Anda di halaman 1dari 18

AKAD DAN TRANSAKSI DALAM BISNIS SYARIAH

A. Akad

Lafal akad berasal sari lafal arab al-‘aqd yang berarti perikatan, perjanjian atau pemufakatan al-ittifaq. secara terminologi
fiqih, akad didefinisikan sebagai pertalian ijab (Peryataan melakukan ikatan) dan qobul (Pernyataan menerima ikatan sesuai
dengan kehendak syariat yang berpengaruh pada objek perikatan (Haroen, 2000). Jadi, Akad adalah suatu perikatan,
perjajian yang ditandai adanya pernyataan melakukan ikatan (ijab) dan Pernyataan menerima ikatan (qobul) sesuai
dengan syariah islamiyah yang mempengaruhi objek yang diperikatnya oleh pelaku perikatan.

1. Rukun Akad

Rukun akad akan sah secara syariah apabila memenuhi rukun dari pada akad. Jumhur Ulama Fiqih menyatakan bahwa rukun
akad terdiri dari

a. Pernyataan untuk mengikatkan diri ( Sighat al-aqd)

b. Pihak- pihak yang berakat (al-muta’aqidain)

c. Objek akad ( al-ma’qud’alaih)

Jika satu unsur tersebut tidak ada maka akad tidak sah secara syariah.

2. Jenis-jenis transaksi dan akad

Di dalam ekonomi syariah pada umumnya akad dibedakan menjadi dua kelompok (Zulkifli, 2003)

a. Akad Tabarru,

b. Akad Tijarah

1. Akad tabarru ( Kontrak untuk teransaksi kebajikan)

Akas Tabarru merupakan perjanjian atau kontrak yang tidak mencari keuntungan materiil. Jadi bersifat kebijakan murni dan
hanya mengharap imbalan dari Allah SWT, digunakan untuk transaksi yang bersifat tolong menolong tanpa mengharapkan
adanya keuntungan materiil dari pihak-pihak yang melakukan perikatan. Dalam transaksi yang bersifat tabarru di
perbolehkan untuk memungut biaya administrasi yang akan digunakan habis dalam pengelolaan transaksi tabarru ini.
Sehingga benar-benar tidak ada unsur surplus atau keuntungan material yang diperoleh.

Jenis-jenis transaksi yang tergabung dalam tabarru :

a. Akad Qardh

Qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain
meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan. Institusi yang mengelola transaksi qardh adalah Bait al-Mal, Bait al-Zakah,
organisasi sosial, Bank Syariah, dan individual.

Rukun Al-Qardh

1. Pihak yang meminjam ( muqtaridh)

2. Pihak yang memberikan pinjaman ( muqridh)

3. Dana (qardh)

4. Ijab qabul ( sighat).

b. Akad Rahn

Rahn adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya.institusi yang
mengelola transaksi rahn pengadaian, koperasi, owner operators.

Rukun Rahn

1. Pihak yang mengadaikan (raahin)


2. Pihak yang menerima gadai (murtahin)

3. Objek yang digadaikan ( marhun)

4. Hutang (marhun bih)

5. Ijab qabul (sighat)

c. Akad Hawalah

Hawalah adalah pengalihan utang dari orang yang berhutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Artinya, ada
satu pihak yang menjamin utang pihak lain. Institusi yang mengelolah transaksi Hawalah adalah Bank sayriah.

Rukun Hawalah

1. Pihak yang berhutang (muhil)

2. Pihak yang berpiutang ( muhal)

3. Pihak yang berhutang dan berkewajiban membayar utang kepada muhal (Muhal’alih)

4. Utang muhil kepada muhal (muhal bih)

5. Utang muhal alaih kepada muhil

6. Ijab qabul (sighat)

d. Akad Wakalah

Wakalah adalah penyerahan ,pendelegasian atau pemberian mandat. orang yang diberikan amanat oleh orang lain maka
orang yang diberi amanat akan melakukan apa yang diamanatkan kepada dirinya atas nama orang yang memberikan amanat
(kuasa ) tersebut. Transaksi wakalah dapat ditemui pada perbankan, seperti transaksi penagihan, pebayaran, agency,
administasi dan lain-lain.

Rukun Wakalah

1. Pihak pemberi kuasa ( muwakkil )

2. Pihak penerima kuasa (wakil)

3. Objek yang dikuasakan (taukil)

4. Ijab qabul (sighat).

e. Akad Wadiah

Wadiah adalah titipan murni dari satu pihak kepihak lainnya baik individual maupun badan hukum yang harus dijaga dan
dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki. Transaksi dapat dijumpai di perbankan syariah yaitu adanya jasas
penghimpunan dana wadi’ah dari nasabah dalam bentuk trustee depository dan guarantee depository.

Jenis-jenis wadiah

1. Wadi’ah yad al-amanah

2. Wadi’ah yad adh-dhamanah

Rukun Wadi’ah

1. Barang/uang yang disimpan/dititipkan (wadi’ah)

2. Pemilik barang/uang yang bertindak sebagai pihak yang menitipkan (muwaddi)

3. Pihak yang menyimpan atau memberikan jasa custodian (mustaqwa)

4. Ijab qabul (sighat)

f. Akad Kafalah
Kafalah adalah jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau
yang ditanggung. Atau mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang
lain sebagai pemintam. Transaksi dapat dijumpai di perbankan syariah, seperti personal guarantee, jaminan pembayaran
hutang, performance bonds( jaminan prestasi ).

Rukun Kafalah

1. Pihak peminjam (kaafil)

2. Pihak yang dijamin (makful)

3. Objek penjaminan ( makful alaih)

4. Ijab qabul (sighat).

g. Akad Wakaf

Transaksi wakaf timbul jika suatu pihak memberikan suatu objek yang berbentuk uang ataupun objek lainnya tanpa disertai
kewajiban mengembalikan. Transaksi ini biasa dikelolah suatu lebaga yang sering disebut badan wakaf. Objek tersebut
digunakan untuk kegiatan kemaslahatan masyarakat dan tidak untuk di perjual belikan.

2. Akad Transaksi Tijarah (Kontrak untuk transakasi yang berorientasi laba)

sedangkan Akad Tijarah merupakan perjanjian/kontrak yang tujuannya mencari keuntungan usaha .

bentuk perusahaannya berupa perusahaan perorangan maupun sharikah (seperti Partnership, koorporasi, berupa perusahaan
perorangan maupun lebaga koperasi).transaksi dan Kontrak dalam ekonomi syariah dapat dikatagorikan menjadi dua,
(Zulkifli, 2003), yakni

a. Kontrak yang secara alamiah mengandung kepastian ( Natural Certainty Contract – NCC)

b. Kontrak yang secara ilmiyah mengandung ketidakpastian ( Natural Uncertainty Contract – NUC)

1. Objek pertukaran, terdiri 2 macam

a. ‘Ayn (real asset = harta nyata) berupa barang dan jasa, sererti tanah, gedung, mobil, peralatan, jasa parkir, jasa karyawan,
jasa guru dsb

b. Dayn (financial asset = harta keuangan ) harta yang memilliki nilai finansial, seperti uang dan surat-surat berharga.

2. Waktu pertukaran, terdiri 2 jenis

a. Naqdan ( immediate delivery = penyerahan segera), kondisi pertukaran dimana waktu pertukaran dilakukan tunai atau
segera atau sekarang (present atau spot)

b. Ghairu Naqdan (Deferred delivery = penyerahan tangguh), kondisi pertukaran dimana waktu pertukarannya dilakukan
dimasa yang akan datang atau di tangguhkan

Akad bai’ (akad jual-beli)

Al-bai’ dalam istilah fiqih berarti menjual, menganti, dan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Dalil Al-qur’an tentang jual beli

Transaksi jual beli tanah dihalalkan oleh Allah SWT dengan beberapa firmanNya. Yaitu seperti pada surat Al-Baqarah
275

Dalil Al-Hadist tentang jual- beli

Dasar hukum jual-beli dalam sunnah rasulullah SAW.diantaranya hadist dari rifa’ah ibn Rafi.

B. Rukun Jual-beli (Bai)

1. Penjual (Bai)

2. Pembeli (musytari)

3. Barang/objek (mabi)
4. Harga (tsaman)

5. Ijab qabul (sighat)

a. Bai’ Al-Murabahah

Bai’ al- Murabahah adalah bagian dari jenis bai’, yaitu jual-beli dimana harga jualnya terdiri dari harga pokok barang
yang dijual ditambah dengan sejumlah keuntungan (ribhun) yang disepakati oleh kedua belah pihak, pembelian dan penjual.

Dalil Al-Hadits tentang jual-beli

Dasar hukum jual-beli dalm sunnah rasulullah SAW, diantarannya adalah hadist dari Rifa’ah ibn Rafi,

Rukun Murabahah

1. Penjual ( Bai’)

2. Pembeli ( Musytari’)

3. Barang/objek (mabi)

4. Harga (tsaman)

5. Ijab Qabul (sighat)

b. Bai’ As-salam (jual- beli pesanan)

As-salam adalah transaksi jual beli suatu barang tertentu antara pihak penjual dan pembeli yang harga jualnya terdiri dari
harga pokok barang dan keuntungan yang ditambahkannya yang telah saling disepakati, dimana waktu penyerahan
barangnya dilakukan kemudian hari, sementara pembayarannya (penyerahan uangnya) dilakukan dimuka (secara tunai).

Dalil Al-Quran untuk Bai As-salam

Seperti dalam surat Al-Baqarah, 282, Allah Berfirman

“hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuanalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, maka hendaklah
kamu menuliskannya”.

Rukun Bai’ As-Salam

1. Penjual (Muslam alaih)

2. Pembeli ( Muslam )

3. Barang/objek ( muslam fihi)

4. Harga ( ra’sul maal as-salam)

5. Ijab qabul (sighat)

c. Bai Al-Istishna

Bai Al-Istishna adalah transaksi jual beli seperti prinsip bai as-salam, yaitu jual-beli yang penyerahannya dilakukan
kemudian tetapi penyerahan uangnya/ pembayarannya dapat dilakukan secara cicilan atau ditangguhkan, karena bai’ Al-
istishna merupakan jenis khusus dari bai’ as-salam maka landasan al-Quran dan Al-hadisnya sama seperti yang berlaku pada
bai’ as-salam.

Rukun Bai’ Al-istishna

1. Penjualan/penerima pesanan (shani)

2. Pembeli/pemesan (musytasni)

3. Barang/objek (masnu)

4. Harga (tsaman)

5. Ijab Qabul (sighat)


2. Ijarah (sewa dan menyewa)

Dalam perekonomian syariah juga dikenal adanya transaksi sewa menyewa suatu aset, yaitu dengan istilah ijarah.
Ijarah adalah transaksi pertukaran antara ‘ayn yang berbentuk jasa atau manfaat dengan dayn. Ijarah dapat didefinisikan
sebagai akad pemindahan hak atau manfaat atas barang atau jasa melalui upah sewa tanpa diikuti pemindah hak kepemilikan
atas barang itu sendiri.

Rukun Ijarah

1. Penyewa ( musta’jir)

2. Pemberi sewa ( mu’ajir)

3. Objek sewa ( ma’jur)

4. Harga sewa ( ujrah )

5. Manfaat sewa ( manfaah)

6. Ijab qobul (sighat )

3. Ijarah Muntahiyah Bitamilik (IMB)

Ijarah Muntahiyah Bitamilik adalah transaksi ijarah yang diikuti dengan proses pemindahan hak kepemilikan
atas/barang itu sendiri. Pengembangan dari Ijarah, maka ketentuan mengikuti ijarah.

Perpindah kepemilikan

Proses perpindahan objek dalam transaksi IMB secara umum dapat dilakukan denga cara sebagai berikut .

1. Hibah, yakni transaksi ijarah yang diakhiri dengan perpindahan kepemilikan barang dengan cara hibah dari kepemilikan
objek sewa kepada penyewa.

2. Janji untuk menjual, yakni transaksi ijarah yang diikuti dengan janji penjual barang objek sewa dari pemilik objek sewa
kepada penyewa dengan harga tertentu.

Rukun ijarah muntahiyah Bitamilik

1. Penyewa (musta’jir)

2. Pemberi sewa ( mu’ajir )

3. Objek sewa (ma’jur )

4. Harga sewa ( ujrah )

5. Manfaat sewa ( manfaah )

6. Ijab qabul (siqhat )

3. Sharf

Sharf adalah transaksi pertukaran dayn (mata uang ) dengan dayn ( mata uang ) yang berbeda atau jual beli mata uang
yang berbeda.

4. Barter ( Pertukaran barang dengan barang )

Barter adalah transaksi penukaran kepemilikan antara dua barang yang berbeda jenis, seperti menukar pesawat
terbang dengan beras, dalam barter tidak ada yang dirugikan maka informasi tentang harga dari kedua belah barang yang di
pertukarkan.

Rukun barter

1. Penjual (bai)

2. Pembeli ( musytari’)
3. Barang yang dipertukarkan ( mabi’)

4. Ijab qabul (sighat )

b. Akad “Natural Uncertainty Contract” (NUC)

yaitu akad transaksi dalam ekonomi syariah yang bertujuan mencari keuntungan, pencampuran antara objek
‘ayn,dayn’ atau pun suatu aset lain seperti keahlian yang disebut dengan “asy-syirkah” atau perkongsian antara dua belah
pihak atau lebih.

1. MUSYARAKAH

Musyarakah adalah akad kerjasama atau pencampuran antara dua pihak atau lebih untuk melakukan suatu usaha
tertentu yang halal dan produktif dengan kesepakatan bahwa keuntungan akan dibagikan sesuai dengan nisbah yang
disepakati dan resiko akan ditanggung sesuai dengan porsi kerjasama.

Jenis-jenis Musyarakah

1. Syirkah Mufawadhah

2. Syirkah Al-inan

3. Syirkah Al-Wujuh

4. Syirkah Al- Abdan/al-A’mal

5. Syirkah Al- Musharabah

B. TRANSAKSI DALAM BISNIS SYARIAH

Dalam sistem ekonomi yang berparadigma islami, transaksi senantiasa harus dilandasi oleh aturan hukum-hukum islam
(syariah), karena transaksi adalah manifestasi amal manusia yang bernilai ibadah dihadapan Allah SWT, sehingga dalam
transaksi dapat dikatagorikan menjadi dua, yakni

1. Transaksi yang halal,

Transaksi halal adalah semua transaksi yang diperbolehkan oleh Syariah Islamiyah, sedangkan

2. Transaksi yang haram

Transaksi haram adalah semua transaksi yang dilarang oleh Syariah Islamiyah.

Halal dan haramnya suatu transaksi tergantung dari pada beberapa kriteria, yaitu

1. Objek yang dijadikan transaksi apakah objek halal atau objek haram (madiyah )

2. Cara bertransaksi apakah cara bertransaksi halal atau bertransaksi haram (adabiyah).

BAB 3

PERHITUNGAN BAGI HASIL (APLIKASI PADA BANK SYARIAH )

a. Pengantar

Terdapat perbedaan yang mendasar antara sistem ekonomi islam dengan sistem ekonomi lainnya yaitu dengan tidak
diterapkannya bunga sebagai prantara beroperasinya sistem ekonomi tersebut. Dalam ekonomi islam bunga dinyatakan
sebagai “Riba” yang haram hukumnya. Dalam sistem ekonomi islam menggantinya dengan prantara “ bagi hasil” yang
dihalalkan oleh syariah islamiyah.

Perhitungan bagi hasil dapat didasarkan pada dua cara profit sharing (bagi laba) dan revenue sharing (bagi pendapatan).

1. Profit sharing (Bagi laba)

Profit sharing adalah perhitungan bagi hasil yang mendasarkan pada laba dari pengelola dana,yaitu pendapatan usaha
dikurangi dengan beban usaha untuk mendapatkan pendapatan usaha.
2. Revenue Sharing ( bagi pendapatan )

Revenue sharing adalah perhitungan bagi hasil yang mendasarkan pada revenue (pendapatan ) dari penglolaan dana, yaitu
pendapatan usaha sebelum dikurangi dengan beban usaha untuk mendapatkan pendapatan usaha tersebut.

b. Konsep bagi hasil

1. Pemilik dana menginvestasikan dananya melalui lembaga keuangan bang yang bertindak sebagai pengelola dana.

2. Pengelola/bank syariah mengelola dana tersebut di atas dalam sistem pool of fund, selanjutnya bank akan
menginvestasikan dana tersebut kedalam proyek/usaha yang layak dan menguntungkan serta memenuhi aspek syariah.

3. Keuda belah pihak menandatangani akad yang berisi ruang lingkup kerja sama, nominal, nisbah, dan jangka waktu
berlakunya kesepekatan tersebut.

b.1 Mekanisme Perhitungan Bagi Hasil

Perhitungan bagi hasil dalam perbangkan syariah dapat mengikuti tata cara dan ketentuan, yaitu seperti berikut.
(IBI,2003:265-266)

1. Hitung saldo rata-rata harian (SRRH) sumber dana sesuai klasifikasi dana yang dimiliki, misalnya tabungan mudharabah
dan investasi mudhawabah.

2. Hitung saldo rata-rata tertimbang sumber dana yang telah tersalurkan kedalam investasi dan produk-produk aset lainnya.

3. Hitung total pendapatan yang diterima dalam periode berjalan. Misalnya tahun 2003

4. Bandingkan antara jumlah sumber dana dengan total dana yang telah disalurkan.

5. Alokasikan total pendapatan kepasa masing-masing klasifikasi dana yang dimiliki sesuai dengan saldo rata-rata
tertimbang.

6. Perhatikan nisbah sesuai dengan kesepakatan yang tercantum dalam akad.

7. Distribusikan bagi hasil sesuai nisbah kepada pemilik dana sesuai klasifikasi dana yang dimiliki.

b.2 Nisbah atau rasio bagi hasil

nisbah merupakan ratio atau porsi bagi hasil yang akan diterima oleh tiap-tiap pihak yang melakukan akad kerja sama usaha,
yaitu pemilik dana ( shahibul maal) dan pengelola dana ( mudharib) yang tertuang dalam akad/perjanjian dan telah di
tandatangani pada awal sebalum dilaksanakan kerja sama usaha.

c. ILUSTASI PERHITUNGAN BAGI HASIL PADA “BPRS” RISALAH UMMAT-BRU”

BRU menerima dana dari nasabah dalam bentuk tabungan umum mudharabah (taubah), tabungan mudharabah haji/umrah
(thahirah), tabungan pelajar dan mahasiswa (tarjamah), tabungan wadiah debitur, deposito mudharabah : 1 bulan, 3 bulan, 6
bulan, dan 12 bulan.

BRU memperoleh pendapatan untuk dibagihasilkan kepada pemegang rekening tbaungan dan deposito tersebut diatas.
Perhitungan distribusi pendapatan dapat dilakukan dengan menggunakan prinfip revenue sharing dan profit sharing. Dalam
praktik BRU menggunakan revenue sharing dalam distribusi pendapatannya kepada pemilik dana (shahibul maal)/ investor )

UU Perkoperasian Dibatalkan Karena Berjiwa Korporasi

Mahkamah Konstitusi kembali membatalkan seluruh materi muatan suatu Undang-Undang. Kembali ke rezim koperasi di
bawah UU Perkoperasian 1992.

Roh korporasi terus merasuk ke sendi-sendi kehidupan negara, termasuk jiawa usaha yang sesuai dengan kegotongroyongan:
koperasi. Gara-gara bernuansa korporasi, UU No. 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian dibatalkan Mahkamah Konstitusi
(MK). Tak tanggung-tanggung, yang dibatalkan adalah seluruh materi muatan Undang-Undang tersebut.

Selain karena berjiwa korporasi, UU Perkoperasian telah menghilangkan asas kekeluargaan dan gotong royong yang menjadi
ciri khas koperasi. Menurut Mahkamah, UU Perkoperasian 2012 bertentangan dengan UUD 1945, dan menjadi tidak
mempunyai kekuatan hukum mengikat setelah putusan ini.
Untuk menghindari kekosongan hukum, Mahkamah menyatakan berlaku kembali UU Perkoperasian 1992. ”Undang-Undang
No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian berlaku untuk sementara waktu sampai dengan terbentuknya UU yang baru,” kata
Ketua Majelis Hakim Hamdan Zoelva saat membacakan putusan bernomor 28/PUU-XI/2013 di ruang sidang MK, Rabu
(28/5).

Permohonan ini diajukanGabungan Koperasi Pegawai Republik Indonesia (GPRI) Provinsi Jawa Timur, Pusat Koperasi Unit
Desa (Puskud) Jawa Timur, Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati), Pusat Koperasi An-Nisa Jawa Timur, Pusat
Koperasi Bueka Assakinah Jawa Timur, Gabungan Koperasi Susu Indonesia, Agung Haryono, dan Mulyono. Mereka
menguji Pasal 1 angka 1, Pasal 50 ayat (1), Pasal 55 ayat (1), Pasal 56 ayat (1), Pasal 66, Pasal 67, Pasal 68, Pasal 69, Pasal
70, Pasal 71, Pasal 72, Pasal 73, Pasal 74, Pasal 75, Pasal 76, Pasal 77, Pasal 80, Pasal 82, dan Pasal 83 UU Perkoperasian
2012.

Para pemohon menilai sejumlah pasal yang mengatur norma badan hukum koperasi, modal penyertaan dari luar anggota,
kewenangan pengawas dan dewan koperasi itu dinilai mencabut roh kedaulatan rakyat, demokrasi ekonomi, asas
kekeluargaan, kebersamaan yang dijamin konstitusi.

Misalnya, definisi koperasi menempatkan koperasi hanya sebagai ”badan hukum” dan/atau sebagai subjek berakibat pada
korporatisasi koperasi. Membuka peluang modal penyertaan dari luar anggota yang akan dijadikan instrumen oleh
pemerintah dan atau pemilik modal besar untuk diinvestasikan pada koperasi. Hal itu bentuk pengerusakan kemandirian
koperasi. Karena itu, para pemohon meminta MK membatalkan pasal-pasal itu karena bertentangan dengan UUD 1945.

Mahkamah menilai Pasal 1 angka 1 UU Perkoperasian yang menyebut koperasi sebagai badan hukum tidak mengandung
pengertian substantif, merujuk pada pengertian sebagai bangunan perusahaan khas. Hal tidak sejalan dengan koperasi seperti
dimaksud Pasal 33 ayat (1) UUD 1945.

”Dalil pemohon bahwa pengertian koperasi mengandung individualisme, sehingga dalil pemohon beralasan menurut
hukum,” kata anggota Majelis, Maria Farida Indrati saat membacakan pertimbangan hukumnya.

Pasal 50 ayat (1) huruf a, ayat (2), huruf a dan e dan Pasal 56 ayat (1) yang memberi tugas kepada pengawas untuk
mengusulkan pengurus, menerima atau menolak anggota baru hingga memberhentikan anggota kontradiktif dengan Pasal 5
ayat (1) dan Pasal 29 ayat (2) yang menjadikan demokrasi dan persamaan sebagai nilai dasar kegiatan koperasi. ”Pasal itu
bertentangan dengan prinsip demokrasi ekonomi,” tuturnya.

Maria melanjutkan Pasal 68 dan Pasal 69 yang mengharuskan anggota koperasi membeli sertipikat modal koperasi adalah
norma yang tidak sesuai prinsip koperasi yang bersifat sukarela dan terbuka dan bertentangan dengan Pasal 33 ayat (1) UUD
1945. ”Ini berarti orientasi koperasi telah bergeser ke arah usaha bersama sebagai modal (materil dan finansial) utamanya,”
lanjutnya.

Ditegaskan Mahkamah UU Perkoperasian mengutamakan skema permodalan materiil dan finansial yang mengesampingkan
modal sosial yang justru menjadi ciri fundamental koperasi sebagai suatu entitas khas pelaku ekonomi berdasarkan UUD
1945.

Karenanya, filosofi UU Perkoperasian ternyata tidak sesuai dengan hakikat susunan perekonomian sebagai usaha bersama
dan berdasarkan asas kekeluargaan yang termuat dalam Pasal 33 ayat (1) UUD 1945. ”Pengertian koperasi itu ternyata telah
dielaborasi dalam pasal-pasal lain dalam UU Perkoperasian, sehingga mereduksi atau bahkan menegasikan hak dan
kewajiban anggota dengan menjadikan kewenangan pengawas terlalu luas.”

Akibatnya, menurut Mahkamah, koperasi menjadi sama dan tidak berbeda dengan perseroan terbatas. Koperasi menjadi
kehilangan roh konstitusionalnya sebagai entitas pelaku ekonomi khas bangsa yang berfilosofi gotong royong. Mahkamah
berpendapat meskipun permohonan pemohon hanya mengenai pasal tertentu, namun karena pasal tersebut mengandung
materi muatan norma subtansial yang menjadi jantung UU Perkoperasian, maka harus dibatalkan seluruhnya.

”Sehingga jika hanya pasal-pasal tersebut yang dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai hukum
mengikat maka akan menjadikan pasal-pasal lain tidak dapat berfungsi lagi,” kata Maria.

Usai persidangan, salah satu pemohon Wigatiningsih mengungkapkan pembatalan UU Perkoperasian sudah sejalan dengan
jati diri koperasi. Karena itu, sejak putusan adanya putusan ini saat ini koperasi bukan lagi berbadan hukum yang
pengoperasiannya lebih condong seperti Perseroan Terbatas (PT).

Begitupula, modal pengelolaan koperasi pun berasal dari anggota, bukanlah dari non-anggota (pihak asing). “Jadi kalau ada
pemodal dari luar tentunya keuntungan bukan lagi milik anggota, malah menjadi milik pemodal. Jadi ada kekuasaan tertentu,
tidak sama dengan ’ruh’ koperasi terdahulu,” kata Wigatiningsih.

Pemohon menyatakan tetap konsisten terhadap UU Koperasi yang lama hingga terbitnya peraturan yang baru.

PERSIAPAN PEMBENTUKAN
Orang-orang yang akan mendirikan koperasi terlebih dahulu mendapatkan penerangan dan penyuluhan agar memperoleh
pengertian dan kejelasan mengenai maksud dan tujuan mendirikan koperasi termasuk struktur organisasi manajemen serta
kegiatan usaha koperasi.
RAPAT PEMBENTUKAN

1. Rapat sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) orang yang dipimpin oleh seorang/beberapa orang pendiri koperasi.
Pengertian :
a. Pendirian adalah mereka yang hadir dalam rapat pembentukan koperasi dan telah memenuhi persyaratan
keanggotaan dan menyatakan diri menjadi anggota.
b. Kuasa pendiri adalah beberapa orang dari pendiri yang diberi kuasa dan sekaligus ditunjuk oleh pendiri untuk
pertama kalinya sebagai pengurus koperasi untuk menandatangani akta anggaran dasar dan memproses
pengajuan Badan Hukum kepada Pemerintah.
2. Disarankan mengundang Pejabat / Petugas yang memahami seluk beluk perkoperasian.

HAL – HAL YANG DIBICARAKAN DALAM RAPAT

* Tujuan mendirikan koperasi


* Kegiatan usaha yang hendak dijalankan
* Persyaratan menjadi anggota
* Menetapkan modal yang akan disetor kepada koperasi diantaranya dari simpanan pokok dan simpanan wajib
* Memilih nama-nama pendiri koperasi
* Memilih nama-nama pengurus dan pengawas koperasi
* Menyusun anggaran dasar

TEKNIS PENYUSUNAN ANGGARAN DASAR

Apabila penyusunan anggaran dasar tidak mungkin disusun bersama-sama seluruh peserta rapat, dapat ditempuh:
1. Membentuk tim perumus penyusun anggaran dasar dengan tugas menyusun draf anggaran dasar yang bersifat umum dan
hasilnya dilaporkan kepada pendirian koperasi untuk dimintakan pengesahan kepada kepada seluruh anggota
2. Hal-hal khusus yang perlu dibahas oleh seluruh peserta (tidak diserahkan kepada tim perumus) diantaranya :
a. Nama dan tempat kedudukan koperasi
b. Persyaratan menjadi anggota
c. Besarnya simpanan pokok dan simpanan wajib
d. Nama-nama pendiri, pengurus dan pengawas
e. Kegiatan usaha
f. Ketentuan mengenai penggunaan sisa hasil usaha
g. Ketentuan mengenai sanksi
3. Isi Anggaran Dasar minimal memuat tentang :
a. Daftar nama pendiri
b. Nama dan tempat kedudukan koperasi
c. Ketentuan mengenai keanggotaan
d. Maksud dan tujuan serta bidang usaha
e. Ketentuan mengenai rapat anggota
f. Ketentuan mengenai pengelolaan
g. Ketentuan mengenai permodalan
h. Ketentuan mengenai jangka waktu berdirinya koperasi
i. Ketentuan mengenai pembagian sisa hasil usaha
j. Ketentuan mengenai sangsi.

PENGAJUAN PERMOHONAN PENGESAHAN AKTA PENDIRIAN KOPERASI

Permohonan disampaikan kepada :


LAMPIRAN PERMOHONAN
Koperasi Primer yang tidak memiliki unit usaha simpan pinjam.
1. Dua rangkap akta pendirian koperasi, satu diantaranya bermaterai cukup
2. Berita acara pembentukan koperasi
3. Surat bukti penyetoran modal
4. Neraca awal kegiatan usaha
5. Rencana kerja awal kegiatan usaha
6. Daftar hadir rapat pembentukan
7. Foto copy KTP masing-masing anggota pendiri
Primer Koperasi yang memiliki unit usaha simpan pinjam.
1. Dua rangkap akta pendirian koperasi, satu diantaranya bermaterai cukup
2. Berita acara pembentukan koperasi
3. Surat bukti penyetoran modal.
4. a. Neraca awal khusus unit simpan pinjam per…
b. Neraca awal kegiatan usaha non simpan pinjam
5. a. Rencana kerja awal kegiatan usaha non simpan pinjam
b. Rencana awal kegiatan usaha simpan pinjam meliputi :
* Rencana penghimpunan dana simpanan
* Rencana pemberian pinjaman
* Rencana penghimpunan modal sendiri
* Rencana modal pinjaman
* Rencana pendapatan dan beban
* Rencana di bidang organisasi dari sumber daya manusianya
6. Daftar hadir rapat pembentukan
7. Nama dan riwayat hidup pengurus, pengawas dan manajer unit simpan pinjam
8. Daftar sarana kerja yang telah disiapkan
9. Surat perjanjian kerja antara pengurus dengan manager unit simpan pinjam
10. Foto copy KTP masing-masing anggota pendiri

KOPERASI SIMPAN PINJAM

1. Dua rangkap akta pendirian koperasi, satu diantaranya bermaterai cukup


2. Berita acara rapat pembentukan Koperasi Simpan Pinjam
3. Surat bukti penyetoran modal sendiri sekurang-kurangnya Rp. 15.000.000,-
4. Neraca awal per tanggal pendirian koperasi
5. Rencana awal kegiatan usaha meliputi :
a. Rencana penghimpunan dana simpanan
b. Rencana pemberian pinjaman
c. Rencana penghimpunan modal sendiri
d. Rencana modal pinjaman
e. Rencana pendapatan dan beban
f. Rencana dibidang organisasi dan sumber daya manusianya.
6. Daftar hadir rapat pembentukan
7. Nama dan riwayat hidup calon pengelola/manajer dengan lampiran
a. Sertifikat pelatihan simpan pinjam dan atau keterangan pernah mengikuti magang di usaha simpan pinjam
b. Surat keterangan berkelakuan baik dari yang berwenang
c. Surat pernyataan tidak mempunyai hubungan keluarga dengan pengurus sampai dengan derajat kesatuan
8. Daftar sarana kerja yang telah dipersiapkan
9. Foto copy KTP masing-masing anggota pendiri.

PENERIMA PERMOHONAN OLEH PEJABAT

Apabila permohonan dimaksud telah lengkap dan benar maka pemerintah memberikan tanda terima, dan berkasnya segera
diproses akan tetapi apabila berkasnya belum lengkap dan belum benar permohonan dimaksud dikembalikan untuk
diperbaiki.
PENELITIAN PERMOHONAN OLEH PEJABAT
1. Secara administratif
2. Penelitian lapangan.
PENGESAHAN AKTA PENDIRIAN KOPERASI
Dengan Surat Keputusan Menteri Negara Koperasi Pengusaha Kecil dan Menengah yang ditanda tangani oleh Kepala Dinas
Koperasi Pengusaha Kecil dan Menengah Kabupaten/Kota.

Notaris dan Koperasi

A. Peran Notaris Dalam Pendirian Koperasi.

Upaya pemerintah dalam memberikan kekuatan dan jaminan kepastian hukum bagi para pelaku
usaha Koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia, telah menjadi agenda kerja pemerintah, yang selanjutnya
diaplikasikan dalam bentuk penandatanganan naskah kesepakatan dan kerjasama (MoU) antara Kementerian Negara
Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dengan Ikatan Notaris Indonesia (I.N.I) pada tanggal 4 Mei 2004.

Nota kesepakatan dan kerjasama tersebut diatas, kemudian ditindak lanjuti dalam bentuk diterbitkannya Surat Keputusan
Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Nomor: 98/KEP/M.KUKM/IX/2004 tentang Notaris sebagai Pembuat
Akta Koperasi. Keputusan tersebut dikeluarkan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan hukum dalam bidang
perkoperasian, khususnya yang berkaitan dengan proses, prosedur dan tata cara pendirian, perubahan anggaran dasar dan
akta-akta lain yang terkait dengan kegiatan Koperasi, diperlukan adanya upaya untuk menjamin kepastian hukum terhadap
akta-akta perkoperasian, melalui penggunaan akta otentik.
Menurut Pasal 1 ayat 4 Keputusan Menteri Negara Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah Republik Indonesia Nomor:
98/KEP/M.KUKM/IX/2004 Tentang Notaris Sebagai Pembuat Akta Koperasi, menyebutkan bahwa pengertian Notaris
Pembuat Akta Koperasi adalah: “pejabat umum yang diangkat berdasarkan Peraturan Jabatan Notaris yang diberi wewenang
antara lain untuk membuat akta pendirian, akta perubahan anggaran dasar dan akta-akta lainnya yang terkait dengan
kegiatan Koperasi”.

Setelah diterbitkannya Keputusan Menteri Negara Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah Republik Indonesia Nomor:
98/KEP/M.KUKM/IX/2004 tentang Notaris Sebagai Pembuat Akta Koperasi, maka ditetapkan Notaris sebagai Pejabat
Pembuat Akta Koperasi, hal tersebut sebagaimana dalam Pasal 2 ayat 1 yang menyebutkan bahwa: “Notaris pembuat akta
Koperasi berkedudukan sebagai pihak yang bekerja berdasarkan kode etik jabatannya dan memberikan pelayanan kepada
masyarakat dalam proses pendirian, perubahan anggaran dasar dan akta-akta lain yang terkait dengan kegiatan Koperasi”.

Fungsi dan manfaat dibuatnya anggaran dasar Koperasi dengan akta otentik adalah sebagai alat bukti, hal tersebut bertujuan
agar akta pendirian Koperasi mempunyai status yang otentik dan oleh karena harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:

1. Akta itu harus dibuat “oleh” (door) atau “dihadapan” (ten overstaan)seorang pejabat umum;

2. Akta itu harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang;

3. Pejabat umum oleh atau dihadapan siapa akta itu dibuat, harus mempunyai wewenang untuk membuat akta itu.

Berdasarkan ketentuan di atas agar suatu akta Notaris termasuk akta anggaran dasar Koperasi dan akta perubahannya tidak
kehilangan statusnya sebagai akta otentik harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundanga-undang dalam proses
pembuatannya. Apabila salah satu persyaratan di atas tidak dipenuhi maka akta tersebut hanya mempunyai kekuatan seperti
akta yang dibuat di bawah tangan.

Meskipun demikian, persetujuan pemberian izin terhadap Akta pendirian Koperasi tetap dipegang oleh pemerintah. Apabila
terdapat permasalahan berkaitan dengan bidang hukum dalam akta Koperasi yang dibuat oleh Notaris tersebut, maka yang
bertanggung jawab adalah Notaris yang bersangkutan, karena pemerintah hanya melakukan pengesahan saja.

Sebelum menjalankan tugas jabatannya sebagai Pembuat Akta Koperasi, maka menurut ketentuan dalam Pasal 4 Keputusan
Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor: 98/Kep/M.KUKM/IX/2004, Notaris harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:

1. Notaris yang telah berwenang menjalankan jabatan sesuai Peraturan Jabatan Notaris.

2. Memiliki sertifikat tanda bukti telah mengikuti pembekalan di bidang perkoperasian yang ditandatangani oleh Menteri.

Setelah mendapat sertifikat bukti mengikuti pembekalan dibidang perkoperasian yang ditandatangani Menteri, seorang
Notaris harus melapor kepada Kepala Dinas/Instansi yang membidangi Koperasi tingkat Kabupaten/Kota dengan
melampirkan:

1. Surat keputusan pengangkatan Notaris

2. Sertifikat tanda bukti telah mengikuti pembekalan di bidang perkoperasian

3. Alamat kantor serta contoh tanda tangan, contoh paraf dan cap jempol Notaris.

Selanjutnya berdasarkan ketentuan Pasal 5 ayat 2 Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
Republik Indonesia Nomor: 98/KEP/M.KUKM/IX/2004, dinyatakan bahwa:

Kepala Dinas/Instansi yang membidangi Koperasi tingkat Kabupaten/ Kota memberi tanda terima permohonan dan
menyampaikan berkas pendaftaran kepada Menteri dengan tembusan kepada Kepala Dinas/Instansi yang membidangi
Koperasi tingkat Propinsi/DI paling lama dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterimanya permohonan
secara resmi.

Setelah melewati tahap tersebut diatas, maka Menteri menetapkan Notaris sebagai Pejabat Pembuat Akta Koperasi melalui
Surat Keputusan Menteri”. Keputusan tersebut disampaikan langsung kepada Notaris yang bersangkutan dengan tembusan
kepada Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Gubernur dan Kepala Dinas/Instansi yang membidangi Koperasi
tingkat Propinsi/DI serta kepada Bupati/Walikota dan Kepala Dinas/Instansi yang membidangi Koperasi tingkat
Kabupaten/Kota pada tempat kedudukan Notaris, hal tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 5 ayat 4 Keputusan
Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor: 98/KEP/M.KUKM/IX/2004, Notaris
Pembuat Akta Koperasi wajib menyampaikan foto copy dan menunjukkan asli Surat Keputusan Menteri Kepada
Dinas/Instansi yang membidangi Koperasi tingkat Kabupaten/Kota.

Pada tahap proses dalam mendirikan sebuah Koperasi, ada beberapa tahap yang harus dilalui, yang pertama pengumpulan
anggota, karena untuk menjalankan Koperasi membutuhkan minimal 20 anggota. Kedua, pelaksanaan Rapat Pembentukan
Koperasi, gunanya adalah untuk melakukan pemilihan pengurus Koperasi (ketua, sekretaris dan bendahara). Setelah
itu, Koperasi tersebut harus merencanakan anggaran dasar dan anggaran dasar rumah tangga Koperasi itu. Setelah ada
anggota minimal 20 orang anggota, sudah ada pengurus dan sudah ada anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya, dan
ditunjuklah kuasanya berdasarkan surat kuasa untuk menghadap Notaris Pembuat Akta Koperasi. Namun ada juga yang tidak
ditunjuk kuasa.

Pelaksanaan rapat pendirian yang dihadiri oleh para pendiri ini, dituangkan dalam berita acara rapat pembentukan dan akta
pendirian yang memuat anggaran dasar Koperasi. Apabila diperlukan, dan atas permohonan para pendiri, maka Pejabat
Departemen Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah dalam wilayah domisili para pendiri, dapat diminta hadir untuk
membantu kelancaran jalannya rapat dan memberikan petunjuk-petunjuk seperlunya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Devi Juliastuti Notaris di Kabupaten Deli Serdang, dokumen pendukung yang
diperlukan dalam pembuatan akta pendirian Koperasi adalah:

1. Berita acara rapat pembentukan Koperasi

2. Daftar pendiri Koperasi

3. Daftar inventaris

4. Foto copy Kartu Tanda Penduduk masing-masing anggota

5. Anggaran dasar Koperasi

6. Daftar hadir rapat pembentukan Koperasi.

Akta pendirian atau anggaran dasar suatu Koperasi yang dibuat otentik oleh dan ditanda tangani di hadapan Notaris, harus
dicantumkan nama-nama anggota atau orang-orang yang dipercayai dan ditunjuk untuk duduk dalam organ manajemen
Koperasi, seperti pengurus, pengelola, pengawas yang bersedia untuk menjalankan usaha Koperasi. Anggaran dasar dan
anggaran rumah tangga, berlaku sebagai dokumen persetujuan atau perjanjian antara para pendiri. Dengan demikian, karena
suatu perjanjian wajib ditaati dan berlaku sebagai undang-undang yang mengikat para pembuatnya.

Ketentuan mengenai anggaran dasar dalam akta pendirian Koperasi harus memuat antara lain:

1. Daftar nama pendiri.

2. Nama dan tempat kedudukan.

3. Landasan, azas dan prinsip.

4. Maksud dan tujuan serta bidang usaha.

5. Ketentuan mengenai keanggotaan.

6. Ketentuan mengenai rapat anggota.

7. Ketentuan mengenai pengurus.

8. Ketentuan mengenai pengawas.

9. Ketentuan mengenai pengelola usaha.

10. Ketentuan mengenai penasehat.

11. Ketentuan mengenai pembukuan Koperasi.

12. Ketentuan mengenai permodalan.

13. Ketentuan mengenai jangka waktu berdirinya Koperasi.

14. Ketentuan mengenai sisa hasil usaha.

15. Ketentuan mengenai sangsi.

16. Ketentuan mengenai pembagian, penggabungan, peleburan dan pembubaran.

17. Ketentuan mengenai perubahan anggaran dasar.


18. Ketentuan mengenai anggaran rumah tangga dan peraturan khusus.

Sebagai Notaris pembuat akta Koperasi yang mempunyai tugas pokok membuat akta otentik sebagai bukti telah
dilakukannya suatu perbuatan hukum tertentu dalam proses pendirian, perubahan anggaran dasar serta akta-akta lainnya
yang terkait dengan kegiatan Koperasi, maka langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Notaris terhadap akta pendirian
Koperasi tersebut adalah melakukan permohonan pengesahannya kepada pejabat yang berwenang.

Menurut Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Nomor: 01/Per/M.KUKM/1/2006 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pembentukan, Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi. Pengesahan akta pendirian
Koperasi, para pendiri Koperasi dapat mempersiapkan sendiri akta pendirian Koperasi atau melalui bantuan Notaris pembuat
akta Koperasi.

Tujuan diadakannya pengesahan akta pendirian Koperasi, adalah untuk memperoleh status sebagai badan hukum. Status
badan hukum yang dimaksudkan oleh pembuat undang-undang, intinya adalah berupa registrasi atau pencatatan di
lembaga pemerintahan dan pengumuman dalam Berita Negara Republik Indonesia. Sebagaimana halnya dengan pendirian
suatu badan hukum, maka pendirian suatu Koperasi tidak dapat digolongkan pada suatu perjanjian obligatoir, tetapi
merupakan tindakan hukum berganda berdasarkan pada aturan hukumnya sendiri serta formil sifatnya.

Koperasi akan memperoleh status badan hukum, setelah mendapat pengesahan oleh Menteri atau pejabat yang berwenang.
Pengesahan akta pendirian Koperasi tersebut disahkan apabila setelah diadakan penelitian anggaran dasar Koperasi tidak
bertentangan dengan Undang-undang Koperasi Nomor 25 Tahun 1992, dan tidak bertentangan dangan ketertiban umum dan
kesusilaan.

Terhadap permohonan pengesahan akta pendirian Koperasi, berdasarkan ketentuan Pasal 7 ayat 1 Peraturan Menteri tersebut,
surat permohonan yang diajukan harus melampirkan:

a. 1 (satu) salinan akta pendirian Koperasi bermaterai cukup;

b. Data akta pendirian Koperasi yang dibuat dan ditanda tangani oleh Notaris;

c. Surat bukti tersedianya modal yang jumlahnya sekurang-kurangnya sebesar simpanan pokok dan simpanan wajib yang
wajib dilunasi oleh para pendiri;

d. Rencana kegiatan usaha Koperasi minimal tiga tahun ke depan dan Rencana Anggaran belanja dan pendapatan Koperasi;

e. Dokumen lain yang diperlukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Agar akta pendirian Koperasi dapat diajukan permohonan pengesahannya sebagai badan hukum, maka berdasarkan
ketentuan Pasal 7 ayat 2 permintaan pengesahan akta pendirian Koperasi harus melampirkan yaitu:

a. Dua rangkap akta pendirian Koperasi, satu diantaranya bermaterai cukup;

b. Data akta pendirian Koperasi yang dibuat dan ditanda tangani oleh kuasa pendiri;

c. Notulen rapat pembentukan Koperasi;

d. Surat kuasa;

e. Surat bukti tersedianya modal yang jumlahnya sekurang-kurangnya sebesar simpanan pokok dan simpanan wajib yang
wajib dilunasi para pendiri;

f. Rencana kegiatan usaha Koperasi minimal tiga tahun kedepan dan rencana anggaran belanja dan pendapatan Koperasi;

g. Daftar hadir rapat pembentukan;

h. Untuk Koperasi primer melampirkan foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) dari para pendiri;

i. Untuk Koperasi sekunder melampirkan keputusan rapat anggota masing-masing Koperasi tentang persetujuan
pembentukan Koperasi sekunder dan foto copy akta pendirian serta anggaran dasar masing-masing Koperasi pendiri.

Permohonan pengesahan akta pendirian Koperasi kepada pejabat, tergantung pada bentuk Koperasi yang didirikan dan
luasnya wilayah keanggotaan Koperasi yang bersangkutan, dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Kepala Kantor Departemen Koperasi usaha kecil dan menengah Kabupaten/Kota mengesahkan akta pendirian Koperasi
yang anggotanya berdomisili dalam wilayah Kabupaten/Kota.

b. Kepala Kantor Wilayah Departemen Koperasi Usaha Kecil Menengah Provinsi/Daerah Istimewa mengesahkan akta
pendirian Koperasi primer dan sekunder, yang anggotanya berdomisili dalam wilayah provinsi/ Daerah Istimewa yang
bersangkutan dan Koperasi primer yang anggotanya berdomisili di beberapa Provinsi/ Daerah Istimewa, namun Koperasinya
berdomisili di wilayah kerja Kanwil yang bersangkutan.

c. Sekretaris Jenderal Departemen Koperasi Usaha Kecil Menengah (Pusat), mengesahkan akta pendirian Koperasi
sekunder yang anggotanya berdomisili di beberapa provinsi.

Permohonan pengesahan akta pendirian Koperasi tidak selalu diterima, apabila ada kekurangan maka ditolak. Apabila terjadi
penolakan (dengan alasan-alasan tertentu) dari yang berwenang, maka para pendiri (atau melalui Notaris) dapat mengajukan
kembali permintaan untuk pengesahan setelah semua alasan penolakan tersebut dipenuhi, baik berupa: perbaikan,
penambahan atau pengurangan, ataupun penyempurnaan. Pengajuan kembali permohonan tersebut tidak boleh lewat dari 1
(satu) bulan setelah penolakan diterima. Setelah persyaratan terpenuhi, maka paling lambat dalam tempo 1 (satu) bulan
berikutnya akan diperoleh keputusan kembali mengenai permintaan pengesahan Koperasi tersebut.

Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 14 Peraturan Menteri Koperasi Nomor: 01/Per/M.KUKM/1/2006, dinyatakan bahwa
perubahan anggaran dasar Koperasi dilakukan berdasarkan keputusan rapat anggota perubahan anggaran dasar Koperasi,
sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam anggaran dasar Koperasi yang bersangkutan, dan wajib dituangkan dalam:

a. Berita acara rapat anggota perubahan anggaran dasar yang dibuat dan ditanda tangani oleh Notaris, apabila rapat
perubahan anggaran dasar dihadiri oleh Notaris;

b. Notulen rapat anggota perubahan anggaran dasar Koperasi, yang ditanda tangani oleh pimpinan rapat dan sekretaris rapat
atau salah seorang peserta rapat, apabila rapat perubahan anggaran dasar tidak dihadiri oleh Notaris.

Terhadap perubahan anggaran dasar Koperasi yang dilakukan, maka perlu mendapat pengesahan Menteri Negara Koperasi
apabila perubahan Anggaran Dasar tersebut memuat materi yang mendasar dan sangat berpengaruh bagi kegiatan Koperasi,
yaitu perubahan kegiatan usaha, penggabungan/marger dan pemisahan Koperasi.

Pernbuatan akta Koperasi oleh Notaris bukan berarti mengurangi kewenangan Pemerintah dalam pengesahan akta pendirian,
perubahan anggaran dasar, penggabungan, peleburan dan pembubaran Koperasi. Kehadiran dan keterlibatan Notaris dalam
pendirian Koperasi memberikan mafaat yang positif, karena sangat membantu pemerintah mempercepat proses pengesahan
akta-akta Koperasi, sekaligus memberikan kepastian hukum, sehingga tidak ada keraguan pengusaha lain jika melakukan
ikatan usaha dengan Koperasi.

B. Tanggung Jawab Notaris Apabila Akta Pendirian Koperasi Yang Dibuat Dihadapannya Cacat Hukum.

Notaris pembuat akta Koperasi berkedudukan sebagai pihak yang bekerja berdasarkan kode etik jabatannya dan memberikan
pelayanan kepada masyarakat dalam proses pendirian, perubahan anggaran dasar dan akta-akta lain yang terkait dengan
kegiatan Koperasi. Notaris pembuat akta Koperasi mempunyai tugas pokok membuat akta otentik sebagai bukti telah
dilakukannya suatu perbuatan hukum tertentu dalam proses pendirian, perubahan anggaran dasar serta akta-akta lainnya
yang terkait dengan kegiatan Koperasi untuk dimohonkan pengesahannya kepada pejabat yang berwenang.

Akta otentik yang dibuat dihadapan Notaris lahir dan tercipta karena adanya 2 (dua) hal yaitu:

1. Atas dasar permintaan atau kehendak oleh yang berkepentingan agar perbuatan hukum mereka itu dinyatakan atau
dituangkan dalam bentuk akta otentik, dan/atau

2. Selain karena permintaan atau dikehendaki oleh yang berkepentingan, juga karena undang-undang menentukan agar
perbuatan hukum tertentu harus (dengan diancam kebatalan jika tidak) dibuat dalam bentuk akta otentik.

Akta otentik lahir dan bersumber dari seorang pejabat yang diberi kewenangan untuk itu, hal tersebut berdasarkan ketentuan
Pasal 1868 KUHPerdata: “suatu akta otentik ialah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang,
dibuat oleh atau dihadapan Pejabat Umum yang berkuasa utnuk itu dimana akta itu dibuatnya”.

Notaris sebagai pejabat umum kepadanya diembankan amanat dari 2 (dua) sumber yaitu:

a. Anggota masyarakat yang menjadi klien Notaris itu menghendaki agar Notaris membuatkan akta otentik bagi yang
berkepentingan dengan secara tersirat membuat kalimat amanat “penuhilah semua persyaratan formal untuk keabsahan
sebagai akta otentik”.

b. Amanat berupa perintah undang-undang (secara tidak langsung) kepada Notaris agar untuk perbuatan hukum tertentu
dituangkan dan dinyatakan dengan akta otentik, hal itu mengandung makna bahwa Notaris terikat dan berkewajiban untuk
mentaati peraturan yang mempersyaratkan sahnya sebagai akta otentik.
Notaris dalam kedudukannya sebagai pembuat akta Koperasi dan karena jabatannya bertanggung jawab atas otentisitas dari
akta-akta yang dibuatnya, hal tersebut berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (2) Keputusan Menteri Negara Koperasi Dan
Usaha Kecil Dan Menengah Republik Indonesia Nomor: 98/KEP/M.KUKM/IX/2004 Tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pembentukan, Pengesahan Akta Pendirian Dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi.

Kesalahan dalam pembuatan akta pendirian Koperasi yang dilakukan oleh Notaris akan membuat akta pendirian tersebut
menjadi cacat hukum. Sebagai dampaknya adalah dalam pendirian Koperasi maka pejabat yang berwenang akan menolok
permohonan pengesahan akte pendirian badan sebagai badan hukum. Terhadap kesalahan tersebut maka berdasarkan Pasal
12 Peraturan Menteri Negara Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah Republik Indonesia Nomor:
01/Per/M.KUKM/2006 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembentukan, Pengesahan Akta Pendirian Dan Perubahan Anggaran
Dasar Koperasi, pejabat yang berwenang untuk itu akan menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

a. Pejabat yang berwenang untuk itu akan menyampaikan penolakan yang disampaikan secara tertulis beserta alasan kepada
kuasa pendiri dengan surat tercatat dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan terhitung sejak diterimanya permintaan
pengesahan secara lengkap.

b. Terhadap penolakan pengesahan tersebut, para pendiri atau kuasanya dapat mengajukan permintaan ulang pengesahan
atas akta pendirian Koperasi, dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak diterimanya pemberitahuan
penolakan dengan melampirkan berkas-berkas yang telah ditentukan untuk itu.

c. Pejabat yang berwenang memberikan tanda terima kepada kuasa pendiri yang mengajukan permintaan ulang.

d. Pejabat yang berwenang, memberikan keputusan terhadap permintaan ulang tersebut dalam jangka waktu paling lambat
1 (satu) bulan terhitung sejak diterimanya permintaan ulang pengesahan secara lengkap.

e. Apabila permintaan ulang pengesahan tersebut disetujui maka surat keputusan pengesahan akta pendirian disampaikan
langsung kepada kuasa para pendiri.

f. Apabila permintaan ulang pengesahan ditolak maka keputusan penolakan beserta alasannya disampaikan kepada pendiri
atau kuasanya dengan surat tercatat dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak keputusan penolakan
ditetapkan,

g. Keputusan terhadap permintaan ulang tersebut merupakan keputusan akhir.

Ketentuan Pasal 41, Pasal 44, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50, Pasal 51 dan Pasal 52 Undang-Undang Jabatan Notaris apabila
tidak dipenuhi oleh Notaris pembuat akta Koperasi yang mengakibatkan akta Koperasi yang dibuatnya hanya mempunyai
kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan atau suatu akta mejadi batal demi hukum dapat menjadi alasan bagi
pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi dan bunga kepada Notaris.

Sedangkan di dalam Pasal 1365 KUHPerdata, yang berbunyi tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian
kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut. Unsur-
unsur yang terkandung di dalam Pasal 1365 KUHPerdata mengenai perbuatan melawan hukum, mengandung 4 (empat)
unsur yaitu :

a. Harus adanya perbuatan

b. Perbuatan itu melanggar hukum

c. Harus ada kerugian bagi orang lain

d. Adanya kesalahan dari si pembuat

Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 84 UUJN yakni tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh Notaris terhadap ketentuan
sebagaimana yang dimaksud oleh undang-undang yang mengakibatkan suatu akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian
sebagai akta di bawah tangan atau suatu akta menjadi batal demi hukum dapat menjadi alasan bagi pihak yang menderita
kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan bunga kepada Notaris.

Namun sebelum Notaris yang bersangkutan dapat dihukum untuk membayar ganti kerugian, bunga mapun biaya-biaya
lainnya, haruslah terlebih dahulu kesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh Notaris dalam pembuatan akta pendirian
Koperasi maupun perubahan anggaran dasar dibuktikan, dengan melihan unsur-unsur:

a. Adanya kerugian yang diderita sebagai akibat pembuatan akta tersebut.

b. Antara kerugian yang diderita dan pelanggaran atau kelalaian dari Notaris tersebut terdapat hubungan kausal.
c. Pelanggaran (perbuatan) atau kelalaian itu disebabkan kesalahan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Notaris
yang bersangkutan.

Tanggung jawab seseorang atas apa yang dibuatnya tentunya merupakan kewajiban masing-masing individu tersebut. Suatu
amanat yang diberikan kepadanya bagi perlindungan seseorang. Disini Notaris diberikan wewenang untuk membuat akta
otentik dalam arti menyusun, membacakan dan menandatangani, serta diwenangkan membuat akta dalam bentuk yang
ditentukan menurut KUHPerdata maupun Undang-Undang Jabatan Notaris.

Tanggung Jawab Dewan Komisaris Jika Perseroan Merugi

Dewan Komisaris, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas (“UUPT”), adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus serta
memberi nasihat kepada Direksi.[1]

Dalam menjalankan tugasnya jika perseroan merugi, maka setiap anggota Dewan Komisaris ikut bertanggung jawab secara
pribadi atas kerugian Perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya. Dalam hal
Dewan Komisaris terdiri atas 2 (dua) anggota Dewan Komisaris atau lebih, tanggung jawab tersebut berlaku secara tanggung
renteng bagi setiap anggota Dewan Komisaris.[2]

Hal senada juga disampaikan oleh Yahya Harahap dalam bukunya Hukum Perseroan Terbatas. Prinsip hukum yang
ditegakkan apabila anggota Dewan Komisaris salah atau lalai menjalankan tugas pengawasan dan pemberian nasihat, dan
atas kesalahan atau kelalaian itu perseroan mengalami kerugian, maka setiap anggota Dewan Komisaris,bertanggung jawab
secara pribadi (personal liability) atas kerugian dimaksud.[3]

Bertitik tolak dari ketentuan di atas, dapat dikonstruksi tanggung jawab pribadi anggota Dewan Komisaris yang salah atau
lalai melaksanakan tugas:[4]

1. Setiap anggota Dewan Komisaris ikut bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian perseroan;

2. Tanggung jawab pribadi melekat pada diri anggota Dewan Komisaris apabila ia bersalah (guilty), atau lalai (negligence)
menjalankan tugas pengawasan atau pemberian nasihat;

3. Meskipun kerugian itu timbul dari pengurusan Direksi, anggota Dewan Komisaris tetap bertanggung jawab secara
pribadi, apabila dalam pengawasan pelaksanaan pengurusan Direksi itu terdapat unsur kesalahan atau kelalaian anggota
Dewan Komisaris;

4. Luasnya tangggung jawab pribadi anggota Dewan Komisaris, sebatas kesalahan dan kelalaiannya. Dalam praktik,
ketentuan ini sangat sulit menerapkannya. Sulit mengukur secara objektif sampai sebatas mana kesalahan itu atau kelalaian
itu dilakukannya;

5. Apabila anggota Dewan Komisaris terdiri atas 2 atau lebih, tanggung jawab pribadi itu, bersifat tanggung jawab secara
tanggung renteng (hoofdelijke aansprakelijk, jointly and severally liable) bagi setiap anggota Dewan Komisaris.

Penjelasan lebih lanjut tentang hal-hal yang dapat menyingkirkan tanggung jawab pribadi Dewan Komisaris atas kerugian
Perseroan dapat Anda simak artikel Hal yang Melepaskan Dewan Komisaris dari Tanggung Jawab atas Kerugian
Perseroan.

Jadi jika perseroan mengalami kerugian karena anggota Dewan Komisaris salah atau lalai menjalankan tugas pengawasan
dan pemberian nasihat, maka Dewan Komisaris selaku organ perseroan yang melakukan pengawasan terhadap direksi,
bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian tersebut. Dalam hal Dewan Komisaris terdiri atas 2 (dua) anggota Dewan
Komisaris atau lebih, tanggung jawab tersebut berlaku secara tanggung renteng bagi setiap anggota Dewan Komisaris.

Hak Pemegang Saham Menggugat Anggota Dewan Komisaris

Pasal 114 ayat (6) UUPT mengatur bahwa pemegang saham dapat menggugat Anggota Dewan Komisaris:
Atas nama Perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh
saham dengan hak suara dapat menggugat anggota Dewan Komisaris yang karena kesalahan atau kelalaiannya
menimbulkan kerugian pada Perseroan ke pengadilan negeri.

Pasal tersebut memberi hak kepada pemegang saham mengajukan gugatan ke pengadilan negeri terhadap anggota Dewan
Komisaris, sesuai dengan acuan dan syarat berikut:[5]

1. Syarat kepemilikan saham

Pemegang saham baru mempunyai legal standing (legal persona standi in judicio) menggugat anggota Dewan Komisaris:

a. Harus mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara,

b. Boleh satu atau beberapa orang pemegang saham, dengan syarat asal mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh)
bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara.

2. Gugatan diajukan atas nama perseroan

Pemegang saham tersebut, mengajukan gugatan atas nama perseroan. Bukan atas nama pribadinya. Dalam hal ini,
pemegang saham itu, bertindak mewakili untuk dan atas nama perseroan. Berarti pemegang saham yang bersangkutan
mengambil posisi direksi yang mewakili perseroan di dalam pengadilan.[6]

3. Yang ditarik sebagai tergugat

Pihak yang ditarik sebagai tergugat adalah anggota Dewan Komisaris yang melakukan kesalahan atau kelalaian
melaksanakan tugas pengawasan dan pemberian nasihat.

4. Dasar dalil gugatan

Posita atau dalil gugatan ditujukan kepada anggota Dewan Komisaris tersebut yang telah melakukan kesalahan atau
kelalaian melaksanakan tugas pengawasan dan pemberian nasihat terhadap pengurusan perseroan yang dijalankan Direksi,
yang mengakibatkan perseroan mengalami kerugian.

5. Yurisdiksi absolut dan relatif

a. Yurisdiksi absolutnya menjadi kompetensi Peradilan Umum, dalam hal ini Pengadilan Negeri bagian perdata umum,
bukan Pengadilan Niaga.

b. Yurisdiksi relatifnya, di wilayah hukum Pengadilan Negeri tempat tinggal anggota Dewan Komisaris yang bersangkutan
sesuai dengan asas actor sequitor forum rei yang digariskan Pasal 118 ayat (1) Herzien Inlandsch Reglement (HIR).

Demikian syarat dan patokan yang harus diterapkan apabila pemegang saham menggunakan hak menggugat anggota Dewan
Komisaris yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan tugasnya.

Jadi menjawab pertanyaan Anda, jika pemegang saham ingin mengugat Dewan Komisaris atas kelalaiannya sehingga
mengakibatkan kerugian terhadap perseroan, maka pemegang saham harus mengugat atas nama perseroan, bukan atas
nama pribadinya.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Berdasarkan Law Dictionary (Gifis, Steven H.;1984: 129), yang dimaksud dengan Gugatan derivatif adalah suatu gugatan
berdasarkan hak utama (primary right) dari perseroan, tetapi dilaksanakan pemegang saham untuk dan atas nama pereroan.
Gugatan ini dapat diajukan oleh pemegang saham dalam hal terjadi kerugian serta kegagalan dalam perseroan yang
dilakukan oleh anggota Direksi.

Berkaitan dengan definisi tersebut, doktrin hukum dari Munir Fuady dalam bukunya yang berjudul “Doktrin-Doktrin
Modern dalam Corporate Law dan Eksistensinya dalam Hukum Indonesia” dapat dilihat bahwa unsur dari gugatan derivatif
adalah sebagai berikut:
1. Adanya suatu gugatan.

2. Gugatan tersebut diajukan ke pengadilan.

3. Gugatan diajukan oleh pemegang saham perseroan yang bersangkutan.

4. Pemegang saham mengajukan gugatan untuk dan atas nama perseroan.

5. Pihak yang digugat selain perseroan, biasanya direksi perseroan.

6. Penyebab dilakukannya guguatan karenan adanya kegagalan dalam perseroan atau kejadian yang merugikan
perseroan yang bersangkutan.

7. Oleh karena diajukan untuk dan atas nama perseroan, maka segala hasil gugatan menjadi milik perseroan
walaupun pihak yang mengajukan gugatan adalah pemegang saham.

Gugatan derivatif juga di atur dalam Pasal 97 ayat (6) Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
(“UUPT”), yang menyebutkan bahwa atas nama Perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu
persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara dapat mengajukan gugatan melalui pengadilan negeri
terhadap anggota Direksi yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada Perseroan.

Berkaitan dengan ketentuan tersebut, penjelasan pasal ini menyebutkan bahwa dalam hal tindakan Direksi merugikan
Perseroan, pemegang saham dapat mewakili Perseroan untuk melakukan tuntutan atau gugatan terhadap Direksi melalui
pengadilan.

Dalam hal pemegang saham yang bertindak sebagai penggugat, ia tidak mewakili dirinya sendiri melainkan untuk dan atas
nama perseroan. Sehingga berdasarkan doktrin hukum dari Munir Fuady (Doktrin-Doktrin Modern dalam Corporate Law
dan Eksistensinya dalam Hukum Indonesia; 2002: 76), ada beberapa karakteristik khusus dalam suatu gugatan derivatif,
yaitu:

1. Sebelum dilakukan gugatan, sejauh mungkin dimintakan yang berwenang (direksi) untuk melakukan gugatan
untuk dan atas nama perseroan sesuai ketentuan dalam anggaran dasarnya.

2. Pihak pemegang saham lain dapat dimintakan juga partisipasinya dalam gugatan derivatif ini, mengingat gugatan
tersebut juga untuk kepentingannya.

3. Selain itu diperhatikan juga kepentingan pemegang saham yang lain, pihak pekerja, dan kreditor.

4. Tindakan penolakan gugatan derivatif berdasarkan alasan ne bis in idem tidak boleh merugikan kepentingan
pihak stake holder yang lain

5. Harus dibatasi bahkan dilarang penerimaan manfaat oleh pemegang saham yang ikut terlibat dalam tindakan
merugikan perseroan, yakni manfaat dari ganti rugi yang diberikan terhadap gugatan derivatif tersebut

6. Seluruh manfaat yang diperoleh dari gugatan derivatif menjadi milik perseroan

7. Sebagai konsekuensinya, maka seluruh biaya yang diperlukan dalam gugatan derivatif harus ditanggung oleh
pihak perseroan.

Pengertian joint venture adalah bentuk gabungan dari beberapa perusahaan dari berbagai negara yang berkerjasama dan
menjadi satu perusahaan untuk mencapai konsentrasi kekuatan ekonomi dan tanpa melihat besar atau kecilnya modal.
Kepengurusan Joint venture dipimpin oleh Dewan Direktur yang dipilih oleh para pemegang saham, dan pendiriannya harus
mempunyai bentuk hukum PT (Perseroan Terbatas).

Joint Venture atau usaha patungan merupakan persetujuan diantara dua pihak atau lebih untuk melakukan kerjasama di
dalam suatu proyek, seringkali suatu joint venture dilakukan apabila perusahaan-perusahaan dengan teknologi yang saling
melengkapi ingin menciptakan barang atau jasa yang akan saling memperkuat posisi masing-masing perusahaan. Suatu joint
venture biasanya dibatasi pada suatu proyek
Investasi dalam joint venture
Kepemilikan atas investasi dalam joint venture dapat dilakukan secara bervariasi. Pada umumnya kepemilikan mayoritas ada
pada pihak asing, dan kepemilikan minoritas ada di tangan pihak nasional. Kepemilikan dapat juga ditentukan seimbang,
dapat pula 100% pemilikan dipegang oleh salah satu partner, sedangkan partner yang lain mempunyai hak opsi untuk
mendapatkan sebagian atau keseluruhan saham.