Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di Indonesia diperkirakan setiap tahun terjadi 5% (1,7 juta) kematian pada

anak balita akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).

Sementara pada tahun 1972, sesuai laporan WHO, berdasarkan hasil evaluasi

kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, diperkirakan setiap tahun

sebanyak 5000 anak meninggal karena difteri dan penemuan kasus difteri

tenggorok pada balita sebanyak 28.500 kasus.

Imunisasi sebagai upaya preventif yang harus dilaksanakan secara terus

menerus, menyeluruh, dan dilaksanakan sesuai standar sehingga mampu memutus

mata rantai penularan penyakit dan menimbulkan/meningkatkan kekebalan

seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak individu itu

terpapar oleh dengan penyakit tersebut tidak menderita sakit.

Imunisasi adalah suatu upaya atau proses untuk menimbulkan/ meningkatkan

kekebalan seseorang terhadap suatu antigen sehingga bila kelak individu itu

terpapar oleh antigen serupa tidak akan terjadi penyakit. Tujuan jangka panjang

dari upaya pelayanan imunisasi adalah eradikasi atau eliminasi suatu penyakit.

Tujuan jangka pendek adalah pencegahan penyakit secara perorangan atau

kelompok.

Banyak penyakit yang telah ditemukan vaksin sebagai upaya pencegahannya,

tetapi tidak semua dijadikan program imunisasi nasional. Menurut Depkes RI

(2005), beberapa pertimbangan untuk memasukkannya kedalam program antara

1
lain adalah besarnya masalah yang ditimbulkan (disease burdens), keganasan

penyakit, efektifitas vaksin, dan ketersedian vaksin. Sehingga kelompok tertarik

membuat makalah tentang Upaya pencegahan penyakit melalui progran imunisasi

lebih populer dengan sebutan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi

(PD3I).

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan penyakit yang dapat dicegah dengan

imunisasi?

2. Sebutkan jenis-jenis penyakit yang dapat di cegah dengan imunisasi?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Epidemiologi Penyakit

Menular mengenai Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi

2. Untuk menambah pengetahuan kepada penulis dan pembaca dalam

mengetahui Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian PD3I

Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) merupakan penyakit

yang diharapkan dapat diberantas atau ditekan dengan pelaksanaan program

imunisasi, adapun penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)

adalah Difteri, Pertusis, Tetanus, Campak, Polio dan Hepatitis B. Penyakit-

penyakit ini timbul karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya

imunisasi.

B. Jenis-Jenis Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

Ada 7 macam atau jenis penyakit menular yang dapat diupayakan pencegahan

dengan imunisasi.

1. Tuberkolosis

Penyakit tuberkolosis atau TBC merupakan salah satu jenis penyakit

infeksi menular. Penyakit ini biasanya menyerang saluran pernafasan atau paru-

paru yang dipicu oleh suatu bakteri. Bakteri tersebut merupakan bakteri basil yang

sangat kuat sehingga memerlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan

pengobatan.

Faktor Penyabab

Adanya infeksi dari bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Dan biasanya

merangsang paru-paru dan juga menyerang orang tubuh lain seperti gelenjar getah

bening, usus, ginjal, kandungan, tulang, dan biasanya menyerang otak.

3
Jika bakteri ini masuk dan berkumpul di dalam paru-paru, ia akan

berkembang biak menjadi banyak, terutama pada orang yang daya tahan tubuh

yang rendah, dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah

bening. Oleh karena itu, infeksi TBC menginfeksi hampir seluruh organ tubuh,

seperti paru-paru, otak, ginjal, saluran pernafasan, tulang, kelenjar getah bening,

dan lain-lain. Meskipun demikian, organ tubuh yang paling sering terjangkit

adalah paru-paru. Saat bakteri ini berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan

segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat).

Gejala

Gejala umum:

1. Demam tidak terlalu tinggi dan berlangsung lama, biasanya dirasakan malam

hari

2. Penurunan nafsu makan dan berat badan.

3. Mengalami batuk-batuk selama lebih dari 1 bulan dan disertai dengan

keluarnya darah.

4. Perasaan tidak enak (malaise), lemah, lesu.

Gejala khusus:

1. Jika terjadi penyumbatan pada sebagian saluran yang menuju ke paru-paru

akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, penderita akan

mengeluarkan suara “mengi” yaitu suara nafas yang melemah dan disertai

dengan sesak.

2. Jika ada cairan pada pembungkus paru-paru,penderita bisa mengalami sakit

dada.

4
3. Apabila mengenai tulang, penderita akan menunjukkan gejala seperti infeksi

tulang yang suatu saat nanti dapat membentuk saluran dan bermaura pada kulit

diatasnya. Selanjutnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.

Penularan

Sama seperti penyakit influenza dan penyakit saluran pernafasan lainnya,

penyakit TBC juga menular dari satu orang ke orang lainnya melalui kontak

langsung. Selain itu penularan juga bisa melalui udara yang tercemar dengan

bakteri Mycobacteriium Tuberculosis yang dilepas dapat saat penderita TBC

batuk dan bersin. Sedangkan pada anak,sumber Infeksi umumnya berasal dari

penderita TBC dewasa.

Pencegahan

Beberapa yang hal yang bisa kita lakukan agar terhindar dari penyakit TBC:

1. Mengurangi kontak langsung dengan penderita TBC aktif

2. Selalu menjaga standar hidup yang baik, caranya bisa dengan mengkonsumsi

makanan yang bernilai gizi tinggi, menjaga agar lingkungan agar tetap sehat,

baik itu dirumah maupun di tempat kerja,dan menjaga kebugaran tubuh.

Dengan cara menyempatkan dan meluangkan waktu untuk berolahraga.

3. Kesehatan badan harus sering dijaga supaya system imun senantiasa terjaga.

4. Pemberian vaksin BCG yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kasus

infeksi TBC yang lebih berat. Imunisasi BCG sebaiknya diberikan sebelum

bayi berusia 2 bulan.vaksin ini di berikan satu kali saja,tidak perlu

diulang(booster). Sebab,vaksin ini berisi kuman hidup,sehingga antibody di

5
hasilkannya sangat tinggi.lokasi penyuntikan vaksin BCG yaitu lengan kanan

atas (insersio M.deltoideus). Dosis untuk anak < 1 tahun adalah 0,05 ml.

Pengobatan

1. Minum obat secara teratur dan benar sesuai dengan anjuran dokter selama 6

bulan berturut-turut tanpa terputus. Karena bila obat di minum secara

teratur,kuman TBC tidak akan mati,tumbuh resisten obat,dan kuman akan

menjadi kebal sehingga penyakit TBC akan semakin sulit untuk disembuhkan.

2. Makanlah makanan yang baik dan bergizi seimbang.

3. Berhenti merokok dan hindari juga minum-minuman yang berakohol.

4. Selalu melakukan control terhadap perkembangan pengobatan.

5. Istirahat yang cukup.

2. Poliomyelitis

Polio merupakan penyakit paralisis atau kelumpuhan yang disebabkan

oleh virus. Penyakit polio ini sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat.

Biasanya,kasus terbanyak panyakit polio dialami anak-anak.

Faktor Penyebab

Penyebab penyakit Poliomyelitis adalah virus polio sendiri yang terdiri

dari atas 3 strain,yaitu strain 1(Brunhilde),strain 2 (lanzig),dan strain 3(leon).

Strain 1 adalah paralitogenik atau paling ganas dan sering menyebabkan kejadian

luar biasa (wabah),sedangkan strain 2 paling jinak. Virus polio termasuk genus

enteroviorus, family picornavirus. Bentuk virus ini icosahedral, tanpa sampul

(envelope) dengan genom RNA, single stranded messenger molecule. Single

6
stranded RNA membentuk hampir 30% bagian virion dan sisanya terdiri atas 4

protein besar (VP1-4) dan satu protein kecil.

Gejala

Berikut ini adalah gejala awal menandai serangan penyakit Poliomyelitis:

1. Demam

2. Nyeri punggung atau kekakuan

3. Sakit tenggorokan

4. Nyeri atau kekakuan pada leher

5. Sakit kepala

6. Nyari lengan atau kaki

7. Muntah

8. Nyeri atau kejang otot

9. Kelelahan

10. Radang selaput

Penularan

Virus ditularkan infeksi droplet dari oral-faring(mulut dan tenggorokan)

atau tinja penderita infeksi. Penularan terutama terjadi langsung dari manusia ke

manusia melalui fekal-oral (dari tinja-mulut). Fekal-oral berarti minuman dan

makanan tang tercemar virus polio yang berasal dari tinja penderita masuk

kedalam mulut manusia sehat lainnya. Penularan juga bisa terjadi melalui oral-

oral (dari mulut ke mulut). Oral-oral adalah penyebaran dari percikan air liur

penderita yang masuk ke mulut manusia sehat lainnya.

7
Pencegahan

1. Imunisasi polio yang biasanya dilakukan saat bayi usia 0 ,2,4,6 bulan.

Pemberian imunisasi selanjutnya bisa dilakukan pada usia 18 bulan dan 5

tahun. Pemberian imunisasi polio selalu di barengi dengan imunisasi DPT.

Pemberian imunisasi polio bisa jadi lebih dari jadwal yang telah

ditentukan,mengingat adanya imunisasi polio missal. Namun,jumlah yang

berlebihan tidak berdampak buruk. Sebab,tidak ada istilah overdosis dalam

pemberian imunisasi. Cara pemberiannya yaitu melalui mulut.

2. Jika memasakkan air harus mendidih dengan sempurna. Sebab,suhu yang

tinggi dapat cepat mematikan virus polio. Sebaliknya,bila keadaan beku atau

suhu yang rendah,virus ini bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun.

3. Hindari kontak langsung dengan penderita polio, khususnya percikan air

liurnya.

4. Biasakan menjadi pola hidup yang sehat.

Pengobatan

Setalah melakukan pemeriksaan secara seksama dan dokter mendapatkan

kesimpulan bahwa pasien positif mengidap polio, ada beberapa tindakan

pengobatan yang dapat dilakukan. Pengobatan ini dimaksudkan untuk

mempercepat pemulihan dan mencegah terjadinya komplikasi. Berikut ini adalah

beberapa tindakan pengobatan yang biasa dilakukan.

1. Antibiotik untk infeksi sekunder

2. Analgetik untuk nyeri

3. Ventilator portable untuk membantu pernafasan.

8
3. Difteri

Difteri adalah sebuah penyakit infeksi yang menyerang selaput mukosa

hidung dan tenggorokan. Difteri merupakan penyakit infeksi akut pada jaringan

tonsil,pharynx, laring, dan kadang juga terjadi pada kulit,selaput

lendir,conjungtiva mata, dan alat kelamin. Oleh karena itu, penyakit ini dapat

mengancam jiwa para penderitanya. Selain itu,toksin yang dikeluarkan dari

bakteri yang memicu terjadinya penyakit ini dapat menyebabkan gangguan

terhadap fungsi jantung dan saraf.

Faktor Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Bakteri

ini umumnya menyerang membran mukosa yang melapisi

hidung,tenggorokan,dan tonsil.

Gejala

Gejala yang dibahas disini adalah gejala-gajala yang terkait dengan difteri

yang menyerang tenggorokan dan tonsil serta bisa menjalar ke bagian paru-paru

yang lain.gejala timbul biasanya 2-5 hari setelah terjadinya infeksi.

Gejala-gejala tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1. Nyeri pada tenggorokan dan suara parau.

2. Terasa sakit saat menelan

3. Kelenjar submandibular membengkak (leher kelihatan membesar)

4. Adanya selaput berwarna keabu-abuan yang menutupi tenggorokan dan tonsil

(amandel).

5. Susah bernafas,bisa juga bernafasnya cepat

9
6. Keluar cairan dari hidung yang purulen (bernanah).

7. Terasa panas dan atau dingin

8. Badan terasa tidak fit atau lemah

9. Keluar keringat dingin,nadi cepat,dan pucat.

Penularan

Difteri ditularkan melalui kontak langsung denga penderita melalui

pernafasan atau juga carrier. Sementara itu,masa penularannya sangat

beragam,biasanya berlangsung 2-4 minggu atau bahkan kurang. Penyakit ini tetap

menular sampai tidak ditemukan lagi bakteri dari discharge dan lesi.

Pencegahan

Berikut ini beberapa tindakan pencegahan yang bisa dilakukan agar

terhindar dari penyakit difteri:

1. Tindakan pencegahan yang paling utama untuk penyakit difteri adalah

imunisasi DPT secara rutin. Yang mana imunisasi ini di berikan secara

intramuscular. Di berikan sejak usia bayi 2 bulan dengan selang waktu 4

minggu. Imunisasi dasar DPT di berikan 5 kali yaitu:

a. DPT 1 di berikan saat anak berusia 2-4 bulan

b. DPT 2 di berikan saat anak berusia 3-5 bulan

c. DPT 3 di berikan saat anak berusia 4-6 bulan

d. DPT 4 di berikan saat anak berusia 1 tahun setelah DPT 3, yaitu usia 18-24

bulan.

e. DPT 5 di berikan pada anak mulai masukk sekolah, yaitu sekitar usia 5-7

tahun berikutnya, tepatnya dalam kegiatan imunisasi di sekolah dasar dan

10
di berikan pada usia 12 tahun,diberikan dT (adt-adult dose untuk vaksin

difteri).

2. Pakailah masker agar tidak tertular bila berada ditempat yang sedang

terjangkit wabah difteri.

3. Dan jangan lupa untuk selalu mencuci tangan sengan sabun bila hendak

makan.

Pengobatan

Pengobatan yang diberikan rumah sakit biasanya adalah Anti Dipheria

Serum (ADS). Pemberian obat ini disesuaikan dengan lokasi penyakit,adanya

komplikasi,dan lama penyakit. Selain itu,dokter biasanya juga memberikan

antibiotik antiroksin,diantaranya:

1. Eritromisin (oral atau dengan suntikan) selama 14 hari (40 mg/kg per hari

dengan maksimum 2g/d).

2. Prokain penisilin G di berikan interamuskular selama 14 hari (300.000 U/hari

untuk pasien dengan berat badan < 10 kg dan 600.000 U/hari untuk pasien

dengan berat badan >10 kg).

Pasien dengan alergi terhadap penisilin G atau eritromisin dapat

menggunankan rifampisin atau klindamisin.

4. Pertusis (Batuk Rejan Atau Batuk Seratus Hari)

Pertusis merupakan salah satu penyakit infeksi pernafasan yang sangat

menular. Penyakit ini lebih sering menyerang anak-anak,terutama yang berusia

dibawah 1 tahun. Pertusis juga bisa terjadi pada orang dewasa, tetapi tidak bahaya.

11
Faktor Penyebab

Pertusis di sebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis dan Bordetella

parapertusis digolongkan dalam batuk kronis.

Gejala

Ada beberapa gejala yang umum di jumpai pada penderita pertusis,diantaranya:

1. Penderita mengalami batuk secara terus-menerus,utamanya malam hari seperti

tidak ada waktu untuk bernafas sama sekali.

2. Setelah 7-14 hari,batuk menjadi semakin hebat dan berulang-ulang dengan

cepat disertai dahak kental. Setiap batuk diakhiri dengan melengking.

3. Infeksi mata dan muka penderita kelihatan merah kebiruan.

4. Penderita terkadang muntah saat batuk

5. Mengalami pusing.

6. Susah untuk tidur

7. Tubuh terasa lemah dan tidak bertenaga

8. Nafsu makan menurun.

Penularan

Pertusis dapat menular dengan cara-cara berikut:

1. Melalui kontak langsung dengan penderita

2. Menular melalui udara saat penderita bersin,batuk,atau muntah.

Pencegahan

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah serangan pertusis

adalah sebagai berikut:

1. Hindari kontak langsung senga penderita pertusis

12
2. Biasakan menggunakan masker jika keluar rumah agar terhindar dari polusi

asap dan polusi-polusi lainnya.

3. Memberikan makan-makannya yang bergizi agar meningkatkan kekebalan

tubuh anak secara alami

4. Lakukan vaksinasi agar anak terlindung dari penyakit ini yaitu imunisasi DPT.

Pengobatan

Penderita penyakit pertusis sebaiknya mendapatkan penanganan lebih dini

agar proses penyembuhannya lebih cepat. Namun sayangnya,banyak penderitanya

yang terlampat didiagnosa. Sebaiknya ,segera bawa penderita ke dokter agar

mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Selain itu, berikut beberapa

langkah yang bisa dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhan penyakit

pertusis yaitu:

1. Tempatkan penderita dalam ruang terpisah sekitar 6 minggu untuk

menghindari penularan.

2. Berikan makanan yang bergizi yang mudah di cerna sedikit demi sedikit.

Hindari makanan yang banyak mengandung gula pasir,pemanis buatan,dan

gorengan.

3. Hindari dari berbagai polusi yang menyebabkan iritasi ,misalnya asap

rokok,asap kendaraan dan polusi lainnya.

4. Selalu menjaga kebersihan tubuh penderita.

13
5. Tetanus

Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang

menghasilkan racun neurotoxin yang menyerang saraf sehingga dapat membuat

kontraksi otot yang menyakitkan terutama otot rahang dan leher serta dapat

mempengaruhi otot-otot pernafasan sehingga dapat mengancam jiwa.

Faktor Penyebab

Bakteri penyebab tetanus adalah Clostridium tetani, yang secara alami

ditemukan di tanah, debu dan kotoran hewan. Merupakan sejenis bakteri yang

hanya dapat tumbuh dan berkembang pada situasi lingkungan yang kurang

oksigen (anaerob).

Ketika bakteri ini memasuki luka yang dalam (miskin oksigen), spora

bakteri dapat menghasilkan toksin yang kuat, yang disebut tetanospasmin. Secara

aktif toksin ini akan mengganggu neuron motorik, yaitu saraf yang mengendalikan

pergerakan otot manusia. Efek racun pada neuron motorik yaitu menyebabkan

kekakuan otot dan kejang yang menjadi tanda-tanda utama dan gejala tetanus.

Gejala

Tanda dan gejala tetanus dapat muncul kapan saja mulai dari beberapa hari

sampai beberapa minggu setelah bakteri penyebab tetanus masuk ke dalam tubuh

melalui luka. Dengan rata-rata masa inkubasi tujuh sampai delapan hari gejala

tetanus baru muncul.

Tanda-tanda dan gejala tetanus secara berurutan adalah sebagai berikut:

1. Spasme dan kaku pada otot rahang

2. Dikuti kekakuan pada otot leher

14
3. Kesulitan menelan

4. Otot perut menjadi kaku

5. Kejang tubuh yang menyakitkan sampai tulang punggung melengkung

(epistotonus), berlangsung selama beberapa menit. Kejang ini biasanya dipicu

oleh kejadian kecil, seperti suara keras, sentuhan fisik atau cahaya

6. Kematian dapat terjadi karena kesulitan bernafas, lantaran otot-otot pernafasan

tidak berfungsi normal.

Tanda dan gejala tetanus lainnya yang mungkin menyertai antara lain:

1. Demam

2. Berkeringat

3. Tekanan darah tinggi

4. Denyut nadi atau jantung cepat

Penularan

Tetanus juga dapat terjadi pada bayi baru lahir sebelum berusia 1 bulan

yang disebut tetanus neonatorum. Hal ini terjadi karena alat-alat yang digunakan

untuk persalinan (memotong tali pusar) tidak steril atau luka tali pusar yang

terkontaminasi, sedangkan bayi belum memiliki kekebalan terhadap tetanus,

karena sang ibu tidak melakukan imunisasi TT (tetanus toxoid).

Pencegahan

Mencegah tetanus melalui vaksinasi adalah jauh lebih baik daripada

mengobatinya. Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai bagian dari

vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). Dewasa sebaiknya menerima booster.

Pada seseorang yang memiliki luka, jika:

15
1. Telah menerima booster tetanus dalam waktu 5 tahun terakhir, tidak perlu

menjalani vaksinasi lebih lanjut

2. Belum pernah menerima booster dalam waktu 5 tahun terakhir, segera

diberikan vaksinasi.

Pengobatan

Untuk menetralisir racun, diberikan immunoglobulin tetanus. Antibiotik

tetrasiklin dan penisilin diberikan untuk mencegah pembentukan racun lebih

lanjut.

Obat lainnya bisa diberikan untuk menenangkan penderita, mengendalikan

kejang dan mengendurkan otot-otot. Penderita biasanya dirawat di rumah sakit

dan ditempatkan dalam ruangan yang tenang. Untuk infeksi menengah sampai

berat, mungkin perlu dipasang ventilator untuk membantu pernafasan. Makanan

diberikan melalui infus atau selang nasogastrik. Untuk membuang kotoran,

dipasang kateter.

6. Campak (Morbilli)

Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi virus yang

hidup pada cairan lendir di saluran hidung,tenggorokan dan di dalam darah.

penyakit ini juga tergolong dalam penyakit menular.

Faktor Penyebab

Penyakit campak disebkan oleh virus ,yaitu virus campak itu sendiri

(Parammiksovirus,Genius morbilli). Virus campak ini dapat hidup dan

berkembang biak pada selaput lendir tenggorokan,hidung dan saluran pernafasan.

Campak bisa di alami siapa saja. Namun umumnya, penyakit ini banyak

16
menyerang anak-anak. Sasaran virus campak adalah anak-anak yang sedang

mengalami kondisi tubuh yang lemah (system imunitas yang kurang) dan

kurangnya asupan gizi yang bagus.

Gejala

Campak memiliki masa inkubasi sekitar 10 sampai 14 hari. Inkubasi

adalah masa sejak pertama kali virus masuk ke dalam tubuh penderita (terjangkit),

kemudian virus berkembang biak dan menimbulkan ciri-ciri dan gejala berikut

Gejala Awal:

1. Demam yang berlangsung selama 3-5 hari

2. Pilek

3. Batuk

4. Tubuh tidak fit atau lemas

5. Peradangan selaput ikat mata (konjungtivitis)

6. Takut terhadap cahaya

7. Yang paling khas adalah timbulnya bercak berwarna putih keabu-abuan di

keliling warna kemerahan. Biasanya,serangan campak diawali pada pipi

sebelah dalam.

Gejala Lanjutan.

1. Demam lebih tinggi lagi

2. Timbul bercak-bercak (bintik-bintik) berwarna merah di badan.

3. Menimbulkan rasa gatal

4. Sering juga di sertai dengan perdarahan pada kulit,mulut,hidung dan saluran

pencernaan.

17
Gejala Akhir

1. Pada stadium yang akhir,gejala-gejala awal sudah mulai menghilang

2. Bekas campak pada kulit akan berubah warna menjadi kehitaman.

Penularan

Meskipun penyakit campak termasuk golongan penyakit yang rungan

karena bisa sembuh sendiri, namun penyakit ini harus tetap diwaspadai karena

sangat mudah menular. Selain itu,tidak ada penanganan dan pengobatan yang

serius penyakit ini bisa berakibat fatal dan berujung kamatian. Penyakit ini

menular dengan cara-cara berikut:

1. Bersentuhan langsung atau melalui air liur dengan penderita campak

2. Penyebaran melalui udara yang berasal dari batuk dan bersin penderita.

3. Berada dalam satu ruangan dengan penderita juga memungkinkan terjadinya

penularan.

Pencegahan

1. Pencegahan dengan vaksin campak dan MMR

2. Menghindari kontak langsung

3. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan pemberian asupan bergizi yang

seimbang dan pemberian vitamin.

4. Menjaga kebersihan tubuh

5. Istirahat yang cukup

18
Pengobatan

Pengobatan campak bersifat simptomatik dan pendukung saja, seperti

pemberian obat demam sesuai anjuran dokter dan pemberian vitamin A. Tujuan

pemberian vitamin A untuk mempercepat penyembuhannya.

7. Hepatitis B

Hepatitis merupakan istilah untuk penyakit peradangan pada hati (liver).

Peradangan terjadi karena adanya toksin yang berada di hati (liver). Penyakit ini

dapat menyerang pada semua orang tak terkecuali orang memiliki kekebalan

tubuh yang sangat baik. Hepatitis bisa berakit fatal apabila tidak di tanggani

segera. Hepatitis yang dialami penderita selama kurang dari 6 bulan disebut

hepatitis akut,sedangkan hepatitis yang dialami lebih dari 6 bulan disebut hepatitis

kronis. Salah satu jenis hepatitis yang menular adalah hepatitis B.

Faktor Penyebab

Sesuai dengan namanya,penyakit ini disebabkan oleh Hepatitis B virus

(HBV). Virus ini menular melalui darah,sperma, atau cairan tubuh lainnya. Pada

saat virus hepatitis B tersebut masuk ke dalam liver seseorang, maka virus ini

akan langsung menyerang sel liver dan akan berubah menjadi berlipat ganda.

Gejala

1. Kulit dan mata yang tampak kekuningan.

2. Kelelahan

3. Hilangnya nafsu makan dan merasa mual

4. Urine yang berwarna gelap

5. Perut membuncit

19
6. Demam

7. Nyeri sendi,muntah darah,badan lemas,dan

8. Kaki bengkak.

Penularan

1. Secara vertikal yaitu penularan dari ibu yang menginap virus Hepatitis B

kepada bayi yang beru lahir.

2. Secara horizontal, yaitu penularan melalui penggunaan alat suntik yang

tercemar, tindik telinga,tusuk jarum,transfuse darah,penggunaan pisau cukur

dan sikat gigi secara bersamaan ,hubungan oral atau lendir,atau luka yang

mengeluarkan darah, serta hubungan seksual dengan penderita hepatitis B.

Pencegahan

1. Imunisasi hepatitis . penyuntikan vaksin hepatitis B di lakukan sekurang-

kurangnya diberikan 12 jam setelah bayi dilahirkan,asalkan kondisi stabil,serta

tidak ada gangguan pada paru dan jantungnya.imunisasi ini dilakukan di

lengan dengan cara intramuscular. Sedangkan pada bayi dipaha lewat

anterolateral (antero = otot-otot bagian depan, sedangkan lateral = otot bagian

luar).

2. Jangan sekali-sekali melakukan hubugan badan tanpa alat pengaman, kecuali

jika yakin pasangan tidak terjangkit penyakit hepatitis.

3. Tidak meminjam barang orang lain selama tidak yakin dengan kondisi

kesehatan orang yang bersangkutan tersebut.

4. Tidak melakukan donor darah bila terkena penyakit hepatitis

5. Berhenti menggunakan obat-obatan terlarang.

20
6. Berhenti mengonsumsi minuman beralkohol dan minuman keras lainnya.

7. Berhati-hatilah terhadap tindik atau tato tubuh karena jarum yang digunakan

bisa saja tidak steril.

Pengobatan

1. Biasanya pengobatan untuk hepatitis B menggunakan interveron ( perinjeksi)

dan lamivudine (oral) dari kelompok nukleosida analog yang dikenal dengan

nama 3TC-HBV. Obat ini bisa di berikan pada orang dewasa maupun anak-

anak.

2. Pemberian obat Adefovir dipivoxil (hepsera)

3. Pemberian obat Baraclude (entecair). Obat ini di berikan pada penderita

hepatitis B kronik.

21
BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan

Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) merupakan

penyakit yang diharapkan dapat diberantas atau ditekan dengan pelaksanaan

program imunisasi, adapun penyakit menular yang dapat dicegah dengan

imunisasi (PD3I) adalah tuberkolosis Difteri, Pertusis, Tetanus, Campak, Polio

dan Hepatitis B.

Penyakit tuberkolosis atau TBC merupakan salah satu jenis penyakit

infeksi menular. Penyakit ini biasanya menyerang saluran pernafasan atau paru-

paru yang dipicu oleh suatu bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang dapat di

cegah dengan imunisasi BCG..

Difteri adalah sebuah penyakit infeksi yang menyerang selaput mukosa

hidung dan tenggorokan disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria.

Pertusis merupakan salah satu penyakit infeksi pernafasan yang sangat menula

dan ditularkan oleh bakteri Bordetella pertusis dan Bordetella parapertusis.

Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang menghasilkan

racun neurotoxin yang menyerang saraf sehingga dapat membuat kontraksi otot

yang menyakitkan terutama otot rahang dan leher penyebabnya adalah bakteri

Clostridium tetani. Penyakit-penyakit ini dapat cegah dengan imunisasi DPT.

Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi virus yang

hidup pada cairan lendir di saluran hidung,tenggorokan dan di dalam darah yang

22
ditularkan oleh virus campak itu sendiri,dan dapat dicegah dengan imunisasi

campak.

Polio merupakan penyakit paralisis atau kelumpuhan yang disebabkan

oleh virus polio itu sendiri tetapi dapat di cegah dengan imunisasi polio.

Hepatitis merupakan istilah untuk penyakit peradangan pada hati (liver)

yang disebabkan oleh Hepatitis B virus (HBV). Dan dapat dicegah dengan

imunisasi hepatitis B.

23
DAFTAR PUSTAKA

Sunar, Dwi . 2012. Daftar Tanda dan Gejala Ragam Penyakit. Penerbit Flashbook
:Jogyakarta
Mahayu, Puri . 2014. Imunisasi & Nutrisi. Penerbit bukubiru: Jogyakarta

Rimbi, Noviya. 2014. Buku Cerdik Penyakit-Penyakit Menular . Penerbit Saufa:.


Jogyakarta
Wahab,Samik dan Julia, Madarina. 2002 . Sistem Imun, Imunisasi , dan Penyakit Imun .
Penerbit Widia Medika : Jakarta
http://dinkes-kabmelawi.blogspot.co.id/2013/01/penyakit-menular-yang-dapat-
dicegah.html