Anda di halaman 1dari 39

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT UJI

BENDING UNTUK PENGUJIAN MATERIAL LOGAM


YANG AKAN DIGUNAKAN DI LAB METALURGI
FISIK UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar


Sarjana Teknik Mesin

Sofyan Tsauri

1420110026

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH

JAKARTA

2018

i
LEMBAR PENGESAHAN

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT UJI BENDING


UNTUK PENGUJIAN MATERIAL LOGAM YANG AKAN
DIGUNAKAN DI LAB METALURGI FISIK UIA

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Menempuh Ujian Sidang Sarjana


Strata Satu (S-1) Pada Program Studi Teknik Mesin

Disusun Oleh :

Sofyan Tsauri

NIM : 1420110026

Diterima dan disetujui sebagai Skripsi di Program Studi Teknik Mesin

Universitas Islam As – Syafi’iyah

Jakarta, ……….. 2017

Diketahui Oleh:

( Ir. Harry Unardi, M.Sc) ( Ir. M. Damanhuri )

Dosen Pembimbing Utama Koordinator Tugas Akhir

Mengetahui,

(Ir.Dudung Hermawan)

Ketua Program Studi Teknik Mesin UIA

ii
TANDA PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Sofyan Tsauri
NIM : 1420110026
Jurusan : Teknik Mesin
Judul Skripsi : PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT UJI
BENDING UNTUK PENGUJIAN MATERIAL LOGAM
YANG AKAN DIGUNAKAN DI LAB METALURGI
FISIK UIA
Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi ini merupakan hasil karya sendiri bukan
merupakan jiplakan, saduran ataupun plagiat dari hasil karya ilmiah orang lain
dan belum pernah dipublikasikan. Apabila terdapat hal-hal yang bertentangan
dengan pernyataan ini dikemudian hari saya bersedia menerima sangsi berupa
pembatalan hasil sidang skripsi ini.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa ada paksaan
dari siapapun.

Jakarta, ….., …………., 2017


Yang menyatakan,

Sofyan Tsauri

iii
ABSTRAK

Pemahaman akan sifat mekanis bahan pada proses perancangan dan konstruksi
sangatlah penting, untuk itu dalam pemahaman mata kuliah material teknik bagi
mahasiswa S1 teknik mesin diperlukan alat uji tekuk bahan untuk membantu
proses belajar mengajar bisa lebih baik. Dalam merancang alat uji tekuk ini
digunakan metode perancangan standar yang menggunakan elemen mesin yang
standar pula dan umum didapatkan dipasaran. Pada alat uji tekuk ini
menggunakan sistem penekuk utama yaitu dongkrak hidrolik dengan kapasitas
tonase disesuaikan dengan dimensi spesimen uji. Spesimen uji pada alat ini
berbentuk silindris dimana benda uji (specimen) yang akan kami teliti
menggunakan bahan utama alumunium (AL), bahan utama alumunium, adapun
spesimen uji dibuat sesuai dengan standar pengujian ASTM E290 tentang
standarisasi uji tekuk pada material untuk mendapatkan nilai ketangguhan suatu
material.

Kata Kunci : Perancangan alat uji tekuk material alumunium.

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Subhanahuwata’ala yang telah memberikan

rahmat dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan

judul “PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT UJI BENDING UNTUK

PENGUJIAN MATERIAL LOGAM YANG AKAN DIGUNAKAN DI LAB

METALURGI FISIK UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH”

Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu

persyaratan kurikulum untuk mencapai gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik

Mesin pada Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam As-Syafi’iyah.

Penulis menyadari bahwa selama penyusunan skripsi ini, telah mendapat

banyak dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Tanpa bantuan dan dukungan

mereka, penyusunan skripsi ini tidak dapat terselesaikan dengan baik.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak

yang telah membantu dalam kelancaran penyusunan skripsi ini yaitu:

1. Allah SWT yang telah memberikan kemudahan bagi penulis dalam

menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.

2. Bapak Syamsudin ali dan ibu Hj.syarkiyah selaku kedua orang tua yang selalu

memberikan dukungan serta do’a kepada penulis dalam menyelesaikan

Laporan Tugas Akhir sebagaimana mestinya.

v
3. Bapak Ir.Harry Sunardi,M.Sc selaku pembimbing utama Tugas Akhir ini yang

telah memberikan waktu dan bimbingannya kepada penulis, sehingga penulis

dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini.

4. Ahmad Faisal selaku kaka yang selalu memberikan dukungan dan suasana

yang hangat baik di dalam maupun di luar rumah.

5. Bapak Ir.Dudung Hermawan,MT selaku wakil dekan dan ketua program Studi

Teknik Mesin Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam As-Syafi’iyah

6. Bapak Ir.M.Damanhuri selaku koordinator Tugas Akhir

7. Rekan – rekan mahasiswa khususnya jurusan Teknik Mesin dan rekan – rekan

Fakultas Sains dan Teknologi yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu

yang telah banyak membantu dan memberikan dukungan pada penulis

sehingga dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini.

Penyusun menyadari bahwa dalam laporan Tugas Akhir ini masih banyak

kekurangan. Akan tetapi penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat

untuk para pembaca.

Akhir kata, penulis berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan

semua pihak yang telah membantu penulis.

Jakarta,6November2017

Penulis

Sofyan Tsauri

vi
DAFTAR ISI

Halaman judul …………………………………………………………… i


Lembar pengesahan ……………………………………………………… ii
Lembar asistensi …………………………………………………………. iii
Abstrak …………………………………………………………………... iv
Kata pengantar …………………………………………………………… v
Daftar isi …………………………………………………………………. vii
Daftar gambar ……………………………………………………………. ix
Daftar notasi ……………………………………………………………... xi
Bab I Pendahuluan ………………………………………………………. 1
1.1 Latar belakang masalah ………………………………………... 1
1.2 Identifikasi masalah …………………………………………… 2
1.3 Perumusan masalah ……………………………………………. 3
1.4 Tujuan dan manfaat penelitian ………………………………… 3
1.5 Batasan masalah ……………………………………………….. 4
1.5 Sistematika penulisan ………………………………………….. 5
Bab II Landasan Teori …………………………………………………… 7
2.1 Definisi alat uji lengkung (bending test) ………………………. 7
2.2 Balok (beam) dan gaya (force) ………………………………... 7
2.3 Definisi tumpuan ………………………………………………. 9
2.3.1 Tumpuan sederhana (simple beam) …………………………… 9
2.3.2 Tumpuan menganjur (cantilever beam) ……………………….. 10
2.4 Tegangan (stress) ……………………………………………… 11
2.5 Regangan elastis (elastic strain) ………………………………. 12
2.6 Defleksi (y) …………………………………………………….. 14
2.7 Geseran (V) dan momen (M) ………………………………….. 14
2.8 Sifat-sifatpenampang beam .......................................................... 16
2.8.1 Penampang beam segi empat ………………………………….. 16
2.8.2 Penampang beam lingkaran …………………………………… 17
Bab III Metode Penelitian ……………………………………………….. 19

vii
3.1 Prosedur penelitian …………………………………………….. 19
3.2 Perancangan dan desain ……………………………………….. 19
3.2.1 Tahap 1 : Perencanaan ………………………………………… 20
3.2.2 Tahap 2 : Konsep perancangan ………………………………... 21
3.2.3 Tahap 3 : Fabrikasi …………………………………………….. 23
3.3 Perhitungan konstruksi ………………………………………… 24
3.3.1 Rumus perhitungan guide pilar ……………………………….. 24
3.3.2 Rumus perhitungan midle plate ……………………………….. 25
3.3.3 Rumus perhitungan baut pengikat …………………………….. 28
3.4 Perhitungan uji defleksi pada spesimen ……………………….. 30
BAB IV Analisa Dan Pembahsan ……………….……………………….. 31
4.1 Tahapan Rancangan kontruksi…………………….....…………. 31
4.1.1 Perhitungan Pada Titik A (middle plate)........………………….. 32
4.1.2 Perhitungan pada titik B (upper plate) …………………………. 37
4.1.3 Perhitungan Pada Titik C (guide pilor) ………………………... 42
4.1.4 Perhitungan pada titik D (baut pengikat) …….………………… 47
4.2 Tahap Fabrikasi ………………………………………………… 49
BAB V Kesimpulan Dan Saran ………………………………………….. 54
5.1 Kesimpulan……………………………………………………... 54
5.2 Saran ……………………………………………………………. 55

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tumpuan Sederhana (Simple Beam) ……………………... 9

Gambar 2.2 Tumpuan Menganjur (Cantilever Beam) ……………….... 10

Gambar 2.3 Jenis Defleksi Pada Batang Uji ……………………....... 14

Gambar 2.4 Arah V Dan M Positif Pada Beam ……………………...... 15

Gambar 2.5 Konversi Tanda Untuk Lenturan Dan Geseran ………... 16

Gambar 2.6 Penampang Beam Segi Empat ………………………. 16

Gambar 2.7 Penampang Beam Lingkaran …………………………... 17

Gambar 3.1 Flow Kegiatan Pembuatan Mesin Uji Lengkung ……… 19

Gambar 3.2 Desain Awal Alat Uji lengkung ………………………….. 21

Gambar 3.3 Tumpuan Jepit – Jepit Pada Guide Pilar ………………. 24

Gambar 3.4 Pembebanan pada Midle Plate ………………………… 26

Gambar 3.5 Diagram Pembebanan Di Tengah Titik A ……………... 27

Gambar 3.6 Diagram Pembebanan Pada Baut Pengikat ……………. 29

Gambar 3.7 Skema Gaya Pengujian Bending ………………………. 30

Gambar 4.1 Titik kritis alat uji bending ……………………………... 31

Gambar 4.2 Diagram pembebanan rata pada titik A ………………… 33

Gambar 4.3 Diagram pembebanan di tengah pada titik A …………... 35

Gambar 4.4 Defleksi akhir titik A …………………………………… 37

Gambar 4.5 Diagram pembebanan rata pada titik B ………………… 38

Gambar 4.6 Diagram pembebanan di tengah pada titik B ………….... 41

Gambar 4.7 Defleksi akhir titik B ………………………………….… 42

ix
Gambar 4.8 Diagram pembebanan pada guide pilar C1 dan C2 …….. 43

Gambar 4.9 Diagram pembebanan guide pilar C1 …………………... 44

Gambar 4.10 Jenis tumpuan jepit bebas pada guide pilar ……………... 44

Gambar 4.11 Diagram pembebanan pada baut D1 dan D2 …………….. 48

Gambar 4.12 Produk jadi ……………………………………………….. 53

Gambar 5.1 Pengujian uji bending pada spesimen uji ………………... 54

x
DAFTAR NOTASI

𝜏𝑡 : Tegangan tarik (N/mm2)

F : Gaya (N)

Ft : Gaya tarik (N)

FMH : Gaya maksimum hidrolik (N)

Fv : Gaya arah vertical (N)

Fk : Pembebanan tekuk (N)

𝜀 : Regangan

𝜎 : Tegangan (N/mm2)

A : Luas penampang (mm2)

m : Massa benda (kg)

g : percepatan gravitasi (m/s2)

I : momen inersia penampang persegi berlubang (mm3)

ymaks : Defleksi maksimum (mm)

b : Lebar benda (mm)

h : Tinggi benda (mm)

𝜎𝐵 : Batas patah (N/mm2)

xi
𝜎̅𝑡 : Tegangan tarik ijin (N/mm2)

n : Jumlah komponen

dc : Diameter core ulir (mm)

xii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Uji bending dan modulus elastisitas pada suatu material dilakukan dengan

menggunakan beban dimana tegangan utamanya dalam bentuk lentur. Nilai modulus

elastisitas pada uji bending dan uji tarik atau uji tekan akan mengalami sedikit

perbedaan meskipun spesimennya sama. Hal itu disebabkan karena modulus elastisitas

pada uji tarik atau uji tekan berada pada satu arah, yaitu arah tarik atau tekan.

Sedangkan pada uji bending, modulus elastisitasnya berada pada dua arah, yaitu tarik

dan tekan.

Dalam bending biasanya terdapat beban direct stress dan transverse shear. Melalui

uji bending ini, kita dapat melihat perilaku material yang mengalami jenis pembebanan

tersebut, standar pengujian lentur untuk material logam mengacu pada ASTM E290.

Pengujian bending dilakukan khusus untuk material yang getas, karena material getas

tidak cocok digunakan untuk uji tarik. Bentuk spesimen uji tarik terlalu rentan untuk

material getas. Selain itu, grip pada uji tarik dapat membuat material getas patah

terlebbih dahulu. Oleh karena itu pengujian bending ini perlu dilakukan.

Contoh nyatadari benda yang mengalami bending sendiri yaitu jembatan

penyebrangan, meja, chassis mobil, excavator, dan lain-lain.

1
Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum uji bending dan kekakuan adalah :

1.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Definisi alat uji lengkung (Bending test)

Pada disiplin ilmu teknik mesin material merupakan salah satu unsur penting

dalam merancang suatu konstruksi, yang harus melalui tahapan pengujian untuk

mengetahui kemampuan mekanik (mechanical properties) suatu bahan dalam

mendukung kemampuan mekanis suatu konstruksi.

Uji bahan yang umum dilakukan dalam perancangan konstruksi sangat

beragam mulai dari uji kekerasan material (hardness tester), Uji Tarik (tensile

strength), Uji tekan, uji punter, hingga uji kelengkungan bahan (bending test).

Pada penelitian skripsi ini akan dibahas mengenai perancangan alat uji

kelengkungan bahan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran sifat

mekanis bahan yaitu defleksi.

2
Uji lengkung merupakan salah satu bentuk pengujian untuk menentukan

kemampuan mekanis suatu bahan yang dapat dilihat secara visual. Secara prinsip

uji lengkung ini dilakukan untuk mengukur kekuatan material akibat

pembebebanan secara aksial yang dapat dilihat dari bentuk dan defleksi yang

terjadi pada spesimen pada satuan panjang tertentu diantara penyangga / tumpuan

Uji lengkung ( bending ) adalah suatu proses pengujian material dengan cara

di tekan untuk mendapatkan hasil berupa data tentang kekuatan lengkung

(bending) suatu material yang di uji.

2.2. Balok (beam) dan gaya (force)

Balok (beam) merupakan suatu batang struktural yang menahan gaya-gaya

yang bekerja secara transversal terhadap sumbunya. Bila beban yang dialami pada

balok bukan beban transversal maka beban tersebut akan menghasilkan torsi bagi

balok. Pada pengujian lengkung serta perancangan struktur, torsi biasanya

diabaikan karena dalam suatu perencanaan struktur balok lebih mampu

mempertahankan pergeseran dan pelenturan dibandingkan menahan torsi.

Secara umum jenis balok (beam) yang umum digunakan pada suatu konstruksi

adalah berbentuk silindris ataupun kotak, panjang dan lurus. Perancangan suatu

balok terdiri atas pemilihan bagian komponen yang akan menahan pergeseran dan

pelenturan yang akan dihasilkan oleh suatu pembebanan. Pada perancangan

balok perlu memperhatikan dua hal utama yaitu :

a. Perhitungan gaya geser (shear) dan momen lentur (bending) yang dihasilkan

oleh beban.

3
b. Pemilihan material balok yang mampu menahan gaya geser dan momen lentur

berdasarkan perhitungan kapasitas pembebanan.

Gaya (force) didefinisikan sebagai tarikan atau dorongan yang bekerja pada

sebuah benda yang dapat mengakibatkan perubahan gerak. Biasanya, gaya

mengakibatkan dua pengaruh, pertama menyebabkan sebuah benda bergerak, dan

kedua menyebabkan terjadinya deformasi pada benda. Pengaruh pertama disebut

juga pengaruh luar (external effect) dan yang kedua disebut pengaruh dalam

(internal effect). Apabila beberapa gaya bekerja pada sebuah benda, gaya-gaya

tersebut dinyatakan sebagai sistem gaya (force system). Jika sistem gaya yang

bekerja pada sebuah benda tidak mengakibatkan pengaruh luar, maka gaya

tersebut dinyatakan dalam keadaan setimbang (balance) dan benda dikatakan

berada dalam kesetimbangan (equilibrium).

2.3. Definisi tumpuan

Pada suatu konstruksi rangka batang yang terdiri dari beberapa batang balok

(beam) yang disatukan menggunakan baut pengikat, las, ataupun kelingan

mempunyai karakter tegangan terhadap pembebanan yang terjadi pada balok

tersebut, hal ini dalam dunia teknik mesin disebut dengan statika struktur. Pada

statika struktur, titik temu dianggang sebagai tumpuan batang yang memberikan

gaya reaksi (R) pada pembebanan yang terjadi pada beam (F). Tipe tumpuan

dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

2.3.1. Tumpuan sederhana (simple beam)

Pada statika struktur dengan tipe tumpuan sederhana (simple beam),

batang yang akan diuji dan diberi beban disangga oleh dua tumpuan dengan

4
pembebanan yang terjadi berpusat diantara tumpuan. Pembebanan yang terjadi

pada batang uji ditunjukkan secara visual dengan besar kecilnya nilai defleski

yang terjadi pada batang uji.

Gambar 2.1 Tumpuan Sederhana (simple beam)

Keterangan gambar :
F : pembebanan pada beam (N)
A : Titik penyangga A (m)
B : Titik penyangga B (m)
a : Jarak penyangga A terhadap beban F (m)
b : Jarak penyangga B terhadap beban F (m)
l : Jarak penyangga A-B (m)
RA : Gaya reaksi pada titik A (N)
RB : Gaya reaksi pada titik B (N)

2.3.2. Tumpuan menganjur (cantilever beam)


Pada tipe tumpuan menganjur (cantilever beam), batang yang akan diuji
dan diberi beban hanya disangga oleh di satu ujungnya saja. Pembebanan
diberikan di ujung lain dari batang uji, sehingga defleksi yang terjadi pada
titik dimana pembebanan dilakukan. Semakin jauh jarak beban terhadap
penyangga maka defleksi yang terjadi semakin besar.

5
d
l

Gambar 2.2 Tumpuan Menganjur (cantilever beam)

Keterangan gambar
F : pembebanan pada beam (N)
c : jarak antara dinding dengan gaya F (N)
d : jarak dinding dengan dial (m)
l : Panjang batang total (m)
2.4. Tegangan (stress)

Pada suatu konstruksi tegangan diandaikan terbagi sama rata di seluruh

permukaan. Maka hasilnya sering disebut dengan tegangan tarik murni (pure

tension), tegangan tekan murni (pure compression), ataupun tegangan geser murni

(pure share), tergantung dari cara kerja beban atas benda yang sedang diamati.

Tegangan tarik (𝜎) yang dikatakan terbagi rata dapat dihitung dengan

persamaan :

𝐹
𝜎=
𝐴

Begitu juga untuk tegangan tekan (𝜏) yang dikatan terbagi rata dapat dihitung

dengan persamaan

6
𝐹
𝜏=
𝐴

Dimana :

𝜎 : Tegangan tarik (N/m2)

𝜏 : Tegangan tekan (N/m2)

F : Gaya tekan (N)

A : Luas penampang tekan (m2)


2.5. Regangan elastis (elastic strain)

Bila sejumlah batang lurus diberi beban tarik, maka batang tersebut akan

bertambah panjang. Pertambahan panjang atau pemuaian tersebut disebut dengan

regangan. Sedangkan regangan total diartikan sebagai perpanjangan total ataupun

perubahan bentuk dari suatu benda. Regangan total (𝝐) dapat dirumuskan sebagai

berikut :

𝛿
𝜖=
𝑙
Regangan geser (shear strain) 𝛾 adalah perubahan elemen tegangan pada arah

tegak lurus terhadap regangan geser murni. Elastisitas adalah sifat bahan yang

memungkinkan bahan tersebut kembali ke bentuk dan ukuran semula bila beban

dilepas. Untuk kondisi dimana tegangan berbanding lurus dengan regangan ditulis

dengan persamaan :

𝜎 = 𝐸. 𝜖

7
𝜏 = 𝐺. 𝛾

Dimana :

𝛿 : Perpanjangan / regangan (m)

𝜖 : Regangan elastis / tarik

l : Panjang batang uji (m)

E : Modulus elastisitas bahan (N/mm2)

G : Modulus elastisitas geser (N/mm2)

𝛾 : Regangan geser

2.6. Defleksi ( y)

Suatu struktur atau elemen mesin disebut kaku bilamana ia tidak melengkung,

melendut ataupun memuntir terlalu banyak sewaktu diberi gaya, momen atau

puntiran dari luar. Tetapi bila pergeseran akibat pengaruh luar tersebut besar,

maka kejadian tersebut disebut dengan lenturan atau defleksi (y). Kadang-

kandang elemen mesin harus direncanakan untuk mempunyai karakter defleksi

tertentu terhadap gaya yang bekerja misalnya sistem suspensi kendaraan.

Elastisitas adalah sifat suatu bahan yang memungkinkan ia kembali ke bentuk

semula setelah mengalami perubahan bentuk. Besarnya defleksi (y) mempunyai

hubungan yang linier dengan gaya, sejauh batas elastisitas bahan tidak terlampaui.

Jenis deflesi dibedakan menjadi beberapa jenis seperti yang terlihat pada

gambar 2.3 dibawah ini

8
Gambar 2.3 Jenis Defleksi Pada Batang Uji

Pada gambar diatas dapat dilihat bentuk defleksi (y) di tiap kondisi penyangga.

Pada lengkungan yang mengarah kebawah maka defleksi (y) bernilai positif,

sedangkan sebaliknya pada lengkungan yang mengarah keatas maka defleksi (y)

bernilai negatif.

2.7. Geseran (V) dan momen (M)

Pada gambar 2.4a menunjukkan sebuah beam yang didukung gaya reaksi R1

dan R2 dan dibebani oleh gaya terpusat F1, F2 dan F3. Arah yang dipilih untuk

sumbu y adalah petunjuk atas konvensi tanda untuk gaya. F1, F2 dan F3 adalah

negatif karena bekerja dalam arah y yang negatif, sedangkan R1 dan R2 adalah

positif.

9
Gb 2.4a Gb 2.4b

Gambar 2.4 Arah V dan M Positif Pada Beam

Bila beam dipotong pada suatu penampang pada jarak x = x1 (lihat gambar

2.4b), dan bagian sebelah kiri diperlakukan sebagai suatu benda bebas, maka akan

terbentuk gaya geser dalam V dan momen lentur M harus bekerja pada permukaan

potongan untuk menjamin kesetimbangan. Gaya geser didapat dari penjumlahan

gaya-gaya disebelah kiri penampang pemotongan. Momen lentur adalah jumlah

dari gaya-gaya yang bekerja disebelah kiri penampang sesuai dengan jaraknya ke

penampang tersebut. Gaya geser dan momen lentur adalah saling berhubungan

sesuai dengan persamaan :

𝑑𝑀
𝑉=
𝑑𝑥
Dimana :

V : Gaya geser (N)

dM : Perubahan momen lentur (Nm)

dx : Perubahan jarak akibat lenturan / defleksi (m)

10
Pada gambar 2.5 dapat dilihat hubungan antara lenturan dengan geseran

sesuai dengan arah lenturannya. Nilai lenturan positif untuk arah lenturan

kebawah dan nilai lenturan negatif untuk arah lenturan keatas.

Gambar 2.5 Konvensi Tanda Untuk Lenturan dan Geseran

2.8. Sifat – sifat penampang beam

Pada pengujian bending bentuk dari penampang beam juga mempengaruhi

terhadap besaran nilai defleksi yang terjadi karena pembebanan. Bentuk beam

yang umum diujikan antara lain :

2.8.1. Penampang beam segi empat

Bentuk permukaan beam seperti pada gambar 2.6 didapatkan gambaran

sebagai berikut

Gambar 2.6 Penampang Beam Segi Empat

11
Persamaan yang berlaku :

𝐴=𝑏×ℎ 𝑘 = 0.289ℎ

𝑏. ℎ3 ℎ
𝐼= 𝑦̅ =
12 2

𝑏. ℎ2
𝑍=
6

2.8.2. Penampang beam lingkaran

Bentuk permukaan beam seperti pada gambar 2.7 didapatkan gambaran

sebagai berikut

Gambar 2.7 Penampang Beam Lingkaran

Persamaan yang berlaku :

𝜋𝑑 2 𝜋𝑑 4
𝐴= 𝐽=
4 32
𝑑 𝜋.𝑑3
𝑘= 𝑍=
4 32

𝜋. 𝑑 4 𝑑
𝐼= 𝑦̅ =
64 2

12
Keterangan simbol :

A : Luas (mm2)

I : Momen inersia (mm4)

J : Momen inersia polar (mm4)

Z : Modulus penampang (mm3)

k : Jari - jari (mm)

̅
𝒚 : Jarak titik berat (mm)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Prosedur penelitian

Pada proses pembuatan uji lengkung (bending test) dilakukan dalam ranah

peracangan seperti yang digambarkan pada gambar 3.1 dibawah ini :

13
Gambar 3.1 Flow Kegiatan Pembuatan Mesin Uji Lengkung

3.2. Perancangan dan desain

Pada perancangan alat uji lengkung ini dirancang dengan memanfaatkan

beberapa perangkat mekanis yang standar dijual dipasaran dipadukan dengan

perangkat hidrolis standar (dongkrak).

Berikut adalah tahapan perancangan yang dilakukan penulis dalam melakukan

perancangan alat uji lengkung, antara lain :

3.2.1. Tahap 1 : Perencanaan

Pembuatan Daftar Tuntutan

Berdasarkan batasan masalah yang telah dibahas sebelumnya, maka

didapatkan daftar tuntutan pada perancangan alat uji lengkung untuk

memudahkan dalam pertimbangan perancangan. Penulis membagi daftar

14
tuntutan tersebut ke dalam tiga tingkatan prioritas, diantaranya seperti tertera

pada tabel sebagai berikut :

Tabel 3.1 Daftar Tuntutan Fungsi Alat

NO Daftar Tuntutan Keterangan

1 Tuntutan utama

a. Pendorong Dongkrak botol dengan mekanisme

hidrolik.

b. Jenis suaian Sliding

pendorong

2 Tuntutan kedua

a. Dimensi awal mesin Maksimum 1500 X 1500 X 1500 mm

b. Kapasitas maksimum Maksimum 2 Ton

pembebanan

c. Skala pengukuran  Pressure gauge (untuk pengukuran

tekanan

 Outside dial indicator (untuk

pengukuran defleksi)

3 Keinginan / konsep

a. Mudah dalam Menggunakan mekanisme pembacaan

pengujian parameter tekanan dan jarak yang mudah

dibaca

b. Mudah dipindahkan Menggunakan material yang ringan

c. Perawatan mudah Mekanisme simpel dan maintenable

15
3.2.2. Tahap 2 : Konsep Perancangan

Desain Awal Mesin

Proses perencanaan alat uji lengkung (bending test) dirancang dengan

desain awal seperti pada gambar 3.2 dibawah ini.

Gambar 3.2. Desain Awal Alat Uji Lengkung

Keterangan gambar :

1 : Base plate

2 : Middle plate

3 : Upper plate

4 : Dongkrak hidrolis

5 : Pressure gauge

6 : Screw adjuster

16
7 : Guide pilar

8 : Lower clamping speciment

9 : Penetration pin

10 : Displacement scale

Penentuan Titik Kritis Komponen Mesin

Berdasarkan pengamatan pada desain yang telah dibuat, maka dilihat dari

segi pembebanan dan pergerakan alat maka penulis menentukan titik kritis

dalam perancangan alat uji lengkung ini diantaranya adalah :

a. Guide pilar

Adalah rangka batang pada bagian penyangga yang menjadi penumpu

awal beban dari upper plate. Penulis menggunakan besi pejal dengan

material CK 45 sebagai konstruksi awal rangka batang dengan dimensi

yang disesuaikan dengan perhitungan konstruksi.

b. Midle plate

Berfungsi sebagai batang pendorong lower clamping speciment

menuju penetration pin. Midle plate ini meneruskan tekanan (pressure)

dari dongkrak hidrolis, maka harus diperhitungkan kekuatan dari bagian

ini untuk menentukan dimensi yang aman dan menunjang proses

pengujian. Jenis material konstruksi yang digunakan untuk middle plate

adalah S45C sebagai ketentuan standar material konstruksi.

c. Dongkrak hidrolis

Merupakan perangkat standar yang mudah didapatkan di pasaran,

dengan ketentuan pemilihan kapasitas dongkrak hidrolis didapatkan dari

17
hasil perhitungan kebutuhan tekanan untuk jenis spesimen yang telah

ditentukan. Penentuan kebutuhan tekanan erat kaitannya dengan material

properties benda uji.

3.2.3. Tahap 3 : Fabrikasi

Pada tahap ini setelah gambar kerja terbentuk, maka penulis melanjutkan

ke tahapan pembuatan / permesinan / fabrikasi. Adapun secara garis besar

proses fabrikasi melibatkan beberapa jenis proses diantaranya :

a. Proses milling

Digunakan untuk memproses beberapa komponen seperti base plate, midle

plate, upper plate, dll

b. Proses bubut

Proses ini dilakukan pada saat pembuatan penetration pin

c. Proses bench work

Proses ini dilakukan pada beberapa bagian diantaranya :

 Proses debur pada bagian sudut plate yang masih tajam

 Proses pengetapan pada plate untuk pemasangan baut pencekam pada

area guide pilar

 Proses pengecatan pada rangka

d. Proses perakitan

Proses perakitan dilakukan untuk menggabungkan komponen-komponen

alat uji lengkung dengan standard part yang telah tersedia untuk menjadi

unit alat uji yang utuh.

3.3. Perhitungan konstruksi

18
3.3.1. Rumus perhitungan guide pilar

Pada guide pilar pembebanan yang terjadi dikarenakan berat dari upper

plate yang harus disangga oleh pilar dimana defleksi yang terjadi pada guide

pilar harus seminimal mungkin. Pada kasus ini jenis tumpuan yang terjadi

adalah jenis tumpuan jepit-jepit seperti yang terlihat pada gambar 3.3

Gambar 3.3 Tumpuan Jepit bebas pada guide pilar

Adapun urutan rumus yang digunakan untuk menentukan dimensi dari

pilar adalah sebagai berikut :

a. Perhitungan beban tekuk (Fk)

𝐹𝑘 = 𝐹 × 𝛼

b. Perhitungan momen inersia penampang minimum (Imin)

𝐹𝑘 ×𝐿2
𝐼𝑚𝑖𝑛 = 4𝜋 2 𝐸

c. Menentukan diameter minimum guide pilar (Dmin)

Untuk menentukan dmin pada guide pilar dihitung berdasarkan momen

inersia penampang minimum. Adapun bentuk penampang guide pilar

adalah lingkaran, sehingga perumusan momen inersia adalah sebagai

berikut :

19
Dengan rumus inersia minimum adalah :
4
𝜋.𝑑𝑚𝑖𝑛
𝐼𝑚𝑖𝑛 = 64

3.3.2. Rumus perhitungan midle plate

Pada midle plate pembebanan yang terjadi berasal dari berat lower

clamping speciment (W1) dan gaya dorong dari dongkrak hidrolik (FH).

Pembebanan ini yang harus dapat ditanggung oleh midle plate dengan nilai

defleksi seminimal mungkin seperti yang terlihat pada gambar 3.4.

Gambar 3.4 Pembebanan Pada Middle Plate

Maka pada posisi ini dimensi dari midle plate didapatkan melalui langkah

perhitungan sebagai berikut :

a. Perhitungan inersia midle plate

20
Dengan rumus inersia permukaan segi empat pada midle plate adalah :

𝑏 .ℎ3
𝐼= Perhitungan beban total persatuan panjang pada midle plate (wtot)
12

Perhitungan pembebanan yang dihasilkan pada midle plate merupakan

hasil akumulasi berat komponen yang terdapat pada midle plate ini seperti

yang terlihat pada gambar 3.4. Pembebanan total persatuan panjang dari

midle plate didapatkan dengan rumus sebagai berikut :

∑𝑊 (∑ 𝑚)×𝑔
𝑤= =
𝑙 𝑙

c. Perhitungan defleksi maksimum akibat pembebanan merata pada midle

plate (ymax1)

Akibat pembebanan merata pada midle plate (w) maka pada batang

midle plate tersebut akan terjadi defleksi dengan nilai maksimum sesuai

dengan pembebanan yang terjadi.

Rumus defleksi maksimum yang terjadi pada midle plate akibat

pembebanan merata adalah sebagai berikut :

5𝑤𝑙4
𝑦𝑚𝑎𝑥1 = − 384.𝐸.𝐼

Tanda negatif (-) menunjukkan arah defleksi ke bawah

21
d. Perhitungan defleksi yang terjadi dengan gaya maksimum hidrolik (FMH)

di tengah

Pada midle plate beban terbesar berasal dari dorongan piston hidrolik

yang berasal dari bawah ke atas secara vertikal. Besar gaya yang diberikan

disesuaikan dengan kebutuhan gaya untuk melakukan pengujian bending

pada spesimen.

Gambar 3.5 Diagram Pembebanan Ditengah Pada Titik A

Rumus perhitungan defleksi maksimum pada midle plate akibat

pembebanan dari piston hidrolik adalah :

𝐹𝑙3
𝑦𝑚𝑎𝑥2 = 48.𝐸.𝐼

Arah defleksi bernilai positif (+) artinya arah defleksi yang terjadi

adalah keatas.

e. Perhitungan total defleksi yang terjadi dengan gaya maksimum hidrolik

(FMH) di tengah pada midle plate

22
Setelah perhitungan defleksi akibat beban merata dan dan defleksi

akibat gaya hidrolik keatas maka dapat ditentukan defleksi maksimum

secara total dengan perumusan sebagai berikut :

𝑦𝑚𝑎𝑥 = 𝑦𝑚𝑎𝑥1 + 𝑦𝑚𝑎𝑥2

Berdasarkan perhitungan diatas maka dapat dilihat arah dan besar

defleksi yang terjadi pada midle plate dengan ketentuan ymax bernilai

negatif jika arah defleksi ke bawah dan ymax bernilai positif jika arah

defleksi ke atas.

3.3.3. Rumus perhitungan baut pengikat

Pada konstruksi alat uji bending ini sistem pengikat yang digunakan

adalah dengan menggunakan baut pengikat jenis inbush screw / hexagonal

socket. Baut pengikat pada titik D menggunakan jenis baut tanam di dua posisi

dengan jarak l. Kedua baut ini mendapatkan pembebanan tekan (Ft) yang

berasal dari midle plate untuk melakukan pengujian spesimen.

Gambar 3.6 Diagram Pembebanan Pada Baut Pengikat

23
Untuk menghitung spesifikasi baut yang dibutuhkan pada konstruksi

alat uji tekuk ini dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Menghitung diameter dalam (core diameter) dari rancangan baut


𝜋
𝐹𝑡 = 4 . 𝑑𝑐2 . 𝜎̅𝑡 . 𝑛

4.𝐹
𝑑𝑐 = √𝜋.𝜎̅ 𝑡.𝑛
𝑡

b. Menentukan jenis baut pengikat

Setelah melakukan perhitungan diameter dalam baut, maka jenis baut

dapat ditentukan berdasarkan standar elemen mesin seperti yang tertera

pada tabel 3.2 dibawah ini.

Tabel 3.2 Daftar Ukuran Mur Baut Standar

Major Effective Minor or

and or pitch core


Depth
nominal diameter diameter (dc)
of Stress
Pitch diameter nut and mm
Designation thread area
(mm) Nut and bolt (dp)
(bolt) mm2
Bolt mm
Bolt Nut mm
(d=D)

mm

M4 0.7 4 3.545 3.141 3.242 0.429 8.78

M5 0.8 5 4.48 4.019 4.134 0.491 14.2

M6 1 6 5.35 4.773 4.918 0.613 20.1

M7 1 7 6.35 5.773 5.918 0.613 28.9

24
M8 1.25 8 7.188 6.466 6.47 0.767 36.6

M10 1.5 10 9.026 8.16 8.876 0.92 58.3

M12 1.75 12 10.863 9.85 10.10 1.074 84

M14 2 14 12.701 11.54 11.83 1.227 115

M16 2 16 14.701 13.54 13.83 1.227 157

3.4. Perhitungan Uji Defleksi Pada Spesimen

Setelah mesin uji bending selesai dibuat maka tahapan selanjutnya adalah

proses pengujian tekuk pada spesimen yang telah dipersiapkan. Adapun dimensi

spesimen yang dibuat disesuaikan dengan dimensi lower clamping speciment.

Hasil analisa defleksi pada pengujian tekuk dapat dihitung menggunakan

perumusan seperti dibawah ini.

25
Gambar 3.7. Skema Gaya Pada Pengujian Bending.

Berdasarkan gambar 3.7 maka untuk menghitung defleksi yang terjadi pada

saat pengujian spesimen adalah :

𝐹
 𝑅1 = 𝑅2 = 2

 𝑉𝐴𝐵 = 𝑅1 𝑉𝐵𝐶 = −𝑅2


𝐹.𝑥 𝐹
 𝑀𝐴𝐵 = 𝑀𝐵𝐶 = (𝑙 − 𝑥)
2 2
𝐹.𝑥
 𝑦𝐴𝐵 = 48.𝐸.𝐼 (4𝑥 2 − 3𝑙 2 )
𝐹𝑙3
 𝑦𝑚𝑎𝑥 = − 48.𝐸.𝐼

26
27