Anda di halaman 1dari 7

Kasus Etika Tenaga Teknis Kefarmasian (Asisten Apoteker)

BAB I
PENDAHULUAN

Tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan /melakukan kegiatan kesehatan


sesuai dengan bidang keahlian/kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan. Tenaga
kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi dan
menghormati pasien. Seseorang Asisten apoteker harus berbudi luhur dan memberikan
contoh yang baik didalam lingkungan kerjanya, bersedia menyumbangkan keahlian dan
pengetahuannya. Asisten apoteker harus aktif mengikuti perkembangan perundang-
undangan, juga menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya dan hendaknya
menjauhkan diri dari usaha mencari keuntungan dirinya yang bertentangan dengan
martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.
Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam
melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin. Setiap orang berhak atas
ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan.
Pekerjaan kefarmasian harus dilakukan dalam rangka menjaga mutu sediaan
farmasi yang beredar. Pengamanan terhadap sediaan farmasi yang berupa obat keras,
psikotropika, narkotika, dan bahan berbahaya dilaksanakan secara khusus sesuai UU
yang berlaku. Pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif diarahkan
agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat,
dan lingkungannya.
Bahan yang mengandung zat adiktif adalah bahan yang penggunaannya dapat
menimbulkan kerugian bagi dirinya atau masyarakat sekelilingnya. Produksi, peredaran
dan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif harus memenuhi standar dan atau
persyaratan yang ditentukan. Penetapan standar diarahkan agar zat adiktif yang
dikandung oleh bahan tersebut dapat ditekan untuk mencegah beredarnya obat
palsu.Penetapan persyaratan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif ditujukan
untuk menekan dan mencegah penggunaan yang mengganggu atau merugikan kesehatan
orang lain.
BAB II
PELANGGARAN ETIKA ASISTEN APOTEKER

2.1 Kasus Etika


Apotek Kusuma Nata kedapatan menjual obat-obatan psikotropika secara bebas
sehingga dilakukan penutupan paksa oleh dinas atau lembaga yang berwenang
(Tribunjogja.com,Agustus 2012).

2.2 Pemasalahan Kasus Etika


Terkait standar pelayanan kefarmasian,sumpah dan kode etik Tenaga Teknis
Kefarmasian di sektor pelayanan, apa yang seharusnya dilakukan anda sebagai TTK
pada saat bekerja di Apotek Kusuma Nata tersebut dan ternyata dalam perjalanannya
Apotek tersebut kedapatan menjual obat-obatan psikotropika secara bebas ?

2.3 Dasar Hukum Pelanggaran


Dalam kasus etika yang dilakukan oleh Asisten Apoteker merupakan pelanggaran
karena bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku, yang dalam hal ini
diatur dalam Undang-undang RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 24,
Undang-undang No. 51Tahun 2009, Undang-undang RI No. 51 Tahun 1997 tentang
Psikotropika dan Undang-undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.
1. UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Pasal 24
(1) Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus memenuhi
ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan,
standar pelayanan, dan standar prosedur operasional.
(2) Ketentuan mengenai kode etik dan standar profesi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur oleh organisasi profesi.
(3) Ketentuan mengenai hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan,
dan standar prosedur operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan Peraturan Menteri.
2. UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.
Bahwa Narkotika di satu sisi merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di
bidang pengobatan atau pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu
pengetahuan dan di sisi lain dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat
merugikan apabila disalahgunakan atau digunakan tanpa pengendalian dan
pengawasan yang ketat dan saksama.
Pasal 14
(1) Narkotika yang berada dalam penguasaan industri farmasi,pedagang besar
farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah
sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan lembaga
ilmu pengetahuan wajib disimpan secara khusus.
(2) Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan
farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai
pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat,
menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan
dan/atau pengeluaran Narkotika yang berada dalam penguasaannya.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyimpanan secara khusus
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan jangka waktu, bentuk, isi, dan tata
cara pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan
Menteri.
(4) Pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan/atau ketentuan mengenai pelaporan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi administratif oleh Menteri atas
rekomendasi dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan berupa:
a. teguran;
b. peringatan;
c. denda administratif;
d. penghentian sementara kegiatan; atau
e. pencabutan izin.
Pasal 43
(3) Rumah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat, dan balai pengobatan
hanya dapat menyerahkan Narkotika kepada pasien berdasarkan resep dokter.
(4) Penyerahan Narkotika oleh dokter hanya dapat dilaksanakan untuk:
a. menjalankan praktik dokter dengan memberikan Narkotika melalui
suntikan;
b. menolong orang sakit dalam keadaan darurat dengan memberikan
Narkotika melalui suntikan; atau
c. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.
(5) Narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah tertentu yang diserahkan oleh
dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (4) hanya dapat diperoleh di apotek.

3. PP 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian


Menurut PP 51 tahun 2009 pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan
langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan
farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk menigkatkan mutu
kehidupan pasien.
Bentuk pekerjaan kefarmasian yang wajib dilaksanakan oleh seorang
Tenaga Teknis Kefarmasian (menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI
No.1332/MENKES/X/2002 adalah sebagai berikut:
1. Melayani resep dokter sesuai dengan tanggung jawab dan standart
profesinya;
2. Memberi informasi yang berkaitan dengan penggunaan/pemakaian obat;
3. menghormati hak pasien dan menjaga kerahasiaan idntitas serta data
kesehatan pasien;
4. Melakukan pengelolaan apotek;
5. Pelayanan informasi mengenai sediaan farmasi.

Menurut PP 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian, Tenaga Tknis


Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apotker dalam menjalani pekerjaan
kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis
Farmasi, dan Tenaga Mnengah Farmasi/Asisten Apoteker.

4. UU RI No. 51 Tahun 1997 tentang Psikotropika


Pasal 8
Peredaran psikotropika terdiri dari penyaluran dan penyerahan.
Pasal 14
(1) Penyerahan psikotropika dalam rangka peredaran sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, puskesmas,
balai pengobatan, dan dokter.
(2) Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepa-da apotek
lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan kepada
pengguna/pasien.
(3) Penyerahan psikotropika oleh rumah sakit, balai pengobatan, puskesmas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan kepada
pengguna/pasien.
(4) Penyerahan psikotropika oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, dan balai
pengobatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan
resep dokter.
(5) Penyerahan psikotropika oleh dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dilaksanakan dalam hal :
a. menjalankan praktik terapi dan diberikan melalui suntikan;
b. menolong orang sakit dalam keadaan darurat;
c. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.
(6) Psikotropika yang diserahkan dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
hanya dapat diperoleh dari apotek.
BAB III
PEMBAHASAN