Anda di halaman 1dari 58

Bagian B

Peraturan 4

Bagian B Sub divisi dan Stabilitas*1


( bagian B berlaku bagi kapal penumpang dan kapal barang, seperti yang
dinyatakan dalam peraturan )

Peraturan 4 Panjang genangan pada kapal penumpang


1 Panjang genangan pada setiap titik sepanjang kapal harus ditentukan dengan cara perhitungan yang memperhatikan bentuk; sarat dan ciri-ciri lainnya dari kapal yang bersangkutan. 2 Dalam sebuah kapal dengan geladak sekat yang menerus, panjang genangan pada sebuah titik tertentu adalah bagian terbesar dari panjang kapal, yang mempunyai titik tengah berimpit dengan titik tersebut, yang mana dapat digenangi berdasarkan asumsi-asumsi tertentu sesuai peraturan 5 tanpa kapal terbenam melewati garis batas benaman. 3.1 Dalam kasus dari sebuah kapal yang tidak memiliki sebuah geladak sekat yang menerus, panjang genangan pada titik tertentu dapat ditentukan pada suatu asumsi garis batas yang menerus yang tiada satu titikpun kurang dari 76 m/m di bawah sisi atas geladak (pada sisi) yang mana sekat-sekat dan kulit kapal dibuat kedap air. 3.2 Apabila sebuah bagian dari suatu asumsi garis batas benaman adalah cukup besar di bawah geladak yang mana sekat-sekat terbebani, maka Badan Pemerintah dapat mengizinkan pengurangan terhadap kekedapan air dari bagian-bagian sekat ini yang berada di atas garis batas benaman dan langsung di bawah geladak yang lebih tinggi.

1* Sebagai pengganti dari persyaratan ini, peraturan mengenai subdivisi dan stabilitas kapal penumpang yang equivalen dengan bagian B dari Bab II Konvensi Internasional Keselamatan Jiwa di Laut, 1960 yang disetujui oleh Organisasi pada resolusi A.265(VIII), yang dapat digunakan jika berlaku keseluruhan.

51

Bab II -1: Konstruski

Peraturan 5

Permeabilitas kapal-kapal penumpang


1.1 Asumsi-asumsi pasti yang menjadi acuan dari peraturan 4 yang bertalian pada permeabilitas dari ruangan-ruangan di bawah garis batas benaman. 1.2 Dalam menentukan panjang genangan, permeabilitas rata-rata seragam akan digunakan untuk seluruh panjang dari masing-masing bagian berikut dari kapal di bawah garis batas benaman : .1 Ruang mesin sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan 2; .2 Bagian depan dari ruang mesin; dan .3 Bagian belakang dari ruang mesin. 2.1 Permeabilitas rata-rata seragam seluruh ruang mesin harus

ditentukan dengan rumus : dimana : a = volume ruang penumpang, sebagaimana dalam peraturan 2, yang mana berada berada dibawah garis batas benaman didalam batas-batas didalam batas- batas ruang mesin. c = volume ruang geladak antara dibawah garis batas benaman didalam batas-batas ruang mesin yang diperuntukkkan bagi muatan , batu bara atau perbekalan. v = seluruh volume ruang mesin dibawah garis batas benam. 2.2 Jika ternyata memenuhi ketentuan Badan Pemerintah , bahwa permeabilitas rata-rata sebagaimana yang ditentukan dengan perhitungan secara rinci itu lebih kecil daripada nilai yang diperoleh dari rumus, maka nilai yang diperhitungkan secara rinci itu dapat digunakan. Untuk maksud perhitungan tersebut, permeabilitas ruang -ruang penumpang , sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan -peraturan, harus diambil nilai 95, semua ruang muatan, batu bara dan perbekalan diambil nilai 60, dan untuk dasar ganda; bahan bakar dan tangki- tangki lain nilai-nilai tersebut disetujui untuk masing-masing keadaan. dimana : a = Volume dari ruang-ruang penumpang, sebagaimana dalam peraturan 2, yang terletak di bawah garis batas benam, di depan 52

Bagian B

Peraturan 4

atau di belakang ruang mesin; dan v = Seluruh volume dari bagian kapal di bawah garis batas benam depan atau belakang ruang mesin. 4.1 Pada kasus persyaratan sub divisi khusus dalam peraturan 6.5, permeabilitas rata-rata seragam seluruh bagian dari kapal di depan atau di belakang ruang mesin harus : dimana : b = Volume ruangan-ruangan di bawah garis batas benaman dan di atas bagian atas wrang, dasar dalam, atau tangki-tangki ceruk, dimanapun yang mungkin, yang mungkin diperuntukkan sebagai ruang-ruang muat, batu bara atau tempat penyimpanan minyak bahan bakar, gudang, ruang bagasi dan ruang pos, bak rantai dan tangki-tangki air tawar, di depan atau di belakang ruang mesin; dan v = Seluruh volume bagian kapal di bawah garis batas benam belakang atau di belakang ruang mesin.

4.2 Pada kasus kapal-kapal yang berlayar dengan ruang-ruang muatan yang umumnya tidak biasanya muatan dalam jumlah yang besar, bukan bagian dari ruang-ruang muat harus dimasukkan pada perhitungan b. 5 Pada kasus tata susunan yang tidak biasa, Badan Pemerintah dapat mengizinkan atau mensyaratkan suatu perhitungan secara rinci permeabilitas rata-rata untuk bagian-bagian depan atau belakang ruang mesin. Untuk memenuhi perhitungan tersebut, permeabilitas ruangruang penumpang seperti yang diterapkan dalam peraturan 2 harus dipakai nilai 95, untuk ruangan-ruangan yang berisi muatan, batu bara dan gudang dipakai nilai 60, dan untuk dasar ganda, minyak bahan bakar dan tangkitangki lainnya nilai tersebut disetujui untuk masing-masing keadaan. 6 Bilamana terdapat kompartemen geladak berada diantara dua sekat melintang kedap air terdapat beberapa ruang penumpang atau ruang awak kapal, maka seluruh kompartemen tersebut, dikurangi dengan ruangan yang benar-benar terkurung di dalam sekat-sekat baja permanen dan diperuntukkan untuk keperluan-keperluan lain, harus dianggap sebagai ruang penumpang. Namun jika ruang penumpang atau ruang awak kapal yang dimaksud itu benar-benar terkurung didalam sekat-sekat baja tetap tersebut hanya ruangan yang terkurung demikian itulah yang wajib dianggap sebagai ruang penumpang.

Peraturan 6
53

Bab II -1: Konstruski

Panjang

permeabilitas

kompartemen-kompartemen

kapal

penumpang
1 Kapal-kapal harus dibagi-bagi seefisien mungkin dengan memperhatikan sifat-sifat dari pelayaran apa peruntukan kapal tersebut. Tingkat sub divisi itu akan berubah-ubah sesuai dengan panjang kapal dan pelayarannya, sedemikian rupa sehingga tingkat yang paling tinggi dari subdivisi itu selaras dengan kapal-kapal yang paling panjang, terutama yang digunakan untuk mengangkut penumpang. 2 Faktor sub divisi 2.1 Panjang yang diizinkan maksimum sebuah kompartemen yang titik tengahnya terletak disembarang titik di sumbu membujur kapal diperoleh dari panjang genangan dikalikan dengan suatu faktor yang sesuai yang disebut faktor sub divisi. 2.2 Faktor sub divisi akan tergantung pada panjang kapal, dan untuk suatu panjang kapal tertentu nilai faktor sub divisi itu berubah sehubungan dengan kondisi pelayaran untuk keperluan apa kapal itu diperuntukkan. Nilai faktor sub divisi akan berkurang secara beraturan dan berlanjut .1 Jika panjang kapal bertambah, dan .2 dari suatu faktor A, yang berlaku bagi kapal-kapal yang terutama melakukan pengangkutan muatan, ke sebuah faktor B, yang berlaku bagi kapal-kapal yang terutama melakukan pengangkutan penumpang. 2.3 Perubahan-perubahan dari faktor-faktor A dan B dinyatakan oleh rumus (1) dan (2) dimana L adalah panjang kapal sebagaimana ditentukan dalam peraturan 2 3 Kriteria pelayanan 3.1 Bagi sebuah kapal dengan ukuran panjang tertentu, faktor sub divisinya yang sesuai akan ditentukan dengan bilangan kriteria pelayanan (selanjutnya disebut bilangan kriteria) sebagaimana yang dihasilkan oleh rumus (3) dan (4) dimana: Cs = Bilangan kriteria L = Panjang kapal (meter), seperti yang didefinisikan di dalam peraturan 2; M = Volume ruang mesin (meter kubik), sebagaimana yang didefinisikan di dalam peraturan 2; dengan tambahan volume tempat-tempat penyimpanan bahan bakar minyak yang 54

Bagian B

Peraturan 4 manapun yang terletak di atas dasar dalam dan di depan atau di belakang ruang mesin. = Seluruh volume kapal di bawah garis batas benaman; (meter kubik) = KN dimana : N = Jumlah penumpang yang diizinkan diangkut untuk kapal itu. K = 0,056 L

V P1

3.2 Jika nilai KN itu lebih besar dari jumlah P dan seluruh volume ruang penumpang sesungguhnya di atas garis ambang batas benaman, bilangan itu harus dianggap sebagai P1 yang merupakan jumlah tersebut atau dua pertiga KN, yang mana diantara nilai-nilai itu yang lebih besar. Jika P1 lebih besar dari P;

M _2 =Cs 7 P1 2 V_P1

(3 )

dan dalam hal-hal lain :

M_2P Cs =7 2 V

(4 )

3.3 Untuk kapal-kapal yang tidak mempunyai sekat geladak menerus volumenya harus diperhitungkan sampai ke garis-garis ambang batas benaman yang sebenarnya yang digunakan untuk menentukan panjang genangan. 4 Aturan - aturan untuk sub divisi yang selain dari yang dicakup oleh paragraf 5 4.1 Sub divisi di belakang ceruk haluan dari kapal yang panjangnya 131 m ke atas dengan bilangan kriteria 23 atau kurang akan ditentukan oleh faktor A yang dihasilkan oleh rumus (1); kapal-kapal yang bilangan kriterianya 123 atau lebih dari faktor B yang dihasilkan rumus (2); dan mempunyai bilangan kriteria antara 23 dan 123 oleh faktor F diperoleh dengan menginterpolasi faktor A dan B, dengan menggunakan rumus : 55

Bab II -1: Konstruski

F = A-

( -B (Cs-A2 ) 3 ) 1 0 0

(5 )

sekalipun demikian, jika bilangan kriteria itu sama dengan 45 atau lebih dan secara serentak faktor sub divisi yang diperhitungkan sebagaimana yang dihasilkan oleh rumus (5) itu sama dengan 0,65 atau kurang, tetapi leibh dari 0,5; sub divisi di belakang ceruk haluan itu akan ditentukan oleh faktor 0,50. 4.2 Jika faktor F itu kurang dari 0,40 dan ditunjukkan kepada ketentuanketentuan yang ditetapkan oleh Badan Pemerintah adalah tidak mungkin memenuhi faktor F di dalam suatu kompartemen mesin kapal, sub divisi kompartemen itu dapat ditentukan oleh suatu faktor yang diperbesar, bagaimanapun faktor itu tidak boleh lebih besar dari 0,40. 4.3 Sub divisi di belakang ceruk haluan dari kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 131 meter tetapi tidak mempunyai panjang tidak kurang dari 79 m mempunyai bilangan kriteria sama dengan S, dimana :

S =

3,574 - 25 L 13

harus ditentukan oleh satuan faktor; bagi kapal-kapal yang mempunyai bilangan kriteria 123 atau lebih oleh faktor B yang diperoleh dari rumus (2); bagi kapal yang mempunyai nilai kriteria antara S dan 123 oleh faktor F yang diperoleh dengan interpolasi linier antara satuan dan faktor B dengan menggunakan rumus:

( - B (C -S 1 ) ) F = 1- s 1- S 2 3

(6 )

4.4 Sub divisi di belakang ceruk haluan kapal yang kurang dari 131 m tetapi kurang dari 79 m dan mempunyai angka kriteria kurang dar S, dan untuk kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 79 m akan ditetntukan dengan satuan faktor, kecuali kedua-duanya ditunukkan kepada ketentuan Badan Pemerintah adalah tidak mungkin memenuhi faktor ini di dalam bagian manapun dari kapal, yang dalam bagian ini Badan Pemerintah dapat memberikan kelonggaran sedemikian rupa sehingga sekiranya dapat dipertanggungjawabkan, dengan mempertimbangkan semua hal. 56

Bagian B

Peraturan 4

4.5 Ketentuan-ketentuan dalam paragraf 4.4 akan berlaku juga bagi kapal yang mempunyai panjang berapapun, yang diizinkan mengangkut penumpang lebih dari 12 orang tetapi tidak lebih dari :

L 650

atau 50 ,

dipilih yang lebih kecil.

5 Patokan-patokan khusus dari sub divisi bagi kapal-kapal yang berdasarkan peraturan III/20.1.2 5.1.1 Bagi kapal-kapal yang terutama digunakan untuk mengangkut penumpang, maka sub divisi di belakang ceruk haluan akan ditentukan oleh sebuah faktor 0,50 atau dengan faktor yang ditentukan berdasarkan paragraf-paragraf 3 dan 4, jika kurang dari 0,50. 5.1.2 Bagi kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 91,5 m, jika Badan Pemerintah menyetujui bahwa perubahan faktor tersebut tidak dapat dilaksanakan dalam suatu kompartemen, maka Badan Pemerintah dapat memberi kelonggaran atas panjang kompartemen yang ditentukan itu dengan suatu faktor yang lebih besar dengan ketentuan bahwa faktor yang digunakan itu adalah yang terkecil yang dimungkinkan dan alasan kondisi lingkungan yang dapat diterima. 5.2 Apabila bagi kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 91,5 meter atau tidak, keperluan mengangkut muatan dengan jumlah yang berarti sehingga mengakibatkan kapal itu tidak mungkin menghendaki sub divisi di belakang ceruk haluan ditentukan oleh suatu faktor yang tidak lebih dari 0,50, maka patokan sub divisi yang digunakan itu akan ditentukan sesuai dengan ketentuan sub paragraf .1 sampai .5, sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan Badan Pemerintah bahwa dalam keadaan apapun tidak selayaknya mengikuti syarat-syarat dengan kelengkapan-kelengkapannya, maka Badan Pemerintah boleh mengizinkan susunan lain dari sekat-sekat kedap air yang sekiranya akan dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan kepentingan dan tidak akan meniadakan kedayagunaan dari sub divisi itu. .1 Ketentuan-ketentuan paragraf 3 yang berkaitan dengan bilangan kriteria akan berlaku dengan pengecualian bahwa dalam menghitung nilai P1 untuk para penumpangpenumpang kamar K harus mempunyai nilai sebagaimana yang ditetapkandalam paragraf 3, atau 3,5 m3, diambil mana yang lebih besar, dan untuk para penumpang yang bukan penumpang kamar K harus mempunyai nilai 3,5 m3. Faktor B dalam paragraf 2 akan diganti dengan faktor BB yang ditentukan dengan rumus berikut : 57

.2

Bab II -1: Konstruski

BB =

17.6 + 0.20 L - 33

(L - 55 m

keatas)

.3

Sub divisi di belakang ceruk haluan dari kapal-kapal yang panjangnya 131 meter ke atas yang mempunyai bilangan kriteria 23 atau kurang harus ditentukan oleh faktor A yang dihasilkan oleh rumus (1) dalam paragraf 2.3; yang mempunyai bilangan kriteria 123 atau lebih, oleh faktor BB yang dihasilkan oleh rumus dalam sub paragraf 5.2.2; dan yang mempunyai bilangan kriteria antara 23 dan 123 oleh faktor F yang diperoleh dengan interpolasi linier antara faktor A dan BB, menggunakan rumus :

F = A-

( A- B B( C) s - 2 3 ) 100

kecuali jika faktor F yang dihasilkan itu lebih kecil dari 0,50, maka faktor yang harus digunakan itu akan kurang dari 0,50 atau faktor yang dihitung sesuai dengan ketentuan-ketentuan paragraf 4.1, diambil mana yang lebih kecil. .4 Sub divisi di belakang ceruk haluan dari kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 131 m tetapi tidak kurang dari 55 m mempunyai sebuah bilangan kriteria sama dengan S1 dimana :

F = A-

( A- B B( C s - 2 3 ) ) 100

akan ditentukan oleh sebuah faktor; yang mempunyai bilangan kriteria 123 atau lebih oleh faktor F yang diperoleh dari interpolasi linier antara satuan dan faktor BB antara satuan dan faktor BB dengan menggunakan rumus :

58

Bagian B

Peraturan 4

F = 1-

( 1- B B( C s - S 1 ) ) 1 2 -3S 1

Kecuali jika di dalam salah satu dari kedua hal yang terakhir itu bilamana faktor yang diperoleh itu kurang dari 0,50, maka sub divisi itu dapat ditentukan oleh suatu faktor yang tidak lebih dari 0,50. .5 Sub divisi di belakang ceruk haluan dari kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 131 m tetapi tidak kurang dari 55 m dan mempunyai sebuah bilangan kriteria kurang dari S1 dan bagi kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 55 m akan ditentukan oleh satuan faktor, jika menyakinkan Badan Pemerintah bahwa tidak mungkin memenuhi faktor ini di dalam kompartemen-kompartemen tertentu, dalam hal mana Badan Pemerintah dapat memberikan kelonggarankelonggaran terhadap kompartemen-kompartemen itu yang layak untuk dipertanggung jawabkan dengan mempertimbangkan semua keadaan dengan ketentuan bahwa kompartemen yang paling belakang dan sebanyak mungkin kompartemen di depan (antara ceruk haluan dan ujung belakang ruang mesin) harus dipertahankan di dalam panjang genangan.

5.3 Ketentuan hal khusus permeabilitas diberikan di dalam peraturan 5.4 akan ditentukan ketika menghitung panjang kurva genangan. 5.4 Jika Badan Pemerintah setuju dan menganggap bahwa kondisi alam dan persyaratan-persyaratan dari pelayaran yang dimaksud terpenuhi dengan syarat-syarat lain dari Bab ini dan Bab II-2 terpenuhi, maka persyaratan-persyaratan dari paragraf ini tidak perlu dipenuhi.

Peraturan 7 Persyaratan-persyaratan khusus sub divisi kapal penumpang


1 Jika di dalam bagian atau bagian-bagian dari sebuah kapal sekatsekat kedap air di pasang sampai ke suatu geladak yang lebih tinggi daripada geladak-geladak yang lain dikapal dan dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan dan pemasangan sekat-sekat kedap air yang lebih tinggi ini dalam perhitungan panjang genangan, maka garis-garis batas benaman yang terpisah dapat digunakan untuk masing-masing bagian kapal 59

Bab II -1: Konstruski tersebut, dengan ketentuan bahwa : .1 Sisi-sisi kapal yang terpasang meliputi panjang kapal sampai ke geladak yang berhimpit dengan garis batas benam atas dan semua lubang-lubang pada plat kulit di bawah geladak yang meliputi panjang kapal dianggap ada di bawah garis batas benam, untuk memenuhi peraturan 17; dan Dua kompartemen yang berdekatan yang bertingkat pada geladak sekat itu masing-masing di dalam panjang genangan yang berhimpit dengan garis-garis batas benaman masingmasing, dan di samping itu panjang gabungannya tidak lebih dari dua kali panjang yang diizinkan yang dibuat berdasarkan garsi batas benaman yang lebih rendah.

.2

2.1 Sebuah kompartemen boleh lebih panjang dari panjang yang diizinkan sesuai ketentuan dari aturan-aturan dari peraturan 6 dengan ketentuan bahwa panjang masing-masing pasangan dari kompartemen yang berdampingan sampai kompartemen mana yang dimaksud itu pada umumnya tidak terlampaui dari panjang genangannya atau dua kali panjang yang diizinkan, dari dua ukuran itu diambil mana yang lebih pendek. 2.2 Jika salah satu dari dua kompartemen itu terletak dalam ruang mesin, sedangkan yang kedua terletak di luar ruang mesin, dan permeabilitas ratarata dari bagian kapal yang mana kompartemen yang kedua itu terletak tidak sama dengan permeabilitas ruang mesin, maka panjang gabungan dari dua kompartemen itu diatur sampai permeabilitas rata-rata dari kedua bagian kapal dimana kompartemen-kompartemen berada. 2.3 Jika dua kompartemen yang berdampingan mempunyai faktor-faktor yang berbeda dari sub divisi, maka panjang gabungan dari kedua kompartemen-kompartemen itu akan ditentukan secara proposional. 3 Untuk kkapal yang mempunyai panjang 100 m dan lebih, salah satu dari sekat-sekat melintang utamanya di belakang ceruk haluan harus dipasang pada suatu jarak dari tegak haluan yang mana tidak lebih besar dari panjang yang diizinkan. 4 Sebuah sekat melintang utama boleh direlungkan dengan ketentuan bahwa semua bagian dari relung itu terletak di suatu kedudukan yang jaraknya dari kulit kapal sama dengan seperlima lebar kapal sebagaimana yang diterapkan dalam peraturan 2, dan diukur tegak lurus sumbu membujur setinggi garis muat sub divisi yang paling dalam. Setiap bagian relung yang terletak di luar batas-batas ini akan diperlakukan sebagai relung sesuai dengan paragraf 5. 5 Sebuah sekat utama melintang boleh direlungkan dengan ketentuan 60

Bagian B memenuhi satu dari kondisi-kondisi berikut : .1

Peraturan 4

.2 .3

Panjang gabungan dari dua kompartemen, yang dipisahkan oleh sekat yang dimaksud, tidak lebih dari 90 % dari panjang genangan atau dua kali panjang yang diizinkan, kecuali kapal-kapal yang mempunyai sebuah faktor sub divisi lebih besar dari 0,9, panjang gabungan dari dua kompartemen yang dimaksud tidak boleh melebihi panjang yang diizinkan. Sub divisi tambahan diberikan ditempat relung untuk mempertahankan ukuran keselamatan yang sama sebagaimana yang diperoleh dari suatu rencana sekat. Kompartemen yang diatasnya terdapat relung itu tidak boleh melebihi dari panjang yang diizinkan yang berkaitan dengan sebuah garis batas benaman yang ditarik 76 mm di bawah relung itu.

6 Jika sebuah sekat melintang direlungkan atau diundakan, maka harus digunakan rencana sekat yang sepadan dalam menentukan sub divisi. 7 Jika jarak antara dua sekat melintang yang berdampingan, atau sekat yang sepadan, atau jarak diantara bidang-bidang melintang yang melalui bagian-bagian dari sekat-sekat relung yang paling dekat, kurang dari 3,0 meter ditambah 3 % panjang kapal, atau 11 meter, yang mana dari dua nilai itu diambil yang lebih kecil, hanya satu dari sekat-sekat itu harus dianggap sebagai sekat yang membentuk bagian dari sub divisi kapal sesuai dengan ketentuan peraturan 6. 8 Jika suatu kompartemen kedap air melintang utama mengandung sub divisi setempat dan memenuhi ketentuan-ketentuan Badan Pemerintah dengan anggapan anggapan kerusakan pada lambung yang panjangnya 3,0 meter ditambah 3% dari panjang kapal, atau 11 meter, diambil nilai yang kecil, maka seluruh volume dari kompartemen utama tidak akan tergenang, kelongggaran yang sebanding dapat dibuat dalam panjang yang diizinkan kecuali ditentukan lain untuk kompartemen itu. Dalam hal ini volume daya apung efektif pada sisi yang tidak rusak tidak boleh lebih besar dari asumsi pada sisi yang rusak 9 Jika faktor yang disyaratkan dari sub divisi adalah 0,50 atau kurang, maka panjang gabungan dari dua kompartemen yang berdekatan tidak boleh lebih dari panjang genangan.

Peraturan 8 Stabilitas Kapal- kapal Penumpang dalam Keadaan Rusak*2 2* Mengacu pada
MSC/ sirkulasi .541 (boleh diperbaharui): catatan petunjuk yang menyatu dari lapisan-lapisan aliran diatas geladak sekat dari kapal-kapal penumpang untuk penerapan

61

Bab II -1: Konstruski (Sesuai persyaratan Peraturan 8-1, 3paragraf 2.3.1 samapai 2.3.4, 2.4.5 dan 6.2 yang diterapkan pada kapal-kapal penumpang yang dibangun pada atau setelah 29 April 1990. Paragraf 7.2, 7.3 dan 7.4 yang diterapkan untuk semua kapal-kapal penumpang ) 1.1 Stabilitas utuh yang cukup akan diperoleh didalam semua keadaan kerja agar kapal mampu melawan genangan dari suatu kompartemen utama yang disyaratkan pada panjang genangan. 1.2 Jika dua kompartemen yang berdekatan dipisahkan oleh sebuah sekat yang direlungkan sebagaimana peraturan 7.5.1 maka stabilitas utuh itu harus cukup untuk menanggulangi genangan dua kompartemen utama yang berdampingan tersebut. 1.3 Jika faktor sub divisi yang disyaratkan itu 0,50 atau kurang tetapi lebih dari 0,33 stabilitas utuh harus cukup untuk menanggulangi genangan dua kompartemen utama yang manapun yang berdekatan. 1.4 Jika faktor subdivisi yang disyaratkan itu 0,33 atau kurang, maka stabilitas utuh itu harus cukup untuk menanggulangi genangan tiga kompartemen utama yang manapun yang berdekatan. 2.1 Syarat-syarat paragraf 1 akan ditentukan dengan perhitunganperhitungan yang dibuat sesuai dengan paragraf 3, 4, dan 6 dengan memperhatikan imbangan- imbangan dan karakteristik desain bentuk kapal dan tata susunan serta bentuk luar dari kompartemen- kompartemen yang rusak . Dalam membuat perhitungan- perhitungan ini, kapal harus dianggap dalam keadaan bekerja yang paling buruk ditinjau dari segi stabilitasnya. 2.2 Jika diusulkan untuk memasang geladak- geladak, kulit-kulit dalam atau sekat-sekat membujur dengan kekakuan yang cukup untuk sungguhsungguh membatasi mengalirnya air, maka Badan Pemerintah harus dapat diyakinkan bila mana dipertimbangkan secara layak pembatasanpembatasan dalam perhitungan- perhitungan itu. 2.3 Persyaratan stabilitas pada kondisi akhir setelah kerusakan dan setelah terjadi keseimbangan , sebagaimana yang disyaratkan harus ditentukan sebagai berikut: 2.3.1 Lengan momen pengungkit sisa yang positif harus mempunyai sebuah batasan sudut 15 derajat dibawah sudut keseimbangan. 2.3.2 Luasan dibawah lengan kurva paling sedikit 0,015 m-radian yang

yang pantas dari peraturan- peraturan II-1/8 dan 20, paragraf 1, SOLAS 1974, sebagai artikel tambahan.

3Acuan ke peraturan 8-1 yang diterapkan dari 1 juli 1997; mengacu ke SOLAS 1992 artikel
tambahan (resolusi MSC.26(26(60)).

62

Bagian B

Peraturan 4

diukur dari sudut keseimbangan yang lebih kecil dari : .1 Sudut pada tempat terjadinya kebocoran yang progresif . .2 22 derajat (diukur vertikal) pada kasus satu kompartemen bocor, atau27 derajat (diukur vertikal) pada kasus kebocoran bersamaan dari dua atau lebih kompartemen yang berdekatan. 2.3.3 Sebuah lengan momen pengungkit sisa harus dihasilkan dengan batasan yang ditentukan dalam 2.3.1, diambil harga terbesar dari momen oleng berikut: .1 semua penumpang berkumpul kesatu sisi. .2 peluncuran dari semua dewi-dewi dengan beban penuh pada satu sisi. .3 tekanan angin. Dihitung dengan rumus : dimana dalam hal ini momen pengungkit sisa tidak boleh kurang dari 0,10 m. 2.3.4 Untuk keperluan perhitungan momen-momen oleng dalam paragraf 2.3.3, harus diasumsikan sebagai berikut : .1 .1.1 .1.2 .1.3 Momen-momen akibat berkumpulnya penumpangpenumpang. Empat orang permeter persegi Berat tiap penumpang 75 kg Penumpang- penumpang akan tersebar pada luasan geladak yang ada pada satu sisi kapal diatas geladak-geladak yang dijadikan pusat berkumpul dan di suatu tempat yang menghasilkan momen oleng yang terbesar. Momen-momen untuk peluncuran sekoci penyelamat dari dewi-dewi dengan beban penuh pada satu sisi yang miring. Semua sekoci-sekoci penolong dan sekoci-sekoci penyelamat ditempatkan pada sisi yang mana kapal setelah

.2 .2.1

.2.2

.2.3

.2.4

mengalami kerusakan dan harus diasumsikan dalam posisi di ayun dengan beban penuh dan siap diturunkan. Untuk sekoci-sekoci penolong yang ditempatkan untuk diluncurkan dengan pembebanan penuh dari posisi dimuati, momen oleng maksimum selama peluncuran yang akan diambil. Peluncuran rakit pelampung dengan pembebanan penuh yang digantung pada setiap dewi-dewi disisi kapal yang oleng setelah mengalami kerusakan hanya diasumsikan pada kondisi terayun dan siap diturunkan. Orang- orang yang tidak berada pada peralatan pelampung 63

Bab II -1: Konstruski penyelamat yang diayun tidak akan memberikan tambahan momen oleng atau momen penegak. Pelampung penyelamat yang terletak pada sisi kapal yang berlawanan dengan sisi oleng kapal harus diasumsikan pada posisi dimuati. Momen-momen akibat tekanan angin: Tekanan angin yang dipakai adalah 120 N/m2 ; Luasan yang akan dipakai merupakan proyeksi luasan dengan arah memanjang kapal diatas garis air yang diperhitungkan dalam stabilitas utuh. Lengan momen adalah jarak vertikal dari suatu titik pada setengah sarat pada sarat rat-rata yang diperhitungkan dalam stabilitas utuh ke titik berat luasan memanjang kapal.

.2.5 .3 .3.1 .3.2 .3.3

2.4 Pada tahapan genangan lanjut, luasan momen penegak maksimum harus paling sedikit 0,05 meter dan batasan jarak dari lengan momen penegak maksimum paling sedikit 7 0. Pada semua kasus, hanya satu penembusan pada lambung dan hanya satu permukaan bebas yang diasumsikan. 3 Untuk memenuhi maksud pembuatan perhitungan-perhitungan stabilitas dalam keadaan rusak maka volume dan permebilitas permukaan pada umumnya harus sebagai berikut :

Ruangan Diperuntukan bagi muatan, batu bara, atau perbekalan Ditempati sebagai akomodasi Ditempati mesin-mesin Diperuntukkan bagi cairan- cairan

Permeabilitas 60 95 85 0 atau 95*4

Permeabilitas permukaan yang nilainya lebih besar harus diasumsikan bagi ruangan -ruangan, didekat bidang air kebocoran yang didalamnya tidak terdapat akomodasi atau permesinan yang jumlahnya tidak berarti dan ruangan-ruangan yang pada umumnya tidak ditempati muatan atau perbekalan apapun yang jumlahnya berarti. 4 Perluasan kerusakan harus diasumsikan sebagai berikut: .1 Dalam daerah membujur : 3,0 meter ditambah 3 % panjang kapal, atau 11,0 meter, dipilih mana yang lebih kecil. Jika faktor sub divisi yang disyaratkan itu 0,33 atau lebih kecil, maka luas kerusakan membujur itu harus diasumsikan

4* Yang mana hasilnya merupakan persyaratan yang lebih berat.

64

Bagian B

Peraturan 4 diperbesar sedemikian rupa sehingga meliputi dua sekat kedap air melintang utama yang beruntun.

.2

Dalam arah melintang (diukur dari dalam lambung kapal, tegak lurus sumbu membujur setinggi garis muat sub divisi yang paling dalam): suatu jarak seperlima dari lebar kapal, seperti yang ditentukan dalam peraturan 2; dan

.3

Dalam arah vertikal ; dari garis dasar yang menanjak tanpa batas.

.4 Jika ada kerusakan lebih kecil dari luasan yang ditunjukkan dalam paragraf-paragraf 4.1, 4.2 dan 4.3 akan tetapi menghasilkan suatu kondisi yang lebih berat akibat kemiringan kehilangan dari tinggi metasentrum, maka kerusakan tersebut harus diperhitungkan dalam perhitungan. 5 Penggenangan yang tidak simetris harus dijaga hingga sekecil mungkin sesuai dengan susunan yang efesien . Jika diperlukan untuk memperbaiki sudut kemiringan yang besar, cara yang dipakai, jika mungkin, harus dapat bekerja sendiri, namun dalam hal kapal dilengkapi alat kontrol keseimbangan, maka perlengkapan tersebut harus dapat dioperasikan dari atas geladak sekat. Perlengkapan keseimbangan ini beserta alat kontrolnya harus dapat diterima oleh Badan Pemerintah. Sudut oleng maksimum setelah genangan namun belum mencapai keseimbagan tidak boleh melebihi 150. Apabila perlengkapan-perlengkapan keseimbagan itu disyaratkan, maka waktu untuk terjadinya keseimbangan itu tidak akan lebih lama daripada 15 menit. Informasi penting yang berkaitan dengan pemasangan perlengkapan keseimbangan harus diberikan kepada nakhoda kapal.* 5 6 Kondisi akhir dari kapal setelah rusak dan dalam hal penggenangan yang tidak simetris, setelah dilakukan langkah-langkah penyeimbangan harus terjadi hal-hal berikut: .1 .2 Bagi penggenangan simetris harus ada suatu tinggi meta sentrum sisa positif yang nilainya paling sedikit 50 mm sebagaimana yang dihitung dengan metode displasmen tetap. Bagi penggenangan tidak simetris seluruh kemiringan tidak melampaui 70. Untuk genangan yang bersamaan dari dua atau lebih kompartemen yang berdekatan, Badan Pemerintah dapat mengizinkan kemiringan 12 0. Dalam keadaan bagaimanapun juga garis batas benam itu tidak akan terbenam didalam tahapan akhir penggenangan. Jika dianggap bahwa garis batas benam itu dapat menjadi terbenam selama tahapan penggenangan lanjut, maka Badan Pemerintah

.3

5* Mengacu pada rekomendasi pada metode standar untuk memenuhi persyaratan tata susunan untuk mengatur keseimbangan di kapal penumpang yang ditetapkan Organisasi sesuai resolusi A 266 (VIII).

65

Bab II -1: Konstruski dapat mensyaratkan penyelidikan dan pengaturan-pengaturan yang dianggap perlu demi keselamatan kapal. 7.1 Nakhoda kapal harus dilengkapi dengan data yang diperlukan untuk mempertahankan stabilitas utuh yang memadai pada kondisi pelayanan untuk memungkinkan kapal bertahan terhadap kerusakan yang kritis . Dalam hal kapal-kapal yang memerlukan pengatur keseimbangan, nakhoda kapal harus diberi tahu tentang keadaan stabilitas berdasarkan mana perhitungan-perhitungan kemiringan dilakukan dan diingatkan bahwa kemiringan yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan pada kondisi yang kurang menguntungkan. 7.2 Menunjuk data dalam paragraf 7.1 memungkinkan nakhoda menjamin stabilitas utuh termasuk memberi tahukan tanda-tanda tinggi maksimum titik berat diatas lunas (KG), atau kemungkinan lain tinggi minimum metasentrum yang diizinkan (GM), pada batasan sarat atau displasemen yang memadai termasuk semua keadaan-keadaan pelayaran. Informasi harus menunjukkan pengaruh dari bermacam-macam trim yang diperhitungkan dalam batasan-batasan operasional. 7.3 Setiap kapal harus mempunyai marka sarat yang ditandai dengan jelas dan skala yang benar pada haluan dan buritan. Dalam kasus dimana penandaan sarat tidak terletak pada tempat dimana marka itu dengan mudah dapat dibaca, atau ada kendala operasi untuk dapat membaca marka sarat tersebut, maka di kapal tersebut harus juga dipasang marka yang lebih jelas yang dapat menentukan sarat haluan dan buritan. 7.4 Pada penyelesaian pemuatan kapal dan sebelum keberangkatan, nakhoda harus menentukan trim dan stabilitas kapal dan juga menyertakan catatan bahwa kapal memenuhi persyaratan stabilitas sesuai peraturan yang relevan Penentuan stabilitas kapal harus selalu dibuat . dengan perhitungan. Badan Pemerintah boleh menyetujui penggunaan pedoman pemuatan elektronik dan komputer stabilitas atau metode yang setara untuk keperluan ini. 8.1 Tiada keringanan dari persyaratan stabilitas kerusakan yang dapat dipertimbangkan oleh Badan Pemerintah, kecuali ditunjukkan bahwa tinggi metasentrum utuh dalam keadaan kerja yang bagaimanapun memenuhi syarat-syarat ini yang melebihi persyaratan untuk tiap-tiap kondisi. 8.2 Keringanan dari persyaratan stabilitas kerusakan hanya boleh diizinkan didalam hal-hal yang luar biasa dengan catatan Badan Pemerintah dapat menerima bahwa penutupan, tata susunan, dan karakteristik lain dari kapal yang paling menguntungkan bagi stabilitas setelah kerusakan, yang secara praktis dan secara layak dapat diterapkan didalam keadaan-keadaan khusus.

66

Bagian B
6

Peraturan 4

Peraturan 8-1 Stabilitas kapal-kapal Penumpang ro-ro dalam Kondisi Rusak*


7

Kapal-kapal penumpang ro-ro yang dibangun sebelum 1 Juli 1997 harus memenuhi pada peraturan 8, sesuai amandeman pada resolusi MSC.12(56), tidak melewati tanggal survey periodik pertama setelah tanggal pemenuhan ketentuan berikut, menurut harga dari A/Amaks. sebagai mana ditentukan dalam lampiran prosedur perhitungan menilai karakteristik kemampuan mengapung kapal-kapal penumpang ro-ro jika menggunakan metode sederhana pada resolusi A.265(VIII), yang dikembangkan oleh Komisi Keselamatan Maritim pada sidang ke 59 bulan Juni 1991 8 (MSC/Circular.574). 9 Nilai A/Amaks. Kurang dari 85% 85% atau lebih tapi kurang dari 90% 90% atau lebih tapi kurang dari 95% 95% atau lebih tapi kurang dari 97,5% 97,5% atau lebih Tanggal pemenuhan 1 Oktober 1998 1 Oktober 2000 1 Oktober 2002 1 Oktober 2004 1 Oktober 2005

Peraturan 8-2 Persyaratan- persyaratan Khusus untuk Kapal-kapal Penumpang Ro-ro yang membawa 400 orang Penumpang atau lebih
Disamping persyaratan dalam peraturan-peraturan 8 dan 8-1: 1 Kapal penumpang ro-ro yang mendapat sertifikat untuk mengangkut

6 pernyataan diterapkan 1 Juli 1997 peraturan berlaku mulai 1 Juli 1997 7*


Dipakai untuk stabilitas dengan persyaratan-persyaratan khusus untuk kapal-kapal penumpang ro-ro, mengacu pada resolusi 14 dari Konferensi SOLAS 1995, termasuk dalam annex 5 bagian 2.

8 pernyataan diterapkan 1 Juli 1997 9


Mengacu pada MSC/Circ.649, interprestasi dari persyaratan-persyaratan resolusi MSC.26(60) dan MSC/Circ.574.

67

Bab II -1: Konstruski penumpang 400 orang atau lebih yang dibangun pada atau setelah 1 Juli 1997 harus memenuhi pada ketentuan- ketentuan dari paragraf 2.3 peraturan 8 , dengan mempertimbangkan bahwa kerusakan terjadi di sembarang tempat disepanjang kapal L; dan 2 Kapal-kapal penumpang ro-ro yang mendapat settifikat untuk

mengangkut penumpang 400 orang atau lebih yang dibangun sebelum 1 Juli 1997 harus memenuhi persyaratan-persyaratan dari sub-paragraf .1 tidak melewati tanggal survey periodik pertama setelah tanggal pemenuhan yang ditentukan dalam sub-paragraf .2.1, .2.2 atau .2.3 mana yang lebih akhir: .1 Nilai A/Amaks Kurang dari 85% 85% atau lebih tapi kurang dari 90% 90% atau lebih tapi kurang dari 95% 95% atau lebih tapi kurang dari 97,5% 97,5% atau lebih .2 Tanggal pemenuhan 1 Oktober 1998 1 Oktober 2000 1 Oktober 2002 1 Oktober 2004 1 Oktober 2010

Jumlah orang yang diizinkan untuk diangkut 1.500 atau lebih 1 Oktober 2002 1.000 atau lebih tetapi kurang dari 1.500 1 Oktober 2006 600 atau lebih tetapi kurang dari 1.000 1 Oktober 2008 400 atau lebih tetapi kurang dari 600 1 Oktober 2010

.3

Umur kapal sama atau lebih dari 20 tahun, Umur kapal dihitung dari tanggal peletakan lunas atau pada tanggal dimana kapal itu mempunyai tahapan konstruksi yang sama atau dari tanggal dimana kapal itu dirubah menjadi kapal penumpang ro-ro.

Peraturan 9 Tolak bara pada kapal penumpang


1 Tolak bara umumnya tidak akan ditempatkan didalam tangki-tangki yang diperuntukkan bagi bahan bakar minyak. Di kapal-kapal yang tidak dapat mengelakkan penempatan air didalam tangki-tangki bahan bakar minyak, maka untuk memenuhi Badan Pemerintah dipasang perlengkapan pemisah air, atau alternatif lain yang sepadan, seperti fasilitas pembongkaran ke pantai, Badan Pemerintah dapat menetapkan aturan penempatan tolak bara yang mengandung minyak.

68

Bagian B

Peraturan 4

2 Ketentuan pada peraturan ini tidak boleh menyimpang dari ketentuan-ketentuan Konvensi Internasional tentang Pencegahan Pencemaran dari Kapal yang berlaku.

Peraturan 10 Sekat-sekat Ceruk dan Kamar mesin, Terowongan-terowongan Poros, dll, pada Kapal Penumpang
1 Kapal harus mempunyai sekat ceruk depan atau sekat tubrukan yang harus kedap air samapai ke geladak sekat. Sekat ini harus dipasang tidak kurang dari 5 % panjang panjang kapal dan tidak lebih dari 3 meter ditambah 5% dari panjang kapal. 2 Apabila ada bagian kapal dibawah garis air didepan dari garis tegak haluan, seperti sebuah bulbous bow, jaraknya ditetapkan dalam paragraf 1 harus diukur dari salah satu titik seperti dibawah ini : .1 titik tengah dari bagian yang meanjang atau .2 pada jarak 1,5% depan kapal dari garis tegak haluan, atau .3 Pada jarak 3 meter didepan garis tegak haluan ; diambil yang mana yang menghasilkan ukuran yang paling kecil.
1

3 Jika kapal mempunyai banguna n yang panjang, sekat ceruk depan atau sekat tubrukan pada kapal-kapal penumpang harus diperpanjang kedap
air sampai geladak penuh berikutnya diatas geladak sekat. Perpanjangan harus direncanakan untuk menghalangi kemungkinan kerusakan dari pintu haluan, atau terpengaruh dari kerusakan pintu haluan.

4 Perluasan yang disyaratkan dalam paragraf 3 tidak perlu dipasang secara langsung diatas sekat dibawahnya, dengan catatan semua bagian

dari perluasan tidak berlokasi dibagian depan dari batas depan yang disyaratkan dalam paragraf 1 atau paragraf 2. Namun untuk kapal-kapal yang dibangun sebelum 1 Juli 1997: .1 Jika sebuah rampa miring merupakan bagian dari perluasan, maka bagian dari perluasan yang lebih dari 2,3 meter diatas geladak sekat, hanya boleh diperpanjang tidak lebih dari 1 meter didepan dari batas depan yang disebutkan dalam paragraf 1 atau paragraf 2; dan Jika rampa konstruksi lama tidak memenuhi persyaratanpersyaratan untuk diterima sebagai perpanjangan pada sekat tubrukan dan posisi rampa untuk mencegah dudukan perluasan semacam itu sebagaimana pembatasan yang disebutkan dalam

.2

1 pernyataan diterapkan 1 Juli 1997


69

Bab II -1: Konstruski paragraf 1 atau paragraf 2, perluasan boleh ditempatkan dalam suatu jarak yang terbatas dibelakang dari batas belakang sebagaimana ditentukan dalam paragraf 1 atau paragraf 2. Jarak batasan dibelakang harus tidak melebihi dari yang diperlukan untuk menjamin tidak terganggunya rampa. Perluasan sekat tubrukan harus dapat membuka kedepan dan memenuhi persyaratan dalam paragraf 3 dan harus direncanakan sedemikian rupa untuk menghindari kemungkinan rampa menyebabkan kerusakan pada saat terjadi kecelakaan atau kerusakan rampa.
1

5 Rampa-rampa yang tidak memenuhi dalam persyaratan harus diabaikan sebagai perluasan dari sekat tubrukan.
6 Pada kapal-kapal yang dibangun sebelum 1 Juli 1997 persyaratanpersyaratan dari paragraf 3 dan 4 harus diterapkan tidak melebihi dari tanggal survey periodik pertama setelah 1 Juli 1997. 7 Sekat ceruk belakang dan sekat-sekat yang memisahkan ruang mesin ,sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan 2, dari ruang-ruang muat dan ruang-ruang penumpang didepan dan dibelakang , harus juga dipasang kedap air sampai dengan geladak sekat. Sekalipun demikian, sekat ceruk belakang itu boleh diakhiri dibawah geladak sekat, dengan catatan bahwa tingkat keselamatan kapal ditinjau dari sub divisi tidak hilang karenanya. 8 Dalam semua kasus tabung dari poros baling-baling harus ditutup dalam ruangan-ruangan kedap air yang volumenya sedang. Penekan paking buritan harus ditempatkan di dalam terowongan poros baling-baling yang kedap air atau ruang kedap air yang terpisah dari ruang tabung poros baling-baling dengan volume yang memadai sehingga jika terjadi genangan akibat kebocoran melalui penekan paking garis benaman tidak tenggelam.

Peraturan 11 Sekat-sekat Ceruk dan Ruang Mesin dan Terowonganterowongan Poros pada kapal Barang
( Paragraf 8 dan 9 dari peraturan ini dipakai untuk kapal-kapal yang dibangun pada atau setelah 1 Pebruari 1992 ) 1 Pengertian geladak lambung timbul,panjang kapal dan garis tegak haluan dalam peraturan ini seperti yang ditentukan dalam Konvensi

1Pernyataan

diterapkan mulai 1 Juli 1997

70

Bagian B Lambung Timbul Internasional yang berlaku.

Peraturan 4

2 Sebuah sekat tubrukan kedap air harus dipasang sampai geladak lambung timbul dan harus terletak tidak kurang dari 5 % dari panjang kapal atau 10 meter dari garis tegak haluan, yang mana yang kecil, dan,kecuali apabila diizinkan oleh Badan Pemerintah, tidak lebih dari 8 % dari panjang kapal. 3 Bagian kapal di bawah garis air yang berada di depan garis tegak haluan, seprti bulbous bow, jarak yang ditetapkan dalam paragraf 2 harus diukur dari salah satu titik : .1 .2 .3 pada titik tengah panjang kapal yang menonjol;atau pada jarak 1,5 % dari panjang bagian depan kapal di depan dari garis tegak haluan; atau pada jarak 3 meter didepan garis tegak haluan ;

dipilih yang menghasilkan pengukuran yang terkecil. 4 Sekat boleh mempunyai undakan atau relung dengan catatan masih dalam batasan yang disyaratkan dalam paragraf 2 atau 3. Pipa-pipa yang menembus sekat tubrukan harus dilengkapi dengan katup-katup yang cocok yang dapat dioperasikan dari atas geladak lambung timbul dan kotak katup harus diletakkan pada sekat di dalam ceruk haluan.Katup-katup boleh dipasang pada sisi belakang sekat tubrukan dengan catatan dapat dioperasikan dengan mudah pada semua kondisi,dan ruang di mana katupkatup tersebut ditempatkan bukan ruang muat.Semua katup-katup harus terbuat dari baja, perunggu atau material liat lain yang disetujui. Katupkatup besi tuang biasa atau material yang sejenis tidak dapat disetujui.Tidak boleh ada pintu, lubang lalu orang, lubang udara, atau bukaan-bukaan lainnya. 5 Jika terdapat bangunan atas yang memanjang ke depan maka sekat tubrukan kedap air harus ditinggikan sampai geladak berikutnya di atas geladak lambung timbul. Penambahan sekat tidak harus dipasang langsung di atas sekat di bawahnya dengan catatan sekat tersebut berada dalam batas-batas sebagaimana ditentukan paragraf 2 dan 3 dengan pengecualian yang diizinkan sesuai paragraf 6 dan bagian dari geladak yang membentuk undakan harus kedap air. 6 Jika pintu haluan dan pintu rampa muat miring merupakan bagian dari perpanjangan sekat tubrukan di atas geladak lambung timbul, bagian dari rampa yang panjangnya lebih dari 2.3 meter di atas geladak lambung timbul boleh diperpanjang ke depan sampai batas yang ditentukan dalam paragraf 2 atau 3. Keseluruhan panjang rampa harus kedap air. 71

Bab II -1: Konstruski

7 Jumlah bukaan pada perluasan sekat tubrukan di atas geladak lambung timbul harus dibatasi dengan ukuran minimum yang cocok dengan disain dan pengoperasian kapal secara normal. Semua bukaanbukaan harus dapat ditutup kedap air. 8 Sekat-sekat harus dipasang memisahkan dari ruang mesi,dari ruang muat, dan dari ruang penumpang di depan serta bagian depannya dibuat kedap air sampai geladak lambung timbul. 9 Tabung poros baling-baling dimasukkan dalam ruang kedap air atau (ruang-ruang) dengan volume yang memadai. Cara lain untuk meminimalkan bahaya penembusan air ke dalam kapal saat terjadi kerusakan pada susunan tabung poros baling-baling harus mendapat persetujuan dari Badan Pemerintah.

Peraturan 12 Dasar ganda


1 Dasar ganda harus dipasang membentang dari sekat ceruk depan sampai sekat ceruk belakang sejauh dapat dipasang dan sesuai dengan desain serta kegunaan yang tepat di kapal. .1 kapal-kapal yang panjangnya 50 meter dan kurang dari 61 m, dasar ganda harus dipasang sekurang-kurangnya dari ruang mesin sampai ke sekat ceruk depan, atau sampai ke suatu tempat yang paling dekat dengan sekat ceruk depan tersebut; .2 kapal-kapal yang panjangnya 61 meter dan kurang dari 76 meter, dasar ganda harus dipasang sekurang-kurangnya di luar ruang mesin dan terbentang sampai ke sekat ceruk depan dan sekat ceruk belakang atau sampai ke suatu tempat yang paling dekat dengan sekat-sekat tersebut; .3 kapal-kapal yang panjangnya 76 meter atau lebih dasar ganda harus dipasang di pertengahan panjang kapal dan terbentang sampai ke sekat ceruk depan dan sekat ceruk belakang atau sampai ke suatu tempat yang paling dekat dengan sekat-sekat tersebut. 2 Jika disyaratkan untuk dipasang dasar ganda, maka tinggi dasar ganda tersebut harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh Badan Pemerintah. Alas dalam dasar ganda tersebut dilanjutkan sampai ke lambung kapal sedemikian rupa sehingga melindungi dasar ganda sampai ke lengkung bilga. Perlindungan tersebut dianggap memenuhi jika garis potong ujung dari pelat tepi dengan pelat bilga tidak lebih rendah dari sembarang tempat pada bidang datar yang melalui titik potong dengan garis gading-gading pertengahan kapal dan garis diagonal melintang yang membentuk sudut 25o terhadap garis dasar dan memotongnya di sebuah 72

Bagian B titik yang terletak di setengah lebar garis tengah..

Peraturan 4

3 Sumuran-sumuran kecil pada dasar ganda yang ada kaitannya dengan pengaturan pengeringan ruang muat dan sebagainya tidak boleh lebih rendah dari yang diperlukan. Kedalaman sumuran itu bagaimanapun juga tidak boleh lebih rendah dari tinggi dasar ganda di tengah dikurangi 460 mm dan tidak boleh berada di bawah bidang datar sebagaimana ditentukan dalam paragraf 2. Suatu sumuran yang langsung berhubungan dengan kulit luar hanya diizinkan pada bagian belakang dari terowongan poros. Sumuran lain (misalnya untuk minyak lumas di bawah mesin induk) boleh diizinkan oleh Badan Pemerintah jika susunannya memenuhi untuk memberi perlindungan yang setara dengan yang diberikan oleh dasar ganda yang memenuhi peraturan ini. 4 Dasar ganda tidak perlu dipasang di dalam kompartemen kedap air berukuran sedang yang hanya digunakan untuk mengangkut cairan dengan catatan bahwa keselamatan kapal pada saat terjadi kerusakan pada dasar atau sisi tidak terganggu menurut pertimbangan dari Badan Pemerintah. 5 Bagi kapal-kapal yang dikenai ketentuan-ketentuan dari peraturan 1.5 dan yang digunakan dalam pelayaran yang teratur di dalam batas-batas pelayaran internasional jarak dekat sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan III/3.16, Badan Pemerintah dapat mengizinkan dasar ganda itu dibebaskan dibagian manapun dari kapal yang telah dipisah-pisah dengan faktor yang tidak lebih dari 0,50, jika dapat dipenuhi bahwa pemasangan dasar ganda tidak menyimpang dari desain dan ketepatan fungsi kerjanya.

Peraturan 12-1 Dasar ganda pada kapal barang selain kapal tangki (Peraturan ini berlaku untuk kapal yang dibangun pada atau sesudah 1 Februari 1992)
1 Dasar ganda harus membentang dari sekat tubrukan ke sekat ceruk buritan sejauh dapat dilakukan dan sesuai dengan desain dan kegunaan yang tepat dari kapal. 2 Jika suatu dasar ganda disyaratkan untuk dipasang, kedalaman harus memenuhi Badan Pemerintah dan dasar ganda harus menerus sampai sisi kapal dalam bentuk sedemikian rupa sehingga melindungi dasar sampai belokan bilga. 3 Sumuran-sumuran kecil yang dibuat di dalam dasar ganda, yang berhubungan dengan susunan pengeringan ruang muat, tidak boleh mempunyai kedalaman yang lebih dari yang dibutuhkan. Sebuah sumuran yang mencapai sisi bagian luar, diperbolehkan pada ujung belakang 73

Bab II -1: Konstruski terowongan poros kapal. Sumuran-sumuran lainnya boleh diizinkan oleh Badan Pemerintah jika sumuran itu memenuhi tata susunan diberi perlindungan yang sepadan sebagaimana yang diberikan oleh dasar ganda sesuai dengan peraturan ini. 4 Dasar ganda tidak perlu dipasang di dalam ruang-ruang kedap air yang digunakan hanya untuk mengangkut cairan dengan catatan kemanan kapal pada saat terjadi kerusakan dasar kapal tidak terganggu sesuai pertimbangan dari Badan Pemerintah.

Peraturan 12-2 Jalan masuk ke ruang-ruang di daerah muatan pada kapal tangki

1 Peraturan ini dipakai untuk kapal tangki minyak yang dibangun pada atau setelah 1 Oktober 1994. 2 Jalan masuk ke koferdam, tangki-tangki, tngki tolak bara,tangki muatan dan ruang lainnya di dalam ruang muat harus langsung dari geladak terbuka dan terjamin untuk dilakukan pemeriksaan yang sempurna.Jalan masuk kedalam ruang-ruang dasar ganda boleh melalui kamar pompa muatan, ruang pompa, koferdam dalam, terowongan pipa atau kompartemen yang sama, dengan memperhatian aspek-aspek ventilasi udara. 3 Jalan masuk melalui bukaan-bukaan horisontal, ambang palkah atau lubang orang harus cukup untuk seseorang yang menggunakan peralatan pernafasan dengan tabung udara dan perlengkapan pelindung untuk naik turun tangga tanpa gangguan dan juga dan juga memberikan fasilitas bukaan untuk mengerek seseorang yang sakit dari dasar ruangan. Bukaan minimum harus tidak kurang dari 600 mm x 600 mm. 4 Untuk jalan masuk melalui bukaan-bukaan vertikal, atau lubang orang yang disediakan sebagai jalan melintas pada panjang dan lebar ruangan, bukaan minimum tidak kurang dari 600mm x 800mm dengan tinggi tidak kurang dari 600mm dari dasar plat kulit tanpa kisi atau injakan kaki lainnya. 5 Untuk kapal tangki minyak yang berbobot mati kurang dari 5.000 ton ukuran-ukuran yang lebih kecil boleh disetujui oleh Badan Pemerintah pada keadaan khusus, jika pelintang-pelintang pada bukaan-bukaan dapat dilepas atau cara memindahkan orang yang sakit dapat dibuktikan Badan Pemerintah.

Peraturan 13
74

Bagian B

Peraturan 4

Penunjukan , Penandaan dan Pencatatan Garis Muat Subdivisi Untuk Kapal Penumpang
1 Untuk terpeliharanya tingkat subdivisi yang disyaratkan, garis muat yang sesuai dengan sarat subdivisi yang disetujui harus ditunjukkan dan ditandakan dilambung kapal. Kapal yang mempunyai ruang yang digunakan secara khusus untuk akomodasi penumpang dan penempatan muatan secara bergantian, jika pemiliknya menghendaki, boleh mempunyai satu atau beberapa garis muat subdivisi yang ditunjukan dan ditandai sesuai dengan syarat-syarat subdivisi yang disetujui Badan Pemerintah untuk penggunaan secara bergantian. 2 Garis muat subdivisi yang ditunjukkan dan ditandakan tersebut harus dicatat di dalam Sertifikat Keselamatan Kapal Penumpang, dan harus ditandai dengan C.1 untuk keadaan penumpang yang utama, dan C.2, C.3 dan seterusnya untuk keadaan- keadaan lain. 3 Lambung timbul yang sesuai dengan masing-masing garis muat ini harus diukur ditempat yang sama dan dari garis geladak yang sama pula jika lambung timbul tersebut ditentukan sesuai Konvensi Internasional tentang Garis Muat bersangkutan yang berlaku . 4 Lambung timbul yang sesuai dengan masing-masing garis muat dan keadaan pelayaran yang disetujui,harus dinyatakan secara jelas didalam Sertifikat Keselamatan Kapal Penumpang. 5 Bagaimanapun juga setiap marka garis muat subdivisi tidak boleh ditempatkan di atas garis muat terdalam di air laut sebagaimana yang ditentukan menurut kekuatan kapal dan atau Konvensi Internasional tentang Garis-garis Muat yang berlaku. 6 Bagaimanapun juga tempat markah garis muat subdivisi, dalam keadaan yang bagaimanapun, kapal tidak boleh dimuati sedemikian rupa sehingga terbenam melebihi markah garis muat yang sesuai dengan musim dan tempat sebagaimana yang ditentukan oleh konvensi Internasional tentang Garis Muat yang berlaku. 7 Bagaimanapun juga kapal tidak boleh dimuati sedemikian rupa sehingga bilamana berada di air laut, markah garis muat subdivisi sesuai dengan pelayarannya tidak berada di bawah permukaan air.

Peraturan 14 Konstruksi dan Uji awal sekat-sekat kedap air,dan lain-lain, untuk Kapal Penumpang dan Kapal Barang
75

Bab II -1: Konstruski 1 Masing-masing sekat subdivisi, apakah melintang atau membujur, harus dibuat dengan cara sedemikian rupa sehingga mampu menahan, dengan ambang batas ketahanan yang layak, tekanan yang disebabkan oleh tinggi air maksimum yang mungkin harus dialami pada waktu kapal mengalami kerusakan, tetapi sekurang-kurangnya tekanan yang diakibatkan oleh tinggi air sampai kebatas garis air benaman. Konstruksi sekat-sekat ini harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan Badan Pemerintah. Undakan-undakan dan relung-relung di sekat harus kedap air dan kekuatannya sama dengan sekat ditempat dimana masing-masing undakan dan relung itu berada. 2.2 Jika gading- gading atau balok-balok menembus geladak atau sekat kedap air, maka geladak atau sekat tersebut harus dibuat dengan konstruksi kedap air tanpa menggunakan kayu atau semen. 3 Menguji kompartemen-kompartemen utama dengan mengisi ruangan- ruangan itu dengan air bukan merupakan keharusan. Bilamana pengujian dengan mengisi air tidak dilakukan,harus dilakukan uji semprot.Pengujian ini harus dilakukan dalam keadaan kapal yang hampir mendekati penyelesaian. Bagaimanapun juga, pemeriksaan secara lengkap terhadap sekat-sekat kedap air harus dilakukan. 4 Ceruk haluan, dasar ganda (termasuk lunas berongga) dan kulit kapal bagian dalam harus diuji dengan air sampai ketinggian yang sesuai dengan persyaratan-persyaratan paragraf 1. 5 Tangki-tangki yang digunakan untuk memuat cairan, dan yangmerupakan bagian dari subdivisi dari kapal, kekedapannya harus diuji dengan air sampai setinggi garis muat subdivisi terdalam atau sampai setinggi dua pertiga kedalamamn yang dihitung dari bagian atas lunas sampai ke garis ambang batas benaman di tangki-tangki, yang mana dari kedua nilai itu diambil yang lebih besar; dengan ketentuan bahwa bagaimanapun tinggi uji ini tidak kurang dari 0,9 meter diatas puncak tangki. 6 Pengujian yang ditentukan dalam paragraf 4 dan 5 adalah untuk menjamin tata susunan konstruksi subdivisi kedap air dan tidak akan dianggap sebagai uji kelayakan tiap kompartemen yang digunakan untuk menyimpan bahan bakar minyak atau maksud-maksud khusus lain yang untuk itu dapat dipersyaratkan suatu ujian dengan sifat yang lebih luas tergantung pada tinggi cairan yang masuk kedalam tangki atau saluran penghubungnya. 2.1

Peraturan 15
76

Bagian B

Peraturan 4

Bukaan-bukaan di Sekat-sekat kapal Penumpang


(Peraturan ini diterapkan untuk Kapal-kapal yang dibangun pada atau setelah 1 Pebruari 1992) 1 Jumlah bukaan pada sekat-sekat kedap air harus dikurangi sampai minimum sesuai dengan desain dan kegunaan secara tepat di kapal, saranasarana yang memadai harus dilengkapi untuk penutupan bukaan-bukaan ini. 2.1 Apabila pipa-pipa, saluran-saluran buang,kabel listrik, dan sebagainya dipasang menembus sekat-sekat subdivisi kedap air, tata susunannya harus dibuat sedemikian rupa sehingga menjamin keterpaduan dari kekedapan sekat-sekat tersebut. 2.2 Katup-katup yang bukan merupakan bagian dari sistem pipa tidak diizinkan dipasang pada sekat-sekat subdivisi kedap air.

2.3 Timah hitam atau bahan-bahan yang peka panas lain tidak boleh digunakan didalam sistem-sistem yang menembus sekat-sekat subdivisi kedap air, yang apabila terjadi kerusakan pada sistem tersebut saat terjadi kebakaran akan merugikan keterpaduan kedap air dari sekat-sekat. 3.1 Tidak diizinkan ada pintu-pintu, lubang-lubang lalu orang atau lubang-lubang masuk: .1 .2 di sekat tubrukan di bawah garis batas benaman. di sekat melintang kedap air yang memisahkan sebuah ruang muatan dari ruang muatan yang berdampingan atau dengan tempat penyimpanan bahan bakar tetap atau cadangan, kecuali sebagaimana yang ditetapkan didalam paragraf 10.1 dan didalam peraturan 16.

3.2 Kecuali sebagaimana yang ditetapkan didalam paragraf 3.3, sekat tubrukan dibawah garis batas benaman dapat ditembus oleh tidak lebih dari satu pipa untuk menyalurkan cairan kedalam tangki ceruk haluan, dengan ketentuan bahwa pipa yang dilengkapi dengan katup ulir yang dapat dilayani dari atas geladak sekat, kotak katup dipasang didalam ceruk haluan yang diikatkan pada sekat tubrukan. 3.3 Jika ceruk haluan itu terbagi-bagi untuk menampung dua jenis cairan yang berbeda Badan Pemerintah dapat mengizinkan sekat tubrukan 77

Bab II -1: Konstruski itudibawah garis batas benaman ditebus oleh dua pipa, masing-masing dipasang sebagaimana yang disaratkan oleh paragraf 3.2, dengan ketentuan bahwa Badan Pemerintah yakin tidak ada kemungkinan lain memasang pipa kedua demikian itu secara praktis dan bahwa, dengan memperhatikan subdivisi tambahan yang diperoleh didalam ceruk haluan, keselamatan kapal tetap terpelihara. 4.1 Pintu-pintu kedap air yang dipasang di sekat-sekat antara tempat penyimpanan bahan bakar tetap dan cadangan harus selalu dapat dimasuki, kecuali sebagaimana yang ditentukan didalam paragraf 9.4 bagi pintu-pintu tempat penyimpanan bahan bakar di geladak. 4.2 Tata susunan yang memenuhi syarat harus dibuat dengan menggunakan kisi-kisi atau dengan cara lain untuk mencegah batubara mengganggu penutupan pintu tempat penyimpanan bahan bakar yang kedap air. 5 Sesuai paragraf 11, tidak lebih dari satu pintu, bagian dari pintupintu untuk penampungan bahan bakar dan terowongan poros, dapat dipasang pada setiap sekat melintang utama pada ruangan-ruangan yang berisi penggerak utama dan penggerak bantu termasuk ketel-ketel yang melayani keperluan-keperluan penggerak dan semua tempat penyimpanan bahan bakar. Apabila dipasang dua buah poros, terowongan-terowongan akan dipasang dengan sebuah jalan penghubung antara. Hanya diperbolehkan ada satu pintu antara ruang mesin dan ruang-ruang terowongan dimana dipasang dua poros dan hanya dua pintu bila lebih dari dua poros. Semua pintu-pintu ini haruslah jenis pintu geser dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga tinggi ambangnya sepraktis mungkin. Perangkat tangan untuk menggerakkkan pintu-pintu ini dari atas geladak sekat harus ditempatkan diluar ruangan-ruangan yang berisikan permesinan. 6.1 Pintu-pintu kedap air, kecuali yang disyaratkan dalam paragraf 10.1 atau peraturan 16, boleh digerakkan oleh tenaga yang bergeser bersama pintu sesuai yang disyaratkan paragraf 7 mampu tertutup secara serentak dari pusat kendali dari anjungan tidak lebih dari 60 detik dengan kapal pada keadaan tegak. 6.2 Baik pengoperasian dengan daya atau dengan tangan harus dapat menutup pintu pada saat kapal miring 15O kesembarang sisi . Pertimbangan juga harus diberikan dalam keadaan boleh bergerak pada sisi lain dari pintu sebagai mana dialami ketika air mengalir melalui bukaan dengan tinggi statis yang setara dengan tinggi air sekurang-kurangnya 1 m di atas ambang di tengah-tengah pintu. 6.3 Alat-alat kontrol pintu kedap air, termasuk pipa hidrolik dan kabel listrik, harus dijaga sedekat mungkin terhadap sekat tempat pintu untuk 78

Bagian B

Peraturan 4

meminimalkan kemungkinan terganggunya kinerja perlengkapan tersebut pada setiap kecelakaan yang dialami oleh kapal. Keberadaan pintu kedap air dan alat kontrolnya harus tetap seperti semula jika kapal mengalami kerusakan seperlima lebar kapal, seperti terdapat pada peraturan 2,jarak tersebut diukur pada sudut di sisi kanan garis tengah pada ketinggian garis muat subdivisi,pengoperasian dari pintu-pintu kedap air dalam keadaan kapal rusak tidak terganggu. 6.4 Semua tenaga pengoperasian pintu-pintu geser yang kedap air harus dilengkapi dengan tanda yang ditunjukkan pada semua posisi pengoperasian jarak jauh apakah pintu-pintu terbuka atau tertutup.Posisiposisi pengoperasian jarak jauh hanya boleh berada di anjungan sesuai paragraf 7.1.5 dan apabila pengoperasian dengan tangan, lokasi berada di atas geladak sekat sesuai paragraf 7.1.4.
1

6.5

Pada kapal yang dibangun sebelum 1 Pebruari 1992, pintu-pintu yang tidak memenuhi paragraf 6.1 sampai 6.4 harus ditutup sebelum kapal berlayar, dan harus dijaga tertutup selama berlayar, waktu pembukaan pintu tersebut di pelabuhan dan penutupannya sebelum kapal meninggalkan pelabuhan harus dicatat dalam buku harian kapal. 7.1 Setiap daya operasi pintu geser yang kedap air : .1 .2 harus mempunyai sebuah gerakan vertikal atau horisontal. harus mengacu pada paragraf 11, mempunyai batasan yang normal terhadap lebar bukaan yang maksimum 1,2 meter. Badan Pemerintah boleh mengizinkan pintu-pintu yang lebih besar dengan pertimbangan tingkat kepentingan pengoperasian kapal yang efektif dengan catatan persyaratan keselamatan yang lain, termasuk yang berikut harus dijadikan pertimbangan. pertimbangan khusus harus diberikan untuk kekuatan pintu dan alat- alat itu tertutup untuk mencegah kebocoran; pintu harus terletak diluar daerah bahaya B/5; pintu harus dalam keadaan tertutup ketika kapal dalam pelayaran, kecuali untuk jangka waktu yang terbatas jika ada ketika keperluan yang betul-betul mendesak seperti yang ditentukan oleh Badan Pemerintah. harus dipasang dengan perlengkapan yang diperlukan untuk membuka dan menutup pintu yang menggunakan tenaga listrik, tenaga hidrolik, atau tenaga bentuk lain yang disetujui oleh Badan Pemerintah;

.2.1 .2.2 .2.3

.3

1 peraturan berlaku sejak 1 Juli 1997


79

Bab II -1: Konstruski

.4

harus dilengkapi dengan sarana untuk menjalankan secara manual. Harus memungkinkan untuk membuka dan menutup dengan tangan dari satu sisi ke sisi yang lain dan sebagai tambahan menutup pintu dan tempat yang mudah dimasuiki di atas geladak sekat dengan gerakan engkol atau gerakan lain yang tingkat keselamatannya sama dan di terima oleh Badan Pemerintah.Arah putaran atau gerakan lain adalah jelas ditunjukkan pada semua keadaan operasi. Waktu yang diperlukan untuk menutup penuh dari pintu, ketika beroperasi dengan tangan, tidak boleh lebih dari 90 detik dengan kapal dalam keadaan tegak. Harus dilengkapi dengan kontrol untuk membuka dan menutup pintu dengan tenaga dari kedua sisi pintu dan juga untuk menutup pintu dengan tenaga dari alarm pusat anjungan. Harus dilengkapi dengan alarm yang dapat didengar, jelas berbeda dengan alarm yang lain di daerah itu ,yang akan berbunyi ketika pintu ditutup yang dikendalikan dengan tenaga dan yang berbunyi paling kurang 5 detik tetapi tidak lebih dari 10 detik sebelum pintu mulai bergeser dan akan bunyi secara terus-menerus hingga pintu itu tertutup dengan sempurna . Pada kasus pengoperasian dengan tangan, maka cukup alarm dapat berbunyi ketika pintu bergeser. Sebagai tambahan, pada tempat-tempat penumpang dan tempattempat yang mempunyai kebisingan yang tinggi Badan Pemerintah boleh mensyaratkan alarm bunyi yang dilengkapi dengan sinyal yang tampak sebentar di pintu. Harus ada sebuah penutupan yang kira-kira mempunyai kecepatan dengan penutupan yang sama . Waktu penutupan, dari mulai pintu mulai bergeser sampai kembali tertutup dengan sempurna, tidak boleh kurang dari 20 detik atau lebih dari 40 detik dengan saat kapal pada posisi tegak.

.5

.6

.7

7.2 Tenaga listrik yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pintu dorong yang kedap air harus dipasok dari papan hubung darurat baik secara langsung atau papan hubung yang dikondisikan untuk keadaan darurat yang terletak di atas geladak sekat. Perlengkapan alat kontrol, indikasi dan jaringan alarm harus dipasok dari papan hubung darurat atau papan hubung yang dikondisikan untuk keadaan darurat yang terletak di atas geladak sekat darurat dan dapat secara otomatis dipasok dari sumber tenaga transisi dari pembangkit tenaga listrik darurat sebagaimana dipersyaratkan pada peraturan 42.313 pada saat terjadi tegangan pembangkit tenaga listrik utama atau darurat. 80

Bagian B

Peraturan 4

7.3 Pengoperasian pintu-pintu kedap air dengan tenaga harus mempunyai salah satu cara lain : .1 sebuah sistem hidrolik terpusat dengan dua sumber tenaga yang berdiri sendiri yang terdiri dari sebuah motor dan pompa yang mampu secara bersamaan menutup semua pintu-pintu. Sebagai tambahan, untuk keseluruhan instalasi harus tersedia akumulator hidrolik yang kapasitasnya cukup untuk menggerakkkan semua pintu paling sedikit tiga kali, yakni, tutup- buka- tutup, pada sudut lawan 15o. Siklus operasi ini harus mampu dilakukan ketika akumulator pada pompa mengalami pengurangan tekanan. Fluida yang digunakan harus dipilih yang tidak membeku pada sembarang suhu yang dapat dialami kapal selama dalam pelayarannya. Sistem operasi daya harus direka bentuk untuk meminimalkan kemungkinan kerusakan tunggal pada pipa hidrolik mengakibatkan terganggunya pengoperasian lebih dari satu pintu. Sistem hidrolik harus disertai dengan sebuah alarm dengan tingkat rendah dari penampungan cairan hidrolik yang melayani sistem operasi daya dan sebuah alarm tekanan gas rendah atau alat efektif lainnya untuk kehilangan persediaan tenaga dalam akumulator hidrolik. Alarm-alarm ini dapat berbunyi dan dilihat dan harus berada pada pusat operasi di anjungan ; atau .2 sebuah sistem hidrolik yang berdiri sendiri untuk setiap pintu yang mana setiap pintu terdiri dari sumber tenaga dari sebuah motor dan pompa yang mampu membuka dan menutup pintu. Sebagai tambahan, untuk keseluruhan instalasi harus ada akumulator hidrolis yang kapasitasnya cukup untuk menjalankan pintu Sedikit tiga kali, yakni tutup-buka, pada saat kapal miring 150. Siklus operasi harus mampu dilakukan ketika akumulator pada pompa mengalami pengurangan tekanan. Fluida yang digunakan harus dipilih yang tidak membeku pada sembarang suhu yang dapat dialami kapal selama dalam pelayarannya. Sekelompok alarm tekanan gas rendah atau alat efektif lainnya untuk memantau persediaan tenaga dalam akumulator hidrolik harus disediakan pada pusat kendali di anjungan. Indikator kehilangan tenaga pada tiap posisi pengoperasian lokal, juga harus dilengkapi. Sebuah sistem yang berdiri sendiri dan motor untuk setiap pintu yang terdiri dari sumber tenaga dar sebuah motor dapat membuka dan menutup pintu. Sumber tenaga harus dapat menyediakan secara otomatis atau dipasok dari sumber transisi dari pembangkit listrik darurat seperti yang 81

.3

Bab II -1: Konstruski disyaratkan oleh peraturan 42.4.2 - pada saat kegagalan dari sumber tenaga listrik utama atau darurat dan mempunyai kapasitas yang cukup untuk menjalankan pintu sedikitnya 3 kali, yakni tutup-buka-tutup, ada saat kapal miring 150. Untuk sistem yang ditentukan dalam 7.3.1, 7.3.2 dan 7.3.3 persyaratannya harus dibuat sebagai berikut : Sistem daya untuk menjalankan pintu-pintu dorong kedap air harus terpisah dari sistem daya lainnya. Suatu kerusakan pada sistem operasi tenaga listrik atau hidraulik selain akumulator hidraulik harus tidak menghalangi pengoperasian dengan tangan dari beberapa pintu. 7.4 Tuas kontrol yang dilayani dengan tangan harus disiapkan pada tiap sisi dari sekat dengan ketinggian maksimum 1,6 mdi atas alat dan harus ditata sehingga memungkinkan seseorang melewati lubang pintu untuk memegang kedua tuas pada posisi terbuka tanpa dapat menyetel mekanisme tenaga untuk penutupan pintu secara tidak disengaja. Arah gerakan tuas dalam membuka dan menutup pintu harus searah dengan gerakan pintu dan harus terindikasi dengan jelas. 7.5 Sejauh dapat dilaksanakan perlengkapan listrik dan komponenkomponen untuk pintu-pintu kedap air harus berada di atas geladak sekat dan di luar daerah dan ruang-ruang berbahaya. 7.6 Penutupan dari komponen-komponen listrik yang diperlukan berada di bawah geladak sekat harus dipersiapkan pelindung yang cocok terhadap percikan air1*. 7.7 Tenaga listrik, pengontrol, penunjukkan dan jaringan alarm harus dilindungi terhadap kerusakansedemikian rupa sehingga kerusakan satu pintu tidak dapat menyebabkan kerusakan pada pintu jaringan lainnya. Hubungan singkat pada alarm atau jaringan indikator dari sebuah pintu tidak harus menyebabkan kehilangan tenaga operasi dari pintu itu. Tata susunan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari kebocoran air ke dalam perlengkapan listrik yang ditempatkan dibawah geladak sekat tidak dapat menyebabkan pintu terbuka. 7.8 Sebuah kerusakan listrik padatenaga pengoperasian ataupun sistim

1* Mengacu pada publikasi IEC 529, 1976 berikut ini : . .1 Motor listrik, jaringan penghubung dan komponen kontrol dilindungi dengan standar IPX7. .2 Indikator posisi pintu dan jaringan komponen pelengkap dilindungi dengan standar IPX6. .3 Sinyal pemberitahu gerakan pintu dilindungi dengan standar IPX6. Tata susunan lain untuk penutupan komponen kritis boleh dipasang asalkan memenuhi standar yang selain yang disetujui Badan Pemerintah. Tekanan air untuk pengujian penutup yang dilindungi sesuai IPX8 harus berdasarkan pada tekanan yang terjadi di lokasi komponen selama tergenang selama 36 jam.

82

Bagian B

Peraturan 4

kontrol dari tenaga pengoperasian pintu dorong kedap air tidak akan membuat pintu yang tertutup menjadi terbuka. Ketersediaan tenaga harus secara terus menerus dipantau pada sebuah titik di dalam jaringan listrik sedekat mungkin dapat dipakai pada setiap motor-motor yang disyaratkan oleh paragraf 7.3. Kehilangan dari semua pasokan tenaga dapat mengakibatkan suatu alarm yang terdengar dan terlihat pada pusat kendali di anjungan. 8.1 Pusat kendali operasi di anjungan harus mempunyai sebuah moda utama Amaster mode@ dengan dua moda kontrol: sebuah moda Akontrol setempat@ yang memungkinkan pintu dibuka atau ditutup secara lokal setelah penggunaan tanpa penutupan otomatis dan suatu moda Apenutupan pintu@ yang secara otomatis menutup setiap pintu yang terbuka. Moda penutupan pintu harus secara otomatis menutup pintu yang terbuka. Moda penutupan otomatis harus menunjukkan pintu dibuka secara lokal dan harus secara otomatis menutup kembali pintu-pintu yang dibuka secara lokal. Tombol moda utama hanya boleh digunakan pada keadaan darurat atau untuk kegunaan pengujian. Pertimbangan khusus harus diberikan untuk penggunaan tombol Amoda utama A 8.2 Pusat kendali dari anjungan harus dilengkapi dengan sebuah diagram yang menunjukkan tempat dari setiap pintu, indikator visual yang menunjukkan apakah pintu terbuka atau tertutup. Sebuah lampu merah akan menunjukkan pintu itu terbuka penuh dan lampu hijau menunjukkan pintu tertutup rapat. Jika pintu tertutup dengan kendali jarak jauh lampu merah harus menunjukkan posisi pertengaha,harus berdiri sendiri untuk setiap pintu. 8.3 Adalah tidak mungkin setiap pintu dibuka pada jarak jauh dari pusat kendali operasi. 9.1 Semua pintu-pintu kedap air harus dibiarkan tertutup selama pelayaran kecuali diperlukan untuk dibuka selama pelayaran sebagaimana ditentukan pada paragraf 9.2, 9.3 dan 9.4. Pintu kedap air yang mempunyai lebar lebih dari 1,2 meter yang diizinkan pada paragraf 11 hanya boleh dibuka dalam keadaan sebagaimana dirinci pada paragraf itu. Setiap pintu yang terbuka sesuai paragraf ini harus siap ditutup dengan segera. 9.2 Sebuah pintu kedap air boleh dibuka selama pelayaran untuk lintasan penumpang atau awak kapal, atau ada pekerjaan disekitarnya yang mengharuskan pintu itu dibuka. Pintu harus ditutup segeraperlintasan melalui pintu selesei atau ketika tugas yang mengharuskan dibukanya pintu tersebut selesei. 9.3 Pintu-pintu kedap air tertentu diizinkan tetap terbuka selama pelayaran hanya apabila benar-benar diperlukan; yaitu pembukaan dilakukan merupakan hal yang penting untuk mendapatkan keamanan dan dan keefektifan pengoperasian mesin-mesin atau untuk memberi 83

Bab II -1: Konstruski kesempatan bagi penumpang yang umumnya tidak dibatasi melalui jalan masuknya dalam daerah penumpang. Hal tersebut harus mendapatkan persetujuan dari Badan Pemerintah, setelah mempertimbangkan secara hati-hati dampak dari pengoperasian kapal dan kemampuan penyelamatan. Sebuah pintu kedap air yang diizinkan untuk dibuka harus dicatat dengan jelas dalam informasi stabilitas kapal dan akan selalu siap untuk ditutup segera. 9.4. Pintu kedap air geser yang dipasang antar ruang bahan bakar yang berada di geladak antara boleh sekali-sekali dibuka di laut dengan tujuan meratakan batu bara. Pembukaan dan penutupan pintu-pintu harus dicatat didalam buku harian sebagaimana yang ditetapkan oleh Badan Pemerintah. 10.1 Jika Badan Pemerintah setuju bahwa pintu-pintu yang dianggap penting boleh dipasang pada sekat kedap air yang memisahkan muatan pada geladak antara, pintu tersebut boleh bergantung, mengguling atau geser namun tidak boleh dikendalikan dari jarak jauh. Pintu-pintu harus dipasang di tempat yang tertinggi dan sejauh mungkin jaraknya dari pelat kulit yang kurang dari seperlima lebar kapal sebagaimana pada peraturan 2, jarak tersebut diukur saat kapal tegak terhadap garis tengah pada ketinggian yang terdalam dari garis air subdivisi. 10.2 Untuk pintu-pintu yang harus ditutup sebelum pelayaran dimulai dan harus tertutup selama pelayaran; waktu untuk membuka dipelabuhan dan menutup sebelum kapal meninggalkan pelabuhan harus dicatat dalam buku harian kapal. Pintu-pintu yang dapat dimasuki selama pelayaran, harus dilengkapi dengan peralatan yang mencegah bukaan-bukaan yang tidak dibenarkan. Apabila diusulkan untuk memasang pintu-pintu tersebut, jumlah dan tata susunannya harus dipertimbangkan secara khusus oleh Badan Pemerintah. 11 Pelat-pelat yang dapat dilepas disekat-sekat tidak diizinkan kecuali didalam ruangan permesinan.Pelat-pelat harus selalu ditempatnya sebelum kapal meninggalkan pelabuhan, dan harus tidak dilepas selama dalam pelayaran, kecuali bilamana dalam keadaan penting sesuai pertimbangan nakhoda. Waktu untuk memindahkan dan mengganti pelat-pelat tersebut harus dicatat dalam buku harian kapal, dan tindakan pencegahan yang diperlukan harus dilakukan dalam penggantiannya untuk menjamin penyambungannya kedap Badan Pemerintah boleh mengizinkan lebih dari satu daya operasi pintu geser kedap air pada setiap sekat pelintang utama yang lebih besar dari yang di saratkan dalam paragraf 7.1.2 diganti dengan pelat-pelat yang dapat dilepas, dengan catatan pintu harus ditutup sebelum kapal meninggalkan pelabuhan dan selama pelayaran kecuali pada kasus yang sangat perlu sesuai kebijakan nakhoda. Pintu-pintu ini tidak perlu memenuhi persyaratan paragraf 7.1.4 tentang penutupan dengan peralatan yang digerakkan dengan tangan dalam 90 detik, waktu untuk membuka penutupan harus dicatat dalam buku harian kapal. 84

Bagian B

Peraturan 4

12.1 Bila terdapat lorong atau terowongan-terowongan untuk masuk dari tempat akomodasi awak kapal ke ruang opak, untuk pipa, atau untuk keperluan lain yang harus dibawa melalui sekat-sekat kedap air melintang utama yang harus kedap air dan sesuai dengan ketentuan peraturan 19. Jalan masuk menuju salah satu ujung dari lorong atau terowongan yang digunakan sebagai lintasan saat di laut harus melalui garis benaman. Jalan masuk ke sisi lain dari lorong atau terowongan mungkin melalui pintu kedap air dari jenis yang sesuai dengan lokasinya di kapal. Lorong dan terowongan tersebut tidak boleh membentang melalui sekat sub divisi pertama di belakang sekat tubrukan. 12.2 Apabila diusulkan untuk memasang terowongan-terowongan yang menembus sekat kedap air melintang utama, apabila ini hanya mendapat pertimbangan khusus dari Badan Pemerintah. 12.3 Apabila terdapat lorong yang berhubungan dengan muatan pendingin dan lubang peranginan ataudengan gaya dorong yang mempunyai lebih dari satu sekat kedap air, alat-alat penutup seperti pada bukaan-bukaan harus dijalankan dengan tenaga dan dapat ditutup dari pusat pengendalian yang terletak di atas geladak sekat.

Peraturan 16 Kapal-Kapal Penumpang yang mengangkut Barang-barang Kendaraan dan Personel yang mengikutinya.
1 Peraturan ini berlaku untuk kapal penumpang tanpa memperhatikan tanggal desain konstruksi atau kesesuaiannya untuk mengangkut barang-barang kendaraan dan personil yang mengikutinya dengan jumlah total orang di kapal, selain dari yang ditentukan pada peraturan 1 / 2 (e)(i) dan (ii), lebih dari 12 orang. 2 Jika pada kapal seperti itu jumlah total penumpang termasuk personel yang mengikuti kendaraan tidak melebihi : N = 12 + A/25 , dimana A = luas geladak keseluruhan ( m2 ) dari ruangan yang tersedia untuk memuat barang-barang kendaraan dan jika tinggi posisi muatan dan pada jalan masuk ke ruangan tersebut tidak kurang dari 4 m. Ketentuan dari peraturan 15.10 yang berkaitan dengan pintu kedap air berlaku kecuali jika pintupintu tersebut boleh dipasang pada setiap tempat pada sekat kedap air membagi ruang muatan, sebagai tambahan, 85

Bab II -1: Konstruski indikator diperlukan di anjungan untuk menunjukkan secara otomatis apakah setiap pintu ditutup dan semua pintu diikat dan dikunci. 3 Ketika memberlakukan ketentuan pasal ini untuk kapal seperti itu, N harus diambil sebagai jumlah maksimum penumpang boleh diangkut kapal tersebut sesuai dengan peraturan ini. 4 Dalam memberlakukan Peraturan 8 pada kondisi operasi terburuk, permeabilitas dari ruang muatan yang dimaksudkan untuk memuat barang-barang kendaraan dan peti kemas harus diambil dengan menghitung dimana barang-barang kendaraan dan peti kemas harus diasumsikan tidak kedap air dan permeabilitas yang diambil adalah 65. Untuk kapal yang digunakan untuk pelayaran seperti itu, nilai permeabilitas sesungguhnya dari kendaraan atau peti kemas dapat diberlakukan. Permeabilitas dari ruang muatan yang mengangkut barangbarang kendaraan bermotor dan peti kemas diambil tidak boleh kurang dari 60.

Peraturan 17 Bukaan-bukaan pada pelat kulit kapal penumpang di bawah garis batas benam.
1 Jumlah bukaan pada pelat kulit harus dikurangi ke nilai minimum yang sesuai dengan desain dan peruntukkan kerja yang cocok di kapal. 2 Tata susunan dan efisiensi alat-alat penutup setiap bukaan pada pelat kulit harus dengan tujuan penggunaannya dan posisi dimana dipasang dan umumnya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Badan Pemerintah. 3.1 Sesuai dengan persyartan Konvensi Internasional Mengenai Garis muat, tidak ada Side Scuttle harus dipasang pada suatu posisi dimana ambang berada di bawah garis yang ditarik sejajar dengan geladak sekat pada sisi dan mempunyai titik terendah 2,5 % dari lebar kapal di atas bagian terdalam garis muat, atau 500 m, diambil mana yang lebih besar. 86

Bagian B

Peraturan 4

3.2 Semua tingkap samping yang ambang-ambangnya berada dibawah garis dasar batas benaman, seperti yang disyaratkan pada paragraf 3.1 harus dari konstruksinya sedemikian rupa sehingga secara efektif akan mencegah setiap orang membuka tingkap samping tanpa izin dari nahkoda kapal. 3.3.1 Jika pada suatu geladak antara, ambang dari setiap tingkap sisi seperti yang ditunjukkan pada paragraf 2 berada dibawah garis yang ditarik sejajar dengan geladak sekat di bagian sisi dari titik terendah 1,4 m ditambah 2,5 % dari lebar kapal di atas garis air, jika kapal berangkat dari suatu pelabuhan, semua tingkap sisi pada geladak antara itu harus ditutup kedap air dan dikunci sebelum kapal meninggalkan pelabuhan, dan tidak boleh dibuka sebelum kapal tiba di pelabuhan berikutnya. Dalam penerapan paragraf ini, memperhitungkan koreksi air tawar. 3.3.2 Waktu pembukaan tingkap samping di pelabuhan dan penutupan serta penguncian sebelum kapal meninggalkan pelabuhan harus dicatat pada buku harian kapal seperti yang ditetapkan oleh Badan pemerintah. 3.3.3 Bagi setiap kapal yang mempunyai satu atau lebih tingkap samping yang diletakkan sedemikian rupa sehingga persyaratan paragraf 3.3.1 akan berlaku ketika kapal mengapung pada garis muat subdivisi terdalam, Badan Pemerintah boleh menetapkan batas sarat rata-rata sehingga ambang tingkap sisi berada di atas garis yang ditarik sejajar dengan sekat geladak pada bagian sisi, dan memiliki titik terendah 1,4 m ditambah 2,5 % lebar kapal di atas garis air yang sesuai dengan pembatasan sarat ratarata, dan dengan demikian ia akan diizinkan untuk bertolak dari pelabuhan tanpa terlebih dahulu menutup atau mengunci dan untuk membukanya di laut menjadi tanggung jawab nahkoda kapal selama pelayaran ke pelabuhan berikutnya. Di daerah tropik seperti yang didefinisikan dalam Konvensi Internasional tentang Garis muat, batas sarat ini dapat dinaikkan hingga 0,3 m. 4 Penyekatan yang efisien dari tudung-tudung tingkap sebelah harus ditata sedemikian rupa sehingga dapat ditutup dan dikencangkan dengan mudah dan efektif serta menjamin kekedapan air, harus dipasang pada semua 87

Bab II -1: Konstruski tingkap sisi kecuali bahwa pada 1/8 panjang kapal dibelakang dari garis tegak haluan dan di atas suatu garis yang ditarik sejajar dengan sekat geladak pada bagian sisi dan mempunyai titik terendah pada ketinggian 3,7 m ditambah 2,5 % dari lebar kapal di atas garis muat subdivisi terdalam. Tudung tingkap yang dapat dilepas pada akomodasi penumpang, selain dari pengaturan penumpang, kecuali tudung tingkap yang disyaratkan dalam konvensi internasional garis muat yang berlaku harus diikat secara permanen pada posisi yang tepat. Tudung tingkap yang dapat dilepas harus dipasang pada tingkap sisi yang bersangkutan. 5 Tingkap sisi dan tudung tingkap yang tidak dapat dijangkau selama pelayaran ditutup dan dikencangkan sebelum kapal meninggalkan pelabuhan. 6.1 Tidak boleh ada sisi dipasang manapun yang diperuntukkan secara mengangkut muatan atau batu bara. dalam ruangan khusus untuk

6.2 Meskipun demikian tingkap sisi bisa dipasang dalam ruang yang diperuntukkan untuk mengangkut barang atau penumpang secara bergantian namun tingkap sisi tersebut haruslah dengan sedemikian rupa sehingga akan mencegah secara efektif setiap orang membuka tingkap sisi tanpa izin dari nahkoda. 6.3 Jika barang diangkut pada ruangan tersebut, tingkap sisi dan tudung tingkap harus ditutup dengan kedap air dan dikencangkan setelah barang dikapalkan dan penutup serta pengencangan seperti itu harus dicacat pada buku harian kapal sebagaiman ditetapkan oleh Badan Pemerintah. 7 Tingkap sisi peranginan otomatis tidak boleh dipasang pada pelat kulit di bawah garis batas benaman tanpa izin khusus dari Badan Pemerintah. 8 Jumlah saluran buang, lubang buang saniter dan lubang-lubang lain yang serupa pada pelat kulit harus dikurangi sampai sekecil-kecilnya baik dengan menjadikan setiap lubang melayani sebanyak mungkin dari pipa saniter dan pipa lain, atau dengan cara lain yang memenuhi syarat. 9.1 Semua lubang masuk dan buangan pada pelat kulit 88

Bagian B

Peraturan 4

harus dipasang dengan tata susunan yang efisien dan dapat dijangkau untuk mencegah masuknya air secara tak sengaja ke dalam kapal. 9.2.1 Sesuai dengan persyaratan Konvensi Internasional tentang Garis Muat yang berlaku, dan selain dari yang ditetapkan dalam paragraf 9.3, tiap lubang-lubang yang terpisah yang dipasang di bawah garis batas benaman pelat kulit dari ruang dibawah garis batas benaman harus dilengkapi dengan salah satu hal berikut katup anti balik otomatis dengan suatu peralatan penutup yang positif dari geladak sekat atau dua katup anti balik otomatis tanpa dilengkapi sarana penutupan otomatis positif dengan catatan katup sebelah dalam berada di atas garis air subdivisi terdalam dan selalu dijangkau untuk pemeriksaan dalam kondisi berjalan. Apabila sebuah katup dengan sarana penutupan positif , posisi pengoperasian diatas geladak sekat harus selalu siap untuk dijangkau dan harus dilengkapi dengan sarana untuk melihat apakah katup terbuka atau tertutup. 9.2.2 Persyaratan Konvensi Internasional tentang Garis muat yang berlaku harus untuk pembuangan melalui pelat kulit dari ruang diatas garis batas benaman. 9.3 Lubang-lubang masuk, lubang-lubang utama dan bantu yang berhubungan yang berhubungan dengan operasi permesinan harus dilengkapi dengan katup yang mudah dijangkau antara pipa dan pelat kulit atau antara pipa dan kotak yang dilekatkan pada pelat kulit. Katupkatup dapat dikontrol secara lokal dan harus dilengkapi dengan indikator yang menunjukkan apakah katup-katup dalam keadaan terbuka atau tertutup. 9.4 Semua perlengkapan dan katup yang dipersyaratkan dalam peraturan ini haruslah dari baja, bronze atau material liat yang lain. Katup-katup dari besi cor umum atau material yang sejenis tidak dapat diterima. Semua pipa yang sesuai peraturan ini harus dari baja atau material lain yang sejenis sesuai yang ditetapkan Badan Pemerintah. 10.1 Tangga naik, pintu barang dan batu bara yang diletakkan di bawah garis batas benaman harus memiliki kekuatan yang cukup. Pintu-pintu harus ditutup secara 89

Bab II -1: Konstruski efektif dan dikencangkan kedap air sebelum meninggalkan pelabuhan, dan harus tetap tertutup selama kapal berlayar. 10.2 Pintu-pintu tersebut tidak boleh sama sekali dipasang lebih rendah dari garis muat subdivisi yang terdalam. 11.1 Lubang-lubang di dalam kapal dari setiap saluran abu, saluran sampah, dan lain-lain harus dipasang dengan penutup yang efisien. 11.2 Jika lubang-lubang di dalam ditempatkan di bawah garis batas benaman , maka penutupnya harus kedap air, dan sebagai tambahan suatu katup anti balik otomatis harus dipasang pada saluran buang yang posisinya mudah dijangkau di atas bagian garis batas benaman terdalam. Jika saluran sedang tidak digunakan harus selalu tertutup dan diikat kuat.

Peraturan 18 Konstruksi dan pengujian awal dari pintu kedap air, tingkap sisi, dll, pada kapal penumpang dan kapal barang.
1 Pada Kapal Penumpang .1 Desain, material dan konstruksi dari pintu-pintu kedap air, tingkap sisi, tangga naik, pintu muatan dan batu bara, katup-katup, pipa-pipa, saluran buang abu dan sampah seperti yang ditunjukkan dalam peraturan ini harus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Badan Pemerintah. Gading-gading dari pintu-pintu kedap air vertikal harus tidak ada alur di dasar sehingga kotoran mengendap dan menghalangi pintu-pintu tertutup dengan sempurna.

.2

2 Pada kapal penumpang dan kapal barang setiap pintu kedap air harus diuji dengan air bertekanan hingga tinggi tekanannya mencapait geladak sekat atau geladak garis muat masing-masing. Pengujian harus dilakukan sebelum kapal dilayarkan, baik sebelum atau setelah pintu-pintu 90

Bagian B dipasang.

Peraturan 4

Peraturan 19 Konstruksi dan uji awal dari geladak kedap air, cemuk, dll pada kapal penumpang dan kapal barang.
1 Geladak, cemuk, terowongan, lunas-saluran dan ventilator udara yang kedap air harus memiliki kekuatan yang sama dengan sekat kedap air yang sesuai dengan tingginya. Semua sarana yang digunakan untuk membuatnya kedap air dan tata susunan yang diterapkan untuk menutup lubang-lubang dari sarana itu, harus sesuai dengan ketententuan yang dikeluarkan oleh badan pemerintah. Ventilator kedap air dan cemuk harus sekurang B kurangnya sampai pada geladak sekat pada kapal penumpang dan sampai geladak garis muat pada kapal barang.

Bilamana cemuk ventilasi melewati bangunan yang menembus geladak sekat, cemuk harus mampu menahan tekanan air yang mungkin muncul diantara cemuk, setelah mempertimbangkan sudut kemiringan selama tahap * lanjut sampai geladak lambung timbul pada kapal barang. Bilamana semua bagian dari penembusan geladak sekat beraada pada geladak ro B ro utama , cemuk harus mampu menahan dampak tekanan yang diakibatkan oleh gerakan air yang terjebak digeladak roro. 4 Untuk kapal yang dibangun sebelum tanggal 1 Juli 1997, persyaratan paragraf 2 akan berlaku dengan tidak melewati tangggal survey periodik pertama setelah tanggal 1 Juli 1997.** 5 Setelah selesai pemasangan , uji semprot dan uji genang harus diterapkan pada geladak kedap air dan uji semprot untuk cemuk, terowongan dan ventilator kedap air.

* peraturan belaku sejak 1 Juli 1997 *Komite keselamatan maritim, pada sidangnya yang keeenampuluh tujuh menyetujui bahwa
ungkapan Aparagraf 2" harus diganti dengan Aparagraf 2 dan 3"

91

Bab II -1: Konstruski

.Peraturan

20 Kekedapan menyeluruh pada kapal penumpang yang berada diatas garis batas benaman.
1 Badan Pemerintah dapat mensyaratkan agar semua cara yang layak dan dapat diterapkan untuk membatasi masuknya dan tersebrangnya air diatas geladak sekat. Cara-cara seperti itu mungkin termasuk sebagian sekat Bsekat atau bilah-bilah. Jika sebagian sekat atau bilah dipasang pada sekat geladak, diatas atau dekat dari sekat subdivisi utama, maka harus mempunyai pelat kulit dan sambungan geladak sekat yang kedap air untuk membatasi meluapnya air sepanjang geladak ketika kapal miring akibat keretakan. Jika sebagian sekat kedap air tidak bersambung dengan sekat dibawahnya, maka geladak sekat harus ** dibuat kedap air secara efektif. 2 Geladak sekat atau geladak diatas harus dibuat kedap cuaca. Semua lubang-lubang di daerah geladak cuaca yang nampak harus mempunyai ambang dengan tinggi dan kekuatan yang cukup layak dan harus dilengkapi peralatan B peralatan yang efisien untuk menutup lubanglubang itu menjadi kedap cuaca . Lubang pembebasan di kubu-kubu, pagar terbuka dan lubanglubang harus dipasang sesuai keperluan untuk membersihkan air geladak cuaca dengan cepat dalam segala keadaan. 3 Pada kapal penumpang yang dibangun pada atau setalah tanggal 1 Juli 1997, pada ujung pipa udara terbuka yang berakhir di dalam bangunan atas yang berada sekurang B kurangnya 1 meter diatas garis air jika sudut kemiringan kapal 150 atau sudut miring maksimum selama tingkat genangan lanjut, yang ditentukan dengan perhitungan langsung; diambil mana yang lebih besar. Sebagai penggati, pipa udara dari tangki-tangki selain dari

* Mengacu

pada MSC/Circ. 541(sebagaimana ditambah dan dirubah): Catatan petunjuk tentang integritas batas genangan diatas geladak sekat dari kapal penumpang untuk penerapan yang tepat dari peraturan II-1/8 dan 20, paragraf 1 SOLAS 1974 sebagaimana ditambah dan dirubah

92

Bagian B

Peraturan 4

tangki minyak dapat membuang melalui sisi bangunan atas. Ketentuan dari paragraf ini tidak mengesampingkan ketentuan konvensi internasional tentang garis muat yang berlaku. 4 Tingkap sisi, tangga naik, pintu muatan dan pintu batu bara serta sarana lain untuk penutupan lubang-lubang pada pelat kulit diatas garis batas benaman harus mempunyai kekuatan dan yang efisien dan kekuatan yang cukup dengan memperhitungkan ruangan tempat lubanglubang itu dipasang dan letaknya terhadap garis muat subdivisi terdalam.*+++ 5 Tudung tingkap dalam yang efisien, yang ditata sedimikian rupa agar dapat ditutup dan dikencangkan kedap air secara mudah dan efektif, harus dipasang di setiap tingkap sisi sampai ruangan dibawah geladak pertama di atas sekat geladak.

Peraturan 20-1 Penutup pintu pemuatan barang.


1
+++ + Peraturan ini berlaku untuk semua kapal penumpang.

2 Pintu B pintu berikut yang terletak diatas garis batas benaman, harus di tutup dan dikunci sebelum kapal meneruskan perjalanan dan harus tetap tertutup dan terkunci hingga kapal di dermaga berikutnya: .1 .2 .3 Pintu B pintu pemuatan yang memuat barang pada lambung kapal atau pembatas bangunan atas yang tertutup. Penutup haluan yang dipasang pada posisi seperti yang ditunjukan pada paragraf 2.1 Pintu B pintu pemuatan barang pada sekat tubrukan.

+*Mengacu + Mengacu

pada rekomendasi tentang tata susunan menyangkut kekuatan, keamanan dan penguncian pintu-pintu lambung pada kapal penumpang ro-ro yang disetujui oleh Organisasi melalui resolusi A.794(19)
pada MSC/Circ. 541(sebagaimana ditambah dan dirubah): Catatan petunjuk tentang integritas batas genangan diatas geladak sekat dari kapal penumpang untuk penerapan yang tepat dari peraturan II-1/8 dan 20, paragraf 1 SOLAS 1974 sebagaimana ditambah dan dirubah.

93

Bab II -1: Konstruski .4 Rampa kedap air dijadikan sebagai penutup pengganti seperti yang didefinisikan didalam paragraf 2.1 sampai 2.3

Dengan catatan bahwa jika pintu tidak dapat ditutup dan dibuka ketika kapal di dermaga, pintu B pintu seperti itu dapat dibuka atau dibiarkan terbuka saat kapal mendekat atau menjauh dari dermaga, tapi hanya sejauh yang diperlukan untuk memungkinkan pintu B pintu tersebut dapat dengan segera dioperasikan. Dalam setiap kasus pintu halaun yang bagian dalam harus tetap tertutup. 3 Menyimpang dari ketentuan paragraf 2.1 dan 2.4 Badan Pemerintah dapat menyetujui agar pintu- pintu utama dapat dibuka atas kebijakan nakhoda, jika diperlukan untuk pengoperasian kapal atau embarkasi dan debarkasi penumpang, saat kapal dalam kondisi lego jangkar yang aman dan dengan catatan keselamatan kapal tidak terganggu. 4 Nakhoda harus menjamin agar sistem pengawasan dan pelaporan yang efektif tentang penutupan dan pembukaan pintu-pintu sebagaiman pada paragraf 2 di laksanakan. 5 Nakhoda harus menjamin sebelum kapal melanjutkan suatu perjalanan , agar catatan pada buku harian seperti yang dipersyaratkan pada peraturan II B 1/25, dibuat pada saat penutupan dan pada saat pembukaan pintu B pintu sesuai yang disyaratkan pada paragraf 3.
++

Peraturan 20-2 Kekedapan sekat kedap air dari geladak ro-ro (sekat geladak) hingga ruang bawahnya.
1 Pada kapal penumpang ro B ro yang dibangun pada atau setelah tanggal 1 Juli 1997: .1 berlaku ketentuen sub paragraf 2 dan 3 semua jalan masuk menuju ruang-ruang di bawah geladak sekat harus memiliki titik terendah yang

+ Peraturan berlaku sejak 1 Juli 1997


94

Bagian B

Peraturan 4 tidak kurang dari 2,5 m diatas geladak sekat. Bila rampa kendaraan dipasang untuk memberi jalan keluar ke ruang di bawah geladak sekat, bukaan B bukaanya harus bisa ditutup kedap cuaca untuk mencegah merembesnya air kebawah diberi alarm dan tanda menunju anjungan navigasi. Badan pemerintah boleh mengizinkan pemasangan jalan masuk khusus ke ruang dibawah geladak sekat, dengan catatan hal tersebut diperlukan untuk pekerjaan yang penting di kapal seperti pergerakan di ruang permesinan dan gudang dengan catatan bukaan semacam itu harus kedap air, diberi alarm dan tanda ke anjungan navigasi. Jalan masuk seperti yang ditunjukan pada sub paragraf 2 dan 3 harus ditutup sebelum kapal meninggalkan dermaga pada setiap pealayaran dan harus tetap tertutup tiba di dermaga berikutnya. Nakhoda harus menjamin pengawasan dan pelaporan yang efektif dari penutupan dan pembukaan jalan masuk seperti yang ditunjukan pada sub paragraf 2 dan 3 dilaksanakan, Nakhoda harus menjamin , sebelum kapal meniggalkan dermaga setiap pelayaran, bahwa pencatatan pada buku harian kapal sebagaimana dipersyaratkan pada peraturan 25, dilakasanakan pada saat penutupan terakhir jalan masuk sebagaimana ditetapkan pada sub paragraf 2 dan 3.

.2

.3

.4

.5

.6

Kapal penumpang ro B ro yang dibangun sebelum tanggal 1 juli 1997, .1 semua jalan masuk dari geladak ro Bro yang menuju keruang di bawah geladak sekat harus kedap air dan peralatan B peralatan harus tersedia di anjungan untuk menunjukan apakah jalan masuk terbuka atau tertutup. Semua jalan masuk seperti itu harus ditutup sebelum kapal meninggalkan dermaga pada setiap pelayaran dan harus tetap tertutup sampai kapal tiba di dermaga berikutnya. 95

.2

Bab II -1: Konstruski .3 Menyimpang dari ketentuan sub paragraf 2 , Badan Pemerintah dapat membolehkan sejumlah jalan masuk dibuka selama pelayaran namum hanya untuk waktu yang singkat untuk memberi perlintasan dan jika diperlukan untuk pekerjaan penting. Ketentuan sub paragraf 1, pemberlakuaanya tidak melewati tanggal survey periodik pertama setelah 1 Juli 1997.

.4

Peraturan 20-3 Jalan masuk ke geladak ro-ro


Pada semua kapal penumpang ro-ro, nahkoda atau perwira yang ditunjuk harus menjamin bahwa tanpa izin dari nahkoda atau perwira yang ditunjuk, tak ada penumpang diizinkan masuk ke geladak ro-ro tertutup ketika kapal sedang berlayar.
1

Peraturan 20-4 Penutup sekat- sekat pada geladak Ro-Ro


1
Semua sekat melintang dan memanjang yang diperlukan sebagai sarana yang efektif untuk membatasi air laut yang terkumpul pada geladak ro-ro harus tetap ditempatnya dan dikat sebelum kapal meninggalkan dermaga dan tetap terkunci sampai kapal tiba di dermaga berikutnya berikutnya. 2 Menyimpang dari ketentuan paragraf 1, Badan Pemerintah dapat mengizinkan beberapa jalan masuk yang berada di sekat-sekat harus dibuka selama pelayaran tapi hanya untuk waktu yang singkat untuk memeberi perlintasan dan jika diperlukan untuk pekerjaan penting di kapal.

Peraturan 21 1 Peraturan berlaku sejak 1 Juli 1997 1 Peraturan berlaku sejak 1 Juli 1997
96

Bagian B

Peraturan 4

Tata Susunan Pompa Bilga (Paragraf 1.6 dan 2.9 peraturan ini berlaku bagi kapal yang dibangun pada atau setelah 1 Pebruari 1992)
1 Kapal penumpang dan kapal barang. 1.1 kapal-kapal harus dilengkapi dengan instalasi pompa bilga yang dapat memompa dan mengeringkan setiap kompartemen kedap air yang selain dari ruangan yang secara tetap untuk mengangkut air tawar, air tolak bara, bahan bakar minyak atau muatan cair dan yang lainnya yang dilengkapi dengan sarana pemompaan yanng efektif berdasarkan hal-hal praktis. Sarana-sarana yang efisien harus tersedia untuk mengeringkan air dari ruang muat yang diberi lapisan isolasi. 1.2 Pompa B pompa saniter, tolak bara dan dinas umum dapat diterimana sebagai pompa bilga bertenaga sendiri jika dilengkapi dengan sambungan-sambungan yang diperlukan ke sistem pompa bilga. 1.3 Semua pipa bilga yang digunakan di dalam atau dibawah tempat penyimpanan batu bara atau dibawah ruang ketel atau ruang permesinan termasuk ruangan dimana ditempatkan tangki endap minyak dari pompa bahan bakar minyak harus terbuat dari baja atau material lain yang sesuai. 1.4 Tata susunan dari sistem pompa bilga dan pompa tolak bara harus sedemikian rupa sehingga dapat mencegah kemungkinan masuknya air laut dan dari ruang tolak bara air kedalam ruang mesin dan ruang muat atau dari suatu ruangan ke ruangan lain. Ketentuan B ketentuan khusus harus dibuat untuk mencegah setiap tangki dalam yang memiliki hubungan bilga dan tolak bara yang dipenuhi secara langsung dari laut pada saat berisi muatan atau dipompa keluar melalui pompa bilga ketika berisi air tolak bara. 1.5 Semua kotak pembagi dan katup-katup yang dioperasikan secara manual yang ada hubungannya dengan tata susunan pompa bilga harus pada posisi yang dapat dijangkau setiap saat dalam keadaan biasa.

97

Bab II -1: Konstruski 1.6 Ketentuan harus dibuat untuk mengeringkan ruangruang muatan tertutup yang terletak pada geladak sekat kapal penumpang dan pada geladak garis muat dari kapal barang, dengan catatan bahwa Badan Pemerintah dapat mengizinkan sarana sistem pengering dihilangkan pada kompartemen tertentu dari setiap kapal atau jenis kapal. Apabila hal ini memenuhi syarat-syarat ukuran atau subdivisi bagian dalam ruangan tersebut sehingga keselamatan kapal tidak terganggu. 1.6.1 Bilamana lambung timbul ke geladak sekat atau geladak garis muat masing-masing sedemikian hingga tepi geladak tercelup saat kemiringan kapal melebihi 50, pengeringan harus berupa jumlah saluran buang yang ukurannya dipasang menurut ketentuan Peraturan 17, kapal penumpang dan ketentuan mengenai saluran buang , lubang masuk dan lubang dari Konvensi Internasional tentang Garis Muat yang berlaku untuk kapal barang. 1.6.2 Apabila lambung timbul sedemikaina rupa sehingga tepi geladak sekat atau tepi geladak garis muat masing-masing terbenam pada saat kapal miring sebesar 50 atau kurang, sistem pengeringan dari ruang muatan tertutup pada geladak sekat atau pada geladak garis muat masing-masing harus menuju ke ruangan yang sesuai, atau ruang-ruang yang memiliki kapasitas yang memadai dan memiliki alarm ketinggian cairan dan dilengkapi dengan tata susunan pembuangan ke lambung, disamping itu harus dijamin bahwa: .1 .2 Jumlah ukuran dan penempatan saluran buang adalah sedemikian untuk mencegah akumulasi yang tak masuk akal dari air bebas; Tata susunan pompa yang ditentukan dalam peraturan ini untuk kapal penumpang atau kapal barang sejauh dapat diterapkan dengan mempertimbangkan persyaratan-persyaratan untuk sistem ; pemadam kebakaran dengan pancaran air yang dipasang tetap; Air yang terkontaminasi dengan bensin atau zatzat lain yang berbahaya tidak dialirkan ke ruang mesin atau ruang lain dimana terdapat sumbersumber yang mudah menyala; dan Bilamana ruang muatan tertutup dilindungi 98

.3

.4

Bagian B

Peraturan 4 dengan sistem pemadam kebakaran karbon dioksida, saluran buang geladak dipasang dengan peralatan untuk mencegah keluarnya gas pemadaman api.

Kapal Penumpang.

2.1 Sistem pompa bilga yang ditentukan pada paragraf 1.1 harus mampu beroperasi pada semua kondisi yang dapat dialami setelah kecelakaan baik dalam posisi tegak maupun miring. Untuk maksud ini hisapan samping umumnya harus dipasang kecuali pada ruangan sempit pada ujung kapal dimana hisapan mungkin cukup. Pada kompartemen dengan bentuk yang tidak lazim, tambahan hisapan mungkin diperlukan. Tata susunan harus dibuat untuk air di dalam kompartemen dapat menuju arahnya ke pipa isap. Untuk kompartemen khusus Badan Pemerintah harus setuju untuk persyaratan pengeringan yang tidak cocok dibolehkan untuk diganti jika perhitungan-perhitungan yang dilakukan sesuai dengan kondisi yang ditentukan dalam Peraturan 8.2.1 sampai 8.2.3 yang menunjukkan bahwa kemampuan penyelamatan kapal tidak akan terganggu. 2.2 Sekurang-kurangnya 3 pompa daya harus dipasang dengan sistem bilga, salah satunya dapat digerakkan oleh mesin propulsi. Bilamana kriteria numeralnya 30 atau lebih, satu pompa daya yang terpisah tambahan harus tersedia. 2.3 Bilamana memungkinkan diterapkan, pompa bilga harus diletakkan pada kompartemen kedap air terpisah dan diatur atau diletakkan sehingga kompartemen ini tidak akan terganggu pada saat mengalami genangan pada kerusakan yang sama. Jika mesin propulsi utama, mesin bantu dan ketel berada di dua atau lebih kompartemen kedap air, pompa-pompa yang tersedia untuk pelayanan bilga harus didistribusikan sejauh mungkin ke seluruh kompartemenkompartemen ini. 2.4 Pada kapal yang panjangnya 91,5 m dan lebih atau mempunyai suatu kriteria numeral 30 atau lebih, tata susunannya harus sedemikian sehingga sekurangkurangnya satu pompa bilga harus tersedia untuk digunakan dalam kondisi penggenangan dimana kapal perlu untuk bertahan sebagai berikut : 99

Bab II -1: Konstruski

.1

.2

Satu pompa bilga yang dipersyaratkan haruslah sebuah pompa darurat dan jenis yang dapat terendam dan memiliki sumber daya diatas geladak sekat; atau Pompa bilga dan sumber dayanya harus didistribusikan ke seluruh panjang kapal dimana sekurang-kurangnya satu pompa dalam suatu kompartemen yang utuh tersedia.

2.5 Dengan pengecualian dari pompa tambahan yang mungkin disediakan hanya untuk kompartemen, setiap pompa bilga yang diperlukan harus diatur sedemikan rupa sehingga untuk menghisap air dari ruang yang perlu untuk dikeringkan menurut paragraf 1.1. 2.6 Setiap daya pompa bilga harus mampu memompa air melalui pipa bilga utama yang ditentukan pada kecepatan yang tidak kurang dari 2 m/detik. Pompa bilga yang terpisah diletakkan pada ruang mesin harus memiliki hisapan langsung dari ruangan-ruangan ini, kecuali untuk yang tidak lebih dari 2 hisapan seperti itu diperlukan pada satu ruangan. Bilamana 2 atau lebih dari sedotan tersedia, setidak-tidaknya harus ada satu pada tiap sisi kapal. Badan Pemerintah dapat mewajibkan pompa bilga yang terpisah diletakkan di ruang lain agar mendapatkan hisapan langsung yang terpisah. Sedotan langsung harus diatur dengan tepat dan pada ruang mesin harus memiliki diameter yang tidak kurang dari yang dipersyaratkan pada saluran bilga. 2.7.1 Selain sedotan langsung atau sedotan yang dipersyaratkan oleh paragraf 2.6, sebuah sedotan langsung dari pompa sirkulasi utama menuju batas ketinggian pengeringan di ruang mesin dan dipasang dengan katup anti balik harus tersedia dalam ruang mesin. Diameter dari pipa isap langsung ini harus sekurang-kurangnya 2/3 dari diameter lubang masuk pompa untuk kapal uap, dan diameter yang sama dengan lubang masuk pompa untuk kapal motor. 2.7.2 Bilamana menurut pendapat Badan Pemerintah pompa sirkulasi utama tidak cocok untuk tujuan ini, suatu sedotan bilga darurat langsung harus dihubungkan dengan 100

Bagian B

Peraturan 4

pompa yang digerakkan dengan daya independen terbesar yang tersedia ke batas ketinggian dari pengeringan di ruang mesin; hisapan harus memiliki diameter yang sama dengan lubang masuk utama dari pompa yang digunakan. Kapsitas pompa yang dihubungkan harus melampaui pompa bilga kelebihannya ditentukan dengan suatu jumlah yang disetujui oleh Badan pemerintah. 2.7.3 Tuas-tuas dari katak laut dan katup hisap langsung harus ditempatkan dengan baik di ruang mesin. 2.8 Semua pipa hisap bilga hingga hubungan ke pompa harus tidak terpisah dari pipa yang lain. 2.9 Diameter dari pipa saluran air bilga harus dihitung menurut rumus berikut. Namun diameter internal aktual dari pipa saluran bilga dapat dibulatkan pada ukuran standar terdekat yang dapat diterima oleh badan pemerintah. d = 25 + 1,68 [ L ( B + D ) ]1/2 dimana: d diameter dalam dari pipa saluran bilga (mm) L & B adalah panjang dan lebar kapal (m) seperti yang didefinisikan pada peraturan 2; dan D adalah tinggi kapal moulded ke geladak sekat (m) dengan ketentuan bahwa, pada kapal yang memiliki ruang muatan tertutup pada geladak sekat yang secara internal dikeringkan sesuai peraturan paragraf 1.6.2 dan diperluas sepanjang kapal. D harus diukur ke geladak berikutnya di atas geladak sekat. Bilamana penutup ruangan muat tertutup memiliki panjang yang lebih pendek, D harus diambil sebagai tinggi moulded ke geladak sekat ditambah dengan lh/L dimana l dan h adalah rata-rata panjang dan tinggi masingmasing ruang muat tertutup (m). Diameter pipa cabang harus memenuhi ketentuan Badan Pemerintah. 2.10Ketentuan harus dibuat untuk mencegah ruangan yang dilayani oleh setiap pipa bilga yang tergenang pada saat pipa menderita kerusakan atau jika rusak oleh tubrukan 101

Bab II -1: Konstruski atau kandas pada setiap kompartemen yang lain. Untuk maksud tersebut, jika pipa ada pada suatu bagian yang diletakkan ke sisi kapal jaraknya kurang dari seperlima lebar kapal (seperti yang didefinisikan pada Peraturan 2 dan diukur pada sudut tegak terhadap garis tengah pada ketinggian yang sesuai dengan lambung timbul teradalam), atau ada pada lunas berongga, sebuah katup anti balik harus dipasang ke pipa dalam kompartemen yang berisi ujung terbuka. 2.11Kotak-kotak distribusi, keran dan katup-katup dalam hubungannya dengan sistem pompa bilga harus diatur sedemikian rupa agar pada saat tergenang, salah satu dari pompa-pompa bilga dapat dioperasikan pada setiap ruangan; Sebagai tambahan kerusakan sebuah pompa atau pipanya yang menghubungkan bilga utama di luar garis yang ditarik pada seperlima lebar kapal tidak boleh menjadikan sistem bilga di luar jangkauan. Jika hanya ada satu sistem pipa-pipa yang melayani semua pompa-pompa, katup-katup untuk kontrol hisapan bilga yang mampu dioperasikan dari geladak sekat. Bilamana sebagai tambahan dari sistem pompa bilga utama tersedia suatu sistem pompa bilga darurat, sistem tersebut harus terpisah dari sistem utama dan diatur agar pompa yang ditentukan pada paragraf 2.11 untuk masalah ini hanya katup yang perlu untuk operasi sistem darurat memerlukan kemampuan yang cukup untuk dioperasikan dari atas geladak sekat. 2.12 Semua keran dan katup yang diuraikan pada paragraf 2.11 yang dapat dioperasikan dari atas geladak sekat harus memiliki kontrol di tempat operasinya yang ditandai dan harus dilengkapi dengan sarana untuk menunjukkan apakah terbuka atau tertutup. 3 Kapal Barang.

Sekurang-kurangnya dua pompa yang dihubungkan ke sistem bilga utama harus tersedia, salah satunya boleh digerakkan oleh mesin propulsi. Badan Pemerintah dapat menyetujui asalkan keselamatan kapal tidak terganngu, penataan pompa bilga dapat dihilangkan pada kompartemen khusus.

102

Bagian B

Peraturan 4

Peraturan 22 Informasi stabilitas untuk kapal penumpang dan kapal barang*1


1 Setiap kapal penumpang tanpa memperhatikan ukurannya dan setiap kapal barang yang mempunyai panjang 24 m atau lebih, seperti yang didefinisikan pada Konvensi Internasional tentang Garis Muat yang berlaku, harus diuji kemiringan sebelum perampungan dan unsurunsur stabilitasnya ditentukan. Nahkoda harus diberi informasi yang memadai ketentuan Badan Pemerintah yang perlu untuk memungkinkannya untuk memproses dengan cepat dan sederhana guna memperoleh petunjuk yang akurat mengenai stabilitas kapal dalam kondisi pelayaran yang berubah-ubah. Salinan informasi stabilitas harus diserahkan kepada Badan Pemerintah. 2 Jika ada perubahan yang dilakukan pada kapal yang mempengaruhi informasi stabilitas yang diberikan pada nahkoda, maka perubahan informasi stabilitas harus diberikan Jika perlu kapal diuji kemiringan lagi. 3 Pada kurun waktu yang tidak lebih dari 5 tahun, suatu survey berat kapal kosong harus dilaksanakan pada semua kapal penumpang untuk memeriksa setiap perubahan displasemen kapal kosong dan titiki berat memanjang. Kapal harus diuji kemiringan ulang dengan membandingkannya dengan informasi stabilitas yang disetujui. Deviasi dari displasemen kapal kosong yang melampaui 2% atau deviasi titik berat kapal memanjang yang melebihi 1% dari panjang kapal harus diantisipasi. 4 Badan Pemerintah boleh mengizinkan uji kemiringan sebuah kapal tertentu secara sendiri-sendiri dibebaskan dengan catatan tersedia data stabilitas pokok dari uji kemiringan kapal kembarnya memenuhi ketentuan Badan Pemerintah sehingga informasi stabilitas terpercaya dari kapal yang dibebaskan dalam pengujian dapat diperoleh
1* Merujuk pada koda intact stabilitas untuk semua tipe kapal yang tercakup dalam instrumen IMO yang diterima oleh Organisasi melalui resolusi A.749(18). Merujuk juga pada : MSC/Circ.456, Petunjuk untuk persiapan informasi intact stability ;MSC/Circ.706, Petunjuk intact stability untuk kapal tangki minyak lama selama operasi transper; dan MSC/Circ.707,Petujuk bagi para nakoda untuk menghindari situasi-situasi berbahaya yang akan terjadi dan quartering seas.

103

Bab II -1: Konstruski dari data pokok, seperti yang ditetapkan pada paragraf 1. 5 Badan pemerintah dapat juga mengizinkan uji kemiringan sebuah kapal tertentu atau golongan-golongan kapal yang secara khusus dirancang untuk mengangkut zat cair atau biji curah, dibebaskan bilamana acuan terhadap data yang ada untuk kapal yang serupa secara jelas menunjukkan bahwa perbandingan-perbandingan kapal dan tata susunan kapal akan memperoleh tinggi metasentrum yang nilainya lebih dari cukup dalam semua kondisi pemuatan yang mungkin terjadi.

Peraturan 23 Pengawasan kerusakan kapal penumpang


Sebagai petunjuk bagi perwira yang bertugas di kapal, harus dipampangkan secara tetap, denah-denah yang memperlihatkan secara jelas pada tiap geladak dan mengandung batas-batas dari ruangan kedap air, lubanglubang yang ada didalam dengan sarana penutup dan letak alat pengawasan yang manapun, serta tata susunan untuk memperbaiki kemiringan yang diakibatkan oleh genangan. Selain itu buku-buku petunjuk yang memuat informasi tersebut di atas harus tersedia untuk perwira kapal.

Peraturan 23-1 Pengawasan kerusakan kering.

pada

kapal

muatan

(Paragraf ini berlaku untuk kapal yang dibangun pada atau setalah tanggal 1 Pebruari 1992) 1 Harus dipampangkan secara tetap atau dipersiapkan dengan cepat di anjungan navigasi untuk petunjuk bagi perwira-perwira yang bertugas di kapal, denah-denah yang memperlihatkan secara jelas tiap-tiap geladak dan mencantumkan batas-batas dari kedap air, bukaan-bukaan di tempat itu dengan alat-alat penutup dan posisi setiap alat kontrolnya, dan tata pengaturan untuk memperbaiki setiap kemiringan akibat penggenangan. Disamping itu bahan petunjuk yang berisikan informasi yang yang disebutkan di atas harus dibuat untuk dapat dipakai oleh para perwira

104

Bagian B kapal.*1

Peraturan 4

2 Indikator harus disediakan untuk semua pintu-pintu geser dan pintu-pintu berengsel pada sekat kedap air. Indikator yang menunjukkan apakah pintu-pintu terbuka atau tertutup harus ditunjukkan di anjungan. Disamping itu pintu-pintu samping dan lubang-lubang lain yang menurut pendapat Badan Pemerintah dapat menyebabkan genangan jika terbuka atau tidak dikencangkan dengan baik, harus dilengkapi dengan indikator. 3.1 Tindakan pencegahan umum harus memuat daftar perlengkapan, persyaratan dan prosedur operasional, yang ditentukan oleh Badan Pemerintah yang perlu untuk menjaga kekedapan air sesuai operasi kapal yang normal. 3.2 Tindakan pencegahan khusus harus memuat daftar unsur-unsur (seperti: penutup-penutup, keamanan muatan, bunyi tanda bahaya, dll) yang ditentukan oleh Badan Pemerintah menjadi vital bagi kelangsungan kapal dan awaknya.

Peraturan 23-2 Keutuhan lambung dan bangunan pengawasan dan pencegahan kerusakan.

atas,

(Peraturan ini berlaku untuk semua kapal penumpang RoRo, kecuali kapal yang dibangun sebelum 1 Juli 1997, Paragraf 2 harus berlaku sejak tanggal survey periodik pertama setelah 1 Juli 1997) 1 Indikator harus tersedia di anjungan di semua pintupintu lambung, pintu-pintu muatan dan peralatan-peralatan penutup yang lain yang jika dibiarkan terbuka atau tidak dikencangkan dengan baik dapat menimbulkan genangan pada ruang kategori khusus atau ruang muatan ro-ro, berdasarkan pandangan Badan Pemerintah. Sistem indikator harus dirancang dengan prinsip gagal-aman dan harus menunjukkan oleh tanda bahaya yang dapat didengar jika pintu tidak ditutup secara penuh atau kalau ada tata susunan pengaman tidak pada tempatnya dan terkunci
1* Mengacu pada sirkular MSC 44, mengenai petunjuk untuk persiapan informasi akibat genangan yang harus diberikan pada Nakoda kapal muatan kering.

105

Bab II -1: Konstruski sepenuhnya dan oleh tanda bahaya yang dapat didengar jika pintu-pintu seperti itu atau peralatan-peralatan penutup menjadi terbuka atau tata susunan pengaman tidak terjamin. Panel indikator di anjungan harus dilengkapi dengan suatu moda pilihan fungsi Apelabuhan/berlayar@ diatur sedemikian agar suatu alarm bunyi diberikan di anjungan jika kapal meninggalkan pelabuhan dengan pintupintu haluan, pintu-pintu dalam, rampa buritan atau setiap pintu sisi yang lain tidak ditutup atau alat penutupnya yang tidak pada posisi yang benar. Pasik daya untuk sistem indikator harus terpisag dari pasokan untuk pengoperasian dan penguncian pintu-pintu. Sistem indikator yang disetujui oleh Badan Pemerintah, bilamana dipasang pada kapal yang dibangun sebelum 1 Juli 1997 tisak perlu dirubah. 2 Sistem pengawasan dengan televisi dan deteksi kebocoran air harus diatur petunjuk di anjungan dan stasiun pengawas mesin dari setiap kebocoran melalui pintu haluan sebelah dalam dan sebelah luar, pintu-pintu buritan atau setiap pintu-pintu lambung yang lain yang dapat menimbulkan genangan pada ruang kategori khusus atau ruang muatan ro-ro. 3 Ruang kategori khusus dan ruang motor ro-ro harus dipatroli atau dimonitor terus menerus dengan sarana yang efektif, seperti pengawasan televisi agar setiap pergerakan kendaraan pada kondisi cuaca buruk (merugikan) dan jalan masuk yang tidak diperkenankan bagi penumpang dapat dideteksi ketika sedang berlayar. 4 Pendokumentasian prosedur operasi untuk menutup dan mengunci semua pintu-pintu lambung, pintu-pintu muat, dan peralatan-peralatan lain yang jika dibiarkan terbuka atau tidak dikunci dengan baik dapat menimbulkan genangan pada ruang kategori khusus atau ruang muatan ro-ro berdasarkan pendapat Badan Pemerintah harus dijaga di kapal dan diletakkan poster pada tempat yang benar.

Peraturan 24 Penandaan, pengoperasian dan inspeksi berkala pintu-pintu kedap air, dll pada kapal penumpang.
1 Peraturan ini berlaku bagi semua kapal .

106

Bagian B

Peraturan 4

2.1 Latihan-latihan untuk mengoperasikan pintu kedap air, tingkap-tingkap sisi, katup-katup dan mekanisme penutupan lubang-lubang scuper, lorong buang abu dan lorong buang sampah harus dilakukan satu kali setiap minggu. Di kapal-kapal yang waktu pelayarannya lebih dari satu minggu, suatu latihan lengkap harus diselenggarakan sebelum kapal meninggalkan pelabuhan, dan latihanlatihan lainnya sesuadahnya sekurang-kurangnya satu kali setiap minggu selama pelayaran. 2.2 Semua pintu keduanya yang tergantung dan digunakan dengan daya pada sekat melintang yang digunakan di laut, harus dioperasikan setiap hari. 3.1 Pintu-pintu kedap air dan semua mekanisme serta indikator yang dihubungkan padanya, semua katup yang penutupannya diperlukan untuk membuat kedap air, dan semua katup yang diperlukan untuk pengawasan kerusakan sambungan-sambungan silang harus diperiksa secara berkala di laut sekurang-kurangnya satu kali setiap minggu. 3.2 Katup-katup, pintu-pintu dan mekanismenya harus ditandai dengan sesuai untuk memperoleh kepastian bahwa kesemuanya itu dapat digunakan dengan layak untuk memperoleh keselamatan yang setinggi-tingginya.

Peraturan 25 Pencatatan di dalam buku catatan harian kapal penumpang


1 Peraturan ini berlaku bagi semua kapal.

2 Pintu-pintu berengsel, pelat-pelat jinjing, tingkaptingkap sisi, lorong, pintu-pintu muat dan pintu-pintu batubara dan lubang-lubang lain yang oleh Peraturan ini disyaratkan untuk tetap dalam keadaan tertutup selama dalam pelayaran, harus ditutup sebelum kapal meninggalkan pelabuhan. Waktu penutupan dan pembukaannya (jika diizinkan sesuai peraturan-peraturan ini) harus dicatat dalam buku harian sebagaimana yang ditetapkan oleh BadadPemerintah. 3 Catatan tentang semua latihan dan pemeriksaan yang 107

Bab II -1: Konstruski disyaratkan oleh Peraturan 24 harus dibukukan di dalam buku harian dengan catatan yang terpisah dengan kekurangan-kekurangan yang mungkin dijumpai.

108