Anda di halaman 1dari 62

ISBN 978-979-18361-3-5

BUKU AJAR

TEKNOLOGI SEHAT BUDIDAYA PISANG:


Dari Benih Sampai Pasca Panen
PUSAT KAJIAN HORTIKULTURA TROPIKA
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

© Pusat Kajian Hortikultura Tropika, LPPM-IPB 2012

Teknologi Sehat Budidaya Pisang

Cetakan Pertama 2012

ISBN 978-979-18361-3-5

Penyusun:
Dr. Ir. M. Rahmad Suhartanto, MSi
Dr. Ir. Sobir, MSi
Heri Harti, SP, MSi

Penerbit: Pusat Kajian Hortikultura Tropika, LPPM-IPB


Kampus IPB Baranangsiang, Jl. Raya Pajajaran Bogor
Telp : (0251) 8326881;8382201
Fax : (0251) 8326881
E-mail : ipbfruit@indo.net.id, fruit@ipb.ac.id
Web : http://www.pkht.ipb.ac.id
http://www.pkht.or.id

Hak Cipta dilindungi Undang-undang.


Dilarang memperbanyak seluruh atau sebagian karya tulis ini dalam bentuk dengan
cara apapun termasuk fotokopi tanpa ijin tertulis dari penerbit.
KATA PENGANTAR

Produksi pisang Indonesia pada tahun 2009 menduduki tempat keenam setelah
India, Cina, Filipina, Ekuador, Brasil, dengan besaran 6.273.060 ton atau 6 persen
dari produksi dunia (FAO, 2011). Dari segi nutrisi, pisang merupakan salah satu
komoditas yang berpeluang sangat tinggi untuk diversifikasi bahan pangan pokok di
Indonesia. Tingkat produktivitas pisang juga sangat tinggi dibandingkan dengan
sumber karbohidrat yang lain, beberapa pisang yang unggul dapat mencapai
produktivitas 30 - 40 ton/ha/tahun. Apabila dikonversi dengan jumlah karbohidrat,
dengan asumsi kandungan pati sebesar 25 persen, maka pisang unggul dapat
memproduksi karbohidrat sebesar 7.5 – 10 ton/ha/tahun. Pisang memiliki daya
adaptasi luas dan secara teknis dapat tumbuh baik pada lahan kering atau daerah
dengan curah hujan rendah.
Pada tahun 2010 produksi pisang Indonesia mengalami penurunan sebesar
618.460 ton (Deptan, 2011). Penurunan produksi pisang tersebut telah
mengakibatkan semakin rendahnya ketersediaan suplai pisang domestik.
Permasalahan utama dalam penurunan produksi pisang di Indonesia adalah
tingginya serangan penyakit serta belum diterapkannya prinsip Teknologi Sehat
Budidaya Pisang. Teknologi yang diterapkan meliputi semua sistem produksi
untuk menghasilkan buah yang bermutu, aman bagi konsumen serta menjaga
kelestarian lingkungan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, perlu dilakukan pengelolaan
kebun pisang secara baik melalui penerapan Teknologi Sehat Budidaya Pisang.
Buku ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan ajar dan acuan dalam budidaya
pisang yang dikelola secara baik dan benar.
Pada kesempatan ini kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih
kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional
yang membiayai penelitian sehingga tersusun buku ajar ini . Terima kasih juga
disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penulisan
buku ini.
Kami menyadari bahwa buku ini masih belum sempurna, untuk itu saran dan
kritik yang membangun untuk perbaikan buku ini sangat kami harapkan.

Bogor, Februari 2012


Pusat Kajian Hortikultura Tropika
LPPM-IPB
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI .......................................................................................... i
DAFTAR TABEL .................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................ iv
PENDAHULUAN .................................................................................. 1
PELUANG PASAR PISANG BAGI INDONESIA .............................. 3
PISANG DAN MAMFAATNYA .......................................................... 4
KEADAAN SENTRA PRODUKSI PISANG INDONESIA ................ 6
Pola Pembudidayaan dan Sentra Produksi Pisang di Indonesia ....... 6
Pembudidayaan Pisang Skala Kecil .................................................. 6
Pola Pembudidayaan Pisang Skala Perkebunan ................................. 7
BUDIDAYA PISANG ........................................................................... 9
Syarat Tumbuh ................................................................................... 9
Varietas Pisang Komersial ................................................................. 9
Kegiatan Budidaya Pisang ................................................................. 11
Penyediaan Benih/Bibit .................................................................. 11
Penyiapan Lahan ........................................................................... 13
Penanaman .................................................................................... 14
Irigasi/Pengairan............................................................................. 18
Penjarangan Anakan ...................................................................... 19
Pemupukan dan Pembumbunan .................................................... 21
Sanitasi Lahan ............................................................................... 23
Pembungkusan (Pembrongsongan) dan Pemotongan Jantung ...... 26
Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pisang ............. 27
Panen ............................................................................................. 40
PASCA PANEN PISANG ..................................................................... 43
Penyisiran ........................................................................................... 43
Sortasi dan pengkelasan ..................................................................... 43
Pengemasan ....................................................................................... 46
Pengangkutan ...................................................................................... 50
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 52
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1. Sentra Produksi di Indonesia ...................................................... 7
2. Standar mutu buah beberapa varietas pisang ............................. 45
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman
1. Pohon industri pisang ................................................................. 5
2. Beberapa jenis pisang komersial di Indonesia ........................... 9
3. Jenis bibit pisang ........................................................................ 11
4. Jenis anakan pisang .................................................................... 12
5. Beberapa cara pengaturan jarak tanam pisang ........................... 14
6. Lubang tanam yang sudah diberi perlakuan dolomite ............... 15
7. Perlakuan solarisasi pada lubang tanam ..................................... 16
8. Penanaman pisang dengan baris tunggal dan baris ganda ......... 17
9. Pengairan pada tanaman pisang ................................................. 19
10. Tanaman yang akan dilakukan penjarangan ............................. 20
11. Kondisi tanaman yang sudah dilakukan penjarangan ................ 21
12. Jadwal dan dosis pemupukan pisang .......................................... 22
13. Aplikasi pupuk kandang ............................................................. 23
14. Lahan yang belum dilakuan sanitasi dan lahan yang sudah
dilakukan sanitasi ....................................................................... 25
15. Daun pisang yang perlu dibuang dari pertanaman ..................... 25
16. Pembungkusan jantung pisang ................................................... 26
17. Saat pemotongan jantung ........................................................... 27
18. Larva dan Imago (Cosmopolitus sordidus) dan gejala
serangan pada bonggol ............................................................... 28
19. Larva dan gejala serangan pengerek batang pisang
(Odoiparus longicolis) ............................................................... 29
20. Gejala serangan ngengat kudis (Odoiparus longicolis) pada
jantung dan buah pisang ........................................................... 31
21. Larva dan Imago dan gejala serangan ulat penggulung
daun pisang ................................................................................. 32
22. Gejala serangan layu fusarium pada pisang ............................... 35
23. Gejala penyakit layu darah pada tanaman pisang ...................... 36
24. Gejala penyakit Sigatoka pada tanaman pisang ........................ 38
25. Gejala penyakit kerdil atau Bunchy Top pada tanaman pisang . 40
26. Indeks kematangan pisang ......................................................... 42
27. Pengemasan buah pisang dengan keranjang bambu, peti kayu
dan kotak karton ......................................................................... 50
1

PENDAHULUAN

Tanaman pisang (Musa spp.) merupakaan tanaman hortikultura penting karena


kaya akan nilai gizi dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Tanaman
pisang juga dapat diolah menjadi produk olahan dan bagian tananam lainnya
dapat dimanfaatkan untuk bahan industri seperti pasta gigi dan serat.
Pisang merupakan komoditas kelompok buah-buahan tropis yang sangat
penting dalam perdagangan dunia, karena kontribusinya yang nyata terhadap
kebutuhan gizi dan kesehatan masyarakat. Produksi pisang di Indonesia pada
tahun 2007 mencapai sekitar 5.2 juta ton per tahun yang merupakan campuran
berbagai jenis pisang. Dari produksi pisang yang dihasilkan di Indonesia 90%
untuk konsumsi dalam negeri, sedangkan sisanya adalah untuk ekspor.
Konsumsi pisang pada tahun 2005 mencapai 7.85 kg/kapita/tahun atau sekitar
30% dari total konsumsi buah/kapita/tahun (Deptan, 2007). Seiring dengan
meningkatnya jumlah penduduk, pendapatan dan kesadaran akan manfaat buah
sebagai sumber karbohidrat, vitamin, mineral dan gizi lainnya, konsumsi
pisang mengalami trend meningkat dari waktu ke waktu. Selain itu pisang juga
merupakan salah satu komoditi yang berpeluang sangat tinggi untuk
diversifikasi pangan di Indonesia.

Volume ekspor pisang Indonesia untuk pasar manca negara mulai tahun 1995
sampai dengan 2000 mengalami peningkatan. Peningkatan nilai ekspor ini
selain disebabkan oleh meningkatnya volume pisang yang di minta juga oleh
bertambahnya negara pengimpor pisang dari Indonesia. Akan tetapi terjadi
penurunan nilai ekspor sejak tahun 2001 – 2002 dan kembali meningkat pada
tahun 2003-2006. Pasang surut nilai ekspor pisang Indonesia terutama
disebabkan oleh hancurnya perkebunan pisang di Halmahera dan lampung
akibatnya produksi pisang nasional Indonesia menjadi turun dratis. Adanya
2

penanaman baru di sentra-sentra produksi baru mendorong produksi pisang


nasional kembali mengalami peningkatan. Dalam pengembangan pisang di
Indonesia ditemukan beberapa permasalahan dalam budidaya tanaman antara
lain:

Bertambahnya permintaan pasar terhadap buah pisang tidak di imbangi oleh


peningkatan produksi pisang di Indonesia. Beberapa kendala permasalahan
yang menyebabkan kurang berkembangnya produksi pisang di Indonesia,
adalah :
1. Pola pembudidayaan yang belum jelas dan teratur.
2. Kurangnya penerapan teknologi budidaya pisang secara benar pada tingkat
petani.
3. Kultivar pisang yang di tanam masih beragam.
4. Ketersediaan dan penggunaan bibit pisang yang sehat dari kultivar unggul
masih terbatas.
5. Penyebaran hama dan penyakit penting tanaman pisang yang cukup luas di
sentra produksi pisang.
3

PELUANG PASAR PISANG BAGI INDONESIA

Produksi pisang dunia dari sekitar 120 negara di perkirakan di atas 68 juta ton
pertahun. Pisang merupakan jenis buah yang paling penting di kawasan Asia
Tenggara termasuk peringkat pertama dalam produksi buah-buahan di
Filipina, Indonesia dan Thailand, baik mengenai luas lahannya maupun
produksinya. Total produksi pisang Indonesia pada tahun 2007 adalah
5,270,131 ton. Produksi pisang Indonesia 90% diserap oleh pasar dalam
negeri. Peluang pasar dalam negeri masih cukup lebar terutama untuk
konsumsi hotel-hotel berbintang dan pasar swalayan yang membutuhkan
pisang dengan kualitas yang tinggi.

Berkembangnya pariwisata di Indonesia dan bertambahnya wisatawan asing


yang datang ke Indonesia menjadikan peluang pasar buah pisang semakin
meningkat. Keluhan yang datang dari pengusaha hotel-hotel berbintang adalah
belum ada supplier yang menyediakan buah-buahan salah satunya adalah
pisang dengan kualitas yang tinggi . walaupun pengiriman rutin sudah mulai
dirintis oleh beberapa supplier ke berbagai pasar swalayan dan hotel, namun
kualitasnya masih rendah.

Peluang pasar ke luar negeri sama cerahnya seperti pasar dalam negeri,
walaupun pasar luar negeri sudah dikuasai pengusaha pisang internasional.
Satu cara untuk dapat masuk ke pasar luar negeri adalah dengan
mengembangkan kemitraan dengan pengusaha internasional, seperti yang
telah dirintis oleh PT. Nusantara Tropical Fruits (NTF) dengan Del Monte,
Ekspor pisang Indonesia ke berbagai negara berasal dari produksi perkebunan
besar seperti PT. NTF dan PT.Global Agronusa Indonesia (GAI)
4

PISANG DAN MAMFAATNYA

Tanaman pisang merupakan tanaman yang serbaguna , mulai dari akar


(rhizome) sampai daun dapat dimanfaatkanoleh manusia. Bonggol pisang
banyak mengandung air dan pati yang kaya karbohidrat, jika dikeringkan
menjadi abu akan menghasilkan soda yang di gunakan sebagai bahan baku
sabun dan pupuk kalium. Air yang terkandung dalam bonggol secara
tradisional dapat di gunakan sebagai obat anti sakit perut, dan pendarahan pada
usus. Batangnya dapat digunakan sebagai penghasil serat untuk bahan baku
kain dan sebagai makanan ternak. Daunnya dapat di gunakan untuk
pembungkus berbagai makanan seperti nasi, makanan kecil dan lain-lain.

Produk utama tanaman pisang adalah buahnya. Buah pisang dimanfaatkan


dalam keadaan segar sebagai buah meja atau olahan. Buah pisang dapat
diproses menjadi tepung pisang, pure, bir, cuka, kripik, sale, dodol dan saus.
Jantung pisang atau bunga pisang dari beberapa kultivar tertentu dapat di
manfaatkan sebagai sayuran.

Di beberapa Negara Amerika dan Afrika, buah pisang tidak hanya digunakan
sebagai makanan tambahan namun sudah dikonsumsi sebagai buah segar atau
buah olahan sebagai makanan pokok . Nilai nutrisi yang terkandung dalam
buah pisang cukup tinggi . Kadungan gizi per 100 gram daging buah adalah
energi (116-128 kcal), protein (1%), lemak (0.3%), karbohidrat (27%), mineral
(Ca_15 mg, K_ 380 mg, Fe_0.5 mg, Na_1.2 mg), dan vitamin (Vit. A_0.3 mg,
Vit. B1_0.1 mg; B2_0.1 mg, B6_0.7 mg, Vit. C_20 mg). Kandungan Ca pada
buah pisang dapat menetralisir efek menetralisir efek garam dan MSG, K
dapat menjaga keseimbangan air tubuh, kenormalan tekanan darah, fungsi
jantung dan kerja otot dan vitamin B6 dan asam folat dapat berfungsi untuk
perkembangan otak dan mencegah kanker usus.
5

Pisang

Batan Buah Daun


g

Tali Pati Segar Olahan Membungk


us

Perme Keripik Sale Pasta


n

Tepun Sari
g buah

Snack Roti

Gambar 1. Pohon industri pisang


6

KEADAAN SENTRA PRODUKSI PISANG INDONESIA

Pola Pembudidayaan dan Sentra Produksi Pisang di Indonesia

Secara umum di Indonesia terdapat empat pola budidaya pisang di Indonesia,


yaitu: 1) pertanaman pekarangan, 2) sistem tumpasari,3) kebun pisang petani
gurem skala komersial dan 4) perkebunan pengusaha pisang. Pertanaman
pekarangan, sistem tumpasari dan kebun pisang petani gurem skala komersial
digolongkan pada pola pembudidayaan skala kecil karena skala luasan
kebunnya kurang dari 20 ha. Sedangkan perkebunan pengusaha pisang terdiri
dari dua golongan yaitu perkebunan skala menengah dan perkebunan skala
besar.

Pembudidayaan Pisang Skala Kecil

Pertanaman pisang di pekarangan dan sistem tumpasari di kebun petani banyak


tersebar di wilayah Indonesia. Tanaman pisang yang ditanam di pekarangan
digunakan untuk konsumsi keluarga dengan memanfaatkan masukan modal
yang minimal, sedangkan kelebihan hasilnya dijual ke pasar. Kultivar pisang
yang ditanam beragam, tergantung daerahnya. Pada sistem tumpasari, pisang
biasanya digunakan sebagai tanaman perawat atau naungan untuk tanaman
muda coklat, kopi, lada dan sebagainya. Tanaman pisang juga digunakan
sebagai tanaman sela pada perkebunan karet dan kelapa sawit yang baru di
bangun atau di tanam di bawah pohon kelapa yang sudah dewasa. Tanaman
pisang yang di tanam sebagai tanaman utama, biasanya ditumpasarikan dengan
tanaman semusim seperti sayuran atau palawija.

Pada kebun buah milik petani gurem, pisang di tanam sebagai tanaman
monokultur di lahan yang luasnya berkisar antara 1- 20 ha. Pemilihan kultivar
tergantung kepada permintaan konsumen dan kesesuaian dengan keadaan
7

agroklimat yang berlaku di daerah tersebut. Pengelolaan pada tanaman pisang


sudah lebih baik dari pengelolaan tanaman pisang pekarangan dan tanaman
pisang tumpasari. Pola pertanaman tumpasari dan kebun pisang petani gurem
tersebar di seluruh sentra produksi pisang di Indonesia
(Tabel 1)
Tabel 1 .Sentra Produksi di Indonesia
Propinsi Lokasi
Banten Serang
Jawa Barat Sukabumi, Cianjur, Bandung, Bogor, Indramayu,
Purwakarta
Jawa Tengah Demak, Kudus, Pati, Banyumas, Cilacap dan
Purbalingga
Jawa Timur Banyuwangi, Malang dan Sampang
Sumatra Utara Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Deli Serdang
Padang Sidempuan dan Asahan
Sumatra Barat Tanah Datar dan Pariaman
Sumatra Selatan Lahat, Lematang Ilir, Ogan Kumering Ilir, Ogan
Kumering Ulu dan Musi Rawas
Jambi Batanghari
Lampung Lampung Tenggara dan Lampung Selatan
Bali Buleleng, Karangasem, Jembrana dan Tabanan

Pola Pembudidayaan Pisang Skala Perkebunan

Pembudidayan pisang skala perkebunan di Indonesia terdiri dari dua golongan


yaitu perkebunan skala menengah dan perkebunan skala besar perkebunan
skala menengah memiliki luasan lahan 50-100 hektar. Salah satu perkebunan
skala menengah di usahakan di Mojokerto Jawa Timur yaitu PT. Horti
8

Nusantara dengan luasan 100 ha. Jenis pisang yang di tanam adalah kultivar
Cavendish dengan tujuan pasar dalam negeri. Selain bertanam pisang, PT.
Horti Nusantara memproduksi bibit pisang asal kultur jaringan yang dapat
dijual ke luar perkebunan.

Perkebunan pisang skala besar terdapat di Lampung (PT. Nusantara Tropikal


Fruits) dan Maluku Utara (PT. Global Agronusa Indonesia) dengan target
pengembangan lahan seluas 2000 -5000 ha. Produksi pisang yang di hasilkan
oleh perkebunan tersebut setiap tahunnya di atas 100 000 ton dengan
produktivitas lebih dari 100 ton/ha. Jenis pisang yang diusahakan adalah
kultivar cavendish dengan tujuan utama untuk ekspor.
9

BUDIDAYA PISANG
Syarat Tumbuh
 Suhu : Optimum pada kisaran 26-28C.
 Altitude : Di bawah 800 m dpl, tapi masih mungkin sampai 1000 m dpl.
 Pengairan : Perlu air teratur 20-60 mm/minggu
 Tanah : pH 4.5-8.5, kedalaman solum >75 cm, kedalaman air > 120
cm, kemiringan 15%<, peka tanah salin. Terbaik pada tanah
dengan solum dalam, berdrainase baik, dengan kandungan
humus tinggi seperti tanah vulkanik atau tanah aluvial.
Hindari tanah tergenang.
 Lokasi : Dekat dengan industri pendukung atau jalur agribisnis

Varietas Pisang Komersial


Varietas pisang komersial di dunia adalah: Cavendish, Baby banana, Monkey
banana. Varietas pisang komersial di Indonesia : Ambon, Raja, Tanduk,
Barangan, Uli, Mas, dll. Koleksi pisang Indonesia sekitar 420 jenis.

Gambar 2. Beberapa jenis pisang komersial di Indonesia


10

Alur Agribisnis Pisang

Penentuan dan Penyediaan Bibit Penentuan dan Penyiapan Lahan

Penanaman

Pengairan

Penjarangan anakan

Pemupukan

Sanitasi lahan

Pembungkusan Buah

Pengendalian HPT

Panen

Pencucian dan desinfeksi

Sortasi dan Pengkelasan

Pangemasan

Distribusi
11

Kegiatan Budidaya Pisang


Kegiatan budidaya pisang dimulai dari penyediaan benih dan bibit sampai
panen sesuai dengan alur agribisnis pisang di atas. Setelah kegiatan panen
perlu juga dilakukan kegiatan pasca panen yang baik sampai pisang
dipasarkan. Langkah-langkah kegiatan budidaya pisanga dalah sebagai
berikut:

Penyediaan Benih/Bibit
Sumber bibit harus diperoleh dari induk yang sehat dan diperoleh dari lahan
yang bebas penyakit terutama penyakit layu fusarium dan layu bakteri serta
penyakit bunchy top. Sumber bibit dapat berasal dari anakan, bonggol (cormit
/bits) dan kultur jaringan. Pada umumnya petani menggunakan bibit yang
berasal dari anakan dan belahan bonggol. Bibit yang siap ditanam berukuran
40-50 cm bila dari kultur jaringan, atau anakan berumur 6 bulan.

Gambar 3. Jenis bibit pisang. A. anakan; B. bonggol dan C. kultur jaringan

A B C

Gambar 3. Jenis bibit pisang. A. anakan; B. bonggol dan C. kultur jaringan


12

A. Sistem Penyediaan Benih dari Anakan

Gambar 4. Jenis anakan pisang

1. Pilih tanaman induk yang sudah berbuah dan sehat


2. Pilih tanaman dari lahan yang bebas penyakit terutama penyakit layu
fusarium dan layu bakteri
3. Pilih anakan pedang bukan anakan air
4. Pisahkan anakan dari bonggol induknya
5. Benih dikumpulkan di tempat yang teduh, akar dibersihkan dari tanah,
daun dikurangi
6. Buang mata tunas yang timbul
7. Benih diseleksi menurut besar dan tinggi untuk mendapatkan benih yang
seragam
8. Sebelum ditanam ditanam ke polibag, benih direndam dengan campuran
agens antagonis bakteri (Pseudomonas fluurescens + Bacillus substilis)
13

selama 24 jam atau boleh juga direndam dengan fungisida Benlate atau
Dithane M-45 dengan konsentrasi 2 g/liter air selama 2 jam

B. Penyediaan Benih dari Bonggol


1. Pilih bonggol dari tanaman yang dewasa, sehat serta bebas dari hama dan
penyakit
2. Bersihkan bonggol dan buang akarnya dengan tidak merusak mata tunas
3. Belah bonggol menurut ukuran mata tunas dengan ukuran 10 x 10 x 10 cm
4. Bonggol yang sehat adalah bila dibelah berwarna putih
6. Untuk mengurangi serangan penyakit sebelum ditanam ke polibag, rendam
bonggol dalam campuran agens antagonis bakteri (Pseudomonas
fluurescens + Bacillus substilis) selama 2 jam atau boleh juga direndam
dengan fungisida Benlate atau Dithane M-45 dengan konsentrasi 2 g/liter
air selama 2 jam

C. Benih dari Kultur Jaringan


1. Pilih bahan explan yang dari induk yang disertifikasi bebas penyakit
sistemik.
2. Diperbanyak dengan penggunaan ZPT yang berimbang.
3. Planlet tidak melebihi subkultur ke V.
4. Diaklimatisasi dalam media yang bebas penyakit tular tanah.
5. Off-type kurang dari 5%.

Penyiapan Lahan
 Pembersihan lahan. Lahan harus dibersihkan dari dari hal-hal yang
dapat menganggu pertumbuhan tanaman. Lahan dibersihkan mulai
dari membuang batu besar, gulma, tunggul batang dan sebagainya yang
14

dapat menganggu sistem perakaran tanaman dan penyerapan unsur


hara. Selain itu juga disiapkan bedengan dan akses jalan.

 Pengaturan jarak tanam. Jarak tanam tergantung varietas, varietas


ukuran kecil sekitar 2X2.5 m, besar 3X3. Bisa juga berupa barisan 1.5-
2 X 4-6 m. Populasi tanaman per ha, tergantung dari layout tanah.
Arah barisan dalam pengaturan jarak tanam harus sejajar dengan arah
terbit metahari.

Matahari
Terbit 3m 3m

3m 3m

3m 3m 3m 3m

2m 2m
3m 3m 3m

2m 2m

3m

B
Gambar 5. Beberapa cara pengaturan jarak tanam pisang, A. Pola tanam sejajar
dan teratur, jarak tanam 3 x 3 meter; B. Pola tanam berseling,
jarak tanam 3 x 2 m

Penanaman
 Pembuatan lubang tanam.
15

Pembuatan lubang tanam diperlukan untuk memperbaiki lingkungan


perakaran pisang agar bibit pisang yang ditanam mampu tumbuh dengan
cepat. Pembuatan lubang tanam sebaiknya dilakukan 2-3 minggu
sebelum tanam. Ukuran lubang tanam kira-kira 50 x 50 x 50 cm. Pada
saat pembuatan lubang tanam harus dipisahkan tanah lapisan atas (arak
kiri) dan tanah lapisan bawah arah kanan. Apabila tanah masam,
sebaiknya pada lubang tanam diberi kapur/dolomite sebanyak 200-500
g/lubang. Lubang tanam dibiarkan terbuka selama 2 minggu dengan
tujuan member kesempatan tanah menyerap oksigen dan sinar matahari.
Sebaiknya lubang tanam diberi perlakuan solarisasi yaitu menutup
lubang tanam dengan plastik PVC selama 2-3 minggu. Tujuan dilakukan
solarisasi adalah untuk mematikan mikrorganisme yang merugikan
tanaman pisang.

Kapur/dolomit

Gambar 6. Lubang tanam yang sudah diberi perlakuan dolomite dan


dibiarkan terbuka
16

Gambar 7. Perlakuan solarisasi pada lubang tanam

 Penutupan lubang tanam.

Penutupan lubang tanam dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan


kelembaban tanah ke kondisi semula. Penutupan lubang tanam dapat
dilakukan 2-3 hari sebelum tanam. Pada saat penutupan lubang tanam
ditambahkan pupuk kandang yang sudah dicampur agensia hayati
sebanyak 10 – 20 kg per lubang tanam. Satu minggu sebelum penutupan
lubang tanam, pupuk kandang dicampur dengan agensia hayati
Trichoderma sp. Sebanyak 100 – 200 g Trichoderma sp dicampur
dengan 10 kg pupuk kandang. Setelah dicampur pupuk kandang
dimasukkan ke dalam karung dan diperam selama 1 minggu dalam
keadaan lembab. Pada saat penutupan lubang pupuk kandang yang
sudah dicampur dengan agensia hayati, setengah bagian dimasukan
kedalam lubang tanam dan setengah bagian dicampurkan dengan tanah
bagian atas (top soil). Pada saat penutupan lubang tanam, tanah bagian
atas (top soil) dimasukkan terlebih dahulu baru disusul tanah bagian
bawah (sub soil).
17

 Penanaman

Penanaman dilakukan sebaiknya pada awal musim hujan atau akhir


musim kemarau, agar tanaman pada saat pertumbuhan awal tidak
mengalami kekeringan. Sebelum ditanam bibit yang sudah disiapkan
terlebih dahulu diberi perlakuan dengan cara merendam dalam agens
antagonis seperti bakteri Pseudomonas fluorescens dan Bacillus substilis
dengan konsentrasi 109/ml selama 24 jam. Kalau agens antagonis sulit
diperoleh, bibit dapat direndam dulu ke dalam larutan fungisida Benlate
atau Duthane M-45 selama 2 jam. Sementara menunggu bibit direndam,
lubang tanam yang sudah ditutup, dilubangi kembali seukuran dengan
bonggol atau bibit. Setelah bibit direndam, bibit siap ditanam. Bibit
dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan posisi tegak dan ditanam
sampai sebatas 5 – 10 cm di atas pangkal tanah, kemudian lubang ditutup
kembali dengan tanah galian. Penanaman pisang dapat dilukukan
dengan baris tunggal dan baris ganda.

A B
Gambar 8. Penanaman pisang dengan baris tunggal (A) dan baris ganda
(B)
18

Irigasi/Pengairan
Pengairan dilakukan untuk membantu penyediaan air yang cukup untuk
pertumbuhan dan produksi tanaman. Hal-hal yang harus diperhatikan
dalam penyediaan air adalah air yang digunakan untuk penyiraman tidak
tercemar zat berbahaya dan limbah pabrik serta bibit penyakit. Pengairan
harus disesuaikan dengan musim, umur tanaman dan fase pertumbuhan
tanaman. Pengairan dapat dilakukan dengan penyiraman, irigasi sprinkle,
irigasi tetes dan pembuatan selokan di antara bedengan tanaman. Namun
biasanya teknik pengairan yang banyak dilakukan adalah dengan
penyiraman. Irigasi tetes dan sprinkle banyak digunakan untuk perkebunan
besar.

Pengairan lahan harus dilakukan paling lambat 3 – 4 hari setelah tanam jika
ditanam pada saat tidak turun hujan. Penyiraman dilakukan dengan gembor
atau selang dari atas permukaan tanah sekitar pohon sampai tanah terlihat
basah pada kedalaman minimal 20 cm. Penyiraman dapat dilakukan pada
pagi atau sore hari, sekurang-kurangnya 2 kali seminggu apabila tidak turun
hujan. Tanaman pisang yang kekurangan air dapat menyebabkan
pertumbuhan tanaman terhambat. Kekurangan air pada fase pertumbuhan
vegetative dapat mempengaruhi kecepatan perkembangan daun dan jumlah
bunga menjadi sedikit, sehingga produksi buah menjadi rendah.
Kekurangan air pada fase pembungaan dapat menurunkan jumlah buah dan
kekurangan air pada periode pembentukan buah dapat mempengaruhi
ukuran dan kualitas buah, tandan buah pendek dan ukuran kecil.
19

Gambar 9. Pengairan pada tanaman pisang

Penjarangan Anakan
Penjarangan anakan dilakukan dengan tujuan mengurangi persaingan hara
antar tanaman dan meningkatkan pertumbuhan tanaman, produktivitas dan
kualitas hasil. Membiarkan anakan pada tanaman pisang dapat mengurangi
produksi. Saat penjarangan juga berperan penting dalam managemen
produksi. Ada dua tipe anakan yang dihasilkan yaitu anakan muda dengan
daun yang sempit (anakan pedang) dan anakan dengan daun yang lebar
(anakan air). Satu rumpun maksimum dengan 1-2 anakan yang berbeda umur.
Penjarangan dilakukan setiap 3 bulan. Anakan yang dibuang adalah yang
tumbuhnya mengarah pada jalan kebun. Anakan yang dipilih untuk dipelihara
adalah anakan yang berdaun pedang, tingginya 20-40 cm, pertumbuhan
kuncup daun baik. Dengan pembuangan anakan ini pohon induk akan berbuah
20

dengan arah pertumbuhan buah ke jalan untuk memudahkan pemanenan. A-


nakan berumur 6 bulan dapat dijadikan sebagai bahan tanaman untuk inisiasi
kebun baru.

Penjarangan anakan dapat dilakukan dengan cara mematikan anakan


dengan metode sebagai berikut:

a) Potong anakan sebatas permukaan tanah, congkel bagian tengah batang


lalu tuangkan 2 – 3 ml (½ sendok teh) minyak tanah.

b) Dapat juga menggunakan 2,4 – D 50% sebanyak 2 – 12 tetes pada


batang semu anakan yang telah mencapai tinggi 30 – 60 cm. Anakan
yang lebih kecil dosisnya dapat dikurangi.

Anakan yang Anakan yang


dipelihara dibuang
(anakan pedang) (anakan air)

Gambar 10. Tanaman yang akan dilakukan penjarangan


21

Gambar 11. Kondisi tanaman yang sudah dilakukan penjarangan

Pemupukan dan Pembumbunan


Pemupukan dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan unsure
hara tanaman dan mendapatkan pertumbuhan tanaman yang optimum,
produksi yang tinggi dan kualitas yang baik sesuai dengan standar yang
ditetapkan serta memperkuat pertumbuhan tanaman pisang. Jenis pupuk
yang digunakan adalah:
 Bahan organik: pupuk kandang, kompos
 Pupuk kimia yang terdiri dari N (urea, ZA, KNO3, NPK), N (urea, Za,
KNO3, NPK), P (TSP, SP-36) dan K (KCl, KNO3)
Pemupukan dilakukan dengan cara:
 Membuat parit di sekeliling rumpun dengan jarak minimal 50 cm dari
pohon dengan kedalaman 10-15 cm
 Pupuk ditebarkan disepanjang parit sesuai dosis
22

 Setelah pupuk diberikan parit ditutup dan dilanjutkan dengan


pembumbunan
 Lingkaran tajuk diusahakan bersih dari rumput/gulma

Aplikasi pupuk organik dilakukan pada saat penyiapan lubang tanam


dengan dosis 10-20 kg/lubang tanam. Sedangkan aplikasi pupuk kimia
dilakukan tiga sampai empat kali dalam satu tahun. Pemupukan I : satu
bulan setelah tanam (Urea 150g, SP-36 100g, KCl 200g), pemupukan II, III
& IV selang 3 bulan dari pemupukan sebelumnya (Urea 150g, SP-36 100g
dan KCl 450g.

PEMUPUKAN KE DAN BULAN


KEGIATAN 1 2 3 4
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Pemupukan
20
- Organik kg/lubang
150 150
- Urea g/tanaman g/tanaman 150 g/tanaman 150 g/tanaman
100 100
- TSP g/tanaman g/tanaman 100g/tanaman 100 g/tanaman
200 450
- KCl g/tanaman g/tanaman 450 g/tanaman 450 g/tanaman
23

Gambar 12. Jadwal dan dosis pemupukan pisang

Gambar 13. Aplikasi pupuk kandang

Sanitasi Lahan
Sanitasi lahan dilakukan bertujuan untuk membersihkan gulma dan
tanaman sakit di sekitar pertanaman agar tanaman dapat tumbuh optimal.
Gulma yang tumbuh di sekitar pertanaman pisang kalau tidak dibersihkan
dapat menimbulkan persaingan hara antara gulma dan tanaman, sehingga
akan mengurangi suplai hara ke tanaman. Sementara tanaman yang sakit
kalau tidak dibersihkan dapat menjadi sumber penyakit bagi tanaman
lainnya.

Pengendalian gulma penting dilakukan pada 3 bulan pertama. Pengendalian


gulma pada tanaman pisang umumnya dilakukan secara manual atau
mekanis. Pengendalian secara manual dilakukan dengan membuang gulma
minimal 100 cm sekeliling tanaman pisang. Pengendalian dapat dilakukan
dengan menggunakan alat seperti cangkul, kored dan parang. Parang yang
digunakan untuk memotong tanaman yang sakit tidak boleh digunakan lagi
24

untuk tanaman sehat, kecuali parang tersebut dibersihkan dahulu dengan


klorox ataupun bayclin agar penyakit tidak menular ke tanaman yang sehat.
Pengendalian secara manual atau mekanis harus dilakukan dengan hati-hati
agar tidak melukai perakaran tanaman.

Untuk perkebunan skala luas, dengan alas an pertimbangan ekonmi


penyiangan dapat dilakukan dengan penyemprotan herbisida.
Penyemprotan herbisida dapat dilakukan apabila tanaman sudah cukup
tinggi (1- 1.5 m) dan apabila tanaman sudah ada yang terserang layu
fusarium. Penyemprotan dengan herbisida dapat dilakukan 4-5 kali dalam
satu tahun. Herbisida yang digunakan dari herbisida yang berbahan aktif
Ametryne, simazine, diuron, paraquat dan glyphosate. Pemelihan masing-
masing bahan aktif tergantung pertumbuhan tanaman. Umur tanaman 1 –
4 bulan dapat menggunakan ametryne, umur tanaman 5 – 6 bulan
menggunkan paraquat, umur diatas 6 bulan menggunakan glyphosate.

Kegiatan penyiangan sebaiknya diikuti dengan pembersihan kebun,


terutama pemotongan daun-daun yang telah tua dan juga daun-daun yang
kering. Hal ini dilakukan untuk memberikan sirkulasi udara dan masuknya
cahaya matahari yang baik ke dalam pertanaman. Daun yang dibuang
adalah daun dengan lebih dari 50% terserang bercak penyakit, daun tua
yang telah menguning dan daun yang menaungi dan menggesek jantung dan
atau buah yang dalam masa tumbuh dan berkembang.
25

A B

Gambar 14. Lahan yang belum dilakuan sanitasi (A), lahan yang sudah
dilakukan sanitasi (B dan C)
Daun yang
perlu dibuang

Gambar 15. Daun pisang yang perlu dibuang dari pertanaman


26

Pembungkusan (Pembrongsongan) dan Pemotongan Jantung


Tujuan dilakuan pembungkusan buah adalah untuk mencegah timbulnya
serangan hama dan penyakit pada buah pisang, terutama hama kudis dan
penyakit darah. Pembungkusan dilakukan pada saat seludang pisang pertama
belum membuka dan jantung sudah mulai merunduk. Sebelum dibungkus
sebaiknya jantung pisang disemprot terlebih dahulu dengan pestisida, untuk
mencegah berdiamnya serangga pada jantung pada saat jantung sudah
dibungkus. Pembungkusan dapat dilakukan dengan plastik plastik berwarna
biru (polyethilen) atau plastik dursban, yang diikatkan ke pangkal tandan
dengan mengusahakan seludang atas tidak masuk ke dalam plastik brongsong.
Jika plastik polyethilen biru tidak ada bisa juga digunakan karung bekas
maupun plastik biasa. Secara berkala harus dilakukan pemeriksaan untuk
mencegah tersangkutnya seludang yang sudah terlepas agar tidak membusuk
pada tandan buah.

Gambar 16. Pembungkusan jantung pisang

Pemotongan ontong dilakukan untuk mengoptimalkan penyerapan unsur


hara oleh bakal buah. Pemotongan dilakukan bila buah terakhir yang
normal sudah melengkung ke atas. Pemotongan dapat dilakukan dengan
menggunakan pisau ataupun parang. Setelah memotong satu jantung,
parang harus dibersihkan dengan bayclin atau dicuci dengan detergen
27

sebelum digunakan untung memotong jantung yang lainnya. Bekas


potongan jantung diolesi dengan bakterisida seperti Agrept, untuk
menghindari penyakit layu bakteri.

Gambar 17. Saat pemotongan jantung (A), buah pisang yang ibungkus
dengan plastik berwarna biru (B) dan buah pisang yang
dibungkus dengan karung plastik biasa

Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pisang


Hama penting pada tanaman pisang dan cara pengendaliannya
1. Penggerek bonggol Cosmopolitus sordidus (Germ)
(Colepotera: Curculionidae)
Gejala: Larva kumbang moncong menggerek dan membuat lorong-
lorong pada bonggol dan batang pisang dan menjadi pupa atau
kepompong di lorong-lorong yang dibuatnya. Kemudian larva
memakan ujung akar dan jaringan pengangkut. Sebagian besar
jaringan bonggol akan rusak, akibatnya akan menurunkan
kemampuan pengambilan air dan hara sehinggan mengakibatkan
daun pisang akan layu dan pelepahnya mudah patah. Apabila
batang ditebang, akan tampak lorong-lorong yang dibuat oleh
serangga ini.
28

Pengendalian:
1. Cara kultur teknis: kumbang penggerek dapat bertahan selama 9 bulan
pada batang pisang. Oleh karena itu, lakukan pembersihan tempat
berlindung dan tempat makan serangga dewasa dengan sanitasi kebun
dan membersihkan pelepah, memusnahkan batang pisang yang telah
dipanen atau terserang hama ini . Untuk memerangkap dan menarik
serangga betina meletakkan telur dapat digunakan perangkap umpan
rhizom. Setelah itu umpan dimusnahkan dengan dibakar.
2. Cara mekanis: kumbang yang ada dalam batang/bonggol pisang
dimatikan
3. Cara Biologi: dengan musuh alami yaitu dengan predator larva
Plaesius javanicus Er, Hololepta sp, Chrysophilus ferrugineus dan
Ceromasra sphenopori dan pengendalian dengan parasitoid
Beauveria bassiana dan Metarrhizium sp
4. Cara kimia: dengan insektisida sistemik seperti karbofuran

A B

C
Gambar 18. Larva dan Imago Cosmopolitus sordidus (A dan B) dan gejala
serangan pada bonggol (C)
29

2. Penggerek Batang (Odoiparus longicolis Oliver)


(Colepotera:Curculionidae).
Gejala: Secara umum infestasi dimulai pada tanaman umur 5 bulan.
Gejala awal dari infestasi adalah adanya lubang gerekan pada
batang. Kumbang menyerang batang tanaman pisang.
Tanaman menjadi layu, bila batangnya dibelah terlihat adanya
lubang gerek yang memanjang. Larva dan imagonya merusak
batang.
Pengendalian:
1. Sanitasi kebun dengan memotong batang pisang yang terserang
sampai ke permukaan tanah, kemudian dipotong kecil-kecil dan
dibenamkan ke dalam tanah.

2. Penggunaan musuh alami yaitu predator Plaesius sp

3. Penggunaan insektisida seperti karbofuran

Gambar 19. Larva dan gejala serangan pengerek batang pisang


(Odoiparus longicolis)
30

3 Ngengat Kudis Pisang (Nacoleia octasema Meyr. )


(Lepidoptera: Pyralidae)
Gejala: Larva hidup berkelompok, makan dan berkembang pada bunga
dan kulit buah pisang yang masih muda. Serangannya
menyebabkan perkembangan buah menjadi terlambat dan dapat
menimbulkan terjadinya kudis pada kulit buah pisang, terutama
sering ditemukan pada sisir yang terakhir pada tandan pisang
yang terserang. Serangan berat akan menurunkan kualitas buah
dan buah menjadi abnormal. Serangga ini juga dapat menjadi
vektor penyakit layu bakteri (penyakit darah).

Pengendalian:

1. Cara mekanis: membungkus tandan pisang dengan kantong plastik


dusrban sejak fase pembungaan hingga panen.. Pemotongan jantung
pisang yang sudah tidak produktif lagi dilakukan untuk membuang
sisa larva yang bersembunyi di dalamnya.

2. Cara biologi: dilakukan dengan memanfaatkan musuh alaminya


berupa parasitoid dari famili Tachnidae dan Braconidae.

3. Cara kimia: dilakukan dengan menggunakan insektisida yaitu


menyuntikkan insektisida pada tangkai tandan buah pisang yang baru
mekar.
31

Gambar 20. Gejala serangan ngengat kudis (Odoiparus longicolis) pada


jantung dan buah pisang

4. Penggulung Daun Pisang (Erionata thrax Linnaeus)


(Lepidoptera: Hesperidae)
Gejala: Daun yang diserang ulat biasanya digulung menyerupai tabung,
dan apabila dibuka akan ditemukan larva di dalamnya. Larva
memotong bagian tepi daun kemudian digulung mengarah ke
dalam. Larva yang masih muda memotong tepi daun secara
miring, lalu digulung hingga membentuk tabung kecil. Apabila
daun dalam gulungan tersebut sudah habis, maka larva akan
pindah ke tempat lain dan membuat gulungan yag besar. Larva
ditutupi oleh semacam lilin berwarna putih. Apabila serangan
32

berat, daun akan habis dan tinggal pelepah daun yang penuh
dengan gulungan daun sehingga dapat menurunkan produksi
pisang.

B C
Gambar 21. Larva dan Imago (A, B) dan gejala serangan ulat
penggulung daun pisang (Erionata thrax) (D)

Pengendalian:
1. Cara mekanis: Daun pisang yang terserang dipotong, kemudian larva
yang ada di dalamnya dimatikan atau dimusnahkan.
2. Cara biologi: dengan menggunakan parasitoid telur Oencyrtus
erionatae Ferr, parasitoid larva muda Apanteles erionatae Wlk,
parasitoid pupa Xanthopimpia gampsara dan parasitoid lainnya yaitu
Agiommatus spp., Anastatus sp., Brachymeria sp dan Pediobius
erionatae
33

3. Cara kimia: dengan insektisida kontak maupun racun perut misalnya


insektisida yang mengandung bahan aktif diazinon, endosulfan,
dieldrin dan dimethoat. Penyemprotan dilakukan saat telur menetas.

Penyakit penting pada tanaman pisang dan cara pengendaliannya


1. Layu fusarium/Panama
Penyebab : Fusarium oxysporum Schlecht f.sp. cubense
Gejala : Gejala yang menyolok dari layu fusarium pada awalnya adalah
terjadi penguningan tepi daun pada daun-daun yang lebih tua.
Gejala menguning berkembang dari daun tertua menuju ke daun
termuda. Daun-daun yang terserang secara berangsur-angsur
layu pada tangkainya atau lebih umum pada dasar ibu tulang
daun dan menggantung ke bawah menutupi batang semu. Rata-
rata lapisan luar batang palsu terbelah dari permukaan tanah
atau terjadi retakan memanjang pada batang semu. Pada bagian
dalam apabila dibelah, terlihat garis-garis coklat atau hitam
menuju ke semua arah, dari batang (bonggol) ke atas melalui
jaringan pembuluh ke pangkal daun dan tangkai. Daun-daun
termuda menampakkan gejala yang paling akhir dan seringkali
berdiri tegak.

Pengendalian:
1. Budidaya:
a. Hindarkan penanaman pisang pada lahan yang pernah terserang
penyakit layu Fusarium.
b. Pada lubang tanaman ditaburi arang sekam untuk menghambat
penyebaran cendawan.
34

c. Gunakan bibit yang sehat bebas dari cendawan (kalau


memungkinkan gunakan bahan perbanyakan hasil kultur
jaringan)
d. Jangan menanam bonggol, anakan atau bibit dan membawa tanah
dari daerah yang sudah terinfeksi penyakit layu Fusarium.
e. Mensterilkan alat-alat pertanian dengan disenfektan seperti
detergen dan bayclin

2. Mekanis :
a. Eradikasi tanaman terserang. Untuk tanaman dalam rumpun,
tanaman dimatikan dengan suntikan minyak tanah sebanyak 5 cc
dan area dengan kisaran  1,5 m dari tanaman/rumpun ditaburkan
arang sekam.
b. Untuk isolasi kawasan, lahan baru dipisahkan dari lahan yang
terserang dengan dibuatkan parit sedalam Rhizosphere (perakaran)
pisang lalu arang sekam ditaburkan  ¾ tinggi parit dan dibuat
drainase yang tidak mempengaruhi kebun baru.
3. Biologis :
Pemanfaatan musuh alami seperti Pseudomonas florescens,
Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. dengan aplikasi :
Aplikasi 1 : diberikan pada 2 minggu sebelum tanam dengan dosis :
 Trichoderma sp dan Gliocladium sp sebanyak 100 g/5 kg kompos
jadi yang setara dengan konsentrasi 108 spora/cell atau 100-200
gr/ 10-20 kg pupuk kandang
 Pseudomonas florescens sebanyak 100 cc/5 kg kompos padi jadi
yang setara dengan konsentrasi 108 CFU (Cell Fraction Unit).

Aplikasi 2 : diberikan 3-4 bulan setelah tanam (bersamaan dengan


penjarangan anakan) dengan dosis :
35

 Trichoderma sp dan Gliocladium sp sebanyak 50 g/5 kg kompos


padi jadi yang setara dengan konsentrasi 108 spora/cell atau 50
gr/10 kg pupuk kandang
 Pseudomonas florescens sebnayak 100 cc/5 kg kompos padi jadi
yang setara dengan konsentrasi 108 CFU (Cell Fraction Unit).

4. Cara Kimia yaitu untuk melakukan sterilisasi permukaan seperti


penggunaan beberapa jenis fungisida. Sebelum ditanam bibit pisang
diberi perlakuan dengan cara merendam bibit dengan fungisida
sistemik ataupun desinfektan.

Gambar 22. Gejala serangan layu fusarium pada pisang

2. Penyakit Darah (Blood Disease)


Penyebab: Blood Disease Bacterium (BDB)
Gejala: Daun menguning terkulai, buah busuk dan bila disayat tampak
bercak coklat kemerahan pada daging buah atau membusuk
berlendir. Kelayuan menyeluruh terjadi pada tanaman muda.
36

Pada sayatan batang atau bonggol terlihat coklat berlendir


merah menyerupai darah, dan tanaman mati mengering. Bila
infeksi terjadi saat keluar jantung, maka tanaman segera layu
tanpa didahului penguningan daun dan buah tidak terbentuk.
Serangan pada tanaman yang telah membentuk buah
menyebabkan pembusukan pada buah. Gejala luar penyakit
layu bakteri ini hampir sama dengan layu fusarium. Keduanya
dapat dibedakan dengan memperhatikan gejala dalam. Pada
penyakit darah, batang yang dipotong mengeluarkan lendir
kemerahan dan terjadi perubahan warna pada bagian dalam
buah.

Gambar 23. Gejala penyakit layu darah pada tanaman pisang


37

Pengendalian:
1. Budidaya:
a. Gunakan bibit yang sehat bebas dari bakteri (kalau memungkinkan
gunakan bahan perbanyakan hasil kultur jaringan). Jika
menggunakan anakan maka dianjurkan untuk mengambil anakan
dari rumpun sehat yang terletak minimal radius 20 m dari rumpun
asal bibit tidak ada pisang sakit
b. Segera potong jantung setelah sisir terakhir terbentuk.
c. Penutupan tandan pisang hingga menutupi bekas potongan jantung
(pembrongsongan)
d. Jangan menanam bonggol, anakan atau bibit dan membawa tanah
dari daerah yang sudah terinfeksi penyakit layu bakteri.
e. Mencuci alat-alat pertanian dengan fungisida.
f. Rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya selama tiga
tahun
g. Menghindari terjadinya luka pada akar

2. Mekanis :
Eradikasi tanaman terserang dengan Untuk tanaman/rumpun,
tanaman dimatikan dengansuntikan minyak tanah sebanyak 5 cc.
3. Biologi
Pemanfaatan agen antagonis seperti Pseudomonas fluorescens dan
Bacillus sustilis dengan atau tanpa kompos. Aplikasi dilakukan pada
saat tanam dan secara periodik selama pertumbuhan tanaman.
4. Kimia
Penyemprotan insektisida sistemik pada waktu keluarnya bunga pada
tandan bunga. Hal ini untuk mencegah penularan penyakit darah
melalui serangga yang mengisap nektar bunga.
38

3. Penyakit Sigatoka
Penyebab: Mycospaerella musicola Mulder
Gejala: Timbul bintik-bintik kuning atau hijau kecoklatan (sejajar
dengan tulang daun) pada daun ke-3 dan ke-4. Bercak ini
kemudian berubah menjadi coklat tua sampai hitam. Pusat bercak
berwarna keabu-abuan, sedangkan tepi bercak berwarna coklat
atau hitam yang dikelilingi oleh halo berwarna kuning. Pada
umumnya penyakit tidak mematikan tanaman, tetapi penyakit
menyebabkan daun pisang lebih cepat menjadi kering, sehingga
jumlah daun kurang dari kebutuhan tanaman pisang agar dapat
berkembang dengan baik.

Pengendalian:
1. Budidaya:
a. Gunakan bibit yang sehat bebas dari cendawan M. musicola.
b. Menanam pisang di lahan yang tidak miskin hara. Kesuburan
tanah harus dipertahankan dengan pemupukan yang tepat
c. Perbaikan drainase dan mengurangi anakan agar iklim mikro
disekitar tanaman tidak terlalu lembab.
d. Mencuci alat-alat pertanian dengan fungisida.
2. Mekanis
Untuk mengurangi sumber infeksi daun-daun mati disekeliling pohon
dipotong dan dibakar
3. Kimia
Penyemprotan fungisida mankozeb (Dithane M-45) atau propineb
(antracol)
39

Gambar 24. Gejala penyakit Sigatoka pada tanaman pisang

4. Penyakit kerdil pisang


Penyebab: Virus Banchy top (Banana Bunchy Top Virus (BBTV))
Gejala: Daun muda tampak lebih tegak, pendek, lebih sempit dan
tangkainya lebih baik dari yang normal. Daun menguning dan
menjadi rapuh/mudah patah. Tanaman terlambat
pertumbuhannya dan daun-daun membentuk roset pada ujung
batang palsunya. Vektor pembawa virus adalah kutu Pentalonia
nigronervosa.
Pengendalian:
1. Budidaya:
a. Gunakan bibit yang sehat bebas dari BBTV (kalau memungkinkan
gunakan bahan perbanyakan hasil kultur jaringan).
b. Jangan menanam bonggol, anakan atau bibit dan membawa tanah
dari daerah yang sudah terinfeksi penyakit BBTV.
c. Sanitasi kebun dari tanaman inang kutu seperti Heliconia sp,
Canna sp dan Musa textillis.
40

2. Mekanis
Eradikasi tanaman terserang dengan membongkar dan membakarnya,
untuk tanaman dalam rumpun, tanaman dimatikan dengan suntikan
minyak tanah sebanyak 5 cc.
3 Kimia
Untuk memberantas vektor, gunakan insektisida sistemik terutama
pada tanaman di pembibitan.

Gambar 25. Gejala penyakit kerdil atau Bunchy Top pada tanaman pisang

Panen
Kegiatan panen yang baik dilakukan bertujuan untuk mendapatkan buah
segar dengan kualitas semaksimal mungkin. Sebelum melakukan
pemanenan terbaik dahulu harus diketahui indikator atau petunjuk bahwa
41

pisang tersebut sudah dapat dipanen. Beberapa indikator panen pisang


diantaranya adalah umur sejak muncul jantung, pola lingkar buah, kuran
dan kekerasan buah.
Contoh kriteria panen untuk pisang Cavendish dengan tujuan pemasaran
pasar lokal:
- Tepi buah pisang tidak bersudut tetapi rata
- Buah tampak berisi/padat
- Bunga yang mengering pada ujung buah muda dipatahkan
- Warna kulit buah dari hijau muda menjadi hijau tua
- Daun bendera pada tanaman sudah mengering
- Pisang seperti ini akan matang penuh dalam waktu 1 – 2 minggu

Secara umum pada dataran rendah waktu panen pisang berkisar 85 – 100
hari setelah muncul jantung, sedangkan di dataran tinggi dapat mencapai 98
– 115 hari setelah muncul jantung.

Cara pemanenan pisang yang baik adalah sebagai berikut:


1. Untuk panen pisang digunakan parang/golok yang tajam dan bersih
2. Panen dilakukan pada waktu pagi (7.00 – 10.00) atau sore (15.00 –
17.00) dalam keadaan cerah
3. Kayu/bambu penyangga pohon diturunkan perlahan-lahan
4. Batang ditebang setinggi 2/3 dari tinggi batang agar tandan tidak
menyentuh tanah
5. Tandan dipotong pada sebelah atas buku tandan atau kira-kira 30 cm
diatas sisir pertama
6. Setelah dipotong, tandan dibalikan supaya getah yang menetes keluar
tidak mengenai buah
7. Tandan pisang diangkut dengan gerobak atau alat angkut lainnya ke tempat
pengumpulan. Waktu pengangkutan, letakan posisi tandan pisang tegak lurus
42

(posisi tangkai buah menghadap ke bawah). Diantara tandan diberi sekat


busa atau daun pisang kering.
8. Pada tempat pengumpulan tandan pisang diberi alas untuk menghindari buah
rusak/tergores

Standar kematangan buah dapat ditentukan dengan beberapa indeks


kematangan:
 Indeks 1 (bentuk buah terisi penuh, warna hijau segar, 100-200 hari setelah
bunga mekar)
 Indeks 2 ( warna buah hijau terang)
 Indeks 3 (warna buah hijau semburat kuning)
 Indeks 4 (warna buah kuning semburat hijau)
 Indeks 5 (warna buah kuning dengan ujung hijau)
 Indeks 6 (warna buah kuning merata)

Gambar 26. Indeks kematangan pisang


43

PASCA PANEN PISANG


Dalam perencanaan operasional suatu pertanaman peranan sistem
penanganan pasca panen haruslah menjadi salah satu pertimbangan penting
karena pada rantai penanganan pasca panen inilah produk yang dihasilkan
harus memperoleh sentuhan akhir sebelum disodorkan kepada konsumen.
Disamping akan memberikan nilai tambah dari produk, penanganan pasca
panen juga sangat berperan dalam hal mempertahankan mutu serta mengurangi
susut panen yang biasanya menjadi ciri khas dari produk hortikultura yang
bersifat mudah rusak (perishable). Peranan penanganan pasca panen juga
sangat erat terkait dalam aktivitas agribisnis, karena kemampuan dalam
menembus saingan pasar sangat terkait bukan hanya pada mutu produk, tetapi
juga kepada kemampuan membuat penjadualan pasokan pasar serta terkait
juga kemampuannya dalam perluasan jangkauan pasar.
Penanganan pasca panen pisang meliputi beberapa kegiatan yaitu:
1. Penyisiran
Penyisiran dilakukan dengan pisau yang tajam dengan memotong batang
tandan di sekitas sisiran buah. Penyisiran sebaiknya dilakukan mulai dari sisir
paling bawah, terus ke atas. Pada saat penyisiran harus dihindari pelukaan
pada buah agar kemulusan buah tetap terjaga. Irisan bekas sisiran harus
dirapikan setelah itu sisiran diberi daun atau kertas koran untuk menghindari
agar getah buah tidak menetes pada buah.
2. Sortasi dan pengkelasan
Sortasi dilakukan dengan memisahkan buah yang rusak, cacat, memar, busuk
dan berukuran sangat kecil dari buah yang utuh dan bermutu. Pengkelasan
dilakukan untuk memisahkan pisang menjadi beberapa kelas berdasarkan
ukuran, warna dan kematangan yang seragam.

Pengkelasan buah pisang


44

Dalam perdagangan Internasional, buah pisang dikelompokkan menjadi tiga


kelas mutu yaitu kelas super, kelas A dan kelas B. Buah untuk kelas Super dan
A pada umumnya banyak dipasarkan untuk ekspor dan supermarket.
Sedangkan buah kelas B merupakan buah yang tidak termasuk kelas super dan
A, tetapi masih memenuhi syarat untuk diperdagangkan. Buah kelas B hanya
untuk konsumen lokal.

Kelas Super
Pisang yang masuk dalam kelas ini haruslah berkualitas super. Buah harus
sesuai dengan karakteristik varietas, memiliki bentuk sempurna, bebas dari
cacat kecuali cacat yang sangat kecil pada permukaan yang tidak tampak serta
tidak mempengaruhi penampilan umum, kualitas, kualitas simpan dan
keberadaan produk dalam kemasan.
Kelas A
Pisang dalam kelas ini haruslah berkualitas baik dan berkarakter sesuai dengan
varietas dan memiliki bentuk sempurna. Kerusakan kecil sebagai berikut yang
masih dapat ditoleransi pada buah.
- Kerusakan pada bentuk dan warna buah, asal tidak mempengaruhi
penampilan umum, kualitas dan penampilan dalam kemasan.
- Kerusakan kulit buah seperti lecet dan goresan tidak lebih dari 2% dari total
permukaan.
- Seluruh cacat dan kerusakan tidak boleh mempengaruhi daging buah.

Kelas B
Pisang yang masuk dalam kelas ini adalah pisang yang tidak masuk Kelas
Super dan Kelas A tapi masih memenuhi kriteria minimum. Kerusakan sebagai
berikut masih diperbolehkan asalkan tidak mempengaruhi penampilan umum,
kualitas, dan penampakan kemasannya.
45

- Kerusakan pada bentuk dan warna, selama masih mempertahankan


sifat-sifat varietasnya
- Kerusakan kulit buah seperti goresan, memar, burik asalkan tidak
melebihi 5% dari total permukaan
- Seluruh kerusakan tidak boleh mempengaruhi daging buah.

Ketentuan Mengenai Ukuran


Ukuran ditentukan berdasarkan rata-rata panjang jari buah, dengan
panjang minimum 5 cm, sesuai dengan tabel berikut.
Kode Ukuran Panjang Jari Buah (cm)
I ≥ 20.0
II 15.0 – 19.9
III 10.0 – 14.9
IV 5.0 – 9.9

Tabel 2. Standar mutu buah beberapa varietas pisang


No Varietas Panjang Diameter Berat sisir Jumlah
jari (cm) (cm) (kg) jari/sisir
(buah)
1 Pisang 12 – 18 3–4 1.45 – 12 – 20
Barangan 1.86
Merah
2 Pisang 13 – 15 3 – 3.5 11.5 – 2 15 – 21
Barangan Putih
3 Pisang Ambon 16 – 20 4–6 1.9 – 2.5 15 – 22
kuning
4 Pisang Ambon 15 – 20 3 – 3.5 1.9 – 2.5 15 – 22
Lumut
5 Pisang Ambon 15 – 20 3.5 – 4 1.5 – 1.7 14 – 24
Putih
6 Pisang 13 – 20 3.5 – 5.0 2.0 – 2.5 16 – 24
Cavendish
7 Pisang Raja 15 – 20 3.5 – 4.5 1.4 – 2.0 13 – 17
Bulu
8 Pisang Raja 10 – 15 3–4 1 – 1.9 13 – 18
Sere
9 Pisang Susu 8 – 15 3–5 0.9 – 1.6 6 – 13
46

3. Pengemasan
Pengemasan dilakukan untuk menjaga mutu buah, khususnya pada saat
pengangkutan dan penyimpanan. Pengemasan merupakan suatu usaha
untuk melindungi produk dari penurunan mutu dan kerusakan mekanis,
fisik, kimia serta mikrobiologi, sehingga tetap memiliki nilai jual yang
tinggi pada saat diterima oleh konsumen. Adanya wadah atau pembungkus
dapat mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi bahan pangan
yang ada di dalamnya dari bahaya pencemaran dan gangguan fisik
(gesekan, benturan, getaran).

Wadah Kemasan

Wadah yang digunakan dalam industri buah segar dan pengalengan pada
saat itu adalah keranjang-keranjang besar berbentuk silinder atau kotak-
kotak. Ukuran wadah-wadah ini terutama ditentukan oleh bobot yang dapat
diangkat seorang dengan tangan. Kemasan untuk wadah pengiriman harus
dapat melindungi produk dari kerusakan mekanik, memungkinkan
pertukaran panas dan menghilangkan panas dari kebun serta panas
respirasi. Beberapa sifat kemasan distribusi yang baik adalah:
1. Sesuai dengan produk yang dikemas.
2. Cukup kuat untuk melindungi produk dari resiko yang terjadi selama
pengangkutan dan penyimpanan.
3. Memiliki lubang ventilasi yang cukup.
4. Mudah dibongkar tanpa menimbulkan kerusakan.
5. Menyediakan informasi terhadap produk yang dikemas, tempat
produsen dan tujuan pengiriman.

Bentuk bahan kemasan buah pisang berbeda sesuai dengan tujuan


pengiriman. Perdagangan antar daerah biasanya digunakan keranjang
bambu, perdagangan antar pulau dengan menggunakan peti kayu dan
47

perdagangan antar negara biasanya menggunakan peti karton


bergelombang. Beberapa wadah kemasan yang dapat digunakan di
Indonesia adalah keranjang bambu, peti kayu dan kardus (kotak karton).
Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kemasan Keranjang Bambu

Keranjang bambu merupakan alat pengemasan pisang yang sering


digunakan di daerah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Namun pada
setiap daerah tersebut berbeda bentuk dan ukurannya. Dua macam ukuran
alat kemas yang digunakan adalah:

 Keranjang bambu dengan diameter bagian atas 36 cm, diameter bagian


bawah 25 cm yang dapat memuat sisiran pisang sebanyak satu tandan.

 Keranjang dengan diameter bagian atas 50 cm, diameter bagian bawah


40 cm dan tingginya 40 cm, mempunyai kapasitas 60-70 kg.

Biasanya keranjang bambu mempunyai kapasitas berkisar antara 40-100


kg atau lebih. Umumnya keranjang bambu kurang kuat dan tidak sanggup
melindungi produk yang dikemas terhadap tekanan yang datang dari
berbagai arah, sehingga mengakibatkan produk tersebut mengalami
banyak kerusakan.

Kemasan Peti Kayu

Peti kayu merupakan bahan pengemas tertua yang diketahui oleh manusia.
Kemasan peti kayu tetap memegang peranan penting dalam perdagangan
antar negara berkembang di masa mendatang, meskipun masalah
lingkungan dan pembuangan semakin meningkat sehubungan dengan
penggunaan kemasan kayu dalam pengangkutan ke negara-negara industri.
48

Peti kayu merupakan bentuk rusuk-rusuk kayu terbuka, dapat memberikan


perlindungan pada produk namun tidak dapat digunakan untuk
melindunginya dari kondisi iklim pada saat berada di tempat penyimpanan.
Peti kayu memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
 Memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan dengan kemasan lain.
 Kekuatan peti kayu tidak dipengaruhi oleh air dan kelembaban udara.
 Dapat digunakan lagi hingga 10-20 kali tanpa kehilangan kekuatan.

Namun, peti kayu memiliki kelemahan yaitu dengan banyaknya


ventilasi pada peti dapat membahayakan produk yang dikemas.
Kemasan peti kayu cukup ekonomis untuk tujuan pengangkutan jarak
jauh maupun jarak dekat, serta dapat mempertahankan kondisi buah
segar selama pengangkutan dan penyimpanan.

Kemasan Kotak Karton

Kotak karton bergelombang (corrugated fibre box) banyak digunakan di


dalam pengemasan dengan tujuan ekspor. Pisang diatur dalam kotak karton
dalam bentuk sisir dengan derajat ketuaan masih hijau tapi sudah cukup tua
(green mature), bukan dalam keadaan matang (sudah berwarna kuning).
Kemasan kotak karton memiliki kekurangan yaitu jika dalam kondisi
lembab kekuatannya akan berkurang. Sedangkan beberapa kelebihan dari
kemasan tersebut adalah:
 Memiliki bobot yang lebih ringan.
 Memiliki permukaan yang halus.
 Memiliki sifat meredam getaran yang baik.
 Mudah untuk dirakit dan ringkas dalam penyimpanan.
 Mudah didaur ulang untuk dapat digunakan kembali.
49

Bahan Pengisi

Kerusakan mekanik pada pengemasan pisang dapat diminimalkan dengan


pemberian bahan pengisi yang tepat, seperti daun pisang yang diletakkan
di antara sisir buah dan dinding kemasan. Bahan pengisi digunakan untuk
mengurangi terjadinya kememaran buah selama pengisian. Beberapa di
antaranya hanya berupa susunan perintang (penyekat) untuk mencegah laju
bergeraknya buah yang terlalu tinggi sehingga dapat menghindarkan
terjadinya kememaran.

Bahan pengisi yang sering digunakan oleh petani adalah daun pisang
kering. Pemilihan bahan pengisi tergantung kepada nilai ekonomi dan
ketersediaan bahan. Bahan pengisi yang sering digunakan untuk pisang
tujuan pasar lokal adalah daun pisang, kertas bekas atau karung untuk
melindungi buah dari tepi kemasan yang kasar.
50

Gambar 27. Pengemasan buah pisang dengan keranjang bambu, peti kayu
dan kotak karton
51

4. Pengangkutan

Pengangkutan dapat dilakukan melalui darat, laut dan udara. Pengangkutan


melalui darat merupakan pengangkutan yang paling penting dan akan tetap
menjadi sarana pengangkutan utama yang digunakan oleh negara-negara
berkembang di daerah tropik. Buah-buahan seperti pisang memiliki sifat
sangat mudah rusak. Kerusakan dipercepat dengan adanya luka dan memar
selama proses pengangkutan dari produsen sampai ke tangan konsumen.

Buah pisang tidak boleh menguning ataupun menjadi matang selama


pengangkutan. Bila dalam pengangkutan ada kemasan yang 5 % dari isinya
menjadi matang, perlu diadakan perbaikan untuk mencegah hal ini.

Pengangkutan pisang untuk tujuan pasar domestik tidak melibatkan


pengggunaan sistem alat pendingin. Pisang diangkut ke pasar lokal dalam
bentuk curahan maupun dalam wadah kemasan, umumnya dengan
menggunakan angkutan jeep, truk atau bus. Pada saat pengangkutan tandan
pisang diletakkan dalam posisi tegak lurus (posisi tangkai buah menghadap
ke bawah) dan antara satu tandan dengan tandan lainnya diberi penyekat.
52

DAFTAR PUSTAKA

Agrilink. 1999. Tropical Banana Information Kit. Key Issues p 36 – 37.


Queensland
Departemen Pertanian. 1993. Buku Petunjuk Teknis dan Pelabelan Jeruk
Bebas Penyakit dan Pisang Kultur Jaringan. Jakarta
Departemen Pertanian. 1994. Penuntun Budidaya Buah-Buahan (Pisang).
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Jakarta. 126 hal.
Direktorat Budidaya Tanaman Buah Direktorat Jenderal Bina Produksi
Hortikultura. Tahun 2003. Indeks Kematangan Buah Pisang.
Jakarta
Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Dirjen Hortikultura. Departemen
Pertanian. 2006. Pedoman Mutu Pisang. Jakarta
Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Dirjen Hortikultura. Departemen
Pertanian. 2006. Kebun Buah Percontohan Pisang . Jakarta
http//www. deptan.go.id. 2006. Pedoman Teknis Irigasi Tekan. Jakarta
J.C. Robinson. 1999. Bananas and Plantations. CABI Publishing, New
York. 238 p.
Kalsoven, L.G.E. 1981. The pest on crops in Indonesia. P.T. Ichtiar Baru-
Van Hoeve. Jakarta. 710 hal
Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat. 2001. Studi
Pengembangan Komoditas Unggulan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Mitchell, F. G. 1992. Cooling horticultural commodities, p:53-68. In: A. A.
Kader (Ed.). Postharvest Technology of Horticultural Crops. University
of California Division of Agricultural and Natural Resources, Oakland,
California. 296 p.
Noer, C. G. S., Grace, J. 1998. Mempelajari Pengaruh Jenis Kemasan dan Cara
Pengemasan terhadap Mutu Tomat Segar (Lycopersicum esculentum
Mill) Selama Pengangkutan di Daerah Sumatera Utara. Skripsi. Fakultas
Teknologi Pertanian IPB, Bogor. 65 hal.
O’Brien, M. 1986. Penanganan secara curahan, hal. 388-420. Dalam
Pantastico (Ed.). Fisiologi Pasca Panen, Penanganan dan Pemanfaatan
Buah-Buahan dan Sayur-Sayuran Tropika dan Sub Tropika. Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.
53

Paine, F. A. 1977. The Packing Media. Blackie and Son. LTD, Great Britanian.
Pantastico, Er. B. 1980. Technical consultation on refrigeration and packaging
of fruits and vegetables within the cooperative marketing system in the
Philippines. PHTRC-UPLB Report No. PHI/76/001 FAO/UNDP.
Pantastico, Er. B., H. Subramanyam, M. B. Bhatti, N. Ali dan E. K. Akamine.
1986. Petunjuk-petunjuk untuk pemanenan hasil, hal. 91-119. Dalam
Pantastico (Ed.). Fisiologi Pasca Panen, Penanganan dan Pemanfaatan
Buah-Buahan dan Sayur-Sayuran Tropika dan Sub Tropika. Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta. 904 hal.
Peleg, K. 1985. Produce Handling Packing and Distribution. The AVI
Publishing Comp. Inc. Westport, Connecticut.
Pusat Kajian Buah-buahan Tropika. 1998. Desain dan Analisis Investasi
Agribisnis Pisang. Bogor.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. 1987. Produksi Pisang di
Indonesia. Jakarta.
Pusat Kajian Buah-buahan Tropika. 2004. Eksplorasi Bakteri dari Tanaman
Famili Graminae dan Potensinya sebagai Pengendali Hayati Penyakit
Layu Fusarium Pisang. Laporan Rusnas Pengembangan Buah Unggulan
Indonesia. Bogor.
Pusat Kajian Buah-buahan Tropika. 2004. Pemanfaatan Trichoderma dan
Gliocladium. Laporan Rusnas Pengembangan Buah Unggulan
Indonesia. Bogor
Pusat Kajian Buah-buahan Tropika. 2004. Kajian Pemanfaatan Bakteri
Rizosfer Pseudomonas Kelompok Fluorescence dan Bacilus sp. Laporan
Rusnas Pengembangan Buah Unggulan Indonesia. Bogor
Pusat Kajian Buah-buahan Tropika. 2004. Uji Antagonisme Jamur Endofit
terhadap F. oxysporum f.sp. cubense in vitro. Laporan Rusnas
Pengembangan Buah Unggulan Indonesia. Bogor
Pusat Kajian Buah-buahn Tropika. 2005. Laporan RUSNAS Pengembangan
Buah-buahan Unggulan Indonesia. Bogor
Pusat Kajian Buah-buahan Tropika. 2005. Pengembangan Agens Biokontrol
Pseudomonas dan Bacillus terhadap Penyakit Darah. Laporan Rusnas
Pengembangan Buah Unggulan Indonesia. Bogor
Pusat Kajian Buah-buahan Tropika. 2006. Produksi Pisang Raja berdasar
Standar Prosedur Operasional (SPO) di Cianjur. Laporan RUSNAS
Pengembangan Buah Unggulan Indonesia. Bogor.
54

Pusat Kajian Buah-buahan Tropika. 2006. Pengembangan Agen Antagonis


untuk Pengendalian Penyakit Layu pada Pisang. Laporan Rusnas
Pengembangan Buah Unggulan Indonesia. Bogor
Pusat Kajian Buah-buahan Tropika. 2006. Pengendalian Hayati Fusarium
oxysporum f.sp.cubense dengan Solarisasi dan Agen Antagonis. Laporan
Rusnas Pengembangan Buah Unggulan Indonesia. Bogor
Pusat Kajian Buah-buahan Tropika. 2007. Pelatihan Aspek Penting Benih
Tanaman Buah. Bogor
Rancangan Standardisasi Nasional Indonesia Pisang. 2007.
Sacharow, S. and Griffin. 1980. Principles of Food Packaging. The AVI
Publishing Comp. Inc. Westport, Connecticut.
Stover. R.H dan Simmonds, N.W. 1987. Bananas. Bristol. Longman.
Suhartanto. M.R, Sobir, Heri Harti. Pengembangan Pisang sebagai Penopang
Ketahanan Pangan. 2010. Laporan Penelitian Hibah Kompetitif
Penelitian Strategis Nasional. Bogor
Sunarjono, H., Ismiyati, S. Kusumo dan Wardah. 1989. Produksi Pisang di
Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Jakarta.
120 hal.
Syarief, R., S. Santausa dan St. I. Budiwati. 1989. Teknologi Pengemasan
Pangan. Laboratorium Rekayasa Pangan, Pusat Antar Universitas
Pangan dan Gizi, IPB, Bogor. 604 hal.
Subijanto, S., C. P. Yik, O. K. Bautista and P. Mohd. Salleh. 1990. Handling
practices of banana for the local market, p: 126-135. In: Hassan, A. and
Er. B. Pantastico (Eds.). Banana, Fruit Development, Postharvest
Physiology, Handling & Marketing in ASEAN. ASEAN Food Handling
Bureau, Mala ysia. 147p