Anda di halaman 1dari 4

Teori lokasi adalah suatu teori yang dikembangkan untuk memperhitungkan pola lokasi

kegiatan-kegiatan ekonomi termasuk di dalamnya kegiatan industri dengan cara yang konsisten
dan logis. Lokasi dalam ruang dibedakan menjadi dua yaitu :

1. Lokasi absolut.
Lokasi absolut adalah lokasi yang berkenaan dengan posisi menurut koordinat garis lintang dan
garis bujur (letak astronomis). Lokasi absolut suatu tempat dapat diamati pada peta.
2. Lokasi relatif.
Lokasi relatif adalah lokasi suatu tempat yang bersangkutan terhadap kondisi wilayah-wiayah
lain yang ada di sekitarnya.

Ada beberapa teori lokasi antara lain :


1. Teori Tempat Sentral (Central Place Theory) dari Walter Christaller.
2. Teori Lokasi Industri (Theory of Industrial Location) dari Alfred Weber.
3. Teori Lokasi yang Optimal (Teori of optimal Industrial location) dari Losch
4. Teori Susut dan Ongkos Transpor (Theory of Weight Loss and Transport Cost).
5. Model Gravitasi dan Teori Interaksi (the Interaction Theory) dari Issac Newton.

teori tempat pusat (Central Place Theory) dari Walter Christaller (1933).
Christaller
Selain teori dari Weber, dalam pembahasan ini juga akan dibahas teori tempat pusat (Central
Place Theory) dari Walter Christaller (1933). Christaller pertama kali mempublikasikan studinya
yang berkaitan dengan masalah tentang bagaimana menentukan jumlah, ukuran dan pola
penyebaran kota-kota. Asumsi-asumsi yang dikemukakan antara lain :

• Suatu lokasi yang memiliki permukaan datar yang seragam.


• Lokasi tersebut memiliki jumlah penduduk yang merata.
• Lokasi tersebut mempunyai kesempatan transpor dan komunikasi yang merata.
• Jumlah penduduk yang ada membutuhkan barang dan jasa.

Prinsip yang dikemukakan oleh Christaller adalah :

Range.

Adalah jarak jangkauan antara penduduk dan tempat suatu aktivitas pasar yang menjual
kebutuhan komoditi atau barang. Misalnya seseorang membeli baju di lokasi pasar tertentu,
range adalah jarak antara tempat tinggal orang tersebut dengan pasar lokasi tempat dia membeli
baju. Apabila jarak ke pasar lebih jauh dari kemampuan jangkauan penduduk yang bersangkutan,
maka penduduk cenderung akan mencari barang dan jasa ke pasar lain yang lebih dekat.

Threshold.

Adalah jumlah minimum penduduk atau konsumen yang dibutuhkan untuk menunjang
kesinambungan pemasokan barang atau jasa yang bersangkutan, yang diperlukan dalam
penyebaran penduduk atau konsumen dalam ruang (spatial population distribution).
Dari komponen range dan threshold maka lahir prinsip optimalisasi pasar (market optimizing
principle). Prinsip ini antara lain menyebutkan bahwa dengan memenuhi asumsi di atas, dalam
suatu wilayah akan terbentuk eilayah tempat pusat (central place). Pusat tersebut menyajikan
kebutuhan barng dan jasa bagi penduduk sekitarnya. Apabila sebuah pusat dalam range dan
threshold yang membentuk lingkaran, bertemu dengan pusat yang lain yang juga memiliki range
dan threshold tertentu, maka akan terjadi daerah yang bertampalan. Penduduk yang bertempat
tinggal di daerah yang bertampalan akan memiliki kesempatan yang relatif sama untuk pergi
kedua pusat pasar itu. Keterbatasan system tempat pusat dari Christaller ini meliputi beberapa
kendala, antara lain :
• Jumlah penduduk.
• Pola aksesibilitas.
• Distribusi.

Perubahan penduduk yang besar akan menjadikan pola tidak menentu terhadap pola segi enam
yang seyogyanya terjadi. Keterbatasan aksesibilitas transportasi ke suatu wilayah akan menjadi
ke-bias-an pola segi enam, terutama bila terdapat keterbatasan fisik wilayah. Dalam
kenyataannya, konsumen atau masyarakat tidak selalu rasional dalam memilih barang atau
komoditi yang diinginkan. Berikut di bawah ini gambar sistem segi enam Christaller.

Teori lokasi dari Alfred Weber.

Teori lokasi yang dikemukakan oleh Alfred Weber berawal dari tulisannya yang berjudul Uber
den Standort der Industrien pada tahun 1909. Prinsip teori Weber adalah :
“ bahwa penentuan lokasi industri ditempatkan di tempat-tempat yang resiko biaya atau
ongkosnya paling murah atau minimal (least cost location) “.
Asumsi Weber yang bersifat prakondisi antara lain :
1. Wilayah yang seragam dalam hal topografi, iklim dan penduduknya. Keadaan penduduk
yang dimaksud adalah menyangkut jumlah dan kualitasnya.
2. Ketersediaan sunberdaya bahan mentah. Invetarisasi sumberdaya bahan mentah sangat
diperlukan dalam industri.
3. Upah tenaga kerja. Upah atau gaji bersifat mutlak harus ada dalam industri yakni untuk
membayar para tenaga kerja.
4. Biaya pengangkutan bahan mentah ke lokasi pabrik sangat ditentukan oleh bobot bahan
mentah dan lokasi bahan mentah.
5. Persaingan antarkegiatan industri.
6. Manusia itu berpikir rasional.
7.
Weber menyusun model yang dikenal dengan sebutan segitiga lokasional (locational triangle).
Menurut Weber, untuk menentukan lokasi industri ada tiga faktor penentu yaitu :
• Material.
• Konsumsi.
• Tenaga Kerja.
Ketiga faktor di atas oleh Weber diukur dengan ekuivalensi ongkos transport. Weber juga masih
mengajukan beberapa asumsi lagi yaitu :

¯ Hanya tersedia satu jenis alat transportasi.


¯ Lokasi pabrik hanya ada di satu tempat.
¯ Jika ada beberapa macam bahan mentah maka sumbernya juga berasal dari beberapa
tempat.Biaya transportasi menurut Weber tergantung dari dua hal pokok yaitu bobot barang dan
jarak yang harus ditempuh untuk mengangkutnya.

Teori Lokasi yang Optimal (Teori of optimal Industrial location) dari Losch

Teori ini di dasarkan atas permintaan (demand) sehingga dalam teori ini,apabila di asumsikan
bahwa lokasi optimal dari suatu pabrik atau industry adalah apabila dapat menguasai wilayah
pemasaran sehingga dapat di hasilkan pendapatan paling besar.

Untuk pembangunan teori ini, Losch juga beasumsi bahwa pada suatu tempat yang topografinya
datar atau homogeny,jika di suplai oleh pusat(industry) volume penjualan akan berbentuk
kerucut. Smakin jauh dari pusat industry semakin berkurang volume penjualan barang karena
harganya semakin tinggi, akibat dari naiknya ongkos transportasi. Berdasarkan teori ini setiap
tahun pabrik akan mencari lokasi yang dapat menguasai pasar seluas – luasnya. Disamping itu,
teori ini tidak menghendaki pendirian pabrik secara meratadan saling bersambung sehingga
berbentuk heksagonal,hal ini akan mebuat harganya semakin runtuh/jatuh.

Teori Susut dan Ongkos Transpor (Theory of Weight Loss and Transport
Cost)
Teori ini di dasarkan atas hubungan antara factor susut dalam proses pengankutan dan ongkos
transport yang harus di keluarkan yaitu dengan cara mengkaji kemungkinan penempatan industry
di tempat yang paling menguntungkan secara ekonomi. Suatu lokasi di nyatakan menguntungkan
apabila memiliki nilai susut dalam proses pengangkutan yang paling rendah dan biaya transport
yang paling murah. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa :

1. Makin besar angka ratio susut akibat pengolahan maka makin besar kemungkinan untuk
penempatan industry di sumber bahan mentah (bahan baku),dengan catatan faktor lainnya
sama.

2. Makin besar perbedaan ongkos transport antara barang mentah dan barang jadi,maka
makin besar kemungkinan untuk menempatkan industry di daerah pemasaran.

Model Gravitasi dan Teori Interaksi (the Interaction Theory) dari Issac
Newton
Teori ini di dasarkan bahwa tiap massa mempunyai gaya tarik(gravitasi) untuk berintraksi di tiap
titik yang ada di region yang saling melengkapi(regional complementary) kemudian memiliki
kesempatan berintervensi(intervening opportunity), dan kemudahan transfer atau pemindahan
dalam ruang(spatial transfer ability)
Teori menekankan pada kekuatan hubungan ekonomi(economic conection) antara dua tempat
yang di kaitkan dengan jumlah penduduk dan jarak antara tempat – tempat tersebut. Makin besar
jumlah penduduk pada kedua tempat maka makin besar interaksi ekonominya.sebaliknya makin
jauh jarak kedua tempat maka interaksi yang terjadi akan semakin kecil.untuk menerangkan teori
ini perhatikan rumus berikut :

I=

Keterangan :

I = gaya tarik menarik antar 2 region

P = jumlah penduduk masing – masing region

d = jarak antar dua region