Percobaan 1 Filtrasi
Percobaan 1 Filtrasi
PERCOBAAN 1
FILTRASI
DISUSUN OLEH
KELOMPOK XVIII
URSULLA 1610814320011
YUDHI CHRISTIAN HARYADI 1610814210025
2018
ABSTRAK
Filtrasi adalah pemisahan partikel zat padat dari fluida dengan jalan melewatkan fluida itu
melalui suatu medium penyaring (septum), di mana suatu zat itu tertahan. Percobaan ini bertujuan
untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi filterability number, menentukan filterability
number dari CaCO3 dengan media pasir silika tertahan ayakan 1000 mikron dan pasir silika
tertahan 2000 mikron dan membandingkan filterability number dari berbagai variasi jenis media
pasir silika tertahan ayakan 1000 mikron dan pasir silika tertahan 2000 mikron. Percobaan filtrasi
skala laboratorium dimaksudkan untuk memperkuat pemahaman tentang filtrasi itu sendiri.
CaCO3 sebanyak 5 gram dilarutkan dalam 1000 mL air. Dalam percobaan ini menggunakan
filter media pasir silika tertahan ayakan 1000 mikron dan 2000 mikron. Operasi ini menggunakan
alat filterability apparatus dengan melewatkannya pada corong dan inlet suspension dikeringkan
dalam oven sehingga diperoleh suatu padatan.
Dari percobaan ini dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi filterability number.
Yaitu head loss, konsentrasi suspensi, konsentrasi filtrasi, kecepatan rata-rata filtrasi dan waktu
filtrasi. Nilai filterability number yang didapat dari percobaan ini adalah 0,07799 untuk pasir silika
100 mikron dan 0,03094 untuk pasir silika 2000 mikron.
I-i
PERCOBAAN 1
FILTRASI
1.1 PENDAHULUAN
I-1
2.1 DASAR TEORI
I-2
oleh
I-3
I-4
gaya gravitasi yang bekerja pada suatu kolom zat cair, seperti oleh pompa atau
blower dan oleh gaya sentrifugal. Dalam filter gravitasi tidak bisa lebih halus dari
ayakan kasar. Penerapan filter gravitasi di dalam industri terbatas pada
pengeringan cairan dan kristal kasar, klasifikasi air minum dan pengolahan air
limbah (McCabe, 1993).
Medium filter adalah filter pembantu dalam penyaringan yang dapat
menahan zat padat. Dalam proses filtrasi terdapat dua macam medium filter yang
digunakan yaitu (Brown, 1990):
1. Medium filter primer, yaitu filter pembantu yang dapat berupa kran, kanvas,
kertas saring dan lain-lain.
2. Medium filter sekunder, yaitu medium filter yang sesungguhnya terbentuk
karena adanya padatan yang tertahan oleh medium primer.
Pada awal proses filtrasi yang berperan adalah filter medium, tetapi dengan
semakin bertambahnya tebal cake maka medium filter yang lebih efektif adalah
medium filter sekunder karena cake memberikan tekanan filtrasi yang besar.
Klasifikasi filter dapat dibedakan menjadi sebagai berikut
(Geankoplis, 1993):
1. Filter Klasifikasi
Filter klasifikasi disebut juga sebagai filter hamparan tebal, karena partikel-
partikel zat padat dianggap di dalam medium filter dan biasanya tidak ada
lapisan zat padat yang terlihat dari permukaan medium.
2. Filter Ampas
Filter ampas adalah untuk memisahkan zat padat yang kualitasnya besar
dalam bentuk ampas, kristal atau lumpur.
3. Filter Plate atau frame press
Filter jenis ini diatur berlapis satu lengan dengan yang lain dan didukung
sepasang jalur (rcl). Bagian plate mempunyai permukaan bergaris-garis dan
bagian tepinya lebih tebal sedikit yang harus dibuat dengan kehaiti-hatian.
Sedangkan frame yang tidak terisi bagian tengahnya dipasang disamping plate
dengan meletakkan kertas atau kain saring ditengahnya dan dirapatkan dengan
sekrup pemutar oleh tangan disebut press.
I-5
4. Filter Daun
Filter jenis ini biasanya dilakukan pada tekanan yang lebih tinggi dari filter
press serta menghemat tenaga manusia.
5. Filter Kontinyu
Dalam filter ini biasanya pada jenis tromol putar umpan filter dan ampas
bergerak dengan laju yang tetap dan steady.
Septum atau medium penyaring pada setiap filter harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut (McCabe, 1993):
1. Harus dapat menahan zat padat yang akan disaring dan menghasilkan filtrat
yang cukup jernih.
2. Tidak mudah terkontaminasi.
3. Harus tahan secara kimiawi dan kuat secara fisik dalam kondisi operasi.
4. Harus memungkinkan kemampuan cake dan pengeluaran cake secara total dan
bersih.
Filter dapat dibedakan berdasarkan gaya pendorongnya sebagai berikut
(Foust, 1980):
1. Gravity filters.
2. Plate and frame filters.
3. Batch filters.
4. Continous rotary vacuum filters.
Filterability bukan merupakan sifat khusus dari suspensi tetap merupakan
sifat yang saling mempengaruhi antara suspensi dan filter media. Jika salah satu
sifat dari suspensi atau filter media dijaga konstan, sebagai contoh penggunaan
filter media yang standar maka perubahan dari filterability hanya mencerminkan
perubahan suspensi. Suatu suspensi akan dianggap mudah disaring jika dapat
melewati porous media dangan cepat, menghasilkan filtrat jernih dengan sedikit
sumbatan pada filter media. Penyumbatan tersebut biasanya dinyatakan sebagai
loss of permeability, yang menunjukkan penambahan pressure drop atau
headloss. The filterability number (F), dapat dihitung berdasarkan rumus
(McCabe, 1999):
I-6
H.C ...(1.1)
F=
V . Co. t
Dimana:
H = Headloss (tekanan terukur)
C = Konsentrasi rata-rata
Co = Konsentrasi inlet suspension
V = Kapadatan rata-rata (volumetric flow rate per unit area)
t = Waktu operasi penyaringan
Proses filtrasi terjadi reaksi kimia dan fisika, sehingga banyak faktor-
faktor yang saling berkaitan yang mempengaruhi kualitas air dari filtrasi (efisiensi
dan sebagainya). Faktor-faktor tersebut adalah (Brown, 1990):
1. Debit Filtrasi
Debit yang terlalu besar akan menyebabkan filter tidak berfungsi efisien
sehingga proses filtrasi tidak dapat terjadi dengan sempurna akibat adanya
aliran air yang terlalu cepat dalam melewati rongga diantara media pasir. Hal
ini menyebabkan berkurangnya waktu kontak antata permukaan butiran media
penyaring dengan air yang akan disaring.
2. Konsentrasi Keseluruhan
Konsentasi kekeruhan sangat mempengaruhi efisiensi dan filtrasi. Konsentrasi
kekeruhan air yang sangat tinggi menyebabkan tersumbatnya lubang pori dari
media akan terjadi clogging. Jika konsentrasi kekeruhan terlalu tinggi harus
dilakukan suatu pengolahan terlebih dahulu, seperti dilakukan suatu
pengolahan terlebih dahulu, seperti dilakukan proses koagulasi dan floakulasi
serta sedimentasi.
3. Temperatur
Adanya perubahan suhu atau temperatur air yang difiltasi, menyebabkan
massa jenis, viskositas absolut dan viskositas kinematik dari air akan
mengalami perubahan. Selain itu juga akan mempengaruhi daya tarik menarik
antar partikel halus penyebab kekeruhan sehingga terjadi perbedaan dalam
ukuran besar partikel akan disaring.
I-7
Gambar 1.1 menunjukkan medium filter kondisi ini adalah kain dan lapisan solid
atau filter cake yang terbentuk sebagai pendukug. Dalam operasi cake berangsur-
angsur terbentuk di atas medium dan semakin menahan aliran. Awalnya partikel
terperangkap dalam lapisan permukaan untuk membentuk media filter
sebenarnya. Faktor utama yang menentukan kecepatan filtasi adalah:
1. Tekanan dan umpan pada sisi mediaum penyaring
2. Area permukaan saringan
3. Viskositas filtrat
4. Ketahanan filter cake
5. Ketahanan filter medium dan lapisan awal cake
Kalsium karbonat umumnya berwarna putih dan umumnya sering
dijumpai pada batu kapur, kalsit, marmer, dan batu gamping. Selain itu kalsium
karbonat juga banyak dijumpai pada skalanya berasal dari tetesan air tanah selama
ribuan bahkan jutaan tahun. Seperti namanya kalsium karbonat ini terdiri dari 2
unsur kalsium dan 1 unsur karbon-karbon dan 3 unsur oksigen. Setiap unsur
karobon terikat kuat dengan kalsium pada suatu senyawa, kalsium karbonat bila
I-10
dipanaskan akan pecah dan menjadi sebuk lemah yang lunak yang dinamakan
kalsium (CaO) (Perry, 1997).
1.3 METODOLOGI PERCOBAAN
Rangkaian alat:
Keterangan:
A. Perspex column
B. Storage funnel
C. Flow control valve
D. Flowmeter
E. Manometer
F. Manometer Air release plug
G. Drain outlet tube
I-11
I-12
1.3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
– Pasir silika ukuran 1000 mikron dan 2000 mikron
– CaCO3 5 gram
– Kertas saring
– Akuades
3. Peralatan diisi dengan cairan jernih secara reverse flow filling melalui drain
outlet tube.
4. Cairan dikosongkan sampai batas perspex column yang berisi media, flow
control valve dibuka dan drain outlet tube dimasukkan dalam penampungan.
5. Waktu dan volume pengosongan dicatat.
I-14
I-15
Tabel 1.4 Hasil Perhitungan Proses Filtrasi pada Silika 2000 mikron
Jenis C Co V t filtrasi
H (cm) F
Media (gr/cm3) (gr/cm3) (cm/s) (s)
Silika
2000 3 4,371x10-3 0,005 2,474 34,26 0,03094
mikron
1.4.3 Pembahasan
Filrerablitity number adalah bilangan yang tidak berdimensi yang
digunakan untuk menentukan kemampuan filtrasi suatu media filter. faktor –
faktor yang mempengaruhi filterability number yaitu headloss, konsentrasi rata–
rata filtrat, kecepatan rata–rata dan waktu operasi penyaringan. Media yang
digunakan adalah pasir kuarsa yang tertahan ayakan 1000 mikron dan 2000
mikron.
Supensi yang digunakan adalah CaCO3 yang dilarutkan dalam akuades.
Hal ini bertujuan untuk mempercepat reaksi pelepasan kalor CaCO3 yang
menghasilkan endapan dan kekeruhan. Penggunaan suspensi CaCO3 sebagai cake
dalam filtrasi. Cake yang mempengaruhi filterability number sesuai konsentrasi
dari sifat suspensi. Semakin banyak cake yang tertahan maka akan semakin jernih
filtrat dan semakin lama proses filtrsasi berjalan.
I-16
1.5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil pada percobaan ini adalah:
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi filterability number adalah headloss,
kecepatan rata-rata filtrasi, konsentrasi filtrat dan waktu filtrasi.
2. Nilai filterability number untuk filter media pasir silika 1000 mikron adalah
0,07799 dan untuk pasir silika 2000 mikron adalah 0,03094.
3. Berdasarkan percobaan nilai filterability number terbaik adalah pasir silika
1000 mikron. Filterability yang baik ditunjukkan dengan nilai F yang tinggi.
1.5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan ini adalah agar menggunakan
suspensi jenis seperti tepung jagung agar dapat memberikan hasil percobaan yang
bervariasi.
I-18
DAFTAR PUSTAKA
Brown, G. G. 1990. Unit Operation. John Willey and Son Inc. New York.
Foust, A. S. 1980. Principles of Unit Operation 2nd Edition. John Willey and Son
Inc. New York.
Geankoplis, Christie J. 1993. Transport Processes and Unit Operation 3rd Edition.
Prentice-Hall. New York.
McCabe, W. L., Smith J. C., and Harriott P. 1993 Unit Operation of Chemical
Engineering 5th Edition. McGraw-Hill. New York.
McCabe, W. L., Smith J. C and Harriott. 1999. Operasi Teknik Kimia Jilid 1.
Erlangga. Jakarta.
DP-I-1
LAMPIRAN PERHITUNGAN
LP-I-1
mair menguap 7,1 gram
V air menguap = = =7,1 cm3
- ρair gram
1
cm3
LP-I-2
LP-I-2
F=
∆ H .C
=
(
( 10 cm ) 3,422 x 10−3
cm3 )
v .C o .t
(2,109 cms )(0,005 cmg )( 41,55 s )
3
¿ 0,07799
mCaCO3 = 5 gram
ρair = 1 g/cm3
Vair = 1000 mL
mendapan kering = 4,2 gram
tfiltrasi = 36,04 s
Vpengosongan = 26 mL = 26 cm3
Vfiltrasi = 980 mL = 980 cm3
d = 3,8 cm
tpengosongan = 1,78 s
mendapan basah = 11 gram
Ditanya: F
Jawab:
a. Menghitung headloss (∆H)
∆H= h1-h2
= (24-21)cm = 3 cm
b. Menghitung Konsentrasi inlet suspension
m. CaCO3 5 gram
C o= = =0,005 g/ml
V air 1000 mL
c. Menentukan konsentrasi rata-rata filtrat (C)
- mair menguap= ( mendapan basah−mendapankering )
¿ ( 11−4,2 ) gram
¿ 6,8 gram
mair menguap 6,8 gram
V air menguap = = =6,8 cm3
- ρair gram
1
cm3
- V filtrat =V filtrat−V pengosongan +V menguap
¿( 980−26+ 6,8)cm3
¿ 960,8 cm3
- Konsetrasi rata-rata filtrat
m endapan kering 4,2 gram −3 g
C= = 3
=4,371 x 10
V filtrat 960,8 cm cm3
LP-I-4
F=
∆ H .C
=
(
( 3 cm ) 4,371 x 10−3
cm3 )
v .C o .t
(2,474 cms )( 0,005 cmg ) ( 34,26 s )
3
¿ 0,03094