Anda di halaman 1dari 13

Memahami Paradigma Pendidikan Islam (Dr.

Israr Ahmad Khan))


Islam menggambarkan sebuah peradaban yang komprehensif yang mencakup semua dimensi
pemikiran dan kehidupan manusia. Sebuah pengalaman peradaban baik saat naik/MENINGKAT ataupun
jatuh. Dikatakan meningkat ketika ia berhasil memimpin anggotanya untuk tumbuh secara intelektual dan
moral. Disebut jatuh ketika pertumbuhan intelektual dan moral manusia mencapai titik stagnasi. Baik
pertumbuhan dan stagnasi merupakan indikasi sistem pendidikan yang dianut masyarakat.
Demikian pula, Islam menganggap pendidikan merupakan alat yang sangat mumpuni dalam
mencetak pemikiran dan kehidupan manusia; sistem pendidikannya, sejarah menjadi saksi, berpotensi untuk
memimpin ke puncak peradaban.
Sistem pendidikan Islam terdiri dari tujuan yang jelas untuk mengakui akan adanya Allah dan
perkembangan manusia baik secara intelektual ataupun moral.
Prinsip dasar dari sistem ini adalah:
1) penyatuan kurikulum sekuler dan religius,
2) pendekatan rasional dan kritis dalam proses belajar mengajar,
3) proses penelitian dan pengembangan yang berkesinambungan berdasarkan 3 point :
-peningkatan pengetahuan,
-penerapan observasi dan penyelidikan mendalam terhadap keabsahan gagasan yang tergabung
dalam pengetahuan dan
-pengembangan pengetahuan,
4) pembaharuan dan reorientasi disiplin ilmu studi, dan
5) hubungan antara guru-siswa didasari oleh rasa kasih, rasa hormat dan nilai-nilai dasar manusia lainnya.
Pendahuluan
Bahwa sistem pendidikan menggambarkan keinginan masyarakat dan menentukan arah suatu masyarakat.
Islam berusaha untuk mendirikan peradabannya sendiri di bumi
(1) Ayat-ayat Al Quran sebagai petunjuk yang komprehensif, (2) yang didasarkan pada pengetahuan (3)
Tidak membiarkan manusia bertindak tanpa pengetahuan (4) Tidak ada ruang dalam filosofinya untuk buta
huruf, yang dipandang sebagai sumber segala macam kesalahan, takhayul dan pendekatan irasional dalam
kehidupan dan aktivitas sehari-hari (5) Tujuan pendidikan dan prinsip pengajaran dan pembelajaran pada
dasarnya berbeda dari budaya yang lain dan prinsip pendidikan termasuk yang sekuler.
Sebuah usaha sederhana telah dibuat dalam makalah ini untuk menguraikan tujuan serta prinsip-prinsip
dasar sistem pendidikan Islam berdasarkan Quran dan kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Ikhtisar Sistem Pendidikan di Dunia Muslim
Sistem pendidikan yang berlaku Di dunia Muslim saat ini bukanlah sebuah rahasia.
Muslim minoritas yang tinggal di negara mayoritas non-Muslim seperti India, China, Thailand, Afrika
Selatan, U.SA dll atau negara-negara Muslim seperti Pakistan, Bangladesh, Indonesia, Arab Saudi, Mesir dll,
sistem pendidikan mereka hampir seragam, variasi/perbedaan sangat kecil oleh karenanya bisa diabaikan.
Semua institusi Muslim di era kontemporer dapat dibagi menjadi tiga kategori utama : religius, sekuler dan
religius-sekuler.
1
LEMBAGA PENDIDIKAN KEAGAMAAN
Lembaga pendidikan muslim menawarkan pembelajaran keagamaan dalah jumlah yang besar.
Tujuan
Sebagian besar institusi pendidikan keagamaan di dunia muslim didirikan dengan tujuan melayani dan
mempromosikan satu atau pemikiran yuridis lainnya. Pilihan karya tertentu sebagai buku teks untuk
berbagai disiplin ilmu studi, penerapan metode pengajaran dan pembelajaran tertentu, pemilihan guru, dan
penerimaan siswa berdasarkan latar belakang tertentu yang dipilih di institusi ini, semua ini secara eksplisit
mengacu pada fakta bahwa tujuan dari pusat pembelajaran ini adalah untuk memperkuat penyebab sebuah
sekolah tertentu di Dar al 'Ulum, Deoband, sebuah institusi pendidikan agama yang terkenal di India,
misalnya, didirikan dengan tujuan untuk melayani yurisprudensi sekolah Hanafite dan masih membaw
amisi yang sama.
Universitas Islam, Madinah, Arab Saudi, yang didirikan beberapa dekade lalu, berfungsi sebagai pusat studi
teologi Islam (7) Studi mendalam tentang wujud dan hasil/produk akan menunjukkan bahwa universitas tsb
mempromosikan pendekatan tradisional untuk belajar Islam, sehingga berpihak pada ahl ah Hadithwho
yang berusaha menghancurkan bangunan sekolah fiqh yang sangat luas
(8) Sub-benua Indo-Pak merupakan negara terbesar dalam hal populasi Muslim. , terhitung hampir 50% dari
total populasi Muslim di dunia. Bagian dunia Muslim ini telah mengadopsi pendekatan FIQH dalam sistem
pendidikannya atau filosofi ahl al-hadith. Seluruh dunia Muslim mengikuti pola yang hampir sama di
sekolah agama dan universitas mereka.

Kurikulum
Sebagian besar disiplin studi di lembaga ini terkait dengan tafsir, Hadith, fiqh, logic, ‘aqa’id, ‘ilm al-kalam,
tasawwuf, sejarah islam dan bahasa arab.
Seperti yang terlihat, logic, ‘aqAid, ‘ilm al-kalam dan tasawwuf sudah tidak relevand dengan kebutuhan saat
ini.
Metodologi yang diterapkan dan isu-isu yang dibahas di bidang pengetahuan ini tidak lagi signifikan di
dunia modern. Buku-buku yang dipilih untuk tafsir, hadith and fiqh sudah tua dan klasik tidak tersedia saat
ini. Karya baru dapat ditemukan termasuk dalam daftar buku teks, namun ini adalah duplikasi yang lama.
Hal yang sama berlaku untuk sejarah lslam. Sedangkan untuk bahasa Arab, sejumlah buku teks baru telah
dikembangkan untuk mengajar dan belajar, terlepas dari beberapa teks lama, tapi baik teks lama maupun
yang baru sangat membantu siswa untuk mendekatkan mereka ke bahasa Quran.

Metode Pengajaran dan Pembelajaran


Metode pengajaran dan pembelajaran di lembaga pendidikan agama sangat intensif- informasi. Ini
membantu siswa mengumpulkan informasi dalam jumlah besar mengenai suatu topik tetapi tidak
memungkinkan mereka untuk menggunakan informasi tsb secara tepat/sebaik-baiknya. Kritis, rasional dan
analitis hampir hilang di kelas.
Teks subjek yang ditentukan dibaca baik oleh guru atau oleh siswa di kelas dan diuraikan lebih lanjut oleh
guru. Teks dan penjelasannya oleh guru sama-sama dihafal oleh siswa dengan ketepatan tinggi. Misalnya,
untuk tafsir saja, salah satu karya tafsir yg ditentukan , guru menguraikan pernyataan atau pandangan
2
mufassrf lebih jauh, secara linguistik dan ideologis pernyataan Quran sangat sedikit. Guru tersebut jarang
mencoba untuk menafsirkan Al Quran sendiri dengan bantuan alat tafsir yang sangat dibutuhkan, guru
sepenuhnya bergantung pada pendapat orang tua dan mufassirin klasik.
Tugas utama guru di kelas adalah menguraikan pernyataan mufassir dan bukan ajaran Quran; namun dia
merasa bahwa dia sedang mengajar Alquran dan para siswa percaya bahwa mereka sedang mempelajari
Kitabullah.
Dalam lingkungan belajar seperti ini siswa merasa berkecil hati untuk menggunakan alasan mereka; mereka
diminta untuk memasukkan dgn paksa ingatan mereka dengan informasi yang diberikan oleh guru agar bisa
melakukan hal yang sama dalam ujian.
Pertanyaan dan komentar dari siswa tidak disukai.
Perasaan siswa u/bebas mengungkapkan keraguannya pada pandangan guru atau ilmuwan lslam yang
dihormati dianggap sangat berani dan menyimpang.
Sifat hubungan antara guru dan yang diajarkan hampir sama dengan antara panduan mistis (mursyid) dan
siswa (murid), di mana yang terakhir menerima secara membabi buta dan sepenuh hati pelajaran yang
diberikan oleh yang pertama.
Murid dengan ingatan yang kuat di sekolah agama memiliki kesempatan lebih baik untuk mencapai nilai
yang sangat baik dalam ujian. Inilah alasan mengapa para siswa di institusi ini tidak hanya menghafal Quran
tapi juga karya-karya lain di bidang pembelajaran yang berbeda, tidak peduli apakah mereka memahami dan
mengingat informasi secara lengkap atau tidak. Pertanyaan ujian tentnag deskriptif, kritis dan rasional sangat
jarang terjadi.

Produk Akhir
Lulusan institusi ini umumnya diserap oleh terutama tiga sektor jasa: pelayanan terkait masjid, misi Islam
(dakwah) dan pengajaran di sekolah agama dan universitas. Mereka tidak dianggap mampu bergabung
dengan bidang layanan lainnya. Mereka hampir tidak memainkan peran penting dalam membangun
masyarakat Muslim. Sebaliknya, mereka membawa perubahan negatif dalam masyarakat.
Lulusan institusi tertentu yang mewakili sekolah fiqh selalu menggambarkan/membawa merek Islamnya
sendiri. Tujuan utama hidupnya adalah untuk membuktikan validitas pendekatannya dan membuat
pandangan orang lain tidak valid, sehingga menciptakan keretakan di kalangan umat Islam. Perpecahan saat
ini di kalangan umat Islam sangat berhutang banyak kepada lulusan institusi keagamaan. Ini bukan
gambaran bias situasi. Sub-benua Indo-Pak dapat berfungsi sebagai contoh spektakuler dari fenomena ini.
LEMBAGA PENDIDIKAN SEKULER
Sebetulnya, mayoritas siswa Muslim bergabung dengan institusi pendidikan sekuler untuk mendapatkan
pendidikan. Lembaga-lembaga ini dimaksudkan untuk menghasilkan pekerja Muslim dan profesional di
berbagai bidang, layanan sosial, institusi politik, pusat keuangan, Kedokteran, Teknik, Ilmu Pengetahuan,
Arsitektur dan Teknologi. Lulusan institusi semacam itu tidak jauh berbeda dengan rekan-rekan mereka di
komunitas dan negara lain.
Silabus institusi ini berorientsi kebaratan yang menggambarkan nilai bebas pola pikir dan budaya.
Lingkungan belajar mengajar pada dasarnya berbeda dari institusi pendidikan agama. Semuanya dilihat dan
didiskusikan secara rasional dan kritis dalam upaya membuat materi pelajaran dan isu terkait dapat dipahami
dan dapat diterima.
3
Guru berbagi di kelas terkait pemahamannya sendiri tentang sebuah isu dan mengajak pendengarnya untuk
mendiskusikannya secara bebas. Murid umumnya berterus terang dalam mengajukan pertanyaan dan
mengungkapkan pandangannya sendiri tentang suatu masalah. Pertanyaan, komentar, pengamatan dan
bahkan kritik terhadap pandangan lainnya umumnya diterima.
Argumen rasional dan ilmiah untuk membuktikan atau menyangkal sesuatu mendominasi pembelajaran di
bangku sekuler. Inilah alasan mengapa produk dari tempat-tempat ini lebih sering daripada tidak berselisih
dengan masyarakat Muslim lainnya.
Cara pandang mereka berbeda dari yang lain atau bervariasi termasuk produk lembaga keagamaan. Mereka
tidak siap untuk segera tunduk pada perintah para pemimpin agama. Situasi ini menyebabkan konflik abadi
antara dua komponen terpenting komunitas Muslim. Muslim yang berpendidikan sekuler tampaknya
menentang mood atas keputusan yang dikeluarkan oleh ulama yang kesetiaan terhadap merek agama mereka
tidak diragukan. Hampir tidak ada kompromi antara kedua kekuatan dalam hal bagaimana memastikan
pembangunan umat Muslim. Orang-orang berpendidikan agama selalu meragukan kesungguhan orang-orang
yang berpendidikan sekuler.
LEMBAGA PENDIDIKAN RELIGIUS-SEKULER
Seperti sekolah dan universitas yang ditawarkan baik keagamaan dan sekuler untuk para siswa tidak banyak
dilakukan di dunia Muslim sampai saat ini. Tapi sekarang tren untuk mendirikan lembaga seperti itu sudah
mendapat momentum. Konsep pendidikan ini begitu populer sehingga institusi keagamaan berangsur-angsur
menerapkan program yang sama. Beberapa negara Arab tertentu, seperti Arab saudi, Syria, Iraq, dan
Jordania dapat dianggap sebagai pionir dalam menerapkan gagasan baru ini secara praktis. Universitas
Azhar, Cairo yang mana merupakan sebuah institusi sejak awal hingga saat ini, yang dikhususkan untuk
studi agama, telah mengubah karakter lama dengan menambahkan kurikulumnya seperti kurikulum sekuler
seperti Kedokteran, teknik, ilmu pengetahuan disik. Universitas Umm alQura, Makkah adalah contoh lain
dari pengalaman tersebut.
Secara aksiomatis, lembaga ini harus memberi jalan untuk dua tujuan yang berbeda dari keberadaan mereka.
Bagi fakultas agama, tujuan lama - melengkapi siswa dengan pengetahuan tradisonal islam – dipertahankan
dan fakultas-fakultas yang menangani disiplin ilmu sekuler diberi tugas berbeda-menghasilkan Muslim yang
profesional di bidang kehidupan “no-sacred”, terlepas dari orientasi religius mereka.
Kurikulum dan teks yang telah ditentukan untuk bermacam bagian dari fakultas shariah, metode pengajaran
dan pembelajarannya dan produk akhir yang dihasilkan sangat mirip dengan lembaga pendidikan keagamaan
yang murni.
Fakultas sekuler merupakan replika dari lembaga di dunia Muslim atau non Muslim. Orang mungkin gagal
untuk mengidentifikasi perbedaan esensial diantara keduanya. Lulusan dari pusat pendidikan sejenis seperti
itu tampaknya terdiri dari dua jenis : religius dan sekuler.
Yang pertama memilih pendekatan yang sangat kaku terhadap isu-isu kehidupan dan kemudian
menganjurkan dan mempromosikan sikap liberal terhadap kehidupan Islam, satu membawa masyarakat ke
satu arah dan yang lainnya berusaha untuk mengarahkannya kepada yang lain.

Hasil
Ketika siswa dari tiga kategori pendidikan di atas bergabung kembali dengan umat Islam setelah
menyelesaikan rentang studi yang ditargetkan, mereka secara konseptual membentuk satu persaudaraan
namun secara praktis merupakan kesatuan yang berbeda, mengubah fenomena "kesatuan dalam keragaman"
menjadi "keragaman dalam kesatuan".
4
Setelah berproses dengan pandangan dan pendekatan yang berbeda, mereka melayani kepentingan sektarian
dan partisan masing-masing. Lulusan institusi pendidikan agama mendapatkan diri mereka terbagi dalam
banyak kelompok yang mewakili pemikiran sekolah fiqh mereka. Kelompok-kelompok ini menganggapnya
sakral sehingga bermanfaat untuk membangkitkan kebencian dan niat buruk di kalangan umat Islam.
Masing-masing percaya pada legitimasi Islam dan kejujuran yang mengacu pada orang lain sebagai
kesalahan. Ketulusan, ketaatan, tekad, dan kesabaran terus-menerus mereka semua untuk promosi filosofi
kehidupan yang telah mereka indoktrinasi di almamater.
Demikian juga, pemuda sekuler berpendidikan memperkuat penyebab kamp yang semula mereka tempati
atau membantu membentuk kelompok lain dengan anggota komunitas yang sama. Sepertinya berbagai
kelompok dan kamp di komunitas Muslim ini telah benar-benar melupakan pesan Allah :
................................................................................................................................ (3: 103-105)
Dan mereka telah mengembangkan pesan lain, yang sama sekali berbeda dengan yang disebutkan di atas.
Jika dimasukkan ke dalam warna hitam dan putih, akan terbaca bahwa :

Kebencian dan permusuhan di antara berbagai kalangan masyarakat Muslim Pakistan telah mencapai titik
dimana tidak bisa kembali. Shities dan Sunnities saling membunuh satu ama lain. Mereka saling menyerang
di manapun dan kapanpun mereka mendapat kesempatan untuk memuaskan dahaga mereka dengan darah
para musuh. Pendekatan tanpa kompromi ini telah mencapai tingkat berbahaya di mana keberadaan negara
Muslim terbesar kedua dipertaruhkan. Karena keadaan menyedihkan ini bahkan stabilitas politiknya di
Pakistan. yang dibentuk atas nama kesatuan iman berdasarkan kedaulatan Allah dan kepemimpinan tak
terbantahkan dari Rasul Terakhir Allah (Lailaha illa Allah Muhammad rasul al-Alah) hampir tidak bisa
diraih.
Mereka yang bertanggung jawab atas situasi anarkis di negeri ini adalah lulusan institusi pendidikan agama.
Mereka tampaknya telah menghilangkan kata toleransi "dari leksikon. Konflik antara terdidik sekuler dan
perwakilan berbagai kelompok agama di dunia Muslim kontemporer sepertinya tidak hilang karena
intoleransi dan kekakuan yang terus berlanjut dari para pemain.
Hampir di mana-mana masyarakat Muslim terbelah oleh elit politiknya yang sebagian besar berasal dari
latar belakang pendidikan sekuler dan pemimpin agama yang diambil dari institusi pendidikan yang
beragama. Kedua kelompok tersebut saling menyalahkan karena buruknya masyarakat Muslim. Sebagian
besar mereka selalu siap untuk saling bertanding dalam upaya mengalahkan saingannya Akibatnya, dunia
Muslim berantakan dalam segala hal, secara kultural, ketaatan, secara politis maupun moral.
Institusi pendidikan di dunia Muslim tidak lagi menjadi anugerah bagi masyarakat tapi mereka telah berubah
menjadi kutukan dari struktur komunitas Islam.
ORIENTASI ISLAM PENDIDIKAN
Saati ini, skenario di dunia Muslim sangat menyedihkan sehingga membutuhkan perhatian segera dari
individu, organisasi keagamaan, dan pemerintah yang benar untuk menangani masalah dengan serius dan
mengambil langkah efektif untuk menghentikan perburukan pikiran para Muslim yang dibentuk dan
diorientasi oleh sistem pendidikan yang mendominasi.
Saat ini, Sistem pengajaran dan pembelajaran baik religius dan sekuler di institusi pendidikan dunia
Muslim sangat membutuhkan reorientasi sesuai garis lslam. Latihan ini harus mencakup keseluruhan tiga
komponen utama pendidikan : tujuan, kurikulum dan metodologi penelitian, pengajaran dan pembelajaran .

5
TUJUAN DAN SASARAN PENDIDIKAN
Sangatlah wajar bagi sekolah, perguruan tinggi dan pusat pendidikan untuk memperkuat tangan, yang telah
membangunnya, dan mengelolanya. Institusi pendidikan menggambarkan agenda lembaga donor mereka.
Selama era komunis abad ke-20 di sekolah dan universitas yang didirikan oleh pemerintah sosialis ditujukan
untuk mencapai tujuan komunisme itu sendiri.
Demokrasi sekuler mengharapkan dari pusat pembelajaran mereka untuk membentuk pikiran pelajar dengan
prinsip sekuler. Kesatuan religius ingin sekolah mereka mempromosikan ortodoksi. Tujuan dan tujuan
sebuah institusi sebenarnya adalah peradaban masyarakat. Sekolah dan universitas Islam yang
dikembangkan dengan tujuan untuk mewujudkan tujuan lslam yang berdiri sendiri.
Islam berusaha untuk membantu manusia mengenal Allah, sang pencipta, sang pemelihara, Penyedia dan
Penjaga seluruh alam semesta. Wahyu pertama (96:15) kepada Nabi terakhir berfungsi sebagai undangan
kepada manusia untuk mengetahui Tuhan tentang seluruh ciptaanNya.
Alquran menuntut para pengikutnya agar selalu sadar sepenuhnya dari Dia, terlepas dari waktu dan situasi (3
102). Memberitahu mereka bahwa mereka adalah ciptaan yang paling bermartabat dan paling disukai di
bumi (17:70). Hal ini mengingatkan mereka akan penghbisan ilahi (6.165 10: 4, 35:39) .Mengajak mereka
untuk tidak melupakan bahwa sebagian besar kekuatan universal tunduk kepada mereka (432-33, 16:12,
265, 3120: 45: 1 3) Ini memperingatkan mereka agar tidak menjadi korban takhayul gagasan dan praktik (9:
41) Ini mendorong mereka untuk menerapkan pendekatan rasional dalam segala hal (3: 118, 8:22, 2246,
2573). Hal ini memotivasi mereka untuk mengembangkan masyarakat di mana nilai-nilai moral berkembang
dengan baik di semua lapisan masyarakat ( 1723 37:23:19: 25: 63-74) Hal ini membuat mereka menyatu
untuk membasmi rintangan menuju peradaban yang bisa mencapai kedamaian dan keharmonisan (756 & 85)
Untuk mencapai aspirasi ini, Islam memungkinkan pemeluknya menggunakan semua sarana dan media
lembaga pendidikan secara manusiawi. Jadi tujuan dasar sekolah dan perguruan tinggi di negara-negara
Muslim harus menjadi seperti berikut
 Untuk membantu siswa mengenali Allah dengan sungguh-sungguh
 Untuk memungkinkan mereka tetap sadar akan Allah dalam semua situasi yang mereka hadapi.
 Untuk membuat mereka menyadari bahwa mereka menempati posisi yang sangat bermartabat di
bumi
 Untuk membekali mereka dengan pendekatan dan metodologi yang rasional.
 Untuk mengembangkan di dalamnya nilai-nilai moral yang tinggi, baik sebagai individu ataupun
mskhluk sosial
 Untuk mengorientasikan mereka agar secara tulus dikhususkan untuk Allah baik dalam dimensi
spiritual maupun material kehidupan
Produk akhir dari sebuah institusi pendidikan berbicara banyak tentang tujuan yang terakhir. Lulusan
universitas Islam harus menjadi model nilai-nilai Islam. Apa yang mereka lakukan akan mencerminkan
almamater mereka. Jika mereka tidak tampak tulus kepada Allah dan umat manusia, sekolah mereka
mungkin dianggap kehilangan tujuan yang disebutkan di atas. Atau ada kemungkinan lain. Tujuannya adalah
Islam, tapi hanya berfungsi sebagai hiasan dalam petunjuk lembaga pendidikan; Kurikulum, lingkungan, dan
metodologinya adalah paling sedikit menggambarkan tujuan pendidikan tinggi yang terdokumentasi.

PRINSIP DASAR PENDIDIKAN ISLAM


Prinsip-prinsip Islam dapat dijadikan pedoman untuk mempersiapkan kurikulum sekaligus merancang
metodologi pengajaran dan pembelajaran tertentu. Dengan hanya memberi nama-nama Islam ke sekolah-

6
sekolah dan universitas-universitas, dan membuat kursus dan buku teks yang tampak agak lslamic mungkin
tidak membentuk semangat sistem pendidikan Islami. Penerapan prinsip-prinsip berikut dapat membentuk
sebuah sistem, yang dapat menerjemahkan nilai ideal pendidikan ke dalam realitas nyata
1. Penggabungan Sekuler dan Keagamaan
Kepada orang-orang Muslim membedakan beberapa subjek tertentu seperti tafsir, hadith, fiqh,
tasawwuf, teologi, sejarah muslim dll adalah suci dan religius, dan beberapa subjek lain seperti ilmu
fisika, filsafat, psikologi, sosiologi, teknologi informasi, dll. adalah sekuler dan duniawi.
Dikotomi pengetahuan ini menghasilkan dua pendekatan yang berbeda, satu mengarah subjek
disiplin ilmu religius dan satu lainnya non religius.
Konsep pembagian dua cabang ini mungkin tidak tahan terhadap penelitian yang teliti dan kritis
terhadap dasarnya.

Tampaknya dasar pembagian ini adalah pemisahan al-deen (agama) dari al-duniya (materialisme).
Menurut persepsi umum, jaminan kehidupan yang penuh kebahagiaan di akhirat dan yang terakhir
mengarahkan manusia menjauh darinya. Al-deen berdasarkan Alquran dan Sunnah, diturunkan dari
kedua sumber ini yg dianggap sakral.
Dan pokok bahasan yang tidak terbawa dari keduanya tergolong tidak suci atau sekuler. Ini adalah
pemahaman yang sangat dangkal terhadap pesan yang ada dalam Quran dan Sunnah. Petimbangan
yang mendalam atas Alquran mengungkapkan fakta bahwa submode sekuler juga sama sakralnya
seperti studi yang berkaitan dengan Al-Qur'an dan Hadith.

telah dinyatakan sebagai pengawas bumi (2:30) Dia ditugaskan untuk menggunakan, mengendalikan
dan mengembangkan sumber (2:36). Untuk melakukan pengabdian dengan posisi dan tanggung
jawabnya dari sana ia harus mengembangkan pengetahuan tentang apa yang disebut di zaman
modern, ilmu alam dan fisik. Botani, kimia, geologi fisika, zoologi, oseanografi, teknik, teknologi
adalah semua sains yang mewakili respons manusia terhadap tugas alamnya.
Semua yang ada di bumi dan yang ada di surga telah diatur untuk melayani manusia (31:20). Sekarang ini
adalah untuk memperoleh manfaat dari mereka dan membuat hidup semakin nyaman, tidak hanya materi,
tapi juga ketaatan dan religius. Teknologi informasi dan teknik mesin telah mempersempit jarak ribuan
kilometer. Haji adalah tugas suci yang bisa dilakukan. Sebelumnya, orang yang tinggal ribuan mil jauhnya
dari pusat ziarah telah menempuh perjalanan jauh selama 1-2 tahun. Tapi sekarang orang bisa menempuh
jarak ini dalam beberapa jam saja. Penerapan teknologi modern telah membuat haji dan umrah menjadi
mudah dan nyaman.
Media massa dan sistem transportasi cepat telah membuat tugas ini mudah dan menyenangkan.
Pengembangan kekuatan pertahanan adalah suatu keharusan bagi mereka yang bertanggung jawab atas
negara-negara lslam (8:60). Menyiapkan pabrik untuk memproduksi senjata dan amunisi dengan teknik
mutakhir adalah satu-satunya solusi yang tepat untuk pertahanan terkait kelemahan dunia Muslim. Teknologi
terbaru adalah anugerah bagi umat Islam. Semakin mereka menggunakannya semakin kuat mereka.
Pertahanan adalah tugas suci sehingga pengetahuan yang memudahkannya pasti suci
Refleksi tentang penciptaan langit dan bumi adalah fitur yang patut dipuji olehi orang-orang yang dengan
kekuatan intelektual (3:191). Inilah cerminan ilmuwan, yang telah menyebabkan mereka menemukan
kenyataan tersembunyi yang tak terhitung banyaknya dan dengan demikian untuk pengembangan banyak
disiplin ilmu.
Apakah disiplin ini, sakral atau sekuler? Refeksi adalah tindakan Islam. Bahan-bahan dari tindakan ini
dalam bentuk pengetahuan tidak diragukan lagi oleh lslam.

7
Survei dan penyelidikan tentang orang-orang di bumi adalah aktivitas intelektual yang diinginkan ( 22:46,
29:20), yang tampaknya telah melahirkan banyak disiplin dalam Ilmu Pengetahuan Manusia seperti
sosiologi, sejarah, psikologi, geografi, dll. Dari pengamatan di atas, tidaklah bijaksana untuk merujuk pada
ilmu fisika, teknik teknologi dan Humaniora sebagai disiplin ilmu sekuler dan non-suci. Dari sudut pandang
Islam, penekanan yang sama harus diletakkan pada semua kategori pengetahuan baik religius, alami atau
sosial.
Syed Mawdudi. mengamati:
"Ilmu agama dan duniawi harus disatukan dengan menghapus batasan di antara mereka. Pembagian
pengetahuan ke dalam kategori agama dan duniawi sebenarnya berakibat pada konsep pemisahan agama
dari urusan duniawi. Konsep ini pada dasarnya tidak Islami. Apa yang Islam sebut agama tidak lepas dari
dunia ini, agama adalah memandang dunia sebagai kerajaan Allah, menganggap diri kita sebagai subyek-
Nya, dan berperilaku dalam kehidupan duniawi sesuai dengan tuntunanNya .
Konsep lslam ini mensyaratkan bahwa semua ilmu duniawi dikonversi menjadi agama. Dalam hal ini ada
disiplin tertentu yang dikenal sebagai keduniawian dan ini harus tunduk kepada Tuhan, dan ada subjek lain
yang disebut religius dan ini diajarkan dalam isolasi ilmu keduniawian,
Unsur-unsur tertentu dalam ilmu fisika dapat ditemukan agak tidak pantas. Seperti tempat itu harus ditinjau
dan dimodifikasi sesuai dengan semangat lslam. Ini adalah tugas yang sangat rumit. yang dilakukan oleh
para ahli dan otoritas. Gagasan dan informasi yang membatasi bidang pengetahuan Islam terhadap disiplin
ilmu shariah sebagaimana tersedia dalam apa yang disebut sumber-sumber Islam harus direvisi sesuai
dengan itu. Sebuah risalah Ghazali (13) yang terkenal "ihya 'Ulum al-deen (4) , misalnya, dianggap sebagai
karya komprehensif mengenai makna dan klasifikasi pengetahuan Islam. Ini hanya berkaitan dengan isu-isu
keagamaan, meskipun telah secara singkat memuji pengetahuan non shari’ah yg sangat diinginkan. (15)
Dampaknya pada pikiran Muslim sangat hebat. Situasi ini perlu dikoreksi.
Penyertaan ilmu alam dan fisika dalam kurikulum pendidikan langsung dari tingkat dasar sangat bermanfaat
dalam menghilangkan dikotomi dan dalam mempersatukan sekuler dan sacred.

2. Pendekatan Kritis dan Rasional dalam Pengajaran dan pembelajaran


Cara mengajar yang paling umum di dunia Muslim saat ini adalah penyediaan informasi
sebagaimana tersedia dalam sumber-sumber klasik. Guru hampir tidak membahas secara kritis materi
yang dia bagikan dengan murid-muridnya. Siswa pada umumnya berkecil hati untuk mengajukan
pertanyaan dan melakukan pengamatan sendiri. Jika seorang mahasiswa yang luar biasa cemerlang
memahami sesuatu secara rasional, dia ditegur dan suaranya tertahan.
UAhA Husain adalah otoritas yang terkenal dalam literatur Arab. Suatu ketika ketika dia melakukan
pengamatan pada titik tertentu dalam kuliah tafsir, mufassir bereaksi dengan tajam dan, alih-alih
menjelaskan masalah ini dengan meninggikannya, mengutuk ucapan tersebut: “Dari mana Anda
mempelajari penghujatan ini (mina taalanntahadhaal ayna general (16) ini bukan tempat terisolasi.
Sistem pendidikan di institusi Muslim tidak menuntut dan tidak memungkinkan dari guru untuk
menerapkan pendekatan kritis dan rasional dalam mengajarkan siswa untuk menggunakan alasan
mereka saat mendengarkan guru mereka.
Al-Ghazali 505 AH) telah mengecualikan metodologi kritis kritis dari etiket pengajaran dan belajar,
dia lebih menganggap pertanyaan yang diajukan oleh siswa sebagai hambatan dalam pembelajaran.
(17)

Manusia telah diberi alasan dan wawasan. Untuk ini mengacu pada Ayah 55: 3- 4

8
(Dia telah menciptakan manusia yang telah Dia berikan kemampuan berpikir). Kata yang
menunjukkan kemampuan manusia untuk memahami dengan jelas hubungan benda-benda dan untuk
menjelaskan dengan cerdas al-bayan secara harfiah berarti ungkapan cerdas (18) Manusia mampu
berbicara secara koheren dan bermakna. Tidak diragukan lagi karena kemampuan intelektualnya.
Sebagai akibat wajar dari kecerdasan intelektual yang tak terbantahkan ini harus digunakan pada
setiap langkah dalam kehidupan.

Ada dua ekstrem latihan intelektual yaitu penyalahgunaan atau tidak digunakan. Keduanya tercela.
Hanya penggunaan akal yang benar saja yang terpuji.

Penggunaan kekuatan intelektual sangat penting dalam kehidupan manusia sehingga Alquran sekitar
empat puluh sembilan kali mengingatkan manusia akan konsekuensi serius dari penyalahgunaan atau
tidak digunakannya, di satu sisi memberikan dampak yang luar biasa indah dari penggunaan yang
benar.

Beberapa contoh spektakuler dari peringatan


"Sesungguhnya, makhluk paling hina di mata Allah adalah orang-orang tuli dan bisu yang tidak
menggunakan akal mereka (8:22)

“Dialah yang memberikan tipu muslihat kepada orang-orang jahat. siapa yang tidak menggunakan
alasan mereka (1O: 100)
"Kami telah mengungkapkan untukmu sebuah buku di mana ada pesan untuk mu, akankah kamu
menerapkan alasan Anda untuk memahaminya (21:10)

Apakah mereka tidak melakukan perjalanan keliling bumi sehingga hati dan pikiran mereka dapat
belajar kebijaksanaan , dan telinga mereka dapat belajar untuk mendengar? Sungguh bukan mata
mereka, melainkan hati mereka yang ada di dada mereka (22:46)

Dan mereka berkata, Jika kita mendengarkan atau menggunakan akal kita, kita tidak akan berada di
antara orang-orang yang ditakdirkan untuk nyala api yang berkobar-kobar (67:10)

Jelas, seperti dapat dilihat di atas bahwa kata-kata Allah merupakan sumber pengetahuan dan
kebijaksanaan yang utama, keberhasilan dan kegagalan manusia dalam hidupnya bergantung pada
bagaimana dia memperlakukan akal sehatnya. Pendidikan adalah latihan yang sangat penting dalam
hidup seseorang. Perkembangan atau penurunan juga terkait dengan diterapkan atau tidaknya
kekuatan intelektual manusia.

Kelas seperti pabrik membentuk dan merancang pikiran manusia. Metodologi pengajaran ibarat mati
jika pikiran dibuang. Produk akhir dari sebuah institusi pendidikan mencerminkan sifat metodologi
pengajaran yang telah digunakan guru di kelas. Jika guru telah melakukan refleksi terhadap materi
yang dia bagikan kepada siswa dan tidak hanya menyerahkannya tapi justru membahasnya dengan
cara yang rasional dan kritis sehingga jelas apakah bisa diterima atau tidak dan atas dasar apa, dia
tentu akan berkontribusi pada pengembangan pola pikir yang sehat dan sehat.
Metode pengajaran yang tidak memiliki pendekatan rasional dan kritis mungkin tidak diharapkan
menghasilkan pemikiran yang berguna bagi masyarakat.

Baik ilmu pengetahuan alam atau pelajaran agama, semuanya harus ditangani dengan sangat rasional
dan kritis .

9
Ayah 47: 24 (will they not, then, ponder over the Quran, or is that there alre locks upon their
hearts?)) memberikan panduan untuk guru.
Sementara mempersiapkan ceramahnya tidak hanya untuk menghafal materi yang dia dapatkan dari
sumber yang bersangkutan, dia harus mempertimbangkan dan menganalisisnya secara menyeluruh,
dengan menggunakan kriteria yang valid dan relevan. Selain itu, Ayah 25: 73 (Dan siapa yang
mengingat peringatan itu, jangan sekali-kali mengangkat tuli dan tuna rungu mereka) menasihati
baik guru maupun murid tentang cara pendekatan kelas ceramah.
Menjelaskan pernyataan Al Qur'an ini al Zamakhshary (d.538 AH) (19) mengatakan bahwa
sementara rata-rata orang mendekati tuhan ilahi dengan hanya menunjukkan keinginan yang luar
biasa, "melemparkan diri atasnya" demi penampilan namun kenyataannya tidak berusaha sedikitpun
untuk memahami pesan tersebut dan karena itu tetap tuli dan buta terhadap isinya, benar-benar
Tuhan, kesadaran akan sangat berkeinginan untuk memahaminya dan karenanya mendengarkannya
dengan telinga yang lebar dan melihat ke dalam dengan melihat mata (20).
Dengan demikian guru dan siswa sama-sama bersikap sama aktif di kelas, tempat latihan intelektual.
Pendekatan buta terhadap informasi, agama atau non-religius berlawanan dengan konsep pendidikan,
yang bertujuan untuk mengembangkan pikiran.

3. Penelitian dan Pengembangan yg berkelanjutan


Manusia berdiri dalam kebutuhan untuk mempertahankan identitasnya sebagai makhluk intelektual
di bumi. Untuk hal ini ia harus terus memperluas, memperkuat, dan mengembangkanpengetahuan.
Untuk mencapai tujuan ini ia harus terus menerus terlibat dalam penelitian. Ini adalah penelitian,
yang memastikan pengembangan pengetahuan.

Pendekatan yang apatis untuk meneliti validitas dan relevansi pengetahuan dalam ruang dan waktu
tertentu. Institusi pendidikan mungkin tidak diharapkan untuk melakukan tugas mereka dalam
mengembangkan pikiran jika tidak diperkuat oleh penelitian di setiap bidang pengetahuan. Penelitian
memasok darah segar ke badan pengetahuan. Penelitian yang tidak benar atau tidak ada penelitian
pasti akan menyebabkan tubuh pengetahuan menderita masalah yang tak terhitung banyaknya yang
akhirnya menyebabkan pembusukannya, yang pada gilirannya akan menyebabkan pembusukan
sistem pendidikan.

Ada sepuluh tempat dalam Quran (2: 7; 220; 6:46, 16:78; 16: 107, 17:36; 23:78, 32,9; 46:26) 67:23)
di mana peran kolektif dan terkoordinasi dari tiga fakultas penting dalam diri manusia: al-sam
(pendengaran), al-balar(penglihatan), dan al-fuad (pemikiran) telah disorot. Untuk masalah ini,
jelaslah dua orang Aayat dikutip di sini.

Dan Dia telah memberi Anda pendengaran dan penglihatan dan pikiran sehingga kamu memiliki
alasan untuk bersyukur. (16:78)

sesungguhnya pendengaran, penglihatan pikiran ---- semuanya yang harus diperhitungkan (17236)

Syed Mawdudi (1903-1979) menemukan dasar Aayata ini untuk mendefinisikan pengetahuan Dia
berkata :
"Tiga kata al-sam, al-balar dan al-fuad dalam pengertian mendengar, melihat dan berpikir. Al-sam
berarti memperoleh informasi yang tersedia oleh orang lain, al-balar yang membangun pengetahuan
melalui pengamatan diri; dan pada al-fuad menurunkan kesimpulan setelah mengumpulkan informasi
yang diperoleh dari dua makna di atas. Ketiga unsur ini merupakan pengetahuan tentang kemampuan
manusia yang telah dibuat "(2)

10
Interpretasi Syed Mawdudi tampaknya luar biasa. Pertimbangan lebih lanjut mengenai Aayat di atas
mungkin mengarah pada kesimpulan bahwa penyebutan tiga fakultas manusia tersebut ditujukan
untuk memberikan panduan untuk proses penelitian. Sepertinya Quran menjelaskan tentang tiga
tahap penelitian.
Pertama, semua informasi yang tersedia di bidang studi tertentu harus diakses, dibaca, dan
dipahami.
Kedua, informasi yang ada harus dianalisis secara kritis, ditafsirkan secara menyeluruh, dan
diklarifikasi sepenuhnya tentang apa itu.
Ketiga, pandangan baru tentang pengetahuan adalah ries harus dibuat; dan volume informasi yang
ada akan diperluas.
Prinsip ini telah diterapkan oleh umat Islam era lslam emas ketika pengetahuan berkembang dengan
mantap. Muslim memperoleh jumlah pengetahuan yang ada di hampir semua bidang pembelajaran,
tafsi, logika hadits, filsafat, kimia astronomi, kedokteran, fisika, optik, arsitektur, teknik, matematika,
aljabar dll. Mereka mempelajari disiplin ini dengan hati-hati dan teliti, memperoleh penguasaan.
Kemudian, mereka pindah ke tahap kedua proses belajar dan penelitian: observasi dan analisis kritis.
Setelah menyelesaikan tugas pengamatan dan analisis, mereka mencurahkan waktu dan tenaga untuk
menggali pengetahuan pengetahuan luas dan tak tersentuh untuk meningkatkan kuantitas
pengetahuan.

Di masa lalu, lembaga pendidikan Musim Mengamati prinsip penelitian ini, yang memastikan
pengembangan pengetahuan. Untuk mencapai tujuan ini, mereka melakukan perjalanan jauh dan luas
di seluruh dunia yang dikenal, belajar bahasa asing untuk mendapatkan warisan intelektual dari
orang lain, menerjemahkan karya asing yang tidak diketahui ke dalam bahasa Arab agar siswa
Muslim dapat mengakses sumber-sumber dengan mudah, memodifikasi mereka sesuai dengan
filosofi mereka dan berusaha keras untuk menghasilkan sesuatu yang lebih dan baru di bidang yang
disebutkan di atas.

Perlu dicatat bahwa barat menerapkan prinsip penelitian yang sama dan sampai di tempat mereka
berada sekarang di hampir semua bidang studi dan pembelajaran. Muslim yang mungkin
mengalamai Penurunan di bidang pendidikan tampaknya disebabkan oleh pendekatan hangat kuku
dan ketidakpedulian terhadap prinsip Alquran. Dominasi barat dalam pendidikan adalah kepatuhan
terhadap penelitian kebijakan lslam, yang sebenarnya merupakan metodologi pembelajaran
universal.

4. Pembaharuan dan Reorientasi Disiplin ilmu


Perubahan adalah sifat manusia meskipun ia tidak mampu untuk mengubah sifatnya sendiri. Oleh
karena itu, ia mempengaruhi perubahan di dunia di luar. Perubahannya yang telah terjadi di dunia
material sampai sekarang mencerminkan tindakan manusia Ddalam kehidupan. Dalam perubahan ini,
lingkungan manusia terikat untuk mempengaruhi institusi pendidikan dari hampir semua sudut
kursus kurikulum. Kursus ilmu mencerminkan kebutuhan waktu.
Mempertahankan kedisiplinan yang kadaluarsa dan tidak relevan menjadi tidak masuk akal Hanya
membuang waktu dan energi. Nampaknya cukup bijak untuk terus berlanjut. meninjau kursus yang
ada, di satu sisi, dan mengenalkan disiplin baru dalam kurikulum.

Di dunia Muslim, kurikulum agama fiqh diutamakan, tafsir, hadith dan disiplin ilmu lainnya hanya
diperlakukan sebagai sarana yurisprudensi. Situasi ini membutuhkan perubahan. Tapi ini adalah
tugas yang sangat rumit sehingga terlalu sulit untuk meninjau kurikulum di semua area studi.
Kewaspadaan ekstra dan studi mendalam tentang situasi merupakan dasar dari latihan ini.

11
Panitia ahli diminta untuk dibentuk untuk melaksanakan tanggung jawab berat ini. Mengecualikan
atau memasukkan subjek studi dalam kurikulum yang direkomendasikan, untuk dapat direnungkan
apakah ini atau bahwa disiplin studi relevan dan dapat dilakukan ke dunia Muslim, yang secara
praktis tidak relevan dan subyek yang telah tertinggal harus dikesampingkan.
Misalnya, logika, filsafat dan teologi masih ditawarkan di institusi pendidikan agama, dan subjek ini
telah kehilangan signifikansi mereka di dunia kontemporer sehingga hal ini dapat dikecualikan dari
silabus. Demikian juga, dari daftar apa yang disebut disiplin sekuler baik dalam ilmu pengetahuan
manusia maupun ilmu fisika tidak relevan dan disiplin yang kurang menguntungkan dapat dijauhkan.
Mungkin tidak sulit untuk mengidentifikasi kursus studi yang tidak relevan.
Prioritas adalah prinsip lain dalam menyusun silabus. Misalnya, dalam prioritas lembaga keagamaan
harus diberikan kepada Alquran dan hadis, penekanannya adalah untuk diletakkan pada pemahaman
pesan langsung dari literatur Quran dan Hadis.
Saat ini, baik sumber hukum islam dipelajari di institusi pendidikan dari perspektif yurisprudensi, ini
bukanlah situasi yang diinginkan. Pendekatan dan preferensi pemikiran fqih ini sangat berbahaya
bagi pemikiran Muslim. Subjek penelitian fiqh juga dapat ditinjau secara menyeluruh. Dalam sejarah
ilmu pengetahuan manusia, administrasi bisnis ekonomi dan sains perpustakaan dapat diberikan
preferensi. Di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, perubahan serupa dapat dilakukan.

Pemilihan buku teks dan bahan bacaan untuk berbagai disiplin ilmu merupakan bagian intrinsik dari
kurikulum. Sifat subjek ditentukan oleh sifat teks yang disertakan. Ini adalah agenda yang intensif.
Dalam disiplin keagamaan, perubahan komprehensif buku teks tampaknya merupakan satu-satunya
solusi yang tepat untuk masalah ini. Tapi buku teks dalam disiplin sekuler mungkin hanya
memerlukan modifikasi yang relevan. Menulis buku teks baru yang relevan di kedua wilayah
tersebut merupakan tugas yang tidak dapat disangkal dalam skema pendidikan

5. Hubungan Guru-Siswa
Dalam peradaban modern hubungan antara guru dan yang diajarkan tidak masuk hitungan. Tapi
dalam skema pendidikan Islam itu memegang posisi yang sangat krusial. Dalam dunia pendidikan
saat ini adalah industri; Guru adalah salesman dan pelajar adalah pembeli. Islam mungkin tidak
membiarkan institusi pendidikannya berubah menjadi pusat bisnis. Ini menganggap guru sebagai
pemandu (murshid), dan siswa sebagai pencari (Taalib). Keduanya harus tulus dalam sikap mereka
terhadap satu sama lain. Hubungan antara keduanya diatur oleh prinsip-prinsip Alquran

Quran telah menggunakan sejumlah istilah untuk menggambar gambaran yang komprehensif dan
jelas tentang skema kehidupannya, berikut berbagai kategori, istilah-istilah tertentu mewakili sifat
tindakan yang harus dilakukan dalam kehidupan Islam, dan beberapa istilah lainnya berfungsi
sebagai prinsip dasar.
Adl(keadilan), ilsan (keunggulan) , jihad (usaha maksimal), dan taqwa (kesadaran akan
Tuhan) adalah prinsip dasar kehidupan yang paling penting seperti yang disarankan oleh Al Qur'an.
Prinsip-prinsip ini umumnya disalahartikan sehingga salah paham. Menurut persepsi umum, adl
adalah tindakan yang harus dilakukan hanya di pengadilan, Ihsanis berlaku dalam kehidupan sosial,
Jihad berperan dalam medan perang, dan taqwa sebuah bentuk yang harus ditunjukkan di masjid dan
hal-hal renungan.
Prinsip-prinsip ini bersifat umum dan bersifat universal Penerapannya melampaui keterbatasan
waktu dan tempat. Tempat pendidikan juga diatur oleh prinsip-prinsip ini. Hubungan guru-siswa
harus dibentuk dan diperkuat lebih jauh berdasarkan prinsip-prinsip yang disebutkan di atas manusia
(62,2)

12
Nabi (s.a.w) adalah seorang guru untuk umat manusia (62: 2). Sambil berbicara kepada pengikutnya
yang pernah dia amati: "Posisi saya di antara kamu adalah milik ayahmu" Karena Nabi (s.a.w) adalah
teladan bagi umat Islam, dia harus diikuti oleh guru dalam profesi mengajarnya. Guru harus
berinteraksi dengan murid-muridnya sesuai cara ayah biologis mereka memperlakukan mereka.
Seorang ayah mencintai anak-anaknya dan selalu memperhatikan kesejahteraan mereka; Dia ingin
melihat mereka berkembang dari semua sudut, secara fisik, emosional, moral, dan intelektual. Guru
juga merasa khawatir tentang bagaimana memastikan pertumbuhan, mental, mental dan moral siswa.

Salah satu sifat Nabi (s.a.w.) seperti yang disebutkan dalam kelembutan Quranis. Ayah3: 159
berbunyi: "Dan oleh kasih karunia Allah, bahwa kamu berurusan dengan pengikut-pengikut-Mu jika
kamu telah menjadi keras dan keras hati mereka pasti telah melepaskan diri darimu. Sudah jelas dari
ayat ini bahwa rahasia kesuksesan Nabi, antara lain adalah pendekatannya yang lembut dan baik
terhadap murid-muridnya. Seorang guru yang memiliki misi untuk menanamkan pengetahuan
kepada murid-muridnya harus bertindak dengan cara yang sama untuk memastikan keberhasilan
dalam tugasnya. Quran mengecam ilmuwan Yahudi dan imam karena keraguan mereka. karakter
dalam kata-kata ini: "Apakah Anda menawar orang lain untuk menjadi orang saleh sementara Anda
melupakan keinginan Anda sendiri? dan belum Anda melafalkan tulisan ilahi? Tidakkah kamu
kemudian menggunakan akal sehatmu (2:44).

Perilaku seorang guru Muslim, di depan umum atau dalam privasi, harus sesuai dengan asersinya.
Jika orang guru tidak mencerminkan karakter lslam, siswa mungkin tidak diharapkan untuk tulus
belajar darinya. gangguan hubungan antara guru dan guru dapat mengganggu keseluruhan proses
pendidikan, menyebabkan siswa merasa bingung.

Kesimpulan
Refleksi di atas mengarah pada pemahaman bahwa institusi pendidikan di dunia Muslim harus
meninjau sistem pendidikan mereka, merampingkannya sesuai dengan tujuan dan prinsip Islam.
Tujuannya, secara singkat, harus menghasilkan pemikiran Muslim yang sehat, mewakili pemikiran
dan pola hidup Islam. Prinsip utama yang mengatur keseluruhan mesin pendidikan adalah
1. penyatuan kurikulum agama dan sekuler,
2. pendekatan rasional dan kritis dalam pengajaran dan pembelajaran,
3. proses penelitian dan pengembangan yang berkesinambungan berdasarkan rumusan formula
tiga : pengetahuan yang ada, pengamatan dan penyelidikan mendalam tentang validitas
pengetahuan yang ada, dan pengembangan bentuk dan substansi pengetahuan baru,
4. pembaharuan dan reorientasi disiplin ilmu studi, dan
5. hubungan guru-siswa yang diatur oleh prinsip-prinsip Alquran kebaikan adl ilhsan, dan
integritas karakter. Penerapan prinsip-prinsip ini di sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan
universitas Muslim dapat menghasilkan buah yang indah, sehingga membantu dunia Muslim
untuk menjadi teladan bagi umat manusia lainnya.

13