Anda di halaman 1dari 25

PENDIRIAN APOTEK

KASUS:
Apoteker H, seorang apoteker baru yang belum lama disumpah menjadi apoteker di salah satu
perguruan tinggi terkenal di Yogyakarta. Ia ditawari beberapa pemilik sarana apotek untuk
mendirikan apotek di suatu tempat yang strategis namun berdekatan dengan beberapa apotek
yang telah ada. Apoteker H segera menerima tawaran tersebut tanpa berkonsultasi dengan
sejawat lainnya ataupun organisasi profesi (Ikatan Apoteker Indonesia).

Analisis Kasus:
• Kode etik Apoteker Indonesia dan Implementasi Jabaran Kode Etik

BAB I_pasal 5:
“Didalam menjalankan tugasnya seorang apoteker harus menjauhkan diri dari usaha mencari
keuntungan diri semata yang bertentangan dengan martabat dan tradisi luhur jabatan
kefarmasian”.

BAB II _Tentang kewajiban apoteker terhadap teman sejawat


Pasal 10:
“Seorang apoteker harus memperlakukan teman sejawatnya sebagai mana dia sendiri ingin
diperlakukan”.

Pasal 11:
“Sesama apoteker harus saling mengingatkan dan saling menasehati untuk mematuhi ketentuan-
ketentuan kode etik”.

Pasal 12:
“Seorang apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan kerja sama
yang baik sesama apoteker didalam memelihara keluhuran martabat, jabatan kefarmasian, serta
mempertebal rasa saling mempercayai didalam menunaikan tugasnya”.

Permenkes No.184 thn 1995 pasal 18:


“Apoteker dilarang melakukan perbuatan yang melanggar kode etik apoteker”.

Kode Etik Apoteker pasal 2:


“Setiap Apoteker/Farmasis harus berusaha dg sungguh2 menghayati dan mengamalkan Kode
Etik Apoteker Farmasis Indonesia”.
Kepmenkes RI No.1332/MenKes/SK/X/2002
Pasal 9
“Terhadap permohonan izin apotik yang ternyata tidak memenuhi persyaratan dimaksud pasai 5
dan atau pasal 6 , atau lokasi Apotik tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua
belas)hari kerja wajib mengeluarkan Surat Penolakan disertai dengan alasan-alasannya dengan
mempergunakan contoh Formuiir Model APT- 7”.

Kesimpulan dan Saran:


• Sebaiknya apoteker H tidak langsung menerima tawaran tersebut dan harus berkonsultasi terlebih
dahulu kepada IAI karena mengingat peraturan yang telah ditetapkan.
• Meningkatkan informasi tentang berita baru / tawaran yang lebih baik.

 Jarak apotek  perlu (biasa diatur perda/IAI kecuali apotek yang dibuka dirumah pribadi, karna
UU sekarang tidak lagi mengatur jarak, dulu jalan lurus 500 m) agar tidak konflik.
 Apoteker harus menghindarkan diri dari konflik yang dapat merusak pekerjaan profesi.
 Perjanjian APA-PSA  ttd perjanjian PSA-APA di depan IAI.
 Hubungan antara Apoteker Junior vs Senior.
 Pergantian Apoteker  jangan ditawari langsung masuk aja. Pastikan dulu siapa APA sebelumnya
. Biasanya pindah APA karna sepihak. Terus bagi APA yang diapoteknya tidak enak jangan
bilang disini ‘enak’ biar dia cepat pindah. Kan kasian juniornya kejebak ntar.
 Persaingan harga.
http://www.academia.edu/8794455/KUMPULAN_MATERI_ETIKA_KEFARMASIAN_KASUS_DAN_KODE_E
TIK_SERTA_IMPLEMENTASINYA

ISI
a. Kasus
Berikut contoh pelanggaran etika profesi apoteker di Rumah Sakit :
Pak Anton mendapatkan resep dari Poliklinik Anak Rumah Sakit “Amanah” untuk
putranya yang berusia 8 tahun, Amoxicillin Dry syrup, menurut petugas yang menyerahkan obat
tersebut syrup ini habis dalam 4 hari dan harus diminum terus selama 4 hari 3xsehari 1 sendok
obat (5ml), tetapi ternyata setelah 2 hari penyakitnya malah tambah parah sehingga harus
opname.

b. Permasalahan
Pada kasus diatas apoteker belum memenuhi hak pasien karena belum memberikan
infomasi yang jelas dan benar mengenai obat yang diberikan atau diresepkan oleh dokter dari
cara pemakaian, penyimpanan, efek samping dan hal-hal lain yang berkaitan dengan penggunaan
obat yang dikonsumsi sehingga memberi efek yang fatal atau buruk karena pasien
tidak mendapatkan kenyamanan dan keselamatan dalam penggunaan obat (produk).

c. Kajian Pelanggaran Etika oleh Apoteker


Pelanggaran-pelanggaran yang terkait mengenai Apoteker yang tidak memberikan
informasi yang jelas kepada pasien adalah :
1. Kode Etik Apoteker Indonesia
Pasal 7 : “Seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya”.
Pasal 9 : “Seorang Apoteker melakukan praktik kefarmasian harus mengutamakan kepentingan
masyarakat, menghormati hak azasi pasien dan melindungi makhluk hidup insane”.
2. UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
Yang menyatakan bahwa : Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian
mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan
obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat,
bahan obat, dan obat tradisional.
3. UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlidungan Konsumen\
a) Pasal 4a
Hak konsumen adalah :
Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.
b) Pasal 7b
Kewajiban pelaku usaha adala :
Memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa, serta memberikan penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan.

4. SK Menkes RI No 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di


Rumah Sakit
Tujuan pelayanan farmasi ialah :
• Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik dalam keadaan biasa maupun dalam
keadaan gawat darurat, sesuai dengan keadaan pasien maupun fasilitas yang tersedia
• Menyelenggarakan kegiatan pelayanan profesional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik
profesi
• Melaksanakan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)mengenai obat
• Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang berlaku
• Melakukan dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan evaluasi pelayanan
• Mengawasi dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan evaluasi pelayanan

d. Solusi
Dalam pencegahan pelanggaran kode etik apoteker tersebut diperlukan strategi antara lain:
 Adanya kebijakan tentang pelayanan farmasi klinis dari pemerintah maupun pimpinan rumah sakit
bersangkutan
 Adanya dalam praktek KIE dalam pelayanan dfarmasi di rumah sakit.
 Adanya kegiatan riset dan pengembangan yang dilaksanakan serta pendidikan dan pelatihan
 Adanya auditing sebagai proses umpan balik untuk perbaikan dan memberi jaminan kualitas yang
dikehendaki
 Mempertinggi kemampuan untuk memberdayakan farmasi rumah sakit
 Kepentingan dan tujuan kegiatan farmasi klinis harus dimengerti dan disepakati oleh petugas-
petugas kesehatan
 Menjalin hubungan baik antara profesi medis dan farmasi
http://boengedo.blogspot.co.id/2011/04/tugas-profesi.html

Studi kasus tentang pelanggaran kefarmasian

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam beberapa tahun belangan ini Kesehatan menjadi topik pembicaraan yang sering muncul
di masyarakat hingga media cetak dan media elektronik. Dalam dunia Kesehatan tersebut banyak
kendala yang dihadapi baik dari internal maupun eksternal. Oleh sebab itu, kita sebagai salah satu
Tenaga Kesehatan harus tutut serta bersama-sama melaksanakan kewajiban dan peranan kita secara
langsung di bidang keahlian sebagai ahli farmasi. Merupakan sebuah tantangan bagi kita semua untuk
lebih mengenalkan profesi Tenaga Teknis Kefarmasian pada masyarakat, sehingga masyarakat akan
menjadikan kita sebagai tempat rujukan untuk memperoleh informasi mengenai obat.Sebagai generasi
muda sudah menjadi tugas kita untuk membuat sebuah perubahan.

Makalah ini bertujuan untuk membahas beberapa masalah kesehatan , diantaranya kasus-
kasus yang terjadi di sekitar kita. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kita bisa
menyelesaikan kasus yang kita hadapi jika kita sendiri yang berada pada posisi tersebut (Problem
Solving), dari setiap kemungkinan yang ada maupun di setiap kondisi kasus yang berbeda-beda.

1.2 Tujuan Makalah


1. Mengetahui pelanggaran-pelanggaran kefarmasian

2. Mengetahui dasar-dasar hukum yang mendasari pelanggaran tersebut

3. Mengetahui solusi dan pembahasan dalam kasus tersebut


1.3 Rumusan Masalah
1. Pelanggaran apa yang dilakukan ?

2. Dasar hukum yang mendasari pelanggaran ?

3. Pembahasan dari pelanggaran tersebut ?

BAB II
Pembahasan
2.1 Studi Kasus 1
Salah satu kelebihan tenaga kesehatan kita yang telah lama melalang buana diberbagai tempat
produksi, distribusi, maupun pelayanan kefarmasian adalah banyak mengetahui kondisi riil di lapangan
tentang dunia farmasi saat ini. Ditempat kerja terdahulu tentunya memiliki kebijakan yang berbeda
dengan tempat kerja sekarang, dalam hal melakukan praktik pekerjaan kefarmasian. Ada hal-hal yang
sifatnya postitif, tapi tidak sedikit pula hal negatif yang menjadi pengalaman seorang tenaga
kefarmasian. Oleh karenanya kita harus terus belajar, berharap dengan demikian dapat membedakan
mana yang benar dan mana yang salah. Jangan sampai masuk zona abu-abu, apalagi terperosok ke
lembah hitam. Untuk bahan pembelajaran kali ini, kita akan mempelajari studi kasus mengenai batasan
menjadi penanggung jawab dan praktek monopoli dibidang farmasi.

Praktek Monopoli dibidang Farmasi.

Sebagai seorang yang berkecimpung didunia kesehatan terutama seorang ahli farmasi, maka
banyak sekali pilihan dunia kerja yang bisa kita pilih dan tekuni. Alam kasus ini , Indra yang bekerja di
apotek “AA” sebagai APA (apoteker Pengelola Apotek” dan hanya datang ke apotek AA satu kali
seminggu untuk memeriksa dan mengkontrol apotek tersebut. Namun di sisi lain , Indra juga menjadi
Penanggung Jawab (PJ) pada Pedagang Besar Farmasi C. Sedangkan ,diatur dalam peraturan tersebut
bahwa SIPA atau SIKA hanya boleh untuk satu fasilitas kefarmasian, artinya satu apoteker hanya boleh
memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) dan Surat Izin Kerja Apoteker (SIKA)
untuk bekerja di dua tempat yang berbeda , hanya untuk satu tempat dan satu
profesi saja.

Yang kedua adalah kesepakatan yang dilakukan oleh pihak Apotek dan PBF(Pedagang Besar
Farmasi), dimana keduanya mengadakan perjanjian kerjasama yang diwakili oleh Indra agar
mendapatkan keuntungan lebih dibanding melalui prosedur normal.

Dari sini, dapat ditemukan titik pelanggaran yang dilakukan. Namun tentunya akan terasa tidak
akurat bila kita menyimpulkan hal tersebut sebagai sebuah pelanggaran tanpa adanya dasar.

2.1.1 Jenis Pelanggaran yang dilakukan


Ada dua hal yang menjadi pokok permasalahan dalam kasus tersebut, berikut permasalahan
yang dilakukan :

1. Yang pertama adalah masalah penanggung jawab, dimana Apoteker A menjadi APA ( Apoteker Pengelola
Apotik ) di Apotek B dan juga sekaligus menjadi PJ ( Penanggung Jawab ) di Pedagang Besar Farmasi C.

2. Yang kedua adalah pada masalah kesepakatan yang dilakukan oleh pihak Apotek dan PBF (Pedagang
Besar Farmasi ), dimana keduanya mengadakan perjanjian kerjasama agar mendapatkan keuntungan
lebih dibanding melalui prosedur normal.

2.1.2 Dasar Hukum Pelanggaran


Dalam Studi kasus yang pertama perbuatan yang dilakukan oleh
apotekermerupakan pelanggaran karena bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku,
yang dalam hal ini diatur dalam Pasal 18 Permenkes No.889 Tahun 2011, Pasal 14 UU No.5 Tahun
1999, Pasal 15 ayat (3).

a. Pasal 18 Permenkes 889/2011


Berikut ini ringkasan dari peraturan tersebut:

Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu


sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau
penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Tenaga
kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri
atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian. Apoteker adalah Sarjana Farmasi
yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan
Apoteker. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker
dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli
Madya Farmasi, Analis Farmasi dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker;
Setiap tenaga kefarmasian yang menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki
surat tanda registrasi berupa: Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRK) yang
dikeluarkan oleh Komite Farmasi Nasional (KFN). Surat Tanda Registrasi Tenaga
Teknis Kefarmasian (STRTTK) yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi

STRK dan STRKTT berlaku untuk jangka waktu 5 tahun dan dapat
diregistrasi ulang selama memenuhi persyaratan. Persyaratan untuk memiliki STRK
meliputi:

 memiliki ijazah Apoteker;

 memiliki sertifikat kompetensi profesi;

 memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji Apoteker;

 memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin
praktik; dan

 membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.

Persyaratan untuk memiliki STRKTT:

 memiliki ijazah sesuai dengan pendidikannya;

 memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin
praktik;

 memiliki rekomendasi tentang kemampuan dari Apoteker yang telah memiliki STRA,
atau pimpinan institusi pendidikan lulusan, atau organisasi yang menghimpun
Tenaga Teknis Kefarmasian; dan

 membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika


kefarmasian.

Apoteker warga negara asing lulusan luar negeri yang akan menjalankan
pekerjaan kefarmasian di Indonesia dalam rangka alih teknologi atau bakti sosial
harus memiliki STRA Khusus yang dikeluarkan KFN dan berlaku selama 1 Tahun.
Setiap tenaga kefarmasian yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian
wajib memiliki surat izin sesuai tempat tenaga kefarmasian bekerja yang dikeluarkan
oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Surat izin yang dimaksud berupa:

 Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA)

 Surat Izin Kerja Apoteker (SIKA)

 Surat Izin Kerja Tenaga Teknis Kefarmasian (SIKTTK)

Peraturan ini juga mengatur tentang Komite Farmasi Nasional (KFN). KFN
adalah lembaga yang dibentuk oleh Menteri Kesehatan yang berfungsi untuk
meningkatkan mutu Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian dalam melakukan
pekerjaan kefarmasian pada fasilitas kefarmasian

Peraturan Menteri ini mencabut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor


184/Menkes/Per/II/1995 tentang Penyempurnaan Pelaksanaan Masa Bakti dan Izin
Kerja Apoteker dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 679/Menkes/SK/V/2003
tentang Registrasi dan Izin Kerja Asisten Apoteker. Keduanya dinyatakan tidak
berlaku sejak tanggal 3 Mei 2011.

b. Pasal 14 UU 5/99
Pasal 14 UU nomor 5 tahun 1999 mengenai integrasi vertikal berisi :

“Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha yang lain yang bertujuan untuk
menguasai sejumlah produk yang termasuk dalam rangkaian produksi barang atau jasa tertentu yang
mana setiap rangkaian produksi merupakan hasil pengolahan atau proses lanjutan, baik dalam satu
rangkaian langsung maupun tidak langsung, yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha
tidak sehat dan atau merugikan masyarakat”.

c. Pasal 15 ayat 3
Ketentuan Pasal 15 Ayat 3 mengatur suatu perjanjian mengenai persyaratan tertentu, yang
mengikat pembeli supaya dia bisa memasok barang atau jasa dari produsen dengan pemberian harga
atau potongan harga yaitu melalui suatu perjanjian eksklusif.

2.1.3 Pembahasan Pelanggaran Pertama


Pelanggaran yang pertama yaitu mengenai penanggung jawab. Diketahui bahwa seorang
apoteker harus memiliki izin Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA), yang mana merupakan tanda bukti
bahwa yang bersangkutan telah resmi teregistrasi sebagai salah seorang tenaga kefarmasian
yaitu Apoteker. Disamping STRA, apoteker juga harus memiliki izin lain ketika hendak melakukan
pekerjaan kefarmasian di tempat tertentu. Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA), diperlukan apabila bekerja
di tempat fasilitas pelayanan kefarmasian. Sedangkan Surat Izin Kerja Apoteker (SIKA), wajib dimiliki
ketika melakukan praktek di fasilitas produksi ataupun distribusi / penyaluran kefarmasian.

Dalam kasus ini Apoteker A tidak hanya praktek di Apotek tetapi juga di PBF, sehingga memiliki
tidak hanya SIPA APA Apotek tetapi juga memiliki SIKA PJ PBF. Perbuatan ini disebut pelanggaran karena
bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku, yang dalam hal ini diatur dalam Pasal 18
Permenkes 889/2011. Diatur dalam peraturan tersebut bahwa SIPA atau SIKA hanya boleh untuk satu
fasilitas kefarmasian, artinya satu apoteker hanya boleh memiliki SIPA atau SIKA untuk satu tempat saja.
Bukan boleh memiliki SIPA dan SIKA untuk satu tempat kerja. Berbeda maknanya kalau begitu.

Dengan begini sudah jelas apa dasar dari perbuatan pelanggaran tersebut. Sekarang kenapa
hal tersebut bisa terjadi, memiliki dua izin sekaligus? Yang bisa menjawab adalah pihak Dinkes Kab/Kota,
Dinkes Provinsi, dan BPOM; karena merekalah yang terlibat dalam proses penerbitan perizinan tersebut.
Hal ini merupakan solusi terhadap pelanggaran jenis ini. Namun bila pihak terkait telah dimintai
keterangan tetapi tidak menanggapi dengan benar, bisa kita lanjutkan permasalahan ini ke
OMBUDSMAN.

2.1.4 Pembahasan Pelanggaran Kedua


Jadi untuk masalah yang kedua adalah perjanjian kerjasama antara Apotek dan PBF. Dasar dari
pelanggaran tindakan ini adalah Pasal 14 UU No. 5 tahun 1999. Pasal tersebut melarang yang namanya
integrasi vertikal, yaitu perbuatan pelaku usaha yang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain
dengan tujuan menguasai produksi sejumlah produk dalam suatu rangkaian produksi baik berupa
barang ataupun jasa yang mana rangkaian produksi tersebut adalah hasil dari pengolahan atau proses
berkelanjutan, baik langsung atau tidak langsung, sehingga membuat terjadinya persaingan usaha tidak
sehat ataupun juga merugikan masyarakat.

Sebenarnya untuk sebuah kasus yang melibatkan sebuah perjanjian, kita harus menyimak
benar-benar isi dari perjanjian tersebut. Tapi disini kita bisa berpatokan pada suatu kenyataan yang kita
ketahui, yaitu ada perjanjian antara Apotek dan PBF berupa fee bagi apoteker, dimana Apotek
dan PBF merupakan bagian dari proses penyaluran / distribusi kefarmasian yang berkelanjutan hingga ke
klinik atau rumah sakit sebagai tujuan akhir maksud perjanjian tersebut. Secara jelas hal tersebut dapat
menimbulkan persaingan usaha tidak sehat, tergantung bagaimana fee tersebut digunakan untuk
menimbulkan kerugian terhadap masyarakat.

Jadi disimpulkan bahwa pelanggaran yang terjadi adalah tindak pidana berupa integrasi
vertikal. Namun tentunya akan lebih jelas bila keseluruhan dokumen diketahui, sehingga kemungkinan
pelanggaran bisa dianalisis dengan lebih tepat. Misalnya saja mungkin bisa dikaitkan dengan perjanjian
tertutup yang diatur dalam pasal 15 ayat (3).

Untuk solusinya sebaiknya gunakanlah media Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).
Disini kita hanya melaporkan selengkapnya hal yang kita tahu saja, dan akan dijamin kerahasiaannya.
Selanjutnya KPPU akan menindaklanjuti laporan kita, mulai dari memanggil para saksi; meminta
dokumen; memutuskan perbuatan tersebut benar atau salah; hingga melanjutkan berkas ke kepolisian
sebagai bahan penyelidikan tindakan pidana. Jadi daripada melaporkan kepolisi yang belum
tentu kebenarannya lebih baik laporkan terlebih dahulu ke KPPU agar tidak terjadi tuntutan balik karena
salah paham. Pelanggaran integrasi vertikal ini bisa dikenakan denda minimal 25 milyarrupiah. Tentunya
itu pidana pokoknya, selain itu pidana juga harus membayar tindakan adminstratif dan pidana
tambahan untuk pelakunya.

2.2 Studi Kasus 2


Kondisi Pasien Apotek KN Memprihatinkan
Diketahui Apotek KN beberapa bulan yang lalu kedapatan menjual obat-obatan psikotropika
secara bebas sehingga dilakukan penutupan paksa oleh dinas-dinas / lembaga yang berwenang.Kasat
Narkoba Polresta Kompol Dodo Hendro Kusumo mengatakan pasien di Apotek KN,Yogyakarta yang
diserahkan ke Satnarkoba Polresta Yogyakarta kondisinya memprihatinkan.Itu dapat dilihat salama
pemeriksaan terlihat jelas para pasien masih ketergantungan psikotropika.

Berdasarkan pemilahannya,mereka adalah korban psikotropika yang harus


disembuhkan,penderita suatu penyakit yang disarankan dokter melalui resep untuk mengonsumsi dua
jenis psikotropika itu,misal karena insomnia dan depresi,dan juga karena efek kecelakaan sehingga
terkena sarafnya dan harus tergantung obat tersebut.

Dengan resep dokter,mereka datang ke apotek untuk menebusnya.Calmlet kerap diberikan dokter
sebagai obat penenang,sedangkan riklona untuk menambah stamina fisik agar lebih giat.Mengingat
adanya resep itu,maka tidak termasuk penyalahgunaan.Dia mengacu pada UU No 5 tahun 1997 tentang
psikotropika,bahwa ketentuan pidana adalah penyalahgunaan.Sementara,para pasien itu hanya
sebagai orang yang mau menebus obat berdasarkan resep dokter ( Tribunjogja.com,Agustus 2012 )
2.2.1 Permasalahan Kasus
1. Terkait standar pelayanan kefarmasian,sumpah dan kode etik Tenaga Teknis Kefarmasian di sektor
pelayanan,apa yang seharusnya dilakukan anda sebagai TTK pada saat bekerja di Apotek KN tersebut
dan ternyata dalam perjalannya Apotek tersebut kedapatan menjual obat-obatan psikotropika secara
bebas ?

2. Apabila anda sebagai PSA ( Pemilik Sarana Apotek) sekaligus TTK di apotek tersebut langkah kongkrit apa
yang harus di lakukan untuk menyelesaikan masalah di atas ?

2.2.2 Dasar Hukum Pelanggaran


Dalam Studi kasus yang kedua perbuatan yang dilakukan oleh apotekmerupakan pelanggaran
karena bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku, yang dalam hal ini diatur
dalam Undang-undang RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 24, Undang-undang No. 51Tahun
2009, Undang-undang RI No. 51 Tahun 1997 tentang Psikotropika dan Undang-undang No. 35 Tahun
2009 Tentang Narkotika.

1. UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

Pasal 24

(1) Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus memenuhi ketentuan kode etik, standar
profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan standar prosedur operasional.

(2) Ketentuan mengenai kode etik dan standar profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh
organisasi profesi.

(3) Ketentuan mengenai hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan standar prosedur
operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan

Peraturan Menteri.

2. UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.


Bahwa Narkotika di satu sisi merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan
atau pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan di sisi lain dapat pula
menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila disalahgunakan atau digunakan tanpa
pengendalian dan pengawasan yang ketat dan saksama;

Pasal 1

(1) Pecandu Narkotika adalah orang yang menggunakan atau menyalahgunakan Narkotika dan dalam
keadaan ketergantungan pada Narkotika, baik secara fisik maupun psikis.

(2) Ketergantungan Narkotika adalah kondisi yang ditandai oleh dorongan untuk menggunakan Narkotika
secara terusmenerus dengan takaran yang meningkat agar menghasilkan efek yang sama dan apabila
penggunaannyadikurangi dan/atau dihentikan secara tiba-tiba, menimbulkan gejala fisik dan psikis yang
khas.

(3) Penyalah Guna adalah orang yang menggunakan Narkotika tanpa hak atau melawan hukum.

Pasal 14

(1) Narkotika yang berada dalam penguasaan industri farmasi,pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan
sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan,
dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib disimpan secara khusus.

(2) Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek,
rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan
wajib membuat,menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau
pengeluaran Narkotika yang berada dalam penguasaannya.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyimpanan secara khusus sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan jangka waktu, bentuk, isi, dan tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diatur dengan Peraturan Menteri.

(4) Pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan/atau ketentuan mengenai pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi
administratif oleh Menteri atas rekomendasi dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan berupa:

a. teguran;
b. peringatan;

c. denda administratif;

d. penghentian sementara kegiatan; atau

e. pencabutan izin.

Pasal 38

Setiap kegiatan peredaran Narkotika wajib dilengkapi dengan dokumen yang sah.

Pasal 43

(3) Rumah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat, dan balai pengobatan hanya dapat menyerahkan
Narkotika kepada pasien berdasarkan resep dokter.

(4) Penyerahan Narkotika oleh dokter hanya dapat dilaksanakan untuk:

a. menjalankan praktik dokter dengan memberikan Narkotika melalui suntikan;

b. menolong orang sakit dalam keadaan darurat dengan memberikan Narkotika melalui suntikan; atau

c. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.

(5) Narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah tertentu yang diserahkan olehdokter sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) hanya dapat diperoleh di apotek.

3. PP 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian


Menurut PP 51 tahun 2009 pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai
hasil yang pasti untuk menigkatkan mutu kehidupan pasien.

 Bentuk pekerjaan kefarmasian yang wajib dilaksanakan oleh seorang Tenaga Teknis Kefarmasian
(menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MENKES/X/2002 adalah sebagai berikut:

1. Melayani resep dokter sesuai dengan tanggung jawab dan standart profesinya.

2. Memberi informasi yang berkaitan dengan penggunaan/pemakaian obat.

3. menghormati hak pasien dan menjaga kerahasiaan idntitas serta data kesehatan pasien.
4. Melakukan pengelolaan apotek.

5. Pelayanan informasi mengenai sediaan farmasi.

Menurut PP 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian, Tenaga Tknis Kefarmasian adalah
tenaga yang membantu Apotker dalam menjalani pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana
Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Mnengah Farmasi/Asisten Apoteker.

Pelayanan Kefarmasian adalah bentuk pelayanan dan bentuk tanggung jawab langsung profesi
apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk menigkatkan kualitas hidup pasien (Menkes RI,2004)

4. UU RI No. 51 Tahun 1997 tentang Psikotropika


Pasal 2

(1) Ruang lingkup pengaturan di bidang psikotropika dalam undang-undang ini adalah segala kegiatan
yang berhubungan dengan psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindroma
ketergantungan.

Pasal 3

Tujuan pengaturan di bidang psikotropika adalah :

a. menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan;

b. mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika;

c. memberantas peredaran gelap psikotropika

Pasal 8

Peredaran psikotropika terdiri dari penyaluran dan penyerahan.

Pasal 14

(1) Penyerahan psikotropika dalam rangka peredaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 hanya dapat
dilakukan oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dan dokter.

(2) Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepa-da apotek lainnya, rumah sakit,
puskesmas, balai pengobatan, dokter dan kepada pengguna/pasien.
(3) Penyerahan psikotropika oleh rumah sakit, balai pengobatan, puskesmas sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) hanya dapat dilakukan kepada pengguna/pasien.

(4) Penyerahan psikotropika oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, dan balai pengobatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan resep dokter.

(5) Penyerahan psikotropika oleh dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan dalam hal :

a. menjalankan praktik terapi dan diberikan melalui suntikan;

b. menolong orang sakit dalam keadaan darurat;

c. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.

(6) Psikotropika yang diserahkan dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (5) hanya dapat diperoleh darin
apotek.

Pasal 36

(1) Pengguna psikotropika hanya dapat memiliki, menyimpan, dan/ atau membawa psikotropika untuk
digunakan dalam rangka pengobatan dan/atau perawatan.

(2) Pengguna psikotropika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mempunyai bukti bahwa psikotropika
yang dimiliki, disim-pan, dan/atau dibawa untuk digunakan, diperoleh secara sah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5).

Pasal 37

(1) Pengguna psikotropika yang menderita sindroma ketergantungan berkewajiban untuk ikut serta dalam
pengobatan dan/atau pera-watan.

(2) Pengobatan dan/atau perawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada fasilitas
rehabilitasi.

Pasal 51

(1) Dalam rangka pengawasan, Menteri berwenang mengambil tindakan administratif terhadap pabrik obat,
pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit,
puskesmas, balai pengobatan, dokter, lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan, dan fasilitas
rehabilitasi yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang ini.
(2) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat berupa :

a. teguran lisan;

b. teguran tertulis;

c. penghentian sementara kegiatan;

d. denda administratif;

e. pencabutan izin praktik.

Pasal 60

(1) Barangsiapa :

a. memproduksi psikotropika selain yang ditetapkan dalam ketentuan Pasal 5; atau

b. memproduksi atau mengedarkan psikotropika dalam bentuk obat yang tidak memenuhi standar
dan/atau persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7; atau

c. memproduksi atau mengedarkan psikotropika yang berupa obat yang tidak terdaftar pada departemen
yang bertanggung jawab di bidang kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1); dipidana
dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

(2) Barangsiapa menyalurkan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus
juta rupiah).

(3) Barangsiapa menerima penyaluran psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (2) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,00
(enam puluh juta rupiah).

(4) Barangsiapa menyerahkan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 14 ayat (1), Pasal 14 ayat (2),
Pasal 14 ayat (3), dan Pasal 14 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan
pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

(5) Barangsiapa menerima penyerahan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 14 ayat (3), Pasal 14
ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.
60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). Apabila yang menerima penyerahan itu pengguna, maka
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan.

2.2.3 Pembahasan Kasus 2


Obat-obat narkotika dan psikotropika tidak boleh diserahkan atau diberikan tanpa adanya resep
dari dokter, apapun keadaannya. Sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian di apotek yang slah
satunya adalah penyerahan obat, yaitu penyerahan obat bisa dilakukan oleh apoteker dan asisten
apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien dan tenaga
kesehatan. beserta sumpah dan kode etik yang mencakup bahwa kita tidak boleh merugikan,
memperburuk keadaan serta hal yang dapat menganggu kesehatan pasien dan masyarakat.

Sebagai TTK, tentu saja kita pasti sudah tau bahwa obat psikotropik dan narkotika tidak bisa kita
serahkan tanpa adanya resep dari dokter, dan jika terjadi kesalahan dalam apotik tersebut yaitu
memberikan obat psikotropik dengan cara bebas, otomatis kita sebagai TTK sudah tahu kesalahan kita
sendiri, maka yang perlu kita lakukan adalah bertanggung jawab dengan cara melaporkan kepada
Apoteker penanggung jawab apotik atas kejadian tsb. Kemudian apotekerlah yang menindaklanjuti
permasalahan itu dan melaporkan ke dinas kesehatan.

Setiap pelanggaran apotek terhadap ketentuan yang berlaku dapat dikenakan sanksi, baik sanksi
administratif maupun sanksi pidana. Sanksi administratif yang diberikan menurut keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 1332/ MENKES/ SK/ X/ 2002 dan Permenkes No. 922/ MENKES/ PER/ X/ 1993 adalah:

a. Peringatan secara tertulis kepada APA secara tiga kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing –
masing dua bulan.

b. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama – lamanya enam bulan sejak dikeluarkannya
penetapan pembekuan izin apotek. Keputusan pencabutan SIA disampaikan langsung oleh Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten atau Kota dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Menteri
Kesehatan RI di Jakarta.

c. Pembekuan izin apotek tersebut dapat dicairkan kembali apabila apotek tersebut dapat membuktikan
bahwa seluruh persyaratan yang ditentukan dalam keputusan Menteri Kesehatan RI dan Permenkes
tersebut telah dipenuhi.

Sanksi pidana berupa denda maupun hukuman penjara diberikan bila terdapat pelanggaran terhadap :
a. Undang- Undang Obat Keras (St. 1937 No. 541).

b. Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

c. Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

d. Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.

Dalam pertanyaan yang kedua, ada dua kemungkinan yang terjadi, yang pertama adalah jika
sebagai PSA maka yang harus dilakukan adalah mengambil tindakan sesuai dengan keputusan bersama
apoteker, karna sebagian besar PSA hanya sebagai pemilik usaha dengan modal yang besar, maka PSA
mungkin saja tidak mengetahui tentang prosedur farmasi yang ada di apotik tersebut. Yang kedua jika
PSA sekaligus sebagai TTK, jika PSA sekaligus menjadi TTK di apotik tersebut, maka dia harus tahu hal
yang bersangkutan dengan penyerahan obat, misalnya penyerahan psikotropika yang tidak bisa
diserahkan tanpa resep dokter, dan kesalahan yang terjadi yaitu penyerahan obat psikotropik secara
bebas, jika TTK sudah tahu akan undang undang tentang penyerahan psikotropik ? maka hal itu tidak
akan terjadi, sekarang yang menjadi pertanyaan juga adalah apa alasan TTK memberikan obat
psikotropik secara bebas? Sedangkan dia tahu bahwa itu tidak boleh diberikan, apakah dengan sekaligus
menjadi PSA alasannya adalah meningkatkan penjualan apotik atau karna kesalahan yg disengaja. Dan
jika kesalahan itu sudah terjadi maka hal yang harus dilakukan adalah menunda penjualan atau
mengstopkan menjual obat tersebut dan melaporkannya kepada apoteker agar ditindaklanjuti oleh
apoteker.

2.2.4 Tenaga Teknis Kefarmasian

Tenaga kefarmasian (apoteker,analisis farmasi, asisten apoteker)

Tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan /melakukan kegiatan kesehatan


sesuai dengan bidang keahlian/kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan. Tenaga
kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi dan
menghormati pasien. Seseorang Asisten apoteker harus berbudi luhur dan memberikan
contoh yang baik didalam lingkungan kerjanya, bersedia menyumbangkan keahlian dan
pengetahuannya. Asisten apoteker harus aktif mengikuti perkembangan perundang-
undangan, juga menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya dan hendaknya
menjauhkan diri dari usaha mencari keuntungan dirinya yang bertentangan dengan
martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.
Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam
melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin. Setiap orang berhak atas ganti
rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan. Sedangkan asisten
apoteker membentuk ikatan profesi yang berwarna PRAFI ( Persatuan Ahli Farmasi
Indonesia) yang telah ada sebelum ISFI ( ikatan sarjana farmasi Indonesia) didirikan.

Pekerjaan kefarmasian harus dilakukan dalam rangka menjaga mutu sediaan farmasi yang
beredar.Pengamanan terhadap sediaan farmasi yang berupa narkotika,psikotropika,obat keras dan
bahan berbahaya,dilaksanakan secara khusus sesuai UU yang berlaku. Pengamanan penggunaan bahan
yang mengandung zat adiktif diarahkan agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan
perorangan,keluarga,masyarakat,dan lingkungannya.Bahan yang mengandung zat adiktif adalah bahan
yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya atau masyarakat sekelilingnya.

Produksi,peredaran dan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif harus memenuhi
standard an atau persyaratan yang ditentukan.Penetapan standar diarahkan agar zat adiktif yang
dikandung oleh bahan tersebut dapat ditekan untuk mencegah beredarnya obat palsu.Penetapan
persyaratan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif ditujukan untuk menekan dan mencegah
penggunaan yang mengganggu atau merugikan kesehatan orang lain.

2.2.5 Kekeliruan Dalam Membaca Resep


Dahulu pedagang besar farmasi dilarang menyalurkan psikotropika tanpa izin khusus dari
Menteri Kesehatan , tetapi sejakdi sahkannya Undang-undang RI nomor 5 Tahun 1997 tentang
psikotropika maka pedagang besar farmasi yang menyalurkan psikotropika tidak memerlukan izin
khusus lagi. Dalam melayani resep seorang apoteker wajib :

Melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi pada
kepentingan masyarakat. Apoteker wajib memberikan informasi:

a. Yang berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien.

b. Penggunaan obat secara tepat , aman resional atas permintaan masyarakat.

Bila terjadi kekeliruan resep , hal ini diatur sebagai berikut :

1. Apabila apoteker mengganggap bahwa dalam resep terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak
tepat, apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep.
2. Apabila dalam hal dimaksud karena pertimbangan tertentu dokter penulis resep tetap dalam
pendiriaannya, dokter wajib menyatakan secara tertulis atau membubuhkan tanda tangan nya yang
lazim atas resep.

BAB III
Penutup
4.1 Kesimpulan
Studi kasus menjadi berguna apabila seseorang/peneliti ingin memahami suatu permasalahan
atau situasi tertentu dengan amat mendalam dan dimana orang dapat mengidentifikasi kasus yang kaya
dengan informasi , kaya dalam pengertian bahwa suatu persoalan besar dapat dipelajari dari beberapa
contoh fenomena dan biasanya dalam bentuk pertanyaan. Studi kasus pada umumnya berupaya untuk
menggambarkan perbedaan individual atau variasi “unik” dari suatu permasalahan. Suatu kasus dapat
berupa orang, peristiwa, program, insiden kritis/unik atau suatu komunitas dengan
berupaya menggambarkan unit dengan mendalam, detail, dalam konteks dan secara real.

3.2 Saran
Kami menyadari sepenuhnya bahwa, makalah ini tidak akan tercapai tanpa bantuan dan
dukungan dari dosen pembimbing, sumber-sumber, dan teman-teman. Untuk itu, kami sangat harapkan
kritik dan saran guna membenahi makalah ini.
Daftar Pustaka
http://tasbul.blogdetik.com/2011/06/07/tenaga-kefarmasian/
http://desaobat.wordpress.com/2011/06/11/rangkuman-permenkes-ri-no
889menkesv2011-tentang-registerasi-izin-praktik-dan-izin-kerja-tenaga-kefarmasian/

http://zahara-17.blogspot.com/2010/06/resume-anti-monopoli-dan-persaingan.html

http://www.scribd.com/
http://httpleukimia.blogspot.co.id/2017/03/makalah-studi-kasus-tentang-pelanggaran.html

KASUS
Apotek surya, berada di sebuah kota di pinggir kota wisata, buka hanya sore
hari jam 16.00 sd 21.00, tetapi pasiennya sangat ramai, jumlah resep yang di
layani rata-rata perhari 75 lembar, apotek tsb memiliki 1 apoteker 2 AA dan
2 pekarya.

Ketika penyerahan obat mereka tidak sempat memberikan informasi yg


cukup, karena banyaknya pasien yg di layani, apotekernya datang tiap hari
pada jam 19.00, karena pegawai dinas kesehatan setempat.

Bagai mana kajian saudara terhadap kasus tersebut diatas, di tinjau dari sisi
sumpah profesi, etika farmasi dan peraturan dan perundang undangan yang
berlaku?

PEMBAHASAN
A. SUMPAH APOTEKER

1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan, terutama dalam
bidang kesehatan
4. Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat dan tradisi
luhur jabatan kefarmasian

PEMBAHASAN

Pada kasus tersebut Apoteker melanggar Sumpah Profesi terutama pada point 1 dan 4, karena
Apoteker tersebut tidak menjalanakan tugas dengan sebaik-baiknya, Apoteker datang terlambat
dan tidak memberikan informasi kepada pasien sehingga penggunaan obat oleh pasien tidak
dilakukan dengan baik, hak pasien juga tidak dipenuhi, akibatnya MESO tidak terlaksana,
sehingga memungkinkan terjadinya pelanggaran pada kepentingan perikemanusiaan.

B. KODE ETIK APOTEKER

Pasal 1
Sumpah/janji apoteker,setiap apoteker harus menjunjung tinggi, menghayati
dan mengamalkan sumpah apoteker

PEMBAHASAN
Apoteker dalam kasus diatas telah melanggar kode etik apoteker pasal 1 yang
menyatakan bahwa apoteker harus menjunjung tinggi,menghayati dan
mengamalkan sumpah apoteker, sedangkan pada pembahasan sebelumnya
apoteker tersebut telah melanggar sumpah apoteker yaitu tidak menjalankan
tugas dengan sebaik-baiknya,apoteker datang terlambat dan tidak
memberikan asuhan kefarmasian kepada pasien.

Pasal 3
Setiap Apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya sesuai kompetensi
Apoteker Indonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang teguh pada
prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya

PEMBAHASAN:
Dari kasus diatas, apoteker tidak menjalankan profesinya sesuai kompetensi
apoteker indonesia karena apoteker tersebut tidak memberikan informasi obat
dan konseling kepada pasien, dimana apoteker berkewajiban untuk
memberikan informasi obat dan konseling kepada pasien.

Pasal 7
Seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya

PEMBAHASAN
Dari kasus di atas Apoteker tidak memberikan informasi kepada pasien,
sehingga Apoteker secara jelas melanggar Pasal 7 Kode Etik Apoteker.

Pelanggaran yang dilakukan oleh Apoteker jelas menunjukkan bahwa


Apoteker tidak mengutamakan dan tidak berpegang teguh pada Prinsip
Kemanusiaan.

Dampak dari kurangnya informasi penggunaan obat dapat menyebabkan efek


yang merugikan bagi pasien.

Pasal 9
Seorang apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian harus
mengutamakan kepentingan masyarakat dan menghormati hak asasi
penderita dan melindungi makhluk hidup insani

PEMBAHASAN
Pada kasus tersebut, seorang apoteker tidak menjalankan kode etik pasal 7
dengan baik. Menurut pasal 7, seorang apoteker harus mengutamakan
kepentingan masyarakat dan menghormati hak asasi penderita dan
melindungi makhluk hidup insani, namun apoteker tersebut tidak
memberikan informasi yang cukup kepada pasien. Sehingga dapat merugikan
pasien.

Pasal 15
Setiap apoteker bersungguh –sungguh menghayati dan mengamalkan kode
etik apoteker indonesia dalam menjalankan tugas kefarmasiannya sehari-
hari. Jika seorang apoteker baik dengan sengaj maupun tidak sengaja
melanggar atau tidak mematuhi kode etik apoteker indonesia, maka dia wajib
mengakui dan menerima sangsi dari pemerintah, ikatan/organisasi profesi
farmasi yang menanganinya (ISFI) dan mempertanggung jawabkannya
kepada Tuhan YME

C. PP 51 TAHUN 2009 TTG PEKERJAAN KEFARMASIAN

Pasal 3
Pekerjaan Kefarmasian dilakukan berdasarkan pada nilai ilmiah, keadilan,
kemanusiaan, keseimbangan, dan perlindungan serta keselamatan pasien
atau masyarakat yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi yang memenuhi
standar dan persyaratan keamanan, mutu, dan kemanfaatan

Pasal 21
(2) Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dokter dilaksanakan
oleh Apoteker

PEMBAHASAN
Pada kasus tersebut Apoteker datang pada jam 19.00, sedangkan apotek
dibuka pada jam 16.00, yang memungkinkan pelayanan resep dari jam 16.00
sampai jam 19.00 tidak dilakukan oleh apoteker. Hal tersebut jelas
bertentangan dengan Pasal 21 PP 51 tersebut diatas. Tidak disampaikannya
informasi obat kepada pasien menyebabkan berbagai efek yang merugikan
bagi pasien seperti tidak membaiknya kondisi pasien, penyakit bertambah
parah, timbul efek samping yang dapat membahayakan keselamatan pasien
http://cimplix.blogspot.co.id/2012/12/kasus-uu-etika-apoteker.html