Anda di halaman 1dari 14

NAMA : SANDY MUHAMMAD

NPK : 1113001153
KELAS : SABTU / 09.00 / C.106
BREVET PAJAK A/B

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA


UJIAN BREVET A/B
PBB, BPHTB, BEA METERAI
OKTOBER 2016

SOAL I : PBB
Wajib Pajak AB yang bergerak di bidang perkebunan karet memiliki data dibawah ini :
1. Areal kebun berupa :
a. Areal sudah menghasilkan seluas 30.000.000 m2, harga tanah sebesar Rp. 80.000/m2, SIT
sebesar Rp. 1.500/m2
b. Areal belum menghasilkan berumur 1 tahun seluas 350.000 m2, harga tanah sebesar Rp.
80.000/m2, SIT sebesar Rp. 500/m2
c. Areal emplasemen seluas 650.000 m2, harga tanah sebesar Rp. 87.000/m2.
d. Areal yang tidak dapat ditanami (termasuk jalan) seluas 2.000.000 m2, harga tanah sebesar
Rp. 50.000/m2.

2. Bangunan berupa:
a. Pabrik seluas 3.500 m2, biaya membangun sebesar Rp. 3.500.000/m2
b. Kantor seluas 800 m2, biaya membangun sebesar Rp. 2.750.000/m2
c. Gudang seluas 1.500 m2, biaya membangun sebesar Rp. 3.000.000/m2
d. Perumahan seluas 8.000 m2, biaya membangun sebesar Rp. 3.000.000/m2
e. Kesehatan seluas 100 m2, biaya membangun sebesar Rp. 3.000.000/m2
f. Sosial seluas 500 m2, biaya membangun sebesar Rp. 3.000.000/m2
g. Lain-lain seluas 2.000 m2, biaya membangun sebesar Rp. 2.700.000/m2
h. NJOPTKP di daerah setempat adalah Rp. 12 juta.

Hitunglah PBB terutang Tahun 2015 atas perkebunan karet Wajib Pajak AB tersebut.

1
JAWAB :

Areal kebun :
a) Areal yang sudah menghasilkan : 30.000.000*80.000 = 2.400.000.000.000
b) Areal usia 1 tahun : 350.000*80.000 = 28.000.000.000
c) Areal emplasemen : 650.000*87.000 = 56.550.000.000
d) Areal yang tidak dapat ditanami : 2.000.000*50.000 = 100.000.000.000

NJOP Tanah = 2.584.550.000.000


Bangunan :
a) Pabrik : 3.500*3.500.000 = 12.250.000.000
b) Kantor : 800*2.750.000 = 2.200.000.000
c) Gudang : 1.500*3.000.000 = 4.500.000.000
d) Perumahan : 8.000*3.000.000 = 24.000.000.000
e) Kesehatan : 100*3.000.000 = 300.000.000
f) Sosial : 500*3.000.000 = 1.500.000.000
g) Lain – lain : 2.000*2.700.000 = 5.400.000.000

NJOP Bangunan = 50.150.000.000


NJOP Gabungan = 2.635.700.000.000
NJOPTKP = 12.000.000
NJOP = 2.635.688.000.000
PBB Terhutang 40%*0,5%*2.635.688.000.000 = 5.271.376.000

SOAL II : PBB
PT. MNM Energy sebuah perusahaan di bidang sumber energi panas bumi di daerah Jawa Timur,
menguasai/memperoleh manfaat dari bumi dan bangunan dengan rincian sbb:
A. Bumi (Tanah) :
a. Areal produktif : 300 Ha, NJOP = kelas A.47
b. Areal belum produktif :
1. Areal General Survey : 300 Ha, NJOP = kelas A.48
2. Areal eksplorasi : 200 Ha, NJOP = kelas A.50
3. Areal cadangan produksi : 200 Ha, NJOP = kelas A.47
c. Areal tidak produktif : 150 Ha, NJOP = kelas A.50
d. Areal pelabuhan khusus : 1 Ha, NJOP daratan = kelas A.42
e. Areal emplasemen :
1. Pabrik : 30 Ha, NJOP = kelas A.42
2. Gudang : 4 ha, NJOP = kelas A.40
3. Kantor : 2500 M2, NJOP = kelas A.40
2
4. Perumahan : 10 Ha, NJOP = kelas A.39

B. Bangunan :
1. Pabrik : 70.000 M2, NJOP = kelas A.10
2. Gudang :7.000 M2, NJOP = kelas A.10
3. Kantor : 2.500 M2, NJOP = kelas A.8
4. Perumahan : 15.000 M2, NJOP = kelas A.6

C. Hasil penjualan panas bumi setahun sbb :


Periode Produksi/Kwh Harga/Kwh
Triw. I 250 US$ 25
Triw. II 200 US$ 26
Triw. III 225 US$ 28
Triw. IV 250 US$ 30

Angka kapitalisasi = 9.5 ; Kurs yang berlaku : 1 US$ = Rp. 13.200


Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT MNM Energy tersebut bila NJOPTKP ditentukan sebesar
Rp. 12 juta.
JAWAB :
A. Bumi (Tanah)
1. Area Produktif 9,5*326.700.000*10.000 = 31.036.500.000
2 Area Belum Produktif 300*886.000*10.000 = 2.658.000.000
a. Area General Survey 300*857.000*10.000 = 2.571.000.000
b. Area Eksplorasi 200*802.000*10.000 = 1.604.000.000
c. Area Cadangan Produksi 200*886.000*10.000 = 1.772.000.000
3. Area tidak produktif 150*802.000*10.000 = 1.203.000.000
4. Area pelabuhan khusus 1*1.065.000*10.000 = 10.650.000.000
5. Area emplasemen
a. Pabrik 350*1.065.000*10.000 = 319.500.000
b. Gudang 4*1.147.000*10.000 = 45.880.000
c. Kantor 2.500*1.147.000*10.000 = 28.675.000.000
d. Perumahan 10*1.189.000*10.000 = 118.900.000
jumlah nilai tanah 70.014.430.000.000
Nilai bumi/m2 (70.014.430.000.000/36.950.000) = 1.894.842,49
Hasil konversi = 1.912.000/m2
NJOP bumi sebelumnya (36.950.000*1.912.000) = 70.648.400.000.000

B. NJOP bangunan

3
1. Pabrik 70.000*12.720.000 = 890.400.000.000
2. Gudang 7000*12.720.000 = 89.040.000.000
3. Kantor 2500*13.430.000 = 33.575.000.000
4. Perumahan 15000*14.150.000 = 212. 250.000.000
jumlah nilai bangunan 1.223.265.000.000
nilai bangunan/m2 (1.225.265.000.000/81.000) = 15.126.728,40
hasil konversi = 15.250.000/m2
NJOP bangunan seluruhnya (15.250.000*81000) = 1.235.250.000.000
jumlah NJOP bumi dan bangunan 71.883.650.000.000
NJOPTKP 12.000.000
NJOP untuk perhitungan PBB 71.883.662.000.000
PBB (40%*0,5%*71.883.662.000.000) 143.767.324.000

C. HASIL PENJUALAN
1. Triwulan ke-1 = 250*US$ 25 * 13.200 = 82.500.000
2. Triwulan ke-2 = 200*US$ 26 * 13200= 68.640.000
3. Triwulan ke-3 = 225*US$ 28 * 13200= 83.160.000
4. Triwulan ke-4 = 250*US$ 30 * 13200 = 92.400.000
Total penjualan 362.700.000

SOAL III : PBB


PT. KLM mining sebuah perusahaan di bidang pertambangan galian C di daerah Kaltim,
menguasai/memperoleh manfaat dari bumi dan bangunan dengan rincian sbb :
A. Bumi (Tanah) :
1. Areal produktif seluas 100 Ha, dengan harga tanah pada kelas Rp. 300/M2
2. Areal belum produktif seluas 200 Ha, dengan harga tanah pada kelas Rp. 300/M2
3. Areal tidak produktif seluas 100 Ha, dengan harga tanah pada kelas Rp. 250/M2
4. Areal emplasemen Pabrik seluas 10.000 m2, dengan harga tanah pada kelas Rp. 1.500/M2.

B. Bangunan :
Bangunan Luas Biaya pembangunan per m2
(m2) (Rp)
Pabrik 1.250 250.000
Gudang 600 175.000
Kantor 250 250.000
Perumahan 1.000 250.000
4
C. Hasil bersih galian tambang marmer 1 tahun sebelum tahun pajak berjalan Rp. 150 juta. Sisa
umur penambangan 10 tahun lagi.

Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT. KLM mining tersebut bila NJOPTKP ditentukan sebesar
Rp. 12 juta.
(catatan : perhitungan NJOP bumi areal produktif didasarkan pada angka kapitalisasi)

JAWAB
A. NJOP BUMI
1.Area produktif 6,14*150.000.000 Rp 921.000.000
2.Area belum produktif 200*10.000*300 Rp 600.000.000
3.Area tdk produktif 100*10.000*250 Rp 250.000.000
4,Area emplasemen 10.000*1500 Rp 15.000.000
jumlah nilai buku Rp 1.786.000.000

B. NJOP BANGUNAN
1. Pabrik 1250 m2*250.000 Rp 312.500.000
2. Gudang 600 m2*175.000 Rp 105.000.000
3. Kantor 250 m2*250.000 Rp 62.500.000
4. Perumahan 100 m2*250.000 Rp 25.000.000
jumlah nilai bangunan 505.000.000

NJOP bumi dan bangunan sbg dasar PBB Rp 2.291.000.000


NJOPTKP Rp 12.000.000
NJOP untuk perhitungan PBB Rp 2.279.000.000
PBB terutang 40%*0,5%*2.279.000.000 Rp 4.558.000

SOAL IV : BPHTB
1. Pada tgl. 15 April 2015 Pak Heru membeli sebidang tanah seluas 1.000 m2 di Kabupaten
Sumenep Jawa Tengah dengan harga menurut NJOP sebesar Rp. 2.100.000.000,-, dan BPHTB
nya telah dibayar lunas pada tanggal transaksi tersebut. Pada tgl. 16 Juli 2010 berdasarkan bukti
tertulis yang ditemukan ternyata harga pasar tanah tersebut adalah sebesar Rp. 2.500.000,- per
m2. Atas temuan ini, Kepala Daerah qq.Kantor Unit Pelayanan PBB Sumenep menerbitkan

5
SKPDKB pada tgl. 17 Juli 2015. Anda diminta menghitung besarnya BPHTB yang dibayar oleh
Pak Heru :
a. Pada tgl. 15 April 2015 (pada saat transaksi)
b. Pada tgl. 17 Juli 2015 (SKPDKB)
Apabila diasumsikan NPOPTKP sebesar Rp. 60.000.000,-
2. Tanah tersebut kemudian oleh Pak Heru dihibahwasiatkan kepada suatu Yayasan Yatim Piatu
(Nirlaba). Setelah Pak Heru meninggal dunia pada tgl. 15 Maret 2016, pihak Yayasan kemudian
mendaftarkan peralihan hak ke Kantor Pertanahan Kabupaten Sumenep. Pada saat itu NJOP atas
tanah tersebut secara keseluruhan (1.000 m2) sebagai dasar penghitungan PBB adalah sebesar
Rp. 2.500.000.000,- sedangkan NJOPTKP untuk PBB sebesar Rp. 10.000.000,-. Harga pasar
tanah tersebut pada tahun 2016 sebesar Rp. 2.500.000,- per m2. Anda diminta untuk menghitung:
a. Besarnya BPHTB yang harus dibayar oleh Yayasan apabila NPOPTKP yang berlaku untuk
Kabupaten Sumenep adalah sebesar Rp. 250.000.000,-(hibah wasiat) dan selainnya adalah
Rp. 60.000.000,-.
b. Besarnya BPHTB yang harus dibayar oleh Yayasan apabila permohonan pengurangan dari
yayasan dikabulkan oleh Kantor Pelayanan PBB Sumenep.
Catatan :
Pergunakan Klasifikasi NJOP sesuai PMK. 139/PMK.03/2014.

JAWAB :

1. a. NPOP = 2.100.000.000
NPOPTKP = 60.000.000
Nilai untuk penghitungan BPHTB = 2.040.000.000
BPHTB berkurang : 2.040.000.000*5% = 102.000.000

b. Harga Tanah 1.000*2.500.000 = 2.500.000.000


NPOPTKP = 60.000.000
Nilai untuk penghitungan BPHTB = 2.440.000.000
BPHTB terhutang : 2.440.000.000*5% = 122.000.000

2. a. NJOP = 2.500.000.000
NPOPTKP = 250.000.000
Nilai untuk penghitungan BPHTB = 2.250.000.000
BPHTB terhutang : 5%*50%*2.250.000.000 = 56.250.000

6
b. NPOP = 2.500.000.000
NJOPTKP = 10.000.000
NJOP = 2.490.000.000
NPOPTKP = 250.000.000
Nilai untuk penghitungan BPHTB = 2.240.000.000
BPHTB terhutang : 5%*50%*2.240.000.000 = 56.000.000

SOAL V : BPHTB
Sebuah Pemerintah Daerah telah membebaskan tanah untuk kepentingan umum pada suatu kawasan
dengan harga pembebasan tanah tersebut kurang dari NJOP PBB. Salah seorang warga telah
mendapatkan ganti rugi kurang dari NJOP PBB yakni Rp. 500 juta yang berarti kurang dari NJOP
PBB sebesar Rp.700 juta. Kemudian orang tersebut membeli tanah yang diatasnya berdiri sebuah
rumah seharga Rp. 600 juta. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) daerah
tersebut adalah Rp.60 juta(umum) dan Rp 200juta(hibah wasiat).
Berapa BPHTB yang terutang. Dan jika ia mengajukan pengurangan pengurangan, maka berapa
yang akan didapatkan? Berapa yang selayaknya ia setorkan ke kas Negara?

JAWAB :

NPOP = 600.000.000
NPOPTKP = 60.000.000
Nilai untuk penghitungan BPHTB = 540.000.000
BPHTB terhutang : 540.000.000*5% = 27.000.000

NJOP PBB = 500.000.000


NJOPTKP = 60.000.000
Nilai untuk penghitungan = 440.000.000
BPHTB : 440.000.000*5% = 22.000.000
Pengurangan : 27.000.000 – 22.000.000 = 5.000.000

SOAL VI : BEA METERAI


Mr. Adam telah mengadakan persetujuan dengan koleganya Mr. Smith dari London untuk
mendirikan sebuah perusahaan di Jakarta dan juga telah dibuat surat perjanjian di London yang telah
ditandatangani berdasarkan meterainya Negara Inggeris. Dokumen yang dibuat di luar negeri dan

7
akan digunakan di Indonesia harus dilakukan permeteraian kemudian. Tahun 2015 perusahaan yang
didirikan telah menghasilkan laba yang cukup besar, sehingga keduanya sepakat untuk membagi
hasil selama setahun tersebut. Berapa besarnya biaya meterai yang harus dibayar sampai dengan
pembagian hasil tersebut?

JAWAB :

Karena dokumen tersebut hendak digunakan di Indonesia maka harga dibubuki materai besarnya
materai sesuai tarif yaitu Rp. 6.000 dengan cara pemateraian kemudian

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA


UJIAN BREVET A/B
PEMERIKSAAN DAN PENYIDIKAN
OKTOBER 2016

1. Sebutkan beberapa alasan kenapa pemeriksaan pajak dilakukan oleh fiskus?

JAWAB :

8
a. Karena pejabat pajak yang memiliki wewenang, kewajiban, dan larangan dalam rangka
pelaksanaan perundang-undangan perpajakan.
b. Menguji kepatuhan, yaitu pemeriksaan yang akan berujung pada penetapan pajak
terutang. Hasilnya berupa: SKPKB, SKPLB, SKPN, atau STP.
c. Pemeriksaan yang berujung rekomemdasi atau pendapat pemeriksa.

2. Jelaskan macam-macam pemeriksaan pajak yang saudara ketahui.

JAWAB :

a. Pemeriksaan Rutin
Pemeriksaan Rutin merupakan pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak
sehubungan dengan pemenuhan hak dan/atau pelaksanaan kewajiban perpajakannya atau
karena diwajibkan oleh Undang-Undang KUP.
b. Pemeriksaan Kriteria Seleksi
Pemeriksaan Kriteria Seleksi, yaitu pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak
tertentu berdasarkan skor otomatis secara komputerisasi.
c. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan Khusus berdasarkan instruksi dari Kepala Kantor Wilayah DJP dilakukan apabila
terdapat hasil analisis dan pengembangan atas informasi, data, laporan, dan pengaduan yang
dilakukan oleh Kepala Kanwil DJP yang perlu ditindaklanjuti dengan Pemeriksaan Khusus.
d. Pemeriksaan Wajib Pajak Lokasi
Sesuai dengan namanya, jenis pemeriksaan ini dilakukan atas Wajib Pajak yang mempunyai
cabang atau lebih dari satu tempat usaha.
e. Pemeriksaan Tahun Berjalan
Pemeriksaan Tahun Berjalan, yaitu pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang dilakukan dalam
tahun berjalan untuk jenis-jenis pajak tertentu atau seluruh jenis Pajak (all taxes) dan untuk
mengumpulkan data atau keterangan atas kewajiban pajak lainnya.
f. Pemeriksaan Bukti Permulaan.
Pemeriksaan Bukti Permulaan, yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti
permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan.

3. Jelaskan perbedaan ruang lingkup pemeriksa dan penyidik pajak yang saudara ketahui.

JAWAB :

a. Ruang Lingkup Pemeriksaan Pajak

9
Sesuai Pasal 3 ayat 1 PerMenKeu No. 199/PMK.03/2007, ruang lingkup Pemeriksaan
pajak untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dapat meliputi satu,
beberapa atau seluruh jenis pajak, baik untuk satu atau beberapa masa pajak, bagian tahun
pajak atau tahun pajak dalam tahun-tahun lalu maupun tahun berjalan. Sedangkan ruang
lingkup pemeriksaan pajak untuk tujuan lain dapat meliputi penentuan, pencocokan atau
pengumpulan materi yang berkaitan dengan tujuan pemeriksaan.
b. Ruang Lingkup Penyidikan Pajak
Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang
dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu
membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan
tersangkanya.

4. Apa hubungan pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana perpajakan dengan penyidikan?

Jawab :

Hubungan pemeriksaan bukti permulaan membantu proses penyidikan dalam hal mengumpulkan
banyak bukti yang dibutuhkan penyidik. Hasil dari pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana
perpajakan akan diserahkan dan kemudian dilanjutkan dengan penyidikan untuk menetapkan
pidana apa yang akan diterima oleh wajib pajak yang bermasalah atau dalam penyidikan disebut
“tersangkanya”.

5. Haruskah pemeriksaan berujung pada terbitnya Surat Ketetapan Pajak. Jelaskan kenapa?

JAWAB :

Surat Ketetapan Pajak adalah surat ketetapan yang meliputi Surat Ketetapan Pajak Bayar, Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil, atau surat Ketetapan
Pajak Lebih Bayar. Terbitnya Surat Ketetapan Pajak tersebut dihasilkan dari proses pemeriksaan
(pajak) yang dilaksanakan oleh petugas fungsional pemeriksa pajak maupun penyidik pajak atau
hasil penelitian dari petugas pengawasan dan konsultasi pajak. Surat ketetapan administrasi
lainnya dapat berupa Surat Tagihan Pajak yang mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan
surat ketetapan pajak.

10
6. Pada kasus sengketa pajak apa harus diadili dengan Pengadilan pajak, dan pada kasus perpajakan
apa harus diadili oleh Pengadilan negeri?

JAWAB :

Ya, Karena pada kasus sengketa pajak , wajib pajak dapat mengajukan keberatan pada dirjen
pajak, yang nantinya akan memberikan surat keputusan keberatan untuk pengadilan pajak. Dan
dapat mengajukan banding.Sedangkan pada kasus perpajakan, wajib pajak terkena dugaan bahwa
ia telah melakukan tindak pidana dalam hal pengakuan pajak seperti manipulasi.

7. Sebagai hasil pemeriksaan pajak yang dilakukan terhadap SPT Tahunan PPh Badan PT. A tahun
fiscal 2015, diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dengan jumlah pajak
yang masih harus dibayar sebesar Rp 1 milyar oleh pemeriksa pajak. Sedangkan dalam
pembahasan akhir hasil pemeriksaan (closing conference), Wajib Pajak hanya menyetujui pajak
yang masih harus dibayar sebesar Rp 200 juta.
a. Bila wajib pajak PT A keberatan atas SKPKB tersebut, tindakan apa yang harus
dilakukannya?.
b. Syarat apa yang harus dipenuhinya menurut ketentuan pajak untuk bisa menempuh langkah
pada nomor a diatas?
c. Sejak diterbitkan SKPKB tersebut, selambat-lambatnya kapan untuk bisa menempuh langkah
pada nomor a diatas?
d. Tindakan apa yang sebaiknya dilakukan oleh wajib pajak PT. A pada saat closing conference
bila pemeriksa tetap kukuh tidak mau merubah hasil pemeriksaan pajaknya (yakni Rp 1
milyar)?
e. Bila pemeriksa pajak tidak melakukan prosedur penyampaian “Pemberitahuan Hasil
Pemeriksaan” dan “Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan” kepada wajib pajak, apa tindakan
yang harus dilakukan menurut ketentuan pajak yang berlaku oleh wajib pajak dan Dirjen
Pajak demi keadilan pajak atas kejadian ini?

JAWAB

a. Wajib pajak PT A harus melakukan pengajuan keberatan ke dirjen pajak agar nantinya dapat di
banding di Pengadilan Pajak
b. Harus melunasi dulu pajak yang telah disetujui oleh wajib pajak PT. A

11
c. 3 Bulan setelah terbitnya SKPKB
d. Mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung

8. Setelah terbukti bahwa suatu kasus yang diperiksa oleh pemeriksa pajak ternyata mempunyai
bukti permulaan yang kuat tentang adanya tindak pidana perpajakan yang dilakukan oleh wajib
pajak :
a. Selanjutnya pemeriksa pajak melakukan tindakan apa?
b. Kemudian Penyidik melakukan tindakan apa?
c. Bila wajib pajak mengajukan permohonan kepada Kejaksaan untuk menghentikan penyidikan
atas kasus tindak pidana perpajakan. Selanjutnya berdasarkan permintaan dari Menteri
Keuangan untuk kepentingan penerimaan negara, Jaksa Agung dapat menghentikan
penyidikan tindak pidana perpajakan sepanjang perkara pidana tersebut belum dilimpahkan
ke pengadilan paling lama dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal surat
permintaan. Syarat apa yang harus dipenuhi oleh wajib pajak menurut UU KUP untuk
penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan tersebut?

JAWAB :

a. Dilakukan Penyidikan oleh penyidik pajak

b. Melapor ke penyidik kepolisian.

c. Pasal 44B UU KUP menyatakan bahwa : Penghentian penyidikan tindak pidana di bidang
perpajakan sebagaimana dimaksud ayat (1), hanya dapat dilakukan setelah WP melunasi utang
pajak yang tidak atau kurang dibayar atau yang tidak seharusnya dikembalikan, ditambah dengan
sanksi administrasi berupa denda sebesar empat kali jumlah pajak yang tidak atau kurang
dibayar, atau yang tidak seharusnya dikembalikan.

9. Jelaskan apa beda STP dengan SKP yang saudara ketahui. Pada saat kapan diterbitkan STP dan
SKP oleh KPP?

JAWAB :
12
STP adalah Surat tindakan pidana pajak, sedangkan SKP adalah surat ketetapan pajak. Kapan
dikeluarkannya? STP terbit ketika pemeriksa pajak menemukan adanya manipulasi laporan
keuangan, seperti melakukan dua pembukuan, sedangkan SKP diterbitkan ketika pemeriksa pajak
telah melakukan pemeriksaan, walaupun dalam pemeriksaan itu ada kurang bayar, lebih bayar
atau nihil.

10. Menurut SPT Tahunan PPh Badan PT. XX tahun 2014 :

Jumlah PPh Badan terutang adalah sebesar Rp 500.000.000,-


Dikurangi :
- Angsuran Pajak (PPh Pasal 25) Rp 120.000.000,-
- Kredit Pajak (PPh Pasal 22/23/24) Rp 480.000.000,-
Kelebihan bayar pajak Rp 100.000.000,-

Berdasarkan kelebihan bayar tersebut, KPP mengeluarkan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak
pada wajib pajak PT. XX pada tgl. 31 Juli 2015. Pemeriksaan dilakukan oleh pemeriksa pajak
sesuai prosedur pemeriksaan pajak dengan terlebih dahulu menyampaikan Pemberitahukan Hasil
Pemeriksaan kepada PT. XX serta melakukan closing conference. Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar (SKPKB) terbit pada tgl. 31 November 2015 dengan menetapkan Pokok PPh yang kurang
bayar adalah sebesar Rp.800.000.000,- sehingga perhitungan pajak yang terutang menjadi
sebagai berikut :

Jumlah PPh Badan terutang adalah sebesar Rp 800.000.000,-


Dikurangi :
- Angsuran Pajak (PPh Pasal 25) Rp 120.000.000,-
- Kredit Pajak (PPh Pasal 22/23/24) Rp 480.000.000,-
Kekurangan bayar pajak Rp 200.000.000,-
Ditambah :
- Denda Bunga Rp. 400.000.000,- +
Total PPh Badan kurang bayar Rp. 600.000.000

Lengkapilah perhitungan diatas sehingga dapat diketahui berapa jumlah PPh yang harus dibayar
oleh wajib pajak PT. XX berdasarkan SKPKB tertgl. 30 November 2015 diatas.

13
14