Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Farmasi adalah suatu profesi yang berkaitan dengan kesehatan yang
berkaitan dengan ilmu pengetahuan kesehatan dan kimia. Farmasi adalah suatu
profesi di bidang kesehatan yang meliputi kegiatan-kegiatan di bidang penemuan,
pengembangan, produksi, pengolahan, peracikan,dan distribusi obat. Dalam ilmu
farmasi ada empat bidang yang dipelajari, yaitu farmasi klinik, farmasi industri,
farmasi sains, dan farmasi obat tradisional. Kemampuan penunjang yang harus
dimiliki adalah senang dan familiar dengan fisika, kimia, biologi, dan
matematika; ketelitian dan kecermatan; hapalan dan kemampuan analisa; dan
suka bekerja di laboraturium.
Farmasetika adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat-
obatan menjadi bentuk tertentu hingga siap digunakan sebagai obat.
Bentuk sediaan obat terdiri dari Serbuk, Kapsul, Tablet, pil. Pada praktikum
kali ini kami meracik obat dalam bentuk Serbuk.
Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan,
karena mempunyai luas permukaan yang luas, serbuk lebih mudah terdispersi
dan lebih larut dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan. (FI III, 1995).
Dalam ilmu farmasi, sediaan serbuk dapat diartikan sebagai campuran
homogeny dua atau lebih bahan obat yang telah di haluskan, dan ditujukan untuk
pemakaian luar. Penggunaan obat dalam bentuk serbuk sangat dibutuhkan oleh
masyarakat terutama bagi anak-anak maupun orang dewasa yang susah atau sulit
meminum obat baik dalam bentuk tablet, pil, ataupun kapsul.
Serbuk bagi adalah serbuk yang dibagi dalam bobot kurang lebih sama,
dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.
Untuk serbuk bagi yang mengandung bahan yang mudah meleleh atau atsiri harus
dibungkus oleh kertas.
Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa merupakan campuran rata antara dua
atau lebih obat yang dihaluskan.

1.2 Tujuan

1
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu meracik dan
menghitung dosis maksimum dari resep serbuk sesuai dengan metode peracikan
serbuk.
1.3 Maksud
Agar mahasiswa dapat melakukan praktikum farmasetika dengan baik dan
mengetahui lebih jelas dan mendalam tentang sediaan berupa serbuk bagi atau
pulvers, khususnya cara pembuatan dan pengemasannya.

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
II.1.1 Resep
Resep adalah permintaan tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek (APA)
untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita dari dokter, dokter
gigi, atau dokter hewan yang diberi izin berdasarkan peraturan perundang-
undangan. Umumnya resep ditulis dalam bahasa latin. Jika tidak jelas atau tidak
lengkap, apoteker harus menanyakan kepada dokter penulis resep tersebut. Resep
ditulis dalam bahasa latin :
1. Bahasa universal, bahasa mati, bahasa medical science
2. Menjaga kerahasiaan
3. Menyamakan persepsi (dokter dan apoteker)
Resep asli tidak boleh diberikan setelah obatnya diambil oleh pasien, hanya
dapat diberikan copy resep atau salinan resep. Resep asli tersebut harus disimpan
di apotek dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain kecuali diminta oleh :
1. Dokter yang menulisnya atau yang merawatnya.
2. Pasien yang bersangkutan.
3. Pegawai (kepolisian, kehakiman, kesehatan) yang ditugaskan untuk
memeriksa.
a.Bagian-bagian dari resep dan copy resep
1. Resep harus memuat :
Nama, alamat dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi, atau dokter
hewan. Tanggal penulisan resep (superscriptio / inscriptio), Tanda R/ pada
bagian kiri setiap penulisan resep, nama setiap obat atau komposisi obat
(invocatio/inscriptio), Nama setiap obat dan komposisinya (praescriptio
/ordonatio), Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatura), Tanda
tangan atau paraf dokter penulis resep (subscriptio), Jenis hewan dan
nama serta alamat pemiliknya untuk resep dokter hewan, Tanda seru atau
paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya
melebihi dosis.

2. Salinan resep memuat :

3
Semua keterangan yang terdapat dalam resep asli , Nama dan alamat
apotek, Nama dan nomor Surat izin pengelolaan apotek, Tanda tangan
atau paraf APA, Tanda det atau detur untuk obat yang sudah diserahkan;
tanda nedet atau nedetur untuk obat yang belum diserahkan, Nomor resep
dan tanggal peresepan.
b. Penggolongan obat
Obat adalah bahan atau zat yang berasal dari tumbuhan, hewan,
mineral maupun zat kimia tertentu yang dapat digunakan untuk
mengurangi rasa sakit, memperlambat proses penyakit dan
menyembuhkan penyakit. Obat harus sesuai dosis agar efek terapi atau
khasiatnya bisa kita dapatkan.
Golongan obat adalah penggolongan yang dimaksudkan untuk
peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan
distribusi yang terdiri dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib
apotek, obat keras, psikotropika dan narkotika.
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 949/Menkes/Per/VI/2000,
obat digolongkan dalam (5) golongan yaitu :
1. Obat Bebas
Obat bebas adalah obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter
disebut obat OTC (Over The Counter), terdiri atas obat bebas dan
obat bebas terbatas. penandaan obat bebas diatur berdasarkan S.K
Menkes RI Nomor 2380/A/SKA/I/1983 tentang tanda khusus untuk
obat bebas dan obat bebas terbatas. Di Indonesia, obat golongan ini
ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi berwarna
hitam.
2. Obat Bebas Terbatas
Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat
keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter,
dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada kemasan
dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi
berwarna hitam.
Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas
terbatas, berupa empat persegi panjang berwarna hitam berukuran

4
panjang 5 (lima) sentimeter, lebar 2 (dua) sentimeter dan memuat
pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut:
3. Wajib Apotek
OWA merupakan obat keras yang dapat diberikan oleh Apoteker
Pengelola Apotek (APA) kepada pasien.
Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk
masyarakat, maka obat-obat yang digolongkan dalam OWA adalah
obat yang diperlukan bagi kebanyakan penyakit yang diderita pasien.
4. Obat Keras
Obat keras (dulu disebut obat daftar G = gevaarlijk = berbahaya)
yaitu obat berkhasiat keras yang untuk memperolehnya harus dengan
resep dokter, berdasarkan keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor
02396/A/SKA/III/1986 penandaan obat keras dengan lingkaran bulat
berwarna merah dan garis tepi berwarna hitam serta huruf K yang
menyentuh garis tepi
5. Obat Psikotropika dan Narkotika.
Psikotropika adalah Zat/obat yang dapat menurunkan aktivitas
otak atau merangsang susunan syaraf pusat dan menimbulkan
kelainan perilaku, disertai dengan timbulnya halusinasi (mengkhayal),
ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam perasaan dan dapat
menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi
(merangsang) bagi para pemakainya. Logonya berbentuk seperti
palang ( + ) Penggolongan obat berdasarkan kegunaan dalam tubuh
Digolongkan ke dalam :
1. Untuk diagnosis (diagnostic).
2. Untuk mencegah (prophylactic).
3. Untuk menyembuhkan (terapeutic).
c. Penggolongan obat berdasarkan penggunaannya
1. Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar) melalui
implantasi, injeksi, membran mukosa, rektal, vaginal, nasal,
opthalmic, aurical, collutio/gargarisma/gargle, diberi tiket biru.
2. Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam) melalui oral,
diberi tiket putih
d. Penggolongan obat berdasarkan sumbernya
1. Obat alamiah

5
Obat yang berasal dari alam (tanaman ,hewan, atau mineral)
Contoh : kuinin, atropin, hormon, belerang, KBr
2. Obat semisintetik
Obat hasil sintesis dengan bahan dasar dari alam Contoh :
kodein dari morfin, progesteron dari diosgenin
3. Obat sintetik murni
Obat dari hasil sintesis yang bahan dasar tidak berkhasiat namun
setelah disintesis memiliki efek farmakologi tertentu Contoh : obat
antihistamin, diuretik, analgetik-antipiretik, dsb.
e. Penggolongan obat berdasarkan kesediaan obat
Menurut bentuk sediaan obat di bagi :
1. Bentuk padat: tablet, serbuk, pil, kapsul, suppositoria.
2. Bentuk setengah padat: salep, krim, pasta, gel.
3. Bentuk cair : Solutiones, Suspensi, Guttae, Injectiones, sirup, infus
4. Bentuk gas: inhalasi/spray/aerosol
II.1.2 Serbuk
Menurut Farmakope III, serbuk adalah campuran homogen dua tau lebih obat
yang diserbukkan. Sedangakan menurut Farmakope IV, serbuk adalah campuran
kering bahan obat yang atau zat kimia yang yang dihaluskan, ditujukan untuk
pemakaian oral atau pemakaian luar. Bentuk serbuk mempunyai luas permukaan
yang lebih luas sehingga lebih mudah larut dan lebih mudah terdispersi daripada
bentuk sediaan obat lainnya seperti kapsul, tablet, pil. Obat yang terlalu besar
volumenya untuk dibuat tablet atau kapsul dalam ukuran yang lazim, dapat dibuat
dalam bentuk serbuk (H.A Syamsuni, 2006). Adapun keuntungan menggunakan
serbuk ialah sebagai campuran bahan obat sesuai kebutuhan, dosis lebih cepat dan
lebih stabil daripada cairan, serta memberika disolusi yang lebih cepat. Namun
serbuk juga memiliki kerugian yaitu kurang baik untuk bahan obat yang mudah
rusak atau terurai dengan adanya kelembaban, bahan obat yang pahit akan sukar
tertutupi rasanya serta peracikannya cukup lama (Howard C. Ansel, 1989).
II.1.3 Serbuk Bagi (Pulverres)
Serbuk bagi atau pulveres merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang
lebih kurang sama, dibungkus dengan kertas perkamen atau bahan pengemas lain
yang cocok untuk sekali minum.
Penyimpangan berat masing-masing serbuk terhadap yang lain adalah paling
besar 10 %. Serbuk bagi dikemas dalam kertas perkamen, yang mengandung zat
higroskopis dalam kertas berlilin.

6
Serbuk bagi atau pulveres merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang
lebih kurang sama, dibungkus dengan kertas perkamen atau bahan pengemas lain
yang cocok untuk sekali minum.
Pada umumnya penulisan resep untuk serbuk bagi yang ditulis oleh dokter
terdiri dalam dua bentuk :
1. Ditulis jumlah obat untuk seluruh serbuk dan lalu dibagi menjadi beberapa
bungkus.
2. Ditulis jumlah untuk setiap bungkus serbuknya dan membuat beberapa
bungkus.
Agar dapat terbagi tepat, maka campuran serbuk sering ditambah zat tambahan
yang bersifat netral, seperti Saccharum Lactis, Saccharum album, sampai berat
serbuk tiap bungkusnya 500 mg. Saccharum album rasanya manis sehingga dapat
berfungsi sebagai pemberi rasa, tetapi serbuk mudah basa dan tidak cocok untuk
penderita diabetes.
Serbuk dibagi tanpa penimbangan tetapi untuk menjamin pembagian yang
sama, maka pembagian dilakukan tidak lebih dari 20 bungkus. Apabila lebih maka
serbuk harus dibagi dua dengan cara ditimbang sama banyak, baru kemudian
dibagi. Penyimpanan berat masing-masing serbuk terhadap yang lain adalah paling
besar 10% Serbuk bagi dikemas dalam kertas perkamen, yang mengandung zat
higroskopis dalam kertas berlilin.
Keseragaman bobot serbuk diuji dengan cara : Timbang isi dari 20 bungkus
tadi timbang sekaligus dan hitung bobot rata-rata. Penyimpanan antara
penimbangan, satu persatu terhadap bobot isi rata-rata tidak lebih dari 15% dari
tiap 2 bungkus dan tidak lebih dari 10% untuk tiap 18 bungkus yang lain.

II.1.4 Cara Pembuatan Serbuk


Serbuk diracik dengan cara mencampur bahan obat satu persatu, sedikit demi
sedikit dan dimulai dari bahan obat yang jumlahnya sedikit, kemudian diayak,
biasanya menggunakan pengayak nomor 60 dan dicampur lagi.
Beberapa petunjuk : Jangan mencampur obat berkhasiat keras dalam keadaan
tidak diencerkan Bila bagian-bagian serbuk mempunyai BJ yang berlainan
masukkan dulu serbuk yang BJnya besar baru kemudian masukkan serbuk yang
BJnya rendah dan diaduk. Jangan menggerus bahan-bahan serbuk dalam jumlah
banyak sekaligus. Dalam membuat serbuk lebih baik bila bahan-bahan baku
kering. Maka itu untuk menggerus serbuk kristal lebih baik menggunakan mortir

7
panas.Cara mencampur camphora dalam serbuk dilakukan dengan melarutkan
camphora dengan spiritus fortior dalam mortir.
II.1.5 Metode pembuatan serbuk
1. Trituration, mencampurkan bahan obat dalam mortir dengan stamper.
2. Spatulation, mencampur bahan obat langsung di atas kertas.
3. Sifting, cara mencampurkan bahan obat dalam suatu ayakan tertutup.
4. Tumbling, cara mencampurkan bahan obat dalam tempat tertutup yang
5. dilengkapi dengan bola logam sebagi penggiling kemudian digoyang-goyangkan
II.1.6 Keuntungan dan Kerugian
a. Keuntungan sediaan obat serbuk dibandingkan sediaan bentuk lainnya adalah :
1. Serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih mudah larut daripada bentuk
sediaan oral lain, sehingga dengan segera dapat memberikan efek terapi.
2. Lebih mudah untuk ditelan dibanding sediaan padat lainnya.
3. Lebih stabil dibanding sediaan cair.
4. Lebih mudah dalam pengaturan dosis.
b. Kerugian bentuk sediaan serbuk adalah :
1. Obat yang tidak tahan terhadap pemaparan diudara akan rusak dengan
bentuk sediaan ini.
2. Obat yang pahit, menimbulkan rasa mual dan muntah, begitu pula obat
dengan yang korosif tidak dapat dibuat dalam bentuk sediaan ini.
Sukar untuk menutup rasa dan bau yang tidak enak.
3. Tidak dapat disimpan lama. Durasi efek dan waktu mulai berefek tidak
dapat diatur.
II.1.7 Syarat Serbuk
Adapun syarat dalam sediaan serbuk adalah :
a. Kering
b. Halus
c. Homoge
d. Memenuhi uji keseragaman bobot (seragam dalam bobot) atau keseragaman
kandungan ( seragan dalam zat yang terkandung ) yang berlaku untuk serbuk
bagi/pulveres yang mengandung obat keras, narkotika, dan psikotropika.
Penyimpangan yang diperbolehkan antara penimbangan satu persatu terhadap
bobot isi rata – rata, tidak lebih dari 15 % untuk 2 bungkus dan tidak lebih dari 10
% untuk 18 bungkus.
II.2 Uraian Bahan
a. Parasetamol (Farmakope Indonesia Edisi III.1995)
Nama resmi : Parasetamolum
Nama lain : Asetamofem
Rumus molekul : C8H9NO2
Rumus struktur :

8
Pemerian : Serbuk hablur,putih, tidak berbau, rasa sedikit,
rasa sedikit pahit
Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan dalam natrium
hidroksida ini, mudah larut dalam etanol
Stabilitas : Memenihi uji identifikasi secara 168o dan 1720
Khasiat : Dapat mengobati demam (Analgetik,piretik, nyeri
ringan sampai sedang)
b. Antasida (Farmakope Indonesia Edisi III.1995)
Nama resmi : Alumini hidrogen dan colondale
Nama lain : Alukol
Rumus molekul : AL2O3-
Rumus struktur :

Pemerian : Serbuk halus mengandung sedikit gumpalan putih,


tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%)
Stabilitas : Dalam wadah rtertutup baik, pada suhu tidak lebih 250
Khasiat : Penggunaan antasida
c. Vitamin C (Farmakope Edisi III.1995)
Nama resmi : Asida askarbicum
Nama lain : Asam askrobat
Rumus molekul : C6H8O6
Rumus struktur :

Pemerian : Hablur atau serbuk putih atau agak kering oleh


Pengaruh cahaya lambat laun menjadi berwarna gelap
Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol,
tidak larut dalam eter dan dalam benjena
Stabilitas : Dalam keadaan kering stabil di udara, dalam kelarutan
cepat teroksidasi melebur pada suhu lebih kurang 1900
Khasiat : Pencegah dan mengobati skorbat
d. Cefixime (Dikes. 2006, Jawa Barat)

9
Nama resmi : Cefixime
Nama lain :Sponetik
Rumus molekul : C16H15N2O

Rumus struktur :

Pemerian : Serbuk putih atau hampir berwarna kuning/ putih


Kegunan : Berterisik
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup
e. Apyalis syrup (Farmakope Indonesia Edisi III: 541)
Nama Resmi : Pyridoxine Hydrochloridum
Nama Lain : Apyalis syrup
Rumus Struktur :

Rumus Molekul : C8H11NO3,HCL


Pemerian : Hablur putih atau tidak berwarna, atau serbuk hablur
putih, tidak berbau, rasa asin
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
1. Alu
10
2. Gunting
3. Lumpang
4. Lap kasar/ halus
5. Sudip
6. Timbangan analitik
III.2 Bahan
1. Alkohol 70%
2. Copy Resep
3. Etiket
4. Kapas
5. Kertas Perkamen
6. Obat ( Paracetamol, Antasida,Vitamin C, dan Cefixime)
7. Plastik Obat
III.3 Cara Kerja
Resep I
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Diambil parasetamol, Vit C, dan Antasida sebanyak masing-masing 5 tablet
3. Digerus hingga halus dan homogen, kemudian dibagi menjadi 15 bungkus ke
dalam kertas perkamen.
4. Dimasukkan ke dalam plastik obat dan diberikan etiket, sesuai dengan aturan
pakai.
Resep II
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Diambil Vitamin C sebanyak 5 tablet dimasukkan ke dalam lumpang.
3. Digerus hingga halus
4. Diambil Cefixime 7,5 Capsul dikeluarkan serbuknya dari cangkang.
5. Dimasukkan ke dalam lumpang.
6. Digerus hingga homogen.
7. Dikeluarkan dari lumpang kemudian dibagi menjadi 10 bungkus ke dalam
kertas perkamen dan dibungkus rapih.
8. Dimasukkan ke dalam plasik obat dan diberi etiket putih asesuai dengan
aturan pakainya.
Resep III
1. Diambil apialys sirup 1 botol
2. Ditimbang sesuai dengan perhitungan bahan
3. Dimasukkan kedalam sak plastic obat
4. Diberikan etiket putih, sesuai dengan aturan pakai

11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
1. Perhitungan Dosis
a. Parasetamol
Dosis lazim : Sekali minum = 500 mg/ sehari minum (500mg- 25)
Dct : (1/3 tab x 500mg/ 1 tab = 166,7 mg
Dosis L, sekali : 166,7 mg/ 500 mg x 100% = 33,33%
Dosis L, sehari : 3 x 33,33% = 99.99% Atau (1/3 tab x 500/1 tab)
x 3 = 500 mg
Untuk anak 4 tahun
X = n/n + 12 x 500 mg = 4/ 4+ 500 mg = 125 mg
= 125mg/ 500mg x 100% = 25%
Sehari = 4/10 x (500 - 25) = 12,5% x 3 = 37,5%
= 500 mg/ 500 mg x 100 mg = 100%
= 500 mg/ 2000% =25%
b. Antasida
Dewasa anak : Di bawah 6 tahun, sehari dengan
petunjuk dokter.
Diatas 6 tahun - 12thn : ½ tablet, 2 sampai 3 x sehari, antara waktu
makandan sebelum tidur malam
c. Vitamin C
Dl (-/ 75mg / 500 mg )
Sekali minum : 1/3 tab x 252/ 1 tab = 8,3 mg = > 4/16 x -=-
Sehari : 3 x ( 1/3 tab x 250/ 1 tab = 25mg)
= 252/ 75g x 100% = 33,3%
= 25mg/ 500mg x 100% = 5%
= > 4/ 16 x 259- 500g) x 3 = 18,75gr X 3 = 56,25mg
= >56,25/25%/100% =6,25%
d. Cefixime
Oral : anak 7, 6 bulan : 8mg/ kg / Bb / hari di bagi 12-24 jam
anak 7 50g atau > 12 thn dewasa 400mg/ hari di bagi
setiap 12-24 jam.
2. Perhitungan bahan
a. Apialysi sirup : 1 botol
b. Parasetamol : 1/3 tab x 15 = 5 tablet / 15 bungkus

12
c. Antasida : 1/3 tab x 15 = 5 tablet / 15 bungkus
d. Vitamin c tab : 1/3 tab x 15 = 5 tablet / 15 bungkus
e. Cefixime : (75mg/ 100mg x 1 kapsul) x 10= 7,5 caps/ 10 bungkus
IV.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan sedian serbuk bagi adalah
serbuk ringan untuk penggunaan oral. Serbuk yang telah jadi berbentuk butiran
halus, berwarna putih dan berwana hijau muda, serta aroma khas dari campuran
bahan yang mengandung bahan obat Antasida. Serbuk bagi ini memiliki
komposisi antara lain Parasetamol, Antasida, dan Vitamin C. Selain itu dalam
resep pada praktikum juga ada Resep Apiyalys Syrup, kemudian Resep Cefixime
dan Vitamin C. Apiyalys Syrup pada resepnya ditujukan untuk pasien anak yang
mengalami kondisi kekurangan Vitamin dan mineral serta meningkatkan daya
tahan tubuh serta mempercepat proses penyembuhan
Resep kedua dengan komposisi Parasetamol, Antasida, dan Vitamin C;
Parasetamol berfungsi sebagai analgetik antipiretik, untuk mengobati nyeri dan
demam pada pasien, Antasida sebagai anti acidum (anti asam) atau mencegah
terjadinya iritasi maupun sekresi asam lambung dari penggunaan Vitamin C dan
Antibiotik serta kondisi yang menyebabkan pasien kekurangan nafsu makan,
Vitamin C berfungsi sebagai bahan penambah rasa, pada peresepan yang
digunakan adalah vitamin C dengan rasa jeruk, agar pasien anak tidak merasakan
rasa dan bau yang tidak enak dari parasetamol dan antasida serta sebagai
antioksidan, serta mempercepat proses penyembuhan.
Resep berikut adalah resep dengan komposisi Cefixime dan Vitamin C;
Cefixime sebagai anti oksidan, untuk mengobati gangguan dari bakteri patogen
yang menyebabkan demam, serta gangguan fisiologis lainnya, dan Vitamin C
yang fungsinya sama seperti pada resep diatas.
Dari ketiga item pada praktikum untuk pasien anak 4 tahun ditujukan agar
pasien dapat sembuh dari penyakit demam, yang disebabkan oleh bakteri, serta
mencegah iritasi lambung pada penggunaan antibiotik, juga kondisi kekurangan
nafsu makan pada pasien anak tersebut dan menjaga kondisi pasien agar tetap
stabil, serta mengembalikan nafsu makan pasien sehingga kondisi pasien dapat
cepat pulih dan sehat kembali.

13
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Mahasiswa mampu meracik obat dan menghitung dosis maksimum dari
resep serbuk sesuai dengna metode Trituration yaitu metode mencampurkan
bahan obat dalam mortir dengan stamper.
V.2 Saran
14
Diharapkan untuk dilengkapi alat-alat di laboratorium agar kami mahasiswa
dapat melaksanakan praktikum dengan baik dan asisten lebih baik mengarahkan
dalam praktikum agar mahasiswa lebih tepat waktu untuk mematuhi Tata Tertib
yang ada di Laboratorium

DAFTAR PUSTAKA
Anief, M. 2013. Ilmu Meracik Obat. Gaja Madah University Press : Yogyakarta
Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia : Jakarta
Dinas Kesehatan Reublik Indonesia, 2 006. Departemaen Kesehatan : Jawa Barat
Gunawan. G. S. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi V. Departemen Farmakologi dan
Terpeotik : Jakarta
Kasim, F. 2014. Iso Indonesia Volume 48. Pt ISFI Penerbit : Jakarta
Syamsuni. H.A. 2006. Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran. EGC: Jakarta

15
16