dengan steroid yang lain
terletak pada gugus fungsional yang diikat oleh ke-empat cincin ini dan
tahap oksidasi tiap-tiap cincin.
Beberapa steroid bersifat anabolik, antara
lain testosteron, metandienon, nandrolon dekanoat, 4-androstena-3 17-dion.
Steroid anabolik dapat mengakibatkan sejumlah efek samping yang berbahaya,
seperti menurunkan rasio lipoprotein densitas tinggi, yang berguna bagi jantung,
menurunkan rasio lipoprotein densitas rendah, stimulasi tumor prostat,
kelainan koagulasi dan gangguan hati, kebotakan, menebalnya rambut,
tumbuhnya jerawat dan timbulnya payudara pada pria. Secara fisiologi, steroid
anabolik dapat membuat seseorang menjadi agresif.

Struktur Steroid
Sifat Steroid
Substitusi oksigen pada atom C-3 yang merupakan sifat khas steroid alam.
Subsitusi gugus metil angular pada atom C-10 dan C-13 yang dikenal dengan
atom C-18 dan C-19, kecuali pada senyawa steroid dengan cincin A berbentuk
benzenoid, seperti pada kelompok esterogen.
Manfaat Steroid
Dapat digunakan sebagai obat
Secara rinci beberapa manfaat steroid pada tumbuhan adalah sebagai berikut:
 menghambat penuaan daun (senescence)
 mengakibatkan lengkuk pada daun rumput-rumputan
 menghambat proses gugurnya daun

10
 menghambat pertumbuhan akar tumbuhan
 meningkatkan resistensi pucuk tumbuhan kepada stress lingkungan
 menstimulasi perpanjangan sel di pucuk tumbuhan
 merangsang pertumbuhan pucuk tumbuhan
 merangsang diferensiasi xylem tumbuhan
 menghambat pertumbuhan pucuk pada saat kahat udara dan
endogenus karbohidrat.
5. Saponin
Saponin adalah suatu glikosida triterpana dan sterol yang mungkin
terdapat pada banyak tanaman. Kata saponin berasal dari bahasa Latin “sapo”
yaitu suatu bahan yang akan membentuk busa jika dilarutkan dalam larutan yang
encer. Saponin berfungsi sebagai ekspektoran, kemudian emetikum jika
dikonsumsi dalam jumlah yang besar. Saponin juga merupakan senyawa kimia
yang dapat menyebabkan sel darah merah terganggu akibat dari kerusakan
membran sel, menurunkan kolestrol plasma, dan dapat menjaga keseimbangan
flora usus, serta sebagai antibakteri (Harbone, 1987).

1.3 MONOGRAFI
A. Klasifikasi Tanaman Tapak Dara, yaitu (Plantamor, 2008):
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Gentianales
Famili : Apocynaceae
Genus : Catharanthus
Spesies : Catharanthus roseus (L.) G. Don
Morfologi Tapak Dara (C. roseus)

11
Tapak Dara (C. roseus) banyak dipelihara sebagai tanaman hias, tanaman ini
sering dibedakan menurut jenis bunganya, yaitu putih dan merah. Tanaman ini
merupakan tanaman semak tegak yang daoat mencapai ketinggian batang sampai
100 cm yang biasa tumbuh subur di padang atay di pedesaan beriklim tropis. Ciri-
ciri tanaman ini yaitu memiliki batang yang berbentuk bulat dengan diameter
berukuran kecil, berkayu, beruas dan bercabang serta berambut. Daunnya
berbentuk bulat telur, berwarna hijau dan diklasifikasikan berdaun tunggal.
Bunganya menyerupai terompet dengan permukaan berbulu halus. Tanaman ini
juga memiliki rumah biji yang berbentuk silindris menggantung pada batang.
Penyebaran tanaman ini melalui biji (Ahira, 2011).
Kandungan Zat dalam Tapak Dara
Berikut merupakan senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman tapak dara
(Dalimartha, 2007):
 Vinblasine, ternyata bisa dimanfaatkan dalam pengobatan penyakit
leukemia.
 Vincristine, disamping dipakai dalam pengobatan leukemia, juga kanker
payudara, dan tumor ganas lainnya.
 Vindesine, dipakai dalam pengobatan leukemia pada anak-anak, dan
penderita tumor pigmen.
 Vinorelbine, seringkali digunakan sebagai bahan pengobatan untuk
mencegah pembelahan kelenjar.
B. Klasifikasi Daun Saga
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Fabales
Suku : Fabaceae
Marga : Abrus
Jenis : Abrus precatorius L.
Nama umum : Saga, Saga Manis

12
Nama daerah : Thaga (Aceh); Seugew(Gayo); Saga (Batak);Parusa
(Mentawai); Kundi (Minangkabau); Kanderi (Lampung); Kenderi
(Melayu); Piling-piling saga (Sampit); Taning bajang (Dayak); Maat
metan (Timor); Walipopo (Gorontalo); Punu no matiti (Buol); Saga
(Makasar); Kaca (Bugis); War kamasin (Kai); Mati-mati (Waraka-Seram);
Aliweue (Atamona Seram); Pikalo (Amahai Seram); Kaitasi (Muaulu);
Ailalu Picar (Ambon); Pikal (Haruku);Pikolo (Saparua); Seklawan (Buru);
Idisi ma lako (Loda Halmahera); ldihi ma lako (pagu-Halmahera); ldi-idi
malako (Ternate Tidore); Punoi (Arafuru); Kalepip (Kalana).

1.4 METODE :
1. Alat – alat yang digunakan
 Mortar dan stamper  Gelas kimia 250ml
 Tabung reaksi dengan  Lampu spiritus
raknya  Kaki tiga dan kasa
 Penjepit tabung reaksi  Cawan penguap
 Lempeng tetes / plat tetes  Neraca

2. Bahan-bahan yang digunakan


a. Daun segar : Tapak Dara h. Larutan FeCl3
dan Saga i. Pereaksi Mayer
b. Chloroform j. Amonia
c. Eter k. Pasir netral
d. Asam asetat anhidrit l. Chloroform-amoniak 0,05 M
e. H2SO4 pekat m. Metanol
f. H2SO4 2 M n. Etanol
g. HCl pekat o. Logam Mg

13
3. Cara Percobaan
a. Uji Alkaloid (Metode Culvenor Fitzgerald)
Ambil kira-kira 4 gram sampel segar digerus dengan bantuan pasir netral,
kemudian dibasahkan dengan 10 ml chloroform, lalu ditambahkan 10 ml
chloroform-amoniak 0,05 M, gerus dan saring kedalam tabung reaksi.
Tambahkan 10 ml H2SO4 2 M, kocok perlahan dan biarkan sampai terjadi
pemisahan. Lapisan H2SO4 diambil dan dipindahkan kedalam tabung reaksi lalu
ditambah pereaksi Mayer. Timbulnya warna putih seperti kabut menunjukkan
adanya alkaloid.

b. Uji flavonoid (uji sianidin)


Ambil kira-kira 4 gram sampel segar dididihkan denan methanol air (9 :1),
disaring dalam keadaan panas, lalu filtratnya dipekatkan sampai volume tinggal
sepertiganya, selanjutnya ditambahkan HCl pekat dan logam Mg. Timbulnya
warna metal jingga menunjukkan adanya flavonoid.

c. Uji Steroid, triterpenoid, saponin dan senyawa fenolik


Dengan memakai metode Simes
Ambil kira – kira 4 gram sampel segar didihkan dengan 25 ml etanol selama 25
menit, disaring dalam keadaan panas. Filtrat yang diperoleh diuapkan diatas
penangas air sampai kering. Sisa penguapan di titrasi dengan eter, bagian yang
tidak larut dalam eter dikocok dengan air. Lapisan air ditambahkan beberapa tetes
FeCl3 untuk menunjukkan adanya senyawa fenolik. Jika terjadi warna biru hitam
atau hijau coklat menunjukkan adanya senyawa fenolik.
Lapisan air dikocok kuat. Jika timbul busa menunjukkan adanya saponin.
Fraksi eter dikeringkan dalam plat tetes lalu dilakukan reaksi Liebermann-
Burchard.
Zat dilarutkan dalam 2 sampai 3 tetes H2SO4 pekat. Jika timbul busa menunjukan
adanya saponin.
Fraksi eter dikeringkan dalam plat tetes lalu dilakukan reaksi Liebermann-
Burchard zat dilarutkan dalam 2 sampai 3 ml CHCl3, tambahkan 10 tetes asam

14
anhidrida asam asetat dan 2 sampai 3 tetes H2SO4 pekat. Jika timbul warna biru
sampai hijau menunjukan adanya steroida. Reaksi Liebermann-Burchard spesifik
untuk senyawa sterol yang tidak jenuh pada C5-C6.
1.5 HASIL PENGAMATAN DAN DISKUSI
Hasil Pengamatan
 Dokumentasi : Terlampir
 Hasil :
Uji / Daun Tapak Dara Saga
Alkaloid
 Dragendorf Meitl jingga (+) Hijau gelap (+)
 Mayer (+) (-)
Flavonoid (+) (+)
Steroid (+) (+)
Triterpenoid (+) (+)
Saponin (+) (+)
Senyawa fenolik (+) (+)

Contoh Jurnal : Terlampir


Pembahasan
Percobaan yang telah dilakukan yaitu kualitatif kandungan pada daun segar yaitu
daun saga dan tapak dara. Percobaan dilakukan untuk mengetahui bagai mana
cara mengambil (mengekstraksi) zat-zat tersebut, serta cara mengidentifikasi zat-
zat tersebut.
Pada pengujian Alkaloid Daun Saga dengan perekasi Mayer, menunjukkan hasil
yang (-) menandakan tidak terpadat alkaloid, sedangkan dengan perekasi
Dragendroff menujukkan hasil yang (+) menandakan terdapat alkaoid, ini
dimungkinkan karena daun dipetik pada pagi hari sehingga memungkinkan kadar
alkaloid tidak terdeteksi.
Kesimpulan :
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan. Didapat hasil sebagai berikut :
1. Uji Alkaloid

15
 Pereaksi Dragendroff
a. Daun Saga (+) artinya menunjukkan adanya alkaloid
b. Tapak Dara (+) artinya menunjukkan adanya alkaloid
 Pereaksi Mayer
a. Daun Saga (-) artinya tidak menunjukkan adanya alkaloid
b. Tapak Dara (+) artinya menunjukkan adanya alkaloid
2. Uji Flavonoid
a. Daun Saga (+) artinya menunjukkan adanya flavonoid
b. Tapak Dara (+) artinya menunjukkan adanya flavonoid
3. Uji Steroid
a. Daun Saga (+) artinya menunjukkan adanya steroid
b. Tapak Dara (+) artinya menunjukkan adanya steroid
4. Uji Triterpenoid
a. Daun Saga (+) artinya menunjukkan adanya triterpenoid
b. Tapak Dara (+) artinya menunjukkan adanya triterpenoid
5. Uji Saponin
a. Daun Saga (+) artinya menunjukkan adanya saponin
b. Tapak Dara (+) artinya menunjukkan adanya saponin
6. Uji senyawa Fenolik
a. Daun Saga (+) artinya menunjukkan adanya senyawa fenolik
b. Tapak Dara (+) artinya menunjukkan adanya senyawa fenolik

1.6 Daftar Pustaka


- Modul Praktikum Fitokimia.Akademi Farmasi Muhammadiyah
Cirebon.2016
- Departemen Kesehatan R I. Materi Medika Indonesia I. Jakarta : 19TI:t-8.
- http://triwidyaedelwis.blogspot.com/2012/03/metabolit-sekunder-
terpenoid.html
- http://cttadriyani.blogspot.com/2012/12/alkaloid.html
- http://jamu.biologi.ub.ac.id/?page_id=733

16
Lampiran
Hasil Pengamatan
 Uji Alkaloid : (+) Dragendroff : Jingga (+) Mayer : Kabut putih

Pereaksi Dragendroff, Tapak Dara (+) Pereaksi Dragendroff, Daun Saga (+)

Pereaksi Mayer, Tapak Dara (+) Pereaksi Mayer, Daun Saga (-)

 Uji Flavonoid : (+) Flavonoid : Warna metil jingga

Tapak Dara (+) Daun Saga (+)

17
 Uji Steroid, Terpenoid :
(+) Steroid, terpenoid : Warna biru sampai hijau

Tapak Dara (+) Daun Saga (+)

 Uji Saponin : (+) Saponin :Timbul Busa

Tapak Dara (+) Daun Saga (+)

 Uji Senyawa fenolik :


(+) fenolik : Warna biru hitam atau hijau coklat

Tapak Dara (+) Daun Saga (+)

18