Anda di halaman 1dari 2

KJ 399

KJ 444

FILIPI 4:4
"Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!"
Filipi 4:4

Ada sebuah lirik lagu yang bunyinya begini:


"Hati yang gembira adalah obat
S'perti obat hati yang senang
Tapi semangat yang patah keringkan tulang
Hati yang gembira Tuhan senang"
(diambil dari Amsal 17:22)
Katanya jadi orang Kristen itu harus selalu bersukacita. Katanya orang Kristen itu
tidak boleh bersedih. Harus selalu gembira. Kalau wajahnya cemberut tandanya kurang
beriman. Apa anda setuju?

Mungkin ada di antara kita yang mengamininya. Tapi apa mungkin, seorang Kristen
selalu gembira? Jawabannya adalah tidak mungkin. Mengapa? Karena pengkotbah saja
mengatakan dalam Pkh 3:1-15, "untuk segala sesuatu ada masanya." Tidak selalu kita
tertawa, ada waktunya juga untuk menangis.

Jadi, apakah orang Kristen harus selalu tertawa? Harusnya sih tidak boleh, sebab
kalau dia tertawa terus menerus di ibadah pemakaman bukankah itu menunjukkan ada
yang kurang beres? hehehe...

Lalu sekarang, apa yang dimaksudkan oleh Paulus dengan bersukacitalah senantiasa?
Tentunya bukan berarti kita gembira terus-terusan. Tapi juga bukannya juga sedih
terus-terusan. Ada orang yang suka sekali bersungut-sungut dan mengeluh seakan
hidupnya paling menderita di dunia ini.

Alkisah, ada seorang petani yang terkenal karena sikapnya yang negatif. Suatu hari
seorang tetangga berhenti dan mengomentari tanaman si petani yang tumbuh dengan
subur. "Anda pasti sangat gembira dengan panen tahun ini," katanya. Si petani
dengan enggan menjawab, "Ya, betul, memang kelihatannya baik. Tetapi hasil bumi
yang istimewa ini sangat sulit ditanam. Sama juga seperti bangsa Israel di padang
gurun yang selalu berkeluh kesah pada Musa karena merasa tidak puas dengan apa yang
sudah disediakan Tuhan. Capek sedikit jalan di padang gurun, ngeluh. Lapar sedikit
ngeluh, haus sedikit ngeluh. Untung, Tuhan sabar yah?!
Nah, bergembira terus-terusan bukan sikap bijak. Mengeluh terus-terusan dan sedih
terus-terusan juga gak benar, jadi harus bagaimana dong?

Paulus menasehatkan untuk bersukacita senantiasa di dalam Tuhan! Kalau


bersukacitalah senantiasa tanpa Tuhan pasti sangat sulit untuk dilakukan. Ada
begitu banyak orang jadi putus asa karena tidak tinggal di dalam Tuhan. Masih muda
hidupnya jauh dari Tuhan. Sudah tua masih saja tidak percaya sama Tuhan. Nah, mau
jadi apa orang macam itu? Ketika masalah hidup datang, imannya goyah, merasa
sendirian, dikuasai oleh kecemasan dan kegelisahan. Akhirnya tensi jadi tinggi dan
kepala pusing-pusing. Makan gak enak. Tidur gak enak. Padahal kata Tuhan, "Apakah
dengan kekuatiranmu kamu bisa menambahkan sehasta saja pada jalan hidupmu, hai kamu
orang yang kurang percaya?"

Jadi, SELALU bersukacita itu bisa! Kalau dilakukan di dalam Tuhan. Pertanyaannya,
apakah isi hati kita? Tuhan atau kecemasan? Tuhan atau iri hati? Tuhan atau nafsu
dunia? Saya ingat seorang teman saya pernah berkata begini, " Kalau kamu mau tahu
seberapa besar Tuhan bisa bekerja dalam hidupmu, sebesar ruang di hati kamu yang
kamu sediakan untuk Tuhan bekerja".

Orang yang bersukacita di dalam Tuhan mengandalkan Tuhan dalam pergumulan hidup,
bukan kekuatannya sendiri. Masalah boleh ada, kecemasan boleh mampir tapi tidak
tinggal lama-lama dan menguasai pikiran sehingga membuat stress dan wajah jadi
muram terus. Lalu kita jadi marah-marah. Boro-boro ikutan persekutuan dan melayani,
yang ada malah mengurung diri di rumah. Seakan dalam hidupnya tidak ada Tuhan.

Jadi, kalau Paulus memesankan pada jemaat Filipi untuk bersukacitalah senantiasa,
apalagi sampai diulang dua kali, bukan berarti Paulus menyuruh mereka melupakan
masalah. Masalah harus tetap dihadapi. Tapi tidak boleh dengan cemas dan kuatir
karena kita tidak sendirian. Ada Tuhan yang hidup yang selalu beserta. Jadi buat
apa lagi harus sedih dan dikuasai kecemasan? Apalagi sampai sakit dan tidak datang
ke gereja.

Paulus tahu, jemaat ini sangat kompak. Imannya sudah bertumbuh, tapi iman itu bisa
goyah kalau tidak ada sukacita. Bicara soal aniaya, baik dulu maupun sekarang,
orang Kristen selalu menghadapi. Bicara soal masalah, dulu maupun sekarang, selalu
ada. Tapi bedanya orang Kristen dan bukan dalam menghadapi masalah tentunya
berbeda. Orang yang percaya pada Tuhan, dapat tetap bersukacita karena merasa tidak
pernah sendiri. Ada Tuhan beserta, dan karenanya bisa tetap memuji Tuhan, bisa
tetap beribadah, bisa tetap hepi meski hidup ini susah.

Karena itu, lansia harus tetap bersukacita! harus tetap bersemangat! Meski kata
orang, usia ini katanya udah gak bisa apa-apa? Apa lansia benar-benar tidak bisa
apa-apa? Pasti ada dan banyak yang lansia bisa lakukan. Ingat kata Pak Joni dan
Sdri Sifra. Masa muda itu sunrise. Masa tua itu sunset. Indah. Mari jadikan masa
tua kita sebagai kenangan indah untuk anak cucu. Supaya mereka bisa belajar beriman
dari kita. Mereka belajar hidup taat dan percaya dari kita. Tuhan memberkati.

Dalam nas ini (ay.2-3) terjadi gangguan yang menyebabkan hilangnya sukacita. Euodia
dan Sintikhe adalah rekan Paulus dalam mewartakan Injil Kristus. Mereka memang
mewartakan Injil dengan penuh sukacita. Pertumbuhan Injil saat itu sangat pesat,
banyak orang menjadi pengikut Tuhan, persekutuan Kristen bertumbuh.
Siapa yang membuat pertumbuhan itu ? Di sinilah timbul masalah. Euodia dan Sintikhe
masing-masing mengklaim bahwa pertumbuhan itu karena ‘kehebatan’ mereka. Euodia
memposisikan dirinyalah yang banyak berjuang. Demikian juga Sintikhe menempatkan
dirinya sebagai yang sangat berjasa. Ini adalah kesombongan. Hubungan mereka
menjadi retak. Sukacita mereka menjadi kurang. Hal ini tentu saja menghambat
percepatan pemberitaan Injil. Karena itu, Paulus menasehati mereka supaya sehati
sepikir. Tapi memang orang sombong susah dinasehati. Paulus juga meminta kepada
Sunsugos, yang juga pemberita Injil untuk menengahi masalah Eoudia dan Sintikhe,
agar mereka berdamai. Apalagi nama mereka sudah tercantum dalam buku kehidupan.
Sayang sekali kalau akhirnya Tuhan mencoret nama mereka …..
Kasus ini tentu saja mengurangi sukacita di antara mereka dan pelayanan pemberitaan
Injil. Kesombongan memang penghambat untuk menikmati hidup sukacita, dan menjadi
kendala dalam pelayanan.
Lalu, bagaimana agar beroleh sukacita itu ?
Paulus mengulangi perkataan ‘bersukacita’, karena itu menjadi sangat penting dalam
kehidupan Kristen. Manusia berada di dunia ini hanya sementara waktu, orang Kristen
sedang menantikan parousia. Dalam penantian ini, orang Kristen haruslah hidup
dengan sukacita. Itu sebabnya, Paulus berulang menekankan kata ‘sukacita’ (4:4) :
‘Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!’.