Anda di halaman 1dari 121

Bab II-2 Konstruksi-Perlindungan Kebakaran, Deteksi Kebakaran dan Pemadam Kebakaran

Bagian A - Umum

Halaman

1 Penerapan................................................................... ......... 2
3 4 5 6 7 8 9 10

Prinsip-prinsip dasar .........................................................


Definisi-definisi ......................................................... Pompa kebakaran, saluran kebakaran, hidran dan selang kebakaran Sistem pemadam kebakaran dengan gas yang dipasang tetap Alat pemadam kebakaran Tata-susunan pemadam kebakaran yang dipasang tetap dalam ruang mesin Sistem pemadam kebakran dengan busa expansi rendah yang dipasang tetap dalam ruang mesin Sistim-sistim pemadam kebakaran dengan busa expansi tinggi yang dipasang tetap dalam ruang mesin Sistem pemadam kebakaran semprot air

163

bertekanan yang dipasang tetap dalam ruang mesin 11 12 13 Tata-susunan khusus di dalam ruang permesinan Sistim pemercik, sistim deteksi kebakaran dan alarm kebakaran otomatis Sistem deteksi kebakaran dan sistim alarm kebakaran yang dipasang tetap 13-1 Sistem deteksi pengisapan contoh asap 14 Sistim-sistim kebakaran dan kebakaran yang dipasang tetap untuk ruang mesin yang tidak diawasi pada waktu-waktu tertentu 15 16 17 18 19 20 21 22 Tata-susunan bahan bakar minyak, minyak lumas dan minyak-minyak lain yang mudah menyala Sistem ventilasi untuk kapal-kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 orang penumpang Kelengkapan petugas pemadam kebakaran Serba aneka Sambungan darat internasional Denah rancangan pemadaman kebakaran dan pelatihan kebakaran Kesiapan dan kelengkapan alat-alat pemadam kebakaran Alat pengganti yang disetujui

Bagian B - Tindakan keselamatan pencegah kebakaran pada kapal penumpang


23 24 25 26 27 Struktur Zona vertikal dan zona horizontal utama Sekat-sekat di dalam zona vertikal utama Keutuhan akibat kebakaran dari sekat dan geladak pada kapalkapal yang mengangkut lebih dari 36 orang penumpang Keutuhan akibat kebakaran sekat-sekat dan geladak-geladak pada kapalkapal yang mengangkut tidak lebih dari 36 orang penumpang 164

28 29

Jalan untuk penyelamatan diri Perlindungan tangga tapak dan elavator di dalam ruang akomodasi dan ruang layanan

28-1 Rute penyelamatan diri pada kapal penumpang ro-ro

30 31 32 33 34 35 36

Bukaan di Pemisah kelas AA@ Bukaan di Pemisah kelas AB@ Sistem ventilasi Jendela-jendela dan tingkap-tingkap samping Pembatasan bahan-bahan yang mudah terbakar Rincian konstruksi Sistem percik otomatis dan sistim alarm kebakaran dan sistem deteksi atau sistem alarm otomatis dan deteksi kebakaran yang dipasang tetap

37 38

Perlindungan ruang kategori khusus Perlindungan ruang muat yang bukan ruang katagori khusus yang diperuntukkan bagi pengangkutan kendaraankendaraan bermotor dengan bahan bakar di dalam tangkinya untuk pergerakannya sendiri

39 40 41

Tata-susunan pemadam kebakaran yang dipasang tetap di dalam ruang muat Sistem ronda, deteksi kebakaran, alarm kebakaran dan pemberitahuan umum Ketentuan khusus untuk kapal yang mengangkut bahan-bahan berbahaya

41-1 Peningkatan untuk kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 orang penumpang yang dibuat sebelum 1 Oktober 1994 41-2 Ketentuan-ketentuan untuk kapal-kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 orang penumpang yang dibuat sebelum 1 Oktober 1994

Bagian C kebakaran

Upaya-upaya keselamatan terhadap pada kapal barang


165

42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

Struktur Sekat-sekat di dalam ruang akomodasi dan ruang layanan Keutuhan akibat kebakaran sekat dan geladak Jalan untuk penyelamatan diri Perlindungan tangga tapak dan tabung elevator di dalam ruang akomodasi, ruang layanan dan stasiun kontrol Pintu-pintu pada pemisah tahan api Sistim ventilasi Pembatasan penggunaan bahan-bahan yang mudah terbakar Rincian konstruksi Tata-susunan untuk bahan bakar dalam untuk gas untuk tujuan pelayanan Sistem deteksi kebakaran dan sistim alarm kebakaran, sistim pemercik otomatik, atau penemu kebakaran dan sistim alarm kebakaran yang dipasang tetap

53 54

Tata-susunan perlindungan kebakaran dalam ruang muat Ketentuan-ketentuan mengangkut muatan berbahaya khusus untuk kapal-kapal yang

Bagian D kebakaran
55 56 57 58 59 Penerapan

Upaya-upaya keselamatan padakapal tangki

terhadap

Penempatan dan pemisahan ruangan-ruangan Struktur, sekat-sekat dalam ruang akomodasi dan ruang layanan dan rincian konstruksi Keutuhan akibat kebakaran dari sekat dan geladak Pelubangan, pembersihan, pembebasan gas dan ventilasi 166

60 61 62 63

Perlindungan untuk tangki muatan Sistim busa di geladak yang dipasang terap Sistim gas lamban Kamar pompa muat

167

Bab II-2: Konstruksi

BAGIAN A UMUM
Peraturan 1 Penerapan
1.1 Kecuali jika secara tegas ditentukan lain, bagian A,C dan D bab ini berlaku bagi kapal -kapal yang peletakan lunasnya atau tahapan pembangunan yang serupa pada atau sesudah 1 Juli 1986, dan bagian B bab ini berlaku bagi kapal - kapal yang peletakan lunasnya atau berada dalam tahapan pembangunan yang serupa pada atau sesudah 1 Oktober 1994. 1.2 Untuk memenuhi maksud Bab ini, istilah"Tahapan Pembangunan yang Serupa" ialah tahap dimana: .1 Pembangunannya telah dimulai dengan identifikasi khusus, dan .2 Perakitan kapal sudah dimulai mencapai sekurangkurangnya 50 ton atau 1% dari massa semua material bangunan yang diperkirakan, yang mana yang lebih rendah. 1.3 Untuk memenuhi maksud dari Bab ini: .1 Istilah "kapal yang dibangun" adalah kapal yang peletakan lunasnya diletakan atau yang tahap pembangunannya serupa dengan itu. .2 Istilah " semua kapal" adalah kapal yang dibangun sebelum ,pada saat atau sesudah 1 Juli 1986. .3 Kapal barang, yang pembangunannya dirombak menjadi kapal penumpang harus diperlakukan sebagai kapal penumpang yang dibangun pada saat perombakannya dimulai.

2 Kecuali jika secara tegas ditentukan lain, bagi kapal- kapal yang dibangun sebelum 1 Juli 1986; maka Badan Pemerintah harus menjamin bahwa persyaratan - persyaratan yang berlaku menurut pasal II - 2 SOLAS 1974, sebagaimana ditambah dan dirubah oleh resolusi MSC.l(XLV) dan diterima pada tanggal 20 November 1981 harus dipenuhi dan untuk kapal yang dibangun sebelum 1 Oktober 1974. Badan Pemerintah harus menjamin bahwa syarat - syarat yang

Bagian A

Peraturan 1

di berlakukan pada bagian B pasal II-2 SOLAS 19474,sebagaimana ditambah dan dir ubah dengan resolusi MSC.I(XLV ), MSC.6 (48),MSC.13 (57) MSC.22(59) dan MSC.24 (60) dipenuhi. 3.1 Semua kapal yang sedang mengalami perbaikan,penggatian perombakan dan pemasangan alat -alat yang berkenaan dengannya harus memenuhi sekurang - kurangnya syarat - syarat yang berlaku sebelumnya bagi kapal itu kapal - kapal itu. Kapal tersebut, jika dibangun sebelum 1 Juli 1986 harus memenuhi syarat - syarat untuk kapal yang dibangun pada dan sesudah tanggal tersebut sekurang kurangnya sama besarnya dengan yang dilakukan sebelum mengami perbaikan, perubahan, pergantian, perombakan atau pema sangan peralatan. Perbaikan, pergantian dan perombakandari karakter utama**dan peralatan yang terkait harus memenuhi syaratsyarat untuk kapal yang dibangun pada saat atau sesudah 1 Juli 1986 sejauh Badan Pemerintah menganggap layak dan dapat dilaksanakan. 3.2 Dengan tidak mengesampingkan ketentuan paragraf 3.1, kapal -kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang bilamana mengalami perbaikan, pergantian, perubahan - perubahan dan pemasangan alat alat yang berkenaan dengan persyaratan harus memenuhi ketentuan berikut: 1. Semua material yang digunakan untuk kapal - kapal ini harus memenuhi persyaratan material yang dipakai untuk kapal kapal yang dibangun pada atau sesudah 1 Oktober 1994, dan Semua perbaikan, pergantian, perubahan dan pemasangan alat alat yang berkenaan dengan yang menyangkut penggantian material yang mencapai 50 ton atau lebih, selain dari yang dipersyaratkan oleh peraturan 41-1, harus memenuhi persyaratan yang berlaku bagi kapal yang dibangun pada saat atau sesudah 1 Oktober 1994.

2.

* Perbaikan, perubahan dan modifikasi berikut harus diakui sebagai " suatu karakter utama" : 1 Setiap perubahan yang secara substansial merubah dimensi kapal Contoh - Memperpanjang dengan menambah bagian tengah badan kapal yang baru Bagian tengah badan kapal harus sesuai dengan Bab II SOLAS 1974 sebagaimana dirubah dan ditambah. 2 Setiap perubahan yang secara substansial merubah kapasitas daya angkut penumpang kapal. Contoh - Geladak kendaraan dirubah menjadi akomodasi penumpang. Akomodasi baru harus sesuai dengan Bab II SOLAS 1974 sebagaimana dirubah dan ditambah. 3 Setiap perubahan yang secara substansial meningkat kan pelayanan hidup kapal Contoh - Pembaharuan akomodasi penumpang pada satu geladak keseluruhan Pembaharuan akomodasi harus sesuai dengan Bab ii SOLAS 1974 sebagaimana dirubah dan ditambah. ( Interpretasi disetujui oleh Komite Keselamatan Maritim pada sidang ke lima belas)

Bab II-2: Konstruksi 4.1 Jika Badan Pemerintah menganggap bahwa sifat dan keadaan perairan terlindung sedemikian rupa sehingga mengakibatkan pemberlakuan setiap syarat dari Bab ini tidak beralasan atau tidak diperlukan dapat membebaskan kapal secara sendiri - sendiri atau golongan kapal yang mengibarkan benderanya, yang dalam pelayarannya tidak berada lebih jauh dari 20 mil dihitung dari daratan yang terdekat. 4.2 Bagi kapal - kapal penumpang yang dipergunakan pada pelayaran untuk mengangkut sejumlah besar penumpang pelayaran khusus seperti misalnya jemaah haji, Badan Pemerintah dari negara bendera kapal, jika diketahui bahwa hal tersebut tidak dapat diterapkan untuk menjamin terpenuhinya persyaratan Bab ini, dapat membebaskan kapal - kapal tersebut dari persyaratan tersebut, dengan catatan memnuhi secara penuh ketentuan berikut ini: .1 Aturan yang di lampirkan persetujuan untuk kapal penumpang untuk pelayaran khusus 1971 (STP 1971), dan .2 Aturan tambahan dari protokol mengenai persyaratan ruang untuk kapal kapal penumpang yang ditujukan pada pelayaran khusus 1973 (STP 1973).

Peraturan 2 Prinsip - prinsip dasar


1 Bab ini dimaksudkan untuk mensyaratkan tingkat perlindungan tertinggi yang dapat dilaksanakan terhadap kebakaran, deteksi kebakaran dan pemadaman kebakaran di kapal. 2 Prinsip - prinsip dasar berikut mendasari peraturan peraturan didalam bab ini dan yang diwujudkan didalam peraturan peraturan yang bersesuaian dengan memperhatikan jenis kapal dan bahaya kebakaran yang mungkin terjadi yang melibatkan: .1 .2 .3 .4 .5 .6 .7 Pembagian kapal menjadi zona - zona vertikal utama oleh pembatas panas dan konstruksi; Pemisah ruang akomodasi dari bagian lain kapal oleh pembatas panas dan pembatas konstruksi; Pembatasan pemakaian bahan yang mudah terbakar; Deteksi setiap kebakaran didalam zone asal; Pengurangan dan pemadaman setiap kebakaran didalam ruangan asal; Perlindungan jalan penyelamatan atau jalan masuk untuk pemadaman kebakaran; Keadaan siap dan lengkap dari alat - alat pemadam

Bagian A .8

Peraturan 1 kebakaran; Pengurangan hinggga sekecil -kecilnya atas kemungkinan atas terbakarnya uap muatan yang mudah menyala.

Peraturan 3 Definisi
Untuk memenuhi maksud dari bab ini, kecuali jika dengan tegas di tentukan lain : 1 Bahan yang tidak dapat terbakar** berarti bahan yang tidak dapat terbakar juga tidak menghasilkan uap yang mudah menyala dalam jumlah yang cukup banyak untuk terbakar sendiri bila dipanasi sampai kira-kira 750 C, ini ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan Badan Pemerintah dengan suatu prosedur pengujian yang diadakan. 2 Setiap bahan lain adalah bahan yang dapat terbakar. 2 Standar Uji bakar ialah pengujian benda kerja dari sekat atau geladak yang bersangkutan dipanasi didalam tanur uji sampai kira-kira sesuai dengan lengkung suhu waktu standar. Benda kerja itu harus memiliki permukaan terbuka yang tidak kurang dari 4,65 m 2 dan tinggi (panjang geladak) 2,44 m yang semirip mungkin dengan konstruksi yang dimaksudkan dan meliputi sekurang-kurangnya disatu sambungan. Lengkung waktu standar ditentukan oleh lengkung beraturan yang ditarik melalui titik-titik temperatur diukur diatas temparatur dapur awal diakhir 5 menit yang pertama 556C diakhir 10 menit yang pertama 659C diakhir 15 menit yang pertama 718C diakhir 30 menit yang pertama 821C diakhir 60 menit yang pertama 925C 3 Pemisah kelas "A" adalah pemisah-pemisah yang terbentuk oleh sekatsekat dan geladak-geladak yang memenuhi ketentuan-ketentuan berikut: .1 Pemisah itu harus dikonstruksikan dari baja atau bahan lain yang sepadan

* Jika suatu bahan melewati pengujian seperti yang ditentikan pada resolusi A.270(VIII), maka

bahan tersebut harus dianggap sebagai " tidak terbakar" sama juga jika bahan tersebut memuat campuran zat - zat anorganik dan organik, ( Interpretasi disetujui oleh Komite Keselamatan Maritim pada sidang ke- 45, SLS.14/Cire.17. )

2Mengacu pada rekomendasi yang direvisi pada metode pengujian untuk menunjukkan bahan
konstruksi laut yang tidak dapat terbaka yang diterima oleh Organisasi melalui resolusi A.799(19)

Bab II-2: Konstruksi .2 .3 .4 Pemisah itu harus dipertegar dengan selayaknya Pemisah itu harus dibuat sedemikian rupa sehingga mampu mencegah lewatnya asap dari nyala api sampai ke akhir uji batas standar selama satu jam. Pemisah itu harus diisolasi dengan bahan-bahan tidak dapat terbakar yang disetujui sedemikian rupa sehingga suhu rata - rata sisi yang tidak terkena uji tidak akan naik lebih dari 139C diatas suhu asal. Demikian juga disatu titik sembarang, termasuk setiap sambungan,suhu itu tidak akan naik lebih tinggi dari 180C diatas suhu asal , sebagaimana yang tertera dibawah ini: Kelas "A - 60" 60 menit Kelas "A - 30" 30 menit Kelas "A - 15" 15 menit Kelas "A - 0" 0 menit Badan Pemerintah dapat mensyaratkan suatu pengujian yang dikenakan pada suatu prototipe sekat atau geladak untuk memastikan bahwa sekat atau geladak itu sesuai dengan syaratsyarat diatas untuk keutuhan dan kenaikan suhu.*1

.5

4 Pemisah kelas "B" adalah pemisah-pemisah yang ternbentuk oleh sekat, geladak,langit-langit atau lapisan yang memenuhi ketentuan-ketentuan berikut: .1 Pemisah itu harus dibuat, sedemikian rupa sehingga mampu mencegah lewatnya nyala api sampai akhir selama setengah jam yang pertama dari uji bakar standar. .2 Pemisah itu harus mempunyai nilai isolasi sedemikian rupa sehingga suhu rata-rata dari sisi yang tidak terkena uji tidak akan naik lebih tinggi dari 139C diatas suhu asal. Suhu disatu titik sembarang, termasuk setiap sambungan suhu itu tidak akan naik lebih tinggi dari 225 C diatas suhu asal, pada kurun yang tertera didalam daftar berikut ini: Kelas "B -15" 15 menit Kelas "B - O" 0 menit .3 Pemisah itu harus dibuat dari bahan-bahan yang tidak dapat terbakar yang disetujui dan bahan-bahan yang dipakai dalam konstruksi dan bangunan pemisah Kelas "B" harus tidak dapat terbakar, jika penggunaan lapisan yang dapat terbakar diijinkan maka pemisah tersebut harus memenuhi persyaratan lain dari bab ini. .4 Badan Pemerintah dapat mensyaratkan pengujian bagi suatu prototipe pemisah untuk memastikan bahwa bahan
1* Mengacu pada rekomendasi pada pengujian tahan api untuk pemisah kelas "A","B", dan "F" yang diterima oleh Organisasi sesuai resolusi A.754(18).

Bagian A

Peraturan 1 pemisah itu memenuhi syarat - syarat keutuhan dan kenaikan suhu *.

5 Pemisah Kelas "C@ adalah pemisah yang dibuat dari bahan-bahan yang tidak dapat terbakar yang disetujui. Bahan-bahan itu tidak perlu bersesuaian dengan syarat-syarat yang berkaitan dengan lewatnya asap dan nyala api atau tidak dibatasi terhadap kenaikan suhu.Lapisan kayu yang mudah terbakar dapat diizinkan dengan ketetentuan memenuhi persyaratan bab ini. 6 "Langit-langit atau lapisan-lapisan kelas "B" yang menyeluruh adalah langitlangit atau lapisan-lapisan klas "B" yang hanya berakhir di pemisah kelas "A" atau "B". 7 "Baja atau bahan lain yang sepadan" dimana terdapat kata-kata "Baja bahan lain yang sepadan" berarti setiap bahan yang sifatnya sendiri atau karena diisolasi memiliki sifat-sifat itu sendiri yang sepadan dengan baja pada akhir pengenaan uji bahan standar (misalnya logam paduan aluminium dengan isolasi yang layak). 8 "Rambat nyala api rendah" berarti bahwa permukaan bahan yang sedemikian rupa sehingga akan membatasi perambatan nyala api dengan selayaknya, hal ini ditentukan oleh Badan Pemerintah berdasarkan prosedur pengujian yang telah diadakan. 9 "Zona" adalah bagaian-bagian dari badan kapal, bangunan atas dan rumah geladak oleh pemisah kelas "A" yang panjang rata-ratanya di geladak yang manapun pada umumnya tidak melebihi dari 40 m (131 kaki). 10 "Ruang akomodasi" adalah ruang yang diperuntukkan bagi ruang umum, lorong-lorong, kamar kecil, kabin, kantor, tempat tinggal awak kapal, ruang pangkas, ruang penyimpanan makanan dan serta ruangan serupa itu. 11 "Ruang umum" adalah bagian dari akomodasi yang digunakan sebagai bangsal, ruang makan, ruang duduk dan ruang tertutup secara tetap serupa itu yang tertutup. 12 "Ruang layanan" adalah ruangan yang digunakan untuk dapur, ruangan penyiapan makanan utama, yang terdiri dari ruangan penyiapan makanan dan lemari-lemari terpisah, kamar dan rempah-rempah bengkel yang bukan merupakan bagian dari ruang mesin, dan ruang yang serupa dan lorong menuju ruang tersebut. 13 "Ruang muat" adalah semua ruangan yang digunakan untuk menempatkan muatan (termasuk tangki muatan minyak muatan) dan lubang keruang tersebut.

Bab II-2: Konstruksi 14 "Ruang muatan kapal RO RO" adalah ruangan yang lazimnya tak dibagi-bagi yang bentuk sembarang dan membentang pada salah satu sebagian panjang atau keseluruhan panjang kapal dimana barang-barang {terbungkus atau curah, di dalam atau diatas kereta rel atau mobil , kendaraan, (termasuk mobil tangki, gerbong tangki, trailer, peti kemas, palet, tangki yang dapat dilepas atau pada unit pemuatan yang serupa atau yang lain} yang umumnya dapat dimuati atau dibongkar dalam arah mendatar. 15 "Ruang muat RO RO terbuka" adalah ruang muat RO RO salah satu dari berikut yang terbuka kedua ujungnya atau terbuka disalah satu ujungnya dan dilengkapi dengan ventilasi alam yang memadai yang efektif pada panjangkeseluruhannya melalui bukaan-bukaan yang tetap pada pelat sisi atau geladak sesuai dengan yang disyaratkan oleh Badan Pemerintah. 16 "Ruang muatan RO RO tertutup" adalah ruang muatan kapal RO RO yang pada ruang muatnya tidak terbuka juga bukan merupakan geladak cuaca. 17 "Geladak cuaca" adalah geladak yang terbuka seluruhnya terhadap cuaca dari atas maupun dari kedua sisinya. 18 "Ruang katagori khusus" adalah ruangan tertutup diatas atau dibawah geladak sekat yang digunakan untuk mengangkut kendaraan bermotor dengan bahan bakar didalam tangkinya untuk penggeraknya sendiri, kendaraan tersebut dapat masuk atau keluar dari ruangan tersebut dan penumpang dapat masuk kedalamnya. 19 "Ruang mesin katagori A" adalah semua ruangan lorong menuju ruang tertentu yang berisi: .1 Mesin pembakaran dalam yang digunakan untuk maksud penggerakan utama; atau .2 Mesin pembakaran dalam yang digunakan untuk maksud selain paragrap utama dimana mesin-mesin tersebut mempunyai daya total tidak kurang dari 373 KW; atau .3 Setiap ketel uap yang diopak dengan minyak atau instalasi (unit) bahan bakar minyak. dan lubang - lubang ke ruang tersebut.

20 "Ruang mesin" adalah semua ruang mesin katagori "A" dan semua ruangan lain yang berisi mesin penggerak, ketel uap, instalasi bahan bakar minyak, mesin-mesin uap dan mesin pembakaran dalam geberator-generator dan motor listrik utama, tempat-tempat pengisian minyak, ruang pendingin, alat keseimbangan, peranginan dan pengaturan udara ruang serupa itu;dan lorong - lorong ke ruang tersebut.

Bagian A

Peraturan 1

21 "Instalasi bahan bakar minyak" adalah perlengkapan yang digunakan untuk penyiapan bahan bakar minyak guna disalurkan ke ketel yang diopak dengan minyak atau perlengkapan yang digunakan untuk persiapan penyalur minyak yang dipanaskan ke mesin pembakaran dalam, dan termasuk setiap pompa-pompa tekanan minyak, saringan-saringan dan pemanas-pemanas yang mempergunakan minyak pada suatu tekanan yang melebihi 0,18 N/mm 2. 22 "Stasiun kontrol" adalah ruangan tempat radio kapal, perlengkapan navigasi utama atau sumber tenaga darurat atau tempat pemusatan pencatatan kebakaran atau perlengkapan pengawasan kebakaran. 22-1 "Stasiun kontrol pusat" adalah stasiun pengawasan dimana fungsi kontrol dan indikator dipusatkan pada: .1 .2 .3 .4 .5 .6 .7 .8 .9 .10 Sistem alarm dan deteksi kebakaran yang dipasang tetap Sistem percik, sistem deteksi kebakaran dan sistem alaram otomatis Panel indikator pintu kebakaran Penutup pintu kebakaran Panel indikator pintu kedap air Bukaan dan penutup pintu kedap air Kipas ventilasi Alaram kebakaran Sistem komunikasi termasuk telepon dan Sistem mikropon untuk pengeras suara untuk umum.

22-2 AStasiun kontrol pusat yang dijaga secara terus-menerus ialah stasiun pengaturan pusat yang dijaga secara terus menerus oleh KRU yang berwenang. 23 "Kamar-kamar berisikan perabot (furniture) dan perlengkapan rumah tangga yang resiko kebakarannya terbatas" adalah, untuk memenuhi maksud peraturan 26, kamar - kamar itu yang berisikan perabot dan perlengkapan rumah tangga yang resiko kebakarannya terbatas (apakah kabin, ruangan umum, kantor atau akomodasi lain) yang didalamnya; .1 Semua perabot misalnya meja tulis, lemari pakaian, meja rias, meja tulis besar, rak-rak, yang keseluruhannya dari bahan-bahan yang tidak dapat terbakar, dan disetujui kecuali lapisan tipis yang dapat terbakar yang tebalnya tidak lebih dari 2 mm ( l /12 inci) boleh digunakan dipermukaan kerja barang-barang tersebut.

Bab II-2: Konstruksi .2 .3 Semua perabot yang tidak diikat misalnya kursi, sofa, meja, yang dibuat dari kerangka-kerangka yang bahannya tidak dapat terbakar. Semua hiasan kain, tirai-tirai dan bahan-bahan tekstil yang terbentang, memenuhi ketentuan yang disetujui oleh Badan Pemerintah, mempunyai sifat daya hambat terhadap merambatnya api tidak kurangg dari sifat daya hambat wol yang beratnya 0.8 kg/m *1 Semua penutup lantai, memenuhi ketentuan yang disetujui oleh Badan Pemerintah, kualitas tahanan terhadap perambatan nyala api tidak rendah seperti misalnya bahan setara wol yang digunakan untuk maksud yang sama. Semua permukaan terbuka dari sekat-sekat lapisan-lapisan dan langit-langit yang mempunyai ciri-ciri rambat api yang rendah. Semua perabot rumah tangga yang dilapisi kayu yang memiliki kualitas tahan penyalaan dan perambatan api 2 sesuai dengan ketentuan Badan Pemerintah.

.4

.5 .6

24 "Geladak sekat" adalah geladak teratas sampai dimana sekat-sekat kedap air melintang dipasang. 25 "Bobot mati" adalah perbedaan dalam ton metrik antara berat benaman kapal di air yang berat jenisnya 1,025 yang garis muatnya sesuai dengan lambung timbul musim panas yang ditetapkan dan berat kapal dalam keadaan kosong. 26 "Berat kapal kosong" adalah displasment kapal dalam ton metrik tanpa muatan, bahan bakar, minyak pelumas, air tolak bara, air tawar dan air ketel di dalam tangki, barang - barang pakai, serta para penumpang dan awak kapal dan barang bawaan mereka. 27 "Pengangkut gabungan" adalah kapal tangki yang dirancang untuk mengangkut minyak atau muatan padat curah secara berganti-ganti. 28 "Minyak mentah" ialah setiap minyak mentah yang terjadi secara alami di bumi baik yang diberikan perawatan untuk dapat diangkut atau tidak dan termasuk : .1 Minyak mentah dari fraksi penyulingan tertentu yang

1* Merujuk pada Rekomendasi

pada pengujian untuk menentukan daya api dari film dan tekstil yang didukung yang didukung secara vertikal yang diterima oleh Organisasi melalui resolusi A.47(XII) dan amandemen untuk Rekomendasi yang diterima oleh resolusi A.563(14).

2Merujuk pada Rekomendasi pada prosedur pengujian kebakaran untuk perabot yang tertempel
yang diterima oleh Organisasi melalui resolusi A.652(16)

Bagian A .2

Peraturan 1 sudah dapat dipindahkan, dan Minyak mentah dimana fraksi penyulingan tertentu telah ditambahkan

29 ABarang-barang berbahaya" adalah barang seperti yang ditunjukkan pada peraturan bab VII/2. 30 "Kapal tangki kimia" ialah kapal tangki yang dibangun atau disesuaikan dan digunakan untuk mengangkut dengan cara dan curah setiap produk cairan yang bersifat mudah terbakar yang didaftar (dicatat) pada: .1 Bab 17 dari kode internasional untuk konstruksi dari perlengkapan dari kapal yang mengangkut bahan kimia yang berbahaya dalam bentuk curah yang disetujui oleh Komite Keselamatan Maritim sesuai resolusi MSC.4 (48), yang selanjutnya disebut "Koda Internasional untuk bahan kimia curah" seperti yang telah ditambah dan diubah Organisasi; atau Bab Vl dari koda untuk konstruksi dan perlengkapan kapal yang mengangkut bahan kimia yang berbahaya dalam bentuk curah yang disetujui oleh sidang umum organisasi sesuai resolusi A.2.12 (Vll), yang selanjutnya disebut "koda bahan kimia curah" seperti yang telah ditambah atau diubah yang mana yang lebih sesuai.

.2

31 "Kapal pengangkut gas" ialah kapal tanki yang dibangun atau disesuaikan untuk pengangkutan gas atau produk lain dari bahan yang mudah terbakar yang tercantum dalam salah satu sbb : .1 Bab 19 dari koda internasional tentang konstruksi dan perlengkapan kapal yang mengangkut gas cair dalam bentuk curah yang disetujui oleh Komite Keselamatan Maritim sesuai resolusi MSC.5 (48), yang selanjutnya disebut sebagai: "Koda Internasional tentang Pengangkutan gas@ yang mungkin ditambah atau diubah oleh organisasi atau; Bab XIX dari koda tentang konstruksi dan perlengkapan bagi kapal yang mengangkut gas cair dalam bentu curah yang disetujui oleh sidang umum organisasi sesuai resolusi A.328 (IX) yang selanjutnya disebut sebagai "Koda Pengangkutan Gas", yang telah atau mungkin ditambah dan diubah oleh organisasi.

.2

32 "Daerah muatan" adalah bagian-bagian dari kapal yang seperti tangki-tangki muatan, tangki tumpah (slop tank), dan ruang penumpah muatan termasuk ruang pompa, koferdam (ruang antara),

Bab II-2: Konstruksi tolak bara (balast) dan ruang kosong yang melekat pada tangki muatan dan juga pada daerah geladak sepanjang kapal dan lebar kapal pada ruangan-ruangan yang disebut diatas. 33 Untuk kapal yang dibangun pada atau setelah 1Oktober 1994 sebagai pengganti dari pengertian dari zona vertikal utama yang disyaratkan paragraf 9 berlaku di definisi berikut: "Zona Vertikal" adalah bagian-bagian dimana lambung, bangunan atas atau rumah geladak dipisahkan oleh divisi kelas "A", panjang dan lebar rata-rata untuk setiap geladak tidak boleh lebih dari 40 m.

34

"Kapal penumpang RO RO" adalah kapal penumpang dengan muatan RO RO atau ruang kategori khusus sebagaimana yang didefinisikan dalam peraturan ini.

Peraturan 4 Pompa Pemadam Kebakaran, Hidran dan Selang Kebakaran

Saluran

Kebakaran,

(Paragraf 3.3.2.5 dari peraturan ini berlaku untuk kapal yang dibangun pada tanggal 1 Februari 1992 atau sesudahnya) 1 Setiap kapal harus dilengkapi dengan pompa kebakaran, saluran kebakaran, hidran dan selang kebakaran sesuai dengan syarat-syarat dalam peraturan ini. 2 Kapasitas pompa kebakaran

2.1 Pompa kebakaran yang disyaratkan itu harus mampu menyalurkan sejumlah air untuk memadamkan kebakaran, dengan tekanan yang ditentukan pada paragraf 4 sebagai berikut : .1 Pompa-pompa pemadam kebakaran pada kapal penumpang, tidak kurang dari 2/3 dari jumlah yang dipenuhi oleh pompa bilga bilamana digunakan untuk memompa bilga, dan

1 Paragrap ini

berlaku sejak tanggal 1 Juli 1997

Bagian A .2

Peraturan 4 Pompa-pompa pemadam kebakaran pada kapal barang, selain dari pompa darurat, tidak kurang dari 4/3 dari jumlah yang disyaratkan pada peraturan II - 1/21 yang harus dipenuhi oleh tiap-tiap pompa bilga yang berdiri sendiri pada sebuah kapal penumpang yang ukurannya sama pada saat digunakan sebagai pompa bilga, dengan catatan bahwa di kapal barang tidak perlu disyaratkan mempunyai pompa kebakaran dengan kapasitas total yang disyaratkan lebih dari 180 meter kubik per jam.

2.2 Setiap pompa pemadam kebakaran yang disyaratkan itu (selain dari pompa darurat yang dipersyaratkan pada paragraf 3.32 untuk kapal barang) harus mempunyai kapasitas yang tidak kurang dari 80% dari jumlah total yang disyaratkan dibagi dengan jumlah minimum dari pompa pemadam kebakaran yang dipersyaratkan tetapi sekalipun demikian tidak kurang dari 25 m 3 / jam dan setiap pompa pemadam kebakaran harus mampu menyalurkan sekurang-kurangnya dua pancaran air. Pompa pemadam kebakaran ini setiap saat harus mampu memasok sistem pipa induk kebakaran sesuai kondisi yang dipersyaratkan. Satu kata dipasang pompa-pompa yang jumlahnya lebih banyak dari pada jumlah minimum dari pompa-pompa yang disyaratkan, maka kapasitas pompa-pompa tambahan itu harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Pemerintah. 3 Tata susunan pompa-pompa kebakaran dan saluran

kebakaran 3.1 Kapal-kapal harus dilengkapi dengan pompa pemadam kebakaran yang dapat dijalankan sendiri sebagai berikut:

15084.
15085.Kapal penumpang yang tonase sekurang kurangnya 3 kotornya 4000 keatas. 3. Kapal penumpang yang tonase sekurang-kurangnya 2 kotornya kurang dari 4000 dan kapal barang yang tonase kotornya 1000 atau lebih. 4. Kapal barang yang tonase kotornya memenuhi ketentuan kurang dari 1000. Badan Pemerintah. 3.2 Pompa-pompa saniter, tolak bara,bilga atau pompa dinas umum dapat diterima sebagai pompa pemadam kebakaran, dengan catatan bahwa pompa - pompa teresebut dapat digunakan secara normal tidak digunakan untuk memompa minyak dan bahwa jika pompa dimaksudkan untuk tugas mengalirkan atau memompa bahan bakar maka tata susunan untuk pengubahan yang layak harus

Bab II-2: Konstruksi dipasang. 3.3 Tata susunan katub laut, pompa pemadam kebakaran dan sumber dayanya harus sedemikian rupa untuk menjamin agar :

Bagian A .1

Peraturan 4

Pada kapal penumpang yang tonase kotornya 1000 atau lebih, jika terjadi kebakaran pada salah satu kompartemen, maka tidak semua pompa digunakan. .2 Pada kapal barang yang tonase kotornya 2000 atau lebih, jika terjadi kebakaran pada salah satu kompartemen yang dapat menyebabkan pompa tidak dapat berfungsi harus ada peralatan alternatif yang terdiri dari pompa darurat yang dapat digerakkan sendiri yang harus memiliki kemampuan untuk memasok 2 pancar air sesuai yang diisyaratkan oleh Badan Pemerintah. Pompa - pompa tersebut dan letaknya harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: .2.1 Kapasitas pompa tidak boleh kurang dari 40 % dari kapasitas keseluruhan pompa kebakaran yang dipersyaratakan oleh peraturan ini dan bagaimanapun tidak boleh kurang dari 25 m3 / jam. .2.2 Bila pompa kabakaran menyalurkan sejumlah air seperti yang dipersyaratkan dalam paragraf 3.3.2.1. tekanan darisetiap hidran tidak boleh kurang dari tekanan minimum yang diberikan pada paragraf 4.2. .2.3 Setiap sumber daya yang digerakan oleh diesel untuk pompa harus mampu diasut pada kondisi dingin pada suhu 0 C dengan engkol tangan. Jika tidak dapat dilaksanakan atau jika suhu yang lebih rendah kemungkinan terjadi, harus dipertimbangkan penyediaan sarana untuk mempertahankan panas, yangdisetujui Badan Pemerintah, agar ada jaminan untuk dapat menstarnya. Jika sistem asut manual tidak dapat dilakukan, Badan Pemerintah dapat mengizinkan peralatan-peralatan asut yang lain. Peralatan ini harus sedemikian untuk memungkinkan sumber daya yang digerakan oleh diesel dapat diasut sekurang-kurangnya 6 kali dalam jangka waktu 60 menit dan sekurang-kurangnya 2 kali dalam waktu 10 menit pertama. Setiap tangki bahan bakar layanan umum harus berisikan bahan bakar yang cukup untuk memungkinkan pompa dapat bekerja pada beban penuh sekurang-kurangnya 3 jam dan cadangan bahan bakar yang cukup harus tersedia diluar ruang mesin utama untuk memungkinkan pompa dapat bekerja pada beban penuh selama 15 jam. Tinggi hisap keseluruhan dan tinggi hisap jaringan positif dari pompa harus sedemikian agar paragraf 3.32, 3.3.21, 3.3.22 dan 4.2 dari peraturan ini memenuhi pada kondisi miring, trim, oleng, dan angguk

.2.4

.2.5

Bab II-2: Konstruksi .2.6 yang mungkin akan ditemukan pada saat berlayar. Pembatas-pembatas ruang yang berisi pompa pemadam kebakaran harus dilapisi dengan pelindung kebakaran dengan standar yang sama dengan yang disyaratkan untuk stasiun kontrol pada peraturan 4.4. Tidak ada jalan masuk langsung yang diizinkan antara ruang mesin dan ruangan yang berisi pompa pemadam kebakaran darurat dan sumber dayanya. Jika hal ini tidak dapat dilaksanakan maka Badan Pemerintah dapat menerima tata susunan diamana jalan masuknya adalah dengan sarana pintu koferdam udara, dimana salah satu dari kedua pintu dapat menutup sendiri, atau melalui pintu kedap air yang dapat dioperasikan dari ruang yang jauh dari ruang mesin dan ruang yang berisi pompa pemadam kebakaran darurat dan dapat ditutup bila terjadi kebakaran pada ruang muat tersebut. Pada kejadian seperti tersebut diatas sarana masuk yang kedua untuk memasuki ruang yang berisi pompa pemadam kebakaran darurat dan sumber tenaganya harus dilengkapi. Tata susunan ventilasi untuk ruangan yang berisi sumber daya untuk pompa pemadam kebakaran darurat harus sedemikian rupa sehingga sejauh memungkinkan menghalangi kemungkinan asap dari kamar mesin membakar memasuki atau ditarik ke dalam ruang tersebut. Kapal-kapal yang dibangun pada tanggal 1 Oktober 1994 atau sesudahnya, sebagai pengganti dari ketentuan dari paragraf 3.3.2.6 harus memenuhi persyaratan berikut : pemadaman ruangan yang berisi pompa pemadam kebakaran tidak boleh berdampingan dengan pembatas ruang mesin kategori "A" atau ruangan yang berisi pompa pemadam kebakaran utama. Jika hal ini tidak dapat diterapkan, sekat antara 2 ruangan harus diisolasi dengan standar susunan perlindung kebakaran standar yang setara dengan yang dipersyaratkan untuk stasiun kontrol dalam peraturan 4.4. Untuk kapal penumpang yang tonase kotornya kurang dari 1000 dan kapal barang yang tonase kotornya kurang dari 2000, jika api disuatu kompartemen menyebabkan semua pompa-pompa tidak berfungsi maka harus tersedia peralatan-peralatan alternatif untuk menyediakan air yang dimaksudkan untuk memadamkan kebakaran yang harus memenuhi ketentuan dari Badan Pemerintah. Untuk kapal yang dibangun pada tanggal 1 Oktober

.2.7

.2.8

.2.9

.3

.3.1

Bagian A

Peraturan 4 1994 atau sesudahnya peralatan - peralatan alternatif harus disediakan sesuai dengan ketentuan paragraf 3.3.3 harus yang dapat digerakkan secara terpisah, pompa pemadam kebakaran darurat yang digerakkan dengan daya listrik dengan sumber daya dan katup laut terletak diluar ruang permesinan.

.4

Sebagai tambahan untuk kapal-kapal barang dimana pompa-pompa lain, seperti pompa pelayanan umum, pompa bilga dan pompa balast (tolak bara), dll yang diletakkan di kamar mesin, tata susunannya harus diatur,dibuat untuk menjamin agar sekurang-kurangnya salah satu dari pompa ini yang memiliki kapasitas dan tekanan yang dipersyaratkan oleh paragraf 2.2 dan 4.2 mampu menyediakan air untuk pemadaman kebakaran.

3.4

Tata susunan untuk persediaan dan pasok air harus ada pada : .1 Kapal penumpang yang memiliki tonase kotor 1000 atau lebih sekurang-kurangnya harus terdapat satu pancaran air efektif yang segera dapat dioperasikan dari setiap hidran dalan suatu lokasi ruang dalam dan untuk menjamin kelanjutan hasil pengeluaran air oleh sistem asut otomatis dari pompa pemadam kebakaran yang dipersyaratkan. Kapal penumpang yang tonase kotornya kurang dari 1000 dan kapal barang sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Pemerintah. Kapal barang dengan kamar mesin yang tidak dijaga secara periodik atau jika hanya diperlukan seseorang untuk menjaganya, harus dilengkapi dengan penyaluran air yang cepat dari sistem kebakaran utama dengan tekanan yang sesuai, baik dengan sistem asut jarak jauh dari suatu pompa pemadam kebakaran utama dengan sistem asut jarak jauh dari anjungan navigasi dan dari stasiun kontrol kebakaran jika ada, atau tekanan tetap dari sistem saluran kebakaran dengan satu pompa kebakaran utama kecuali jika Badan Pemerintah dapat membebaskan persyaratan ini untuk kapal barang yang tonase kotornya kurang dari 1600 apabila tata susunan jalan masuk ruang mesin dipandang tidak perlu. Pada kapal penumpang jika ruang mesinnya tidak dijaga secara periodik sesuai dengan peraturan II - 1/54, Badan Pemerintah harus menentukan perlengkapan pemadam kebakaran tetap untuk ruangan tersebut yang setara dengan yang dipersyaratkan untuk ruang mesin yang dijaga secara normal.

.2 .3

.4

Bab II-2: Konstruksi 3.5 Katup-katup pelepas harus dipasang pada sambungan dengan semua pompa pemadam kebakaran jika pompa itu mampu menciptakan suatu tekanan melebihi tekanan desain dari pipa-pipa layanan air, hidran dan selang-selang. Katup-katup itu harus diletakkan dan diatur sedemikian rupa sehingga dapat mencegah terjadinya tekanan lebih dari sistem pompa pemadam kebakaran induk. 3.6 Pada kapal tangki katup-katup isolasi harus diletakkan pada pipa pemadam kebakaran didepan kimbul dalam posisi terlindung dan pada geladak tangki pada jarak yang tidak lebih dari 40 m untuk memelihara keutuhan dari sistem pipa pemadam kebakaran pada saat terjadi kebakaran atau ledakan. 4 Diameter dan tekanan didalam pipa kebakaran induk

4.1 Diameter dari pipa kebakaran induk dan pipa-pipa layanan air harus cukup untuk pendistribusian yang efektif pada pengeluaran maksimum yang diperlukan dari 2 pompa kebakaran yang bekerja secara bersamaan, kecuali bagi kapal barang diameter yang dibutuhkan hanya cukup untuk mengeluarkan air sebanyak 140 m 3 / jam. 4.2 Dengan 2 pompa yang menyalurkan secara serentak melalui nosel yang dirinci pada paragraf 8 ini, maka volume air yang ditentukan dalam paragraf 4.1 melalui setiap hidran yang letaknya dekat dengannya, tekanan minimum berikut harus dipertahankan pada semua hidran. Kapal penumpang : Tonasei kotornya 4000 keatas 0,31 N/mm 2 Tonase kotornya 1000 keatas tetapi kurang dari 4000 0, 27 N/mm 2 Tonase kotornya kurang dari 1000 memenuhi ketentuan Badan Pemerintah. Kapal barang : Tonase kotornya 6000 keatas 0,27 N/mm 2 Tonase kotornya 1000 tetapi kurang dari 6000 0,25 N/mm 2 Tonase kotornya kurang dari 1000 memenuhi ketentuan Badan Pemerintah .1 Kapal penumpang yang dibangun pada tanggal 1 Oktober 1994 atau sesudahnya, sebagai pengganti dari paragraf 4.2 harus memenuhi persyaratan berikut : Dengan 2 pompa yang serentak menyalurkan melalui nosel

Bagian A

Peraturan 4 seperti yang ditentukan dalam paragraf 8 dan dengan hidran yang cukup untuk menyediakan jumlah air sebagai mana diutarakan dalam paragraf 4.1, tekanan minimum sebesar 0,4 N/mm2 untuk kapal yang tonasenya 4000 atau lebih dan 0,3 N/mm2 untuk kapal-kapal yang tonase kotornya kurang dari 4000 harus dipertahankan untuk semua hidran.

4.3 Tekanan maksimum pada setiap hidran tidak melebihi Tekanan kontrol efektif dari selang kebakaran yang dapat ditunjukkan. 5 Jumlah dan letak hidran

5.1 Jumlah dan letak hidran harus sedemkian rupa sehingga sehingga sekurang -kurangnya dua pancaran air tidak berasal dari hidran yang sama ,salah satu dari hidran harus dari sebuah selang tunggal, yang dapat mencapai setiap bagian dari kapal yang secara normal dapat dijangkau oleh para penumpang atau awak kapal selagi kapal berlayar dan setiap bagian dari ruang muat pada saat kosong,setiap ruang muatan ro -ro atau setiap ruangan dengan kategori khusus yang mana pada tahap berikutnya 2 pancaran harus mencapai ruangan itu,masing - masing dari selang panjang tunggal. Selanjutnya,hidran tersebut harus ditempatkan didekat jalan masuk dari ruang yang dilindungi. 5.2 Di ruang akomodasi,ruang layanan dan ruang mesin kapal penumpang, jumlah dan posisi hidran harus sedemikian rupa sehingga persyaratan paragraf 5.1 dipenuhi apabila semua pintu pintu kedap air dan semua pintu - pintu pada sekat pada zona vertikal utama dalam keadaan tertutup. 5.3 Apabila, pada kapal penumpang, jalan masuk disediakan ke ruang mesin kategori A berada pada bagian bawah dari saluran poros yang berdekatan,dua hidran harus sediakan di luar,namun dekat dengan jalan masuk keruang mesin.Jika jalan masuk itu juga terdapat juga dari ruang lain,maka pada salah satu dari ruang harus tersedia 2 (dua) berada dekat jalan masuk keruang mesin kategori A. Perlengkapan tersebut tidak perlu dipasang jika terowongan atau ruang yang berdekatan bukan bagian dari jalan penyelamatan. 6 Pipa - pipa dan hidran - hidran

6.1 Bahan - bahan yang tidak efektif menahan panas tidak boleh digunakan untuk pipa induk kebakaran dan hidran -hidran.Kecuali dilindungi secara memadai. Pipa - pipa dan hidran - hidran harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga selang - selang kebakaran dapat dengan mudah disambung dengannya. Tata susunan pipa pipa dan hidran harus sedemikian rupa untuk menghindari kemungkinan dari pembekuan. Di kapal yang geladaknya dimuati

Bab II-2: Konstruksi barang-barang ,letak -letak hidran itu harus sedemikian rupa sehinga dapat dijangkau dengan mudah dan pipa -pipa harus ditata sejauh dapat diterapkan sehingga menghindari resiko kerusakan oleh muatan . Selain satu selang dan nozel yang disediakan untuk setiap hidran di kapal harus tersedia secara lengkap selang dan nosel yang dapat dipertukarkan. 6.2 Sebuah katup harus dipasang untuk melayani masing - masing selang kebakaran sehingga setiap selang dapat dilepas selagi pompa kebakaran sedang dalam keadaan berjalan. 6.3 Katup- katup pengisolasi untuk memisahkan bagian dari saluran induk kebakaran didalam ruang mesin yang berisi pompa pemadam kebakaran utama atau pompa - pompa dari bagian luar induk kebakaran harus dipasang pada posisi yang dapat dimasuki dengan mudah dan dapat dipertahankan diluar ruang mesin,saluran induk kebakaran harus diatur sedemikian rupa sehingga ketika katup - katup isolasi menutup semua hidran pada kapal,kecuali di ruang mesin seperti yang disebutkan diatas, dapat dipasok dengan air oleh sebuah pompa kebakaran yang dipasang di luar pada ruang mesin melalui pipa -pipa yang tidak masuk ke ruangan ini. Sebagai pengecualian Badan Pemerintah dapat mengizinkan lintasan pendek dari pipa hisap dan tekan pompa pemadam kebakaran darurat untuk menembus ruang mesin apabila rute eksternal dianggap tidak praktis dengan catatan keutuhan keseluruhan saluran induk kebakaran dilindungi oleh penutup pipa baja yang kokoh.

Selang kebakaran.

7.1 Selang kebakaran harus dibuat dari bahan yang tidak mudah rusak yang disetujui oleh Badan Pemerintah dan cukup panjang untuk mengarahkan pancaran air kesetiap ruangan yang membutuhkan untuk disemprot. Selang kebakaran yang tidak mudah rusak harus dipakai pada kapal yang dibangun pada dan sesudah tanggal 1 Pebruari 1992 dan pada kapal yang dibangun sebelum tanggal 1 Pebruari 1992 jika selang kebakaran yang lama diganti. Panjang maksimum selang kebakaran itu harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Pemerintah. Setiap selang kebakaran harus dilengkapi dengan pipa pancar dan sambungan sambungan yang diperlukan. Selang yang dirinci dalam Bab ini sebagai "selang kebakaran " bersama - sama dengan peralatan dan alat - alat yang diperlukan harus dipertahankan untuk tetap dalam keadaan siap pakai ditempat - tempat yang mudah dijangkau dan letaknya dekat dengan tempat hidran atau sambungan layanan air .Disamping itu,pada tempat - tempat dibagian dalam

Bagian A

Peraturan 4

dari kapal - kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 orang penumpang,pada selang kebakaran itu harus disambungkan dengan hidran setiap saat. 7.2 Kapal - kapal harus dilengkapi dengan selang kebakaran yang jumlah dan diameternya harus sesuai dengan ketentuan Badan Pemerintah. 7.3 Pada kapal penumpang harus tersedia sekurang kurangnya satu selang kebakaran untuk setiap hidran seperti yang dipersyaratkan pada paragraf 5 dan selang-selang ini harus digunakan hanya untuk memadamkan kebakaran atau pengujian peralatan pemadam kebakaran pada latihan kebakaran. 7.4.1 Pada kapal barang yang tonase kotornya 1000 atau lebih jumlah selang kebakaran yang disediakan harus ada 1 untuk setiap 30 m dari panjang kapal dan 1 cadangan namun bagaimanapun tidak boleh kurang dari 5. Jumlah ini tidak termasuk selang yang dipakai pada ruang mesin dan ruang ketel. Badan Pemerintah dapat menambah jumlah selang di perlukan untuk menjamin agar selang selang dalam jumlah yang cukup tersedia dan dapat dijangkau setiap saat, menurut jenis kapal dan daerah pelayaran tempat kapal dioperasikan. 7.4.2 Pada kapal barang yang tonase kotornya kurang dari 1000 jumlah selang kebakaran yang harus disediakan harus sesuai dengan ketentuan Badan Pemerintah. 8 Nosel

8.1 Untuk memenuhi maksud Bab ini, ukuran standar nosel harus 12 milimeter, 16 milimeter, l9 milimeter atau sedapat mungkin mendekati nilai itu.Pipa pancar yang garis tengahnya lebh besar dapat diizinkan atas pertimbangan Badan Pemerintah. 8.2 Untuk ruang akomodasi dan ruang layanan, nosel yang ukuran diameternya lebih besar dari 12 milimeter tidak perlu digunakan. 8.3 Untuk ruang mesin dan tempat-tempat di luar, ukuran nosel harus sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh pengeluaran semaksimal mungkin dari dua pancaran pada tekanan sebagaimana yang dikemukakan di dalam paragraf 4 peraturan ini dari pompa yang terkecil,dengan catatan bahwa tidak perlu digunakan nosel yang ukuranya lebih besar dari 19 milimeter. 8.4 Semua nosel harus yang berjenis dwiguna (jenis semprotan dan pancaran )yang disetujui yang dapat dihentikan.

Bab II-2: Konstruksi 9. Lokasi dan tata susunan pomppa air, dll, untuk sistem pemadam kebakaran lain

Pompa yang diperlukan untuk penyediaan air dari sistem pemadam kebakaran seperti yang dipersyaratkan dalam bab ini, sumber daya dan kontrolnya harus dipasang di luar ruanganan tersebut atau ruangan yang dilindungi oleh sistem yang demikian dan harus disusun agar api yang ada dalam ruangan atau ruangan yang terlindung tidak akan menyebabkan sistem tersebut tidak berfungsi.

Peraturan 5 Sistem pemadam kebakaran dengan gas yang dipasang tetap.


1 Umum 1.1 Penggunaan bahan pemadam kebakaran yang menurut pendapat Badan Pemerintah, baik karena sifatnya atau pada kondisi penggunaan yang diharapkan, menghasilkan jumlah gas beracun yang jumlahnya sedemikian banyaksehingga membahayakan manusia, tidak boleh digunakan. 1.2 Pipa -pipa yang diperlukan untuk menyalurkan bahan pemadam kebakaran kedalam ruang terlindung harus dilengkapi dengan katup - katup pengatur,ditandai sedemikian rupa sehingga dapat menunjukan secara jelas ke kompartemen mana pipa itu disalurkan. Perlengkapan yang sesuai disiapkan untuk mencegah masuknya gas secara tidak sengaja ke setiap ruangan. Jika ruang muat yang dipasangi sistem pemadam kebakaran dengan gas, tetap digunakan sebagai ruang penumpang,maka sambungan gasnya harus di tutup mati selama penggunaan tersebut. 1.3 Pipa-pipa untuk pendistribusian bahan pemadam kebakaran harus disusun dan nosel pengeluaran harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga distribusi yang seragam dari bahan bakar dapat tercapai. 1.4 Harus tersedia sarana untuk menutup semua bukaan - bukaan yang bisa membuat udara atas gas bisa keluar dari tempat terlindung. 1.5 Apabila volume udara bebas berada dalam bejana udara pada tiap ruangan adalah sedemikian sehingga, jika dikeluarkan diruang tersebut pada saat terjadi kebakaran, maka pengeluaran udara seperti demikian yang ada didalam ruang akan berpengaruh secara

Bagian A serius terhadap efisiensi dari sistem pemadam tetap,Badan Pemerintah harus meminta persediaan bahan pemadam kebakaran.

Peraturan 4 kebakaran tambahan

1.6 Peralatan harus tersedia untuk memberi tanda peringatan yang dapat didengar secara otomatis atas mengalirnya medium pemadam kebakaran kedalam suatu ruangan setiap ruangan yang biasanya dipakai tempat kerja atau sering dimasuki oleh personil. Alaram harus beroperasi untuk suatu jangka tertentu sebelum medium itu dikeluarkan. 1.7 Sarana kontrol dari setiap sistem pemadam kebakaran yang dipasang tetap harus mudah dijangkau dan sederhana dalam pengoperasiannya dan harus dikelompokan bersama dalam beberapa lokasi pada posisi yang sesedikit mungkin sehingga tidak akan terputus oleh api dalam ruang yang dilindungi. pada setiap lokasi harus ada instruksi yang jelas menyangkut pengoperasian dari sistem bagi keselamatan personil. 1.8 Penyaluran otomatis dari gas pemadam kebakaran tidak akan diizinkan, kecuali atas persetujuan sesuai paragraf 3.3.5 dan yang berhubungan dengan unit pemadam kebakaran lokal yang dioperasikan secara otomatis seperti yang ditunjukan pada paragraf 3.4 dan 3.5. 1.9 Apabila jumlah gas pemadam kebakaran tersebut di perlukan untuk melindungi lebih dari satu ruangan, maka jumlah gas yang tersedia tidak perlu lebih dari jumlah terbesar yang diperlukan untuk setiap ruangan tertutup. 1.10 Kecuali jika diizinkan lain oleh paragraf 3.3,3.4 atau 3.5 tekanan bejana yang diperlukan untuk penyimpanan medium pemadam kebakaran , selain dari uap harus diletakan diluar ruangan yang dilindungi sesuai dengan paragraf 1.13 1.11 Peralatan harus tersedia bagi awak kapal untuk memeriksa secara aman volume medium didalam bejana. 1.12 Bejana untuk penyimpanan medium pemadam kebakaran dan tekanan dari masing-masing komponen yang bersangkutan harus didesain tekanan sesuai praktek yang disetujui Badan Pemerintah berdasarkan lokasinya dan suhu tekanan sekitarnya yang diperlukan dalam operasinya. 1.13 Jika bahan bakar pemadam kebakaran disimpan diluar rungan yang dilindungi, maka bahan bakar tersebut harus disimpan diruangan yang posisi nya aman dan mudah dijangkau serta secara efektif diventilasi sesuai ketentuan Badan Pemerintah. Setiap jalan

Bab II-2: Konstruksi masuk keruang pemuatan harus dari geladak terbuka dan tidak tergantung pada ruang terlindung . Pintu masuk harus terbuka dari arah luar sekat dan geladak termasuk pintu B pintu dan alat Balat penutup yang lain yang terbuka didalamnya, yang membentuk batas antara ruang tersebut dan ruang didekatnya yang kedap gas. Untuk memenuhi maksud dari penerapan keseluruhan tabel dalam peraturan 26,27,44 dan 58, ruang penyimpanan seperti itu harus diperlakukan sebagai stasiun kontrol. 1.14 Suku cadang dari sistem harus disimpan di atas kapal, dan harus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Badan Pemerintah. 2 Sistem karbon dioksida

2.1 Bila karbon diokasida digunakan sebagai bahan pemadam didalam ruang muat, jumlah gas yang tersedia harus cukup mengeluarkan gas bebas dengan volume minimum 30% isi kotor ruang muatan terbesar di kapal yang ditutup rapat. 2.2 Bila karbon dioksida digunakan sebagai bahan pemadam kebakaran untuk ruang mesin,jumlah gas yang dibawa harus cukup memberikan volume gas bebas sama dengan yang lebih besar dari salah satu volume berikut : .1 40% dari isi kotor ruang mesin yang terbesar yang dilindungi tidak termasuk selubung mesin diatas bidang datar yang luas bidang horizontalnya 40% atau kurang dari luas bidang datar dari ruangan tersebut diukur pada tengah antara pelat alas dalam dan bagian bawah dari selubung; atau .2 35% dari isi kotor seluruh ruang mesin terbesar yang dilindungi termasuk selubung. Dengan catatan presentase tersebut di atas boleh dikurangi 35% dan 30% secara proporsional untuk kapal yang tonase kotornya kurang dari 2000 juga dengan catatan bahwa jumlah 2 atau lebar ruang mesin tidak sepenuhnya terpisah,ruangan-ruangan mesin itu harus dianggap sebagai satu kompartemen. 2.3 Untuk memenuhi maksud dari paragraf ini volume dari karbon dioksida bebas harus dihitung pada tekanan 0,56 m3/kg. 2.4 Untuk ruang-ruang mesin,sistem pipa tetapnya harus sedemikian hingga 85% dari gas dapat dimasukan kedalam ruangan dalam 2 menit.

Bagian A

Peraturan 4

2.5 Sistem karbondioksida yang dipasang pada atau sesudah tanggal 1 Oktober 1994 harus memenuhi persyaratan berikut : .1 Dua kontrol yang terpisah harus disediakan untuk melepas karbon dioksida kedalam ruang tertutup dan untuk menjamin aktifitas alaram. Satu kontrol harus digunakan untuk membuang gas dari bejana tempat penyimpanannya. Kontrol kedua harus digunakan untuk membuka katup pipa yang membawa gas kedalam ruang tertutup. .2 Dua kontrol harus dipasang di dalam kotak pelepas yang diidentifikasikan dengan jelas untuk ruang tersebut. Jika kotak berisi kontrol harus dikunci. kunci kotak harus diletakkan dalam kotak yang tertutup kaca yang mudah pecah yang berdekatan dengan kotak kontrol. 3 Sistem hidrokarbon halogen*1

3.1 Penggunaan dari hidrokarbon halogen sebagai bahan pemadam kebakaran hanya di izinkan dalam ruang mesin. Ruang pompa dan diruang muatan yang dimaksudkan semata-mata hanya untuk mengangkut kendaraan yang tidak bermuatan. Pemasangan baru dari sistem karbon halogen harus dilarang pada semua kapal. 3.2 Jika hidrokarbon halogen digunakan sebagai bahan pemadam kebakaran maka keseluruhan dari sistem :

.1 Sistem tersebut harus disusun hanya untuk pelepasan daya awal secara normal.
.2 Jika jumlah hidrokarbon halogen yang dibutuhkan untuk memasok lebih dari satu ruangan, maka tata susunan untuk penyimpanan dan penyalurannya harus sedemikian hingga memenuhi paragraf 3.2.9 atau 3.2.10. Peralatan harus disediakan untuk penghentian secara otomatis semua kipas ventilasi yang melayani ruang terlindung sebelum bahan gas disalurkan. Peralatan harus tersedia untuk menutup secara manual alat penutup api pada sistem ventilasi yang melayani ruang terlindung. Tata susunan alat pembuangan harus didesain sedemikian hingga jumlah minimum bahan gas yang di perlukan oleh ruang muat atau ruang mesin sesuai paragraf 3.2.9. atau 3.2.10 masing B masing dapat dibuang dengan jumlah besar dalam jangka waktu 20

.3 .4 .5

1* Mengacu pada resolusi A.719(17) mengenai pencegahan polusi udara dari kapal dan pada MSC/Circ.668 pada tata susunan alternativ untuk sistem pemadam kebakaran halon pada ruang pompa dan ruang mesin.

Bab II-2: Konstruksi detik atau kurang yang didasarkan pada pembuangan fase cairan. Sistem harus didesain untuk beroperasi pada suatu suhu sesuai ketetentuan Badan Pemerintah. Pembuangan tidak boleh membahayakan personil yang dipekerjakan untuk menjaga perlengkapan atau menggunakan tangga jalan masuk yang normal dan jalan penyelamatan untuk yang melayani ruang tersebut. Sarana harus tersedia untuk awak kapal untuk memeriksa dengan aman tekanan didalam bejana. Jumlah zat pemadam kebakaran untuk ruang muat yang semata-mata dimaksudkan untuk mengangkut kendaraan yang tidak mengangkut muatan harus dihitung menurut tabel 5.1. Jumlah ini harus didasarkan pada isi kotor dari ruang terlindung. Untuk Halon 1301 dan 1211 jumlahnya harus dihitung berdasarkan dasar perbandingan isi dari Halon 2402 di dasarkan pada massa per satuan volume. Tabel 5.1 Halon 1301 1211 2402 Minimum 5% 5% 0,23 kg/m 3 Maximum 7% 5,5 % 0,30 kg/m 3

.6 .7

.8 .9

.10 Jumlah media pemadam kebakaran untuk ruang mesin harus dihitung menurut tabel 5.2. Jumlah ini harus didasarkan pada isi kotor ruangan dengan konsentrasi minimum dan isi bersih ruangan dengan konsentrasi maksimum, termasuk selubung. Untuk Halon 1301 dan 1211, jumlahnya harus dihitung berdasarkan perbandingan volume, dan untuk Halon 2402 didasarkan pada massa per satuan volume. Tabel 5.2 Halon 1301 1211 1402 Minimum 4,25 % 4,25 % 0,20 kg/m 3 Maximum 7% 5,5 % 0,30 kg/m 3

.11 Untuk memenuhi maksud dari paragraf 3.2.9 dan 3.2.10 volume Halon 1301 harus dihitung pada 0,16 m 3/kg dan volume Halon 1211 harus dihitung pada 0,14 m3/kg. 3.3 Hanya halon 1301 boleh disimpan dalam ruang mesin yang

Bagian A

Peraturan 4

terlindung. Bejana harus didistribusi masing-masing keseluruh ruangan tersebut dan persyaratan berikut harus dipenuhi : .1 Harus tersedia suatu pelepasan daya awal secara manual, yang terletak diluar ruang yang dilindungi,harus tersedia duplikat sumber tenaga untuk menyalurkan dan harus diletakan diluar ruang terlindung dan harus siap seketika kecuali untuk ruang mesin, satu sumber daya boleh diletakan di dalam ruang terlindung. Sirkuit daya listrik yang berhubungan dengan bejana harus dimonitor terhadap kondisi kesalahan dan kehilangan daya.Alaram yang dapat lihat dan dapat didengar harus tersedia untuk menunjukannya. Jaringan tenaga angin dan hidrolik yang berhubungan dengan bejana harus diberi duplikat. Sumber tekanan angin dan hidrolik harus dimonitor atas kehilangan tekanan.Alaram yang dapat didengar harus tersedia untuk menunjukannya. Didalam ruangan yang terlindungi,jaringan listrik yang penting untuk penyaluran sistem tersebut harus yang tahan panas, sebagai contoh : Kabel isolasi mineral atau yang setara.Sistem pipa yang penting untuk penyaluran sistem tersebut didisain untuk dioperasikan secara hidrolis atau angin haruslah dari baja atau material tahan panas yang setara sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Pemerintah. Setiap bejana tekan harus dipasang alat pelepas tekanan otomatis dimana pada saat bejana terbuka sebagai akibat kebakaran dan sistem tersebut tidak dapat dioperasikan, maka isi dari bejana akan terbuka dengan aman dan masuk keruangan yang dilindungi. Tata susunan bejana dan jaringan listrik serta pipa yang penting untuk melepaskan setiap sistem harus sedemikian rupa sehingga pada saat terjadi kerusakan pada satu saluran daya akibat kebakaran atau ledakan di ruang yang dilindungi seperti konsep kesalahan tunggal, pada sekurang B kurangnya 2/3 dari isi pemadam kebakaran yang ditetapkan oleh paragraf 3.2.9 atau 3.2.10 untuk ruang tersebut masih dapat dikeluarkan dengan memperhatikan persyaratan pendistribusian medium yang secara merata keseluruh ruangan, tata susunan yang berkaitan dengan sistem untuk ruang hanya memerlukan ada satu atau dua bejana yang harus sesuai dengan persyaratan Badan Pemerintah. Tidak lebih dari 2 nosel pengeluaran harus dipasang pada setiap bejana tekan dan jumlah maksimum media pada setiap bejana harus sesuai dengan ketentuan Badan

.2

.3

.4

.5

.6

.7

Bab II-2: Konstruksi Pemerintah menyangkut persyaratan untuk distribusi media yang merata keseluruh ruangan. Bejana harus dimonitor pengurangan tekanannya akibat dari kebocoran dan pengeluaran. Alaram visual dan yang dapat didengar di daerah yang dilindungi, dan pada anjungan navigasi atau diruangan dimana perlengkapan kontrol dipusatkan harus tersedia untuk menunjukan kondisi tersebut, kecuali untuk ruang muat, alaram hanya diperlukan dianjungan navigasi atau di ruangan dimana perlengkapan kontrol dipusatkan.

.8

3.4 Unit pemadam kebakaran tetap yang dioperasikan secara lokal dan otomatis yang berisi halon 1301 atau 1211,yang dipasang di daerah tertutup yang beresiko tinggi dalam ruang permesinan, sebagai tambahan dan terpisah dari setiap sistem pemadam kebakaran yang dipasang tetap dapat diterima jika memenuhi hal berikut: .1 Ruangan dimana pelindung tambahan setempat yang disiapkan harus berada pada satu tingkat untuk bekerja pada tingkat yang sama dengan jalan masuk. Atas persetujuan dari Badan Pemerintah dapat diizinkan lebih dari satu tingkatan tempat kerja dengan catatan harus tersedia jalan masuk pada setiap tingkat. Ukuran ruangan dan penataan jalan masuk keruang tersebut yang didalamnya ada permesinan, harus sedimikian sehingga penyelamatan diri dari sisi manapun di kamar mesin dapat dilakukan dengan tidak lebih dari 10 detik. Operasi dari setiap unit harus ditandai baik secara visual maupun dengan suara diluar setiap jalan masuk keruang mesin dan ke anjungan navigasi atau ke ruangan dimana perlengkapan pengawasan dipusatkan. Suatu peringatan yang menunjukkan bahwa ruangan yang berisi satu atau lebih unit pemadam kebakaran yang dioperasikan secara otomatis dan menyatakan medium yang digunakan harus dipampangkan diluar jalan masuk. Nosel pengeluaran harus diletakkan sedemikian rupa agar pengeluaran tidak membahayakan personil yang menggunakan tangga jalan masuk normal dan jalan penyelamatan dari ruang tersebut. Perlengkapan harus disediakan untuk melindungi personil yang bertugas merawat mesin dari pengeluaran pengeluaran medium secara tak sengaja. Unit pemadam kebakaran harus didisain untuk operasi pada rentang suhu sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Badan Pemerintah.

.2

.3

.4

.5

.6

Bagian A .7

Peraturan 4

Harus tersedia sarana agar awak kapal dapat memeriksa tekanan bejana dengan aman. .8 Jumlah total dari bahan pemadam yang disediakan pada unit lokal yang dioperasikan secara otomatis harus sedemikian hingga agar konsentrasi 7 % dari Halon 1301 dan 5,5 % dari Halon 1211 pada suhu 20 0C yang didasarkan pada isi bersih ruang yang dilindungi. Persyaratan ini berlaku tetap yang dioperasikan secara lokal dan otomatis yang memenuhi paragraf 3.2 telah beroperasi, namun tidak berlaku bila keduanya beroperasi. Volume Halon 1301 harus dihitung pada 0,16 m3/kg dan volume Halon 1211 harus dihitung pada 0,14 m3/kg. .9 Waktu pengeluaran dari suatu unit, didasarkan pada pengeluaran fase cair, harus 10 detik atau kurang. .10 Penataan atau pengaturan unit pemadam kebakaran lokal yang dioperasikan secara otomatis harus sedemikian agar pelepasan tidak menyebabkan hilangnya daya listrik atau pengurangan kemampuan olah gerak kapal. 3.5 Unit pemadam kabakaran yang dioperasikan secara otomatis, seperti diuraikan pada paragraf 3.4, yang dipasang pada ruangan mesin yang berisi perlengkapan yang memiliki resiko kebakaran tinggi, sebagai tambahan dan tidak tergantung pada sistem pemadam pemadam kebakaran yang dipasang tetap, dapat diterima dengan catatan memenuhi paragraf 3.4.3 s/d 3.4.6, 3.4.9 dan 3.4.10 dan memenuhi hal berikut: .1 Jumlah medium yang disediakan pada unit lokal yang dioperasikan secara otomatis harus sedemikian sehingga dalam konsentrasi udara tidak melebihi 1,25 % pada 20 0 C dari isi kotor ruang permesinan yang diperoleh pada saat pengoperasian secara bersamaan. Volume Halon 1301 harus dihitung pada 0,16 m3/kg dan volume Halon 1211 harus dihiting pada 0,14 m3/kg.

.2 4

Sistem uap

Pada umumnya, Badan Pemerintah harus tidak mengizinkan penggunaan uap sebagai bahan pemadam kebakaran pada sistem pemadam kebakaran yang dipasang tetap. Bilamana penggunaan uap yang diizinkan oleh Badan Pemerintah, hal ini hanya akan digunakan pada daerah yang terbatas dan sebagai tambahan dari medium pemadam kebakaran yang dibutuhkan dan dengan syarat bahwa ketel-ketel tersedia untuk memasok uap harus menghasilkan sekurang-kurangnya 1,0 kg uap perjam untuk setiap 0,75 m3 isi kotor dari ruang terbesar yang dilindungi. Disamping itu untuk memenuhi persyaratan sebelumnya sistem tersebut harus sesuai

Bab II-2: Konstruksi dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Badan Pemerintah. 5 Sistem gas yang lain

5.1 Bilamana gas selain dari karbon dioksida atau hidro karbon halogen, atau uap seperti yang diperbolehkan oleh paragraf 4 dihasilkan dikapal dan digunakan sebagai medium pemadam kebakaran, maka medium tersebut harus gas-gas yang diproduksi oleh pembakaran bahan bakar minyak yang kandungan oksigen, karbon monoksida, unsur-unsur korosif dan unsur-unsur padat yang mudah terbakar telah dikurangi hingga batas minimum yang diizinkan. 5.2 Bilamana gas seperti diatas digunakan sebagai bahan pemadam kebakaran yang dipasang tetap, untuk melindungi ruang mesin, maka bahan tersebut harus memiliki kemampuan untuk melindungi yang setara dengan yang disediakan oleh sistem pemadam kebakaran yang dipasang tetap dengan menggunakan karbon dioksoda sebagai medium. 5.3 Bilamana gas seperti disebutkan diatas digunakan sebagai medium pada sistem pemadam kebakaran yang dipasang tetap untuk melindungi ruang muatan, suatu jumlah gas yang mencukupi harus tersedia untuk memasok gas bebas tiap jam sekurangkurangnya sama dengan 25 % dari volume kotor dari ruang terbesar yang dilindungi selama kurun waktu 72 jam.

Peraturan 6 Pemadam kebakaran*1


1 Semua pemadam kebakaran haruslah dari jenis dan disain yang disetujui. 1.1 Kapasitas dari pemadam kebakaran cair jinjing yang diperlukan tidak boleh lebih dari 13,5 liter dan tidak kurang dari 9 liter.Pemadam kebakaran yang lain cairannya sekurang B kurangnya 13,5 liter dan harus memiliki kemampuan untuk memadamkan kebakaran sekurang B kurangnya sama dengan 9 liter cairan pemadam 1.2 Badan Pemerintah pemadam kebakaran. harus mempertimbangkan kesetaraan

2 Cadangan untuk pengisian harus tersedia sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Badan Pemerintah
1* Mengcu pada petunjuk yang direvisi untuk pemadam kebakaran jinjing yang disyahkan oleh organisasi sesuai resolusi A.602(15).

Bagian A

Peraturan 4

3 Pemadam kebakaran yang berisi medium pemadam yang dimana menurut pendapat Badan Pemerintah,baik bahannya sendiri beracun atau diperkirakan akan menghasilkan gas beracun dalam jumlah yang dapat membahayakan manusia tidak boleh diizinkan 4 Sebuah unit aplikator busa jinjing harus terdiri dari nosel busa udara dari jenis induktor yang mampu dihubungkan dengan pipa saluran kebakaran dari selang kebakaran, bersama-sama dengan tangki jinjing yang berisi sekurang - kurangnya 20 liter cairan pembuat busa dan satu tangki cadangan.Nosel harus mampu menghasilkan busa efektif yang cocok untuk pemadaman kebakaran minyak, dengan kecepatan sekurang B kurangnya 1,5 m3/menit. 5 Pemadam kebakaran harus diuji secara periodik dan menjalani pengujian seperti yang ditentukan oleh Badan Pemerintah. 6 Salah satu dari pemadam kebakaran jinjing yang dimaksudkan untuk digunakan setiap ruangan harus ditempatkan didekat jalan masuk ke ruangan tersebut. 7 Ruang akomodasi, ruang layanan, dan stasiun kontrol harus dilengkapi dengan pemadam kebakaran jinjing dari jenis yang disetujui dalam jumlah yang cukup sesuai dengan ketentuan Badan Pemerintah. Kapal-kapal dengan tonase kotor 1000 atau lebih harus membawa sekurang-kurangnya 5 pemadam kebakaran jinjing.

Peraturan 7 Tata susunan permesinan


1

pemadam kebakaran di dalam ruang

Ruangan yang berisi ketel dengan bahan bakar minyak atau perangkat bahan bakar minyak

1.1 Ruang mesin kategori AA@ yang berisi ketel dengan bahan bakar minyak atau perangkat bahan bakar minyak harus dilengkapi dengan salah satu sistem pemadam kebakaran yang dipasang tetap sebagai berikut : Satu sistem gas yang sesuai dengan ketentuan peraturan 5. .2 Satu sistem busa dengan daya muai tinggi sesuai dengan ketentuan peraturan 9. .3 Sistem penyemprotan air bertekanan sesuai dengan ketentuan peraturan 10. Pada setiap lunas apabila ruang mesin dan ketel tidak sepenuhnya terpisah, atau jika bahan bakar minyak dapat mengalir dari ruang .1

Bab II-2: Konstruksi ketel ke ruang mesin, gabungan ruang ketel dan ruang mesin dapat dianggap sebagai satu kompartemen. 1.2 Pada setiap ruang ketel harus ada sekurang-kurangnya satu set pembangkit busa jinjing yang sesuai dengan ketentuan peraturan 6.4. 1.3 Harus ada sekurang-kurangnya dua sistem pemadam kebakaran dengan busa jinjing atau yang setara pada setiap ruang pemadam kebakaran dalam setiap ruang ketel dan di setiap ruangan yang dimana ditempatkan bagian dari instalasi bahan bakar minyak . Harus ada sekurang-kurangnya satu pemadam kebakaran dengan sistem busa yang disetujui dengan kapasitas 135 liter atau yang setara dalam setiap ruang ketel. Pemadam ini harus dilengkapi dengan selang pada gulungan yang sesuai untuk menjangkau setiap bagian dari ruang ketel. Pemakaian ketel untuk rumah tangga yang kurang dari 175 kw pada kapal barang, Badan Pemerintah boleh mempertimbangkan untuk melonggarkan peraturan ini. 1.4 Pada setiap ruang pemadam kebakaran harus ada wadah yang berisi pasir, serbuk gergaji yang dicampur dengan soda, atau material kering yang lain yang disetujui yang jumlahnya ditentukan oleh Badan Pemerintah. Satu pemadam kebakaran jinjing boleh disiapkan sebagai pengganti. 2 Ruang-ruang yang berisi mesin pembakaran dalam

Ruang mesin ketegori AA@ yang berisi mesin pembakaran dalam harus dilengkapi dengan : .1 .2 .3 Satu sistem pemadam kebakaran seperti yang dipersyaratkan oleh paragraf 1.1. Sekurang-kurangnya satu set perlengkapan busa-udara jinjing sesuai dengan ketentuan peraturan 6.4. Disetiap ruang tersebut jenis pemadam kebakaran busa yang disetujui, masing-masing sekurang-kurangnya berkapasitas 45 l atau setara, memiliki jumlah yang cukup untuk memungkinkan busa atau medium yang setara diarahkan kesetiap bagian bahan bakar dan sistem minyak pelumas bertekanan, peralatan dan barang lainnya yang mengandung bahaya kebakaran. Disamping itu harus tersedia pemadam kebakaran busa jinjing yang mencukupi atau yang setara yang ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak ada titik dalam ruangan tersebut yang melebihi 10 m jaraknya dari sebuah pemadam dan harus ada sekurang-kurangnya dua pemadam kebakaran untuk masing-masing ruangan.

Bagian A

Peraturan 4 Untuk ruangan yang lebih kecil pada kapal barang, Badan Pemerintah boleh memperlonggar persyaratan ini.

Ruangan yang berisi turbin uap atau mesin uap.

Pada ruangan yang berisi turbin uap atau mesin uap yang digunakan untuk propulsi utama atau untuk penggunaan yang lain jika mesin tersebut secara total mempunyai tenaga keluaran yangl tidak kurang dari 375 kw maka harus dilengkapi dengan : .1 Pemadam kebakaran dengan sistem busa yang disetujui dengan kapasitas sekurang-kurangnya 45 liter atau setara yang jumlahnya cukup agar memungkinkan busa atau media yang setara diarahkan ke semua penutup dari bagian tertutup yang dilumasi dari turbin,mesin atau perlengkapannya dan hal lain yang mengandung bahaya kebakaran.. Namun pemadam seperti itu tidak harus dipersyaratkan jika pelindung yang sekurang-kurangnya setara dengan yang dipersyaratkan pada subparagraf ini dilengkapi dalam ruangan tersebut dengan sistem pemadam kebakaran tetap yang memenuhi paragraf 1.1. Suatu jumlah yang cukup dari sistem pemadam kebakaran busa jinjing atau yang setara dengan itu yang harus ditempatkan sedemikian sehingga tidak ada tempat dalam ruangan tersebut yang lebih dari 10 m jaraknya dari suatu pemadam kebakaran dan sekurang-kurangnya dua pemadam seperti itu pada masing-masing ruangan tersebut, kecuali apabila pemadam tersebut tidak diperlukan sebagai tambahan yang harus dilengkapi untuk memenuhi paragraf 1.3. Satu dari sistem pemadam kebakaran dipersyaratkan dalam paragraf 1.1 dimana ruangan yang tidak dijaga secara periodik.

.2

.3

Peralatan pemadam kebakaran di ruang permesinan lainnya

Bilamana, menurut pendapat Badan Pemerintah, bahaya kebakaran ada di suatu ruang mesin dimana tidak ada perlengkapan khusus untuk peralatan pemadam kebakaran seperti yang diuraikan pada paragraf 1, 2 dan 3, maka di dalam ruangan tersebut atau dekat ruangan tersebut harus ada sejumlah pemadam kebakaran jinjing yang disetujui atau peralatan pemadam kebakaran lain yang menurut Badan Pemerintah dianggap cukup memenuhi. 5 Sistem pemadam dipersyaratkan pada kebakaran Bab ini tetap yang tidak

Bab II-2: Konstruksi Bilamana suatu sistem pemadam kebakaran yang dipasang tetap tidak dipersyaratkan dalam bab ini dipasang, maka sistem tersebut harus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Badan Pemerintah. 6 Ruang permesinan kategori AA@ pada kapal penumpang

Pada kapal penumpang yang mengangkut penumpang lebih dari 36 penumpang, setiap ruang mesin kategori AA@ harus dilengkapi sekurang-kurangnya dua pembangkit kabut air yang sesuai*1.

Peraturan 8 Sistem pemadam kebakaran dengan busa dengan daya muai rendah dan dipasang tetap dalam ruang mesin.
1 Jika di setiap ruang mesin dipasang sistem pemadam kebakaran busa yang dipasang tetap sesuai seperti yang dipersyaratkan pada peraturan 7, sistem yang harus mampu mengeluarkan melalui lubang pengeluaran tidak lebih dari 5 menit sejumlah busa yang cukup untuk menutup hingga setebal 150 mm pada suatu daerah tunggal terluas yang menutupi ceceran-ceceran minyak. Harus tersedia sarana untuk menghasilkan busa yang cukup untuk pemadam kebakaran minyak. Peralatan harus dilengkapi untuk distribusi busa secara efektif melalui sistem saluran tetap dan katup kontrol atau keran-keran ke lubang keluaran yang sesuai, dan untuk busa diarahkan secara efektif dengan kebakaran utama yang lain di dalam ruangan yang dilindungi. Memuainya busa tidak boleh lebih dari 12 : 1. 2 Sarana-sarana pengawasan dari setiap sistem harus dapat dijangkau dengan cepat dan mudah dijalankan serta harus dikelompokkan satu sama lain di dalam tempatnya sedikit mungkin di tempat-tempat yang tidak mudah terputus oleh kebakaran di dalam ruangan yang dilindungi.

Peraturan 9 Sistem pemadam kebakaran dengan busa dengan daya 2 muai tinggi dan dipasang tetap dalam ruang mesin
1* Suatu pembangkit kabut air mungkin berisi sebuah pipa logam berbentuk L, dengan cabang panjang kira - kira berukuran 2 meter yang dapat dipasangi dengan selang kebakaran dan cabang pendek yang panjangnya kira- kira 250 mm yang dipasangi dengan nosel kabut air yang dipasang tetap atau mampu dipasangi dengan nosel penyembur air.

2Mengacu

pada MSC/Circ,670, garis - garis besar untuk kriteria pelaksanaan dan pengujian dan survey dari konsentrasi busa ekpansi tinggi untuk sistem pemadam kebakaran yang dipasang tetap.

Bagian A

Peraturan 4

1.1 Setiap sistem busa dengan daya muai tinggi dan yang dipasang tetap yang disyaratkan di dalam ruang-ruang mesin harus dapat mengeluarkan dengan cepat melalui lubang keluaran dipasang tetap sejumlah busa yang cukup untuk memenuhi ruangan terbesar yang harus dilindungi dengan nilai rata-rata sekurangkurangnya dengan ketebalan 1 m setiap menit. Jumlah cairan pembentuk busa yang tersedia harus cukup untuk menghasilkan sejumlah busa yang sama dengan lima kali volume ruangan terbesar yang harus dilindungi. Kelipatan muai busa itu tidak boleh lebih dari 1000 berbanding 1. 1.2 Badan Pemerintah dapat mengizinkan tata susunan dan laju pengeluaran alternatif dengan catatan bahwa Badan Pemerintah yakin bahwa perlindungan yang sepadan tercapai. 2 Saluran-saluran untuk menyalurkan busa dan pemasukkan udara ke pembangkit busa dan jumlah perangkat pembangkit busa harus berdasarkan pertimbangan Badan Pemerintah sedemikian rupa sehingga akan memperoleh hasil busa dan distribusa busa yang efektif. 3 Tata susunan saluran penyalur busa itu harus sedemikian rupa sehingga apabila terjadi kebakaran di dalam ruangan yang dilindungi tidak akan mempengaruhi perlengkapan pembangkit busa. 4 Pembangkit busa itu, sumber-sumber pasokan tenaga , cairan pembentuk busa dan sarana kontrol sistem harus dapat dijangkau dengan cepat dan mudah dijalankan serta harus dikelompokkan dalam tempat sesedikit mungkin yang tidak mungkin terputus oleh kebakaran di dalam ruangan yang dilindungi. Peraturan 10 Sistem-sistem Pemadam Kebakaran dengan pancaran Bertekanan yang dipasang Tetap di dalam Ruang Mesin

Air

1 Sistem-sistem pemadam kebakaran pancaran air bertekanan dipasang tetap yang disyaratkan di ruang mesin harus dilengkapi dengan yang jenisnya disetujui. 2 Jumlah dan tata susunan nosel harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Pemerintah dan harus sedemikian rupa sehingga menjamin pendistribusian air rata-rata secara efektif sekurang-kurangnya 5 liter/m 2/menit dalam ruang yang dilindungi. Apabila dipandang perlu untuk meningkatkan kecepatan maka hal ini harus sesuai dengan persetujuan dari Badan Pemerintah. Nosel

Bab II-2: Konstruksi harus dipasang di atas got-got. Pelat alas dalam dan di tempat tempat lain yang diatas tempat dimana bahan bakar minyak dapat berceceran dan juga diatas benda-benda yang mengandung bahaya kebakaran dalam ruang permesinan. 3 Sistem dapat dibagi-bagi dalam seksi-seksi yang katup-katup pembaginya harus dilayani dari posisi-posisi yang mudah dijangkau di luar ruangan-ruangan yang harus dilindungi dan yang tidak dengan segera terputus oleh kebakaran yang terjadi. 4 Sistem harus selalu dalam keadaan terisi sesuai dengan tekanan yang diperlukan dan pompa yang memasok air untuk sistem tersebut harus dapat bekerja secara otomatis bilamana tekanan di dalam sistem berkurang. 5 Pompa harus mampu memasok secara serentak pada tekanan yang diperlukan semua seksi dari sistem di dalam sembarang kompartemen yang harus dilindungi. Pompa dan alat kontrolnya harus ditempatkan di luar ruangan atau ruang-ruang yang harus dilindungi. Tidak boleh ada kemungkinan kebakaran yang terjadi di dalam ruangan atau ruangan yang dilindungi dengan sistem semprotan air dapat memberhentikan sistem bekerja. 6 Pompa boleh dijalankan oleh mesin-mesin pembakaran dalam yang berdiri sendiri , tetapi jika tergantung pada pasokan tenaga yang diperoleh dari generator darurat yang dipasang sesuai dengan ketentuan II B 1/44 atau peraturan II - 1/45, yang sesuai maka generator harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat mengasut secara otomatis bilamana tenaga utama mati sehingga tenaga untuk pompa yang disyaratkan oleh paragraf (e) peraturan ini dengan segera tersedia. Bila pompa dijalankan oleh mesin-mesin yang berdiri sendiri jenis motor pembakaran dalam pompa harus ditempatkan sedemikian rupa bila terjadi kebakaran di dalam ruangan yang harus dilindungi tidak akan mempengaruhi penyaluran udara ke motor. 7 Tindakan-tindakan purbajaga harus dilakukan untuk mencegah nosel tersumbat oleh kotoran-kotoran di dalam air atau karena karat dari pipa nosel, katup-katup dan pompa. Peraturan 11 Penataan khusus di ruang mesin 1 Ketentuan dari peraturan ini berlaku untuk ruang mesin kategori AA@ dan, apabila Badan Pemerintah mempertimbangkan untuk diberlakukan pada ruang mesin yang lain.

Bagian A

Peraturan 4

2.1 Jumlah jendela cahaya, pintu-pintu, ventilator, bukaan-bukaan pada cerobong untuk mengeluarkan udara dan bukaan-bukaan lain pada ruang mesin harus dikurangi hingga seminimum mungkin sesuai dengan kebutuhan ventilasi dan mengamankan pekerjaan dikapal secara tepat. 2.2 Jendela cahaya harus dari baja dan tidak mengandung panel gelas, penatan yang sesuai harus dibuat untuk mengatur pengeluaran asap, pada saat terjadi kebakaran dari ruang yang dilindungi. 2.3 Pada kapal penumpang, pintu-pintu selain dari pintu-pintu kedap air yang dioperasikan dengan daya harus diatur sedemikian rupa agar penutupan positife dijamin pada saat terjadi kebakaran di ruang tersebut, susunan penutupan dengan daya atau pintu-pintu yang mampu menutup sendiri mampu menutup pada saat terjadi kemiringan sebesar 3,5 o dari arah berlawanan dengan penutup tersebut dan memiliki fasilitas kait balik dilengkapi dengan peralatan pelepas yang dikendalikan jarak jauh. 3 Jendela-jendela tidak boleh dipasang pada batas ruang mesin. Hal ini tidak termasuk penggunaan kaca dalam ruang pengawas di dalam kamar mesin. 4 .1 perlengkapan kontrol harus disediakan untuk : Membuka dan menutup jendela cahaya, penutup bukaanbukaan pada cerobong asap secara normal yang mengatur pengeluaran udara, dan penutup alat pengatur pemasukan udara. Mengatur pengeluaran asap. Pintu-pintu yang dioperasikan dengan daya atau mengaktifkan mekanisme pelepasan pada pintu-pintu selain dari pintupintu kedap air yang dijalankan dengan daya. Menghentikan kipas angin sirkulasi udara. Menghentikan kipas angin penarikan paksa dan induksi, pompa pemindah bahan bakar minyak, unit pompa bahan bakar minyak atau pompa-pompa bahan bakar yang lain yang sejenis.

.2 .3 .4 .5

5 Pengawasan yang dipersyaratkan pada paragraf 4 dan dalam peraturan 15.2.5 harus dipasang di luar ruang yang bersangkutan, dimana ini tidak akan putus pada saat terjadi kebakaran di ruang yang dilayani. Pada kapal penumpang kontrol seperti itu dan kontrol untuk setiap sistem pemadam kebakaran yang diperlukan harus ditempat pada satu posisi kontrol (pengawasan) atau dikelompokkan pada tempat yang sesedikit mungkin sesuai ketentuan yang

Bab II-2: Konstruksi ditetapkan Badan Pemerintah. Tempat tersebut harus memiliki jalan masuk yang aman dari geladak terbuka. 6 Jika jalan masuk ke setiap ruang mesin kategori AA@ disediakan pada bagian bawah dari suatu terowongan poros yang berdekatan, maka harus disediakan pada terowongan poros dekat pintu kedap air, sebuah pintu penahan api baja yang ringan yang dapat dioperasikan dari kedua sisi. 7 Untuk ruang mesin yang tidak dijaga secara periodik pada kapal barang, Badan Pemerintah harus memberi pertimbangan khusus untuk menjaga keutuhan akibat kebakaran dari ruang mesin, lokasi dan pemusatan kontrol sistem pemadam kebakaran, tata susunan penutupan yang diperlukan (seperti sirkulasi udara, pompa bahan bakar, dll) dan boleh meminta tambahan peralatan pemadam kebakaran dan perlangkapan pemadam kebakaran lain serta peralatan pernafasan bantu. Pada kapal penumpang persyaratanpersyaratan ini harus sekurang-kurangnya setara dengan ruang mesin yang dijaga secara normal. 8 Suatu sistem deteksi kebakaran dan sistem alaram yang memakai ketentuan peraturan 14 harus dipasang pada setiap ruang mesin : .1 .2 Jika pemasangan sistem kontrol otomatis dari jarak jauh dan perlengkapan telah disetujui sebagai pengganti penjagaan yang terus-menerus dari ruang tersebut; dan Jika propulsi utama dan beserta permesinanannya termasuk sumber pasok listrik utama tersedia dengan beragam tingkat otomasi atau kontrol jarak jauh dan secara terusmenerus dijaga dengan pengawasan dari suatu ruang kontrol.

Peraturan 12 Sistem Pemercik dan Sistem Alaram Kebakaran serta Sistem Penemu Kebakaran Otomatis.*1 1.1 Setiap sistem pemercik dan sistem alaram kebakaran serta sistem deteksi kebakaran otomatis yang disyaratkan harus mampu bekerja dengan segera pada setiap saat dan awak kapal tidak perlu bertindak untuk menjalankannya. Sistem ini harus dari tipe pipa basah tetapi seksi-seksi terbuka yang kecil boleh dari tipe pipa tidak kering bilamana menurut pertimbangan Badan Pemerintah merupakan tindakan yang dianggap penting. Sistem ini harus selalu
1* Mengacu pada petunjuk besar untuk persetujuan sistem pemercik yang disetujui yang sama dengan yang ditujukan dalam SOLAS peraturan II - 2/12 yang diterima melalui Organisasi melalui resolusi A.800(18).

Bagian A

Peraturan 4

dalam keadaan berisi dengan tekanan yang diperlukan dan harus memiliki persediaan yang diperlukan untuk air secara berkesinambungan sebagaimana yang disyaratkan di dalam peraturan ini. 1.2 Masing-masing seksi dari pemercik harus meliputi sarana untuk memberikan alaram yang dapat didengar dan dapat dilihat secara otomatis di satu unit penunjuk atau lebih perangkat penunjuk dimanapun pemercik dioperasikan. Sistem alaram tersebut harus mampu menunjukkan setiap terjadi kesalahan di dalam sistem. 1.2.1 Pada kapal penumpang, perangkat seperti itu harus memberi suatu petunjuk setiap adanya kebakaran dan tempat kebakaran itu terjadi di setiap ruangan yang dilayani oleh sistem dan harus dipusatkan di anjungan atau di stasiun pengawasan kebakaran induk yang harus dijaga dan dilengkapi sehingga diperoleh jaminan bahwa setiap bahaya dari sistem segera diterima oleh awak kapal yang bertanggung jawab. 1.2.2 Pada kapal barang, perangkat seperti itu harus menunjukkan bagian ruangan yang dilayani oleh sistem kebakaran yang terjadi dan harus dipusatkan di anjungan dan selain alaram yang dapat dilihat dan dapat didengar dari perangkat yang ditempatkan ditempatnya selain yang berada di anjungan navigasi, sehingga menjamin bahwa setiap indikasi kebakaran segera diterima oleh awak kapal. 2.1 Pemercik harus dikelompokkan menjadi seksi-seksi yang terpisah yang masing-masing harus mengandung tidak lebih dari 200 pemercik. Pada kapal penumpang setiap seksi dari pemercik tidak boleh melayani lebih dari 2 geladak dan harus tidak ditempatkan di dalam lebih dari 1 zona vertikal utama, kecuali bilamana Badan Pemerintah merasa yakin bahwa perlindungan kapal terhadap kebakaran tidak menjadi berkurang, oleh karena itu Badan Pemerintah dapat mengizinkan seksi dari pemercik yang melayani lebih dari 2 geladak atau ditempatkan di dalam lebih dari 1 zona vertikal utama. 2.2 Setiap seksi dari pemercik harus dapat diisolasi oleh satu katup penutup saja. Katup penutup di dalam masing-masing seksi harus dapat dijangkau dengan mudah dan letaknya harus ditunjukkan secara jelas dan tetap. Harus dilengkapi dengan saranasarana untuk mencegah kemungkinan katup penutup dijalankan oleh orang yang berwenang. 2.3 Alat ukur penunjuk tekanan di dalam sistem harus dilengkapi di masing-masing seksi katup penutup dan di stasiun pusat.

Bab II-2: Konstruksi 2.4 Pemercik itu harus tahan korosi yang disebabkan oleh udara laut. Di dalam ruang-ruang akomodasi dan ruang layanan, pemercik harus mulai bekerja dalam batas suhu 68 oC (155 oF) hingga 79 oC (175 oF), kecuali di tempat-tempat seperti kamar-kamar pengering di mana suhu-suhu sekitarnya dapat diperkirakan akan menjadi tinggi. Suhu kerja boleh dinaikkan tidak lebih dari 30 oC (54 oF) diatas suhu geladak tertinggi. 2.5 Suatu daftar atau bagan harus dipampangkan di setiap perangkat penunjuk yang memperlihatkan ruangan-ruangan yang tercakup dan letak zona dari masing-masing seksi. Instruksi-instruksi yang lazim untuk pengujian dan perawatan harus tersedia. 3 Pemercik harus ditempatkan pada kedudukan di atas dan berjarak yang sesuai untuk menjaga kecepatan rata-rata tidak akan kurang dari 5 l/m2/menit atas luasan nominal yang dicakup oleh pemercik tersebut. Oleh karena itu, Badan Pemerintah dapat mengizinkan digunakannya pemercik yang menghasilkan air yang jumlahnya berbeda yang didistribusi secara layak sedemikian rupa sehingga dapat diperlihatkan untuk dapat disetujui oleh Badan Pemerintah bahwa kemampuan tidak lebih rendah. 4.1 Sebuah tangki tekan yang mempunyai volume sekurangkurangnya sama dengan 2 kali volume air yang diisikan sebagaimana yang dirinci di dalam subparagraf ini harus diperlengkapi. Tangki ini harus berisi air tawar persediaan yang sama dengan jumlah air yang akan dikeluarkan dalam waktu satu menit oleh pompa yang mengacu pada subparagraf 5.2 peraturan ini, dan tata susunannya harus dilengkapi sarana untuk mempertahankan tekanan udara di dalam tangki sedemikian rupa untuk menjamin bahwa apabila persediaan air tawar dalam tangki telah digunakan, tekanannya tidak berkurang menjadi lebih rendah dari tekanan kerja pemercik, ditambah tekanan yang ditimbulkan tinggi tekan air yang diukur dari dasar tangki hingga ke pemercik tertinggi pemercik dari sistem itu. Sarana yang memadai untuk meningkatkan kembali tekanan udara dan mengganti kembali persediaan air dalam tangki harus tersedia. Harus dipasang sebuah gelas ukur untuk menunjukkan tinggi air sesungguhnya di dalam tangki. 4.2 Harus tersedia sarana-sarana untuk mencegah masuknya air laut ke dalam tangki. 5.1 Harus dipasang pompa daya yang berdiri sendiri yang sematamata untuk melangsungkan pengeluaran air secara otomatis dari pemercik. Pompa harus dapat jalan secara otomatis akibat turunnya tekanan di dalam sistem sebelum persediaan air tawar tetap dalam tangki tekan dikeluarkan seluruhnya.

Bagian A

Peraturan 4

5.2 Pompa dan sistem pipa harus mampu mempertahankan tekanan yang diperlukan pada ketinggian pemercik yang tertinggi untuk menjamin pengeluaran air secara terus-menerus yang jumlahnya cukup untuk dapat menutup secara serentak suatu permukaan yang luasnya paling sedikit 280 m 2 pada kecepatan pemakaian sebagaimana yang ditentukan dalam subparagraf (3) peraturan ini. 5.3 Pada sisi keluaran dari pompa harus diperlengkapi dengan sebuah katup uji dengan pipa keluaran pendek yang ujungnya terbuka. Luas penampang efektif katup dan pipa harus cukup untuk melepaskan keluaran pompa yang disyaratkan dengan mempertahankan tekanan di dalam sistem yang dirinci di dalam subparagraf (d)(i) peraturan ini. 5.4 Pemasukan air laut ke pompa sedapat mungkin berada dalam ruangan tempat pompa dipasang dan harus ditata sedemikian rupa sehingga bilamana kapal mengapung, tidak perlu menutup pemasukan air laut ke pompa untuk sembarang keperluan. Selain dari pada untuk keperluan pemeriksaan atau perbaikan pompa. 6 Pompa dan tangki pemercik harus ditempatkan pada kedudukan yang terpisah dengan jarak yang memadai dari setiap ruang mesin kategori AA@ dan tidak boleh ditempatkan di ruangan mana pun yang disyaratkan untuk dilindungi oleh setiap sistem pemercik. 7.1 Pada kapal penumpang sekurang-kurangnya harus ada dua sumber pemasok tenaga untuk pompa air laut dan alaram otomatis serta sistem deteksi. Jika sumber tenaga untuk pompa itu adalah listrik, sumber itu harus ada dari generator utama dan sumber tenaga darurat. Satu pasokan untuk pompa harus diambil dari papan hubung utama, dan yang satu lagi dari papan hubung darurat dengan menggunakan saluran pengisian terpisah yang secara khusus disediakan untuk maksud tersebut. Saluran-saluran pengisisan harus ditata sedemikian rupa sehingga tidak melewati dapur, ruang mesin dan ruang-ruang tertutup yang lain yang mempunyai kemungkinan mengalami resiko kebakaran yang tinggi kecuali sepanjang hal itu diperlukan untuk mencapai papan hubung yang bersangkutan, dan harus sampai ke saklar pengubah aliran otomatis yang terletak di dekat pompa pemercik. Saklar harus memungkinkan pasokan tenaga dari papan hubung utama sepanjang pasokannya tersedia, dan harus dirancang sedemikian rupa sehingga bilamana pasokan gagal maka penghubung akan secara otomatis mengubah pasokan dari papan hubung darurat. Saklar penghubung di papan hubung utama dan papan hubung darurat harus diberi label dengan jelas dan umumnya dibiarkan

Bab II-2: Konstruksi dalam keadan tertutup. Tidak boleh ada penghubung yang lain yang dipasang di dalam saluran pengisian yang bersangkutan. Satu dari sumber pasokan tenaga untuk alaram dan sistem deteksi harus dari sumber tenaga darurat. Jika salah satu dari sumber tenaga untuk pompa adalah sebuah motor bakar, maka sumber tenaga itu disamping menerima ketentuan paragraf 6 peraturan ini harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga bila terjadi kebakaran dalam ruangan manapun yang dilindungi tidak mengganggu pasokan udara ke motor tersebut. 7.2 Pada kapal barang sekurang-kurangnya harus ada dua sumber pemasok tenaga untuk pompa air laut dan alaram otomatis serta sistem deteksi. Jika pompa tersebut digerakkan oleh listrik maka pompa tersebut harus dihubungkan dengan sumber tenaga listrik utama, yang harus mampu dipasok oleh sekurang-kurangnya dua generator. Saluran pengisian harus ditata sedemikian rupa sehingga tidak melewati dapur, ruang mesin, dan ruang-ruang tertutup yang lain yang mempunyai kemungkinan mengalami resiko kebakaran yang tinggi kecuali sepanjang hal itu diperlukan untuk mencapai papan hubung yang bersangkutan. Satu dari sumber pemasok tenaga untuk alaram dan sistem deteksi harus dari sumber tenaga darurat. Jika salah satu dari sumber-sumber tenaga untuk pompa adalah sebuah motor bakar, maka sumber tenaga itu disamping memenuhi ketentuan paragraf 6 peraturan ini harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga bila terjadi kebakaran dalam ruang mana pun yang dilindungi tidak menggangu pasokan udara ke motor. 8 Sistem pemercik harus punya sambungan dengan saluran kebakaran utama kapal dengan menggunakan katup ulir anti balik pada tempat sambungan guna mencegah pengaliran balik dari sistem pemercik ke saluran kebakaran utama. 9.1 Katup uji harus dipasang untuk menguji alaram otomatis untuk masing-masing seksi pemercik dengan mengeluarkan air yang sepadan untuk pengoperasian satu pemercik. Katup uji untuk masing-masing seksi itu harus ditempatkan di dekat katup penutup untuk seksi tersebut. 9.2 Harus dilengkapi sarana untuk menguji kerja otomatis dari pompa dengan cara penurunan tekanan dalam sistem. 9.3 Harus dilengkapi sakelar penghubung pada salah satu dari tempat-tempat penunjukan yang tersebut di dalam subparagraf 1.2 peraturan ini yang akan memungkinkan alaram dan indikator untuk memungkinkan masing-masing seksi pemercik diuji.

Bagian A

Peraturan 4

10 Kepala pemercik cadangan harus tersedia untuk masingmasing seksi pemercik sesuai yang disyaratkan diyakini oleh Badan Pemerintah. Peraturan 13 Sistem deteksi dan alaram kebakaran yang dipasang tetap 1 Persyaratan umum.

1.1 Setiap sistem deteksi dan alaram kebakaran tetap yang diperlukan untuk dioperasikan secara manual dari tempat panggil harus mampu beroperasi sesegera mungkin setiap waktu. 1.2 Pasokan daya dan jaringan listrik yang diperlukan untuk mengoperasikan sistem harus dimonitor apakah terjadi kehilangan tenaga atau terjadi kerusakan. Apabila terjadi kerusakan harus menimbulkan sinyal yang dapat dilihat dan/atau didengar pada panel kontrol yang berbeda dari sinyal kebakaran. 1.3 Tidak boleh kurang dari dua sumber daya untuk memasok perlengkapan listrik digunakan dalam operasi sistem deteksi dan alaram kebakaran, salah satu diantaranya adalah sumber daya darurat. Pasokan harus disediakan oleh pengisi yang terpisah yang semata-mata sebagai cadangan untuk maksud tersebut. pengisi seperti itu harus dijalankan dengan panel pemindah otomatis yang diletakkan di dalam atau di dekat panel kontrol dari sistem deteksi kebakaran. 1.4 Detektor dan titik panggil yang dioperasikan secara manual harus dikelompokkan ke dalam seksi-seksi. Pengaktifan setiap detektor atau titik panggil yang dioperasikan secara manual harus membangkitkan sinyal kebakaran yang dapat dilihat dan didengar pada kontrol panel dan unit penunjuk. Jika sinyal tidak menerima perhatian 2 menit suatu alaram yang dapat didengar harus dapat dibunyikan secara otomatis di semua ruang akomodasi dan ruang layan, stasiun pengawas dan ruang mesin kategori AA@. Sistem alaram bunyi ini tidak perlu sebagai bagian integral dari sistem deteksi. 1.5 Panel kontrol harus diletakkan pada anjungan atau stasiun kontrol kebakaran utama. 1.6 Perangkat penunjuk, sekurang-kurangnya harus menunjukkan seksi dimana detektor atau titik panggil yang dioperasikan secara manual beroperasi. Sekurang-kurangnya satu unit harus ditempatkan sedemikian sehingga unit tersebut dengan mudah dijangkau oleh orang atau awak kapal yang berwenang setiap saat,

Bab II-2: Konstruksi baik pada saat di laut maupun di pelabuhan, kecuali jika kapal tidak beroperasi. Satu unit penunjuk harus diletakkan di anjungan navigasi jika panel kontrol diletakkan pada stasiun pengontrol kebakaran utama. 1.7 Informasi yang jelas harus diperlihatkan pada atau di dekat perangkat penunjuk tentang ruang dilingkupi dan lokasi dari seksi. 1.8 Jika sistem deteksi kebakaran tidak termasuk peralatan yang mengidentifikasikan dari jarak jauh masing-masing detektor, tidak ada seksi yang melingkupi lebih dari satu geladak di dalam geladak akomodasi, stasiun pengontrol dan pelayanan biasanya boleh diizinkan. Kecuali setiap satu seksi yang melingkupi suatu tangga tertutup. Untuk menghindari penundaan dalam mengidentifikasikan sumber kebakaran, jumlah ruang-ruang tertutup yang dicakup dalam satu seksi harus dibatasi sebagaimana ditentukan oleh Badan Pemerintah. Tidak boleh lebih dari 50 ruang tertutup diizinkan dalam setiap seksi. Jika sistem deteksi dipasang dengan kendali jauh untuk masing-masing detektor kebakaran yang teridentifikasi, suatu seksi boleh melingkupi beberapa geladak dan melayani sejumlah ruangruang tertutup. 1.9 Pada kapal penumpang, jika tidak ada sistem deteksi kebakaran yang mampu mengidentifikasi setiap detektor dari jarak jauh dan secara individual, suatu seksi dari detektor tidak boleh melayani ruangan dari kedua sisi kapal juga lebih dari satu geladak dan juga tidak boleh ditempatkan pada lebih dari satu Zona vertikal utama kecuali jika disetujui Badan Pemerintah, jika dipenuhi bahwa perlindungan kapal terhadap kebakaran tidak berkurang, Badan pemerintah boleh mengizinkan seksi dari detektor tersebut melayani kedua sisi kapal dan lebih dari satu geladak. Pada kapal penumpang yang dilengkapi detektor untuk identifikasi api secara sendiri-sendiri, sebuah seksi boleh melayani ruangan-ruangan dari kedua sisi kapal dan beberapa geladak namun tidak boleh ditempatkan lebih dari satu Zona vertikal utama. 1.10 Suatu seksi dari detektor kebakaran yang melingkupi suatu stasiun kontrol, suatu ruang layanan atau suatu ruang akomodasi tidak boleh mencakup ruang mesin kategori AA@. 1.11 Detektor harus dioperasikan oleh panas, asap atau produkproduk lain hasil dari pembakaran, api, atau kombinasi dari faktorfaktor tersebut. Detektor yang dioperasikan oleh faktor-faktor lain yang pengindikasian kebakarannya dirancang khusus dapat dipertimbangkan oleh Badan Pemerintah dengan catatan bahwa detektor tersebut tidak kurang sensitifnya dari detektor sebelumnya. Detektor api hanya digunakan sebagai tambahan dari detektor asap atau panas.

Bagian A

Peraturan 4

1.12 Instruksi yang benar dan komponen cadangan untuk pengujian dan perawatan harus tersedia. 1.13 Fungsi dari sustem deteksi harus diuji secara periodik sesuai dengan ketentuan Badan Pemerintah dengan sarana perlengkapan yang memproduksi udara panas pada suhu yang tepat, atau asap atau partikel aerosol yang memiliki tingkat kepadatan yang tepat atau ukuran lain, fenomena lain yang berkaitan dengan kebakaran sesuai desain yang mampu direspon oleh detektor. Semua detektor harus dari suatu jenis yang sedemikian rupa hingga detektor tersebut dapat diuji untuk operasi secara tepat dan diperbaiki pada pengawasan normal tanpa penggantian setiap komponen. 1.14 Sistem deteksi kebakaran tidak boleh harus digunakan untuk keperluan yang lain, kecuali untuk penutupan pintu-pintu kebakaran dan fungsi-fungsi sejenis yang diizinkan pada panel kontrol.

1.15 Sistem deteksi kebakaran dengan suatu zona yang menunjukkan kemampuan identifikasi yang dipasang pada atau sesudah 1 Oktober 1994 harus disusun agar : S Jaringan induknya tidak dapat rusak pada lebih dari satu titik kebakaran. S Peralatan-peralatan yang tersedia untuk memastikan setiap kesalahan (mis. : kehilangan tenaga, hubungan singkat, pembumian) yang terjadi di dalam jaringan tidak akan menjadikan keselamatan jaringan menjadi terganggu. S Semua tata susunan dibuat untuk memungkinkan konfigurasi awal dari sistem untuk diperbaiki pada saat rusak (listrik, elektronik, informasi). S Kebakaran pertama yang membangkitkan alaram setiap detektor yang lain membangkitkan alaram kebakaran berikutnya. 2 Persyaratan instalasi

2.1 Titik panggil yang dioperasikan secara manual harus dipasang pada ruang akomodasi, ruang pelayanan dan stasiun pengontrol. Satu titik panggil yang dioperasikan secara manual harus dipasang pada setiap jalan keluar. Titik panggil yang dioperasikan secara manual harus mudah dijangkau dalam koridor pada setiap geladak sedemikian sehingga tidak ada bagian dari koridor jaraknya lebih dari 20 m dari titik panggil yang dioperasikan secara manual.

Bab II-2: Konstruksi 2.2 Detektor asap harus dipasang pada semua tangga, koridor dan jalan penyelamatan dalam ruang akomodasi. Pertimbanganpertimbangan harus diberikan untuk instalasi dari detektor asap dengan maksud khusus dalam saluran ventilasi. 2.3 Bilamana suatu sistem deteksi dan alaram kebakaran yang dipasang tetap diperlukan untuk perlindungan ruangan selain dari yang ditentukan pada Paragraf 2.2, maka sekurang-kurangnya satu detektor sesuai dengan paragraf 1.1 harus dipasang pada setiap ruangan. 2.4 Detektor harus dipasang untuk menghasilkan kinerja yang optimum. Posisi yang berada di dekat balok geladak dan saluran ventilasi atau posisi lain yang mengganggu pola aliran udara yang berakibat penurunan kinerja, dan posisi tersebut berpengaruh kuat atau merusak secara fisik sedapat mungkin harus dihindari. Pada umumnya detektor yang ditempatkan pada bagian atas harus memiliki jarak minimun sebesar 0,5 m dari sekat. 2.5 Jarak maksimum dari detektor harus sesuai dengan tabel di bawah ini:

Jenis detektor

Luas lantai maksimum setiap detektor 37 m2 74 m2

Jarak maksimum antar pusat 9m 11 m

Jarak maksimum dari sekat 4,5 m 5,5 m

Panas Asap

Badan Pemerintah dapat mempersyaratkan atau mengijinkan ruangan yang lain yang didasarkan pada data pengujian yang menggambarkan karakteristik dari detektor. 2.6 Jaringan lisrik yang merupakan bagian dari sistem harus disusun sedemikian rupa menghindari dapur, ruang mesin kategori A dan ruang tertutup yang lain dengan resiko kebakaran yang tinggi kecuali bila diperlukan untuk menyediakan deteksi kebakaran atau alaram kebakaran dalam ruangan itu atau untuk menghubungkannya dengan pasokan tenaga yang sesuai. 3 Persyaratan desain

3.1 Sistem dan perlengkapan harus didesain dengan tepat untuk menahan variasi pasokan tegangan dan transient, perubahan perubahan suhu kamar, getran, kelembaban, kejutan , pukulan, dan korosi yang biasanya terjadi di sekeliling kapal.

Bagian A

Peraturan 4

3.2 Detektor asap yang dipersyaratkan pada paragraf 2.2 harus mendapat setifikasi bisa beroperasi sebelum kepadatan asap melampaui 12,5% obkurasi (gelap) per meter ,tapi tidak sampai ketebalan asap melampaui 2% obkurasi (gelap) per meter. Detektor asap harus dipasang pada ruangan lain harus berpoperasi dalam batas sensitifitas sesuai yang disetujui Badan Pemerintah dengan mempertimbangkan menghindari yang kurang sensitif dan yang sensitifitasnya berlebihan. 3.3 Detektor panas harus mendapat sertifikasi untuk dapat beropersi sebelum suhu melampaui 780C tapi tidak sampai melebihi suhu 54 0C, Apabila temperatur pada batasan tersebut pada kecepatan kurang dari 10C per menit pada kenaikan kecepatan yang lebih tinggi ,detektor panas harus beroperasi pada rentang temperatur yang disetujui oleh Badan Pemerintah dengan mempertimbangkan menghindari sensitifitas yang kurang dan sensitifitas yang berlebihan. 3.4 Atas kebijakan dari badan pemerintah ,suhu yang diizinkan untuk beroperasinya detektor panas dapat ditambah hingga 30 0C diatas suhu geladak maksimum pada ruangan kering dan ruangan serupa dari temperatur kamar tingi yang normal. Peraturan 13 -1 Sistem deteksi contoh asap dengan hisapan ( Peraturan berlaku untuk kapal yang dibangun pada atau setelah tanggal 1 Pebruari 1997) 1 Persyaratan Umum

1.1 Dimanapun dalam teks dari peraturan ini kata "sistem" yang muncul, ini berarti sistem deteksi contoh asap dengan hisapan. 1.2 Setiap sistem yang diperlukan harus mampu beroperasi secara terus - menerus setiap saat kecuali sistem yang beroperasi atas dasar penelitian yang berturut-turut dapat diterima, dengan catatan interval antar penelitian pada posisi yang sama sebanyak dua kali ,memberikan respon waktu keseluruhan sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Pemerintah. 1.3 Pasokan daya untuk pengoperasian sistem harus dimonitor terhadap adanya kekurangan daya. Setiap kekurangan daya harus menunjukan sinyal yang dapat dilihat dan didengar pada panel kontrol dan anjungan yang akan berbeda dari sinyal yang menunjukan deteksi asap

Bab II-2: Konstruksi 1.4 Suatu daya alternatif untuk memasok perlengkapan listrik yang digunakan dalam operasi dari sistem yang harus disediakan ( diberikan ) 1.5 Panel kontrol harus dipasang dianjungan navigasi atau pada stasium kontrol kebakaran utama. 1.6 Deteksi asap atau produk lain dari pembakaran harus menunjukan sinyal yang dilihat dan didengar pada panel kontrol dan anjungan navigasi. 1.7 Informasi yang jelas harus dipampangkan atau dekat panel kontrol untuk ruangan-ruangan yang dilingkupi. 1.8 Penataan pipa pengambil contoh harus sedemikian rupa sehingga lokasi kebakaran dapat dengan mudah diidentifikasi. 1.9 Instruksi yang sesuai dan komponen cadangan disediakan untuk pengujian dan perawatan sistem. harus

1.10 Berfungsinya sistem harus diuji secara periodik sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh badan pemerintah.sistem tersebut harus dari sistem yang dapat diuji untuk operasi yang benar dan diperbaiki untuk pengawasan dalam keadaan normal tanpa penggantian setiap komponen. 1.11 Sistem harus didesain, dibangun dan dipasang sedemikian rupa untuk mencegah kebocoran dari zat - zat yang mudah terbakar atau zat - zat yang mengandung racun atau media pemadam kebakaran ke dalam ruang akomodasi dan layanan, stasiun kontrol atau ruang mesin. 2 Persyaratan instalasi

2.1 Sekurang - kurangnya satu pengumpul asap harus ditempatkan pada setiap ruangan tertutup dimana deteksi asap diperlukan, namun apabila ruangan dirancang untuk mengangkut minyak atau muatan dingin yang dapat diganti dengan muatan dimana suatu sistem contoh asap harus tersedia, sarana untuk mengisolasi akumulator asap pada suatu kompartemen untuk sistem itu. Peralatan peralatan tersebut harus sesuai dengan ketentuan Badan Pemerintah. 2.2 Pengumpul asap harus dipasang untuk mendapatkan kinerja yang optimal dan harus ditempatkan sedemikian rupa agar tak ada bagaian dari luas geladak teratas lebih dari 12 meter diukur secara horisontal dari suatu akumulator. Jika sistem yang digunakan dalam

Bagian A

Peraturan 4

ruang yang berventilasi secara mekanik, posisi dari akumulator asap harus dipertimbangkan dampaknya terhadap ventilasi. 2.3 Akumulator asap harus ditempatkan dimana dampak dari kerusakan - kerusakan fisik tak mungkin terjadi. 2.4 Tidak lebih dari empat akumulator harus dihubungkan untuk setiap tempat pengambilan contoh. 2.5 Akumulator asap berasal lebih dari satu ruangan tertutup tidak boleh dihubungkan tempat pengambilan contoh yang sama. 2.6 Pipa pengambil contoh harus dapat kering sendiri dan dilindungi secara tepat dari benturan atau kerusakan akibat pekerjaan pemuatan. 3 Persyaratan Desain.

3.1 Sistem dan perlengkapan harus didesain secara tepat untuk menahan pasokan variasi tegangan dan transient, perubahan temperatur kamar ,getaran, kelembaban , kejutan, benturan, dan korosi yang secara normal di jumpai pada kapal dan menghindari kemungkinan dari penyalaan campuran udara gas yang mudah terbakar. 3.2 Unit penginderaan harus mendapat sertifikasi untuk dapat beroperasi sebelum kepadatan asap dalam ruang penginderaan yang melampaui 6,65% obskurasi per meter. 3.3 Duplikat kipas angin ekstrasi contoh harus tersedia. Kipas angin harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk peroperasian dengan kondisi normal atau dengan ventilasi dalam ruang terlindung dan harus memberi waktu respon secara keseluruhan sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Badan Pemerintah. 3.4 Panel kontrol harus mengamati asap pada masing-masing pipa sampel. 3.5 Peralatan - peralatan harus tersedia untuk memonitori alur udara melalui pipa pengambil contoh yang didesain untuk memastikan agar sejauh mungkin sama dengan jumlah yang diperoleh dari setiap akumulator yang berhubungan. 3.6 Pipa pengambil contoh minimal harus berukuran diameter dalamnya12 mm kecuali yang digunakan pada sambungan dengan sistem pemadam kebakaran yang dipasang tetap. Jika ukuran minimal pipa cukup untuk melepaskan gas pemadam kebakaran dikeluarkan pada waktu yang tepat.

Bab II-2: Konstruksi 3.7 Pipa pengambil contoh harus tersedia dengan tata susunan yang secara periodik dibersihkan dengan udara bertekanan. Peraturan 14 Sistem deteksi dan alaram kebakaran tetap yang dipasang pada ruang mesin yang tidak dijaga secara periodik. 1 Suatu deteksi dan alaram kebakaran yang dipasang tetap dari suatu jenis yang disetujui sesuai dengan ketentuan yang sesuai dengan peraturan 13 harus dipasang pada ruang mesin tidak dijaga secara periodik. 2 Sistem deteksi kebakaran harus didesain sedemikian rupa dan demikian juga detektor harus dipasang secara tepat untuk mendeteksi serangan api dari setiap bagaian ruang tersebut dan pada kondisi normal dari operasi permesinan dan variasi dari ventilasi seperti yang dipersyaratkan untuk mencapai batas suhu kamar. Kecuali dalam ruangan yang tingginya terbatas dan yang penggunaannya untuk keperluan khusus, sistem deteksi yang hanya menggunakan detektor panas tidak diizinkan. Sistem deteksi harus membangkitkan alaram yang dapat di dengar dan dilihat harus membedakan keduanya dengan alaram dari sistem lain yang tidak menunjukan kebakaran, pada ruangan yang cukup memadai untuk menjamin bahwa alaram didengar dan diamati dari anjungan dan oleh masinis yang bertanggung jawab. Jika anjungan tidak berawak maka alaram harus berbunyi ( bersuara ) pada tempat dimana anggota awak kapal yang bertanggung jawab bertugas. 3 Setelah pemasangan sistem tersebut harus diuji sesuai dengan kondisi yang berbeda dari operasi mesin dan ventilasi .

Peraturan 15 Tata susunan bahan bakar minyak, minyak pelumas, dan bahan lain yang mudah terbakar. (paragraf 2.6 dan 3 dari peraturan ini berlaku untuk kapal yang dibangun pada atu setelah 1 Pebruari 1992) 1 Pembatasan penggunaan minyak sebagai bahan bakar.

Bagian A

Peraturan 4

Pembatasan berikut harus ditetapkan untuk penggunaan minyak sebagai bahan bakar: .1 .2 .3 Kecuali apabila diizinkan lain oleh paragraf ini,tidak boleh ada bahan bakar minyak dengan titik nyala yang kurang dari 60 oC yang digunakan.*1 Pada generator darurat bahan bakar minyak dengan titik nyala tidak kurang dari 43 oC boleh digunkan Untuk memberikan tindakan pencegahan tambahan yang dipandang perlu dan pada kondisi suhu kamar dari ruangan di mana bahan bakar itu disimpan atau digunakan tidak akan dibiarkan kenaikan suhu hingga mencapai 10 oC di bawah titik nyalanya, badan pemerintah dapat mengiizinkan penggunaan massa bahan bakar minyak yang punya titik nyala tidak kurang dari 60 oC, tapi kurang dari 43 oC Pada kapal barang penggunaan bahan bakar yang mempunyai titik nyala yang lebih rendah dari yang ditetapkan pada paragraf ini, misalnya minyak kasar , dapat diizinkan dengan catatan bahan bakar seperti itu tidak disimpan pada ruang mesin dan harus sesuai dengan persetujuan Badan Pemerintah terhadap keseluruhan instalasi.Titik nyala minyak harus ditentukan dengan persetujuan metode secara seksama.

.4

Tata susunan bahan bakar minyak

Pada kapal yang menggunakan bahan bakar minyak, tata susunan untuk pemuatan, distribusi dan penggunaan bahan bakar minyak harus sedemikian untuk menjamin agar kapal atau orang yang berada dikapal sekurang - kurangnya harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: .1 Sejauh memungkinkan, bagian - bagian dari sistem bahan bakar minyak yang memuat minyak panas bertekanan tidak melampaui 0,18 N/m2 tidak di tempatkan pada suatu tempat yang tersembunyi sehingga kerusakan dan kebocoran tidak dapat dengan mudah diamati. Ruang - ruang mesin dari bagian sistem bahan bakar harus mendapat penerangan secukupnya. .2 Ventilasi dari ruang mesin harus memadai semua kondisi normal untuk mencegah akumulasi dari uap air minyak.

1*

Mengacu pada prosedur yang direkomendasikan untuk mencegah penggunaan titik nyala yang rendah yang tidak sah atau ketentuan dari bahan bakar yang disetujui organisasi pada Resolusi A.565 (1-1)

Bab II-2: Konstruksi .3 Sejauh yang dapat diterapkan, tangki bahan bakar minyak harus menjadi bagian dari bangunan kapal dan harus ditempatkan diluar ruang mesin kategori " A " jika tangki bahan bakar minyak ,selain dari tangki dasar ganda, perlu ditempatkan didekat atau dalam ruang mesin kategori " A ", sekurang - kurangnya satu dari sisi vertikalnya harus satu bidang dengan batas ruang mesin, dan sebaiknya harus memiliki batas yang menyatu dengan batas dengan tangki dasar ganda, dan luas tangki yang berbatasan dengan ruang mesin harus dijaga dalam kondisi seminimum mungkin. Apabila tangki - tangki seperti itu diletakan berbatasan dengan ruang mesin kategori" A ",maka tangki itu tidak boleh berisi bahan bakar yang punya titik nyala kurang dari 60 oC. Secara umum penggunaan tangki bahan bakar minyak yang terpasang bebas harus dihindari, apabila tangki tangki tersebut dipasang maka penggunaanya dilarang pada ruang mesin kategori " A " dari kapal penumpang. Apabila diizinkan maka tangki tersebut harus dipasangi bak penampung ceceran minyak yang kedap dengan luasan yang cukup memiliki pipa pengering menuju ke tangki penampung yang memadai. Tidak boleh ada tangki bahan bakar minyak yang ditempatkan sedemikian rupa sehingga tumpahan atau kebocoran dapat menimbulkan bahaya akibat jatuh pada permukaan panas . Tindakan pencegahan harus diambil untuk mencegah setiap minyak yang dapat keluar akibat tekanan dari setiap pompa, filter atau pemanas yang dapat bersentuhan dengan permukaan panas. Setiap pipa bahan bakar minyak jika rusak, akan menyebabkan minyak keluar dari ruang penyimpanan,tangki layanan harian atau tangki pengendapan yang diletakan diatas dasar ganda, harus dilengkapi dengan katup atau keran pada tangki yang tertutup pada posisi aman diluar ruangan bersangkutan pada saat terjadi kebakaran yang terjadi diruang dimana tangki tersebut dipasang. Untuk hal khusus suatu tangki tinggi yang ditempatkan di atas poros atau terowongan pipa atau ruangan yang sejenis, katup pada tangki harus dilengkapi tambahan katup pada pipa atau pipa-pipa untuk kontrol bila terjadi kebakaran di luar terowongan atau ruang yang sejenis. Jika penambahan katup tersebut dipasang dalam ruang mesin maka ia harus dioperasikan pada posisi diluar ruang tersebut.

.4

.5

Bagian A .6

Peraturan 4

Peralatan -peralatan yang efisien untuk penentuan jumlah bahan bakar minyak yang dimuat pada setiap tangki bahan bakar minyak harus tersedia : .6.1Jika digunakan pipa duga maka pipa tersebut tidak boleh berakhir pada setiap ruangan dimana resiko penyalaannya tinggi, khususnya pipa duga tidak boleh berakhir ruang penumpang atau ruang awak kapal. Persyaratan secara umum pipa duga tidak boleh berakhir pada ruang mesin, akan tetapi badan pemerintah mempertimbangkan bahwa persyaratan tak dapat dilaksanakan, maka badan pemerintah boleh mengiizinkan berakhirnya pipa duga dalam ruang mesin dengan catatan semua persyaratan berikut dipenuhi : .6.1.1 sebagai tambahan, meteran minyak yang dipasang harus memenuhi persyaratan subparagraf 6.2 .6.1.2 pipa duga berakhir pada lokasi yang jauh dai penyalaan kecuali jika diambil tindakan pencegahan, seperti pemasangan sekat efektif, untuk mencegah bahan abakar minyak yang tumpah memelalui ujung pipa duga yang berhubungan dengan sumber penyalaan. .6.1.3 Ujung pipa duga dipasang dengan alat hampa yang dapat menutup sendiri dan dengan pipa cerat kontrol yang kecil yang dapat menutup sendiri diletakan di bawah alat hampa yang digunakan untuk memastikan bahwa tidak ada minyak sebelum peralatan hampa tersebut dibakar.Perlengkapan harus tersedia untuk menjamin agar setiap tumpahan dari bahan bakar minyak yangmelalui pipa cerat pengontrol tidak menimbulkan bahaya penyalaan. .6.2 Pengukur mutu minyak yang lain boleh digunakan sebgai pengganti dari pipa duga. Peralatan peralatan seperti itu sama dengan peralatan peralatan yang ditentukan pada subparagraf 6.1.1 dengan catatan persyaratan tersebut di bawah ini dipenuhi : .6.2.1 Pada kapal penumpang peralatan peralatan seperti itu tidak memerlukan penembusan di bawah puncak dan kegagalan atau pengisian yang berlebih dari tangki tidak boleh mengeluarkan bahan bakar. .6.2.2 pada kapal barang , kegagalan seperti itu atau pengisian yang berlebih dari tangki tidak memungkinkan pengaliran bahan bakar ke dalam ruangan, penggunaan gelas meteran sekunder adalah dilarang. Badan Pemerintah dapat mengiizinkan penggunaan pengukur minyak

Bab II-2: Konstruksi dengan gelas pipihr dengan katupyang dapat menutup sendiri antara pengukur dengan tangki bahan bakar. peralatan yang diuraikan pada subparagraf 6.2.1 dan 6.2.2 yang dapat diterima oleh Badan Pemerintah dipertahankan pada kondisi yang tepat untuk menjamin ketepatannya dalam pengoperasian. Peralatan harus dibuat untuk mencegah tekanan berlebih pada setiap tangki minyak atau setiap bagian dari sistem bahan bakar minyak termasuk pipa pengisian. Setiap katup pengeluaran dan pipa udara atau pipa limpah yang mengalirkan ke sutau tempat yang dianggap aman oleh Badan Pemerintah. Pipa bahan bakar minyak dan katup - katup serta peralatannya harus dari baja atau material lain yang disetujui kecuali untuk penggunaan yang terbatas pada belokan bila dianggap penting oleh Badan Pemerintah. Pipa yang mudah dibelokkan tersebut ujung - ujungnya haruslah dari material tahan api yang disetujui yang cukup kuat dan harus dibuat berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh Badan Pemerintah.

6.3

.7

.8

Tata susunan minyak pelumas

Penataan penyimpanan, distribusi dan penggunaan minyak yang digunakan dalam sistem pelumasan bertekanan harus sedemikian rupa menjamin keselamatan kapal dan orang-orang di kapal. Tata susunan yang dibuat di dalam ruang-ruang mesin kategori A dan sejauh di ruang-ruang mesin yang lain harus sekurang-kurangnya memenuhi ketentuan-ketentuan dalam paragrap 2.1, 2.4, 2.5, 2.6, 2.7 dan 2.8, kecuali apabila : .1 tidak mengesampingkan penggunaan kaca pelihat aliran di dalam sistim pelumas dengan ditunjukkan oleh pengujian bahwa kaca tersebut harus memiliki derajat ketahanan terhadap kebakaran yang memadai; pipa-pipa duga boleh diizinkan di kamar mesin; persyaratan paragraf 2.6.1.1 dan 2.6.1.3 tidak perlu diberlakukan,dengan catatan pipa duga dipasang dengan alat-alat penutupan yang sesuai. untuk minyak-minyak lain yang mudah

.2

Penataan menyala

Bagian A

Peraturan 4

Penataan penyimpanan, distribusi dan penggunaan minyak-minyak lain yang mudah menyala yang digunakan di bawah tekanan di dalam sistim-sistim transmisi tenaga, sistim kontrol dan penggerakan serta sistim-sistim pemanas harus sedemikian rupa sehingga dapat menjamin keselamatan kapal dan orang-orang di kapal. Di tempat-tempat dimana ada sumber penyalaan, tata susunan tersebut harus sekurang-kurangnya memenuhi ketentuanketentuan paragrap 2.4 dan 2.6, dan ketentuan-ketentuan paragraf 2.7 dan 2.8 yang berkaitan dengan kekuatan dan konstruksi. 5 Ruang mesin yang tidak dijaga secara periodik

Sebagai tambahan terhadap persyaratan paragrap 1 sampai 4, sistem bahan bakar minyak dan minyak pelumas harus memenuhi persyaratan berikut : .1 Bilamana perlu, pipa-pipa bahan bakar minyak dan minyak pelumas harus diberi saringan atau dilindungi dengan cara yang sesuai untuk mencegah semprotan atau tumpahan minyak ke permukaan yang panas atau ke dalam hisapan kamar mesin. Jumlah sambungansambungan sistem pipa tersebut harus seminimal mungkin dan sejauh dapat dilaksanakan, kebocorankebocoran dari pipa kebakaran tekanan tinggi harus dikumpulkan dan harus dilengkapi alarm. Bilamana tangki bahan bakar harian diisi secara otomatis, atau dengan kontrol jarak jauh,harus tersedia sarana untuk mencegah luapan atau tumpahan minyak. Perlengkapan lain yang menangani cairan-cairan yang mudah terbakar secara otomatis, misalnya purifier bahan bakar minyak yang sejauh memungkinkan dilengkapi dengan ruangan khusus yang dicadangkan untuk purifier dan pemanasannya yang memiliki pengaturan untuk mencegah ceceran dari tumpahan. Bilamana tangki harian bahan bakar atau tangki endap dilengkapi dengan alat pemanas, maka alarm suhu tinggi harus dipasang apabila titik nyala dari bahan bakar minyak dapat dilampaui.

.2

.3

Pelarangan penyimpanan minyak-minyak yang mudah terbakar di tangki ceruk haluan.

Bahan bakar minyak, minyak pelumas dan minyak lain yang mudah terbakar tidak boleh disimpan di tangki ceruk haluan.

Bab II-2: Konstruksi Peraturan 16 Sistem ventilasi pada kapal selain kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang 1 Saluran ventilasi harus dari bahan yang tidak mudah terbakar. Namun untuk saluran ventilasi pendek dengan potongan penampang melintang pada umumnya tidak lebih dari 0,02 m 2 dan panjang tidak melebihi 2 m tidak harus dari bahan yang tidak mudah terbakar, dengan catatan bahwa semua persyaratan berikut ini dipenuhi : .1 .2 .3 saluran harus dibuat dari bahan yang mempunyai resiko kebakaran rendah yang disetujui Badan Pemerintah. saluran hanya digunakan di ujung akhir dari sistem ventilasi; dan saluran tidak ditempatkan pada jarak yang kurang dari 600 mm, diukur dari bukaan divisi kelas " A " atau " B " termasuk langit-langit kelas "B" yang menerus.

2 Apabila terdapat saluran-saluran ventilasi dengan luas penampang melebihi 0,02 m 2 yang melalui sekat-sekat atau geladak kelas "A", bukaan harus dilapisi dengan selubung baja kecuali bila saluran ventilasi yang melalui sekat atau geladak tersebut di sekitar penembusannya terbuat dari baja atau sekat, saluran-saluran dan selubung baja harus memenuhi persyaratan sbb : .1 Selubung harus mempunyai ketebalan minimal 3 mm dengan panjang minimal 900 mm. Apabila melalui sekat-sekat, panjang ini harus dibagi masing-masing menjadi 450 mm pada tiap sisi sekat. Saluran-saluran ini atau selubungnya harus dilengkapi dengan isolasi yang tahan api. Setidak-tidaknya harus memiliki derajat tahan api sama dengan sekat atau geladak yang dilalui oleh saluran tersebut. Perlindungan terhadap penembusan yang sepadan dapat dilaksanakan sesuai dengan persetujuan dari Badan Pemerintah. Saluran-saluran dengan luas potongan penampang melebihi 0.075 m 2 harus dilengkapi dengan peredam api sebagai tambahan dari persyaratan paragraf 2.1. Peredam api harus beroperasi secara otomatis namun juga harus mampu ditutup secara manual baik dari kedua sisi, baik pada sekat maupun geladak. Peredam harus dilengkapi dengan indikator yang menunjukkan apakah peredam dalam keadaan terbuka atau tertutup.

.2

Bagian A

Peraturan 4 Peredam-peredam api tidak diperlukan untuk saluran yang melalui ruangan-ruangan yang dikelilingi dengan divisi-divisi kelas AA@, yang tidak melayani ruangan tersebut, asalkan saluran-saluran tersebut mempunyai integritas kebakakaran sama dengan divisi-divisi yang dilalui.

3 Saluran-saluran untuk ventilasi kamar mesin kategori A, dapur, ruang-ruang geladak mobil, ruang-ruang muat ro-ro, atau ruang-ruang yang dikategorikan khusus, tidak boleh melewati ruang akomodasi, ruang layanan atau stasiun-stasiun kontrol , kecuali apabila saluran-saluran tersebut memenuhi persyaratan yang disebutkan sub paragraf 1.1 sampai 1.4 atau 2.1 dan 2.2 di bawah ini : .1.1 saluran-saluran yang terbuat dari bahan baja yang mempunyai ketebalan paling tidak 3 mm dan 5 mm untuk saluran dengan lebar dan diameter masingmasing lebih dari 300 mm dan 760 mm, apabila saluran dengan lebar atau diameternya diantara 300 mm dan 760 mm ketebalannya diperoleh dengan interpolasi. .1.2 saluran-saluran memadai disanggah dan diperkuat secara

.1.3 saluran-saluran dilengkapi dengan peredam api otomatis yang dekat dengan lokasi penembusan; dan .1.4 saluran dari ruang mesin, dapur, ruang-ruang geladak mobil, ruang muat ro-ro atau ruang yang dikategorikan khusus diberi lapisan isolasi yang sesuai dengan standar A A-60 A. atau .2.1 saluran-saluran dibuat dari baja sesuai dengan paragrap 3.1.1 dan 3.1.2 ; dan .2.2 saluran-saluran yang melalui ruang akomodasi, ruang layanan atau stasiun kontrol diisolasi dengan standar A A-60 A. kecuali untuk penembusan pada zona divisi utama juga harus memenuhi persyaratan paragraf 8. 4 Saluran-saluran untuk ventilasi ruang akomodasi, ruang layanan atau stasiun kontrol tidak boleh melalui ruang mesin kategori A, dapur, ruang geladak mobil, ruang muat ro-ro atau

Bab II-2: Konstruksi ruang-ruang yang dikategorikan khusus, kecuali bila saluran-saluran tersebut memenuhi kondisi-kondisi seperti tercantum dalam sub paragraf 1.1 sampai 1.3 atau 2.1 dan 2.2 di bawah ini : .1.1 saluran-saluran yang melalui ruang mesin kategori A, dapur, ruang geladak mobil, ruang muat ro-ro atau ruang yang dikategorikan khusus dibuat dari baja sesuai dengan paragraf 3.1.1 dan 3.1.2. .1.2 peredam-peredam api otomatis dipasang pada lokasi yang berdekatan dengan penembusan .1.3 keutuhan dari ruang mesin, dapur ruang geladak mobil, ruang muat ro-ro atau ruang-ruang yang dikategorikan khusus dipertahankan pada lokasi penembusan atau .2.1 saluran-saluran yang melalui ruang mesin kategori A, dapur ruang geladak mobil, ruang muat ro-ro atau ruang yang dikategorikan khusus dikonstruksi dari baja sesuai dengan paragraf 3.1.1 dan 3.1.2 ; dan .2.2 saluran-saluran di dalam ruang mesin, dapur , ruang geladak mobil, ruang muat ro-ro atau ruang-ruang yang dikategorikan khusus; diberi lapisan isolasi dengan standar A A-60 A Kecuali untuk penembusan-penembusan divisi zona utama harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan paragraf 8. 5 Saluran-saluran ventilasi dengan luas penampang melebihi 0,02 m 2 yang melalui sekat-sekat kelas AB@ harus dilapisi dengan selubung baja dengan panjang 900 mm yang dibagi menjadi 450 mm pada tiap sisi sekat kecuali bila sepanjang saluran ini terbuat dari baja. 6 Sejauh dapat dilaksanakan usaha-usaha seperti tersebut di atas harus dilaksanakan untuk stasiun kontrol di luar kamar mesin untuk menjamin bahwa ventilasi, pandangan dan pembebasan dari asap dapat dipertahankan sedemikian rupa sehingga apabila terjadi kebakaran instalasi permesinan dan perlengkapan yang terdapat di dalamnya dapat diawasi dan dapat terus berfungsi secara efektif. Sarana alternatif dan terpisah untuk pasokan udara harus tersedia; masukan udara dari dua sumber pemasokan udara harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi resiko dari kedua tempat udara pemasukan tersebut pengisapan asap yang bersamaan diusahakan seminimal mungkin.Atas persetujuan Badan

Bagian A

Peraturan 4

Pemerintah, persyaratan tersebut tidak diperlukan untuk stasiun kontrol yang berada pada dan memiliki bukaan menghadap ke geladak terbuka atau apabila susunan penutupan lokal yang sama setingkat efektifitasnya. 7 Apabila saluran melalui ruang-ruang akomodasi atau ruangan yang berisi bahan-bahan yang mudah terbakar, saluran keluaran dari kompor-kompor di dapur harus terbuat dari divisi kelas "A". Tiap-tiap saluran keluar harus dilengkapi dengan : .1 .2 .3 .4 perangkap gemuk yang mudah dipindahkan untuk pembersihan peredam api yang diletakkan di ujung bawah saluran tata susunan kipas pengeluaran, yang bisa dioperasikan dan dimatikan dari dapur, dan peralatan yang dipasang tetap untuk kebakaran di dalam saluran ventilasi pemadam

Bila pada kapal penumpang perlu ada pemasangan saluran ventilasi melalui divisi zona vertikal utama, penutup otomatis yang aman dari peredam api harus dipasang berdekatan dengan divisi tersebut. Peredam tersebut juga harus dapat ditutup secara manual dari tiap sisi divisi. Posisi pengoperasian harus mudah terjangkau dan ditandai dengan lampu yang memancarkan warna merah. Saluran ventilasi diantara divisi dan peredam harus terbuat dari baja atau bahan lainnya yang sepadan dan jika perlu diberi lapisan isolasi yang memenuhi persyaratan dalam peraturan 18.1.1. Peredam harus dipasang paling tidak di satu sisi divisi dengan indikator yang bisa dilihat apakah peredam dalam posisi terbuka.

9 Saluran masuk dan keluar dari semua sistem ventilasi harus mampu ditutup dari luar ruangan yang dilayani oleh ventilasi tersebut.

Bab II-2: Konstruksi 10 Ventilasi dengan daya untuk ruang akomodasi, ruang layanan, ruang muat, stasiun-stasiun kontrol dan ruang mesin harus dapat dihentikan dari posisi yang mudah dijangkau di luar ruanganruangan yang dilayani. Posisi ini harus tidak terganggu pada waktu terjadi kebakaran di dalam ruangan yang dilayani. Sarana untuk pemberhentian ventilasi dengan daya pada kamar mesin harus benar-benar terpisah dari sarana untuk pemberhentian ventilasi ruangan-ruangan lainnya.

Peraturan 17 Kelengkapan petugas pemadam kebakaran 1 1.1 Kelengkapan petugas pemadam kebakaran harus terdiri dari : perlengkapan personil meliputi : .1 pakaian pelindung yang bahannya dapat melindungi kulit terhadap pancaran panas api dan luka-luka bakar serta panas uap. Permukaan luarnya harus tahan air. sepatu-sepatu tinggi dan sarung-sarung tangan dari karet atau bahan lain yang bukan penghantar arus listrik. sebuah helm yang kekar yang memberikan perlindungan yang efektif terhadap benturan. sebuah lampu keselamatan listrik (lampu senter) yang jenisnya disetujui dengan waktu nyala sekurangkurangnya 3 jam. sebuah kampak yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Badan Pemerintah.

.2

.3 .4

.5

1.2

Alat pernapasan yang jenisnya disetujui, yang dapat berupa : .1 sebuah masker atau kedok asap yang harus dilengkapi dengan pompa udara yang memadai dan selang udara yang cukup panjang untuk mencapai geladak terbuka, palka yang bebas atau pintu-pintu ke setiap tempat di ruang muat atau kamar mesin.

Bagian A

Peraturan 4 Jika untuk memenuhi subparagraf ini panjang selang udara yang diperlukan melebihi 36 m maka diperlukan alat bantu pernafasan yang dapat mengisi sendiri sebagai pengganti atau dilengkapi sebagai tambahan sebagaimana yang ditentukan oleh Badan Pemerintah, atau

.2

sebuah peralatan pernafasan yang dioperasikan dengan udara bertekanan yang tersimpan di dalam tabung tersendiri, volume udara di dalam silinder yang isinya harus paling tidak 1.200 liter, atu peralatan pernafasan self-contained lainnya harus mampu berfungsi paling sedikit selama 30 menit. Jumlah dari pengisi udara cadangan yang memadai untuk penggunaan peralatan yang ada, harus tersedia di atas kapal sesuai persyaratan Badan Pemerintah. Pada kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang, harus disediakan paling tidak pengisi udara cadangan untuk setiap peralatan pernafasan, dan semua silinder untuk peralatan pernafasan yang dapat ditukar-tukar.

2 Untuk tiap peralatan pernafasan harus dilengkapi sebuah tali penyelamat yang tahan api dan kuat dengan panjang yang memadai yang diikatkan denganalat gesper terhadap selempang dari peralatan tersebut atau sabuk terpisah untuk mencegah terlepasnya peralatan pernafasan saat sedang digunakan. 3 Semua kapal harus membawa paling tidak dua perlengkapan pemadam kebakaran yang sesuai dengan persyaratan pada paragraf 1. 3.1 sebagai tambahan juga harus disediakan : .1 pada kapal penumpang untuk setiap 80 m, atau sebagian darinya,dari panjang gabungan dari ruang penumpang dan ruang pelayanan yang ada di atas geladak, atau jika terdapat lebih dari satu geladak, geladak yang mempunyai panjang keseluruhan terbesar dimana terdapat ruang-ruang tersebut terbesar, dua perlengkapan pemadam kebakaran dan dua set perlengkapan personil, tiap-tiap set terdiri dari hal-hal yang disebutkan di paragraf-paragraf 1.1.1, 1.1.2 dan 1.1.3. Pada kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang, harus disediakan tambahan dua perlengkapan pemadam kebakaran untuk tiap-tiap zone vertikal utama.

Bab II-2: Konstruksi .2 pada kapal tangki dua set perlengkapan petugas pemadam kebakaran

3.2 Pada kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang, untuk tiap pasang alat pernafasan harus tersedia satu aplikator pangabut air yang harus disimpan berdekatan dengan peralatan tersebut. 3.3 Badan Pemerintah dapat mensyaratkan peralatan tambahan dari perlengkapan perorangan dan alat pernafasan, sesuai dengan ukuran dan jenis kapal. 4 Perlengkapan pemadam kebakaran atau perlengkapan personil harus disimpan di tempat yang mudah dijangkau dan siap untuk digunakan, dimana lebih dari satu perlengkapan pemadam kebakaran atau lebih dari satu set perlengkapan personil, maka harus disimpan dengan posisi terpisah jauh satu sama lainnya. Pada kapal penumpang paling tidak terdapat dua perlengkapan pemadam kebakaran dan satu set perlengkapan personil untuk pemadam kebakaran yang tersimpan dalam satu posisi. Paling tidak dua perlengkapan pemadam kebakaran tersimpan di tiap-tiap zone vertikal utama. Peraturan 18 Serba-serbi peralatan (Paragraf-paragraf 2, 4, dan 8 dari peraturan ini berlaku untuk kapalkapal yang dibangun pada atau setelah 1 Februari 1992. Paragraf 7 dari peraturan ini berlaku untuk semua kapal) 1.1 Apabila divisi-divisi kelas "A" ditembus untuk jalan lewat kabel-kabel listrik, pipa-pipa, terowongan, saluran ventilasi, dll atau penembusan melewati penumpu-penumpu,balok geladak atau bagian-bagian konstruksi lainnya, penataan harus dibuat untuk menjamin ketahanannya terhadap api tidak terpengaruh,sesuai dengan persyaratan peraturan 30.5. 1.2 Apabila divisi-divisi kelas "B" ditembus untuk jalan lewat kabel-kabel listrik, pipa-pipa, terowongan, saluran ventilasi, dll atau untuk pemasangan terminal ventilasi, rumah lampu-lampu dan peralatan yang sejenis lainnya, penataannya harus dibuat untuk menjamin ketahanannya terhadap api tidak terpengaruh. 2.1 Pipa-pipa yang menembus pada divisi-divisi kelas "A" atau "B" harus terbuat dari bahan yang disetujui oleh Badan Pemerintah

Bagian A

Peraturan 4

dengan mempertimbangkan ketahanan terhadap suhu dari divisidivisi tersebut. 2.2 Apabila Badan Pemerintah mengizinkan untuk mengalirkan minyak dan cairan-cairan yang mudah terbakar melalui ruang akomodasi dan ruang layanan, pipa-pipa yang mengalirkan minyak dan cairan yang mudah terbakar tersebut harus terbuat dari bahan yang disetujui oleh Badan Pemerintah dengan mempertimbangkan ketahanannya terhadap api. 2.3 Bahan-bahan yang mudah turun keefektifannya oleh panas tidak boleh digunakan untuk lubang-lubang pengeluaran kapal, buangan-buangan saniter, dan keluaran-keluaran lainnya yang dekat dengan garis air dan dimana apabila terjadi kerusakan bahan akibat kebakaran dapat memberikan resiko yang besar terhadap terjadinya kebocoran. 2.4 Untuk perlindungan tangki-tangki muat yang memuat minyak mentah dan produk olahan minyak yang mempunyai titik nyala kurang dari 600C, bahan-bahan yang mudah turun keefektifannya oleh panas tidak boleh digunakan untuk katup dan peralatannya, penutup bukaan tangki, pipa ventilasi tangki muat, dan pipa muatan untuk mencegah merambatnya api ke muatan. 3 Radiator-radiator listrik, jika digunakan harus dipasang tetap pada posisinya dan dibuat sedemikian rupa untuk mengurangi resiko kebakaran seminimal mungkin. Radiator-radiator tersebut tidak boleh dipasang dengan elemen yang terbuka ke kain-kain, korden atau bahan sejenis lainnya yang dapat hangus oleh panas maupun terbakar oleh panas dari elemen tersebut. 4 Film-film dari bahan dasar selulose nitrat tidak boleh digunakan untuk instalasi. 5 Semua tempat sampah harus dibuat dari bahan yang tak mudah terbakar dengan tanpa bukaan pada sisi samping atau bawah. 6 Di ruangan yang memungkinkan adanya penembusan dari produk olahan minyak, permukaan dari isolasi harus tahan terhadap minyak atau uap minyak. 7 Lemari-lemari penyimpanan cat dan cairan-cairan yang mudah terbakar harus dilindungi dengan susunan pemadam kebakaran yang sesuai dengan persetujuan Badan Pemerintah. 8 Geladak helikopter harus dari bahan baja atau yang sepadan lainnya yang tahan terhadap api. Jika ruangan di bawah geladak

Bab II-2: Konstruksi helikopter mempunyai resiko tinggi terhadap kebakaran, standar isolasi harus sesuai dengan persetujuan Badan Pemerintah. Tiaptiap fasilitas helikopter harus mempunyai manual pengoperasian , terdiri dari penjelasan dan daftar pengecekan tindakan-tindakan keselamatan, prosedur-prosedur dan persyaratan perlengkapan. Jika Badan Pemerintah mengizinkan konstruksi dari aluminium atau logam lain yang mempunyai titik lebur yang rendah yang tidak sepadan dengan baja, persyaratan-persyaratan berikut harus dipenuhi : .1 Jika platform diberi kantilever sepanjang sisi kapal, setiap kali setelah terjadi kebakaran di kapal atau di platform, platform harus menjalani analisa konstruksi untuk menentukan kesesuaiannya untuk penggunaan lebih lanjut. Jika platform diletakkan di atas rumah geladak kapal atau bagian konstruksi sejenis lainnya, kondisi-kondisi berikut harus dipenuhi : Langit-langit dari rumah geladak dan sekat-sekat di bawah platform tidak boleh mempunyai bukaanbukaan Semua jendela di bawah platform harus disediakan penutup baja Perlengkapan pemadam kebakaran yang diperlukan harus sesuai dengan persetujuan Badan Pemerintah Setelah terjadi kebakaran di platform atau sekitarnya, platform harus menjalani analisa konstruksi untuk menentukan kesesuaiannya untuk penggunaan lebih lanjut.

.2

.2.1

.2.2 .2.3 .2.4

Peraturan 19 Sambungan darat Internasional*1 1 Kapal-kapal 500 GT ke atas harus dilengkapi paling tidak satu sambungan darat internasional, sesuai dengan persyaratan paragraf 3. 2 Fasilitas-fasilitas yang tersedia harus memungkinkan sambungan tersebut digunakan pada kedua satu sisi kapal.

1 * Mengacu pada resolusi A.470(XII) mengenai sambungan darat international (sisi darat)

Bagian A

Peraturan 4

3 Ukuran flensa standar disambungan darat internasional harus sesuai dengan tabel berikut :

Deskripsi Diameter luar Diameter dalam Diameter lingkaran luar Lubang pada flensa

Dimensi 178 mm 64 mm 132 mm 4 lubang dengan diameter 19 mm dengan jarak yang sama, baut dengan diameter tersebut di atas diikatkan pada sekeliling flensa. minimum 14.5 mm Empat, masing-masing diameter 16 mm, panjang 50 mm

Ketebalan flensa Baut dan mur

Bab II-2: Konstruksi

4 Sambungan harus terbuat dari baja atau dari bahan lain yang memadai dan didesain untuk pemakaian 1.0 N / m 2. Flensa harus mempunyai permukaan yang rata pada satu sisi dan sisi lainnya harus terpasang secara tetap terhadap kopling yang cocok dengan hidran dan selang kapal. Sambungan harus disimpan di kapal bersama dengan paking dari bahan yang sesuai untuk pemakaian 1.0 N/mm2, bersama dengan 4 baut yang berdiameter 16 mm, panjang 50 mm dan 8 ring pegas. Peraturan 20 Denah kontrol kebakaran*1dan latihan pemadaman kebakaran. (Peraturan ini berlaku untuk semua kapal) 1 Untuk semua kapal gambar rencana umum sebagai petunjuk untuk perwira kapal harus dipampangkan secara tetap yang memperlihatkan dengan jelas stasiun kontrol pada tiap-tiap geladak, berbagai seksi kebakaran yang tertutup oleh divisi kelas "A", seksiseksi yang tertutup oleh divisi kelas "B" bersama sistem pendeteksian dan alarm kebakaran, instalasi pemercik air, peralatan pemadam kebakaran, jalan-jalan keluar ke kompartemenkompartemen yang berbeda, geladak-geladak, dll, dan sistem ventilasi yang meliputi posisi-posisi kontrol kipas ventilasi, peredam-peredam dan nomer-nomer identifikasi kipas-kipas ventilasi yang melayani tiap seksi. Sebagai pengganti, atas persetujuan Badan Pemerintah, rincian sebagaimana yang disebutkan di atas boleh dibuat dalam bentuk buku, satu salinan diberikan ke tiap perwira kapal, dan satu salinan harus tersedia setiap saat pada posisi yang sering dimasuki. Gambar-gambar rancangan dan buku-buku harus senantiasa diperbaharui, berbagai pergantian dicatat sesegera mungkin. Keterangan-keterangan pada gambar rancangan dan buku-buku tersebut harus dalam bahasa resmi negara bendera. Jika bahasa bendera tersebut bukan bahasa Inggris atau bahasa Perancis, terjemahan ke dalam salah satu bahasa tersebut harus diikutkan. Sebagai tambahan, instruksiinstruksi mengenai pemeliharaan dan pengoperasian dari semua perlengkapan dan intalasi di atas kapal untuk pemadam kebakaran dan isi peralatan api harus berada dalam satu sampul, yang tersedia dalam keadaan lengkap dalam posisi yang mudah dijangkau. 2 Dalam semua kapal satu set salinan dari perencanaan kontrol kebakaran atau suatu buku yang berisikan rencana-rencana tersebut harus disimpan secara tetap di dalam penutup kedap cuaca yang

1*

Mengacu pada resolusi A.654(16) berkenaan simbol-simbol grafis terhadap rencana kontrol kebakaran

Bagian A

Peraturan 4

diletakkan di luar rumah geladak sebagai bukti bagi personil 1 pemadam kebakaran dari darat.

3 Latihan-latihan pemadam kebakaran harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan peraturan III/18. 4 Pada kapal-kapal yang mengangkut lebih dari 36 penumpang, gambar-gambar perencanaan dan buku-buku yang disyaratkan oleh peraturan ini harus berisikan informasi perihal perlindungan terhadap kebakaran, pendeteksian dan pemadam kebakaran yang 2 didasarkan pada pedoman yang telah diterbitkan oleh Organisasi. Peraturan 21 Kesiapan tersedianya peralatan pemadam kebakaran (Peraturan ini berlaku untuk semua kapal) Peralatan pemadam kebakaran harus disimpan dengan dan sedemikian rupa hingga setiap saat dapat dipergunakan dengan cepat. Peraturan 22 Persetujuan pergantian perlengkapan 1 Peraturan ini berlaku untuk semua kapal.

2 Apabila di dalam bab ini terdapat suatu jenis khusus dari peralatan, perlengkapan, media pemadam atau penataan yang dikhususkan untuk kapal khusus, suatu jenis yang lain dari peralatan, dll, dapat diizinkan, sepanjang keeffektifan dari peralatanperalatan tersebut dapat dibuktikan oleh Badan Pemerintah.

1 Mengacu

pada MSC/Circ/451,Pedoman berkenaan dengan penempatan rencana kontrol kebakaran untuk bantuan terhadap personil pemadam kebakaran di darat

2 Mengacu pada pedoman-pedoman

informasi yang disediakan pada rencana dan buku-buku yang disyaratkan oleh SOLAS peraturan 11-2/20 dan 41-2 yang diadopsi oleh Organisasi oleh resolusi A.756(18)

Part B Tindakan penyelamatan terhadap bahaya kebakaran untuk kapal penumpang


Peraturan 23 Konstruksi 1 Lambung, bangunan atas, konstruksi sekat, geladak, dan rumah geladak harus dibuat dari baja atau bahan lainnya yang sepadan. Untuk maksud ini definisi baja atau bahan lain yang sepadan diberikan pada peraturan 3.7 "pemakaian paparan api" harus sesuai dengan standar keutuhan dan pemberian lapisan yang diberikan dalam tabel-tabel peraturan 26 dan 27. Sebagai contoh, apabila divisi-divisi seperti geladak-geladak atau sisi dan ujungujung rumah geladak diizinkan memiliki standar keutuhan kebakaran "B-0", "pemakaian paparan api" harus setengah jam. 2 Namun, apabila suatu bagian dari konstruksi dibuat dari paduan Aluminium, maka hal-hal berikut ini harus diterapkan : .1 Pengisolasian dari komponen-komponen yang dibuat dari paduan Aluminium untuk divisi kelas "A" atau "B", kecuali konstruksi yang menurut pendapat Badan Pemerintah, adalah bagian konstruksi tanpa memikul beban, harus sedemikian sehingga suhu pada inti konstruksi tidak meningkat lebih dari 2000C di atas suhu kamar setiap saat selama pemakaian paparan api untuk standar pengujian kebakaran. Perhatian khusus harus diberikan terhadap pemberian lapisan komponen-komponen paduan Aluminium kolomkolom, penyangga, dan bagian konstruksi lainnya yang diperlukan untuk menyangga sekoci penolong dan rakit penyelamat, di daerah embarkasi dan peluncuran, dan divisi-divisi kelas "A" dan "B" untuk menjamin : Bahwa bagian konstruksi yang menyangga daerah sekoci dan rakit penyelamat dan divisi kelas "A", pembatasan kenaikan suhu yang ditetapkan di dalam

.2

.2.1

paragaraf 2.1 harus diterapkan pada akhir satu jam ; dan .2.2 Untuk bagian konstruksi yang diperlukan untuk menyangga divisi kelas "B", pembatasan kenaikan suhu yang ditetapkan di dalam paragarap 2.1 diterapkan pada akhir setengah jam.

3 Bagian atas dan selubung kamar mesin kategori A harus dibuat dari baja dengan lapisan isolasi yang memadai dan bukaanbukaan pada ruang tersebut, jika ada, harus disusun dengan tepat dan dilindungi untuk mencegah penjalaran api. Peraturan 24 Zona-zona vertikal utama dan zona-zona horisontal utama 1.1 Pada kapal-kapal yang mengangkut lebih dari 36 penumpang, lambung, bangunan atas dan rumah-rumah geladak harus dibagi menjadi zone vertikal utama divisi kelas AA-60". Undakan dan lubang harus seminimal mungkin, bila perlu hal tersebut juga harus terbuat dari kategori divisi kelas AA-60". Apabila kategori ruangan 26.2.2 (5) , 26.2.2(9) , atau 26.2.2 (10) berada pada satu sisi dari divisi, maka standarnya dapat dikurangi menjadi "A-0". 1.2 Untuk kapal-kapal pengangkut tidak lebih dari 36 penumpang, lambung, bangunan atas dan rumah-rumah geladak di daerah ruang akomodasi dan layanan harus dibagi menjadi zona vertikal utama divisi kelas AA@. Divisi-divisi ini harus mempunyai nilai lapisan isolasi yang sesuai dengan tabel-tabel dalam peraturan 27. 2 Sejauh kondisi memungkinkan, sekat-sekat yang merupakan pembatas-pembatas zona vertikal utama, di atas sekat geladak harus segaris dengan sekat-sekat subdivisi kedap air yang terletak di bawah geladak sekat tersebut. Panjang dan lebar zona vertikal utama dapat diperpanjang sampai pada maksimum 48 m agar ujung-ujung zona vertikal utama dapat dibuat bertepatan dengan sekat-sekat subdivisi yang kedap air atau agar dapat membuat ruang-ruang publik yang besar yang terbentang pada keseluruhan panjang zona vertikal utama, dengan catatan luas total dari zona vertikal utama tidak boleh lebih besar dari 1.600 m 2 di atas geladak. Panjang atau lebar zona vertikal utama adalah jarak maksimum antara titik-titik terjauh dari sekat-sekat yang membatasinya. 3 Sekat-sekat tersebut harus menerus dari geladak ke geladak dan ke kulit lambung atau pembatas-pembatas lainnya. 4 Apabila zona vertikal utama dibagi-bagi oleh divisi-divisi horisontal kelas "A" menjadi zona-zona horisontal dengan tujuan

sebagai perintang antara zona-zona pada kapal yang dilengkapi pemercik air dan yang tidak dilengkapi pemercik air, divisi-divisi haruslah membentang antara sekat-sekat zona vertikal utama yang berdekatan dan ke lambung atau pembatas luar kapal dan harus diberi isolasi sesuai dengan nilai isolasi dan keutuhan terhadap kebakaran yang diberikan dalam tabel 27.2. 5.1 Pada kapal-kapal yang didesain untuk penggunaan khusus, seperti kapal ferry mobil atau kapal ferry kereta api, dimana persyaratan tentang sekat-sekat zona vertikal utama akan merubah fungsi kapal-kapal tersebut, maka harus disediakan peralatan yang sepadan sebagai pengganti dan yang telah disetujui secara khusus oleh Badan Pemerintah untuk mengontrol dan membatasi kebakaran. 5.2 Namun pada kapal dengan ruang-ruang kategori khusus, maka ruang tersebut itu sepanjang bisa diterapkan harus sesuai dengan persyaratan peraturan 37, dan sepanjang pemenuhan persyaratan dari bagian ini tidak dilakukan secara konsisten, maka peraturan 37 harus diberlakukan. Peraturan 25 Sekat-sekat di dalam zona vertikal utama 1.1 Untuk kapal-kapal yang mengangkut lebih dari 36 penumpang, semua sekat yang tidak dipersyaratkan sebagai divisi kelas AA@ harus paling tidak kelas AB@ atau kelas AC@ sebagaimana yang dinyatakan dalam tabel-tabel peraturan 26. 1.2 Untuk kapal-kapal yang mengangkut tidak lebih dari 36 penumpang, semua sekat di dalam ruang akomodasi dan layanan yang tidak dipersyaratkan sebagai divisi kelas AA@ harus paling tidak divisi kelas AB@ atau kelas AC@ sebagaimana yang dinyatakan dalam tabel-tabel peraturan 27. 1.3 Semua divisi tersebut dapat dihadapkan dengan bahan yang mudah terbakar sesuai dengan ketentuan peraturan 34. 2 Untuk kapal-kapal yang mengangkut lebih dari 36 penumpang, semua sekat lorong yang tidak dipersyaratkan sebagai divisi kelas AA@ harus dari divisi kelas AB@ yang menerus dari geladak ke geladak, kecuali : .1 Apabila langit-langit atau pelapis kelas AB@ yang menerus dipasang di kedua sisi sekat, bagian sekat di belakang langit-langit yang menerus atau pelapis harus dari bahan yang ketebalan dan komposisinya dapat

disetujui untuk pembuatan divisi-divisi kelas AB@, namun pemenuhannya terhadap standar keutuhan terhadap kebakaran kelas AB@ hanya sejauh yang bisa dilaksanakan dan beralasan sesuai pendapat dari Badan Pemerintah. .2 Dalam hal kapal dilindungi dengan sistem pemercik air otomatis yang memenuhi persyaratan peraturan 12, material sekat lorong kelas AB@ boleh dapat berakhir di langit-langit di dalam lorong dengan catatan bahwa bahan dari langit-langit tersebut ketebalan dan komposisinya dapat disetujui untuk konstruksi divisi kelas AB@. Tanpa mengurangi persyaratan peraturan 26 dan 27, sekat dan langit-langit tersebut yang disyaratkan untuk memenuhi standar integritas kelas AB@ hanya berlaku sepanjang bisa dilaksanakan dan beralasan sesuai pendapat Badan Pemerintah. Semua pintu dan penegar pada sekat-sekat tersebut harus dari bahan yang tidak mudah terbakar dan harus dibuat dan dirakit sedemikian hingga mempunyai ketahanan yang cukup terhadap kebakaran sesuai dengan persetujuan Badan Pemerintah.

3 Semua sekat yang dipersyaratkan sebagai divisi kelas AB@, kecuali sekat-sekat lorong yang dinyatakan pada paragraf 2, harus menerus dari geladak ke geladak dan ke lambung atau bagian pembatas lainnya kecuali bila langit-langit atau pelapis-pelapis kelas AB@ yang menerus dipasang pada kedua sisi sekat paling tidak sama derajat ketahanannya terhadap api dengan sekat, dalam hal ini sekat boleh berakhir pada langit-langit atau pelapis yang menerus. Peraturan 26 Keutuhan sekat dan geladak terhadap kebakaran pada kapal yang mengangkut lebih dari 36 penumpang (paragraf 2.2(7) dan 2.2(13) dari peraturan ini berlaku untuk kapalkapal yang dibangun pada atau setelah 1 Pebruari 1992) 1 Sebagai tambahan untuk memenuhi persyaratan khusus terhadap keutuhan (integritas) sekat dan geladak terhadap kebakaran yang disebutkan di bagian ini, keutuhan terhadap kebakaran minimal untuk sekat dan geladak ditentukan dalam tabel 26.1 s/d 26.4. Apabila sehubungan dengan susunan dari konstruksi kapal, terdapat kesulitan untuk menentukan dari tabel nilai keutuhan kebakaran minimun dari beberapa divisi, nilai tersebut harus ditentukan berdasarkan persetujuan Badan Pemerintah.

Persyaratan berikut mengatur penggunaan tabel : .1 Tabel 26.1 berlaku untuk sekat-sekat yang tidak membatasi zona vertikal utama maupun zona horisontal utama. Tabel 26.2 berlaku untuk geladak-geladak yang tidak berundak di zona vertikal utama atau zona horisontal utama Untuk menentukan standar keutuhan terhadap kebakaran yang tepat untuk diterapkan pada pembatas antara ruang-ruang yang berdekatan, ruang-ruang tersebut diklasifikasikan sesuai dengan resiko kebakaran seperti ditunjukkan dalam kategori (1) s/d (14) di bawah ini. Yang apabila isi dan kegunaan dari ruangan-ruangan tersebut terdapat keragu-raguan dalam pengklasifikasiannya untuk maksud dari peraturan ini, ruangan tersebut harus diperlakukan sebagai ruangan dalam kategori yang relevan yang mempunyai persyaratan yang lebih berat sebagai dinding pembatas. Penamaan dari tiap-tiap kategori yang dimaksudkan hanya sebagai pembedaan ciri khas dan bukan sebagai pelarangan. Angka yang ada di dalam tanda kurung di depan tiap-tiap kategori mengacu pada pemakaian kolom dan baris dalam tabel. (1) Stasiun-stasiun kontrol Ruangan yang berisi sumber-sumber daya dan penerangan darurat. Ruang kemudi dan kamar peta. Ruangan yang berisi perlengkapan radio kapal. Ruangan pemadam kebakaran, kontrol kebakaran dan stasiun-stasiun pencatat kebakaran. Ruang kontrol untuk mesin propulsi apabila diletakkan di luar ruang mesin penggerak. Ruangan yang berisi peralatan alarm kebakaran terpusat. Ruangan yang berisi stasiun dan peralatan sistem pemanggilan umum darurat terpusat. Tangga-tangga tapak Tangga-tangga tapak di dalam, elevator dan eksalator (selain dari yang seluruhnya terdapat di dalam ruang-ruang mesin) untuk penumpang dan awak kapal serta ruangan-ruangan yang dibatasi untuk tujuan itu. Dalam hubungan ini, tangga tapak yang tertutup hanya di satu tinkat saja harus dianggap sebagai

.2

(2)

(3) (4)

bagian dari ruangan yang tidak terpisahkan oleh pintu kebakaran. Lorong-lorong Lorong-lorong penumpang dan awak kapal Stasiun evakuasi dan rute penyelamatan diri di luar. Daerah penyimpanan rakit penolong (survival craft). Ruangan geladak-geladak terbuka dan tempat untuk berjalan-jalan yang dipagari yang merupakan stasiun embarkasi sekoci dan rakit penyelamat dan stasiun penurunan. Tempat berkumpul, di dalam dan di luar. Tangga-tangga luar dan geladak terbuka yang digunakan untuk rute penyelamatan diri. Sisi kapal sampai ke garis air dalam kondisi pelayaran kosong, samping bangunan atas dan rumah geladak yang terletak dibawah dan berdekatan dengan rakit penolong dan evakuasi ke daerah embarkasi dengan meluncur. Ruangan geladak terbuka Ruangan geladak terbuka dan tempat-tempat untuk berjalan-jalan yang dipagari yang bebas dari stasiun-stasiun embarkasi dan penurunan sekoci penolong dan rakit penolong. Ruang angin-angin (ruangan di luar bangunanbangunan atas dan rumah-rumah geladak). Ruang-ruang akomodasi dengan resiko kebakaran yang kecil Kabin-kabin yang berisi perabot rumah tangga dan perlengkapan rumah tangga dengan resiko kebakaran terbatas. Kantor-kantor dan apotik-apotik yang berisi perabot rumah tangga dan perlengkapan rumah tangga dengan resiko kebakaran terbatas. Tempat-tempat umum yang berisi perabot rumah tan gga dan perl eng kap an rum ah tan gga

(5)

(6)

den gan resi ko keb aka ran terb ata s dan lua s gel ada kny a kur ang dari 50 m2 . (7) Ruang-ruang akomodasi dengan resiko kebakaran sedang Sama seperti (6) di atas , tetapi berisi perabot rumah tangga dan perlengkapan rumah tangga yang bukan dengan resiko kebakaran terbatas. Tempat-tempat umum yang berisi perabot rumah tangga dan perlengkapan rumah tangga dengan resiko kebakaran terbatas dan luas geladaknya 50 m 2 dan lebih. Lemari-lemari dan gudang-gudang kecil yang terpencil di dalam ruang-ruang akomodasi yang mempunyai luas kurang dari 4 m 2 (yang mana tersimpan cairan-cairan yang mudah terbakar). Toko-toko. Ruangan pemutaran dan penyimpanan film. Dapur (yang tidak berisi nyala api terbuka). Lemari-lemari perabot pembersihan (di dalamnya tidak disimpan cairan-cairan yang mudah menyala). Laboratorium (di dalamnya tidak disimpan cairancairan yang mudah menyala). Apotik. Kamar-kamar pengeringan kecil (memiliki luas geladak 4 m 2 atau kurang). Kamar-kamar untuk menyimpan bumbu-bumbu.

Kamar pengoperasian. (8) Ruang-ruang akomodasi dengan resiko kebakaran yang lebih besar Ruang-ruang umum yang berisi perabot rumah tangga dan perlengkapan rumah tangga selain daripada dengan resiko kebakaran terbatas dan memilik luas geladak 50 m2 atau lebih. Tempat-tempat pangkas rambut dan salon-salon kecantikan. Ruang-ruang saniter dan ruang-ruang sejenis Fasilitas-fasilitas saniter, kamar mandi pancuran air, kamar mandi-kamar mandi berendam, kamarkamar kecil umum, dll. Kamar-kamar penatu kecil. Daerah kolam renang tertutup Ruang-ruang penyediaan tanpa perlengkapan untuk masak yang terpisah di dalam ruang-ruang akomodasi. Fasilitas-fasilitas saniter khusus harus dianggap sebagai sebagian dari ruangan dimana fasilitas khusus tersebut berada.

(9)

(10) Tangki-tangki, ruang-ruang kosong dan ruangruang mesin bantu dengan resiko kebakaran kecil atau tanpa resiko kebakaran. Tangki-tangki air yang merupakan bagian dari bangunan kapal. Ruang-ruang kosong dan tangki-tangki koferdam. Ruang-ruang mesin bantu yang berisi mesin yang tidak memiliki sistem pelumasan tekan dan dimana penyimpanan zat-zat yang dapat terbakar di tempat itu dilarang, seperti : Kamar kipas ventilasi dan pengaturan udara; kamar mesin jangkar; kamar instalasi kemudi; ruang perlengkapan sayap penyeimbang; kamar motor penggerak listrik; ruangan yang berisi papan-papan hubung dan perlengkapan listrik selain transformator listrik yang berisi minyak (di atas 10 kVA); terowongan-terowongan poros dan terowongan-terowongan pipa; ruang-ruang pompa dan mesin pendingin (tidak menangani atau menggunakan cairan-cairan yang mudah menyala). Tabung-tabung tertutup yang melayani ruang-ruang tersebut di atas. Tabung-tabung tertutup lain, seperti tabung-tabung pipa dan kabel.

(11) Ruang-ruang mesin bantu, ruang-ruang muatan, tangki muatan, tangki-tangki minyak lain dan ruangruang lain yang serupa dengan resiko kebakaran sedang. Tangki-tangki muatan minyak. Ruang-ruang muatan, lubang-lubang tabung dan lubang-lubang palkah. Kamar-kamar yang didinginkan. Tangki-tangki bahanbakar minyak (yangditempatkan di dalam ruangan terpisah tanpa mesin). Terowongan poros dan terowongan pipa yang memungkinkan untuk menyimpan zat-zat yang mudah terbakar. Ruang-ruang mesin bantu sebagaimana di dalam kategori (10) yang berisi mesin dengan pelumasan tekan atau tempat yang boleh untuk menyimpan zat-zat yang dapat terbakar. Stasiun-stasiun pengisian bahan bakar minyak. Ruangan yang berisi turbin uap dan mesin uap torak penggerak generator bantu dan motor-motor bakar kecil dengan daya sampai 110 kW yang menjalankan generator-generator darurat, pompapompa pemercik, pompa penyiram atau pompa kebakaran, pompa-pompa lensa, dll. Tabung-tabung tertutup yang melayani ruangan tersebut di atas. (12) Ruang-ruang permesinan dan dapur induk Kamar mesin propulsi utama (selain kamar motor listrik penggerak kapal) dan kamar-kamar ketel. Ruang-ruang mesin bantu selain yang disebutkan di dalam kategori (10) dan (11) yang berisi permesinan motor bakar atau instalasi pembakaran minyak, pemanas atau pompa. Dapur-dapur induk dan tambahan-tambahannya. Tabung-tabung dan selubung-selubung ke ruangan tersebut di atas. (13) Gudang-gudang, bengkel-bengkel, ruang-ruang penyiapan, dll Ruang-ruang penyiapan utama yang tidak merupakan tambahan dari dapur-dapur. Ruang penatu utama. Kamar-kamar pengering besar (memilik luas geladak lebih dari 4 m2). Berbagai gudang.

Kamar-kamar pos dan bagasi. Ruangan tempat sampah. Bengkel-bengkel (bukan bagian dari ruang mesin, dapur-dapur, dll). Lemari-lemari dan gudang-gudang yang mempunyai luas lebih besar dari 4 m 2, selain dari ruangan yang mempunyai persyaratan untuk penyimpanan cairan yang mudah terbakar. (14) Ruangan lain yang dalamnya dimuat cairan-cairan yang mudah menyala. Kamar-kamar lampu. Gudang-gudang cat. Gudang-gudang yang berisi zat-zat cair yang dapat menyala (termasuk bahan pewarna, obat-obatan, dsb.). Laboratorium (di dalam mana ditempatkan cairancairan yang mudah menyala). .3 Apabila nilai tunggal ditunjukkan untuk integritas kebakaran dari pembatas antara dua ruangan, nilai tersebut berlaku untuk semua hal. Terlepas dari ketentuan-ketentuan peraturan 25 bab ini, tidak ada syarat-syarat khusus untuk bahan-bahan atau integritas batas jika di dalam tabel hanya tertera garis datar. Badan Pemerintah, harus memutuskan berkenaan dengan ruangan kategori (5), apakah nilai-nilai isolasi dalam tabel 26.1 itu harus diberlakukan kepada ujungujung dari rumah geladak dan bangunan atas, dan apakah nilai-nilai isolasi dalam tabel 26.2 itu harus diberlakukan pada geladak cuaca. Tiada suatu syaratpun dari kategori (5) tabel 26.1 atau 26.2 mengharuskan penutupan ruangan yang menurut pendapat Badan Pemerintah tidak perlu ditutup.

.4

.5

3 Langit-langit atau pelapis-pelapis kelas AB@ yang menerus, dalam hubungannya dengan geladak-geladak atau sekat-sekat yang sesuai, dapat diterima sebagai bagian yang secara menyeluruh atau sebagian atas isolasi dan integritas suatu pemisah yang disyaratkan. 4 Dalam menyetujui rincian-rincian perlindungan konstruksi terhadap kebakaran, Badan Pemerintah harus memperhatikan resiko atas transmisi panas di titik potong dan akhir dari penghalangpenghalang panas yang disyaratkan.

Bagian B Peraturan 41-1, 41-2

Bagian B

Peraturan 26

Tabel 26.2 - Geladak yang bukan merupakan undakan di zona-zona vertikal utama maupun zona-zona pembatas horisontal Spaces below Space above (1) (2) (3) (4) (5) (6)
Control stations Stairways Corridors Evacuation stations and external escape routes Open deck spaces Accommodation spaces of minor fire risk Accommodation spaces of moderate fire risk Accommodation spaces of greater fire risk Sanitary and similar spaces Tanks, voids and auxiliary machinery spaces having little or no fire risk (1) A-30 (2) A-0 (3) A-15 (4) A-0 (5) A-0 (6) A-60 (7) A-60 (8) A-60 (9) A-0 (10) A-0 (11) A-30 A-0 A-0 A-0 A-0 A-15 A-15 A-15 A-0 A-0 A-15 __ A-0a A-0 A-0 A-0 A-15 A-15 A-0 A-0 A-0 A-0 A-60 A-0 A-0 A-60 A-60 A-60 A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 __ __ A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 A-15 A-0 A-0

Auxiliary machinery spaces, cargo spaces, cargo and other oil tanks and other similar spaces of moderate fire risk A-60 A-60 A-60 A-60 A-0 A-0 (12) A-60 Machinery spaces and main galleys A-60 A-60 A-60 A-0 A-60 (13) A-60 Store rooms, workshops, pantries, etc. A-30 A-15 A-60 A-0 A-15 (14) Other spaces in which flammable liquids are stowed A-60 A-60 A-60 A-60 A-0 A-30 Catatan:(Diterapkan untuk tabel 26.1 sampai 26.2, yang sesuai). a. Bilamana ruang yang berdekatan merupakan kategori dan superscripta yang sama muncul, sekat atau geladak diantara ruang-ruang tersebut tidak perlu dipasang jika dianggap tidak perlu. Sebagai contoh pada ketegori (12) sebuah sekat tidak perlu dipersyaratkan untuk daerah antara dapur dan pantri tambahan yang dilengkapi dengan sekat pantri dan geladak untuk mempertahankan kekedapan dari pembatas dapur. Namun sebuah sekat harus dipersyaratkan pada daerah antara dan ruang mesin meskipun kedua ruang tersebut merupakan kategori (12). b. Sisi kapal untuk garis air pada kondisi pelayaran yang paling ringan, sisi bangunan atas dan rumah geladak diletakkan di bawah yang bedekatan dengan sekoci dan slide evakuasi dapat dikurangi menjadi AA-30". c. Bilamana toilet umum dipasang secara sempurna dengan dilengkapai tangga, maka sekat toilet umum tersebut dapat dianggap sebagai kekedapan kelas AB@.

Bab II-2: Konstruksi Peraturan 27 Integritas kebakaran sekat dan geladak mengangkut lebih dari 36 penumpang pada kapal yang

(paragraf 2.2(5) dan 2.2(9) dari peraturan ini berlaku untuk kapalkapal yang dibangun pada atau setelah 1 Februari 1992) 1 Sebagai tambahan untuk memenuhi persyaratan khusus terhadap integritas kebakaran sekat dan geladak yang diterangkan tersebar dalam bab ini, integritas kebakaran minimal untuk sekat dan geladak ditentukan dalam tabel 27.1 dan tabel 27.2. 2 Persyaratan berikut mengatur penggunaan tabel : .1 Tabel 27.1 dan 27.2 berturut-turut berlaku untuk sekatsekat dan geladak yang memisahkan ruangan-ruangan yang berdekatan. Untuk menentukan standar integritas kebakaran yang tepat untuk diterapkan pada divisi antar ruangan-ruangan yang berdekatan ruangan tersebut diklasifikasi sesuai dengan resiko kebakaran sebagaimana yang dikategorikan (1) s/d (11) di bawah ini. Penamaan dari masing-masing kategori dimaksudkan hanya sebagi pembedaan ciri khas dan bukan sebagai pelarangan. Nomor yang ada di dalam tanda kurung di depan masing-masing kategori merujuk ke pemakaian kolom dan baris dalam tabel. (1) Stasiun pengawas Ruangan yang berisi sumber-sumber daya darurat dan penerangan darurat. Ruang kemudi dan kamar peta. Ruangan yang berisi perlengkapan radio kapal. Ruangan pemadam kebakaran, pengawas dan pencatat kebakaran. Ruang kontrol untuk mesin propulsi bilamana ditempatkan di luar ruang mesin propulsi. Ruangan yang berisi peralatan alarm kebakaran terpusat. Lorong-lorong Lorong-lorong penumpang dan awak kapal, dan ruang duduk. Ruang akomodasi

.2

(2)

(3)

Bagian B

Peraturan 26

Ruangan sebagaimana yang didefinisikan pada peraturan 3.10 selain lorong-lorong. Tabel 27.1 - Integritas kebakaran untuk sekat pemisah ruang-ruang yang berdekatan
Spaces Control stations Corridors Accommodation spaces Stairways Service Spaces (low risk) Machinery spaces of category A Other machinery spaces Cargo spaces Service spaces (high risk) Open deck spaces category Special spaces (1) (1) A-0c (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) __ A-0 A-0
b

(2) A-0 Cc

(3)

(4)

(5) A-0 B-0c B-0 A-0a B-0c


c

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11) A-60 A-15 A-30 A-0d A-15 A-0 A-60 A-0 A-0 A-30 A-0 A-0

A-60 A-0 A-0a B-0c B-0c A-0a Cc B-0c A-0a B-0c

A-60 A-15 A-60 A-60 A-15 A-60 A-0 A-0 A-0d A-15 A-60 A-0 A-0 A-0d A-15 A-60 A-0 A-0 A-0d A-60 A-0 A-0 A-0 A-0 A-0

A-60 A-0 A-0 A-0b

Catatan : Diterapkan untuk tabel 27.1 dan 27.2, yang sesuai. a.

b.

c.

d. e.

f.

Untuk klarifikasi yang mana berlaku, lihat peraturan 25 dan 29. Dimana ruang-ruang yang sama kategori numeriknya dan superskrip b muncul, sekat atau geladak yang ditunjukkan di dalam tabel hanya disyaratkan apabila ruang-ruang yang berdekatan adalah untuk tujuan yang berbeda, sebagai contoh dalam kategori (9). Dapur yang berdampingan dengan dapur tidak perlu sekat namun dapur yang berdampingan dengan ruang cat perlu sekat AA-0". Sekat pemisah ruang kemudi dan kamar peta satu sama lain boleh AB-0". Lihat peraturan 2.3 dan 2.4. Untuk pemakaian peraturan 24.1.2, AB-0" dan AC@, dimana muncul di dalam tabel 27.1, harus dibaca sebagai AA-0". Untuk pengisolasian kebakaran tidak perlu dipasang jika ruang mesin dalam kategori (7), menurut pendapat Badan Pemerintah, mempunyai resiko kebakaran kecil atau tidak ada.

Bab II-2: Konstruksi

Dimana tanda asterik muncul di dalam tabel, divisi disyaratkan dari baja atau bahan lainnya yang sepadan tapi tidak disyaratkan menjadi standart kelas AA@. Untuk pemakaian peraturan 24.1.2 tanda asterik, dimana muncul di dalam tabel 27.2, kecuali untuk kategori (8) dan (10), harus dibaca sebagai AA-0".
(4) Tangga-tangga tapak Tangga-tangga tapak di dalam, elevator dan eksalator (selain dari keseluruhan yang terdapat di dalam ruang mesin) dan penutup-penutup tangga tersebut. Dalam hal ini, tangga tapak yang tertutup hanya di satu tingkat saja harus dianggap sebagai bagian dari ruangan yang tidak terpisahkan oleh pintu kebakaran. (5) Ruang-ruang layanan (resiko rendah) Lemari dan gudang yang tidak memiliki persyaratan untuk penyimpanan cairan yang mudah terbakar dan memiliki luas kurang dari 4 m 2 , ruangan pengering dan binatu. (6) Ruang permesinan kategori A Ruangan yang disebutkan pada peraturan 3.19 Tabel 27.2 - Integritas kebakaran untuk geladak pemisah ruang-ruang yang berdekatan
Spaces below Spaces above (1) (2) A-0 A-0 A-0 A-0 (3) A-0 A-0 A-0 (4) A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 (5) A-0 A-0 (6) A-60 A-0 A-60 A-0 A-60 A-0 A-60 A-0 A-60 A-0 (7) (8) A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 (9) A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 (10) (11) A-30 A-0 A-30 A-0d A-0 A-0 A-60 A-0 A-0 A-30 A-0 A-0 Control stations Corridors Accommodation spaces Stairways Service Spaces (low risk) Machinery spaces of category A Other machinery spaces Cargo spaces Service spaces (high risk) Open deck spaces category Special spaces (1) A-0 (2) A-0 (3) A-60 (4) A-0 (5) A-15 (6) (7)

A-60 A-60 A-60 A-60 A-60 A-15 A-0 (8) A-60 A-0 (9) A-30 A-60 A-0d (10) (11) A-60 A-15 A-0 A-0 A-30 A-0d A-30 A-0d A-0 A-0 A-30 A-0d A-0 A-0 A-0 A-0 A-0

A-60c A-30 A-60 A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 A-0 __

A-60 A-0 A-30 A-0

A-15 A-0

A-30 A-0

Lihat catatan dibawah tabel 27.1

(7) Ruangan permesinan lainnya

Bagian B

Peraturan 26 Ruangan yang disebutkan pada peraturan 3.20 tidak termasuk ruang permesinan kategori A.

(8) Ruang muat Semua ruangan yang dipergunakan untuk muatan (meliputi tangki muatan minyak), dan palka-palka ruang tersebut, selain ruang kategori khusus. (9) Ruang layanan (resiko tinggi) Dapur, ruang layanan yang berisi perlengkapan memasak, ruang cat dan lampu, lemari-lemari dan gudang yang memiliki luas 4 m 2 atau lebih, ruangan untuk penyimpanan cairan yang mudah terbakar, dan bengkel yang bukan bagian dari kamar mesin. (10) Geladak terbuka Ruang-ruang geladak terbuka dan tempat berjalan terbuka yang tidak memiliki resiko kebakaran. Ruang angin-angin (ruangan di luar bangunan atas dan rumah geladak). (11) Ruang kategori khusus Ruangan yang disebutkan pada peraturan 3.18. .3 Di dalam menentukan standar integritas kebakaran yang bisa dilaksanakan untuk pembatas antara dua ruangan di dalam zona vertikal utama atau zona horisontal yang tidak dilindungi oleh sistem pemercik air otomatis yang memenuhi persyaratan peraturan 12 atau antara zonazona yang tidak dilindungi, harus dipakai dua tingkatan lebih tinggi dari yang diberikan di dalam tabel. Di dalam menentukan standar integritas kebakaran yang dipakai untuk pembatas antara dua ruangan di dalam satu zona vertikal utama atau zona horisontal yang dilindungi oleh sistem pemercik air otomatis yang memenuhi persyaratan peraturan 12 atau antara zonazona yang keduanya dilindungi, harus dipakai dua tingkatan yang lebih kecil yang diberikan di dalam tabel. Dimana zona yang diberi pemercik air dan yang tidak diberi pemercik air bertemu di dalam ruang akomodasi dan layanan, harus dipakai dua tingkatan yang lebih tinggi dari yang diberikan di dalam tabel terhadap divisi di antara kedua zona tersebut.

.4

3 Langit-langit atau pelapis-pelapis kelas AB@ yang menerus, yang berhubungannya dengan geladak-geladak atau sekat-sekat

Bab II-2: Konstruksi yangbersangkutan, dapat diterima secara menyeluruh atau sebagian dari lapisan dan integritas suatu pemisah yang disyaratkan. 4 Pembatas-pembatas luar yang disyaratkan di dalam peraturan 23.1 harus terbuat dari baja atau bahan lain yang sepadan boleh ditembus untuk pemasangan jendela-jendela dan tingkap sisi dengan catatan bahwa tidak ada keharusan pembatas tersebut harus memiliki integritas kelas "A". Hal serupa pada pembatas yang tidak disyaratkan harus mempunyai integritas kelas "A", pintu-pintu boleh dari bahan yang disetujui oleh Badan Pemerintah. Peraturan 28 Sarana untuk penyelamatan diri (Paragraf 1.8 dari peraturan ini berlaku untuk kapal-kapal yang dibangun pada atau setelah 1 Januari 1994) 1 Tangga tapak dan tangga panjat harus ditata untuk menjamin kesiapan penyelamatan diri menuju geladak embarkasi sekoci penolong dan rakit penolong dari semua ruang penumpang, awak kapal dan ruang-ruang yang biasa dipakai bekerja sejumlah awak kapal, selain ruang mesin,persyaratan berikut harus dipenuhi : .1 Di bawah geladak sekat, dua sarana untuk meyelamatkan diri, sekurang-kurangnya satu diantaranya harus bebas dari pintu-pintu kedap air, harus disediakan dari tiap-tiap kompartemen kedap air atau ruangan terbatas atau kelompok ruangan serupa. Secara khusus, Badan Pemerintah dapat membebaskan dengan satu sarana untuk menyelamatkan diri dengan memperhatikan benarbenar sifat dan letak ruangan-ruangan dan jumlah orang yang biasanya boleh ditempatkan atau dipekerjakan. Di atas geladak sekat, harus ada sekurang-kurangnya dua sarana untuk menyelamatkan diri dari setiap zona vertikal utama atau ruangan terbatas atau kelompok ruangan yang serupa, sekurang-kurangnya satu diantaranya merupakan jalan masuk ke tangga tapak yang membentuk sarana untuk menyelamatkan diri vertikal. Jika stasiun radio telegrap tidak memiliki jalan langsung menuju ke geladak cuaca, dua sarana untuk menyelamatkan diri dari atau jalan ke stasiun tersebut harus dipasang, satu dari sarana tersebut boleh lubang udara atau jendela dengan ukuran yang memadai atau

.2

.3

Bagian B sarana lain Pemerintah. .4 sesuai dengan

Peraturan 26 persetujuan Badan

Lorong-lorong,ruang tunggu , atau bagian dari lorong tidak diperbolehkan hanya memiliki satu rute jalan penyelamatan diri . Paling tidak satu sarana penyelamatan diri yang dipersyaratkan paragraf 1.1 dan 1.2 harus terdiri dari tangga tapak tertutup yang siap dijangkau dengan mudah, yang mana harus memberi perlindungan terhadap kebakaran secara menerus dari tingkat permulaan tangga sampai ke geladak embarkasi sekoci penolong dan rakit penolong, atau sampai ke geladak cuaca yang letaknya lebih atas jika geladak embarkasi tidak menerus sampai ke zona vertikal utama. Dalam kasus yang terakhir ini, jalan langsung ke geladak embarkasi dengan sarana tangga tapak terbuka dan jalan lintasan yang berada di luar harus dilengkapi lampulampu darurat sesuai dengan peraturan III/11.5 dan permukaan anti tergelincir pada alasnya. Pembataspembatas yang berhadapan dengan tangga terbuka luar dan jalan-jalan laluan yang merupakan bagian rute jalan penyelamatan diri dan pembatas pada posisi tersebut yang mengalami kerusakan selama kebakaran dan dapat mengganggu jalan penyelamatan ke geladak embarkasi, harus mempunyai integritas kebakaran, yang meliputi nilai pengisolasian, sesuai dengan tabel di dalam peraturan 26. Lebar, jumlah dan kebersinambunganan jalan-jalan penyelamatan harus sebagai berikut : Lebar tangga bersih tidak boleh kurang dari 900 mm. Tangga tapak harus dipasang dengan pagar pada tiaptiap sisi. Lebar bersih minimun tangga harus dinaikkan 10 mm untuk setiapkelebihan satu orang dari 90 orang. Lebar bersih maksimum antara pagar untuk lebar tangga yang lebih besar dari 900 mm adalah 1800 mm. Jumlah total personil yang dievakuasi oleh tangga tapak tersebut harus diasumsikan sebagai jumlah antara 2/3 awak kapal dan jumlah total penumpang di dalam daerah yang dilayani oleh tangga tapak tersebut. Lebar tangga harus sesuai dengan standar yang tidak lebih rendah kualitasnya dari standar yang dtetapkan oleh Organisasi.*1

.5

.5.1

1* Mengacu ke standar perhitungan lebar tangga yang merupakan sarana penyelamatan diri pada kapal penumpang yang diadopsi oleh Organisasi dengan resolusi A.757(18)

Bab II-2: Konstruksi .5.2 Semua tangga tapak yang ditetapkan ukuran untuk lebih dari 90 personil harus disejajarkan dari bagian depan dan kebelakang kapal. Pintu keluar, lorong-lorong dan penurunan-penurunan antara yang dipergunakan sebagai sarana penyelamatan diri harus mempunyai ukuran yang sama dengan tangga tapak tersebut. Tangga tapak tidak boleh melebihi 3.5 m dalam arah vertikal tanpa adanya suatu pendarat dan tidak boleh mempunyai sudut kemiringan lebih besar dari 450. Pendaratan pada tiap-tiap tingkat geladak luasnya tidak boleh kurang dari 2 m2 dan harus ditambah/m 2 m2 untuk setiap 10 personil apabila personil yang dilayani lebih dari 20 personil harus terus ditambah namun tidak boleh melebihi 16 m2, kecuali untuk pendaratan yang melayani ruangan umum yang mempunyai jalan keluar yang langsung menuju ke tangga tapak tertutup. Perlindungan terhadap jalan keluar dari pelindung tangga tapak ke daerah embarkasi sekoci penyelamat dan rakit penolong harus sesuai dengan persetujuan Badan Pemerintah. Tangga tapak yang hanya melayani sebuah ruangan dan balkon di dalam ruangan tsb tidak boleh ditetapkan sebagai satu dari jalan penyelamatan diri. Apabila ruang umum yang terdiri dari tiga atau lebih geladak dan berisi bahan-bahan yang mudah terbakar seperti mebel dan ruangan tertutup seperti toko-toko, kantor-kantor dan restoran, tiap-tiap tingkat ruangan tersebut harus mempunyai dua sarana penyelamatan diri, salah satunya adalah jalan langsung menuju sarana penyelamatan diri vertikal tertutup yang sesuai dengan persyaratan paragraf 5. Apabila Badan Pemerintah memberikan keringanan berdasarkan persyaratan paragraf 1.1, sarana penyelamatan ini harus menjamin jalan keluar yang aman. Namun tangga-tangga yang lebar bersihnya tidak boleh kurang dari 800 mm yang dilengkapi dengan pegangan pagar pada kedua sisinya.

.5.3

.5.4

.5.5

.6

.7

.8

.9

Bagian B .10

Peraturan 26 Sebagai tambahan lampu-lampu darurat sebagaimana yang disyaratkan pada peraturan II-1/42 dan III/11.5, sarana-sarana penyelamatan, meliputi tangga-tangga dan pintu-pintu keluar,berupa marka dengan lampu atau indikator garis photoluminescent yang diletakkan tidak lebih dari 0.3 m di atas geladak pada semua titik rute jalan penyelamatan termasuk sudut-sudut dan titiktitik perpotongan. Pemberian marka tersebut harus memungkinkan penumpang untuk siap mengidentifikasi dengan mudah semua rute penyelamatan dan pintupintu keluar. Jika penerangan yang digunakan dari tenaga listrik, penerangan itu harus dipasok dengan sumber tenaga darurat dan harus diatur sedemikian rupa sehingga kerusakan satu lampu atau terpotongnya strip lampu tidak akan mengakibatkan marka tersebut menjadi tidak efektif. Sebagai tambahan, semua tanda jalan penyelamatan dan marka lokasi perlengkapan pemadam kebakaran harus dari bahan photoluminescent atau ditandai dengan lampu. Badan pemerintah harus menjamin bahwa lampu atau photoluminescent dievaluasi, diuji dan dipakai sesuai dengan pedoman yang dikembangkan oleh Organisasi.*1

2.1 Di ruangan kategori khusus jumlah dan penentuan sarana penyelamatan baik itu di bawah maupun di atas sekat geladak harus memenuhi ketentuan Badan Pemerintah dan secara umum jalanjalan ke geladak embarkasi paling tidak sepadan dengan yang dipersyaratkan dalam paragaraf 1.1, 1.2, 1.5 dan 1.6. 2.2 Salah satu dari rute jalan penyelamatan dari kamar mesin dimana awak kapal biasa dipekerjakan harus menghindari jalan langsung ke ruang kategori khusus. 3.1 Dua sarana untuk menyelamatkan diri harus diadakan dari masing-masing ruang mesin. Persyaratan-persyaratan berikut harus dipenuhi : .1 Jika ruangan ada di bawah geladak sekat, kedua sarana untuk menyelamatkan diri itu harus terdiri salah satu : .1.1dua pasang tangga baja yang terpisah sejauh mungkin, menuju ke pintu-pintu di bagian atas ruangan yang terpisah dengan cara yang serupa

1*

Merujuk ke pedoman untuk evaluasi, pengujian dan pemakaian lampu-lampu Low-location pada kapal penumpang yang diadopsi oleh Organisasi oleh resolusi A.752(18)

Bab II-2: Konstruksi dan dimana ada pintu-pintu yang sesuai ke geladak embarkasi sekoci penolong dan rakit penolong. Salah satu dari tangga ini harus memberikan perlindungan kebakaran secara berkesinambungan dari bagian bawah ruangan sampai kedudukan yang aman di luar ruangan itu; atau .1.2satu tangga baja menuju ke pintu di bagian atas ruangan yang dari ruangan dimana ada jalan masuk ke geladak embarkasi dan sebagai tambahan, di bagian terendah dari ruangan dan dari posisi yang terpisah dari tangga, sebuah pintu baja yang dapat dilayani dari kedua belah sisi dan yang memberikan lintasan penyelamatan diri yang aman ke geladak embarkasi. .2 Jika ruangan itu ada di atas geladak sekat, dua sarana untuk menyelamatkan diri harus terpisah sejauh mungkin dan pintu asal dari sarana demikian harus pada posisi yang dari posisi mana memberikan jalan ke geladak-geladak embarkasi sekoci penolong dan rakit penolong yang sesuai. Apabila sarana penyelamatan tersebut mensyaratkan penggunaan, tangga, maka tangga tersebut harus dari baja.

3.2 Pada suatu kapal dengan tonase kotor kurang dari 1.000, Badan Pemerintah dapat membebaskan satu dari sarana untuk menyelamatkan diri dengan memperhatikan lebar dan letak bagian atas dari ruangan; dan di kapal dengan tonase kotor 1.000 atau lebih, Badan Pemerintah dapat membebaskan satu sarana untuk menyelamatkan diri dari tiap ruangan tersebut yang manapun sepanjang salah satu pintu atau sebuah tangga baja memberikan lintasan penyelamatan diri yang aman menuju ke geladak embarkasi dengan memperhatikan sifat dan letak ruangan dan apakah orang-orang biasanya berada di dalam ruangan tersebut. 3.3 Dua sarana penyelamatan diri harus tersedia dari ruang kontrol permesinan yang terletak di dalam ruang mesin, paling tidak satu sarana tersebut memberi perlindungan terhadap kebakaran yang terus menerus menuju ke posisi yang aman di luar ruang mesin. 4 Elevator tidak boleh ditetapkan sebagai satu dari sarana penyelamatan diri yang disyaratkan.

Bagian B
1

Peraturan 26

Peraturan 28 - 1 Rute penyelamatan diri pada kapal penumpang ro-ro


1 Persyaratan penumpang ro-ro yang dapat diterapkan untuk kapal

1.1 Paragraf ini berlaku untuk semua kapal penumpang ro-ro. Untuk kapal-kapal yang dibangun sbelum 1 Juli 1997 persyaratan dari peraturan harus berlaku sejak dari tanggal survey periodik pertama setelah 1 Juli 1997. 1.2 Pagar atau pegangan tangan lainnya harus disediakan di semua lorong sepanjang rute penyelamatan diri, sehingga pegangan tangan yang kokoh tersedia untuk setiap langkah dari jalan penyelamatan, bilamana memungkinkan, ketempat berkumpul *1 dan embarkasi. Pagar juga harus tersedia pada kedua sisi lorong memanjang kapal dengan lebar lebih dari 1.8 m dan lorong melintang kapal dengan lebar lebih dari 1 m. Perhatian khusus harus diberikan sehubungan dengan perlu untuk dapat menyeberang ke ruang tunggu, atrium dan ruang besar terbuka lainnya sepanjang rute penyelamatan diri. Pagar dan pegangan tangan lainnya harus mempunyai kekuatan yang tahan terhadap distribusi beban horisontal sebesar 750 N/m yang mengarah ke pusat lorong atau ruangan dan distribusi beban vertikal 750 N/m yang mengarah ke bawah. Dua beban tersebut tidak perlu diterapkan secara bersamaan. 1.3 Rute-rute penyelamatan diri tidak boleh terganggu oleh perabot dan gangguan-gangguan lainnya. Dengan pengecualian meja dan kursi yang dapat disingkirkan sehingga bisa tersedia ruang yang bebas gangguan, lemari dan perabot berat lainnya di dalam ruang umum dan lemari sepanjang rute penyelamatan diri harus dipasang tetap dengan sekerup untuk mencegah perpindahan tempat jika kapal mengalami oleng dan miring. Pelapis lantai pemasangannya harus disekerup. Ketika kapal dalam pelayaran, rute-rute penyelamatan diri harus terbebas dari gangguan-gangguan seperti : gerobak pembersihan, sprei, barang-barang bagasi dan kotak-kotak barang. 1.4 Rute penyelamatan diri harus tersedia dari tiap-tiap ruang kapal yang biasa ditempati ke tempat berkumpul. Rute

1Peraturan berlaku sejak 1 Juli 1997 1*


Stasiun assemblyA memiliki arti yang sama dengan stasiun nakhoda (Mengacu ke MSC/Cir.777 pada pengindikasian stasiun assembly pada kapal penumpang)

Bab II-2: Konstruksi penyelamatan ini harus ditata sedemikian hingga kemungkinan tersedianya rute langsung paling cepat ke stasiun assembly, dan harus ditandai dengan simbol-simbol sesuai dengan rekomendasi dari Organisasi.* 2 1.5 Apabila ruang-ruang tertutup yang berdekatan dengan geladak terbuka, bukaan-bukaan dari ruang tertutup ke geladak terbuka, apabila memungkinkan dapat dipergunakan sebagai jalan keluar darurat. 1.6 Geladak-geladak harus diberi nomor secara berurutan, mulai dari nomor 1 untuk tank top atau geladak paling rendah. Nomor ini harus diperlihatkan secara jelas pada pendratan-pendaratan tangga dan lobi-lobi elevator. Geladak-geladak juga boleh diberi nomor, namun nomor ini harus diperlihatkan dengan nama. 1.7 "Petunjuk" sederhana yang menunjukkan posisi "anda di sini" dan rute penyelamatan diri ditandai dengan arah panah, harus diperlihtakan secara jelas di dalam tiap-tiap pintu kabin dan ruangruang umum. Bagan harus menunjukkan arah jalan peneyelamatan diri yang dipasang dengan benar dan tepat sehubungan dengan posisinya di kapal. 1.8 Pintu-pintu kabin dan gudang tidak boleh dilengkapi kunci untuk membuka dari dalam ruangan. Juga tidak ada pintu-pintu sepanjang rute penyelamatan diri yang memerlukan kunci untuk membukanya saat apabila bergerak dalam arah penyelamatan diri. 2 Persyaratan yang bisa diterapkan pada kapal penumpang yang dibangun pada atau setelah 1 Juli 1997

2.1 Bagian terbawah dari sekat dan partisi setinggi 0,5m yang merupakan divisi-divisi vertikal sepanjang rute penyelamatan diri harus mampu tahan terhadap beban 750 N/m yang digunakan sebagai permukaan untuk berjalan dari sisi rute penyelamatan diri dengan kapal pada sudut kemiringan yang besar. 2.2 Rute penyelamatan diri dari kabin-kabin ke tangga tapak berpenutup harus selangsung mungkin, dengan jumlah pergantian arah atau belokan yang minim, Rute tersebut tidak boleh menyebrang dari satu sisi kapal ke sisi kapal lainnya untuk mencapai rute penyelamatan diri. Tidak boleh memanjat lebih dari dua geladak ke atas atau ke bawah untuk mencapai tempat berkumpul atau geladak terbuka dari ruang penumpang.

2* Mengacu ke simbol-simbol yang berhubungan dengan peralatan keselamatan dan penyusunannya yang diadopsi oleh Organisasi oleh resolusi A.760(18)

Bagian B

Peraturan 26

2.3 Rute-rute diluar harus tersedia dari geladak terbuka, sebagaimana disebutkan dalam paragraf 2.2, ke stasiun-stasiun embarkasi rakit penolong. 3 Persyaratan yang berlaku pada kapal penumpang yang dibangun pada atau setelah 1 Juli 1999

Untuk kapal penumpang ro-ro yang dibangun pada atau setelah tanggal 1 Juli 1999, rute penyelamatan diri harus dievaluasi dengan analisa evakuasi pada awal proses desain. Analisa harus digunakan untuk mengidentifikasi dan sejauh memungkinkan menghindari kemacetan yang mungkin timbul selama proses meninggalkan kapal pergerakan normal dari penumpang dan awak kapal sepanjang jalan penyelamatan, termasuk kemungkinan awak kapal perlu untuk bergerak sepanjang rute penyelamatan ini dalam arah yang berlawanan dengan pergerakan penumpang. Sebagai tambahan, analisa harus digunakan untuk mendemonstrasikan bahwa tata letak rute-rute cukup leluasa untuk memberikan kemungkinan rute penyelamatan diri, tempat berkumpul, stasiun embarkasi atau perahu penyelamat yang mungkin tidak tersedia sebagai akibat dari kecerobohan. Peraturan 29 Perlindungan tangga tapak dan elevator di dalam ruang akomodasi dan ruang layanan 1 Semua tangga tapak harus dengan konstruksi kerangka baja, kecuali jika Badan Pemerintah membolehkan penggunaan bahan lain yang sepadan, dan harus di dalam ruangan tertutup yang dibentuk dari divisi-divisi kelas "A", serta dengan sarana penutupan positip di semua lubang, kecuali jika : .1 tangga tapak hanya menghubungkan dua geladak, tidak perlu penutup, dengan catatan bahwa integritas geladak itu dipertahankan oleh sekat-sekat atau pintu-pintu di satu ruangan geladak antara yang layak. Bilamana tangga tapak ditutup di satu ruangan geladak antara, tutup tangga itu harus dilindungi sesuai dengan ketentuan tabel-tabel untuk geladak di dalam peraturan 26 atau 27; tangga tapak boleh dipasang keadaan terbuka di dalam ruangan-ruangan umum, dengan catatan bahwa tangga tapak itu seluruhnya ada di dalam ruangan umum tersebut.

.2

Bab II-2: Konstruksi 2 Penutup tangga tapak harus mempunyai hubungan langsung dengan lorong-lorong dan harus cukup luas untuk menghindari kemacetan, dengan mengingat jumlah orang yang mungkin menggunakan tangga tapak itu dalam keadaan darurat. Pada batas sekeliling tangga tapak tersebut, hanya diizinkan hanya untuk toilet umum, lemari-lemari dari bahan yang tidak mudah terbakar untuk penyimpanan peralatan keselamatan dan meja informasi yang terbuka. Hanya ruang-ruang umum, lorong-lorong, toliet umum, ruang kategori khusus, tangga penyelamatan lainnya yang dipersyaratkan oleh peraturan 20.1.5 dan daerah terbuka diizinkan untuk memiliki jalan langsung ke tutup-tutup tangga ini. 3 Tabung-tabung elavator harus dipasang sedemikian sehingga mencegah masuknya asap dan nyala api dari satu geladak antara ke geladak antara yang lain dan harus dilengkapi dengan sarana penutupan untuk dapat mengawasi aliran udara dan asap. Peraturan 30 Bukaan di divisi kelas "A" 1 Kecuali bagi palka-palka antar muat, ruangan kategori khusus, gudang dan ruang bagasi, dan antara ruangan demikian dengan geldak-geladak cuaca, semua bukaan harus dilengkapi dengan sarana penutupan yang dipasang secara tetap yang sekurang-kurangnya mempunyai daya tahan kebakaran efektif yang sama dengan yang dimiliki oleh divisi-divisi dimana bukaan-bukaan itu berada. 2 Konstruksi semua pintu dan kerangka-kerangka pintu di dalam divisi-divisi kelas "A", dengan sarana pengunciannya bilamana tertutup, harus memiliki daya tahan terhadap api baik terhadap masuknya asap maupun nyala api, sejauh yang dapat dilaksanakan, sepadan dengan daya tahan kebakaran dari sekatsekat dimana pintu-pintu itu dipasang. Pintu-pintu dan kerangka pintu tersebut harus terbuat dari baja atau bahan lain yang sepadan. Pintu-pintu kedap air tidak perlu diisolasi. 3 Setiap pintu harus dapat dibuka dan ditutup dari setiap sisi sekat hanya oleh satu orang saja. 4 Pintu-pintu kebakaran di sekat-sekat zona vertikal utama dan penutup tangga harus memenuhi persyaratan berikut : .1 Pintu-pintu harus jenis yang bisa menutup sendiri dan mampu menutup pada sudut kemiringan sampai dengan 3.50 yang berlawanan dengan arah penutupan, dan

Bagian B

Peraturan 26 mempunyai penutupan yang merata (uniform) tidak lebih dari 40 detik dan tidak boleh kurang dari 10 detik dengan kondisi kapal pada posisi upright.

.2

Pintu-pintu geser yang dikontrol dari jarak jauh atau pintupintu yang dioperasikan dengan daya harus dilengkapi dengan alaram yang berbunyi paling tidak 5 detik namun tidak lebih dari 10 detik sebelum pintu mulai bergerak dan terus berbunyi sampai pintu benar-benar sudah tertutup. Pintu didesain untuk membuka kembali secara memadai bila terjadi kontak dengan obyekpada jalurnya harus tersedia jalan bebas apabila pintu sedang terbuka paling tidak 0,75 m namun tidak lebih dari 1 m. Semua pintu harus mampu dioperasikan secara diputus secara otomatis dan jarak jauh dari pusat stasiun kontrol yang dijaga terus menerus, baik secara bersamaan maupun dalam satu kelompok, dan juga masing-masing secara sendiri dari posisi di kedua sisi pintu. Pengindikasian harus tersedia di panel kontrol kebakaran di dalam pusat stasiun kontrol yang dijaga terus menerus apakah setiap pintu yang dikontrol dari jarak jauh sudah tertutup. Mekanisme pengaturan harus didesain sehingga pintu akan menutup secara otomatis dalam keadaan terdapat gangguan pada sistem kontrol dan pasok tenaga. Sakelar pemutus operasi harus mempunyai fungsi menjalankan dan mematikan (on-off) untuk mencegah penyetelan kembali dari sistem tersebut. Kait penahan yang tidak dapat dilepas dari stasiun kontrol adalah dilarang. Akumulator-akumulator daya lokal untuk pintu-pintu yang dioperasikan dengan tenaga listrik harus tersedia di sekitar pintu-pintu, dimana pintu tersebut dioperasikan paling tidak untuk 10 kali (terbuka dan tertutup penuh) dengan menggunakan kontrol-kontrol lokal. Pintu-pintu daun ganda dilengkapi dengan gerendel atau kunci yang perlu untuk integritas kebakaran harus bisa diaktifkan secara otomatis bersamaan dengan pengoperasian pintu-pintu dari sistem. Pintu-pintu yang memberikan jalan langsung ke ruangruang kategori khusus yang beroperasi dengan tenaga listrik dan menutup secara otomatis tidak perlu dilengkapi dengan alaram dan mekanisme pemutusan listrik secara otomatis seperti dalam butir .2 dan .3.

.3

.4

.5

.6

Bab II-2: Konstruksi 5 Kapal-kapal yang mengangkut tidak lebih dari 36 penumpang, apabila sebuah ruangan dilindungi dengan sistem pemercik air otomatis yang sesuai persyaratan peraturan 12 atau dipasang dengan langit-langit kelas "B", bukaan-bukaan geladak yang bukan merupakan tanjakan-tanjakan di dalam zona vertikal utama maupun pembatas zona horisontal harus ditutup dengan kedap dan geldakgeladak tersebut harus memenuhi persyaratan integritas kelas AA@ sejauh hal tersebut bisa dilaksanakan dan cukup alasan menurut pendapat Badan Pemerintah. 6 Persyaratan untuk integritas kelas "A" dari pembatas terluar kapal tidak berlaku untuk partisi-partisi dari kaca, jendela-jendela dan tingkap sisi. Hal yang serupa, persyaratan untuk integritas kelas AA@ tidak berlaku untuk pintu-pintu luar bangunan atas dan rumahrumah geladak, tidak ada persyaratan terhadap pembatas tersebut untuk mempunyai integritas kelas "A" sesuai peraturan 33.3. 7 Semua pintu kelas "A" yang terletak di tangga tapak, ruang umum dan sekat-sekat vertikal utama di rute penyelamatan diri harus dilengkapi dengan lubang selang yang bisa menutup sendiri dengan bahan, konstruksi, dan ketahanannya terhadap kebakaran yang sepadan dengan pintu dimana lubang selang tersebut terpasang, dan luasan bersih dari bukaan harus 150 mm 2 dengan pintu tertutup harus dipasang pada bagian bawah pintu, dibelakang engsel pintu, dalam hal pintu-pintu geser, pada jarak terdekat dengan bukaan. Peraturan 31 Bukaan di divisi kelas "B" 1.1 Pintu-pintu dan kerangka-kerangka pintu di divisi-divisi kelas "B" dan sarana ikatannya harus menghasilkan metoda penutupan yang mempunyai daya tahan kebakaran yang sepadan dengan divisi-divisi* 1 itu, kecuali apabila lubang-lubang ventilasi dapat diizinkan dipasang di bagian bawah dari pintu tersebut, apabila lubang atau lubang-lubang berada dipintu atau di bawahnya, jumlah luas efektif dari lubang atau lubang-lubang tidak boleh lebih dari 0.05 m 2 . Jika lubang tersebut terdapat di pintu, maka harus dilengkapi dengan kisi-kisi yang dibuat dari bahan yang tidak mudah terbakar. Pintu-pintu harus tidak mudah terbakar. 1.2 Pintu-pintu kabin divisi kelas "B" harus dari jenis bisa menutup sendiri. Kait penahan balik tidak diizinkan.

1* Mengacu padab rekomendasi prosedur pengujian kebakaran


yang disyahkan oleh Organisasi sesuai resolusi A.517(13)

untuk divisi kelas A, B, dan F

Bagian B

Peraturan 26

2 Persyaratan untuk integritas kelas "B" pembatas luar kapal tidak boleh memakai partisi kaca, jendela dan tingkap sisi. Hal yang serupa untuk persyaratan integritas kelas "B" tidak berlaku untuk pintu-pintu luar bangunan atas dan rumah-rumah geladak. Untuk kapal yang mengangkut tidak lebih dari 36 penumpang, Badan Pemerintah boleh mengizinkan penggunaan bahan-bahan yang mudah terbakar untuk pintu-pintu yang memisahkan kabin dari ruang saniter pribadi seperti kamar mandi pancuran. 3 Kapal-kapal yang mengangkut tidak lebih dari 36 penumpang, apabila dipasang pemercik air otomatis yang memenuhi persyaratan peraturan 12 maka : .1 bukaan-bukaan di geladak-geladak yang tidak membentuk tanjakan-tanjakan di zona-zona vertikal utama, demikian juga tidak membatasi zana-zona horisontal, harus ditutup cukup kedap dan geladakgeladak demikian harus memenuhi persyaratan integritas kelas "B" sepanjang hal itu beralasan dan praktis sesuai pertumbuhan dari badan pemerintah. Bukaan-bukaan pada lorong sekat depan bahan kelas "B" harus dilindungi sesuai dengan ketentuan-ketentuan Peraturan 25.

.2

Peraturan 32 Sistem ventilasi (Paragraf 1.7 peraturan ini berlaku untuk kapal-kapal yang dibangun pada atau setelah 1 Januari 1994) 1 Kapal penumpang penumpang yang mengangkut lebih dari 36

1.1 Sistem ventilasi kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang, sebagai tambahan bagian dari peraturan ini, juga harus memenuhi persyaratan peraturan 16.2 sampai 16.6, 16.8 dan 16.9. 1.2 Secara umum, kipas-kipas ventilasi harus diatur sedemikian sehingga saluran-saluran mencapai berbagai ruangan di dalam zona vertikal utama. 1.3 Apabila sistem ventilasi menembus geladak, harus dilakukan tindakan tambahan yang berhubungan dengan integritas kebakaran

Bab II-2: Konstruksi dari geladak yang disyaratkan dalam peraturan 18.1.1 dan 30.5, untuk mengurangi kemungkinan masuknya asap dan gas-gas panas dari ruang geladak antara ke ruangan-ruangan lainnya dalam sistem tersebut. Sebagai tambahan persyaratan pengisolasian yang tertuang di peraturan ini, saluran ventilasi vertikal jika perlu diisolasi sebagaimana yang disyaratkan dalam tabel dalam peraturan 26. 1.4 Selain di ruang muat, saluran-saluran ventilasi harus dibuat dari bahan-bahan sbb : .1 saluran-saluran dengan luas penampang tidak lebih dari 0.075 m2 dan semua saluran vertikal yang melayani lebih dari satu ruang geladak antara harus dibuat dari baja atau bahan lainnya yang sepadan; saluran-saluran dengan luas penampang kurang dari 0.075 m 2 selain saluran-saluran vertikal yang sebagaimana yang di sebutkan dalam paragraf 1.4.1, harus dibuat dari bahan yang tidak mudah terbakar. Apabila saluran-saluran tersebut menembus divisi-divisi kelas AA@ atau B harus dijamin integritas kebakarannya dari divisi-divisi tersebut; saluran-saluran pendek, yang tidak umum dengan luas penampang tidak melebihi 0.02 m 2 maupun panjangnya juga tidak melebihi 2 m, tidak perlu dari bahan yang tidak mudah terbakar dengan catatan kondisi berikut harus dipenuhi : .3.1 .3.2 .3.3 saluran dibuat dari bahan dengan resiko kebakaran yang kecil sesuai persetujuan Badan Pemerintah; saluran yang digunakan pada ujung batas terminal sistem ventilasi; dan saluran tidak diletakkan kurang dari 600 mm diukur sepanjang saluran ke penembusan divisi kelas AA@ atau B, termasuk langit-langit kelas AB@ yang menerus.

.2

.3

1.5 Penutup-penutup tangga tapak harus diberi ventilasi dan harus hanya dilayani oleh sistem saluran dan kipas ventilasi tersendiri yang tidak melayani ruangan-ruangan lain. 1.6 Semua ventilasi tenaga listrik, selain ventilasi ruang mesin dan ventilasi ruang muat dan sistem pengganti lainnya yang diperbolehkan sebagaimana disyaratkan di bawah peraturan 16.6,

Bagian B

Peraturan 26

harus dipasang dengan sarana kontrol dan dikelompokkan sedemikian hingga kipas-kipas ventilasi dapat diberhentikan dari dua posisi yang diletakkan terpisah sejauh mungkin. Sarana kontrol yang disediakan untuk ventilasi tenaga yang melayani ruang mesin harus juga dikelompokkan sedemikian hingga bisa dioperasikan dari dua posisi, yang salah satunya berada di luar ruang mesin. Kipaskipas yang melayani sistem ventilasi tenaga untuk ruang-ruang muat harus mampu diberhentikan dari posisi yang aman dari luar ruangan-ruangan tersebut. 1.7 Apabila ruang-ruang umum terbentang pada tiga geladak atau lebih dan berisi bahan-bahan yang mudah terbakar seperti mebel dan ruang-ruang tertutup seperti toko-toko, kantor-kantor dan restoran-restoran , ruangan tersebut harus dilengkapi dengan sistem penghisapan asap. Sistem penghisapan asap harus diaktifkan oleh sistem pendeteksian asap yang disyaratkan dan mampu dikontrol secara manual. Kipas-kipas ventilasi harus berkapasitas sedemikian hingga seluruh volume udara di dalam ruangan yang dilayani dapat dikeluarkan dalam waktu tidak lebih dari 10 menit. 1.8 Sejauh memungkinkan saluran ventilasi harus dilengkapi dengan lubang pada posisi yang sesuai untuk pemeriksaan dan pembersihan. 1.9 Saluran keluaran dari kompor-kompor dapur yang memungkinkan bisa terkumpulnya lemak atau semacam gemuk harus memenuhi persyaratan-persyaratan peraturan 16.3.2.1 dan 16.3.2.2 dan harus dilengkapi dengan : .1 perangkap lemak yang mudah untuk dibuka atau dibersihkan jika tidak dipakai cara lain dengan sistem pembersihan lemak yang disetujui ; peredam api diletakkan di ujung bawah saluran yang dioperasikan secara otomatis dan dari kendali jarak jauh, dan peredam api tambahan yang dioperasikan dari kendali jarak jauh yang diletakkan di ujung atas saluran ; Sarana yang memadai untuk memadamkan kebakaran di dalam saluran ; Tata susunan kontrol jarak jauh untuk penutupan kipas pemasukan dan kipas pengeluaran, untuk pengoperasian peredam api sebagaimana diterangkan pada .2 dan untuk pengoperasian sistem pemadam kebakaran, harus diletakkan dekat dengan pintu masuk ke dapur.Apabila dipasang sistem yang bercambang-

.2

.3 .4

Bab II-2: Konstruksi cabang, harus tersedia sarana untuk menutup semua cabang keluaran melalui saluran utama yang sama sebelum media pemadam kebakaran disemprotkan ke dalam sistem tersebut ; dan .5 2 lubang-lubang untuk pemeriksaan dan pembersihan diletakkan dengan tepat.

Kapal penumpang yang mengangkut tidak lebih dari 36 penumpang

2.1 Sistem ventilasi kapal penumpang yang mengangkut tidak lebih dari 36 penumpang harus sesuai dengan Peraturan 16. Peraturan 33 Jendela dan tingkap sisi 1 Semua jendela dan tingkap sisi di sekat-sekat di dalam ruang akomodasi, ruang layanan dan stasiun kontrol selain ruanganruangan yang terkena persyaratan-persyaratan peraturan 30.6 dan 31.2, harus dibuat dengan memperhatikan persyaratan integritas dari sekat - sekat tempat jendela dan tingkap sisi tersebut terpasang. 2 Dengan tidak mengabaikan persyaratan tabel peraturan 26 dan 27, semua jendela dan tingkap sisi di sekat-sekat yang memisahkan ruang akomodasi, ruang layanan dan stasiun kontrol dari cuaca harus terbuat dengan kerangka dari baja atau bahanbahan lainnya yang sesuai. Kaca harus dipasang dengan bingkai logam. 3 Jendela-jendela yang berhadapan dengan peralatan penyelamatan, daerah embarkasi dan tempat berkumpul, tanggatangga luar dan geladak terbuka yang dipergunakan untuk rute penyelamatan diri, dan jendela-jendela yang diletakkan di bawah rakit penolong dan daerah embarkasi peluncur penyelamatan diri harus mempunyai integritas kebakaran sebagaimana yang disyaratkan dalam tabel peraturan 26. Apabila tersedia pemercik otomatis disediakan untuk jendela-jendela, jendela-jendela tipe AA0" bisa diterima sebagai hal yang setara. Jendela yang diletakkan di samping-samping kapal di bawah daerah embarkasi sekoci harus mempunyai integritas kebakaran paling tidak sama dengan kelas "A0" . Peraturan 34 Pembatasan Penggunaaan Bahan-bahan yang mudah terbakar

Bagian B

Peraturan 26

1 Kecuali di ruang muat, ruang paket pos, ruang bagasi atau kompartemen-kompartemen ruang layanan yang didinginkan, semua pelapis, lantai, penghenti aliran udara, langit-langit dan pengisolasiannya harus dari bahan yang tidak mudah terbakar. Bagian dari sekat atau geladak yang digunakan untuk membagi sebuah ruangan untuk serbaguna atau penataan artistik juga harus dari bahan yang tidak mudah terbakar. 2 Perintang-perintang uap dan lem yang digunakan untuk pengisolasiannya, demikian juga pegisolasian pipa untuk sistem layanan dingin tidak perlu dari bahan yang tidak mudah terbakar, namun bahan tersebut harus dipergunakan dengan jumlah seminimal mungkin dan bagian permukaan yang terbuka keluar harus mempunyai kualitas yang tahan terhadap perambatan nyala api atas persetujuan Badan Pemerintah. 3 Permukaan-permukaan berikut harus mempunyai karakteristik perambatan nyala api yang rendah :*1 .1 permukaan yang terbakar di lorong-lorong dan penutuppenutup tangga, sekat-sekat , pelapis-pelapis dinding dan langit-langit semua ruang akomodasi , ruang layanan dan stasiun-stasiun kontrol ruangan yang tersembunyi atau tidak mudah dijangkau di dalam ruangan akomodasi, layanan dan stasiun kontrol.

.2

4 Volume total bahan yang mudah terbakar seperti pelapis, cat, dekorasi dan pernis-pernis di ruang akomodasi dan ruang layanan tidak boleh melebihi volume yang sepadan dengan pernis setebal 2.5 mm pada luas kombinasi permukaan dinding dan langit-langit. Dalam hal kapal dipasang dengan sistem pemercik air otomatis yang memenuhi persyaratan peraturan 12, volume di atas boleh meliputi beberapa bahan yang mudah terbakar yang digunakan untuk pembangunan divisi-divisi kelas "C". 5 Pernis yang digunakan untuk permukaan-permukaan dan pelapis-pelapis yang diatur oleh persyaratan paragraf 3 harus mempunyai nilai kalori2 tidak melebihi 45 MJ/m 2 pada luasan yang diberi ketebalan.

1*

Mengacu ke Pedoman pengevaluasian sifat-sifat bahaya kebakaran dari bahan yang disyahkan oleh Organisasi dengan resolusi A.166 (ES.IV) dan berdasarkan Rekomendasi pada prosedur pengujian kebakaran yang sudah diperbaiki tentang kemampuan terbakar dari permukaan bahan-bahan sekat, langit-langit dan geladak yang disyahkan oleh Organisasi dengan resolusi A.653(16).

2 Nilai kalori kotor diukur sesuai dengan ISO 1716 harus dipertimbangkan

Bab II-2: Konstruksi 6 Mebel pada tangga tapak harus dibatasi tempat duduknya. Perabot tersebut harus tetap di tempat dibatasi 6 tempat duduk di masing-masing geladak dalam tiap-tiap penutup tangga yang mempunyai resiko kebakaran yang terbatas, dan tidak menganggu rute penyelamatan penumpang. Badan Pemerintah dapat mengizinkan tempat duduk tambahan di daerah resepsi utama di dalam penutup tangga tapak jika tempat duduk tersebut dipasang tetap, bukan dari bahan yang mudah terbakar dan tidak mengganggu rute penyelamatan penumpang. Perabot tidak diizinkan di lorong-lorong penumpang dan awak kapal yang merupakan rute penyelamatan di dalam daerah kabin. Sebagai tambahan di atas, lemari-lemari dari bahan yang tidak mudah terbakar, yang menyimpan perlengkapan keselamatan sebagaimana 3 disyaratkan oleh peraturan, dapat diizinkan. 7 Cat-cat, pernis-pernis dan penghalus-penghalus lainnya yang digunakan pada permukaan interior yang terbuka tidak boleh dari bahan yang dapat mengeluarkan asap dan zat racun yang berlebihanI1 8 Penutup-penutup geladak utama, jika dipasang di dalam ruang-ruang akomodasi dan ruang layanan dan stasiun kontrol, harus dari bahan yang disetujui yang tidak mudah menyala atau tidak meningkatkan kadar racun atau menimbulkan ledakan pada kenaikan suhu tertentu.'2 Peraturan 35 Detail-detail Konstruksi 1 Di dalam ruang akomodasi, ruang layanan, stasiun kontrol, lorong-lorong dan tangga tapak : .1 ruang-ruang udara yang tertutup di belakang langitlangit, panel atau pelapis-pelapis harus dibagi dengan penghenti aliran udara yang berjarak satu sama lain tidak lebih dari 14 m ;

3Mengacu ke Rekomendasi prosedur pengujian kebakaran perabot yang dilapisi diadopsi oleh
Organisasi oleh resolusi A.652(16) dan Rekomendasi prosedur pengujian kebakaran untuk kemampuan menyala dari komponen-komponen kain-kain tempat tidur yang diadopsi oleh Organisasi oleh resolusi A.688(17). disyahkan oleh Organisasi oleh resolusi MSC.41(64)

1I Mengacu ke standar sementara untuk pengukuran asap dan racun dari hasil pembakaran yang 2'
Mengacu ke Rekomendasi prosedur pengujian kebakaran untuk mampu nyala penutup geladak utama disyahkan oleh Organisasi dengan resolusi A 687 (17) penutup-

Bagian B .2

Peraturan 26 pada arah vertikal, ruang-ruang udara yang tertutup tsb, termasuk di belakang pelapis-pelapis tangga, lubang saluran, dll harus ditutup pada tiap-tiap geladak.

2. Konstruksi langit-langit dan penyekatan harus sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan akan mengurangi efisiensi perlindungan terhadap kebakaran, untuk perondaan kebakaran yang mendeteksi asap dari tempat-tempat yang tidak diketahui dan sulit untuk dijangkau, kecuali apabila menurut pandapat Badan Pemerintah tidak ada resiko pemicu kebakaran dari tempat tersebut.

Peraturan 36 Sistem pendeteksian dan alaram kebakaran yang tetap dan sistem pemercik air otomatis, dan sistem deteksi dan alaram kebakaran 1 Pada kapal-kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang harus terpasang secara menyeluruh pada tiap-tiap zona terpisah, baik itu vertikal maupun horisontal, semua ruang akomodasi dan layanan, bila dianggap perlu oleh Badan Pemerintah, di stasiun kontrol , kecuali ruangan-ruangan yang tidak terlalu besar resiko terjadinya kebakaran, seperti ruang kosong, sanitari, dll, salah satu dari : .1 sistem deteksi dan alaram kebakaran tetap dari tipe yang disetujui dan memenuhi persyaratan-persyaratan peraturan 13 yang dipasang dan ditata untuk mendeteksi adanya kebakaran di ruang-ruang tersebut ; atau sistem pemercik air otomatis, sistem deteksi dan alaram kebakaran dari tipe yang disetujui dan memenuhi persyaratan-persyaratan sesuai peraturan 12 atau pedoman-pedoman yang dikembangkan oleh Organisasi*1 untuk sistem pemercik air pengganti setara yang telah disetujui yang dipasang dan ditata sedemikian rupa untuk melindungi ruang-ruang tersebut, dan sebagai tambahan sistem deteksi dan alaram kebakaran tetap dari tipe yang disetujui dan memenuhi persyaratan peraturan 13 yang dipasang dan ditata untuk mendeteksi uap di dalam lorong-lorong, tangga tapak dan rute penyelamatan di dalam ruang akomodasi.

.2

1*

Mengacu ke pedoman yang sudah direvisi tentang persetujuan sistem pemercik air yang sepadan yang dirujuk dalam SOLAS peraturan II-2/12 yang disyahkan oleh Organisasi dengan resolusi A.800(19)

Bab II-2: Konstruksi 2 Kapal-kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang harus dilengkapi dengan sistem pemercik air otomatis, sistem deteksi dan alaram kebakaran dari tipe yang disetujui dan memenuhi persyaratan peraturan 12 atau pedoman-pedoman yang dikembangkan oleh Organisasi* untuk sistem pemercik air yang disetujui di semua ruang layanan, stasiun kontrol dan ruang akomodasi termasuk lorong-lorong dan tangga tapak. Sebagai pengganti, stasiun kontrol dimana air bisa membahayakan peralatan yang penting boleh dipasang dengan sistem pemadam kebakaran dari tipe lain yang disetujui. Sistem deteksi dan alaram kebakaran tetap dari tipe yang disetujui harus dipasang sesuai persyaratan peraturan 13 , dan dipasang dan diatur sedemikian untuk memberikan pendeteksian uap di dalam ruang layanan, stasiun kontrol dan ruang akomodasi meliputi lorong-lorong dan tangga tapak. Detektor asap tidak perlu dipasang di kamar mandi dan dapur pribadi. Ruangan yang mempunyai resiko kebakaran yang kecil atau hampir tidak ada seperti ruang kosong, toilet-toilet umum dan ruangan yang sejenis tidak perlu dipasang sistem pemercik air otomatis atau sistem deteksi dan alaram kebakaran tetap. Peraturan 37 Perlindungan dari ruang-ruang kategori khusus 1. 1.1 Persyaratan yang berlaku untuk ruang kategori khusus baik di atas maupun di bawah geladak sekat Umum

1.1.1 Prinsip dasar yang tertuang di dalam persyaratan-persyaratan peraturan ini adalah bahwa sebagaimana lazimnya pengelompokkan zona vertikal utama tidak praktis untuk ruang kategori khusus, maka perlindungan yang sepadan harus dilaksanakan untuk ruangan tersebut yang sama dengan zona horisontal dan dengan sistem pemadam kebakaran tetap. Berdasarkan konsep ini zona horisontal sebagaimana maksud dari peraturan ini meliputi ruang-ruang kategori khusus lebih dari satu geladak dengan ketinggian bersih total tidak melebihi 10 m. 1.1.2 Persyaratan-persyaratan peraturan 16, 18, 30 dan 32 untuk mempertahankan integritas zona vertikal harus diterapkan sama untuk geladak dan sekat yang membentuk pembatas-pembatas yang memisahkan zona-zona horisontal satu sama lainnya dan dari bagian lain kapal. 1.2 Perlindungan konstruksi

Bagian B

Peraturan 26

1.2.1 Pada kapal-kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang pembatas sekat dan geladak ruang-ruang kategori khusus harus dilapis dengan standar kelas "A-60". Namun apabila ruang kategori 26.2.2(5), 26.2.2(9) atau 26.2.2(10) pada satu sisi dari divisi standar pengisolasian boleh dikurangi sampai ke "A-0". 1.2.2 Pada kapal-kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang pembatas sekat dan geladak ruang kategori khusus harus diisolasi sebagaimana yang dipersyaratkan kategori (11) dalam tabel 27.1 dan pembatas-pembatas horisontal sebagaimana yang dipersyaratkan pada kategori (11) dalam tabel 27.2. 1.2.3 Indikator-indikator harus tersedia di anjungan navigasi yang memberi petunjuk pintu kebakaran yang menuju ke atau dari ruang kategori khusus dalam kondisi tertutup. 1.3 Sistem pemadam kebakaran* 1 Tiap-tiap ruang kategori khusus harus dilengkapi dengan sistem penyemprot air bertekanan yang tetap dengan pegoperasian secara manual yang harus melindungi semua bagian geladak dan flatform kendaraan di dalam ruangan tersebut, Badan Pemerintah boleh mengizinkan penggunaan sistem pemadam kebakaran lain yang telah membuktikan dengan perjanjian secara penuh dengan kondisi simulasi, suatu pengaliran bensin terbakar di ruang kategori khusus yang tidak kurang keefektifan kontrolnya terhadap kebakaran seperti terjadi sesungguhnya terhadap ruangan tersebut . 1.4 Patroli dan pendeteksian

1.4.1 Sistem patroli (perondaan) yang effisien harus dilaksanakan secara rutin di dalam ruangan kategori khusus. Di dalam ruangan yang tidak dilaksanakan perondaan tidak dilaksanakan secara rutin sepanjang waktu selama pelayaran harus dilengkapi sistem deteksi dan alaram kebakaran tetap dari tipe yang disetujui yang memenuhi persyaratan peraturan 13. Sistem deteksi kebakaran tetap harus mampu mendeteksi permulaan kebakaran dengan cepat. Jarak antara dan lokasi detektor harus diuji untuk memenuhi persyaratan Badan Pemerintah dengan mempertimbangkan pengaruh ventilasi dan faktor-faktor lainnya yang relevan. 1.4.2 Titik-titik panggil yang dioperasikan secara manual harus tersedia sesuai dengan kebutuhan di ruang-ruang kategori khusus dan satu buah terletak dekat dari tiap jalan keluar dari ruangan tersebut.

1* Mengacu ke Rekomendasi sistem pemadam kebakaran yang tetap untu ruang-ruang kategori
khusus yang diadopsi oleh Organisasi oleh Resolusi A.123(V)

Bab II-2: Konstruksi 1.5 Perlengkapan pemadam kebakaran

Harus tersedia di tiap-tiap ruang kategori khusus : .1 .2 paling tidak tiga applikator pengabut air satu unit aplikator busa jinjing yang sesuai dengan persyaratan peraturan 6.4, tersedia paling tidak dua unit di kapal untuk penggunaan ruangan tersebut; dan dari sejumlah pemadam kebakaran jinjing yang dianggap mencukupi oleh Badan Pemerintah, harus tersedia paling tidak satu pemadam kebakaran jinjing yang diletakkan setiap jalan ke ruangan tersebut.

.3

1.6

Sistem ventilasi

1.6.1 Harus tersedia sistem ventilasi dengan tenaga listrik yang efektif untuk ruang kategori khusus yang mencukupi untuk memberikan pergantian udara paling tidak 10 kali dalam satu jam. Sistem untuk ruang-ruang tersebut harus benar-benar terpisah dari sistem ventilasi lainnya dan harus beroperasi sepanjang waktu apabila tedapat kendaraan di dalam ruangan tersebut. Badan Pemerintah dapat mensyaratkan untuk meningkatkan jumlah pergantian udara pada waktu keluar dan masuk kendaraankendaraan bermotor. Saluran ventilasi yang melayani ruang kategori khusus mampu ditutup secara efektif terpisah untuk tiap-tiap ruangan tersebut. Sistem harus mampu dikendalikan dari posisi di luar ruangan tersebut. 1.6.2 Ventilasi harus sedemikian rupa sehingga mencegah terjadinya stratifikasi udara dan terbentuknya kantung-kantung udara. 1.6.3 Harus tersedia sarana untuk menunjukkan kehilangan atau penurunan kapasitas ventilasi yang disyaratkan pada anjungan navigasi. 1.6.4 Tata susunan harus disediakan untuk penutupan secara cepat dan penutupan sistem ventilasi yang efektif apabila terjadi kebakaran, dengan pertimbangan kondisi cuaca dan laut. 1.6.5 Saluran ventilasi, meliputi peredam-peredam, harus terbuat dari baja dan penyusunannya harus sesuai dengan ketentuan Badan Pemerintah.

Bagian B 2

Peraturan 26

Ketentuan tambahan yang hanya berlaku untuk ruang kategori khusus di atas geladak sekat

2.1.1 Lubang skuper Sehubungan dengan kehilangan stabilitas yang serius yang timbul akibat terlalu banyak air yang terkumpul di atas geladak atau sebagai akibat pengoperasian sistem penyemprot air bertekanan, lubang skuper harus dipasang untuk menjamin air tersebut terbuang keluar kapal dengan cepat.
1

2.1.2 Buangan-buangan

2.1.2.1 Pada kapal-kapal penumpang ro-ro katup-katup buangan untuk lubang-lubang pembuangan, dipasang dengan cara-cara penutupan positif yang bisa dioperasikan dari posisi di atas geladak sekat sesuai dengan persyaratan Konvensi International tentang Garis Muat, yang harus tetap terbuka ketika kapal sedang berlayar. 2.1.2.2 Setiap pengoperasian katup-katup yang tercantum dalam paragraf 2.1.2.1 harus dicatat di dalam buku catatan kapal. 2.2 Tindakan pencegahan terhadap penyalaan uap yang mudah terbakar

2.2.1 Pada geladak atau platform (jika terpasang) tempat mobil kendaraan diangkut yang memungkinkan terjadinya pengumpulan uap yang bisa meledak, kecuali platform yang dengan bukaan yang berukuran yang memadai yang memungkinkan merembesnya gasgas pembakaran turun ke bawah, perlengkapan yang dapat menjadi sumber terjadinya api dari uap yang mudah terbakar dan terutama peralatan listrik dan kabel-kabel, harus dipasang paling tidak 450 mm di atas geladak atau platform. Peralatan listrik yang dipasang pada lebih dari 450 mm di atas geladak atau platform harus dari tipe yang tertutup dan dilindungi untuk mencegah keluarnya percikan-percikan api. Namun, jika Badan Pemerintah mengizinkan pemasangan peralatan listrik dan kabel-kabel kurang dari 450 mm di atas geladak atau platform diperlukan untuk keselamatan pengoperasian kapal, peralatan listrik dan kabel-kabel tersebut harus dari tipe yang disetujui untuk penggunaan di daerah campuran udara dan gas yang mudah meledak. 2.2.2 Peralatan listrik dan kabel-kabel, jika dipasang di saluran ventilasi keluaran, harus dari tipe yang disetujui untuk penggunaan

1 Peraturan berlaku sejak 1 Juli 1997

Bab II-2: Konstruksi pada campuran udara dan gas yang mudah meledak dan keluaran dari saluran pembuangan tersebut harus diletakkan pada posisi yang aman, dengan memperhatikan kemungkinan adanya sumber api lain. 3 Ketentuan tambahan yang hanya diterapkan pada ruang kategori khusus dibawah geladak sekat 3.1 Pompa bilga dan pengeringan

Mengingat kehilangan stabilitas yang serius dapat terjadi akibat banyaknya air yang berkumpul di geladak atau bagian atas tangki akibat dari pengoperasian sistem semprot air bertekanan yang terpasang,badan pemerintah dapat meminta pompa dan fasilitas pengeringan disediakan sebagai penambahan persyaratan Peraturan II-1/21. 3.2 Tindakan pencegahan penyalaan uap yang mudah terbakar

3.2.1 Peralatan dan kabel listrik , jika dipasang, harus dari tipe yang cocok untuk digunakan dalam campuran antara udara dan gas yang mudah meledak. Peralatan lain yang mungkin membentuk sumber penyalaan dari uap yang mudah terbakar tidak boleh diizinkan. 3.2.2 Peralatan dan kabel listrik, jika dipasang dalam saluran ventilasi buang harus dari tipe yang disetujui untuk digunakan dalam campuran antara udara dan gas yang dapat meledak dan lubang buang dari setiap saluran buang harus ditempatkan di posisi yang aman, dengan memperhatikan sumber-sumber penyalaan lain yang mungkin ada. Peraturan 38 Perlindungan ruang muatan, selain ruang muatan khusus, yang dipergunakan untuk mengangkut kendaraan bermotor dengan bahan bakar dalam tangkinya untuk penggeraknya sendiri. (Paragrap 1 Peraturan ini berlaku untuk kapal-kapal yang dibangun pada atau setelah 1 Februari 1992) Pada setiap ruang muatan (selain ruang-ruang kategori khusus) yang berisi kendaraan bermotor dengan bahan bakar dalam tangkinya untuk alat penggeraknya sendiri, ketentuan berikut harus dipenuhi. 1 Pendeteksi kebakaran yang dipasang tetap

Bagian B

Peraturan 26

Dalam ruang muatan harus dipasang sistem deteksi kebakaran dan alarm yang dipasang tetap yang memenuhi persyaratan Peraturan 13 atau sistem deteksi penghisapan asap yang memenuhi persyaratan Peraturan 13-1. Desain dan tata susunan sistem ini harus dipertimbangkan sehubungan dengan persyaratan ventilasi sesuai dengan paragraf 3. 2 Tata susunan pemadam kebakaran

2.1 Dalam ruang muatan harus dipasang sistem pemadam kebakaran yang harus memenuhi ketentuan persyaratan Peraturan 5, kecuali, jika sistem karbon dioksida dipasang, jumlah gas yang tersedia harus sekurang-kurangnya cukup untuk membuat volume gas bebas minimum sama dengan 45% volume kotor dari ruang muatan rotor yang terbesar yang dapat ditutup rapat, tata susunan harus sedemikian rupa sehingga dapat menjamin sekurangkurangnya 2/3 gas yang dibutuhkan ruang tersebut harus masuk selama 10 menit. Sistem pemadam kebakaran gas lain atau sistem pemadam kebakaran dengan busa ekspansi tinggi dapat dipasang dengan syarat dapat memberikan perlindungan yang sepadan. Selanjutnya setiap ruang muatan yang didesain hanya untuk kendaraan yang tidak mengangkut muatan dapat dipasang dengan sistem pemadam kebakaran hidrokarbon berhalogen yang harus memenuhi ketentuan Peraturan 5. 2.2 Sebagai alternatif,suatu sistem yang memenuhi persyaratan Peraturan 37.1.3 dapat dipasang, dengan syarat Peraturan 37.2.1 atau 37.3.1,yang sesuai, juga dipenuhi. 2.3 Sejumlah pemadam kebakaran jinjing harus disediakan untuk digunakan dalam ruang tersebut dalam jumlah yang dianggap cukup oleh badan pemerintah sekurang-kurangnya satu pemadam kebakaran jinjing harus diletakkan di tiap jalan menuju ruang tersebut. 3 Sistem ventilasi

3.1 Harus tersedia sistem ventilasi dengan tenaga listrik yang efektif yang cukup untuk memberi minimal 10 pertukaran udara setiap jam untuk kapal yang mengangkut lebih dari 36 penumpang dan 6 pertukaran udara setiap jam untuk kapal yang mengangkut penumpang kurang dari 36 penumpang. Sistem untuk suatu ruang muat seluruhnya harus terpisah dari sistem ventilasi lain dan harus dioperasikan setiap saat ketika ada kendaraan di dalam ruang tersebut. Saluran ventilasi yang melayani ruang muatan tersebut yang dapat ditutup rapat dengan efektif harus terpisah untuk masing-masing ruangan. Sistem tersebut harus dapat dikontrol dari posisi diluar ruang tersebut.

Bab II-2: Konstruksi 3.2 Ventilasi harus sedemikian rupa sehingga dapat mencegah pembentukan kantung-kantung udara dan lapisan udara. 3.3 Anjungan navigasi harus dilengkapi dengan sarana yang dapat menunjukkan adanya kehilangan dan berkurangnya kapasitas ventilasi yang disyaratkan. 3.4 Tata susunan harus dapat memungkinkan sistem ventilasi ditutup dengan cepat dan efektif jika terjadi kebakaran, dengan memperhitungkan kondisi laut dan cuaca. 3.5 Saluran ventilasi, termasuk peredam kebakaran, harus dari baja dan tata susunannya harus sesuai dengan yang disetujui oleh Badan Pemerintah. 4 Tindakan pencegahan terhadap penyalaan uap yang mudah terbakar 4.1 Perlengkapan listrik dan kabel jika dipasang, harus dari tipe yang cocok untuk digunakan dalam campuran antara udara dan bensin yang dapat meledak. Perlengkapan lain yang mungkin merupakan sumber penyalaan uap-uap yang dapat terbakar tidak boleh diizinkan 4.2 Perlengkapan listrik dan kabel , jika dipasang dalam lubang keluaran saluran ventilasi, harus dari tipe yang telah disetujui untuk digunakan dalam campuran antara udara dan bensin yang dapat meledak dan lubang keluaran saluran buang ventilasi harus diletakkan di posisi yang aman, dengan memperhatikan sumbersumber penyalaan lain yang mungkin ada. 4.3 Lubang-lubang skuper tidak boleh menuju ke ruang-ruang mesin atau ruang lain yang memungkinkan terdapat sumber penyalaan. Peraturan 39 Tata susunan pemadam kebakaran di dalam ruan muatan 1 Selain yang ditentukan dalam paragraf 3, ruang-ruang muat pada kapal dengan tonase kotor 1000 keatas harus dilindungi dengan sistem pemadam kebakaran yang memenuhi ketentuan Peraturan 5, atau dengan sistem pemadam kebakaran tipe busa ekspansi tinggi yang memberikan perlindungan yang sepadan.

Bagian B

Peraturan 26

2 Jika dapat ditunjukkan dan diyakinkan kepada Badan Pemerintah bahwa kapal digunakan untuk melakukan pelayaran dengan jangka waktu yang singkat sehingga tidak cukup alasan untuk memberlakukan syarat-syarat paragraf satu dan demikian pula di kapal-kapal dengan tonase kotor kurang dari 1000, tata susunan dalam ruang muatan harus disetujui Badan Pemerintah. 3 Kapal yang digunakan untuk mengangkut barang berbahaya didalam setiap ruang muatan harus dilengkapi dengan sistem pemadam kebakaran dengan gas tetap yang memenuhi ketentuan Peraturan 5 atau dengan sistem pemadam kebakaran yang menurut pendapat Badan Pemerintah dapat memberikan perlindungan yang sepadan pada muatan yang diangkut. Peraturan 40 Sistem patroli deteksi, alaram kebakaran dan pemberitahuan umum (Paragraf 2 peraturan ini berlaku untuk kapal yang dibangun pada atau setelah 1 Februari 1992; paragraf 7 peraturan ini berlaku untuk kapal yang dibangun pada atau setelah 1 Januari 1994) 1 Titik panggil yang dioperasikan yang memenuhi persyaratan Peraturan 13 harus dipasang secara manual. 2 Dalam setiap ruang muatan yang, menurut pendapat Badan Pemerintah, tidak dapat dijangkau harus disediakan sistem pendeteksi dan sistem alarm kebakaran yang memenuhi persyaratan Peraturan 13 atau sistem pendeteksi contoh penghisapan asap yang memenuhi persyaratan-persyaratan Peraturan 13-1, kecuali jika dapat ditunjukkan kepada Badan Pemerintah bahwa kapal digunakan untuk melakukan pelayaran dengan jangka waktu pelayaran yang singkat sehingga tidak cukup alasan untuk memberlakukan persyaratan ini. 3 Semua kapal ketika berada di laut atau di pelabuhan (kecuali jika dalam keadaan tidak dioperasikan), harus selalu diawaki atau diperlengkapi sedemikian rupa sehingga dapat menjamin bahwa setiap alaram kebakaran awal diterima dengan segera oleh anggota awak kapal yang bertanggung jawab 4 Alarm khusus, yang dioperasikan dari anjungan navigasi atau dari stasiun kontrol kebakaran, harus dipasang untuk mengumpulkan awak kapal. Alarm ini boleh merupakan bagian dari sistem alarm umum kapal tetapi harus dapat dibunyikan secara terpisah dari sistem alarm umum ke ruang-ruang penumpang.

Bab II-2: Konstruksi 5 Sistem pemberitahuan umum atau sarana komunikasi lain yang efektif harus tersedia diseluruh ruang-ruang akomodasi dan pelayanan dan stasiun-stasiun kontrol serta geladak terbuka. 6 Untuk kapal-kapal yang mengangkut lebih dari 36 penumpang sistem ronda yang efisien harus tetap diadakan sehingga timbulnya kebakaran dapat dideteksi dari awal kejadian. Setiap anggota ronda kebakaran harus dilatih untuk mengenal tata susunan kapal baik lokasi maupun pengoperasian setiap peralatan yang mungkin penggunaanya dilakukan olehnya. Setiap anggota ronda kebakaran harus dilengkapi dengan alat telepon radio 2 arah yang dapat dijinjing. 7 Jika ruang-ruang umum membentang sepanjang 3 atau lebih geladak terbuka dan berisi bahan yang mudah terbakar seperti mebel dan ruang-ruang tertutup seperti toko, kantor dan restoran, seluruh zona vertikal utama yang berisi ruang tersebut harus dilindungi seluruhnya dengan sistem deteksi asap yang memenuhi Peraturan 13, dengan pengecualian paragraf 19. 7.1 Kapal-kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang harus mempunyai sistem deteksi alaram sebagaimana yang disyaratkan pada Peraturan 36.2 yang dipusatkan di dalam stasiun kontrol terpusat yang selalu dijaga. Selain itu, alat pengatur pintu-pintu kebakaran yang digerakkan dari jauh dan alat untuk mematikan kipas-kipas ventilasi harus dipusatkan di lokasi yang sama. Kipas-kipas ventilasi yang harus dapat dihidupkan kembali oleh awak dari stasiun kontrol yang selalu dijaga Panel-panel kontrol di stasiun kontrol terpusat harus mampu menunjukkan posisi tertutup atau terbuka pintu-pintu kebakaran dan keadaan hidup atau mati alat pendeteksi, alarm dan kipas-kipas. Panel kontrol harus terus dialiri listrik dan harus mempunyai perubah otomatis ke sumber energi cadangan jika pasok tenaga dari sumber energi yang normal terputus. Panel kontrol harus dialiri listrik dari sumber tenaga listrik utama dan sumber tenaga listrik darurat sebagaimana ditetapkan pada Peraturan II-1/42 kecuali jika tata susunan lain diijinkan oleh Peraturan yang berlaku. 7.2 Panel kontrol harus didesain sesuai prinsip yang aman dari kegagalan, misalnya jaringan detektor yang terbuka harus membuat alarm berbunyi, seperti tertulis dalam Peraturan-Peraturan II2/13.1.3 dan II-1/51.1.4.

Peraturan 41

Bagian B

Peraturan 26

Persyaratan khusus untuk kapal-kapal yang mengangkut barangbarang berbahaya. Persyaratan dari Peraturan 54 harus diterapkan, sesuai dengan yang disyaratkan, pada kapal-kapal penumpang yang mengangkut barang-barang berbahaya.

Peraturan 41-1 Peningkatan kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang yang dibangun sebelum 1 Oktober 1994 1 Peraturan ini harus diterapkan pada kapal-kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang yang dibangun sebelum 1 Oktober 1994. 2 Kapal-kapal penumpang yang tidak memenuhi semua persyaratan Bab II-2 yang diberlakukan untuk kapal yang dibangun pada atau setelah 25 Mei 1980 (persyaratan-persyaratan Bab II-2 SOLAS 1974, yang disahkan pada Konferensi Internasional tentang Keselamatan Jiwa di Laut, 1974, diberlakukan untuk kapal penumpang baru) harus memenuhi ketentuan berikut: .1 paragraf 1 Peraturan 41-2 paling lambat 1 Oktober 1994; dan .2 paragraf 2, 3, 4 dan 5 Peraturan 41-2 paling lambat 1 Oktober 1997; dan .3 paragraf 6 Peraturan 41-2 paling lambati 1 Oktober 2000; dan .4 semua persyaratan Bab II-2 yang diterapkan pada kapal-kapal penumpang yang dibangun pada atau setelah 25 Mei 1980 (persyaratan-persyaratan Bab II-2 SOLAS 1974, yang disahkan oleh Konferensi Internasional tentang keselamatan Jiwa di Laut, 1974, diberlakukan untuk kapal-kapal penumpang baru) tidak lebih dari 1 Oktober 2010. 3 Kapal-kapal penumpang yang memenuhi semua persyaratan yang diterapkan pada kapal yang dibangun pada atau setelah 25 Mei 1980 (persyaratan-persyaratan yang diterapkan Bab II-2 SOLAS 1974, sebagaimana diubah dan ditambah oleh resolusi MSC.1(XLV), MSC.6(48), MSC.11(55), MSC.12(56), MSC.13(57) dan MSC.22(59)) harus memenuhi ketentuan berikut:

Bab II-2: Konstruksi .1 paragraf 1 Peraturan 41-2 paling lambat 1 Oktober 1994; dan .2 paragraf 2 dan Peraturan 41-2 paling lambat 1 Oktober 1997; dan .3 paragraf 6 Peraturan 41-2 paling lambat 1 Oktober 2000; dan .4 paragraf 5 Peraturan 41-2 paling lambat 1 Oktober 2005 atau 15 tahun setelah tanggal pembangunan kapal, yang lebih akhir. 4 Untuk maksud dari Peraturan ini, kapal-kapal penumpang yang secara keseluruhan memenuhi semua persyaratan-persyaratan Bagian H Bab II yang terdapat dalam amademen Konvensi Internasional tentang Keselamatan Jiwa di Laut, 1960 yang, disahkan oleh sidang umum Organisasi dengan resolusi A.122(V), dapat dianggap sebagai kapal-kapal penumpang yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang diterapkan pada kapal-kapal penumpang yang dibangun pada atau setelah 25 Mei 1980 (persyaratan Bab II-2 SOLAS 1974, yang disahkan pada Konferensi Internasional tentang Keselamatan Jiwa di Laut, 1974 yang diberlakukan untuk kapal penumpang baru). Peraturan 41-2 Persyaratan untuk kapal penumpang yang mengangkut lebih dari 36 penumpang yang dibangun sebelum 1 Oktober 1994 1.1 Rencana dan buku petunjuk yang disyaratkan oleh Peraturan 20 harus berisi informasi mengenai perlindungan kebakaran, pendeteksian kebakaran dan pemadam kebakaran sesuai petunjuk yang dibuat oleh Organisasi.*% 1.2 Setiap anggota ronda kebakaran harus dilengkapi dengan alat telepon radio dua arah yang dapat dijinjing. 1.3 Aplikator kabut air harus disediakan sesuai yang disyaratkan dalam Peraturan 7.6, 17.3.2 dan 37.1.5.1. 1.4 Aplikator busa jinjing harus disediakan sesuai disyaratkan dalam Peraturan 7.1.2, 7.2.2 dan 37.1.5.2 yang

%*

Mengacu kepada Petunjuk mengenai informasi yang harus dilengkapi dengan rencana kontrols kebakaran dan brosur-brosur yang disyaratkan oleh Peraturan SOLAS II-2/20 dan 41-2 yang disahkan oleh Organisasi dengan resolusi A.756(18).

Bagian B

Peraturan 26

1.5 Semua nosel selang yang disediakan harus dari tipe fungsi ganda yang disetujui (misal tipe pancaran/semprot) yang disambung dengan alat penutup 2 Semua ruang akomodasi dan layanan, pelindung tangga tapak dan lorong-lorong harus dilengkapi dengan sistem deteksi asap dan sistem alaram dari tipe yang disetujui dan memenuhi persyaratan Peraturan 13. Sistem tersebut tidak perlu dipasang dalam kamar mandi pribadi, dan ruangan-ruangan yang mempunyai resiko kebakaran yang kecil atau tidak ada resiko seperti ruang kosong dan ruang serupa. Detektor yang dioperasikan oleh panas sebagai pengganti detektor asap harus dipasang di dalam dapur. 3 Detektor asap yang dihubungkan ke sistem deteksi dan alarm harus dipasang diatas langit-langit di dalam tangga tapak dan lorong-lorong di dalam daerah dimana langit-langit terbuat dari konstruksi yang mudah terbakar. 4.1 Pintu kebakaran berengsel di dalam tangga tapak, sekat zona vertikal utama dan batas-batas dapur yang biasanya tetap terbuka harus dapat menutup sendiri dan dapat ditutup dari stasiun kontrol pusat dan dari suatu posisi di pintu tersebut. 4.2 Suatu panel harus ditempatkan di dalam stasiun kontrol pusat yang selalu dijaga untuk menunjukkan apakah pintu-pintu kebakaran pada pelindung tangga tapak, sekat-sekat zona vertikal utama dan dapur-dapur telah tertutup. 4.3 Saluran-saluran buang dapur dimana gemuk dan minyak biasanya terkumpul dan yang melewati ruang akomodasi atau ruang-ruang yang berisi bahan-bahan yang mudah terbakar harus dibangun dari divisi kelas AA@. Tiap saluran buang dapur harus dipasang dengan: .1 penahan gemuk yang mudah dilepas untuk dibersihkan, kecuali kalau proses alternatif penghilang gemuk dipasang; .2 suatu peredam kebakaran yang ditempatkan di ujung bawah saluran; .3 tata susunan yang dapat dioperasikan dari dalam dapur untuk mematikan kipas buang; .4 sarana yang dipasang tetap untuk memadamkan api dalam saluran; dan .5 lubang berpenutup yang diletakkan pada tempat yang cocok untuk pemeriksaan dan pembersihan.

Bab II-2: Konstruksi 4.4 Hanya kamar mandi umum, elevator, lemari dari bahan yang mudah dapat terbakar yang digunakan untuk menyimpan peralatan keselamatan dan meja informasi boleh ditempatkan dalam batasbatas ruang tertutup tangga tapak. Ruangan lain yang berada dalam ruang tertutup tangga tapak : .1 harus dikosongkan, ditutup secara pemanen dan diputuskan dari sistem listrik; atau .2 harus dipisahkan dari ruang tertutup tangga tapak dengan divisi kelas AA@ yang sesuai dengan Peraturan 26. Ruang-ruang tersebut harus mempunyai jalan langsung menuju pelindung tangga tapak oleh ketentuan pintu-pintu kelas AA@ sesuai dengan Peraturan 26, dan dikenakan sistem percik yang harus disediakan dalam ruang-ruang ini. Tetapi, kabin-kabin tidak boleh terbuka langsung ke tutup tangga tapak. 4.5 Ruang-ruang selain ruangan umum, lorong-lorong, kamar mandi umum, ruang kategori khusus, tangga tapak lain yang disyaratkan oleh Peraturan 28.1.5, ruang geladak terbuka dan ruang-ruang yang tercakup dalam paragrap 4.4.2 tidak diperbolehkan mempunyai jalan menuju ke pelindung tangga tapak. 4.6 Ruang mesin lama kategori 10 yang dipaparkan dalam Peraturan 26.2.2 kantor pusat informasi lama yang terbuka langsung ke pelindung tangga tapak boleh tetap dipertahankan, asalkan dilindungi oleh detektor asap dan kantor pusat informasi lama hanya berisi mebel dengan resiko kebakaran terbatas. 4.7 Disamping lampu darurat yang disyaratkan oleh Peraturan II1/42 dan III/11.5, sarana keselamatan termasuk tangga-tangga tapak dan jalan keluar harus diberi tanda, pada semua tempat jalur penyelamatan termasuk sudut-sudut dan persimpangan, dengan lampu atau garis indikator dari bahan fotoluminescent yang ditempatkan tidak lebih dari 0,3 meter diatas geladak. Tanda tersebut harus mampu membantu penumpang mengetahui semua jalur penyelamatan dan segera mengetahui jalan-jalan keluar. Jika digunakan penerangan listrik, listriknya harus dipasok dari sumber energi darurat dan harus ditata sedemikian rupa sehingga jika terkadi kerusakan pada salah satu lampu, atau terpotongnya garis lampu, tanda tersebut akan tetap berfungsi dengan baik. Selain itu, semua tanda-tanda pada jalur penyelamatan dan marka-marka tempat peralatan kebakaran harus dari bahan fotoluminescent . Badan Pemerintah harus memastikan bahwa lampu atau peralatan

Bagian B

Peraturan 26

fotoluminescent tersebut telah diperiksa, diuji dan diterapkan sesuai dengan petunjuk yang dibuat oleh Organisasi.*% 4.8 Sistem alaram darurat umum harus disediakan. Alaram harus dapat berbunyi ke seluruh ruang akomodasi dan ruang tempat awak bekerja serta geladak terbuka, dan tingkat tekanan suaranya harus H memenuhi standar yang dibuat oleh Organisasi. Alarm harus tetap berfungsi setelah pelatuknya dilepas hingga alarm tersebut dimatikan secara manual atau diganggu sementara oleh pesan pada sistem pemberitahuan umum. 4.9 Sistem pemberitahuan umum atau sarana-sarana komunikasi efektif lainnya harus tersedia dan dapat berbunyi ke seluruh ruang akomodasi ruang, layanan dan umum, stasiun dan geladak-geladak terbuka. 4.10 Mebeler dalam pelindung tangga tapak harus dibatasi untuk tempat duduk. Mebel itu harus dipasang tetap, terbatas hingga 6 kursi pada setiap geladak dalam setiap ruang tertutup tangga tapak, dari bahan dengan resiko kebakaran terbatas, dan tidak boleh membatasi jalur penyelamatan penumpang. Badan Pemerintah boleh mengizinkan penambahan tempat duduk di ruang tamu utama di dalam pelindung tangga tapak, jika tempat duduk itu dipasang tetap, dari bahan yang tidak mudahterbakar, dan tidak membatasi jalur penyelamatan penumpang. Mebel tidak boleh diletakkan dalam lorong penumpang dan awak yang merupakan jalur-jalur penyelamatan dalam daerah kabin. Disamping hal-hal yang disebut diatas, lemari dari bahan yang tidak mudah terbakar, untuk tempat penyimpanan peralatan keselamatan yang disyaratkan oleh Peraturan, dapat diizinkan 5 Ruang-ruang akomodasi dan layanan, pelindung tangga tapak dan lorong-lorong harus dipasang dengan sistem pemercik otomatis, sistem deteksi dan alarm kebakaran yang memenuhi persyaratan-persyaratan Peraturan 12 atau petunjuk yang dibuat oleh Organisasi*% untuk sistem pemercik serupa yang disetujui. Sistem pemercik tidak perlu dipasang dalam kamar mandi pribadi, dan ruang-ruang dengan resiko kebakaran kecil atau tidak ada seperti ruang-ruang kosong dan ruang-ruang serupa.

%*

Mengacu kepada Petunjuk-petunjuk mengenai evaluasi, pengujian dan penerapan lampu yang ditempatkan pada posisi yang rendah pada kapal-kapal penumpang yang disahkan oleh Organisasi dengan resolusi A.752(18).

HMerujuk kepada Kode mengenai Alarm dan Indikator, 1995, disahkan oleh Organisasi
dengan resolusi A.830(19).

%*

Mengacu Petunjuk yang telah direvisi mengenai penyetujuan sistem percik yang sepadan dengan sistem percik yang sesuai dengan Regulasi SOLAS II-2/12 yang disahkan oleh Organisasi dengan resolusi A.800(19).

Bab II-2: Konstruksi 6.1 Semua pelindung tangga tapak dalam ruang akomodasi dan layanan harus dari konstruksi rangka baja kecuali jika Badan Pemerintah mengizinkan penggunaan bahan lain yang sepadan, dan harus berada di dalam ruangan tertutup yang dibentuk oleh divisidivisi kelas AA@, serta dengan sarana penutupan positif di semua lubang, kecuali jika: .1 tangga yang hanya menghubungkan dua geladak tidak perlu ditutup, dengan catatan bahwa integritas geladak dipertahankan oleh sekat atau pintu yang layak di satu ruangan geladak antara. Bilamana tangga tapak ditutup di satu ruangan geladak antara, tutup tangga itu harus dilindungi sesuai dengan tabel-tabel untuk geladak dalam Peraturan 26; .2 tangga-tangga tapak dapat dipasang pada bukaan di dalam ruang umum, asalkan tangga itu seluruhnya terletak dalam ruang umum tersebut. 6.2 Ruang-ruang mesin kategori A harus dipasang dengan sistem pemadam kebakaran yang dipasang tetap yang memenuhi persyaratan-persyaratan Peraturan 7. 6.3 Saluran-saluran ventilasi yang melewati divisi-divisi antara zona vertikal utama harus dilengkapi dengan peredam kebakaran yang tidak dapat rusak dan dapat menutup secara otomatis dan juga harus dapat ditutup dengan tangan dari kedua sisi divisi. Selain itu, peredam kebakaran yang tidak dapat rusak dan dapat menutup secara otomatis dengan pengoperasian secara manual dari dalam ruang tertutup harus dipasang pada semua saluran ventilasi yang melayani kedua ruang akomodasi dan layanan dan pelindung tangga tapak dimana saluran itu menembus ruang-ruang tertutup itu. Saluran-saluran ventilasi yang melewati divisi zona kebakaran utama tanpa melayani ruang-ruang pada kedua sisi atau melewati pelindung tangga tapak tanpa melayani ruang tertutup itu tidak perlu dipasang dengan peredam asalkan saluran-saluran itu dibangun dan diisolasi sesuai dengan standar A-60 dan tidak mempunyai bukaanbukaan dalam pelindung tangga tapak atau di dalam tabung pada sisi yang tidak secara langsung dilayani. 6.4 Ruang-ruang kategori khusus dan ruang-ruang muatan ro-ro harus memenuhi persyaratan-persyaratan dalam Peraturan 37 dan 38. 6.5 Semua pintu kebakaran dalam pelindung tangga tapak, sekat-sekat zona vertikal utama dan batas-batas dapur yang

Bagian B

Peraturan 26

biasanya tetap terbuka harus mampu dilepas dari stasiun kontrol pusat dan dari suatu kedudukan di pintu.