Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HISPRUNG


DI RUANG ASTER RSD
dr. SOEBANDI JEMBER

oleh:

Nikmatul Khoiriyah, S.Kep


NIM 122311101075

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
JULI, 2018
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HISPRUNG
Oleh: Nikmatul Khoiriyah, S.Kep NIM 122311101075

A. DEFINISI
Penyakit hirschprung adalah suatu kelainan tidak adanya sel ganglion
parasimpatis pada usus, dapat dari kolon sampai pada usus halus. (Ngastiyah,
2005). Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab
gangguan pasase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi
aterm dengan berat lahir < 3 kg, lebih banyak laki–laki dari pada perempuan.
(Arief Mansjoer, 2000). Penyakit hirschsprung adalah anomali kongenital yang
mengakibatkan obstruksi mekanik karena ketidak adekuatan motilitas sebagian
dari usus sehingga tidak ada evakuasi usus spontan dan tidak mampunya spinkter
rectum berelaksasi. (Wong, 2009).

B. ETIOLOGI
Penyakit ini disebabkan aganglionosis Meissner dan Aurbach dalam lapisan
dinding usus, mulai dari spingter ani internus ke arah proksimal, 70 % terbatas di
daerah rektosigmoid, 10 % sampai seluruh kolon dan sekitarnya 5 % dapat
mengenai seluruh usus sampai pilorus.

1) Ketiadaan sel-sel ganglion


Ketiadaan sel-sel ganglion pada lapisan submukosa (Meissner) dan
pleksus myenteric (Auerbach) pada usus bagian distal merupakan tanda
patologis untuk Hirschsprung’s disease. Okamoto dan Ueda mempostulasikan
bahwa hal ini disebabkan oleh karena kegagalan migrasi dari sel-sel neural
crest vagal servikal dari esofagus ke anus pada minggu ke 5 smpai 12
kehamilan. Teori terbaru mengajukan bahwa neuroblasts mungkin bisa ada
namun gagal untuk berkembang menjadi ganglia dewasa yang berfungsi atau
bahwa mereka mengalami hambatan sewaktu bermigrasi atau mengalami
kerusakan karena elemen-elemen di dalam lingkungn mikro dalam dinding
usus. Faktor-faktor yang dapat mengganggu migrasi, proliferasi, differensiasi,
dan kolonisasi dari sel-sel ini mingkin terletak pada genetik, imunologis,
vaskular, atau mekanisme lainnya.
2) Mutasi pada RED-oncogen
Mutasi pada RET proto-oncogene,yang berlokasi pada kromosom
10q11.2, telah ditemukan dalam kaitannya dengan penyakit Hirschsprung
segmen panjang dan familial. Mutasi RET dapat menyebabkan hilangnya
sinyal pada tingkat molekular yang diperlukan dalam pertubuhan sel dan
diferensiasi ganglia enterik. Gen lainnya yang rentan untuk penyakit
Hirschsprung adalah endothelin-B receptor gene (EDNRB) yang berlokasi
pada kromososm 13q22. Sinyal dari gen ini diperlukan untuk perkembangan
dan pematangan sel-sel neural crest yang mempersarafi colon. Mutasi pada
gen ini paling sering ditemukan pada penyakit non-familial dan short-
segment.
Endothelian-3 gene baru-baru ini telah diajukan sebagai gen yang rentan
juga. Defek dari mutasi genetik ini adalah mengganggu atau menghambat
pensinyalan yang penting untuk perkembangan normal dari sistem saraf
enterik. Mutasi pada proto-oncogene RET diwariskan dengan pola dominan
autosom dengan 50 sampai 70% penetrasi dan ditemukan dalam sekitar 50%
kasus familial dan pada hanya 15 sampai 20% kasus spordis. Mutasi pada gen
EDNRB diwariskan dengan pola pseudodominan dan ditemukan hanya pada
5% dari kasus, biasanya yang sporadis.
3) Kelainan dalam lingkungan mikro dinding usus
Kelainan dalam lingkungan mikro pada dinding usus dapat mencegah
migrasi sel-sel neural crest normal ataupun diferensiasinya. Suatu
peningkatan bermakna dari antigen major histocompatibility complex (MHC)
kelas 2 telah terbukti terdapat pada segmen aganglionik dari usus pasien
dengan penyakit Hirschsprung, namun tidak ditemukan pada usus dengan
ganglionik normal pada kontrol, mengajukan suatu mekanisme autoimun
pada perkembangan penyakit ini.
4) Matriks protein ekstraselular
Matriks protein ekstraseluler adalah hal penting dalam perlekatan sel dan
pergerkan dalam perkembangan tahap awal. Kadar glycoproteins laminin dan
kolagen tipe IV yang tinggi dalam matriks telah ditemukan dalam segmen
usus aganglionik. Perubahan dalam lingkungan mikro di dalam usus ini dapat
mencegah migrasi sel-sel normal neural crest dan memiliki peranan dalam
etiologi dari penyakit Hirschsprung.

C. KLASIFIKASI
Pada pemeriksaan patologi anatomi dari penyakit ini, pada sel ganglion
Auerbach dan Meissner tidak ditemukan serabut saraf menebal dan serabut otot
hipertofik. Aganglionosis ini mulai dari anus ke arah oral. Berdasarkan panjang
segmen yang terkena, penyakit Hirschprung dapat diklasifikasikan dalan 3
kategori:
1) Penyakit Hirschsprung segmen pendek/ HD klasik (75%)
Segmen aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid. Merupakan 70% dari
kasus penyakit Hirschsprung dan lebih sering ditemukan pada anak laki-laki
dibanding anak perempuan.
2) Penyakit Hirschsprung segmen panjang/ Long segment HD (20%)
Daerah agonglionosis dapat melebihi sigmoid malah dapat mengenai seluruh
kolon atau sampai usus halus. Ditemukan sama banyak pada anak laki-laki
dan perempuan
3) Total Colonic Aganglionosis (3-12%)

D. PATOFISIOLOGI
Masalah utama dari penyakit ini adalah inervasi dari usus yang mengalami
gangguan terutama pada segmen anal termasuk mulai dari lokasi sfingter sampai
internus ke arah proksimal. Inervasi kolon berasal dari dua saraf yaitu saraf
intrinsik dan saraf ekstrinsik, saraf ekstrinsik simpatis berasal dari medula
spinalis, sedangkan yang parasimpatis untuk kolon sebelah kanan berasal dari
nervus vagus, sedangkan yang sebelah kiri berasal dari S2, S3, S4. Persarafan dari
segmen anal dan sfingter internus berasal dari sraf simpatis L5 dan saraf
parasimpatis S1, S2, S3. Persarafan simpatis akan menghambat kontraksi dari
usus sedangkan persarafan para simpatis akan mengaktifkan aktifitas peristaltik
dari kolon. Saraf intrinsik berasal dari saraf parasimpatis ganglion pleksus
submukosa meisner dan ganglion mienterikus aurbach, yang terletak diantara otot
yang sirkuler dan longitudinal. Patofisiologi penyakit hirschprung adalah sebagai
berikut:
Kegagalan migrasi ganglion selcraniocaudal (5-12 minggu)

Pembentukan syaraf parasimpatis pada segmen usus besar tidak sempurna (agangglionik)

Tidak adanya sel ganglion parasimpatis otonom (pleksus meissner dan Auerbach)

Hirschprung (segmen panjang: melebihi sigmoid, seluruh kolon/usus halus & segmen pendek)

Hipertrofi otot kolon pada sub proksimal (zona Kegagalan sfingter anal internal relaksasi
peralihan antara usus dan persyarafan) Motilitas usus menurun
Penebalan dinding kolon
Terjadi konstipasi atau obstipasi
Kolon distal berdilatasi hebat

Akumulasi feses dan gas Dilatasi kolon distal Tindakan operasi Ansietas

Mikroorganisme berkembang biak Mega kolon Luka terbuka (terpasang stoma) Risiko
di kolon Peningkatan peristaltik pada Infeksi
Akumulasi enterocolitis kolon proksimal Perubahan pola Terputusnya
eliminasi kontinuitas jaringan Risiko
Diare Hipertrofi otot kolon dan
Kerusakan
distensi abdomen
Output cairan dan elektrolit integritas kulit
berlebih Hipertrofi otot kolon dan Terputusnya kontinuitas
distensi abdomen jaringan
Kekurangan volume cairan Pengeluaran zat vasoaktif
Stagnansi makanan Menekan diafragma (bradikinin, serotonin)
Impuls ke SSP Ekspansi paru menurun Merangsang reseptor syaraf
bebas
Merangsang vomiting
Sesak napas Merangsang thalamus
center
Nausea dan vomiting Ketidakefektifan Korteks serebri
anoreksia pola napas
Nyeri Akut
ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
E. MANIFESTASI KLINIS
Gambaran klinis peyakit Hirschprung dapat dibedakan berdasarkan usia
gejala klinis mulai terlihat:
1) Periode Neonatal
Ada trias gejala klinis yang sering dijumpai, yakni pengeluaran
mekonium yang terlambat, muntah hijau dan distensi abdomen. Pengeluaran
mekonium yang terlambat (lebih dari 24 jam pertama) merupakan tanda klinis
yang signifikans. Swenson (1973) mencatat angka 94% dari pengamatan
terhadap 501 kasus , sedangkan Kartono mencatat angka 93,5% untuk waktu
24 jam dan 72,4% untuk waktu 48 jam setelah lahir. Muntah hijau dan
distensi abdomen biasanya dapat berkurang manakala mekonium dapat
dikeluarkan segera. Sedangkan enterokolitis merupakan ancaman komplikasi
yang serius bagi penderita HD ini, yang dapat menyerang pada usia kapan
saja, namun paling tinggi saat usia 2-4 minggu, meskipun sudah dapat
dijumpai pada usia 1 minggu. Gejalanya berupa diarrhea, distensi abdomen,
feces berbau busuk dan disertai demam. Swenson mencatat hampir 1/3 kasus
Hirschsprung datang dengan manifestasi klinis enterokolitis, bahkan dapat
pula terjadi meski telah dilakukan kolostomi. (Gambar 2)

Gambar 2. Foto pasien penderita Hirschprung berusia 3 hari.


Terlihat abdomen sangat distensi dan pasien tampak menderita.

2) Anak
Pada anak yang lebih besar, gejala klinis yang menonjol adalah
konstipasi kronis dan gizi buruk (failure to thrive). Dapat pula terlihat
gerakan peristaltik usus di dinding abdomen. Jika dilakukan pemeriksaan
colok dubur, maka feces biasanya keluar menyemprot, konsistensi semi-
liquid dan berbau tidak sedap. Penderita biasanya buang air besar tidak
teratur, sekali dalam beberapa hari dan biasanya sulit untuk defekasi.
Gejala Penyakit Hirshsprung adalah obstruksi usus letak rendah, bayi
dengan Penyakit Hirshsprung dapat menunjukkan gejala klinis sebagai
berikut. Obstruksi total saat lahir dengan muntaah, distensi abdomen dan
ketidakadaan evakuasi mekonium. Keterlambatan evakuasi meconium diikuti
obstruksi konstipasi, muntah dan dehidrasi. Gejala rigan berupa konstipasi
selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut.
Konstipasi ringan entrokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam.
Adanya feses yang menyemprot pas pada colok dubur merupakan tanda yang
khas. Bila telah timbul enterokolitis nikrotiskans terjadi distensi abdomen
hebat dan diare berbau busuk yang dapat berdarah ( Nelson, 2002 : 317 ).

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan yang digunakan untuk membantu mendiagnosa penyakit
Hirschprung dapat mencakup:
1) Foto Polos Abdomen (BNO)
Foto polos abdomen dapat memperlihatkan loop distensi usus dengan
penumpukan udara di daerah rektum. Pemeriksaan radiologi merupakan
pemeriksaan yang penting pada penyakit Hirschsprung. Pada foto polos
abdomen dapat dijumpai gambaran obstruksi usus letak rendah, meski
pada bayi sulit untuk membedakan usus halus dan usus besar.
Bayangan udara dalam kolon pada neonatus jarang dapat bayangan
udara dalam usus halus. Daerah rektosigmoid tidak terisi udara. Pada foto
posisi tengkurap kadang-kadang terlihat jelas bayangan udara dalam
rektosigmoid dengan tanda-tanda klasik penyakit Hirschsprung.

Gambar 3. Penyakit Hirschprung. Foto polos abdomen menunjukkan dilatasi usus


dan daerah rektosigmoid tidak terisi udara.
2) Barium enema
Pemeriksaan yang merupakan standard dalam menegakkan diagnosa
Hirschsprung adalah barium enema, dimana akan dijumpai 3 tanda khas:
- Abrupt, perubahan mendadak
- Cone, bentuk seperti corong atau kerucut
- Funnel, bentuk seperti cerobong
Apabila dari foto barium enema tidak terlihat tanda-tanda khas HD,
maka dapat dilanjutkan dengan foto retensi barium, yakni foto setelah 24-
48 jam barium dibiarkan membaur dengan feces. Gambaran khasnya
adalah terlihatnya barium yang membaur dengan feces kearah proksimal
kolon. Sedangkan pada penderita yang bukan Hirschsprung namun disertai
dengan obstipasi kronis, maka barium terlihat menggumpal di daerah
rektum dan sigmoid.

Gambar 4. Terlihat gambar barium enema penderita Hirschprung. Tampak rektum


yang mengalami penyempitan, dilatasi sigmoid dan daerah transisi yang melebar.

3) Anal manometri (balon ditiupkan dalam rektum untuk mengukur tekanan


dalam rektum)
Sebuah balon kecil ditiupkan pada rektum. Ano-rektal manometri
mengukur tekanan dari otot sfingter anal dan seberapa baik seorang dapat
merasakan perbedaan sensasi dari rektum yang penuh. Pada anak-anak
yang memiliki penyakit Hirschsprung otot pada rektum tidak relaksasi
secara normal. Selama tes, pasien diminta untuk memeras, santai, dan
mendorong. Tekanan otot spinkter anal diukur selama aktivitas. Saat
memeras, seseorang mengencangkan otot spinkter seperti mencegah
sesuatu keluar. Mendorong, seseorang seolah mencoba seperti pergerakan
usus. Tes ini biasanya berhasil pada anak-anak yang kooperatif dan
dewasa.
4) Biopsi rektum
Ini merupakan tes paling akurat untuk penyakit Hirschsprung. Dokter
mengambil bagian sangat kecil dari rektum untuk dilihat di bawah
mikroskop. Anak-anak dengan penyakit Hirschsprung akan tidak memiliki
sel-sel ganglion pada sampel yang diambil. Pada biopsi hisap, jaringan
dikeluarkan dari kolon dengan menggunakan alat penghisap. Karena tidak
melibatkan pemotongan jaringan kolon maka tidak diperlukan anestesi.
Jika biopsi menunjukkan adanya ganglion, penyakit Hirschsprung tidak
terbukti. Jika tidak terdapat sel-sel ganglion pada jaringan contoh, biopsi
full-thickness biopsi diperlukan untuk mengkonfirmasi penyakit
Hirschsprung. Pada biopsi full-thickness lebih banyak jaringan dari lapisan
yang lebih dalam dikeluarkan secara bedah untuk kemudian diperiksai di
bawah mikroskop. Tidak adanya sel-sel ganglion menunjukkan penyakit
Hirschsprung.

5) Laboratorium
a. Kimia Darah : Pada kebanyakan pasien temuan elektrolit dan panel
renal biasanya dalam batas normal. Anak dengan diare memiliki hasil
yang sesuai dengan dehidrasi. Pemeriksaan ini dapat membantu
mengarahkan pada penatalaksanaan cairan dan elektrolit.
b. Darah Rutin : Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui hematokrit
dan platelet preoperatif.
c. Profil Koagulasi : Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan tidak
ada gangguan pembekuan darah yang perlu dikoreksi sebelum operasi
dilakukan.

G. PENATALAKSANAAN
1. Medis
Penatalaksaan operasi adalah untuk memperbaiki portion aganglionik di
usus besar untuk membebaskan dari obstruksi dan mengembalikan motilitas
usus besar sehingga normal dan juga fungsi spinkter ani internal.
Ada dua tahap pembedahan pertama dengan kolostomi loop atau double
barrel dimana diharapkan tonus dan ukuran usus yang dilatasi dan hipertropi
dapat kembali menjadi normal dalam waktu 3-4 bulan . Terdapat prosedur
dalampembedahan diantaranya:
a) Prosedur duhanel biasanya dilakukan terhadap bayi kurang dari 1
tahun dengan cara penarikan kolon normal kearah bawah dan
menganastomosiskannya dibelakang usus aganglionik, membuat
dinding ganda yaitu selubung aganglionik dan bagian posterior kolon
normal yang telah ditarik.
b) Prosedur Swenson membuang bagian aganglionik kemudian
menganastomosiskan end to end pada kolon yang berganglion dengan
saluran anal yang dilatasi dan pemotongan sfingter dilakukan pada
bagian posterior.
c) Prosedur soave dilakukan pada anak-anak yang lebih besar dengan
cara membiarkan dinding otot dari segmen rectum tetap utuh
kemudian kolon yang bersaraf normal ditarik sampai ke anus tempat
dilakukannya anastomosis antara kolon normal dan jaringan otot
rektosigmoid yang tersisa.

2. Keperawatan
Perhatikan perawatan tergantung pada umur anak dan tipe pelaksanaanya
bila ketidakmampuan terdiagnosa selama periode neonatal, perhatikan utama
antara lain :
a. Membantu orang tua untuk mengetahui adanya kelainan kongenital
pada anak secara dini
b. Membantu perkembangan ikatan antara orang tua dan anak
c. Mempersiapkan orang tua akan adanya intervensi medis (pembedahan)
d. Mendampingi orang tua pada perawatan colostomy setelah rencana
pulang.
Pada perawatan preoperasi harus diperhatikan juga kondisi klinis anak –
anak dengan malnutrisi tidak dapat bertahan dalam pembedahan sampai
status fisiknya meningkat. Hal ini sering kali melibatkan pengobatan
simptomatik seperti enema. Diperlukan juga adanya diet rendah serat, tinggi
kalori dan tinggi protein serta situasi dapat digunakan nutrisi parenteral total
(NPT)
Perencanaan pulang dan perawatan dirumah :
1) Ajarkan pada orang tua untuk memantau adanya tanda dan gejala
komplikasi jangka panjan berikut ini.
a) Stenosis dan kontriksi
b) Inkontinensia
c) Pengosongan usus yang tidak adekkuat
2) Ajarkan tentang perawatan kolostomi pada orang tua dan anak.
a) Persiapan kulit
b) Penggunaan alat kolostomi
c) Komplikasi stoma (perdarahan, gagal defekasi, diare
meningkat , prolaps, feses seperti pita )
d) Perawatan dan pembersihan alat kolostomi
e) Irigasi kolostomi
3) Beri dan kuatkan informasi-informasi tentang penatalaksanaan
diet.
a) Makanan rendah sisa
b) Masukan cairan tanpa batas
c) Tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolot dan dehidrasi.
4) Dorong orang tua dan anak untuk mengekspresikan perasaannya
tentang kolostomi.
a) Tampilan
b) Bau
c) Ketidaksesuaian antara anak mereka dengan anak “ideal”
5) Rujuk ke prosedur institusi spesifik untuk informasi yang dapat
diberikan pada orang tua tentang perawatan dirumah.

3. Kolaboratif
Untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat penyumbatan usus, segera
dilakukan kolostomi sementara. Kolostomi adalah pembuatan lubang pada
dinding perut yang disambungkan dengan ujung usus besar. Pengangkatan
bagian usus yang terkena dan penyambungan kembali usus besar biasanya
dilakukan pada saat anak berusia 6 bulan atau lebih. Jika terjadi perforasi
(perlubangan usus) atau enterokolitis, diberikan antibiotik.

H. KOMPLIKASI
Secara garis besarnya, komplikasi pasca tindakan bedah penyakit
Hirschsprung dapat digolongkan atas:
1) Kebocoran anastomose
2) Stenosis
3) Ruptur kolon
4) Enterokolitis
5) Gangguan fungsi spinchter
a. Obstruksi usus
merupakan penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi karena adanya
daya mekanik yang bekerja atau mempengaruhi dinding usus sehingga
menyebabkan penyempitan/penyumbatan lumen usus.
b. Konstipasi
Konstipasi atau sering disebut sembelit adalah kelainan pada sistem
pencernaan di mana seorang manusia (atau mungkin juga pada hewan)
mengalami pengerasan feses atau tinja yang berlebihan sehingga sulit
untuk dibuang atau dikeluarkan dan dapat menyebabkan kesakitan yang
hebat pada penderitanya
c. Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
Ketidakseimbangan volume terutama mempengaruhi cairan ekstraseluler
(ECF) dan menyangkut kehilangan atau bertambahnya natrium dan air
dalam jumlah yang relative sama, sehingga berakibat pada kekurangan
atau kelebihan voleme ekstraseluler (ECF)
d. Entrokolitis
suatu keadaan dimana lapisan dalam usus mengalami cedera dan
meradang. Jika penyakitnya berat, sebagian jaringan usus bisa mati
(menjadi nekrotik) dan menyebabkan perforasi usus serta peritonitis.
e. Struktur anal dan inkontinensial (posT operasi) (Betz cecily & sowden,
2002)

I. ASUHAN KEPERAWATAN
 Pengkajian
Informasi identitas/data dasar meliputi, nama, umur, jenis kelamin, agama,
alamat, tanggal pengkajian, pemberi informasi. Antara lain :

1. Anamnesis
Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada bayi aterm), jenis kelamin
(lebih banyak laki–laki dari pada perempuan), pendidikan, alamat,
pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor registrasi,
dan diagnosis medis.
Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat
dilakukan pengkajian, pada klien Hirschsprung misalnya, sulit BAB,
distensi abdomen, kembung, muntah.
a. Keluhan utama Klien
Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat
dilakukan pengkajian, pada klien Hirschsprung distensi abdomen.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Yang diperhatikan adanya keluhan mekonium keluar setelah 24 jam
setelah lahir, distensi abdomen dan muntah hijau atau fekal.
c. Riwayat kesehatan masa lalu
1) Riwayat Antenatal Care: pemeriksaan yang dilakukan pada setiap
trimester (apakah rutin dilakukan, dimana, siapa yang memeriksa),
pemeriksaan penunjang (seperti USG), TBJ: <3000gram, penyulit
selama kehamilan
2) Riwayat intranatal: aterm, BBL <3000gram
3) Riwayat Post natal: meconium keluar > 24jam, muntah berwarna
hijau, terlihat distensi abdomen, konstipasi, kemungkinan dapat
terjadi enterokolitis
d. Riwayat Nutrisi
Makan dan minum berkurang, nafsu makan menurun karena merasa
mual dan muntah serta adanya distensi abdomen.
e. Riwayat psikologis
Pada anak yang dirawat di rumah sakit cenderung mengalami stress
karena hospitalisasi
f. Riwayat kesehatan keluarga
Aada anggota keluarga menderita penyakit yang sama
g. Riwayat social
Tidak terganggu
h. Riwayat tumbuh kembang
Proses perkembangan tidak mengalami gangguan
Proses pertumbuhan kemungkinan mengalami keterlambatan akibat
asupan nutrisi yang kurang disebabkan oleh nafsu makan anak menurun
karena merasa mual, muntah dan begah.

i. Riwayat kebiasaan sehari-hari


Kebutuhan istirahat dan aktifitas terganggu, anak menjadi sering rewel
karena keluhan sakit perut

2. Pemeriksaan Fisik
a. Breathing (B1)
Terlihat otot bantu pernapasan, pernapasan cuping hidung, respiration
rate meningkat, anak mengeluh sesak, suara napas vesikuler.
b. Blood (B2)
Nadi dalam batas normal, tidak teraba pembesaran jantung, palpasi
jantun redup, auskultasi S1 S2 tunggal.
Terdapat kemungkinan kenaikan suhu apabila telah terjadi
enterokolitis
c. Brain (B3)
Kesadaran compos mentis, tidak terdapat gangguan pada system syaraf
d. Bladder (B4)
Dalam batas normal
e. Bowel (B5)
Pasien atau keluarga mengeluhkan pasien tidak bisa BAB, terlihat
adanya distensi abdomen, perut kembung, bising usus menurun,
terdapat nyeri tekan, pasien mengalami muntah (frekuensi dan
karakteristik muntah), adanya kram, tenderness.
f. Bone (B6)
Keterlambatan pertumbuhan tulang akibat asupan nutrisi berkurang.
 Diagnosa keperawatan
Pre-Operasi
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi
paru.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan masukan makanan tidak adekuat dan rangsangan muntah.
3. Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan defek
persyarafan terhadap aganglion usus.
4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan pemasukan
terbatas karena mual.
5. Ansietas berhubungan dengan kurang terpapar informasi mengenai
tindakan operasi
Post-Operasi
6. Nyeri akut berhubungan dengan inkontinuitas jaringan
7. Risiko kerusakan integritas kulit sekitar stoma
8. Risiko infeksi
Intervensi
No Dx Tujuan Intervensi Rasional
Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor frekuensi, ritme, 1. Mengetahui status pernapasan, ada
pola nafas b.d keperawatan,pola nafas kedalamam pernafasan. atau tidaknya hambatan dan otot
penurunan ekspansi efektif. 2. Catat pergerakan dada, bantu pernapasan
paru. Kriteria Hasil : kesimetrisan, penggunaan otot 2. Mengetahui status pernapasan, ada
1) Frekuensi pernafasan tambahan. atau tidaknya hambatan dan otot
dalam batas normal 3. Monitor pola nafas bradipnea , bantu pernapasan
2) Irama nafas: vesikuler, takipnea, hiperventilasi. 3. menilai status pernapasan
tidak terdapat suara napas 4. Palpasi ekspansi paru 4. mengetahui kemampuan dan
tambahan 5. Auskultasi suara pernafasan kesimetrisan paru dalam
3) Ekspansi dada simetris mengembang dan mengepis
4) Bernafas dengan mudah Oxygen therapy 5. adanya suara napas tambahan
1. Atur peralatan oksigenasi
2. Monitor aliran oksigen 1. memberikan tambahan terapi
3. Pertahankan jalan nafas yang paten oksigen sesuai indikasi
4. Pertahankan posisi pasien 2. mengetahui status aliran oksigen
3. mempertahankan pernapasan yang
adekuat
4. posisi fowler atau semi fowler
dapat memaksimalkan ekspansi
paru
Nyeri akut Level nyeri berkurang Management nyeri 1. Mengetahui tingkat nyeri dan
berhubungan dengan kriteria : 1. Kaji nyeri meliputi karakteristik, menentukan langkah selanjutnya
dengan agen injuri 1. Anak tidak rewel lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, 2. Mengetahui ambangnyeri pasien
2. Ekspresi wajah dan sikap dan faktor presipitasi.
fisik tubuh rileks 2. Observasi ketidaknyamanan non 3. Posisi yang nyaman dapat
3. Tanda vital dalam batas verbal mengurangi nyeri yang dirasakan
normal 3. Berikan posisi yang nyaman 4. Kenyamanan anak meringankan
4. Anjurkan orang tua untuk nyeri yang dirasakan
memberikan pelukan agar anak 5. Membantu anak memperoleh
merasa nyaman dan tenang. waktu istirahat yang cukup
5. Tingkatkan istirahat
Ketidakseimbangan Status nutrisi baik, dengan 1. Kaji nafsu makan, lakukan 1. Mengetahui status awal nutrisi atau
nutrisi kurang dari Kriteria Hasil: pemeriksaan abdomen, adanya nafsu makan pasien
kebutuhan tubuh 1. Diet seimbang, intake distensi, hipoperistaltik.
berhubungan adekuat. 2. Ukur intake dan output, berikan per 2. Membantu memenuhi kebutuhan
dengan penurunan 2. BB normal. oral / cairan intravena sesuai asupan pasien
absorbsi usus. 3. Nilai lab darah normal: program (hidrasi adalah masalah
3. Mendorong anak dalam
HB, Albumin, GDR. yang paling penting selama masa
peningkatan asupan nutrisi
anak-anak).
3. Sajikan makanan favorit anak, dan 4. Posisi yang nyaman memberikan
berikan sedikit tapi sering. kenyamanan anak saat makan
4. Atur anak pada posisi yang nyaman
(fowler) 5. Untuk memantau adanya perubahan
5. Timbang BB tiap hari pada skala berat badan pasien
yang sama.
Konstipasi BAB lancar, dengan Bowel management 1. Mengetahui status BAB pasien dan
berhubungan Kriteria Hasil : 1. Catat BAB terakhir menentukan langkah selanjutnya
dengan mekanik :  Feses lunak 2. Monitor tanda konstipasi 2. Mengetahui status BAB pasien dan
megakollon  Anak tidak kesakitan 3. Anjurkan keluarga untuk mencatat menentukan langkah selanjutnya
saat BAB. warna, jumlah, frekuensi BAB. 3. Mengetahui warna dan konsistensi
4. Berikan supositoria jika perlu. feses pasien dan menentukan
 Tindakan operasi
Bowel irrigation langkah selanjutnya
colostomi 1. Jelaskan tujuan dari irigasi rektum. 4. Melancarkan BAB
2. Check order terapi. 5. Membantu memenuhi kebutuhan
3. Jelaskan prosedur pada orangtua
eliminasi pasien
pasien. 6. Meminimalisasi kesalahan
4. Berikan posisi yang sesuai.
5. Cek suhu cairan sesuai suhu tubuh. pemberian terapi
7. Memberikan edukasi untuk
6. Berikan jelly sebelum rektal
meningkatkan pengetahuan
dimasukkan.
7. Monitor efek dari irigasi.
Cemas Cemas keluarga pasien 1. Jelaskan semua prosedur yang 1. Dapat mengurangi rasa cemas
berhubungan tertangani dengan akan dilakukan. pasien akan penyakitnya
dengan perubahan Kriteria Hasil: 2. Kaji pemahaman orangtua terhadap 2. Pengetahuan yang cukup mengenai
dalam status - Ibu terlihat lebih tenang kondisi anak, tindakan yang akan kondisi anaknya dapat merilekskan
kesehatan anak - Ibu dapat bertoleransi dilakukan pada anak. pikiran sehingga dapat
dengan keadaan anak. 3. Anjurkan orang tua untuk berada menenangkan anak
dekat dengan anak. 3. Keberadaan orang tua dapat
4. Bantu pasien mengungkapkan membantu anak lebih tenang selama
ketegangan dan kecemasan. di rumah sakit
4. Menyediakan petunjuk untuk
membantu pasien dalam
mengembangkan kemampuan
koping
Gangguan Kriteria hasil : 1) Timbang popok jika diperlukan 1. mengetahui salah satu komponen
keseimbangan 1) Keseimbangan intake 2) Pertahankan intake dan output yang output cairan
cairan dan elektrolit dan output 24 jam akurat 2. mempertahankan keseimbangan
b.d muntah, diare 2) Berat badan stabil 3) monitor status hidrasi (kelembaban cairan tubuh
dan pemasukan 3) Tidak ada mata cekung membran mukosa, nadi adekuat, 3. memantau cairan, mencegah adanya
terbatas karena 4) Kelembaban kulit tekanan darah) kehilangan cairan berlebih
4. mengetahui tanda-tanda vital
mual. dalam batas normal 4) Monitor vital sign
5. memenuhi kebutuhan cairan (intake)
5) Membran mukosa 5) Kolaborasikan pemberian cairan IV 6. mempertahankan keseimbangan
lembab 6) Dorong masukan oral cairan tubuh
7) Dorong keluarga untuk membantu 7. dorongan orang terdekat dapat
pasien makan meningkatkan nafsu makan pasien
DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily & Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik, Alih bahasa
Jan Tambayong. Jakarta: EGC.
Bulechek, et al. 2017. Nursing Interventions Classification (NIC), Edisi Keenam
Bahasa Indonesia. Oxford: Elsevier.

Bulechek, et al. 2017. Nursing Outcomes Classification (NOC), Edisi Keenam


Bahasa Indonesia. Oxford: Elsevier.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta : EGC
Mansjoer , Arif . 2000 . Kapita Selekta Kedokteran .Edisi Ke-3 . Jakarta : Media
Aesulapius FKUI.
NANDA. 2017. Diagnosa Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-2017, Edisi
10. Jakarta: EGC.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia A. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: EGC.
Smeltzer dan Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Volume 2 Edisi 8. Jakarta: EGC.
Wong, Donna L. Dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong. Jakarta :
EGC.