Anda di halaman 1dari 13

MARPOL

Bicara tentang pencemaran di laut, hal yg sangat berhubungan dekat sekali dgn pelaut di keseharianya.
jika kita lalai dan terjadi musibah tumpahan minyak di laut, dampaknya sangat luar biasa sekali. bukan
hanya lingkungan biota laut yg teracam kitapun sebagai pelaut bisa berhubungan dengan hukum dimana
negara perairan yg kita layari. maka dari itu hindari kesalahan gunahkanlah management yg baik di atas
kapal. pencatatan oil record book yg up to date dan juga system waste management yg terkontrol.
banyak rekan kita pelaut terkadang menganggap sepeleh hal ini. ya. itulah manusia terkadang belum
sadar jika sudah dapat musibah penyesalan datang belakangan. untuk menghindari hal tersebut mari
sama sama mendalami apa yg di maksud marpol itu. saya akan menguraikan sejelasnya apa yg saya
tahu.

1. A. SEJARAH KONVENSI MARPOL

Sejak peluncuran kapal pengangkut minyak yang pertama GLUCKAUF pada tahun 1885 dan penggunaan
pertama mesin diesel sebagai penggerak utama kapal tiga tahun kemudian, maka fenomena
pencemaran laut oleh minyak mulai muncul.

Baru pada tahun 1954 atas prakarsa dan pengorganisasian yang dilakukan oleh Pemerintah Inggris (UK),
lahirlah “Oil Pullution Convention, yang mencari cara untuk mencegah pembuangan campuran minyak
dan pengoperasian kapal tanker dan dari kamar mesin kapal lainnya.

Sebagai hasilnya adalah sidang IMO mengenai “international Conference on Marine Pollution” dari
tanggal 8 Oktober sampai dengan 2 Nopember 1973 yang menghasilkan “international Convention for
the Prevention of Oil Pollution from Ships” tahun 1973, yang kemudian disempurnakan dengan TSPP
(Tanker Safety and Pollution Prevention) Protocol tahun 1978 dan konvensi ini dikenal dengan nama
MARPOL 1973/1978 yang masih berlaku sampai sekarang.

Difinisi mengenai “Ship” dalam MARPOL 73/78 adalah sebagai berikut:

“Ship means a vessel of any type whatsoever operating in the marine environment and includes
hydrofoil boats, air cushion vehhicles, suvmersibles, ficating Craft and fixed or floating platform”.

Jadi “Ship” dalam peraturan lindungan lingkungan maritim adalah semua jenis bangunan yang berada di
laut apakah bangunan itu mengapung, melayang atau tertanam tetap di dasar laut.

1. B. ISI PERATURAN MARPOL


Peraturan mengenai pencegahan berbagai jenis
sumber bahan pencemaran lingkungan maritim yang datangnya dari kapal dan bangunan lepas pantai
diatur dalam MARPOL Convention 73/78 Consolidated Edition 1997 yang memuat peraturan :

1. International Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973.

Mengatur kewajiban dan tanggung jawab Negara-negara anggota yang sudah meratifikasi konvensi
tersebut guna mencegah pencemaran dan buangan barang-barang atau campuran cairan beracun dan
berbahaya dari kapal. Konvensi-konvensi IMO yang sudah diratifikasi oleh Negara anggotanya seperti
Indonesia, memasukkan isi konvensi-konvensi tersebut menjadi bagian dari peraturan dan perundang-
undangan Nasional.

2. Protocol of 1978

Merupakan peraturan tambahan “Tanker Safety and Pollution Prevention (TSPP)” bertujuan untuk
meningkatkan keselamatan kapal tanker dan melaksanakan peraturan pencegahan dan pengontrolan
pencemaran laut yang berasal dari kapal terutama kapal tanker dengan melakukan modifikasi dan
petunjuk tambahan untuk melaksanakan secepat mungkin peraturan pencegahan pencemaran yang
dimuat di dalam Annex konvensi.

Karena itu peraturan dalam MARPOL Convention 1973 dan Protocol 1978 harus dibaca dan
diinterprestasikan sebagai satu kesatuan peraturan.

Protocol of 1978, juga memuat peraturan mengenai :

– a. Protocol I

Kewajiban untuk melaporkan kecelakaan yang melibatkan barang beracun dan berbahaya.

Peraturan mengenai kewajiban semua pihak untuk melaporkan kecelakaan kapal yang melibatkan
barang-barang beracun dan berbahaya. Pemerintah Negara anggota diminta untuk membuat petunjuk
untuk membuat laporan, yang diperlukan sedapat mungkin sesuai dengan petunjuk yang dimuat dalam
Annex Protocol I.
Sesuai Article II MARPOL 73/78 Article III “Contents of report” laporan tersebut harus memuat
keterangan :

 Mengenai identifikasi kapal yang terlibat melakukan pencemaran.

 Waktu, tempat dan jenis kejadian

 Jumlah dan jenis bahan pencemar yang tumpah

 Bantuan dan jenis penyelamatan yang dibutuhkan

Nahkoda atau perorangan yang bertanggung jawab terhadap insiden yang terjadi pada kapal wajib
untuk segera melaporkan tumpahan atau buangan barang atau campuran cairan beracun dan
berbahaya dari kapal karena kecelakaan atau untuk kepentingan menyelamatkan jiwa manusia sesuai
petunjuk dalam Protocol dimaksud.

– b. Protocol II mengenai Arbitrasi

Berdasarkan Article 10”setlement of dispute”. Dalam Protocol II diberikan petunjuk menyelesaikan


perselisihan antara dua atau lebih Negara anggota mengenai interprestasi atau pelaksanaan isi konvensi.
Apabila perundingan antara pihak-pihak yang berselisih tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut,
salah satu dari mereka dapat mengajukan masalah tersebut ke Arbitrasi dan diselesaikan berdasarkan
petunjuk dalam Protocol II konvensi.

Selanjutnya peraturan mengenai pencegahan dan penanggulangan pencemaran laut oleh berbagai jenis
bahan pencemar dari kapal dibahas daam Annex I s/d V MARPOL 73/78, berdasarkan jenis masing-
masing bahan pencemar sebagai berikut :

Annex I Pencemaran oleh minyak Mulai berlaku 2 Oktober 1983

Annex II Pencemaran oleh Cairan Beracun (Nuxious Substances) dalam bentuk


Curah Mulai berlaku 6 April 1987

Annex III Pencemaran oleh barang Berbahaya (Hamful Sub-Stances) dalam bentuk Terbungkus Mulai
berlaku 1 Juli 1991

Annex IV Pencemaran dari kotor Manusia /hewan (Sewage)

diberlakukan 27 September 2003

Annex V Pencemaran Sampah Mulai berlaku 31 Desember 1988

Annex VI Pencemaran udara belum diberlakukan

Peraturan MARPOL Convention 73/78 yang sudah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia, baru Annex I
dan Annex II, dengan Keppres No. 46 tahun 1986.

1. C. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB NEGARA ANGGOTA MARPOL 73/78


1. Menyetujui MARPOL 73/78 – Pemerintah suatu negara

2. Memberlakukan Annexexes I dan II – Administrasi hukum / maritim

3. Memberlakukan optimal Annexes dan melaksanakan – Administrasi hukum / maritim.

4. Melarang pelanggaran – Administrasi hukum / maritim

5. Membuat sanksi – Administrasi hukum / maritim

6. Membuat petunjuk untuk bekerja – administrasi maritim

7. Memberitahu Negara-negara yang bersangkutan – administrasi maritim.

8. Memberitahu IMO – Administration maritim

9. Memeriksa kapal – Administrasi maritim

10. Memonitor pelaksanaan – Administrasi maritim

11. Menghindari penahanan kapal – Administrasi kapal

12. Laporan kecelakaan – Administrasi maritim / hukum

13. Menyediakan laporan dokumen ke IMO (Article 11) – Administrasi maritim

14. Memeriksa kerusakan kapal yang menyebabkan pencemaran dan melaporkannya –


Administrasi maritim.

15. Menyediakan fasilitas penampungan yang sesuai peraturan – Administrasi maritim.

1. D. YURISDIKSI PEMBERLAKUAN MARPOL 73/78


MARPOL 73/78 memuat tugas dan wewenang sebagai jaminan yang relevan bagi setiap Negara anggota
untuk memberlakukan dan melaksanakan peraturan sebagai negara bendera kapal, Negara pelabuhan
atau negara pantai.

 Negara bendera kapal adalah Negara dimana suatu kapal didaftarkan

 Negara pelabuhan adalah Negara dimana suatu kapal berada di pelabuhan Negara itu.

 Negara pantai adalah Negara dimana suatu kapal berada di dalam zona maritim Negara pantai
tersebut.

MARPOL 73/78 mewajibkan semua Negara berdera kapal, Negara Pantai dan Negara pelabuhan yang
menjadi anggota mengetahui bahwa :

“ Pelanggaran terhadap peraturan konvensi yang terjadi di dalam daerah yurisdiksi Negara anggota
dilarang dan sanksi atau hukuman bagi yang melanggar dilakukan berdasarkan Undang-Undang Negara
anggota itu”.

1. a. Juridiksi legislatif Negara bendera kapal

Berdasarkan hukum Internasional, Negara bendera kapal diharuskan untuk memberlakukan peraturan
dan mengontrol kegiatan berbendera Negara tersebut dalam hal administrasi, teknis dan sarana sosial
termasuk mencegah terjadi pencemaran perairan.

Negara bendera kapal mengharuskan kapal berbendera Negara itu memenuhi standar Internasional
(antara lain MARPOL 73/78).

Tugas utama dari negara bendera kapal adalah untuk menjamin bahwa kapal mereka memnuhi
standar teknik di dalam MARPOL 73/78 yakni :

 memeriksa kapal-kapal secara periodik

 menerbitkan sertifikat yang diperlukan

1. b. Juridiksi legislatif Negara pantai

Konvensi MARPOL 73/78 meminta Negara pantai memberlakukan peraturan konvensi pada semua kapal
yang memasuki teoritialnya dan, tindakan ini dibenarkan oleh peraturan UNCLOS 1982, asalkan
memenuhi peraturan konvensi yang berlaku untuk lintas damai (innocent passage) dan ada bukti yang
jelas bahwa telah terjadi pelanggaran.

1. c. Juridiksi legislatif Negara pelabuhan

Negara anggota MARPOL 73/78 wajib memberlakukan peraturan mereka bagi semua kapal yang
berkunjung ke palabuhannya. Tidak ada lagi perlakuan khusus bagi kapal-kapal yang bukan anggota.
Ini berarti ketaatan pada peraturan MARPOL 73/78 merupakan persyaratan kapal boleh memasuki
pelabuhan semua Negara anggota.

Adalah wewenang dari Negara pelabuhan untuk memberlakukan peraturan lebih ketat tentang
pencegahan pencemaran sesuai peraturan mereka. Namun demikian sesuai UNCLOS 1982 peraturan
seperti itu harus dipublikasikan dan disampaikan ke IMO untuk disebar luaskan.

1. E. CARA-CARA UNTUK MEMENUHI KEWAJIBAN DALAM MARPOL 73/78

Persetujuan suatu Negara anggota untuk melaksanakan MARPOL 73/78 diikuti dengan tindak lanjut dari
Negara tersebut di sektor-sektor :

 Pemerintah

 Administrasi bidang hukum

 Administrasi bidang maritim

 Pemilik kapal

 Syahbandar (port authorities)

1. a. Pemerintah

Kemauan politik dari suatu Negara untuk meratifikasi MARPOL 73/78 merupakan hal yang fundamental.
Dimana kemauan politik itu didasarkan pada pertimbangan karena :

1. Kepentingan lingkungan maritim di bawah yurisdiksi Negara itu.

2. Keuntungan untuk pemilik kapal Negara tersebut (Kapal-kapalnya dapat diterima oleh dunia
Internasional).

3. Keuntungan untuk ketertiban di pelabuhan Negara itu (dapat mengontrol pencemaran) atau

4. Negara ikut berpartisipasi menjaga keselamatan lingkungan internasional.

Pertimbangan dan masukan pada Pemerintah untuk meretifikasi konvensi diharapkan datang dari badan
administrasi maritim atau badan administrasi lingkungan dan dari industri maritim.

Dalam konteks ini harus diakui bahwa Negara anggota MARPOL 73/78 menerima tanggung jawab tidak
membuang bahan pencemar ke laut, namun demikian di lain pihak mendapatkan hak istimewa,
perairannya tidak boleh dicemari oleh Kapal Negara anggota lain. Kalau terjadi pencemaran di dalam
teritorial mereka, mereka dapat menuntun dan meminta ganti rugi. Negara yang bukan anggota tidak
menerima tanggung jawab untuk melaksanakan peraturan atas kapal-kapal mereka, jadi kapal-kapal-
kapal mereka tidak dapat dituntut karena tidak memenuhi peraturan (kecuali bila berada di dalam
daerah teritorial Negara anggota).
Namun demikian harus diketahui pula bahwa Negara yang tidak menjadi anggota berarti kalau
pantainya sendiri dicemari, tidak dapat memperoleh jaminan sesuai MARPOL 73.78 untuk menuntut
kapal yang mencemarinya.

b. Administrasi hukum

Tugas utama dari Administrasi hukum adalah bertanggung jawab memberlakukan peraturan yang dapat
digunakan untuk melaksanakan peraturan MARPOL 73/78. Untuk memudahkan pekerjaan Administrasi
hukum sebaiknya ditempatkan dalam satu badan dengan Administrasi maritim yang diberikan
kewenangan meratifikasi, membuat peraturan dan melaksanakannya.

Agar peraturan dalam MARPOL 73/78 mempunyai dasar hukum untuk dilaksanakan, maka peraturan
tersebut harus diintegrasikan ke dalam sistim perundang-undangan Nasional. Cara pelaksanaannya
sesuai yang digambarkan dalam diagram berikut.

c. Administrasi maritim

Administrasi maritim yang dibentuk pemerintah bertanggung jawab melaksanakan tugas administrasi
pemberlakuan peraturan MARPOL 73/78 dan konvensi-konvensi maritim lainnya yang sudah diratifikasi.
Badan ini akan memberikan masukan pada Administrasi hukum dan Pemerintah di satu pihak dan
membina industri perkapalan dari Syahbandar dipihak lain yang digambarkan dalam diagram berikut.

Tugas dari Administrasi maritim ini adalah melaksanakan MARPOL 73/78 bersama-sama dengan
beberapa konvensi maritim lainnya. Disarankan untuk meneliti tugas-tugas tersebut guna identifikasi
peraturan-peraturan yang sesuai dan memutuskan bagaimana memberlakukannya.

d. Pemilik Kapal

Pemilik kapal berkewajiban membangun dan melengkapi kapal-kapalnya dan mendiidk pelautnya,
perwira laut untuk memenuhi peraturan MARPOL 73/78. Konpetensi dan ketrampilan pelaut harus
memenuhi standar minimun yang dimuat dalam STCW-95 Convention.

e. Syahbandar (Port Authorities)

Tugas utama dari Syahbandar adalah menyediakan tempat penampungan buangan yang memadai sisa-
sisa bahan pencemar dari kapal yang memadai. Syahbandar juga bertugas untuk memantau dan
mengawasi pembuangan bahan pencemar yang asalnya dari kapal berdasarkan peraturan Annexes I, II,
IV dan V MARPOL.

F. IMPLEMENTASU PERATURAN MARPOL 7378

Administrasi Maritim dalam melaksanakan tugasnya adalah bertindak sebagai :

1. sebagai pelaksanaan IMO

2. Legislation dan Regulations serta Implementation of Regulations


3. Instruction to Surveyor

4. Delegations of surveyor and issue of certificates

5. Records of Certifications, Design Approval, dan Survey Report

6. Equipment Approval, Issue of certificates dan Violations reports

7. Prosecution of offenders, Monitoring receptions facilities dan Informing IMO as required

Pemerikasaan dan Inspeksi yang dilakukan oleh Surveyor dan Inspektor

Garis besar tugas surveyor dan inspektor melakukan pemeriksaan dalam diagram di atas adalah sebagai
berikut :

1. Memeriksa kapal untuk penyetujuan rancang bangun. Tugas ini hendaknya dilakukan oleh
petugas yang berkualifikasi dan berkualitas sesuai yang ditentukan oleh kantor pusat
Administrasi maritim.

2. Inspeksi yang dilakukan oleh Syahbandar adalah bertujuan untuk mengetahui apakah prosedur
operasi sudah sesuai dengan peraturan.

3. Investigasi dan penuntunan. Surveyor dan Inspector pelabuhan harus mampu melakukan
pemeriksaan kasus yang tidak memenuhi peraturan konstruksi, peralatan dan pelanggaran yang
terjadi. Berdasarkan petunjuk dari pusat Administrasi maritim, petugas tersebut harus dapat
menuntut pihak-pihak yang melanggar.

1. G. IMPLEMENTASI PERATURAN MARPOL 73/78

1. Survey & pemeriksaan

2. Sertifikasi

3. Tugas Pemerintah

1. H. DAMPAK PENCEMARAN DI LAUT

Dampak pencemaran barang beracun dan berbahaya terutama minyak berpengaruh terhadap :

1. Dampak ekologi

2. Tempat rekreasi

3. Lingkungan Pelabuhan dan Dermaga

4. Instalasi Industri

5. Perikanan
6. Binatang Laut

7. Burung Laut

8. Terumbu Karang dan Ekosistim

9. Tumbuhan di pantai dan Ekosistim

10. Daerah yang dilindung dan taman laut

1. I. DEFINISI-DEFINISI BAHAN PENCEMAR

Bahan-bahan pencemar yang berasal dari kapal terdiri dari muatan yang dimuat oleh kapal, bahan bakar
yang digunakan untuk alat propulsi dan alat lain di atas kapal dan hasil atau akibat kegiatan lain di atas
kapal seperti sampah dan segera bentuk kotoran.

Definisi bahan-bahan pencemar dimaksud berdasarkan MARPOL 73/78 adalah sebagai berikut :

1. “Minyak” adalah semua jenis minyak bumi seperti minyak mentah (crude oil) bahan bakar (fuel
oil), kotoran minyak (sludge) dan minyak hasil penyulingan (refined product)

2. “Naxious liquid substances”. Adalah barang cair yang beracun dan berbahaya hasil produk kimia
yang diangkut dengan kapal tanker khusus (chemical tanker)

Bahan kimia dimaksud dibagi dalam 4 kategori (A,B,C, dan D) berdasarkan derajad toxic dan kadar
bahayanya.

Kategori A : Sangat berbahaya (major hazard). Karena itu muatan termasuk bekas pencuci tanki
muatan dan air balas dari tanki muatan tidak boleh dibuang ke laut.

Kategori B : Cukup berbahaya. Kalau sampai tumpah ke laut memerlukan penanganan khusus
(special anti pollution measures).

Kategori C : Kurang berbahaya (minor hazard) memerlukan bantuan yang agak khusus.

Kategori D : Tidak membahayakan, membutuhkan sedikit perhatian dalam menanganinya.

1. “Hamfull substances” Adalah barang-barang yang dikemas dalam dan membahayakan


lingkungan kalau sampai jatuh ke laut.

2. Sewage”. Adalah kotoran-kotoran dari toilet, WC, urinals, ruangan perawatan, kotoran hewan
serta campuran dari buangan tersebut.

3. “Garbage” Adalah tempat sampah-sampah dalam bentuk sisa barang atau material hasil dari
kegiatan di atas kapal atau kegiatan normal lainnya di atas kapal.

Peraturan pencegahan pencemaran laut diakui sangat kompleks dan sulit dilaksanakan secara serentak,
karena itu marpol Convention diberlakukan secara bertahap. Tanggal 2 Oktober 1983 untuk Annex I (oil).
Disusul dengan Annex II (Noxious Liquid Substances in Bulk) tanggal 6 April 1987. Disusul kemudian
Annex V (Sewage), tanggal 31 31 Desember 1988, dan Annex III (Hamful Substances in Package) tanggal
1 juli 1982. Sisa Annex IV (Garbage) yang belum berlaku Internasional sampai saat ini.

Annex I MARPOL 73/78 yang memuat peraturan untuk mencegah pencemaran oleh tumpahan minyak
dari kapal sampai 6 Juli 1993 sudah terdiri dari 23 Regulation.

Peraturan dalam Annex I menjelaskan mengenai konstruksi dan kelengkapan kapal untuk mencegah
pencemaran oleh minyak yang bersumber dari kapal, dan kalau terjadi juga tumpahan minyak
bagaimana cara supaya tumpahan bisa dibatasi dan bagaimana usaha terbaik untuk menanggulanginya.

Untuk menjamin agar usaha mencegah pencemaran minyak telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya
oleh awak kapal, maka kapal-kapal diwajibkan untuk mengisi buku laporan (Oil Record Book) yang sudah
disediakan menjelaskan bagaimana cara awak kapal menangani muatan minyak, bahan bakar minyak,
kotoran minyak dan campuran sisa-sisa minyak dengan cairan lain seperti air, sebagai bahan laporan dan
pemeriksaan yang berwajib melakukan kontrol pencegahan pencemaran laut.

Kewajiban untuk menigisi “Oli Record Book” dijelaskan di dalam Reg. 20.

Appendix I Daftar dari jenis minyak (list of oil) sesuai yang dimaksud dalam MARPOL 73/78 yang akan
mencemari apabila tumpahan ke laut.

Appendix II, Bentuk sertifikat pencegahan pencemaran oleh minyak atau “IOPP Certificate” dan
suplemen mengenai data konstruksi dan kelengkapan kapal tanker dan kapal selain tanker. Sertifikat ini
membuktikan bahwa kapal telah diperiksa dan memenuhi peraturan dalam reg. 4. “Survey and
inspection” dimana struktur dan konstruksi kapal, kelengkapannya serta kondisinya memenuhi semua
ketentuan dalam Annex I MARPOL 73/78.

Appendix III, Bentuk “Oil Record Book” untuk bagian mesin dan bagian dek yang wajib diisi oleh awak
kapal sebagai kelengkapan laporan dan bahan pemeriksaan oleh yang berwajib di Pelabuhan.

1. J. USAHA MENCEGAH DAN MENANGGULANGI PENCEMARAN LAUT

Pada permulaan tahun 1970-an cara pendekatan yang dilakukan oleh IMO dalam membuat peraturan
untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran laut pada dasarnya sama dengan yang dilakukan
sekarang, yakni melakukan kontrol yang ketat pada struktur kapal untuk mencegah jangan sampai
terjadi tumpahan minyak atau pembuangan campuran minyak ke laut. Dengan pendekatan demikian
MARPOL 73/78 memuat peraturan untuk mencegah seminimum mungkin minyak yang mencemari laut.

Tetapi kemudian pada tahun 1984 dilakukan perubahan penekanan dengan menitik beratkan
pencegahan pencemaran pada kegiatan operasi kapal seperti yang dimuat didalam Annex I terutama
keharusan kapal untuk dilengkapi dengan “Oily Water Separating Equipment dan Oil Discharge
Monitoring Systems”.
Karena itu MARPOL 73/78 Consolidated Edition 1997 dibagi dalam 3 (tiga) kategori dengan garis
besarnya sebagai berikut :

1. Peraturan untuk mencegah terjadinya Pencemaran.

Kapal dibangun, dilengkapi dengan konstruksi dan peralatan berdasarkan peraturan yang diyakini akan
dapat mencegah pencemaran terjadi dari muatan yang diangkut, bahan bakar yang digunakan maupun
hasil kegiatan operasi lainnya di atas kapal seperti sampah-sampah dan segala bentuk kotoran.

2. Peraturan untuk menanggulangi pencemaran yang terjadi

Kalau sampai terjadi juga pencemaran akibat kecelakaan atau kecerobohan maka diperlukan peraturan
untuk usaha mengurangi sekecil mungkin dampak pencemaran, mulai dari penyempurnaan konstruksi
dan kelengkapan kapal guna mencegah dan membatasi tumpahan sampai kepada prosedur dari
petunjuk yang harus dilaksanakan oleh semua pihak dalam menaggulangi pencemaran yang telah
terjadi.

3. Peraturan untuk melaksanakan peraturan tersebut di atas.

Peraturan prosedur dan petunjuk yang sudah dikeluarkan dan sudah menjadi peraturan Nasional negara
anggota wajib ditaati dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terlibat dalam membangun, memelihara
dan mengoperasikan kapal. Pelanggaran terhadap peraturan, prosedur dan petunjuk tersebut harus
mendapat hukuman atau denda sesuai peraturan yang berlaku.

Khusus bahan pencemaram minyak bumi, pencegahan dan penanggulanganya secara garis besar
dibahas sebagai berikut :

1. a. Peraturan untuk pencegahan pencemaran oleh minyak.

Untuk mencegah pencemaran oleh minyak bumi yang berasal dari kapal terutama tanker dalam Annex I
dimuat peraturan pencegahan dengan penekanan sebagai berikut :

1. 1. Regulation 13, Segregated Ballast Tanks, Dedicated Clean Tanks Ballast and Crude Oil
Washing (SRT, CBT dan COW)

Menurut hasil evaluasi IMO cara terbaik untuk mengurangi sesedikit mungkin pembuangan minyak
karena kegiatan operasi adalah melengkapi tanker yang paling tidak salah satu dari ketiga sistem
pencegahan :

 Segregated Ballast Tanks (SBT)

Tanki khusus air balas yang sama sekali terpisah dari tanki muatan minyak maupun tanki bahan bakar
minyak. Sistem pipa juga harus terpisah, pipa air balas tidak boleh melewati tanki muatan minyak.

 Dedicated Clean Ballast Tanks (CBT)


Tanki bekas muatan dibersihkan untuk diisi dengan air balas. Air balas dari tanki tersebut, bila dibuang
ke laut tidak akan tampak bekas minyak di atas permukaan air dan apabila dibuang melalui alat
pengontrol minyak (Oil Dischane Monitoring), minyak dalam air tidak boleh lebih dari 13 ppm.

 Crude Oil Washing (COW)

Muatan minyak mentah (Crude Oil) yang disirkulasikan kembali sebagai media pencuci tanki yang
sedang dibongkar muatnnya untuk mengurangi endapan minyak tersisa dalam tanki.

1. 2. Pembatasan Pembuangan Minyak

MARPOL 73/78 juga masih melanjutkan ketentuan hasil Konvensi 1954 mengenai Oil Pollution 1954
dengan memperluas pengertian minyak dalam semua bentuk termasuk minyak mentah, minyak hasil
olahan, sludge atau campuran minyak dengan kotorn lain dan fuel oil, tetapi tidak termasuk produk
petrokimia (Annex II)

Ketentuan Annex I Reg.9. “Control Discharge of Oil” menyebutkan bahwa pembuangan minyak atau
campuran minyak hanya dibolehkan apabila

 Tidak di dalam “Special Area” seperti Laut Mediteranean, Laut Baltic, Laut Hitam, Laut Merah
dan daerah Teluk.

 Lokasi pembuangan lebih dari 50 mil laut dari daratan

 Pembuangan Dilakukan Waktu Kapal sedang berlayar

 Tidak membuang minyak lebih dari 30 liter /natical mile

 Tidak membuang minyak lebih besar dari 1 : 30.000 dari jumlah muatan.

1. 3. Monitoring dan Kontrol Pembuangan Minyak

Kapal tanker dengan ukuran 150 gross ton atau lebih harus dilengkapi dengan “slop tank” dan kapal
tanker ukuran 70.000 tons dead weight (DWT) atau lebih paling kurang dilengkapi “slop tank” tempat
menampung campuran dan sisa-sisa minyak di atas kapal.

Untuk mengontrol buangan sisa minyak ke laut maka kapal harus dilengkapi dengan alat kontrol “Oil
Dischange Monitoring and Control System” yang disetujui oleh pemerintah, berdasarkan petunjuk yang
ditetapkan oleh IMO. Sistem tersebut dilengkapi dengan alat untuk mencatat berapa banyak minyak
yang ikut terbuang ke laut. Catatan data tersebut harus disertai dengan tanggal dan waktu pencatatan.
Monitor pembuangan minyak harus dengan otomatis menghentikan aliran buangan ke laut apabila
jumlah minyak yang ikut terbuang sudah melebihi amabang batas sesuai peraturan Reg. 9 (1a) “Control
of Discharge of Oil”.

1. 4. Pengumpulan sisa-sisa minyak


Reg. 17 mengenai “Tanks for Oil Residues (Sludge)” ditetapkan bahwa untuk kapal ukuran 400 gross ton
atau lebih harus dilengkapi dengan tanki penampungan dimana ukurannya disesuaikan dengan tipe
mesin yang digunakan dan jarak pelayaran yang ditempuh kapal untuk menampung sisa minyak yang
tidak boleh dibuang ke laut seperti hasil pemurnian bunker, minyak pelumas dan bocoran minyak
dimakar mesin.

Tanki-tanki penampungan dimaksud disediakan di tempat-tempat seperti :

 Pelebuhan dan terminal dimana minyak mentah dimuat.

 Semua pelabuhan dan terminal dimana minyak selain minyak mentah dimuat lebih dari 100 ton
per hari.

 Semua daerah pelabuhan yang memiliki fasilitas galangan kapal dan pembersih tanki.

 Semua pelabuhan yang bertugas menerima dan memproses sisa minyak dari kapal.

1. b. Peraturan untuk menanggulangi pencemaran oleh minyak

Sesuai Reg. 26 “Shipboard Oil Pollution Emergency Plan” untuk menanggulangi pencemaran yng
mungkin terjadi maka tanker ukuran 150 gross ton atau lebih dan kapal selain tanker 400 grt atau lebih,
harus membuat rencana darurat pananggulangan pencemaran di atas kapal.

1. c. Peraturan pelaksanan dan ketentuan pencegahan dan penanggulangan pencemaran oleh


minyak.

Pencegahan dan penaggulangan pencemaran yang datangnya dari kapal tanker, perlu dikontrol melalui
pe