LAPORAN PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I
SIEVING
Disusun Oleh :
NAMA :
1. Eki Lesmana (04)
2. Emlinda Ayu Philia (05)
3. Lailatul Rizky Rachmawati (10)
4. Mohamad Rizal Yuryansyah (11)
5. Putri Rosyidah Mawarti (18)
6. Rania Mirantika Sarida (19)
KELAS 2E
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2016
LAPORAN RESMI
A. Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 13 Oktober 2016
B. Tujuan Percobaan
a. Memisahkan partikel-partikel berdasarkan ukuran fraksi-fraksi yang diinginkan dari
suatu material dari prinsip pengayakan.
b. Menentukan ukuran partikel (diameter rata-rata) dan fraksi berat partikel melalui proses
sieving
C. Alat dan Bahan
a. Alat
Baskom Spatula
Pan Neraca Analitik
Mesh (ayakan) Sieve shaker
c. Bahan yang digunakan
Gula
D. Dasar Teori
Size reduction (pengecilan ukuran) berarti membagi-bagi suatu bahan padat menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil dari ukuran semula, sesuai dengan kebutuhan dengan
menggunakan gaya-gaya mekanis. Umumnya tujuan dari size reduction adalah
mempercepat pelarutan, mempercepat reaksi kimia, untuk memperkecilbahan-bahan,
mempertinggi kemampuan penyerapan, menambah kekuatan warna, agar transportasi
menjadi lebih mudah dan mempermudah proses lanjut.
Pengayakan (sieving) merupakan salah satu metode pemisahan sesuai dengan ukuran
yang dikehendaki. Pengecilan ukuran dimaksudkan untuk memperluas permukaan bahan
sehingga kontak antara bahan dan pelarut bisa berlangsung optimum. Pengayakan
biasanya dilakukan terhadap material yang telah mengalami proses penghancuran.
Partikel yang lolos melalui ukuran saringan tertentu akan menjadi partikel yang
berukuran lebih kecil(undersize) atau halusan(fines) dan partikel yang tertahan diatas
saringan ukuran partikelnya lebih besar dari lubang ayakan(oversize) atau partikel yang
tidak lolos (tails). Bahan yang lolos melewati sederet ayakan dengan bermacam-macam
ukuran akan terpisahkan menjadi beberapa fraksi berukuran(size fraction) yaitu fraksi-
fraksi yang ukuran maksimum dan minimumnya diketahui. Pengayakan lebih lazim
dalam keadaan kering (McCabe, 1999, halaman 386).
Proses pemisahan didasari atas perbedaan ukuran partikel di dalam campuran
tersebut. Sehingga ayakan memiliki ukuran pori atau lubang tertentu, ukuran pori
dinyatakan dalam satuan mesh, contoh ayakan dapat dilihat pada gambar di samping.
Sumber: https://tsffaunsoed2010.wordpress.com
Pada pengayakan secara mekanik (pengayak getaran, guncangan atau kocokan)
dilakukan dengan bantuan mesin, yang umumnya mempunyai satu set ayakan dengan
ukuran lebar lubang standar yang berlainan. Bahan yang dipak, bergerak-gerak di atas
ayakan, berdesakan melalui lubang kemudian terbagi menjadi fraksi-fraksi yang berbeda.
Beberapa mesin pengayak bekerja dengan gerakan melingkar atau ellipsoid terhadap
permukaan ayakan. Pada jenis ayakan yang statis, bahan yang diayak dipaksa melalui
lubang dengan memenggunakan bantuan udara kencang atau juga air deras.
Mesin Pengayakan
Sumber : https://tsffaunsoed2010.wordpress.com
Waktu pengayakan dilakukan selama 10 menit karena waktu tersebut dianggap
waktu optimum untuk mendapatkan keseragaman bobot pada tiap ayakan (nomor mesh).
Bila waktu lebih dari 10 menit dikhawatirkan partikel terlalu sering bertumbukan
sehingga pecah dan lolos keayakan berikutnya, dengan begitu data yang dihasilkan
menjadi tidak valid. Jika kurang dari 10 menit partikel belum terayak sempurna.
Setelah diayak perlu dilakukan penimbangan untuk setiap ayakan untuk mengetahui
besar bobot yang hilang selama pengayakan, yang dapat disebabkan tertinggalnya dalam
pengayakan, hilang saat pemindahan bahan dari ayakan ketimbangan maupun hilang saat
pemindahan berlangsung. Dalam hal dasar, pengayak terdiri dari wadah yang berisi
saringan kawat dengan ukuran tertentu. Mesin pengayak ini digetarkan oleh motor listrik
sehingga partikel kecil dapat melewati lubang mesh dan setiap partikel atau kontaminasi
yang terlalu besar tetap di atas. Kasa baja stainless dengan toleransi yang tinggi pada
lubang juga ditentukan untuk memberikan kualitas produk yang sangat baik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengayakan antara lain :
1. Waktu atau lama pengayakan (Waktu Optimum)
2. Massa Sampel
3. Intensitas Getaran
4. Pengambilan Sampel yang Mewakili Populasi
Tabel 1.1.LubangdariAyakanStandar (sumber: USP XXI-NF XVI)
Analisis Data Ukuran Partikel Menggunakan Vibrating SieveScreen Shaker
1. Penyajian data distribusi ukuran suatu campuran (particle size distribution)
Ditinjau : Sejumlah campuran partikel diayak dalam suatu susunan ayakan, di
laboratorium (menggunakan sieve shaker)
Gambar 1.4 ContohHasilPengayakan
a. Masing-masing padatan yang diperoleh ditimbang dan dijumlahkan
b. Setiap ayakan ukuran tertentu dihitung fraksi massa partikel yang lolos
c. Fraksi massa yang tertahan dan diameter rata-ratanya
d. Data fraksi massa dan diameter ditabulasikan
e. Data di atas disajikan dalam gra
Keterangan:
beratpartikelyangtertahan
Fraksi massa partikel yang tertahan = berattotalcampuran
berat partikel yang lolos
Fraksi massa partikel yang lolos = berat total campuran
Tabel 1.2 Beberapa cara menyebutkan fraksi ukuran
No Cara I Cara II Cara III
1 Oversize 48 mesh +48 +48
2 Through 48 on 65 -48+65 48/65
3 Through 65 on 100 -65+100 65/100
4 Undersize 100 in -100 100/0
2. Average Particle Size
Beberapakarakterpadatan yang dapatdianalisisdari data hasilayakan:
a. Average diamater(Davg)
Diameter yang jikadikalikandenganjumlahpartikelakanmemberikanjumlah total
diameter dalamcampuranitu.
Diameter average x (jumlahpartikel) = Diameter total campuran.
b. Average surface
Surface average x (jumlahpartikel) = surface total
c. Average volume (Vavg)
Volume average x (jumlahpartikel) = surface total
d. verage mass (Mavg)
Mass average x (jumlahpartikel) = massa total
Contoh Grafik
Sumber : distantina.staff.uns.ac.id/files/2009/08/1-cara-menentukan-ukuran-partikel.pdf
E. Langkah Kerja
1. Gula ditimbang.
2. Bidang ayakan dibersihkan dengan sikat halus satu persatu, kemudian ditimbang
dengan neraca.
3. Bidang ayakan masing-masing disusun mulai dari yang tidak berlubang sampai lebar
bidang ayak yang tebesar, kemudian ditempatkan diatas vibrator
4. Gula dimasukkan pada bidang ayak paling atas kemudian penutup dipasang secara
berhati-hati dan baut pengunci dikencangkan
5. Mesin Vibrator dinyalakan dengan menekan tombol “on” pada bagian samping alat
6. Mode getaran(3), frekuensi getaran(2), dan lama waktu pengayakan diatur(dilakukan
variasi waktu). Kemudian tekan “Run”
7. Setelah proses pengayakan selesai, alat dimatikan dengan menekan tombol “off” pada
bagian samping alat
8. Timbang setiap bahan yang tertehan di bidang ayakan
Sumber : http://www.alatlaboratoriumpertanian.com
F. Data Pengamatan
Ukuran Massa Ayakan Massa
Massa Ayakan Sampel
No Ayakan setelah Sieving Fraksi Berat
Kosong (gram) (gram)
(mm) (gram)
1 >1.40 295.21 295.35 0.14 0.0003
2 1.40 299.37 322.3 22.93 0.0548
3 1.00 256.93 494.1 237.17 0.5666
4 0.63 243.43 353.76 108.33 0.2588
5 0.355 211.97 253.67 41.7 0.0996
6 0.2 207.56 215.66 8.08 0.0193
7 0.112 197.31 194.57 0.26 0.0006
Total 418.61 1.0000
G. Analisa Data
Contoh Perhitungan fraksi berat pada no. 1 = Massa pada no 1/massa total
= 0.14/418.61
= 0.0003
Sehingga diperoleh grafik seperti dibawah ini.
Ukuran Ayakan Vs Fraksi Massa
0.6000
0.5000
0.4000
Fraksi Massa
0.3000
0.2000
0.1000
0.0000
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6
Ukuran Ayakan
Grafik Ukuran Ayakan vs Fraksi Massa
H. Pembahasan
1. Eki Lesmana (04)
2. Emlinda Ayu Philia (05)
3. Lailatul Rizky Rachmawati (10)
Praktikum kali ini dilakukan percobaan sieving atau pengayakan bertingkat.
Bahan yang digunakan pada sieving adalah gula. Prinsip pemisahan didasarkan pada
ukuran relatif antara ukuran partikel dengan lubang ayakan.
Kemudian buat grafik dari hasil percobaan yang telah diperoleh seperti pada
bagian data. Grafik ini dibuat untuk mempresentasikan ukuran ayakan dan distribusi
partikel. Pada grafik, terdapat puncak yang menunjukkan diameter rata- rata dari gula
yaitu ±1 mm. Grafik sieving akan selalu berbentuk sama hanya berbeda pada letak
puncak itu sendiri. Puncak pada grafik menunjukkan ukuran ayakan ±1 mm memiliki
fraksi gula terbanyak.
Pada percobaan kelompok kami, untuk screen pertama dengan ukuran 1,4 mm
diperoleh fraksi berat sebesar 0,0548. Angka ini menunjukkan bahwa pada screen
pertama dengan nomor mesh kecil, hanya ada sedikit bahan yang tertahan karena
diameter bahan lebih kecil daripada diameter ayakan sehingga bahan dapat lolos ke
screen kedua. Pada screen kedua dengan ukuran 1 mm diperoleh fraksi berat terbanyak
yaitu 0,5666. Hal ini menunjukkan bahwa diameter gula sama dengan ukuran screen
pertama dan screen kedua dibagi dua, yaitu sebesar 1,2 mm.
Pada screen berikutnya dengan ukuran 0,63 mm didapat fraksi berat gula sebesar
0,2588. Fraksi pada screen ini memiliki nilai lebih kecil daripada screen sebelumnya dan
akan semakin kecil yaitu pada screen terakhir dengan ukuran 0,112 mm dengan fraksi
berat yang diperoleh sebesar 0,0006. Hal ini terjadi karena diameter bahan lebih besar
daripada ukuran screen dengan nomor mesh besar. Sehingga hanya sedikit dari bahan
yang dapat lolos. Dengan membandingkan grafik yang kami peroleh dengan literatur
dapat diketahui bahwa keduanya telah sesuai. Sehingga dapat dikatakan kecil
kemungkinan terjadinya penyimpangan.
4. Mohamad Rizal Yuryansyah (11)
5. Putri Rosyidah Mawarti (18)
Grafik di atas merupakan hasil dari analisis distribusi ukuran partikel, mulai dari
ayakan yang berada paling atas hingga yang memiliki ukuran paling kecil yang terletak di
bagian paling bawah. Grafik yang dihasilkan berbentuk parabolis dengan puncaknya
diduduki oleh partikel yang ukurannya memiliki fraksi paling banyak.Partikel dengan
ukuran diameter yang bervariasi akan terselaksi oleh ayakan dengan masing masing
ukuran. Partikel yang lolos pada ayakan pertama kemudian akan terseleksi kembali pada
ayakan dibawahnya dengan ukuran lubang yang lebih kecil. Demikian seterusnya hingga
semua partikel terpisah-pisah berdasatkan ukuranya masing-masing.
Setelah proses pengayakan, partikel yang memiliki fraksi berat paling banyak
tertahan pada ayakan dengan ukuran 1 mm, yakni sebesar 0,5666. Partikel ini memiliki
diameter partikel antara 1,4 mm dan 1 mm, yaitu kurang lebih 1,2 mm.
Partikel yang tertahan pada ayakan paling bawah, yaitu dengan ukuran lubang
ayakan 0,112 mm, memiliki fraksi massa sebesar 0,0006 dengan jumlah yang paling
kecil. Hal ini berarti partikel yang tertahan pada ayakan terakhir jumlahnya sangat
sedikit.
6. Rania Mirantika Sarida (19)
H. Kesimpulan
Hasil terbanyak jumlah massa gula ukuran ayakan 1 mm dengan fraksi massa sebesar 0.5666
I. Daftar Pustaka
Anonim.2011.http://documentslide.com/documents/contoh-laporan-sieving.html
Anonim.2013. Laporan Sieving.http://documents.tips/documents/contoh-laporan-
sieving.html
Distantina.2009 .Cara Menentukan Ukuran Partikel. http://distantina.staff.uns.ac.id
Adra Muhammad.2010. https://ardra.biz/sain-teknologi/mineral/analisis-ayak-sieve-
analysis
Sisilia, Wahyu. 2015. Laporan penghancuran dan pengayakan.
http://wahyusisilia.blogspot.co.id/2015/10/laporan-penghancuran-dan–pengayakan.html.
Diakses tanggal 23 oktober 2016
Malang, 31 Oktober 2016
Mengetahui,
Sandra Santoso, B.Tech., M.Pd.
NIP. 196605241991031001