Anda di halaman 1dari 8

JAMUR PILOBOLUS (JAMUR PADA KOTORAN KUDA)

Khoerunisa1, Rizal Maulana Hasby2, Ria Andani3


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
Jl. A.H. Nasution no. 105, Cipadung, Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat 40614
email: nkhoiru02@gmail.com

ABSTRAK
Jamur merupakan organisme eukariot, anggotanya ada yang uniseluler dan ada pula yang multiseluler.
Jamur tidak memiliki klorofil, yang berfungsi dalam fotosintesis. Dengan kata lain, jamur tidak dapat
menyintesis makanannya. Oleh karena itu, jamur dikelompokkan sebagai organisme heterotrof yang
struktur tubuhnya terdiri dinding sel dan tersusun dari kitin. Pilobolus termasuk dalam kelompok
Zygomicota, disebut juga sebagai cendawan koprofil karena dapat hidup dikotoran hewan herbivora,
salah satunya pada kotoran kuda. Keunikan dari cendawan ini adalah dapat menembakkan sporanya
sehingga terkadang Pilobolus disebut Shot-gun Fungi. Tujuan praktikum kali ini yaitu pengamatan
terhadap spora yang dihasilkan jamur Pilobolus (jamur pada kotoran kuda). Untuk mengetahui
mekanisme fototropisme, dibuatlah media yang disimpan dalam wadah tertutup, kemudian wadah
tersebut diberi lubang agar cahaya dapat masuk. Setelah didiamkan beberapa hari, spora
Pilobolus membentuk kecambah atau miselium yang tumbuh di atas kotoran dan mengarah ke arah
lubang cahaya yang dibuat. Di sekitar lubang akan terdapat bintik hitam yang merupakan spora yang
telah ditembakkan oleh sporangium. Sporangium yang dimiliki jamur Pilobolus menyerupai balon
bertangkai. Spora tersebut berwarna hitam disertai tangkai (sporangiofor) berwarna putih yang dilapisi
lapisan menyerupai kristal. Tangkai (sporangiofor) bagian bawah merupakan daerah yang peka
terhadap cahaya (fototropisme), sehingga Pilobolus akan tumbuh ke arah cahaya matahari.
Kata Kunci: Jamur, struktur penyusun, Pilobouls, tujuan, morfologi, fototrpisme, sporangium

I. Pendahuluan
Kingdom Fungi atau sehari-hari kita memiliki dinding nukleus (eukariotik). Pada
menyebutnya jamur, memiliki ciri-ciri yang jamur sudah mampu menghasilkan alat
berbeda dari organisme lainnya. Ciri-ciri pembiakan spora. Spora jamur yang jatuh
tersebut dilihat dari struktur tubuh maupun ditempat yang lembab dan mengandung zat
cara reproduksinya. Jamur merupakan organik akan tumbuh menjadi benang-
organisme eukariot. Anggotanya ada yang benang halus putih, yang disebut sebagai
uniseluler dan ada pula yang multiseluler. miselium atau hifa (hypae). Jenis-jenis hipa
Jamur merupakan tumbuhan talus berbeda kelaminnya akan menandakan
(thallophyta) yang tidak memiliki klorofil, perkawinan, dan hasil peleburan antara
hidup disampah, kayu lapuk, atau makanan kedua jenis hifa akan menghasilkan hifa
basi dengan kelembaban yang cukup. dengan badan sel bentuknya bervariasi ada
Perbedaan utama dengan bakteri terletak yang askus, sporangium dan basidium
pada inti selnya (nukleus), yaitu sudah ( Djjumali, 2010).
Cara hidup jamur terbagi menjadi tiga haploid (n), berupa zigospora, askospora
macam, yaitu secara parasit, saprofit, dan atau basidiospora. Spora seksual dihasilkan
mutualisme. Secara parasit, jamur menyerap melalui singami, yaitu penyatuan sel atau
makanan dari organisme hidup lainnya, hifa yang berbeda jenisnya. Dalam proses
seperti tumbuhan, hewan, atau bahkan jamur singami terjadi dua tahap, yaitu plasmogami
lainnya. Sari makanan akan diserap oleh (penyatuan sitoplasma sel) dan kariogami
jamur parasit dan akhirnya dapat (penyatuan inti sel) (Abbas, 2011).
menyebabkan kerusakan, bahkan kematian Jamur memiliki 4 divisi yaitu
bagi organisme tersebut. Saprofit adalah zygomycota, ascomycota, basidiomycota
dengan cara menguraikan organisme mati dan deuteromycota keempat divisi tersebut
untuk diserap bahan organiknya. Jamur yang paling banyak jumlahnya yaitu divisi
yang hidup secara mutualisme adalah jamur ascomycota dan yang paling sedikit
bersimbiosis dengan organisme lainnya, jumlahnya dan belum diketahui dalam siklus
contohnya dengan tanaman. Jamur seksualnya yaitu deuteromycota. Tubuh
bersimbiosis pada organ akar tanaman jamur berupa benang-benang yang
tingkat tinggi dan membentuk mikoriza bercabangyang disebut sebagai hifa, tetapi
(Widodo, 2007). ada pula yang berbentuk bulat atau batang
Pada beberapa kelas jamur sebelum pendek yang disebut golongan khamir, hifa
menghasilkan badan sel pembentuk spora, berinti ada yang bersekat dan ada yang tidak
membentuk suatu struktur dari percabangan bersekat fase vegetatip jamur ada pula yang
hifa yang akan menghasilkan spora-spora serupa plasma (lendir) yang hidup bebes,
disebut tubuh buah. Bentuk tubuh buah disebut fase plasmodium yang
jamur ada yang seperti payung, cawan atau menghasilkan spora kembar sebagai bentuk
mangkuk, kuping piala, papan, dan alat perkawinannya (Firmansyah, 2013).
sebagainya dan orang mengenal jamur Tubuh zygomycota terdiri atas hifa
karena tubuh buahnya. (Yudianto, 1992). yang tidak bersekat. Pada saat akan
Reproduksi pada jamur dapat secara bereproduksi, beberapa hifa berdiferensiasi
aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual membentuk Zigosporangium yang
pada jamur uniselular dilakukan dengan cara merupakan alat reproduksi seksual pada
pembentukan tunas dan fragmentasi. jamur divisio ini. Adapun reproduksi
Adapun pada jamur multiselular dengan aseksualnya secara fragmentasi atau disebut
pembentukan sporangiospora atau juga spora aseksual. Anggota divisio
konidiospora. Reproduksi jamur secara Zygomycota ada yang hidup parasit pada
seksual dilakukan oleh spora seksual yang organisme lain sehingga menyebabkan
penyakit. Selain itu, ada pula yang hidup yang berfungsi untuk menutupi botol jam
bersimbiosis mutualisme dengan organisme berisi kotoran kuda. Adapun bahan yang
lain. (Suliystyyowati, 2013). digunakan yaitu kotoran kuda yang
Pilobolus adalah salah satu jamur berfungsi sebagai media pertumbuhan
yang biasa hidup pada kotoran hewan yang Pilobolus.
telah terdekomposisi. Jamur ini tidak dapat 2.2 Prosedur Kerja
bereproduksi tanpa adanya bantuan cahaya. Sebelum melakukan pengamatan
Jamur ini menunjukkan respon positif terhadap jamur Pilobolus, praktikan terlebih
terhadap cahaya. Jamur pilobolus termasuk dahulu membuat media untuk pertumbuhan
kedalam kelompok zygomycota. jamur Pilobolus. Langkah pertama yaitu
Untukhidup dikotoran herbivora, jamur menyiapkan kotoran kuda sebagai media
Pilobolus harus terlebih dahulu masuk pertumbuhan Pilobolus, kemudian kotoran
kedalam kotoran ternak. Ternak akan kuda tersebut dimasukan kedalam botol jam
menelan spora Pilobolus ketika mereka dan diletakan secara miring menghadap
sedang merumput (Hidayat, 2012). dinding botol. Botol yang telah terisi
Pilobolus memilki spora dengan kotoran kuda ditutup menggunakan kertas
dinding sel yang terbal sehingga sangat sulit karbon seluruhnya. Bagian atas botol
dicernakan, sehingga hewan pun tidak dapat ditusuk-tususk menggunakan jarum dengan
mencernanya. Spora tersebut akan melewati tujuan agar udara dapat masuk. Selanjutnya
sistem pencernaan ternak dan dikeluarkan melubangi bagian dinding botol yang
dalam kotoran, dimana mereka akan tumbuh bertepatan dengan media kotoran kuda yang
(Kurnia, 2015). dimiringkan dengan ukuran 2x2 cm, dengan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini tujuan agar chaya dapat masuk.
yaitu untuk mengamati spora yang Setelah dibiarkan beberapa hari, jamur
dihasilkan Pilobolus ( jamur pada kotoran Pilobolus tumbuh, ditandai dengan adanya
kuda). spora berupa bintik hitam yang menempel
II. Metode didinding botol yang terkena cahaya
2.1 Alat dan Bahan matahari. Jamur yang tumbuh diambil
Pada praktikum kali ini digunakan sebagian kemudian diletakan diatas kaca
beberapa alat diantaranya botol jam yang objek dan ditutup dengan kaca penutup,
digunakan untuk menyimpan kotoran kuda, selanjutnya diamati menggunakan
kemudia sendok bekas untuk mengambil mikroskop. Hasil pengamatan yang
kotoran kuda, gunting dan jarum untuk diperoleh kemudian difoto dan
melubangi kertas karbon serta kertas karbon dibandingkan dengan literatur.
III. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Foto Literatur Keterangan

a. spora
b.bantalan massa
c. stipe
d.stolon
e. miselium

(Sumber: Dok.Pribadi, 2017) (Sumber: Aluoch, 2017)

Pada praktikum kali ini mahasiswa tujuan agar udara tetap bisa masuk.
melakukan pengamatan terhadap jamur Sedangkan pada kertas karbon yang
Pilobolus. Sebelum pengamatan dilakukan, menutupi bagian dinding botol diberi lubang
praktikan terlebih dahulu melakukan proses sebesar 2x2 cm, yang bertepatan dengan
pembuatan media sebagai tempat media kotoran kuda yang dimiringkan.
pertumbuhan jamur Pilobolus tersebut. Pemberian lubang berukuran 2x2 cm
Media yang digunakan yaitu kotoran tersebut bertujuan agar cahaya tetap ada
kuda, kotoran kuda digunakan dengan walaupun sebagian besar permukaan botol
alasan jamur Pilobolus merupakan jamur tertututpi. Cahaya tersebut dapat
yang biasa hidup pada kotoran hewan merangsang pertumbuhan jamur Pilobolus.
herbivora, salah satunya pada kotoran kuda. Hal ini sesuai dengan teori yang
Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Aluoch (2017), Pilobolus
disampaikan oleh Hidayat (2012), yaitu merupakan organisme yang peka terhadap
Pilobolus disebut sebagai cendawan cahaya (fototropisme dan fototaksis),
koprofil karena memilki kemampuan hidup dimana tubuhnya tumbuh kearah cahaya.
dikotoran hewan. Berdasarkan hasil pengamatan, jamur
Kotoran kuda dimasukan kedalam tumbuh diatas media kotoran kuda yang
botol jam dan diletakan secara miring telah dibuat. Sporanya menempel pada
menghadap dinding botol. Kemudian dinding botol bagian dalam yang terkena
seluruh permukaan botol ditutup sinar matahari, spora tersebut berwarna
menggunakan kertas karbon. Pada bagian hitam, sedangkan bagian tangkai nya
mulut botol yang tertutupi kertas karbon, (sporangiofor) tetap menempel pada media
ditusuk-tusuk mengggunakan jarum dengan kotoran kuda.
3.1 Klasifikasi
Menururt Aluoch (2017), klasifikasi
jamur Piloboulus yaitu:
Kingdom : Fungi
Phylum : Zygomycota
Subphylum : Mucoromycotina
Ordo : Mucorales
Family : Pilobolaceae
Genus : Pilobolus
Spesies : Pilobolus sp Gambar 3.2 Pelepasan spora jamur Pilobolus

3.2 Morfologi Pada gambar diatas, dapat dilihat


Jamur Pilobolus yang diperoleh terjadinya pelepasan/terlemparnya spora
diamati menggunakan mikroskop. jamur pilobolus. Pada mulanya proses
Berdasarkan hasil pengamatan, jamur tersebut terjadi karena adanya tekanan air
pilobolus memiliki spora berbentuk bulat pada gelembung atau bantalan massa
menyerupai balon, dengan tangkai berwarna diujung tangkai (stipe). Bantalan massa
putih dan mengkilat menyerupai kristal dan tersebut kemudian membengkak dan lama-
diujung tangkai (stipe) terdapat gelembung lama meledak. Pada saat itulah terjadi
atau disebut sebagai bantalan massa tempat penembakan/pelepasan spora.
menempelnya spora yang berwarna hitam. Hal ini sesuai dengan teori yang
Menurut Sheila (2011), terdapat lapisan disampaikan oleh Foos
kristal kalsium oksalat yang (2007), shotgun yang dimiliki pilobolus
melingkupi sporangium yang berperan merupakan semacam tangkai (sporangiofor)
dalam mekanisme pertahanan diri dan yang membengkak di bagian ujungnya
penempelan saat berada di media buatan. dengan bantalan massa spora hitam
Didalam media buatan, tangkai (stipe) (sporangium) pada bagian atas. Tangkai
dan spora jamur pilobolus terlihat terpisah. tersebut akan tumbuh ke arah cahaya
Dimana tangkai (stipe) pilobolus menempel matahari. Ketika jamur telah matang, maka
pada kotoran kuda, sedangkan spora yang tekanan air di dalam tangkai menyebar
berwarna hitam menempel pada dinding sampai dengan ujung tangkai dan
botol jam yang terkena cahaya. Hal tersebut menyebabkan ujung tangkai meledak. Saat
dikarenakan pilobolus dikenal sebagai itulah terjadi penyebaran spora dengan
Shotgun fungi atau jamur yang menembakan penembakan spora ke udara. Peristiwa ini
sporanya kearah datangnya cahaya. umumnya terjadi pada siang hari.
3.3 Siklus Hidup
Habitat jamur Pilobolus biasanya pada disampaikan oleh Kurnia, (2015), yaitu
kotoran hewan herbivora, diantaranya pada Pilobolus memilki spora dengan dinding sel
kotoran sapi, kambing, kuda, dll. Spora yang terbal sehingga sangat sulit dicernakan,
dapat dengan mudah menyebar pada siang sehingga hewan pun tidak dapat
hari, dikarenakan kehadiran cahaya yang mencernanya. Spora tersebut akan melewati
cukup memadai bagi jamur untuk sistem pencernaan ternak dan dikeluarkan
menyebarkan sporanya. dalam kotoran, dimana mereka akan tumbuh.
Hal ini sesuai dengan teori yang Menurut Djumali (2010),
disampaikan oleh Taylor (2006), Pilobolus bereproduksi dengan
penyebaran spora pada siang hari akan menembakkan sporanya yang
memberi kesempatan yang lebih baik bagi berwarna hitam ke tumbuhan semacam rum
spora untuk mendarat ditempat yang cerah put. Setelah itu, hewan herbivora akan
dimana rumput dan tanaman-tanaman sudah memakan rumput, spora Pilobolus juga
berkembang dan hewan-hewan ternak akan terbawa. Selama berada di
merumput disana. Hal intulah yang dalam saluran pencernaan hewan herbivora,
menyebabkan spora-spora mudah menyebar spora akan bergerminasi sebagai bentuk
kembali ke ternak, dan rangkaian siklus pertahanan terhadap suhu dan bahan kimia
hidup Pilobolus terus terulang kembali dalam saluran pencernaan herbivora.
seperti itu. Setelah proses pencernaan berakhir,
Jamur pilobolus ini berfungsi sebagai spora Pilobolus juga akan ikut keluar
dekomposer bagi organisme yang terlah bersama feses. Di luar tubuh,
mati. Hal ini sesua denga teori yang spora Pilobolus akan berkecambah
disampaikan oleh Hidayat (2012), Pilobolus membentuk miselium, feses hewan akan
adalah salah satu jamur yang biasa hidup menjadi sumber nutrisi bagi spora tersebut.
pada kotoran hewan yang telah Spora yang berkecambah akan berkembang
terdekomposisi. membentuk struktur reproduksi yang
Spora pada jamur Pilobolus memiliki memiliki spora. Spora ini akan ditembakkan
dending sel yang tebal sehingga sulit dicerna kembali ke rumput. Siklus ini akan terus
oleh hewan. Dan pada saat hewan tersebut berlanjut selama ada hewan herbivora yang
mengeluarkan kotorannya, maka jamur memakan rumput dan menjadi inang
Pilobolus akan ikut keluar bersama feses selanjutnya.
tersebut dan selanjutnya akan tumbuh
diatasnya. Hal ini sesuai dengan teori yang
IV. Kesismpulan DAFTAR PUSTAKA
Berdasarkan praktikum yang telah Abbas, B. Heningtyas, F. 2011.
dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa Karakteristik Jamur Sagu (Volvariella
jamur Pilobolus merupakan jamur yang sp.) Endemik Papua. Jurnal Natur
cukup unik karena jamur ini merupakan Indonesia. 13(2): 167-173.
salah satu jamur yang dapat hidup dikotoran Aluoch, A.M., Otiende, M.Y. 2017. First
hewan. Jamur Pilobolus ini disebut juga genetic identification of Pilobolus
sebagai Shotgun fungi, karena memiliki (Mucoromycotina, Mucorales) from
kemampuan menembakan sporanya keudara Africa (Nairobi National Park, Kenya).
atau kearah cahaya. Hal tersebut South African Journal of Botany. Vol.
dikarenakan jamur Pilobolus peka terhadap 24: 182–188
cahaya (fototropisme/fototaksis) atau Djumali, Mangunwidjaja. 2010. Teknologi
tumbuh mengikuti arah cahaya. Bioproses; Kingdom Fungi. Jakarta:
Jamur Pilobolus memilki bentuk Penebar Swadaya.
menyerupai balon yang bertangkai. Firmansyah,W. 2013. Tugas Mikrobiologi
Sporanya berwarna hitam, dan tangkai nya Umum Kapang Dan Khamir. Malang :
berwarna putih mengkilat yang dilapisi oleh Program Studi Ilmu Dan Teknologi
kristal kalsium oksalat. Diujung tangkai Pangan Jurusan Teknologi Hasil
terdapat gelembung atau bantalan massa Pertanian Fakultas Teknologi
tempat melekatnya spora. Pada jamur yang Pertanian Universitas Brawijaya.
sudah matang, bantalan massa tersebut akan Foos, K.M., Jeffries, B.S., 1988.
terisi oleh air dan lama-lama membengkak Sporangiophore variability in
dan akhirnya meledak, peristiwa tersebut Pilobolus. Proceedings of the Indiana
yang menyebabkan spora terlempar atau Academy of Science, pp. Vol. 31: 105–
terlepas. 108.
Hidayat, Afif. 2012. Kajian Teoritis Tentang
Kreatifitas, Media Pembelajaran dan
Konsep Jamur. Biology Education.
11(70): 127-135.
Kurnia, Astuti. 2015. Fisiologi dan Anatomi
Fungi. Bogor: IPB Press.
Sheilla, D. Pierce. 2011. Phylogenetics
Species Identification Of Pilobolus
Associated With Horses in Indiana
and Ohio. Proceedings of the Indiana
Academy of Science. 120(1-2):62–70
Suliystyyowati. 2013. Inventarisasi Jamur
Makroskopis Kabupaten Situbondo.
Jurnal ilmu dasar. Vol 4(1). 58-62.
Taylor, J.W., E. Turner, J.P. Townsend, J.R.,
et al. 2006. Eukaryotic microbes,
species recognition and the
geographic limits of species: examples
from the kingdom Fungi.
Philosophical Transactions of the
Royal Society B. 361:1947–1963.
Yudianto, S.D. 1992. Pengantar
Criptogame sistematika tumbuhan
rendah. Bandung: Tarsito bandung.
Widodo, Nanang. 2007. Isolasi dan
Karakterisasi Senyawa Alkaloid
Yang Terkandung dalam Jamur Tiram
(Pleurotus ostreatus). Jurnal Kimia
UNNES. 1(2): 13-22.